Dear Diary – Chapter 1 (I Can Go Through This)

Dear Diary Teaser Cover

Oh, Tuhan, tolong hentikan semua ini… Tolong hentikan sebelum aku menyesali keputusanku untuk mempertahankan anak ini. Semuanya sudah cukup berat. Jangan buat aku melakukannya… Tolong lindungi aku agar aku tidak kembali berfikir untuk mengugurkannya…

Title : Dear Diary

Author : Park Anna

Rating : PG-17

Genre : Married life, Romance, AU.

Length : Chaptered

Cast : Hwang Sonna (OC) & Xi Luhan (EXO)

Previous : Teaser

Disclaimer : Keseluruhan ide cerita ini hanyalah sebuah karya fiksi dan murni berasal dari imanjinasi saya sendiri untuk kepentingan entertaiment. Para tokoh yang digunakan dalam fanfiction ini hanya dipinjam nama dan karakternya untuk kepentingan FF ini sendiri. Mohon maaf jika ada salah kata/menyinggung perasaan dalam penulisan FF ini.

A/N : Untuk chapter 1 ini, alur cerita menggunakan alur gabungan (maju-mundur) dan alur mundur ditandai dengan tulisan yang dicetak miring.

Dear Diary

Bunyi tuts computer yang ditekan jemariku saling beradu di dalam ruangan yang cukup sempit ini. Pegawai-pegawai kantor berlalu-lalang melewatiku bahkan sesekali ada yang menyenggol ujung mejaku karena keterbatasan luas ruangan. Hal itu menyebabkan layar komputerku bergetar hebat dan mungkin saja akan jatuh jika aku tidak menghentikan aktivitas mengetikku dan menahannya layarnya. Aku mendongkol kesal. Semua ini membuatku risih. Pastinya setiap manusia normal di dunia ini menginginkan bekerja di kantor elit, luas, bersih dan tentunya memiliki pendingin udara di setiap ruangannya. Namun apalah dayaku yang hanya bisa memaksakan diri bekerja di tempat seperti ini. Ruangan yang sempit, kertas-kertas berantakan dimana-mana, serta udara sekitar yang begitu pengap tiap hari kurasakan. Ku hela nafas. Seharusnya aku masih bisa bersyukur, setidaknya aku memiliki penghasilan yang dapat menopang hidupku. Aku juga dapat membiayai segala keperluanku, walaupun dengan uang yang serba pas-pas-an.

“Hwang Sonna…”

Aku tersentak dan kembali pada kenyataan saat indra pendengarku menangkap suara seseorang yang memanggilku dengan lembut.

“Mengapa kau memegang layar komputer seperti itu? Tanganku kosong lho, bukankah lebih menyenangkan memegang tanganku?”

Aku mendongakkan kepala dan saat itu juga aku menyadari bahwa tanganku masih memegangi layar komputer yang sempat bergetar tersebut. Seseorang itu terkekeh pelan melihatku seperti itu.

“Ada apa mencariku?” Tanyaku singkat, yang sebenarnya tanpa kusadari terkesan cukup dingin juga.

Senyuman pemuda itu perlahan memudar.

“Kau belum makan siang bukan? Aku hanya ingin mengajakmu makan bersama…” Raut kekhawatiran kini dapat terlihat jelas dari wajahnya.

“Aku tidak lapar, terlebih lagi, aku sibuk.”

“Hei kau, nona keras kepala. Cobalah menurut pada kata-kataku.”

Aku menghela nafas. Bukannya tidak ingin menerima ajakannya. Tetapi mau bagaimana lagi. Isi dompetku sudah semakin tipis, belum lagi ini masih pertengahan bulan. Bagaimana mungkin aku bisa menghambur-hamburkan uang untuk sekedar makan siang. Apalagi biasanya Luhan, sahabatku yang satu ini minta ditraktir saat makan diluar. Jelas saja jika kalimat penolakan terucap dengan lancar dari mulutku. Aku bahkan sudah berencana untuk hanya memasak sebungkus ramen instan. Ya, hal itu sangat menghemat pengeluaranku, walaupun aku tahu itu bukanlah hal yang menyehatkan.

Aku hanya menggelengkan kepala. Berharap ia menghentikan omelannya yang sudah persis ibu-ibu itu. Sayang sekali, seharusnya aku tidak melakukan hal tersebut. Nampaknya kesabaran Luhan menghadapiku habis sudah.

“Yak, Hwang Sonna! Kau tidak boleh egois! Kau tidak bisa bekerja mati-matian dan tidak makan seperti ini, sekarang kau tidak sendirian. Kau tidak hanya memerlukan nutrisi untuk dirimu sendiri. Apa kau tidak ingat pada bayimu? Anak yang kau kandung?!”

Crap. Tamatlah riwayatku.

Beberapa teman sekantorku menatap kearah kami dengan sangat terkejut.

“Sonna sedang hamil? Wah, selamat ya! Aku bahkan tidak tahu kau sudah menikah.”

“Jadi kau ini suaminya Sonna? Tampan sekali!”

“Aku bisa mengusulkan pada Bos agar kau tidak dibebani terlalu banyak pekerjaan seperti ini. Ah, Sonna-ya, mengapa kau tidak pernah mengatakan hal ini pada kami?”

Aku hanya membalas semua ucapan selamat dan kepedulian mereka itu dengan senyum singkat. Ada yang harus kubereskan dulu sekarang ini, dan tatapan tajamku kearah Luhan sudah pasti menjelaskan semuanya.

“Bagus sekali Xi Luhan. Biarkan saja semuanya mengetahui aibku!” Semburku saat kami sudah berada diluar kantor.

“Yak! Mengapa kau marah-marah seperti ini? Lagipula apanya yang aib? Semua orang juga sudah mengira kita sepasang suami-istri, siapa yang tahu jika kau hamil diluar…”

“Ssstt!” Aku membungkam mulutnya. Ia sudah terlalu banyak bicara saat ini.

“Aku benci padamu! Kau bukan sahabatku lagi!”

“Kau benar, aku memang bukan sahabatmu lagi. Karena sekarang aku calon suami-mu!”

Pernyataannya membuatku tersentak. Bodoh, bisa-bisanya aku melupakan hal itu. Dia calon suamiku, pria yang akan kunikahi minggu depan. Dia pria yang akan bertanggung jawab padaku, atas bayi ini.

Ugh! Aku bahkan tidak bisa membayangkan diriku menikah dengan Luhan. Teman masa kecil yang sudah kuanggap saudara sendiri!

“Yak, sudahlah Sonna. Kau jangan seperti ini, kasihan bayi kita.”

Kepalaku berpendar sejenak. Apa yang ia bilang? “Bayi kita?!”

Luhan mengangguk.

“Iya, bayi kita. Dia juga anakku, kan?”

Aku hanya bisa terdiam. Bayi kita… Ia menyebutnya ‘bayi kita’. Tidak hanya ‘bayi mu’ seperti yang biasa dikatakan kebanyakan orang padaku.

Tiba-tiba saja semua memori akan kejadian-kejadian pahit itu berputar-putar di dalam kepalaku.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi, nak?”

“Ya Tuhan, anakku… Demi apa, Ya Tuhan…”

“Ambil itu. Habiskan semuanya. Singkirkan apa yang tengah kau kandung. Kau telah mempermalukan keluarga ini. Gugurkan kandunganmu atau aku tidak ingin melihatmu lagi.”

“Maaf Sonna. Aku tidak bisa melakukannya untukmu. Aku sendiri sudah memiliki keluarga. Ini memang kesalahan kita berdua. Baiklah, aku akan membantumu. Jika kau memang ingin mempertahankan anak itu, aku akan membiayai kalian. Tetapi jika kau tidak ingin, gugurkan saja bayimu. Akan ku transfer uangnya sekarang juga.”

“Anak kurang ajar! Berani-beraninya kau berbuat seperti ini! Dasar tidak tahu malu! Lihat apa yang sudah kau lakukan!”

“Hei, ayo makan siang. Kau pasti sudah lapar.” Ajak Luhan sembari menggait tanganku.

“Aku akan makan. Tapi tidak denganmu.” Itulah kata-kata terakhirku pada Luhan sebelum aku menyentakkan tanganku agar terlepas dari genggamannya dan membalikan badan. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk pergi makan siang, kenyataannya aku malah berbelok menuju parkiran, mengurung diri didalam mobil untuk menyembunyikan air mataku. Kehamilan memang membuatku menjadi lebih sensitif, tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa kesedihanku akan sesakit ini, begitu menyesakkan dada.

Dan dalam kesakitan itulah bibirku dengan lirih melafalkan sebuah doa.

“Oh, Tuhan, tolong hentikan semua ini… Tolong hentikan sebelum aku menyesali keputusanku untuk mempertahankan anak ini. Semuanya sudah cukup berat. Jangan buat aku melakukannya… Tolong lindungi aku agar aku tidak kembali berfikir untuk mengugurkannya…”

***

Thursday, April 5th 2015

Dear diary,

Aku pernah merasakan sakit, kesedihan dan kehancuran. Namun kenyataan yang harus kuterima ini lebih dari semua itu dijadikan satu.

Hari ini, adalah hari terburuk dalam hidupku…

Aku hanyalah seorang gadis di awal usia 19-an. Oh ya, aku bahkan sudah bukan seorang ‘gadis’ lagi. Aku memang bodoh, menyerahkan keperawananku begitu saja pada seorang laki-laki yang bahkan tak pantas mendapatkannya. Kini aku hanya bisa membiarkan air mata itu mengalir membasahi pipiku, namun semuanya sudah terjadi. Sebanyak apapun aku menyesal, toh tidak ada gunanya. Di usiaku yang bahkan masih sangat belia ini, aku sudah mengandung dan usia kehamilanku ternyata sudah memasuki bulan ke- 5. Aku tidak tahu apa-apa pada saat itu, walaupun sudah 2 bulan berturut-turut darah menstruasiku tidak keluar, aku hanya mengira itu pengaruh stress karena pekerjaan yang menumpuk di kantor. Memasuki bulan ketiga, aku mulai merasakan mual dan hal itu semakin menjadi di mingu-minggu selanjutnya, tapi dengan bodohnya aku justru mengonsumsi obat-obatan karena ku pikir aku hanya sakit maag biasa. Sekarang aku berharap obat-obat itu tidak memberi pengaruh pada kandunganku. Semoga bayiku baik-baik saja. Saat bulan ke empat lah aku mulai curiga. Berat badanku terus melonjak naik, dan aku selalu merasa seperti ingin makan sesuatu. Keinginan itu sangat kuat. Baru sekarang aku mengetahui bahwa ternyata selama ini aku ngidam. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membeli test pack di apotik terdekat dan hal yang menjadi ketakutan terbesarku pun terjadi. Aku hamil…

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, aku tidak bisa berfikir untuk beberapa saat. Mataku tidak bisa berhenti memandangi 2 garis merah di test pack tersebut. Aku hamil! Ada seseorang di dalam tubuhku, berkembang dan tumbuh bersamaku. Ia ada didalam diriku, menjadi satu denganku. Cairang bening mulai menggenangi mataku. Kesal, sedih, kebencian dan penyesalan, semuanya menjadi satu. Namun ada suatu perasaan yang membuncah di sudut hatiku.

Kebahagiaan.

Aku bahagia. Aku hamil. Aku akan memiliki anak, aku akan menjadi seorang ibu.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk pergi ke dokter, memeriksa kandunganku dan betapa terkejutnya diriku ketika aku tahu bahwa janin ini sudah 5 bulan berada di dalam rahimku. Aku sudah bisa melihat bentuk tubuhnya dengan jelas dari layar USG. Betapa lega-nya perasaanku saat dokter mengatakan bahwa anakku dalam kondisi baik-baik saja, ia sehat dan aku tahu bahwa ia akan menjadi anak yang kuat. Terhitung mulai hari ini, 4 bulan lamanya aku  masih harus menunggu sebelum bisa melihat malaikat kecilku ini terlahir ke dunia dengan segala kesempurnaan. Aku ingin menimang tubuh mungilnya dan mengecup keningnya yang halus. Mataku berbinar-binar, rasa haru mengisi rongga dada ku. Aku akan menjadi seorang ibu…

Sesampaiku di rumah, dengan segera aku berlari menuju kamarku, menyembunyikan barang-barang yang sempat kubeli di perjalanan pulang dari dokter. Buku mengenai kehamilan dan susu khusus ibu hamil. Ini memang sudah sangat terlambat untuk mengonsumsinya tetapi setidaknya aku akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil yang tengah kukandung ini. Namun sayang, kebahagiaan yang kurasakan lenyap begitu saja bagai dihantam ombak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku saat ku langkahkan kaki memasuki ruang keluarga.

“Anak kurang ajar! Berani-beraninya kau berbuat seperti ini! Dasar tidak tahu malu! Lihat apa yang sudah kau lakukan!”

Suara tangisan pilu terdengar di salah satu sudut ruangan, dan saat itulah aku menyadari semuanya. Aku mengerti apa yang tengah terjadi disini. Ibuku hanya bisa terduduk lemas dan menangis sejadi-jadinya. Di hadapannya tergeletaklah sebuah test pack dengan dua garis merah diatasnya.

Ternyata mereka sudah mengetahuinya. Ayah, ibu, dan kakak lelakiku. Mereka pasti sudah mengetahui bahwa aku hamil. Dan saat itulah mimpi burukku dimulai.

Aku bukan hanya sekedar hamil, aku hamil tanpa seorang suami. Tidak ada ikatan pernikahan diantara diriku dan seseorang yang menanamkan sperma-nya di rahimku. Aku hamil diluar nikah.

***

Aku dilahirkan di sebuah keluarga terpandang. Ayahku adalah seorang pengusaha yang sukses. Ibuku berasal dari keluarga yang kaya raya, ialah yang memodali awal usaha ayahku hingga sukses seperti sekarang. Kakak lelaki ku, Hwang In Sung tengah melanjutkan studinya di bangku kuliah. Usianya baru 24, namun ia sudah memiliki gelar Dr. didepan namanya. Kakak kedua ku, Hwang Shinna sudah memiliki bisnis Wedding Organizer saat usia 22 tahun. Sekarang ia sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di negeri Paman Sam. Intinya semua anggota keluargaku adalah orang hebat.

Terkecuali aku…

Aku adalah yang termuda dari mereka. Aku yang paling dimanjakan saat kecil dan dirikulah yang paling diharapkan kedua orangtuaku untuk mengimbangi kesuksesan mereka. Namun nyatanya aku tidak bisa menjadi seperti yang selalu diharapkan dalam doa mereka. Aku tidak memiliki otak jenius seperti In Sung-oppa, tidak pula kreatif dan cerdas layaknya Shinna-eonni. Aku hanyalah diriku. Hwang Sonna yang tidak pernah meraih juara semasa sekolah, hanya bekerja di kantor kecil, bahkan aku bukan pegawai tetap disana. Oh ya, seakan belum lengkap, aku adalah seorang penganut seks bebas dan sebagai hasilnya, kini aku tengah mengandung seseorang yang bahkan tak mengakui bahwa ini darah dagingnya.

Orangtua ku pasti tak akan sungkan untuk menghapus nama ku dari kartu keluarga.

***

“Bagaimana hal ini bisa terjadi, nak?”

Kutatap wajah sendu ibuku. Ia tampak lelah dan kekecewaan tersurat dari setiap bagian tubuhnya. Raut wajahnya, matanya yang sembab dan tubuhnya yang mulai membungkuk. Ia tak henti-henti menatapku, senyum tulus masih terukir di wajahnya, seakan ia tidak jijik dengan seseorang yang telah melakukan perbuatan terlarang, seseorang yang telah berzina. Dan orang itu adalah putrinya sendiri. Aku tidak tahu bagaimana kecewanya ibuku, tidak bisa kubayangkan betapa hancurnya perasaannya. Namun bagaimana bisa senyuman tulus itu masih menyertai dirinya saat menghadapku. Apakah ia masih menyayangiku? Apakah ia telah memaafkan dosaku yang teramat besar ini?

“Nana, katakanlah pada eomma. Bagaimana ini bisa terjadi?”

Aku hanya bisa menahan isak tangis. Nana adalah panggilan kesayangannya untukku, dan ia masih menggunakannya hingga kini.

“Aku tidak tahu eomma. Maafkan aku…”

Ia menghela nafas.

“Tapi kau tahu siapa ayahnya?”

Melihat aku hanya bisa terdiam eomma lanjut bertanya.

“Apakah aku mengenalnya?”

Aku segera menggeleng.

“Lalu siapa yang melakukan ini padamu, nak?”

“Kek… kekasihku…”

“Kalau begitu nikahi dia, Nana. Kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian. Suruh dia ke rumah besok, kenalkan pada eomma. Akan kutelpon Shinna untuk mengurus pernikahanmu.”

“T… tapi eomma, aku tidak bisa!”

“Hwang Sonna! Apa-apaan ini?!”

“Pria itu sudah menikah, ma!” Seruku dengan nada yang amat menyedihkan.

Omo, omo kepalaku…” Eomma memijit pelipisnya. “Ya Tuhan, anakku… Demi apa, Ya Tuhan…”

Setelah itu, kami tidak mengatakkan apa-apa lagi. Tenggelam dalam uraian air mata masing-masing.

Aku akan di laknat Tuhan hari ini karena telah membuat orang yang melahirkanku menitikkan air mata.

***

Keesokan harinya, ayahku menerobos memasuki kamarku begitu saja. Dilemparkannya berbagai benda kearahku. Aku hanya bisa menunduk, mataku menangkap wujud benda-benda itu. Obat untuk menggugurkan kandungan.

“Ambil itu. Habiskan semuanya. Singkirkan apa yang tengah kau kandung. Kau telah mempermalukan keluarga ini. Gugurkan kandunganmu atau aku tidak ingin melihatmu lagi.”

“Blam!”

Suara pintu yang ditutup dengan kasar. Aku tidak dapat lagi menahan tangisku. Hari itu, kukeluarkan semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya, meraung dan mengacak-acak isi kamarku. Rasanya untuk hidup dengan keadaan seperti ini terlalu berat. Kuraup semua obat-obatan tersebut. Aku tidak ingat apakah aku menenggaknya atau tidak, tetapi yang ku tahu adalah bahwa aku terbangun di ranjang rumah sakit keesokan paginya. Aku mengalami pendarahan hebat dan sepertinya, itulah pertanda bahwa keinginan ayahku terpenuhi. Bayiku… anakku… malaikat kecilku…

Ia sudah tiada.

To Be Continued

A/N : Oke… jadi gimana untuk chapter 1 ini? Oh ya, aku juga mau bilang terimakasih yang sebanyak-banyaknya buat yg udah komen di teaser Dear Diary, aku senang banget krn postingan pertama itu mendapatkan respon yg sangat positif dari kalian semua. Walaupun ada juga beberapa kritik terutama untuk poster, tapi aku menyadari bahwa hal itu penting untuk perkembanganku dalam dunia menulis ini, jadi sekali lagi terimakasih yaa!🙂

With Love,

Author Park Anna

94 responses to “Dear Diary – Chapter 1 (I Can Go Through This)

  1. astaga…sonna,.huh tp ini memang kesalahan..engga seharusnya sonna gitu,.trs si cowonya itu juga haishhh…berani bgt,.engga tau dirii..orang uda punya istri juga.,ck..masalahnya tambahh ribet kan jadinya..
    .eh,.kiraiin tuh yg hamili si luhan looh chingu.. beneran,.
    disini apa luhan punya perasaan ma sonna kok rela dia nikahin sonna chingu..???

  2. Pingback: Dear Diary – Chapter 5 (Be With You) | FFindo·

  3. Thoor jadi sereem nama aku nana jugaa sama sama anak terakhir lagi–” tapi kereen koo lanjuut thor

  4. Pingback: Dear Diary – Next Chapter Preview | FFindo·

  5. Emang susah yah kalo hamil diluar nikah. Harusnya dikasih support sama kelarga. tapi disisi laen keluarganya juga pada kecewa…

    Luge keren deh mau tanggung jawab sama kesalahannya orang laen. cinte yah sama nana
    hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s