[Chapter 11] Fleas Love

(NEW) Fleas Love

kim JONGIN | na RUMI | park CHANYEOL

ROMANCE|COMFORT|SCHOOLLIFE

Jihan Kusuma Present

Chapter 1|2|3+4|5|6|7+8|9|10|11


cingcongs :

Jangan bunuh hayati pliss. Aku ingkar janji nih. Chapter ini pasti kurang panjang. Aku barusan nerima hasil try out dan alhamdulillah nilainya pada naik, karena itu mom jadi makin ngebatasin waktu buat maen laptop biar nilainya jadi perfect =0= cari sekolah bagus di jaman sekarang engga gampang, katanya T_T kalian juga yang mau ujian fighting yaaa!

at least

SELAMAT MEMBACA!!!


CHAPTER 11

Author’s POV

“…Chanyeol, mengapa kau bisa disini?” tanya Rumi sambil melangkah mendekati Chanyeol tetapi sebelum itu terjadi, Jongin terlebih dahulu menahan tangan gadis itu. Rumi menatap Jongin dengan pandangan penuh tanya.

‘Sebenarnya apa yang terjadi disini?’ pikir Rumi. Chanyeol juga kaget melihat Rumi yang ternyata bersama Jongin dan membolos bersama lelaki itu. Meski Chanyeol sempat menduga jika mereka membolos bersama, hatinya tetap sakit mengetahui kenyataan ini.

“Rumi, sebaiknya kita pergi dari sini.”

“Jongin ada apa?”

“Aku hanya sedang tidak ingin disini.”

“Agh, bisakah kau tidak menarikku?”

“Sebaiknya aku saja yang pergi.” cetus Chanyeol tiba-tiba. Dia merasa tidak enak menjadi orang ketiga. Selain itu tatapan tidak mengenakkan dari Jongin seakan mendesaknya untuk jauh-jauh dari kebersamaan mereka.

“Tidak Chanyeol. Tetaplah disini…” kali ini Rumi yang menarik tangan Chanyeol sebelum Chanyeol angkat kaki.

‘Sebenarnya apa yang terjadi disini? Aku butuh penjelasan. Mengapa Chanyeol yang sama sekali tidak ada hubungan dengan keluarga Jongin bisa muncul secara tiba-tiba? Dan ada apa dengan Jongin yang tampak risih dengan kehadiran lelaki itu? Sungguh, aku butuh penjelasan.’ batin Rumi lagi.

“Rumi lepaskan dia.” pinta Jongin.

“Tidak sebelum aku mendapatkan penjelasan dari kalian tentang ini semua.”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”

Chanyeol yang diam sambil membelakangi kedua orang itu terus menutup mulutnya. Sesungguhnya dia sedang menahan sakit hati yang kembali kambuh dalam hatinya. Chanyeol senang melihat Rumi bahagia, tapi, kenapa harus bersama Jongin?

“Jongin, aku mohon…” tambah Rumi.

O – O – O – O – O

Mata Rumi membulat semaksimal mungkin.

“Jadi artinya kalian bersaudara?” Gadis itu seakan tidak percaya atas apa yang indera pendengarannya baru saja tangkap. Dia sama sekali tidak menyangka bila sebenarnya kedua lelaki yang jauh berbeda sekalipun dilihat dari segi paling mikro itu ternyata berasal dari satu ayah yang sama. Dahi Rumi mengkerut sambil memandang Chanyeol dan Jongin secara bergantian. “K-kalian tidak sedang membohongiku kan?”

Rumi menatap Jongin lekat-lekat. Poni dan rambut kecoklatan lelaki tersebut berkibar dengan lembut mengikuti arah angin yang menerpa. Angin sejuk yang ada diatap rumah sakit bertingkat itu kini seolah ikut berkumpul dalam kebersamaan mereka. Jongin terus membuang pandangan seakan-akan dia benar-benar bosan dan tidak bergairah untuk membicarakan tentang ini. Ya. Lelaki itu tampak sangat tidak menyukai kenyataan jika dia bersaudara dengan Chanyeol. Dan Jongin enggan menjawab pertanyaan Rumi.

Kini Rumi beralih menatap Chanyeol. Ekspresi lelaki itu tidak jauh berbeda dari Jongin. Hanya saja Chanyeol masih mau mengalihkan matanya ke arah Rumi dan membalas tatapan penuh rasa penasaran dari gadis itu. Tetapi tetap saja. Salah satu dari mereka tidak ada yang bersedia membuka mulut walau hanya untuk mengucapkan kata ‘Ya’.

Rumi menghembuskan nafas lalu menyandarkan kepalanya pada pagar tralis yang membingkai seluruh tepi atap rumah sakit –yang kini mereka gunakan untuk sandaran duduk. “Kenapa kalian tidak bilang sejak awal?” kata Rumi sambil memandang Chanyeol dan Jongin yang masing-masing duduk di sisi kanan dan kirinya. Lagi-lagi pertanyaan itu tidak mendapat jawaban seolah itu sama sekali bukan pertanyaan yang penting. Rumi pusing memikirkan kedua lelaki ini. “Lalu kenapa kalian saling membenci? Kenyataan jika kalian bersaudara bukan sesuatu yang perlu disesali kan? Aku saja yang tidak memiliki saudara sangat ingin memiliki seorang adik atau saudara kembar.”

Hening. Hanya angin yang datang lalu pergi lagi dan sekedar lewat untuk mengacak-acak poni lurus Rumi. Rumi menggaruk pelipisnya dengan geregetan. Kenapa kedua lelaki itu berubah menjadi bisu di saat dia perlu mendapatkan jawaban? Mereka sangat kekanak-kanakan! Tiba-tiba Rumi meraih tangan Chanyeol dan satunya tangan Jongin. Gadis itu tersenyum lalu menautkan jari-jari besar kedua lelaki itu dengan harapan mereka bisa bersatu dan menjadi sepasang saudara yang berbahagia.

“Berjanjilah kepadaku agar kalian tidak bertengkat lagi. Ayo tersenyum!”

Krik…

Krik…

“Yaa! Ayo saling bertukar senyum!”

Hening.

“Chanyeol! Jongin!”

Jangankan air dan minyak. Kedua lelaki yang berasal dari benih yang sama ini saja tidak mau bersatu.

O – O – O – O – O

Esoknya di sekolah

Rumi’s POV

“RUMI! Kenapa kau kemarin tidak masuk?!” suara meledak itu terdengar hingga menyakiti telinga Rumi. “Kau tidak tahu seberapa besar rasa rinduku padamu hah? Kau tidak masuk tanpa ada surat ijin. Aku mencemaskanmu!” So Eun kembali berteriak.

“Anu…” =o=

“Hyaaa Rumi!” dia memeluk tubuh kecilku hingga aku nyaris jatuh. Aku kaget. Bagaimana tidak? Gadis ini tiba-tiba menghambur memelukku.

“So Eun… aku tidak bisa bernafas.”

“Rumi-ya! Kau harus beri aku penjelasan.”

“So- hhs…”

“Rumi, aku akan meng-copy semua catatanmu selama aku tidak ada.”

“So Eun, ijinkan aku bernafas.”

“Eh mian”

Begitu dia melepaskan jeratannya yang terasa begitu membunuhku itu, aku langsung meraup oksigen dengan rakus. Kurasa bobot tubuhnya bertambah drastis begitu dia di Jepang. Makanan di sana kan enak-enak. Kutatap wajah riang So Eun. Kenapa dia sangat bahagia hari ini? Apa hanya karena aku? Yayaya, aku memang merindukannya. Tetapi bila sudah berjumpa dengan sifat cerewet dan hyper-nya rasa rindu itu seolah luntur seperti pewarna rambut.

“Kau tampak lebih gemuk So Eun. Oh ya, bagaimana dengan lombanya?” tanyaku sambil menggaruk kepala. Bibir perempuan itu mengkerut. “Aku memang tidak menang. Tapi aku sudah senang bisa kesana.”

“Aku membeli makanan yang banyak disana. Aku juga membeli kimono dan seruling bambu. Oh ya, aku punya sesuatu untukmu.” gadis itu mengaduk isi tasnya penuh semangat kemudian mengeluarkan sekantong benda yang tampaknya tidak asing.

“Tada!”

“Tusuk rambut?” =o=

“Iya! Ini dari negeri sakura loh!” ^-^

“Oh iya. Untukku?” =o=

“Ne.” dia mengangguk dengan antusias.

“Kau jauh-jauh kesana hanya untuk membelikanku tusuk rambut? Kenapa tidak membeli sesuatu yang lebih berbobot seperti kipas rotan dengan pahatan hiragana atau payung dengan lukisan bunga sakura? Kalau tusuk rambut kan sudah tersedia banyak disini.”

“Yasudah jika kau tidak mau?”

“Ani, aku mau!” ^-^

“Haha. Ini pakailah! Kurasa kau akan manis mengenakannya.” ^-^ terimakasih So Eun.

Seorang lelaki dengan tas cokelatnya memasuki kelas lalu duduk tepat dibangku yang ada dibelakang kami. Bangkuku dan So Eun kan selalu berada di barisan paling depan.

“Eh Chanyeol. Selamat pagi.” sapa So Eun manis. Chanyeol hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman kecil yang tidak kuyakini bila itu tulus dari hatinya. Dia tampak berbeda hari ini. Bukan penampilannya. Hanya saja sikapnya lebih dingin.

Chanyeol langsung kembali keluar dari kelas tanpa berbicara banyak kepada kami seperti biasanya. “Hum… ada apa dengan lelaki itu?” tanya So Eun. Aku menunduk. Mungkin karena kemarin. Ya. Chanyeol kan memang begitu. Dia sulit melupakan sesuatu yang telah berlalu dan terus memelihara rasa sakitnya hingga mendarah daging. Kenapa aku jadi merasa tidak enak dan merasa bersalah? Padahal aku kan hanya berniat ingin mempersatukannya dengan Jongin.

“Rumi. Kau melamun?”

“Eh, ani.” aku tersenyum lebar sambil menggeleng cepat.

O – O – O – O – O

Aku pulang sendirian hari ini. Kata Chanyeol dia memiliki sebuah motor baru warna putih. Motor besar tepatnya. Ayahnya yang telah memberikan kepadanya. Jadi ini berarti, aku akan kembali pulang sendirian lagi tanpa ada orang yang kukenal yang akan berjalan disampingku dan mengajakku bercanda. Tapi, seharusnya aku tidak sedih lagi. Justru seharusnya aku ikut berbahagia atas motor baru tersebut. Rumah Chanyeol kan lebih jauh dan itu membuatnya harus naik bus.

Kutapakkan sepatu usangku menuju luar gerbang utama sekolah, kemudian berjalan sendirian ditepi jalan.

Author’s POV

Dari kejauhan dua orang lelaki yang telah menunggangi dua motor besar dengan merk dan type yang sama tetapi warna yang berbeda sedang melihati Rumi yang berjalan sendiri. Kedua lelaki itu saling berpandangan dari balik helm full-frame yang mereka kenakan sambil meng-gas motor.

Ya, seperti yang kalian tahu siapa mereka. Chanyeol dengan motor putihnya di sisi kiri dan Jongin dengan motor merahnya di sisi kanan. Kedua lelaki itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka solah berperang batin dalam tatapan mata yang sama-sama tajam tersebut. Beberapa saat kemudian, tanpa aba-aba kedua lelaki itu menjalankan motor dan menyusul seorag gadis yang sedari tadi telah mereka incar.

Rumi terkaget begitu melihat dua buah motor besar berhenti di samping kanan dan kirinya. “Chanyeol? Jongin?”

“Aku harap kau pulang denganku. Yah, aku hanya ingin menawarkan sebuah tumpangan spesial. Aku ingin kau menjadi perempuan pertama yang menaiki motorku.” ucap Chanyeol masih dingin seperti tadi pagi. Dia hanya tidak ingin Rumi pulang dengan Jongin. Itu saja.

“Rumi, sebaiknya kau duduk dibelakangku dan akan kuantar kau hingga rumah dengan selamat.” tangkis Jongin ketus.

Chanyeol terkejut dengan dua kata terakhir. Apa maksudnya dengan selamat? Chanyeol kan bukan penjahat.

Rumi menggenggam kedua tali tas yang tersampir di pundaknya. Dia sedang menimbang-nimbang kedua tawaran itu sambil menggigiti bibir bawahnya. Ya memang dia dan Jongin sudah berpacaran dan saling mencintai. Tetapi setidaknya gadis itu tidak mau menyakiti hati Chanyeol yang notabenenya sahabat sekaligus teman lelaki yang sangat dia sayangi.

Rumi melirik kedua lelaki tampan itu bergantian. “Ani, aku bisa pulang sendirian.” balas Rumi sambil kembali berjalan cepat meninggalkan mereka yang terbelalak mendengar jawaban perempuan manis itu. Ya, coba kalian bayangkan bila menjadi gadis itu? Mana yang akan kalian pilih diantara kedua pilihan yang begitu sulit itu. Bagai memilih salah satu diantara sebongkah berlian atau satu karung emas batangan. Sangat sulit.

“Rumi!” panggil Jongin sambil meng-gas motornya mengikuti perempuan itu. “Eh!” Chanyeol segera mengikuti dibelakangnya. Rumi berlari. Dia tidak mau mengecewakan salah satu dari mereka. Akan sangat bahaya bila salah satunya akan tersinggung dan hubungan antara dua bersaudara itu kian memburuk. Jadi alangkah lebih baiknya jika dia menahan diri dan menolak keduanya.

Tetapi setelah itu.

“Kita bertemu lagi nona manis.” seorang lelaki dengan wajah putih bersinar dan dahi yang bisa dikatakan berbentuk sempurna itu sedang berdiri tepat dihadapan Rumi. Gadis itu terhenti seketika menyadari lelaki yang tidak asing. Bayang-bayang tentang kejadian buruk yang menimpanya lusa kembali terngiang dan membuatnya merinding. Dia tahu lelaki itu tetapi sama sekali tidak tahu namanya.

Siapa tebak?

Tepat sekali.

Junmyeon kini sedang melipat kedua tangannya sambil menatap mesum kearah Rumi. Dibelakangnya berjajar beberapa lelaki yang Rumi ketahui beberapa bernama Sehun, Tao, Minseok, dan Chen. Dan pada saat itu juga Jongin dan Chanyeol ikut berhenti dibelakang Rumi dengan segala pertanyaan yang muncul di benak mereka.

‘Bagaimana bisa bajingan itu menampakkan diri lagi?’ batin Jongin. Serigala murka dalam diri Jongin kambuh dalam beberapa detik usai melihat genk motor yang pernah menantangnya untuk racing satu tahun lalu. Pada saat itu Jongin menerima tantangan Junmyeon dan setuju bila pemenangnya akan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Sial sekali. Jongin kalah. Tetapi itu bukan murni kekalahannya. Salah satu dari genk mereka melakukan sabotase. Itulah yang membuat Jongin tidak mau membayar kekalahannya. Dan seperti yang dia ketahui, mereka semua pengecut yang selalu berusaha menghancurkan hidup orang lain. Junmyeon cs membalasnya kepada Rumi. Kekasihnya.

Rahang Jongin mengeras disertai tatapan membakar dari kedua bola matanya. Lelaki itu segera turun dari motor dan berjalan mendekati Junmyeon. Jongin melayangkan sebuah tinju tetapi segera ditepis lelaki kecil didepannya. Lelaki itu bertubuh pendek tetapi begitu kuat. “Hei hei, beraninya kau mencuri start? Aku bahkan belum menyapa kepada gadis manismu ini.” Junmyeong dengan segala kekurangajar yang mengalir dalam darahnya kini membelai dagu Rumi. Rumi merasa jijik dan menampik tangan lelaki tersebut. Begitu juga Jongin yang langsung memelintir lengan Junmyeon.

“Santai Jongin.” Junmyeon menendang tulang kering lelaki berkulit kecoklatan itu dan membuat Jongin mengaduh. Junmyeon tertawa.

“Chanyeol! Bantu Jongin! Aku mohon!” Rumi berlari ke arah Chanyeol dan menarik jaket Chanyeol. Dia sangat berharap Chanyeol masih berbaikhati dan mau membantu saudaranya. Junmyeon tersenyum miring. Eyeliner yang terlihat terlalu tebal itu membingkai mata elang Junmyeon. Membuat kedua matanya tampak lebih tajam. “Haha, ada orang lain rupanya. Guys! Kalian bisa maju!”

Lelaki kecil itu memanggil teman-teman yang tidak kalah bajingan darinya. Membuat Jongin terkepung dan bingung. Tetapi pada saat itu juga Chanyeol berdiri di samping Jongin. Membuat Jongin menoleh kearahnya dan terkejut. “Aku melakukannya untuk Rumi.” bisik Chanyeol rendah. Jongin tidak membalas. Chanyeol menatap Junmyeon dan lelaki yang jauh lebih pendek darinya itu balas menatap dengan muka intens yang minta dilempar pisau. Ya. Jongin begitu bernafsu memotong bibir Junmyeon dan mencabik-cabik kulit wajahnya dengan pisau.

“Brengsek!” Jongin meninju perut Junmyeon hingga dia terjatuh dan ditangkap oleh salah satu anggota yang lain. Nafas Jongin terdengar patah-patah. Dia dan Chanyeol saling berpandangan selama beberapa saat dan mengangguk bersama-sama. Perekelahian ini terjadi begitu menegangkan. Aksi tendang-menendang, pukul-memukul, dan lemparan kata-kata kotor yang membuat siapa saja ngeri mendengarnya terjadi begitu saja selama hampir satu jam. Pipi Chanyeol telah biru dan dahinya berdarah. Rumi menutupi wajah sambil berdoa berharap kedua lelaki yang dia sayangi tetap memenangkan pertarungan yang tidak seimbang ini –walau itu terdengar tidak mungkin.

Korban pertama adalah Chen yang memang tidak pintar dalam bertarung. Salah satu persendiannya kesleo karena mendapat tendangan kuat dari kaki besar Chanyeol. Dan kedua adalah Junmyeon karena Jongin yang memukul telinganya hingga mengeluarkan nanah. Dan kali ini Minseok dan Tao yang bertarung seri melawan Jongin dan Chanyeol. Rumi terus berdoa dan berdiam diri. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Minseok menggenggam tangan kanan Jongin dan siap mematahkan hasta lelaki tersebut. Tetapi sebelum itu terjadi Chanyeol terlebih dulu meninju punggung Minseok hingga terdengar bunyi seperti tulang patah yang membuat Rumi tidak tahan. Ini kali pertamanya gadis itu melihat pertarungan antar lelaki secara langsung.

Dan gawat!

Rupanya dibelakang Chanyeol terlihat Tao yang hendak memukul dengan sebongkah kayu. Rumi panik. Chanyeol tidak tahu itu dan Jongin belum bisa lepas dari genggaman Minseok. Tanpa pikir panjang, Rumi melepas salah satu sepatunya dan melemparkan benda itu ke Tao. Tepat sekali. Bahkan siapa saja tahu bila Rumi bukan seseorang yang pandai dalam hal lempar-tangkap. Tetapi lihatlah! Lihat! Sepatu itu meluncur tepat menumbuk selangkangan Tao samapai-sampai Tao merintih dan menggagalkan rencananya.

Yap! Kali ini tinggal Minseok. Dua lawan satu, tentu saja Minseok kalah karena dihajar habis-habisan oleh mereka. Kini Jongin dan Chanyeol berlutut diatas jalan dengan nafas terengah-engah dan keringat membasahi seragam mereka yang ternodai beberapa tetes darah. Dahi Chanyeol berdarah dan kakinya yang memar, sedangkan Jongin pinggangnya luka dan bibirnya berdarah. Mungkin bukan hanya itu. Masih banyak goresan luka dan lebam yang tersembunyi. Mungkin besok mereka tidak bisa masuk sekolah. Padahal ujian untuk semester akhir akan segera berlangsung. Rumi berlari dan kembali mengambil sepatunya.

“Jongin, mana ponselmu?”

“Untuk apa Rumi?”

“Aku akan memanggil pihak rumah kalian!”

O – O – O – O – O

“Bisa tolong ambilkan satu botol antiseptik lagi”

“Baik nona” maid yang mungkin berusia kurang lebih empat puluh tahunan itu membungkuk dengan sopan kepada Rumi yang sedang duduk diantara kedua lelaki. Kedua lelaki itu tidak lain tidak bukan adalah Chanyeol dan Jongin. Mereka dengan wajah yang penuh luka itu kini mendapat perawatan spesial dari Rumi sebagai perawatnya.

“Aduh,” pekik Jongin sambil memegangi perban yang terbalut membungkus lengannya. “Jongin! Jangan dipegang-pegang!” sahut Rumi lalu kembali membersihkan darah yang mulai mengering di dahi Chanyeol. Jongin melirik perempuan itu dengan tajam. Rumi bahkan lebih intensif merawat Chanyeol dibanding dia. Karena memang Chanyeol terluka lebih parah daripada Jongin.

Tetapi tiba-tiba sebuah limosin warna ungu tua terparkir didepan gerbang. Ketiga orang itu terkejut ketika melihat siapa yang turun dari sana. Omoni sedang duduk di kursi roda dengan seorang pelayan lelaki yang mendorongnya.

“Eoh? Omoni sudah pulang dari rumah sakit?” tanya Chanyeol.

“Apakah dia benar-benar sudah sembuh?” tambah Rumi.

Omoni membuka mulut dengan lebar begitu melihat siapa perempuan yang kini sedang berada di ruang tamunya. Dia lebih kaget ketika melihat kedua puteranya terlihat begitu menyedihkan dengan perban disana-sini dan bekas-bekas pukulan.

“Rumi? Jongin? Chanyeol?”

Oh tidak, jangan sampai perempuan tua itu kembali kambuh dan dilarikan lagi ke rumah sakit padahal dia sama sekali belum sempat menapakkan kaki di lantai rumahnya. “Omoni. Jangan terkejut. Aku bisa jelaskan!” celetuk Rumi sambil berusaha menenangkan perempuan itu.

tobecont

aaargh aku ingkar janji nih. Chapternya pendekan yah? Chapter depan panjang dehhh… jangan pada marah yaaa /monstereyes/ ^O^

Chapter depan bakal makin asik soalnya sekolah mereka bakal ada wisata ke vila di ujung bukiiit dan bakal ada beberapa moment panas antara Jongin sama Chanyeol. Dan inilah bocorannya :


“Rumi, kau bisa tidur di bahuku.” –Chanyeol

“Jongin!” –Rumi

“Sekarang kau mencemaskanku begitu?” –Jongin

“Kemana lagi gadis itu?” –Chanyeol

“Rumi… dia… dia menghilang!” –Soeun

“Aku akan mencari Rumi!” –Chanyeol

“Tidak, biar aku saja!” –Jongin

“Chanyeol, lalu kau-” –Rumi

“Aku kuat, aku seorang lelaki.” –Chanyeol

“Lepaskan aku, Chanyeol! Kenapa tidak sejak tadi kau katakan bila Jongin juga ikut campur tangan dalam masalah ini? Aku harus mencari Jongin!” –Rumi


hayuuu makin ruwet konfliknya. Pokoknya tunggu aja okey, kalo senggang dan sempet nyuri waktu buat mainan wifi aku bakal langsung posting!

Jika ada kurang lebihnya mohon mangap ^0^

Komentar dinanti…!

Wassalam ^^

/bigbow/

17 responses to “[Chapter 11] Fleas Love

  1. dapat email, eh kok judulnya gak ada ya.
    dan stelah melihat sedkit, ini fleas love ff yg ditunggu2 munculnya hehe.
    finally rumi sudah tau apa hubungan mereka berdua.
    ckck dasar emg ya, susah untuk diajak ngomong. mending pas diatap tinggalin aja mreka supaya mereka bisa ngomong. ngejawab aja enggak. tapi rumi orgnya baik hati, rumi mau jadi penengah diantaranya.

    soeun syudah kembali. haha tusuk konde?
    eh salah tusuk rambut ya. soeun pelit apa, msa gtu dongan yg dibeliin *nahloh* #kidding.

    cie cieciee motor baru warna putih.
    eneng mau naik bang, biarlah rumi dengab jongin. #apaansih

    junmyeon, lelaki berdahi sempurna?? iya sih. kok malah nongol, mau cari gara2.
    wawww seruu bagian berantemnya.
    btw oh sehun lari yak. namanya tak ada disana ya han.
    tapi tak ape, saya senang suami saya tak ikut berantem. hehehe
    babak belur dah semuanya.
    eomoni keluar dri rumkit gak blg, n datang diwaktu yg tidak tepat. jgan sampe lah msuk rumkit lagi.

    chapternya emg pendek sih.
    janji ya han. chapter dpan panjaaaaaanggggiin hehehe
    gmna ujiannya han? bguskah?
    eh tadi udh dibhas ya diawal. pokoknya semangat deh buat han sshi.

    apa? ada apa dengan chapter depan?
    sbelum ujian mreka jlan2 n nginep dlu nih divilla.
    seru kayaknya.
    masih blum bisa nebak apa selanjutnya.
    ditunggu aja deng ff next chapnya han.
    udah deh. kyaknya neng aja coment yg selalu kepanjangan.
    hahhaha jgan mrah ya klo bca comentan eneng yg panjang hehe lol

    • awwwh komentarmu kalo kata cherry belle “istimewah”😄
      aku waktu itu dengan cerobohnya lupa ngekasih judul postingan ini😄 waa bodohnya dirikuu
      kamu keknya ngerti banget karakter rumi disini?🙂 tersanjung deh jadinyaa
      tunggu aja chapter depannya oks? ^0^
      fighting!

  2. Wihhh akhirnys post juga.. Chap ini ringan tp yah eon.. G sberar yg kmrn2.. Jd nunggu2 nih chapter sjanjutnya yg ktnya lebih hot.. Gahaaa…

  3. waaaa makin seruu, duh enak ya rumi deket2 cogan mulu bhaq
    dikit banget emang chapter ini, ditunggu kelanjutannya ya. btw semangat belajarnyaa^^

  4. Ahh, rumi sama jongin ajalah, feel nya lebih dapet deh. Itu jongin ada masalah baru lagi? Ah makin asyik kalo ada rumi, jongin bisa mencari keeempatan. Tapi udah bagus kok, aku suka ff ini, keep writing yaa!! #readerbanyakbacot😀

  5. Yaelah itu si Junmyeon ngapain ada disitu -__- Rumi sama Jongin ajaaaa T___T Chanyeol jodohin aja sama Soeun, Soeunnya juga suka kan sama Chanyeol T_T Jongin baikkan aja sama Chanyeol, feelnya berasa kalo kalian ade kakak/? Next chapternya kutunggu thor~

  6. thor itu salah ngasih judul atau gimana?- – harusnya ini chap 11 ya kan? Ya ga sih? Oia Ceritanya seru bget, kalo aku jadi rumi sih bakaln bingung pilih yg mana xD anyway suho and the geng kalah yaaa kasian

    • iya waktu itu ga sengaja ketotol angka 12nya T_T ituu jempolan Han lagi keseleo /alibi/
      plis maafin aku yang cerobohnya ga ketulungan. ok, thanks udah baca ini…

  7. ketauan juga kan hahahaaa gapapa lah daripada diumpetin terus
    untung Rumi gak milih dua-dua nya, padahal kan Jongin pacar nya dia wahahaha poor jongjong :p yeh si aki-aki ngapain ribut sama anak muda? bhakk :v ujung-ujung nya kalah kan, belagu sih nih aki-aki (suho) wwkwkkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s