Silent In A Married (Chapter 8)

Previous :

Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4 – Chapter 5 Chapter 6 – Chapter 7

Title             :Silent in a Marriage 8

Cast            :Wu Yifan

Choi Jihwa (Oc’s)

Park Chanyeol

Length                  :Chaptered

Ratted                   :G

Author                  :Innocent Alien / Zee

 

 

Innocent Alien present~

 

“Baiklah semuanya, saya rasa sudah sampai disini dulu pertemuan kita pada hari ini, sampai jumpa minggu depan” seorang dosen paruh baya membetulkan letak kacamata minusnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kelas yang sekarang nampak sedikit gaduh.

“Kemarin Himchan sunbae menanyakan tentang kencan kalian nona Choi” Chaerin merapikan buku yang berserakan diatas mejanya.

“Lalu?” Jihwa menatap yeoja itu dengan tatapan tak tertarik.

“Oh ayolah.. kau sungguh ingin membatalkannya? ” Chaerin menghela nafas sembari menatap Jihwa dengan tampang memelas terbaiknya.

“Iya..”

“Tapi kenapa? Ayolah ini kencan err.. pertamamu, jangan sia siakan hal ini”

“Minggu lalu aku menunggunya berjam jam, tapi ternyata kencannya minggu ini, kau pikir aku apa? Patung selamat datang? Dan lagi pula aku sudah berken- oh maksudku”

“Benarkah? Kau berkencan? Dengan siapa? Ayolah katakan ayo..” Chaerin memotong perkataan yeoja itu sembari menggoncang pelan bahu sahabat karibnya itu.

“Tidak.. tidak.. lupakan saja, lagipula aku hanya asal bicara..” Jihwa membuang muka sembari berjalan keluar kelas dengan tas ditangannya.

“Jihwa.. hey! Kau berbohong padaku.. siapa pria beruntung itu eoh?” Chaerin berlari kecil sembari menyamakan langkahnya dengan Jihwa, mereka kini berjalan dikoridor kampus, menuju tempat parkir lebih tepatnya.

“Aku tidak berbohong, aku hanya asal bicara, sungguh..”

“Jihwa.. kau tidak bisa berbohong padaku.. ”

“Baiklah baiklah akan ku ceritakan.. tapi itu tampaknya bukan kencan atau sejenisnya..” Jihwa menyerah, dia mungkin benar benar tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya itu.

“Jadi? Siapa pria itu?”

“Hmm.. Kris..” Yeoja itu mengatakannya dengan sedikit ragu, terlebih saat dia melihat ekspresi Chaerin sedetik kemudian.

“KRIS?! Hahaha lelucon konyol apa ini? Ah.. maksudku setan apa yang merasukinya? Atau.. atau kau sudah memberikan ramuan cinta pada pria sedingin es itu?” Tawa Chaerin terhenti saat Jihwa menatap datar kearahnya.

“Bisakah kau kencangkan suaramu lagi agar seisi kampus ini tau?” Ucap Jihwa dengan nada datar, sahabatnya itu memang nampak bodoh bila mendengar hal hal mustahil.

“Oh baiklah baiklah maaf, hehe.. jadi kalian sudah?”

“Sudah apanya? Lagipula itu bukan terlihat seperti kencan..”

“Lalu? Ayolah ceritakan..”

“Kami hanya makan Tteokbokki bersama, itu saja.. dan lagipula itupun tanpa sengaja..” Jihwa mengalihkan pandangannya pada anak anak kampus yang berlalu lalang.

“Hai Jihwa, semoga harimu menyenangkan..” sapa beberapa dari mereka..

“Iya kau juga ya..” ucap yeoja itu sembari tak menghentikan langkahnya.

“Tapi bagaimana bisa nona Choi? Maksudku-”

“Ya begitulah.. ayolah, aku paling tidak suka menceritakan hal seperti itu..” Jihwa menghentikan langkahnya sembari menatap Chaerin dengan wajah memelas.

“Aish.. baiklah baiklah.. percepat langkahmu, temani aku makan siang ya? yayaya?”

“Baiklah.. kau yang traktir kan?” Ucap Jihwa sembari menaik turunkan alisnya.

“Kau kan baru berkencan.. seharusnya kau yang mentraktirku” goda Chaerin.

“Sudah kukatakan itu bukan ken-”

“Ah baiklah baiklah.. aku yang traktir, cepatlah jalan..”

 

 

Kini mereka berdua duduk disebuah Restaurant bergaya klasik di kawasan Gangnam, membicarakan hal hal aneh yang terdengar agak konyol dan sebenarnya tidak penting, mereka berdua memang sahabat yang sangat dekat, hingga membicarakan hal apapun akan terasa cocok.

“Bagaimana dengan tugas skripsi? Juga tempat magang?” Chaerin benar benar ingin beranjak dari tempat duduknya lalu pergi dan tidak mau menemui sahabatnya itu lagi saat Jihwa membahas tentang itu, dan itu pasti akan berujung dengan gadis itu akan memarahinya.

“Hehehe..” Chaerin hanya bisa memasang tampang bodoh pada gadis itu.

“sudah atau belum?” Jihwa mendelik menatap sahabatnya itu dengan tajam.

“Belum” Jawab Chaerin, dan sedetik kemudian, Jihwa, gadis itu hanya memberi respon dengan membulatkan mulutnya, dia sudah terlalu lelah memarahi sahabatnya itu.

“Kau juga belum Hwa?” Chaerin bertanya dengan wajah tanpa dosanya

“Skripsiku sudah selesai satu minggu yang lalu, dan minggu ini tinggal memilih tempat magang yang cocok, dan kau,, apa yang kau fikirkan nona Lee? Kau tidak ingin ikut Wisuda? Astaga, apa aku harus menelpon Bibi dan Paman lagi?” Chaerin menggeleng cepat dengan wajah memelas.

“Ayah akan menghukumku, ayolah Jihwa sayang.. Biarkan sahabatmu ini menikmati masa mudanya..” Gadis itu mulai berbicara dengan nada berlebihannya.

“Kau itu terlalu menikmati masa muda Chae sayang..” Jihwa memakan makanan yang mereka pesan.

“Dan kau terlalu menyianyiakan masa muda..”  Chaerin memutar bola matanya, membuat Jihwa mendelik kesal pada gadis itu.

“Aku tidak pernah menyianyiakannya bodoh, aku hanya tidak suka dan terlalu muak dengan ini semua, lihatlah sekarang, aku seperti mayat hidup, benar benar seperti mayat hidup, hidupku hitam dan putih, seperti Televisi zaman dulu, tidak ada warnanya” Jihwa menggertakkan giginya, menusuk potongan daging Steak miliknya.

“hahaha okey, haruskah aku mengajarkanmu tentang apa itu kebahagiaan Jihwa sayang?” Chaerin membentuk tangannya seperti siap untuk mencakar.

“Tidak, aku tidak semenyedihkan itu bodoh, cukup membayangkan orang yang membenciku sebagai daging ini dan kupotong potong seperti ini, dan begini, lalu seperti ini, itu sudah membuatku senang, hahaha” Jihwa memotong motong daging Steaknya lalu memakannya dengan wajah menakutkan, kemudian mereka tertawa bersama sama, entah apa yang lucu.

“daging itu sebaiknya adalah Mr. Wu” saat Chaerin mengatakan hal itu, dan sedetik kemudian mereka kembali tertawa bersama sama.

“Dia pikir aku tidak lelah saat dia memperlakukanku seperti patung lilin kemudian membiarkannya berjalan melaluiku dengan wajah balok esnya itu, ah yang benar saja, mungkin dia tidak pernah mendengar lelucon dari paman kantin kampus kita”

“Apa hubungannya dia dengan lelucon paman kantin kampus kita?” Chaerin memasang tampang bingungnya.

“Tidak ada” dan lagi, mereka kembali tertawa bersama sama, ini kesekian kalinya mereka membicarakan tentang Kris, dan itu akan berakhir dengan gurauan garing yang akan membuat mereka tertawa bersama.

 

“It’s been a long day, without you my friend, and i’ll tell you all about it

When i see you again..”

 

Handphone Jihwa berbunyi menandakan ada seseorang yang menelponnya. gadis itu menempelkan telunjuk pada bibirnya, mengisyaratkan kepada Chaerin agar diam sebentar, kemudian gadis itu mengangkat telponnya dengan senyum yang tersungging dibibirnya

“Yeobosseo oppa”

“Kau dimana?” tanya seseorang disebrang sana

“Aku, di restaurant bersama teman”

“Teman? Siapa? Laki laki atau perempuan?”

“Perempuan”

“Bukan perempuan jadi jadian kan?” seseorang disebrang sana mencoba untuk bercanda.

“Dasar.. Jadi ada apa kau menelponku oppa?”

“Hmm, apa malam ini kau sibuk? Aku hanya ingin mengajakmu sekedar jalan jalan”

Chaerin terlihat mendekat, berniat untuk menguping, membuat Jihwa mengepalkan tangannya, seolah olah ingin mengancam sahabatnya itu jika mencoba ingin mendengar pembicaraan telponnya, Chaerin menggerakkan mulutnya seolah bertanya siapa yang sedang menelpon. Jihwa memang belum bercerita tentang Chanyeol padanya, karena dia terlalu malas menceritakan pada sahabatnya itu.

“Sepertinya tidak, kau bisa menjemputku nanti malam oppa, sudah dulu ya oppa, Byeeeee” Jihwa menutup telponnya secara sepihak, bersamaan dengan tatapan menggoda dari Chaerin.

“Siapa tadi? Kau akan berkencan? Kau dekat degan pria? Kenapa kau tidak bercerita denganku? Seperti apa dia? Dimana kalian bertemu? Ayolah ceritakan, ayolah..” Chaerin menaik turunkan alisnya, mencoba merayu sahabatnya itu agar mau menceritakan sesuatu kepadanya.

“Kau harus janji tidak akan mengatakan pada siapapun, dan juga kau harus janji kalau kau jangan berlebihan.” Jihwa menatap gadis itu dengan mata melebar.

“Janji janji jani, seribu kali berjanji Jihwa sayang” balas Chaerin sembari memperlihatkan tampang lucunya yang lebih bisa dikatakan sebagai tampang konyol.

“Itu tadi Chanyeol oppa”

“Chanyeol? Chanyeol EXO? Park Chanyeol? Apa benar Park Chanyeol?” Jihwa menatap Chaerin dengan tampang datar.

“Kau memotong pembicaraanku” ucap gadis itu datar.

“Hehehe, baiklah baiklah, lanjutkan, aku tidak akan memotongnya lagi..” Chaerin memperlihatkan sederetan gigi putihnya.

“Sebenarnya aku dan Chanyeol oppa adalah teman, ketika kami masih kecil kami sudah berteman, dan kami baru saja bertemu beberapa waktu yang lalu setelah sangat lama kehilangan kontak, kami akhir akhir ini sering bersama, jangan dipotong dulu Nona Lee, kami hanya teman, tidak ada yang spesial, hanya keluar bersama kemudian pulang. itu saja..” jelas Jihwa panjang lebar.

“Bukankah dia dengan Kris teman dekat?” Chaerin bertanya dengan alis yang mengerut.

“Iya, dan itu akan jadi masalah besar jika Chanyeol oppa tau aku dan Kris oppa sudah menikah”

“jangan sampai tau, itu adalah kuncinya” ucap Chaerin singkat.

“Aku juga tau Chae sayang..” Jihwa meminum minumannya.

“tapi ini semua akan disudahi suatu hari nanti”

 

 

Angin dingin berhembus menerpa kulit putih seorang gadis dengan cardingan berwarna biru malam miliknya, Jihwa, gadis itu berdiri diperempatan jalan, menunggu Chanyeol menjemputnya.

Sebuah mobil audy hitam berhenti dihadapan gadis itu, seseorang keluar dari mobil itu dengan pakaian Casual, dia tersenyum kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Jihwa.

“Silahkan masuk sayang” ucap Chanyeol, membuat Jihwa memukul kecil namja itu, gadis itu memasuki mobil mewah itu dengan perlahan, dan kemudian membiarkan Chanyeol menutupkan pintu untuknya, kemudian namja itu berlari menuju bangku kemudi, lalu menjalankan mobilnya untuk berbaur dengan mobil mobil lainnya.

“kita mau kemana? Tanya Jihwa sembari memperhatikan jalanan yang penuh dengan lampu lampu hias.

“Kau juga akan tau nanti.” Chanyeol memainkan musik yang ada di mobil itu, sebuah musik klasik terputar dengan manis, membuat Jihwa tersenyum lebar, karena itu adalah musik favoritnya, bukan, tapi musik favorit mereka berdua,

“sangat lama kita tidak mendengarnya bersama sama..” Ucap Chanyeol seolah mengerti apa yang akan dikatakan Jihwa.

“Aku benar benar merindukan lagu ini, dulu terakhir kali kita mendengarkannya saat perpisahan kelas, iyakan?”ucap Jihwa dengan menerka nerka masa lalu mereka.

“Iya, hahaha” Chanyeol tertawa kecil dibalik kemudi, mereka terus mengobrol, hingga sampai disebuah tempat yang langsung membuat Jihwa tersenyum senang.

“Ini.. Ini..”

“Seoul Square Outdoor Ice Rink” Chanyeol mengusap kepala Jihwa sigkat kemudian mengajak gadis itu untuk turun bersama, dia tau kalau Jihwa sekarang sangat senang, karena dulu dia sangat suka main Ice skating saat musim salju, itulah mengapa namja itu membawanya kesini sekarang.

 

 

Jihwa mengaiskan kakinya diatas lantai es yang licin dengan sepatu skate yang sudah merekat dikakinya, dia sangat senang, itu terlihat nampak diwajah gadis itu.

“Memangnya Oppa bisa main Ice skating? Bukannya dulu tidak?” Gadis itu berhenti saat melihat Chanyeol yang sedang memasang sepatu skatenya.

“Kau tidak tau ya saat pemain Ice skating profesional beraksi?” Chanyeol mencoba untuk berdiri dari licinnya lantai es, membuat Jihwa tertawa kecil, gadis itu berputar putar kecil kemudian melesat menuju Chanyeol, dia berdiri tepat dihadapan namja itu.

“Apa pemain Ice skating profesional butuh bantuan untuk berdiri?” Gadis itu bertanya dengan nada mengejek, membuat Chanyeol mencibir kecil, Jihwa membantu namja itu untuk berdiri dengan langkah yang tidak seimbang.

“Berdiri saja tidak bisa, oppa benar benar payah” gadis itu terkekeh geli, kemudian menarik Chanyeol untuk meluncur bersamanya, dia menarik tangan namja itu perlahan mengelilingi ring ice skating.

“jaga keseimbangan oppa~ya” Chanyeol melangkahkan kakinya perlahan, sembari berpegangan dengan gadis itu, dia akui kalau Jihwa sangat pandai bermain Ice skating, dia memang pandai dalam banyak hal.

“Apa oppa sudah bisa? Ayo, kalau sudah bisa aku akan melepaskanmu” Jihwa melepaskan sebelah tangan Chanyeol yang berpegangan padanya.

“Jangan lepaskan, aku akan jatuh Hwa, jangan.. Jangan lepaskan, jangan ditarik, Jihwaaaaaa” namja itu setengah berteriak saat Jihwa menariknya sembari meluncur bebas diantara licinnya lantai ice skating, Jihwa, gadis itu terlihat tertawa kecil ketika melihat ekspresi Chanyeol yang ketakutan, namja itu benar benar takut terjatuh.

“Jaga keseimbanganmu Park Chanyeol, kau akan jatuh jika memperlihatkan tampang konyol seperti itu, hahaha” Jihwa berucap dengan nada mengejek, membiarkan Chanyeol yang terus mencibir padanya.

“Aku akan mati”

“Tidak akan”

“Sungguh Hwa sayang, jangan terus meluncur, nanti kita tergelincir, aku tidak mau mati..” Chanyeol berucap dengan nada memohon, sedangkan Jihwa terus tertawa menertawakan ucapan konyol dari pria itu.

“tenang saja, kalau kau mati aku yang akan mengurus pemakamanmu dan juga akan menangis 7 hari 7 malam untukmu..” Gadis itu meraih sebelah tangan Chanyeol yang tadi dia lepaskan kemudian meluncur bersama namja itu secara perlahan, dia menjaga tubuhnya dan tubuh Chanyeol agar seimbang.

“Ikuti aku oppa, Kaki kiri kemudian kanan..” Jihwa menyuruh namja itu untuk mengikuti arah kakinya, mereka kini sedang berhadapan dan saling berpegangan tangan, menjaga keseimbangan satu sama lain.

“Kiri kemudian kanan” ucap Chanyeol  sembari tersenyum,  dia menatap gadisnya yang kini terlihat serius mengajarinya meluncur.

“Cobalah pelan pelan” Jihwa kembali melepaskan sebelah tangannya, membiarkan Chanyeol berjalan sedikit demi sedikit.

“Aku seperti anak kecil yang barusaja diajarkan berjalan oleh ibunya” Goda pria itu sembari masih menjaga keseimbangannya.

“Anak kecil raksasa” ejek Jihwa, gadis itu kini sudah melepaskan pegangannya pada Chanyeol, membuat namja itu sedikit berteriak, karena Jihwa mendorongnya untuk kembali meluncur bersama.

“Jihwa, jangan, aku akan jatuh..”

“Tidak, tidak akan jatuh, hahaha” gadis iu tertawa kecil.

“Hwaaaa aku benar benar akan jatuh” erang Chanyeol.

“Tidak ak-”

‘Bruk’

Suara itu sudah dapat menjelaskan apa yang telah terjadi, kini mereka terjatuh diatas dinginnya lantai es dengan posisi Jihwa yang menindih badan Chanyeol.

 

Seorang anak perempuan menangis diatas hamparan es di musim salju, dia terjatuh dan kakinya berdarah, gadis itu tidak tahu apa yang akan dia lakukan sehingga dia hanya menangis.

Sepasang kaki kecil dengan sepatu skate berdiri tepat dihadapannya.

‘Bruk’ dengan sengaja anak laki laki kecil itu menjatuhkan dirinya bersama dengan gadis kecil yang kini mulai berhenti menangis, kaki anak laki laki itu juga berdarah karena  lantai es yang melukainya.

“Kenapa kau menjatuhkan dirimu?” anak perempuan itu bertanya dengan sesengguknya.

“aku sudah menyuruhmu untuk diam, tapi kau tidak mendengarkan, jadi aku putuskan untuk jatuh bersamamu agar kau tidak terluka sedirian..” mungkin itu adalah kata kata termanis yang dikatakan oleh seorang anak kecil.

“Kev, aku benar benar tidak bisa berkata apa apa” gadis itu memandangi kakinya dan kaki anak laki laki disampingnya yang sama sama terluka.

“Katakanlah kalau kau tidak akan menangis lagi, itu sudah cukup Cia” Mungkin hanya Kevin anak kecil yang bisa berbicara seperti itu.

“Aku tidak akan menangis lagi”

“Nah itu lebih baik” Kevin kecil berdiri menahan sakit yang ada dikakinya, dia menarik anak perempuan yang ada disebelahnya itu untuk berdiri bersama.

“ayo pulang” mereka berjalan bergadengan, benar benar terlihat manis untuk sepasang anak kecil.

 

 

“Kan sudah kubilang sayang, jangan mendorongku, kenapa kau itu terlalu jahil” Namja itu membuyarkan pikiran Jihwa, mereka kemudian terdiam, kemudian membenarkan posisi masing masing, Jihwa masih terbayang tentang masa lalunya dulu dengan Kevin, dia semakin merindukan anak kecil yang dulu sudah mengucapkan sebuah janji padanya itu.

 

 

Kau dimana Kev, aku merindukanmu..

 

 

“Kau dimana hyung? Aku menunggumu di dorm” seorang pria terdiam menerima telpon dari temannya, dia menyimpan sepatu Skatenya kedalam tas, awalnya pria itu ingin menghabiskan waktunya di dalam ring ice skating, karena perasaannya sangat buruk, tapi itu semakin memperburuk perasaannya saat melihat pemandangan yang membuatnya merasakan perasaan aneh, sejenis perasaan tidak suka di area ice skating, pria itu berjalan gontai menuju tempat parkir, apa yang dilihatnya tadi terputar begitu saja dibenaknya, seperti sebuah film rusak yang tak bisa dihentikan begitu saja, ini seharusnya bukanlah sesuatu yang pantas untuk dia rasakan, dia benar benar tidak ingin merasakan ini, mungkin dia terlalu egois karena selalu mentiadakan apa yang dia rasakan, tapi ego memang selalu tidak bisa untuk dikalahkan.

 

 

Jihwa, gadis itu terlihat menatap lekat sebuah bangunan pencakar langit dengan cat putih tulang, tulisan “Hospital” tercetak jelas diatas gedung itu.

“Hwaiting Jihwa~ssi” Jihwa mengepalkan tangannya, dan berbisik dalam hati, berniat untuk menyemangati dirinya sendiri. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan menuju bangunan yang sering disebut sebagai Rumah Sakit itu, ini adalah hari pertamanya magang disana, dengan beberapa berkas yang akan diserahkan, dia tetap berjalan, tidak peduli dengan rasa asing yang sekarang dia rasakan.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” salah satu resepsionis rumah sakit itu berujar sembari memperlihatkan senyum sopannya pada gadis itu.

“Uhm.. Aku Choi Jihwa, salah satu perawat magang dirumah sakit ini, aku ingin bertemu dengan dokter kepala, apa bisa?” Jihwa bertanya dengan nada yang terdengar ragu.

“Apa anda sudah membuat janji?” tanya resepsionis itu.

“Sudah, Ibuku sudah menelponnya kemarin,katanya aku disuruh datang hari ini dan memberikan berkas berkas ini” Jihwa memperlihatkan berkas berkas miliknya.

“Baiklah kalau begitu, kebetulan Dokter kepala sedang ada diruangannya, mari ku antarkan.” resepsionis itu berjalan terlebih dahulu, diiringi oleh Jihwa yang menghembuskan nafas berat. Mereka tiba didepan pintu besi bercat putih khas pintu pintu rumah sakit.

“Ini adalah ruangan dokter kepala, beliau ada di dalam.”

“baiklah terimakasih” Jihwa membungkuk sedikit, kemudian mengetuk pintu itu pelan.

“Permisi” ucapnya dengan nada sopan.

“Silahkan masuk” seseorang didalam sana berucap dengan suara yang terdengar sudah berumur, Jihwa memasuki ruangan itu, terdapat bau obat obatan bercampur dengan alkohol saat dia memasuki ruangan itu.

“Selamat siang, saya Choi Jihwa.” gadis itu membungkuk sopan pada sosok pria paruh baya yang berpakaian lengkap layaknya seorang Dokter.

“Iya aku tau, kemarin ibumu menelponku, silahkan duduk” Dokter itu mempersilahkan Jihwa untuk duduk dihadapannya, mereka berbicara cukup banyak, Dokter itu juga mengatakan kalau dia dan Ibunya adalah teman yang baik dulu saat Ibunya belum menikah, mereka berbicara seperti layaknya paman dan keponakan, karena dokter itu ternyata orang yang hangat. pembicaraan itu diakhiri dengan Jihwa yang memberikan berkas berkas yang telah dia isi sebelumnya, entah apa isinya, mugkin hanya data pribadi dan nilai nilai akademik.

“Dia pasti mendidikmu dengan keras, lihatlah nilai nilaimu, ini hampir sempurna.” pria paruh baya itu terkekeh kecil, Jihwa hanya bisa terseyum sopan, entah apa yang ada difikiran gadis itu.

“Kau bisa bekerja mulai hari ini, perawat Lee akan membantumu berkeliling untuk mengenali ruangan ruangan rumah sakit.” Jihwa mengangguk sembari membungkuk kecil, dia mengucapkan terimakasih kepada dokter itu, kemudian keluar dari ruangan dengan langkah kecil.

 

 

“Perawat magang?” seseorang bertanya saat Jihwa memasuki ruangan perawat.

“Iya, Choi Jihwa imnida” Jihwa membungkuk sopan pada orang itu.

“Aku Lee Hyerin, kemarin dokter kepala mengatakan kalau kau akan magang hari ini dibawah pengawasanku.” Ucap Hyerin dengan ramah,

“Harap bimbingannya sajangnim”Jihwa kembali membungkuk sopan.

“Itu pasti, mari taruh berkas berkasmu disini, lalu kau akan ku tunjukkan beberapa ruangan yang harus diketahui dirumah sakit ini” Jihwa mengangguk mengerti, hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan menurutnya.

 

 

Jihwa dan Hyerin berjalan berdampingan dengan baju perawat yang sudah merekat ditubuh mereka masing masing. Hyerin menunjukkan banyak ruangan pada gadis itu beserta detailnya, hingga mereka terhenti disebuah ruangan VIP yang membuat Jihwa tertarik untuk melihatnya.

“Didalam sana ada pasien pengidap Leukimia, dan kita mendapat tugas untuk merawatnya.” ucap Hyerin seolah tau apa yang ada difikiran Jihwa.

“Jadi kita akan merawat pasien pengidap penyakit Leukimia?” Hyerin mengangguk mengiyakan pertanyaan gadis itu.

“Apa aku boleh melihat kedalam?” Jihwa kembali bertanya sembari memegangi kenop pintu besi, ruangan VIP bernomor 67 itu.

“Buka saja” Hyerin mempersilahkan gadis itu sembari tersenyum kecil.

Jihwa membuka kenop pintu ruangan itu bersamaan dengan seseorang dari dalam yang juga membuka pintu, gadis itu hampir saja bertabrakan dengan pria yang sekarang tepat berada dihadapannya itu.

“Ah, hampir saja.. Maafkan aku ya..” orang itu meminta maaf sembari tersenyum kecil, dan beberapa saat kemudian waktu terasa berhenti saat pandangan mereka bertemu, Jihwa terdiam sambil masih menatap pria yang ada dihadapannya saat ini. Sebuah kata begitu saja ia ucapkan tanpa sadar, dan bibirnya tersenyum dengan sedikit bergetar.

.

.

.

.

.

“Kevin..”

 

 

TBC…

 

Holaaa /tebar bunga/ ada yang nungguin FFin tah? Kaga ada? Yo wes, aku rapopo toh mbak’e mbok’e(?) bhaqq.. Maaf ya kalo Zee ngluarinnya(?) lama, biasa lah ya orang sibuk,, baru konser dunia, jadi gak sempet nulis nulis gitu, jehahaha /hebohsendirizee/ kepiks,, jadi gimana di chapt ini? Banyak typo? Kbanyakan titik? Kbanyakan koma? /diICUkaliaah/ ada kata kata yg salah? Kurang greget? Kurang rapi? Kurang kasih sayang? Kurang perhatian? /okeygduaterakhirituzee/ komen komen komen juseyooo,, aku butuh kritik sma sarannya.. Jangan jadi siders yaaa.. Nanti digigit nyamuk(?) /apahubungannya/ tunggu nextnya yaaa, maaf jika ada yang aneh dengan chapter ini, maaf jika alurnya aneh dan ngebosenin, soalnya aku lagi gak ada feel sama FFini huft, dan masalah perawat perawat dan apalah itu, AKU GAK NGERTI DAN AKU CUMAN NGARANG NGARANG AJA, KARENA AKU BUTA DENGAN HAL HAL YANG SEPERTI ITU(?) HAHAHAHA /capslockjebol/ oke bye,,, salam cantik… Jehahahaha

 

Yang mau nanya nanya, dan juga temenan bisa hubungin kontak aku.

FB : Meiza Delia Azizah

Line :Meizawu_

IG: Snowflakealien_

Ask.fm : Galaxzee_006

Twitter :Zeewonnie407

 

 

 

48 responses to “Silent In A Married (Chapter 8)

  1. lagi seru seru baca juga muncul kata ajib TBC….. lama lama w begal semua athor….. *nga deng….
    itu kok lagi ada kevin di tbc in sih…. *mewekdipojokan
    next klau ga w begal

  2. awalnya aku kira kevin itu kris ternyata bukan ya. paati kria liat jihwa ketawa2 sama chanyeol makanya gitu.haha

  3. awalnya aku kira kevin itu kris ternyata bukan ya. paati kria liat jihwa ketawa2 sama chanyeol makanya gitu.hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s