[ONESHOOT] “Blue Wind”

Blue Wind

Jihan Kusuma Present

Title : Blue Wind

Cast : Do Kyungsoo, Kim Yeo Jin, other

Genre : Romance drama, sad, comfort

Rate : G

Note :

ff ini pernah di publis di blog pribadi saya : Pixie XOXO kalau beberapa dari kalian pernah nemu yang kaya gini di tempat lain, ya itu berarti saya sendiri yang ngepost. Im not a plagiator.

ff ini mengandung konten yang bisa membuat paru-paru Anda mengecil tanpa sebab, berkeringat dingin, mata berkaca-kaca, dan jerawat bertonjolan/? Yang ga suka sadness, JANGAN BACA. Soalnya Han ga main main sama genre sad. Tanggung sendiri risikonya.

Don’t say I didn’t warn ya

Oke, gomawo. Selamat membaca ya!


 

 BLUE WIND

Seperti yang beberapa orang katakan. Hidup ini selalu tidak adil. Tidak adil hampir dalam segala hal. Kehidupan memang harus selalu begini. Berbahagialah mereka bagi yang ada diatas dan sengsaralah mereka yang ada dibawah sambil menadahkan tangan, berharap Si Orang Atas berbaik hati dan membagi sejumput hartanya.

Akupun tidak mengerti mengapa kehidupan harus seperti ini. Mengapa Tuhan selalu memilih kasih? Kenapa Tuhan tidak adil? Tuhan memberi harta melimpah pada para pemabuk dan pecandu narkoba, namun disamping itu Dia memberi penyakit mematikan pada seorang anak yatim piatu yang tinggal di jalanan. Kenapa harus begini? Tidak bisakah kami semua hidup dalam ekonomi yang merata dan sejahtera bersama-sama? Kenapa harus ada jahat dan baik? Kenapa harus ada gelap dan terang? Kenpa harus ada hitam dan putih? Bukankah pada akhirnya perbedaan itu akan menimbulkan pertengkaran? Jika tahu begini, kenapa juga Tuhan masih tega menciptakan perbedaan diantara para manusia? Apakah Dia memang berbaksud mengadu domba kita semua?

Dunia ini,

Memang sebuah panggung sandiwara dimana kita sendirilah para penulisnya. Semua orang bisa menulis kisah mereka. Menuliskan tanpa kertas dan tanpa tinta, namun segala alur yang keliru tidak akan pernah bisa dihapus.

Tuhan sudah memberi peran yang berbeda-beda, tinggal bagaimana kita menggambarkan diri kita dihadapan ‘pemain’ yang lain.

Tinggal kita jalani kehidupan ini.

Tapi, bagaimana jika peran itu sangat sulit? Bagaimana jika peran itu terlalu berat untuk kita tanggung sendiri? Apakah kita akan terus menetap pada takdir bersama setumpuk kelemahan yang melekat pada diri kita?

Suatu saat aku memikirkan hal itu, dan hampir menangis.

Angin berderu dengan perlahan menerpa kedua mataku yang masih terbuka, melamun. Setitik debu menempel disana dan membuat mataku sakit. Debu itu seolah memanggilku, menggodaku, menyuruhku untuk menangis. Menjadikannya alasan mengapa air mataku tumpah. Dan benar saja, pelupuk mataku menghangat dan derai air mata mengalir mendorong debu tadi untuk longsor.

Kini mataku memerah dan aku mengusapnya dengan pelan, berusaha tidak meninggalkan bekas.

Beberapa detik kemudian kututup buku diary yang hampir satu jam yang lalu terbuka diatas genggamanku. Kusimpan buku dengan sampul daun oak yang telah kering itu kedalam tas.

Aku bangkit dari posisi dudukku dan mulai melangkah diatas lahan luas dengan hamparan rumput liar yang sudah dipangkas hingga tinggal setinggi jempol kaki.

Sebuah papan kayu tua berdiri dengan rapuh diatas lahan ini. Papan kayu dari pohon meranti yang selalu berlumut di musim hujan dan akan selalu kering seperti besi pada musim panas. Pada papan itu tertulis logo rumah sakit jiwa, tepatnya rumah sakit jiwa milik ayahku. Senyum kecilku yang serapuh kayu itu tersungging sejenak, menyadari betapa berjasanya ayahku. Aku merasa beruntung menjadi puteri satu-satunya. Disini, tempat menyedihkan ini, aku bisa mempelajari banyak sekali kisah-kisah sedih, mengenaskan, dan konyol tentang kehidupan. Disinilah tempat bagi mereka-mereka yang sudah terputus, mereka-mereka yang sudah dikalahkan oleh kehidupan, dan mereka-mereka yang tidak kuat lagi menyandang beratnya ujian dari Tuhan. Sesungguhnya, merekakah manusia-manusia hebat. Mereka masih bisa bernafas dan bergerak walau dihimpit oleh penyakit kejiwaan, penyakit paling berat yang pernah kukenal. Bahkan lebih berat dari hepatitis atau kanker. Mereka yang mendirita hepatitis atau kanker masih mampu mengucapkan kata-kata terakhir untuk orang yang mereka sayangi, tetapi untuk para penderita kejiwaan, mungkin bagi mereka tidak ada yang berharga lagi didunia ini. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari kehidupan mereka.

Sungguh manusia-manusia yang kokoh.

Kaki-kaki kurusku melangkah dengan santai menuju lorong terdekat untuk menemui Ayah. Hari semakin sore dan aku harus segera pulang. Aku selalu kemari setiap merasa stres. Aku kemari untuk melihat para penderita kejiwaan itu, guna membuat semangatku bangkit lagi. Merekalah yang membuatku merasa berarti, mereka menyadarkan diriku jika akulah manusia yang beruntung, tidak seperti mereka. Jadi apapun yang menimpaku, sesungguhnya itu hanyalah kerikil kecil dalam kehidupan yang membuatku tersandung dan sembuh lagi.

Aku berjalan menyusuri lorong suram yang hanya dikelilingi tiang dan bangku-bangku. Dikanan kiri berjajar kamar-kamar pasien yang demi apapun, tidak pantas disebut kamar. Semua orang waras bisa mati bosan jika ditempatkan di sana. Ruangan sempit dengan sebuah ranjang dan sebuah kursi tua. Cat temboknya yang dulu putih kini sudah luntur dan mengelupas, menandakan usia bangunan ini tidak lagi muda. Butuh renovasi.

Langkahku terhenti seketika usai melihat sesosok dengan seragam rumah sakit yang duduk dipojok ruangan sambil melongokkan kepala keluar jendela. Dari bentuk tubuh dan potongan rambutnya aku sudah bisa menebak jika di seorang namja. Dia tamak seumuran denganku. Pandangannya lurus kedepan menatap rerumputan tinggi disekitar papan nama rumah sakit. Tatapan itu kosong dan beku. Aku bisa melihat bola mata yang kosong disana. Kosong. Hanya bola hitam yang bersinar seperi mutiara. Bibirnya yang tebal dan pucat seolah mengatakan ‘Aku tidak pernah memakan makanan yang enak.’

Namja itu menggeleng lemah ketika seorang suster menyodorkan sesendok makanan kedekat mulutnya. Entah kenapa aku ingin menangis. Minatku untuk pulang cepat hari ini hilang sudah. Suster itu tampak membujuknya untuk membuka mulut, namun kemudian di namja menampik sendok itu hingga nasi yang tadinya bertumpuk gunung diatasnya menjadi berhamburan keatas lantai.

Suster itu berkata dengan volume lebih keras –bentuk rasa jengkelnya.

“Yasudah kalau tidak mau makan.” wanita dengan seragam warna hijau tosca itu membanting piring diatas ranjang lalu meninggalkan kamar.

‘Bagaimana wanita sekejam itu bisa dipekerjakan disini?’ pikirku.

Dengan ragu-ragu aku melangkah mendekati kamar itu. Hatiku dipenuhi oleh rasa waspada seakan-akan ini bukanlah kamar pasien sakit jiwa melainkan kandang binatang buas. Bukankah wajar saja jika aku merasa takut? Namja dengan gangguan mental itu bisa saja menjambakku atau melemparkan garpu kearahku secara tiba-tiba. Namun tidak tahu kenapa, aku terus menepis rasa takut itu. Sesuatu mendorongku untuk terus melangkah kedepan dan memanggilnya.

‘Kyungsoo’

Nama itu terpajang didepan ranjangnya.

Dia menoleh kearahku begitu langkah sepatuku terdengar mendekat. Dugaanku meleset. Dugaanku tentang pasien yang seperti hewan liar meleset begitu saja. Namja malang itu meringkuk memeluk lututnya dengan ketakutan ketika melihatku mendekat.

Aku tidak tahu harus apa. Jadi aku tersenyum. “Jangan takut…” bisikku lirih. Tatapi dia menyembunyikan wajah dengan gemetaran. Aku berlutut disampingnya dengan hati-hati. tanganku terulur menyentuh pundaknya yang dingin seperti tiang lampu jalanan yang membeku ketika musim salju. ‘Kenapa tubuhnya bisa sedingin ini.’

Dia membisu dengan tubuh yang gemetaran. Namun aku tidak menyerah, aku mengelusnya pelan. “Tenang, aku bukan orang jahat Kyungsoo…” kusebut namanya dengan lembut.

Dia mengangkat kepala dan menatapku. Kilatan mata itu menunjukkan jika dia benar-benar ketakutan. ‘Apakah aku tampak menyeramkan dimatanya?’

“Kyungsoo… itu namamu kan?”

Dia tidak bicara tapi bibirnya bergetar seolah ingin menjawab, namun tidak mampu. Kutahan air mata yang ingin tumpah. Pasti hidupnya terasa sangat menyakitkan. Pasti dia mengalami sesuatu yang tidak menyenagkan sebelum jadi begini. Kenapa dia begitu takut pada manusia lain?

Aku tersenyum lagi. “Kenalkan… aku Yeo Jin.” kujulurkan tanganku kearahnya. Kyungsoo hanya menatap jemariku yang mengambang di depannya. Kuarasa namja ini sudah lebih tenang dari sebelumnya. Dia tidak membalas uluran tanganku. Aku berusaha memaklumi. Mungkin dari waktu ke waktu dia bisa mulai memercayaiku.

Kuraih piring sup ditas ranjang. Kusendokan nasi dan mengarahkan kedepan bibirnya. “Makanlah, ini enak…” ucapku dengan manis. Kyungsoo terdiam dengan rautnya yang kebingungan. “Bolehkah aku mencobanya… hm enak sekali…” aku mengunyah sepotong wortel dan mengacungkan jempol.

“Sekarang giliranmu yang mencobanya Kyungsoo…”

Tapi kenapa?

Namja itu kembali menampik tanganku hingga sendok dalam genggamanku melompat mengenai dahiku. “Auh,…” aku meringis. Rasanya sakit sekali. Mungkin dahiku berdarah. Kini Kyungsoo kembali gemetaran melihat reaksiku. Apakah dia bisa merasakan rasa bersalah?

Tiba-tiba seorang suster laki-laki menghampiriku dan membantuku berdiri.

“Maaf Nona, biar kami yang mengurusnya. Ayah Anda sudah menunggu Anda di ruangannya sejak tadi…” katanya cepat. Beberapa suster yang lain menyusul sambil membawa baju ikat. Mataku membulat. ‘Apakah Kyungsoo akan diikat dan dipaksa untuk makan?’

Benar.

Kyungsoo berteriak histeris, meronta-ronta minta dilepaskan. Keempat suster itu mengikatnya dan bisa kulihat ekspresi tersiksa dari namja malang itu. Bisa kurasakan sebatang jarum raksasa menghunus dadaku ketika mendengar teriakannya yang menggema hingga keluar kamar. Rasa ngilu di dahiku bagai terlupakan. Aku terlalu fokus memandang Kyungsoo yang sedang dipaksa untuk berbaring diatas ranjang pasien. Suaranya besar dan terdengar panas ditelinga. Aku tidak tega melihatnya. Kenapa mereka sekejam itu pada pasien?

“Yeo Jin. Apa yang kaulakukan disitu?” terdengar suara Ayah dari belakangku.

“Ani, bukan apa-apa.” aku menggeleng.

“Dahimu berdarah.” ujarnya.

Darah merah mengalir ketepian wajahku dan aku meringis. “Aku hanya sedikit ceroboh.” jawabku berdusta. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan pendih yang sedang menggema diperasaanku usai melihat dengan mata kepala sendiri kejadian barusan.

“Ayah akan mengambil kotak obat.”

“Tidak, tidak usah. Aku selalu membawa sapu tangan.”


 

Tidak biasa aku datang kerumah sakit pada pagi-pagi begini. Aku beralasan pada Ayah, aku ingin menemaninya. Namun itu hanya ucapan kosong. Satu-satunya alasanku kemari adalah menemui namja itu. Kyungsoo. Entah mengapa aku mengkhawatirkannya. Meninggalkannya kemarin membuatku terus terpikiran dan nyaris tidak bisa tidur. Lucu sekali. Aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba aku bisa tertarik pada seorang pasien rumah sakit jiwa. Perasaan cemas dan kasihan itu terus menghantuiku selama semalaman.

Pagi ini mendung. Mungkin langit sedang mengerti perasaanku. Ternyata Tuhan tidak sejahat itu padaku. Dia masih memberiku kesempatan untuk datang kemari sebelum gerimis datang. Langit menggelap dengan drastis. Hari Kamis ini pasti akan menjadi hari paling suram sekaligus hari paling berkesan dalam catatan kehidupanku.

Tepian lorong rumah sakit sudah basah karena langit yang sedang menangis, mengguyur atap rumah sakit ini tanpa perasaan sehingga menumbulkan suara berisik yang menganggu siapapun. Namun inilah diriku, aku selalu mencintai musim hujan. Hujan menandakan kebersamaan. Kenapa begitu? Tentu saja karena hujan selalu turun bersama-sama, tidak pernah sendirian.

Kedua kakiku berhenti ketika sampai didepan kamar Kyungsoo. Lagi-lagi dia sedang melongokkan kepala keluar jendela. Untuk sesaat aku ingin tahu apa yang sedang dia pikirkan. Apa yang membuatnya diam. Kenapa dia selalu memandang keluar.

Dengan ragu-ragu aku memasuki kamar itu. Kyungsoo terkaget begitu mendengar langkah sepatu ketsku. Dia merangkak menjauh. Kedua tangannya terkunci dibawah kehendak baju bertali yang tidak bosan-bosan melilitnya. Apakah mereka mengikat Kyungsoo lagi karena dia tidak mau menyantap sarapan paginya?

“Selamat pagi Kyungsoo…” sapaku dengan nada bergetar. Kyungsoo mendelik dengan kedua mata bulantnya yang begitu cemerlang. Kedua mutiara hitam itu menunjukkan kepolosan dan ketidak tahuan. Begitu polos.

“Apakah kau sudah sarapan pagi?”

Dia tidak menjawab, hanya melempariku dengan pandangan yang membuatku merinding. Namun aku berusaha tenang dan tersenyum. Aku duduk dilantai, tepat disamping tubuhnya. Kyungsoo tidak bergerak dan terus menatapku seolah aku ini spesies langka yang baru pertama kali ini dia lihat secara langsung.

Tubuh namja itu kedinginan –hampir menggigil. Membuatku ingin memeluk dan mendekapnya.

“Apakah kau tersiksa dengan pakaian itu?” tanyaku dan lagi-lagi hanya dibalas dengan tatapan kosong yang tidak mampu kuterjemahkan. Kini aku bertanya-tanya apakah dia tidak bisa bahasa manusia. Kyungsoo selalu diam seakan tidak mengerti apa yang sedang orang lain katakan. Kuharap tidak.

“Kau mau aku melepasnya?”

Kali ini dia mengangguk kecil. Prasangkaku tentang ketidak mampuannya tentang bahasa manusia sirna begitu saja. Kurasa dia bukannya tidak bisa bicara, Kyungsoo hanya takut. Mungkin rasa takut yang berlebihan inilah yang membuatnya gila. Aku yakin dia baik-baik saja, Kyungsoo tidak sakit jiwa seperti orang-orang lain yang dirawat disini. Kyungsoo hanya mengalami tekanan batin.

Aku tersenyum senang. Kulepaskan simpul-simpul mengerikan yang melilit kedua pergelangan tangannya dengan segera. Di jarak sedekat ini dia menatapku lekat-lekat. Semoga saja Kyungsoo tidak takut lagi padaku.

“Aduh, tanganmu terluka ya… kenapa bisa separah ini? Tunggu akan kuambilkan kotak obat.”

Aku mengambil kotak obat dan mengolesi lukanya dengan antiseptik. Kubalut tangannya dengan kain perban. Kyungsoo merintih kecil tapi itu hanya sebentar. Aku sudah selesai mengurusi lukanya.

“Aku tidak akan memperbolehkan mereka mengikatmu seperti tadi lagi.” aku tersenyum kearahnya. Tapi dia belum berbicara juga, padahal aku berharap dia mengucapkan terimakasih padaku. Baiklah, mungkin aku harus menunggu lagi.

“Kurasa mereka tidak seharusnya memaksamu seperti itu. Perlakuan kasar seperti itu bisa membuat pasien terluka dan semakin mengalami tekanan jiwa. Aku harus berbicara pada Ayah tentang hal ini.”

Ucapanku berhenti ketika tangan Kyungsoo terangkat untuk meraba plester didahiku. Plester yang kugunakan untuk menutupi bekas hantaman sendok kemarin. Aku sempat kaget. Namun tidak lama kemudian, hatiku yang semula dingin langsung menghangat secara perlahan. Segelintir tatapan cemas tampak dikedua bola matanya. Namun aku tersenyum. Hanya tersenyum dan tertawa kecil.

“Tidak papa, tidak sakit kok.” balasku dengan ceria. Kyungsoo mengusap plester itu dan aku langsung menggenggam tangannya. Kuturunkan tangan itu.

“Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Justru kaulah yang selalu kukhawatirkan.” tambahku. Kyungsoo diam lagi. Sorot matanya yang seolah bisa membekukan segala sesuatu itu tertuju di lantai kamar yang kosong melompong tanpa barang.

 

Hingga sejak saat itu.

Kami berdua berteman dekat. Kami semakin akrab. Akulah satu-satunya orang terdekatnya. Akulah satu-satunya orang yang tidak dia takuti. Kyungsoo merasa nyaman didekatku, dan begitu pula diriku. Tiada hari tanpa tawa kami. Akulah yang selalu menyuapinya. Aku selalu datang setiap hari untuk menghibur namja itu. Ayahpun ikut mendukungku karena hal itu bisa mendukung kesembuhan Kyungsoo.

Suatu hari kami duduk bersama dibawah pohon yang ada dihalaman rumah sakit. Aku membawa beberapa lembar origami dan mengajarinya cara melipat. Pada awalnya namja itu hanya melihat pergerakan tangan lincahku yang sedang mengutak-atik kertas. Namun kemudian dia tergoda untuk membuat perahu, sama seperti apa yang kubuat.

Dia cepat belajar dan aku senang melihatnya. Kyungsoo tersenyum kearahku sambil menunjukkan hasil karya pertamanya. Sebuah perahu kertas warna kuning.

“Nah sekarang coba tuliskan namamu disana.” aku menyodorkan sebuah pena kearahnya. Tapi Kyungsoo terbengong. Aku tersenyum dengan sabar lalu mencoretkan untaian huruf hangeul keatas perahu kertas warna hijau milikku.

‘Kyungsoo’ tulisku cepat.

“Nah seperti ini, coba kau salin namamu ini ke perahumu. Ini…” aku kembali memberikan pena tadi.

Kyungsoo mulai menuliskan huruf-hurufnya dengan goresan yang sedikit kurang tepat karena tangannya yang bergetar. Tapi aku membulatkan mata usai membaca kata apa yang dia tulis.

Dia menulis namaku.

“Kau… kau bisa menulis?” tanyaku takjub. Kyungsoo tersenyum lebar lalu memberikan perahunya padaku. Kami bertukar perahu kertas.

“Puuu puuu puuu…” namja itu mengeluarkan suara seperti suara mesin dan menggerak-gerakkan perahuku diudara. Membuatnya melintasi lintasan khayalan yang dia buat sendiri sehingga benda itu meliuk-liuk diudara.

Aku tertawa geli, kemudian melakukan hal yang sama.

Kyungsoo tertawa lepas hingga akhirnya menabrakkan kedua perahu itu. Anehnya, dia tertawa semakin keras ketika melihat perahuku bengkok. Benar-benar menggelikan.

“Saatnya makan siang Kyungsoo…” panggil seorang suster kearah kami. Dia mengantarkan sup dan memberikannya padaku.

“Terimakasih.” balasku.

Hingga akhirnya aku menyuapi namja itu sambil tertawa-tawa lagi seperti tadi.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. “Oh halo Jongin?… Aku, aku sedang bersama Kyungsoo… maaf, aku hanya membantu Ayahku…”

Sekilas aku melirik Kyungsoo dengan kaku. Namja polos itu melihatiku dengan heran.

“…ne, tentu saja jadi…ne… aku juga mencintaimu…”

tut

Kututup sambungan telepon.

Kyungsoo masih memandangiku penuh tanya. “Hanya,… teman dekatku…”

Inilah yang selama ini kusembunyikan dari Kyungsoo. Aku tidak pernah menceritakan tentang kekasihku padanya. Aku mengerti perasaan Kyungsoo. Dia menyukaiku dan aku tidak tega jika harus menjauhinya seperti apa kata Jongin. Aku mengerti jika akulah satu-satunya yang bisa membantu menyembuhkan Kyungsoo, dan sebentar lagi aku akan berhasil. Sebentar lagi aku akan bisa melakukan sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.

“Jangan dipikirkan, dia teman dekatku kok…” aku tersenyum lebar.


 

Keesokan harinya lagi, aku melihat tangan Kyungsoo terluka. Seperti goresan benda tajam sejenis pisau atau pahat. Aku yang sudah sangat cemas langsung mengobati tangan namja itu. Kenapa bisa seperti ini? Apa yang menyebabkannya terluka?

“Aish, kenapa tanganmu bisa tergores seperti ini? Apakah kau bermain-main dengan benda tajam?” tanyaku bertubi-tubi. tapi Kyungsoo menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaanku dengan sepatah katapun, seperti biasanya. Dia terus diam dan diam. Dan lama-lama ini membuatku menjadi stres.

Aku merasakan perasaan yang lain ketika bersama Kyungsoo. Perasaan yang selalu ingin terus melindunginya. Aku selalu ingin menjadi pagar yang akan merawat dan membentenginya dari sentuhan kekerasan orang lain. Begitupun Kyungsoo. Dia semakin dekat denganku. Ini semakin membuatku takut untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Berkali-kali Jongin sengaja datang kemari untuk memergokiku yang sedang berduaan dengan Kyungsoo. Jongin memarahiku. Dia berakata jika kami terlalu dekat untuk gelar berteman. Aku tahu Jongin cemburu, dia juga namja yang harus kujaga perasaannya. Namun untuk sekarang? Apakah aku harus terus menuruti apa perkataan Jongin? Aku tahu mana yang lebih membutuhkanku. Aku tahu kepada siapa aku harus memberi perhatian lebih. Aku sudah ungkapkan pada Jongin jika aku akan terus mencintainya. Tidak mungki aku berpindah kepada Kyungsoo. Aku hanya kasihan dan tidak sengaja menyayangi Kyungsoo.

Hanya menyayangi. Aku senang menjadi sahabat karibnya dimasa-masa sulit ini. Aku senang menjadi orang yang berarti untuknya.

Inilah penyebab keretakan hubunganku dengan Jongin. Kami sering bertengkar hanya karena kecemburuannya yang tidak jelas. Namun aku tidak peduli itu. Karena misi utamaku kali ini hanyalah menyembuhkan Kyungsoo.

Akhir-akhir ini Kyungsoo suka tersenyum-senyum sendiri. Dia tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk tidak melongokkan kepala kejendela. Namun untuk kali ini hal itu dia lakukan bukan karena tanpa tujuan. Kyunsoo selalu menungguku. Dia akan melambai penuh kebahagiaan ketika mobilku memasuki gerbang rumah sakit jiwa.

Aku senang dengan respon itu.

Tapi aku tahu semakin aku dekat padanya, ini artinya semakin kejam aku menyakitinya. Aku takut Kyungsoo kembali stres usai aku mengatakan jika kami tidak bisa bersama. Jadi, kini aku sudah bagai terperosok dalam sebuah liang yang kugali sendiri. Aku yang menata semuanya menjadi sedemikian rupa dan salahku sendiri kenapa tidak bisa membangun jalan keluar.

Aku terus hidup dalam kecemasan dan tidak bahagia.

Aku selalu merasa ingin tersenyum dan menangis dalam saat yang sama ketika melihat tawa Kyungsoo. Perih sekali. Aku terluka karena kesalahanku sendiri. Aku yang sudah sejak awal merobek lukaku sendiri dan kini tidak bisa menemukan perekat untuk menutup luka itu.

Tanpa terasa air mataku jatuh membasahi jaket yang kukenakan.

Kyungsoo menatapku bingung. Rautnya yang begitu menggemaskan membuatku tidak tahan membendung air mata yang sudah sejak lama ingin kukeluarkan.

Dahi namja itu mengkerut sedangkan jempol tangannya mulai menelusuri wajahku untuk mengusap air mata yang sudah terlanjur menetes ke lantai. Dia memandangku dengan cemas. “Aku baik-baik saja…” jawabku cepat sambil tersenyum, tersenyum palsu dihadapannya.

Namun, kenapa?

Kenapa?

Setelah aku tersenyum, air mataku semakin memberontak untuk terus dikeluarkan. Tiba-tiba aku marah pada diriku sendiri. Tiba-tiba aku ingin membunuh diriku sendiri. Aku tidak ingin menangis dihadapan namja ini. Aku ingin selalu tampak baik-baik saja.

Ternyata. Itu tidak mampu kulakukan. Aku tidak sekuat apa yang kubayangkan.

Aku terisak dan menunduk. Namun Kyungsoo menangkup wajahku dalam genggamannya. Aku tidak kuat melihat semburat kemerahan di wajahnya. Dia tampak begitu mencemaskanku. Aku ingin menepis tangannya, tapi sebelum itu terjadi Kyungsoo sudah terlebih dulu mendekapku. Memerangkap rasa perihku dalam pelukannya yang tidak lagi dingin seperti dulu. Dia terasa hangat.

Pertahananku jebol sudah. Aku menangis menjadi-jadi menumpahkan semuanya disana. Dalam pelukan Kyungsoo. Namja itu membelaiku dengan lembut. Aku mulai mendengar isakannya. Dia juga ikut menangis sepertiku. Kenapa dia juga menangis?

Kukuatkan diriku untuk mengelak. Aku benci situasi semacam ini.

Aku mendorong dadanya dan pergi sambil menutupi suara isakanku. Aku berlari keluar ruangan tanpa menghiraukan Kyungsoo lagi.

Ini saatnya aku memikirkan perasaanku sendiri. Bukan lagi perasaannya.


 

Hingga suatu hari setelah perpisahan yang begitu membekas itu, aku kembali lagi ke rumah sakit. Aku kesana pada malam hari, aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini, perihal hubungan antara aku, Jongin, dan Kyungsoo.

Namun betapa kagetnya diriku. Pada malam itu rumah sakit begitu ramai. Perasangka buruk menyelimutiku dan membuatku panik. Para penghuni rumah sakit bergerombol didepan kamar Kyungsoo. Terdengar teriakan dan suara orang-orang yang menjerit dengan ngeri. Apa yang terjadi? Apa yang menimpa Kyungsoo?

Tanpa pikir panjang aku menerobos kerumunan.

Jongin. Dia disana.

Sedang memukuli sosok lemah Kyungsoo hingga wajahnya memar dan berdarah. Kenapa orang-orang ini hanya menonton? Kenapa para suster tidak mau bergerak mencegah aksi Jongin? Kenapa? Apakah Jongin yang mengancam mereka?

“Hentikan Jongin!” teriakku hingga membuat suasana langsung hening.

Kyungsoo dan wajahnya yang memprihatinkan menoleh kearahku. Tatapnnya sayu. Namun, dia tersenyum melihatku. Senyumannya yang hampir tidak tampak karena tertutup oleh darah yang membasahi bibirnya. Kedua mataku menghangat dan siap menangis lagi.

Jongin memandangku dengan wajah ganas. Apakah dia sudah gila? Apakah dia melakukan tindakan sekeji ini hanya karena cemburu? Aku tidak menyangka jika namja yang selama ini kucintai bisa berbuat seacam ini.

Aku melerai mereka dan mendorong Jongin hingga punggungnya menabrak dinding. Dahinya basah dan bogemnya dilumuri darah Kyungsoo.

Kyungsoo?

Namja itu sekarat. Dia sekarat sudah.

Kyungsoo terbaring dengan menyedihkan dilantai yang dipenuhi tetesan kemerahan. Darahnya sendiri. Aku memeluk namja itu sambil menangis. Apakah aku salah melakukan ini? Apakah salah membela yang lemah?

“Kyungsoo.. Kyungsoo… sadarlah.” aku mengangkat kepalanya kepangkuanku. Aku bisa melihat senyuman disana. Senyuman yang biasa dia sunggingkan ketika kami sedang bercanda berdua. Senyuman yang selalu bisa membuatku mimpi indah di malam harinya.

Tapi,

Kenapa tersenyum?

Kenapa dia tersenyum?
“Kyungsoo! Untuk kali ini saja aku mau, kau bicara! Bicarala! Bicaralah dan jawab aku!” bentakku hingga menggema. Hancur sudah perasaanku. Rasa sakit ini terasa mencapai klimaks. Aku menangis sambil mengguncang-guncang tubuhnya berharap dia bisa mengucapkan sepatah dua patah kata. Dadaku panas terpanggang. Membuat luka dalamku mendidih dan semakin pedih.

Tangan Kyungsoo bergerak dengan lemah menggenggam tangan kananku. Tangannya yang dingin seolah beku. Dia menggenggamku menyalurkan rasa sakitnya hingga benar-benar kurasakan secara harfiah. Rasa sakitnya merambat ke dalam diriku. Menyiksaku secara tidak langsung.

“Kyungsoo jawab aku!” suaraku parau. Hampir tidak jelas.

Tapi senyuman Kyungsoo kian lebar, seakan merobek lukaku menjadi semakin luas. Kenapa dia masih bisa tersenyum ditengah-tengah rasa sakitnya? KENAPA?!

“Kyungsoo…, Kyungsoo…!”

Namja itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah boneka kayu seukuran genggaman tangan. Boneka berbentuk beruang dengan pita. Dia memberikannya padaku. Benda kecil itu sudah basah akan darahnya sendiri dan aku hanya mampu menerimanya dengan pasrah.

Mulutnya terbuka dan bergetar. Dia mengucapkan sesuatu yang begitu lirih.

“Sa…rang…h…hae…”

Itulah kata pertama sekaligus terakhir yang pernah kudengar dari bibirnya.

Nafas Kyungsoo semakin lambat dan aku mengguncangnya. Persendiannya melentur begitu saja. Kyungsoo tertunduk dan menutup mata.

“Kyungsoo…! Kyungsoo!” jeritku ketika aku sadar jika dia sudah benar-benar pergi. Pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.


 

Iya benar.

Ini memang akhir dari segalanya. Akhir dari kehidupan tragis anak malang itu. Bunga kamboja berjatuhan ketika semua pelayat sudah pulang. Aku masih berdiri disana, didepan nisan Kyungsoo. Aku tidak bisa menangis lagi. Air mataku habis, tanpa sisa. Mungkin lebih baik begini. Aku tidak usah menangis lagi. Aku lelah. Aku capai.

Kugenggam boneka kayu itu. Pahatan yang indah dan detail. Aku bertanya-tanya dari mana Kyungsoo mendapatkan benda ini. Apa dia mencuri dari sesorang?

Namun sebelum prasangka buruk lain terbesit dipikiranku, seseorang menepuk pundakku. Ternyata Ayah.

“Ayah…” panggilku lirih.

“Kau pasti sangat terpukul.” ucapnya. Ayah melirik boneka kayu itu. “Kyungsoo memberikannya padamu?”

“Ne, untuk yang terakhir kali.” jawabku lirih.

“Itu dia yang membuatnya sendiri.”

Mataku membulat. “Membuat sendiri?”

“Kau tahu? Beberapa hari lalu tangannya terluka karena alat pahat yang sering dia gunakan. Kyungsoo mengambil kayu dari batang pohon yang tumbang dan memahat boneka itu dengan tanganya sendiri. Bukankah waktu itu dirimu yang mengobati lukanya…?”

Aku tidak menjawab, sibuk mencerna cerita Ayah.

“Kyungsoo sangat menantikan saat saat memberikan benda itu padamu. Dia tampak berbunga-bunga dan ceria. Kyungsoo bahkan menggenggam boneka itu dalam pelukannya ketika sedang tidur. Kata para suster, Kyungsoo tampak tersenyum ketika tidur karena benda itu. Kurasa dia menyukaimu.” jelas Ayah dengan prihatin.

Aku tersentuh mendengarnya.

Kuraba bagian bawan boneka itu dan kubaca tulisan dibagian alas kakinya.

‘Yang paling kusayangi, Yeo Jin’

END


Uhuuu pada mewek yaaa? SAMA!😀

Aku yang nulis aja berderaian air mata😄 wkwkwk

Minta maaf buat semua yang dengan bodohnya membaca ff saya yang satu ini. Kalian pasti baca ff guna menghibur diri eh ternyata malah jadi makin badmood😄 /bunuhhayatidirawarawacoba/

Maaf juga buas cast D.O yang dengan tidak  berhaknya saya menistakan dikau di kisah yang satu ini. Juga Kai yang jadi psikopat waks😄

Oke, tarik nafas dulu gih… kumur-kumur kalo perlu, cuci muka, sholat istikharah, sholat witir, trus baca doa sesudah makan… /geplak gua plis/

dan…

at least!

Selamat berkomentarrrr :*

10 responses to “[ONESHOOT] “Blue Wind”

  1. Ige mwoyaaaaa????
    Tanggung jawab loh kak udah buuuat akuuuu sediiih dan nangiiisss
    *mana tisu dirumah abis lagi terpaksa pake kain pel ngelap ingusnya*eeeeh
    Ak sbnernya gak terlalu suka genre sad tapi karna penasaran d.o yg jd main cast aku rela baca deeeh
    Kyungieeee-ah, hajimaaaaa!!!!

  2. AAAAAAA jatuh cinta sama ff ini :””””” authornya author favorit akuuu :”
    Ayo author~~~~ post ff lagiii, terutama yang fleas love~
    Aku gasuka baca ff chapter tapi pas nemu fleas love aku jatuh cinta banget thor :””
    Terus berkarya!!

  3. its so sad TT.TT
    wlw smbil dgr lgu nge beat baca neh ff tetep aja air mata aq ngalir baca ending nya
    nyesek bgt pas baca “saranghae” it
    huuuaaaa

  4. Awalnya sih biasa aja pas lagi baca. Tapi lama lama netes juga air mata hiks hiks… :’)
    Kebawa suasana.
    “Daebak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s