Love You to Death 2

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.love-you-to-death_cl

Poster by : CarolineLovely@Art Fantasy

Title :  Love You To Death (Sequel of You’re My Idol) || Author : LE || Genre : Romance, AU, Angst || Rating : PG 15+ || Lenght : Twoshoot [2-2] || Main cast : Oh Sehun (EXO) ; Choi Junhee (OC) || Sub-casts : Zelo (BAP) ; Oh Soojin (OC) ; Lee Yooyoung (Hello Venus) ; Oh Hyena (OC) as Sehun’s Mom, etc

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. Saya hanya pinjam untuk keperluan FF ini semata, bila ada kesamaan nama judul, tokoh, alur, dll adalah ketidaksengajaan karena semua yang tulis disini murni dari imajinasi saya. Mohon apresiasinya setelah membaca, terimakasih untuk kak rasyifa yang bersedia memposting FF ini. Semoga dapat menghibur^^

Don’t copy-cat this FF without my permission!

Cerita sebelumnya :

You’re My Idol [1-2] | You’re My Idol [2-2] | How To Love (side-story) | It’s You (Soojin-Zelo side) | Love You Yo Death [1-2]

Maaf menunggu lama untuk part ini, Hope you like it!

 

***

Author’s POV

Junhee memberanikan diri untuk menarik kedua sudut bibirnya membuat seulas sneyum meski ada sedikit gugup, entah apa alasannya dia sendiri tak mau memusingkannya. Sedangkan Ny. Oh yang terlihat beda dari tujuh tahun lalu, wajahnya yang mulai menandakan keriput  dan tubuhnya yang sudah tidak sekencang dulu—juga melakukan hal yang sama.

“Silahkan duduk.”

Junhee mempersilahkan Ny. Oh duduk di sofa beranda, berusaha bersikap biasa seperti tidak ada hal yang terjadi. Entah itu masalah tujuh tahun silam, tentang fakta di balik kematian ayahnya dan keluarganya yang sebelumnya harmonis menjadi penuh penderitaan. Junhee tersenyum pahit mengingat semua hal tersebut. Lantas tak terlalu memusingkannya. Yang berlalu biarlah berlalu.

Junhee kemudian memanggil Yooyoung dan memintanya untuk membuatkan dua cangkir kopi untuknya dan Ny. Oh yang kini hanya duduk dalam diam.

“Apa keperluan anda kemari, Ny. Oh… kupikir anda sudah lupa.” Junhee membuka topik, ia menatap Ny. Oh lekat yang duduk di depannya.

Ny. Oh menghela napas kasar.

“Jadi ini alasan kenapa akhir-akhir ini Sehun jarang menghabiskan waktu di rumah. Oh, ternyata kau sudah kembali.” sahut Ny. Oh ketus, Junhee mengatupkan bibirnya rapat tak ingin untuk berkomentar.

Tak lama Yooyoung datang dengan membawa nampan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap panas lalu menaruhnya perlahan di atas meja depan Junhee dan Ny. Oh. Ia lalu berdiri di dekat Junhee. Tapi Junhee memberi kode untuk Yooyoung agar dia cepat menyingkir. Yooyoung mendesis, sejurus kemudian dia berjalan meninggalkan tempat itu juga. Sejujurnya Yooyoung sangat penasaran apa yang tengah dibicarakan Junhee dengan wanita paruh baya itu.

“Jadi?” tanya Junhee agak bingung dengan arah pembicaraan Ny. Oh.

“Aku kemari untuk mengingatkanmu. Dan ya, mungkin kau lupa.” Junhee tersentak, tapi detik selanjutnya ia kembali tersenyum.

“Aku ingat. Nyonya, jadi anda tidak perlu repot-repot datang kemari.” Jawab Junhee dengan nada yang terdengar percaya diri. Dia mengambil cangkir kopinya lalu menyesapnya pelan-pelan.

Ny. Oh berdecak, ia menatap cangkir kopi di depannya dengan tidak berselera.

“Kalau begitu mana Sehunku?”

Dengan cepat Junhee menjawab,“Sehun? Dia tidak ada disini.”

Ny. Oh bangkit lalu meraih tas jinjingnya. “Kalau begitu cukup disini saja pertemuannya. Aku dengar Ibumu masih di Amerika. Jika kau tidak keberatan malam tahun baru aku sudah menyiapkan pesta khusus untuk keluarga kecilmu. Tapi ya, mungkin kalau kau masih ingusan seperti dulu aku tidak akan membuat sentuhan yang kecil, aku akan membuat lebih istimewa dan tidak akan terlupakan. Aku tidak sabar untuk menunggu hal itu.” Junhee mencerna setiap kalimat yang Ny. Oh lontarkan, ia menaikkan sebelah alisnya bingung. Lagipula tidak ada yang perlu ditakutkan. Dan jika wanita tua itu melakukan sesuatu padanya panggil saja polisi, beres kan.

Ny. Oh berjalan anggun keluar dari butiknya. Detik kepergian Ny. Oh, Junhee tersadar.

“Pesta tahun baru? Yang lebih istimewa? Apa maksudnya?” gumam Junhee pelan sambil mengerjap beberapa kali.

Ia menarik tangannya lalu menatap jam tangan silver yang meunjukkan pukul 9 malam.

“Waktunya tutup.”

***

“Jadi kapan kau berangkat ke Amerika?”

“Lima hari lagi.”

“Kalau begitu maukah kuajak jalan-jalan sehari sebelum kepergianmu? Aku bisa ambil cuti dan menghabiskan waktu denganmu.”

Sehun tetap mengekor Junhee yang sibuk dengan mengangkat berbagai kardus di butiknya tanpa ada niat membantu kekasihnya tersebut.

Junhee menegakkan kembali tubuhnya lalu menatap Sehun, “Ide yang bagus.” Lantas ia mengulum senyum.

“Ah, kita tidak bisa menghabiskan tahun baru bersama. Atau aku ikut bersamamu menemani ibumu?” gurau Sehun hingga membuat Junhee terkekeh kecil. Ia menaruh kardus terakhir yang berisi bahan keperluan menjahit.

“Tapi bagaimana dengan ibumu?”

Pertanyaan reflek yang di lontarkan Junhee membuat Sehun terdiam, ia menatap dinding gudang butik yang mulai memudar lalu duduk di atas meja —yang tidak lagi digunakan—di dekatnya. Junhee menepuk-nepuk telapak tangannya yang sedikit berdebu. Inilah akibatnya ditinggal Yooyoung yang kemarin malam meminta cuti sebulan untuk menghabiskan natal bersama keluarganya jadi dia yang mengurus semua bahan yang baru datang sejam lalu.

Junhee berjalan menghampiri Sehun.

“Ibumu tau kau kembali padaku.” Junhee bersuara pelan, jemari lentiknya menyentuh halus kerah kemeja kekasihnya itu sembari tersenyum tipis. Sehun hanya bisa menatap wajah Junhee yang sejajar dengan wajahnya. Dan melihat sepasang bola mata Junhee yang sendu itu, Sehun bisa menangkap bagaimana perasaan wanitanya.

“Apa ibumu bilang sesuatu padamu?” tanya Junhee lalu menilik perlahan sepasang mata elang Sehun. Lelaki itu menggeleng pelan.

Oh, dia ingat, ibunya memang akhir-akhir ini terlihat aneh dan juga jarang berbincang dengan beliau—dikarenakan dia sendiri juga jarang menghabiskan waktu dirumah. Sering Sehun mendapati mom-nya itu tengah menikmati wine—yang dia sendiri tahu bahwa mom-nya sudah berhenti minum-minuman keras sejak lima tahun terakhir karena umurnya yang tidak bisa dibilang muda lagi, Tuan Oh hanya bisa pasrah dengan keadaan isterinya yang katakanlah seperti orang depresi. Kendati Oh Sehan –ayah Sehun akhir-akhir ini kesehatannya juga kian memburuk.

Sebagai putra sulung keluarga Oh  sekaligus penerus Oh Corp—Sehun hanya bisa meneruskan apa yang seharusnya di limpahkan padanya. Dan hal tersebut cukup melelahkan dan membuat kepala Sehun pusing. Lelaki kurus itu lelah di sela-sela kesibukannya, yang hanya bisa mengembalikan semangatnya hanyalah Junhee seorang.

Wanita berparas cantik dengan senyum yang manis, aroma mawar yang terpatin menyejukkan yang selalu membuatnya betah di dekatnya.

Apalagi bibir merah Junhee yang mungil nan penuh membuat Sehun harus menelan ludahnya kuat-kuat tatkala ia ingin menikmatinya –yeah dia lelaki yang normal.

“Hun?”

“Hmm?”

“Menurutmu apa yang akan terjadi bila ibumu masih tidak menyukaiku?”

“Aku akan membuat Ibuku menyukaimu, bagaimanapun caranya.”

Junhee terdiam, ia menurunkan kembali tangan kanannya yang sebelumnya merapikan kerah kemeja Sehun. Wanita itu mengangkat sedikit wajahnya, menatap wajah tegas dan tampan tepat di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Apa yang ia khawatirkan sepertinya akan terjadi. Dan Junhee memiliki firasat yang buruk.

Sehun bisa menangkap kekhawatiran Junhee, ia tersenyum. Setidaknya mencoba menenangkan wanitanya tersebut.

“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan selalu melindungimu.”

Dan entah siapa yang memulainya. Ujung hidung mereka yang saling bersentuhan, menciptakan deru napas hangat keduanya menjadi satu. Sehun memiringkan serta memajukan kepalanya—memberi jarak tipis diantara mereka.

Junhee hanya diam, menunggu apa yang selanjutnya Sehun lakukan.

Bibir mereka saling bersentuhan. Dan suara decakan memenuhi indra pendengaran mereka, menikmati sensasi hangat dan memabukkan. Menghilangkan kepenatan yang menjadi beban mereka akhir-akhir ini.

Tanpa sadar Junhee mengalungkan kedua tangannya tepat di leher jenjang Sehun, membiarkan pria itu leluasa melakukan frenchkiss.

Lama hingga sepasang kekasih itu kehabisan napas, menghentikan aksi ciuman mereka. Tapi tak menghalangi mereka untuk saling bertukar pandang.

Junhee tersenyum simpul lantas kedua tangannya yang sempat melingkar di leher Sehun menyentuh permukaan wajah tirus pria itu. Menelusuri setiap detil wajah tampan kekasihnya, mulai dari dahi, alis, sepasang mata yang tajam hingga dagunya yang runcing. Junhee selalu suka dengan wajah yang terpahat sempurna di depannya.

Sehun tersenyum ketika jemari lentik Junhee menyentuh bibirnya. Detik selanjutnya pria itu mendekap Junhee dengan menarik punggung ramping wanita itu mendekatnya. Melanjutkan ciuman yang sempat tertunda. Sementara Junhee yang awalnya sedikit terkejut hanya terdiam, kemudian tersenyum disela-sela ciuman mereka serta kembali mengalungkan kedua lengannya di leher pria yang dicintainya.

Saranghae, Hun..”

Nado saranghae..”

***

Tangan kurus berkulit putih pucat menggenggam halus tangan yang lebih kecil yang bebas tepat di sampingnya.

Sehun tersenyum simpul, lantas ia menolehkan kepalanya menatap seorang wanita dengan rambut panjang yang terjuntai indah dari samping—Choi Junhee. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Sehun lalu terkekeh kecil.

“Kau gugup?” tanya Sehun. Junhee menggeleng pelan sebagai respon sembari tersenyum untuk meyakinkan.

Kemudian mereka berjalan dengan langkah pelan masuk ke dalam ruangan bernuansa putih bersih, terdapat beberapa hiasan terbuat dari kristal. Foto keluarga yang terpasang agung di dinding ruang tengah menyiratkan pemilik rumah mewah dimana Junhee baru pertama kali masuk kedalamnya.

Sehun memberhentikan langkahnya juga sama dengan Junhee yang otomatis melirik Sehun dengan ekor matanya. Suasana yang sepi menjalar seisi ruang makan malam ini.

Tuan Oh yang duduk di kursi rodanya terlihat tersenyum ramah melihat kedatangan Junhee.

“Mari bergabung.” Ajak Tuan Oh ramah. Sehun ikut tersenyum mendapati reaksi ayahnya tersebut—seperti dugaannya.

Sehun mengerling, ia mengajak Junhee duduk tepat di depan Tuan Oh —yang hanya menyisakan jarak dari meja makan yang memanjang—dan berdampingan dengannya.

Annyeong Junhee Unnie.” Sapa Soojin ramah yang duduk di samping Junhee. Junhee tersenyum lebar. “Annyeong Soojin, bagaimana kabarmu?”

“Baik. Apa Unnie tidak mengajak Zelo?”

Junhee tertawa kecil, “Dia ada kursus. Ah, kapan-kapan aku ajak dia kemari.”

Soojin mengangguk mantap sebagai respon, lalu kembali fokus menyantap makanan lezat yang telah dihidangkan di atas meja makan. Junhee mengedarkan pandangannya meneliti setiap inchi ruang makan yang cukup luas ini.

Satu yang kurang yakni ketidakhadiran Ny. Oh.

“Jadi kau gadis tujuh tahun yang lalu… Kekasih Sehun?” pertanyaan Tuan Oh membuat Junhee mengalihkan seluruh perhatiannya kepada pria paruh baya di depannya. Tidak ada Nyonya Oh tidak akan berpengaruh, malah Junhee bisa bernafas lega. Setidaknya tidak ada tatapan mengintimidasinya saat ini.

Junhee menyunggingkan senyum lalu mengangguk pelan.

“Pantas saja. Dan kau semakin cantik, Nona Choi.”

Junhee terkekeh kecil. “Khamsahamnida.”

Pembicaraan berhenti karena Tuan Oh mempersilahkan Junhee dan Sehun menyantap hidangan makan malam. Junhee makan dalam diam sesekali melirik Sehun yang entah kenapa sejak tadi terpantri senyum tipis dari bibir kecilnya.

Sehun bahagia, tentu.

“Ayahmu adalah Choi Jinhyuk, bukan?” mendengar nama ayahnya di sebut Junhee menurunkan sumpitnya.

“Ah, nde.” Jawab Junhee singkat. Lalu menyudahi makan dengan mengusap permukaan bibirnya dengan tisu makan. Dan Tuan Oh membuat Junhee teringat akan fakta bahwa ayahnya —Choi  Jinhyuk adalah mantan kekasih Ny. Oh sekaligus sahabat baik Tuan Oh.

Dan pria paru baya yang menggunakan kaca mata tebal itu tertawa lepas “Aku senang mengetahui hal itu—“

“—aku ingin pernikahan kalian segera di laksanakan.”

Sontak membuat Sehun yang kala itu sedang menyantap Sannakji —menelan gurita bulat-bulat dan akhirnya tersedak. Dengan cepat Junhee menyodorkan segelas air putih padanya lalu mengusap punggung lelaki itu.

“Hati-hati.” Bisik Junhee, Sehun terkekeh kecil setelah tentakel gurita hidup tersebut berhasil masuk melewati kerongkongannya.

Abeoji yakin?”

Dan seluruh perhatian teralihkan pada Tuan Oh yang kini tengah menarik kedua ujung bibirnya.

***

Junhee’s POV

 

Mungkin dunia bisa saja berbalik. Ah, nyatanya hidupku masih saja terlibat masalah ini-dan-itu. Ayolah Junhee jangan terlalu memusingkan masalah yang tidak terlalu penting. Nyatanya akhir-akhir ini aku gelisah tanpa sebab. Bukan karena pesanan desain yang makin hari makin menumpuk, atau karena Yooyoung yang kemarin mengirim pesan padaku bahwa ia akan keluar dan melanjutkan studinya.

Dan sekarang aku sedang bergelut dengan guling empuk dalam pelukanku, memikirkan apa yang akan terjadi nanti.

Bukankah seharusnya aku senang?

Oh Sehun. Oh Sehun. Oh Sehun.

Pria tinggi yang mempesona, wajahnya yang tegas, hidungnya yang mancung, sepasang mata elangnya yang tajam yang kapan saja membuatku meleleh. Dagunya yang runcing, bibir kecil yang menggemaskan.

Oh astaga!

Dia akan menjadi suamiku?

Dan tanggal pernikahan kami belum di tentukan, dan kata Sehan Appa —beliau yang menyuruhku memanggilnya demikian— awal musim semi, secepatnya.

Apa beliau sangat menantikan seorang cucu? Membayangkan aku akan menikah saja sudah membuat bulu kuduku berdiri, bukan karena aku tidak mau, justru aku sangat senang. Hanya saja ada sesuatu yang menggelitik jika harus membahas tentang pernikahan.

Dan untuk pertunangan, mungkin setelah tahun baru —maka dari itu dua hari lagi aku harus kembali ke Amerika untuk menemui Eomma, menghabiskan natal bersama keluarga kecilku setidaknya.

Dan rencana selanjutnya akan kuajak Eomma kembali ke Korea. Tapi aku tidak yakin wanita yang semakin bertambah keriput di wajah tuanya itu akan menurut, beliau betah di negeri pamansam.

Tiba-tiba handphone di balik bantal yang tengah kugunakan untuk menyandarkan kepalaku berdering, aku segera bangkit.

“Junhee-ya!!” suara pekikkan yang terdengar cempreng dari seberang sana membuatku terpaksa menjauhkan speaker handphone dari telingaku.

Siapa lagi kalau bukan Sera Unnie yang akhir-akhir ini suka merecoki hari-hariku. Dan yah, kadang meminta bantuan di saat dia sedang di rundung dilema karena ditinggal Chanyeol Oppa yang katanya sedang menghabiskan akhir musim dingin dan natal di Jepang bersama keluarganya —tanpa Sera Unnie. Dan aku juga memaklumi hal itu, kadang dia bersikap sangat keras kepala, sangat menjengkelkan.

Nde? Ada apa?”

“Apa kau tidak ada di butik? Hei—kenapa butikmu tutup?”

Oh ayolah Sera Unnie, apa dia tidak tau sekarang hari apa? Lagipula tidak ada yang menjaga butikku. Dan terakhir yang membuat kepalaku migrain karena aku harus mencari pengganti Yooyoung untuk sementara. Dan parahnya aku adalah tipe orang yang sulit untuk mempercayai orang lain dengan mudah—harus kuakui.

“Ya ya aku segera kesana!” Aku memutuskan sambungan terlebih dulu sebelum beranjak turun dari ranjang. Dan sore ini aku gagal menjadi sleeping beauty sampai esok hari.

Setelah mengganti baju casual dengan pakaian hangat seadanya dan meraih tas jinjing di atas meja rias, aku keluar dari kamar.

Noona mau kemana?” suara Zelo mengagetkanku, aku memberhentikan langkahku dan  berbalik menghadap bocah laki-laki yang juga baru keluar dari kamarnya.

“Pergi ke butik, apa kau tidak ada jadwal kursus?” Zelo menggeleng kecil.

“Baiklah. Kalau begitu jaga rum—“

“—tunggu!” Zelo berjalan ke arahku, “Bolehkah aku keluar juga? Aku bosan.”

Aku memutar bola mataku untuk berpikir sejenak, “Keluar? Memangnya sedingin ini kau mau kemana?”

Zelo menundukkan kepalanya serta menggaruk tengkuknya, dan setidaknya dari gerak-gerik adik laki-lakiku aku bisa menebaknya.

“Sebenarnya aku, eum.. mau menemui Soojin.”

Sudah kuduga. Aku hanya terkekeh kecil lalu mengacak rambut Zelo—walau aku harus berjinjit karena Zelo yang semakin hari semakin tinggi saja. Aku khawatir dia akan setinggi tiang listrik nantinya.

Ne, kau boleh keluar. Jangan lupa pakai jaket ya, dan titipkan salamku pada Oppa-ny—“

“—ya! Noona kan bisa melakukannya sendiri.” Potongnya cepat. Aku mendengus sebal dibuat-buat.

“Terserahlah.. aku keluar dulu. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Arra? Hormonmu masih dalam tahap perkembangan.” Aku tertawa kecil kemudian berjalan mendahului Zelo yang terakhir kali aku melihat dia mengerucutkan bibirnya kesal.

Adik laki-laki yang sungguh manis.

“Dan satu lagi..“ aku memberhentikan langkahku lagi, tanpa menoleh ke arah Zelo yang aku sendiri tau dia belum beranjak dari tempatnya berpijak. “Jangan tidur di depan TV karena mulai nanti malam aku tidak akan memapahmu menuju kamarmu.”

Author’s POV

 

Mwo?! Jadi nanti tanggal pernikahanmu tabrakan dengan tanggal pernikahanku?”

Junhee mengusap kedua telinganya karena suara Sera yang terbilang cukup memekakkan telinga. “Entahlah Unnie, yang kutahu kami akan segera menikah. Awal musim semi.” Jawab Junhee sekenanya. Sera yang kini melihat wedding-dressnya dengan takjub hanya memberi respon dengan bibir tipisnya membentuk huruf ‘O’.

“Wooah, aku tak sabar menggunakan ini di altar.” Sera berdecak, selanjutnya ia menolehkan kepalanya cepat menatap Junhee yang kini sibuk menggambar di sketch book miliknya. Merasa di abaikan Sera berjalan menuju meja Junhee.

“Junhee-ya, menurutmu apa tidak berlebihan?”

“Berlebihan apa?” Junhee menegakkan kembali kepalanya menatap Sera yang kini berjalan menuju mejanya dengan dahi yang berkerut.

“Secepat itu kalian menikah? Bukankah kurang dari sebulan kalian bertemu kembali setelah kepergianmu tujuh tahun di Amerika?” tanya Sera. Ia lalu memposisikan dirinya duduk di atas sofa dekat meja kerja Junhee.

Junhee hanya tertawa mendengar pertanyaan Sera, lalu mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu, kita lihat saja nanti.” Junhee kembali melanjutkan rutinitasnya yang sempat tertunda.

Sera hanya mendesis, menampakkan deretan gigi kelincinya yang putih, mungkin karena telah menjadi kekasih Park Chanyeol wanita itu kini terlewat sering merawat gigi-giginya agar tidak kalah dengan calon suaminya tersebut.

“Aish.. lalu dengan ibunya Sehun? Apa wanita gila itu menyetujuinya?”

Mendengar pertanyaan Sera yang terdengar cukup sarkastik itu membuat Junhee meletakkan pensilnya lalu menghela napas kasar. Lagi-lagi membahas Ny. Oh—wanita paruh baya itu tidak terlihat batang hidungnya meski Junhee akhir-akhir ini sering berkunjung ke rumah calon mertuanya tersebut.

Entah apa yang dipikirkan Junhee, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Lebih baik jika Ny. Oh membentaknya keras karena akan menikahi anak lelaki kesayangannya daripada menghilang enggan bertemu dengannya, pikirnya.

Ia kembali menatap wanita berambut coklat tua sebahu yang dua tahun lebih tua darinya. Wanita dengan nama lengkap Kim Sera mengetuk-ngetukkan ujung sepatu heels-nya menunggu jawaban yang akan di lontarkan dari bibir mungil Junhee.

Junhee menarik kedua sudut sisi bibirnya. “Mungkin tidak.”

***

Junhee menyeret dua  koper dalam genggaman kedua sisi tangannya, berjalan keluar dari gedung apartemen. Disusul dengan Zelo yang juga melakukan hal yang sama. Disana—tempat parkir—Sehun dan Soojin baru saja keluar dari mobil.

“Aku akan membantumu Zelo-ah.” Seru Soojin berlari ke arah Zelo dan akan meraih tas jinjing kecil darinya.

Ani, tidak perlu Soojin. Badanmu terlalu kecil.” Zelo terkekeh dan selanjutnya mendapat pukulan ringan di lengannya dari Soojin.

“Baiklah, aku tidak akan membantumu.” Akhirnya Soojin mengalah dan berjalan beiringan dengan Zelo menuju mobil.

Sedangkan Junhee masih sibuk menyeret dua koper besarnya, Sehun samasekali tidak berniat untuk membantu. Sejujurnya lelaki itu sedikit kesal sekaligus marah karena Junhee akan kembali ke Amerika dan bayangan soal natal dan tahun baru tidak jadi ia habiskan bersama kekasihnya.

“Perlu bantuan Agasshi?” tanya sang supir Kang sopan—supir keluarga Oh—menawari bantuan kepada Junhee untuk memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil. Junhee membuka mulutnya dan akan menjawab tetapi tidak jadi lantaran dengan cepat Sehun menyela. “Jangan, aku saja.” dan akhirnya Sehun meraih semua barang bawaan Junhee meski ada sedikit rasa tidak ikhlas.

Junhee hanya mendesis sejurus kemudian dia tekekek kecil. Oh Sehun pria dewasa katanya?

Dan setelah semua barang yang dibawa Junhee serta Zelo berhasil di masukkan dalam bagasi mobil mereka berlima—Junhee, Zelo, Sehun, Soojin dan terakhir supir Kang—masuk ke dalam mobil, walau yeah.. sedikit berdesakan.

“Ini karena Soojin yang memaksa mengantarkan Zelo ke bandara. Lihatkan aku tidak muat!?” Sehun mendengus sebal lantaran dirinya gagal duduk bersebelahan dengan Junhee. Junhee hanya bisa terawa kecil.

“Ya! Oppa bukankah seharusnya kau yang tidak ikut karena ada rapat penting.” Sahut Soojin tidak terima, Sehun menghela napas pasrah dan dengan terpaksa ia duduk di jok penumpang depan. Supir Kang hanya bisa tersenyum diam-diam karena melihat tuan mudanya itu berbeda dari biasanya, lalu segera menjalankan mesin mobil.

Mungkin mood Sehun kurang baik pagi ini, dikarenakan tidak bisa mengantar Junhee sampai di Bandara Incheon karena kurang sepuluh menit lagi ia akan menghadiri rapat direktur. Dan rencana ia akan mengantarkan Junhee beserta adiknya sendiri dengan mobilnya digagalkan oleh Soojin yang merengek demi meminta mengantarkan Zelo serta mengajak supir Kang.

Tak lama mobil berhenti tepat di depan gedung Oh Corp. Tak menunggu banyak waktu Sehun segera membuka pintu mobil lalu turun.

“Sebentar.” Sehun menahan supir Kang yang akan menancap gas kembali, supir Kang menurut. Tanpa basa-basi Sehun membuka pintu mobil, hal terakhir yang ia lihat adalah Junhee yang sempurna membulatkan kedua matanya karena Sehun yang tiba-tiba menciumnya tanpa ijin.

Junhee’s POV

 

Dasar Oh Sehun!

Setelah dia dengan lancang menciumku di depan banyak orang—parahnya orang-orang yang lalu-lalang di depan gedung juga memperhatikan kami dan apalagi ada anak-anak di bawah umur (Soojin dan Zelo) pria itu hanya tersenyum jahil.

“Jaga dirimu baik-baik.”

Sehun mengacak poniku, dan belum sempat aku menjawab ia sudah menutup pintu mobilnya. Aku mendengus sebal.

“Aish.. apa Sehun Hyung tidak sadar ada banyak orang disini?” gerutu Zelo.

“Seperti kau tidak pernah melakuka—“

“—sssttt.. Soojin diamlah.” Zelo menutup mulut Soojin dengan telapak tangan kanannya sedangkan Soojin sendiri mendelik. Aku terkekeh jika melihat Zelo dan Soojin yang sedang bertengkar kecil.

Aku melirik jam tangan yang terpasang apik di pergelangan tangan kiriku. Penerbangan selanjutnya tinggal satu setengah jam lagi. “Kang Ahjussi tolong jalankan mobilnya kembali,” supir Kang mengangguk.

“Sebentar,” supir kang yang hendak menancap gas tiba-tiba membalikkan setengah badannya menghadapku.

“Apa ada yang salah?” tanyaku.

“Sebenarnya nyonya menitipkan pesan kepadaku, aku baru mengingatnya maafkan aku..” Nyonya? Nyonya yang dimaksud supir kang pasti Nyonya Oh.

“Nyonya menyuruhmu untuk menemuinya di butik.” Lanjut supir Kang. Aku sedikit tersentak, memangnya untuk apa?

“Butikku?” supir kang mengangguk, “Kupikir begitu nona, tapi sebelumnya maaf memberi tahumu sekarang.” Kata supir kang sedikit lesu, aku menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa, ah kalau begitu kita ke butik sebentar sebelum ke bandara.” ucapku akhirnya. Zelo yang sebelumnya hanya diam menepuk pelan pundakku, “Noona penerbangannya kurang sebentar lagi, apa kau yakin menemuinya? Mungkin beliau sudah kembali kerumah karena menunggumu terlalu lama.”

“Kau benar,”

Yang dikatakan Zelo benar. Tapi kalau Nyonya Oh benar-benar telah kembali, bagaimana kalau dia masih menungguku? Tidak baik juga kan mengabaikan ‘calon ibu mertua’.

Eonni seharusnya menemui ibuku dulu, siapa tau ada hal penting yang ingin dia sampaikan.” Kata Soojin menengahi, hampir saja lupa ada kehadirannya disini.

“Soojin benar, kalau begitu kang ajusshi tolong jalankan mobilnya.”

Mobil berhenti tepat di depan bangunan minimalis Jecelyn Boutique. Aku melihat keluar jendela menelusuri sekitar mencari sesosok wanita paruh baya yang aku asumsikan sebagai calon ibu mertua, ya. Tepat di satu titik sepasang mataku berhenti mencari, nyonya Oh dengan blazer tebal duduk di kursi kayu tepat di depan pinti kaca butik yang terkunci rapat. Sejak kapan ada kursi kayu tersebut tidak aku pertanyakan saat ini.

“Aku akan menemuinya dulu, Zelo dan Soojin jangan keluar arra?”

Noona penerbangannya kurang sejam lagi.” Aku menarik kembali tangan kananku yang hendak membuka pintu mobil. Waktunya sungguh terbatas.Mungkin sebaiknya Zelo dan Soojin mendahului ke bandara untuk check-up, sedangkan nanti aku bisa menyusul.

“Baiklah baik, Kang Ajusshi bisa kua antar mereka duluan ke bandara? 10 menit lagi aku akan menyusul kalian.”

Tanpa mendengar respon orang-orang didalam mobil terlebih dahulu, aku membuka mobil dan segera menemui Nyonya Oh. Lebih cepat lebih baik.

***

Two months after that tragedy… and, everything has changed

Sehun’s POV

 

Apakah kau ingin hidupmu menderita? Tidak kan?

Menurutku, hal tersebut sangatlah konyol mengingat semua manusia di dunia ini pastilah menginginkan kebahagian hidup.

Aku salah satunya.

Tidak akan memungkiri bahwa aku juga sangat ingin hidupku bahagia. Dimana kebahagiaan itu berasal dari sosok keluarga lengkap yang menyayangiku serta pendamping hidup yang mencintaiku, selalu ada dimana aku pertama kali membuka mata saat bangun tidur dan terakhir kali selama aku menghembuskan napas terakhir.

“Sudah cukup lama tidak kemari, kau mau menjenguknya lagi—“ Aku mengangguk pelan, ah sepertinya tidak kentara. Karena pria tegap di depanku sudah tau jawabannya lantas kenapa bertanya.

“Seperti biasa, hanya sepuluh menit.” Ucapnya. Aku tersenyum singkat.“Terimakasih.”

Aku berjalan mengikuti sipir itu.

Sipir itu memberhentikan langkahnya saat kami sampai di depan pintu besi yang dingin, aku mendorong pintu yang sebelumnya sudah di lepaskan segel oleh sipir tadi. Setelah itu aku masuk dengan langkah perlahan, menduduki kursi kayu yang berhadapan dengan kaca transparan yang kuat sebagai sekat. Pembatas antara aku dan seorang wanita paru baya yang sedang duduk menyila di atas lantai keramik yang dingin, dengan seragam khas narapidana yang terpasang di tubuh ringkihnya sebulan terakhir.

“Sudah lama kau tidak berkunjung.” Katanya, masih dengan nada suara yang sama sejak aku di lahirkan.

Aku tersenyum seikhlas mungkin. “Apa kabar Mom?”

Dan aku tahu, pertanyaan itu pasti tidak akan terjawab.

Satu menit. Tiga menit. Lima menit.

Membuang waktu singkat yang di jatahkan kepadaku untuk bertemu dengannya sejak di jatuhkan hukuman penjara lima tahun akibat semua kejahatan yang ia lakukan. Aku tersenyum miris, dan tanpa babibu lagi aku segera merogoh sesuatu dalam saku celanaku.

“Aku membawa sesuatu untukmu, kuharap kau akan senang dan tidak lagi merasa bosan.” Kataku dengan nada sesantai mungkin.

Wanita itu mengangkat wajahnya, lalu berdiri meski sangat lamban karena usianya tidaklah muda. Berjalan dengan langkah pelan mendekatiku.

Tak menunggu waktu yang lama aku segera mendorong secarik kertas lewat lubang berbentuk setengah lingkaran yang berdiameter kurang lebih 30 cm ke arah mom. Sekilas salah satu alisnya berjengit.

“Sesering mungkin aku akan mengunjungimu.” Kataku. Sempurna membuat sepasang mata mom yang sayu itu menatapku.

“A-aku tidak harus mengatakan ap—ah, Sehun-ah.“ mom meraih benda tipis yang baru aku berikan padanya lalu menatap benda itu lekat. Kedua matanya yang sayu itu lambat laun tertutup kristal bening menatap benda tipis yang aku bawa dari rumah…

Sebuah foto kecil yang menyiratkan kepedihan.

Foto keluarga. Disanalah semua orang diantara kami tersenyum bahagia, entah itu Ayah yang tesenyum bersahaja, Mom yang masih terlihat masih muda serta aku dan Soojin yang saling tertawa lepas.

“Maafkan aku,” Tangis mom pecah, ia menundukkan kepalanya dalam. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menggenggam punggung tangan kiri mom yang semakin kurus lewat lubang penyekat sialan ini. Meskipun aku masih marah, toh wanita yang menangis sesegukan adalah ibu kandungku. Aku sadar, maka dari itu aku tidak akan berlarut dalam perasaan marah terhadapnya.

Setelah kejadian itu.

Flashback

 

“APA KAU PANTAS DISEBUT SEORANG IBU!?” teriakku, aku sudah tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang di sekitarku.

Aku marah, aku muak dan.. aku lelah. Aku membencinya.

Mom, tolong berikan alasan yang tepat, tolong katakan kau salah.

“Sehun-ah.. ini tidak seperti yang kau bayangkan, a-aku—“

“—cukup! Hentikan!!” aku menepis tangannya yang akan meraih pundakku dengan kasar. Aku tidak menyangka. Sungguh. Tidakkah ia pikir ini keterlaluan, sudah tujuh tahun terakhir ia membuatku menahan napas akibat kepergian Junhee  dan aku mengetahui fakta yang terselip di antara seluk-beluk kejahatan Ibu kandungku sendiri.

Mom yang selama ini menghancurkan keluarga Junhee. Keluarga dari wanita yang sangat aku kasihi. Tidakkah Ibuku berlebihan? Sejak awal tidakkah ia merasa bersalah dan secara tidak langsung juga ia menyakitiku? Menyakiti Ayahku serta Soojin? Entah, yang kutahu semua orang yang kusebutkan tadi pasti merasakan sakit meski tidak sebanding dengan sakit yang ku alami.

“Maafkan aku..”dia menangis, untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis. Aku selalu melihatnya sebagai wanita yang tegas dan penuh ambisi, dan mungkin setelah berakhir seperti ini dia akan berubah.

Tapi tetap saja dia salah, entah dia berubah baik dan menghilangkan sifar bengisnya. Aku tau dia ibuku, sejahat apapun dirinya aku akan menyayanginya… meski tidak sebanyak dulu lagi.

Hatiku serasa tertusuk ribuan jarum kesialan. Sesak. Kenapa?

Aku mencintai Junhee, tapi kenapa harapanku ingin memiliknya hanya angan-angan yang sulit. Hanya karena mom yang punya perasaan dendam pada ayahnya secara tidak langsung aku jugalah yang menyakiti Junhee sedikit demi sedikit. Dan kenyataan bahwa aku tidak bisa melakukukan apa-apa saat kejadian itu. Junhee sendiri yang memikul beban, aku bodoh, aku tidak ada di sampingnya saat itu.

Lelaki macam apa aku?

Junhee pastilah yang paling merasakan sakit dan inilah yang membuat perasaan sesak yang mengganjal rongga dadaku semakin parah, mengingatnya membuatku semakin sulit bernapas. Jika Tuhan mengijinkan aku ingin bertukar posisi dengannya.

“Aku akan bertanggung jawab.. kumohon maafkan aku.”

Mom terjatuh, kurasa sepasang kakinya yang bergetar hebat tidak bisa menyangga tubuhnya yang semakin menua. Ia mengeratkan genggaman kedua tangannya pada kakiku.

Kepalaku terasa pening.

Mom asal kau tau, permintaan maafmu tidak berefek apapun di situasi sekarang.

Satu yang kusadari setelah semuanya berakhir. Dan aku takkan mau melepaskannya lagi,

Maafkan aku Junhee, karena mencintaimu kau terluka.

 

Flashback end

Aku lagi bisa menangis, sejujurnya masih ada secuil perasaan sesal dan marah karena kejadian itu. Mengingat semua yang telah berlalu adalah ulah Mom dan aku harap suatu saat nanti aku bisa mengikhlaskan semuanya.

“Maafkan aku—“

Mom mengeraskan volume suara tangisnya yang terdengar memilukan membuat dadaku semakin sesak saja. Aku menarik napas dalam dan mempererat genggaman tangan kananku pada tangan kiri Mom yang lemah itu.

Gwenchana, jaga diri baik-baik, Mom.” Aku menarik kembali tanganku membuat mom terkesiap. Ia membuka bibirnya sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu.

Tapi terlambat, sipir tua itu berjalan ke arahku.

“Sudah habis.” Ia menepuk pelan pundakku, lalu aku mengangguk mengerti dan beranjak berdiri dari dudukku. Masih terdengar Mom yang menangis tatkala aku melangkahkan sepasang kakiku keluar dari ruangan pengap ini.

“Bunga seperti biasa,”

Arraseo, tunggu sebentar.”

“Ini dia.”

Aku menerima sebucket bunga yang aku pesan beberapa menit yang lalu pada wanita paruh baya yang aku asumsikan sebagai bibiku sendiri—Shin Ahjumma. Ia tersenyum ramah jika selalu bertemu denganku, seingatku sudah tiga minggu aku tidak kemari.

“Untuknya lagi?” aku mengangguk mantap. “Aku jarang melihatmu akhir-akhir ini, biasanya setiap hari.“

“Saya banyak urusan Ahjumma, mungkin mulai hari ini dan seterusnya saya bisa menemaninya lagi.”

Aigoo.. beruntung sekali dia mempunyai kekasih sepertimu. Oh ya jangan lupa titipkan salamku padanya,” Shin Ahjumma memukul ringan lenganku. Aku terkekeh kecil lalu mengangguk mengiyakan.

Dan setelah berpamitan dengan Shin Ahjumma aku keluar dari toko bunganya. Memasuki mobilku kemudian menjalankan mesin dan pergi ke tujuanku selanjutnya.

Dimana aku selalu menghentikan langkahku karena dia adalah tujuan terakhirku.

Choi Junhee.

Author’s POV

Sehun keluar dari mobil setelah mencabut kunci mobil, dengan langkah yang lebar ia berjalan masuk kedalam gedung dimana Junhee menghabiskan waktunya setelah kematian ibunya.

Teringat hal itu Sehun tersenyum kecut, bahkan ini sudah tiga minggu setelah terakhir kali menjenguk kekasihnya. Jujur, Sehun merasa perih karena kejadian yang merenggut nyawa ibu kekasihnya dua bulan silam sekaligus juga merasa bersalah. Dia pikir semua kesialan yang Junhee terima adalah karenanya. Dari awal lelaki itu berjanji pada Junhee bahwa akan menjaganya, akan mencintainya sampai mati.

Sehun berjalan di lorong rumah sakit, kedua tangannya yang kurus menggenggam subucket bunga tulip merah di depan dada. Diam-diam ia tersenyum tak sabar membayangkan bagaimana nanti reaksi Junhee mengetahui kedatangannya—karena sebelumnya Sehun tidak memberitahunya dulu—sedikit kejutan, ia pikir lebih baik.

Ketika Sehun hendak membuka pintu kamar pasien ia sedikit terkejut karena seorang suster tiba-tiba melongok di ambang pintu detik selanjutnya menabrak pundaknya.

“Oh, Tuan.. maaf saya tidak sengaja.” kata Suster itu sembari menunduk hormat.

“Tidak masalah, ah bagaimana dengan keadaannya?”

“Seperti biasa Tuan, karena anda sudah lama tidak kemari kurasa Nona Choi sedih.” terangnya singkat. “Dia juga sulit makan.” Tambah suster itu. Sehun tak bergeming, ia langsung masuk mendahului suster tersebut yang juga tak lama berdiam diri di ambang pintu lantas menutup pintu kamar setelah benar-benar keluar.

Terlihat seorang wanita berambut sebahu yang berdiam diri memunggungi Sehun. Sehun mengulum senyum lalu berjalan mendekati Junhee yang belum menyadari kehadirannya, dengan masih menatap pemandangan Seoul dari kaca Jendela.

“Apa yang sedang kau liha—hei kau potong rambut?”

Tidak ada jawaban, Sehun mengerti dan tau benar pasti semua perkataannya tidak akan digubrisnya, sebanyak apapun dia berkata atau sampai mulutnya kering. Sehun kembali mengulas senyum, bahkan membentuk eyesmile yang manis.

“Apa kau sudah makan Junhee-ya?” tanyanya lagi. “Ya, pasti belum kan? Lihat nampan makananmu masih utuh. Apa kau mau aku suapi?”

Junhee hanya diam, ia tetap memandang lurus kaca jendela entah apa yang di pandangnya di luar sana. Dengan tatapan yang sama sejak kematian ibunya. Tatapan mata kosong dan sendu. Wajahnya yang pucat dan rambut yang tidak tertata rapi seperti biasanya.

Sehun tersenyum miris melihat keadaan wanita yang sangat ia cintai, sejak dua bulan terakhir.

“Baiklah, aku suapi.” Sehun tersenyum, untuk kesekian kalinya. Ia meraih lengan Junhee yang semakin hari semakin kurus. Dengan sangat hati-hati Sehun menuntun wanitanya berjalan menuju kasur kemudian dengan telaten lelaki itu memposisikan Junhee duduk di atas kasur yang bersprey putih tersebut. Sehun mengambil nampan berisi makanan yang telah di siapkan suster tadi di nakas setelah meletakkan bucket bunga tepat di samping Junhee..

Dengan penuh kesabaran ia menyuapi Junhee meski kadang wanita itu enggan membuka mulutnya sendiri.

“Buka.. aaaa… “

Sehun tersenyum saat melihat Junhee mau membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang telah ia suapi meski sangat lamban sampai semua makanan di piring tidak tersisa.

“Apa kau tidak merindukanku Junhee?”

“Sudah tiga minggu aku tidak kemari, apa kau baik-baik saja?” “Ah ya, kau kan wanita yang kuat, benar kan?”

“Aku ingat, tadi pagi undangan pernikahan kita sudah jadi, desainnya sangat bagus. Sepertinya kau yang buat tanpa sepengetahuanku, iya kan?”

“Apa kau mau melihatnya?”

Masih tidak ada sahutan. Hal yang dilakukan Sehun selanjutnya adalah menyentuh punggung tangan Junhee yang terasa dingin, masih dengan mempertahankan senyum yang sama. Menggenggam tangan rapuh itu sesekali meremasnya pelan.

Tak lama Sehun menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa sakit dan sesak sekaligus menahan butiran air mata yang bisa saja keluar—sekuat apapun ia menahan air mata tetap saja ia tak kuasa. Sepasang mata elangnya telah basah entah sejak kapan, mencoba mati-matian menahan tetesan air mata yang menurutnya memalukan. Apalagi di depan Junhee.

Meski begitu Junhee masih diam bahkan tak sedikitpun melihat bagaimana raut wajah sedih lelaki itu.

Dengan tatapan kosong dan sama sekali tak bersuara.

“Apapun yang terjadi. . . aku akan mencintaimu, sampai mati.”

.

END

 

UDAH INI EEENNDD!! IYA UDAH >< ARRGGHH!! MAAFKAN LE YANG ENTAH KENAPA AKHIR CERITANYA KAYAK GINI!! SUMPAH!! READERS MAAFKAN LE?! TERUTAMA SAMA JUNHEE YANG JADI MIRIS DI PART AKHIR!! *sungkem sama junhee* SEMOGA FEEL NGENESNYA KERASA! Huhu.. menurut LE itu Happy-ending(?) seperti yang reders minta /ngeles-,-/ udah ah readers jangan tanya kenapa akhirnya kaya gini  karena LE sendiri juga gatau /gubrraak/~/readers bakar rumah LE/ T__T

Karena yang happy-ending itu mainstream /ngeles lagi-__-/ dan ada readers yang sering bilang alurnya agak kecepatan… udah LE tekankan dari awal seri You’re My Idol kalo LE ga suka berbelit-belit/ngeek/ dan karena banyak FF lain yang berchapter (LE ga suka bikin readers penasaran meski nyatanya banyak yang penasaran *PD banget-_-) yang penting LE antimainstream(?) meskipun castnya sangat mainstream *lirikabangSehun#plaakk/ngeles lagi—ke3/maaf benget menunggu lama*emang siapa yang nunggu*

Kalo ada pertanyaan yang lain monggo tinggalkan di kolom komentar^^ (LE pasti jawab satu persatu)

Contohnya : Thor sequel dong.. minta sampe nikah gitu napa? Jawabannya >> karena LE belom nikah jadi ragu bikin FF genre marriage-life. Ntar aja kalo udah nikah biar feelnya kerasa >o< /authormintaditabok/

Kunjungi WP LE yang baru dibuka/hehe/ klik sini  :D (berkunjung ya ya ya?!—maksa#plakk)

Terimakasih banyak readers—entah yang silent-readers ataupun yang aktif ninggalin like dan comment—tanpa kalian gaada yang baca FF abal ini /iyalah-_-/ TERUTAMA BUAT YANG NINGGALIN JEJAK, LAVYUU ❤❤❤ —HUGHUG

LIKE DAN KOMENTAR JANGAN LUPA ><—ngebash LE juga boleh :’) #AkuRapopo

DEEPBOWKHAMSA^^

2 responses to “Love You to Death 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s