THE PORTAL 2 [ Part 4 : Secret Page ]

theportal2wallpaper21

Sebelumnya mau minta maaf dulu nih, yah..kayaknya udah keseringan minta maaf sih gara-gara jarang update? Bulan maret malah ga ada update sama sekali, padahal author ulang tahun di bulan itu *ya terus* *abaikan* tapi serius, author minta maaf banget gak update dalam waktu yang selama ini, walaupun masih semester 2, ternyata kuliah itu lebih sibuk dari yang author bayangin. Giliran punya waktu luang, ya dipake istirahat.. jadi harap maklum banget yaa. Author juga ga sabar kok nerusin ff ini..

Karena The Portal akhirnya balik lagi setelah sekian lama, pasti udah pada lupa ceritanya gimana, kemaren udah sempet author kasih preview. Dan dibawah juga ada ringkasan cerita sebelumnya, semoga bisa menyegarkan ingatan kalian.

Selamat membaca! ^^

 

Title :

THE PORTAL 2

                                                                                                                              

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from another Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Yura’s Father

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

Part 2B           : Before The Day 15

Part 3           : Day 15

PREVIEW PART 4

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

Kita telah tiba di hari ke lima belas. Hari dimana seharusnya Hyoyeon sudah menuntaskan dendamnya dan menyisakan tiga penyihir yang masih ia rahasiakan, namun rupanya tak semudah yang ia pikirkan. Meski telah mengorbankan Lin sampai menghantui L dengan ‘menggunakan’ Namjoo, belum semua penyihir masuk ke dalam penjaranya, yang bertempat di rumah keluarga Son, sebab Dongwoon dan Gain kini berada di pihaknya.

Situasi ini membuat L semakin tertekan karena Hyoyeon masih saja tak menyerah. Meski Lin telah sakit parah karena ulah Hyoyeon, meski siswa-siswi di sekolahnya semakin sedikit, dan meski Namjoo terus-terusan menggertaknya dengan berbagai cara, penyihir tampan itu tetap bertahan dan tak ingin berbagi bebannya dengan Yeoshin, yang masih bertahan di dunia nyata bersama ketidaktahuan.

Padahal, seandainya L tahu, keberadaan Naeun cukup rentan membuatnya khawatir sebab Kim Myungsoo, sisi baiknya yang kini hidup kembali ditakdirkan untuk bertemu dengan istrinya bahkan keduanya menjalin hubungan yang cukup baik. Selama Naeun berada di dunia nyata, Myungsoo-lah yang menemaninya.

Selain itu, keberadaan Naeun di dunia nyata juga telah tercium oleh Sungyeol. Meski kini lelaki cenayang itu –tidak sengaja- mulai dekat dengan Yura dan hampir sebagian waktunya sering habis untuk menemani gadis cerewet itu, ia tak ‘putus hubungan’ dengan Kim Hyoyeon yang hanya memberinya waktu sedikit untuk bernafas di dunia nyata. Tubuh jangkungnya kini semakin kurus dan lemah karena arwahnya sering keluar untuk menggantikan Baekhyun yang akan segera menikah dengan Putri Krystal.

Sementara itu juga, Hoya alias Howon masih berkutat dengan kesibukannya sebagai artis dan hampir mengabaikan semua hal yang harus ia perhatikan, mulai dari keberadaan Myungsoo dan Kim Haeyeon yang seharusnya masih ia rahasiakan, sampai hubungan asmaranya dengan Eunji alias Hyerim yang semakin membuatnya pesimis. Namun, akankah ia tetap fokus dengan apa yang ia jalani? Apakah ia akan segera kembali dan mengetahui Myungsoo telah bertemu Naeun? Dan apakah ia akan menemukan jalan keluar atas konflik batinnya tentang profesinya sebagai artis serta hubungannya dengan Eunji?

***

 

Author POV

 

“ Sidang akan segera dimulai, semua harap tenang.”

 

“ Ini gila. Ini gila. Ini gila. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.”

Naeun masih meremas-remas rok jeansnya hingga kusut, tangan putihnya juga sudah berkeringat. Ia tak berani mengangkat kepalanya sejak sang terdakwa yang akan disidang sudah memasuki ruangan. Bukan karena geli melihat sesosok persis ‘Taeyeon’ yang ia kenal sebagai penyihir arogan seperti anaknya kini dibalut seragam tahanan, namun karena dugaan buruknya terjadi.

Melihat Myungsoo yang hidup kembali untuk pertama kalinya, tentu saja Naeun sudah berpikir pasti Kim Haeyeon ikut bangkit dari kematiannya, namun tetap saja ia terkejut melihat kenyataan itu di depan matanya, apalagi dalam situasi seperti ini, dimana Haeyeon sedang mempertanggungjawabkan kejahatan terakhir yang dilakukan L di dunia nyata -membunuh banyak siswa dan siswi SMA Junghwa hingga berujung pada penutupan sekolah dan asrama selama berbulan-bulan-.

“ Maafkan aku. Aku yakin kau sedih dan terkejut setelah tahu tempat ini yang kita tuju, tapi aku merasa kau pantas untuk mengetahui nasib malang kepala sekolah..”

Myungsoo membatin, sedikit tak tega melihat Naeun yang gelisah dalam ruang persidangan. Belum lagi Haeyeon yang menyadari kehadiran Naeun terus menatapnya, tak habis pikir mengapa penyihir itu bisa datang ke tempat ini.

“ YA! Kenapa kau ada disini juga?”

Naeun mengangkat kepalanya, seorang gadis bertolak pinggang di depannya dengan sebal, Myungsoo yang menyadari siapa gadis itu langsung mengambil alih pembicaraan duluan.

“ Hei, Yura-ssi. Kau juga disini rupanya? Dengan siapa?”tanya lelaki itu ramah.

“ Dengan ayahku.”gadis itu terpaksa menjawab dulu sebelum ‘mengadili’ Naeun lagi, ia menatap Kim Sunggyu yang duduk di… kursi pengacara?

“ Eh.. eh.. aku.. baru tahu Sunggyu songsaenim yang jadi pengacara kepala sekolah, selama aku mengunjunginya beberapa hari terakhir kepala sekolah tak pernah mau memberitahu siapa pengacaranya.”Myungsoo agak terkejut meski tahu Sunggyu adalah guru jenius yang selain menjadi pengajar Kimia juga merangkap pengacara karena memiliki gelar hukum.

“ Entahlah, padahal beberapa bulan terakhir ayahku sudah memutuskan untuk berhenti jadi pengacara dan fokus ngajar saja, tapi.. mungkin ia sudah membicarakan ini dengan kepala sekolahmu. Kau ingat kan waktu di lift aku bilang kalau ayahku mengunjungi kepala sekolahmu pagi-pagi?”

“ Ah, jadi itu yang ingin kepala sekolah bahas dengan Sunggyu songsaenim..”

“…semoga ayahmu bisa menyelamatkan kepala sekolah kami.”

“…hm, semoga saja. Oh ya, kenapa kau membawa Nae…..”

“ Kau tidak sekolah, Yura-ssi?”Myungsoo kembali memotong.

“ Ng.. sedang libur. Myungsoo-ssi, kenapa kau membawa dia kesi…….”

“ Sidangnya sudah mau mulai, sebaiknya kau duduk dulu.”

Yura memutar bola matanya, menatap Naeun sinis dan kembali ke tempat duduknya.

“ Kenapa kau tidak jawab saja alasanmu membawaku kesini?”tanya Naeun setengah berbisik.

“ Kau saja tidak boleh tahu alasannya, apalagi dia.”jawab Myungsoo sedikit misterius, namun kemudian menepuk bahu gadis itu dengan santai, “ Sudahlah.. ikuti saja sidangnya. Kau tidak keberatan, kan?”

Naeun menggeleng pelan, kemudian menatap Haeyeon yang sudah mulai mengikuti jalannya sidang dengan wajah yang begitu tenang. Sedangkan Myungsoo justru lebih banyak memperhatikan Sunggyu, yang begitu ‘tak niat’ menjalankan tugasnya sebagai pengacara Haeyeon, Myungsoo berhenti berharap bahwa Haeyeon akan selamat dari jeratan hukum, Sunggyu tak terlihat bersungguh-sungguh membela wanita itu.

Sang jaksa bangkit, berjalan pelan dan berdiri tepat di depan Haeyeon.

“ Kejadian pembunuhan misterius di SMA sekaligus asrama Junghwa lima bulan silam telah menewaskan sebelas siswa. Apakah benar Anda lari dari tanggung jawab, terdakwa Kim Haeyeon-ssi?”

Tiba saatnya Haeyeon diberi kesempatan untuk bersuara, saat yang paling Myungsoo dan Naeun tunggu-tunggu. Karena disini mereka akan tahu apakah Haeyeon akan mengelak atas tuduhan yang dilimpahkan padanya.

Wanita itu nampak tak ragu, sikapnya masih tetap tenang. Bahkan sebelum berkata-kata ia menoleh kearah Myungsoo sekilas dan memberi murid kesayangannya itu keyakinan bahwa ia akan baik-baik saja. Namun…

 

“ Aku tak punya apa-apa untuk berdalih. Aku memang bersalah.”

 

FLASHBACK

 

“ Kau memintaku untuk menjadi pengacaramu? Kau tahu sendiri kan aku saja menganggapmu bersalah, lantas kau pikir aku sudi melakukannya?” Sunggyu tertawa sinis dan memalingkan wajahnya dari Haeyeon yang duduk tepat di depannya.

“ Aku tidak memintamu untuk membelaku. Setidaknya duduk saja di kursi pengacara.”wanita muda itu agak memelas, sesekali melirik jam di ruang besuk, khawatir waktunya untuk bicara dengan Sunggyu akan segera habis.

“ Lalu kau ingin membuatku seperti pengacara bodoh yang tidak bisa apa-apa? Kau ingin aku memiliki catatan buruk dalam karirku sebagai pengacara?”

“ Aku minta maaf. Aku hanya.. tidak tahu harus minta tolong pada siapa, saat aku bangun, aku langsung ditangkap polisi, aku tidak punya kesempatan dan tidak tahu lagi pengacara mana yang bisa aku mintai tolong. Salah tidak salah, aku harus punya penasihat hukum, bukan?”

“ Kau bilang.. saat kau bangun kau langsung ditangkap polisi?”

Haeyeon mengangguk pelan.

“ Dari koran yang kubaca, kau ditangkap tengah malam. Jadi maksudmu.. kau bangun tengah malam?”

“ Y.. ya.. bangun..”wanita muda itu agak gugup sekarang.

“ Dengan alasan apa kau bangun tengah malam?”

“ Apa itu penting?” wanita itu mencoba menghindari pertanyaan berbahaya ini, meski mulutnya saat ingin mengatakan ‘aku bangun dari kematian, aku tidak bersalah, aku tidak tahu apa-apa, bahkan aku baru tahu ada pembunuhan di sekolahku’.

“ Ya sudah, begini saja. Sebenarnya kau ini mengaku bersalah atau tidak? Apa benar kau melarikan diri dari kasus ini?”

Suasana hening sejenak, Haeyeon mengangkat kepalanya dan menatap Sunggyu datar.

“ Ya. Anggap saja begitu.”

***

 

“ Apa-apaan ini!? Hei, dia pasti bercanda!”

“ Tenang! Tenanglah..”

Naeun terpaksa menggenggam lalu menarik tangan Myungsoo dengan erat dan kuat agar lelaki itu terduduk kembali. Wajah tampannya yang sangat mirip dengan L itu memerah dan berpeluh, denyut nadinya yang cepat terasa di permukaan jemari Naeun yang masih menggenggamnya. Lelaki itu frustasi, frustasi mendengar kata-kata yang baru saja dikeluarkan oleh seseorang yang paling ia percaya disusul oleh bunyi ketukan palu yang membuat jantungnya nyaris berhenti, Naeun tahu ia pasti tidak menyangka akan mendengar hal yang sama sekali tak ia duga sebelumnya. Yah.. tentu gadis itu juga, meski sedikit merasa lega karena ini membuat suaminya selamat dari kasus pembunuhan yang terakhir kali dilakukannya.

Seorang pria angkuh bermata sipit itu kini menoleh ke arah mereka. Naeun betul-betul tak habis pikir, pria itu memiliki posisi sebagai pengacara Haeyeon namun tak berbuat apa-apa, yang ia lakukan justru memperhatikan Myungsoo sambil tertawa mengejek, sementara Yura -anak perempuannya- justru menatap Naeun dengan tatapan membunuh karena tak suka melihat gadis itu menyentuh si-tampan-yang-disukainya. Seandainya dia tahu ini sama sekali bukan keinginan Naeun, gadis itu hanya ingin mendiamkan Myungsoo, siapa yang tahu lelaki sebaik dia bisa menghancurkan persidangan jika sudah frustasi seperti ini?

“ Perilaku Kim Haeyeon yang lari dari tanggung jawab sebagai kepala sekolah dan lalai hingga sebelas siswanya tewas secara misterius adalah kesalahan yang sangat berat dan sulit untuk dimaafkan. Karena kasus ini, tim jaksa menuntut terdakwa…”

“…dengan sepuluh tahun kurungan penjara.”

“ Tidak..tidak boleh..” Myungsoo bergetar dan ingin berteriak, Naeun masih menahannya kuat-kuat, tak peduli Yura semakin menatap murka kearahnya.

Haeyeon yang masih duduk di kursi penyesalan dan memunggungi Myungsoo serta Naeun langsung menoleh, tersenyum getir dengan airmata menetes di pipinya, wajahnya seakan meminta gadis penyihir itu untuk tetap menggenggam Myungsoo.

Son Yeoshin tak punya pilihan.

*

 

BRAK!!

“ L! L songsaenim! Apa yang kau lakukan disana?!”

“ Tenang, aku tidak mengajari anak-anak kalian untuk mabuk.”

Dengan ringisan dan penuh kepayahan L mencoba membetulkan posisinya, lengannya berdarah akibat pendaratan kerasnya ke atap istana. Lelaki itu masih setengah mabuk karena kadar wine seratus persen yang ia minum dari dunia nyata.

Penyihir-penyihir itu masih ada di bawah, menyaksikannya dengan keheranan dan membuatnya risih.

“…sudah cepat masuk!”

Para penyihir itu segera meluruskan pandangan mereka dan berjalan cepat memasuki istana setelah penyihir tampan itu berteriak. Bukan, bukan karena ia jahat, ia hanya ingin mereka segera aman di dalam istana daripada sibuk memperhatikannya yang masih setengah sadar di atap itu.

Ya, hari ini mereka yang tersisa akan berkumpul di istana. Hanya ini yang bisa dilakukan tiga penyihir hebat yang masih bekerja sama demi keamanan negeri Junghwa.

Setelahnya? Mereka tak tahu. Namun yang diinginkan L saat ini hanyalah bertemu Hyoyeon dan menghabisinya seakan ini terakhir kalinya ia berniat membunuh seseorang dengan cara sesadis dan sekejam mungkin. Hah, seandainya bibinya itu tak menyentuh Lin, mungkin L bisa sedikit bersabar melawannya.

Setelah para penyihir itu masuk istana, L melompat turun dari atap istana, berjalan tanpa arah menjauhi tempat tinggal keluarga kerajaan Junghwa dengan langkah gontai dan berbelok-belok karena pengaruh alkohol yang masih berputar-putar mengecoh sistem sarafnya.

“ L! kau dari mana? Dan.. kau mau kemana lagi?!”

Taeyeon muncul dari dalam istana dan mengejarnya, namun ia segera menghilang. L hanya bisa berharap ibunya menjaga Lin dengan baik hari ini. L belum bisa melihat putranya dalam keadaan mabuk.

“ Ck, anak itu.. dia selalu memendam semuanya sendirian.” Taeyeon menyerah dan kembali masuk ke istana, membantu Madame Sunny yang sibuk mempersiapkan makan besar di ruang utama istana untuk penyihir-penyihir yang baru datang.

“ Kau melihat L?”tanya Madame Sunny sembari terus sibuk dengan tongkat sihirnya. Peluhnya sudah bercucuran, para penyihir yang datang tak ada yang (berani) membantunya.

“ Dia datang entah darimana dalam keadaan mabuk dan sekarang pergi lagi..” Taeyeon agak resah.

“ Apa? Padahal aku ingin dia membantuku menemukan merpatiku.”

“ Merpatimu?”

“ Ya. Merpati yang kutitipkan pada Jung bersaudara sebelum mereka ke negeri Gwangdam agar aku bisa terus memantau mereka. Selama hampir lima belas hari perjalanan, komunikasi kami dengan perantara burung itu baik-baik saja, tetapi.. di hari pernikahan Krystal yang begitu penting ini, merpatiku malah tidak datang. Aku merasa ada yang tidak beres.”

“ Mungkin mereka terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan..”

“ Yah, semoga pernikahan mereka berjalan lancar dan baik-baik saja.”

***

 

Namun kenyataannya, tidak.

 

“ Apakah Anda, Pangeran Byun Baekhyun bersedia mendampingi Putri Krystal Jung dalam keadaan suka maupun duka?”

Pangeran itu, bukannya memasang wajah serius sebelum mengucap sumpah, wajahnya justru menahan tawa licik dan mengejek yang sejak tadi tak tahan ingin ia keluarkan. Eunji merasa begitu terintimidasi dan muak secara bersamaan, mata pangeran itu jelas mengarah kepadanya. Awalnya gadis itu tak peduli, ia hanya menatap ke arah Krystal untuk memberi adiknya itu semangat dan ketenangan.

Tapi lama kelamaan pangeran itu membuatnya muak, membuatnya ingat apa yang terjadi semalam sebelum hari pernikahan ini, sesuatu yang membuatnya begitu menyesali kegagalan mereka untuk kabur ke dunia nyata.

*

 

Istana Negeri Gwangdam, 11.58 P.M …

 

“ Hyerim, bisa kau letakkan mahkota pernikahan ini di kamar pangeran Baekhyun? Yang ada di kamarnya itu milik Krystal, jadi tolong tukar.”

“ Kenapa harus aku?”

“ Aku dan Ilhoon sedang sibuk, pelayan-pelayan juga. Lagipula sejak tadi kau sama sekali tidak membantu persiapan.”

Dengan malas Eunji meraih mahkota mewah itu dari tangan Daehyun dan pergi dari ruang utama istana, berjalan menuju kamar pangeran Baekhyun yang berada di lantai teratas istana negeri Junghwa.

“ Mau kemana, Eunji? Eh.. Hyerim.” Kai yang kebetulan sedang membawa meja berpapasan dengannya.

“ Mengantar ini.”jawab Eunji singkat, “…ke kamar pangeran Baekhyun.”

“ Biar aku saja.”

“ Tidak apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”

“ Kalau terjadi sesuatu tolong beritahu aku.”

Eunji mengangguk pelan dan melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Kai yang merasa khawatir.

 

“ Kau harus bisa mengungkapkan perasaanmu sendiri. Jangan terus-terusan melibatkan aku. Aku juga punya kehidupan, dan kau.. kau sendiri notabene adalah orang asing, aku bukan tempat persembunyianmu.”

 

“ Tunggu, sepertinya aku kenal suara itu. Tapi.. mana mungkin ada disini?”

Eunji menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya sejenak untuk mengetuk pintu kamar Baekhyun. Dari lubang kunci, ia mencoba mengintip untuk mencari seseorang yang diyakininya sebagai pemilik suara yang barusan ia dengar.

“…tidak ada.. tidak ada Sungyeol sunbae disini, tapi kenapa suaranya….”

 

“ Aku bersembunyi bukan karena aku takut. Hanya saja.. jika aku yang mengatakannya sendiri, akan sangat menakutkan.”kali ini Baekhyun yang berbicara, entah pada siapa. Eunji berani bersumpah bahwa matanya melihat pangeran itu hanya sendirian di kamarnya.

“ Menakutkan? Semenakutkan apa, Yang Mulia?”

Suara itu lagi, suara Sungyeol. Eunji semakin heran darimana suara itu berasal, menyahuti perkataan Baekhyun.

“ Aku juga gila, teman. Sama sepertimu.”

“ Ya Tuhan!”

Eunji tak mampu menahan dirinya, mendengar Baekhyun mengaku demikian membuatnya langsung memikirkan Krystal. Ini tidak benar, ini pasti tidak benar.

Baekhyun menoleh dan mampu menangkap indra penglihatan Eunji di lubang kunci kamarnya, lalu tertawa penuh kemenangan.

“ Pergilah, Sungyeol-ssi. Kau benar, tidak seharusnya aku bergantung padamu. Aku tahu pasti kau sangat ingin berada di duniamu sendiri sekarang.”

“ Kau akan menghadapi semuanya sendirian mulai sekarang?”

“ Ya, termasuk mengatakan itu juga.. sendiri.”

“ Keputusan yang tepat.”

Angin yang kencang tiba-tiba berhembus, tanda kepergian arwah Sungyeol yang sejak beberapa hari lalu bersemayam di tubuh Baekhyun. Kini pangeran itu baru benar-benar sendirian dan berada dalam kesadaran penuh dengan ruhnya sendiri.

Eunji mundur beberapa langkah dan mengucek matanya yang perih akibat terkena angin dari lubang pintu. Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dan Baekhyun muncul di depannya.

“ Ah.. kau membawa mahkotaku? Silakan masuk.”

Pangeran brengsek itu bertindak seolah-olah tak terjadi sesuatu? Jelas-jelas Eunji sendiri sadar ia sudah ketahuan saat mengintip. Tapi.. baguslah, Eunji tak mau peduli, setelah menukar mahkotanya, ia akan langsung pergi jauh-jauh dan langsung menyebarkan apa yang ia dengar pada saudara-saudaranya.

JLEG.

KLAK!

“ Hei, apa kau menutup dan mengunci pintunya..?”

Eunji bertanya terang-terangan karena ia langsung tahu, Baekhyun tertawa dan mendekatinya perlahan-lahan.

“ Ya. Kau putri yang cerdas, Jung Hyerim. Sepertinya ini akan sedikit sulit.”

“ A..apa maksudmu?”

Sialan. Gadis itu tidak bisa mundur dan justru terduduk di atas meja, tangan Baekhyun mulai menelusuri wajah cantiknya.

“ Aku menyukaimu, dari dulu…sampai sekarang, itu tidak berubah.”

“ Ck, lelucon apa ini?” gadis itu tertawa hambar, namun langsung terhenti karena kini Baekhyun mulai mencekik lehernya.

“ Kau dan keluargamu.. kalian pikir aku tolol? Sejak awal aku tidak tertipu, aku tahu Krystal menggantikanmu untukku. Kalian pikir aku mau dengan gadis gila dan menyebalkan itu?”

“ J..jaga mulutmu itu..” Eunji tak peduli dengan nafasnya yang tercekat dan lebih tak terima dengan perkataan Baekhyun tentang Krystal.

“ Hah, aku sudah lelah dengan ini semua. Kalau sampai aku mengucapkan janji pernikahan dengan Krystal dan tidak mengakui semua ini padamu, kurasa aku bisa lebih gila.”

“ Kau sudah mengakuinya, kan? Se..sekarang..apa lagi? Lepaskan aku..” keringat dingin mulai menetes dari dahi Eunji, gadis itu semakin kesulitan bernafas.

Baekhyun melepas cekikannya, dengan kasar membalikkan tubuh Eunji dan mendorongnya hingga..

BUK! Kening gadis itu menghantam lemari kaca di dekatnya. Baekhyun meremas rambut indah Eunji kuat-kuat agar gadis itu tak bisa lari darinya.

“ Lihat gaun itu, lihat!?”

Wajah Eunji yang tepat berada di depan kaca lemari menatap gaun putih dan mewah di dalam sana, gaun yang akan dikenakan Krystal di upacara pernikahannya besok. Disamping gaun itu, tergantung pula tuxedo putih milik Baekhyun.

“…seharusnya kau yang memakai gaun itu sejak awal, kaulah yang dijodohkan denganku.. tapi saat aku mengorbankan diri berkelana lima belas hari menuju negeri Junghwa hingga kehilangan kuda dan terluka parah sampai hampir mati, kau tidak ada. Kau tidak ada di istana. Kau tahu betapa sakitnya itu!? Kau tahu!?”

“ M..maaf. maafkan aku..”

“ Jangan minta maaf dulu, aku belum selesai.”

Eunji terdiam, mencoba memahami dan mendengarkan meski kulit kepalanya semakin tersiksa dan terasa pedih.

“ Dengar. Aku pastikan kau akan menyesal seumur hidup. Aku memang tidak akan menyiksamu, tapi setelah menikah, aku akan menyiksa Krystal sampai mati. Dan itu semua karenamu.. karenamu.”

“ Tak akan aku biarkan kau menyakiti adikku!”

“ Oh ya? Lalu kau bisa apa sekarang?”pangeran itu terdengar menantang, “…kau ingin menyebarkan apa yang aku katakan barusan? Silakan, aku akan mengadu pada keluarga Gwangdam bahwa aku ditipu di Junghwa, dan pada akhirnya dua kerajaan ini akan berperang. Seru, kan? Orangtuamu yang akan aku bunuh lebih dulu.”

Baekhyun melepas tangan kasarnya dari rambut indah Eunji yang sudah tak karuan, gadis itu putus asa dan tak bisa menjawab perkataannya.

 

“…lebih baik kau tutup mulut saja, Jung Hyerim.. dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.”

***

 

Tak heran saat ini Eunji muak, melihat Krystal yang merasa terintimidasi menjadi pendampingnya di altar. Padahal hari ini adiknya begitu anggun dengan gaun pernikahan yang membalut tubuhnya, tapi setelah kejadian semalam, Eunji sama sekali tak menginginkan ini terjadi, sama sekali tidak.

Sekali lagi, sebelum mengucap sumpah, pangeran bengis itu meliriknya yang duduk di barisan paling depan dan menunjukkan seringai yang sama seperti yang ia tunjukkan semalam.

Eunji segera mengalihkan perhatian dan menoleh kearah Kai yang berdiri di sudut ruang utama istana negeri Gwangdam, berdiri tegap selayaknya seorang pengawal. Jika saja Eunji bisa melihat wajahnya lebih dekat, ia yakin mata lelaki itu berkaca-kaca.

Kalau dipikir-pikir, Howon memang kelewat kejam meminta Kai untuk menjadi pengawal pengganti, sedangkan dia sendiri sibuk dengan pekerjaannya sebagai artis dan seenaknya mengirimi surat yang membuat Eunji marah.

Tetapi selama berada di dunia kerajaan, Eunji sudah berusaha untuk melupakan sejenak soal Howon, lelaki itu juga mungkin tidak sedang memikirkannya saat ini. Yang ia perdulikan sekarang adalah Kai. Setelah pernikahan sinting ini selesai, Eunji rasa mereka perlu berbagi. Mungkin ia akan menjelaskan perasaannya melihat Krystal menikah, dan Eunji, dengan hati-hati mungkin akan menceritakan pada Kai kejadian semalam.

*

“ Kau terus memperhatikan aku selama upacara pernikahan. Apa aku terlihat lebih pantas berdiri di altar? Yah.. walaupun hari ini hari yang menyedihkan untukku, menjadi tampan adalah keharusan.”

Eunji tertawa kecil. Sesedih apapun dia saat ini, Kai memang pintar menghiburnya.

“ Ada sesuatu.. yang mungkin harus kau tahu.”jawab Eunji pelan tanpa menatap lelaki itu dan terus berpura-pura mengambil banyak makanan di prasmanan, “…kira-kira di mana kita bisa membicarakannya?”

Kai celingukan dan menemukan tempat yang ia rasa aman, “ Ikut aku.”

***

 

“ Aku ingin duduk di tengah!”

“ Ish!”

Hoya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar Minah dan Bomi yang terus saja bertengkar sejak pertama kali mereka bertemu hingga sekarang, dimana mereka akan pulang bersama-sama ke Korea karena pekerjaannya dan Minah di Jepang sudah selesai. Menikmati perjalanan dan satu pesawat dengan dua orang artis seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Bomi, namun sepertinya ia sangat terganggu dengan Minah. Seperti sekarang, jika saja Minah tidak bisa jaga image di depan banyak penumpang yang mengenal mereka, mungkin sudah sejak tadi ia menjambak rambut Bomi karena sejak tadi saudara angkat Eunji itu rebutan tempat duduk dengannya. Tempat duduk yang tepat di samping Hoya.

Lelaki itu sendiri tak peduli, wajahnya yang lusuh masih menghadap ke jendela dan berharap pesawat ini segera berangkat. Ia ingin segera tahu seperti apa keadaan di Korea setelah berhari-hari ia tinggalkan. Terutama Kim Myungsoo dan Kim Haeyeon. Berita bahwa penahanan Kim Haeyeon sudah diketahui publik membuatnya gelisah. Keberadaan Naeun juga tak kalah mengacaukan pikirannya, ia terus saja berfirasat bahwa gadis itu bertemu dengan Myungsoo.

“ Bosan, ya?”

Bomi menepuk bahu Hoya. Oh, rupanya ia yang memenangkan rebutan dan duduk di samping lelaki itu.

“ Sedikit.”jawab Hoya singkat sambil tertawa kecil, ia pun menekan TV yang ada di depan bangkunya.

“ Kau mau nonton infotainment? Setiap menit kau terus muncul di channel yang berbeda-beda.”

Benarkah? Lelaki itu sedikit terkejut. Ia sadar bahwa dirinya memang terkenal. Tapi tak ia sangka bisa seterkenal itu. Setiap hari wajahnya muncul kapan saja dan dimana saja. Seandainya saja sinyal televisi bisa menembus portal, mungkin Eunji tidak perlu rindu padanya.

Lelaki itu bisa sedikit tertawa saat melihat beberapa interview dan CF yang kubintangi tayang di beberapa siaran, hingga tawanya itu mendadak sirna saat channel yang kutonton menayangkan sebuah berita.

Persidangan Kim Haeyeon. Dan Hoya yakin matanya masih tajam, ia melihat Myungsoo hadir disana bahkan sempat berdiri dan protes dengan hasil persidangan. Sial, lelaki baik hati itu melanggar pesannya untuk tidak keluar dari apartemen. Hoya bersumpah akan mengadilinya nanti.

 

Sebentar.

Lelaki itu juga melihat sosok yang familiar duduk disampingnya.

Son Yeoshin?

 

“ Sialan, sudah kuduga!”

*

 

“ Waktu kalian lima belas menit.”

 

Sang petugas kepolisian pun menutup pintu ruangan kedap suara itu, meninggalkan Kim Haeyeon yang kini duduk berhadapan dengan seorang gadis yang terus menunduk hingga rambut indahnya menjadi tirai yang menutup wajah cantiknya. Haeyeon tahu gadis itu kebingungan, gugup, dan setengah ketakutan. Tetapi niatnya untuk bicara empat mata dengan penyihir cantik itu memang sudah bulat, ia sampai rela untuk tidak bicara lagi dengan murid kesayangannya –Kim Myungsoo- sebelum ia menjalani hukuman.

 

“ Silakan minum dulu, sidang yang panjang tadi pasti membuatmu haus.”

Haeyeon membuka pembicaraan dengan sedikit santai dan mendorong sedikit segelas air putih di hadapan Naeun. Dengan gugup, gadis itu menyambutnya dan mulai minum dengan gemetaran.

“…hmm.. sebelumnya, aku mau berterimakasih dulu. Berkatmu, aku dan Myungsoo bisa bernafas lagi.”

EHEK!

Naeun spontan tersedak, kaget. Mengapa Haeyeon mengeluarkan kata-kata yang langsung menusuk ulu hatinya? Myungsoo saja bersikap seolah tak tahu bahwa ia penyihir. Ia kira identitasnya tersembunyi dengan aman dari kedua manusia yang bangkit dari kematian akibat ramuannya itu.

“ Kenapa kamu kelihatan kaget? Kukira kau sudah paham bahwa aku tahu kau adalah Son Yeoshin, atau Son Naeun. Yang jelas, kau penyihir yang pintar membuat ramuan. Iya kan?”

Kepala Naeun semakin pening, “ Darimana..kau tahu?”

“ Myungsoo tidak bilang kalau dia juga sudah tahu siapa dirimu sebenarnya?”

Naeun menggeleng cepat dan langsung menoleh ke arah kaca jendela, terlihat Myungsoo yang sudah reda emosinya kini duduk dengan sabar di luar, menungguinya sembari sesekali memainkan ponsel murahannya.

Jadi sejak pertama kali bertemu, lelaki tampan itu menipu Naeun dengan berpura-pura tidak tahu? Ini sungguh mengejutkan bagi Naeun, rasanya ia tak sanggup lagi keluar dan menemui Myungsoo.

“…ah..anak itu, kenapa dia tidak jujur saja kalau dia sudah tahu tentangmu?” Haeyeon geleng-geleng kepala, “…hm, mungkin dia ingin berterimakasih padamu dengan cara lain. Jadi.. bagaimana awalnya kalian bertemu?”

“ Itu.. tidak sengaja juga..”jawab Naeun kikuk, setelah itu segera mengambil alih topik pembicaraan, “…jadi, kau sudah tahu kenapa kau ada di tempat ini, kepala sekolah?”

Haeyeon menghela nafas pasrahnya.

“ Maaf, Yeoshin. Ya.. aku memang sudah tahu sebenarnya ini perbuatan siapa. Makanya aku tidak bisa melakukan pembelaan.”

Rasa bersalah langsung berkecamuk dalam batin Naeun, rasanya ia ingin mencium kaki Haeyeon sekarang juga untuk meminta maaf atas nama L. Bahkan itu saja mungkin tidak akan cukup untuk menebus penderitaan Haeyeon saat ini.

“ Darimana kau tahu semuanya..?”tanya gadis itu dengan airmata yang sudah hampir jatuh, “…aku..aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang, ini salah…”

“ Sudahlah, akan semakin rumit jika aku memberitahumu lebih lanjut, yang jelas kami sudah tahu. Jika Myungsoo bersikap seolah-olah ia baru mengenalmu dan memperlakukanmu sebagai manusia, jelas itu hanya sandiwara. Kau harus bicarakan ini padanya, minta dia untuk tidak lagi berpura-pura.”

“ Pantas saja dia mengajakku ke persidangan ini..”

Naeun kembali menoleh pada Myungsoo yang masih pada tempatnya di luar jendela. Lelaki itu balas menatapnya dan tersenyum sungguh manis, membuat Naeun tak percaya selama ini lelaki baik itu menipunya.

“ Aku anggap saja dia tidak tahu. Mungkin dia lebih nyaman berpura-pura seperti itu.”jawab Naeun ragu, namun Haeyeon segera menggeleng.

“ Kalian akan kembali ke SMA Junghwa, akan rumit kalau Myungsoo terus berpura-pura tidak tahu siapa dirimu. Saat Myungsoo adalah L, kalian sepasang kekasih di SMA Junghwa, kan?”

“ Aku tidak berniat untuk kembali ke SMA Junghwa. Aku sudah punya keluarga di negeri……”

“ Oh ya? Lalu kau akan meninggalkan kami begitu saja? Terutama aku yang harus menanggung kesalahan suamimu?”

“ Lalu.. aku harus bagaimana?”

Haeyeon sedikit memajukan posisi duduknya, Naeun pun ikut mendekat.

“ Aku harus mengatakan ini, nona Yeoshin. Sebaik apapun diriku, merelakan diri untuk dipenjara karena kesalahan orang lain bukanlah hal yang mudah. L atau kau harus membayarnya. Kau paham maksudku?”

Naeun mengangguk cepat, “ Biar aku yang membayarnya, L tidak perlu tahu masalah ini. Apa yang harus kulakukan untuk menebus ini semua?”

“ Aku tidak meminta banyak, aku hanya ingin kau mewujudkan impianku.”

 

“ Apa impianmu..?”

*

 

“ Kumohon, nona Son. Aku tahu ini permintaan besar. Tapi hanya ini yang kuinginkan.”

Hanya itu yang bisa Myungsoo dengar. Untuk kesekian kalinya lelaki itu menoleh dan mata teduh kami kembali bertemu melalui dinding kaca. Namun bidadari berwujud penyihir itu nampak risau, wajah cantiknya sedikit pucat dan ia buru-buru memutuskan kontak mata dengannya dan kembali bicara dengan Kim Haeyeon.

Myungsoo masih sabar menunggu di luar dan tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan karena dinding kaca yang membatasi mereka cukup tebal. Emosinya sudah turun sedikit berkat gadis penyihir itu. Entah karena disihir atau memang tangannya memiliki efek luar biasa untuk suasana hati Myungsoo. Selama berada dalam genggaman Naeun, lelaki itu merasa damai.

Menyerah karena tak bisa menguping, ia berdiri dan berjalan sedikit ke halaman depan gedung untuk mencari minuman ringan. Kendaraan masih padat. Beberapa wartawan masih berkumpul untuk mewawancarai hakim dan polisi, sementara peserta yang hadir di persidangan mulai pulang satu per satu. Namun masih ada yang bertahan disana, seseorang yang Myungsoo kenal dan pernah mengusirnya dari apartemen Yura.

Kim Sunggyu.

Pria itu berdiri memunggungi Myungsoo dengan tangan kanan memegang ponsel yang menempel di telinganya, ia tak berhenti tertawa.

“ Nam Woohyun, kau akan pulang besok, kan?”

“…hari ini benar-benar sesuai dengan apa yang kuharapkan!”

Myungsoo tak tahu apa yang ia bicarakan, namun ia tidak begitu terkejut bahwa Sunggyu berbicara dengan Woohyun, mereka memang saling menyayangi layaknya Myungsoo dan Kim Haeyeon.

Namun yang membuat Myungsoo sedikit berdebar adalah ketika pria itu memastikan sesuatu pada Woohyun.

“…kau pulang bersama Park Chorong, kan?”

Park Chorong. Myungsoo akan segera melihatnya. Meski Hoya masih melarangnya untuk menunjukkan diri, tapi apa ia sanggup menahan rasa rindunya?

Myungsoo masih berdiri dengan wajah penasaran di belakang Sunggyu, dan mendengar kabar berikutnya.

“…cepatlah pulang, Nam Woohyun. SMA Junghwa akan dibuka kembali.”

Mata elang lelaki tampan itu sedikit melebar, terkejut. Apa keputusan yang telah dibuat Haeyeon sehingga SMA Junghwa bisa dibuka lagi meski beliau mendekam di penjara? Hal ini membuatnya terpaksa melanjutkan kegiatan curi dengarnya, ia semakin mendekat hingga punggung Sunggyu hanya berjarak sekitar empat meter darinya. Namun..

 

“ Ikut! Ikut aku!”

Seorang lelaki dengan masker dan kacamata hitam di wajahnya tiba-tiba datang entah darimana dan menarik tangan Myungsoo kuat-kuat, menyeretnya masuk ke dalam sebuah mobil.

*

 

“ Terimakasih sudah membuatku berlarian mencarimu!”

Setibanya di mobil, lelaki itu membuka masker dan kacamatanya, menunjukkan wajah jengkelnya pada Myungsoo.

“ Hoya?”

Myungsoo baru sadar dan melihat seisi mobil, terlihat Minah juga ada di jok belakang, bersama Yura yang rupanya ikut naik dan tidak lagi bersama Sunggyu di tempat persidangan. Sementara Bomi sudah tidak ada, mungkin langsung diantar pulang setibanya di bandara karena sepanjang perjalanan ia terus bertengkar dengan Minah.

“ Hah, kau bahkan tidak tahu aku pulang hari ini.” Hoya semakin kesal, Myungsoo benar-benar merasa malu dan bersalah karena ditangkap basah seperti ini.

“ Maaf, nanti aku jelaskan..”jawab Myungsoo kikuk.

“ Apa salahnya sih dia datang ke persidangan kepala sekolahnya sendiri? Kenapa kau menangkapnya seperti maling?” tanya Minah tak habis pikir, Yura mengangguk juga meski ia senang Myungsoo bergabung dalam mobil mereka.

Hoya tak menjawab pertanyaan Minah, di kepalanya sudah tersusun ribuan kata untuk mengomel jika sudah tiba di apartemen nanti.

“…jalan, Pak. Ke apartemen.”titahnya kepada sang supir, mobil pun mulai meninggalkan halaman gedung persidangan, Myungsoo sontak berbalik dengan khawatir.

“ Naeun, dia masih disana! Biarkan aku pamit dulu..”

“ Diam saja.”

Myungsoo pasrah dan berusaha duduk dengan tenang, daripada Hoya semakin marah nantinya.

***

 

“ Jadi kau ini mengizinkanku untuk pulang atau tidak?”

Kai masih memain-mainkan sebotol ramuan portal di tangannya sembali menatap heran ke arah Eunji. Perasaannya juga sedikit kacau setelah mendengar cerita Eunji tentang perkataan pangeran Baekhyun semalam.

“ Aku juga tidak tahu.. apakah aku mengizinkanmu atau tidak.”jawab Eunji linglung, “…satu sisi, kau memang berhak menggunakan ramuan portal itu karena aku dan Howon sudah berjanji akan memulangkanmu setelah pernikahan ini selesai. Tapi di lain sisi, aku harus minta tolong siapa lagi selain kau untuk melindungi uri Krystal? Kalau aku cerita pada Daehyun, emosinya akan meledak-ledak. Aku tidak mungkin juga cerita pada Ilhoon, dia masih terlalu kecil..”

“ Sebenarnya aku juga bisa apa untuk melindungi Krystal, kami tidak punya hubungan apa-apa lagi.”

“ Kurasa belum terlambat untuk membawanya kabur ke dunia nyata. Itupun kalau kau tidak keberatan..”

 

 

“ Hah, sudah kuduga kakakmu itu tidak akan sanggup memendamnya sendirian. Kurasa ia bercerita pada orang yang tepat. Bukankah begitu, Krystal…?”

Gadis itu tetap kaku dan gemetaran, mendengar pembicaraan Kai dan Eunji dari balik tembok dengan tangan yang tetap digenggam erat oleh Baekhyun. Ia hanya bisa berharap Kai masih mau menolongnya. Meskipun akan sangat sulit karena Baekhyun tidaklah sebodoh yang ia kira.

 

“ Kau tidak akan ikut denganku ke dunia nyata?”tanya Kai.

“ Mana mungkin aku bisa pergi setelah mengetahui semua ini? Krystal akan semakin menderita karena aku, aku tidak mungkin membiarkannya.”Eunji mulai menangis, “…sebaiknya Krystal yang ikut denganmu kesana. Aku ingin dia berada sejauh mungkin dari Baekhyun..”

 

“ Jika saja Hyerim mau menikah denganku, aku tidak mungkin sejauh ini.”ucap Baekhyun tanpa rasa bersalah, kemudian menatap Krystal dengan seringai liciknya.

“…kau ingin kabur ke dunia nyata dengan lelaki itu? Tak akan kubiarkan. Kau milikku sekarang.”

“ Aku merekam semuanya, aku tidak akan tinggal diam.”gadis itu berusaha untuk tidak takut dan balik mengancam.

“ Hei..hei.. berhenti bicara kurang ajar pada suamimu. Kau akan tahu akibatnya.”

Krystal semakin ketakutan. Sebelum mulutnya ditutup, ia berniat untuk berteriak dan meminta tolong pada Kai yang berjarak tak jauh dari tempat persembunyiannya.

“ Kai!! Tolong ak……”

 

“ Maaf, Eunji. Mungkin terdengar egois, tapi aku ingin pulang saja. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh pada masalah keluarga kerajaan ini. Lagipula, aku sudah sangat merindukan Myungsoo hyung.”

 

Tak hanya Eunji yang merasa sangat kecewa, teriakan Krystal pun terhenti ketika mendengar keputusan lelaki berkulit gelap itu, kini rasa kecewa yang menyelimuti Krystal, ia tak percaya Kai lebih memilih untuk pulang.

“ Hahahaha! Adegan bodoh macam apa ini? Tidak ada yang bisa diharapkan untuk menyelamatkanmu. Jadi, terima saja nasibmu mulai saat ini.” Baekhyun tertawa dan menariknya untuk pergi, gadis itu tak sanggup lagi menahan tangisannya.

“ Kai.. aku mencintaimu.. kumohon.. tolong aku..!”

 

“ Krystal !?” Kai mendengarnya dan menemukan tempat persembunyian gadis itu, namun sosok Krystal telah menghilang, ditarik dengan kasar oleh Baekhyun.

“ Pergilah! Aku juga sadar tidak bisa memaksamu. Biar aku sendiri yang menolong Krystal. Terimakasih atas bantuanmu disini.” Eunji sudah terlanjur marah dan kecewa, ia merampas botol ramuan dari tangan Kai dan membukakan portal untuk adik lelaki Myungsoo itu.

“ Eunji.. maafkan a..”

“ Pergilah!”

Gadis itu mendorongnya kemudian ia berlari memasuki istana dengan airmata yang terus bercucuran.

Kai tak mampu mengejarnya. Portal telah tertutup.

***

 

“ Tadi Myungsoo sunbae kemana ya? Kenapa dia menghilang begitu saja?”

Malam itu sembari terus sibuk dengan segala bahan ramuan di depannya, Naeun kembali ingat dengan Myungsoo yang menghilang begitu saja saat ia keluar dari ruangan berbicaranya dengan Haeyeon. Berpikir bahwa lelaki itu pulang duluan, Naeun pun akhirnya memutuskan untuk pulang sendiri, karena ada yang harus segera ia kerjakan di dapur rumah mewahnya ini.

Membuat ramuan portal.

Meski rasa bersalah terus menghantuinya, ia benar-benar ingin lari dari permintaan Haeyeon dan segera pulang ke negeri Junghwa. Ia tidak bisa terus bersama Myungsoo dan kembali bersekolah. Mungkin ia akan memikirkan cara lain untuk mengganti permintaan Haeyeon. Yang jelas, ia tak bisa jika harus terus berada di dunia nyata, apalagi mendampingi Myungsoo, seperti yang diinginkan oleh Haeyeon.

“ Maafkan aku, Kim Haeyeon.. aku janji akan menebus kesalahan L, tapi tidak dengan mewujudkan permintaanmu..” Naeun terus bergumam, ia menelungkupkan wajahnya di atas meja, menunggu proses percampuran ramuannya selesai hingga ia tertidur pulas.

***

 

“ Kau mendapatkan bukunya?”

Dalam persembunyian, L masih melihat sosok Namjoo yang menyembunyikan buku tebal di balik punggungnya. Buku Rahasia Dunia Luar yang asli, yang diinginkan oleh ibu angkatnya, Namjoo memang berhasil mencurinya dari L.

Insiden terakhir di sekolah sihir yang membuat L kehilangan buku itu adalah salah satu hal yang membuat L semakin stress. Maka itu dari pagi hingga malam ini, demi mencari petunjuk, penyihir itu rela bersemayam di atas pohon tepat di samping rumah keluarga Son, tempat yang kini telah ia ketahui ternyata dihuni oleh Hyoyeon dan Namjoo. Ia juga baru melihat lagi bahwa kini Hyoyeon menggunakan wajah Yookyung secara permanen karena wajah aslinya sudah rusak akibat satu rak ramuan yang hampir membunuhnya saat ‘perang’ di villa dahulu.

Dan malam itu, L baru bisa melihat interaksi di dalam sana karena sejak pagi hingga sore ia masih belum pulih dari mabuknya. L bisa melihat jelas bahwa Namjoo memegang bukunya yang ia curi, jelas Hyoyeon terlihat sedang menagihnya.

 

“ Kalau sudah ada di tanganmu, apa yang akan kau lakukan dengan buku ini?” tanya Namjoo, membuat L sedikit terkesan karena ia juga ingin tahu jawabannya.

“ Berikan dulu bukunya.”

Namjoo nampak mundur beberapa langkah. Kenapa gadis itu jadi ragu? Bukankah tujuannya mencuri adalah agar sampai ke tangan Hyoyeon?

“…ada apa denganmu, Namjoo? Berikan padaku!” Hyoyeon mendesak sekarang, dada Namjoo mendadak sesak, perasaannya tak enak.

“…jangan bilang kau sedang membela L!”

 

“ Haha, dia membelaku?”L menyeringai tak percaya, semakin seru menyaksikan interaksi tersebut.

 

“ Apa!? Membelanya? Tidak. Tidak juga. Untuk apa membela seseorang yang pernah membunuhku. Mungkin kasihan? Entahlah. Namun semenjak L menjadi guruku, kebencianku padanya sedikit demi sedikit memudar.” batin Namjoo mulai kacau. Bicara apa dia ini? Tak sepantasnya ia memikirkan hal ini sekarang. Hyoyeon akan membaca pikirannya, dan ia akan mati untuk kedua kalinya jika Hyoyeon tahu bahwa Namjoo punya rasa kasihan pada L dan keluarganya meski hanya secuil.

Serahkan bukunya, Kim Namjoo..

Gadis kecil itu masih saja mendesak batinnya, L menyadari itu meski hanya dari kejauhan. Ia tahu Namjoo sedang berfirasat buruk. Seandainya bisa, lelaki itu ingin sekali turun dari atas pohon dan mengambil bukunya dari tangan Namjoo dan (mungkin) menolong gadis kecil yang sedang mengalami pergolakan batin itu. Tapi melakukan hal tersebut tidaklah mudah, karena artinya ia harus siap berhadapan dengan Hyoyeon.

Bukannya tak berani, L hanya baru pulih dari mabuknya dan kekuatannya masih belum terkumpul. Ia tak ingin mati konyol.

 

“ Ambil bukunya.”

Terlihat Hyoyeon memberi isyarat pada Dongwoon dan Gain. Namjoo tahu cara mereka merebut sesuatu, dan ia tak ingin diperlakukan kasar.

“ Ambillah!” maka segera dilemparnya buku itu ke sembarang arah dan gadis itu berlari ke kamar karena perasaannya mendadak tak karuan. Rasa bersalah, takut, dan firasat buruk bercampur jadi satu.

L sendiri terkejut dengan pemandangan itu. Apa ini artinya Namjoo benar-benar sedang berpihak padanya?

Hyoyeon nampak sama sekali tak peduli. Namjoo memperhatikannya dari lubang pintu, Hyoyeon memungut bukunya dan membukanya untuk memastikan bahwa buku itu memanglah buku yang asli, yang benar-benar berisi tulisan tangannya.

“ Apa yang ingin kau lakukan dengan buku ini?”tanya Dongwoon dan Gain penasaran.

 

Nah, ini yang ingin kudengar. L dan Namjoo memiliki pertanyaan yang sama.

 

Hyoyeon tertawa misterius dan mendekap bukunya.

“ Kenapa penasaran sekali? Aku hanya ingin sedikit mengubah isinya.”

 

Mengubah isinya? Apa ini bagian dari rentetan rencananya untuk memusnahkanku? L tak habis pikir. Ia saja jarang membuka buku itu, meski sering membawanya kemanapun ia pergi hanya untuk menjaganya agar tetap aman. Justru yang sering menggunakannya adalah Naeun, karena disana terdapat resep ramuan portal yang kini sudah Naeun hafalkan.

Ini membuat L berpikir bahwa rencana Hyoyeon kali ini akan melibatkan Naeun.

Ia tak akan tinggal diam.

***

 

“ Sayang sekali kita tidak bertemu di tempat tidur, malah di dapur seperti ini.”

“ Hah?!” Naeun membuka matanya. Kini ia tak sendirian, seorang penyihir tampan berpakaian serba hitam duduk di atas meja dapur dengan gaya angkuhnya.

“ Apa ini?” L mengetuk-ngetuk botol kaca berisi ramuan yang masih dalam proses, Naeun masih linglung.

“ Kau.. bagaimana bisa kesini?”

L hanya tersenyum sinis dan kembali sibuk memperhatikan ramuan yang masih dalam keadaan setengah mendidih itu.

“…oh ya.. aku sedang bermimpi.” Naeun mulai sadar L kembali mengiriminya mimpi. Senang rasanya bisa melihat mantan penyihir jahat ini lagi. Tetapi bertemu dalam keadaan sedang membuat ramuan portal membuat Naeun merasa seakan sedang tertangkap basah.

“ Ini ramuan portal kan?” L baru menyadarinya, pengetahuan dangkalnya tentang ramuan membuatnya agak lama mengidentifikasi apa yang ia lihat.

“ B..bukan..”jawab Naeun berbohong.

“ Aku memang bodoh soal beginian, tapi jangan membohongiku. Atau kau akan celaka.”

Naeun menghela nafas pasrah, menyerah saja jika L sudah mengeluarkan kata-kata berbahaya seperti ini.

“…kau akan pulang ke negeri Junghwa?”

“ Ya. Bukankah ini sudah hari ke lima belas?”

“ Bukankah aku belum memintamu untuk pulang? Jadi jangan membuat keputusan sendiri.”

“ Tapi ini sudah hari ke lima belas.”

“ Tapi aku belum menyuruhmu pulang.”

“ Perjanjiannya hanya sampai hari ke lima belas.”

“ Oh, Yeoshin. Aku sangat tidak berharap kita akan memperdebatkan ini lagi. Aku datang ke mimpimu karena aku merindukanmu.”

“ Makanya, jangan larang aku untuk pulang. Kalau aku pulang, kau kan tidak perlu lagi rindu padaku.”

“ Pokoknya kau tidak boleh pulang dulu. Titik.”

“ L, kau tidak mengerti ya? Aku harus pulang, aku..”

PRANG!

Dengan tanpa beban L menjatuhkan botol berisi ramuan portal setengah jadi itu ke lantai hingga cairan tersebut melepuh dan meresap tanpa sisa di lantai.

Ups, maaf.”

Wajah Naeun memerah, ia benar-benar jengkel sekarang. Jika L bukanlah penyihir bengis dan menakutkan, Naeun tak akan segan-segan mengajaknya berkelahi.

“ L.. kau benar-benar..”

“ Oh ya. Dan ini, aku sita.” L merampas tongkat sihir milik Naeun, “…agar kau tidak macam-macam dan tetap menuruti perintahku.”

Naeun berdiri, tak tahan lagi untuk memaki.

“ Ya!! Kau ini apa…”

Cup~

Lelaki itu mengecup keningnya singkat dan mengelus pipinya dengan lembut.

 

“ Ini semua karena aku mencintaimu.”

*

 

“ Ah!”

Naeun kembali terbangun.

Benar, botol ramuan portalnya sudah hancur berkeping-keping di lantai, dan tongkat sihir pun tak ada lagi dalam genggamannya. L sudah menghilang tanpa sempat memberi kabar sedikitpun padanya.

“ Seandainya kau tahu tentang Myungsoo, mungkin kau tidak akan membiarkanku disini lama-lama.”batin Naeun. Ingin sekali ia buka mulut tentang keberadaan Haeyeon dan Myungsoo pada L jika itu satu-satunya tiket pulang ke negeri Junghwa, tetapi tentu saja tidak mudah karena ia harus menarik pula masa lalu dimana ialah pembuat ramuan pembangkit kematian itu.

 

“ Nona Naeun, ada telepon untukmu.”

Salah satu pelayan rumah keluarga Nam mendatangi dapur dengan membawa telepon rumah dan menyerahkannya pada Naeun.

“ Siapa?” tanya Naeun setengah berbisik, sang pelayan hanya tersenyum kemudian pamit dari hadapan gadis itu.

“…halo?”

“ Hai. Syukurlah aku tidak salah sambung, aku masih ingat nomor telepon rumah keluarga Nam, hehe.”

“ Myungsoo sunbae?”

“ Bingo!”

Naeun tertawa kecil, mengikuti permainan Myungsoo yang rupanya masih tetap pada ‘pura-pura tidak tahu’nya “ Ada apa, sunbae?”

“ Maaf tadi meninggalkanmu, aku terpaksa pulang duluan..”

“ Oh.. ya.. tidak apa-apa.”

“ Apa besok kau ada acara?”

Apa aku harus bertemu dengannya lagi? Naeun masih merasa tak kuat jika mengingat perkataan Haeyeon padanya.

“ Tidak ada.. ada apa, sunbae?”

“ Kau tahu kan, lusa nanti SMA Junghwa sudah dibuka kembali. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin kau ikut membantu persiapan pembukaan. Seperti membersihkan sekolah dan asrama. Banyak siswa dan siswi bahkan guru yang akan datang besok. Sunggyu songsaenim sudah membuat pengumuman.”

Cepat sekali, pikir Naeun. Ini baru beberapa jam setelah Haeyeon dinyatakan bersalah, Sunggyu sudah membuat pengumuman untuk pembukaan SMA Junghwa.

“…bagaimana, kau bisa?”tanya Myungsoo karena Naeun masih tak merespon.

“ Ya. Tentu saja bisa. Jam berapa, sunbae?”

“ Jam berapapun kau bisa, datang saja ke sekolah. Aku sendiri akan datang subuh.”

“ Subuh?”

Oke, Naeun mengerti. Myungsoo yang asli sangat merindukan sekolahnya. Ia juga masih memiliki naluri president school yang teladan. Apa ia belum tahu jabatannya sudah diambil alih oleh Woohyun?

Ah, mengingat Woohyun, besok kakak angkat Naeun itu pulang dari Amerika bersama Chorong.

Apa ini artinya pertemuan mereka dengan Myungsoo semakin dekat?

********

 

“ Sialan, besok harus bersih-bersih dan lusa sudah sekolah seperti biasa?”

Lelaki berwajah pucat itu mendengus dan beranjak dari layar komputernya setelah membaca pengumuman di website SMA Junghwa. Ia beringsut pelan menuju kasur yang tergelar di depan televisi rumahnya.

“…padahal aku masih perlu banyak waktu istirahat.”keluhnya jengkel sambil terus menahan rasa sakit di kepalanya yang tak kunjung hilang.

Drrt..drrt..

“ Hah, siapa pula malam-malam begini!”umpatnya, ia meraba-raba lantai hingga mendapatkan ponselnya, segera ia angkat panggilan yang masuk.

 

Yoboseyo?!”

“ Sungyeol-ah, kenapa bicaramu jadi terdengar barbar begini?”

“ C..Chorong-ah?”

“ Ya, ini aku.”

Sungyeol sedikit senang bisa mendengar suara sahabat perempuannya lagi, “ Mianhae, ada apa menghubungiku?”

“ Pertama, karena aku khawatir. Sejak kau pulang lebih duluan dari Amerika, kau tidak pernah menghubungiku, saat kuhubungi juga tidak menjawab. Kau kemana saja? Kau sudah menjalani pengobatan? Bagaimana kesehatanmu sekarang?”

Mengatakan bahwa ia sempat masuk lagi ke tubuh pangeran Baekhyun sampai sakit begini mungkin hanya akan membuat Chorong semakin khawatir. Sungyeol memilih untuk tutup mulut saja soal itu, lagipula ia tak akan lagi kembali ke tubuh Baekhyun, pangeran itu sudah memilih untuk menunjukkan taringnya pada Hyerim dan Krystal.

Sorry membuatmu khawatir. Aku terlalu sibuk berkencan disini, hahaha.”jawab Sungyeol sedikit mengaco agar Chorong tak begitu tegang.

Mwo..? kencan? Dengan laki-laki?”

“ Aku sedang ingin dengan perempuan.”

Terdengar tawa kecil Chorong, Sungyeol merasa lega sahabatnya itu tak lagi merasa khawatir.

“ Siapa teman kencanmu? Perkenalkan padaku!”

“ Kau tahu, dia anak Sunggyu songsaenim.”

Mwo?? Bagaimana ceritanya kau bisa mengencani anak guru?”

Astaga. Sungyeol baru sadar ia mengucapkan apa barusan hingga Chorong terkejut seperti ini. Seandainya perkataan bisa ditarik…

“ Eh.. eh.. sudahlah, bukan siapa-siapa. Bagaimana denganmu? Kapan kau pulang?” lelaki itu merubah arah pembicaraan.

“ Hari ini aku pulang dengan Woohyun, kami sedang menunggu pesawat nih. Kau sudah tahu kan besok kita harus ikut persiapan pembukaan sekolah? Setibanya di bandara aku dan Woohyun akan langsung kesana. Bagaimana denganmu?”

“ Yah.. mungkin aku datang subuh, aku ingin memindahkan barang-barang lagi ke kamar asrama secepatnya.”

Padahal bukan itu alasannya. Sungyeol berfirasat besok Myungsoo akan datang subuh juga. Ia tahu betul siapa Kim Myungsoo, president school yang teladan.

“ Jangan pulang dulu sebelum aku datang, ya.”Chorong sedikit ber-aegyo.

“ Aih.. tenang saja, aku akan langsung tidur di asrama. Jadi kita bisa berkumpul lagi… bertiga.”

“ Bertiga?”

“ Yah. Bertiga. Sudahlah, sampai ketemu nanti. Have a nice flight.”

Sungyeol segera menutup teleponnya dan tersenyum tak sabar.

 

“ Sebentar lagi kita akan berkumpul seperti dulu. Walaupun aku yakin rasanya tak akan sama.”

***

 

“ Kita sudah tiba di SMA Junghwa.”

Myungsoo segera bersiap untuk turun dari mobil meski keadaan sekolah asrama itu masih sangat sepi di pagi buta ini.

“ Jadi, kau tidak akan lagi kembali ke apartemen?” tanya Howon, yang memberikan tumpangan untuk Myungsoo karena pagi ini ia juga berangkat menuju kantor agensi untuk mengurus beberapa kontrak dan juga menjalani rutinitasnya lagi sebagai seorang artis, padahal jelas setibanya dari Jepang ia masih sangat kelelahan, apalagi sempat mengomel pada Myungsoo seharian, membuat energinya masih belum terkumpul.

“ Ya. Aku akan langsung tinggal di asrama. Tapi.. aku pasti akan rajin mengunjungimu, jika kau masih memerlukanku sebagai manajer magang.”

Howon tertawa, Myungsoo benar-benar polos.

“…oh iya, sudah tidak marah padaku, kan?”tanya Myungsoo hati-hati sambil tetap memasang wajah tampannya yang polos.

“ Yah.. begitulah.” Hoya mengangguk pelan, “…lagipula tidak seru juga mengomel padamu, tidak ada perlawanan. Jika saja yang kuomeli adalah L, mungkin sudah jadi pertarungan berdarah.”

Myungsoo tertawa kecil, “ Terimakasih banyak, Howon. Maaf sekali sudah membuatmu marah.”

“ Aku juga minta maaf, seharusnya aku paham kau tidak mungkin selamanya mendekam di apartemen. Kalau begitu, selamat bersekolah lagi. Oh ya..” Hoya merogoh saku jaketnya, mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana.

“…ambillah, hartamu sudah tidak ada lagi karena L. keperluanmu pasti akan sangat banyak, apalagi jika Kai sudah datang. Kalau kurang, hubungi saja aku.”

“ Hoya.. tidak.. kau tidak perlu..”

“ Ambil saja. Dan jangan khawatir, aku akan mempekerjakanmu jika aku kekurangan asisten, dan kau pasti akan digaji. Jadi, pergunakan uangnya dengan baik.”

“ Terimakasih banyak.. kau baik sekali.” Myungsoo membungkukkan badannya, “…percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu lagi khawatir denganku.”

Sisi baik L itupun turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Hoya sebelum memasuki gerbang sekolah.

Hoya menghela nafas.

 

“ Satu-satunya yang kukhawatirkan sekarang adalah pertemuanmu dengan Naeun, Kim Myungsoo.”

*

 

“ Sudah kuduga kau datang sepagi ini..”

Seseorang telah memperhatikan sosok Myungsoo dari atas balkon asrama putra.

Lee Sungyeol. Senyumnya mengembang melihat mayat yang selama ini ia simpan kini hidup kembali dengan wajah ceria, mendekati gerbang asrama, menaiki tangga, dan sebentar lagi akan tiba di kamar mereka.

 

“ Bagaimana aku menyambutn…yaa!”

“ Lee Sungyeol!!”

Lelaki itu terkejut, Myungsoo datang tanpa suara dan langsung memeluknya dari belakang. Jantungnya berdebar kencang dan darahnya berdesir dengan deras. Myungsoo masih memeluknya dengan erat.

“ Ah, aku kalah teladan lagi denganmu. Kau memang pemegang rekor abadi dalam hal datang pagi. Jam berapa kau kesini?” Myungsoo membalikkan tubuhnya dan tersenyum lebar, “…ya ampun, kau semakin jangkung saja.”

“ Myungsoo..”

“ Ya?”

Sungyeol masih diam, tak mampu berkata-kata lagi bahkan hampir menangis. Myungsoo memeluknya lagi.

“ Hey, brother. Kau laki-laki, jangan menangis. Aku mengerti perasaanmu. Tapi sekarang aku disini, aku tidak akan pergi lagi..”

“ Kau tidak membenciku, kan?”

Myungsoo tersenyum dan mengacak-acak rambut hitam Sungyeol dengan gemas.

“ Mana mungkin aku membenci sahabatku yang paling tampan ini? Sudahlah, nanti akan kucarikan gadis yang cantik untukmu!”

Cenayang itu tertawa, menghapus airmatanya dan merangkul Myungsoo.

“ Akhirnya kita sekamar lagi, brother.

“ Apa kau bersama L selama aku tidak ada?”

Sungyeol terdiam, mungkin sedikit trauma karena setelah ia mengetahui siapa L sebenarnya, ia terus diperlakukan dengan kasar.

“…mian, sebenarnya aku tidak ingin membahas ini. Tapi aku yakin kau sudah tahu apa yang terjadi.”sambung Myungsoo, Sungyeol mengangguk pelan.

“ Aku ingin melupakan semuanya. Aku hanya ingin melanjutkan hidup sebagai sahabatmu selama-lamanya.”

Myungsoo tersenyum dan menepuk bahu Sungyeol.

“ Bagaimanapun, terimakasih karena telah menyelamatkan jasadku.”

“ Kau tahu aku menyimpan jasadmu selama kau meninggal?”

“ Saat aku terkapar di kaki gunung, aku masih setengah sadar . Aku tahu kau menemukanku, setelah itu aku menemui ajalku. Jadi jika aku bangun dalam keadaan sesehat ini, aku mempercayai apa yang kulihat, kaulah yang menyelamatkanku.”

“ Kau tidak bertanya mengapa aku tidak menguburkanmu?”

“ Tidak. Aku tahu kau tidak ingin kehilanganku, seperti aku tidak ingin kehilanganmu, juga Chorong. Bukankah kita bertiga pernah membuat perjanjian gila untuk saling mengawetkan jasad satu sama lain ketika kita sudah meninggal nanti? Kau tidak ingat?”

Sungyeol tertawa, “ Ya.. aku ingat, itu perjanjian konyol kita saat SMP.”

“ Karena kau sudah menganggapnya serius, aku juga akan berlaku demikian. Jadi, jangan takut kehilangan. Kita akan bersama selama-lamanya.”

Sungyeol mengangguk dan tersenyum.

 

“ Terimakasih, Kim Myungsoo.”

***

 

“ Ada apa ini?”

Hoya baru saja tiba di kantor agensi dan mendapati segerombol staf di depan pintu ruangan CEO, semua langsung menyingkir ketika tahu sang artis menghampiri mereka.

“ Ada orang misterius yang tidur di kantor CEO, padahal kantornya terkunci kalau CEO tidak ada.”jelas salah seorang staf.

“ Bagaimana bisa?”Hoya tak habis pikir. Karena penasaran, ia menerobos saja masuk ke ruang atasannya itu, terlihat seorang pria berumur yang merupakan CEOnya sedang mengadili seorang lelaki berseragam aneh yang masih duduk di sofa kantornya.

“ Aku harus bilang apa lagi? aku tiba-tiba saja tertidur disini, aku bahkan tidak tahu ini kantor apa..”jelas lelaki itu bersungguh-sungguh.

“ Tidak mungkin. Apa yang sudah kau lakukan di kantorku? Hah!?”

“ Astaga!”

Hoya mengenal lelaki itu, sungguh tak asing baginya. Baju aneh yang dikenakan lelaki itupun, Hoya mengetahuinya.

Itu-seragam-pengawalnya-saat-masih-di-negeri-Junghwa.

“ Kai.. kenapa kau ada disini hah?” Hoya buru-buru memberdirikan lelaki berkulit agak gelap itu dengan panik.

“ Mana kutahu! Semalam aku keluar dari portal dan..”

“ Ah.. pantas.. ternyata malah keluar di tempat ini..”

“ Hoya, kau mengenali dia?”tanya sang CEO, Hoya buru-buru mengangguk.

“ Dia.. dia tetangga..saya.”jawab Hoya kikuk, Kai ikut mengangguk saja.

“ Lalu apa kamu tahu kenapa dia bisa sampai ke tempat ini?”

“ Ng.. anu.. ah.. kau pasti minum-minum lagi ya?” Hoya terpaksa mengarang lagi, “…maaf, bos. Dia ini.. kalau sudah mabuk bisa tidur di mana saja..”

“ Aku masih SMA, mana mungkin aku minum..”Kai agak protes meski hanya berbisik.

“ Diam saja.” Hoya menginjak kakinya, “…maaf, bos. Saya akan membawanya pulang sekarang.”

“ Hah, ya sudah. Pergilah.”sang CEO sudah malas marah-marah lagi, “…ehh..tapi..”

“ Ada apa, bos?”Hoya yang sudah menyeret Kai berbalik lagi dengan gugup.

“ Kenapa dia memakai kostum seperti itu?”

“ Ah.. ini.. hahaha.. aku anak teater, kemarin habis pentas langsung mabuk-mabukan.”jawab Kai setengah kikuk dan pasrah. Semua staf yang mendengar sudah menertawakannya.

“ Cepat ikut aku!” Hoya buru-buru membawanya masuk ke mobil, “…kenapa kau tidak ganti pakaian dulu sebelum pulang ke sini?”

“ Aku tidak punya kesempatan. Pacarmu mendorongku masuk portal.”

“ Eunji?”

“ Hm. Dia sangat marah padaku.”

“ Apa yang terjadi?”

“ Hah.. nanti saja ceritanya. Aku lapar.”

“ Anak ini..” Hoya mulai kesal, ia pun mengeluarkan roti panggang yang ia punya dari tasnya, Kai langsung makan dengan lahap.

“ Roti itu.. Myungsoo yang memanggangnya tadi pagi.”

EHEK!

Kai langsung tersedak mendengarnya, “ Benarkah..? sekarang..dimana hyungku? Aku ingin bertemu dengannya!”

“ Dia di sekolah untuk mempersiapkan asramanya, besok SMA Junghwa resmi dibuka dan akan belajar seperti biasa. Kau ingin kembali sekolah juga, kan?”

“ Ya.. tentu saja! Sekarang aku harus ke sekolah juga untuk merapikan kamar asramaku..”

“ Tunggu. Tunggu Kai, sepertinya kau sakit.” Hoya menyentuh kening adik Myungsoo itu, “…istirahatlah sehari di apartemenku. Aku tahu perjalanan lima belas hari itu sangat melelahkan, apalagi menggantikan posisiku sebagai pengawal. Terimakasih ya.”

“ Tapi.. aku akan segera bertemu Myungsoo hyung kan?”

“ Iya, aku janji. Aku juga akan mempersiapkan keperluan sekolahmu. Jadi istirahat saja sekarang. Oke?”

“ Baik. Aku akan menceritakan apa yang terjadi di negeri Junghwa, nanti saat kau pulang.”

Hoya mengangguk dan turun dari mobil, meminta supir untuk mengantar Kai ke apartemennya.

“ Memangnya keadaan disana baik atau buruk?”tanya Hoya sebelum mobil berangkat, Kai membuka kaca jendelanya.

“ Sangat buruk, sampai aku merasa bersalah telah memilih pulang kesini.”

Mobil pun berangkat, meninggalkan Hoya yang merasa khawatir setelah mendengar perkataan Kai.

***

 

“ Ah, kau disini rupanya!”

Chorong yang baru saja tiba di SMA Junghwa bersama Woohyun memasuki ruangan president school dan menemukan Sungyeol sedang merapikan meja disana, gadis itu segera memeluknya dengan penuh rasa rindu.

“ Tidak jet lag?”tanya Sungyeol berbasa-basi, Chorong menggeleng.

“ Kenapa kau disini? Tidak membereskan kamar?”

“ Aku sudah membereskannya dari subuh.”

“ Ah.. benar, kau kan pemegang rekor datang pagi.”

Sungyeol tersenyum, “ Chorong-ah, aku punya kejutan untukmu.”

Mwo? Kejutan?”

“ Hm..”

“ Apa? Apa??”

“ Bereskan dulu kamarmu sana.”

“ Janji ya benar-benar ada kejutan!”

Sungyeol mengangguk, Chorong pun berbalik dan keluar dari ruangan, menyeret kopernya dan langsung menuju asrama putri bersama Naeun, yang rupanya ikut datang setelah menjemput ia dan Woohyun di bandara.

“ Sudah dapat rumah di Amerika?”tanya Sungyeol pada Woohyun yang masih berada di ruangan president school, sepertinya lelaki kaya ini sedang menunggu kedatangan Kim Sunggyu.

“ Kau yang menukar ini?” Woohyun tak menjawab pertanyaan Sungyeol dan justru heran ketika menyadari papan jabatan president school di mejanya kembali ditukar dengan milik Myungsoo.

“ Ya.”jawab Sungyeol tanpa dosa dan tetap sibuk membereskan meja di depannya.

“ Apa L datang lagi?”

“ Tidak.”

“ Lantas?”

President school kita yang sebenarnya sudah kembali.”

“ Apa?”

“ Nah, itu orangnya.”

 

Woohyun segera berbalik, terlihat Myungsoo muncul di ambang pintu dengan memegang pel dan ember, lelaki itu benar-benar sudah bekerja keras membersihkan sekolah dari pagi hingga siang ini.

“ Nam Woohyun…?”

“ Kim…Myungsoo?”

Kedua rival itu telah bertemu, Sungyeol mampu merasakan ‘aura negatif’ dari pertemuan ini, ia tahu Woohyun merasa terguncang sekarang.

“ Apa kabar, Woohyun?”

“ Sialan, kenapa kau ada disini?!”

Myungsoo tak terkejut mendengarnya. Jika Woohyun bersikap baik, ia justru heran.

“ Semacam keberuntungan, mungkin.”jawab Myungsoo santai karena sedang tak ingin membahas soal ‘kebangkitan’nya dulu, “…kau baru datang?”

“ Apa-apaan ini..!”Woohyun keluar dari ruangan dan menabrak bahu Myungsoo dengan sengaja, lelaki itu stress mendadak, tentu saja.

Ia takut hubungannya dengan Chorong kembali rumit karena kehadiran Myungsoo.

 

“ Sudahlah, dia memang belum berubah.”Sungyeol menepuk bahu Myungsoo, “…ikut aku saja sekarang, ayo.”

“ Kemana?”

“ Ikut saja!”

*

 

“ Mana Chorong?”

Woohyun memasuki kamar Chorong dan Naeun di asrama putri dengan seenaknya, mencari Chorong karena tak ingin gadisnya itu bertemu dengan Myungsoo. Namun hanya ia temukan Naeun disana.

“ Dia keluar sebentar, oppa. entah kemana.”

“ Brengsek..”

“ Ada apa?”

Woohyun mendekatinya, “ Aku melihat orang yang sudah meninggal tersenyum dan menanyakan kabarku hari ini. Katakan apa yang terjadi.”

Wajah Naeun memucat, ia tahu Woohyun akan semarah ini.

Mianhae, oppa. Ini.. salahku..”

“ Kau menghidupkannya?”

“ Aku membuat ramuannya, orang lain yang menghidupkannya.. yang di persidangan kemarin juga.. dia bukan Taeyeon, dia… Kim Haeyeon.”

Shit!” Woohyun menendang meja di depannya hingga semua benda di atasnya jatuh dan berhamburan, “…kau tahu sendiri kan aku tidak pernah mau ini terjadi!?”

“ Maafkan aku, aku..”

“ Haruskah aku membunuhnya!?” Woohyun memegangi kepalanya yang mendadak sakit, “…jika hubunganku dengan Chorong hancur karena Myungsoo, kau harus bertanggung jawab, Naeun. Aku bersumpah, kau harus bertanggung jawab.”

Woohyun pergi, meninggalkan Naeun yang terbujur kaku di dalam kamarnya.

***

 

“ Lho? Kenapa terbuka lebar?”

Chorong yang baru saja mengembalikan sapu ke gudang tak sengaja melihat pintu ruang penyimpanan mayat yang kini rupanya terbuka lebar. Meski masih merasa takut, ia mulai memasuki ruangan tersebut karena penasaran, apakah kedua mayat yang tersimpan disana masih ada.

“ Pintunya pasti terbuka karena harus diperiksa polisi selama penyelidikan kasus. Tapi.. kalau memang polisi menemukan mayat itu, seharusnya ada di berita..” pikir Chorong, ia mulai memasuki ruangan tersebut pelan-pelan, suasananya yang pengap dan remang-remang membuatnya takut.

“…tidak ada?”

Chorong mendapati dua pembaringan disana, namun kosong. Hanya ada selimut tipis yang tak terlipat diatas sana.

“ Kemana mayatnya? Apa aku melewatkan berita?”

 

“ Disini mayatnya.”

Chorong spontan berbalik, terlihat Sungyeol muncul di ambang pintu bersama seorang lelaki yang sangat ia rindukan.

“ Myungsoo…?”

“ Hm, aku disini.”

“ Tidak mungkin..” lutut Chorong melemah, ia bahkan tak sanggup berlari menghampiri Myungsoo, Sungyeol pun menariknya untuk mendekat.

“ Ah, dasar manja. Dia pasti lelah habis dari Amerika.”Sungyeol mencairkan suasana, Chorong dan Myungsoo tertawa dan mereka langsung berpelukan dengan erat. Dalam hitungan detik, kemeja abu-abu Myungsoo basah oleh airmata Chorong.

“ Jelaskan.. jelaskan bagaimana bisa..” Chorong masih sesenggukan, Myungsoo mengelus rambut kemerahannya dengan lembut, dan Sungyeol ikut memeluk kedua sahabatnya itu. Inilah yang ia impikan.

“…Sungyeol-ah, kau menghidupkannya?”tanya Chorong dengan mata yang masih kosong karena syok.

“ Cenayang tidak secanggih itu.”jawab Sungyeol, Myungsoo mengangguk setuju.

“ Lalu bagaimana ceritanya??”Chorong semakin bingung meski rasa bahagianya jauh lebih besar dari rasa bingungnya.

“ Ah, haruskah kita bercerita di ruangan mengerikan seperti ini? Nanti saja ya?” Myungsoo menenangkan Chorong yang masih tak mau melepas pelukannya. Chorong mengangguk dan mengeratkan pelukannya.

“ Ya! Bagaimana Myungsoo bisa jalan kalau kau masih seperti itu?” Sungyeol mencoba memisahkan pelukan keduanya, namun Chorong menolak.

“ Kumohon, tetap seperti ini. Sampai aku bosan dan merasa biasa-biasa saja bertemu denganmu.”

“ Ya.. ya.. baiklah. Tapi kita pergi dari sini.”Myungsoo mengerti dan akhirnya mengangkat tubuh Chorong agar gadis itu tetap memeluknya, “…yah, kau semakin berat, Chorong-ah..”

“ Aaah~ Myungsoo..” Chorong ber-aegyo dan semakin manja dalam gendongan sahabat lelakinya itu.

 

Sahabat yang sangat ia cintai.

***

 

“ Sudah datang rupanya, Nam Woohyun?”

“ Hm.”

“ Ada masalah?”

Lelaki itu hanya menghela nafas dan kembali meneguk winenya di ruangan kepala sekolah, “ Kenapa kau masuk kesini, Kim Sunggyu?”

“ YA! Ayahku kepala sekolah sekarang! Kenapa kau tidak sopan sekali pada ayahku!?”

“ Yaa..yaa.. Yura-ya, dia temanku, tidak apa-apa.”Sunggyu menyuruh anaknya berhenti protes.

“ Teman? Appa punya teman yang seumuran denganku?” Yura menganga tak percaya, “…tapi dia tidak sopan sama sekali.”

“ Siapa gadis ini? Anakmu?” Woohyun menatap Yura dari atas ke bawah, “…wow.”

“ Aku terlalu muda untuk memiliki anak sebesar dia.” Sunggyu mengacak-acak rambut Yura, “…aku mengambilnya setelah kakakku meninggal.”guru muda itu setengah berbisik, meski Yura sudah tahu dan tak mau ambil pusing. Meski ia bukan anak kandung Sunggyu, bagaimanapun juga kini ia menganggap Sunggyu adalah orangtuanya.

“ Ow.. senang bertemu denganmu, gadis seksi.”Woohyun mengerlingkan matanya kearah Yura, gadis itu mendengus.

“ Jangan sentuh Yura atau kau akan mati.”Sunggyu memperingatkan, Woohyun tertawa dengan pikiran yang sudah setengah mabuk.

“ Hahaha. Ngomong-ngomong, kau benar menjadi kepala sekolah sekarang?”

“ Yah, begitulah. Wanita bodoh itu menyerahkan segalanya untukku, sebagai gantinya aku rela saja gagal dalam pembelaan di persidangan kemarin. Lagipula aku sudah tidak berniat lagi menjadi pengacara.”

“ Hahaha.. keputusan yang tepat. Kim Haeyeon sudah tersingkir. Tapi Kim Myungsoo..”

Woohyun kembali memegangi kepalanya yang sakit akibat pertemuannya dengan Myungsoo beberapa saat yang lalu, ini benar-benar sial baginya.

“ Kau mau kuapakan dia?”tanya Sunggyu.

“ Jangan apa-apakan Myungsoo-ku!” Yura kembali berceloteh, Woohyun tertawa sinis.

“ Kau tahu dia juga? Sialan, kenapa banyak sekali yang menyukai dia.”

“ Bilang saja kau iri padanya!”

“ Untuk apa aku iri, hidupku lebih beruntung darinya.”

“ Lalu kenapa kau terlihat membencinya?”

“ Karena dia pantas kubenci.”

“ Yaaaa!!! Kau…”

“ Yura, hentikan.”Sunggyu menegur, Yura pun menutup mulutnya dan berdiri.

“ Aku ingin keliling sekolah ini, siapa tahu bertemu Myungsoo-ku.”gadis itu pun keluar dari ruangan dan dengan percaya diri mulai berkeliling kawasan sekolah dan asrama, menebar pesona kepada semua siswa dan siswi yang tidak mengenalnya.

 

“ Hai semuanya. Aku anak kepala sekolah. Aku anak kepala sekolah~”

***

 

Night, 10.30 P.M

 

“ Hah.. Sunggyu songsaenim benar-benar tidak punya hati menjadi kepala sekolah. Bagaimana mungkin tidak ada pesta pembukaan dan besok langsung belajar seperti biasa, delapan belas jam pula!”

“ Kita sudah tertinggal banyak materi selama sekolah ditutup, mungkin Sunggyu songsaenim ingin kita mengejar ketertinggalan.”

“ Yah, tapi ini aturan yang terlalu mengerikan.”

“ Sudah sudah.. tenang saja, ada Kim Myungsoo, kau akan membantu kita belajar kan?”

“ Kita belajar sama-sama, oke?”

“ Yaa!”

Semua siswa dan siswi SMA Junghwa bertepuk tangan. Malam itu, sebagian besar dari mereka berkumpul di halaman sekolah untuk melakukan perayaan kecil-kecilan atas dibukanya kembali sekolah dan asrama mereka setelah sekian lama. Myungsoo menjadi salah satu pusat perhatian di tengah-tengah mereka, selain menjadi penengah aspirasi para siswa tentang aturan baru sekolah mereka, lelaki itu juga membawa gitar dan siap mengisi perayaan mereka dengan iringan akustiknya. Sungyeol dan Chorong pun ada disana.

“ Nyanyikan sebuah lagu!”pinta beberapa siswa, Myungsoo mempersiapkan gitarnya.

“ Oke.. lagu pertama, untuk kedua sahabatku..Gift of a Friend.

“ Wow..” semua bertepuk tangan, Myungsoo mulai memainkan gitarnya.

 

“ Tidak ikut bergabung?”

Woohyun menggeleng, masih betah di dalam ruangan Sunggyu dan tak mau lagi melihat ke arah jendela, ia tetap sibuk dengan gadget mewahnya.

“…Yura-ya, mau kuantar pulang? Besok kau sekolah.”Sunggyu mengambil kunci mobilnya. Yura menggeleng.

“ Tidak.. besok aku libur!”jawab Yura cepat sembari terus sibuk mematut dirinya di depan kaca, sepertinya ia ingin nekat bergabung dengan para siswa di luar demi menemui Myungsoo.

“ Libur? Atau bolos?”sela Woohyun.

“ Ck, diam kau!” Yura sedikit melotot dan langsung keluar dari ruangan. Benar saja, ia nekat mendekati perkumpulan siswa siswi yang sedang bernyanyi bersama itu.

 

“ Wah, sepertinya ada yang datang.”Chorong sedikit berbisik.

“ Siapa? Naeun?” Myungsoo begitu berharap karena sejak tadi ia tak menemukan sosok penyihir cantik itu. Padahal, kemarin malam ia yang menghubungi agar Naeun datang ke sekolah, namun sampai malam ini ia sama sekali belum bertemu gadis itu.

“ Hai! Myungsoo!”

Yura segera mengambil tempat di samping Myungsoo, lelaki itu tersenyum ramah dan sedikit bercanda.

“ Hai, Yura. Ada masalah lagi di apartemenmu?”

Gadis itu tertawa, rupanya Myungsoo masih ingat ia sering merepotkan tengah malam dengan berbagai masalah di apartemennya bersama Minah. Sementara Chorong merasa bingung, dan Sungyeol? Ia bersiap-siap jika Yura melihatnya nanti.

“ Hei.. kamu.. kamu kan..” Yura menyadari bahwa ada Sungyeol juga disana, “…pasien penyakit dalam?! Kau sekolah disini rupanya!? Kau bahkan dekat dengan Myungsoo..”

“ Iya.. iya.. sudah jangan berisik.”Sungyeol sedikit malu karena kini semua orang memperhatikannya, Yura heboh sekali.

“ Tidak.. tapi.. aku ingat sekali.. terakhir kita jalan bersama, kau.. kau pingsan. Tidak.. tidak pingsan, kau bahkan tidak bernafas. Aku setengah mati membawamu pulang, untung aku bisa bawa motor besar!”

“ Apa benar, Sungyeol-ah?”Myungsoo mendadak khawatir, lain halnya dengan Chorong.

“ Jadi ini teman kencan yang kau bicarakan di telepon kemarin? Aaa..”

“ Astaga.. hentikan.”Sungyeol benar-benar malu sekarang, “…Yura-ssi, kita bicarakan ini lain kali, oke?”

“ Tapi kau baik-baik saja kan?”tanya Yura serius, Sungyeol mengangguk cepat.

“ Ya.. ya. Aku baik-baik saja, dan.. terimakasih sudah membawaku pulang.”

“ Cieee!!!” semua bersorak, Sungyeol geleng-geleng kepala.

“ Ya! Aku lebih menyukai Myungsoo, Sungyeol hanya pilihan kedua!”teriak Yura tanpa rasa malu, semua semakin riuh.

“ Cinta segitiga! Cinta segitiga!!!”

 

“ Benar-benar malam yang ramai..”

Naeun hanya bisa menyaksikan semuanya dari atas atap gedung asrama putri. Ingin rasanya ia bergabung, namun suasana hatinya masih kacau karena Woohyun masih marah padanya. Yang lebih menyiksa batinnya lagi, ia sedang sangat merindukan L dan Lin namun tak mampu berbuat apapun karena tongkat sihirnya disita oleh L, ia tak bisa lagi membuat ramuan portal.

“…lalu bagaimana aku pulang?” gadis itu terbaring di atap, menutup mata dengan pergelangan tangannya dan mulai menangis.

“…aku tidak ingin sekolah disini, aku hanya ingin menjadi ibu dan istri yang baik..”

*

 

“ Kemarin tidur di dapur, dan sekarang tidur di atap? Yang benar saja..”

“ Hah?” Naeun membuka matanya, sosok lelaki yang sangat disukainya kembali muncul di mimpinya.

“ Kenapa kau bisa ada disini? Tempat apa ini?”

“ Ini..asrama putri.”

“ SMA Junghwa? Jadi tempat ini sudah dibuka lagi? Kasusku selesai?”

Naeun terdiam sejenak, salah-salah bicara L akan tahu tentang Haeyeon dan Myungsoo, ini akan berbahaya.

“ Yah, kasusmu ditutup karena tidak ada titik terangnya.”jawab Naeun berdusta, syukurlah L percaya saja.

“ Hahaha, enak sekali bisa membunuh tanpa dihukum.”lelaki itu tertawa sembari ikut berbaring di samping Naeun.

“ Berjanjilah padaku itu adalah terakhir kalinya kau membunuh orang, L.”

“ Tidak mau.”

“ YA!”

“ Sudahlah, jangan bahas soal pembunuhan, aku sedang jinak malam ini.”

Naeun memutar bola matanya dan tak ingin menatap suaminya itu.

“ …masih marah karena tongkatnya disita, hm?”

“ Jangan bicara padaku sebelum tongkat sihirku kembali.”

“ Aku tidak membawanya.”

“ Ambil dulu. Bawa Lin sekalian.”

“ Ck, nikmati saja apa yang sudah kubawa.”

“ Apa yang kau bawa?”

“ Mendekatlah dulu.”

“ Tidak mau.”

“ Yaa.. jangan bandel!” L menarik rambut panjang Naeun agar istrinya itu mendekat padanya, Naeun langsung menjerit kesakitan. Tapi apa pedulinya? Melihat Naeun kesakitan memang masih kesenangan tersendiri baginya, namun ia sudah berjanji untuk tidak lagi berbuat sekejam dulu.

“ Kau bawa apa?”tanya Naeun penasaran.

L menjentikkan jarinya, hingga muncul sebotol ramuan portal di depan mereka.

“ Aku mengambilnya dari rak ramuan di rumah. Pulanglah sekali, tapi berjanjilah untuk kembali lagi kesini. Bisa, kan?”

Senyum cerah langsung terukir di bibir Naeun, akhirnya L mengizinkannya untuk menginjak negeri Junghwa meski hanya sementara. Yang penting, ia bisa bertemu Lin.

“ Aku akan menggunakannya sekarang!” Naeun berdiri dan bersiap untuk turun dari atap dan mencari tempat yang tepat untuk membuka portal.

“ Hei!”

“ Ya?”

“ Bangun dulu dari tidurmu. Ini hanya mimpi kirimanku.”

“ Oh iya..” Naeun tertawa, “…aku terlalu senang. Baiklah, sampai ketemu di… tempat tidur?”

L tertawa kecil dan mengangguk, kemudian membiarkan Naeun sadar dari mimpinya.

***

 

“ Aku mengizinkan Yeoshin pulang sebentar kesini. Aku akan menyambutnya di rumah. Jadi..aku titip Lin.”

Setelah menitipkan Lin pada Taeyeon dan Sunny, L menghilang dari istana dan muncul di rumahnya. Namun Naeun belum datang.

“ Kenapa dia lambat sekali..?”

L menungguinya dengan sabar. Namun setelah sekitar setengah jam ia menunggu, Naeun tak juga tiba di rumah mereka. Apa portal mengeluarkannya di tempat lain? L menggunakan kemampuan sihirnya untuk melacak itu, namun ia tetap tak menemukan Naeun, ia yakin istrinya itu masih berada di dunia nyata. Tetapi kenapa? Bukankah tadi ia bahkan tidak sabar untuk membuka portalnya?

 

Tok..tok..tok..

L segera bangkit dari tempat tidur dan buru-buru menuju pintu depan dengan tidak sabar.

“ Yeosh……eh, Namjoo?”

“ Boleh aku masuk?”

Anak angkat Kim Hyoyeon itu terlihat amat pucat, matanya juga sembab. Apa ia habis menangis?

“ Masuklah.”sebagai guru yang (harus) baik, L mempersilakan gadis itu masuk ke rumahnya.

“ Sedang apa kau malam-malam begini datang kesini?” L langsung menginterogasinnya sedetik setelah Namjoo duduk di kursi ruang tamunya.

“ Aku juga tidak tahu.”

“ Jangan bercanda.”

“ Aku benar-benar tidak tahu, hanya ini tempatku bersembunyi.”

“ Maksudmu?”

“ Aku.. diusir dari rumah.”

“ Diusir?”

“ Aku.. aku tidak memintamu untuk mengasihaniku. Aku hanya ingin kau percaya bahwa aku mengatakan sesuatu yang benar kali ini..”

“ Apa yang ingin kau katakan?”

“ Aku menyesal telah mencuri buku Rahasia Dunia Luar darimu, L.. memberikannya pada Hyoyeon adalah kesalahan terbesarku..”

“ Apa yang ia lakukan?”

“ Ia mengubah isinya. Kau tahu sendiri kan yang ia pegang adalah buku asli, jika isinya ia ubah, maka……”

“ Ya.. ya.. maka hukum dari buku itupun berubah pula dalam dunia sihir. Apa yang ia ubah?”

“ Halaman resep ramuan portal. Sekarang ia menyebut halaman itu sebagai halaman rahasia. Aku diusir dari rumah karena mencoba melihat isi halaman itu.”

“ Apa?” L tak percaya, wajah tampannya memucat.

“ Ya. Yang kutahu, ia menulis resep baru. Resep yang sudah ada di buku itu sudah dihapus olehnya. Yang artinya.. semua ramuan portal hasil dari resep lama tidak bisa lagi digunakan.”

“ Tidak mungkin…!” L mendadak panik, sekarang ia jadi tahu mengapa Naeun tak kunjung datang sejak tadi. Lelaki itu segera berjalan cepat ke dapur dan mengambil semua ramuan portal yang ada di dalam rak, membukanya satu per satu dengan terburu-buru dan menyiramkannya ke tembok.

Benar, portalnya tak terbuka.

 

“ Ia memintaku untuk mencuri buku itu setelah tahu bahwa Naeun sudah kau amankan di dunia nyata. Padahal, Naeun adalah sasaran utamanya.. Hyoyeon tahu Naeun adalah kelemahan terbesarmu.”jelas Namjoo sedih.

L mulai menangis dan tetap membuka semua ramuan portal di depannya, bahkan melempar botolnya ke tembok hingga pecah, namun tetap sia-sia.

“…Hyoyeon melakukan perubahan isi buku itu agar Naeun tak bisa pulang kesini, agar Naeun tidak bisa bertemu denganmu selama-lamanya.”sambung Namjoo yang ikut menangis menjelaskannya, membuat L semakin pedih dan geram, tangannya meremas beling-beling di lantai hingga berdarah.

 

Ia pun berdiri, mengambil salah satu beling yang paling tajam dan meraih tongkat sihirnya.

 

“ Aku akan menghabisimu malam ini juga, Kim Hyoyeon.”

 

-To be Continued-

 

Akhirnya part comeback ini kelar juga. Maaf kalau banyak kesalahan-kesalahan apapun itu(?) dalam part ini. Gimana? Gimana? Masih seru kan The Portal 2 nya? *apasih*

Next week entah kapan(?) author mungkin posting part 1nya Expectation vs Reality dulu (yang belum baca prolog klik disini ya xD), baru part 5 The Portal 2. Bakal selang-seling atau tergantung mood sih. Cuma yang lebih utama jelas The Portal dulu, karena mungkin bakalan tamat di part 8-10, yang jelas gak akan sepanjang The Portal pertama. Kalau udah tamat, baru deh bisa fokus ke ff Expectation vs Reality😀

Oke, sekarang author mohon like dan komennya untuk part 4 yang hyper ngaret ini, semoga memuaskan!

Sampai bertemu di part berikutnya🙂

93 responses to “THE PORTAL 2 [ Part 4 : Secret Page ]

  1. GILAAAA!!! KIM HYOYEON BENAR-BENAR STREESSS!!
    Gimana nasib Yeoshin dan Howon??
    Baru saja Woohyun merasakan bahagia tapi udah ga lagi. Apa chorong akan meninggalkan Woohyun?
    Kenapa Lin belum sembuh juga? bukankah dia sudah diberi ramuan oleh ibunya??

  2. aaaaaa… dr part sebelumnya aku udah penasarab banget sama keadaan lin T.T
    trus sekarang naeun-myungsoo gimana ??? T.T
    terupruk lah kau L :V

  3. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s