Dear Diary – Chapter 2 (Regret) + Chapter 1 Flashback’s Explanation

hwa

“Aku tidak selalu ‘kuat’, aku bahkan tidak pantas disebut hebat. Apanya yang hebat dari seorang ibu yang pernah berpikir untuk membunuh anaknya? Itu hal paling keji yang pernah dilakukan seorang manusia! Itu sangat keji dan kejam hingga aku merasa jika aku bahkan tak pantas disebut manusia… bahkan seekor binatang pun tak akan tega melakukan hal seperti itu terhadap keturunannya.”

Title : Dear Diary

Author : Park Anna

Rating : PG-17

Genre : Married life, Romance, AU.

Length : Chaptered

Cast : Hwang Sonna (OC) & Xi Luhan (EXO)

Previous : Teaser, Chapter 1

Disclaimer : Keseluruhan ide cerita ini hanyalah sebuah karya fiksi dan murni berasal dari imanjinasi saya sendiri untuk kepentingan entertaiment. Para tokoh yang digunakan dalam fanfiction ini hanya dipinjam nama dan karakternya untuk kepentingan FF ini sendiri. Mohon maaf jika ada salah kata/menyinggung perasaan dalam penulisan FF ini.

Notes : Tolong dibaca terlebih dahulu. Karena untuk chapter 1 kemarin itu banyak yang bingung dengan flashback/alur mundurnya, siapa ayah si bayi, kenapa Luhan mau bertanggung jawab untuk Sonna, maka di chapter ini aku kasih semacam penjelasan yang isinya semua flashback dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kalian. Ibaratnya yang chapter 1 kemarin itu ‘diperbaiki’ di chapter ini, jadi jangan bingung kalo ada beberapa adegan di chapter 1 yang masuk di chapter 2. Setelah chapter ini, FF Dear Diary akan ditulis menggunakan alur normal, nggak ada flashback yang membuat kalian bingung, dan juga author mau ngucapin terimakasih yang sebanyak-banyaknya atas komen, pujian, kritikan dan masukkan dari kalian, karena tanpa itu semua author tidak akan tahu bagaimana tanggapan kalian terhadap FF ini, juga tidak bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan seperti sekarang. Jadi sekali lagi terimakasih! *bow*

Dear Diary

Chapter 1 Flashback Explanation

-Sonna’s POV-

Aku pernah merasakan sakit, kesedihan dan kehancuran. Namun kenyataan yang harus kuterima ini lebih dari semua itu dijadikan satu.

Hari ini, adalah hari terburuk dalam hidupku…

Aku hanyalah seorang gadis di awal usia 19-an. Oh ya, aku bahkan sudah bukan seorang ‘gadis’ lagi. Aku memang bodoh, menyerahkan keperawananku begitu saja pada seorang laki-laki yang bahkan tak pantas mendapatkannya. Kini aku hanya bisa membiarkan air mata itu mengalir membasahi pipiku, namun semuanya sudah terjadi. Sebanyak apapun aku menyesal, toh tidak ada gunanya. Di usiaku yang bahkan masih sangat belia ini, aku sudah mengandung dan usia kehamilanku ternyata sudah memasuki bulan ke- 5. Aku tidak tahu apa-apa pada saat itu, walaupun sudah 2 bulan berturut-turut darah menstruasiku tidak keluar, aku hanya mengira itu pengaruh stress karena pekerjaan yang menumpuk di kantor. Memasuki bulan ketiga, aku mulai merasakan mual dan hal itu semakin menjadi di mingu-minggu selanjutnya, tapi dengan bodohnya aku justru mengonsumsi obat-obatan karena ku pikir aku hanya sakit maag biasa. Sekarang aku berharap obat-obat itu tidak memberi pengaruh pada kandunganku. Semoga bayiku baik-baik saja. Saat bulan ke empat lah aku mulai curiga. Berat badanku terus melonjak naik, dan aku selalu merasa seperti ingin makan sesuatu. Keinginan itu sangat kuat. Baru sekarang aku mengetahui bahwa ternyata selama ini aku ngidam. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membeli test pack di apotik terdekat dan hal yang menjadi ketakutan terbesarku pun terjadi. Aku hamil…

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap, aku tidak bisa berfikir untuk beberapa saat. Mataku tidak bisa berhenti memandangi 2 garis merah di test pack tersebut. Aku hamil! Ada seseorang di dalam tubuhku, berkembang dan tumbuh bersamaku. Ia ada didalam diriku, menjadi satu denganku. Cairan bening mulai menggenangi mataku. Kesal, sedih, kebencian dan penyesalan, semuanya menjadi satu. Namun ada suatu perasaan yang membuncah di sudut hatiku.

Kebahagiaan.

Aku bahagia. Aku hamil. Aku akan memiliki anak, aku akan menjadi seorang ibu.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk pergi ke dokter, memeriksa kandunganku dan betapa terkejutnya diriku ketika aku tahu bahwa janin ini sudah 5 bulan berada di dalam rahimku. Aku sudah bisa melihat bentuk tubuhnya dengan jelas dari layar USG. Betapa lega-nya perasaanku saat dokter mengatakan bahwa anakku dalam kondisi baik-baik saja, ia sehat dan aku tahu bahwa ia akan menjadi anak yang kuat. Terhitung mulai hari ini, 4 bulan lamanya aku  masih harus menunggu sebelum bisa melihat malaikat kecilku ini terlahir ke dunia dengan segala kesempurnaan. Aku ingin menimang tubuh mungilnya dan mengecup keningnya yang halus. Mataku berbinar-binar, rasa haru mengisi rongga dada ku. Aku akan menjadi seorang ibu…

Sesampaiku di rumah, dengan segera aku berlari menuju kamarku, menyembunyikan barang-barang yang sempat kubeli di perjalanan pulang dari dokter. Buku mengenai kehamilan dan susu khusus ibu hamil. Ini memang sudah sangat terlambat untuk mengonsumsinya tetapi setidaknya aku akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil yang tengah kukandung ini. Namun sayang, kebahagiaan yang kurasakan lenyap begitu saja bagai dihantam ombak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku saat ku langkahkan kaki memasuki ruang keluarga.

“Anak kurang ajar! Berani-beraninya kau berbuat seperti ini! Dasar tidak tahu malu! Lihat apa yang sudah kau lakukan!”

Suara tangisan pilu terdengar di salah satu sudut ruangan, dan saat itulah aku menyadari semuanya. Aku mengerti apa yang tengah terjadi disini. Ibuku hanya bisa terduduk lemas dan menangis sejadi-jadinya. Di hadapannya tergeletaklah sebuah test pack dengan dua garis merah diatasnya.

Ternyata mereka sudah mengetahuinya. Ayah, ibu, dan kakak lelakiku. Mereka pasti sudah mengetahui bahwa aku hamil. Dan saat itulah mimpi burukku dimulai.

Aku bukan hanya sekedar hamil, aku hamil tanpa seorang suami. Tidak ada ikatan pernikahan diantara diriku dan seseorang yang menanamkan sperma-nya di rahimku. Aku hamil diluar nikah.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi, nak?”

Kutatap wajah sendu ibuku. Ia tampak lelah dan kekecewaan tersurat dari setiap bagian tubuhnya. Raut wajahnya, matanya yang sembab dan tubuhnya yang mulai membungkuk. Ia tak henti-henti menatapku, senyum tulus masih terukir di wajahnya, seakan ia tidak jijik dengan seseorang yang telah melakukan perbuatan terlarang, seseorang yang telah berzina. Dan orang itu adalah putrinya sendiri. Aku tidak tahu bagaimana kecewanya ibuku, tidak bisa kubayangkan betapa hancurnya perasaannya. Namun bagaimana bisa senyuman tulus itu masih menyertai dirinya saat menghadapku. Apakah ia masih menyayangiku? Apakah ia telah memaafkan dosaku yang teramat besar ini?

“Nana, katakanlah pada eomma. Bagaimana ini bisa terjadi?”

Aku hanya bisa menahan isak tangis. Nana adalah panggilan kesayangannya untukku, dan ia masih menggunakannya hingga kini.

“Aku tidak tahu eomma. Maafkan aku…”

Ia menghela nafas.

“Tapi kau tahu siapa ayahnya?”

Melihat aku hanya bisa terdiam eomma lanjut bertanya.

“Apakah aku mengenalnya?”

Aku segera menggeleng.

“Lalu siapa yang melakukan ini padamu, nak?”

“Kek… kekasihku…”

“Kalau begitu nikahi dia, Nana. Kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian. Suruh dia ke rumah besok, kenalkan pada eomma. Akan kutelpon Shinna untuk mengurus pernikahanmu.”

“T… tapi eomma, aku tidak bisa!”

“Hwang Sonna! Apa-apaan ini?!”

“Pria itu sudah menikah, ma!” Seruku dengan nada yang amat menyedihkan.

“Omo, omo kepalaku…” Eomma memijit pelipisnya. “Ya Tuhan, anakku… Demi apa, Ya Tuhan…”

Setelah itu, kami tidak mengatakkan apa-apa lagi. Tenggelam dalam uraian air mata masing-masing.

Aku akan di laknat Tuhan hari ini karena telah membuat orang yang melahirkanku menitikkan air mata.

***

Keesokan harinya, ayahku menerobos memasuki kamarku begitu saja. Dilemparkannya berbagai benda kearahku. Aku hanya bisa menunduk, mataku menangkap wujud benda-benda itu. Obat untuk menggugurkan kandungan.

“Ambil itu. Habiskan semuanya. Singkirkan apa yang tengah kau kandung. Kau telah mempermalukan keluarga ini. Gugurkan kandunganmu atau aku tidak ingin melihatmu lagi.”

“Blam!”

Suara pintu yang ditutup dengan kasar. Aku tidak dapat lagi menahan tangisku. Hari itu, kukeluarkan semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya, meraung dan mengacak-acak isi kamarku. Rasanya untuk hidup dengan keadaan seperti ini terlalu berat. Kuraup semua obat-obatan tersebut. Aku tidak ingat apakah aku menenggaknya atau tidak, tetapi yang ku tahu adalah bahwa aku terbangun di ranjang rumah sakit keesokan paginya. Aku mengalami pendarahan hebat dan sepertinya, itulah pertanda bahwa keinginan ayahku terpenuhi. Bayiku… anakku… malaikat kecilku…

Ia sudah tiada.

***

-Author’s POV-

“Jika dia membuka mata nanti, jangan bebani dulu pikirannya. Kondisinya masih lemah dan ia memerlukan waktu untuk menenangkan diri.”

“Baiklah, terimakasih dok.” Hwang In Sung membungkukkan badannya pada dokter yang baru saja menyelamatkan hidup adiknya itu. Walaupun Sonna masih belum menyadarkan diri, namun ia sudah keluar dari masa kritisnya. Pemuda itu menatap tajam kearah kedua orang yang berada tak jauh darinya. Ibunya tengah menangis sembari menggenggam erat tangan Sonna, sedangkan ayahnya berada di ujung ruangan. Menerawang jauh keluar jendela rumah sakit. Ia pasti sangat menyesali perbuatannya yang bisa saja membuat putri bungsunya itu mengakhiri hidupnya. Sonna sudah membuka kemasan obat-obat itu, ia bahkan sudah menghabiskan setengahnya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Beruntung sekali, ia masih sempat memuntahkannya sehingga pendarahan yang terjadi bukanlah pengaruh obat aborsi tersebut, itu karena Sonna merasa begitu tertekan. Para dokter bahkan bukan lagi menyebut adiknya itu mengalami stress, ia depresi. Mata In Sung menjelajah mengelilingi ruangan tersebut. Dilihatnya seorang perempuan tengah sibuk menelpon dan membahas sesuatu. Ah iya, bukan ‘sesuatu’. Perempuan itu adalah adiknya juga, Hwang Shinna. Ia baru saja tiba dari Amerika dan sekarang tengah mengurus pernikahan Sonna. Ia ingin saat Sonna membuka mata nanti, semuanya sudah selesai. Pernikahan akan dilaksanakan 7 hari dari sekarang. Minggu depan Hwang Sonna, adiknya yang paling muda itu akan mengucapkan janji suci di altar. Semuanya sudah diatur oleh Shinna. Wanita itu memang cepat sekali mengambil tindakan pada situasi seperti ini.

“Oke, gedung sudah di pesan. Beruntung sekali, biasanya gedung itu selalu penuh. Setelah ini, kita hanya perlu mencari baju pengantin. Sonna tidak perlu repot-repot lagi, semuanya sudah beres.”

In Sung hanya mengangguk menanggapi ucapan Shinna. Matanya juga menangkap sosok lain di ruangan ini, seorang lelaki. Ia menatapnya dari atas sampai bawah, seakan mencari cela darinya. In Sung memang tidak mengenal lelaki itu, namun Shinna mengatakan bahwa dia adalah sahabat Sonna sewaktu kecil.

Dan sahabat itulah yang akan menjadi calon suami adiknya yang tengah mengandung ini.

“Ya! Ya! Sonna mulai sadar.” Ibu berujar saat merasakan pergerakan di tubuh putrinya itu. In Sung dan Shinna segera mendekat. Mereka melihat mata Sonna yang perlahan membuka, menyesuaikan diri dengan cahaya terang di sekitar. Ayah Sonna, membalikkan tubuhnya, namun ia tidak sanggup untuk mendekat. Langkah kakinya seakan kaku.

“Nana-yah… kau baik-baik saja? Apakah kau merasa pusing?” Ibu bertanya dengan khawatir saat melihat putrinya itu hanya membuka mata namun tidak melakukan pergerakan lagi setelahnya. Pandangannya pun kosong.

“Yak! Cepat panggil dokter!” Suruh Shinna kepada In Sung yang hanya bisa diam mematung. Lelaki itu, segera beranjak dan menekan tombol untuk memanggil dokter berkali-kali secara tidak sabaran.

Tim medis segera berhambur memasuki ruangan dan memeriksa keadaan Sonna. Dikhawatirkan kondisinya drop lagi setelah sadar dan teringat pada semua hal yang telah ia lalui. Ketegangan di dalam ruangan itu semakin bertambah saat In Sung, Shinna, dan kedua orangtuanya diminta untuk menunggu diluar ruangan. Ketakutan mulai menyelimuti hati mereka jika membayangkan wajah Sonna sudah tertutup kain putih saat mereka kembali memasuki ruangan tersebut.

Menit demi menit yang menegangkan berlalu. Doa tak henti-hentinya terucap dari bibir keluarga itu, memohon keselamatan untuk putri dan adik mereka.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sang dokter keluar dari ruangan tersebut.

“Keadaan pasien sudah stabil sekarang, tetapi ia masih harus menyesuaikan diri.”

Semua anggota keluarga pun menggangguk dan mengucapkan syukur pada Tuhan yang masih mengizinkan Sonna menghirup nafas di dunia ini.

“Baiklah, dok. Terimasih.”

Ibu mengusap air matanya dan segera memasuki ruangan itu kembali. Ia memeluk putrinya yang masih terbaring lemas tersebut.

Eommaeomma maafkan aku…” Gadis itu hanya bisa berbisik lemah.

“Tidak… tidak Nana-yah… kau tidak salah… kau tidak salah apa-apa…”

Sonna memandang wanita itu dengan tidak percaya.

“Tetapi ma, aku… aku sudah…”

“Ssstt…” Shinna meletakkan jari telunjuknya yang lentik di bibir adik bungsunya itu, membungkam mulut Sonna.

“Jangan bebani dirimu sekarang. Lebih baik kau istirahat dulu. Kita bicarakan semuanya besok, oke.” Tambah In Sung.

Sonna hanya bisa terdiam, matanya menatap sosok ayahnya dengan perasaan yang sangat bersalah. Air matanya pun kembali lolos membentuk sungai kecil di kedua pipinya.

“Lupakan semuanya sayang. Istirahatlah.” Ayah menggemgam tangan Sonna yang bebas dari tusukan jarum infus. “Kami sudah menyelesaikan semuanya untukmu.”

Sonna tersentak. Menyelesaikan semuanya? Apa yang sudah mereka selesaikan? Apakah ini menyangkut bayinya? Dimana malaikat kecilnya itu berada sekarang? Masihkah ia merasakan hangatnya rahim Sonna? Ataukah dia sudah diangkat ke surga, berada di pangkuan yang Maha Esa?

Beribu-ribu pertanyaan masih berputar di kepala Sonna namun ia tidak mampu menyuarakannya. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang, efek dari obat penenang yang sempat disuntikkan dokter tadi. Dan dari banyaknya obat-obatan dengan dosis tinggi yang diberikan dokter padanya, ia sudah bisa menyimpulkan suatu hal. Ibu hamil tidak mungkin diizinkan mengonsumsi obat sebanyak itu karena hal tersebut akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya.

Tampaknya malaikat kecilnya itu memang sudah tidak bersamanya lagi.

***

Entah mengapa, In Sung tidak bisa melepas pandangannya dari Luhan. Lelaki itu tengah duduk di ruang keluarga, bersama ayah Sonna membicarakan berbagai hal. Bagi In Sung, calon suami adiknya itu tidaklah buruk, khususnya dari hal penampilan. Tubuhnya cukup tinggi walaupun tak setinggi dirinya, wajahnya juga terlihat ramah dan tentunya tampan. Ia harus mengakui hal itu. Namun entahlah, ia masih meragukan calon adik iparnya tersebut. Hal yang paling membebani pikirannya adalah alasan mengapa Luhan mau menikahi Sonna dan bertanggung jawab atas bayinya? Apakah ayah mereka dengan mati-matian memaksa pemuda itu untuk bertanggung jawab atas putrinya, ataukah Luhan memang tulus mencintai Sonna? In Sung hanya bisa menerka-nerka, ia hanya berharap bahwa Luhan tidak mempunyai niatan jahat atau hanya ingin mempermainkan adiknya itu.

Tatapan matanya itu masih setia memandangi objek tersebut hingga akhirnya sebuah suara memecahkan lamunannya.

“Nana-yah, sepertinya calon suamimu akan direbut In Sung, lihatlah betapa terpesonanya ia menatap Luhan.”

In Sung mendelik tajam pada Shinna.

“Kau kira aku ini gay apa?”

“Hehe…” Shinna terkekeh. “Habisnya kau serius sekali memerhatikan dia. Oh ya, Nana. Makan dulu, baru minum susunya lagi, kau juga harus makan lho untuk memenuhi kebutuhan nutrisi baby-mu.”Ia memberikan nampan berisi bubur pada adiknya itu. Nana meletakkan susu khusus ibu hamilnya di nakas lalu mengambil bubur tersebut dari tangan Shinna, ia mencoba makan sebanyak yang ia bisa walau tidak memiliki selera makan. Tubuhnya yang sempat terkulai lemas di ranjang rumah sakit itu belumlah sembuh sepenuhnya, namun fakta bahwa ia sedang hamil membuat ia harus berusaha untuk memulihkan kondisinya. Terlebih setelah melewati pengalaman pahit dimana ia nyaris kehilangan bayinya itu, Sonna merasa sangat bersalah dan menjadi lebih protektif terhadapnya, ia tidak mau lagi menyelakakan janinnya lagi. Apalagi tampaknya ayah dan ibunya mulai bisa menerima kehadiran calon buah hatinya itu. Ia baru saja menghabiskan separuh bagian dari buburnya itu saat ayah memasuki kamar tidurnya diikuti oleh Luhan. Ia melirik calon suaminya itu dengan ekor matanya, memerhatikan setiap lekukan wajahnya yang memang cukup tampan itu.

Appa ingin berbicara denganmu.” Ujar ayahnya.

“Baiklah.” Sonna mencoba bangkit dari posisi berbaringnya.

“Ini tentang pernikahanmu, Nana-ya…”

Sonna menangguk. Ia sebenarnya sudah menduga jika hal ini akan terjadi, In Sung-oppa dan Shinna-eonni lah yang pertama kali memberitahukannya mengenai rencana perjodohan dirinya dengan seorang temannya saat masih kecil. Walau pun begitu, ia tidak menyangka bahwa Luhan yang akan membina rumah tangga bersamanya. Awalnya ia kira bahwa appa akan menjodohkannya dengan Kyungsoo, anak dari teman eomma yang juga sering menghabiskan waktu bersamanya dulu, ia sebenarnya lebih akrab dengan Kyungsoo daripada Luhan, hal itu disebabkan oleh kepindahan Luhan ke Cina saat kenaikan kelas 5 SD, ia tidak pernah lagi bertemu dengannya setelah itu. Jujur saja, berhadapan langsung dengan pemuda tersebut pada hari ini terasa cukup canggung. Terlebih lagi, ini bukan sekedar pertemuan. Appa sedang memperkenalkan Luhan padanya, sebagai seorang calon suami.

“Kau masih mengingatnya?” Appa menunjuk Luhan.

Gadis itu mengangguk. Perpisahan selama beberapa tahun itu tidaklah cukup untuk membasuh semua memori akan sahabatnya itu.

“Tentu saja, aku masih mengingatnya.”

“Dan sepertinya kau juga sudah tahu mengenai kedatangannya kemari.” Appa kembali bertanya.

“Iya.” Sonna berujar dengan pelan. “Jadi… kapan acaranya akan dilaksanakan.”

“Segera, nak. eonni-mu sudah mengurus segala persiapannya. Untuk sekarang, kau hanya perlu beristirahat dan memulihkan kondisimu.”

“Ne, appa…” Gadis itu hanya bisa menurut sekarang, walaupun sebenarnya perasaannya tengah campur aduk. Apa yang telah dilakukan oleh ayahnya itu sebenarnya adalah bentuk pemaksaan. Ia dijodohkan dengan sahabat masa kecilnya, diharuskan menikah dengannya, tanpa persetujuannya sendiri. Mungkin istilahnya adalah ‘kawin paksa’? Ini memang tidak adil. Ia tidak pernah bisa membayangkan hal itu akan terjadi padanya, tetapi pada akhirnya semua terjadi karena kesalahannya sendiri. Kedua orangtua Sonna pastinya tidak tega melihat anaknya menganggung malu karena hamil tanpa ikatan pernikahan. Beruntung sekali Shinna bertemu Luhan yang saat itu turun tangan langsung mengurus salah salah satu cabang perusahaan ayahnya di Amerika. Mereka akhirnya berbincang-bincang dan sampailah topik mengenai kehamilan Sonna di telinga Luhan. Pemuda itu pada awalnya juga sempat kaget dan prihatin dengan nasib sahabat kecilnya itu. Siapa pria jahat yang begitu tega meninggalkan Sonna saat ia tengah mengandung darah dagingnya. Luhan tak habis pikir bagaimana gadis kecil yang pernah ia kenal itu bisa melalui semua cobaan ini. Dalam fikiran Luhan sendiri, jika ia yang harus mengalami apa yang telah dihadapi Sonna maka ia mungkin tidak akan mampu menjalaninya. Ia harus mempertahankan bayi dalam kandungannya itu sendirian, menjaganya, membesarkannya, belum lagi tekanan karena malu jika perbuatan hinanya diketahui masyarakat luas, bagaimana ia akan dihujami berbagai cibiran ataupun gunjingan karena memiliki anak diluar nikah. Besar kemungkinan ia akan mengakhiri hidupnya dengan sebuah tali yang melingkar di lehernya. Luhan bergidik. Kasihan sekali Sonna, ia pasti menderita selama ini. Akhirnya Shinna mengungkit mengenai persoalan bahwa kedua orangtua Sonna akan menjodohkannya dengan seorang sahabat saat kecilnya dulu. Calon kuatnya adalah Kyungsoo, namun pertemuan Shinna dengan Luhan seakan mengubah takdir yang terukir di garis tangan Sonna dan dirinya. Oleh karena itulah keduanya dapat duduk berhadapan di ruangan yang sama pada hari ini, walaupun suasana canggung masih menyelimuti. Appa, Shinna dan In Sung telah meninggalkan ruangan tersebut beberapa saat yang lalu dengan alasan masing-masing. Tetapi Sonna tahu bahwa alasan-alasan tersebut hanyalah omong kosong, mereka pasti sengaja meninggalkannya berdua dengan Luhan seperti ini. Sebenarnya hal itu tidaklah apa-apa, bukan masalah besar, hanya saja kecanggungan ini membuatnya risih. Ia melirik Luhan, lelaki itu tengah memandang keluar dari jendela kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak berbeda jauh dengan Sonna sendiri yang hanya bisa menunduk, di tangannya masih terdapat semangkuk bubur yang tidak dapat ia habiskan. Ia sudah tidak berselera lagi untuk memakannya, kemudian tangannya pun bergerak untuk meletakkan bubur tersebut di atas nakas.

“Kau tidak menghabiskannya?”

Ia menoleh kepada pemuda tersebut yang juga tengah membalas tatapan mata Sonna dengan raut yang mencerminkan kekhawatiran.

“Apakah aku membuatku tidak nyaman?”

“Ah, tidak kok. Aku hanya tidak ada selera makan.” Sonna menyangkal ucapan Luhan dengan cepat walaupun sebenarnya lelaki itu tidak salah, ia memang merasa agak risih dengan keberadaan Luhan disini tetapi Sonna tahu bahwa hal itu hanyalah karena kecangunggan satu sama lain.

“Oh maaf, aku hanya khawatir… tapi Sonna-ssi, kau harus makan agar kesehatanmu cepat pulih.”

“Sonna-ssi?” Gadis itu mengulangi kata-kata Luhan yang sungguh terdengar formal itu.

“Ehm… iya, eh maaf… aku bingung harus memanggilmu apa…”

“Dulu kau selalu memangil dengan nama kecilku,’Nana’?”

Luhan mengangguk.

“Kau benar, aku ingat itu tetapi sekarang kita berdua sudah dewasa dan…. Ah! Aku terlalu canggung berhadapan denganmu. Aneh ya, padahal dulu kita selalu bermain bersama tanpa tahu malu.”

“Kau memang aneh Luhan-ah, eh salah… maksudku Lu, dulu aku terbiasa memanggilmu seperti itu bukan?”

“Tepat sekali dan sekarang aku rasa tidak ada lagi alasan bagi kita untuk saling merasa canggung seperti tadi bukan?”

“Ya, aku harap begitu.”

Lelaki itu mengambil mangkuk bubur dari nakas yang berada di sampingnya.

“Kalau begitu makanlah agar kau cepat sembuh. Memangnya kau betah berbaring seperti ini selama berhari-hari? Aku mengenalmu sebagai anak yang ‘hiperaktif’, kau tahu itu Nana…”

“Hiperaktif? Yak, kau kira aku menderita penyakit kelainan seperti itu?”

Luhan terkekeh.

“Oke oke, Nana-ku yang kalem… makan dulu ya. Buka mulutnya, aaaa~”

Sonna membulatkan matanya saat Luhan mendekatkan sendok yang penuh terisi dengan bubur ke mulutnya, berniat menyuapi gadis itu.

“Kau ini, memperlakukanku seperti anak kecil…” Gerutunya namun akhirnya ia membuka mulutnya sedikit, membiarkan bubur itu tertelan olehnya. Luhan tersenyum karena berhasil membuat sahabat kecilnya itu mengisi perutnya. Ia tahu Sonna memiliki penyakit pada dinding lambungnya yang membuat ia tidak boleh terlambat makan, dan walaupun sudah makan beberapa suap bubur, Luhan tahu bahwa itu tidaklah cukup untuk menahan gesekan antar otot lambungnya yang dapat membuat Sonna merasakan perih. Gadis itu harus berhati-hati sekarang, karena kehamilannya, ia tidak dapat lagi sembarang mengonsumsi obat pereda sakit lambung jika tidak mau hal itu berpengaruh negatif pada janinnya. Luhan tidak bisa membayangkan bagaimana bayi mungil yang tengah Sonna kandung itu berhasil bertahan walau ibunya pernah tidak menginginkan kehadirannya. Selama lima bulan di awal kehamilannya, gadis itu bahkan tidak menyadari bahwa ia tengah mengandung dan setiap ia merasa mual, ia selalu mengonsumsi obat maag. Belum lagi ketika ia mendapat tekanan dari orang-orang terdekatnya yang memaksanya untuk menggugurkan kandungannya, ia sungguh-sungguh telah meminum cairan untuk mengaborsi janin itu. Jika saja tim dokter tidak segera bertindak, mungkin tidak hanya bayinya namun juga Sonna akan kehilangan nyawa. Luhan kembali bergidik saat membayangkan segala hal yang telah dilalui calon istrinya itu. Syukurlah ia dan bayinya selamat, serta keluarganya juga telah menerima anak hasil hubungan gelapnya dengan sang kekasih. Walau bagaimanapun, jauh di dalam lubuk hatinya, entah mengapa Luhan agak menyesali hal tersebut, bahwa gadis yang akan ia nikahi sudah diangkat kesuciannya. Namun tanpa semua itu, ia tidak akan pernah bertemu kembali dengan Sonna. Tanpa semua itu, Luhan tidak akan pernah tahu bahwa ia berjodoh dengan gadis tersebut.

Lagipula, hal serupa pun juga terjadi pada mantan kekasihnya. Namun berbeda dengan Sonna, gadis itu sengaja memanfaatkan perasaan Luhan dan mempermainkannya. Ah sudahlah, itu hanyalah masa lalu yang tidak perlu diungkit kembali. Terlebih jika kejadian tersebut tidak terjadi, maka Luhan tidak akan pernah pergi ke Amerika dan bertemu dengan Shinna yang memintanya untuk menikahi adiknya itu.

Mungkin inikah yang dinamakan takdir?

“Lu, kau melamun?” Sonna memecahkan keheningan yang kembali tercipta diantara mereka, sekaligus mengembalikan Luhan kepada alam sadarnya.

“Ehm, ya… aku sedang berpikir.” Lelaki itu menggantungkan ucapannya.

“Memikirkan apa?”

“Makanlah dulu.” Ia kembali mendekatkan sendok berisi bubur tersebut. Gadis itu menurut namun tidak melepas pandangan matanya dari wajah Luhan, memaksa pemuda itu untuk melanjutkan perkataannya.

“Aku pikir kau wanita yang hebat juga, sangat… tangguh… mungkin begitu istilahnya.”

Sonna menelan buburnya dengan susah payah agar dapat membalas ucapan Luhan.

“Mengapa kau berfikir demikian?”

Luhan menatap dalam gadis yang akan menjadi calon istrinya itu.

“Bagaiamana kau melakukannya? Bagaimana kau bisa tetap kuat melalui semua cobaan ini?”

“Aku tidak selalu ‘kuat’.” Sonna membenarkan. “Aku bahkan tidak pantas disebut hebat. Apanya yang hebat dari seorang ibu yang pernah berpikir untuk membunuh anaknya? Itu hal paling keji yang pernah dilakukan seorang manusia! Itu sangat keji dan kejam hingga aku merasa jika aku bahkan tak pantas disebut manusia… bahkan seekor binatang pun tak akan tega melakukan hal seperti itu terhadap keturunannya.”

“Tapi kau tidak sepenuhnya salah. Kau terlalu stress saat itu, kau harus menahan beban yang yang sangat berat. Terlebih lagi, ayahmu lah yang memaksamu untuk melakukannya. Aku yakin jika bukan karena kau merasa begitu bersalah pada keluargamu, pasti tidak akan pernah terlintas dalam pikiranmu untuk menggungurkan darah dagingmu sendiri.” Luhan memegang kedua bahu Sonna, memberinya kekuatan untuk tetap menahan air mata itu tidak jatuh menuruni pipinya.

“Menurutmu begitu? Ah, apa sih yang kau ketahui tentang diriku, Lu?”

“Tidak banyak. Tapi aku ingin mengetahuinya, karena kau adalah wanita yang ku nikahi.”

“Tapi Lu… kau sungguh tidak apa-apa jika menikah denganku? Maksudku, aku bukanlah seorang ‘gadis’ lagi. Aku sudah kotor, sering pergi ke club malam, mabuk-mabukkan dan tidur dengan pria yang sudah ber-istri. Aku juga sedang hamil, Lu… Kau sungguh bisa menerimaku maupun anak ini?”

“Sonna-yah, lupakanlah hal itu. Aku sudah bersedia menikahimu, bertanggung jawab atasmu dan anak ini. Aku bahkan sudah berjanji pada ayahmu dan aku tidak berniat untuk melanggarnya.”

“Tetapi bagaimana bisa, Lu? Kita menikah karena dijodohkan orangtua. Tidak akan ada cinta dalam rumah tangga yang kita bina. Kau yakin kau siap melakukan ini? Kau yakin kau tidak hanya kasihan padaku saat melihatku berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit?”

“Ssstt, Nana-yah. Dengarkan aku.” Ia membungkan mulut gadis itu dengan jari telunjuknya. “Mungkin untuk saat ini aku tidak mencintaimu, maksudku, belum mencintaimu. Tetapi cinta itu perkara mudah. Seiring waktu yang kita habiskan dan jalan yang kita lalui bersama, cinta itu akan hadir. Percayalah Nana. Aku akan bertanggung jawab untukmu dan selalu menjagamu, karena aku menyayangimu, seperti adikku sendiri.”

Sonna hanya bisa terdiam. Menatap mata indah Luhan yang kecoklatan, mencari cela kebohongan disana. Namun ia tidak melihat apa-apa. Kata-katanya tulus, ia mengatakan hal yang sejujurnya.

“Hwang Sonna, minggu depan aku akan mengucapkan janji suci dengan kau berdiri di sisiku. Kita akan menikah dan aku sangat serius mengenai hal ini. Tidak akan ada istilah ‘kawin kontrak’ dalam pernikahan kita. Aku akan menikahimu dengan sungguh-sungguh hingga yang Maha Esa memisahkan.”

Entah mengapa, tetapi Sonna merasa beban di pundaknya terangkat sempurna saat menatap mata Luhan dan pandangannya yang meneduhkan hati itu. Dan ia tidak yakin, mungkin saja ia tengah bermimpi sekarang namun Luhan mempersempit jarak diantara mereka. Mendekatkan tubuhnya pada tubuh Sonna, wajahnya berhadapan dengan miliknya hingga hembusan nafasnya dapat menyapu pipinya. Tubuh gadis itu meremang. Apa yang akan dilakukan lelaki itu padanya? Mereka memang akan menikah tetapi Luhan tidak akan melakukan hal yang bersifat ‘intim’ itu secepat ini kan?

“Ada bubur di tersisa di bibirmu.” Ujarnya pada akhirnya.

Crap. Jadi itu. Hanya bubur. Sialan, dikiranya Luhan hendak melakukan sesuatu yang lebih berarti…

“Halah, akui saja itu hanya alasanmu saja untuk menyentuh bibirku.” Cibir Sonna.

“Oh, jadi kau tidak percaya.” Luhan menunjukkan bekas bubur yang ia bersihkan saat jarinya menyapu bibir Sonna. Ternyata itu benar, ia hanya membersihkannya. Ukh! Apa sih yang dipirkan gadis itu?!

“Wah, mesra sekali calon pengantin kita ini.” Suara Shinna memenuhi ruangan itu. Ia datang bersama eomma yang membawa sebuah handuk.

“Nana-yah, mandi dulu ya. Biar eomma bantu.” Ujar wanita paruh baya itu sembari membantu tubuh putrinya yang masih lemah itu untuk berdiri. “Kau merasa pusing?”

“Sedikit, mungkin nanti akan terbiasa, aku hanya terlalu lama berbaring.” Sonna menjawab.

“Mungkin sebaiknya aku pamit dulu, eommo-nim.” Luhan meminta izin.

“Oh, nak Luhan. Kau tidak ingin ikut makan malam dengan kami?”

Luhan menggeleng.

“Maafkan saya eommo-nim, saya masih ada urusan. Mungkin lain kali.”

“Baiklah, kau benar. Kita masih akan bertemu dilain waktu bukan. Sekaligus ajak kedua orangtuamu. Nana pasti ingin bertemu calon mertuanya.” Ujar ibu Sonna. Shinna-eonni yang mendengar hal tersebut menyenggol pelan lengan Sonna, bermaksud menggodanya mengenai pertemuannya dengan sang ‘mertua’.

“Tentu, eommo-nim. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Ujarnya sembari membungkukan badannya.

“Sini kuantarkan Mr. Groom menuju pintu depan.” Shinna menawarkan diri. Luhan berjalan melewatinya namun sebelum itu, ia masih sempat membisikan sesuatu di telinga calon istrinya.

“Sebenarnya yang tadi itu aku sengaja melakukannya.”

Sonna melotot dan segera mengadap kearah Luhan namun lelaki itu sudah terlanjur berjalan menjauhi dirinya. Ia masih menatap punggung calon suaminya yang mulai tersapu jarak.

Begitulah semuanya berawal, dimana Sonna dipertemukan dengan Luhan, sahabatnya saat kecil yang ternyata ditakdirkan untuk berjodoh dengannya.

 To Be Continued

60 responses to “Dear Diary – Chapter 2 (Regret) + Chapter 1 Flashback’s Explanation

  1. Duhh bukan luhan yang bikin tapi luhan yang tanggung jawab.. Btw siapa sih sebenernya ayah si bayi ini?? Penasaran gue orang yang udah bikin sonna menderita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s