Snow White

tumblr_nhnw85n8vU1riav2to1_1280

Author : ditjao

Cast : EXO’s Baekhyun & You

Disclaimer : i own nothing but the plot, also got some inspiration from niel daddy!au fic that i’ve read huehe

Genre : Family, Marriage Life

Length : Oneshot

Rating : PG-15

Credit Picture : tumblr

A/N : kado super telat buat kakak @hanbyuntae_, dan tulisan pertama semenjak sekian lama tidak menulis jadi yha harap maklum :” enjoi

*

“Putri Salju pun pingsan karena memakan apel yang telah diberikan oleh Sang Ratu. Lalu, tiba-tiba, datanglah seorang pangeran tampan yang jatuh hati pada Putri Salju. Karena melihat kecantikan Putri Salju, Pangeran pun ingin menciumnya agar Putri Salju dapat bangun dari tidur panjang.”

***

“Tidak.”

Aku merasakan tarikan pada bajuku mulai mengendur, sampai kemudian benar-benar terlepas. Hampir saja aku tergoda untuk berbalik dan menundukkan kepala untuk melihat wajah Gayoung. Tetapi, rupanya aku salah menduga bahwa anak itu telah menyerah dengan usahanya. Beberapa detik berselang, rengekannya kembali terdengar, kali ini bahkan disuarakan dengan nada yang benar-benar memelas. Dia masih belum mau berhenti berusaha untuk menarik perhatianku dari tumpukan peralatan makan yang masih harus kucuci bersih. 

“Ayolah, Ibu..”

Aku menguatkan hatiku untuk konsisten dalam mencuci piring, karena apabila sedikit saja aku tergoda untuk menghadap anak itu, kurasa hatiku akan meluluh dengan mudahnya tatkala disuguhi ekspresi memohon di wajahnya yang pastinya akan tampak sangat menggemaskan sekarang ini.

“Tidak sekarang, Sayang,” ujarku sembari membilas sebuah piring dan menumpukkannya di pinggiran wastafel sebelum kemudian mengambil piring lainnya yang masih berlumur busa sabun lantas kembali membilasnya dengan air yang mengucur dari keran. Siklus ini belum berakhir sejak Gayoung membujukku untuk menuruti permintaannya menemaninya bermain. “cucian piringnya masih banyak dan setelah ini Ibu masih harus menyiapkan makanan untuk bekalmu dan Ayah besok pagi. Apalagi badan Ibu juga capek sekali.”

Aku mencoba untuk mengikuti cara Gayoung dalam merengek. Semoga Gayoung pun dapat mendengar suaraku yang dibuat sebegitu memelas mungkin. Malam ini aku memang tidak bisa menemaninya bermain seperti biasa. Aku butuh tidur lebih awal. Seharian meladeni klien memusingkan di kantor, belum lagi menjemput Gayoung dari sekolah, menyiapkan makanan dan membereskan rumah ketika aku sampai di apartemen kecil milik kami tak ayal membuat tenagaku benar-benar terkuras hari ini. Aku tak tahu dengan cara apa lagi aku harus menerangkan kepada anak berusia 5 tahun itu bahwa tulang-tulang di badanku rasanya sudah hampir remuk.

“Tapi, Ibu, tadi siang di sekolah Ibu Guru baru saja bercerita tentang kisah Putri Salju. Aku ingin bermain Putri Salju bersama Ibu.”

Gayoung rupanya masih belum mau menyerah. Anak itu memang dikenal keras kepala. Padahal kukira makhluk yang terlahir dengan kepala batu di dunia ini hanya Byun Baekhyun seorang. Namun, sifat keras kepala yang diwariskannya secara genetik terhadap anak ini nampaknya menggandakan diri dua kali lipat. Mungkin, kromosomku juga turut andil dalam menyumbang sifat kepala dalam diri Gayoung. Ya, 50% dariku, dan 50% dari Baekhyun. Ah, tidak, tidak. Koreksi, seharusnya 70% dari Baekhyun dan 30% dariku. Iya, begitu baru benar.

“Hmm, Putri Salju, ya?” aku pura-pura tertarik, tetapi tetap tidak memberi harapan kepada Gayoung bahwa aku akan memenuhi permintaannya. “Bagaimana kalau kita bermain besok saja?”

“Tapi, aku ingin main sekarang!” ujar Gayoung menggebu-gebu.

Nah, kalau dia sudah mulai rewel begini tinggal aku yang kewalahan. Tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk mendiamkan gadis kecil ini selain menuruti permintaannya untuk bermain.

Aku berusaha memutar otak. Sambil terus berpikir, sayup-sayup kudengar suara pintu kamar mandi yang dibuka, tidak jauh dari ruang tengah yang berbatasan langsung dengan dapur. Kukira Baekhyun sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi—oh, ya, mengapa tidak terpikir sejak tadi olehku? Kukira aku tahu siapa yang bisa dikorbankan di sini.

“Kalau begitu, kenapa Gayoung tidak bermain bersama Ayah saja?”

“Bermain Putri Salju… bersama Ayah?” Gayoung kelihatannya kurang yakin (dan sebenarnya aku juga), tapi aku buru-buru mengangguk mantap.

“Gayoung, ‘kan, setiap hari selalu bermain bersama Ibu. Ayah juga pasti ingin sekali-kali bermain dengan Gayoung.” dalihku berusaha menyakinkan gadis kecil itu.

“Hmm, tapi… memangnya Ayah mau bermain jadi Putri Salju?”

“Oh, pasti mau! Gayoung belum tahu kalau Ayah sebenarnya sukaaa sekali dengan Putri Salju!”

“Benarkah?” kedua mata Gayoung kelihatan berbinar-binar.

Kedua orangtuaku dulu selalu berpesan agar aku tumbuh menjadi pribadi yang menjunjung tinggi kejujuran, tapi dalam situasi seperti ini rasanya aku tak tega untuk mengatakan ‘tidak’ dan meredupkan sinar yang terpancar dari mata Gayoung (lagipula tidak ada salahnya juga bila sekali-kali mengerjai Baekhyun, ‘kan?). Jadi, karena tak ingin mengecewakan harapan putri kecilku ini, tak ada jalan yang lebih baik selain mengiyakannya.

“Asyik, Gayoung ingin bermain bersama Ayah saja kalau begitu!” Gayoung berseru gembira dan berlari-lari dari dapur menuju ruang tengah untuk menghampiri Baekhyun yang sedang terduduk di sofa sembari menikmati tayangan televisi. Aku tak kuasa menahan senyum melihat tingkahnya.

Di usianya yang baru menginjak 5 tahun, aku bersyukur Gayoung memiliki kemampuan berimajinasi yang baik, atau malah apat dikatakan ‘terlalu baik’. Gayoung selalu menyukai cerita-cerita dongeng seperti kisah peri atau putri raja. Masalah? Oh, tentu saja tidak, hal itu bukan masalah. Bukan, karena bukan itu masalahnya. Hal itu sama sekali tak akan menjadi masalah bila Gayoung tidak menyuruhku memainkan peran dari tokoh-tokoh yang disukainya. Adakah perempuan yang masih luwes (dan tak tahu malu) memainkan peran seperti ibu peri atau putri raja di usianya yang hampir menyentuh penghujung 20-an? Memiliki putri seperti Gayoung memungkinkanmu untuk kembali ke masa kecil, saat-saat di mana dunia masih terasa indah, damai, dan tenteram, dan tagihan bulanan hanyalah mitos belaka.

Tapi, malam ini aku ingin beristirahat. Biarlah Baekhyun yang menggantikan tugasku untuk sementara. Kurasa peran Putri Salju tidak terlalu buruk untuknya. Apalagi Baekhyun piawai dalam bernyanyi, dan—oh, perannya dalam memainkan Ariel, Si Putri Duyung adalah yang terbaik! Apakah ada laki-laki yang mau bertingkah layaknya ikan duyung kesetanan yang terkapar di lantai sembari menyanyikan lagu Under the Seauntuk menghibur putrinya? Kukira hanya Baekhyun yang bisa. Sebentar, ingatan tentang Baekhyun yang tempo hari juga sempat memainkan peran sebagai Elsa sembari menyanyikan lagu Let It Go dengan dramatis membuatku ingin membanting piring.

Nah, selamat bersenang-senang, Byun Baekhyun.

“Ayah!”

“Ya, Sayang?”

Aku mencoba menguping pembicaraan dari mereka dari dapur.

“Ayah, ayo kita bermain Putri Salju! Aku ingin Ayah menjadi Putri Salju!” seru Gayoung bersemangat.

“Apa? Putri… Salju?”

Dari nada bicaranya yang kedengaran ragu-ragu, aku dapat langsung tahu kalau saat ini sepertinya Baekhyun tengah menghujaniku dengan tatapan curiga. Posisiku yang masih membelakangi mereka membuatku memasang sikap pura-pura tidak tahu.

“Iya, Ayah, ayo kita main!”

“Hmm, begini, Sayang, kenapa Gayoung tidak bermain dengan Ib—“

Yeobo, kau bisa membantuku menemani Gayoung bermain sebentar, ‘kan? Urusanku di dapur masih belum selesai.” aku balas berseru dari dalam dapur.

Baekhyun mengenaliku sikapku dalam meminta pertolongan. Jika diutarakan dengan nada memohon, itu artinya aku memang membutuhkan pertolongan. Tapi, jika diutarakan dengan intonasi yang tenang dan mengintimidasi, itu artinya aku benar-benar membutuhkan pertolongan dan jika Baekhyun tidak dapat membantu, artinya, akan ada ganjaran yang diterimanya nanti. Dari hukuman yang paling kecil seperti membereskan rumah, atau yang paling kejam sejauh ini, melarangnya untuk tidur di kamar.

Kurasa Baekhyun sedang tidak ingin berhadapan dengan salah satunya, karena selanjutnya kudengar laki-laki itu (tampaknya mau tak mau) segera mengiyakan permintaan Gayoung.

“Hmm, baiklah. Jadi, sekarang Gayoung ingin Ayah melakukan apa?”

“Sekarang Ayah harus pingsan karena memakan apel beracun dari Sang Ratu yang jahat!” Gayoung kembali berlari-lari ke arah dapur lantas membuka pintu kulkas. Dengan penuh semangat, gadis itu kembali berlari menghampiri Baekhyun dengan sebongkah buah apel di tangannya.

“Ibu, aku minta apelnya, ya!”

“Iya, Sayang!”

Diam-diam aku tertawa dalam hati. Kurasa aku tidak boleh melewatkan pentas Putri Salju yang sedang diperankan oleh Baekhyun, jadi aku cepat-cepat menyelesaikan aktivitasku mencuci piring dan segera bergabung bersama keluarga kecilku di ruang tengah.

“Apa Ibu melewatkan banyak hal? Sudah sampai mana ceritanya?” aku menghampiri Gayoung dan Baekhyun yang sedang duduk di sofa. Aku menyunggingkan senyum cerah, begitu juga dengan Gayoung. Sementara Baekhyun tampak memasang wajah kusut. Dia tahu bahwa malam ini sepertinya ia akan dijadikan bulan-bulanan.

“Putri Salju akan memakan apel dari Sang Ratu lalu dia akan pingsan!” Gayoung bercerita dengan penuh sukacita, kontras dengan wajah Baekhyun yang terlihat masam.

“Oh, bagus! Tapi, di mana Sang Ratu? Apa Gayoung yang berperan sebagai Sang Ratu?”

“Tidak, tidak ada yang berperan sebagai Sang Ratu, karena Sang Ratu sifatnya sangat jahat. Aku tidak menyukainya, Bu.”

“Hmm, kalau begitu, bagaimana kalau Ibu saja yang berperan sebagai Sang Ratu? Pekerjaan Ibu sudah selesai, jadi sekarang tampaknya Ibu bisa bergabung dengan kalian.”

“Tidak mau! Sang Ratu itu jahat, aku tidak mau Ibu jadi Sang Ratu!” Gayoung mulai merengek lagi.

“Tanpa harus berperan sebagai Sang Ratu pun bukankah kau memang sudah sangat jahat?”

Baekhyun pikir aku tak mendengar ocehan sinisnya, tapi laki-laki itu memasang tampang acuh tak acuh ketika aku melayangkan tatapan tajamku ke arahnya.

“Kau bilang apa barusan? Aku sangat jahat?”

“Apa? Mungkin yang kau dengar barusan adalah dialog dari drama yang sedang ditayangkan.” Baekhyun mencoba mengambinghitamkan televisi.

Kalau tidak ada Gayoung di sini, mungkin aku sudah melemparinya dengan bantal sofa. Atau televisi, sekalian.

“Ibu jadi Pangerannya saja!”

“Huh? Apa? Pangeran?”

“Iya, Ibu jadi Pangeran yang membangunkan Putri Salju dengan menciumnya! Pangeran adalah cinta sejati Putri Salju!”

Hah? Apa? Tunggu, tidak seharusnya anak umur 5 tahun berbicara tentang hal seperti ini. Kurasa aku harus mengajukan protes terhadap Ibu Guru Gayoung di sekolah nanti.

Melihat wajahku yang tampak kebingungan, Baekhyun terkikik pelan. Tapi, saat aku menoleh ke arahnya, laki-laki itu kembali memasang wajah datar seolah tak mendengarkan apapun. Ck, awas kau!

“Sekarang, Putri Salju harus memakan apel dari Sang Ratu kemudian pingsan!” Gayoung bertindak sebagai narator. Sementara Baekhyun mulai menggigit apelnya.

“Apa Ayah harus pingsan di lantai?”

“Ya.”

“Ayah tidak boleh pingsan di sofa saja?”

Gayoung tertawa. Kedua mata sipitnya yang juga diwariskan secara genetik oleh Baekhyun seperti menghilang dan menyatu menjadi sebuah garis. “Terserah Ayah saja!” katanya.

“Ah, kalau begitu, bolehkah Ayah pingsan di tempat tidur di kamar Ayah saja?”

“Tidak boleh!”

Giliran aku yang tertawa. Gayoung sepertinya tahu bahwa Baekhyun sedang melancarkan tipu muslihatnya. Nah, kerja bagus, Gayoung. Jangan biarkan ayahmu ini lari.

“Ayo cepat pingsan, Ayah!” Gayoung memberikan instruksi lagi.

Mulanya, Baekhyun terlihat ragu, tapi kemudian ia mencondongkan kepalanya pada sandaran sofa dan mulai memejamkan mata.

“Ah, entah kenapa kepalaku pusing sekali setelah memakan apel ini,” vokalnya mengalun datar dan tanpa ekspresi.

“Ayah! Seharusnya Putri Salju bersuara lembut! Tidak seperti laki-laki!”

“Oh, ya, Ayah lupa.” Baekhyun kemudian berdeham. “Ah! Kepalaku pusing sekali setelah memakan apel ini! Ah… tolong… ah…,” kali ini Baekhyun menyuarakannya dengan penuh penghayatan, tak ketinggalan dengan suaranya yang menyerupai wanita. Oh, rasanya aku bisa mati karena menahan tawa melihatnya bertingkah seperti ini.

“Putri Salju pun pingsan karena memakan apel yang telah diberikan oleh Sang Ratu. Lalu, tiba-tiba, datanglah seorang pangeran tampan yang jatuh hati pada Putri Salju. Karena melihat kecantikan Putri Salju, Pangeran pun ingin menciumnya agar Putri Salju dapat bangun dari tidur panjang. Nah, Ibu, sekarang, ayo cium Ayah!”

Aku menduga, Pangeran yang menjadi pasangan Putri Salju ini pastilah tipikal lelaki hidung belang. Lelaki macam apa yang melihat wanita yang tidak dikenalnya sedang tertidur lalu tiba-tiba hendak menciumnya.

“Ah, dia cantik sekali.” Aku menyentuh kedua pipi Baekhyun yang (diceritakan) masih terkulai karena pingsan. Atau mungkin tidak tepat juga bila hanya dikatakan menyentuh, karena jemari nakalku ikut mencubit dan meremas-remas pipinya. Aku terkikik ketika melihat wajah Baekhyun yang tampak meringis menahan sakit.

“Lalu, Pangeran pun mencium Putri Salju.”

Aku bisa melihat Baekhyun yang menahan senyum begitu mendengar instruksi terakhir dari Gayoung. Melihatnya aku jadi ingin mencubit pipi laki-laki ini lebih keras sampai ia menjerit kesakitan. Tapi, sayangnya aku tidak bisa menuntaskan ide liarku karena Gayoung sudah kembali mengulang instruksinya.

“Ayo Ibu, cium Ayah!”

Aku menatap wajah Baekhyun dengan ragu. Memang, tidak ada yang salah dengan mengungkapkan ekspresi kasih sayang melalui sebuah tindakan. Yang Gayoung tahu, bila aku ataupun Baekhyun menciumnya, itu adalah salah satu wujud kasih sayang kami terhadapnya. Begitu pun dengan aku dan Baekhyun. Ini bukan pertama kali bagi Gayoung melihatku mencium Baekhyun, ataupun sebaliknya. Memang tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang terlihat salah di sini hanyalah wajah menyebalkan Baekhyun, dengan matanya yang terpejam sekarang dan bibirnya yang tersenyum samar. Bagaimana aku mengartikan senyuman Baekhyun ini—senyum jahat? Ataukah senyum mengejek? Yang jelas, ketimbang menciumnya sekarang, aku lebih ingin memusnahkan seringaian menyebalkan Baekhyun ini dengan satu kali lagi cubitan keras di wajahnya.

Tetapi, cara Gayoung menatapku dengan ekspresi tak sabar tidak memberikanku pilihan lain. Pelan-pelan, aku mulai mendekatkan wajahku ke arah Baekhyun dan mengecup bibirnya sekilas. Kejadian itu terlampau singkat karena bisa kupastikan sendiri bahwa bibir kami hanya bertemu barang sedetik.

Aku lantas menjauhkan wajahku dan menunggu reaksi Baekhyun. Tapi, kelihatannya aku salah mengira bahwa drama ini telah mencapai titik akhir. Baekhyun masih bergeming.

“Kelihatannya Pangeran harus mencium Putri Salju lagi.”

“Hah?” aku melongo begitu mendengar penuturan Gayoung.

“Ayo cium Ayah lagi, Bu! Kelihatannya yang barusan kurang berhasil!”

“Lagi…?”

“Iya! Kali ini pasti Putri Salju akan terbangun!”

Ck, Byun Baekhyun sialan. Aku tahu kau sengaja melakukannya.

Aku mengulangnya dengan gerakan cepat, mungkin lebih cepat ketimbang barusan. Namun, tetap saja. Putri Salju gadungan ini belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Sial. Byun Baekhyun, apa kau mau mati?

“Seharusnya Ibu mencium Ayah sedikit lebih lama!” komentar Gayoung lagi.

“Apa?”

“Ayo cium Putri Saljunya sampai ia bangun, Bu!” Gayoung lagi-lagi merengek.

Aku mengembuskan napas berat sembari merutuk dalam hati. Baekhyun berhasil mengerjaiku. Awas saja kalau setelah ini dia masih tak mau membuka mata, mungkin akan kubuat ia memejamkan mata selama-lamanya.

Lagi, aku mencoba mendekatkan wajahku pada Baekhyun dan pelan-pelan menempatkan bibirku di atas bibirnya. Aku menghitung dalam hati. Satu detik, dua detik, ini sepertinya sudah cukup lama. Iya, ‘kan? Nah, sudah lewat tiga detik, empat detik, lima—

Baekhyun membuka matanya tiba-tiba. Lengkap dengan seringaian tipisnya yang menyebalkan dan—masih dalam kondisi bibir kami yang bertemu satu sama lain. Pergerakannya yang tiba-tiba membuatku terkejut sampai-sampai aku lupa melepaskan diri. Pandangan kami berjumpa selama beberapa saat dan bodohnya aku, tatapan matanya seolah mengisyaratkan bahwa ia puas mengerjaiku dan mengingatkanku bahwa ciuman kami sudah lewat dari—10 detik. Oh, bagus.

Kau menang, Baekhyun, kau menang.

Aku buru-buru menjauhkan diri dari Baekhyun, disusul oleh laki-laki itu yang juga ikut bangkit. Tubuhnya yang tadi sempat terkulai sekarang telah berubah menjadi tegak.

“Ah, Pangeran! Terima kasih karena telah membangunkanku! Kau memang cinta sejatiku!” seru Baekhyun, tak lupa dengan suaranya yang dibuat-dibuat, dan selanjutnya dia menghambur memelukku.

Sekilas, aku dapat mendengar Baekhyun berbisik tepat di telingaku, “Kena kau.”

Baekhyun salah jika ia mengira akan mendapat akhir cerita yang bahagia. Buru-buru kucubit perutnya keras-keras sampai laki-laki itu meronta minta ampun. Jangan pernah berharap kau bisa selamat setelah puas mengerjaiku, Byun Baekhyun.

“Ampun, hei—ini sakit, Yeobo!”

Dan akhirnya, drama Putri Salju ini ditutup oleh derai tawa Gayoung yang melihat tingkah kedua orang tuanya, disertai dengan erangan Baekhyun yang masih berusaha meloloskan diri dari ‘serangan’ku. Tapi sayangnya, dia tidak akan bisa lolos. Tidak akan.

***

“Menurutmu, akan menjadi apa Gayoung setelah ia dewasa nanti?” aku merapikan poni Gayoung yang kini sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya sambil memeluk Olaf, boneka kesayangannya. Baekhyun sedang berdiri di sampingku tanpa melakukan apapun, selain ikut mengamati paras putri kecilnya yang kini tengah sibuk menjelajah alam mimpi.

“Seorang aktris, mungkin? Tapi sepertinya tidak. Dibandingkan dengan bermain peran langsung, dia lebih suka berada di balik layar, benar? Mungkin juga, sutradara?” balasnya.

“Gayoung cepat sekali beranjak besar. Padahal rasanya baru kemarin kita mengajarinya berbicara, sekarang tahu-tahu ia sudah pandai berceloteh. Cerewet sekali menyuruh kita ini dan itu.”

“Cerewet sekali, ya, persis ibunya.”

“Kau ingin kucubit lagi?”

“Asalkan kau mau melakukannya dengan lebih lembut, tidak masal—aduh!”

Sebelum Baekhyun dapat menyelesaikan kalimatnya, aku telah lebih dulu menyambar pinggangnya. Laki-laki itu meringis.

“Sudah malam. Kita juga sebaiknya lekas tidur.” aku menyalakan lampu tidur yang terletak di samping tempat tidur Gayoung kemudian mengecup dahi putri kesayanganku itu. Aku pun bersiap meninggalkan kamar Gayoung dan hendak mematikan lampu, namun segera tersadar bahwa Baekhyun tidak mengikuti langkahku dan masih tetap berdiri di tempatnya semula.

“Baekhyun?” aku memanggilnya dari bibir pintu. “Ayo lekas tidur.”

Baekhyun sama sekali bergeming.

“Baekhyun?”

Lagi-lagi tak ada reaksi.

Aku memutuskan untuk kembali menghampiri Baekhyun yang masih berdiri di samping tempat tidur Gayoung. Penasaran karena Baekhyun tak mengindahkan panggilanku, sebagian lagi gemas karena ingin kembali menghadiahinya cubitan jika laki-laki ini ternyata pura-pura tidak mendengarkan panggilanku.

“Baekhyun?”

Baekhyun masih berdiam diri. Aku berinisiatif mengguncangkan bahunya.

“Baekhyun, kau dengar aku? Ayo kita tidur.”

Masih reaksi yang sama.

“Baekhyun? Kau tidak apa-apa?”

Tidak ada jawaban.

“Baekhyun!”

Pada akhirnya dia mau menoleh. Namun, ekspresi wajah Baekhyun yang kelihatannya begitu serius ketika balas menatapku membuatku bertanya-tanya.

“Baekhyun… kau benar tidak apa-apa?” aku mulai merasa cemas.

“Badanku… rasanya kaku sekali.” dia menjawab lirih.

“Apa? Apa kau sakit? Kau tidak enak badan?”

“Sepertinya racunnya masih tertinggal di tubuhku..”

“Hah? Racun? Racun apa maksudmu??”

“Sisa racun dari apel yang kumakan barusan.” Baekhyun masih memandangku dengan raut wajah serius. “Kelihatannya, Pangeran harus menciumku lagi untuk menghilangkan pengaruh dari apel itu.”

Aku sudah bersiap-siap untuk kembali melayangkan cubitan di perutnya, tapi di luar dugaan, kali ini Baekhyun berhasil menangkis seranganku dan membopong tubuhku secara tiba-tiba. Dia tersenyum. Senyum yang sama dengan yang kulihat ketika Baekhyun mengerjaiku saat bermain Putri Salju barusan. Dan aku menangkap sinyal-sinyal tidak mengenakkan dari perilaku Baekhyun ini. Oh, jangan bilang…

How about we play our own games, my prince?” dia mengerling ke arahku, dan tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa kekhawatiranku akan segera menjadi nyata.

“Baek—tu, tunggu dulu, turunkan aku!!!”

Terlambat, karena Baekhyun sudah membopongku masuk ke dalam kamar kami.

-fin-

nonton snow white and the seven dwarfs tahun 1937 dan parno sendiri liat adegan ibu tirinya snow white pas berubah jadi nenek-nenek. iya parno. soalnya nontonnya jam setengah 3. pagi. lalu akhirnya lahirlah fanfic absurd ini. enggak nyambung ya. ya udah.

btw ini beneran baru nulis lagi setelah sekian lama, 5 bulanan kayaknya sama sekali enggak ber-fanfic fanfic ria. maaf kalo tulisannya jelek huaaa. baca fanfic pun kadang-kadang kalo kebetulan lagi buka internet buat nugas, kadang tangannya jail suka buka tumblr/aff/lj. beres baca fanfic, tugasnya yang gak beres. aku mah gitu orangnya.

daaan wilujeng tepang tahun untuk kak tari!!! telat banget ngucapinnya ya huehuehue. maafkan aku, kak :” tolong jangan marah dengan kado berupa tulisan abal-abal ini. semoga kakak sehat selalu, lancar skripsinya, dan selalu menyayangi dan disayangi oleh baekhyun yesh.  all the best for ya kak!!!

444557_600

terima kasih bagi kalian yang sudah menyempatkan diri untuk membaca! (: btw ffindo tambah sepi ya hiks

51 responses to “Snow White

  1. Ah kak akhirnya kau kembali, kangen dengan ff muuu. Ff ini lucu tp kurang greget :3
    ffindo makin sepi karena kakak jarang muncul kali #ea

  2. Aduuuh sweaat bangeet pengen punya kehidupan kayaak gituuu bagus baanget bikiin yang series nya doooong

  3. Buka2 daftar lama
    Nemu ini FF

    Sumpah g isa berenti ketawa
    atau minimal nahan ketawa
    Hwahaahahahahahahahahahahahaha

    Iya absrud si
    Cuma bener2 menghibur minggu pagi yang cerah
    Secerah Senyum jail Baekhyun #eaaa

    Kocak parah beneran
    Yah bayangan keluarga yang begini ni yang jadi idaman
    Akur dan solid
    hehehehe

    Okheh
    Thanks for the story, it’s nice story
    Buing buing😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s