[Chapter 12+13] Fleas Love


(NEW) Fleas Love

CHAPTER 12

Chapter 1|2|3+4|5|6|7+8|9|10|11|12+13


Note : maaf banget telat update soalnya lagi ada try out dan ini adalah H-12 unas T___T9 semangat buat Han! Kalian yang mau semesteran juga semangat yah!

Kali ini chapternya aku dobel. Insyaallah chapter depan ending! Jangan pada kecewa yah kalo ntar ff ini selesai😀😄 dah itu aja!!!

Happy reading!!!! ^_^


Rumi’s POV

Ujian semester telah usai. Meskipun aku tidak yakin nilai-nilai itu selurunya diatas kriteria minimal namun aku tetap bahagia karena setidaknya telah berusaha dan belajar keras. Yah. Memang ulangan kali ini berbeda dengan ulangan sebelumnya. Aku kurang bisa berkonsentrasi karena ada pengaruh dari Jongin yang kini adalah kekasihku. Dengar saudara-saudara! Kekasihku! Namjaku! Apa yang kuharapkan sejak satu tahun lalu itu kini menjadi kenyataan! AKU PACAR JONGIN! Ya, aku meneriakkan kalimat itu hampir seratus kali di kamar mandi seolah ingin seluruh penghuni bumi bahkan antariksa mengetahui ini. Aku sangat bahagia. Sungguh.

Banyak yang telah terjadi diantara kita. Tidak selamanya Jongin berpredikat pemuda liar yang selalu dicap sebagai player. Aku seperti seorang pawang, katanya. Akulah pawang lelaki tukang main perempuan itu. Jongin mulai mengerti tentang arti mencintai yang sesungguhnya. Selama ini kata mencintai dan mempermainkan memiliki arti yang lumayan dekat dalam kamus hidupnya. Dan kata Jongin, akulah yang bisa menyadarkannya jika kedua kata itu amat sangat berjauhan. Aku mengajarinya cara mencintai dengan tulus, dan Jongin mengerti itu.

Semenjak kami berpacaran, Jongin suka bermain di flat tua milikku dan terkadang bermalam disana, menemani malamku. Kami akan berbagi cerita, berbagi tawa dan duka sambil berselimut bersama. Dan baru kusadari dia seseorang yang manis.

Musim dingin sudah datang dan liburan akhir semester telah tiba. Sekolah kami mengadakan wisata ke sebuah villa yang jauh dari Gangnam. Mungkin disekitar daerah bukit salju di Yongin. Disana akan menjadi tempat wisata yang sangat menyenangkan. Aku sudah mengenakan mantel warna putih salju dengan bulu-bulu dipinggiran tudungnya. Yang apabila kukenakan akan membuat kepalaku tenggelam dan tampak seperti orang-orang Eskimo. Mantel ini pemberian Eomma.

Kubuka penutup koperku dan kubiarkan menganga seolah benda itu kelaparan minta diisi. Kemudian kumasukkan tumpukkan baju dan barang-barang yang semalam telah kusiapkan sampai-sampai aku membongkar lemari dan laci. Yah sudahlah. Kamarku pada akhirnya memang terlihat seperti baru saja diterjang badai matahari namun tidak kupedulikan, kan aku akan pergi dan tidak menempati tempat ini selama tiga hari.

Kutemukan sebuah buku diary milikku yang memang sengaja akan kubawa. Bukankah sebaiknya benda keramat itu tidak kutinggalkan dirumah. Semisal kontrakan bau ini digrebek rampok aku tidak akan membiarkan mereka mengtahui semua rahasiaku. Oke, tapi aku mohon masalah rampok itu jangan terjadi.

Ponsel yang kini tergeletak diatas seprai berantakan itu menyala-nyala dan menimbulkan suara tidak menyenangkan dari getarannya. Tepatnya suara yang akan selalu mengangguku ketika benda itu berbunyi di malam hari dan membuatku terpaksa membantingnya demi melanjutkan mimpi indah. Baiklah, lupakan itu.

“So Eun-“

“KAU DIMANA?!”

Mati!

Dia berniat membunuhku dengan membiarkan darah menetes keluar dari rongga pendengaranku begitu? Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu. =o=

“RUMI. KITA SUDAH MENUNGGUMU DARI TADI!”

Suara cemprengnya yang mungkin mampu membuat seekor lumba-lumba mabuk kepayang itu terus terdengar walau ponsel sudah kujauhkan setengah meter dari telinga. Aku menyesal telah merindukannya selam dia di Jepang. “Aku mau berangkat.” jawabku malas. “Cepatlah sedikit. Chanyeol juga sudah disini. Dia menunggumu.”

Ya ya ya! Dengan segera kututup telepon dan memasukkannya ke saku mantel.

O – O – O – O – O

Ternyata benar. Aku datang di saat yang tepat. Tiga buah bis telah terparkir rapi didepan gerbang sekolah. Seluruh halaman tertutup saju yang licin dan membuat sepatuku basah. Semua siswa sedang mengantri untuk memasuki bis mereka masing-masing. Disana kulihat seorang gadis dengan kepangan dua yang sangat imut sedang melambai kearahku. Kuhembuskan nafas dan mempercepat langkah mendekatinya. “So Eun, Chanyeol.” panggilku. “Kita dapat bis nomor tiga. Yang terakhir.” balas Chanyeol dengan wajah cerianya. Lelaki itu tampak sangat besemangat pagi ini. Dia begitu tampan dengan jaket cokelat tebalnya dan topi sky bermotif prepie berwarna senada.

“Ne, dan aku sudah memesan bangku paling belakang yang ada tiga bangku.” tambah So Eun. Aku tersenyum melihatnya. Kami akan sangat menikmati liburan ini. Oh ya. Ngomong-ngomong kemana Jongin? Kutolehkan kepala ke kanan dan kekiri untuk menemukan seseorang itu. Mungkin dia naik bis lain. Kan kelas kami berbeda.

“Rumi, kau cari siapa?” tanya Chanyeol.

“Eh.” kulempar pandangan kearahnya. “Bukan siapa-siapa.”

“Ayo naik! Sudah giliran kita!” So Eun menarik tanganku dan tangan Chanyeol secara bersamaan. Gadis itu membawa kami masuk ke bis bersamanya. Kamudian kami duduk di bangku yang persis seperti apa yang sudah So Eun katakan tadi. Bangku paling belakang. Kenapa harus bangku yang paling belakang? Tiba-tiba kurasakan dingin menggelitik kulitku. Kupeluk kedua lenganku sambil menghembuskan nafas. Chanyeol yang duduk dipaling pinggir –aku juga paling pinggir di samping kaca, dan So Eun ditengah- lelaki itu menatapku sesaat. “Kau mau cokelat panas?” tanyanya.

“Uh, tidak usah.”

“Aku tahu kau kedinginan Rumi.” aku terdiam. Apakah wajahku tampak pucat? Apakah bibirku membiru? Lelaki itu tahu saja apa yang sedang kurasakan. Chanyeol tersenyum tiga jari. Dia melepas ransel dan mengambil termos warna putih. “Kau membawa cokelat panas?” tanya So Eun dengan kedua mata membulat. “Kau mau juga?” balas Chanyeol. Pipi So Eun bersemu begitu mendapat tawaran dari Chanyeol. Kemudian gadis itu mengangguk. Pertama Chanyeol memberiku cokelat panas. Rasanya hangat dan menenangkan ketika mengalir melewati kerongkonganku. Aku curiga Chanyeol membuat sendiri cokelat panasnya. Minuman ini terlalu kental tetapi tetap enak karena aku memang suka manis.

“Hm, kau membuatnya sendiri” tanya So Eun.

“Ne. Tidak enak ya?”

“Waaa, ini sangat enak!” jawab perempuan tersebut dengan gaya berlebihan. Yah. Dasar perempuan ini. Aku mencibir dibelakangnya dan hal itu membuat Chanyeol tertawa.

Bis mulai berjalan dan sepanjang perjalanan semua bernyanyi bersama –termasuk aku dan So Eun. Kami semua menyanyikan lagu musim dingin, daun cemara, dan lagu tiga ekor beruang. Kemudian menyanyikan sebuah lagu dengan diiringi gitar yang dimainkan Chanyeol. Lelaki itu pun ikut bernyanyi. So Eun nyaris meleleh dan mengeluarkan susu dari hidungnya usai mendengar suara merdu Chanyeol yang bisa kuakui membuat ngantuk. Dia langsung memberi tepukan tangan paling keras.

Usai sesi bernyanyi kami kembali melanjutkan perjalanan. Bis sudah memasuki area perbukitan dan jalan sempit –untuk ukuran bis- yang ada ditengah hutan. Suhu semakin dingin sampai-sampai pemanas bis ini sama sekali tidak kurasakan. So Eun sudah sejak tadi tertidur di bahu Chanyeol sedangkan lelaki itu asik membaca buku. Kupasangkan earphone menutup kedua lubang telingaku dan memutar lagu favoritku, Delight yang dinyanyikan Yoo Ji Ae. Lagu penuh arti itu terputar dan seakan ikut berdongeng, kupandang keluar jendela, kearah pohon-pohon yang telah sebagian gundul dan terselubungi salju putih yang berbentuk seperti kapas. Chanyeol menyentuh pundakku dan hal itu membuatku menoleh. Mulutnya bergerak mengatakan sesuatu. Aku sama sekali tidak dapat mendengarnya. Kulepas salah satu earphone.

“Rumi, biarkan So Eun bersandar di kaca. Bahuku keram.” bisiknya. Aku tersenyum geli mendengar itu. Kulirik wajah putih So Eun yang terlihat tak berdosa ketika sedang tidur. Mungkin sebaiknya begitu. Dengan bantuan Chanyeol, aku geser So Eun kesamping kaca dan membiarkan kepala kecilnya –yang tengah mengenakan topi Chanyeol- ke pojokan kaca. Haha. Raut kekanakannya itu sangat mengundang tawa. Kini aku duduk disamping Chanyeol. Aku tersenyum kearahnya begitu juga lelaki itu. “Buku apa yang kau baca?”

“Hanya sebuah novel.”

“Boleh aku melihatnya?”

“Ne.”

Kuambil buku bersampul biru muda itu. Terukir tulisan timbul ‘Geum Jo’ disana. Itu nama penulisnya. Kemudian diatas nama penulis, ada sebuah tulisan besar “Werewolf”. Ternyata cerita seperti ini yang disukai Chanyeol. Dia tertarik dengan fantasy. “Bagus.” aku tersenyum lalu mengembalikan buku itu. Chanyeol kembali membuka halaman tengah yang disana terjepit selembar pembatas buku. “Mau mendengarkan musik?”

“Boleh.”

Kuberikan salah satu kepala earphone kepadanya. Kami mendnegarkan lagu yang tadi kuputar. Ya. Lelaki itu tampak menikmatinya. Sangat. Aku menguap lebar. “Rumi, kau bisa tidur di bahuku.” Chanyeol menepuk bahunya. Dahiku mengkerut. Kusipitkan mataku sambil menatapnya dengan pandangan menyelidik “Bukannya tadi bahumu keram?”

TUING!

Kena kau. Lelaki tersebut menunjukkan ekspresi konyol yang ingin membuatku tertawa terbahak-bahak sekarang. “Eoh, sudah tidak kok. Kau bisa tidur disini!” dia mengangkat bahu kirinya. Aku tersenyum lebar dan menerima tawaran itu. Dia benar-benar teman yang baik. Aku sangat menyayanginya sebagai sahabat.

O – O – O – O – O

Author’s POV

Bis berhenti di tengah jalan. Rombongan memutuskan untuk membeli makan disebuah rumah makan berkayu ditengah hutan. So Eun sempat kaget ketika terbangun dia mendapati dirinya duduk disamping kaca sedangkan Rumi dan Chanyeol tidur berdua dengan harmonis. Tetapi untung gadis itu bukan tipe yang keras kepala sehingga dengan mudahnya Rumi bisa jelaskan semua. Ketiga orang itu makan satu meja. Menunya adalah dubokki dan sup jamur panas. Entah mengapa Rumi gelisah karena belum bertemu Jongin sama sekali untuk hari ini. Gadis itu mulai mencari-cari lagi.

“Um, aku akan pergi sebentar dulu.”

“Eoh, kau kan belum selesai makan. Mau kemana?” tanya So Eun dengan mulutnya yang menggembung penuh makanan. “Aku hanya mengambil serbet.” bohong Rumi. Perempuan itu meninggalkan meja dan mencari-cari Jongin dari meja-ke meja. Tetapi lelaki itu tidak ada dimana-mana. ‘Apakah dia tidak ikut?’. Rumi keluar dari rumah makan dan menuju parkiran bis –yang diparkir secara sembarangan disela-sela pohon. Dan ternyata Rumi menemukan lelaki itu.

“Rumi?”

“Jongin!”

Rumi menghambur kepelukannya dan merengkuh leher Jongin sampai-sampai lelaki itu hampir ambruk ke atas salju. “Aku kira kau tidak ikut wisata. Kenapa tidak makan dengan yang lain?”

“Aku tidak lapar. Kau sendiri kenapa disini?”

“Aku…mencarimu.”

Sebuah senyuman menggoda langsung tampak di bibir lelaki itu. “Jinjja? Mencariku?”

Rumi mengangguk dengan malu-malu. Tiba-tiba Jongin memeluknya erat kemudian melepasnya lagi. “Kau yakin tidak lapar?” tanya Rumi.

“Sekarang kau mencemaskanku begitu?”

“Yaa, cuaca yang terlalu dingin ini bisa membuat siapa saja mati kelaparan. Kurasa kau kau harus makan sekarang.”

“Kau mau aku makan?”

“Ne!”

“Ayo, kau yang harus menyuapiku Rumi.”

“Huh, aku tidak sedang bermain-main Jongin.”

“Aku juga tidak bermain-main.”

Rumi mendengus. Tiba-tiba ponselnya bunyi. Ada sebuah pesan masuk. ‘Kau mencari serbet atau sedang mencari jarum ditumpukan salju eoh?’ –So Eun.

“Aish, dia menganggu momen ini saja.”

“Nugu?” tanya Jongin.

“So Eun. Yasudah jika kau memutuskan untuk tidak makan. Aku akan kembali ke meja dan meneruskan acara makanku. Da Jongin!” Rumi tersenyum sekilas lalu kembali ke meja makan. Ternyata kedua orang itu sudah menghabiskan makanannya.

“Hei Rumi. Kemana saja kau? Chanyeol hampir saja menghabiskan dubokkimu.”

“Um maaf, aku…”

“Sebaiknya cepat kau habiskan itu. Dobokkimu sudah dingin sejak tadi.”

“Eoh? Benarkah?”

Ternyata benar. Makanan itu sudah dingin. Tapi mau bagaimana lagi, Rumi lapar dan menghabiskannya. Dia sedang mementingkan masalah perut saat ini.

“Kau kemana saja?” tanya Chanyeol digin.

“Aku… bukannya aku sudah bilang mengambil serbet?”

“Lalu dimana serbetnya?”

‘Aduh!’ pekik Rumi dalam hati sampai-sampai hampir tersedak kuah.

“Aku ternyata terlambat. Terlanjur mengantri lama ternyata kehabisan.” Rumi cengengesan. Hati Chanyeol bagai retak mendengar jawaban itu. Dia tahu Rumi sedang berbohong. Gadis itu memang tidak sedang mengantri serbet. Namun, salahkan Chanyeol yang terlalu sabar. Lelaki itu hanya diam dan menutup mulut. Menyerang Rumi dengan tuduhan baginya bukan hal yang patut. Bukankah semua orang berhak berbohong. Lagi pula ini pertama kalinya dia menyadari Rumi benar sedang membohonginya. Gadis itu memang sangat polos, berbohong saja tidak bisa. Dengan mudah orang lain akan tahu jika apa yang sedang Rumi katakan itu dusta.

Usai makan seluruh rombongan bersiap untuk kembali meneruskan perjalanan. Namun,

“Eh, kenapa tiba-tiba aku ingin pipis?” bisik Rumi pada So Eun.

“Hah? Cepat kembali ke restoran dan kencing. Sebenar lagi bis akan berangkat.”

“Hah iya iya!” Rumi berlari terbirit-birit.

“Kemana lagi gadis itu?” tanya Chanyeol.

“Dia buang air kecil.”

“Memangnya disana ada toilet?”

“Um, tidak tahu.”

Rumi berlari menuju rumah makan dan bertanya kepada ajuma yang berjaga disitu. Betapa sialnya Rumi. Disana tidak ada kamar kecil. Bagaimana bisa?

“Hah tidak ada kamar mandi? Toilet?”

“Maaf nona, tidak ada.”

“Lalu bagaimana cara kalian buang air?… Aduh, yasudah… aku akan cari tempat. Kamsahamnida…!” Rumi membungkuk 45 derajad sebelum berlalu meninggalkan restoran. Dia berlari kebelakang restoran. Jauuuh disana. Tempat yang jauh dari rombongan. Mungkin dia bisa kencing dibawah pohon atau dibalik bukit salju. Rumi berjalan sejauh mungkin sampai bis-bis dan restoran itu tidak tampak di penglihatannya. Hanya kabut yang ada.

Rumi tersenyum dan menurunkan celananya dibalik pohon.

-o-o-o-

“So Eun-ah, ayo naik! Bis akan berangkat!” teriak Lim Songsaenim yang kini berdiri diambang pintu bis. “Aniyeo, kita harus menunggu Rumi! Dia masih buang air!” jawab So Eun dengan asap putih yang mengepul dari mulut. Chanyeol pun masih berdiri disampingnya. Kini tinggal mereka yang berada diluar bis.

“Memangnya dia kencing dimana?”

“Dia ke restoran dan mencari toilet.”

“Kalau begitu coba kau jemput dia So Eun!”

“Ah, ne Sonsaenim!” So Eun membungkuk. Lalu perempuan kecil itu menuruti apa yang Lim Sonsaenim katakan. Dengan secepat mungkin So Eun ke restoran. “Eh, Ahjuma… silyehajiman… apakah ahjuma melihat teman saya? Apakah dia disini?”

“Gadis yang memakai mantel putih yang kebesaran itu?”

“Iya!”

“Oh, tadi dia ingin menumpang buang air disini. Tapi karena kami tidak punya toilet, jadi dia pergi.”

Mata So Eun membulat. “Kemana memangnya?”

“Mencari tempat katanya.”

“Mencari tempat? Aduh, sebenarnya dimana perempuan itu…” gumam So Eun sambil menggaruk kepalanya dengan risih.

“Sebaiknya kau cari dia. Hari-hari pertama musim dingin ini membuat kabut biasa membutakan arah di hutan ini.”

So Eun ngeri mendengarnya. Sebaiknya mungkin memang begitu, dia harus segera mencari Rumi. “Yasudah, mian mengganggu.. Aku akan mencari Rumi!” So Eun angkat kaki dari sana.

-o-o-o-

Rumi kembali berdiri dan mengancing celana bluderu hitam yang dia kenakan. Tetapi pada saat itu juga Rumi bingung. Ke arah mana dia harus kembali? ‘Eh, tadi aku lewat mana ya?’ pikirnya. Rumi berputar sejenak dan mengamati sekitar. Tempat ini begitu asing baginya, apalagi ini pertama kalinya Rumi kemari. Tiba-tiba Rumi merasa jantungnya berdetak cepat. Bagaimana jika dia benar-benar tersesat? Dia akan kehilangan teman-teman dan orang-orang yang dia sayangi. Dia tidak akan bisa pulang dan kembali menjadi Rumi yang dia kenal. Dia akan selama-lamanya menjadi orang asing yang tidak terurus disini.

Oh tidak, membayangkannya saja sudah membuat Rumi ketakutan. Perempuan itu gugup dan menggigit kuku-kukunya yang mulai keropos. ‘Kemana aku harus pergi ya Tuhan?’ Rumi mencoba mengingat-ingat lagi dan akhirnya dia kembali menemukan ingatannya walau itu samar-samar. Dia berjalan ke Timur. Padahal seharusnya ke Barat.

-o-o-o-

“Gawat! Gawat!” teriak So Eun dengan nafas terengah-engah. Dia membungkuk beberapa saat untuk kembali mengembalikan nafas yang tadi sempat kehabisan karena berlari ditengah salju.

“Ada apa So Eun? Kau membuat kami cemas saja!” balas Lim Sonsaenim.

“Rumi… Rumi!”

“He-eh? Rumi kenapa?”

“Dia tidak ada disana! Restoran tidak memiliki kamar kecil, jadi katanya Rumi mencari tempat buang air!”

“Tapi dia sudah pergi terlalu lama.” cetus Chanyeol.

“Ne. Dan hutan ini akan semakin berkabut jika suhu semakin rendah. Bagaimana jika Rumi…” tambah ketua kelas mereka.

“Aish! Dong So! Kau jangan bicara begitu!” So Eun berteriak.

“Tapi benar apa kata Dong So, dan mungkin sebentar lagi akan ada hujan salju.” ucap Lim Sonsaenim lirih. Suasana diantara rombongan itu semakin memanas. Hening terasa menyelubungi atmosfer sekitar. Hingga akhirnya Chanyeol membuka mulut.

“Aku akan mencari Rumi!” ujarnya sambil melepas tas beratnya dan memberikannya pada So Eun.

“Eh, Chanyeol.”

“Tidak aku saja!” tiba-tiba seseorang menyahut dan keluar dari kerumunan rombongan. Jongin. Jongin memakai mantel hitam yang begitu tebal sampai-sampai dia terlihat gemuk jika mengenakannya.

“Tidak, biarkan aku saja!” sahut Chanyeol lagi.

“Sebaiknya aku yang mencari Rumi.” Jongin menarik bahu Chanyeol.

“Jangan mencegahku Jongin. Aku yakin bisa menemukannya!” Chanyeol menatap Jongin dingin lalu menampik tangan di bahunya. Lelaki itu berlari ketengah hutan. Jongin tidak mau kalah dan mengikuti Chanyeol.

“Hei kalian sebaiknya…,” Dong So bersiap mengekori Jongin dan Chanyeol, tetapi Lim Sonsaenim terlebih dulu menahan dada Dong So. “Biarkan. Biarkan mereka yang mencari Rumi.”

-o-o-o-

“Uhuk, uhuk!” Rumi terbatuk sambil mengelus kedua lengannya. Mantel gadis itu telah basah oleh tetesan salju. Suhu semakin dingin dan membuat rahang bawahnya bergetar sehingga menimbulkan bunyi tabrakan antar gigi. Rumi gemetaran dengan bibir pucatnya. ‘Aku yakin pasti sampai… aku yakin ini jalannya.’ pikirnya sambil terus menguatkan diri.

‘Bruk’

“Ashh!” pekik gadis itu ketika dia tersandung longsoran salju dan mencium dinginnya tanah bersalju. Kakinya ngilu dan kesemutan. Dingin yang terus menusuk kulitnya nyaris membuat Rumi hipotermia. Rumi memijat tulang keringnya dengan jemarinya yang sudah keriput karena dingin.

“Aauh…” rintihnya parau. Rumi berusaha bangun lagi dengan dibantu kedua lengan. Dia sudah merasa tidak kuat. Butiran-butiran salju mulai turun menjatuhi rambut panjangnya yang tergerai. Perempuan itu tumbang lagi karena kehabisan tenaga. Tubuh kecilnya sangat tidak memungkinkan untuk menembus kabut-kabut ini dan keluar dari hutan.

Ya, kini dia berfikir bila sebentar lagi hidupnya akan berakhir disini. Diantara salju-salju. Namun sebelum itu sebuah suara terdengar dari kejauhan.

“Rumi! Rumi!”

“Chanyeol…” gumam Rumi dengan bibirnya yang bergetar.

Lelaki itu berlari kearah Rumi dengan tergesa-gesa sampai dia hampir terjatuh. Rumi merasa tersentuh. Ternyata masih ada yang memedulikannya dan mencarinya. Chanyeol segera mengalungkan tangan gadis itu ke lehernya dan menggendong Rumi dengan kedua tangan. Tubuh Rumi terasa ringan baginya, jadi itu bukan masalah jika harus membawa gadis itu dan berjalan diatas salju apalagi dengan cuaca membunuh seperti ini.

“Bagaimana, bagaimana kau bisa temukan aku Chanyeol…?” tanya Rumi lirih. “Sst, sudahlah… simpan saja energimu untuk bernafas. Aku harus segera membawamu keluar dari hutan ini atau kita bisa mati bersama-sama ditempat ini.”

Rumi terbungkam. Dia berlindung diceruk leher Chanyeol yang hangat dan wangi. Bau lelaki ini terasa seperti madu, dan Rumi rileks dengan itu.

-o-o-o-

“Rumii!” panggil Jongin kencang hingga suaranya menggaung. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Jongin tidak menemukan siapapun di hutan itu. Jongin belum menyerah dan tidak akan menyerah. Dia harus menemukan Rumi. Jongin sangat cemas kepada Rumi sampai-sampai tidak memedulikan kondisinya sendiri. Perutnya keroncongan dan dadanya mulai sesak. Jongin pucat. Namun itu bukan apa-apa baginya. Dia tidak akan kembali sebelum menemukan Rumi, perempuan yang dia cintai. “Rumi!” Jongin berteriak sekali lagi dan membiarkan suara paraunya menggaung keseluruh hutan. Suaranya hampir habis dan hal itu sama sekali tidak dia hiraukan.

Jongin terus berjalan sendirian ditengah hutan bersalju dengan kondisi seperti itu. Sampai akhirnya dia jatuh dengan nafas terengah-engah. Untuk saat ini hanya daa satu nama dibenaknya, yaitu Rumi. Hanya Rumi. Rumi. ‘Rumi…’ Jongin menggumamkan namanya.

Tanpa terasa darah keluar dari hidung lelaki itu. Darah segar yang menetes diatas salju dan meresap disana seperti cairan pewarna yang dituangkan keatas kapas. Darah Jongin terus menetes tanpa dia rasakan. Pandangan Jongin berkunang-kunang sudah. Lengannya melemas tidak kuat menyangga diri yang mulai kehilangan kesadaran.

Salju putih itu telah berubah warna menjadi kemerahan.

‘Rumi, kau dimana?’

Badannya ambruk disana. Ditengah kabut yang semakin lama semakin tebal.

O – O – O – O – O

CHAPTER 13

Author’s POV

“Chanyeol… aku,… ini dingin sekali.” ujar Rumi gemetaran. Suhu yang begitu menusuk itu membuat tubuh kecilnya semakin lemah dan hampir pingsan ditangan Chanyeol. Chanyeol tidak tega melihat Rumi. Jaket tebal perempuan itu sudah basah dan akan sangat berbahaya jika terus dikenakan.

“Rumi, berdiri dan berpeganganlah pada tubuhku.” Chanyeol menurunkan Rumi diatas salju lalu melepas mantel perempuan tersebut. Kemudian Chanyeol melepas jaket yang dia kenakan dan memakaikannya ke tubuh beku perempuan dihadapannya. Rumi terkesiap. Perempuan itu melihat Chanyeol dengan tatapan penuh tanya. “Chanyeol, lalu kau…,”

“Jangan pikirkan aku.” Chanyeol kembali menggendong Rumi sambil menggenggam jaket basah yang tadi dia lepas. “Aku kuat, aku seorang lelaki.” lanjutnya tanpa menghiraukan Rumi yang sebenarnya cemas pada Chanyeol.

“Chanyeol turunkan aku.” pinta Rumi.

“Ani.”

“Chanyeol!”

Chanyeol berjalan semakin cepat menembus butiran-butiran putih bersih yang menghujani langkahnya. Kabut semakin membutakan penglihatan tetapi itu tidak dihiraukan. Pada akhirnya mereka menembus hutan itu dan langsung disambut oleh puluhan pasang mata yang sedari tadi menunggu.

“Turunkan disini Chanyeol!” pinta Lim Sonsaenim sambil menunjuk sebuah kursi lipat yang berdiri disampingnya. Chanyeol menaruh tubuh lemas Rumi disana sambil mendesah lirih dikarenakan bahunya yang kaku dan lengannya yang terasa hampir patah. Meskipun kurus seperti itu, Rumi tetap terasa berat. “Jongin belum kembali, aku kira kalian mencari bersama.” sahut So Eun.

“Mwo?!” secara tiba-tiba suara parau Rumi terdengar menengahi sehingga suasana menjadi hening. Mereka semua menatap Rumi. “Jadi, Jongin juga mencariku?” tanya Rumi disela-sela kesunyian. “Biarkan Chanyeol dan Dong So yang mencari Jongin.” cetus So Eun cepat. Tetapi pada saat itu juga Rumi bangkit sambil berpegangan pada kursi. Berusaha menegakkan tulang belakangnya yang kurang bersahabat untuk diajak berjalan jauh lagi. Walau bagaimanapun, kondisi Rumi masih sakit. Tetapi begitu mendengar nama Jongin, terasa sesuatu dalam dirinya yang tergugah.

“Aku harus cari Jongin. Udara hutan sangat dingin!” Rumi melangkah tertatih-tatih. Chanyeol segera menangkap bahu gadis itu. Bagaimana bisa perempuan itu langsung sehat hanya karena mendengar berita bahwa saat ini Jongin sedang tidak disini dan mencarinya. Sudah mati-matian Chanyeol berkorban tenaga dan nyawa untuk menemukan Rumi, sekarang…., perempuan itu malah berjalan lagi melawan arus dengan tubuhnya yang tinggal tulang hanya untuk mengambil sebuah pelampung yang tertinggal ditengah laut. Terkadang Chanyeol tidak mengerti apa yang ada didalam kepala Rumi.

“Rumi! Kau masik sakit!” Chanyeol meremat lengannya dengan kuat sampai-sampai menyakiti Rumi. Asap mengepul dari kedua lubang hidungnya. Matanya memerah dan lelaki itu terlihat marah.

“LALU AKU AKAN DIAM DISINI DAN MEMBIARKAN JONGIN YANG TERSESAT BEGITU?” Rumi mengibaskan tangannya. Keadaan gadis itu sama dengan Chanyeol, lebih parah bahkan. Rambutnya berantakan dan kulitnya memucat. Namun sorot mata meyakinkan itu yang membuat ucapannya tidak berarti main-main.

“KAU BISA MATI DI TENGAH HUTAN!” kali ini ganti Chanyeol yang membentak sambil terus menahan lengan gadis yang paling dicintainya itu. Air mata menggenang disana. Perasaannya mencelos mendengar perkataan Rumi yang terasa seperti jarum. Chanyeol sudah bertaruh nyawa demi Rumi, dan Rumi tidak menghargai pengorbanannya itu.

“KAU KIRA AKU PEDULI? JONGIN DALAM BAHAYA!” Rumi mengibaskan lengannya untuk yang kedua kali.

“JANGAN BERTINDAK BODOH!” mata Chanyeol benar-benar mengeluarkan air mata namun Rumi sama sekali tidak tersentuh dengan hal itu. Nama Jongin sedang memenuhi pikirannya.

“Lepaskan aku, Chanyeol! Kenapa tidak sejak tadi kau katakan bila Jongin juga ikut campur tangan dalam masalah ini? Aku harus mencari Jongin! Ini jaketmu.” Rumi melepas jaket yang dia kenakan dan memberikannya pada Chanyeol. Kemudian gadis itu berlari kembali ke tengah hutan dengan nafasnya yang sesak dan tak beraturan.

“Rumi! Rumi!” panggil So Eun sambil mengejar perempuan itu. Chanyeol menjatuhkan jaket yang dia kenakan kemudian mengikuti kedua perempuan yang telah mendahuluinya. Mereka bertiga berlarian. Rumi terus memanggil nama Jongin berkali-kali tetapi tidak mendapat jawaban. Air mata mulai membasahi pipinya yang memanas. Beribu banyangan kelam tentang Jongin terlintas di otaknya dan semakin mengirimkan rasa cemas akan lelaki yang paling dia cintai itu. Rumi kembali mencari dan mencari bersama So Eun dan Chanyeol yang ada dibelakangnya.

“Jongin! Jawab aku Jongin!” teriak Rumi dengan suara seraknya yang mulai habis. Dia menangis lagi disela-sela teriakan. Hati Rumi panas. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Jongin ditengah kabut dan suhu yang bisa membunuh siapa saja ini. Jongin belum makan siang dan sekarang sudah mulai sore. Itu yang membuat Rumi semakin resah.

“Jongin!” So Eun ikut memanggil. Sedangkan Chanyeol diam bersama pikiran yang bergulat dengan emosinya sendiri. Ada setitik rasa kecewa kepada Rumi. Dan kali ini dia mulai curiga, ‘Mengapa Rumi begitu mencemaskan Jongin?’

“Hei! Itu! Itu Jongin kan?!” teriak Rumi sambil menunjuk titik hitam di kejauhan. Perempuan itu menunjuk lelaki yang tergeletak dengan jaket hitam tebal yang kempes karena basah. Rumi berlari kesana diikuti So Eun dan Chanyeol. “Jongin! Jongin! Yaa, ini memang benar Jongin… Jongin bangun! Kau dengar aku.” Rumi membalik tubuh berat lelaki itu dan nafasnya langsung tercekat begitu melihat darah yang melumuri sebagian wajah lelakinya.

“Jongin!….” suara Rumi semakin rendah begitu air mata berlinang lagi lalu menetes ke dada Jongin. “So Eun! Chanyeol! Bantu aku! Jongin sakit!”

Dan pada saat itu juga hati Chanyeol yang sudah retak kini mulai pecah menjadi kepingan kecil-kecil yang lancip yang mampu menusuknya sendiri.

O – O – O – O – O

Rumi’s POV

Semua rombongan sudah sampai di villa tempat kami menginap. Kini semua siswa sedang bermain salju dan sky diluar. Tetapi tidak denganku. Aku duduk disamping ranjang tempat dimana Jongin sedang terbaring sekarang. Pemanas ruangan serasa tidak berfungsi karena kalah oleh suhu mengerikan ini. Karena itu Lim Sonsaenim memerintahkanku untuk menyalakan tungku di cerobong pemanas. Kuperas handuk yang kugunakan untuk mengompres lelaki itu. Kubiarkan Jongin tertidur dengan dua lembar selimut tebal yang kupinjam dari ranjang Chanyeol. Bibir Jongin masih pucat dan kulit kecoklatannya tampak kering. Ini semua karena aku. Aku yang salah! Aku yang membuat Jongin jadi begini. Kata Lim Sonsaenim Jongin tidak tahan dengan udara dingin sehingga dia bisa mimisan dan mengalami gangguan pada paru-paru. Aku sempat cemas, tetapi Lim Sonsaenim segera menjelaskan jika itu hal biasa bagi sebagian orang. Apalagi Jongin belum makan. Yah, semoga saja lelaki ini cepat sadar. Dia pasti sangat mencemaskanku pada saat itu.

Kusandarkan kepalaku pada tepian ranjang sambil memandangi Jongin. Sudah hampir satu jam aku disini dan menyalin kompres untuknya tetapi lelaki itu tidak kunjung membuka matanya.

“Jongin… Jongin…” panggilku lirih alih-alih hanya membisikkan namanya untuk kudengar sendiri. Namun lelaki itu belum juga bangun. Aku sangat haus akan senyumannya dan tingkah kekanak-kanakan Jongin yang begitu lucu. Belum lagi ketika lelaki itu berubah menjadi super pervert dan memperlakukanku sampai aku tidak bisa berkutik dihadapannya. Jongin juga bisa menjadi lelaki yang paling mencemaskanku dan selalu berusaha melindungiku. Dia bisa menjadi apa saja, menjadi segala hal yang paling kucintai, dan segala hal yang paling kubenci. Dia itu Jongin. Lelaki yang kucintai.

Kuputuskan untuk keluar dan melihat kondisi diluar villa. Dari tadi terdengar suara gelak tawa dan teriakan bahagia dari teman-teman yang sedang bermain salju. Untuk sesaat aku merasa cemburu karena tidak ikut meramaikan suasana dan ada disana. Tetapi disisi lain, aku lebih menginginkan berada disini bersama segumpal rasa bersalahku. Dan, satu lagi, bersama Jongin.

Namun ketika aku bangun dan menghembuskan nafas pada saat itu juga kerasakan sebuah tangan yang hangat menangkap pergelanganku dengan gerakan kesit. Aku hafal rabaan kulit dan jemari besar ini. Kulemparkan pandanganku kepada sesosok lelaki yang sedari tadi terbaring dengan kompres dikeningnya itu. Jongin sudah sadar.

“Mau kemana kau?”

“Jongin…”

“Jangan tinggalkan aku.”

“Jangan bilang jika kau sudah bangun sejak-“

“Rumi, aku mau kau disini.”

Kuhembuskan nafas panjang. Kuatur kembali detak jantung yang tadinya sempat beradu cepat begitu menyadari jika Jongin sudah sadar sejak tadi dan dia hanya pura-pura pingsan. Aku kembali duduk.

“Kau tidak tahu seberapa besar rasa cemasku hah?” bentakku sambil mengerucutkan bibir. Aku sebal karena merasa dipermainkan begini. Mengapa tidak sejak tadi dia membuka mata padahal dia sudah sadar? Ugh.

“Haha, aku hanya menikmati itu.” Jongin tertawa renyah dengan suaranya yang terdengar seperti sedang flu. Yah, kurasa dia memang sedikit flu dan hidungnya sempat tersumbat. Kulirik Jongin dengan sudut mataku. “Menikmati apa yang kau maksudkan?”

“Rasa sayangmu itu. Kau terus mengelusku dan memandangiku. Sampai-sampai aku nyaris goyah dan tertawa.”

“Itu tidak lucu Jongin.”

“Kau yang lucu. Ayolah sini peluk aku.”

“Aniyeo. Aku mau pergi!” aku bersiap pergi tetapi lelaki itu kembali menarik lenganku. Dan betapa memalukannya, kali ini aku mendarat tepat diatas dada lelaki itu. Jongin tersenyum dengan lembut.

“Kau lupa mengapa aku bisa jadi begini? Itu karena kesalahanmu.” telunjuknya yang hangat mendorong ujung hidungku.

Ini pertama kalinya kudengar Jongin menuduhku, tetapi mengapa kata-kata itu malah terdengar begitu mesra ditelingaku. Nafasku kembali tidak stabil disertai detak jantung yang memburu. Ya, ini salahku.

“Kau harus bertanggung jawab padaku Rumi.”

Aku diam saja.

“Ayo sini, kau harus tidur disampingku dan menemaniku hingga aku benar-benar sembuh.” kata-kata itu serius tapi terdengar konyol.

“Jongin tidak disini. Ini ruang lingkup sekolahan. Lim Sonsaenim bisa memergoki.”

“Memangnya apa yang akan dia lakukan setelah itu?”

Oh baik. Bahkan aku belum memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk menghukum Jongin yang sedang sakit. Jongin tersenyum lagi dan kali ini mendorongku hingga aku ambruk dan terlentang disampingnya. “Jongin!” pekikku. “Suster, aku masih sakit temani aku!” rengeknya seperti bayi sambil ber-aegyo.

Dasar! Mukanya yang sok imut itu sangat tidak cocok. Bayi monyet pun pasti akan menangis sesenggukan jika melihat wajah mengerikannya. Tadi aku berharap kesadarannya kembali, tetapi begitu hal itu sudah terjadi aku menjadi berharap dia kembali pingsan.

“Siapa suruh kau mencariku dan membiarkan parutmu yang kelaparan ditengah hujan salju. Kau tidak tahu berapa liter darah yang keluar dari hidungmu kan?” tanyaku sadis.

“Yaa, suster… kalau begitu obati aku….”

Kalimat itu membuatku ingin huek. Aku ingin huek sekarang. =o=

“Jongin, ijinkan aku muntah.” ujarku.

“Dan meninggalkanku sendiri disini sendirian begitu?”

“Ayolah Jongin, kau ini masih sakit.” aku berusaha melepaskan cengekramannya namun kali ini dia malah merapatkan tubuh kami.

Tidak tidak tidak! Muka mesum itu. Kenapa muncul di saat yang tidak tepat. Aku benar-benar ingin muntah sekarang juga. Jongin menatapku penuh arti.

“Rumi.”

“Hm.”

“Cium aku.”

“Hya? Apa?”

“Cium aku Rumi.”

Apakah lelaki ini main-main? Ah, tapi dia kan tidak pernah bermain-main.

“Jongin! Tadi kau memintaku untuk berbaring disampingmu, sekarang kau memintaku untuk menciummu, lalu kau ingin apa lagi huh? Sudah cukup!”

“Untuk kali ini saja aku minta kau cium aku” kali ini Jongin berbisik membuat seluruh tubuhku meremang. Ada apa ini? Kenapa aku merinding? Bisa kurasakan aroma maskulin dari tubuh lelaki itu. Bau rambutnya yang sangat segar. Rahang tegas Jongin yang membingkai wajah tampannya. Kini kedua manik bijih kopi itu menyorot tajam kearahku dari jarak yang tidak lebih dari dua inci ini. Aku terbakar. Kobaran api dalam diri Jongin seakan tertransfer melalui matanya sehingga menyulut tungku dalam diriku. Aku mendadak panas.

“Ayolah Rumi, cium aku.”

Aku terhipnotis. Dada kami yang berhimpit sama-sama naik turun degan cepat. Aku khawatir dia bisa mendengar debum jantungku yang berlebihan. Dengan perlahan kututup kedua mataku dan mendekat ke wajah Jongin yang sudah siap sejak tadi. Kami saling bertukar nafas. Kulandaskan ujung bibirku tepat disana. Di kulit bibir tebal Jongin yang hangat. Tetapi sebelum aku yang mulai, dia terlebih dulu melahap kedua lapis bibirku dan menghabisinya hingga aku terbelalak. Kenapa dia sangat tidak sabaran?

Kurasakan senyuman Jongin yang mendorongku semakin dalam pada lingkaran panas. Aku memberontak tetapi lelaki itu segera menggenggam daguku dan membawa dalam kenikmatan ini. Tubuhku yang semula begitu dingin kini dalam hitungan detik langsung terbakar habis oleh api dari lelaki ini. Apinya yang terlalu besar berhasil membawaku kedalamnya.

O – O – O – O – O

Author’s POV

Chanyeol berbaring di ranjang Rumi dengan malas sambil menyandarkan kepala diatas kedua tangannya. Sedari tadi dia mengobrol bersama So Eun tentang ini dan itu. Chanyeol masih merasa kecewa pada Rumi karena masalah tadi.

“Eh, kurasa aku mulai lapar lagi. Udara dingin seperti ini mungkin akan membuatku obesitas hanya dalam satu minggu.” So Eun menggenggam lingkar pinggang kurusnya. Chanyeol tertawa kecil mendengar itu. Lucu memang, bahkan tubuh So Eun sangat kecil dan langsing tetapi gadis itu mengeluh masalah obesitas. “Kalau begitu sana pergi makan.” timpal lelaki itu.

“Baiklah, kau juga mau kuambilkan makanan?”

“Ani. Kau saja.”

“Ne, aku akan makan.” So Eun keluar dari kamar meninggalkan Chanyeol sendirian didalamnya.

Chanyeol mengamati sekitar dan melihat-lihat barang-barang yang tertata diatas meja Rumi. Pandangannya berhenti begitu melihat sesuatu. Sebuah buku kecil dengan sampul merah jambu. Tangan Chanyeol meraihnya tanpa pikir panjang. Dengan perlahan Chanyeol membuka lembar pertama dan selanjutnya. Disana tertera nama Rumi dan segala biodatanya yang tertulis dengan pulpen glitter warna ungu. Chanyeol tersenyum melihat stiker Piglet yang ada disamping foto Rumi ketika masih kecil.

Chanyeol mulai membuka halaman selanjutnya. Masih sama isinya hanya data diri seperti nomor sepatu, makanan favorit, lagu favorit, dan apa saja yang Rumi sukai. Kali ini lelaki itu membali halaman hingga menemukan beberapa catatan. Dan baru Chanyeol sadari jika ini diary.

Dear Pink,

Kurasa hari ini salah satu hari paling menegangkan yang pernah kualami seumur hidup.Seperti apa yang telah kurencanakan kemarin, aku taruh surat itu ditas milik Kim Jongin ketika dia sedang bermain bola basket sendirian di lapangan. Meskipun itu sangat susah payah dan pada awalnya ragu untuk kulakukan, tetapi akhirnya aku bisa memasukkannya.

Tetapi usai itu,

aku ketahuan! Ugh! Kenapa bisa ketahuan sih?

Akhirnya Jongin mengejarku! Ya!! Lelaki yang kupuja-puja dan paliiiing kucintai itu terlibat saling kejar dengan diriku. Untung tidak tertangkap! Aku berhasil kabur! Dan sekarang aku sudah lega! ^^

 

Dear Pink Diary,

Kacauuu! Kacau! Kacau!

Tadi lelaki itu membawaku kesebuah cafe dan menyuruhku untuk mengakui semuanya! Hingga pada akhirnya aku menyatakan itu! Aku memang mencintainya.Kuharap dia tidak mempermainkanku seperti perempuan lain yang pernah dia buat mainan!

Agh!!! Aku sedang malas menulis! Mungkin hanya itu untuk hari ini! Sebal!

Tangan Chanyeol berkeringat membacanya.

“Jadi Rumi selama ini kau… kau mencintai Jongin?” gumamnya dengan air mata yang berlinang. Chanyeol menaruh benda itu diatas kasur dan termenung selama beberapa saat. Dia berharap ini hanya mimpi buruk yang pernah datang dalam tidurnya. Tetapi tidak. Chanyeol tahu bila ini kenyataan dan dia belum bisa memercayai apa yang sudah dia baca. Remuk sudah perasaan Chanyeol. Seperti sebuah batu keras yang kejatuhan mata kapak sehingga pecah tak karuan. Chanyeol sesak dan meremas sweater yang dia kenakan.

Dia selama ini mencintai Rumi. Dia menyayangi perempuan itu lebih dari apapun. Dia suka mendapatkan perhatian lebih dari Rumi. Chanyeol senang berada didekat perempuan itu dalan segala situasi. Dia bisa menerima Rumi dengan segala kekurangannya. Chanyeol selalu bahagia setiap melihat senyuman Rumi, tawanya, kedipan matanya yang selalu bisa menyihirnya, juga tawa Rumi yang begitu hangat. Ternyata selama ini, Chanyeol hanya sebagai sahabat. Ya ‘SAHABAT’. Tidak lebih dari itu. Hanya seorang sahabat laki-laki yang selalu bisa mengisi waktu dengan kegembiraan. Pupus sudah harapan Chanyeol seolah harapan itu sudah diterjang deburan ombak besar hanya dalam hitungan detik. Chanyeol menangis sendirian dalam diamnya. Meresapi seberapa besar luka dalam dirinya yang menganga lebar dan mengeluarkan darah.

To be cont


Udah ya…

ini wifinya nyolong dari LBB jadi

kata-kata terakhirnya…

KOMENTAR DITUNGGU! :*😄😀

23 responses to “[Chapter 12+13] Fleas Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s