HIMITSU (1)

himitsu_by_geekazuko0

Title: HIMITSU

Author: Gee Kazuko (@geesandrj)

Cast(s): Yamazaki Kento, Krystal Jung, Kim Jongin (Kai EXO), Ayame Gouriki, Kiriyama Ren, OCs.

Genre: Action, Crossover, Fantasy, Friendship, Hurt/Comfort, Sci-fi

Length: Chaptered

Rating: PG-15

Disclaimer: I do not own their characters. They belong to themselves. I just own the plot and OC. So, please don’t sue me!

————————————————–

HIMITSU

————————————————–

: Setiap orang punya cerita yang ia simpan untuk dirinya sendiri.

Kedai ramen itu dinamakan Himitsu[1]. Pemiliknya adalah seorang pria berkacamata, masih lajang dan tampan. Ia orang yang sangat ramah dan menyenangkan. Tentang nama itu, Kiriyama membuat kedainya memang benar-benar punya privasi. Tidak ada yang tahu sejak kapan kedai itu didirikan juga asal usul pemiliknya. Tidak ada yang tahu persis Kiriyama Ren berasal dari daerah mana. Ia mengaku dari Osaka, kuliah di bidang kuliner dan melajang. Usianya sudah masuk kepala tiga, namun ia tetap nyaman dengan keadaannya yang sekarang.

Para pelayan di tempatnya tak pernah dibiarkan mengetahui bumbu rahasia di dalam mangkuk ramennya. Kiriyama selalu membuat ramen-ramen pesanannya itu sendirian. Ia tidak kenal lelah. Demi para pelanggan ia akan memberikan kerja kerasnya. Kabarnya setiap pelanggan yang datang akan selalu terngiang akan rasa lezat ramennya, hingga keesokan harinya akan datang lagi dan lagi.

Desain kedainya biasa, namun letaknya terbilang sukar dijangkau. Berada di tengah-tengah lorong gang sempit Kyoto, di samping kedai-kedai teh dan toko barang antik. Tempat yang tidak terekspos. Terkadang ada yang mengusulkan untuk pindah tempat atau membuka cabang baru. Namun, Kiriyama hanya tersenyum.

Kabarnya Kiriyama selalu tidak pulang saat kedainya di tutup. Entah ia pergi kemana. Orang-orang ada yang melihatnya masuk ke okiya, tapi itu mustahil untuk dirinya kecuali jika ia memang mendapat undangan dari orang penting. Dilihat dari perawakannya, ia mungkin orang kaya yang menyisih di himpitan gang-gang sempit Kyoto yang tenang.

Namun ini bukan kisah tentang Kiriyama dan kedai ramennya. Ini adalah kisah mengenai pegawai paruh waktu yang selalu membuat kedai ramennya ramai tiap sore hingga malam. Adalah Yamazaki Kento, pemuda tahun terakhir di SMA Kyoto. Seorang juara kelas, pernah menjuarai lomba lari tingkat nasional dan terkenal di antara para gadis. Kebanyakan pengunjungnya adalah murid perempuan dari sekolah yang sama dengannya. Terkadang juga dari sekolah lain. Bahkan ia pernah hampir dibuntuti hingga ke jalan menuju rumah. Kento tak peduli dengan mereka. Mereka tidak akan pernah menemuka rumahnya. Kento sudah berjanji akan hal itu pada seseorang yang ada di rumah. Jadi saat ia menyadari ada seseorang yang mengikutinya, ia akan selalu mengandalkan kekuatan kakinya. Secepat kilat, mereka akan kehilangan jejak.

“Terima kasih untuk hari ini, Ken,” tukas Kiriyama. Kento yang sudah biasa dipanggil pendek begitu gegas menuju lokernya untuk berganti pakaian. Dari depan, Kiriyama masih berceloteh tentang gadis-gadis yang datang hari ini. Seperti biasa semua senang memuji ramen buatannya, tapi mereka datang hanya untuk melihat Kento. Sebuah keuntungan bagi Kiriyama membuat kedainya begitu laris.

“Ah, ini ada hadiah untukmu.” Tangan kekar itu mengansurkan bungkusan merah kecil dari meja kasirnya saat Kento keluar dari ruang ganti. Pemuda itu hanya menyampirkan tasnya di bahu, tak begitu tertarik.

“Seorang gadis memberikan ini sebelum keluar tadi. Untukmu, katanya.” Wajah Kiriyama benar-benar tersenyum separuh geli.

“Aku sedang tidak berulang tahun. Untukmu saja, Kiriyama-san.” Bungkusan warna merah itu didorongnya kembali pada Kiriyama. Kiriyama memekik senang sembari mengangguk. Berusaha menerima kenyataan bahwa ia tak sepopuler dulu sebelum Kento datang padanya.

“Jangan terlalu cuek, Ken!” Kento tak peduli. Ia pamit pulang. Dengan kembali berseragam sekolah, ia menuju pintu kedai. Namun, seorang gadis terlanjur muncul di sana.

“Maaf nona, kami baru akan tutup,” ujar Kiriyama dari balik meja kasir, membiarkan gadis itu mengamati apa yang salah dengan dirinya—kecuali tentang ucapan Kiriyama.

“Aku tahu,” ujar gadis itu, tersenyum ramah. Menimbulkan tanya di batin orang-orang sekitar. Kiriyama memperbaiki letak kacamatanya. Sekejap tatapan itu menyipit dengan ganjil. Sementara Kento tak ayal mengerling. Memerhatikan gadis yang berdiri di hadapannya.

Perawakan semampai, berbalut mantel abu yang terkesan mahal. Rambutnya tergerai indah di bahu, warnanya cokelat gelap. Manik matanya mengerjap berkali-kali, menatap seorang pemuda yang menghalangi jalannya.

“Hikari?!” Mata Kento membeliak, tatkala mengenali wajah gadis itu.

Kiriyama tersenyum tipis. Namun tiba-tiba terlonjak, menghampiri keduanya. Gadis itu mengernyit, mendengar nama yang terdengar asing di telinganya.

“Abe Hikari?!” tandas Kento, tanpa rasa ragu beringsut maju mengguncang bahu sang gadis. Gadis itu tergugu, mundur selangkah sembari mencoba menjauh dari pemuda yang menatapnya aneh itu.

Sumimasen—tapi namaku bukan Abe Hikari,” tuturnya, hati-hati. Kento menatapnya, separuh tak percaya. Memang tidak mungkin menemukan seorang gadis yang mirip dengan teman kecilnya dulu di kota ini. Tetapi wajah itu—Hikari seperti nyata kembali berdiri di hadapannya sebagai gadis remaja.

Perlahan genggaman itu melonggar. Kento menekur dalam-dalam. Menyadari ketidakmungkinan itu. “Gomennasai.” Ia kembali menatapnya. Memastikan sekali lagi bahwa ia salah. Namun, mata gadis itu sangat dikenalnya. Perlahan bayangan Hikari menyeruak begitu saja dari sana.

“Kento, kau baik-baik saja?” tanya Kiriyama, menepuk bahu pemuda itu.

Kento terdiam.

“Maafkan aku, Kiriyama-san,” tukasnya, berjalan gontai. Melangkah ke arah pintu yang beberapa waktu terbuka.

***

 

“To-chan! Ayo, kita main petak umpet!” Sebuah suara hadir saat Kento kecil tengah serius menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Kento hanya balas bergumam. Meminta Hikari untuk menunggu sebentar.

“Baiklah, kau yang jaga! Cari aku cepat!” Kento menoleh, dan dengan cepat gadis itu hilang. Awalnya Kento mencari di rumah. Di halaman. Bertanya pada Mama, tapi… Hikari tidak berkunjung hari ini, ujarnya. Kento tak percaya, jelas-jelas ia mendengar Hikari mengajaknya bermain. Ia berlari keluar rumah. Ke taman dimana mereka biasa bermain. Sepi. Tidak ada orang. Hanya ada sebuah mobil yang bergerak menjauh. Beberapa saat ia kemudian tersadar jika Hikari telah hilang.

Yamazaki-san

“Ya-ma-za-ki!” Suara serak itu berhamburan. Sekelebat Kento dapat merasakan napas Tanaka-sensei di dekatnya. Sekejap, matanya mengerjap enggan. Namun, ia buru-buru tersadar bahwa ia baru terlelap di jam yang tak seharusnya. Suara tawa berkelindap di sekelilingnya. Kai yang duduk di seberang mejanya diam-diam memasang cengiran khas.

“Apakah kau terlalu belajar keras semalaman?” suara Tanaka-sensei kembali menguar sarkastis.

Kento tertunduk sesaat, “Gomen—“

“Baca halaman ini.” Telunjuk pria paruh baya itu mengarah pada buku paket milik Kento yang lusut akibat jadi alas tidurnya.

“Meskipun kau juara umum, jangan lupa akan kewajibanmu di sekolah.”

Kento kerap tertidur di kelas. Setiap hari ia harus bekerja hingga pukul sepuluh malam. Lalu memastikan bahwa seseorang di rumahnya tidur dengan nyenyak. Itu jika ia tidak sengaja lupa menaruh obat-obatnya.

Paginya, ia harus menyiapkan sarapan. Mencuci pakaian. Juga membersihkan ruangan. Seseorang di rumahnya tidak bisa melakukan apapun kecuali menulis dan merawat anjingnya. Kebiasaan baru sejak Kento bekerja paruh waktu di kedai ramen milik Kiriyama. Mendengar nama itu, ada yang aneh dengan kebiasaan barunya. Terutama saat Kento membawakan ramen untuknya setiap Minggu. Aku tidak akan pernah memakannya, begitu ujarnya.

Sebenarnya orang itu tak pernah dikenalnya. Entah sejak kapan, ia jadi berurusan dengan orang itu. Kento mengingat-ingat kejadian pertama saat ia memutuskan untuk sekolah di Kyoto. Meninggalkan Tokyo dan pergi sendirian ke kota bersejarah ini.

“Kento!”

Kai menubruk lengannya dengan kaleng soda dari vending machine. Lamunannya buyar seketika. Kai merasa ada yang aneh dengannya. Namun, yang diperhatikan berlagak biasa, mereguk sodanya.

“Malam ini kau libur, kan?” Kai, anak seorang konglomerat dari Korea—karibnya sejak tingkat dua berujar tentang waktu senggang.

Kento diam saja, bersandar pada dinding. Memerhatikan para murid perempuan yang tak ia ketahui namanya berbisik-bisik mengelukan dirinya. Mereka bergerak menuju kantin.

“Aku mau kabur dari rumah.” Kento menoleh, tersenyum samar. Kai memang tidak pernah bercanda tentang rencana-rencana bodohnya. Entah apa yang kali ini pemuda itu pikirkan.

Pernah ia nekat ingin tahu seperti apakah hiburan di okiya. Ayahnya berteman dengan orang-orang kaya Jepang dan pejabat penting lainnya. Kai pernah menyelinap masuk ke bagasi ayahnya. Mengintai ayahnya yang kerap pergi ke Hanamikoji Dori. Saat ditanya apakah ia berhasil masuk ke okiya, ia selalu menggeleng. Saat aku sudah jadi pejabat, aku akan bisa masuk ke sana, begitu ia selalu mengelak.

“Ada apa?” bisik Kento.

“Tidak apa-apa. Aku hanya… bosan.” Kento menelisik wajah aneh itu. Bertambal plester di pelipis kanannya.

“Berkelahi lagi?” Kai tak mengindahkan. Ia malah menggoda seseorang gadis yang lewat. Kai bersiul, berharap gadis itu menoleh dan ia akan balas melambai. Namun percuma, gadis itu hanya melihat Kento. Kai terkenal sebagai murid bermasalah. Nilai-nilainya tak pernah membaik, perkelahian selalu jadi menyenangkan untuknya, absensinya juga buruk, ia terancam akan dikeluarkan jika terus begini.

“Kento—“ yang dipanggil masih mengamatinya.

“—kau pernah dengar tentang ‘pencuri’?”

“Apa kau akan berubah menjadi kriminal?” tandas Kento, tak peduli. Ia berpikir mungkin Kai tengah bermain-main dengan hidupnya lagi.

“Aku sedang bercerita.” Kai menoleh. Tersenyum tipis seperti biasa. Kali ini Kento memasang telinganya baik-baik. “Sebenarnya… aku seorang pencuri.” Kento tak berkedip mendengarnya.

“Pencuri seperti apa?”

Kai menyeringai. “Pencuri ingatan.”

Keduanya terdiam.

Sekejap Kai tertawa terbahak-bahak. Memegangi perutnya. Ia tak tahan, menunjuk wajah Kento yang merasa tertipu. Kemudian dilemparnya kaleng penyok yang ia rusak ke arah kotak di seberangnya. Sebuah lemparan yang jitu, tak heran ia tak pernah absen dalam klub basket.

“Kau lebih cocok jadi penipu,” seru Kento, mengernyit kesal.

“Lantas bagaimana jika itu sungguhan? A-ku, akan tahu rahasiamu.” Kai tak mau mengalah. Ia beringsut mendekat, kalau-kalau Kento mulai membuka tabir itu.

“Siapa gadis yang kau sukai. Dengan siapa kau pernah kencan dan… apakah kau sudah pernah melakukan ‘itu’?” tanpa sadar Kai bicara dan gemas sendiri. Kento hanya menggeleng heran.

“Aku tidak punya rahasia apapun.” Dalam sekali napas, nyali Kai lisut. Entah sampai kapan ia akan terus bermain-main dengan pemuda ini. Yamazaki Kento bukanlah target yang mudah. Butuh waktu lama untuk bisa dekat dengannya, hingga mengetahui beberapa hal termasuk seseorang di sampingnya. Kento pasti punya teman dekat selain dirinya di Kyoto karena keluarganya tinggal di luar kota. Jika tidak, untuk apa ia bersusah payah dikirim kemari.

“Benarkah?” Kai meringis tak percaya, “Kalau begitu ayo pergi ke rumahmu,” tandas Kai, serius, membuat lidah Kento kelu. Kai memang belum pernah menginjakkan kakinya di sana. Dan itu tidak akan pernah.

“Hei, kau tak berencana pindah ke rumahku, kan?” Kento terkekeh tiba-tiba, meringsek pertahanan dirinya sendiri. Dengan bodohnya ia membuka tabir itu. Tidak ada seorang pun yang tahu tempat tinggalnya. Ia akan memastikannya seperti itu. Siapapun, meski itu orangtuanya sekalipun. Kento memang pernah tinggal di sebuah flat di dekat tempat kerjanya terdahulu, namun uang sewanya semakin lama semakin mahal hingga ia tidak ingin memberitahu orangtuanya karena khawatir akan menjemputnya kembali ke Tokyo.

“Ayolah, kau tega membiarkanku menjadi gelandangan?”

“—Tidak mungkin,” potong Kento. “Kau bisa menyewa motel dengan uangmu.”

“Tapi aku tidak ingin ditemukan ayah,” Kai memohon, “Cuma kau satu-satunya yang kupercaya.”

Kai sedang ingin bersembunyi, begitu yang ditangkap Kento.

“Ah, jangan-jangan kau sebenarnya punya kebiasaan buruk di rumah, ya? Seperti mendengkur begitu? Ayo, mengaku! Saat tertidur di kelas kau begitu. Pasti di rumah keras sekali.” Kai terbahak-bahak sendiri, meledeknya. Kento menggeleng tak peduli, ia menenggak lagi sodanya.

“Eto… sebenarnya…, aku tidak tinggal sendirian.” Kai terperanjat. Ditatapnya Kento yang tak mengerjap sedikit pun. Kali ini ia benar-benar serius. Kai berusaha untuk tenang.

“Aku tinggal bersama seseorang.”

Pada akhirnya Kai tersenyum jahil. Lagi, akhirnya karibnya itu punya satu hal yang ia inginkan sejak dulu. “Apakah seorang gadis?” Kento memangguk.

“Eee, ternyata kau orang yang seperti itu,” sahut Kai mengejutkan. “Tak kusangka. Pantas saja kau selalu mengelak jika aku ingin berkunjung. Tapi bagaimana bisa?” suaranya mulai memelan. “Reputasimu akan gawat jika ketahuan. Kau mungkin akan dikeluarkan dari sekolah.”

“Aku sudah menjamin itu tidak akan terjadi…,” kata Kento lirih, hampir tak terdengar. “Dan kau tidak boleh membocorkan hal ini.” Kali ini tatapan Kento begitu menakutkan Kai. Namun, pada akhirnya ia tersenyum.

“Kukira kau alergi gadis. Mereka selalu melihatmu, tapi nyatanya kau cuek. Eee… tak pernah kupikirkan. Ternyata Kento orang yang normal.” Kai tertawa lirih. Namun, sekejap ia terdiam. Memandang ke arah kerumunan yang jadi perhatiannya sekarang.

“Bagaimana dengan gadis itu?” Nadanya terdengar serius kali ini. “Sepertinya ia sekejap jadi populer, ya?” Kento terhenti menenggak habis isi kalengnya. Diteliknya sang gadis yang ditunjuk Kai di tengah kerumunan. Gadis itu tersenyum dan membalas lambaian dari teman-temannya.

Perawakan yang tak asing. Rambut cokelat gelap yang tergerai. Hari ini gadis itu mengenakan setelan blazer hijau tua, dengan rok lipit berwarna senada. Sedetik, Kento mulai berpikir sekolah mana yang pelajarnya berseragam demikian.

“Siapa dia?”

“Kau tidak tahu? Kelas sebelah kedatangan murid pindahan dari Amerika. Namanya… siapa ya… eee… Krystal. Terdengar keren, bukan?”

“Ku-ri-sutaru?” rapal Kento, hati-hati mengeja nama gadis itu.

Kento tak pernah merasa seperti ini. Ia sadar betul gadis itu bukanlah Hikari, tapi langkah kakinya tetap menyusuri jejak bayangan gadis itu. Kaleng soda itu dilemparnya ke tempat sampah terdekat. Perlahan, namun pasti langkah kakinya menyusul kerumunan itu.

“Oi, Kento!” seruan Kai tak diindahkan. Fokusnya hanya satu. Gadis itu, yang tengah berjalan memunggunginya. Kento tak bisa terus diam. Sebelum beranjak terlalu jauh, sebelah tangannya terulur, menyambar salah satu lengan milik gadis di hadapannya. Sekejap tubuh ramping itu berbalik. Dengan mata membeliak, gadis itu dikejutkan untuk kedua kalinya. Mereka saling menatap diselipi teriakan orang-orang yang memandang iri keduanya.

Napas Kento tercekat, mendapati manik mata cokelat itu menatapnya lagi–kali ini dengan terkejut.

What’s wrong?” Lagi. Apa yang salah dengan gadis di hadapannya?

Genggaman tangan Kento melemah, berbalik meraih telapak tangan gadis itu. Dingin.

“Yamazaki Kento desu,” rapalnya. “Yoroshiku.” Gadis itu merasa dicurangi. Ia diam saja saat tangannya dijabat erat oleh pemuda di depannya. Sekejap Kento menyeringai kecil. Napasnya terasa lebih baik usai menjabat tangannya. Ia lantas berbalik meninggalkan gadis itu, yang terpaku dengan tindakan tiba-tiba darinya.

Sebuah perkenalan yang mengejutkan.

“Wah, aku baru lihat Kento yang begini.” Khalayak mengerling padanya. Kai melongo. Kento melewati sahabatnya itu begitu saja. Diam-diam gadis itu balas menyeringai, sembari memerhatikan telapak tangannya.

***

 

Krystal Jung. Namanya boleh saja secantik kristal, namun ia punya tatapan yang tajam. Seperti tatapannya kali ini pada seorang yang barusan datang padanya. Dan misinya mendekati sempurna. Orang itu baru saja menyebutkan namanya secara gamblang tanpa diminta. Senyuman di bibirnya makin melebar. Namun tatapannya malah tak sengaja menyampir di bahu pemuda yang mengikuti jejak Yamazaki Kento. Sayang, dalam sekejap senyumnya menghilang.

Ada penganggu! Bisiknya.

Mungkin ia akan menyingkirkan pemuda itu lebih dulu atau… berjalan bersama sampai ia mendapatkan ruang lebih dibanding pemuda itu untuk berada di sisi Yamazaki Kento.

Krystal berbalik, menyambut teman-teman barunya dengan ramah. Dalam pikirannya, ia rasa tak perlu banyak membuat rencana. Yamazaki akan datang kembali padanya. Tiba-tiba tanpa diminta.

Dalam perjalanan ke kantin, teleponnya berbunyi. Membuat Krystal harus menepi. Ia melambai pada teman-teman barunya yang penasaran dengan hidupnya di Amerika. Tanpa disangka, mereka akan terkejut mengetahui kehidupan dirinya yang sebenarnya jika ia mau bicara. Tapi, Krystal tak mungkin bicara tentang kebenaran. Sayang, ia dilatih bukan untuk banyak bicara.

Krystal membuka ponselnya. Melihat sebuah tanda K di sana, ia tahu siapa yang mengiriminya pesan.

Menyalakan api

Asap memberikan kesenangan

Untuk teman sebangsa[2]

Ini memang tugas pertamanya sejak ia dikirim ke Jepang. Namun, ia tak menyangka harus mengurusi kasus lima tahun terakhir. Terlebih ada lawan yang harus ia singkirkan. Krystal sudah tahu apa yang harus ia lakukan pada teman dari targetnya. Itu jika ia ingin hadiah. Hadiah pertama saat ia bebas berkeliar di dunia.

***

 

“Oi, Kento! Ajak aku bersamamu.” Kento berhenti sesaat Kai memanggilnya begitu manja.

“Sudah kubilang tidak mungkin. Dia tidak akan setuju.” Kai terus saja mengekor di belakangnya.

“Jadi…, aku harus tinggal dimana?” Mereka terhenti di lampu merah. Gerbong-gerbong kereta bergerak cepat di depan mereka. Kento tak juga bicara. Kai menelisik ke arah murid laki-laki dari sekolahnya yang bersepeda. Sesaat kereta sudah berlalu, palang terangkat.

“Ikut aku.” Kai tersenyum. Kento kembali berjalan, diikuti olehnya.

Mereka sampai di sebuah gang sempit yang ramai dengan khalayak yang lalu lalang. Ada juga turis luar negeri yang tengah mampir di toko barang antik. Kento berjalan terus ke depan. Kai tampak santai mengikutinya. Namun saat Kento memasuki sebuah kedai ramen, Kai mulai ragu untuk turut.

“Kiriyama-san.” Terlebih nama itu disebutnya.

“Hari ini kau libur, Ken—“

“—Aku membawa temanku. Kau bisa mencarikan dia tempat tinggal?”

Kepala Kento melongok keluar. Sebelah tangannya memanggil Kai untuk masuk.

“Kau kira aku tahu banyak hal di Kyoto?” Kai tak asing mendengar suara itu. Namun ia tetap masuk.

“Dia sangat kuat. Kau bisa menyuruhnya memanggul karung-karung terigu atau membersihkan toilet. Kurasa ia rela tidak dibayar untuk bisa dapat tempat tinggal.”

“A—apa yang kaubicarakan, Kento?” Kai memotong ucapan Kento saat tahu dimana dia berada sekarang.

“Maafkan aku, Tuan. Tapi aku akan cari tempat yang lain saja.” Kiriyama tersenyum mendengarnya.

“Tidak apa-apa. Kau bisa tinggal di lantai bawah. Dan tugasmu hanya menjaga kedai ini.” Mereka berdua saling bertukar tatap.

Kai menelik ke arah Kento yang berterima kasih pada tuannya.

“Kaudengar itu? Jadi, kau tidak perlu bingung sekarang.” Kai dengan berat hati melurungkan tasnya dari bahu.

“Ken, antar dia.” Kento mengangguk, lantas menepuk bahu pria berkulit eksotik itu. Kai menatap Kiriyama dengan hati-hati. Perlahan pertahanannya runtuh untuk kesekian kali. Kali ini langsung pada inti. Mungkinkah ia salah buat keputusan?

***

 

Malam di Hanamikoji Dori kerap dianggapnya sinting. Kento menyusuri jalan yang ramai di salah satu jalan yang sarat sejarah. Ia berpapasan dengan banyak turis yang menyantol kamera bak paparazzi. Mereka berbaris di sisi-sisi jalan bebatuan, menantikan momen ajaib.

Sebuah taksi berhenti, lalu yang ditunggu pun datang. Seorang gheisa turun dari sana lalu berjalan cepat-cepat memasuki rumah teh terdekat. Kerumunan itu memaksa Kento untuk mempercepat langkah. Tak ada yang tahu ia akan kemana. Semua orang tidak akan yang memerhatikannya. Turis-turis itu hanya datang untuk satu tujuan. Kento tersenyum puas, kali ini ia berhasil kabur lagi dari seseorang yang menguntitnya. Entah siapa. Gadis-gadis genit itu sudah lelah menguntitnya. Kai juga sudah aman di kedai Kiriyama. Apa jadinya jika Kai jadi ikut dengannya? Ia tidak akan membiarkan hal yang ia sembunyikan rapat-rapat itu terjadi.

Ia menuruni sebuah tangga menuju sungai. Berjalan bagai seorang pencuri di malam hari. Ia mengamati derap langkah di atasnya. Orang-orang terlalu sibuk menikmati malam. Kento gegas melompati bebatuan untuk menyeberang.  Ia naik kembali ke atas usai tiba di sana. Tidak ada cahaya di tempatnya berdiri. Namun ia bisa melihat dengan jelas keadaan di seberang sana. Ramai bak pasar malam seperti biasanya.

Kento berbalik, menuju sebuah jalan setapak yang jarang dikunjungi orang-orang sekitar. Ini adalah kota mati yang lama ditinggal penduduk. Sepanjang jalan hanya ada gelap. Tidak ada cahaya lampu yang menerangi jalan. Hanya ada bintang-bintang yang berkelip di langit. Di kedua sisinya berdiri berbagai bangunan machiya yang tak berpenghuni. Seolah menyambutnya secara istimewa dengan angin malam yang sunyi. Benar-benar tidak ada kehidupan. Kento berjalan sepanjang jalan dengan was-was. Kendati ia sudah sampai di kota yang tak berpenghuni, ia tetap harus memastikan dirinya sedang tidak diikuti.

Ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponselnya untuk menerangi jalan. Gerbang torii sudah terlihat di depan. Dari jarak beberapa meter, Kento memasukkan ponselnya lagi dalam saku. Pelan-pelan ia menghitung dalam hati, kalau-kalau ia salah menghitung, habislah kakinya. Langkah kelima. Ia mengambil aba-aba untuk berlari. Matanya menatap dalam kegelapan.

Siap. Bersedia. Ja!

Ia berlari, berlari dan sesampainya di dekat torii, ia melompat melewati gundukan yang ia bangun di bawah gerbang kayu yang rapuh itu. Napasnya tersengal, namun ia tersenyum lega. Sebuah jebakan yang menantang dirinya sendiri.

Kento merebahkan tubuhnya di rerumputan yang makin memanjang. Ryuu mengendusnya saat ia ingin terlelap. Disapunya wajah Kento dengan bulu-bulu halusnya. Kento merasa geli, hingga ia beranjak duduk dan memeluk anjing mungil kesayangannya itu.

“Kau terlambat.”

Kento menengadah. Seseorang turun dari anak tangga honden. Tidak ada cahaya apapun dari sana. Kento tak perlu terkejut, ia hapal suara gadis itu.

“Aku harus ke kedai sebentar.” Ia bangun dan menurunkan anjing kecilnya. Ryuu berlari kecil pada kaki gadis itu.

“Bukankah kau libur?”

Kento mengangguk ragu, “Ada seorang teman yang ingin tinggal denganku. Aku harus mencegahnya, bukan?” diteliknya gadis itu tak peduli. Ia gegas menuju ke jalan di samping kuil. Gadis berambut pendek itu mengikutinya dari belakang disusul Ryuu yang berlari kecil.

“Aku sudah siapkan makanan untukmu,” serunya dengan riang.

Kento menelik sebentar, lalu jalan lagi. “Tak biasanya.”

“Aku tidak bisa menunggumu.” Senyum gadis itu memudar karena lapar.

Mereka tiba di sebuah bus kecil yang tua. Atapnya tumbuh tanaman merambat membuatnya terlihat seperti tak terawat. Namun kaca-kacanya masih bagus, ditutupi tirai kelabu yang menebar bau harum. Kento menoleh, tak salah membiarkannya tinggal di sini. Rumahnya jadi sedikit terawat. Alasan lain yang membuat Kento mengizinkan gadis itu tinggal karena Ryuu. Gadis itu bisa diandalkan untuk menjaga dan merawat Ryuu. Namun, ia tak pernah tahu akan sampai kapan gadis itu tinggal bersamanya.

Kento duduk di sofa memanjang yang saling berhadapan. Bisa dikatakan inilah ruang tamu dan ruang makan mereka. Gadis itu menghidangkan daging asap dari luar bus. Di depannya terhampar danau kecil yang tenang.

“Kau mau makan di sini?” tanya gadis itu, berteriak.

“Aku lelah, tidak ingin di luar.” Gadis itu mengangguk dan mengasurkan piring milik Kento. Ini kali pertama Kento memakan masakannya.

“Enak!” Mata Kento berbinar, ia menggigit lagi daging-daging panggang itu. “Kenapa tidak kau yang masak setiap hari?” Gadis itu terdiam. Ia duduk di hadapan Kento dengan piring miliknya. Tiba-tiba saja rasa laparnya hilang. Wajahnya menekur dalam-dalam. Melihat Ryuu yang bergelung di dekat kakinya.

“Yamazaki-kun, aku mungkin tidak bisa terus merawat Ryuu.” Kento berhenti mengunyah. Ditatapnya gadis yang sudah tinggal hampir setahun bersamanya.

***

 

Kento ingat kali pertama bertemu dengan gadis itu. Di sebuah pet shop, dan gadis itu kehilangan dompetnya. Serta merta Kento menitipkan anjing putih ras maltese itu pada sang gadis. Sementara ia bermaksud mengejar pemuda yang diduga pencuri. Namun, tanpa diduga gadis itu menangis.

“Kenapa kau menangis?”

“Tolong bawa aku bersamamu. Aku takut dengan pencuri-pencuri itu.” Sambil terisak, gadis itu memohon.

“Kau punya tempat untuk bersembunyi?” Dengan wajah memelas, gadis itu terus saja mengenggam lengan Kento. “Sebagai gantinya, aku akan merawat anjingmu.” Entah darimana gadis itu bisa membaca pikirannya yang sedang kebingungan untuk meninggalkan Ryuu sendirian.

Matanya terpejam berkali-kali, namun ia tidak bisa tidur. Padahal lampu sudah dipadamkan. Tubuhnya berbalik, bermaksud mengubah posisi. Ada bantalan sofa yang menyekat di hadapannya. Juga tirai yang merayang. Di balik itu adalah ruang tidur gadis itu. Hanya berupa satu sofa yang sama sepertinya. Di pojok belakang bus.

“Aku tahu kau belum tidur, Ayame,” bisik Kento. Gadis yang dipanggilnya hanya balas bergumam.

“Kenapa? Kau sudah tidak ingin bersembunyi?” lanjutnya.

Ayame yang terpejam hanya terdiam. Ia tidak tidur. Berhari-hari ia cemas memikirkan cara untuk bisa menghadapi takdirnya.

“Ayame?” lagi, gadis itu hanya balas bergumam. “Ceritakan apa yang terjadi.”

“Maafkan aku. Aku belum bisa menceritakannya padamu.”

“Sampai kapan? Pencuri-pencuri itu sudah tidak mengejarmu. Lagi pula, ini sudah lewat setahun, apakah keluargamu tidak khawatir?”

“Aku sudah katakan, bukan? Aku tidak punya siapapun lagi. Pencuri-pencuri itu sudah merebut semuanya.”

“Kenapa kau tidak lapor polisi saja?”

“Mereka bukan pencuri biasa. Bukankah kita sudah membahasnya?”

“Tapi aku belum menemukan alasanmu.”

Hening.

“Apa?” Ayame kembali bersuara.

“Kenapa aku?” Ayame menaikan selimutnya hingga dagu. “Kenapa aku yang jadi tempatmu bersembunyi?” Ayame paham, tidak ada hal yang kebetulan. Seperti takdir, ia dipertemukan dengan pemuda ini. Kesalahan di masa lalu dan kembali dihadapkan untuk memperbaikinya sekarang.

“Aku akan ceritakan rahasia itu.” Kento sudah menunggunya berkata demikian. “Setelah aku bertemu dengan seseorang.” Kali ini matanya terpejam.

***

 

“Kai-kun!” Kiriyama mengunci laci di meja kasirnya lantas melempar kunci-kunci itu pada Kai, untuk menutup kedai. Dengan sigap pemuda itu menangkap kunci-kunci itu dengan sebelah tangan menggenggam kain pel.

“Kunci pintu depan, belakang dan perhatikan jendela-jendela. Aku tak akan mencurigaimu tentang meja kasirku.” Kiriyama tersenyum samar, “Karena aku memercayaimu.” Kai mengerling, menatap wajah lain Kiriyama. Pria berkacamata itu bergegas pergi meninggalkan segudang tugas untuknya.

Malam makin larut. Kai tak pernah selelah ini. Ia tak menyangka harus tinggal di tempat sempit seperti ini. Setelah ia selesai mencuci mangkuk-mangkuk di dapur, ia mengganti seragamnya dengan kaos dari dalam tasnya. Sepertinya besok ia akan menyuruh Kyungsoo—sopir ayahnya itu untuk mengantarkannya beberapa helai pakaian. Lagi, ia mengutuk Kento tentang hal ini. Kai tak ingin tidur bersama karung-karung terigu, ia lebih memilih jadi anak buah yakuza ketimbang jadi kuli panggul.

Dengan melakukan sedikit peregangan, ia menutup kedai. Dan tak lupa menguncinya. Gang-gang sempit itu sudah sepi dari aktivitas perdagangan. Sambil membawa dua kantong sampah ia berjalan menyusuri gang sempit itu hingga ke jalan besar. Ia hendak menuju bank sampah di dekat persimpangan. Karena esok pagi ia mungkin tidak akan sempat lagi, keburu lupa atau bangun kesiangan.

Kai lega pekerjaan hari itu sudah beres. Kini ia tinggal menghubungi Kyungsoo yang mungkin berada di jalan sekitar sini. Biasanya dalam jam segini, pria itu belum pulang.

Namun, insting liarnya merasa ia tengah diikuti seseorang. Tangannya tak jadi merogoh ponsel. Ia menoleh ke belakang dan tak menemukan siapapun di sana, selain mobil terpakir sejak tadi siang.

“Hei, siapa di sana?” teriak Kai.

Tidak ada jawaban. Tangan Kai menyelip ke balik punggung. Ia berjalan mundur. Membuat ancang-ancang sambil bersiap menarik benda metalik itu dari selipan belakang jinsnya, kalau-kalau ada hal yang tak terduga terjadi.

Angin malam berembus dingin membuatnya setengah bergidik. Bunyi dentum keras timbul dari belakang, membuatnya menoleh lagi. Dan mendapati seorang gadis dengan blazer hijau tua menyeringai ke arahnya.

Kai tak gentar. Ia berdiri tegak dengan tangan kanan masih menempel di balik punggung. Keduanya saling bergerak mendekat, melempar senyum. Senyum yang ganjil. Tanpa diduga saat mereka berpapasan, keduanya berbalik dan saling mengacungkan pistol masing-masing ke arah kening yang ada di hadapannya. Kai yang lebih tinggi terlalu mudah untuk menempelkan pistol itu di dahi Krystal Jung. Sementara gadis itu lebih lihai memutar tubuhnya mendekati Kai. Sekejap lengan gadis itu menghantam dada bidangnya dengan sekali hentakan. Salah satu pistol terjatuh. Kai lengah, kini dirinya terhuyung mundur.

Tawa gadis itu mengejeknya. Tatapannya yang dingin tertutup oleh setengah rambutnya yang tergerai. “Waktumu terbuang percuma, Kai-kun.”

Kai tak terkejut gadis itu mengetahui namanya. Ia menyeringai kecil, tak peduli tentang rencana dikirimnya seorang agen lain. Ia memang bergerak lamban karena tak pernah berhasil menemukan rahasia Kento. Tapi ia tak percaya, tandingan seorang perempuan. Kai merasa dirinya terhina.

“Kau belum menemui targetnya, bukan?” Bibir Kai yang menyeringai, terkatup. Krystal balik menyeringai. Kai tak ingin ambil pusing. Mau tak mau ia harus segera menemui target yang harus dibunuhnya. Jika tidak, ia akan di-delete sesegera mungkin. Dan itu artinya ia akan mati tak berguna.

“Aku akan jadi yang pertama darimu, Kai-kun.” Kai masih terdiam. Manik matanya menelisik ke arah belakang. Seseorang tengah berdiri di sana.

“Kita lihat saja, apa yang bisa kaulakukan.” Kai bangkit, mengambil pistol miliknya. Gadis itu tersenyum puas dengan tantangan itu. Mereka berdua lalu berdiri berdampingan. Di bawah sinar lampu yang meredup, keduanya membungkuk takzim pada atasan mereka.

“Hormat kami, Kiriyama-sama.” Pria yang disapa begitu hanya mengangguk pelan. Kedua tangannya terlipat di belakang. Senyumnya tipis. Dari balik kacamatanya ia bisa melihat keseriusan mereka dalam misi mencuri ingatan seseorang yang diduga membahayakan laboratorium di mana mereka berasal.

 

tbc…

[1] rahasia

[2] Haiku dari pembunuhan berantai di Jepang (dikutip dari harian Yomiuri Shinbun)

————-

A/N: FF ini saya ketik dua hari lalu, idenya sendiri karena kepikiran Akuma No Riddle, hihi anime yuri pertama yang saya tonton. Tapi, ceritanya sedikit beda sih saya cuma ambil garis targetnya doang. Mungkin ceritanya masing diawang-awang ya? Next past semoga bisa memperjelas. Eh, ff kayak gini boleh diposting di FFindo gak sih? Ini campuran soalnya. Tapi kayaknya boleh yaa,😀 Saya lagi pingin buat yang kayak gini. Oya, tentang cast itu maaf banget yaaa~ haha saya nyomot dari LDK. Kepikiran Kentooo. Eh lalu kepikiran kembaran saya: Krystal :p (ditendang) dan tau-tau si Kai nonggol di pikiran saya. Haha, saya baru sadar kalau castnya hampir semua berawalan K. Terakhir, saya makasih banget sama ajengnovitasari. Makasih juga untuk komentarnya yang membangun di Sunny Rain🙂 Juga untuk readers lainnya, makasih. Ditunggu komentarnya~

10 responses to “HIMITSU (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s