[ONESHOOT] Eccedentesiast

Eccedentesiast

(c) missfishyjazz

Kim Hanbin | Bae Woohee | Lee Halla

you are the fate that i’ve been waiting for till now, i knew it the moment i saw you

 Eccedentesiast

“C4431 sesungguhnya adalah orang yang baik. Ia selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluhkan apapun selama ini. Hanya saja, kau akan tahu bahwa selalu ada yang salah dengan senyumnya..” Perkataan Heo Solji beberapa jam yang lalu masih terus terngiang di kepala Woohee. Sepatu hak tingginya terus mengetuk dengan irama yang berubah di depan sebuah sel terisolir di ujung lorong berisi sel serupa lainnya. Tangannya sempat ragu sebelum akhirnya kenop pintu dihadapannya terbuka.

 

“C4431?” Woohee menunjukkan sedikit kepalanya. Ia melihat seorang pemuda—mungkin hanya dua atau tiga tahun lebih muda darinya—yang berbalik dan melihatnya sembari terus berkedip.

“Dokter Bae Woohee?” Woohee tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya.

“Kim Hanbin, kan?” Pemuda berpakaian biru kaku dengan plat kain C4431 di dada kirinya itu tersenyum kaku dan mengangguk.

“Sejak Solji nunna berhenti merawatku dua tahun lalu, tidak ada yang pernah menyebut nama lain selain C4431 di ruangan ini. Terima kasih.” Hanbin tersenyum lagi. Ujung bibirnya ia tarik ke atas sembari mengingat tiga sampai empat dokter yang pernah merawatnya. Tidak ada satupun dari mereka yang sudi memanggilnya Kim Hanbin.

“Sama-sama. Kau bisa memanggilku—“

“Woohee nunna?” Woohee terdiam sebentar sebelum mengangguk. Hanbin yang kesepian. Woohee duduk di samping pemuda itu dan mengelus punggung pemuda itu pelan. Hanbin kembali tersenyum, tapi justru semakin menundukkan kepalanya.

“Ada yang salah?” Hanbin mengangkat tangan Woohee dari punggungnya dan bergeser menjauh.

“Jangan melakukannya, itu akan membuatku teringat pada Halla.” Ia menyampirkan sedikit senyumnya.

Woohee mengernyit sebelum mengingat profil tahanan berkode C4431. Hanbin lahir dari keluarga Chaebol Kim. Ia tidak memiliki saudara, apalagi figur orang tua yang meninggalkan ia sendiri di dunia sejak balita. Hanbin tumbuh menjadi pemuda cerdas dengan IQ 166 dan menjadi anggota termuda MENSA di Korea. Ia pendiam dan sangat tertutup, tidak pernah benar-benar memiliki teman. Hanbin mengenal Lee Halla di bangku akhir sekolah menengah pertama. Lee Halla adalah salah satu anak dari panti asuhan tempat ibu Hanbin semasa hidup beramal. Halla diadopsi oleh Lee Seunghyun, salah satu tangan kanan ayah Hanbin. Setelah diadopsi Halla secara resmi meninggalkan nama pemberian mendiang orang tua kandungnya Lee Suji dan masuk ke dalam istana keluarga Kim.

Halla adalah gadis yang ceria dan penuh warna. Ia seperti pensil warna yang tiba-tiba menggoresi kanvas hitam putih Kim Hanbin. Selain bersekolah, Halla menghabiskan waktunya untuk menceritakan setiap seluk beluk keindahan dunia yang tak terbayang pada Hanbin. Halla menggambarkan kincir putar raksasa yang setiap minggu ia pilih ketika berlibur bersama ayah angkatnya. Halla juga menceritakan manisnya gulali merah jambu yang selalu ia dapat ketika Lee Seunghyun melihat nilai 100 di lembar ulangannya. Hanbin mengingat setiap cerita Halla dengan baik. Ia ingin seperti Halla.

“Kau mau bercerita tentang Halla?” Woohee mengambil posisi duduk tepat di hadapan ranjang Hanbin tengah berbaring sekarang. Woohee melihat bagaimana sepasang bulu mata Kim Hanbin bergerak naik turun dengan cepat selama sepersekian detik.

“Lee Halla?”

“Tentu.” Hening tersebar dalam beberapa menit. Hanbin sesekali meneguk ludahnya kaku dan tersenyum miring.

“Aku pikir tidak akan ada yang mau tahu cerita Halla di dunia ini.” Hanbin mengerjapkan matanya. Sekalipun tak berpandangan langsung, Woohee tahu ada kesedihan yang besar di dalam suaranya.

“Aku mau. Kau bisa menceritakan gadis itu darimanapun yang kau mau.”

“Bukankah di profil ku tertulis sebagian kisah tentang Halla? Seharusnya nunna bisa membacanya di sana.” Hanbin kembali tersenyum miring. Sayangnya, Woohee juga ikut tersenyum miring.

“Aku tumbuh di panti asuhan yang sama dengan Halla. Aku tidak pernah lupa jika dia memiliki prosopagnosia. “

Hanbin tampak terdiam sesaat sebelum tertawa kecil. “Aku tidak menyangka akan ada orang yang tahu jika sebagian ceritaku tentang Halla adalah—“

“Adalah kebenaran. Seluruh ceritamu tentang Halla adalah kebenaran.”

“Apa maksud, Noona?” Hanbin tersenyum gugup.

“Semua ceritamu tentang Halla adalah kebenaran.”

Noona.. Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa Halla memiliki prosopagnosia, tidak mungkin ia bisa mengingat setiap wajah orang yang sudah kubunuh dengan baik.” Hanbin kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Justru karena aku tahu. Dalam ceritamu, bukan kau yang berdusta tentang kesempurnaan Halla. Tapi Halla yang menutupi ketidaksempurnaannya darimu.”

Tidak ada satupun yang tahu latar belakang keluarga Halla selain Halla sendiri. Halla tiba di panti asuhannya ketika ia berummur 6 tahun. Bajunya berlumuran darah dan dia terus menangis. Ibu panti asuhan yang merasa kasihan dengan gadis mungil yang masih bernama Suji itu, membawanya masuk tanpa bertanya apapun. Selama tiga minggu Suji hanya terus menangis dan makan melalui selang infus. Sampai akhirnya di hari ke-22 dia berada di panti asuhan Suji berhenti menangis. Ia tiba-tiba mau bersosialisasi dan menjadi sosok yang sangat riang. Tidak ada satupun penjelasan medis yang dapat menjelaskan hal ini.

“Halla sudah meninggal Hanbin.. Sekalipun kau menceritakan tentang kenyataan sesungguhnya, Halla tidak akan menanggung beban apapun.” Woohee menatap cemas ke arah Hanbin. Sudah hampir seminggu sejak Woohee membeberkan fakta nyata pada dirinya. Hanbin tidak lagi mau diajak berbicara. Ia hanya tersenyum sesekali tapi tidak untuk berkomunikasi.

Nunna..

“Ya?”

“Siapa menurutmu yang membunuh Lee Seunghyun, Kim Jongkook, So Ji Sub, Yoo Ah In, Jung Woo Sung dan James?” Woohee terdiam, ia tidak dapat membaca apapun selain guratan senyum lemah dan tatapan mata Hanbin yang terus mengarah pada jendela.

“Enam orang itu adalah pemimpin Maratial. Mereka yang telah berkomplot untuk menyingkirkan ketua mereka yang sebenarnya, Lee Byung Hun. Tidak ada seorang pun yang tahu jika Lee Byung Hun sejatinya memiliki seorang putri yang melihat sendiri pembunuhan itu. Putri kecil yang sangat dicintai ayahnya, putri kecil yang selalu menjadikan ayahnya sebagai pahlawannya. Lee Suji.”

Hanbin melihat tepat ke manik mata Woohee, Ia kembali tersenyum. Hanya saja, kau akan tahu bahwa selalu ada yang salah dengan senyumnya.. Senyum Hanbin terasa pedih dan berdarah. Ia tidak bisa memberikan makna senyuman dalam bentuk apapun selain lengkungan bibir.

Nunna aku sangat mencintai Halla.”

Woohee tersenyum kecil sebelum memilih duduk di atas ranjang kecil tempat Hanbin menghabiskan tiga tahun hidupnya. Death penalty tidak dapat diberikan karena Hanbin selalu memutar balik ceritanya yang anehnya, selalu masuk akal tapi sangat bertolak belakang. Selain itu, kondisi mental Hanbin sangat buruk ketika ia menyerahkan dirinya. Hanbin tidak berhenti memanggil nama Lee Halla dan tidak tidur selama tiga belas hari. Nilai uji kemampuan psycopathy nya tiga puluh sembilan, hanya berbeda satu poin dengan batas tertinggi.

“Sayangnya karena cintamu itulah kau menutup kedua matamu dari fakta, kan?” Woohee menatap balik tepat ke mata pasiennya.

“Aku pikir nunna berbeda dari empat orang sebelumnya, bahkan berbeda dari Solji nunna. Tapi ternyata—“

“Ternyata aku jauh lebih pintar.”

Heum?” Hanbin mengernyitkan dahinya sebelum melihat senyum serupa kemenangan di wajah Woohee.

“Kau sangat mencintai Halla, hingga kau menutup kedua matamu dari kenyataan bahwa Halla memiliki prosopagnosia. Sampai akhir hayatnya, Halla tidak tahu bahwa kau tahu tentang kelainannya. Yang kau lakukan hanya menajamkan telingamu setiap harinya. Setiap hari kau tahu tentang kebiasaan mimpi buruk Halla. Halla yang ceria dan lemah lembut terus berkata dia baik-baik saja setiap kau bertanya apa yang terjadi. Tapi kau tidak bisa tinggal diam, hatimu tersakiti mengetahui gadis yang kau cintai terluka begitu dalam di hatinya tapi tidak bisa melakukan apapun. Halla tidak mengalami amnesia akibat trauma kejadian itu, tapi ia mendapatkan gejala prosopagnosia dan melupakan seluruh wajah pembunuh ayahnya. Ia begitu tertekan dan berusaha keras mengeluarkan wajah-wajah itu dari mimpi buruknya. Tapi Halla yang malang tidak mampu melakukannya, karena ketakutannya untuk mengingat peristiwa buruk itu selalu jauh lebih besar dari keinginannya melihat wajah-wajah itu.”

Nunna..

“Hari itu Halla datang kepadaku. Ia bertanya apakah setelah menjadi ahli kejiwaan aku bisa melalukan usaha untuk membuatnya mengingat wajah-wajah itu. Ia ingin menuntut keadilan untuk ayahnya. Ia terlalu baik hingga berkata bahwa yang selalu ia lakukan selama ini adalah mengampuni mereka. Halla hanya ingin mereka dapat ditangani oleh pihak berwajib dan mempertanggung jawabkan segalanya.”

NUNNA!” Hanbin berteriak nyaring. Tangannya nampak saling mencengkram sebelum tiba-tiba ia mengendurkannya begitu saja. Ia tertunduk, “Geumanhae..

“Tapi kau.. Kau tahu bagaimana rasa sakit Halla yang ditinggalkan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia. Seperti saat kau kehilangan kedua orang tuamu. Kau tahu bagaimana sakitnya dihantui mimpi buruk yang sama. Kau kehilangan mimpi itu ketika Halla datang, tapi kau justru melihat orang yang menghapus segala mimpi buruk itu merasakan mimpi buruk yang sama.”

Hanbin terduduk, ia kehilangan senyumnya. Air matanya mengalir deras, semua ingatan tentang Halla secara otomatis terputar di otaknya. Senyumnya yang semanis madu, tawanya yang semerdu kicau burung, pelukannya yang sehangat matahari di ujung musim dingin, dan air matanya yang sepedih reruntuhan gedung yang menimpa hatinya begitu saja.

Jebal.. Jebal geumanhae..” Hanbin menutup kedua telinganya. Suara Halla yang menggambarkan semua hal manis di telinganya semakin berdengung kencang.

“Hanbin..”

“Halla! Apa yang terjadi..”

“Ayahku..”

“Kenapa dengan Paman Lee?”

“Ayahku memaksaku melakukannya..”

“Ap.. Apa?”

“Itu sangat sakit Hanbin.. Hanbin..”

 

“Sampai hari itu datang. Hari dimana Halla datang kepadamu setelah sebelumnya Lee Seunghyun melakukan pelecehan padanya.” Woohee menarik map lain dari atas pangkuannya, “Kode kasus 66C4A, 4 April 2015. Korban, Lee Seunghyun. Kronologi kejadian, korban ditemukan mengapung di kolam renang rumahnya, tenggorak kepalanya retak parah, tubuhnya hangus karena sengatan listrik 5000 watt, dan… Organ genitalnya terpotong.”

Nunna.. Jebal.. Nan neomu apa..

“Jika kau bertanya padaku.. Siapa pembunuh Lee Seunghyun, Kim Jongkook, So Ji Sub, Yoo Ah In, Jung Woo Sung dan James, aku bukan Solji, Haeryung, Sojin, Jinwoo ataupun Sunhee! Pembunuh mereka berenam adalah kau, Kim Hanbin. Kau!” Woohee merasakan dadanya yang naik turun. Ia melihat Hanbin yang bergelung di lantai masih dengan kedua tangan yang menutup telinganya.

Hari itu tepat seminggu Halla tinggal di rumahnya. Seharusnya hari itu menjadi hari kelulusan Halla dari sekolah menengah atasnya sekaligus hari ujian kenaikan tingkat tiga di universitas bagi Hanbin. Halla sudah bisa beraktivitas dengan normal. Bahkan sejak pagi Hanbin bisa mencium bau bumbu masakan yang menguar hingga ruang bacanya. Tapi Hanbin tidak keluar, ia bahkan dengan tidak enak hati menyuruh Halla mengantarkan makanannya ke ruang baca dan meninggalkan ia sendiri.

Hanbin sibuk dengan kertas-kertas yang berisikan sketsa wajah orang-orang asing baginya. Hanbin mengelompokkan ratusan kertas itu menjadi enam kelompok dengan nama-nama orang sebagai pemisahnya. Halla memiliki prosopagnosia. Seperti kata Bae Woohee, bukan kau yang berdusta tentang kesempurnaan Halla. Tapi Halla yang menutupi ketidaksempurnaannya darimu. Pihak kepolisian menolak mengangkat kasus yang diajukan Halla, hal itu dikarenakan Halla tidak dapat mengindentifikasikan satupun dari orang-orang yang ia tuntut dengan benar. Halla sangat kecewa karena hal itu dan menceritakan segalanya pada Lee Seunghyun. Sayangnya, tanpa Halla ketahui Lee Seunghyun adalah salah satu dari orang-orang yang ia ceritakan. Itu sebabnya Lee Seunghyun gelap mata dan melakukan pelecehan pada Halla. Seunghyun merasa tidak mungkin memusnahkan Halla begitu saja karena Halla sangat berarti bagi tuannya, Hanbin, oleh karena itu ia berusaha membuat Halla diam selamanya. Ia berusaha merusak kejiwaan Halla, seperti dua belas tahun lalu ketika Halla melihat sendiri kematian ayahnya.

Seorang kaki tangan Hanbin yang lain mendapatkan data sketsa itu sebelum dimusnahkan oleh penyelidik kepolisian. Setiap nama memiliki kurang lebih dua puluh sketsa dan tidak ada satupun dari dua puluh sketsa itu yang memiliki kesamaan. Semuanya berbeda, semuanya bertolak belakang karena keterbatasan Halla. Oleh sebab itu ia dengan kejeniusannya meretas jaringan data kepolisia. Hanbin menemukan nama ayah Halla di dalam daftar pencarian orang dengan status urgency teratas. Ayah Halla adalah ketua Maratial, sebuah kelompok penjualan senjata api ilegal internasional. Dalam baris terakhir data Lee Byung Hun tertulis sebuah pesan sempat diterima kepolisian bahwa Lee Byung Hun akan menyerahkan diri, tapi justru ia ditemukan tak bernyawa dua hari setelahnya.

Seperti lonceng yang berbunyi ketika telah lama tertiup angin, begitupula dengan orang-orang yang menjadi target pencarian Hanbin. Selain Lee Byung Hun ada enam orang lain dari Maratial yang masuk daftar pencarian orang dengan nama samaran. Tidak sulit bagi Hanbin untuk mengenali keenam wajah yang sedikit banyak telah berubah dan sebagian pernah menjadi rekan bisnis ayahnya.

“Sejak aku mengetahui kebenaran tentang enam orang itu, aku memutuskan untuk melakukan pembalasan. Aku tidak bisa hanya tinggal diam melihat Halla yang terus menderita begitu saja, aku tidak bisa.”

Sejak kematian Lee Seunghyun setiap enam bulan sekali terjadi pembunuhan. Semua korban ditemukan dengan keadaan yang sama, mengapung di kolam renang dengan tubuh hangus tersengat listrik 5000 watt dan tengkorak yang kepala yang retak parah. Para kriminolog menyebut pembunuhan berantai ini sebagai ‘Ocheon ui dugaegol gyeong-u’ atau kasus 5000 tengkorak. Pembunuhnya ditetapkan sebagai seorang genius karena tidak ada jejak apapun yang dapat dijadikan petunjuk, tidak ada DNA pelaku yang tertinggal.

“Tapi rasa bersalah itu terus menghantuiku. Aku tidak pernah mampu lagi melihat bayanganku di cermin. Bahkan bayanganku pun ikut menyalahkan apa yang aku lakukan.” Terjawablah pertanyaan Woohee yang tidak menemukan satupun cermin di kamar Hanbin. Bahkan cermin di atas wastafel kamar mandinya pun hanya berupa frame emas berukiran klasik tanpa apapun yang dapat dijadikan tempat berpandangan.

Sayangnya di dunia ini tidak pernah ada kejahatan yang sempurna. Hanbin tidak mengetahui bahwa Jung Woo Sung memiliki seorang putra yang saat itu melihat detik-detik kematian ayahnya. Jung Joon Young melihat bagaimana ayahnya menggeliat kesakitan di akhir hidupnya sebelum hangus terbakar. Joon Young bersumpah membalaskan dendam itu pada Hanbin. Membuat pemuda itu kesakitan melihat orang yang sangat berarti baginya pergi.

“Di hari yang sama dengan kematian James, Jung Joon Young menculik Halla. Itu kah sebabnya kau menyerahkan dirimu kepada pihak yang berwajib?” Solji pernah berkata bahwa Hanbin menyerahkan dirinya sendiri. Lengkap dengan seluruh barang bukti dan salinan data keenam korban yang ia miliki.

“Tidak. Joon Young memang memintaku menyerahkan diri ke polisi, tapi aku tidak cukup bodoh untuk tahu bahwa jika aku menyerahkan diri begitu saja Halla tetap akan dibunuh. Aku dihantui perasaan bersalah yang sama setiap harinya, itu sebabnya aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyelesaikan semuanya setelah kematian James.” Hanbin melemaskan kedua tangannya yang terus mencengkram daun telinganya kuat. Suara-suara Halla yang terngiang di telinganya perlahan pudar dan membuatanya tenang.

“Tapi aku merasa lemah saat itu. Sangat lemah hingga tidak mampu melakukan apapun bagi Halla. Aku memohon pada Kwon Jiyong, jenderal kepolisian yang sudah lama mengincarku untuk menemukan Halla. Aku berjanji akan menyerahkan diri jika Halla berhasil ditemukan. Itu sebabnya jika nunna membaca riwayat ku di kepolisian aku memiliki selang waktu tiga hari dari datangnya aku ke kantor polisi sampai aku dimasukkan di penjara..”

“Dan di hari yang sama kau masuk penjara… Halla meninggal.” Woohee tak tahu kapan air matanya mengalir, tapi ia dapat merasakan kepedihan Hanbin. Halla adalah gadis mungil yang manis dan penuh semangat, ia hanya memiliki prosopagnosia dan masa lalu yang sangat kelam.

“Halla disiksa sejak hari ia diculik hingga hari itu. Jung Joon Young memberikan ku waktu tiga jam untuk mencari ruang kedap suara tempat Halla disekap hari itu. Awalnya aku pikir dengan membuka pintu ruangan itu tepat sebelum tiga jam berakhir Halla akan selamat. Pisau yang tergantung di atas jantungnya pun tak akan menghunus. Tapi justru ketika aku membuka ruangan itu, tepat di depan mataku Halla tertikam. Ia melihatku dengan mata sembab yang sangat pedih, tapi senyum tak pernah hilang darinya. Aku sempat menggenggam tangannya sebelum ia benar-benar pergi…”

“Halla.. Oppa mohon bertahanlah. Maafkan Oppa.. Halla-ya..”

Oppa.. Tujuh tahun lalu, aku tidak pernah menyangka bahwa oppa akan menjadi sangat berarti seperti ini. Aku tidak pernah tahu bahwa meninggalkanmu akan menyakitkan seperti ini..”

“Halla-ya..”

“Aku tidak pernah tahu juga bahwa aku akan jatuh cinta sedalam ini padamu. Aku.. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku bahagia. Di dalam ketidak tahuanku ada Kim Hanbin, pria hebat yang tidak pernah sekalipun melepaskan tanganku. Oppa, setelah aku pergi jangan pernah memikirkan apapun lagi tentang masa lalu. Selama tiga tahun ini, semua kepedihanku Oppa sudah menanggungnya seorang diri, semua lukaku sudah Oppa rasakan sendiri. Bahkan semua yang Oppa lakukan hanya untukku. Oppa tidak perlu lagi memikirkan orang-orang itu. Nanti, ketika aku bertemu Tuhan, aku akan mengatakan bahwa akulah yang bersalah. Bahwa karena Oppa bertemu gadis yang sangat lemah dan memiliki kelainan sepertiku oppa membunuh orang-orang itu.”

Aniya.. Siapa yang akan membiarkanmu bertemu Tuhan? Bukankah kau berjanji akan menikah denganku setelah kelulusanmu?” Air mata mengalir deras dari mata Hanbin, bibirnya bergumam tak beraturan dan panik. Tidak Halla-nya tidak boleh meninggalkan ia sendiri.

“Jangan menangis. Jangan pernah menangis. Tersenyumlah. Aku memang tidak pernah bisa mengingat wajahmu yang sesungguhnya, tapi aku selalu ingat senyumanmu. Aku selalu ingat seorang pria yang menyapaku dengan senyuman kecil di hari pertama aku masuk ke rumahnya. Di hari pertama aku mulai sering berkunjung ke rumahnya aku hanya melihat senyuman kecil, tapi se.. hukk.. setiap harinya aku tahu senyuman itu semakin lebar. Semakin lebar hingga membuatku tahu, sekalipun aku tidak pernah mengingat wajahnya yang sebenarnya, aku tetap bisa langsung mengenali pria itu sebagai Oppa, Kim Hanbin ku.” Hanbin dapat merasakan tangan Halla yang merayapi tangannya yang memeluk pinggang Halla erat. Hanbin meraih tangan itu dan mengecupnya pelan.

 

“Saranghae..” Hanbin berkata dengan begitu lemah, mengucapkan kata yang setiap hari biasa ia ucapkan namun terasa asing. Sangat asing ketika tangan maut membelai seseorang yang menjadi tempat segala ucap cinta itu tertuju.

“Nan.. nado.. saranghae..”

Woohee tidak tahu sejak kapan ia ikut terduduk di lantai dan meraih tubuh lemah Hanbin dalam pelukannya. Hanbin tidak berhenti menangis. Ia tidak bisa melupakan satu detikpun memori tentang Halla. Ia tidak pernah sekalipun membenci kemampuan neuron otaknya yang jauh di atas rata-rata manusia biasa. Tapi semenjak kematian menjemput Halla di hadapannya sendiri, Hanbin ingin melenyapkan semua kecerdasannya. Ia tidak bisa melupakan barang satu detailpun tentang kematian gadis itu. Semuanya terasa begitu nyata dan terus terulang dari hari ke hari.

Tap.. Tap..

 

“C4431..” Hanbin dan Woohee mengangkat kepala mereka bersamaan sebelum melihat seorang pria menjelang empat puluh tahun yang berdiri tegap di depan pintu.

Sunbaenim..” Kwon Jiyong. Pria itu, seseorang yang menjadi saksi hidup kehancuran Kim Hanbin. Bersamaan dengan Hanbin yang tidak pernah menceritakan detail peristiwa yang sama tentang peristiwa pembunuhan yang ia lakukan, Kwon Jiyong memutuskan untuk tetap diam. Ia menarik dirinya dari tanggung jawab atas kasus itu ketika melihat tidak ada satupun tinta kehidupan di mata buronannya. Seluruh kehidupan seperti telah ditarik pergi bersama nafas terakhir Lee Halla.

“Kim Hanbin, aku datang untuk menuntutmu berkata yang sebenar-benarnya di pengadilan.” Jiyong menghembuskan napasnya lega. Bersamaan dengan Hanbin yang melepaskan tubuhnya dari pegangan Bae Woohee.

“Hanbin—“ Woohee hendak melanjutkan ucapannya ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Kim Hanbin tersenyum. Bukan senyum pedih atau segaris lengkungan bibir ke atas seperti yang Solji katakan dan ia temui setiap saatnya. Senyum Kim Hanbin terlihat kecil, hanya lesung kecilnya yang terbentuk, tapi perasaan yang tersalur lewat senyum itu sangat berbeda. Senyum itu tidak lagi menggambarkan kepedihan melainkan deskripsi kelegaan.

“Terima kasih.. Hyung.” Hanbin mengusap air matanya dengan gerakkan yang sangat perlahan. Mengingat momen ketika ia tak sengaja menangis ketika mengingat orang tuanya di hadapan Halla, dan gadis itu mengusap air matanya dengan begitu lembut. Halla-ya, sekarang Oppa bisa tenang. Sekalipun sebentar lagi kematian bisa saja menjemput Oppa, tapi Oppa akan pergi ke neraka dengan tenang. Baik-baiklah di surga.

Nunna..”  Hanbin menatap Woohee masih dengan senyum yang sama.

Ne?

Nunna tahu eccedentesiast?”

“Tentu saja.”

“Setelah ini kau bisa memasukkan kata itu dalam riwayat psikologis ku. Eccendetesiast, istilah untuk seseorang yang menyembunyikan rasa sakit mereka di balik senyuman. Karena sesungguhnya seperti itulah aku. Kim Hanbin yang selalu menyembunyikan rasa bersalahnya di balik senyuman yang ia miliki. Bukan karena ia tak lagi memiliki hati, tapi karena hanya dengan senyuman itulah ia dapat dikenali dan terus dicintai oleh Lee Halla.”

Woohee masih terdiam di tempatnya ketika ia melihat dua orang petugas menggiring Hanbin pergi meninggalkan ruang isolasinya. Woohee dengan perlahan mendekati Jiyong yang diam-diam juga mengamati kepergian Hanbin.

“Apa ada sesuatu yang tidak Sunbae ceritakan kepadaku?” Jiyong berbalik ke arahnya dan tersenyum kecil, “anak itu tidak pernah benar-benar diam. Entah bagaimana aku tahu kami dapat berkomunikasi dalam diamnya. Dia hanya menginginkan pembunuh Halla ditemukan. Sama seperti Halla yang ingin pembunuh ayahnya ditangkap dan diadili, begitupun Hanbin. Ia sudah lelah dengan semua rasa bersalahnya, ia hanya ingin pembunuh Halla diadili. Kesepakatan itu terjadi tanpa disepakati, bahwa Hanbin hanya akan bersaksi setelah Jung Joon Young ditemukan. Sayangnya, Joon Young telah overdosis mariyuana ketika kami menemukannya.”

Tanpa berkata apapun Woohee menutup pintu ruang tempat Hanbin menghabiskan waktunya selama tiga tahun. Ia merasakan air mata terakhirnya menetes sebelum pintu itu benar-benar tertutup dengan suara kecil yang menggema ke seluruh lorong.

“Kim Hanbin, aku mungkin hidup lima tahun lebih lama darimu. Tapi aku bahkan tidak mampu menyelami arti cinta yang kau miliki untuk Halla. Seandainya Halla masih hidup, ia tidak butuh menjadi menjadi orang paling kaya di dunia untuk menjadi beruntung. Mendapatkan cintamu dan menjadi tempat kau menggantungkan hidupmu, aku tidak akan pernah mampu membayangkan bagaimana beruntungnya Halla.”

I love you, the one person

The only one person that I crazily loved

If the rain falls from the sky and the moon rises, will you come?

The one person who has all of me

 

Until I find you, keep walking to me

I will be only your light

—Kim Soohyun, The One and Only You

.THE END.

3 responses to “[ONESHOOT] Eccedentesiast

  1. Hmm crt yg sangat menyentuh, orang bs menjd kejam demi melindungi orang yg dicintai nya.🙂 keren

  2. nanaaaaaa, kamu tuh paling pinter ya bikin cerita tragis begini. dan terima kasih untuk ilmu yg disampaikan, aku baru tau lho penyakit2 kejiwaan kayak gitu.. and the story? great as always😀

  3. Jalan ceritanya unik dan menarik, bahasanya juga bagus, betul2 mencerminkan genre angst. Tapi aku sempat bingung sih, waktu baca di bagian awalnya, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s