WHO I HATE IS WHO I LOVE [Chapter 1 — Nappeun Saram!]

WHO I HATE IS WHO I LOVE 2

STORYLINE BY ALINEPARK @ANGIIEWIJAYA

MAIN CAST
Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Jong Hyun [CNBlue] as Lee Jong Hyun

OTHER CAST
Bang Min Ah [Girl’s Day] as Bang Min Ah
Kim Seol Hyun [AOA] as Kim Seol Hyun
Kang Min Hyuk [CNBlue] as Kang Min Hyuk

GENRE
Romance, AU

LENGTH
Series

RATING
Teenager

WHO I HATE IS WHO I LOVE
CHAPTER 1 — NAPPEUN SARAM!

HAPPY READING

“Tunggu! Tunggu!”

Tanpa memperdulikan seragamnya yang mulai berantakkan, Mi Jung tetap berlari sekuat tenaga. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya saat melihat bus yang biasa ditumpanginya akan segera meninggalkan halte. Syukurnya, tampaknya sang supir mengerti dirinya. Bus pun berhenti sesaat dan Mi Jung segera masuk ke dalamnya.

Seperti biasa, bus begitu ramai dengan orang-orang yang akan memulai aktivitasnya. Melihat para pegawai kantor dan beberapa murid sepertinya bergerumbul di dalam bus, sudah menjadi pemandangan Mi Jung sehari-hari. Banyak dari mereka terpaksa berdiri karena kehabisan bangku. Dan Mi Jung menjadi salah satu dari mereka.

“Untung aku melihatmu berlari-lari menuju halte. Kalau tidak, kau bisa terlambat ke sekolah.”

Mi Jung terkekeh pelan begitu mendengar sang supir di sampingnya yang sudah berusia paruh baya itu. Tampaknya, sang supir sudah mengingat dirinya, karena setiap hari ia selalu menaikki bus tersebut.

“Aku lupa mengatur alarm-ku, jadi aku bangun terlambat.” ujar Mi Jung malu. “Terima kasih ajeossi sudah memberhentikan busnya untukku.”

Setelah sepuluh menit perjalanan, bus pun berhenti pada halte dekat sekolah Mi Jung. Mi Jung buru-buru menempelkan kartunya pada alat sensor pembayaran, kemudian keluar dari sana. Kali ini, ia berjalan menuju sekolah dengan santai. Hatinya sudah terasa tenang karena tidak tertinggal bus.

“Mi Jung-a!”

Mi Jung menolehkan kepalanya dan mendapati Bang Min Ah, salah satu sahabatnya, berlari ke arahnya. Mi Jung pun segera berhenti untuk menungguinya.

“Kenapa harus terburu-buru seperti itu?” tanya Mi Jung ketika Min Ah sudah berdiri di sampingnya dengan napas ngos-ngosan.

“Ah, aku belum mengerjakan tugas sejarahku. Aku ingin menyalin milikmu sebelum bel berbunyi.”

“Aish, gampang sekali kau meminta tolong padaku!”

Waeyo? Bukannya aku memang selalu menyalin milikmu?”

Mi Jung menghela napas singkat. “Ya, itu yang kumaksudkan.”

“Ayolah, Mi Jung-a, kau ‘kan paling pintar di bidang sejarah. Kumohon, ya, ya, ya? Kemarin aku kelelahan karena klub renang.”

“Terserah sajalah.”

“KYAAA! JONG HYUN SEONBAENIM MENDAPAT NILAI TERTINGGI!”

“OMOOO! OPPA-KU MEMANG YANG TERHEBAT!”

“Kau pikir memangnya ada yang bisa mengalahkan Lee Jong Hyun? Tidak ada!”

“Ya! Kalian itu bodoh atau apa? Seharusnya kalian mengkhawatirkan nilai kalian, bukannya nilai Jong Hyun!”

“Ada apa ‘sih?” tanya Min Ah begitu melihat keributan di depan papan pengumuman.

Molla. Ayo ke sana.”

Melupakan masalah tugas sejarah, mereka berdua menghampiri papan pengumuman tersebut. Dengan susah payah mereka menyerobot para gerumulan murid yang sedaritadi mengelilingi papan pengumuman. Hingga akhirnya, sebuah kertas yang tertempel di sana berada di depan mereka.

Mwo? Nilai ulangan matematika? Bukankah ini hanya ulangan harian? Kenapa harus dipajang di sini?”

Mi Jung sama sekali tidak menghiraukan Min Ah yang terkejut dengan tabel yang berisikan nilai ulangan matematika mereka minggu lalu. Matanya sibuk meneliti dari atas ke bawah untuk menemukan namanya. Semakin ia menurunkan pandangannya, semakin rendah peringkat nilai ulangan matematika tersebut. Bola matanya pun berhenti bergerak begitu melihat nama seseorang yang berada di peringkat terakhir.

Kim Mi Jung 35

Mi Jung langsung membulatkan matanya begitu melihat bahwa namanya berada di paling bawah. Dengan kedua sisi mantelnya, sebisa mungkin ia menutupi wajahnya. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Diam-diam ia pun melangkah keluar dari gerombolan tersebut dan segera pergi menuju kelas.

“Aish, bagaimana bisa aku mendapatkan peringkat terakhir lagi? Memalukan sekali!”

“Tsk, bukannya sudah biasa jika seorang Lee Jong Hyun mendapatkan nilai tertinggi di setiap mata pelajaran? Tapi kenapa para penggemarmu masih terus membahasnya? Lobi bahkan sampai terasa berisik sekali karena mereka!”

Min Hyuk yang duduk di atas meja Jong Hyun itu terus menerus mengeluh tanpa henti. Padahal, jelas-jelas ia tidak ada kaitannya dengan para penggemar Jong Hyun. Lee Jong Hyun, sang topik utama, bahkan sama sekali tidak menghiraukannya dan hanya membaca buku pelajarannya dengan tenang.

“Tentu saja para penggemarnya tidak akan bisa berhenti mengagguminya. Lee Jong Hyun ‘kan laki-laki paling popular di sekolah. Pintar, tampan, bertubuh proposional, siapa yang tidak menyukainya. Lee Jong Hyun-ku ini memang sangat hebat!”

“Lepaskan.”

Kim Seol Hyun, gadis yang duduk di samping Jong Hyun itu langsung mengerucutkan bibirnya, begitu laki-laki itu menyingkirkan tangannya yang melingkar pada lengannya.

Meskipun sudah melihat pemandangan seperti itu berkali-kali, tapi Min Hyuk tetap tertawa puas melihat Seol Hyun ditolak mentah-mentah oleh Jong Hyun. Gadis centil itu memang sudah bagaikan kucing kelaparan. Ia seakan-akan sedang mengejar Jong Hyun yang dianggapnya sebagai ikan.

Ya! Siapa yang menyuruhmu tertawa?” omel Seol Hyun sambil memukul Min Hyuk dengan setumpuk buku.

“Aaa, iya ampun-ampun, berhenti memukulku! Aigoo, mianhae, habisnya kau ini—Astaga! Aku lupa mengerjakan tugas sejarah!”

“Memangnya kapan kau pernah bisa ingat ‘sih?”

“Aish, diamlah. Ah, apa Mi Jung belum datang? Aku ingin menyalin miliknya. Oh, Mi Jung-a!”

Min Hyuk langsung pergi meninggalkan mereka berdua, begitu melihat Mi Jung masuk ke dalam kelas. Seol Hyun pun hanya menatap punggung laki-laki itu sambil berdecak lidah.

“Bagaimana bisa gadis itu sangat pintar dalam teori, tetapi matematikanya selalu berada di peringkat rendah.”

“Lebih baik bisa satu bidang daripada tidak bisa apa-apa.” ujar Jong Hyun, yang akhirnya membuka mulutnya meskipun tidak mengalihkan pandangannya dari buku.

Mwo?”

KRING KRING KRING

“Ah, kenapa cepat sekali belnya? Mi Jung-a, nanti aku pinjam lagi ya saat jam istirahat!” ujar Min Hyuk sembari menutup buku sejarahnya. Min Ah yang mendengarnya pun langsung memprotes.

“Enak sekali kau bicara! Siapa suruh kau menulisnya lambat sekali! Daritadi aku tidak bisa menyalin karena tubuhmu menghalangi tahu!”

“Sudahlah, berhentilah berdebat atau aku tidak meminjamkannya kepada kalian?!”

GREKKK

Semua murid langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing, begitu Kim sonsaengnim, si wanita paruh baya yang mengajar matematika, masuk ke dalam kelas. Wajahnya yang penuh kerutan itu selalu menghiasi wajahnya setiap hari. Dengan aura yang menyeramkan, ia berhasil membuat para murid enggan melawannya dan selalu menurut dengan apapun yang dikatakannya. Ah tidak, hanya dengan kedatangannya pun semua murid langsung tunduk kepadanya.

“Beri salam.”

“Selamat pagi Kim sonsaengnim.”

Ne, selamat pagi. Silahkan duduk.”

Kim sonsaengnim membanting beberapa bukunya ke atas meja dengan kasar, kemudian menatap ke arah seluruh muridnya dengan tatapan tajam yang cukup menyeramkan hingga membuat beberapa murid ketakutan, meskipun sebenarnya tatapannya itu akan selalu terlihat tajam sekalipun ia sedang tersenyum.

“Kalau kalian sudah melihat papan pengumuman, pasti kalian tahu apa yang ingin kubicarakan sekarang ini.”

Ne, sonsaengnim.”

“Jika biasanya aku akan membentak kalian dengan nilai berangka rendah, kali ini aku tidak akan.”

Kepala seluruh murid langsung menatap ke arah Kim sonsaengnim. Entah mengapa, mendadak mereka merasa seperti setelah melakukan penghapusan dosa.

“Seperti yang sudah kita ketahui, aku pernah menanyakan kalian akan mengikut suneung atau tidak bukan?” tanya Kim sonsaengnim. “Nah, karena suneung sudah tinggal menghitung hari dan banyak dari kalian yang mengikutinya masih mendapat nilai buruk di matematika, maka aku memutuskan untuk mengadakan sistem mentoring sepulang sekolah.”

NE?”

“Tunggu dulu, ssaem. Bukankah kita sudah ada hakwon? Masa ditambah mentoring lagi?”

“Tenang saja, aku sudah memikirkan masalah itu.” ujar Kim sonsaengnim. “Mentoring ini hanya mengambil satu hari, yaitu dua hari sebelum suneung. Dan kegiatan tersebut akan diadakan pada saat jam hakwon. Jadi kalian tidak perlu pulang lebih larut lagi.”

Terdengar para murid langsung menghela napasnya lega. Kim sonsaengnim pun melanjutkan pengumumannya.

“Nah, untuk menentukan partner mentoring-nya, aku sudah merata-ratakan nilai kalian, termasuk nilai ulangan matematika yang ada di papan pengumuman. Yang mendapatkan peringkat tertinggi akan berpasangan dengan peringkat yang terendah, dan terus berlanjut hingga ke bagian tengah.”

Mendengar hal tersebut, Mi Jung membulatkan matanya panik. “Bagaimana kalau aku tetap mendapatkan peringkat terendah? Astaga, aku benar-benar memalukan diriku sendiri!”

“Baiklah, sekarang aku akan membacakannya. Peringkat terendahnya adalah…”

“Jangan aku, kumohon, jangan aku!”

“…Kim Mi Jung dan peringkat tertingginya adalah Lee Jong Hyun.”

“APA?!” teriak seluruh murid.

“Kalau begitu aku saja yang peringkat terendah!”

Aigoo, aku juga mau diajari oleh Jong Hyun!”

“Astaga, aku sudah menunggunya sedari dulu untuk diajari oleh Jong Hyun!”

Semua murid di dalam kelas langsung menatap tajam ke arah Mi Jung, yang saat ini hanya bisa menganga dengan lebar.

“Setelah mendapat nilai terendah, sekarang aku harus belajar bersama Lee Jong Hyun? Ini sama saja seperti aku masuk ke dalam kandang harimau.”

Seol Hyun yang duduk di belakang pun juga tampak frustasi. Ia memukul kepalanya berkali-kali dengan kedua tangannya.

“Bodoh! Aku kena karma! Seharusnya aku tidak mengejeknya tadi! Sekarang malah ia yang berpasangan dengan Jong Hyun!”

“DIAM SEMUANYA! Mau aku usir kalian keluar atau kalian segera diam?!”

“Ahhh.”

Mi Jung yang sedang membantu membersihkan restoran milik ibunya, tak sengaja menabrak rak yang berada di hadapannya dengan kencang. Ia memegangi kepalanya yang mulai menunjukkan sebuah benjolan. Ibunya yang melihat tingkah putrinya yang ceroboh itupun segera menegurnya.

Aigoo, kau ini. Sudah berapa hari ini kau selalu bersikap aneh, sampai-sampai tidak menyadari bahwa di sana ada rak di sana!”

“Aish, aku ‘kan tidak sengaja.”

“Maklumkan saja ajumma, belakangan ini ia selalu memikirkan mengenai mentor-nya. Makanya jadi suka melamun seperti itu.” ceplos Min Ah yang kebetulan juga ikut membantu.

Ya! Bang Min Ah!”

“Memangnya ada apa dengan mentor-nya?” tanya Nyonya Kim, mendekati tubuhnya ke arah Min Ah.

Mentor-nya itu adalah laki-laki paling popular di sekolah! Ia itu sangat tampan, pintar, kaya, tinggi, ya…pokoknya dia sempurna! Ia bahkan memiliki segudang penggemar di sekolah, benar-benar sudah seperti seorang idol!”

Omo, apakah putriku juga menyukainya sampai memikirkannya terus!”

“Tsk, menyukainya dari mana. Jika aku menyukainya, yang ada aku akan diserbu oleh para pasukan penggemarnya itu! Hampir setiap detik aku selalu mendapatkan tatapan tajam dari para penggemarnya semenjak ia menjadi mentor-ku. Sudahlah, aku ingin mencuci piring dulu!”

Mi Jung langsung melongos pergi menuju dapur. Ibunya dan Min Ah pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu.

“Aku pulang.”

“Oh, kau sudah pulang Jong Hyun-a?”

Pria paruh baya yang sedang duduk di ruang tamu sembari membaca koran itu tersenyum ke arah Jong Hyun. Jong Hyun pun hanya mengangguk singkat dan berniat langsung menaikki tangga hingga pria itu kembali berbicara.

“Tiga hari lagi kau sudah suneung. Aku rasa aku tidak bisa da—“

“Aku juga tidak mau mendatanginya.”

“Apa?”

“Bukankah aku sudah bilang kepada abeoji, bahwa aku tidak mau mengikuti suneung?”

Tuan Lee segera berdiri dari bangkunya begitu mendengar perkataan putranya itu. “Lalu pergi ke Amerika untuk menyusul ibumu? Siapa yang mengizinkanmu pergi ke sana?! Aku tahu kau berniat kabur ‘kan?! Kau harus tetap di sini dan melanjutkan perusahaanku!”

Abeoji, apakah kau sudah tidak memikirkan keadaannya? Kau tahu kalau ia sakit parah di sana! Setidaknya kau harusnya datang. Ani, atau setidaknya kau mengizinkan aku pergi ke sana. Sekalipun kau membencinya, dia tetaplah ibu kandungku! Itu adalah hakku untuk mengunjunginya!”

“Tutup mulutmu! Kata siapa ia sakit parah?! Ia hanya berbohong! Ia mengatakan kalau ia sakit parah agar aku bisa merasa bersalah kepadanya! Kau pikir aku bisa dibodohi, hah?!”

Jong Hyun bisa merasakan amarahnya sudah mencapai puncak kepalanya. Rahangnya bahkan sampai terasa sakit. Ia menatap ayahnya itu setajam mungkin tanpa berkedip saking emosinya.

“Tega sekali kau berkata seperti itu setelah kau menyiksanya!”

PLAKKK

Tuan Lee membanting korannya tepat ke arah wajah Jong Hyun. Matanya yang juga penuh amarah menatap ke arah putra semata wayangnya itu.

“Sudah kubilang ia hanya membodohi kita semua! Aku tidak pernah mendidikmu menjadi orang yang mudah dibodohi orang lain! Sekarang, lebih baik kau naik ke atas.”

“Tidak, aku tidak mau.”

“SEKARANG!”

Sekretaris Jang, alias sekretaris dari Tuan Lee yang sudah mendengarkan perdebatan antara keduanya, buru-buru menyenggol pundak Jong Hyun dengan gemetar.

“Tuan Muda Lee, lebih baik anda segera naik ke atas. Aku akan mencoba menenangkan ayahmu.”

Jong Hyun yang sudah mulai bernapas dengan berat itu sebenarnya enggan untuk menyelesaikan perdebatan tersebut. Tapi tubuhnya pun sudah terasa lelah sehabis sekolah dan sudah tidak ada tenaga untuk melanjutkannya. Mau tidak mau, ia segera naik ke atas, menuruti perintah Sekretaris Jang.

Sesampainya di kamar, ia langsung menjatuhkan tasnya ke lantai, kemudian membantingkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Sebisa mungkin ia menghilangkan sisa-sisa emosi pada hatinya. Beberapa kali tangannya mengusap wajahnya, tetapi hal itu sama sekali tidak memperbaik keadaannya. Tiba-tiba ponselnya pun berbunyi, membuat perhatiannya teralihkan. Ternyata panggilan tersebut dari Min Hyuk.

Yoboseyo.”

“Jong Hyun-a, tampaknya kau tak sengaja membawa buku cetak fisikaku pada saat jam istirahat, tolong besok kau bawakan ya!”

“Oh, baiklah.”

“Eyy, kenapa suaramu lemas begitu?”

“Tidak, tidak apa-apa.”

Keheningan terjadi beberapa saat. Hingga akhirnya Min Hyuk kembali angkat bicara.

“Kau…bertengkar lagi dengan ayahmu?”

Jong Hyun menghela napas mendengar pertanyaan Min Hyuk yang sangat tepat sasaran.

“Aku sedang tidak ingin bercerita apapun. Sudah dulu ya.”

TUT

Dengan sedikit mempaksakan, Jong Hyun bangkit dari kasurnya. Ia mengambil handuk serta pakaian tidur dan pergi untuk membersihkan diri.

“Di mana ‘sih dia? Mentoring ‘kan sudah mau dimulai!”

Mi Jung berjalan mengelilingi sekolah sembari mengeratkan mantelnya. Udara bulan November benar-benar sudah terasa dingin dan sayangnya Mi Jung harus merasakannya. Mati-matian ia berusaha mencari Jong Hyun yang mendadak menghilang bagaikan embun. Langit pun sudah mulai gelap, membuat Mi Jung semakin frustasi mencarinya.

“Ah, kalau ini ‘sih waktunya habis untuk mencarinya! Oh, Min Hyuk-a!”

Tak sengaja ia melihat Min Hyuk yang berjalan dari arah berlawanan. Laki-laki itupun tersenyum sembari Mi Jung berjalan ke arahnya.

“Kau lihat Jong Hyun tidak? Aku sudah mencarinya daritadi tapi tidak ketemu-temu. Padahal mentoring sudah mau dimulai.”

“Ah, Jong Hyun? Biasanya ia sedang bermain basket agar bisa melewatkan hak—eh.”

Mi Jung menatap bingung ke arah Min Hyuk yang mendadak berhenti bicara di tengah jalan. “Kau ingin bicara apa?”

Mendadak wajah Min Hyuk berubah panik. “Oh? Ah, ti-ti-dak. Aku hanya ingin bilang kalau ia biasanya berada di lapangan basket indoor.”

“Ah, begitu rupanya. Baiklah, terima kasih Min Hyuk-a.”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Min Hyuk, Mi Jung langsung berlari menuju lapangan basket. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan udara luar. Sekalipun ia biasanya pulang malam, tetapi ia hanya akan berada di halte sebentar, kemudian segera memasukki bus yang hangat.

Mi Jung berusaha mencari Jong Hyun di lapangan yang cukup luas. Tampaknya ia sudah terlalu frustasi dari tadi sampai tidak bisa berkonsentrasi untuk mencari laki-laki itu.

Baru saja ia akan mempertajam pandangannya, tiba-tiba…

BAKKK!

“Aww. Kenapa bolanya tepat sekali mengenai benjol ini ‘sih?”

“Ayo kita mentoring.”

Ketika mendengar suara seorang laki-laki di dekatnya, Mi Jung langsung mengangkat kembali kepalanya. Sesuai dugaannya, laki-laki itu adalah Jong Hyun, yang saat ini sudah mulai berjalan meninggalkannya. Sebelum mengikutinya, ia menoleh ke sekitar lapangan untuk memastikan bahwa lapangan sudah kosong.

“Tunggu, jadi bola tadi itu…Ya! Kalau melempar bola itu kira-kira!”

Jong Hyun, sebagai orang yang diteriakki, tetap berjalan tanpa membalikkan tubuhnya sedikit pun. Hal itu membuat Mi Jung hanya bisa bersabar sambil menghela napas.

“Tsk, dasar menyebalkan.” gerutunya. “Hei, tunggu aku!”

Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Mi Jung yang sudah selesai mentoring keluar dari perpustakaan sembari kembali membaca-baca apa yang dipelajarinya tadi.

“Ah, bodoh sekali selama ini aku tidak mengertinya.”

Jika sebelumnya ia mengeluh mengenai mentor-nya itu, kali ini ia merasa berterima kasih kepada laki-laki itu. Meskipun ia hanya berbicara beberapa kalimat, tetapi penjelasannya begitu padat, singkat, dan jelas. Ia benar-benar kagum dengan cara laki-laki itu mengajarinya.

“Hei, yang ini bagaimana?”

“Kau hanya perlu memindahkannya ke sini, kemudian mengkalikannya. Untuk mendapatkan a, tinggal kau bagi yang ini dengan yang ini.”

“Aku sudah selesai mengerjakan nomor ini. Coba kau periksa.”

“Ini sudah benar.”

“Kenapa aku tidak mendapatkan jawabannya ya?”

“Kau lupa mengkalikannya dengan dua.”

“Ia tidak buruk juga. Ia memang benar-benar pintar. Dan jika dilihat cukup lama, ia tidak jelek juga. Pantas saja para gadis menyukainya.”

Buru-buru Mi Jung menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan pikiran tersebut.

“Astaga! Apa yang kupikirkan? Aku tidak boleh sama seperti gadis lain! Tidak boleh!”

“Eh?”

Entah kenapa tiba-tiba tubuh Mi Jung mendadak terasa bergetar. Ia bahkan menjatuhkan buku yang ada di tangannya. Ia sangka ia bergetar karena udara dingin. Tapi ketika ia melihat ke sekitar, pot di sampingnya juga mulai bergetar.

“GEMPA BUMI! GEMPA BUMI!”

OMO! GEMPA BUMI?!”

“CEPAT KELUAR DARI GEDUNG SEKOLAH!”

YA! JANGAN ADA YANG BERADA DI DALAM! SEMUANYA KELUAR!”

Ingin rasanya Mi Jung ikut melarikan diri bersama dengan orang-orang yang masih ada di sekolah. Tetapi kakinya mendadak lemas. Kakinya bahkan bergetar bukan karena gempa bumi yang sedang terjadi. Matanya pun terpaku menatap ke arah depan.

“Appa! Appa!”

“Mi Jung-a, tidak usah takut. Appa akan selalu ada di sini.”

“APPAAAA!”

Mi Jung terjatuh saat memori lamanya kembali muncul di kepalanya. Ia terduduk di lantai dan membiarkan dirinya berada di tengah-tengah gempa bumi yang sedang terjadi. Tubuhnya benar-benar terasa membeku hingga merasakan detak jantungnya pun tidak bisa.

Tiba-tiba sebuah tangan menariknya hingga membuatnya bisa berlari keluar gedung sekolah. Tepat beberapa menit kemudian, gempa bumi pun berhenti.

Aigoo, untung hanya gempa kecil.”

Omo, aku benar-benar takut! Tadi aku sedang berada di lantai atas!”

Mi Jung pun tersadar dari lamunannya. Ia mulai merasakan ada sebuah tangan yang menggenggam miliknya. Perlahan ia menatap orang itu yang saat ini membelakanginya. Ia membulatkan matanya begitu menyadari siapa orang itu.

“Jong Hyu—“

Lee Jong Hyun. Laki-laki itu memutar tubuhnya dan menatap tepat ke arah mata Mi Jung yang sedari tadi sudah menatapnya. Sedikit salah tingkah, Mi Jung buru-buru mengalihkan pandangannya, kemudian menundukkan kepalanya.

“Goma—“

“Kau bodoh ya?”

Mi Jung kembali menatap ke arah Jong Hyun dengan tatapan bingung. “Ne?”

“Sudah jelas gempa bumi, kenapa malah diam seperti orang bodoh? Kau mau mati?”

Mwo?” Mi Jung mengendus kesal sembari mengempaskan tangan Jong Hyun.

Ya! Jangan sembarangan kalau bicara! Kau bilang aku bodoh?! Ka-kau—“

Entah kenapa, emosinya langsung meluap ketika Jong Hyun mulai memarahinya. Sekalipun ia tahu bahwa tadi ia melakukan hal bodoh, tapi ia tidak suka ada yang menghinanya di saat seperti itu. Di saat memori lamanya kembali terbuka di kepalanya dengan jelas benar-benar membuatnya terpancing oleh emosi ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jong Hyun, yang saat ini tampak menunggu ucapannya.

Mendadak Mi Jung langsung menurunkan nada bicaranya. Ia menghela napas sembari membuang muka.

“Sudahlah, lupakan saja. Aku mau pulang.”

Mi Jung membalikkan tubuhnya dan segera meninggalkan sekolah. Ia terduduk di halte sambil berusaha menahan tangisannya. Ia menunduk sedalam-dalamnya, agar tidak ada yang bisa melihat raut wajahnya yang tampak berantakkan.

Appa, aku benar-benar takut tadi…”

“Hei, cepat! Mana pesanan nomor 5?!”

Cogiyo, aku ingin memesan.”

“Sebentar tuan!”

Beginilah keadaan di restoran bernuansa italia itu pada siang hari. Sangat ramai sampai-sampai Mi Jung sebagai manajer sedikit kewalahan.

Ya. Setelah bertahun-tahun ia melewati masa SMA dan kuliah manajemennya, inilah yang dilakukan oleh Mi Jung. Bekerja sebagai salah satu manajer di sebuah restoran italia, yang dulu juga merupakan tempat magangnya.

Tidak ada yang berubah dari dirinya dan juga kehidupannya. Yang ada ia hanya berubah semakin cantik dengan rambut coklat bergelombangnya, serta make up tipis yang menghiasi wajahnya. Ia juga masih berteman baik dengan Min Ah. Sedangkan ibunya masih terus fokus melanjutkan usaha restorannya.

PRANGGG!

Mendadak restoran menjadi sunyi senyap. Mi Jung yang mulai panik langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara dan mendapati salah satu pelayan wanita bawahannya sedang meminta maaf kepada sang pengunjung.

“Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja menjatuhkan makanannya.”

“Ada apa?”

Ketika Mi Jung sampai di sana, terlihat wajah pelayan wanita itu semakin takut. Beling-beling bekas piring serta makanannya berserakan di atas lantai. Tampaknya, sang pelayan tersebut menjatuhkan pesanan yang sedang ia bawa. Mi Jung yang dibuat semakin panik itu langsung menghadap ke arah sang pengunjung.

“Ah, maafkan kami, pelayan kami tak sengaja—“

Mi Jung membulatkan matanya ketika menyadari siapa yang sedang berada di hadapannya sekarang. Laki-laki berambut coklat pendek dengan raut wajah tegas itu benar-benar sangat Mi Jung kenali. Laki-laki itupun tampaknya juga menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Mi Jung. Meskipun terlihat menutup-nutupinya, tetapi Mi Jung bisa melihat kalau laki-laki itu juga merasa terkejut dengan pertemuan mereka yang tidak diduga itu.

“A-a-a-ah, maafkan kami. Pelayan kami tak sengaja me-melakukannya.” ujar Mi Jung, yang kemudian melirik sang pelayan kembali. Ia pun berbisik. “Cepat minta para koki membuatkannya lagi dan suruh pegawai lain untuk membersihkannya.”

“Ba-ba-baik, Manajer Kim.”

Pelayan itu segera pergi meninggalkan tempat kejadian, menuruti perintah Mi Jung. Mi Jung pun segera menatap ke arah laki-laki itu untuk memastikan keadaannya. Sayangnya, bencana kembali datang. Ia kembali dikejutkan saat melihat jas laki-laki itu yang sedikit ternodai oleh makanan tadi. Ia juga semakin merasa tidak enak ketika laki-laki itu tampak risih membersihkannya dengan tissue.

“Ah, jasmu kotor? Kalau begitu aku aka—“

“Tunggu? Akan menggantinya? Bukankah dia orang kaya? Pasti harga jasnya akan sangat mahal!”

Entah bagaimana bisa, tetapi sangat sial bagi Mi Jung untuk duduk di dekat para penggemar Jong Hyun sembari menikmati makan siangnya. Tidak bisa dibilang mereka sedang ‘menggosipkan’ laki-laki pujaan mereka itu. Sebab  mereka berbicara dengan volume yang sangat kencang hingga Mi Jung bisa mendengar kata per kata dengan jelas—dan baginya itu sangat mengganggu. Mana ada ‘kan orang bergosip dengan suara kencang seperti itu?

“Hei, kalian tahu tidak, ternyata ayah Jong Hyun itu seorang presdir perusahaan interior!”

Jinjjayo? Wah, daebak! Uangnya pasti sangat banyak!”

Omo, omo, omo, bukankah ia sudah seperti pangeran saja? Tampan, pintar, banyak uang lagi!”

Mi Jung mendecakkan lidahnya pelan dan memilih untuk melanjutkan kembali makan siangnya sembari menggerutu dalam hati.

“Dasar matre.”

Lee Jong Hyun, laki-laki yang saat ini tepat berada di depan Mi Jung—dan yang tampak sudah sadar dari rasa terkejut, mengangkat salah satu alisnya dan mulai membuka mulut. “Kau akan apa?”

Mi Jung mendadak salah tingkah sambil berusaha untuk mencari alasan lain. Mana mungkin ia membuat janji untuk menggantikan jas mahal milik laki-laki yang bernama Lee Jong Hyun itu. Membeli tas mahal untuk dirinya sendiri saja belum tentu sanggup.

“A-a-ah, i-i-itu.”

TING

Sebuah ide langsung muncul di kepala Mi Jung. Meskipun masih dengan rasa ‘salah tingkah’, ia buru-buru mengucapkannya.

“Aku akan membawanya ke laundry untukmu.”

Assa. Untung aku belum keceplosan tadi!”

Jong Hyun mengangguk-ngangguk sekilas begitu mendengar penawaran Mi Jung. “Baiklah kalau begitu.” ujarnya sambil mulai membuka jasnya. Ia kemudian meletakkannya di atas Mi Jung dengan kasar. “Di dalamnya sudah ada kartu namaku. Nanti antarkan saja ke alamat itu. Dan juga, tolong jaga tempat ini sebentar ya? Aku ingin mengambil jas yang baru di dalam mobil.”

Tanpa menunggu jawaban Mi Jung, Jong Hyun langsung berjalan keluar dari restoran. Pada saat itulah senyuman Mi Jung langsung pudar dari wajahnya. Ia segera berjalan meninggalkan tempat itu sambil meremas jas yang dipegangnya dengan kasar. Wajahnya terlihat sangat dipenuhi amarah hingga membuat para pegawai yang dilewatinya merasa takut.

“Tsk. Dari dulu hingga sekarang tidak ada bedanya. Lihat saja nanti apa yang akan kuperbuat padamu Lee Jong Hyun!”

TO BE CONTINUED

HALLO READERS! ^^ Entah udah hiatus berapa lama ya saya HAHAHAHA. Dan akhirnya malah kembali dengan FF baru =____=

Maaf ya Author selama ini menghilang dengan tidak tahu dirinya :’) Entah kenapa Author suka macet bikin FF sekalipun mencoba sekeras apapun T_T Dan I think pada saat itu Author sedikit butuh istirahat dari FF. But akhirnya sekarang Author sudah kembali dengan semangat 45, yeayyy (?)

Ngemeng-ngemeng, FF ini dibikin H-2 UN :’))) Jadi kalo untuk lanjutan ya……mungkin setelah UN -_-v Author emang lebih gampang punya ide menjelang ujian dan sejenisnya😄 Terus kalo castnya, Author memutuskan untuk menggunakan sang gitaris CNBlue, aka Lee Jong Hyun, ahay~ Entah kenapa Author enggak bikinnya sama Gong Seung Yeon -_____- Padahal kan harusnya keren kalo bareng Gong Seung Yeon ;)))) Tapi feelnya lebih dapet pake OC (?)

Dan yupp. Author sangat ingin meminta maaf atas segala kesalahan Author T____T Ya nggak usah ngomonglah salahnya apa, kalo dulu suka baca FF nya Author mah pasti ngerti lah ya…………….Please tolong dukung Author terus biar bisa lanjutin FF ini ya. Hal itu tuh yang jadi pemicu Author bisa lanjutin FF :’)))))) Terus kalo FF nya kurang bagus juga Author minta maaf, namanya juga udah lama ga bikin FF;;;;;;;

Okedeh, segitu dulu deh. Sumpah, Author ini kangen kalian banget selama Author hiatus (?) I hope kalian juga kangen Author dan menyukai FF ini *throwheart*

DON’T BE A SILENT READER!
PLEASE GIVE YOUR COMMENT AND LIKE
IF THERE IS SOMETHING WRONG, PLEASE TELL ME

THANKS FOR READING ^^

5 responses to “WHO I HATE IS WHO I LOVE [Chapter 1 — Nappeun Saram!]

  1. Annyeong! Aku udah ngikutin wordpress ini sejak lama tapi baru buka hehe… Ini alurnya benci jadi cinta? haha suka banget & dpt feelnya😀 ngeliat mi jung kesel-kesel sama jonghyun :v, daebak~

  2. Hmmm seru banget, nih crt benci tp cinta kayaknya
    pertama nyebelin kemudian saling suka, mgkn
    seru dan keren author, next nya jgn lm2 ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s