[Oneshot] MISSING.

FF ini bukan ditulis oleh saya (MinHyuniee), melainkan ini adalah ff titipan dari EShyun. Saya hanya membantuuntuk membagikannya di FFindo. Nah, tolong berikan apresiasi kalian melalui komentar setelah membaca ff ini. Terimakasih!

missing

|| Missing || EShyun Storyline || Cast : Hongbin (VIXX) – Yura (Girl’s Day) – Mino (WINNER) || Romance, Friendship, Sad || Oneshoot || PG-15 || Credit poster : Bekey by https://cafeposterart.wordpress.com

 

EShyun in here, bring a oneshoot FanFic!

Happy Reading^^

++++++

Maafkan aku, maafkan aku …

++++++

YA! MINO TUNGGU AKU.”

Suara lengkingan dari seorang gadis memenuhi telinga Song Minho atau yang lebih akrab di panggil Mino. Gadis cantik itu mengejarnya mengelilingi taman.

Di sudut taman, tepatnya dibawah pohon besar nan rindang seorang lelaki lainnya tengah duduk disana. Memperhatikan dua sejoli yang tengah berkejaran itu dengan senyuman di wajahnya. Namun jika diperhatikan dengan seksama senyuman itu sangat sulit dijelaskan, entah itu karena suasana hatinya yang baik atau karena sesuatu hal yang ia tutupi.

“Hongbin-ah, kau tak ingin ikut bergabung dengan kita?” tawar gadis itu.

Lelaki yang tengah duduk itu tertawa sejenak lalu berdiri.

“Jika aku bisa menangkapmu, maka kau harus mentraktirku ice cream, Yura.” setelah menyelesaikan kalimatnya ia segera mengerja gadis bernama Yura itu.

“Baiklah,”pekik Yura lalu berlari menjauh. “Mino, lindungi aku.”gadis itu kini berada di balik punggung Mino.

“Mino, serahkan gadis itu padaku. Aku akan membagi ice cream-ku denganmu nantinya.”

Mino tersenyum. “Kau berjanji?”

Hongbin menganggukkan kepalanya.

Dengan cepat Mino mengunci tubuh Yura dipelukannya.

“Hey, kalian curang,”jerit Yura tak terima.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari pelukan Mino. Tapi semuanya sia-sia ketika Hongbin telah berada di hadapannya dan ikut memeluknya.

Mereka bertiga terjatuh ke atas tanah, tertawa lepas. Perlahan Hongbin melepaskan pelukannya, membiarkan keduanya saling memeluk.

“Kau harus menepati janjimu, Yura,”ujar Hongbin.

“Baiklah, aku akan pergi membeli ice cream. Kalian tunggu disini.”ia hendak berdiri namun dicegah oleh Mino.

“Aku ikut.”

“Kau disini saja.”

“Tapi aku ingin ikut, aku takut hal buruk terjadi pada kekasihku.“

“Kau terlalu berlebihan Song Minho,”ujar Yura ketus. “Aku hanya pergi sebentar, lepaskan aku atau ….”gadis itu membesarkan matanya, tangan kirinya sudah bersiap-siap untuk menjitak kepala lelaki-nya itu.

Arraseo.”dengan cepat Mino melepaskan pelukannya.

“Aku pergi dulu ne?”pamit Yura.

Hongbin tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Mino yang kekanakan dan Yura yang menakutkan.

Mino ikut tertawa. “Kau tahu, aku sangat mencintai gadis itu. Yah, walaupun dia sedikit menakutkan,”ujarnya.

“Tentu saja aku tahu. Menurutku kau dan dia sangat serasi.”

Hongbin bangkit, ia berjalan menuju bawah pohon dimana dia duduk tadi. Mino menyusulnya, ia menepuk pundak sahabatnya itu lalu merangkulnya. Mereka tertawa bersama.

Tak lama Yura kembali dengan tiga ice cream ditangannya, ia terlihat kesusahan. Mino menghampirinya, mengambil dua buah ice cream lalu memberikan yang satunya pada Hongbin. Mereka menghabisakan waktu di taman hingga tak sadar hari semakin gelap.

+++MISSING+++

-Hongbin POV-

“Lee Hongbin!”

Suara itu, suara yang sangat aku kenal. Aku menoleh kebelakang, dan benar saja, gadis itu tengah melambai kepadaku.

Ia menggerakkan tangannya, menyuruhku mendekatinya.

“Kau sendirian? Dimana Mino?”tanyaku ketika telah berada didekatnya.

“Dia masih ada kelas. Kajja, kita ke kantin saja. Aku sudah lapar.”ia melingkarkan tangannya di tanganku, menggandengku.

Kami berjalan menuju kantin yang tak begitu jauh, kebetulan tadi aku memang ingin pergi kesana. Sesampainya disana kami memesan makanan.

Sembari makan kami saling berbincang-bincang.

“Mino melamarku malam tadi,”ucapnya tiba-tiba.

Aku tersedak, kaget dengan ucapannya barusan.

“Kau baik-baik saja?”ia menyodorkan segelas air.

Aku meminum air itu hingga tak bersisa. “Ya, aku baik-baik saja.”

“Ini.”dia memamerkan cincin yang tersemat dijari manisnya. Aku tersenyum.

“Selamat, kalian memang seharusnya segera menikah,”ucapku.

Aniya, aku tak ingin cepat-cepat menikah. Aku harus menyelesaikan kuliahku dulu.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Kau cepatlah cari pasangan, aku ingin kita bisa menikah bersama-sama.”

Lagi-lagi aku tersenyum. “Yura, aku ke toilet sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban darinya aku bergegas pergi. Dadaku terasa sesak, pandanganku mengabur. Sesuatu menumpuk di mataku. Aku berlari tanpa arah, saat ini aku hanya tak ingin melihat mereka, Yura ataupun Mino.

Langkahku terhenti di taman, mencari tempat yang sunyi lalu duduk disana. Pertahananku runtuh, sesuatu yang hangat membasahi pipiku. Aku menangis.

Aku bersalah, ya benar-benar bersalah. Yura dan Mino adalah sahabatku dari kecil, dan mereka sepasang kekasih sudah sejak bertahun-tahun yang lalu. Sedangkan aku? Aku hanya bisa memendam perasaan ini, perasaan yang seharusnya tak pernah kumiliki.

“Aku mencintaimu Yura.”

Kata-kata itu terucap disela-sela tangisanku.

+++MISSING+++

“Hongbin-ah, kau melihat Mino?”tanya Yura yang tiba-tiba datang dengan terburu-buru.

Hongbin menggeleng. “Seharian ini aku tak melihatnya. Wae?”

“Aku tak bisa menghubunginya dari semalam.”

“Mungkin dia sedang sibuk. Kau sudah makan?”tanyanya mengubah topik pembicaraan.

Yura menggeleng. “Tak ada waktu untuk makan, aku khawatir. Tak biasanya Mino tak bisa dihubungi. Aku harus mencarinya.”usai mengatakannya gadis itu langsung melesat pergi.

Hongbin hanya melihat kepergian gadis itu, entah kenapa saat itu ia tak ingin membantu Yura.

+++MISSING+++

Yura telah berada di depan rumah Mino. Ia segera memasukkan password pintu, lalu menerobos masuk ketika pintu terbuka.

“Mino-ah,”panggilnya. “Chagi kau di rumah?”ia membuka pintu kamar Mino. “Chagi kau masih ….”

Yura tak menyelesaikan kalimatnya. Ia mematung di depan pintu kamar Mino. Matanya terbelalak, ia tak mempercayai apa yang ada dihadapannya. Lelakinya tengah tertidur disana, namun bersama gadis lain.

“Mino-ah, apa yang sedang kau lakukan?”ucap gadis itu lirih.

Ia mendekat lalu menguncang pelan tubuh lelaki-nya. Mino menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Gadis yang disebelahnya melakukan hal yang sama.

“Kau sudah bangun chagi?”tanya Mino pada gadis disebelahnya. Ia seperti tak memperdulikan kehadiran Yura disana.

“Mino-ah,”suara Yura bergetar.

“Oh, kau disini?”ucapnya datar.

Oppa, aku masih mengantuk. Tak bisakah aku melanjutkan tidurku sebentar saja?”tanya gadis disebelahnya.

“Hmm, lanjutkanlah tidurmu. Oppa akan menyelesaikan ini diluar.”ia mengecup bibir gadis itu.

“Mino-ah .…”

“Ikut aku keluar.”Mino menarik paksa tangan Yura dan menyeretnya keluar.

Yura terdiam, tak biasanya Mino memperlakukannya kasar seperti itu.

“Hubungan kita berakhir sampai disini,”ucap Mino tiba-tiba.

Wae?”

“Aku tak mencintaimu lagi,”jawabnya ringan.

“Kau sudah melamarku Mino, kau bilang kau ingin menikahiku.”

“Iya. Tapi sekarang aku tak mencintaimu. Aku sudah menemukan penggantimu. Kau pergilah.”

“SONG MINHO!”gadis itu membentaknya.

“Jangan membentakku! Pergi sekarang atau aku akan berlaku kasar padamu.”

Neo!”

“PERGI!”

Lagi-lagi Mino menyeret paksa Yura. Ia membuka pintu dan mendorong gadis itu keluar.

“Jangan pernah mencariku lagi,”ucapnya sebelum pintu itu tertutup.

Tubuh Yura melemas, kakinya tak sanggup menopang berat badannya lagi hingga tanpa ia sadari tubuhnya terjatuh. Ia terduduk, masih di depan rumah Mino. Tangisnya benar-benar pecah. Sesekali bibirnya mengumpat, namun tak ada tanda jika Mino akan keluar dan menenangkannya.

Gadis itu berdiri, menyeka airmatanya lalu melangkah pergi. Ia seperti kebingungan, kakinya melangkah tanpa tujuan. Beberapa menit kemudian gadis itu telah memegang handphone-nya, mengetik sebuah nomor dan memanggilnya.

“Hallo,”jawab suara diseberang sana.

“Hongbin-ah, kau dimana?”tanyanya dengan suara bergetar.

“Yura? Kenapa dengan suaramu?”tanyanya panik.

“Aku … aku ….”tangisnya pecah lagi.

“Kau menangis? Sekarang katakan padaku kau dimana, tunggu disana aku akan segera menyusulmu.”

Setelah menyebutkan keberadaannya Yura menutup telepon. Ia memutuskan untuk duduk di depan sebuah toko yang telah tutup. Banyak mata yang melihat ke arahnya, mungkin kasihan atau entahlah ia tak tahu arti pandangan orang-orang itu.

Beberapa menit kemudian seorang lelaki datang dengan nafas terengah-engah. Ia hanya memakai kaos tipis dan celana jeans, bahkan lelaki itu masih memakai sandal rumah. Tangan kirinya masih memegang erat handphone-nya.

“Yura …,”panggilnya lirih.

Hongbin mendekati gadis itu perlahan.

“Mino …”nama itu keluar dari bibirnya.

“Ada apa?”lelaki itu kini telah duduk disampingnya.

“Mino … Mino ….”

Yura tak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu memeluk kuat Hongbin dan lagi-lagi menangis.

Hongbin terkejut dengan tidakan Yura yang tiba-tiba itu. Dia sangat penasaran, sebenarnya apa yang membuat gadis kuat itu sampai menangis seperti ini.

“Kau baik-baik saja?”tanyanya hati-hati.

Pertanyaan lelaki itu hanya dijawab dengan sesegukan.

“Menangislah, menangis sepuasmu. Aku ada disini, bersamamu.”

Hongbin memeluk gadis itu, membiarkannya menumpahkan seluruh emosinya. Sesekali ia menepuk pundak dan juga mengelus pelan rambutnya. Sebenarnya hati lelaki itu amat sakit. Bagaimana tidak? Gadis yang dicintainya kini tengah menangis sedih namun ia tak mengetahui penyebabnya. Belum.

Isakan tangis perlahan meredup, namun gadis itu masih memilih untuk berada di pelukan Hongbin.

“Kau sudah merasa baikan?”tanya Hongbin yang dijawab dengan anggukan olehnya, “Kau bisa menceritakkannya padaku? Apa yang membuatku menangis seperti ini.”

Yura diam, ia seakan enggan bercerita.

“Hongbin-ah, bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?”pinta gadis itu tiba-tiba.

Hongbin sedikit terkejut mendengar permintaan gadis itu. Bukannya apa-apa, mereka memang sudah sering menginap bersama tetapi bisanya mereka bertiga. Ya bertiga, bersama Mino.

“Kau tak ingin aku antar ke rumah Mino saja?”tawarnya.

Yura menggeleng cepat. “Aniya, aku tak ingin bertemu dengannya.”

Wae?”

“Tak bisakan kau mengiyakan permintaanku saja?”

Hongbin menghela napas.

“Kumohon. Aku sedang tak ingin bersama Mino, dan aku juga tak ingin sendiri.”

Hongbin berfikir sejenak, ada rasa takut jika ia memperbolehkan gadis itu menginap di tempatnya. Bukan. Bukan takut mereka akan melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi, tapi ia lebih takut persahabatannya dengan Mino menjadi hancur karena sebuah kesalahpahaman.

“Lee Hongbin ….”panggil Yura lirih.

“Baiklah, kau boleh menginap di rumahku malam ini. Tapi sebagai gantinya kau harus menceritakan apa yang terjadi padamu.”ujarnya.

Gomawo.”gadis itu mengeratkan pelukannya.

“Kau bisa berjalan bukan?”

Yura mengangguk.

“Tunggu disini, aku akan mencari taxi.”

+++MISSING+++

-Hongbin POV-

Aku membantu Yura berbaring, wajahnya terlihat sangat lelah.

“Sebentar, aku akan mengambil air minum.”

Aku beranjak menghampiri lemari pendingin, mengambil sebotol air. Tanganku yang lain mengambil gelas, lalu menuangkan air kedalamnya.

“Ini, minumlah.”aku menyodorkan air itu pada Yura.

Gadis itu menegaknya habis. Wajahnya terlihat mulai tenang.

“Kau berjanji akan bercerita padaku bukan?”kataku menagih janjinya.

Gadis itu meletakkan kembali kepalanya ke atas bantal. “Bolehkan aku bercerita esok hari? Aku sangat lelah.”ia menutup matanya perlahan.

Aku tersenyum, tak tega untuk memaksanya melihat dia yang seperti ini.

“Tidurlah,”ucapku akhirnya. “Aku akan keluar, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku.”

“Tunggu.”

Ketika hendak melangkah aku dikejutkan dengan tangannya yang menarik ujung bajuku.

“Aku tak ingin sendiri, Hongbin-ah. Kau disini saja, temani aku.”

Aku sedikit tak percaya dengan pendengaranku. Ada apa dengan Yura? Sangat tak biasa dia seperti ini.

“Temani aku disini. Setidaknya sampai aku benar-benar tertidur,”pintanya lagi.

Aku tak sanggup untuk mengatakan “tidak”, tapi aku sedikit ragu.

“Kumohon.”kali ini ia memelas.

“Baiklah,”ucapku akhirnya. “Aku akan disini hingga kau tertidur, jadi sekarang tidurlah.”aku mengalah.

Pegangan tangannya pada ujung bajuku melemah, aku mendekatinya duduk di sudut tempat tidur.

“Jangan tinggalkan aku ne?”pintanya lagi.

Aku tertawa kecil, “Ne.”

“Berikan tanganmu, supaya aku bisa memastikan kau benar-benar tak pergi.”

Gadis itu meraih tangan kananku, mengenggamnya. Sangat erat.

“Tidurlah. Pejamkan matamu.”

Ia memejamkan matanya. Wajahnya terlihat lebih tenang. Tangan kiriku terangkat hendak mengelus rambutnya, tapi gerakanku terhenti saat menyadari satu hal. Gadis ini hanyalah cinta sepihakku.

+++MISSING+++

-Mino POV-

“Kau bodoh Song Minho! Benar-benar bodoh.”

Aku mengutuk diriku. Bagaimana bisa aku memperlakukan gadis yang sangat aku cintai dengan kasar? Bagaimana mungkin dengan mudahnya aku menyakitinya? Membuatnya menangis. Kau benar-benar lelaki tak tahu diri Mino!

Kau bahkan telah melamarnya Mino, melamarnya! Kenapa kata-kata itu dengan mudah meluncur dari mulutmu eoh? KENAPA! Kau tak bersyukur memiliki gadis sesempurna dirinya? Kau pikir mudah mendapatkan gadis sepertinya hah?

Aku tertunduk, kepalaku dipenuhi dengan ribuan pertanyaan yang tak bisa kujawab. Sakit. Sangat sakit. Seluruh tubuhku terasa sangat sakit, terutama sesuatu di dadaku. Aku bahkan tak bisa menjelaskan seberapa sakitnya itu. Benar-benar sakit.

Entah sudah berapa banyak airmata ini tumpah. Menyesal? Ya aku sangat menyesal. Aku mencintai gadis itu, sangat. Maafkan aku Yura, maafkan aku. Aku tak tahu bagaimana aku bisa seperti ini. Aku benar-benar minta maaf.

Aku mencintaimu, Yura.

+++MISSING+++

Matahari mengintip dari celah jendela, sinar menyilaukan itu membuat Yura terbangun dari tidurnya. Gadis itu sedikit terkejut melihat Hongbin tertidur dengan posisi yang baginya sangat tak nyaman. Ia mengangkat pelan kepala lelaki itu dan menyelipkan sebuah bantal.

“Kau bahkan tertidur disini. Maafkan aku Lee Hongbin.”bisiknya pelan.

Ia melangkah sangat pelan, tak ingin membangunkan lelaki itu. Gadis itu menuju dapur. Beberapa saat kemudian ia menyibukkan diri membuat sarapan, gadis itu tak tega jika hanya pergi tanpa melakukan apapun untuk lelaki yang rela melakukan apapun padanya.

Setelah semuanya siap, ia menata makanan di meja makan. Tak lupa ia meninggalkan sebuah pesan di post-it. Sebelum meninggalkan rumah itu ia memasuki kamar sekali lagi, memastikan bahwa lelaki itu masih tertidur.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman indah. “Gomawo Lee Hongbin,”bisiknya pelan kemudian benar-benar meninggalkan rumah itu.

Setengah jam kemudian tubuh Hongbin bergerak, ia menggeliat. Matanya terbuka perlahan, lalu tertutup kembali saat sinar matahari menenai indra penglihatannya. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut, masih enggan untuk bangun dari tidurnya. Belum lama ia bergulung didalam selimut lelaki itu terduduk. Ia melihat sekelilingnya, seakan mencari sesuatu. Tidak, dia tak mencari sesuatu, tapi mencari seseorang. Yura.

“Yura-ah.”suara lelaki itu masih parau, efek bangun tidur.

Ia mencoba mencari gadis itu tapi tak menumukannya dimanapun. Indera penciumannya membawa ia ke dapur, dilihatnya meja makan telah tertata rapi. Lelaki itu menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya.

Matanya melihat secarik kertas.

“Maafkan aku pergi tanpa membangunkanmu. Aku tak tega melihatmu tertidur dengan pulas. Aku ada jadwal pagi, jadi harus segera pulang dan bersiap. Oh iya, terimakasih untuk yang tadi malam, aku beruntung memiliki sahabat sepertimu dan soal apa yang membuatku menangis semalamam aku akan merahasiakannya darimu, hahaha tidak aku hanya bercanda. Aku akan menceritakannya nanti. Nikmati sarapanmu ne?”

Hongbin tersenyum, ia beranjak menuju kamarnya mencari sesuatu lalu kembali ke meja makan. Jarinya kini tengah sibuk mengetik sesuatu di atas handphone-nya.

“Aku tak sabar menunggu cerita darimu. Oh iya, apa kau tahu jika kau mengigau ketika tidur? Kau sangat lucu, hahaha. Aku akan menikmati sarapan buatanmu, semangat untuk kelas pagimu ne?”

Jempol lelaki itu menekan tombol send dan setelahnya ia mulai melahap makanan dihadapannya.

+++MISSING+++

-Yura POV-

Bibirku tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman saat membaca sebuah pesan dari Hongbin. Aku melanjutkan langkahku. Ya, saat ini aku tengah berjalan tapi bukan menuju kampus seperti yang aku katakan pada Hongbin. Aku berbohong padanya, terpaksa.

Aku hanya tak ingin mengingat kejadian semalam. Aku bahkan tak ingin mempercayainya dan menganggap itu hanya mimpi buruk belaka. Dan disinilah aku sekarang, di depan rumah Mino dengan membawa sarapan yang aku buat di rumah Hongbin tadi.

Aku menekan bel, rasanya terlalu takut untuk langsung menerobos masuk. Takut kejadian semalam terulang kembali.

Agak lama aku menunggu namun tak ada tanda-tanda Mino akan membukakan pintu. Aku berusaha berpikir positif, mungkin ia sendang mandi atau masih tertidur. Jariku menekan bel untuk kesekian kalinya, namun tetap tak ada jawaban darinya.

Kakiku mulai lelah berdiri seperti ini, hingga akhirnya tanpa kusadari jemariku mulai menekan password rumah. Pintu terbuka, dengan ragu aku masuk kedalam.

“Mino-ah,”panggilku namun tak ada jawaban. “Song Minho,”panggilku lagi.

Saat ini aku telah berada di ruang tamu, aku menuju kamarnya mengetuknya pelan.

“Kau di dalam Mino?”panggilku agak keras, namun tetap tak ada jawaban.

Dengan hati-hati aku membuka pintu kamar, matanya mengintip di balik celah pintu. Tidak ada siapapun disana.

Aku membuka pintu lebar, melangkah masuk. Suara shower yang berasal dari kamar mandi di ruangan itu terdengar sangat jelas. Aku tersenyum, ternyata lelaki itu sedang mandi.

“Kau sedang mandi oppa? Aku membawakanmu sarapan. Cepatlah, aku akan menunggumu di meja makan.”seruku.

Aku segera keluar dari kamar menuju dapur, menghangatkan makanan yang kubawa sembari menyiapkan meja makan.

Tiga puluh menit berlalu namun tak ada tanda-tanda kedatangan Mino.

“Apa yang dia lakukan dikamar mandi sehingga lama sekali?”gumanku.

Aku memutuskan untuk memanggilnya kembali.

Suara shower masih mendominasi, perlahan aku mengetuk pintu kamar mandi.

“Mino-ah, kenapa kau lama sekali?”

Tak ada jawaban.

“Song Minho? Jawab aku. Kau sedang apa disana? Kenapa lama sekali?”

Perasaan buruk tiba-tiba menghantuiku. Pikiran-pikiran aneh memenuhi kepalaku. Tanganku terangkat dengan sendirinya, mengenggam kenop pintu kamar mandi. Dengan gerakan lambat aku memutarnya, tidak terkunci.

Pintu telah terbuka sedikit, tapi aku tak berani membukanya lebar-lebar.

“Mino-ah?”aku memanggilnya lagi dan tetap tak ada jawaban.

Aku menutup mataku, mengatur napas mencoba menenangkan diri. Menepis semua pikiran-pikiran aneh yang entah bagaimana bisa hinggap dikepalaku.

Dengan gerakan cepat aku mendorong kuat pintu itu membutnya terbuka. Sangat lebar.

“SONG MINHO!”

Aku menjerit, sangat kuat. Kedua tanganku membekap mulutku. Tiba-tiba aku merasa sangat lemas, kakiku bergetar hebat, dan tanpa kusadari aku sudah terduduk di lantai.

Aku berangsur mundur, masih dalam keadaan duduk. Terlalu takut dan benar-benar lemas.

Aku tak bisa berpikir untuk sesaat, aku juga tak bisa berkata-kata. Hanya mataku yang berfungsi normal saat itu, dan tatapanku tertuju pada satu titik. Dimana seorang lelaki yang sangat aku kenal tergeletak di lantai kamar mandi dengan air yang terus membasahinya.

Aku akhirnya tersadar, tanganku yang masih bergetar hebat kupaksakan untuk mencari handphone di kantung celanaku. Masih dengan tangan yang bergetar aku mencoba membuka passcode handphone-ku tapi berkali-kali gagal. Aku sempat putus asa dan benda itu akhirnya meluncur jatuh dari tanganku.

Setitik cairan jatuh ke atas lantai, bukan itu bukan darah hanya setitik cairan bening yang tak lain adalah airmataku. Aku tak tahu kenapa aku menangis, mungkin karena aku terlalu bodoh sehingga tak bisa melakukan apapun selain menangis.

Aku mengusap wajahku kasar, menyeka airmataku. Mencoba mengumpulkan keberanian lalu memungut handphone. Aku hanya terfokus pada benda canggih itu, walaupun sulit akhirnya aku bisa membuka passcode. Aku mencari nama seseorang di kontak lalu meneleponnya.

Telepon telah tersambung, namun ia tak menjawabnya. Aku mencobanya sekali lagi. Tepat sebelum telepon kembali terputus seseorang disana mengangkat teleponku.

Yoboseyo.”

Aku hanya mendengarkannya, bibirku seakan terkunci. Bahkan satu kata saja sulit untuk diucapkan.

“Yura-ah, ada apa?”

Lagi-lagi aku terdiam.

“Yura?”

Aku menangis, benar-benar keras. Dan aku tau orang di seberang sana mendengarnya dengan jelas.

“KAU KENAPA YURA?”

Ia berteriak, membuatku tersentak.

“Mi-mino. Hongbin, a-aku, to-tolong aku. Mino, Mino.”suaraku keluar tapi aku tak bisa merangkai kalimat. Hanya beberapa kata yang terucap dengan terbata-taba.

Waeyo? Kenapa Mino?”

Dia sepertinya mengerti dengan ucapanku.

“Kesini. A-aku, Mino. A-aku disini.”

Aku bisa merasakan orang di seberang sana sangat cemas.

“KAU DIMANA?”teriaknya lagi.

“Mino, Mino ….”

Hanya nama itu yang keluar dari bibirku.

“Kau di rumah Mino?”

Aku mengangguk cepat, tapi kemudian aku sadar bahwa dia tak bisa melihatku.

“Y-ya. A-aku. Disini.”

“TUNGGU DISANA!”

Setelah itu sambungan telepon terputus, dan tiba-tiba semua menjadi gelap.

+++MISSING+++

“Kau sudah sadar?”

Hongbin yang sedari tadi berada di sebelah Yura langsung bersuara ketika melihat gadis itu membuka matanya.

Yura mengangguk kecil.

“Kau pingsan sangat lama, aku khawatir. Apa kita perlu ke dokter?”

Yura mencoba untuk duduk, Hongbin membantunya.

Aniya, aku baik-baik saja. Apa yang terjadi? Oh iya, barusan aku bermimpi, sangat buruk Hongbin-ah.”

“Apa mimpimu?”

“Aku mimpi Mino … meninggal.”

Hongbin tertunduk.

“Itu mimpi yang sangat tidak masuk akal bukan? Di dalam mimpi, aku menemukannya tergeletak di lantai kamar mandi. Aku sangat terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku lemas, bahkan untuk berdiri pun susah. Aku mencoba mengambil handphone untuk-“

Yura terdiam saat menyadari satu hal, mimpi itu terasa sangat nyata.

“Lee Hongbin, dimana Mino?”gadis itu bertanya dengan sangat hati-hati.

Namun bukan jawaban yang ia dapat darinya, melainkan sebuah tatapan yang sangat sulit untuk dijelaskan.

“Dimana Mino?”

“Kau tidak bermimpi Yura.”

Yura tak mempercayai apa yang ia dengar dari Hongbin, matanya terbuka lebar seakan meminta penjelasan dari lelaki itu.

“Maafkan aku Yura. Maafkan aku.”lelaki itu menundukkan kepalanya, Yura bisa melihat dengan jelas setitik air jatuh dari matanya.

“JANGAN BERCANDA LEE HONGBIN!”teriak Yura.

Gadis itu langsung bangkit dan berlari meninggalkan Hongbin.

“KAU MAU KEMANA YURA?”teriak Hongbin sembari mengejar gadis itu.

Gadis itu berlari keluar dari apartement Hongbin, ia bahkan tak sadar jika masih memakai sandal rumah. Yura langsung memberhentikan sebuah taksi ketika telah berada di tepi jalan. Setelah menyebutkan alamat, taksi itu melaju dengan kencang.

Hongbin terlambat selangkah, dengan panik ia berlari menuju parkiran lalu masuk kedalam mobilnya, lelaki itu berusaha mengikuti arah taksi dimana Yura berada.

Taksi yang ditumpangi Yura berhenti di depan rumah Mino, gadis itu keluar dengan terburu-buru bahkan belum membayar ongkos taksi. Ia tak menghiraukan sang supir yang meneriakinya.

Tak lama Hongbin tiba disana, ia menghampiri supir taksi yang terlihat kesal, memberinya sejumlah uang lalu masuk ke rumah itu. Ia mendapati Yura tengah berdiri diam di dalam kamar yang sangat ramai dengan orang-orang yang tak dikenalnya, dan sebuah ruangan dibatasi dengan garis polisi, yang didalamnya terdapat seseorang yang tengah terbaring di atas lantai.

Hongbin memeluk Yura dari belakang, tangannya menutup kedua mata gadis itu.

“Jangan melihatnya,”ucapnya lembut.

Tangan Hongbin terasa hangat dan basah, gadis itu menangis.

Hongbin membalik tubuh Yura dan memeluknya erat, menempatkan kepala gadis itu di atas dadanya.

“Maafkan aku Yura.”

Gadis itu tiba-tiba mendorong kuat tubuh Hongbin hingga pelukan itu terlepas.

“JANGAN IKUTI AKU!”teriaknya kuat lalu pergi dari hadapan Hongbin.

“YURA!”

Teriakan lelaki itu tak dihiraukannya, ia hanya berlari tanpa tujuan. Ya benar-benar tanpa tujuan.

+++MISSING+++

-Hongbin POV-

“JANGAN IKUTI AKU!”

Gadis itu tiba-tiba berteriak, cukup membuat aku terkejut. Ia mendorong tubuhku dan sedetik kemudian pergi meninggalkanku.

“YURA!”

Aku meneriaki namanya bermaksud menahan langkahnya. Tapi gadis itu tak menghiraukanku, ia tetap berlari.

Aku mengacak-acak rambutku kesal, kemudian berlari mengejarnya. Aku kira dia akan memberhentikan taksi dan pergi tapi ternyata aku salah. Gadis itu kini di tepian jalanan, berlari sekuat yang ia mampu. Dan aku tak tahu kemana tujuannya.

Aku mengikutinya diam-diam, aku tahu saat ini ia butuh waktu untuk sendiri, butuh waktu untuk mencerna kejadian yang sangat tiba-tiba ini dan sama, aku juga butuh waktu untuk hal itu.

Gadis itu berlari menyusuri jalanan, banyak mata yang melihat ke arahnya, pandangan bingung dan juga tak sedikit orang yang mencemoohnya. Bagaimana tidak? Tampilan gadis itu sangat berantakan, dengan hanya menggunakan sandal rumah dan wajah pucatnya yang sedari tadi dibasahi oleh airmata.

Langkahnya perlahan melambat, bahkan sekarang ia tertatih. Sungguh aku khawatir melihatnya, ingin rasanya aku menghampirinya namun aku terlalu takut untuk melakukan itu. Takut dia akan menolakku.

Aku terus mengikutinya hingga tak sadar kini kami telah berada di depan apartement-nya. Kulihat ia memasuki gedung bertingkat itu. Masih dengan tertatih ia menuju tangga darurat, apa gadis ini akan menaiki anak tangga menuju lantai 15?

Pertanyaan itu terjawab sudah, dan sekarang kami telah sampai ke lantai 15, ya dengan menaiki anak tangga. Aku bahkan tak merasa letih sedikitpun, tidak sama sekali. Dipikiranku saat ini hanya ada gadis itu, Yura.

Aku memandangnya dari jauh, dan ia telah berada di pintu apartement-nya. Ia seperti enggan untuk masuk kedalam. Gadis itu hanya berdiri diam menghadap pintu.

Cukup lama aku menunggunya, cukup membuatku merasa sangat bersalah padanya. Sekitar setengah jam kemudian baru ia membuka pintu dan masuk kedalam. Aku lega, benar-benar lega. Setidaknya gadis itu kini berada di tempat yang aman dan tidak berkeliaran di jalanan.

Dan akhirnya aku beranjak meninggalkan tempat itu

+++MISSING+++

Pagi itu gerimis ketika pemakaman Mino tengah dilaksanakan. Langit seperti ikut bersedih dengan kepergian lelaki tampan itu secara tiba-tiba. Hongbin berdiri paling dekat, wajahnya telah dipenuhi dengan air mata dan air hujan, lelaki itu tak memakai apapun untuk mencegah hujan menerpanya. Bahkan kini kemeja hitamnya telah setengah basah oleh air hujan.

Kesedihan memenuhi tempat itu, tangisan dan isakan menjadi backsound dari pemakaman itu. Banyak yang menghadirinya, mulai dari keluarga hingga teman-temannya, namun satu orang terdekatnya tak berada disana. Dia, Yura.

Pemakaman berjalan dengan tenang, perlahan keramaian mulai mereda. Satu-satu dari mereka meninggalkan tempat itu. Hingga tinggalah seorang lelaki disana, yang tak lain adalah Hongbin.

Gerimis masih menghiasi pagi itu, namun Hongbin tak menghiraukannya. Ia seakan tak peduli tubuhnya telah basah kuyup karena air hujan, ia masih berdiri disana, membiarkan airmatanya menyatu dengan air hujan.

Cukup lama ia berdiri disana, atau bahkan sangat lama? Entahlah, bahkan kini cuaca telah cerah.

“Kenapa kau harus pergi seperti ini Mino-ah? KENAPA!”

Ia berteriak.

“KENAPA KAU MENINGGALKAN KAMI SONG MINHO!”

Lagi-lagi ia berteriak.

“Bukan ini yang aku mau, BUKAN!”kali ini tubuh Hongbin terjatuh, ia berlutut di depan makam sahabatnya itu, “Maafkan aku Mino-ah, maafkan aku ….”ia terisak.

Lelaki itu menundukkan wajahnya, kembali menangis.

“Kumohon, maafkan aku ….”

Ia bertahan dengan posisi itu selama setengah jam lebih, setelah puas menangis lelaki itu berdiri dan dengan berat hati meninggalkan makam itu.

Hongbin berjalan menuju mobilnya, setelah masuk ia segera mengendarai mobilnya menuju sebuah tempat.

Lelaki itu kini berada di depan pintu apartement Yura, sejak semalam ia belum menghubungi gadis itu. Memang sengaja. Dan ia tak menyangka jika Yura tak akan datang di pemakaman Mino. Hal itu membuatnya sangat khawatir dan memutuskan untuk mendatanginya.

Ia menekan bel. Sekali, dua kali, tiga kali tak ada jawaban.

“Yura, kau didalam?”kali ini ia mencoba memanggilnya namun tetap tak ada jawaban.

Ia mencoba sekali lagi dan tak ada hasil.

“Aku tahu kau didalam Yura, jadi tolong buka pintunya.”

Yura tetap tak menggubrisnya.

“YURA!”

Kali ini ia menggedor-gedor pintu rumah itu.

“BUKA PINTUNYA YURA!”teriaknya.

Ia terlalu khawatir, berbagai hal buruk memenuhi pikirannya.

“YURA! DENGARKAN AKU! BUKA PINTUNYA ATAU AKU AKAN MEMBUKANYA SECARA PAKSA!”teriaknya lagi.

Dan tetap tak ada jawaban.

Hongbin melihat sekelilingnya, mencari sebuah benda yang bisa membantunya untuk menghancurkan gagang pintu yang dilindungi password itu. Dan ia memilih untuk menggunakan tabung gas pemadam kebakaran sebagai alat untuk membantunya.

Lelaki itu memecahkan kaca pelindung tabung itu dengan tangan kosong, ya benar-benar hanya menggunakan tinjunya. Ia tak memikirkan rasa perih akibat luka di tangannya. Saat ini ia tengah berusaha merusak kunci pintu itu, ia tak peduli apa kata tetangga dengan keributan yang ia buat, yang ia pedulikan saat ini adalah Yura.

Berkali-kali ia memukul gagang pintu itu dengan tabung tersebut dan entah pada pukulan kesekian ia berhasil merusaknya. Lelaki itu mendobrak pintu dan berlari masuk ke dalam.

“YURA!”

Ia berteriak memanggil nama itu sembari menyusuri apartement. Ia memeriksa setiap ruangan dan tetap tak menemukan gadis itu.

“Kau dimana Yura?”panggilnya lirih.

Hongbin kini berada di kamar gadis itu, namun tak ada tanda-tanda ia berada disana sampai sudut matanya melihat sesuatu dibawah tempat tidur.

Hongbin mendekati tempat tidur itu perlahan, berjongkok dan melihat kebawahnya. Dan benar saja, Yura berada disana ia berbaring namun tak tertidur. Gadis itu menangis dalam diam.

“Yura-ah, kau kenapa disana?”tanya Hongbin pelan, namun tak di respon oleh Yura, “Keluarlah,”pintanya.

Hongbin berusaha menjangkaunya, memegang kedua tangannya dan menariknya keluar dari sana. Sedikit kasar memang, tapi hanya itu cara agar Yura keluar dari tempat persembunyian anehnya itu.

Penampilan gadis itu sangat-sangat berantakan. Wajahnya pucat, lingkaran hitam menghiasi matanya dengan amat jelas. Pandangannya kosong, rambutnya berantakan bahkan dia masih memakai pakaian yang sama seperti terakhir kali Hongbin melihatnya.

Hongbin mendudukan Yura di atas kasur, matanya menatap sedih gadis itu. Bagaimana bisa gadis yang sangat ceria dan selalu tertawa lepas saat bersamanya kini hanya memandangnya dengan tatapan kosong dan dengan penampilan yang sangat berantakan. Ia membelai lembut rambut Yura sembari membawanya berbicara.

“Kau baik-baik saja Yura-ah?”tanyanya pelan.

Lelaki itu sengaja menunggu jawaban dari Yura hingga terjadilah keheningan diantara mereka.

“Kau sudah makan?”tanyanya lagi.

Dan kali ini Yura terlihat menggelengkan kepalanya pelan, sebuah kemajuan.

“Kau tidak lapar? Mau aku buatkan sesuatu?”tanya Hongbin.

Tanpa menunggu jawaban dari Yura ia berdiri, namun langkahnya tertahan saat tangan gadis itu menarik tanganya.

Wae?”

Yura memandang tangan kiri Hongbin yang kini tengah ia pegang, tangan itu terluka dan darah segar mengalir dari sana.

“Oh ini? Aniya, aku tidak kenapa-kenapa. Hanya luka kecil.”lelaki itu menarik tangan kirinya, menyembunyikannya dibalik kantung celananya. “Kau tunggu disini, aku akan membuatkan sesuatu untuk kau makan.”

Yura kembali menahan tangan lelaki itu, kali ini ia menatap manik indah milik Hongbin.

Mata gadis itu berkaca-kaca, Hongbin dapat melihatnya dengan jelas.

Gwaenchana, jangan menangis Yura-ah.”lelaki itu mengurungkan niatnya untuk pergi, ia memilih untuk duduk di samping Yura.

“Mino ….”nama itu keluar dari bibir Yura.

Hati Hongbin terasa amat sakit mendengar nama itu, bukan karena ia cemburu melainkan karena rasa kehilangan akan sahabatnya itu.

“Aku tahu Yura-ah, aku tahu. Bukan kau saja yang merasa kehilangan, aku juga. Aku juga tak percaya dengan kepergiannya yang mendadak ini.”suara Hongbin bergetar, ia tengah menahan agar airmatanya tidak tumpah dihadapan gadis itu.

Ia ingin menunjukkan bahwa dia kuat dan Yura juga harus kuat sepertinya.

“Kenapa … Kenapa Mino meninggalkan aku?”pertanyaan pertama yang muncul dari gadis itu. “Kenapa harus dengan cara seperti itu eoh? KENAPA LEE HONGBIN? JAWAB AKU! KENAPA DIA PERGI DENGAN CARA SEPERTI ITU? KENAPA!”

Yura menjerit, sangat kuat. Gadis itu benar-benar mengeluarkan semua emosinya. Tangannya memukul-mukul dada bidang Hongbin. Tangisnya kembali pecah, dan kali ini Hongbin tak kuat menahan diri agar tak menangis pula. Pertahanannya runtuh bersamaan dengan setitik air yang mengalir dari ujung matanya.

Hongbin memeluk Yura, sangat erat, benar-benar erat. Lelaki itu memeluknya seakan tak ingin melepaskannya lagi. Ia menangis, kali ini dengan suara. Ia benar-benar sudah tak bisa menahan perasaan sedihnya lagi.

“Maafkan aku … maafkan aku ….”kata-kata itu yang terselip diantara isakan Hongbin, “Ini semua karena aku Yura. Aku yang membuat Mino pergi, aku yang membuatnya meninggalkan kita. Aku bersalah Yura, aku bersalah. Jika saja aku tak seperti ini, jika saja aku bisa menyimpan semuanya rapat-rapat, jika saja dia tak mengetahui semuanya … Aku benar-benar minta maaf Yura-ah … ini semua karena aku.”

Hongbin mengeluarkan segala isi hatinya, mengatakan hal-hal yang sulit dimengerti oleh Yura. Hingga kemudian lelaki itu mengeluarkan beberapa buah kertas yang telah tak berbentuk dan sangat lusuh dari saku celananya. Kertas yang telah diwarnai oleh darah dari tangannya, kertas yang tak lain adalah sebuah surat dari Song Minho.

Dear Lee Hongbin,

Aku harap kau orang pertama yang menemukan surat ini. Kenapa? Karena surat ini memang sengaja aku tulis untukmu. Dan semoga saja bukan Yura yang menemukannya.

Maafkan aku Lee Hongbin, aku merasa gagal sebagai seorang sahabat. Aku merasa sangat bersalah padamu, aku bahkan tak pernah tahu bagaimana perasaanmu dan sekalipun aku tak pernah bertanya tentang hal itu padamu. Dan sebenarnya aku sangat terkejut ketika mengetahui hal itu. Hal yang seharusnya tak aku ketahui, hal yang seharusnya bisa kau simpan baik-baik.

Aku tak menyalahkanmu, tenang saja. Aku menyalahkan diriku sendiri, kita bahkan sudah bersahabat sejak masih kecil dan bagaimana bisa aku tak mengetahui hal itu? Aku yang bodoh Hongbin-ah, aku yang bersalah.

Hari itu, ketika aku melihatmu seorang diri di taman, aku berniat menghampirimu, seperti biasa ya seperti kita biasanya. Dan aku sangat terkejut ketika melihat kau menangis, dan itu pertama kali sejak aku mengenalmu. Kau bahkan tak menangis saat mendapatkan jahitan di kakimu akibat jatuh dari sepeda saat kita masih kecil bukan? Tapi kali ini kau menangis. Awalnya aku tak tahu apa yang membuatmu sampai menangis seperti itu, ketika aku telah berada sangat dekat denganmu, aku mendengar sesuatu yang harusnya tak kudengar, sesuatu yang mungkin adalah rahasia terbesar dalam hidupmu. Aku mendengar kau berkata, “Aku mencintaimu, Yura”.

Aku menghentikan langkahku karena 3 kata itu dan mengurungkan niatku untuk menghampirimu karena saat itu aku telah mengetahui apa yang membuatmu menangis. Dan itu benar-benar membuatku sangat terkejut. Hey, bagaimana bisa kau merahasiakan itu padaku?

Kau ingin menjaga perasaanku? Seperti itu? Tapi dengan cara kau mengorbankan perasaanmu? Kau pengecut Lee Hongbin! KAU BUKAN SEORANG LELAKI JIKA SEPERTI ITU! Maaf, aku terlalu emosi. Aku bahkan sangat emosi dan sebuah kesalahan terjadi.

Malam itu aku sangat mabuk, benar-benar tak sadar dengan apa yang kuperbuat. Dan masih dengan tanpa sadar aku membawa pulang seorang gadis. Oke mungkin itu terdengar biasa, hanya saja yang membuat itu tidak biasa adalah ketika pagi hari Yura datang dan melihat aku tengah tidur dengan gadis lain. Saat itu aku menyakitinya Hongbin, benar-benar menyakitinya.

Ia menangis. Ingin rasanya aku memeluknya, memohon ampun dan menjelaskan semuanya tapi aku terlalu marah untuk melakukan hal itu. Aku mengusirnya. Meminta atau lebih tepatnya memaksa gadis itu pergi. Aku memintanya melupakan aku, lalu mengakhiri hubungan kami. Hubungan yang telah lama kami jalin dan bahkan akan memasuki tahap lebih serius, sebuah pernikahan.

Oh ya, kau sudah tahu bukan? Aku rasa Yura pasti sudah memberitahumi dan kau menangis setelah mengdengar kabar itu bukan? Sekali lagi maafkan aku.

Kembali ke cerita awal, aku menyesal Hongbin. Bagaimana bisa aku menyakiti Yura? Bagaimana bisa dengan mudahnya aku mengakhiri hubungan kami? Aku terlalu larut dalam emosi, dan itu semua gara-gara kau.

Aku merasa hilang akal, dan tak tahu harus melakukan apa. Aku membuat dua kesalahan pada dua orang yang benar-benar aku cintai. Aku takut kehilangan kalian, benar-benar takut. Aku tak ingin menyakitimu karena hubunganku dengan Yura tapi aku juga tak ingin menyakiti Yura karena kebodohanku dan terlebih aku tak ingin menyakiti diriku sendiri.

Dan akhirnya aku memilih sebuah jalan. Mungkin ini tak menyelesaikan segalanya, tapi cukup membuat aku tenang. Setidaknya aku tak akan dihantui rasa bersalah pada kalian berdua, setidaknya aku bisa sedikit lebih tenang, setidaknya aku tak akan merasakan sakit yang berkepanjangan. Aku memilih untuk meninggalkan kau dan Yura dan juga dunia ini.

Maafkan aku Lee Hongbin, maafkan aku Yura. Ketika kau membaca surat ini maka kau sudah tau jalan apa yang aku ambil. Jangan merasa bersalah, aku mohon. Terutama padamu Hongbin. Ini semua aku lakukan untukmu dan juga untuk Yura. Jangan merasa bersalah dengan kepergianku. Ini pilihanku.

Jaga Yura untukku ne? Bahagiakan dia, cintai dia, dan perlakukan dia layaknya seorang putri, gadis itu pantas mendapatkannya. Kau harus selalu ada di sampingnya, membuatnya tertawa dan jangan pernah menyakitinya. Jangan menjadi seorang pengecut lagi, kau tak cocok dengan itu Hongbin. Aku titip Yura padamu. Aku harap kau bisa membahagiakannya. Aku akan mengawasi kalian dari tempat baruku. Semoga kalian bahagia bersama.

Ingatlah aku selalu ada di dekat kalian, aku hidup di hati kalian. Aku… aku mencintai kalian layaknya kalian mencintaiku. Selamat tinggal Hongbin, selamat tinggal Yura. Aku akan merindukan kalian, terutama saat-saat kita bersama. Jangan pernah lupakan aku ne? Terimakasih untuk kebersamaan selama ini, terimakasih atas kasih sayang yang kalian berikan padaku, terimakasih untuk segalanya.

Sampaikan salamku pada Yura, aku mencintai kalian. Selamat tinggal~

NOTE : JANGAN MENANGIS PABO!

Tangan Hongbin bergetar, itu bukan kali pertama ia membaca tulisan demi tulisan di atas kertas-kertas itu tapi perasaannya kini tetap sama seperti saat ia membaca untuk pertama kali. Tangannya perlahan meremas kertas itu, membuatnya terlihat semakin menyedihkan. Airmata seakan tak akan habis, mengalir bagaikan air terjun yang tak memiliki akhir. Hatinya sangat sakit, atau bisa dipastikan hatinya telah hancur berkeping-keping. Tak henti-hentinya ia menyalahkan dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak kata “seandainya” yang bergelayut di pikirannya. Lelaki itu, Lee Hongbin sudah sangat rapuh.

“Maafkan aku Mino-ah, maafkan aku ….”

-END-

AKHIRNYA SELESAI😄

Bagaimana readers? Gajekah? Aduh maaf banget kalau feel sad-nya nggak dapet terus sepertinya alur cerita kecepetan. Tapi pas bikin ini FF cukup bikin aku rada-rada galau, kok kayanya aku tega bgt ya disini? Huwaaa, maafkan aku *deep bow*

Oh iya ini terinspirasi dari MV Teen Top – Missing, sesuai dengan judul dan mungkin banyak yang menyerupai tapi aku buat versi aku kok, harap di maklumi yaa😀

Seperti biasa, setelah read jangan lupa untuk meninggalkan jejak ne?

Kamsahamnida^^

5 responses to “[Oneshot] MISSING.

  1. Am i first?kkk~
    Satu kata untuk FF ini: keren!
    Ga nyangka Mino bunuh diri demi kebahagiaan Hongbin dan Yura. Feelnya juga dapet walaupun alurnya kecepetan. Pokoknya keren banget deh FF ini xD
    Ditunggu FF selanjutnya ya x)

  2. Mino~ ya ampun kenapa harus bunuh diri~
    Aku kira mino selingkuh karena dia sakit terus hidup nggak lama lagi, ternyata dia melakukan semua itu demi sahabatnya
    Nice story!

  3. mane ga dapet feel-sad thor??-_- sedih tau. huaaaaaa T.T
    sumpah feelnya dapet bangeeeeettt… aku suka ceritanya. terus berkarya ya thoorr~

  4. Satu yg kurang, harusnya ada bagian bagaimana perasaan yura stelah mngetahui alasan minho meninggal dan apa reaksi yura stlah mngtahui hongbin jg mncintainya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s