[Ending Chapter] “Fleas Love”

(NEW) Fleas Love

Kim Jongin|Na Rumi|Park Chanyeol

Jihan Kusuma Present


Note :

Hey hey hey! Annyeonghaseyoooh! Maafkan aku semuanya! Aku baru saja ujian nasional dan harus disibukkan oleh berbagai hal. Aku juga ngelola blog pribadi dan blog itu juga harus aku telantarka selama beberapa minggu karena persiapan unas. Aku harap kalian engga kecewa sama aku. Sebelumnya aku kan juga udah pamitan yakan? Mau UN ._. dan sekarang. Aku sudah bebas. ^^

Oke seelamat membaca anding chapter ini! ^_^

 


 

CHAPTER 13

Na Rumi’s POV

Salju turun dengan serempak dipagi itu. Mengguyur hutan disekitar Yongin ini dengan butiran-butiran es dan bunga salju yang selalu ingin kutangkap dan kukumpulkan lalu kusimpan dalam sebuah toples kaca dan berharap agar bunga itu tidak bisa mencair agar abadi didalam rumah. Tapi itu hanya mimpi dimasa kecilku ketika Appa tidak memperbolehkanku pergi keluar rumah dan bermain bersama teman-teman ketika salju pertama turun. Yah, aku masih sangat mengingatnya. Kenangan pedih ketika usiaku 8 tahun itu bagaikan sebutir kacang polong yang tertanam didalam tanah dan tidak bisa tumbuh besar selama bertahun-tahun. Namun tidak untuk sekarang ini.

Kurapihkan jaket warna biru laut yang kini telah menyelubungi tubuh kecilku. Rambut panjangku telah kuikat seluruhnya kebelakang dan membiarkan dahiku yang menonjol ini terpampang kedinginan. Kutatap diriku dari pantulan cermin. Kini aku membayangkan jika seseorang mendorongku dari atas gedung aku akan memantul begitu menyentuh tanah. Ya. Perut kecilku ini menggembung seperti bola voli setiap kali mengenakan mentel salju. Tubuhku yang semula tidak seksi ini semakin terlihat seperti badut santa. Lucu sekali. Aku sedikit tidak percaya diri. Tetapi mendengar celotehan nyaring So Eun yang sedari tadi berteriak ‘Kau cocok! Lihat! Kau cantik mengenakannya!’ membuat rasa percaya diriku kembali berdiri tegak. Hm, apa salahnya percaya kepada perempuan itu.

“Rumi.” panggil So Eun.

“Ya?” jawabku sambil mengelus sisi perutku.

“Sampai kapan kau akan terus melototi dirimu dari kaca seperti itu. Kau ini seperti tidak pernah bercermin saja.”

“Eh?” aku menoleh. Tampak tubuh kecil So Eun yang manis dan serasi dengan jaket merah yang dia kenakan. Perempuan itu benar-benar cantik dengan poninya yang lurus seperti lidi. “Sejak kapan kau selesai dandan?” tanyaku seperti orang bodoh.

So Eun menghela nafasnya seakan benar-benar kesal dengan pertanyaanku. “Sejak kau berdiri disana dan memandangi rupamu sendiri tanpa berkedip. Ayolah, ini sudah pukul delapan! Salju turun dengan deras. Semua anak sudah memulai penjelajahan.”

“Eoh, penjelajahan katamu? Bukankah itu besok?”

“Oh tidak maksudku, mereka semua berjalan-jalan disekitar flat sambil bermain seluncuran! Ayo Rumi! Kau pasti suka!” perempuan itu menarik tanganku dengan kasar dan membuka pintu kamar.

“Eh Chanyeol!” kami berdua bertatapan dengan Chanyeol yang ternyata sedang berdiri didepan pintu. “Sejak kapan kau disini?” tanya So Eun.

Untuk sesaat Chanyeol memandangku dengan wajah datarnya. Apakah dia marah padaku? Tetapi sedetik sesudah aku berfikir demikian, bibir Chanyeol melengkung dengan tampan kearahku. Aku balas tersenyum. Huhh, kukira dia marah.

“Hai Rumi, So Eun, baru saja aku akan mengetuk pintu. Ternyata kalian sudah keluar! Ayo kita main seluncuran!” ajak lelaki itu.

“Ye! Ayo!”

O – O – O – O – O

Author’s POV

“Ah jadi sudah habis?” tanya Jongin.

“Ne, kau terlambat. Mereka sudah meminjam semua. Mungkin kau harus gantian dengan mereka nanti.” jawab petugas flat. Tadinya Jongin akan meminjam sepatu sky tetapi ternyata sudah habis.

“Arraso, kamsahamnida.”

Dengan wajah cemberut lelaki itu berjalan keluar dari lobby penginapan menuju halaman yang kini dipenuhi teman-temannya.

“Jongin-ah.” panggil seseorang. Chanyeol rupanya. ‘Ada apa dia memanggilku?’ pikir Jongin. Jongi hanya diam ditempatnya dan membuang muka. “Ini.” Chanyeol meyodorkan sepasang sepatu dan sepasang tongkat. Jongin terkaget melihat senyuman Chanyeol. ‘Ada apa dengan lelaki ini?’

Jongin terus diam dan sama sekali diam dengan tangan tak bergerak. Tetapi setelah itu senyuman Chanyeol melebar disertai tawa rendah dari mulutnya. Jongin semakin bingung “Aku sengaja meminjamkan ini untukmu sebelum kau kehabisan. Semua tahu jika kau tidur seperti badak dan akan bangun sesiang ini.”

Jurang salju dalam diri Jongin seakan runtuh dan larut mengikuti aliran air sungai ketika menyadari bila apa yang dikatakan Chanyeol itu benar-benar tulus. Dia semakin tidak mengerti dengan arah pikiran Chanyeol yang tiba-tiba berubah haluan. Yang semula sangat dingin dan tidak pernah menoleh padanya, kini semua pertengkaran itu seolah tidak pernah terjadi diantara mereka. Rasanya sangat asing dan aneh. Canggung. Sikap baru Chanyeol ini terasa baru dan langka untuk Jongin temui.

“Terimalah ini Jongin, aku kan Hyung-mu.”

Mendengarnya, hati Jongin seakan terketuk dengan tongkat besi sehingga rasa panas itu membara hingga ke tenggorokannya. Mata Jongin berkaca-kaca ketika saling pandang dengan Chanyeol. Kalimat barusan, ketika Chanyeol mengakui sebagai Hyungnya itu… terdengar panas sekaligus menyejukkan ditelinga. Bahkan Jongin bingung bagaimana warna perasaannya ketika Chanyeol bersikap manis layaknya hyung, kakak, saudara laki-laki.

Dengan pelan Jongin menggenggam benda pemberian Chanyeol dengan tangan yang bergetar seperti orang lansia yang sedang meraih gelas diatas meja. “Terimakasih Chanyeol.”

Itu dia.

Kata terimakasih pertama yang Jongin ucapkan dengan tulus untuk Chanyeol. Dahi Chanyeol terulur dan kembali tersenyum. Senyuman yang seolah merobek kulit hati Jongin dengan pisau dan membiarkan hatinya terbuka untuk Chanyeol. Rasanya hampa dan begitu ringan. Jongin bisa menghirup udara dengan bebas sekarang.

“Chanyeol, Jongin!” panggil perempuan dari kejauhan. Dua perempuan tepatnya. Mereka melambai dan tersenyum lebar kearah kedua lelaki yang masih mematung disana.

“Ayo kita sky!” teriak So Eun penuh semangat.

“Haha ya! Aku tidak sabar meluncur diatas salju-salju itu dan mendarat lagi!” tambah Rumi dengan nada serupa. Kedua lelaki itu menuruti apa kemauan perempuan-perempuan tadi. Mereka bermain dilereng bukit diantar pohon-pohon cemara yang terselubung selimut salju. Udara yang begitu menusuk itu seolah tidak ada apa-apanya dibanding kebahagiaan yang sedang mencemari atmosfer disekitar keempat orang tersebut. Mereka begitu senang dengan canda tawa dan gurauan segar.

“Ayo Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol!” sorak Rumi dan So Eun dari atas bukit.

Chanyeol membenarkan topi yang dia kenakan lalu menggosokkan kedua tangannya yang tertutup sarung tangan tebal. Dia mulai meluncur sekarang. Dan.

“Hyaaaa!” Chanyeol meluncur sambil mengayunkan kedua tongkatnya. Lalu. brukk! Berakhir pada tumpukan salju. Lelaki itu tersungkur dan terkulap disana.

“Hyung!” panggil Jongin sambil berlari turun dari bukit menyusul Chanyeol.

So Eun terkejut. “Eh, mengapa dia memanggil Chanyeol dengan sebutan Hyung?” tanyanya polos.

Namun disamping itu, Rumi lah yang lebih terkejut. ‘Jongin memanggilnya Hyung? Sejak kapan mereka akur? Apakah aku tidak salah dengar? Kalau iya, bukankah So Eun juga mendengarnya?’

Rumi memandang Jongin yang sedang membantu Chanyeol bangun dari es. Dia menepuk-nepuk mantel Chanyeol yang berlumuran tanah bersalju. Sesuatu dalam hati Rumi mencelos dan membuat air matanya menggenangi pelupuk mata perempuan itu. Melihat mereka akur, ini seperti sebuah keajaiban.

“Rumi, kau melamun. Sebaiknya kita tolong Chanyeol” =o= So Eun berucap dengan sebal.

“Biarkan, biarkan Jongin yang menolongnya. Biarkan mereka bersama.” jawab Rumi lirih dengan pandangan yang tidak terputus dari kedua sosok bersaudara tersebut.

“Kau tidak kasihan pada Chanyeol?”

“Tenang saja, Jongin memang adik yang baik.” kali ini Rumi mengalihkan kedua manik hitamnya kearah wajah putih So Eun. Wajah yang lebih imut dari Rilakkuma itu tampak putih seputih salju sekarang. So Eun menatap Rumi penuh tanya. ‘Adik katanya? Adik?’ pikir So Eun.

Namun sebelum So Eun lanjut bertanya, Rumi lebih dulu membuka mulut. “Mungkin memang sekarang saatnya kau mengetahui ini So Eun, aku akan menceritakannya padamu!” Rumi menggenggam tangan sahabatnya itu.

O – O – O – O – O

“Bagaimana rasanya?” tanya Jongin sambil memijat pergelangan kaki Chanyeol.

“Eoh! Sakit! Sakit!” Chanyeol menutup mata lalu merintih. Jongin memutar kaki Chanyeol dengan perlahan dan itu membuat lelaki yang sedang duduk diatas kursi rotan tersebut meringis dan berteriak.

“Eh, sudah berkurang sakitnya.” ujar Chanyeol. Jongin tersenyum kecil. “Kau memang… namdongsaeng yang baik.”

Jongin menunduk usai mendengarnya. Suasana kembali hening. Ada setitik rasa sayang dalam hatinya yang kian merekah dan memenuhi hatinya setiap kali melihat Chanyeol. Chanyeol tidak seburuk itu. Bukan Chanyeol yang menyebabkannya membenci, tetapi emosi dalam dirinya sendirilah yang menyebabkan dia begitu tidak suka dengan kehadiran Chanyeol. Sesungguhnya, mereka tetap bisa menjadi sepasang saudara tiri yang akur.

“Hyung, aku…” panggil Jongin lirih.

“Jaga perempuan itu dengan baik.” Chanyeol menggenggam bahu Jongin. Jongin terkesiap. Perempuan itu?

“Dia sangat mencintaimu.” lanjut Chanyeol penuh pengertian.

“Dan aku tahu kau juga mencintainya.” Air mata menggenang di mata Chanyeol.

Dia mengatakannya dengan sepenuh hati. Dengan segenap rasa cintanya kepada Rumi. Chanyeol selalu bahagia setiap melihat kebahagiaan Rumi, dan untuk kali ini hal itu masih berlaku. Dia akan tersenyum begitu melihat senyuman Rumi walaupun itu diperuntukkan kepada lelaki lain. Cinta tidak seegois itu. Cinta tidak harus memiliki, dan Chanyeol mengerti itu.

Jongin mendongak untuk menatap wajah kakaknya.

Air mata berlinang disana. Begitu juga dengan Chanyeol. Jongin tidak pernah mengira Chanyeol akan berkata seperti ini padanya. Chanyeol terlalu baik, lelaki itu terlalu lembut kepada siapapun, termasuk kepada orang yang membencinya setengah mati. Dengan gerakan pelan, Jongin menegakkan tubuh dan melingkarkan tangan ke tubuh Chanyeol. Mereka berdua berbalas pelukan hangat. Pelukan yang disertai deraian air dari mata mereka. Pelukan pertama bagi kakak beradik yang terlahir dari rahim yang berbeda, namun itu tetap terasa hangat karena mereka memang berasal dari darah daging yang sama. Ditubuh mereka mengalir darah yang sama, dan tidak akan bisa seorangpun membantah jika mereka bukan kakak beradik.

“Terimakasih Hyung.”

O – O – O – O – O

Senja telah datang. Langit lebih cerah dari senja kemarin, menandakan musim dingin akan segera berlalu dan salju akan mencair menjadi sungai. Warna ungu kemerah mudaan melapisi lazuardi dihari itu. Chanyeol duduk di pagar pembatas antara danau beku dengan halaman belakang flat. Dia hanya sendiri disana menatap langit.

Tetapi pada saat itu juga Rumi datang dan duduk disampingnya. Dia sudah mencari Chanyeol kemanapun dan ternyata lelaki itu sedang menyendiri ditempat sesepi ini. Ini benar-benar tipe seorang Park Chanyeol.

Mereka duduk berdua diatas kayu pagar yang sedikit basah dengan kedua kaki terancik diatas kayu pagar yang bawah.

“Rumi, kau kenapa kemari?” tanya Chanyeol begitu sadar ada seorang perempuan disampingnya. Rumi tersenyum. Chanyeol masih belum bisa menahan gejolaknya ketika memandang mata Rumi. Dan itu menyadarkannya akan rasa cinta yang masih menggebu terombang-ambing oleh bayangan Jongin dalam benaknya. Dalam hati dia merutuk jika Rumi telah lama memperjuangkan cintanya untuk Jongin dan tidak mungkin beralih dengan mudah kehati yang lain. Hingga sampai sekarang ini.

“Aku mencarimu Chanyeol, kukira kau bermain kartu dengan yang lain diatas.” Rumi mengayunkan kaki-kaki rampingnya hingga nyaris mengais salju yang ada didasar.

Chanyeol memejamkan mata sejenak berusaha menahan air matanya. Rongga pernafasannya terasa membara mendengar suara kecil Rumi yang ceria. Dalam hati dia terus berusaha mematahkan harapannya untuk memiliki Rumi.

‘Seharusnya kau sudah bersyukur bisa menjadi sahabat Rumi… kau sangat beruntung Park Chanyeol… Biarkan Rumi bahagia dengan impiannya.’ batin Chanyeol.

“Chanyeol-ah,” panggil Rumi.

“Ne?”

Rumi menunduk sambil tersenyum. “Aku senang melihatmu dengan Jongin.” ucapnya.

“Kau sudah melihatnya?”

“Haha, aku kan penguntit.” Rumi tersenyum lebar menunjukkan guratan mengagumkan diatas lengkung pipinya.

“Kami sudah akur sekarang.” cetus Chanyeol.

“Um, Chanyeol… boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja.”

“Mengapa margamu dan Jongin berbeda?”

Sebuah batu besar terasa tersangkut dikerongkongan Chanyeol dan menyebabkannya sulit menelan ludah. Chanyeol menarik nafas ketika mengingat sesuatu. Sebuah bayangan suram yang selama ini terus membayang-bayanginya.

“Rumi, kau mau kuceritakan tentang sesuatu?”

“Dengan senang hati aku akan mendengarkannya.” Rumi geser dan mendekat kearah lelaki itu.

Chanyeol berusaha memantapkan niatnya untuk mengatakan semua ini pada Rumi.

“….Aku terlahir tanpa harapan untuk dilahirkan.” ujar Chanyeol lirih alih-alih hanya berbisik.

Dahi Rumi berkerut melihat ekspresi sedih Chanyeol.

“Aku lahir diluar ikatan menikah antara Aboji dan Eomma. Dan hingga sekarang, aku tidak yakin apakah aku pantas memanggil wanita murahan itu sebagai Eomma.”

“Chanyeol, apa katamu?…”

“Eommaku seorang pelacur disebuah cafe di Bussan.” Rumi bisa melihat mata besar Chanyeol baru saja mengeluarkan air mata. Disaat itu juga Rumi tidak bisa memercayai apa yang baru saja Chanyeol ucapkan. Dia begitu tercengang dan tidak percaya.

“Aboji menghamili perempuan itu dan meninggalkannya ditengah hujan. Ya, ketika dia mengandungku empat bulan. Aboji yang memang seorang player itu melepaskan tangan Eomma ketika Eomma berusaha menjelaskan apa yang menimpanya. Tetapi, salahkan Aboji yang terlalu egois dan memikirkan hidupnya sendiri. Memang pada saat itu Aboji telah menikah dengan Ibu Jongin di Seoul. Dia sama sekali tidak memikirkan nasib Eomma dengan calon diriku….” Chayeol menoleh kearah Rumi yang ternyata juga sedang menangis.

“…hingga akhirnya aku terlahir dikediaman keluarga Park. Dan Jongin lahir ditahun yang sama di rumah Aboji. Kami yang satu ayah ini lahir dan dibesarkan di dua tempat yang berbeda dan jauh. Tetapi ketika usiaku empat tahun. Eomma kembali menghubungi Aboji untuk mendapatkan dana demi menghidupiku… Dan kau tahu apa yang dia lakukan?…”

Rumi terisak sambil menutup mulutnya. Dia sesungguhnya tidak kuat mendengar ini semua dari mulut Chanyeol. Seakan tak percaya gadis itu terus menangis.

“Aboji membunuh Eomma.”

Chanyeol mengeluarkan air matanya sembari menahan bom yang ingin meledak dalam hatinya.

“Dia membunuh Eommaku Rumi. Dia sangat kejam melakukannya. Membiarkanku tinggal bersma Halmoni di desa. Kami yang miskin dan tidak memiliki apa-apa. Hingga pada saat itulah aku bangkit dengan semangat baru. Halmoni terus mendorongku agar menjadi siswa yang pandai dalam segala hal termasuk dalam bertahan hidup dalam situasi terpuruk. Sampai aku berhasil dan bertekad ke Seoul untuk menemui Aboji.”

“Aboji tidak percaya bila inilah aku. Aku yang telah menjuarai berbagai olimpade dan berprestasi. Akhirnya aku tinggal bersama Jongin. Kami tidak akur sama sekali. Hanya perang dingin dan persaingan dalam selimut. Jongin selalu menganggapku sebagai pengacau kehidupannya. Dia mengataiku pengganggu. Padahal sejujurnya bukan aku yang menyebabkan masalah ini, tetapi Aboji. Aku terpojokkan dan tidak berani berbuat apa-apa. Sampai pada saat itu, aku menemukanmu Rumi.”

Rumi menatap Chanyeol dengan kedua bola hitamnya yang basah dan berkilat.

“…Rumi yang begitu mirip dengan sosok ibuku. Rambut kalian sama, mata kalian, juga senyuman kalian. Kau begitu perhatian dan ramah. kau seolah memanjakanku dengan kasih sayang. Sebelumnya tidak pernah aku mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari orang lain selain nenekku.”

Chanyeol menghela nafas ketika merasakan hatinya rapuh.

“Kau istimewa Rumi. Itu alasannya mengapa aku

.

.

.

.

.

mencintaimu.”

Rumi terkejut. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Chanyeol menggenggam tangan Rumi dengan erat. “Aku mencintaimu Rumi. Untuk sekarang hanya itu yang ingin kukatakan kepadamu. Karena aku tahu, satu-satunya lelaki yang kaucintai itu…bukan aku. Tetapi Jongin.”

Rumi terbungkam. Kata-katanya seakan tersangkut diujung lidah. Apakah pendengaranku ini bohong? Aku kira selama ini Chanyeol hanya menganggapku sebagai seorang sahabat. Lalu bagaimana dia tahu jika aku mencintai Jongin.

“..Iya kan Rumi? Hanya ada Jongin seorang dihatimu ini. Karena itu, aku ingin berpesan padamu…” Chanyeol menggenggam tangan Rumi dan menyalurkan kehangatan disana.

“Aku mau kau jaga Jongin dengan baik. Sayangi lelaki itu. Dibalik tingkahnya, dia hanya seekor domba kecil yang ada ditengah hujan dan membutuhkan payung. Jadilah payung untuknya Rumi. Hanya kau satu-satunya perempuan yang bisa membuat Jongin berhenti bermain perempuan. Jangan sampai Jongin menjadi seperti Aboji. Aku yakin, kau satu-satunya perempuan yang mampu melakukannya.”

Rumi tersentuh mendengarnya. Chanyeol yang ternyata begitu mencintainya masih bisa mengucapkan kata-kata itu dengan senyuman walau terasa pahit untuk dipandang. Namun Rumi tahu, apa arti senyuman itu. Chanyeol bukan lelaki yang suka memakai topeng untuk menyembunyikan wajah aslinya. Dan untuk senyuman yang itu, asli dari hati terdalam Chanyeol. Chanyeol lelaki yang dia sayangi sebagai sahabat.

“Tapi Chanyeol, aku juga akan memberitahumu akan sesuatu.”

Ucapan Rumi terhenti sejenak. Lalu dia kembali membuka mulut.

“Tidak selamanya kisahmu akan berakhir dengan air mata. Karena sesungguhnya ada seseorang yang mencintaimu begitu tulus. Seseorang yang begitu mengagumimu dengan segala kekurangan yang melekat dalam dirimu.”

“Rumi! Chanyeol!” panggil sebuah suara cempreng. “Aish, ternyata kalian disini! Aku sudah mencari kalian kemana-mana!” omel So Eun sambil berlari mendekat.

Rumi tersenyum manis. “Dan orang itu, ada disana… dia sedang melangkah kemari.” lanjutnya lirih.

Chanyeol menoleh kebelakang. Pandangannya berpapasan dengan sosok mungil So Eun yang masih lengkap dengan kepangan duanya. Dia sedikit tidak menyangka. Namun akhirnya sebuah senyuman terpajang di bibir Chanyeol.

O – O – O – O – O

Ru Mi’s POV

‘Rumi temui aku di atap sekarang juga’

Kubaca pesan singkat itu. Dari Jongin. Ini sudah malam tetapi dia menyuruhku untuk naik ke loteng. Tanpa pikir panjang kukenakan mantel tebalku dan sarung tangan. Kulirik So Eun yang sedang tidur seperti tuan puteri disampingku. Aku menguap sesaat lalu segera keluar kamar dan naik ke tangga.

Udara yang begitu tidak bersahabat menerpaku hingga aku nyaris terbang terbawa angin. Namun sebelum itu terjadi kulihat sesosok lelaki yang duduk ditepi genteng. Lelaki itu tersenyum kearahku dari kejauhan. Aku segera berlari dan menempati are kosong disamping tubuh Jongin.

“Ada apa mengajakku kesini?” tanyaku pelan.

“Aku tidak bisa tidur…”

Aku mengagguk-angguk. Kurasakan aroma khas tubuh Jongin yang seperti paduan antara gula merah dan tepung roti. Haha, aku tidak sedang membicarakan kue beras. Tapi jujur, baunya sangat manis. Tetapi itu semua akan berubah ketika Jongin memakai cologne. Aromanya akan berganti menjadi kayu manis yang sedang dibakar. Karena itu saku sangat menyukai saat-saat ketika sedang memeluknya. Aroma itulah yang membuatku tidak ingin lepas dari Jongin.

“Lalu, aku harus menyanyikan nina bobo untukmu dan membuatkanmu susu seperti bayi begitu?” tanyaku.

“Haha.” Jongin malah tertawa. Dia membelai kepalaku sambil melirikku dengan kedua bola mata hangatnya. “Tidak, sebagai kekasihku kau yang harus menemaniku disaat seperti ini.”

Jongin berbaring disana. Apakah dia tidak kedinginan? =o=

“Rumi, ayo berbaring.” ajaknya. “Akan kuberikan lenganku untukmu.”

Aku menurutinya dan berbaring disana. Ahh, ini benar-benar aroma Jongin, aku sangat suka. Kini kami hanya beratapkan langit kelam dengan titik-titik bercahaya yang terus berkedip seolah menantang kami untuk terjun ke angkasa sana.

“Jadi kau ini mengakuiku jika aku ini kekasihmu?” tanyaku. Baik, mungkin pertanyaan itu terdengar konyol. Tapi ayolah, aku hanya ingin mendengar jawaban itu langsung dari mulutnya.

“Eoh, kau masih menanyakannya?” Jongin melirikku dan sedikit menunduk.

“Jawab aku Jongin.” pintaku.

Jongin menghembuskan nafas hangatnya. “Yaya, baiklah. Kau itu satu-satunya perempuan yang bisa membuatku berhenti mencintai.”

“Hm, kenapa kedengarannya aku ini sangat spesial ya?” aku tersenyum geli.

“Kalau perlu kuakui kau itu memang perempuan paling menarik walau tidak seksi.”

“Kau telah membangunkan serigala dalam diriku Jongin. Tarik kembali kata-kata barusan.” =o=

“Kenyataannya kan memang begitu.”

“Aish!” kucubit perutnya sampai Jongin menggeliat.

“Aduh, iya iya! Tapi kau itu memang perempuan yang sangat sempurna untukku.”

Untuk sesaat jiwaku melayang mendengarnya. Namun ada satu yang belum.

“Jongin?”

“Ne…”

Kami berpandangan.

“Kau belum pernah berkata bila kau mencintaiku.” ucapku setengah berbisik. Ya, selama ini sebenarnya hanya kata itulah yang paling kutunggu-tunggu. Namun, Jongin bahkan belum menyatakannya padaku.

Jongin tertawa ringan. “Kau benar mau mendengarnya?”

Aku mengangguk dan duduk sambil menghadap Jongin yang masih berbaring. Aku benar-benar ingin mendengarnya.

“Baiklah Rumi.” Jongin ikut duduk. Kali ini dia menggenggam kedua bahuku sambil menatap kedua mataku lekat-lekat.

“Dengan saksi langit malam dan beribu bintang disini, aku ingin mengatakan…,” yaa, sejak kapan Jongin menjadi puitis semacam itu.

“Aku mencintaimu”

Pipiku memanas mendengar ungkapan cinta Jongin. Sampai kurasakan air mataku nyaris tumpah.

“Aku akan menjadi lelakimu dan kau akan menjadi perempuanku untuk selamanya. Maafkan aku yang pernah membuat hatimu sakit. Saranghaeyo…”

Dan pada saat itu juga,

Air mataku benar-benar telah jatuh membasahi jaket yang kukenakan.

Terkadang cinta menjadi sangat egois, kadang-kadang juga pemalu. Tak sering cinta bersikap pilih kasih dan selalu berpindah-pindah. Cinta pertama jarang sekali. Cinta sulit sekali ditebak. Namun ada satu sifat cinta yang tidak akan pernah lekang oleh zaman; Jika kau benar-benar mencintai. Kau tidak akan pernah mendua.

.

.

.

.

.

.

.

THE END

Annyeong readers-nim!

AKHIRNYA

Tarik nafas dulu coba.

Jujur ya sebenernya aku posting chapter akhir ini tanpa di koreksi dulu. Jadi maap kalo ada kata-kata yang kembar siam atau typos dimana-mana.

Dan aku juga mau bikin pengakuan, ff ini sebenernya udah selesai sejak satu setengah tahun lalu ketika aku masih 13 tahun mau ke 14, jaman jaman aku masih unyu nyunya/? ._. cuman ada beberapa paragraf yang aku ganti😄😀 hehehe

Oke. Aku mau ngucapin thank you sama kamu semua yang selalu setia ngikutin ff ini hingga akhir. Dan mungkin akan ada sequelnya. Sequelnya gress kok, baru😄 belom aku posting di mana-mana😀 Dan bahasanya pastinya juga lebih modern dikit. Aku yang sekarang udah beda sama aku 1 tahun lalu😀

Oke, cukup sekian.

Yang ingin kenal Han lebih lanjut silakan follow atau cukup kunjungi instagram @jihankusuma aku engga pelit followback kok😄 justru aku seneng dapet temen baru😀

Dan, kalau mau baca ff Han yang lainnya monggo visit pixiexoxo.wordpress.com

Ada segudang ff menarik disana.

Once again,

Thanks buat partisipasinya di Fleas Love ini. Sequelnya insyaallah berjudul “Stuck On You” jadi tunggu aja.

KOMENTARRR DITUNGGU😀😀 :*

8 responses to “[Ending Chapter] “Fleas Love”

  1. ceritanya bagus buat ukuran anak umur 13tahun. daebaak! chanyeol hudup nya kasihan ya. ayahnya juga tega banget ngebunuh ish ish ish. jongin akhirnya akur sm chanyeol, ditunggu sequelnya

  2. syudah end.
    ditunggu” akhirnya di post jugaa.
    akhirnya jongin n chanyeol berbaikan.
    bgus deh. kan jadi akrab gtu. sebagai saudara tiri.
    ahai bkin terhura eh terharu deh kalian berdua.
    finally, chanyeol mau juga menyerah akan cintanya.
    bner, kalo cinta itu selamanya tak harus memiliki. melihat org yg anda cintai bahagia, pasti anda merasakan hal sama.

    tragis (?) nya kehidupan chanyeol.
    pantesan si jongin player, turunan sifat dri bapake nya.
    oo jadi gtu ya. makanya marganya beda.
    udah lama juga penasaran kenapa bisa beda.
    akhirnya diceritain. terjawab syudah.

    ah sijongin kok bisa jadi romantis2 gtu.
    tduran diatap emg gak dingin. tapi bolehlah.
    aku juga mencintaimu jongin ::>_<::
    hehehe.
    semoga cinta mreka abadi selamanya. ecieeee.
    sequel han sequel dong.
    cepat post ya.
    ditunggu.
    kpan2 deh bca ff nya di blog han ya.

    • makasih eonnii… sukses skripsinya ya. tanpa komentar dari eonni Han kurang semangat ngedit ff ini😄 hehehe😀 sequelnya segera kok… ^^ thanksseu udah baca hingga titik akhir ini…

  3. Walaupun lebih pendek dr part sebelumnya tapi tetep keren endingnya,chukkae ya udh selesai UN nya semoga hasilnya memuaskan^^

  4. Hai hai haii..
    akhirnya chap nya selesai, puas juga sih rumi sama kai. Ini beneran ada sequel? Omg buat sequel sampe mereka nikah thor haha peace.
    btw, nasibnya chanyeol sama so eun gimana? Mereka buatin momment yg bnyk😀 peace [2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s