[Oneshoot] COLLAPSE

collapse edited

COLLAPSE

“Can you love me like yesterday?”

“Jihan Kusuma Present”

Oh Sehun|Min Jihae|Kim Jongin

Family|Comfort|Romance Drama


Note : Annyeong readers-nim! /bow/ Han comeback usai unas bawa oneshoot baru. Bahasanya rasa kriuk dan beda dari yang lama soalnya otak belum terlalu produktif gara-gara baru unas😄😀 /alibi/ tapi nikmatin aja oke.

Happy Reading!!!😀


 

 

Aku pernah menunggumu di tengah hujan. Berdiri sendirian diantara air yang berjatuhan menghantam tubuh mungilku yang begitu rentan. Menerjang kulitku yang mulai mengeriput. Aku pun memanggil namamu. Namun kau masih berada di kejauhan, berlari sambil membawa sebuah payung untuk melindungiku dari pukulan rintik air langit itu. Aku yang mulai letih menunggumu memutuskan mencari tempat berlindung. Betapa beruntungnya diriku, seseorang bersuka rela membagikan payungnya untukku berteduh. Dan ketika kau sampai di hadapanku, aku berkata… maaf kau terlambat.

Aku harap kau mengerti apa maksud ucapanku : Cinta seperti sebuah payung. Hanya ada dua orang didalam sana. Membagi keteduhan dan kehangatan sambil saling berdekatan agar tidak basah terguyur hujan. Dan kau… sayang sekali. Mungkin benar aku menginginkan payung yang kau genggam. Namun seseorang yang lain sudah terlebih dulu membagi payungnya untukku.

“COLLAPSE”

Catatan 14 Februari 2013

Aku tidak mengerti harus memulai ini dari mana. Tapi sungguh, jika tangan-tanganku masih kuat bergerak pasti aku akan menuliskannya dari awal. Aku sudah lelah menunggunya. Dia berkata akan kembali tanpa memberiku kepastian. Dia berjanji akan membagi payungnya hanya untukku suatu saat nanti. Namun kemana dia sekarang? Kemana langkah kaki itu mengarah? Apakah dia mengganti nomor teleponnya? Apakah kompas yang dia genggam menunjukkan arah yang membuatnya tersesat? Kenapa dia melupakan jalan pulangnya?

Siang tadi, seseorang datang membawakanku sebuket bunga dan sekotak cincin berlian. Kedua orang tuanya rela meluangkan waktu mereka –yang bernilai sebutir batu intan di setiap detiknya –untuk menemuiku.

Lelaki itu berkata, aku mencintaimu. Dan dari lubuk hatiku yang terdalam, Demi Tuhan, meski selama ini aku menganggapnya teman, aku tidak berani mengucapkan kalimat penolakan. Aku tidak ingin dicap sebagai gadis tidak sopan oleh kedua orang tuanya yang duduk melipat tangan seperti bangsawan. Jujur saja, dia tampan dan kaya raya. Namun, seluruh harta benda yang dia dan kakek neneknya miliki tidak semahal payung lelaki di masa laluku itu.

Mungkin orang akan menganggapku sinting atau tidak waras ketika mendengar ucapan ‘Sebuan payung lebih mahal dari sekeping koin emas’ dari mulutku. Tetapi memang itu yang sekarang ini kurasakan. Banyak orang lebih memili harta dari pada cinta. Tetapi aku? Aku tidak pernah berhalusinasi seperti itu. Apalah arti mandi uang jika tubuhmu akan lebih bersih ketika mandi dengan air? Seluruh dunia mengerti jika cinta adalah komponen utama dalam kebahagiaan hidup di dunia, dan aku tidak mau merelakan kebahagiaan itu begitu saja demi sekeping koin emas –mau pun satu truk koin emas.

Inginnya aku berkata tidak.

Aku sendiri heran setengah mati mengapa orang tuanya begitu menginginkanku untuk menjadi menantu mereka. Aku miskin, aku tidak punya orang tua, pendidikan rendahanku hanya berbekal beasiswa dan terkadang aku tidak menyantap makan malam demi lembur semalaman di perpustakaan untuk mengerjakan tugas yang setebal kamus dunia.

Aneh memang.

Sekali lagi kutegaskan aku memang mementingkan cinta dalam sebuah hubungan. Tetapi situasi dan kondisi yang kurang memungkinkanku untuk bergerak bebas. Aku terhimpit kehidupan ekonomi. Tidak menyuapkan nasi pada jam makan malam telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Kerap kali kurasa perutku bergemuruh lalu mengeluarkan suara jeritan yang membuatku prihatin terhadap diri sendiri. Tingkat pendidikanku semakin tinggi sementara aku tidak memiliki harta yang cukup untuk terus melanjutkannya.

Dan hingga pada lembaran terakhir buku ini… –aku bersungguh-sungguh, aku sedang menangis saat ini –kuungkapkan : Aku harus menyerah di titik ini. Aku lelah. Aku akan mengingkari janji terhadap diri sendiri itu. Tuhan… kumohon. Aku tidak ingin melihat lelaki berpayung murahan di masa lalu itu, aku lelah duduk disini –di tengah hujan badai –demi menanti payungnya. Aku akan melupakan cinta lamaku itu.

Tuhan… beri kesempatan untukku berbahagia, sekalipun aku harus menikahi seseorang yang sebelumnya tidak pernah kucintai.

Two years later after marriage

Suara goresan pensil bersatu padu dengan hentakan air hujan yang tiada lelahnya menumbuk permukaan sebuah atap rumah dua lantai dengan desain serba minimalis. Dibagian depan rumah terdapat sepetak taman dengan ayunan warna putih –dengan sulur bunga warna ungu yang melilit tiang-tiangnya. Disamping kiri bangunan yang baru dibangun satu setengah tahun yang lalu itu ada sebuah ruangan sedikit menjorok kedepan yang berfungsi sebagai tempat kendaraan mewahnya, sebuah garasi. Salah satu jendela putih di lantai atasnya dihiasi bunga-bunga berwarna kuning dengan sebuah kincir angin yang tertancap pada pot bunga. Sudah pasti, ruangan berjendela itu milik anak-anak. Tetangga sekitar kerap kali mendapati si istri mengantar suami dan anaknya hingga pintu depan kemudian melambai dengan cerianya. Lalu mengatakan ‘Hati-hati di jalan…’ sambil tersenyum penuh kasih sayang.

Betapa keluarga yang bahagia. Semua orang pasti akan cemburu dan menyimpan iri jika menyaksikan secara langsung keharmonisan rumah tangga itu.

Di salah satu jendela –yang berada disamping jendela berkincir angin –tampak seorang wanita sedang duduk didepan meja kerjanya sambil menggenggam sebatang pensil. Sesekali dia meraih penghapus kemudian meniup hasil gambarannya yang terkena sisa penghapus. Dan tak jarang pula dia meremat kertas sketsanya lalu melempar sampah itu ke samping meja kerjanya –tempat sampah dengan berbentuk panda.

Wanita itu melepas kacamatanya. Menghembuskan nafas sejenak usai sekian jam duduk sambil berkutat dengan komik-komiknya yang setengah jadi.

Di dinding kamarnya tertempel beberapa potongan berita dari surat kabar :

‘Oh Jihae, kembali meraih penghargaan di komik seri keduanya’

‘Komikus Wanita Ini Mengadakan Jumpa Fans Hampir Setiap Tahun’

‘Komik Karya Oh Jihae Diminati Pelajar Menengah Keatas’

Kurang lebih itulah catatan prestasi yang telah wanita itu raih sampai-sampai namanya berulang kali ditulis di surat kabar harian di Korea Selatan. Wanita itu tersenyum kecil –meski matanya lelah. Setiap merasa hampir menyerah dia selalu membaca artikel tentangnya agar semangat menggambarnya kembali tumbuh. Dia memiliki fans, dan itulah yang membuatnya terus aktif menggambar.

Prinsip hidupnya telah berganti dari ‘Kebahagiaan hidup karena cinta adalah yang terpenting’ menjadi ‘Kau akan bahagia jika orang lain bahagia karena dirimu’. Jadi itulah motto yang selama ini dia pegang teguh. Ayolah… hidup hanya permainan Tuhan. Banyak tangan-tangan misterius yang bergerak di sekitarmu tanpa kau sadari. Cukup jalani hidupmu di jalan yang sudah ada. Kebahagiaan itu bisa kau dapatkan dengan cara sesimpel mungkin. Dan baginya, caranya untuk mampu bahagia adalah membahagiakan orang lain.

Tanpa Jihae sadari, sebuah mobil terparkir didepan rumah. Dari sana keluar seorang ayah bersama puteri kecilnya. Lelaki dengan kemeja putih dan dasi warna biru tua dengan strip abu-abu itu memeluk puterinya yang berusia tiga setengah tahun sambil berlari terbirit-birit memasuki rumahnya, coret, istananya.

“Ommi… aku pulang!” teriak si gadis kecil dengan rambut ikal sepanjang punggung dan poni lurus itu. Ibunya memang sering mengoleskan lidah buaya dan memijat kepalanya setiap hari libur datang, tidak heran jika dia memiliki lekuk rambut yang sempurna.

Sontak wanita yang berdiam diri didalam kamarnya langsung beranjak dan menuruni tangga untuk menemui suami dan buah hatinya.

“Nara… kau sudah pulang.” wanita itu tersenyum lalu meraih dua lembar handuk kemudian menyerahkah salah satunya kepada suaminya dan satu lagi untuk malaikat kecilnya, Oh Nara.

“Ommi… hari ini aku terjatuh. Lihat lututku berdarah.” Nara menunjukkan segores luka di lutut kirinya.

“Ah, bagaimana bisa terjadi? Apakah kau berlarian bersama temanmu?”

Nara mengangguk sambil cemberut.

“Kemarilah biar Ommi mengobati kakimu. Kurasa kau harus melewatkan kelas balet besok.” Jihae mengangkat tubuh puterinya lalu mengambil kotak obat.

“Aku sudah siapkan makanan… jangan bilang kau ada meeting di jam makan malam.” Jihae menuding ujung hidung panjang milik suaminya hingga nyaris menyentuhnya. Sehun tersenyum melihat tingkah isteri mudanya.

“Jangan bilang makanannya terlalu asin seperti kemarin. Aku yang kan mengsangraimu nanti.” godanya seraya berjalan mengikuti Jihae menuju sofa di ruang tamu.

“Aku sudah mempelajari banyak resep dari internet. Sebaiknya kau coba dahulu sebelum makanan itu membeku.” Jihae menuangkan antiseptik keatas kapas lalu mengusapnya perlahan ke lutut Nara.

Sehun tidak menjawab. Hanya mengusap lalu mencium ujung kepala Jihae lalu berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.

“Masalah mengsangraimu itu, aku tidak main-main…” cengir Sehun sambil mengedipkan matanya jahil.

“Aish, aku bukan seorang koki.” balas Jihae lalu menjulurkan lidah. Tawa rendah Sehun masih terdengar meski langkahnya sudah menghilang di balik anak-anak tangga.

“Baba ingin mengsangsai Ommi? Butuh wajan yang sangat besar untuk menampung tubuh Ommi… kurasa Baba hanya bercanda…” lirih Nara dengan polosnya. Agh, anak ini memang sangat polos, beda jauh dari Babanya.

“Babamu tidak mungkin mengsangrai isterinya sendiri, Nara. Dia hanya ingin menakut-nakuti Ommi… tapi tenang saja, Ommi tidak pernah takut padanya. Sana, ganti pakaianmu lalu kita berkumpul di ruang makan.” Jihae menepuk kedua pipi bulat puteri kecilnya dengan penuh kasih sayang.

“Hm, baiklah kalau begitu.” Nara menyeret tasnya menuju lantai atas. Namun ketika dia sampai di anak tangga langkahnya terhenti. Gadis itu berbalik lalu memandang Omminya dengan tatapan innocent yang sungguh tidak dibuat-buat. “Ommi…”

“Ada apa Nara?” tanya Jihae seraya mengemasi kotak obat.

“Aku mencintaimu.” celetuknya seolah-olah lantai atas adalah pembatas antara langit dan bumi dan dia tidak akan pernah turun lagi.

“Aku juga mencintaimu Nara. Cepat bergantilah… aku yakin Nara sudah tidak sabar untuk makan malam…” Jihae tersenyum penuh kelembutan.

=-=

Ji Hae’s POV

Selalu seperti ini.

Aku mohon agar kehidupanku selalu berjalan seperti ini.

Meja makan yang penuh oleh bermacam-macam makanan berprotein maupun berkarbohidrat selalu ditemani dengan gelak tawa kami bertiga. Topik yang kami bahas di meja makan seakan tidak pernah ada habisnya. Pernah sekali Sehun mengambek hingga tiga hari hanya karena kuungkit masa kecilnya dan membocorkan semuanya kepada puteri kecil kami. Lalu dimalam setelah Sehun sembuh dari emosinya, dia membongkar lemari lama dan menemukan foto menjijikkanku ketika masih sekolah menengah pertama. Jika sudah begini, maka ganti aku yang cemberut selama berhari-hari. Lucu sekali. Pada waktu itu kami masih kekanakan dan terlalu dini membina rumah tangga. Cara pikir kami masih terbilang minimalis. Berbeda jauh dari sekarang. Ibarat tunas kelapa yang baru saja tumbuh menjulang, batang pohon itu tidak akan runtuh meski dipanjat tiga orang dewasa sekaligus. Aku dan Sehun mampu bertahan dengan konsep saling mengerti satu sama lain.

“Apa yang tadi gurumu ajarkan padamu Nara?” tanya Sehun sambil menyumpit potongan salmon setengah matang yang sebelumnya sudah dicelupkan pada saus hangat.

“Kami menjelajahi taman di belakang sekolah, memetik tomat yang sudah matang lalu belajar membuat salad.” jawab gadis kecil itu. Bentuk matanya yang mirip seperti Sehun tampak mirip seperti kristal begitu dijatuhi silau lampu.

“Memangnya Nara bisa memotong dengan pisau?” timpalku.

“Ani, Saem Yuri yang melakukannya. Aku hanya menghiasnya sehingga tampak cantik.” senyuman mengembang manis disana. Sehun bilang, senyumannya persis seperti milikku. Sebuah kolaborasi yang sempurna antara diriku dengan Sehun, itu kata neneknya.

“Lain kali ajari Ommimu yang tidak pandai masak ini cara membuat salad.” cengir Sehun sok menggurui.

“Yaa, bukankah masakanku malam ini enak. Diam saja dan habiskan makan malammu, Cadel.” tonjokku dengan kata-kata.

“Cadel? Ommi baru saja berkata cadel?”

“Jangan dengarkan Ommimu, Nara. Ayo habiskan.”

“Babamu ini baru bisa mengucapkan huruf ‘s’ dengan jelas ketika usianya menginjak delapam be-“

“Ya, kau dulu juga telat berjalan. Sudah satu setengah tahun terus saja tengkurap di lantai. Hahaha… pantas saja tidak bisa tumbuh tinggi. Hahaha!” Sehun memegangi perutnya yang terkocok-kocok karena tertawa terlalu keras.

“Hahahaha! Ommi lucu!” dan parahnya anak ini ikut tertawa. Benar-benar anak seorang Oh Sehun!

“Lihat saja Sehun- aku akan memotong hidung m-“

Ting tung

Gelak tawa di meja makan berhenti seketika begitu bel rumah berdentang. Siapa yang datang pada jam makan malam seperti ini?

Kutaruh sumpitku lalu melototi Sehun. “Kau masih selamat.” lirihku dengan tajam, pertanda peperangan sedang ditunda.

“Iya, sebentar.” aku melangkah menuju pintu dan membukakan pintu.

Seseorang berdiri didepan bibir pintu. Jaket hitamnya membungkus tubuh lelaki itu seolah tak membiarkan suhu dingin malam hari menjamahi kulit kecokelatannya. Dia memandangku penuh selidik, tampak sekali dari bola matanya yang menggelinding dari atas lalu ke bawah lalu ke atas lagi. Rentetan memori lama dalam buku tebal kisah hidupku bagai terbuka lagi, tertiup angin menuju sebuah halaman kotor yang pernah kulipat agar selalu bisa kubaca ribuan kali. Sebuah halaman yang penuh garis bawah pada setiap kalimatnya, juga terdapat bekas tetesan air mata yang sudah mengering karena lekang oleh waktu. Seluruh persendianku mengejang begitu mengingat seorang lelaki di masa lalu yang pernah menawarkan ruang di payungnya untuk kutempati.

Lelaki itu adalah dirinya.

“Min Ji-Jihae…” nadanya terdengar keriput. Seperti lagu favorit lama yang kembali kudengarkan.

“Kim.. Jong-“ aku tidak sanggup meneruskan nama hitam putih itu.

“Aku merindukanmu.” dua kata sederhana itu terasa seperti air mendidih yang mengguyur tepat di hatiku. Kulitku terasa terbakar sekaligus membeku di saat yang sama. Kenapa dia datang lagi? Kenapa tidak pergi jauh-jauh usai menggantungku sekian lama ini? Apakah maksudnya kemari untuk membuatku menyesal telah menikahi Oh Sehun? Apakah dia pikir aku masih mencintainya?

“Pergi dari rumahku.” ucapku dingin.

“Ji Hae.” air mata menggenang didasar matanya.

“Pergi!” aku berusaha menutup pintu tetapi dia menahan tanganku.

“Min Jihae!”

“Aku bukan Min Jihae!”

‘Brak!’ dengan paksa kututup pintu itu.

‘Aku Oh Jihae.’

=-=

Sehun menanyakan mengapa aku membanting pintu dan aku hanya menjawab : Seorang tamu salah rumah sedang mencoba menerobos masuk. Alasan bodoh yang diungkapkan seorang komikus. Bahkan aku tidak punya waktu untuk mengarang cerita yang lebih logis. Angin ribut sedang memporak-porandakan isi kepalaku sampai-sampai aku insomnia.

Kami menyelesaikan makan malam tanpa ada senda gurau seperti sebelumnya. Mungkin perubahan sikapku tampak begitu menonjol dimata Sehun dan Nara. Yah, kuharap mereka bisa diam meski tidak mendengar versi asli dari ceritaku.

Seperti biasa aku tidur satu ranjang dengan suami-Oh-ku. Namun yang kulakukan semalaman hanya membolak-balikkan badan sambil memejamkan mata. Alam mimpi jadi terasa seperti dinding portal yang sulit ditembus dengan cara memejamkan mata. Memori beberapa jam yang lalu muncul-menghilang beberapa kali di ruangan gelap super luas dibalik kelopak mataku. Jelas sekali siapa sosok itu. Caranya memanggilku masih sama, suaranya, aroma maskulin disetiap tarikan nafasnya, benar-benar melemparku telak menuju masa lampau.

Mungkin benar aku masih mencintainya, namun… aku berusaha tidak lagi menginginkannya.

“Kau belum tidur, Sayang?” suara Sehun terdengar disela-sela sunyinya malam.

Aku berbalik. “Kau juga?” tanyaku balas.

“Bagaimana aku bisa tidur jika seseorang terus saja bergerak-gerak gelisah di kasurku. Apa yang kau fikirkan?” tanyanya sambil mengusap pelipisku, menyibakkan rerambutan kebelakang telingaku.

“Tidak ada.” jawabku, menahan tangis dengan senyuman pahit.

“Jihae, aku suamimu… aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu.” jika sudah Sehun yang mengatakannya, aku tidak bisa lagi menahan tangis.

Air mataku perhalan menyapu kulit, meluncur melalui hidungku dan terus turun. “Sehun… aku mohon peluklah aku.” pintaku lirih.

Sehun mendekat lalu merengkuhku diantara lengannya, membiarkanku mengusapkan air mata di dadanya. Aku balas memeluknya sambil terisak kecil.

“Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Mungkin kau lelah, besok kita bicarakan…”

=-=

Sehun tidak benar-benar membicarakannya di keesokan hari. Seorang klien meneleponnya pada pagi petang dan meminta janjian pukul setengah tujuh tepat. Dia meminta maaf karena tidak bisa menyantap sarapan pagi dirumah, namun aku memaksanya untuk membawa bekal. Sehun yang biasanya mengantar Nara ke sekolah tidak bisa melaksanakan kewajiban itu di pagi ini. Alhasil, aku harus mengemudikan Lamborgini merahku untuk mengantarnya.

“Dada Ommi, aku sayang Ommi…” gadis kecil itu mengecup pipiku sebelum keluar dari mobil.

“Habiskan susu dan bekalmu, Sayang.” aku merapihkan poninya yang acak terkena embusan angin jendela.

“Arasso Ommi… hati-hati.” dia meloncat turun dari mobil kemudian melambai lagi hingga mobilku benar-benar menghilang dari jangkauan matanya.

Aku kembali mengemudikan mobil menuju rumah. Ada banyak tugas di rumah termasuk meneruskan komik sebelum tiba deadline. Namun di perjalanan seseorang menelepon. Nomor tidak dikenal tertera di kotak pemanggil. ‘Mungkin pembacaku’ pikirku lalu mengangkatnya tanpa pikir panjang.

“Yobose-“

“Min Jihae.” suara yang tidak asing menembus saluran seba rumit di dalam telingaku hingga akhirnya mengirim impuls ke otak, membuka sebuah gembok lama yang berisi segala ingatan penuh kabut.

“Kenapa kau menghubungiku?!” bentakku.

“Jihae, aku mohon dengarkan aku. Kita butuh bicara.” suaranya yang terdengar tenang membuatku semakin geregetan. Berani-beraninya dia terus mengejarku? Kim Jongin, aku sudah bersuami!

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

“Aku tahu kau membenciku sekarang. Tapi aku butuh bicara denganmu. Aku sudah membaca semua komikmu. Jadi anggap saja aku seorang fan yang ingin sekali berjumpa dengan idolanya.”

Aku tidak pernah berbicara sekasar ini kepada orang lain, tidak sekalipun. Setahuku aku tidak memiliki sifat seliar ini. Berbicara kasar kepada seseorang di telepon? Bahkan Nara tahu hal itu sangat tidak berpendidikan. Namun mengapa sekarang aku begini? Apa hanya karena kedatangannya mampu merubahku menjadi serigala?

“Jihae…” panggilnya.

“Aku disini.” kutelan lagi air mata yang tanpa sengaja meluber di bibirku, membiarkan rasa asin itu menyentuh lidahku dan sudah kaku.

“Kau mau kan mendengarkanku?”

=-=

Jika sedang gugup, biasanya kakiku akan bergerak gelisah entah itu menendang, menghentak lantai, maupun sekedar bergoyang-goyang. Tetapi hal itu tidak sedang berlaku untuk detik ini. Seseorang yang paling ingin kutonjok itu sedang duduk tepat didepanku dan lucunya kakiku tidak bergerak barang satu mili dari posisi semula. Beberapa bagian tubuhku seolah lumpuh sesaat.

Dua cangkir kopi menjadi saksi bisu keheningan diantara kami. Asapnya tercium wangi, namun tidak lebih panas dari uap air yang menguar dari lubang hidungku.

“Min Jih-“

“Jongin, aku sudah bersuami.” tandasku penuh penekanan disetiap kata.

Ungkapan itu tampak membuatnya terpukul namun sepertinya Jongin sudah mengetahui hal itu sejak awal, sejak kami belum bertemu lagi.

“Aku tahu.” kalimat pendeknya membuat bulu kudukku menegak. Jika dia suda tahu, mengapa kembali lagi? Dan mengapa terus memanggilku dengan marga asliku?

“Lalu mengapa kau memanggilku dengan nama yang sudah kadaluarsa itu? Apa perlu kutunjukkan kartu tanda pengenalku yang baru?”

“Aku lupa marga suamimu, karena itu aku terus mengucapkannya.” timpalnya, masih dengan tenang. Jongin tidak berubah, tetap seperti ini.

“Siapa yang memberitahumu nomor teleponku?” tanyaku terdengar tajam.

“Aku bertanya pada penerbit komikmu.”

“Mengapa kau sangat ingin bertemu denganku?”

“Jihae, kau melupakan janjiku.” Jongin menggenggam tanganku.

“Jangan sentuh aku.” kutahan air mataku habis-habisan.

“Kukira kau memegang janjiku. Aku pergi ke luar negeri hanya sebentar dan ketika aku kembali… aku tak menyangka kau sudah memiliki seorang puteri.”

“Kim Jongin!” air mataku menggantung diujung hidungku. “Sebentar kau bilang? Kau pikir menunggu adalah hal yang mudah? Kau pikir aku tidak sengsara sendirian disini? Aku sudah berusaha menunggumu dengan sabar tanpa ada kepastian darimu! Aku memendam cinta itu terus menerus, aku tidak meneleponmu karena takut menganggumu, dan ajaibnya kau tidak memberi kabar. Siapa yang berfikir jika kau masih menginginkanku? Aku takut aku menyesal di kemudian hari karena menunggumu terlalu lama sementara kau sudah menemukan pengganti yang tepat. Aku tidak merasa bersalah usai menikahi orang lain karena ini seratus persen kesalahanmu Jongin. Kau yang memulainya duluan. Tidak bisakah kau membayangkan ada di posisiku?”

Aku tidak menyangka ucapan sepanjang itu kuucapkan hanya dengan satu tarikan nafas. Dadaku tersengal, penuh oleh kemarahan. Air mata tak henti- hentinya membanjiri pipiku.

Jongin terdiam, kuharap dia mengerti.

“Aku masih mencintaimu, Jihae.” dia menunduk.

Hah? Apakah dia pikir berkata seperti itu bisa membuatku tersentuh dan menyerahkan surat cerai ke pengadilan dan kembali ke pelukannya? Mustahil.

“Ucapan itu sudah terlambat, terlalu kuno.” sebutir air dari mataku jatuh di hadapannya.

“Jika kau tidak lagi menyukaiku, kau tidak mungkin menangis sekarang.”

Bibirku terbungkam. Satu kenyataan yang sulit sekali kuakui hingga sekarang adalah : Aku masih mencintai Jongin.

“Aku ingin minta maaf, mungkin melihatku membuatmu tersiksa. Maafkan aku Jihae. Maaf membuatmu sengsara. Maaf membuat janji-janji itu. Aku menyesal terus mengungkungmu dengan janjiku. Berbahagialah. Jalan kita sudah berbeda.” tampak menyesalan di kedua bola matanya yang pekat.

Lelaki itu bangkit dari kursi, tidak berani melihat air mataku. “Maaf…” gumamnya lalu meninggalkanku.

Iya benar, pergilah kau masa lalu. Pergi dan jangan pernah menoleh ke belakang lagi. Aku juga minta maaf…

“Halo Sehun-ah.” kudekatkan ponsel ke telinga.

“Tidak biasanya kau menelepon pagi-pagi. Apa terjadi sesuatu?”

“Kau sudah selesai urusan dengan klien?”

“Sudah, sejak setengah jam yang lalu.”

“Um, kau punya waktu untuk bertemu denganku sebentar saja?”

“Sayang… padahal kita baru berpisah pagi ini dan kau sudah rindu?” godanya.

“Aku ada di Sunspring, datanglah. Aku… membutuhkanmu Sehun.”

“Arra, arra… aku akan datang kesana, kurang dari lima menit.”

“Aku menunggumu. Hati-hati.”

“Aku mencintaimu, Jihae.”

“Aku akan selalu mencintaimu, Sehun.”

END

Wakwaaaw ff ini pendeknya ga ketulungan. Habis unas bahasanya jadi rada begini/? hahaha… maklum Han belum seberapa adaptasi. Jadi gimana oneshoot kali ini? Cukup bikin nyesek kah? Butuh cing cong dari kalian… selamat berkomentar ^_^

24 responses to “[Oneshoot] COLLAPSE

  1. Hai kak han :3 kenapa ff nya kak han keren yamvun T,T waktu baca rasanya ada perasaan khas yang berbeda ketika aku ngebaca ff non-kak han (?) Oya kak maaf deh ya aku telat ngomen nya soalnya emang rada baru suka lagi ngebaca ffindo setelah sekian tahun :3 aslinya pingin komen fleas love biar ngga jadi sider(s) tapi setelah liat tanggalnya aku ngerasa telat banget suka =,=)a ㅋㅋㅋ oya kak aku request main cast nga jongin(ku) yah kak Han xD sekian dan terimakasih~ ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s