Soulless Shadow [1]

soulless shadows

Soulless Shadows

Copyright © EnnyHutami’s Fanfiction Story 2015

| Genre: Fantasy, Romance, Thriller |

|Rating: PG-15 (will change following the chapter) | Lenght: Series |

| Cast: Jung Soojung, Seol Hani, Park Chanyeol, Kim Jongin, Oh Sehun, and still secrets |

| Disclaimer: Mine. Inspired by Twillight Saga Series and Vampire Knight | Note: Basher and plagitor are not allowed to come and read |

~Swinspirit~


Laki-laki itu duduk di balik kemudi mobil hitamnya yang diparkirkan di pinggir jalan. Matanya menatap tajam ke depan, menunggu seseorang keluar dari suatu bangunan dengan penerangan depan yang remang.

Laki-laki itu duduk di balik kemudi mobil hitamnya yang diparkirkan di pinggir jalan. Matanya menatap tajam ke depan, menunggu seseorang keluar dari suatu bangunan dengan penerangan depan yang remang.

Sekitar setengah jam kemudian, seorang gadis dengan mantel berwarna merah muda keluar dari bangunan tersebut. Rambut panjangnya terurai hingga ke punggung dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam.

Lelaki itu menunggu gadis itu menjauh. Dari pengelihatannya, ia melihat gerak-gerik gadis itu dengan detil. Seperti saat gadis itu menelusupkan rambutnya ke belakang telinga, atau saat gadis itu merapatkan mantelnya akibat angin dingin yang menggelitik tubuhnya. Dan meskipun gadis itu telah hilang dalam jarak pandangnya, lelaki itu tetap bergeming. Karena ia dapat melihat gadis itu meskipun gadis itu telah berbelok.

Ketika dirasa gadis itu telah terlalu jauh dari jangkauannya, ia pun menyalakan mesin mobil dan melaju perlahan agar tak seorangpun menyadari bahwa ia telah mengikuti seorang gadis. Lalu dirasakannya gadis itu memasuki sebuah gang sempit.

Laki-laki itu memarkirkan mobilnya, keluar dari mobilnya dengan mengenakan tudung jaketnya yang berwarna hitam lalu mengikuti gadis itu lagi. Kali ini dengan jarak yang lebih dekat.

Gadis itu merasakan bahwa dirinya tengah diikuti, kemudian mempercepat langkah kakinya. Perlahan, langkah gadis itu memelan kemudian berhenti, membuat lelaki yang mengikuti dibelakangnya ikut berhenti. Dan ketika gadis itu mencoba menoleh, laki-laki itu menarik satu sudut bibirnya ke belakang membentuk lengkungan senyum puas. Lelaki itu semakin puas mendengar detak jantung gadis tersebut yang berdetak sangat cepat.

Saat gadis itu mencoba membalikkan badannya, lelaki itu pun berlari ke arah gadis itu. Lari yang sangat cepat karena tidak ada hitungan satu detik, lelaki itu telah berdiri tepat di belakang gadis itu. Dan saat gadis itu menatap lelaki itu dengan mata membulat, lelaki itu langsung memeluk gadis tersebut. Bukan sekedar memeluk, tetapi meremukkan tulang gadis tersebut sehingga belum sempat gadis tersebut berteriak kesakitan, nyawanya telah tiada.

“Maaf, kau terlalu banyak tahu tentang diriku.” Bisik lelaki itu dengan posisi masih memeluk gadis yang tidak bernyawa tersebut dari belakang. Lalu ia membawa gadis tersebut di punggungnya sehingga orang-orang hanya akan melihat bahwa ia menggendong gadis mabuk.

Langkah lelaki itu berhenti saat berhadapan dengan seorang gadis yang baru saja membanting pintu mobil kasar dan berjalan ke arahnya, bahkan hampir menabraknya. Gadis itu hendak meminta maaf, tetapi mengurungkan niatnya ketika melihat siapa yang berada di depannya. Gadis itu menatapnya dengan pandangan tidak suka, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Ia balas menatapnya sejenak dengan pandangan heran, juga bertanya-tanya apa yang terjadi pada gadis itu. Selarut ini, gadis itu keluar dari sebuah mobil dengan seperti itu. Ketika gadis itu melawatinya, ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Bersikap seolah ia tidak mengenal gadis itu.

“Park Chanyeol,” seseorang memanggilnya dari belakang. Dan ketika ia menoleh, ia mendapati gadis tadi berdiri dengan menghadapnya. Lalu, “Bersikap seolah tidak melihatku malam ini.”

Lelaki yang memiliki nama Park Chanyeol itu hanya mengangkat sebelah alisnya. “Memang apa yang terjadi?” tanyanya, mencoba untuk bersikap baik pada gadis yang dikenal dengan kesinisannya di sekolahnya.

“Urusi saja gadis mabukmu.” Jawabnya ketus, lalu membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya.

Setelah gadis itu pergi, ia hanya bisa tertawa. “Seol Hani,” katanya sambil melihat punggung gadis itu yang semakin menjauh. Mungkin hanya gadis itulah yang tidak meliriknya sama sekali padahal hampir seluruh gadis di sekolah tergila-gila padanya.

Dan itu alasannya mengapa ia tertarik untuk mendekati gadis tersebut, dan memainkannya.

Bau anyir khas darah tercium oleh hidung Soojung, membuat gadis yang tengah mencatat ulang apa yang dituliskan gurunya di papan tulis langsung mendongak dan menoleh.

Teman sekelasnya yang duduk cukup jauh dari kursinya tidak sengaja menggoreskan tangannya pada sudut meja sehingga kulitnya robek dan darah segar keluar. Hanya sedikit, tetapi Soojung dapat mencium baunya dengan sangat jelas.

“Soojung-a, ada apa? Kau sakit?”

Ketika mendengar pertanyaan teman yang duduk di sebelahnya dengan nada berbisik, Soojung menutup matanya rapat-rapat. Ia tengah mencoba menahan diri untuk tidak menuruti nalurinya; mencicipi darah tersebut dan menghabisinya. Tidak mungkin jika ia harus mengumbar jati dirinya di depan seluruh teman sekelasnya. Itu jelas akan mengacaukan eksistensi jenisnya dan kemungkinan akan membuat keributan besar antara manusia dan jenisnya.

Jika bicara tentang jenisnya, semua orang pasti bertanya-tanya apakah eksistensi jenisnya hanyalah legenda belaka atau tidak. Jawabannya hanyalah tidak. Vampir. Eksistensi vampir memang ada, dan ia adalah salah satunya. Yah, meskipun belum sepenuhnya ia menjadi vampir karena ia belum mencapai perubahan itu. Indranya belum berkerja setajam para vampir dan masih berkemampuan layaknya manusia normal pada umumnya. Hanya saja, ini kali pertama ia dapat mencium bau anyir darah dan membuat instingnya tergerak.

“Soojung-a, ada apa? Kau pucat sekali!” Kali ini teman sebangkunya tidak lagi bertanya dengan nada berbisik sehingga teman-teman sekelasnya serta guru yang tengah mengajar di depan kelas menoleh ke arahnya.

Kemudian guru tersebut menyuruh teman di sebelah Soojung mengantarnya ke ruang kesehatan. Karena ia tidak tahu apakah akan terjadi hal yang buruk jika ia tidak segera keluar dari kelas, ia pun mengikuti temannya yang membawanya ke ruang kesahatan. Sebelum benar-benar keluar dari kelas, sekali lagi ia menoleh ke arah temannya yang membiarkan luka goresan di tangannya begitu saja.

Mata mereka bertemu. Dan ia dapat melihat bahwa gadis itu sedikit ketakutan ketika ditatap olehnya. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ia harap bahwa gadis itu tidak melihat hal aneh dari dirinya.

“Ahreum-a, kurasa aku akan pulang saja.” Katanya, ketika ia menghentikan langkahnya. Ia harus pulang. Itu adalah pilihan yang terbaik untuk dirinya, juga untuk orang-orang.

Lalu, “Bisakah kau ambilkan tasku?” pintanya.

“Kenapa kau tiba-tiba sakit begini?” tanya temannya yang bernama Ahreum itu. “Akan kuambilkan. Kau tidak akan pingsan kan jika aku tinggal?”

Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Terkadang, temannya itu berpikir terlalu berlebihan memang.

“Baiklah, tunggu di sini.” Lalu Ahreum berlari kembali ke kelas.

Sembari menunggu temannya mengambilkan tasnya, ia merogoh saku seragamnya dan mengambil ponsel untuk menelepon ibunya.

Eomma,” katanya begitu teleponnya diangkat oleh sang ibu. “Ada yang aneh. Aku… bisa mencium aroma darah.”

“Bagaimana kerongkonganmu? Apa terasa seperti terbakar?”

Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar mengenai dirinya. Ia menggelengkan kepalanya karena memang tak ada rasa panas seperti terbakar pada kerongkongannya.

“Lalu apa yang terjadi?” ibunya bertanya lagi.

“Aku…,” Soojung bersandar pada penyandar kursi dalam mobil. Sedikit merasa lebih baik sejak bertemu dengan ibunya. “Hanya merasa ingin…,” ia terdiam lebih dulu dan tidak melanjutkan kalimatnya. Lebih tepatnya tidak ingin.

Ia sangat tidak ingin mengatakan lanjutan dari kalimatnya, tetapi entah bagaimana, seakan ada desakan untuk meneruskan kalimatnya.

“Aku seperti ingin mencicipinya.” Dengan berat ia mengatakannya. Dan reaksi ibunya membuatnya heran, menertawainya.

“Kami semua juga selalu merasakan seperti itu, sweetheart,” dan kalimat itu membuat Soojung terdiam.

Benar. Semakin hari ia merasakan hal yang aneh pada dirinya, seperti mendengar goresan pensil pada kertas yang entah ia dengar dari mana padahal saat itu ia tengah berada di kamar. Meskipun ia tahu tentang jadi dirinya dan jati diri keluarganya, namun ia berharap ia akan berubah lebih lama lagi. Ia masih ingin menjadi gadis normal pada umumnya.

Keesokan harinya, ia terbangun dari tidur dengan perasaan aneh. Jantungnya terasa sakit, dan pada aliran darahnya seakan ada sesuatu yang bergerak, seperti ketika obat disuntikkan ke infus.

Kemudian ia meringkuk di atas ranjangnya dengan sebelah tangan yang memegang dada tepat di depan jantungnya. Ia meringis kesakitan, tetapi menolak untuk bersuara. Ia merasakan hal tersebut untuk beberapa menit. Dan ketika ia membuka matanya, ia terbangun di suatu ruangan yang bukan kamarnya.

Keningnya berkerut heran. Bertanya-tanya dimana dirinya sekarang padahal semenit yang lalu masih berada di kamarnya…

Lalu ia bangun dan mendapati ibunya yang berdiri di samping pintu sambil mengulas senyum menatapnya. Kemudian pintu tersebut terbuka dan menampakan sosok ayahnya yang sejak ia kecil hingga kini tak pernah menua.

Ketika lampu ruangan tersebut dinyalakan, ia langsung menutup matanya dengan kedua lengannya. Dan ia baru tersadar jika baru saja ia dapat melihat dalam gelap. Benar-benar gelap karena ternyata ruangan tersebut tidak memiliki jendela ataupun penerangan sedikitpun. Meskipun begitu, ia dapat melihat dengan sangat jelas.

Kedua tangannya diturunkan begitu dirasa matanya telah terbiasa dengan pencahayaan di sekitarnya. Ia mengerjap ketika melihat seekor semut kecil yang berjalan di atas meja di samping vas bunga yang letaknya kurang lebih 3 meter dari tempatnya duduk, ia juga dapat mendengar suara yang entah darimana berasal karena kedua orangtuanya sedari tadi tidak bersuara.

“Apa… ini?” ia bertanya pada dirinya sendiri dengan suara pelan.

Dan kemudian ia dapat mencium aroma manis yang membuat kerongkongannya terasa panas, namun ia mencoba untuk menahan diri. Ia menoleh ke arah kedua orangtuanya yang masih berdiri di depan pintu, terlihat bersiaga. Entah untuk apa.

Saat ia mencoba untuk menghampiri kedua orangtuanya, ia terkejut karena gerakannya yang sangat cepat. Hanya dalam sekejap mata, ia telah berdiri di tengah ruangan.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya ibunya sembari melangkah menghampirinya.

Dengan wajah heran, ia menatap ibunya. Berdiri mematung di tengah ruangan dengan ‘tubuh barunya’, dan merasa sangat aneh. Semua indranya menajam, dan ia dapat merasakan detak jantungnya yang melemah dan tidak normal. Ia mencoba menghirup oksigen, tetapi paru-parunya seakan tak lagi berkerja.

Ia penasaran… apakah ia benar-benar sudah berubah?

“Lihatlah ke cermin, sweetheart,” ucap ibunya.

Ia pun menuruti ucapan ibunya dan menoleh ke arah cermin besar berada. Sangat mengejutkan. Dalam cermin tersebut, ada seorang gadis dengan kulit pucat hampir transparan. Bayangannya dalam cermin terlalu cantik sehingga ia tidak mengenali dirinya sendiri. Namun sayangnya, matanya berwarna merah terang. Seakan mengingatkannya bahwa dirinya kini menjadi seorang monster.

Setelah kurang lebih satu minggu ia dikurung di dalam ruangan tersembunyi yang berada di bawah tanah rumahnya, ia pun diperbolehkan keluar dan kembali bersekolah setelah kedua orangtuanya yakin bahwa ia telah sanggup beradaptasi dengan lingkungan setelah perubahannya.

Dan kata ibunya, ia sangat cepat untuk membiasakan diri. Tidak panik saat seorang tetangga baru datang untuk memberi beberapa makanan, meskipun ia terlihat sangat kaku pada awalnya.

Namun disayangkan karena ia harus pindah sekolah ke sekolah yang memang terdapat beberapa vampir di sana. Dan pemilik dari sekolah tersebut adalah vampir dari keluarga yang terhormat. Yang ia dengar, ada kelas spesial yang hanya berisi para vampir. Ia sendiri tidak yakin apa yang diajarkan di kelas tersebut.

Tentang bagaimana caranya memburu? Atau apa? Ia tidak tahu, dan ia tidak ingin tahu sebenarnya. Toh, kedua orangtuanya memiliki obat seperti kapsul yang dapat mengenyangkan dahaganya akan darah.

Saat ia menginjakkan kakinya di sekolah barunya yang memiliki bangunan luar biasa menakjubkan. Dari luar pagar tinggi, terlihat bangunan modern bertingkat tinggi, namun di dalamnya terdapat perpaduan dengan kastil gaya inggris yang cukup unik.

Dan begitu ia datang ke sekolah ini, ia dapat merasakan segelintir murid yang memang bukan manusia. Beberapa memiliki detak jantung yang lambat seperti dirinya, dan beberapa malah tak terdengar detak jantungnya.
Ia merasa aneh dengan pendengaran barunya ini.

“Anak baru di pertengahan semester?”

“Kurasa dia salah satu pemilik yayasan sekolah.”

“Kau bisa mengerjainya! Sesekali mengerjain pemilik yayasan tak apa, bukan?”

Segelintir percakapan mengenai dirinya terdengar di telinganya, disusul tawa. Ia tidak terlalu memedulikannya. Ia memang bukan orang yang suka menindas, tetapi ia tidak bisa ditindas. Sejak dulu, ia selalu ingin hidup tenang di sekolah, menjadi murid biasa. Dan entah bagaimana caranya, itu terjadi meskipun teman-temannya bilang bahwa aneh jika dirinya selalu menjadi siswi biasa dan tidak memukau melihat fisiknya.

Seperti sihir, apa yang ia inginkan selalu terjadi.

Ia pun membiarkan orang-orang itu terus bergosip sedangkan dirinya tetap melangkah menuju ruangan guru.

“Jung Soojung?” ia menoleh ketika seseorang memanggil namanya tepat saat ia menutup pintu ruangan. Dan seorang wanita berpakaian formal dengan rambut panjangnya yang dikuncir dengan kening yang tertutup poni menghampirinya.

“Saya mendengar banyak tentangmu dari Mr. Jung. Selamat bergabung.” Katanya. Ia berasumsi bahwa ia menyelamati perubahannya, bukan kepindahannya ke sekolah ini. Kemudian wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Victoria Song. Wakil Kepala Sekolah.” Lanjutnya dengan sebuah senyum.

Victoria Song adalah seorang vampir. ia tak dapat merasakan detak jantung wanita itu, dan tarikan napasnya terdengar disengaja.

Setelah ia melepaskan jabatan tangan, wanita itu mengajaknya untuk pergi ke kelas barunya yang berada di sebelah bangunan utama sekolah. Sepanjang jalan, keduanya sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak berminat untuk berbicara dengan wanita di depannya yang mungkin saja telah berusia lebih dari setengah abad dan lebih memilih untuk melihat ke keseluruhan bangunan sekolah.

Satu keuntungan yang ia sukai setelah perubahannya adalah ia dapat melihat ke sekelilingnya tanpa harus benar-benar berkeliling.

Kemudian wanita itu menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan dengan plang kecil di atas pintunya bertuliskan 2-1, dan menggeser pintunya, membuat semua murid dan guru yang tengah mengajar menghentikan kegiatan belajar mengajar untuk sementara waktu. Sementara ia menunggu di depan pintu.

Dan ia dapat merasakan beberapa mata menatap keluar ruangan. Ada dua pasang mata yang tahu tentang keberadaannya. Yang berarti ada dua vampir di dalam—Victoria Song tidak dihitung.

“Kalian punya teman baru.” Ucap Victoria dengan nada ramahnya dan membuat beberapa murid bersorai. “Masuklah dan perkenalkan dirimu.” Katanya kepada Soojung yang masih berada di luar.

Ketika ia masuk ke dalam ruang kelas, sorak sorai semakin bertambah keras. Terutama para murid lelaki yang beberapa justru bersiul. Dalam hati, ia menyuruh mereka diam. Dan beberapa detik kemudian suasana hening seketika.

Hal tersebut membuat seorang murid lelaki yang duduk di pojok belakang yang tidak menaruh minat atas kehadiran anak baru mengangkat kepala untuk melihat Soojung yang tersenyum sembari mengenalkan dirinya saat suasana hening.

Oh Sehun. Lelaki itu mendengar Soojung melafalkan namanya dalam kepala saat mata mereka bertemu. Lelaki itu dapat mendengar apa yang tidak dapat didengar orang-orang.

Dan untuk pertama kalinya, Sehun merasa tertarik pada seseorang. Terlebih lagi saat Soojung menyuruh murid di kelas diam dalam kepala, dan semua menurutinya.

-To be continue-

25 responses to “Soulless Shadow [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s