[Eps 1] “Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight”

rose waterfall and gold sworded knight

Jihan Kusuma Present

Cast : Moon Namji|Oh Sehun|Luhan

Genre : Comedy-Romance|School-life|Drama

Length : Eps

Copyright 2014 ©JihanKusuma

 


Note :

Annyeonghaseyo! Setelah nyelesein “Fleas Love” Han hadir lagi di hadapan kalin bawa sebuah ff spesial dengan tema school life dan bullying😄 wkwkwk FF ini udah pernah aku publish di blog pribadi [pixiexoxo.wordpress.com] jadi jangan kaget kalo ada yang pernah baca atau pernah nemu. Aku bukan plagian. Plot dan jalan cerita asli dari kepala Han, jika ada satu atau dua adegan yang sama… itu sama sekali engga Han sengaja.

Oke, happy reading all!


 

Before Story

Kisah Mawar Merah, Air Terjun, dan Kstaria Berpedang Emas

Pada jaman dahulu kala, dikisahkan, ada seorang puteri bernama Rose. Sang puteri sangat cantik, baik hati, dan penyayang hewan. Tidak ada satupun di dunia yang mampu menandingi kecantikan Puteri Rose sampai-sampai bunga-bunga hutan dan kupu-kupu merasa iri terhadapnya. Hingga pada suatu saat, ketika Puteri Rose berburu bunga mawar di hutan, dia tersesat jauh di tengah rimbun pepohonan. Puteri Rose tidak bisa menemukan jalan kembali ke istana. Dia meminta tolong kepada pepohonan, babi hutan, dan sulur-sulur duri liar, tetapi mereka sudah tertidur karena hari semakin gelap. Puteri Rose bingung harus bagaimana. Perutnya keroncongan dan tenggorokannya terasa begitu gersang. Hingga sampailah dirinya di sebuah air terjun. Si Penunggu air terjun menawarkan bantuan. Dia memperbolehkan Sang Puteri meminum air sungainya. Namun dengan satu syarat, Puteri Rose harus menikahinya.

continued


 

EPISODE 01

FIRST SIGHT WITH A MONSTER


Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah baru ketika sedang ospek.

“Aish… kenapa aku harus bangun kesiangan?” pekik seorang gadis sambil berlari dengan sepasang sepatunya yang dipasang terbalik. Sesungguhnya itu sama sekali tidak dia sengaja. Karena terlalu terburu-buru dia juga lupa memasang ikat pinggang. Dasi kotak-kotak warna blue cobalt-nya terikat dengan mengenaskan. Poninya acak-acakan seolah baru saja disambar petir. Gadis itu berlari dari blok satu ke blok lain sambil terus mengumpat tidak jelas. Langit memang masih terang benderang, tetapi awan hitam terasa terus menghantui langkah demi langkahnya.

Penyesalan memang selalu ada dibelakang. Pertama, salahkan film semalam yang begitu menyita perhatian sampai-sampai dia lupa menggosok gigi sebelum tidur. Dan kedua, salahkan juga jam weker yang terlambat membangunkannya hingga pada akhirnya benda imut berbentuk kubus itu harus menjadi target utama peristiwa banting-membanting dikamar flatnya.

Gadis itu kembali melongok kearah arloji yang membelit pergelangan tangan kirinya. ‘Tiga puluh detik lagi!’ jeritnya histeris, dalam hati. Dengan penuh semangat gadis itu mempercepat langkahnya yang sempat melemah.

Namun terlambat sudah.

Pintu Sekolah Menengah Atas Pyong Dang telah tergembok rapat. Gadis itu mengumpat lagi. Kini dia merasa perjuangannya barusan hanya sia-sia. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang? Ini hari pertama ospek dan dia tidak bisa melewatkan ospek kali ini. Hari ini bisa menjadi penentu nasibnya tiga tahun kedepan selama di SMA. Angannya mengudara kesana-kemari, membayangkan wajah-wajah kakak kelas yang ketus, guru-guru membunuh yang suka menghukum siswanya yang tidak patuh, juga teman-teman sekelas yang tidak bersahabat. Dia bisa diterror habis-habisan oleh para sunbae jika tidak masuk di hari pertama ini.

Gadis itu melangkah mendekati pintu gerbang yang bagai jeruji surga. Diguncang-guncangkannya tralis dari besi itu, berharap ada seorang malaikat yang baik hati mau menolongnya dari jahanam. Tetapi tidak ada siapapun disana, hanya seorang satpam yang mengantongi pemukul maling sedang mondar-mandir di lobby.

‘Bisa mati jika dia melihatku.’ pikir gadis itu. Otaknya mulai berputar, merencanakan sebuah strategi agar dia bisa menghilang secara tiba-tiba lalu muncul di lapangan utama tanpa ketahuan siapapun.

“Aish, tidak mungkin jika aku harus menyerahkan diri.” pekiknya sambil mengacak poni.

Tiba-tiba seseorang datang dan mendorong-dorong pagar. Gadis itu hampir melompat karena kaget. Tampak seorang lelaki seusianya sedang berdiri dihadapannya. Lelaki itu mengenakan seragam yang sama dengan apa yang dia kenakan, seragam khas SMA Pyong Dang. Jadi singkatnya, bisa disimpulkan jika; ‘Bukan hanya aku yang terlambat!’

“Yak, kenapa gerbangnya dikunci?!” pekik si lelaki muda yang baru datang itu.

“Kau juga akan ikut ospek?” tanya si gadis dengan tatapan penuh harap. ‘Akhirnya, ada seseorang yang bernasib sama denganku!’ batinnya.

“Ne, kau juga siswa baru?” tanya si lelaki balik sambil menatap si gadis dari sepatu hingga ujung poninya yang jabrik dengan tatapan jijik. ‘Apakah dia ini benar-benar wanita?’ pikirnya.

‘Aish, pasti aku tampak sangat aneh!’ =o=

“Kita harus memanjat benda ini!” cetus si gadis. Lelaki muda itu berfikir sejenak, menimbang-nimbang apakah dia bisa mempercayai si gadis berusia enam belas tahun yang berpenampilan seperti janda gila ini. Karena kondisi yang terdesak, akhirnya lelaki itu mengangguk saja.

“Naiklah di pundakku, nanti kau tarik aku dari atas! Bagaimana?” usul si gadis janda gila.

“Setuju!” lelaki itu mengangguk dengan mantap. Mereka berdua mulai melancarkan aksi nekat itu.

“Siapa namamu?” tanya si gadis ketika si lelaki sudah menumpukan kedua kakinya ke pundaknya. “Panggil aku Mark dari grub 2. Kau sendiri siapa namamu?” tanya Mark seraya memanjat pagar. Kini gantian si gadis yang menaiki tralis pagar sementara Mark menarik lengannya dari atas.

“Namaku…”

‘Prit!’ terdengar suara peluit, seketika genggaman tangan mereka terlepas. Si gadis langsung tersungkur dengan bibir yang dengan mesranya mengecup halaman. Mark yang panik segera kabur dan berlari ke lapangan parkir.

“Yaa! Yaa! Kau mau kemana?!” jerit si gadis tidak terima.

Namun lelaki tidak bertanggung jawab itu sudah menghilang entah kemana. Seorang satpam berdiri dibalik pagar dengan peluit yang terkalung di lehernya. Mata si gadis membulat hingga menyerupai telur mata sapi. ‘Oh Tuhan! Bunuh saja aku sekarang!’

“Aku tidak menyangka ada gadis muda yang mau terlambat di hari pertama ospeknya.” celetuk si satpam.

Bibir gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi. Jantungnya memompa darah dengan terburu-buru. ‘Jadi seperti ini ya rasanya ketahuan ketika sedang mencoba maling?’ =o=

Hal pertama yang harus kau ketahui ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah baru adalah : JANGAN TERLAMBAT.

“Ada siswa yang terlambat!” lapor si satpam sambil menjinjing kerah belakang seragam seorang gadis, seperti sedang menjewer seekor kucing. Gadis malang berpenampilan kacau itu menunduk begitu seluruh barisan peserta ospek memalingkan pandangan mereka kearahnya. Darahnya berdesir deras dari kepala ke kaki, lalu kembali ke jantungnya. Menimbulkan rasa gugup yang semakin lama membuat tubuhnya gemetaran. Ini pertama kali baginya dijadikan tontonan oleh puluhan siswa yang kelak akan menjadi rekan seangkatannya. Belum lagi para Army yang terlanjur melihat wajah baru objek bulan-bulanan mereka. ‘Betapa sialnya aku hari ini!’ batinnya.

Seorang sunbae berjaskan ‘Army’ dengan jahitan nama ‘Chanyeol’ di saku kanannya tampak menghampiri sosok si gadis yang menunduk pasrah. “Terimakasih security, bisa kau serahkan kelinci ini padaku? Dia akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya.” ujar anggota Army itu.

‘Kelinci?’ gumam si gadis. Security itu mendorong tubuh si gadis kearah Chanyeol dengan kasar, seperti sedang melemparkan permen karet bekas kunyahan ketempat sampah.

Gadis itu menatap Army dihadapannya dengan takut-takut. Si tinggi itu memiliki mata, hidung, dan mulut yang besar. Semua bagian tubuhnya seperti kelebihan porsi, termasuk telinganya yang lebar seperti Dobi.

“Ikut aku.” si telinga besar itu mencengkeram lengan hoobaenya menuju tengah-tengah lapangan upacara. Kini gadis itu sudah berdiri diantara para peserta ospek. Dirinya jadi tampak seperti seekor umpan bagi ikan satu samudera, begitu lemah dan tidak berdaya.

Lelaki bernama Chanyeol yang sempat dia anggap tampan itu mendorong punggungnya kearah seorang lelaki yang lain. Gadis itu terjatuh karena tersandung tali sepatunya sendiri –yang tidak terikat.

Kini dia jatuh tersujud didepan kaki seorang lelaki berseragam Army dengan embel-embel badge ‘JENDRAL’ pada saku kanannya. Dibawahnya tertera sebuah nama yang mungkin tidak akan gadis itu lupakan seumur hidupnya.

“Jadi kalian bisa lihat sendiri! Seperti inikah generasi siswa penerus SMA Pyong Dang? Bagaimana jika semua siswa sama seperti gadis ini?! Terlambat di hari pertama… patutkah para Army memaafkan dia?!” pekik ‘JENDERAL’ bernametag ‘Sehun’ itu dengan sebuah alat pengeras bernama megaphone.

Jantung gadis itu terasa mau lepas dari rusuknya begitu suara Sang Jenderal menggema keseluruh sudut lapangan utama. Sebagian dari dirinya ingin menyemburkan kata-kata penolakan ke wajah lelaki menyebalkan itu, tetapi sebagian yang lain takut jika hal itu malah akan memperparah nasibnya. Sudah cukup harga dirinya diinjak injak sedemikian rupa, dia tidak mau dipandang sebagai seorang pemberontak.

“Jawab!” pekik Jendral Sehun kepada seluruh peserta upacara pembukaan orientasi SMA Pyong Dang.

“Aniyeo.” jawab mereka semua dengan nada yang begitu pasrah. Meski ada satu atau dua dari mereka yang merasa kasihan kepada gadis yang terlambat itu, tapi tidak satupun yang berani untuk menolong.

Gadis malang itu terus menunduk sambil menahan debaran dadanya yang kian lama kian cepat. Lututnya sudah lemas karena berlari hampir dua kilometer dari flat hingga ke sekolahan, dia juga sudah berjuang memanjat pagar demi bisa mengendap-endap masuk, tetapi apa yang diperolehnya sekarang? Mereka malah mempermalukannya.

“Bangun kau!” perintah ‘Jenderal’ Sehun pada si gadis yang masih bersujud didepan kakinya. Gadis itu enggan untuk bergerak, apalagi bangkit menghadap sang jederal. Nyalinya sudah tipis seperti kertas tisu.

“Bangun kubilang!” teriak Jenderal Sehun dengan megaphonenya. Gendang telinga gadis itu nyaris bengkak karena suara memekakkan barusan. Lengan yang menjadi satu-satunya tiang penumpu tubuhnya sudah goyah.

Sehun yang mulai merasa geregetan menurunkan megaphone di genggamannya. Lelaki itu maju selangkah lebih dekat lalu membisikkan sesuatu. “Apakah kau tuli?” tanyanya berbahaya.

Raga gadis itu memang sudah lemas tak bertenaga, tetapi didalam sana, emosinya yang tadinya sudah tersulut dengan sepuntung korek mulai membakar habis seluruh kesabarannya. Memang benar jika dia hanya seorang hoobae pemalas yang terlambat di hari pertama ospek, tetapi bukan berarti dia bisa dipermalukan didepan umum seperti ini. Rasa tidak terimanya seakan menjadi bensin bagi kobaran api kemarahannya.

“Hei tuli!” panggil Sehun sekali lagi.

Untuk kali ini susana menjadi sangat hening. Mungkin para anggota Army yang lain juga merasa jika kelakukan Sehun sudah kelewatan, tetapi satu pun diantara mereka tidak ada yang berani angkat bicara untuk membela hoobae mereka.

Rahang bawah gadis itu mengeras diikuti suara gemeletak giginya. Dalam hitungan ketiga gadis itu berpaling dari posisi bersujudnya. Semuanya kaget melihat pergerakan gadis itu yang begitu berani. Setelah keberaniannya terkumpul, dia menatap nanar kearah sang jenderal muda. Beberapa detik kemudian dia merebut megaphone di tangan Sehun lalu meneriakkan jeritan hatinya didepan wajah jenderal itu dengan alat pengeras suara.

“Aku sama sekali tidak tuli! Kau dengar?!” serunya dengan suara nyaring. Dengingan panjang menyengat seluruh indera pendengaran pesera upacara, memaksa mereka untuk menutupi telinga. Namun tidak dengan Sehun, lelaki itu tetap berdiri ditempatnya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku, berpose seperti sedang tidak terjadi apa-apa.

Gadis itu meraih tangan Sehun lalu menaruh gagang megaphone ke genggaman lelaki dengan rambut kecokelatan itu kembali. “Kau sudah dengar dengan jelas?” tanyanya lirih, hanya dia dan Sehun yang mampu mendengarnya.

Bagi sebagian orang, mungkin tindakan yang baru saja dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar yang bisa dia sesali selamanya. Tetapi tidak dengan gadis itu, baginya, itu semua setimpal dengan perjuangannya dari pagi tadi hingga sekarang. Membentak kakak kelas pada jumpa pertama, betapa hebatnya dia.

Tak lama kemudian gadis itu berbalik lalu melengkah menjauh dari posisi semula. Sikapnya seakan tidak peduli apakah para Army akan menghukumnya habis-habisan. Atau dia malah akan dikeluarkan dari sekolah secara tidak terhormat. ‘Masa bodoh. Memangnya siapa yang mau bersekolah di kebun binatang yang dipenuhi paus-paus buas seperti mereka?’ pikirnya.

Rambutnya berantakan seperti baru saja diserang komplotan badai dan sepatunya juga masih terbalik –dan belum terikat dengan benar.

Sehun pun ikut tidak terima dengan kelakuan adik kelas barunya yang kelewat kurang ajar. Dan parahnya, dia adalah seorang yeoja, perempuan. Lelaki itu menghembuskan nafas sejenak, menenangkan kembali naga hijau dalam dirinya.

“Yaa!” teriak Sehun kepada si gadis kurang ajar.

Tetapi naasnya, gadis itu tak bergeming. Jangankan berbalik, berhenti saja tidak. Sehun mengambil beberapa langkah kedepan. Ditariknya lengan gadis berpawakan ramping itu. Seketika tubuhnya yang basah oleh keringat terhuyung dan hampir ambruk kearah Sehun.

Mereka saling menatap. Tersirat amarah di mata sang jenderal muda. Pandangannya begitu menusuk tetapi fondasi pertahanan gadis dihadapannya belum tertembus juga. Jiwanya sudah berhasil dikendalikan oleh emosinya yang meluap-luap.

Sehun melirik badge nama di seragam gadis dihadapannya. ‘Moon Namji’ dia mencoba menghafalkan nama pendek itu.

“Kenapa? Kau belum puas mempermalukanku?” tanya gadis yang ternyata bernama Namji itu.

Entah mengapa, tiba-tiba saja bibir tipis Sehun terkunci rapat seolah tersihir oleh perkataan hoobaenya yang menuntut keadilan. Telinganya sakit mendengar rentetan kata yang bisa menekan tombol ‘BOOM’ dalam dirinya itu.

Kedua tangannya tergegam, mengeras dalam hitungan detik, kemudian memutih karena darahnya terhambat diperpotongan nadinya. Sehun benar-benar sulit mempercayai akan apa yang baru saja gadis itu katakan. ‘Beraninya dia…’

“Kau…” lirih Sehun.

“Maaf Jenderal, aku memang murid baru. Tapi sikapmu sama sekali tidak menunjukkan jika kau seorang pimpinan. Beginikah caramu menyambut kami? Berteriak dan memerintah sesuka hatimu? Huh, kurasa kau sudah lupa diri. Kau bukan raja.” balas Namji tanpa sopan santun, tidak sadar jika sesungguhnya dirinya juga lupa diri. Dia tidak sadar jika dirinya kini benar-benar masuk dalam kriteria hoobae kurang ajar yang minta dibully setiap hari.

Namji mengibaskan rambutnya yang hitam berkilau hingga nyaris menampar hidung runcing sang jenderal. Dengan penuh percaya diri, dia melangkah keluar dari lapangan upacara.

Tetapi sebelum dia benar-benar menghilang dari sana, terdengar suara nyaring dari balik megaphone milik Sehun.

“Kau beruntung.” teriak Sehun kepada gadis itu.

“Aku masih berbaik hati kepadamu. Kau tidak akan kukeluarkan dari masa ospek. Namun, jika kau masih mau mengaku berani setelah berteriak didepan wajahku, aku minta kau untuk datang di ruanganku selepas upacara. Kau akan menerima konsekuensi atas tindakan liarmu barusan, hoobaeku yang terhormat.”

Seketika kaki-kaki ramping Namji terhenti. Dia sedikit terkejut dengan ungkapan Sehun barusan. Dia kira Sehun akan benar-benar melaporkannya kepada kepala sekolah untuk mengeluarkannya dan semuanya akan selesai sampai disini. Nilai ujian akhir SMPnya tinggi dan dia berprestasi. Banyak sekolahan yang mau menerimanya dengan tangan terbuka. Tetapi, jika harus menghadap lelaki sialan itu lagi? Di ruangannya? Namji tidak bisa membayangkan senjata-senjata apa saja yang disiapkan Sehun di ruang jenderalnya. Anak panah? Laras panjang? Atau bahkan Sehun akan menanam granat dibawah lantai pintu masuk?

‘Apakah aku akan mati konyol di ruangannya?’ pikir Namji tanpa berbalik. Kali ini jantungnya berdegup lebih cepat begitu membayangkan hukuman macam apa yang akan dia peroleh tak lama lagi.

Namji tidak menggubris ucapan Sehun. Pikirannya terlalu penuh oleh perasaan marah, takut, dan menyesal. Gadis itu meneruskan langkahnya, berlari sejauh mungkin dari tempat bersejarah itu. Berharap tak seorangpun bisa menemukannya.

Dan.. hal kedua yang harus kau ketahui sebelum memasuki pintu gerbang sekolah barumu adalah : Jangan pernah sekalipun mengibaskan rambut didepan hidung kakak kelasmu.

To be continued…

Annyeonghaseyo Readers-nim! Selamat datang readers baru! Salam juga buat para readers lama yang teruuus setia ngikutin ff saya.  Mungkin ada beberapa hal yang harus Jihan sampaikan sebelum next ke episode 2.

‘ARMY’ disini maksudnya sama seperti OSIS kalo di sekolah-sekolah Indonesia. Dan seperti yang kita semua sudah tahu. Sehun berperan sebagai ketua osisnya alias ‘Jenderal’.

Mungkin inilah cast yang sudah atau bakal segera muncul untuk episode-episode depan :

Nah yang kedua, masalah titelnya ‘Mawar Merah, Air Terjun, dan Ksatria Berpedang Emas’ itu cuman sejarah yang saya bikin sendiri -_- ._. Sejujurnya kisah itu enggak ada. Cuman pacuan buat ff ini aja hehe😀

Namji sebagai mawar merahnya. Sehun sebagai waterfall. Dan Luhan sebagai knightnya🙂

Gimana? Makin penasaran sama kelanjutannya bukan?

KOMENTAR JUSEYO! ^0^

33 responses to “[Eps 1] “Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight”

  1. Pingback: [Eps 2] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight | FFindo·

  2. penasaran. aku kira main cast nya itu jelmaan reinkarnasi dr mawar, air terjun dn ksatria atau malah mrk hidup di dunia modern gitu. kira2 apa yg akn sehun lakukan? luhan lum muncul

  3. Seruuu bangeeeeet sumpaaaah. hahaha.
    Nam ji berani banget sama Se Hun, dan gue suka gaya lo Nam Ji *tepuk pundak Namji.
    Okeeeee….. lanjut ke chapter selanjutnya😀

  4. Pingback: [Eps.3] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight | FFindo·

  5. aahhh suka aku jihan sama fanficnya kamu, lanjut terus yah aahhh dan iya semula sih agak binggung aku dengan yang dahulu kala dahulu kala itu aahhh tapi nyatanya itu gak terlalu pentingkan buat fanfic kamu ini, okay segitu aja cuap-cuap aku dari reader baru jihan bye bye😀 hihihi ^^

  6. mungkin sangat terlbat untuk komen ini. tapi apa boleh buat
    aku baru baca ini ff ketika chaptermya ada di angka 3
    aku g mau banyak mengomentari ceritanya. cuman mau muji ajah.
    ini ff pas aku baca awalnya yg prolog itu aku kira ini bakal jd fantasi, tapi pas baca genre kok school life drama ada comedy juga lg. eh setelah baca saya mngerti
    tapi saya masi brtanya tanya apa kah ini ada hubungan nya dg fantasi?
    kalo ada pasti lebih seru.
    y udh dr pada saya ngoceh g jelas mulu di sini say langsung cus ke chap 2ya 😊

  7. walahhh.. suka banget, apalagi sama cerita mawarnya ituu
    cara penulisannya aku suka, school life nya aku juga suka, oh sehun apalagi.. suka bangett
    keep writing juseyooo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s