[Eps 2] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight

rose waterfall and gold sworded knight

Jihan Kusuma

Cast : Moon Namji|Oh Sehun|Luhan

Genre : Comedy-Romance|School-life|Drama

Length : Eps

Eps 1|Eps 2

Copyright 2014 ©JihanKusuma

Puteri Mawar sangat bimbang dengan syarat yang diajukan oleh penghuni air terjun. Dia membutuhkan air sungai untuk membasahi kerongkongannya yang kering kerontang. Tetapi persyaratan yang harus dia lakukan begitu menyulitkan dirinya.

Jika dia menikahi penghuni air terjun yang amat hina, akankah dia mampu mempertahankan kemuliaannya dihadapan seluruh penghuni hutan? Menggadaikan harga diri hanya untuk seteguk air sungai bukan hal yang lucu.

 

continued


Prev episode

‘Apakah aku akan mati konyol di ruangannya?’ pikir Namji tanpa berbalik. Kali ini jantungnya berdegup lebih cepat begitu membayangkan hukuman macam apa yang akan dia peroleh tak lama lagi.

Namji tidak menggubris ucapan Sehun. Pikirannya terlalu penuh oleh perasaan marah, takut, dan menyesal. Gadis itu meneruskan langkahnya, berlari sejauh mungkin dari tempat bersejarah itu. Berharap tak seorangpun bisa

menemukannya.


EPISODE 2

-THE FAIL REVENGE-


Bel kedua sudah terdengar, ini artinya upacara pembukaan ospek telah berakhir. Para peserta ospek yang kelelahan segera berlarian menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Bagaimana tidak kelaparan? Para Army baru saja menyuruh mereka melakukan sit-up, back-up, dan push-up hampir seribu kali. Mungkin sebentar lagi sekolahan dengan gedung bertingkat empat ini akan bertransformasi menjadi sebuah prison bagi para teroris.

Namji duduk sambil mengantupkan kakinya rapat-rapat. Kepalanya ditundukkan sedalam yang dia mampu, bermaksud menyembunyikan wajahnya. Meski begitu teman-teman seangkatannya tetap bisa mengenali penampilannya yang kelewat hancur. Beberapa diantara mereka menuding Namji sambil berbisik-bisik. Namji menyadarinya, namun dia terus bergeming, tidak peduli dengan kata orang lain.

‘Biarkan saja aku tidak memiliki teman, toh aku bisa berteman dengan diri sendiri.’ pikirnya angkuh.

Seorang lelaki muda menghendap-endap dari belakang tubuhnya. Lelaki itu menepuk pundak Namji dengan tangan gemetaran. Sontak gadis dengan kulit putih seputih susu itu langsung menoleh kebelakang. Rahangnya mengeras begitu menyadari siapa lelaki dibelakangnya.

“Ma-maafkan aku…” lirih Mark dengan nada parau.

Namun Namji memalingkan muka lalu melangkah menjauh. Mark segera memegangi lengan mungil gadis itu, minta didengarkan, juga dimaafkan.

“Yaa… dengarkan penjelasanku dulu.” ujar Mark menuntut.

“Lepaskan aku! Dasar pengkhianat!” Namji mengibaskan lengannya sampai lelaki itu mau melepaskannya.

“Aku benar-benar menyesalinya…” rayu Mark dengan wajah memelas. Namji menatap kedua mata Mark yang sayu dengan tatapan membunuh. Gadis itu seakan bisa menelan Mark seluruhnya hanya dalam sekali kunyah.

“Pintar sekali dirimu… kau baru merasa bersalah setelah semuanya terjadi. Tidak tahukah dirimu?! Kau sudah menyetorkan harga diriku?!” bentak Namji. Puluhan pasang mata disekitar mereka mulai memandangi keduanya dengan tatapan ‘what the hell’.

Mark yang sadar sedang dilihati langsung merasa tidak nyaman. “Ayolah kita mencari tempat sepi untuk membicarakan ini…” bisik Mark sembari meremat pergelangan tangan Namji.

“Aish… bocah ini…” gumam Namji risih. “Jika kau malu berbicara denganku, lebih baik jangan dekati aku dan anggap tidak ada yang terjadi diantara kita. Itu semua sudah terjadi. Kau mau berdalih, menangis, bersujud dikakiku pun, waktu tidak mungkin bisa berputar kembali.” papar Namji. Gadis itu kembali menghempaskan tangan kemudian hengkang dari hadapan Mark.

“Yaa… kenapa gadis ini begitu kepala batu?” pekik Mark kepada dirinya sendiri, hingga akhirnya kembali mengejar Namji.

“Um… tapi ngomong-ngomong, ucapanmu kepada jenderal itu benar juga. Dia memang begitu otoriter. Kau sangat pemberani. Tak kusangka ada juga perempuan sepertimu. Para laki-laki di barisan belakang juga membicarakan betapa kuatnya nyalimu. Jadi, bagaimana jika kita awali lagi pertemuan kita yang semula kurang menyenangkan itu. Perkenalkan aku Mark…” lelaki itu berucap panjang lebar sambil berusaha mengimbangi langkah panjang Namji.

Untuk sejenak, Namji terdiam melihat senyuman manis di bibir ‘teman’ atau bahkan ‘musuh’ barunya ini. Gadis itu ragu apakah dia bisa memaafkan Mark dan mengawali semuanya dari awal.

“Perkenalkan aku Namji. Lalu apakah yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahan besarmu itu, Mark-ssi?” tanya Namji sambil berusaha mengelus-elus anjing kecil penggigit dalam dirinya.

“Sepertinya jenderal begitu dendam kepadamu, aku tahu kau cukup pemberani untuk menghadapi orang sepertinya. Tapi kau harus ingat jika kau adalah seorang yeoja. Aku akan membantumu menghadapi jenderal albino itu. Jika kau mau, aku juga bisa memukulinya secara langsung! Kau mau dia kupukul di bagian mana? Hidungnya? Giginya? Matanya? Aku siap! Aku adalah pemegang sabuk hijau pada Taekwondo! Nah, jadi percayakan saja kepadaku… Dan-“

“..dan aku adalah pemegang sabuk hitam pada Taekwondo. Kurasa aku akan memiliki target baru untuk kutendang-tendang.” tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah lain.

Namji dan Mark langsung menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berpawakan seperti tiang sedang berdiri sambil memasukkan tangannya kedalam saku. Sepasang mata sipitnya seakan memancarkan laser pembunuh. Seketika Mark membeku. “Jen-jenderal…” panggilnya gagu.

“Rupanya kau mau ikut campur dalam masalah ini. Tapi tenang saja, aku bukan seseorang yang suka melibatkan orang tidak penting sepertimu untuk masuk kedalam medan perang. Jadi…” Sehun mendorong bahu Mark untuk menyingkir, lalu meraih lengan Namji dan menariknya mendekat. “…biarkan aku dan gadis tidak berpendidikan ini menyelesaikan masalah kami sendiri. Mengerti?” tanya Sehun.

Mark melirik Namji. Bola matanya bergetar ketakutan. Kini dia terlihat seperti seekor tikus yang bingung memilih antara sepotong keju atau seiris daging basi. “Aku mengerti. Maaf Sunbaenim…” Mark membungkuk sedalam yang dia mampu dihadapan Sehun. Lelaki itu berlari meninggalkan Namji.

‘Cih, dia bilang akan memukuli jenderal sialan ini…’ batin Namji tak terima.

Sehun menatap Namji. Entah mengapa sekujur tubuhnya terasa membeku begitu sinar dari pupil Sehun berhasil menembus dan menyengat pusat syarafnya. Namji kaku tidak bisa bergerak sementara cengekeraman Sehun semakin kuat saja.

“Sekarang kau ikut aku.”

“Sebenarnya aku tidak mau melakukan hal ini kepada salah satu hoobaeku. Namun, perlu kuingatkan lagi… kaulah yang terlebih dulu mencuri start perang dan memulai semuanya. Jadi jangan salahkan aku atas resiko yang kau dapatkan.” Sehun membuka-buka dokumen pribadi milik Namji yang dia temukan setelah membongkar-bongkar lemari di ruang serba guna.

“Kau lulus dengan nilai yang memuaskan. Prestasi akademikmu juga patut diacungi jempol. IQ diatas rata-rata. Namun aku belum mengerti mengapa tindakan tidak sopanmu tadi pagi begitu mencerminkan jika kau lulusan sekolah hutan?” Sehun membanting map keatas meja.

Namji meremat rok sekolahnya sambil menikmati detak jantungnya yang sudah selangkah lebih cepat dari jam dinding di ruangan sunyi ini. Dia belum mau menatap wajah Sehun, takut tubuhnya kembali membeku seperti tadi. Mungkin Sehun terlahir dengan separuh darah penyihir dalam tubuhnya. Tatapan lelaki itu bisa meremukkannya dari dalam hanya dengan hitungan detik.

“Jadi, aku sudah berbicara dengan anggota Army lainnya. Kami memutuskan untuk memperpanjang masa orientasimu di sekolah ini.”

“Apa?” untuk kali ini rahang bawah Namji jatuh.

‘Memperpanjang masa orientasi? Jangan gila!’

“Kau harus datang lebih pagi dariku, lalu membersihkan ruangan ini dan menata buku-bukuku. Dan setelah aku datang kau bertugas memesankanku minuman dari kantin lalu mengantarnya ke meja jenderal. Kurang lebih satu minggu, dan aku bisa menganggap semua koneksi diantara kita berakhir. Mudah bukan?”

Namji nyaris tidak menghirup oksigen begitu mendengar penjelasan Sehun yang panjang seperti gerbong kereta menuju akhirat. Dalam bahasa kasarnya, Namji akan menjadi pelayan tetap si jenderal tak berperasaan ini selama satu minggu. Hello! Apakah dunia akan kiamat sebentar lagi? Mengurus diri saja Namji kesulitan, apalagi harus melayani bayi jumbo seperti Sehun.

“Yah, jika kau tidak terima… maka hukumannya akan semakin berat. Aku bisa mencatatnya di buku pelanggaranmu dan kepala sekolah bisa memberimu skors selama satu bulan.” ucap Sehun enteng sambil menautkan jemari putihnya dengan santai.

Petir bagai berlomba-lomba menyengat kepala Namji. Mau tidak mau gadis itu harus melakukannya jika tidak mau mendapat skors dari kepala sekolah. ‘Kenapa tidak keluarkan aku dari sekolah ini saja?’

“Kau paham?” tanya Sehun dengan sedikit penekanan, untuk memastikan kebisuan gadis didepannya tidak disebabkan karena dia tidak mengerti. Namji terperanjat, mata mereka terpaksa bertemu, lagi. Dan untuk kali ini tubuhnya tidak lagi terasa beku, melainkan malah terbakar hangus seperti kayu bakar yang diguyur minyak tanah.

“Apakah kau paham apa yang baru saja kukatakan, Moon Namji?” ulang Sehun. Ini kali pertama Sehun memanggil namanya dan Namji sudah menebak-nebak; mungkin suatu saat nanti namanya akan tersebar hingga ke kelas-kelas lain bebarengan dengan gosip-gosip tidak mengenakkan.

“A-aku paham, Jen-jenderal.” dan ini juga kali pertama bagi Namji memanggil monster albino itu dengan gelar kebanggaannya.

“Baguslah, jadi anggap saja tidak pernah ada pertengkaran seperti tadi diantara kita. Kau harus bersyukur sudah kumaafkan, yah meski itu berat sekali karena sikapmu begitu kelewatan.”

‘Bangsat! Dimaafkan? Berat sekali? Setelah memutuskan untuk menjadikanku sebagai babunya selama seminggu belum juga membuatnya puas?’ geram Namji sembari meremat rok blue-cobaltnya. Kini gadis itu benar-benar ingin melemparkan kipas angin ke wajah datar Sehun.

Sehun bangkit dari duduknya lalu memasang jas armynya. “Ada pertemuan peserta ospek di aula menara timur. Kau tidak boleh terlambat lagi. Semoga hari-harimu menyenangkan.” lelaki itu melangkah keluar ruang jenderal tanpa menatap Namji sedetikpun, seakan-akan dia sedang berbicara pada dirinya sendiri.

“Oh ya, ikat rambutmu. Para army tidak segan-sengan menyiapkan gunting untuk memital rambut siapapun yang tergerai asal-asalan seperti itu.”

Dan untuk yang terakhir kali, sebelum Sehun benar-benar hengkang dari ruangan, lelaki itu melemparkan seikat karet rambut warna merah muda. Namji menangkapnya. Terdengar langkah sepatu yang semakin lama semakin menghilang dari pendengaran.

“Yaaaa! Micheosso! Micheosso!” Namji melompat-lompat sambil mengacak rambutnya yang semula sudah berantakan. Kini menampilannya benar-benar menyerupai seorang korban bencana kebakaran hutan. Lengkap dengan rambut tak tersisir dan seragam baunya.

“Micheosso! Micheosso!” jeritnya frustasi. ‘Monster es itu memang minta dikebiri rupanya. Apakah dia berniat menghancurkan reputasiku di sekolah ini? Dasar Kalsium Berjalan!’ =o=

Teman-teman seangkatannya sudah melihat sendiri bagaimana prosesi peperangannya melawan Sehun, tetapi di esok hari juga seterusnya, Namji akan mengekor dibelakang Sehun untuk melakukan ini dan itu sesuai perintah. Namji tidak mau terlihat kalah. Harga dirinya memang sudah terlanjur jatuh namun setidaknya belum musnah.

“Ah jinjja micheosso!” jeritnya sekali lagi.

The next day

Sesuai pada pertemuan di aula menara timur kemarin, para siswa peserta ospek diharuskan membawa ular sawah yang mereka tangkap sendiri. Mungkin untuk kali ini saja alam sedang berpihak pada Namji. Dia bukan tipe gadis yang akan menjerit jika melihat kecoa atau kadal dikolong tempat tidurnya. Bahkan gadis itu pernah dibawa ke ruang konseling semasa SMP karena membawa semacam spesies iguana mini ke sekolah.

Yap, Namji memang sangat pemberani hampir terhadap apapun. Dia juga pernah menggebuki perampok yang kabur dari toko perhiasan. Jadi jangan heran jika aksi ‘membentak kakak kelas di pertemuan pertama’ kemarin bisa dilakukannya tanpa keraguan sedikitpun.

Pagi ini, Namji tiba disekolah lebih awal seperti apa perintah si jenderal albino. Masih untung dia tidak bangun kesiangan lagi karena bermimpi buruk. Gadis itu sudah menyetrika lagi seragamnya, untuk kali ini sepatu dan kaos kakinya terpasang dengan manis, dan rambutnya yang hitam panjang terikat kebelakang.

Setibanya di sekolah Namji langsung meraih vacum-cleaner lalu menyalakan pemanas ruangan di ruangan Sehun. Untuk sesaat Namji membayangkan betapa menyenangkannya menjadi jenderal di sekolahan ini; bisa memiliki ruangan sendiri –juga memarahi siapapun sesuka hati.

Pasti akan tampak sangat keren…

Tunggu!

KEREN?

Namji langsung menggetok kepalanya yang berfikir kejauhan. Sosok angkuh Sehun tergambar disalah satu sudut angannya. Benar, lelaki itu tampan, tinggi, dan pintar pastinya. Namun untuk memasuki kriteria keren mungkin belum sepenuhnya cocok. Lelaki itu sama sekali tidak ramah atau murah senyum. Sehun hanya memiliki dua ekspresi yang selamanya akan seperti itu. Pertama, ekspresi marah yang kemarin Namji lihat. Dan yang satu lagi adalah wajah datar yang begitu menyerupai gletser.

Tak lama kemudian sosok yang sedang dia tunggu-tunggu itu tiba juga.

Namun ada yang salah dengan raut wajah Sehun. Lelaki itu melangkah melintasi lorong sambil melambai dan tersenyum kepada anggota army lain yang sudah datang. Sepasang mata sipit Sehun tenggelam diantara lipatan matanya begitu senyumnya mengudara, dan pada saat itulah Namji menyadari betapa sipitnya jenderal itu.

Namji mendecih dalam hati. ‘Jangan bilang jika dia hanya bersikap dingin hanya ketika sedang bersamaku? Sebenci itukah dia padaku?’

Sehun memasuki ruangan dan Namji pura-pura tidak melihatnya. Gadis itu sibuk menata buku-buku yang berserakan diatas meja. Sehun menyingsingkan lengan jasnya kemudian duduk diatas singgasana jenderal. Namji masih menunduk sambil mengurutkan buku yang besar hingga ke yang terkecil.

“Tidak buruk.” Sehun berucap singkat usai mengamati ruangannya yang bagai baru saja disulap hingga jadi sebersih ini.

‘Tidak buruk jidatnya? Aku menata ruangannya sudah hampir satu jam!’ jawab Namji dalam benaknya. Untuk sejenak Namji berharap setengah darah penyihir Sehun tidak membuatnya memiliki kemampuan membaca suara hati orang lain.

“Semuanya sudah rapi. Pesankan aku minuman.” perintah Sehun sambil membuka buku catatannya yang tersimpan didalam laci.

Namji mengeraskan rahang, menahan umpatan-umpatan yang ingin dikeluarkannya. Hatinya terus mengulang-ulang kata-kata kotor lengkap dari A hingga Z yang dia ketahui. Meski begitu gadis itu tidak berani memperdengarkan ucapan terlarang itu didepan si monster. Hukumannya bisa bertambah berat.

“Minuman apa yang kau mau?” tanya Namji dingin.

“Pesankan aku susu hangat. Jangan lama, karena ada pertemuan rapat army sebentar lagi.” jawab Sehun enteng. Namji melangkah cepat keluar dari ruangan, tidak mau mendengar perintah kedua dan ketiga yang mungkin akan Sehun lontarkan.

Tak lama kemudian gadis itu kembali dengan senampan cangkir warna merah dengan susu hangat didalamnya. “Ini pesananmu. Ada lagi?”

“Itu ularmu?” tanya Sehun sambil menunjuk ular hijau dengan garis-garis warna hitam yang tersimpan di stoples kaca. Namji mengangguk. “Aku sering menemukan yang seperti itu dibawah tempat tidurku.”

Sehun hampir tersedak dan memuncratkan susu dari dalam mulutnya. ‘Apakah gadis ini tinggal di rawa?’

“Maaf, aku bercanda. Apakah aku boleh bebas?” Namji memasukkan kedua tangannya kedalam jas almamaternya. Sehun bersusah payah menelan susu yang kini terasa seperti air lumpur.

“Bawakan buku-buku itu ke ruangan rapat.” Sehun menaruh cangkirnya yang setengah kosong lalu merapihkan jas dan dasinya. Mau tidak mau Namji mengambil benda-benda berat itu lalu membawa ke pelukannya. Sehun keluar dari ruangan terlebih dahulu, dan seperti apa yang sudah Namji khayalkan kemarin, dirinya berjalan mengekor dibelakang Sehun –tampak sepert budak.

This is so damn pathetic…

Beberapa teman seangkatan Namji melirik dan menatapnya dengan raut mengejek. Tetapi sebagian yang lain malah merasa jika Namji begitu beruntung bisa dekat dengan si jenderal tampan idaman seluruh jagat raya ini.

‘Beruntung? Yang benar saja!’ =o=

Tiba-tiba Namji ingin sekali mendendangkan lagu Gloomy Sunday dan menaburkan kelopak bunga mawar untuk kematian harga dirinya.

“Sehuna!” panggil seorang lelaki tinggi sambil ber-high-five dengan Sehun. ‘Dia yang kemarin menyebutku kelinci.’ gumam Namji sambil berusaha mengingat-ingat nama Chanyeol. Disebelahnya berdiri seorang lelaki mungil berpawakan seperti jailangkung. Matanya terlalu sipit jika dibandingkan dengan mulutnya yang seakan bisa menelan helikopter. Disaku lelaki jailangkung itu terjahit nama ‘Byun Baekhyun’.

‘Kenapa para army disini hampir tidak ada yang normal?’

“Hey Hyung! Ayo kita bergegas, rapat lima menit lagi.” Sehun tersenyum kearah mereka. Namun kemudian Chanyeol melirik Namji. Tatapannya seolah menggelinding rata dari kaki hingga ke kepala Namji. Seperti alat scanner yang bisa mendeteksi bau badan seseorang. Namji sedikit merasa risih ditatap dengan cara seperti itu.

“Ah kelinci kecil ini. Bagaimana caramu menjinakkannya Sehuna? Kelinci yang satu ini sepertinya karnivora.” celetuk Chanyeol sambil melepas setusuk permen lollipop dari mulutnya.

‘Bodoh! Ternyata otak lelaki ini juga kelebihan porsi.’ pikir Namji. Tiba-tiba saja beban dalam pelukannya terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Aku hanya memberikannya hukuman yang setimpal Hyung.” jawab Sehun dengan cengiran.

“Moon-Nam-Ji. Kurasa aku akan terus mengingat nama itu! Haha! Kau memang hebat kelinci!” Chanyeol menepuk pipi Namji dengam gemas –mungkin itu lebih cocok disebut sebagai tamparan.

“Ayo kita bergegas.” ajak Baekhyun.

“Aaaaaagh!” desah Namji sambil memukul-mukul pipinya sendiri. Kini dia sedang duduk merenung dibawah pohon. Sesekali memijati kakinya yang pegal-pegal. Sepatu yang dia beli beberapa hari yang lalu terasa sudah aus karena terlalu sering dipakai mondar-mandir.

Namji menatap lurus ke langit yang biru muda. Terlihat polos dan begitu tulus dengan pancaran cahaya matahari yang tersaring oleh awan putih.

‘Apakah aku masih waras?’ tanyanya pada diri sendiri. Bahkan kini ia mempertanyakan kewarasannya. Sudah jelas-jelas Namji melakukan ini dan itu seperti apa yang diperintahkan Sehun. Mungkin sebentar lagi langit akan runtuh dan dunia berjungkir balik.

Semasa SMP, Namji sering menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya karena tampak begitu berbeda. Dari cover jelas sekali jenis kelaminnya. Rambutnya panjang dan sering dia gerai, banyak aksesoris berwarna pastel yang suka dia kenakan, Namji juga selalu berganti pakaian di ruang ganti puteri. Tetapi dibalik kebenaran umum itu sesungguhnya Namji adalah seseorang yang menyerupai lelaki. Dia sering beradu panco dengan teman sekelas demi seporsi makanan, bermain sepak bola dengan tim yang seluruhnya laki-laki, bahkan Namji pernah menerima tantangan untuk berlomba lari dengan kereta api.

Namji dan dan laki-laki

Kedua kata itu seperti sama beratnya jika diukur dengan sebuah neraca. Namji tidak pernah suka ditindas oleh laki-laki, apalagi dipermainkan. Namun sekarang? Kenyatannya sungguh jauh dari ribuan pengalamannya dengan mahluk bernama namja itu. Namji sedang dalam kendali seorang lelaki, seperti seekor pudel yang dikalungi rope oleh tuannya.

Sekarang adalah jam istirahat bagi para siswa perempuan. Para lelaki asik dengan outboand. Mereka berkumpul di lapangan utama; memainkan game memuakkan yang sesungguhnya cocok sekali untuk anak usia 12 tahun. Namji menghembuskan nafas sambil menggembungkan pipi. Dilihatnya jajaran sepatu para lelaki yang tertata rapi di lemari sepatu. Tentu saja mereka tidak mengenakan sepatu, outboand kali ini adalah bermain air.

Sejenak Namji melirik sekumpulan army yang berkumpul menjadi satu tim, disebelahnya tampak sebuah tim lain dari siswa orientasi. Ada Mark disana. Bocah tengil itu sedang tertawa-tawa sambil mencipratkan air kearah wajah temannya.

‘Ish, pengkhianat itu…’ Namji ingin sekali meludah diwajah anak itu. Dia masih belum sepenuhnya memaafkan kesalahan Mark yang amat sangat merugikannya. Simbiosis diantara mereka memang masih dipertanyakan.

Tiba-tiba sebuah neon keemasan bersinar dibalik kepala Namji. Gadis itu mengambil stoples berisi ular hijau yang tergeletak disampingnya. Ular itu mendesis menjulurkan lidahnya yang tipis seperti pita. Namji tersenyum kearah ular itu, seakan-akan sedang mengirimkan telepati kepadanya.

Namji mendekati lemari sepatu tadi. Gadis itu mencari-cari sebuah sepatu. ‘Ketemu kau’ pekiknya dalam hati begitu melihat sepasang sepatu yang familiar, sepatu milik Mark.

Dengan hati-hati, gadis itu mengeluarkan ular miliknya. “Nah ular yang pintar. Kau punya gigi kan? Pilih salah satu jari yang paling gemuk, arra? Pasti kau akan langsung kenyang!” bisik Namji lalu mengecup kepala ular itu. Dimasukkannya hewan tak berkaki itu kedalam sepatu Mark.

Namji kembali menutup stoplesnya lalu bersembunyi menunggu hasil rencana balas dendamnya.

Peluit terdengar nyaring pertanda outboand selesai. Para lelaki yang sudah lengkap dengan celana mereka yang basah berhamburan ke lemari sepatu untuk mengambil sepatu.

‘Nah sedikit lagi’ Namji mulai menghitung dalam hati detik-detik pembalasan dendamnya terbalas. Satu gigit saja sudah setara dengan hukuman yang dia terima. Bukan berarti harga diri Namji bisa disamakan dengan sepasang gigi ular itu. Akan tetapi, rasa sakit yang akan Mark rasakanlah yang setara dengan kejengkelan Namji kepada bocah itu.

‘Eh tunggu dulu…’

Usai berjinjit untuk mengambil sepatunya yang ada di rak bagian atas, Mark mulai memakai benda itu satu persatu. Tetapi bukan hal yang Namji inginkan yang terjadi. Setelah sepatunya terikat dengan benar, Mark langsung berlari sambil tertawa-tawa menghampiri teman laki-lakinya.

Jantung Namji langsung berdegup tidak karu-karuan. ‘Kemana larinya ular itu? Bukankah tadi ularnya kutaruh disitu?’

Lamunan Namji terpotong oleh suara teriakan seorang laki-laki. “ULAR!” seru seorang lelaki diikuti teriakan para lelaki yang lainnya.

Sehun terduduk diantara teman-teman armynya dengan jempol kaki yang berdarah. Lelaki itu meringis menahan rasa sakit. Sehun mencabut seekor ular yang masih betah menggigit ujung jari kakinya. Diamatinya ular yang tidak terlalu panjang itu. Ular itu, Sehun merasa kenal.

‘Moon Namji’ sebuah Nama berkelebat di dalam ruang ingatannya.

‘Aish, matilah aku!’ hati Namji menjerit-jerit frustasi.


 

To be continued…


 

 

Wkwkwkwk~

Han kira Episode kali ini udah cukup dan bisa memancing rasa penasaran kalian untuk episode selanjutnya. Well, gimana dengan ff diatas? Adakah sentilan komedi yang bisa bikin kalian ngikik?😀 Seneng deh baca komentar di episode awal yang bilang komedinya bisa bikin ketawa. Tersentuh deh jadinya. Hehehe…

Buat bonus… ini ada cuplikan episode depan. Nikmati! ^0^


 

“Aku tahu kau membenciku.” –Sehun

“Aku menyesal.” –Namji

“Kau tidak mau aku mati lalu menghantuimu kan?” –Sehun

“Gadis itu berusaha mendekati Jenderal.”

“Bukannya dia sedang dihukum?”

“Kurasa dia sangat menikmati hukumannya.”

“Mereka berfikiran yang tidak-tidak.” –Namji

“Kemarikan ponselmu.” –Sehun

“Aish, dasar…” –Namji

“Aku sedang menukar pin kita. Aku harus memantaumu setiap waktu. Aku akan menghibungimu jika aku perlu sesuatu. Ingat, kau masih dalam masa orientasi yang panjang.” –Sehun


Baiklah… at least!

Aku kemarin rada nyelekit, ada salah satu reader yang bilang kalo ff ini kaya novel SUPERNOVA punya D.L

Jujur, dari judul aku terinspirasi sama novel supernova yang kesatu : “Puteri, Ksatria, dan Bintang Jatuh”

Aku juga uda minjem novel punya temen cowokku itu. Ceritanya kalo ga salah ada sepasang gay yang punya rencana buat bikin novel dg judul di atas. Dalam novel itu ada kisah tentang seorang wanita yang udah bersuami tapi selingkuh sama seorang cowok sukses.

Disini aku ngerasa sakit hati.

Bukankah plot yang aku tulisnya JAUUUUH BERBEDA dari cerita itu. Latarnya aja udah berbeda.

Aku cuma baca buku pertamanya karena kurasa novel itu terlalu berat buat bocah 15 tahun seperti usiaku sekarang. Apalagi ada beberapa scene dewasa yang dituliskan lumayan gamblang. Oleh karena itu aku stop baca sampai disitu.

Jadi,

aku sama sekali ga mencontek plot punya siapa-siapa. Ini pure air peresan dari otak Han. Tolong bisa hargai.

Maaf aku jadi kebawa emosi. Mianhamnida…


 

Han sangat mengharapkan komentar bermutu dan membangun yang bisa berguna buat kelangsungan ff ini! ^0^

Selamat berkomentar! :*

17 responses to “[Eps 2] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight

  1. Keren thor🙂 . serius aku kasian sama Namji.. Apes bener gitu..
    Si Mark nya juga.. Ngeselin jadinya haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s