Move On

 

 

mOGqUtAtuZmWFGOaTieH_P75LnrslWKOYB_DyWjyEJlymfP62w46dhmUn25pVr6qDINdSc4k_UUsJMAiOjy5agcfZuDs5mV1pruHpZLX=w558-h264-nc

 

 

Title                 :           Move On
Author            :           Nurreka (@insp_nurreka)
Main Cast       :           – Park Jihyun (OC/YOU)
Genre               :           Friendship
Rated               :           PG – 15

 

p.s : Dibagian akhir ff ini ada ‘sayembara’, hehe. Silahkan dibaca, ya.. Jika berminat, kalian bisa mengikutinya.

 

 

~ Sorry for typo(s) and happy reading !!! ~

 

 

Aku hanya termenung melihat teman-temanku yang tengah asyik berbicara. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang berteriak heboh, sedangkan yang lainnya tertawa terbahak-bahak melihatnya. Inilah kami. 9 orang siswa dan siswi menengah atas yang kalian bisa menyebutnya sebagai sahabat. Kami tidak berada di tingkatan yang sama. 2 diantara kami – Krystal dan Sehun – berada satu tingkat lebih rendah daripada kami, tepatnya adik kelas kami. Sisanya, 7 orang lainnya – termasuk aku – sedang berada di tahun kedua sekolah menengah atas. Namun kami berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Yonghwa, Yuri, Bomi, Naeun, Namjoo dan Jongdae berasal dari Jurusan Natural Science Programme. Aku dan Krystal berasal dari jurusan Language Programme. Dan yang terakhir – Sehun – ia berasal dari jurusan Art Programme. Dilihat dari segi jurusan yang kami tempuh, kami memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Karena perbedaan kami itulah, kami bisa saling melengkapi satu sama lain. Kami bersekolah di Gayo High School, sebuah sekolah menengah atas yang menyediakan fasilitas asrama dengan jumlah 10 lantai untuk kamar utama, 1 lantai yang berfungsi untuk tempat makan dan dapur umum, dan 2 lantai yang menjadi tempat untuk membersihkan diri – kamar mandi lebih tepatnya –.

Dan entah mengapa kami mendapat kamar di lantai yang sama, lantai 5, yang dilengkapi dengan dua orang Hoobae yang benar-benar menyebalkan. Setiap kamar dihuni oleh 3 orang. Untungnya, aku tidak sekamar dengan salah satu dari mereka – Krystal – melainkan dengan Naeun dan Namjoo. Tapi sialnya, kami justru mendapatkan kamar yang terletak paling ujung, kamar paling sempit. Setiap lantai memiliki satu orang penanggung jawab dan satu orang wakil penanggung jawab – yeah, semacam ketua kelas dan wakilnya . Dan penanggung jawab serta wakilnya adalah Yonghwa dan Yuri.

Saat ini, kami sedang berada di kamar Yonghwa, Jongdae dan Sehun. Kali ini mereka sedang menertawakan Bomi yang mengejek Krystal. Mau tidak mau aku juga ikut tertawa – meskipun mungkin tidak akan terdengar karena suara mereka yang benar-benar menggelegar – karena tingkah Bomi benar-benar lucu. Aku hanya menoleh sekilas saat Sehun beralih duduk ke sampingku.

“Sehun – ah, mianhae.” Ucapku pelan. Aku kembali teringat dengan kejadian yang terjadi 10 menit lalu, saat aku ingin merebahkan tubuhku diatas ranjang milik Sehun. Saat itu, Sehun menyuruhku agar memindahkan kopernya agar aku bisa segera membaringkan tubuhku diatas ranjang mereka. Aku memang ingin memindahkannya, namun aku tidak tahu jika ternyata kopernya tidak tertutup hingga akhirnya semua baju-bajunya berhamburan ke lantai kamar karena ulahku. Dengan sigap, Sehun segera merapikan pakaiannya yang berhamburan. Aku ingin membantunya, namun Sehun melarangku dan tersenyum kepadaku, meyakinkan diriku bahwa ia tidak marah. Sampai saat ini. Aku masih merasa bersalah padanya

Gwaenchana, Nuna.

Aku hanya tersenyum kecut mendengar jawabannya. Entahlah, tapi aku masih merasa bersalah.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Nuna?”

Ne?” tanyaku bingung. Aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang baru saja Sehun katakan karena suasana di kamar ini benar-benar ribut. Sehun mengubah posisi duduknya. Ia kini menghadapku dan mengulang ucapannya dengan lebih lambat.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Nuna?”

Untuk sesaat, aku kembali termenung. Aku kembali teringat dengan hal yang membuatku menjadi pendiam selama seharian ini.

Move on bukanlah hal yang sulit, Nuna.”

“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Sehun – ah? Tapi mengapa aku begitu sulit untuk melakukannya?!”

“Salah satu cara agar aku bisa move on tanpa kesulitan apapun adalah dengan cara mengingat perlakuannya.”

“Perlakuannya?!”

Ne, untuk apa aku memikirkan orang yang jahat padaku?! Bukankah masih ada banyak orang yang bersikap baik padaku?!”

Percakapanku dengan Sehun satu minggu yang lalu membuatku benar-benar berpikir. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkannya. Karena menurutku apa yang saat ini tengah kulakukan – menunggu – sudah benar. Namun, aku selalu teringat dengan percakapan kami. Hingga puncaknya, aku menjadi pendiam seharian ini. Dan sepertinya, diantara 8 orang sahabatku, hanya Sehun yang menyadarinya.

“Sehun – ah, apa menurutmu aku harus move on?”

Aku bertanya dengan suara yang pelan, namun Sehun masih bisa mendengarnya. Ia kembali tersenyum menatapku.

“Itu terserah padamu, Nuna. Pikirkanlah baik-baik. Apa selama ini Kibum Sunbae memiliki perasaan yang sama denganmu? Apakah Nuna tidak tersiksa karena terus-menerus menunggunya?!”

Aku menghembuskan nafasku pelan. Bahuku rasanya merosot mendengar pertanyaan Sehun. Diam-diam, aku tersenyum miris.

“Dia menyayangiku, Sehun – ah. Ia bahkan menganggapku sebagai adik kandungnya. Meski ia hanya menyayangiku sebagai adiknya, aku merasa sangat bahagia. Setidaknya, aku jauh lebih beruntung daripada orang-orang yang menyatakan perasaanya pada Kibum Oppa dan berakhir dengan Oppa yang perlahan menjauhi mereka.”

Nuna, apa kau tidak tersiksa dengan perasaanmu? Apakah Nuna tidak tersiksa karena harus berjauhan dengannya tanpa ada kabar sedikit pun?!”

Aku kembali menghembuskan nafasku, kali ini lebih pelan dari sebelumnya. Aku sedang berusaha untuk tidak menangis karena rasa rindu yang kurasakan. Sehun benar. Aku sangat tersiksa dengan perasaanku. Aku sangat tersiksa karena harus berbohong pada Kibum Oppa tentang perasaanku. Aku tidak mau jika Kibum Oppa mengetahui perasaanku yang sebenarnya, ia akan menjauhiku, sama seperti nasib gadis-gadis malang yang menyatakan perasaannya pada Kibum Oppa.

“Aku . . . tersiksa, Sehun – ah.”

Sehun menatapku dalam. Ia kini menepuk pundakku pelan.

“Pikirkan hal ini baik-baik, Nuna. Aku tidak berhak memaksamu untuk move on. Semua keputusan yang Nuna pilih pada akhirnya akan berdampak pada diri Nuna sendiri.”

“Lalu aku harus bagaimana, Sehun – ah?”

Suara ku semakin pelan, aku bahkan merasa suaraku bergetar karena aku berusaha untuk tidak menangis.

“Aku menyarankan Nuna agar move on. Namun, seperti yang sudah ku katakan, segala keputusan ada pada dirimu, Nuna. Pikirkanlah hal ini baik-baik.”

Aku tersenyum tipis mendengarnya. Terkadang, Sehun bisa berubah menjadi sangat dewasa, seperti saat ini.

“Tapi, Nuna..”

Ne?” tanyaku tak sabar. Sehun mendelik, ia menatapku melalui ekor matanya, bibirnya membentuk seringaian, lalu mengatakan,

“Kibum Sunbae hanya menyayangimu sebagai adik kandungnya, bukan?!” tanyannya memastikan. Aku hanya mengangguk. Entahlah, aku merasa sebentar lagi sifat asli dari seorang Oh Sehun akan segera keluar. Sehun memamerkan seringaiannya yang semakin lebar, lalu ia berbisik,

“Itu berarti kalian tidak akan pernah bisa menikah.”

Mataku membelalak seketika. Refleks, tanganku dengan segera mengambil bantal yang ada di dekatku dan melemparnya kepada Sehun. Anak itu benar-benar! Ia bahkan langsung menghancurkan rasa simpatiku padanya karena kejahilannya. Sehun hanya tertawa terbahak-bahak melihatku yang sangat kesal padanya.

Ya! Apa yang kau katakan?!”

Sehun masih tertawa, sambil memegangi perutnya, ia mengatakan,

“Bukankah saudara kandung tidak bisa menikah?! Aku benar, kan?!”

Ne, itu benar.”

Aku menatap Yonghwa yang kini juga menyeringai menatapku. Kali ini, aku benar-benar menyesali karena memiliki sahabat seperti mereka.

YA! Jung Yonghwa! Mengapa kau tidak membelaku?”

“Untuk apa aku membelamu?! Bukankah apa yang Sehun katakan memang benar?!”

Aku hanya dapat mendengus kesal melihat teman-temanku yang lain ikut tertawa terbahak-bahak karena melihatku yang benar-benar kesal dengan sikap Yonghwa dan Sehun yang saat ini tengah memojokkanku. Aku akhirnya memilih untuk melemparkan bantal ke kepala Yonghwa, sekedar menyuruh lelaki itu untuk menghentikan tawanya. Namun gagal, ia bahkan dapat menangkap bantal itu tepat sebelum mendarat di kepalanya. Aku kembali mendengus kesal sambil menuruni ranjang Sehun dengan kaki menghentak-hentak. Sebelum aku benar-benar keluar dari kamar mereka, aku melotot menatap Sehun yang semakin tertawa terbahak-bahak.

 

***

 

Aku mendengus kesal saat mendengar pintu kamar asrama kami diketuk dengan cepat.

“Tunggu sebentar.” Naeun berteriak, menyuruh agar siapapun yang sedang mengetuk pintu kamar kami untuk sedikit bersabar. Namun sepertinya orang yang tengah mengetuk pintu kamar kami tidak memedulikan suara Naeun yang benar-benar melengking nyaring. Membuat gadis itu mengikuti tingkahku, mendengus kesal.

“Ada apa?” tanya Naeun ketus

“Kalian tidak makan malam?!”

Itu suara Jongdae.

Aku akhirnya mengangguk pelan. Seharusnya aku sudah tahu siapa yang mengetuk pintu dengan tempo cepat dan tak sabaran seperti tadi, siapa lagi jika bukan trio Yonghwa, Sehun, dan Jongdae.

“Kau tidak melihat jika kami masih sibuk membersihkan kamar?! Kami bahkan belum mengganti baju kami.” Jawab Naeun cepat. Aku lalu berdiri, membiarkan buku-bukuku yang masih berhamburan diatas ranjangku, menyusul Naeun yang berkacak pinggang, menatap garang kearah Yonghwa, Sehun, dan Jongdae.

“Kalian duluan saja. Kami masih sibuk.” Jawabku sekenannya, sebenarnya aku sangat malas untuk menemui mereka karena aku masih kesal dengan mereka. Namun, mau tidak mau aku harus menemui mereka karena saat ini mereka tengah menghadapi Naeun yang sepertinya sebentar lagi akan meledak.

Tiba-tiba saja, Sehun menyentuh pundakku dan mendorongku. Ia lalu menatapku dan Naeun bergantian dengan wajah polosnya.

“Apa yang Nuna lakukan disini?! Aku ingin mengganti bajuku. Seharusnya Nuna menungguku di luar.”

Belum habis rasa keterkejutanku, tiba-tiba Jongdae menerobos masuk ke kamar kami.

“Apa yang kalian tunggu?! Seharusnya kalian segera keluar. Aku juga ingin mengganti bajuku disini. YA! Kenapa kau masih disini Oh Sehun?! Kau seharusnya juga keluar.”

“KELUAR SEKARANG JUGA DARI KAMAR KAMI!!”

Seketika, Sehun, Jongdae, dan Yonghwa berlari terbirit-birit begitu melihat Namjoo yang benar-benar kesal dengan tingkah mereka. Yeah, aku dan Naeun benar-benar bersyukur karena sekamar dengan Namjoo. Karena Sehun, Yonghwa, dan Jongdae benar-benar takut saat Namjoo sedang marah

 

***

 

Aku makan dengan tenang, menikmati makananku yang saat ini tengah ku santap. Dihadapanku, Yonghwa juga melakukan hal yang sama. Sedangkan yang lainnya sibuk bercerita. Melalui ekor mataku, aku melihat Sehun yang saat ini berdiri dari duduknya.

“Kau mau kemana Sehun – ah?” tanyaku. Beberapa teman-teman kami menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terputus karena mendengar suaraku.

“Aku ingin mengambil air minum.”

“Bisakah kau mengambilkannya untukku?”

Sehun mengangguk. Ia lalu beranjak menuju meja pantry. Aku tersenyum saat Sehun meletakkan segelas air putih dihadapanku.

Gomawo, Sehun – ah.”

Sehun hanya mengangkat bahunya, merasa bahwa hal yang dilakukannya adalah hal yang biasa. Aku kembali menatap Yonghwa yang masih tenang menyantap makanannya. Aku merasa saat ini ia sedang memiliki masalah.

“Kau kenapa, Yonghwa – ya?” tanyaku pelan. Yonghwa mengangkat kepalanya, ia hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.

“Kau bisa bercerita padaku jika kau mau.” Aku terus memaksanya. Aku tahu dengan pasti jika lelaki dihadapanku ini sedang memiliki masalah. Yonghwa akhirnya menghela nafasnya. Ia membersihkan mulutnya dengan tisu tipis yang diambilnya dari meja pantry lalu kembali menatapku.

“Aku . . . merindukan Seohyun.” Ucapnya pelan. Aku membalik posisi sendok dan garpu yang kupakai, menandakan bahwa aku telah selesai makan malam dan meminum air putih yang tadi dibawakan oleh Sehun. Aku melirik teman-teman disekitarku. Yuri, Bomi, Namjoo, Naeun, dan Krystal sedang asyik berbicara sambil sesekali menyuapi makanan ke dalam mulut mereka masing-masing. Sedangkan Jongdae dan Sehun menyantap makanan mereka dengan tenang. Aku mengangguk pelan, sepertinya situasi saat ini sedang aman jika melihat teman-temanku yang tidak memperhatikan tingkahku dan Yonghwa. Akan sangat berbahaya jika Bomi ataupun Sehun mendengar ucapan Yonghwa barusan. Mereka pasti akan mengejek Yonghwa habis-habisan.

“Kau bisa mengiriminya pesan, bukan?”

“Seohyun tidak membalas pesanku.” Suaranya terdengar frustasi. Aku hanya menghela nafasku. Yonghwa benar-benar merindukan kekasihnya.

“Mungkin saat ini Seohyun sedang sibuk.” Hanya itu yang ada dipikiranku saat ini. Aku benar-benar bingung harus memberikan respon seperti apa sehingga hanya kalimat itulah yang mampu ku ucapkan. Selama beberapa detik, kami terdiam. Tidak ada lagi yang bersuara diantara kami berdua. Kami kini hanya memperhatikan Bomi yang kembali berulah. Membuat Krystal, Yuri, Naeun, dan Namjoo untuk sejenak melupakan makanan mereka karena tak sanggup menahan tawa. Sedangkan Sehun dan Jongdae, hanya menghela nafas. Hal seperti ini sudah sering mereka lihat. Aku lalu bangkit dari dudukku, membuat perhatian teman-temanku kini beralih menatapku.

“Kau sudah selesai, Jihyun – ah?” tanya Bomi. Aku mengangguk, lalu menatap Yonghwa dan Jongdae bergantian.

“Yonghwa – ya, Jongdae – ya, aku duluan. Jika kalian sudah ada di kamar kalian, segera beritahu aku. Aku ada di kamarku.”

Yonghwa dan Jongdae mengangguk pelan. Aku lalu beranjak menuju ke lantai 5, ke kamarku.

 

***

 

Tidak ada yang bersuara diantara aku dan Sehun. Saat ini, aku sedang berada di kamar Sehun, Yonghwa, dan Jongdae. Namun, bukannya Yonghwa dan Jongdae yang kutemui, melainkan Sehun yang tengah memainkan telepon genggamnya. Aku tidak tahu kemana perginya Yonghwa dan Jongdae. Padahal malam ini adalah jadwal rutin belajar bersama yang kami agendakan setiap 3 hari sekali. Kami – aku, Naeun, Namjoo, Yuri, Bomi, Krystal, Yonghwa, Jongdae, dan Sehun – memang membuat semacam peraturan yang mewajibkan kami untuk belajar bersama dengan anggota kelompok masing-masing. Aku, Yonghwa, dan Jongdae berada di kelompok yang sama. Naeun satu kelompok dengan Yuri dan Bomi. Sisanya, Sehun, Krystal dan Namjoo. Ada banyak manfaat yang kurasakan ketika aku belajar bersama dengan Yonghwa dan Jongdae. Dibandingkan teman-teman yang satu jurasan denganku, pengetahuanku tentang ilmu-ilmu alam jauh lebih banyak dibandingkan mereka.

Aku mengeluarkan ponselku dari kantong bajuku saat kurasakan ponselku bergetar pelan.

From : Yonghwa
Malam ini sebaiknya agenda belajar bersama kita liburkan. Maafkan aku karena baru memberitahu kalian hal ini. Ada banyak keperluan yang harus kubeli. Jangan mencari Jongdae, Naeun, Namjoo, Yuri, Bomi, dan Krystal karena mendadak mereka juga ikut bersamaku untuk membeli keperluan mereka. Maafkan kami karena kami lupa memberitahu kalian. Jika kalian ingin memesan sesuatu, katakan saja, kami akan membelikannya untuk kalian sebagai permintaan maaf dari kami.

Aku mendengus kesal begitu membaca pesan yang dikirimkan Yonghwa. Pantas saja suasana lantai 5 tidak seramai biasanya. Rupanya mereka saat ini sedang keluar dari kawasan asrama.

Ponselku kembali bergetar. Kali ini pesan dari Krystal.

From : Krystal
Nikmatilah waktumu bersama dengan Sehun
, Eonni. Hahaha.

Mataku terbelalak saat membaca pesan yang dikirim Krystal. Apa itu artinya mereka sengaja meninggalkanku bersama dengan Sehun di kamar asramanya?! Lihat saja, aku akan membalas perlakuan mereka nanti.

Belum habis rasa terkejutku, Yonghwa kembali mengirimiku pesan.

From : Yonghwa
Maafkan aku karena harus meninggalkan kalian berdua. Aku tidak bermaksud melakukan hal itu. Mereka bahkan menyita ponselku agar aku tidak mengatakan hal ini pada kalian, mereka sengaja melakukan hal ini. Maafkan aku.

Dugaanku memang benar. Mereka memang sengaja meninggalkanku dengan Sehun berdua saja. Aku lalu mengangkat kepalaku, menatap Sehun yang kini terdiam menatapi layar ponselnya. Sedetik kemudian, ia mengangkat kepalanya, menatapku yang juga menatapnya. Ia bahkan menghembuskan nafasnya dengan kasar.

“Aku tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan karena mereka sengaja meninggalkan kita berdua. Yeah, anggap saja Yonghwa Hyung tidak mengetahui rencana ini.”

Ia lalu duduk diatas ranjang miliknya, aku akhirnya meletakkan buku-buku yang kubawa di atas ranjang milik Yonghwa. Percuma saja aku membawa buku-buku jika akhirnya aku tidak jadi belajar. Aku memilih untuk merebahkan tubuhku di ranjang milik Yonghwa, membiarkan mataku terpejam beberapa saat. Setelah melakukan hal itu, aku segera bangkit dan mengambil buku-bukuku yang tadi kubawa.

“Kau mau kemana, Nuna?”

“Aku ingin kembali ke kamarku, Sehun – ah. Aku mengantuk.”

“Tapi –”

Lagi-lagi, ponselku kembali bergetar pelan, pesan dari Naeun.

From : Naeun
Jika kau mengantuk, untuk sementara kau bisa tidur di kamar trio Yonghwa, Jongdae, dan Sehun karena aku membawa kunci kamar kita.

“Naeun Nuna membawa kunci kamar kalian.”

Suara Sehun terdengar pelan namun aku bisa mendengarnya dengan jelas. Bahuku merosot seketika. Aku kembali terduduk di atas ranjang Yonghwa. Kali ini mereka benar-benar ingin membunuhku rupanya.

 

***

 

Aku hanya menatap teman-temanku yang sedari tadi terus saja menggodaku dengan kesal. Wajahku rasanya memanas.

“Bagaimana tidurmu? Aku yakin kau pasti tidur dengan nyenyak.”

Aku mendelik, menatap Yuri melalui ekor mataku. Aku mengunyah sarapanku dengan cepat, berusaha untuk menghindari teman-temanku yang hari ini bersikap sangat menyebalkan.

“Tentu saja Jihyun Eonni tidur dengan nyenyak. Bukankah tadi malam Jihyun Eonni dan Sehun tidur sekamar?!”

Aku menahan diriku agar tidak melemparkan sendok dan garpu yang saat ini kugunakan ke kepala Krystal yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan yang lain. Aku dan Sehun hari ini menjadi objek pembullyan. Kulihat, wajah Sehun memerah, sama seperti wajahku. Sedangkan Yonghwa, ia menatap kami dengan tatapan bersalah.

“Kau tahu, Namjoo – ya, aku bahkan tidak menyangka jika Jihyun dan Sehun bisa tidur sekamar.”

Naeun mengucapkan hal itu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ia bahkan menyeringai menatapku. Aku membalik posisi sendok dan garpu yang kugunakan lalu meminum air minumku dengan cepat dan membersihkan mulutku dengan kasar menggunakan tisu. Aku menatap Naeun kesal.

YA! Bukankah kau membawa kunci kamar kita?! Kalian bahkan dengan sengaja menyuruh teman-temanku agar tidak mengizinkanku untuk tidur di kamar mereka.” Ucapku cepat. Naeun, Namjoo, Yuri, Bomi, Krystal dan Jongdae kembali tertawa. Aku mendengus ketika mengingat kejadian tadi malam. Tidak ada satupun dari teman-temanku yang mengizinkanku untuk tidur di kamar mereka, padahal aku sangat lelah karena harus naik turun tangga ke lantai lain karena lift sedang dalam perbaikan.

“Aku sangat mengagumi otakmu yang brilian. Kau bahkan menyadari hal itu Jihyun – ah.” Aku kembali mendengus menatap Bomi yang kembali tertawa setelah ia mengucapkan hal itu.

“Bagaimana denganmu, apakah tidurmu nyenyak, Oh Sehun?!”

Wajah Sehun semakin memerah saat Jongdae menggodanya. Sontak, perhatian teman-temanku kini beralih kepada Sehun. Diam-diam, aku menghela nafas lega. Setidaknya, mereka kini tidak lagi hanya menggodaku.

“Kalian sengaja menjebak kami.” Ucap Sehun ketus. Ia meneguk air minumnya dengan cepat, lalu menatapku sekilas. Aku mengangguk setuju mendengar ucapannya.

“Kami tidak menjebak kalian. Kami hanya melakukan hal yang kami suka.” Namjoo menyeringai menatapku dan Sehun bergantian. Aku membelalak menatapnya, melakukan hal mereka suka?! Astaga! Apa menurut mereka aku dan Sehun sangat cocok untuk dijadikan objek pembullyan?!

“Siapa tahu jika kalian saling menyukai. Kalian harusnya berterimakasih kepada kami karena sudah kami mempertemukan kalian agar kalian dapat jujur dengan perasaan kalian.”

Aku menatap Krystal tak percaya. Anak itu benar-benar! Apa yang baru saja dikatakannya?! Aku menyukai Sehun?! Astaga! Bukankah ia juga mengetahui bahwa orang yang kusukai adalah Kibum Oppa?!

“Orang yang kusukai adalah Kibum Oppa, Krystal, bukan Sehun.”

“Untuk apa kau masih mengharapkannya, Eonni?! Bukankah lebih baik jika kau bersama dengan Sehun. Lagipula, Kibum Sunbae hanya menganggapmu sebagai adiknya, kan?!

Aku menoleh cepat menatap Jongdae yang mengangguk dengan semangat.

“Itu benar, Jihyun – ah. Aku ingat, Sehun juga mengatakan hal itu kemarin.”

Jongdae kini menyeringai menatap Sehun. Kurasa, wajahku semakin memanas. Aku menatap Yonghwa tajam melalui sudut mataku saat kulihat lelaki itu kini justru mengikuti tingkah teman-teman kami yang lain. Yonghwa kini menatapku dengan seringaiannya, lalu mengatakan,

“Mungkin saat itu Sehun sedang menyatakan perasaanya. Hanya saja Jihyun yang tidak peka dan terlalu bodoh untuk memahami maksud dari ucapan Sehun. Ahh, seharusnya kau memahami hal itu lebih baik daripada kami jika mengingat jurusan yang kau ambil.”

YA! Itu tidak benar, Hyung!”

“Jangan mengada-ada Jung Yonghwa!”

Mereka justru semakin menertawakan wajah kami yang semakin memerah. Aku akhirnya melirik jam tangan yang kugunakan. Sebaiknya aku segera ke kelasku. Aku tidak mau mereka terus-terusan menggodaku dengan Sehun.

“Whoaa, kalian bahkan berdiri di waktu yang sama. Apakah ini tanda-tanda bahwa kalian memang berjodoh?!”

Aku menatap Sehun tak percaya saat kulihat ia juga berdiri dari duduknya. Pandanganku lalu beralih kearah Yonghwa, yang semakin menyeringai menatapku dan Sehun. Sedangkan teman-teman kami yang lain, bertepuk tangan dengan gembira, menyetujui ucapan Yonghwa.

“Jangan mengatakan hal-hal yang aneh, Jung Yonghwa.”

“Kalian memang benar-benar berjodoh, Jihyun – ah.”

Aku membelalak menatap Jongdae demi mendengar apa yang baru saja dikatakannya. Aku mendengus kasar, menatap Jongdae tajam yang balas menatapku dengan wajah polosnya.

Hyung, berhentilah membully kami.”

“Sehun sekarang bahkan menyuruh kita agar tidak mengganggu Jihyun. Ohh, benar-benar romantis sekali.”

Bahuku merosot mendengar ucapan Bomi. Teman-teman kami yang lain kembali tertawa ketika melihat wajah nelangsaku dan Sehun. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi agar mereka tidak menggoda kami terus-menerus. Aku akhirnya memilih untuk segera meninggalkan mereka setelah sebelumnya melotot menatap mereka. Aku masih bisa mendengar sorakan teman-temanku yang mash saja menggodaku ketika aku sudah melangkah menjauh. Aku berbalik saat kurasakan seseorang tengah menyentuh pundakku dengan lembut. Aku hanya menatap seseorang yang tadi menyentuh pundakku tak percaya. Orang itu, Oh Sehun.

“Sehun?!” ucapku bingung. Sehun tersenyum lembut. Ia menatapku dalam.

“Kenapa kau bisa ada disini?!”

“Aku juga ingin ke kelasku, Nuna. Bukankah sebentar lagi bel masuk kelas akan segera berbunyi?”

Aku mengangguk kaku. Dalam hati aku merutuki diriku sendiri karena pertanyaan yang tadi kulontarkan.

“Sekarang kalian bahkan kembali bermesraan.”

Aku tersentak saat mendengar ucapan Yuri yang kembali menggoda kami ketika ia berjalan melewati kami. Refleks, aku segera mundur selangkah saat kurasakan tangan Sehun masih berada di pundakku, membuat tangannya tak lagi menyentuh pundakku. Kurasa, wajahku kembali memanas. Tak berapa lama, Bomi, Naeun, Namjoo, Krystal, Yonghwa, dan Jongdae menyusul Yuri yang sudah menjauh dari kami sambil mengedipkan mata mereka dan kembali menggoda kami. Aku tersadar, saat ini aku dan Sehun masih berada di kawasan asrama lantai 1, tempat kami sarapan. Dengan gugup, aku memberanikan diriku untuk menatap Sehun. Lelaki itu tengah menggaruk tengkuknya yang sepertinya tidak gatal.

Mianhae, Nuna. Aku tidak bermaksud untuk menyentuh pundakmu seperti tadi.”

Aku kembali mengangguk kaku. Oh ayolah, aku tidak tahu mengapa aku bisa menjadi gugup seperti ini.

“Sebaiknya kita segera ke kelas sekarang. Aku duluan, Sehun – ah.”

Aku segera berbalik, hendak menjauhi Sehun. Namun lagi-lagi, langkahku terhenti ketika kurasa Sehun menarik tanganku, dan mengenggamya. Wajahku kembali memanas. Aku bahkan bisa melihat melalui sudut mataku beberapa orang hoobae yang menatap kami sambil berbisik dengan teman-temannya.

“Aku tahu arah kelas kita tidak sama. Tapi, ayo kita berangkat bersama, Nuna. Seperti yang sering kita lakukan.”

Wajahku semakin memanas saat mendengar suara Sehun yang begitu berat namun terasa lembut. Aku benar-benar bingung, apa yang terjadi pada diriku hari ini?! Mengapa sikapku menjadi sangat aneh?! Seharusnya aku tidak perlu bersikap seperti ini karena kami memang sering berangkat bersama. Entahlah, aku benar-benar tidak mengerti. Aku akhirnya mengangkat wajahku, memberanikan diriku untuk balas menatap Sehun yang memang lebih tinggi dari diriku. Uhh, aku bahkan tidak mengerti mengapa aku merasa sangat tidak percaya diri dengan tinggi badanku yang hanya sebatas bahunya. Padahal biasanya aku tidak memedulikan hal itu.

“Ayo kita berangkat, Sehun – ah.”

Sehun tersenyum lembut. Ia lalu berjalan bersisian denganku sambil menggenggam jemariku erat. Ia bahkan dengan sengaja mengabaikan tatapan siswa dan siswi yang menatap kami sepanjang perjalanan kami menuju ke kelas.

“Apa kau memutuskan untuk move on, Nuna?”

Aku menoleh, menatap Sehun yang juga menatapku. Aku lalu menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu, Sehun – ah.”

“Kuharap kau memilih untuk move on. Jangan hanya terpaku pada Kibum Sunbae saja, Nuna. Cobalah untuk memperhatikan orang-orang yang ada disekitarmu. Orang-orang yang menyukaimu, mungkin.”

Aku termenung mendengar perkataan Sehun. Kurasakan, genggaman Sehun di jemariku semakin mengerat. Entahlah, aku membenarkan apa yang diucapkan Sehun tadi. Namun, aku tahu tidak mudah untuk melupakan perasaanku yang selama ini selalu ku jaga.

“Kita sudah sampai, Nuna.”

Aku tersentak saat melihat pintu kelasku yang ada dihadapanku. Aku lalu menoleh, menatap Sehun dan melepaskan genggaman tangan kami dengan pelan.

Gomawo, Sehun – ah.”

Sehun mengangguk. Ia segera berbalik, berjalan menjauhiku hingga akhirnya aku tidak dapat melihat punggungnya lagi ketika ia berbelok di ujung lorong. Aku akhirnya memutuskan untuk segera duduk di bangku milikku, mengabaikan tatapan teman-teman sekelasku. Aku tahu dengan pasti jika Bomi dan Krystal pasti sudah menyebarkan kepada teman-temanku tentang hubunganku dengan Sehun yang mereka karang sepenuhnya. Yang pasti mereka tidak akan percaya jika mendengarkan cerita versi diriku.

“Kau dan Sehun. . . apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih?”

Aku hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng.

“Tidak. Kami hanya berteman.”

“Jangan berbohong, Jihyun – ah. Kami mengetahui hal ini dari Bomi.”

Aku hanya menghela nafasku saat mendengar jawaban teman-temanku. Seperti yang sudah kuduga, mereka tidak akan memercayai cerita versi diriku.

Aku tahu, tidak mudah bagiku untuk melupakan perasaanku. Tapi, aku akan mencoba untuk move on, Sehun – ah seperti yang kau sarankan.

 

 

TBC/END???

 

Haiii !!!!!
Saya kembali lagi setelah sekian lama menghilang karena harus fokus sama kesibukan sekolah dan lomba-lomba yang saya ikuti. Adakah yang kangen sama saya? *abaikan*
Biasanya, saya menulis fanfic dengan cast yang selalu sama, Jihyun – Joonmyun. Tapi kali ini, saya mencoba untuk menulis fanfic dengan cast yang agak berbeda, meskipun untuk tokoh OC saya selalu menggunakan Park Jihyun. Seperti halnya fanfic saya yang sebelumnya – Trouble dan Forgive Me – yang menggunakan cast Jihyun – Joonmyun, kali ini saya juga mengusung fanfic dengan tema mengenai school life. Dimana, saya lebih mudah mendapatkan inspirasi karena saya masih seorang siswi menengah atas penghujung tahun kedua. Fanfic ini sendiri terinspirasi atas kebersamaan kami – 9 orang yang disini saya masukkan juga sebagai cast – sebagai satu kesatuan tim yang saling menguatkan. 70% cerita dari fanfic ini benar-benar terjadi, selebihnya – bagian akhir – hanyalah fiksi. Cerita yang ada dalam fanfic ini terjadi ketika kami, bersama dengan tim dari sekolah lain mewakili kabupaten kami untuk melaju ke tingkat provinsi pada tanggal 18-21 April 2015 lalu. Adakah yang tahu lomba apa itu?? Hehe, tebak sendiri aja yaa.. mungkin beberapa dari readers akan mengetahuinya mengingat betapa banyaknya anggota yang ada dalam sebuah tim (9 orang). Yang pasti, materi dari lomba tersebut berkisar tentang dasar negara. *nah, Author sudah ngasih salah satu cluenya lho, yaa*
sebenarnya, masih ada banyak kejadian yang sangat menggelikan ketika kami berada di provinsi, khususnya pada saat kami berada di hotel (disini Author samarkan menjadi sekolah menengah atas yang berbasis asrama) Apalagi mengenai ‘Sehun’ yang disana memiliki banyak fans. Author tidak menampik bahwa masing-masing dari kami memiliki penggemar masing-masing. Yang membuat Author sangat bingung adalah ketika ada peserta lomba dari kabupaten lain yang secara terang-terangan menyatakan bahwa ia sangat mengidolakan saya, meskipun ia tidak menyampaikannya langsung kepada saya, melainkan melalui ‘Naeun’. Author sendiri benar-benar bingung, mengapa orang itu bisa mengidolakan saya?! Padahal jika dilihat secara fisik, teman-teman Author jauh lebih menarik. Dilihat dari kehidupan sosial, Author hanyalah tipe orang yang selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang lain, baik yang Author kenal maupun yang tidak. Author malah tipe orang yang merasa canggung jika harus berbicara dengan orang yang tidak saya kenal sama sekali. Ketika Author menanyakan kepada ‘Naeun’ mengapa orang tersebut bisa mengidolakan Author, ternyata orang tersebut merasa ‘terpesona’ *apa pula ini* ketika ia melihat saya saat di babak Final yang mengajukan protes kepada para juri mengenai pemberian nilai yang menurut kami – Author dan teman-teman – tidak sesuai dengan keadaan. Seharusnya, regu yang menjawab itu mendapatkan nilai -5 (minus 5) tetapi para Juri justru memberikan nilai 10. Selama beberapa menit sempat ada ketegangan antara Author dengan pihak juri yang otomatis membuat lomba terhenti selama beberapa menit (mungkin sekitar 5-8 menit). Para juri akhirnya mengalah ketika Author mengatakan “bunyi pasal merupakan dasar negara sehingga apa yang kita ucapkan harus sama persis dengan teks yang ada. Jika ada satu kata yang berbeda sekalipun, itu artinya kita sudah mengubah dasar negara. Dan kita tidak boleh mengubahnya.” Setelah itu, teman Author menambahkan “Sedangkan tata cara untuk mengubah pasal-pasal sudah diatur dengan jelas dalam pasal 37.” Selama beberapa menit, para juri akhirnya memutuskan untuk berdiskusi dan untungnya, para juri akhirnya mengakui jika apa yang Author sampaikan memang benar adanya. Hal itu terjadi sebanyak 3 kali, dimana 2 protes yang kami ajukan diterima, sedangkan 1 protes yang kami ajukan tidak diterima. Sedih sihh, jika mengingat protes yang kami ajukan tidak diterima. Tapi, yang berlalu biarlah berlalu, hehe

Okee, seperti yang sudah Author sampaikan sebelumnya, pada kesempatan kali ini, Author akan mengadakan ‘sayembara’. Sudah siap?!

Seperti yang sudah kalian ketahui, diakhir fanfic ini ada tulisan TBC/END. Nah, disini Author akan memberikan kalian kebebasan untuk memilih apakah kalian ingin agar cerita ini tetap dilanjutkan (baik berupa sequel ataupun chapter) atau sebaliknya. Jika kalian ingin agar fanfic dilanjut, Author kembali memberikan kebebasan kepada kalian untuk MENENTUKAN SENDIRI KELANJUTANNYA SEPERTI APA. Terserah kalian, apakah ingin agar Jihyun tetap bertahan dengan perasaanya, atau Jihyun yang akhirnya memilih untuk move on, entah move dengan Sehun ataupun dengan tokoh lainnya, meskipun tokoh tersebut untuk sementara waktu tidak ada dalam fanfic ini ataupun jika kalian memiliki ide yang lain. Semuanya tergantung dari kalian.

Lalu, bagaimana caranya???

Kalian cukup mengisi format ini:
-Nama asli (terserah mau lengkap atau panggilan)
-Id comment kalian, dan
-garis besar cerita yang kalian inginkan

Kalian bisa mengirimkannya ke :
-Kolom komentar fanfic ini
-Alamat email Author (apinknurreka@gmail.com) atau,
-Nomor handphone Author (082251315030) *tapi jangan dikerjain yaa*

Waktu pengiriman dimulai sejak ff ini di publish, sampai dengan tanggal 6 Juni 2015 dengan ketentuan sebagai berikut :
-Jika kalian mengirimkannya lewat email atau melalui kolom komentar, maka Author tidak memberikan ketentuan pada jam berapa kalian harus mengirimkannya, yang pasti paling lambat naskah fanfic yang kalian kirim harus saya terima pada tanggal 6 Juni 2015 jam 19.00 (paling lambat). Jika kalian sudah mengirimkan naskahnya, segera beritahu Author melalui nomor Handphone Author atau via bbm (pin : 541FFB20) agar saya bisa segera mengecek email yang kalian kirim.
-Jika kalian mengirimkan naskah melalui via telepon (Nomor handphone Author) diharap agar bisa mengirimkannya pada jam 17.00 – 2.00 dengan ketentuan paling lambat naskah Author terima pada tanggal 6 Juni 2015.
-Author lebih menyarankan kalian agar mengirim naskah cerita melalui via email atau melalui kolom komentar. Karena, jika kalian mengirimkan naskah kalian via telepon (Nomor handphone) akan sangat ribet jika dibandingkan dengan via email atau kolom komentar.

Untuk masalah mengenai ketentuan pengetikan, itu terserah kalian saja, asalkan Author masih bisa membacanya *?*

Untuk ketentuan penilaian, Author akan memilih satu naskah terbaik yang akan Author jadikan sequel / chapter. Ingat, hanya garis besar ceritanya saja, selebihnya Author sendiri yang akan menentukan kelanjutannya.

Masih bingung ????

Okee, Author akan memberikan contohnya

Nama asli : Sartika
id comment : tika01
garis besar cerita : Jihyun adalah seorang siswi di Gayo High School, sebuah sekolah menengah atas berbasis asrama yang ada kota Seoul. Kehidupannya ‘nyaris’ terlihat seperti pelajar pada umumnya, belajar, berdiskusi, atau melakukan refresing dengan berbagai hal untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Namun sebenarnya, ia selalu merasa khawatir terhadap satu hal yang selama ini dipendamnya. Bukan nilai, surat peringatan dari wali kelas ataupun sejenisnya karena ia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, ia benar-benar seorang yang cerdas sehingga mencapai nilai yang diinginkannya adalah hal yang biasa baginya, melainkan dengan perasaanya. Selama 2 tahun ini, ia menyukai seseorang yang justru menyayanginya sebagai seorang adik kecil yang harus selalu ia jaga. Selama ini, Jihyun sangat menikmati perhatian yang diberikan oleh Kibum – nama lelaki yang disukainya – tanpa ada rasa khawatir akan ditinggalkan olehnya. Namun semuanya berubah ketika ia mulai memasuki masa-masa SMA. Ia benar-benar khawatir Kibum akan menjauhinya jika lelaki itu mengetahui perasaannya yang sebenarnya ketika ia mengetahui ada begitu banyak gadis yang menyatakan perasaannya pada Kibum, namun berakhir dengan Kibum yang perlahan menjauhi mereka. Rasa takut kehilangan yang begitu besar membuat Jihyun akhirnya memilih untuk tidak mengatakan hal apapun pada Kibum jika itu menyangkut tentang perasaanya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan orang-orang yang kini menjadi sahabatnya. Salah satunya adalah Oh Sehun. Lelaki itu bahkan menyarankan Jihyun agar segera move on dan melupakan perasaanya pada Jihyun. Jihyun akhirnya menyetujui saran Sehun. Meskipun ada berbagai rintangan yang harus dilaluinya, dimulai dari banyaknya lelaki di sekolah mereka yang menyukai Jihyun sampai gosip mengenai hubungannya dengan Sehun yang seperti tidak ada habisnya, Jihyun tetap berusaha untuk melupakan perasaanya. Hingga akhirnya, tanpa ia dan Sehun sadari, mereka memiliki perasaan yang sama yang semakin lama semakin berkembang.

 

Gimana?? Udah ngerti kan?? Kalo nggak ngerti, dibaca lagi deh sekali lagi. Kalo masih belum ngerti juga, dipaksa-paksain aja yaa, hehe *senyum bareng Myungsoo*

Okee, itu aja dari Author. Ini aja Author yakin mata kalian pada perih semua nihh gara-gara ngebaca ini. Author tunggu yaa partisipasi dari kalian, bye bye *narik Myungsoo ke toko buku*

9 responses to “Move On

  1. Eonni, aku susah banget untuk move on. aku disakitin terus. dan aku mendengar kenyataan bahwa lelaki yang kusuka (mantanku) menyukai gadis lain. sakit…bolehkah aku meminjam beberapa kata2 eonni?

    “Salah satu cara agar aku bisa move on tanpa kesulitan apapun adalah dengan cara mengingat perlakuannya.”

    “Perlakuannya?!”

    “Ne, untuk apa aku memikirkan orang yang jahat padaku?! Bukankah masih ada banyak orang yang bersikap baik padaku?!”

    akuu meminjam kata2 itu ya eonni. gomawo… FF nyaa bagus.

    • Hehe, Aku sama juga sihh.. susah banget buat move on padahal dia (first love Author) cuman nganggap aku sebagai adeknya aja. Nasib kita kurang lebih aja yaa?? Itu sebenarnya bukan perkataan saya, tapi si ‘Sehun’.. makasih banget yaa udah baca dan komen😀

  2. etciahhh….. gua ketinggalannnn,, terlambat lah sudah !!😥
    jihyun-ssi lanjut move on ya, yang disana jauh tuh.. bner kata sehun, “MOVE ON” , jihyun-ssi peka dong ama yg disekitar, kasihan yang udah ngasih kode-kode tapi kagak di gubris… hahaha
    lanjut thorr…
    ehmm ehmmm,, LCC 4 pilar, banyak kenangan yg terjadi nih🙂

    • Hehe, makasih banyak udah baca & komen Alma😀 . Haha, gimana yaa?? Susah banget bust move on soalnya ‘dia’ nggak pernah jahat sama aku. Siapa nihh yang ngasih kode?? Iyaa, banyak banget kenangannya sampai-sampai keingat terus, hehe😀

  3. Enterprises having a large website with a lot of
    traffic influx will require the reseller hosting package.
    The web design on a web hosting providers website is a quick and easy indication of the quality of the provider.
    There are thousands of web-hosting service providers and all of them
    claim to be the best.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s