Rainbow Dust – Welcome!

Author : ditjao

Main Cast : SEVENTEEN & ShinB (G-Friend)

Support Cast (in this part) : Minhyun (NU’EST), Yeri (Red Velvet), V (BTS), Yujeong (LABOUM), sisanya figuran dan team hore

Genre : Friendship, Slice of Life, Romance?

Length : Chaptered (he kayaknya)

Rating : Teen

Disclaimer : i own nothing but the plot, jisoo, and minghao /no

Credit Picture : qu lupa

a/n : kalo bingung sama wajah cast-nya boleh scroll dulu ke bawah yaa. selamat membaca 34 pages yang membosankan ini HAHA orz

*

“Ini restoran?”

“Lebih tepatnya, café.” Mingyu meralat. “Tapi, ini bukan seperti café kebanyakan.” 

“Apa?” Shinbi menatap Mingyu, menuntut penjelasan. Laki-laki itu balas menatapnya dan tersenyum samar.

“Masuk saja dan nanti kau juga akan tahu sendiri.”

***

Momen yang paling dinantikan oleh seluruh siswa-siswi di SMA Gwihan akhirnya tiba pada pukul empat sore. Bel berdentang beberapa kali, menandakan terhentinya aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut. Momen penuh sukacita ini selalu dihiasi oleh pemandangan para siswa-siswi yang berhamburan ke luar kelas dengan wajah berseri-seri. Ada yang langsung berjalan menuju gerbang sekolah dan segera menuju halte terdekat, ada pula yang lebih memilih membelokkan langkahnya menuju cafetariauntuk berdamai dengan perut yang sedari tadi meraung-raung minta diisi atau sekedar membunuh waktu bersama teman ketimbang langsung menuju rumah masing-masing, dan ada pula yang bernasib malang lantaran terpaksa harus bertahan di kelas akibat tugas piket yang diembannya. Atau lebih buruk lagi, tak sengaja berpapasan dengan guru dan dimintai tolong sehingga menghambat perjalanan pulang yang didamba. 

Sayangnya, momen membahagiakan ini tidak berlaku bagi para siswa-siswi kelas 3-3 yang sepertinya masih harus berdiam diri lebih lama di ruangan kelas. Padahal bel pulang sudah berdentang hampir lima menit yang lalu, tapi tak ada satupun dari para penghuninya yang berani mengangkat bokongnya dari kursi masing-masing dan beranjak keluar ruangan. Apalagi untuk murid super aktif seperti Cho Seungyeon yang rasanya sudah gatal sekali ingin mengangkat kakinya dari kelas terakhir yang masih diikutinya ini. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan tempo yang tidak beraturan, sementara raut wajahnya sudah menunjukkan ekspresi tidak sabar. Pandangannya lurus menghadap ke arah seorang wanita muda yang sedang berdiri membelakangi papan tulis. Meski begitu, ketidaksabarannya sepertinya telah menyerap habis fungsi indera pendengarannya karena sedari tadi tak satu katapun dari ocehan sang guru mampu singgah di telinga Seungyeon. Masuk telinga kanan, keluar tangan kiri, atau mungkin memang tidak pernah masuk lantaran telinga Seungyeon seakan mempunyai tameng tersendiri untuk menangkis segala bunyi-bunyian yang keluar dari mulut guru sosiologinya tersebut.

“Saya sudah lama sekali memperhatikan kelas ini, dan terus terang, saya cukup kecewa. Di antara yang lain, hanya kelas ini yang menurut saya kekompakan di antara penghuninya belum benar-benar terjalin,” terang Guru Yoon sembari membetulkan letak kacamatanya. Nada suaranya seakan mengungkapkan keprihatinan.

“Untuk itu, tugas yang akan saya serahkan ini bertujuan untuk mendekatkan diri masing-masing dari kalian semua. Saya tidak mau lagi melihat kelas ini hanya bergaul dalam satu kubu tertentu. Terlalu banyak pengkotak-kotakan. Si A hanya mau bergaul dengan Si A, dan Si B dengan Si B lagi. Kebiasaan seperti ini harus diubah atau kalian tidak akan dapat mengenal macam-macam karakter orang di sekitar kalian. Ditambah lagi, akhir tahun ini merupakan kelulusan kalian. Sungguh disayangkan apabila kalian tidak mengenal teman-teman sekelas kalian dengan baik setelah lulus nanti.”

Tidak ada yang menyahut. Anak-anak sibuk memperhatikan setiap detail omongan Guru Yoon mengenai tugas yang akan diberikan kepada mereka, juga menanti kapan kiranya wanita ini akan mengucapkan ‘ya, cukup sampai di sini’ sebagai tiket untuk menyambut kepulangan mereka yang tertunda.

Jung Eunha yang duduk di bangku paling depan pada deretan kedua telah siap siaga menggenggam pulpen di tangan kanannya, siap mencatat tugas yang akan meluncur dari mulut Guru Yoon. Sementara Ahn Chaeyeon, siswi pesolek yang duduk di bangku paling belakang dekat pintu, memilih mengeluarkan ponselnya untuk mencatat tugas. Berjarak satu bangku di samping kirinya, ada Kwon Soonyoung yang kepalanya dalam posisi berada di atas meja serta wajahnya yang dalam keadaan menyamping. Laki-laki itu tertidur pulas, dari semenjak lima menit pertama Guru Yoon menginjakkan kaki di kelas 3-3 untuk menjelaskan materi mengenai  disintegrasi sosial.

“Tugas kalian ini sebenarnya sangat mudah. Saya hanya akan meminta kalian untuk mendeskripsikan salah seorang teman kalian di kelas ini—untuk siapa orangnya, saya yang menentukan, karena saya sudah memerhatikan kalian cukup lama dan tahu betul siapa yang tidak dekat dengan siapa. Deskripsi meliputi sikapnya sehari-hari, watak beserta karakternya, juga analisis dan penilaian pribadi kalian tentang mengapa teman kalian tersebut memiliki karakter demikian, dan akan sangat bagus apabila kalian bersedia menambahkan informasi lain, seperti latar belakang keluarganya, misalnya.”

Lee Jun Young langsung mengacungkan tangannya tanpa aba-aba. Siswa yang biasanya selalu menempati peringkat 10 besar di antara angkatannya itu kontan menarik perhatian seluruh penghuni ruangan.

“Lantas, bagaimana bila yang bersangkutan tidak mau memberikan informasi pribadinya? Misalnya, dalam hal keluarga, bukankah hal tersebut dapat dianggap melanggar privasinya bila yang bersangkutan tidak ingin menceritakan?” tanyanya lugas.

“Oleh karena itu, sebelumnya saya sudah menyelipkan kata ‘akan lebih bagus’. Untuk bagian itu sifatnya optional.”

Jun Young mengangguk, lalu sibuk mencatat lagi. Begitu juga dengan Eunha. Sedangkan Seungyeon sibuk mencari kesibukan lain; menalikan benang yang terurai dari seragam Junhong—yang duduk persis di depan bangkunya—ke kaki kursi. Soonyoung masih belum beranjak dari alam mimpi.

“Saya minta tugasnya dikumpulkan awal semester depan, setelah liburan musim panas. Baik, setelah ini apa ada yang ingin ditanyakan lagi?”

Dengkuran halus Soonyoung yang menjawab.

“Baik, kalau begitu saya akan menyebutkan siapa-siapa saja pasangan kalian dalam tugas ini. Sebelumnya, saya tekankan sekali lagi, tugas ini dikerjakan seorang diri. Dalam satu pasangan, satu orang menilai satu orang lainnya. Sebagai contoh, untuk yang pertama, Cho Seungyeon dengan Jeon Jungkook. Seungyeon menilai Jungkook, begitu juga sebaliknya.”

Hening yang sedari tadi menyelimuti ruangan kelas 3-3 kini mulai terpecah sedikit demi sedikit akibat bisikan-bisikan pelan dan suara tawa para penghuninya. Mereka tahu persis bahwa Jungkook, si kutu buku yang selalu memakai kacamata tebal itu adalah sasaran empuk bagi Cho Seungyeon yang hobi menjadi biang onar. Tidak terhitung berapa kali Seungyeon menjahili laki-laki itu, mulai dari menyembunyikan kacamatanya, dan yang paling terakhir dan yang paling parah mereka ingat adalah ketika Seungyeon melemparkan tas sekolah Jungkook dari lantai 3 melalui jendela kelas mereka. Jungkook menangis, dan Seungyeon diberikan sanksi membersihkan toilet selama seminggu berturut-turut akibat keisengannya itu, walau akhirnya sama sekali tidak membuat laki-laki itu jera.

Seungyeon mendelik ke belakang, ke arah Jungkook yang terlihat gelisah di bangkunya. Seungyeon mengumbar senyuman picik, sementara Jungkook yang kikuk berusaha menutupi kegelisahannya dengan berpura-pura merapikan alat tulisnya, namun kemudian malah tak sengaja membuat buku catatannya terjatuh ke lantai akibat ketakutannya menghadapi tatapan Seung Yeon yang dianggapnya sangat mematikan. Seungyeon diam-diam tertawa puas.

“Lalu, Kim Mingyu dengan Jung Eunha.”

Kelas kembali riuh oleh bisik-bisik, kali ini didominasi oleh suara anak perempuan yang langsung menghujani Eunha dengan tatapan iri.

“Kalau dengan Mingyu, sih, aku juga mau!” Chaeyeon menyeletuk. Cukup keras sampai-sampai mengundang tawa seluruh isi kelas.

“Tolong, harap tenang jika kalian ingin segera pulang.” Guru Yoon memukul meja. Sunyi kembali menyergap seisi ruangan. Kim Mingyu, yang kelihatannya tidak terlalu peduli tengah menjadi bahan perbincangan, terlihat sibuk mencatat di buku catatannya. Sama halnya dengan Eunha yang pada dasarnya memang berwatak pendiam, meski diam-diam semburat ikut menyusup dan menghiasi wajahnya yang dibingkai oleh kacamata.

“Selanjutnya, Baek Hyejin dan Choi Junhong.”

Seisi kelas kembali riuh, kali ini bahkan lebih ribut dibandingkan sebelumnya. Seluruh penghuni kelas 3-3 hampir seluruhnya tahu mengenai romansa yang tersimpan antara Hyejin dan Junhong semasa dulu. Junhong sempat menyatakan perasaannya pada gadis itu, namun yang bersangkutan menolak.

Wajah Junhong dengan cepat berubah memerah, diikuti oleh wajah Hyejin yang juga terlihat merah padam. Antara menahan rasa malu dan juga kesal mendengar cibiran-cibiran yang dilontarkan oleh seisi kelas.

“Saya bilang tenang.” Suara Guru Yoon meninggi, tangannya kembali memukul meja. Kali ini lebih keras sampai-sampai suaranya terdengar ke seluruh penjuru ruangan.

Suasana kembali hening, dan Guru Yoon berlanjut menyebutkan nama-nama dalam daftar yang tertulis di dalam catatannya. Lima menit telah berlalu, menyisakan beberapa orang lagi yang namanya belum sempat disebutkan.

“Hwang Shinbi.”

Shinbi menengadah, siap menuliskan nama partnernya dalam buku catatan. Seingatnya, ia tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun yang ada di kelas, baik itu laki-laki maupun perempuan. Kecil kemungkinannya ia akan mendapat olok-olok karena Shinbi merasa selama ini selalu menjalin hubungan baik dengan siapa saja, meskipun tidak terlalu dekat. Dalam benaknya, tugas ini pun sama sekali tidak dirasa sulit karena yang Shinbi perlukan hanyalah mengobrol sedikit dengan pasangannya nanti, memerhatikannya untuk beberapa waktu, sebelum kemudian menuangkan analisisnya dalam bentuk laporan. Beres. Meski harus ia akui, otaknya tidak seencer Eunha yang selalu masuk ke dalam peringkat 3 besar juara sekolah, kesiapannya dalam mengerjakan tugas dan keaktifannya dalam pelajaranlah yang menolongnya dalam mempertahankan prestasi di sekolah.

Guru Yoon sudah hampir membuka mulutnya ketika Shinbi menyiapkan ancang-ancang untuk menulis.

“Dengan Kwon Soonyoung.”

Persis deperti dugaannya, tak ada satupun yang bereaksi. Seisi kelas sunyi senyap, sementara Shinbi terpaku. Pulpen yang ia genggam masih melayang beberapa mili di atas permukaan kertas.

Shinbi lantas menoleh ke belakang, ke bangku Soonyoung. Telinganya masih tak yakin bahwa barusan ia menangkap nama tersebut. Ketika dilihatnya Soonyoung tengah tertidur di bangkunya, Guru Yoon telah kembali bersuara.

“Selanjutnya, Byun Hyeji.”

***

Tak lama setelah Hwang San Joo menyusul istrinya untuk beristirahat di kamar, Shinbi memutuskan untuk mematikan layar televisi dan bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Jam baru menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Setelah bersenda gurau sembari menikmati tayangan televisi bersama, ayahnya berniat untuk tidur lebih awal. Terlalu banyak pekerjaan di kantor, begitu yang dikeluhkan ayahnya kepada Shinbi beberapa saat yang lalu ketika keduanya duduk bersama di ruang tengah.

Shinbi menarik kursi belajarnya dan memutuskan untuk memeriksa buku catatannya. Telah menjadi kebiasaan baginya untuk mengerjakan tugas atau sekedar mengulang materi pelajaran di sekolah. Kali ini gadis itu memutuskan untuk mengambil buku matematika dari dalam ranselnya. Tugas matematika yang diberikan minggu lalu sudah dikerjakan sebagian oleh Shinbi, namun masih menyisakan beberapa soal yang belum mampu ia pecahkan. Malam ini Shinbi berniat untuk melanjutkan soal-soal itu semampunya dan berencana untuk bertanya kepada Eunha esok hari apabila otaknya tak kunjung mampu menaklukan soal-soal tersebut.

Alih-alih mengerjakan soal, kedua pasang mata Shinbi tiba-tiba tertuju pada beberapa lembar kertas di atas meja belajarnya. Kliping mengenai berbagai macam universitas terkemuka yang ada di Korea Selatan. Shinbi mengumpulkannya sendiri dari internet, lalu menyusun dan mencetaknya sebagai bahan pertimbangannya tentang universitas mana yang akan menjadi pilihannya kelak. Konsentrasinya benar-benar terpecah sekarang. Otaknya segera mengucapkan selamat tinggal kepada soal-soal matematika, lantas memberi perintah kepada tangan kirinya untuk meraih kumpulan kertas itu.

Shinbi bergeming, matanya sibuk menyapu sederet tulisan yang tercetak di sana. Lokasi universitas, daftar jurusan yang tersedia, fasilitas, dan poin yang tak pernah bosan menjadi perhatian gadis itu; biaya.

Gadis itu menghela napas dalam-dalam. Ada beberapa digit angka yang tercetak di sana, yang selalu membuat Shinbi ditelan putus asa setiap kali membacanya. Melanjutkan kuliah ke universitas sudah menjadi impiannya sejak dulu sebelum Shinbi memutuskan untuk memilih cita-cita sebagai seorang psikolog. Tetapi, biayanya yang tidak bisa dikatakan murah selalu membuat Shinbi berpikir dua kali untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu dari sekian banyak universitas terkenal itu. Ayah Shinbi yang bekerja sebagai seorang karyawan perusahaan sebentar lagi akan menginjak umur pensiun, sementara ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Hwang Minhyun, kakak lelakinya, yang kini sudah hampir lulus kuliah sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan, meski untuk sementara hanya memegang status sebagai karyawan magang. Tentu saja, Shinbi enggan merepotkan kakak lelakinya itu, begitu pula dengan kedua orangtuanya yang mungkin akan mengandalkan tabungan untuk menyekolahkan Shinbi ke jenjang yang lebih tinggi sejauh yang mereka mampu.

Beban yang selalu dipikirnya selama beberapa waktu belakangan ini kemudian mendorongnya untuk mengambil sebuah langkah; gadis itu ingin mencari pekerjaan. Ide ini sudah muncul semenjak jauh-jauh hari, ketika Shinbi asyik mencari berbagai informasi mengenai universitas yang ia tuju. Ia sadar, biaya yang dibutuhkannya untuk berkuliah di universitas favoritnya memungkinkan membebani keluarganya, sehingga Shinbi memutuskan untuk mencari uang sendiri. Atau, jika Shinbi mampu mengambil jalan tengah, gadis itu bisa saja mengandalkan beasiswa yang ditawarkan oleh universitas tersebut, yang namun kemudian dijadikan pilihan terakhir oleh Shinbi akibat minimnya rasa percaya diri yang ia miliki. Gadis itu tak yakin bila ia mampu bersaing dengan ribuan anak muda lainnya yang juga mengincar universitas yang sama. Shinbi sadar bahwa ia tidak dianugerahi otak yang kelewat cerdas, sehingga gadis itu lebih memilih untuk mengoptimalkannya dengan sifat rajin yang ia miliki. Namun, tetap saja hal itu dirasanya belum cukup dijadikan modal untuk meraih beasiswa dari universitas yang dimaksud.

Hanya ada satu jalan yang kini sudah bulat menjadi tekadnya; menabung.

Mungkin Minhyun tahu beberapa tempat yang mau menerima siswa SMA untuk bekerja paruh waktu, pikirnya. Ia akan bertanya kepada Minhyun jika kakaknya itu pulang nanti.

Shinbi sudah kehilangan niat untuk melanjutkan tugas matematikanya dan memilih untuk memasrahkannya kepada Eunha esok hari. Karena belum kunjung mengantuk, ia kemudian memutuskan untuk mengambil buku catatannya yang lain. Sosiologi.

Guru Yoon memberinya tugas yang sedikit sulit. Seharusnya, tugas seperti ini bisa diselesaikannya hanya dalam tempo beberapa hari. Namun sekarang Shinbi mulai merasa tak yakin, karena yang menjadi pasangannya adalah Kwon Soonyoung, siswa yang selalu duduk di bangku paling belakang.

Mungkin hampir seluruh siswa di sekolah mengenalnya karena laki-laki itu pernah tinggal kelas selama satu kali, yang membuat umurnya setahun lebih tua di atas teman-teman sekelasnya yang lain. Tak hanya itu, Soonyoung juga terkenal dengan reputasinya yang tidak bisa dikatakan baik. Banyak rumor tak mengenakkan yang menyertai laki-laki itu. Ada yang bilang bahwa Soonyoung adalah murid yang sangat pemalas (untuk yang ini, Shinbi yakin akan kebenarannya karena tak hanya sekali ia memergoki Soonyoung tertidur di hampir setiap pelajaran). Ada juga yang bilang, perangai Soonyoung begitu buruk sampai-sampai tak ada satupun yang mau berteman dengan laki-laki itu (yang lagi-lagi—dengan penuh penyesalan—Shinbi harus mengakuinya, karena Shinbi tahu persis bahwa di kelas 3-3 pun tak banyak yang mau mengobrol ataupun dekat-dekat dengan Soonyoung). Ada juga rumor yang mengatakan bahwa Soonyoung merupakan berandalan yang gemar berkelahi di luar sekolah. Kabar burung yang berhembus di antara teman-teman sekolahnya, bahwa konon pernah ada seorang siswa yang mengaku pernah melihat Soonyoung di malam hari sedang bergumul dengan berandalan lainnya. Tidak jelas siapa yang pertama kali menghidupkan rumor ini, namun kedatangan Soonyoung di kelas dengan wajah babak belur pada suatu hari menambah keyakinan teman-teman yang lain bahwa Kwon Soonyoung memang benar-benar anak yang bermasalah.

Shinbi bergidik, diam-diam menyesali keputusan Guru Yoon yang telah memasangkannya dengan Soonyoung. Mungkin guru wanita itu tahu persis apa yang membedakan dirinya dengan pemuda itu, Soonyoung Si Pemalas dan Shinbi Si Rajin, yang mungkin menarik perhatian Guru Yoon; bagaimana jika kedua anak yang memiliki sifat jauh berbeda ini berkomunikasi satu sama lain?

Dan yang menjadi masalahnya sekarang, bagaimana Shinbi harus berkomunikasi dengan Soonyoung? Bahkan Shinbi sendiri tak yakin Soonyoung tahu bahwa dirinya dipasangkan dengan gadis itu untuk tugas sosiologi. Terang saja, ketika Shinbi mencuri-curi pandang ke arahnya sore hari tadi, Soonyoung kelihatan masih asyik terlelap di atas mejanya. Mungkin memang laki-laki itu sama sekali tidak menaruh peduli akan tugas ataupun urusan-urusan lainnya yang menyangkut sekolah. Benar-benar tipe anak pemalas yang kurang disenangi Shinbi.

Satu-satunya yang Shinbi ingat, percakapannya yang melibatkan Soonyoung sebagai lawan bicara hanya pernah terjadi satu kali. Itupun tidak secara langsung karena ada Jun Young yang berperan sebagai perantara. Waktu itu, ketika anak-anak sedang bergotong royong membersihkan ruangan kelas, Shinbi bertanya tentang keberadaan sapu kepada Jun Young, yang rupanya secara kebetulan sedang berada di tangan Soonyoung. Kemudian lewat Jun Young, Shinbi meminjam sapu tersebut dari Soonyoung.  Entah hal seperti itu dapat terhitung sebagai komunikasi atau tidak, Shinbi tidak mau ambil pusing. Soal-soal matematika dan persoalan biaya universitas sudah cukup membuat kepalanya terasa berat. Memikirkan tugasnya bersama Soonyoung hanya akan menambah memperparahnya.

Shinbi kemudian memutuskan untuk mengambil buku catatan pelajarannya yang lain, atau menyerah dan memilih tidur. Tampaknya pilihan kedualah yang lebih unggul karena sedetik kemudian, Shinbi memilih untuk mengesampingkan kewajibannya sebagai pelajar dan bergegas naik ke atas tempat tidur. Mungkin rasa lelah yang diutarakan ayahnya barusan juga menular kepada dirinya malam ini, pikirnya.

Baru saja Shinbi hendak menarik selimut, didengarnya suara pintu yang tiba-tiba terbuka. Asalnya dari lantai bawah. Minhyung telah pulang.

Shinbi bergegas beranjak dari kamar dan menuruni tangga untuk menyambut kepulangan saudara lelakinya itu. Tidak perlu menginjakkan kakinya sampai anak tangga terakhir, karena dalam posisinya sekarang pun Shinbi dapat melihat Minhyun tengah melemaskan tubuhnya di lantai sembari berselonjor kaki di dekat meja makan. Setelan jas masih membalut tubuhnya.

“Oh, kau belum tidur?” Minhyun menengadah, menatap Shinbi yang sedang berdiri di atas anak tangga.

Oppa baru pulang?” Shinbi bertanya sebagai balasan.

“Ya. Atasan memintaku mengurus beberapa hal sehingga membuat jadwal pulangnya sedikit dimundurkan.” Minhyun terkekeh. Meski diutarakan dengan nada ceria, Shinbi dapat menangkap nuansa keletihan di sana.

Oppa, boleh aku bertanya sesuatu?”

Hm, apa?”

“Soal pekerjaan.”

“Ya?”

Shinbi terlihat ragu pada awalnya, namun bersikeras untuk melanjutkan. “Apa di kantorOppa, mereka menerima pelajar yang ingin bekerja paruh waktu?”

“Hah?” Minhyun terlihat kebingungan. Kedua alisnya saling bertaut.

“Maksudku, ya, seperti pekerjaan kecil. Mungkin tenaga pembersih?”

“Apa? Tunggu. Memangnya siapa yang mau bekerja? Salah satu temanmu?”

“Bukan. Tapi aku.”

“Apa?”

Mulanya, Shinbi ingin bergabung bersama Minhyun di meja makan sambil berharap mereka berdua bisa mengobrol tentang pekerjaan yang sekiranya cocok untuk dirinya. Namun, ketika melihat raut wajah Minhyun yang terlihat kurang senang sekarang, Shinbi memilih mengurungkan niatnya dan bertahan di anak tangga.

“Kau serius ingin bekerja?” lagi-lagi Minghyun bertanya.

“Ya.” Shinbi mengangguk, meski tanpa disadari vokalnya mengalun lebih pelan dibandingkan beberapa saat yang lalu.

“Aku bukannya tidak mau menghargai keputusanmu, tapi, coba kau pikirkan baik-baik. Shinbi, kau masih sekolah, bahkan kau sudah duduk di tingkat akhir. Kau akan menghadapi ujian kelulusan sebentar lagi, benar? Lantas, apa kau yakin bisa membagi waktu jika kau bekerja? Aku bahkan tidak yakin bahwa jam kerjamu nanti bisa disesuaikan dengan jadwalmu sebagai pelajar.”

Shinbi diam. Ia tahu bahwa ada pesan tersirat di balik omelan yang sedang dilayangkan kepadanya sekarang. Minhyun jelas tidak menyukai idenya.

“Kau mungkin bisa melakukannya di saat kuliah nanti, tapi untuk saat ini? Lebih baik sekarang kau belajar dengan giat agar kau lulus dengan nilai yang baik dan diterima di universitas yang kau inginkan, karena hanya itu satu-satunya ‘pekerjaan’ yang harus kau lakukan sekarang. Mengerti?”

Shinbi mengangguk tanpa suara. Perasaan kecewanya berusaha ia telan dalam-dalam.

“Ayah dan Ibu tahu soal keinginanmu ini?”

Shinbi menggeleng. Minhyun menarik napas.

“Aku rasa mereka juga lebih tidak setuju apabila mendengar hal ini. Sudahlah, hari sudah malam. Lebih baik kau beristirahat.”

Shinbi tidak merespon, namun mematuhi ucapan Minhyun dengan segera berbalik menuju lantai dua. Minhyun dapat melihat raut kesedihan yang tergambar pada wajah Shinbi sekilas. Laki-laki itu menyesal, namun enggan memanggil adik perempuannya untuk kembali dan melontarkan ucapan maaf. Keputusan Shinbi untuk bekerja masih membuatnya tak habis pikir. Ia lantas menarik tubuhnya yang letih dan beranjak menuju kamarnya. Biar hal ini menjadi pelajaran bagi Shinbi agar lain kali gadis itu tidak ceroboh dalam mengambil keputusan, pikirnya.

Minhyun mematikan saklar lampu yang ada di ruang tengah, kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dari dalam. Dalam sekejap, kediaman keluarga Hwang kembali diliputi kesunyian.

***

Hari ini Shinbi kembali pulang terlambat.

Bukan karena pelajaran Guru Yoon yang selalu mengorupsi jam pulang, bukan pula karena hari ini Shinbi kebagian mengemban tugas piket. Hari ini, perasaannya hanya sedang tidak karuan. Shinbi merasa butuh sendirian. Dan pikirnya, ruangan kelas setelah jam pulang adalah tempat yang paling tepat. Setidaknya, Shinbi bebas berdiam diri di sini sampai petang menjelang tanpa khawatir akan ada yang mengganggu—tentunya, sebelum seluruh ruangan kelas dikunci oleh penjaga sekolah.

Lima belas menit sudah berlalu semenjak bel jam pulang didentangkan, namun Shinbi masih bertahan di posisi yang sama; menelungkupkan kepalanya di atas meja. Seharian ini kepalanya terasa berat, sehingga di sepanjang kelas yang diikutinya hari ini Shinbi lebih banyak menundukkan kepala, pura-pura membaca buku catatannya ketimbang memperhatikan penjelasan guru. Gadis itu menyerahkan kelas sepenuhnya kepada Eunha dan Jun Young. Ya, Shinbi membiarkan dua orang langganan juara sekolah itu mendominasi di hampir semua pelajaran. Biasanya, Shinbi juga termasuk golongan murid yang aktif dalam mencecar guru dengan pertanyaan, mencuri perhatian guru, dan menjadi anak emas—walaupun tidak di semua mata pelajaran. Namun, kali ini semangatnya seakan meredup. Begitu banyak hal yang berputar di kepalanya sehingga untuk menatap ke arah papan tulis saja rasanya Shinbi tak sanggup.

Hal nomor satu yang paling banyak menyita tempat di dalam pikirannya adalah Hwang Minhyun, yang juga menjadi alasan Shinbi betah berlama-lama di sekolah sore ini. Shinbi tidak mau pulang cepat karena itu hanya akan mempercepatnya untuk bertemu dengan Minhyun. Percakapan mereka malam kemarin masih terbayang jelas di benak Shinbi dan cukup menorehkan luka di hati gadis itu. Pasalnya, Minhyun melarangnya untuk bekerja. Padahal gaji dari pekerjaannya itu rencananya akan ia tabung dan ditujukan untuk membiayai kuliahnya kelak. Bukankah itu artinya; melarangnya berkerja = melarangnya berkuliah?

Yang kedua, Shinbi sedikit malu mengakuinya karena hal ini adalah yang pertama kali dialaminya selama hampir tiga tahun menimba ilmu di Gwihan. Guru Gong—guru sejarahnya—memergoki Shinbi tertidur di kelasnya pada jam terakhir tadi. Sebenarnya bukan tertidur, hanya saja posisi Shinbi yang seakan tengah tertidur dengan kepalanya yang tertelungkup di atas meja membuat guru wanita itu menaruh prasangka buruk. Untuk pertama kalinya, Shinbi dimarahi di dalam kelas. Omelannya benar-benar pedas dan menusuk hati—sampai-sampai rasanya Shinbi tak lagi punya muka untuk mengikuti mata pelajaran yang diajarkan oleh beliau. Shinbi jadi bertanya-tanya, terbuat dari apa kuping Soonyoung sehingga mampu menahan panasnya omelan guru tersebut setiap kali (selalu) kedapatan tertidur di kelasnya?

Oh, ya. Kwon Soonyoung. Omong-omong tentang nama itu, kebetulan sekali karena laki-laki itu menempati urutan ketiga sebagai oknum yang bertanggung jawab menyita pikiran Shinbi. Hari ini, tadinya Shinbi berniat untuk mengajak laki-laki itu berbicara, juga sebagai ajang perkenalan karena Shinbi tahu diri bahwa ia dan Soonyoung sama sekali tak pernah akrab sebelumnya. Namun, baru saja hendak menghampiri Soonyoung di bangkunya ketika bel jam pulang berbunyi, Guru Gong telah lebih lebih dulu memanggil anak itu untuk menemuinya di ruang guru. Shinbi kesal, namun tak bisa menumpahkan kekesalannya lebih banyak lagi terhadap Guru Gong. Ia sendiri paham mengapa Soonyoung selalu rutin dipanggil ke ruang guru. Semuanya maklum, menurut gosip yang beredar, anak itu adalah biang onar di luar lingkungan sekolah. Mungkin Guru Gong memanggilnya karena ada laporan tentang Soonyoung yang kepergok berkelahi, atau bisa juga karena warna rambut Soonyoung yang mencolok yang lebih pantas diidentikkan dengan member idol group daripada siswa SMA. Atau mungkin, Guru Gong hanya gemas ingin menasihati Soonyoung untuk yang kesekian kalinya agar tidak tertidur di kelasnya.

Shinbi lantas menggerutu dalam hati. Mengapa bisa-bisanya Guru Yoon punya ide untuk memasangkannya dengan anak pemalas seperti Soonyoung, sih?

“Hei.”

Suara berat itu membuyarkan lamunan Shinbi. Kepalanya refleks terangkat dari meja dengan kondisi rambutnya yang sedikit awut-awutan. Shinbi merapikan rambutnya ke belakang dengan asal. Sosok jangkung Kim Mingyu menjadi hal yang pertama ditangkap oleh retina Shinbi tatkala gadis itu menghadap ke arah papan tulis.

“Mungkin kau bisa membantuku menghapus papan tulis selagi aku merapikan bangku? Kau juga kebagian piket hari ini, ‘kan?”

Shinbi ingin mengelak dan mengatakan bahwa jadwal piketnya adalah lusa, namun gadis itu tak punya cukup kekuatan untuk mengontrol emosinya kelak jika ia benar-benar tersulut amarah. Maka, ia hanya beringsut dari kursinya tanpa banyak bersuara lalu menghampiri Mingyu dan bergegas menghapus papan tulis.

“Terima kasih.”

Shinbi enggan membalas dan malah menyumpahi Byun Hyeji dalam hati. Entah teman sekelasnya itu lupa atau sengaja pulang duluan karena enggan melaksanakan tugas piketnya hari ini.

Shinbi selesai menghapus seluruh tulisan di bagian tengah dan bawah papan tulis, namun memiliki kesulitan ketika harus menghapus tulisan-tulisan yang tertera di bagian atas. Dia berjinjit, tapi tak kunjung mampu mencapai bagian atas papan tulis. Suasana hatinya yang belum juga membaik segera menciptakan sumpah serapahnya yang kedua untuk dialamatkan kepada Guru Gong yang memang dianugerahi tubuh tinggi semampai.

Shinbi belum berhenti berusaha. Tangannya menggapai-gapai di udara sementara penghapus yang dipegangnya sesekali menabrak papan tulis. Gadis itu hendak meloncat, namun membatalkan niatnya ketika penghapus itu tiba-tiba melayang dan dengan segera berpindah tangan. Kim Mingyu, yang tahu-tahu sudah berdiri persis di belakangnya, segera mengambil alih pekerjaan Shinbi.

Wajah gadis itu memerah, meratapi nasib genetik yang turun-temurun diwariskan oleh keluarga Hwang. Masalah tinggi badan.

“Bagaimana kalau kau membersihkan kelas? Siapa tahu masih ada sampah yang tercecer.” Mingyu berkata tanpa melirik ke arah Shinbi. Tangannya sibuk membersihkan seluruh permukaan papan tulis.

“Oke.” Shinbi segera berbalik sehingga Mingyu tidak dapat melihat parasnya yang semakin mengeruh.

Shinbi sedang mengecek deretan bangku ketiga untuk mengambil sampah kertas ketika Mingyu tiba-tiba memanggilnya dari arah depan.

“Shinbi!”

Shinbi menunda aktivitasnya dan menatap Mingyu, “Apa?”

“Aku baru ingat ada urusan. Tidak apa, ‘kan, kalau kutinggalkan kau sendiri? Maaf karena tidak bisa membantumu.” Mingyu menggaruk kepalanya sebagai gestur untuk mewakili perasaan bersalahnya. Namun, Shinbi kelihatannya tidak terkesan dan kembali melanjutkan kegiatannya. Ekspresinya terlihat tidak acuh.

“Iya, tidak apa-apa kalau kau ingin pulang duluan.”

Um, bukan pulang, sebenarnya, aku hanya sedang ada pekerjaan.” Mingyu berjalan ke arah loker untuk mengambil ransel. Shinbi baru tersadar bahwa sedari tadi rupanya bukan hanya ia sendiri yang tinggal di dalam kelas.

“Aku sudah terlambat masuk kerja.” Mingyu mengenakan ranselnya.

Shinbi hanya memberikan respon seadanya, “Oh.”

“Aku duluan.”

Mingyu berpamitan. Shinbi enggan membalas sementara posisi tubuhnya kini sedang berjongkok, memeriksa bagian bawah meja. Dalam seper sekian detik, otak Shinbi baru mampu mencerna ucapan Mingyu beberapa saat yang lalu. Kedua matanya refleks membola. Shinbi hendak menghentikan Mingyu yang kini sudah berjalan ke arah pintu masuk kelas, namun karena saking terburu-burunya, kepalanya malah terantuk kaki meja.

“Aduh!” Shinbi spontan meringis.

Mingyu berbalik, terlihat heran mendengar suara gaduh yang berasal dari bawah meja.

“Kau tidak apa-apa?” Mingyu bertanya dari ambang pintu.

Sosok Shinbi muncul dari bawah meja. Wajahnya kelihatan meringis dan sebelah tangannya sibuk mengusap-usap kepalanya. Shinbi merasa ada benjolan kecil yang tumbuh di sana.

Um, tadi kau bilang apa? Bekerja?” Shinbi bertanya sambil sesekali meringis.

Mingyu mengiyakan.

Um, boleh aku tahu di mana kau bekerja?”

“Apa? Kenapa?”

“Tidak apa-apa, mungkin tempat kerjamu itu berminat memperkerjakan seorang pegawai baru?” Shinbi menyengir kaku.

Mingyu memasang wajah heran.

“Apa…, apa aku juga bisa ikut bekerja di sana? Hehe.”

***

Musim panas masih berjarak cukup lama, namun Shinbi merasa bahwa cuaca pada sore hari ini cukup terik sehingga membuat tubuhnya terasa sedikit lengket akibat berkeringat. Entah karena faktor cuaca atau memang perasaan gugupnya yang tak terkendali, sedari tadi wajahnya memang sudah terasa panas ketika ia dan Mingyu meninggalkan sekolah dan naik bus bersama, sebelum akhirnya berjalan kaki sepanjang beberapa blok. Kontras dengan kedua tangannya yang kini rasanya sedingin es.

Shinbi mengangkat sebelah tangannya untuk menghalau dahinya dari sengatan matahari, sekaligus berupaya menghangatkan jemarinya. Jantungnya masih berdegup tak karuan mengingat kronologis yang membawa serta dirinya dan Mingyu kemari. Ketika ia meminta Mingyu untuk mengantarnya ke tempat laki-laki itu bekerja, awalnya Mingyu terlihat tak yakin, bahkan Shinbi dapat melihat guratan penuh kesangsian yang terlukis di wajahnya. Mungkin karena tak tega setelah melihat wajah Shinbi yang dengan penuh harap mengucapkan kata, ‘kumohon’, akhirnya Mingyu mau tak mau mengiyakan, meski nampaknya dengan sangat berat hati.

Shinbi sempat merasa ragu dan menyesal pada awalnya karena permohonannya untuk bekerja di tempat Mingyu ia lontarkan tanpa pikir panjang. Shinbi bahkan tak tahu di mana dan tempat macam apa yang akan mereka tuju sekarang. Namun, ketika Mingyu bertanya kepadanya apakah Shinbi bisa memasak, gadis itu mulai menerka-nerka bahwa tempat kerja Mingyu mungkin adalah restoran atau semacamnya. Shinbi menjawab dengan lugas disertai dengan sebuah gelengan, yang langsung membuat Mingyu tertunduk lesu. Cengiran kaku Shinbi menyusul setelahnya. Lagipula, jika tempat yang mereka tuju sekarang memang benar merupakan restoran, toh, Shinbi memang tidak memiliki niat untuk mengurusi hal-hal yang berkenaan dengan dapur.

Jemari Shinbi mulai menghangat, sementara peluh di lehernya mulai menetes. Shinbi merasa sudah berjalan selama hampir lima menit dan mulai terlihat tak nyaman dengan cuaca panas yang menaungi mereka. Di sampingnya, Mingyu melangkah tanpa banyak bersuara. Pandangannya tetap lurus ke depan, membuat Shinbi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang tengah dipikirkan oleh pemuda ini.

Mungkin tengah menggerutu dalam karena Shinbi memaksanya untuk ikut ke tempat kerjanya? Oh, itu sudah pasti.

Langkah kaki Mingyu tiba-tiba terhenti. Refleks, Shinbi pun melakukan hal yang sama. Gadis itu berasumsi bahwa mungkin mereka telah sampai. Mingyu kemudian memutar badannya, menghadap ke arah bangunan bertingkat dua yang berdiri kokoh di samping mereka. Sebuah plang dengan tulisan berwana hitam dan font-nya yang dibuat meliuk-liuk yang berbunyi ‘Rainbow Dust’ menempel di atas pintu masuk, sengaja diletakkan agak tinggi agar menarik perhatian siapapun pejalan kaki yang melintas. Shinbi mengira ia akan menjumpai berbagai ornamen berbau pelangi tertempel di segala penjuru bangunan, namun alih-alih hanya menemukan tulisan ‘CLOSED’ berwarna merah yang tergantung pada pegangan pintu.

Lantai satu bangunan itu tidak dilapisi dinding tembok, melainkan dinding kaca yang membuat segala aktivitas di dalam tempat tersebut dapat dilihat dari luar. Di dalam bangunan, Shinbi dapat melihat beberapa kursi yang berjejer rapi dan seorang—dalam pandangannya, mungkin?—pelayan yang sedang membersihkan meja yang terletak di sudut ruangan. Beberapa pot bunga warna-warni diletakkan di sepanjang dinding kaca di bagian luar sebagai penghias dan juga berfungsi untuk menyegarkan pandangan.

Shinbi kini semakin bertambah yakin bahwa tempat kerja yang dimaksud Mingyu adalah—yang disinyalir sebagai—restoran bernama Rainbow Dust ini.

“Kau pernah ke sini?” Mingyu bertanya tanpa menoleh ke arah Shinbi. Keduanya masih berdiri terpaku di samping bangunan Rainbow Dust.

“Tidak.” Shinbi menggeleng. “Ini restoran?”

“Lebih tepatnya, café.” Mingyu meralat.

Shinbi manggut-manggut. Bukan tempat yang buruk juga, pikirnya. Gadis itu merasa bahwa ia akan cocok bekerja di sini.

“Tapi, ini bukan seperti café kebanyakan.” Laki-laki itu kembali bersuara.

“Apa?” Shinbi menatap Mingyu, menuntut penjelasan. Laki-laki itu balas menatapnya dan tersenyum samar.

“Masuk saja dan nanti kau juga akan tahu sendiri.”

Shinbi diam. Kata-kata Mingyu barusan yang menjurus pada arti ‘café yang berbeda dari café kebanyakan’ sudah cukup untuk memberinya firasat buruk.

Mingyu mulai melangkah ke arah pintu masuk. “Ayo,” katanya, memberi instruksi kepada Shinbi agar lekas mengekor di belakangnya.

Terlambat untuk berpaling dan mengatakan bahwa ia tiba-tiba merasa takut dan ingin berbalik pulang. Daripada dicap sebagai pengecut dan tidak konsisten, Shinbi buru-buru mengenyahkan segala prasangka buruk yang bercokol dalam pikirannya dan dengan mantap segera melangkah ke depan untuk mengikuti Mingyu. Namun, keberaniannya hanya bertahan sebentar ketika Shinbi telah benar-benar berada di dalam ruangan. Lututnya mendadak terasa gemetar dan perutnya seperti diremas dari dalam. Shinbi grogi.

Untuk membunuh rasa gugupnya, Shinbi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada hal lain. Gadis itu lantas menelisik interior dalam bangunan tersebut dengan seksama. Ruangan yang dimasukinya bersama Mingyu ini mempunyai warna cokelat yang dominan, terlihat dari beberapa ornamen berbahan jenis kayu yang terpasang di sana-sini. Beberapa pilar kayu berdiri sebagai penyekat di antara dinding kaca yang menghadap ke arah luar bangunan. Sementara dinding bagian dalam ruangan terbuat dari kayu. Beberapa lampu gantung dipasang di langit-langit, selain ditujukan untuk penerangan, tampaknya lampu-lampu tersebut juga dimaksudkan sebagai penghias ruangan. Cahaya lampu yang redup membuat atmosfir di dalam café terasa hangat. Shinbi rasanya tak habis pikir; lantas darimana datangnya ide untuk menamai café ini dengan nama ‘Rainbow Dust’ jika tak ada interior warna-warni di dalam sini?

Ruangan café tersebut dibuat memanjang, di kanan-kirinya Shinbi dapat melihat meja-meja yang tertata rapi. Masing-masing meja rata-rata memiliki empat buah kursi yang mengelilinya. Berlawanan dengan dugaan Shinbi, ternyata jumlah meja di ruangan ini tidaklah cukup banyak. Mungkin hanya ada enam di bagian kiri, dan enam buah lagi di bagian kanan. Di sudut kanan, ada sebuah ruangan yang dibuat menjorok ke dalam. Pintunya dalam keadaan tertutup, sepertinya diperuntukkan sebagai kamar kecil. Di tengah-tengah ruangan, Shinbi melihat adanya lorong kecil menuju ke sebuah anak tangga dan hanya disinari oleh cahaya temaram dari lampu yang menggantung. Di dindingnya terdapat sebuah kertas yang bertuliskan ‘Staff Only’, membuat Shinbi berasumsi bahwa bagian ruangan tersebut adalah yang paling jarang terjamah oleh para tamu café.

“Oh, Mingyu! Baru datang rupanya!”

Pelayan yang barusan dilihat Shinbi dari luar sedang membersihkan meja langsung menghampiri keduanya yang baru mencapai pintu masuk. Seluruh daya penglihatan Shinbi secara refleks kembali bereaksi, mengamati laki-laki berperawakan pendek dengan rambut berwarna kecokelatan tersebut dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Bentuk wajahnya agak bulat dan tulang pipinya menonjol. Ia mengenakan kemeja putih yang dilapisi rompi berwarna hitam yang keseluruh kancingnya dalam kondisi saling mengait, tertutup sempurna. Seuntai dasi bertengger manis di bawah kerah kemejanya. Tak ketinggalan, celana panjang hitam berbahan kain yang dikenakannya pun tampak rapi dan licin seperti baru disetrika. Ujung sepatu hitamnya mengilat dan memantulkan cahaya. Entah memang sepatu baru atau sang empunya yang kelewat apik selalu menyemirnya setiap hari.

Shinbi mengangkat sebelah alisnya, heran. Penampilan seperti ini rasa-rasanya kurang cocok jika hanya dikategorikan sebagai jabatan pelayan. Mungkin, laki-laki ini adalah manajer yang lebih telaten daripada karyawannya sendiri sehingga memutuskan untuk datang lebih awal untuk membersihkan café. Tapi, tunggu. Usianya masih terlihat begitu muda jika harus menyandang status sebagai manajer. Terlihat dari wajahnya yang Shinbi taksir umurnya pun tak lebih jauh di atasnya ataupun Mingyu.

“Lekaslah bersiap! Kita akan buka dalam beberapa menit lagi dan sampai sekarang baru sedikit di antara kita yang telah datang. Seungcheol, Junhui, dan Hoshi ada di ruang ganti—dan, oh, maaf, kau temannya Mingyu, ya?” laki-laki itu dengan cepat mengubah eskpresinya ketika matanya menangkap sosok Shinbi.

Shinbi membungkukkan badan, menunjukkan sikap seformal meungkin. Tak lupa menambahkan seulas senyum manis sebagai formalitas. Bagaimanapun, ia harus menciptakan kesan awal yang baik jika nantinya ia benar-benar akan diterima bekerja di tempat ini.

Laki-laki itu balas tersenyum kemudian menarik tubuh Mingyu agar bergeser sedikit dari posisinya. Sengaja agar ucapannya tidak terdengar oleh Shinbi. “Kenapa kau bawa teman wanitamu ke sini? Dia teman sekolahmu?”

“Nanti kujelaskan.” Mingyu menepis tangan rekannya itu dan kembali kepada Shinbi, mempersilakan gadis itu untuk duduk di kursi terdekat.

“Aku akan bicara dengan bos kami terlebih dahulu. Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali.” Mingyu tersenyum sebelum meninggalkan Shinbi. Gadis itu mengangguk meskipun tidak membalas ucapannya. Senyuman teduh Mingyu berhasil mengurangi rasa gugupnya barang sedikit. Sedetik kemudian, Mingyu berjalan lurus menuju lorong ke anak tangga dan sosoknya menghilang ketika berbelok ke lantai dua.

Tinggalah Shinbi dan laki-laki itu berdua. Dia kemudian menghampiri Shinbi seraya tersenyum ramah. “Buatlah dirimu senyaman mungkin.”

Shinbi mengangguk, mengucapkan terima kasih dan diam-diam merasa terpana akan tingkah lakunya yang begitu sopan. Laki-laki itu memperlakukannya bak seorang tamu meskipun Shinbi hanya ‘menumpang duduk’ di salah satu kursi. Ia bahkan membawakannya segelas air yang membuat gadis itu seketika merasa sungkan.

“Terima kasih, tidak usah repot-repot,” ujar Shinbi salah tingkah.

Shinbi salah mengira laki-laki itu akan kembali pada kegiatannya membersihkan meja-meja lainnya usai mengantarkan segelas air ke mejanya. Setelah mempersilakan Shinbi minum, laki-laki itu kembali bersuara.

“Namaku Boo.” ujarnya memperkenalkan diri (yang hampir membuat Shinbi tersedak oleh air putih yang diminumnya; orangtua iseng mana yang kurang kerjaan menamai anaknya seperti itu?).

“Yah, kau bisa panggil aku begitu.” Dia tersenyum lagi.

Masih dengan salah tingkah, Shinbi membalas senyumnya. “Namaku Hwang Shinbi.”

“Kau teman sekolahnya Mingyu, ya?”

Um, ya, kami teman sekelas.”

“Wah, kelihatannya aku harus banyak berkenalan dengan teman-teman wanita di sekolah Mingyu jika ingin mendapatkan pacar yang cantik seperti ini. Omong-omong, kau sudah berapa lama berpacaran dengan Mingyu, Shinbi?”

Boo berusaha berkelakar, namun kesan humornya dengan cepat melenyap ketika Shinbi mendengar rentetan kalimat terakhir yang diucapkannya.

“Eh, apa? Tidak, kami—“

“Wah, sudah ada tamu yang datang rupanya! Selamat datang!” seruan heboh yang datang dari arah belakang Boo menyela klarifikasi yang baru akan diutarakan oleh Shinbi. Seorang laki-laki, dengan pakaian serupa yang dikenakan oleh Boo, berjalan dari arah lorongmenghampiri mereka. Dia tersenyum lebar ketika melihat sosok Shinbi.

“Kupikir kita buka lebih awal hari ini gara-gara Dasom, tapi rupanya ada tamu lain yang datang lebih awal. Biar kutebak. Dia…, sepertinya wajah baru—“

Boo buru-buru menyela, masih sambil menatap Shinbi. “Tidak usah hiraukan dia. Silakan menunggu senyaman mungkin, oke?” ujarnya. Senyum yang semula dipertahankannya kini berganti dengan ekspresi jengah ketika bertatapan dengan laki-laki di sampingnya. “Lebih baik Hyung bantu aku membersihkan ruangan.”

“Apa? Tunggu. Tapi kelihatannya dia belum memesan—hei, Seungkwan!”

Boo—yang namun juga dipanggil dengan nama Seungkwan—menarik lengan laki-laki itu agar menjauh dari Shinbi.

“Ayolah, Seungcheol Hyung! Sebentar lagi tamu-tamu pasti akan datang! Kita harus lekas bersiap-siap.”

Dari jarak sekitar tiga meter, Shinbi dapat mendengar laki-laki yang dipanggil Seungcheol itu menggerutu ketika Seungkwan memberinya kain lap untuk membersihkan meja. Gadis itu diam-diam menghembuskan napas lega. Pribadi introvert yang dimilikinya membuat Shinbi lebih nyaman menghabiskan waktu seorang diri ketimbang dikelilingi oleh orang banyak. Lagipula dengan begini, Shinbi jadi punya lebih banyak waktu untuk merenungkan apa saja yang akan diutarakannya setelah ini jika Mingyu berhasil meminta izin kepada bos mereka agar Shinbi dapat bekerja di café ini.

Tindakannya ini memang terbilang cukup nekat. Hanya dengan berpikir bahwa Mingyu dapat bekerja paruh waktu dengan statusnya yang masih merupakan murid SMA, Shinbi berharap bahwa ia dapat mengikuti jejak laki-laki itu dan memohon kepada Mingyu untuk membawanya ke sini—tanpa persiapan yang memadai. Shinbi melupakan hal-hal seperti berkas-berkas yang menyangkut CV dan data diri. Mungkin saja café ini memberlakukan persyaratan seperti itu bagi orang yang ingin melamar bekerja, termasuk murid sekolah sekalipun. Sekarang, bagaimana ceritanya jika dia sama sekali tidak membawa bekal apapun? Meski hanya mengincar posisi sebagai tenaga pembersih atau pelayan, tetap saja Shinbi takut bahwa semua tetek-bengek seperti dokumen-dokumen itu akan menjadi penentu apakah Shinbi akan dapat diterima bekerja di sini atau tidak.

Sejenak Shinbi melupakan soal Minhyun, dan kedua orangtuanya. Shinbi belum memikirkan bagaimana reaksi Minhyun dan orangtuanya apabila mengetahui putri bungsu keluarga Hwang ini memutuskan untuk bekerja tanpa sepengetahuan mereka, dan memang belum berani membayangkannya. Mungkin dia akan dimarahi? Atau dihukum?

Shinbi mengangkat satu tangannya ke atas meja dan bertopang dagu. Daripada terus membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk itu, Shinbi merasa lebih baik ia memikirkan hal-hal apa saja yang harus diutarakannya kepada atasan Mingyu nanti kalau-kalau ia diminta untuk menjalani tes wawancara untuk bekerja di café ini. Soal perizinan dari keluarganya akan ia pikirkan lain waktu. Yah, lagipula dimarahi tidak akan lebih buruk dibandingkan dengan tidak bisa mendapatkan biaya untuk berkuliah, pikirnya.

Mingyu telah kembali dan menyuruh Shinbi untuk ikut bersamanya menaiki tangga. Shinbi menurut dan segera beringsut dari kursi untuk menghampiri laki-laki itu. Rasa gugup gadis itu kembali muncul tatkala ia dan Mingyu berjalan menyusuri lorong yang terhubung dengan anak tangga.

Sama halnya seperti barusan, Shinbi berusaha menajamkan pandangannya guna mengamati seluk beluk café. Sebelum mencapai anak tangga, gadis itu melihat sebuah ruangan di sebelah kanan. Pintunya dibiarkan terbuka. Aroma harum masakan tercium jelas dari sana. Shinbi dapat langsung tahu bahwa ruangan tersebut pasti berfungsi sebagai di dapur. Ketika melewatinya, sekilas Shinbi dapat melihat tiga orang sosok yang mengenakan seragam putih dan apron, serta topi chef yang menempel di atas kepala mereka, sedang sibuk melakukan pekerjaannya di dalam sana. Dua orang—anak laki-laki dan perempuan—kebetulan sedang menghadap ke arah pintu sambil mengocok adonan—Shinbi mengiranya sebagai adonan kue?—ketika Shinbi dan Mingyu melintas di depan ruangan itu. Si anak perempuan, berambut hitam panjang dan bermata bulat, yang pertama kali menyadari kehadiran mereka lalu menyeletuk riang.

“Halo, Mingyu Oppa!” sapanya antusias dengan senyum yang mengembang. Sebelah tangannya melambai di udara. Matanya ikut menangkap sosok Shinbi yang berjalan di belakang Mingyu kemudian tak ketinggalan turut menyapa gadis itu.

“Oh, halo!” gadis itu sedikit membungkuk. Ketika kepalanya kembali terangkat, Shinbi melihat gadis itu masih tersenyum ke arahnya. Shinbi ikut membungkuk dan balas tersenyum.

Sedangkan anak laki-laki di sampingnya, baru mengangkat kepala begitu si anak perempuan berseru untuk menyapa Mingyu.

“Halo, Hyung!”

 “Halo, Yeri! Halo, Chan!” Mingyu balas melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.

“Yeri, Chan, adonannya! Aku membutuhkannya sekarang untuk dipanggang!”

Satu sosok lagi di dalam ruangan berseru. Shinbi tidak dapat melihat rupanya akibat posisinya yang membelakangi pintu. Begitu mendengar komando dadakan itu, Yeri dan Chan kembali pada aktivitasnya masing-masing dan terlihat kelimpungan.

“Ah, iya, tunggu sebentar!”

Shinbi ingin tertawa melihat tingkah anak-anak itu. Di matanya, Yeri dan Chan masih terlihat sangat muda. Bahkan dua orang pelayan yang menyambutnya barusan—Seungkwan dan Seungcheol—pun terbilang cukup muda jika ditilik dari penampilannya. Apakah memang café ini banyak memperkerjakan anak-anak muda di usia sekolah?

Sambil berpikir, Shinbi terus mengikuti langkah Mingyu berlalu dari dapur kemudian sampai di anak tangga paling bawah. Tiba-tiba Shinbi teringat apa tujuan Mingyu membawanya ke lantai dua. Barusan laki-laki itu bilang bahwa bosnya—pemilik café ini—ingin mewawancarai Shinbi untuk bekerja.

“Jadi, apa aku boleh bekerja?” tanya Shinbi ragu-ragu saat keduanya sudah mulai meniti anak tangga. Mingyu berada sedikit di depan darinya.

“Kurasa iya. Kami kebetulan memang sedang membutuhkan tenaga tambahan di café ini.” Mingyu menyahut dari depan. Keduanya sudah hampir sampai di lantai dua.

“Maaf, ya.” ujar Shinbi lirih di belakang.

Nada suara Mingyu terdengar heran, “Untuk?”

“Aku merasa lancang. Tanpa pikir panjang memintamu membawaku kemari dan mencarikanku pekerjaan.”

“Yah, meskipun mulanya aku juga cukup terkejut. Tak apa, toh, kebetulan seingatku café ini juga sedang membuka lowongan pekerjaan.”

Di balik tubuh jangkungnya, Shinbi mendengar suara Mingyu yang terkekeh pelan.

Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu yang Shinbi duga sebagai ruangan tempat atasan Mingyu berdiam diri.

“Ini ruangan bos kami. Namanya Kim Yoo Jung. Dia pemilik sekaligus pengelola café ini. Masuk dan rileks saja di dalam. Mungkin dia hanya akan bertanya beberapa pertanyaan.” jelas Mingyu.

“Eh, maksudmu aku tidak perlu membawa berkas atau semacamnya?” tanya Shinbi heran, dan cukup terkejut tentunya.  Gadis itu tak menyangka kalau ia akan langsung menjalani wawancara.

“Untuk apa?” Mingyu balas bertanya dengan ekspresi heran.

“Yah, kau tahulah, seperti berkas-berkas yang ditujukan ketika kau ingin melamar pekerjaan.”

“Oh, kami tak butuh yang seperti itu. Sewaktu aku pertama kali datang ke sini pun, aku hanya ditanyai dan langsung diperbolehkan untuk bekerja.”

“Benarkah?” Shinbi kelihatannya tak percaya.

“Yah, kecuali,” Mingyu berganti memasang tampang curiga lantas mendekatkan wajahnya ke arah Shinbi sehingga gadis itu refleks mengambil langkah mundur.

“kecuali kalau kau memang punya catatan kriminal. Tapi, toh, kau hanya siswa SMA biasa, kan?” Mingyu bertanya jahil. Dan Shinbi baru mengerti bahwa laki-laki itu baru saja melontarkan lelucon untuk menggodanya.

Shinbi menunjukkan wajah kesal, “Kau tidak perlu khawatir, catatanku bersih.”

“Baguslah.” Mingyu lantas menjauhkan wajahnya dari Shinbi. “Kalau begitu, good luck! Aku akan kembali ke bawah karena ada pekerjaan yang sudah menungguku.”

Shinbi menganggukkan kepala, kemudian mengulas senyuman tipis sebelum Mingyu kembali menuruni anak tangga.

Gadis itu lalu mengedarkan matanya ke sekeliling. Lantai dua, bangunan paling atas—tampaknya. Interiornya tidak jauh berbeda dengan yang ada di lantai bawah, hanya saja di sini tidak ada kursi-kursi yang berjejer. Dindingnya pun seluruhnya terbuat dari tembok, berbeda dengan lantai pertama yang sebagian terdiri dari dinding kaca, di sini hanya ada beberapa jendela yang memberi akses masuk terhadap cahaya matahari.

Di sebelah kiri Shinbi, jika berjalan lurus terus maka akan terlihat ruangan lain. Ada tiga ruangan yang satu pintunya dalam keadaan terbuka lebar. Itu pantry, terlihat dari tulisan yang menggantung di atas pintu. Satu ruangan lagi mungkin toilet, dan satu ruangan lagi mungkin diperuntukkan bagi para staff. Semacam ruang untuk beristirahat, mungkin?

Shinbi berhenti mengira-ngira kemudian mulai mengumpulkan keberaniannya secara perlahan-lahan lantas menarik napas, membuangnya, dan terus melakukan hal yang serupa sebelum akhirnya ia merasa sedikit relaks. Tak berapa lama, sebelah tangannya teracung di udara dan mulai mengetuk pintu di hadapannya.

Dua kali ketukan, suara seorang wanita menyahut dari dalam.

“Ya, silakan masuk.”

Shinbi menarik napas lagi sebelum menarik pegangan pintu. Ia memasuki ruangan dengan hati-hati. Sesaat tubuhnya kembali merasakan dingin begitu menatap sosok yang kini sedang duduk di balik meja.

Seorang wanita dengan rambut panjang tergerai berwarna cokelat madu menyapanya dengan hangat, “Halo, kau pasti temannya Mingyu, ya?”

“I-iya.”

Shinbi berusaha menunjukkan sikap sesopan mungkin yang alih-alih membuatnya terlihat sangat tegang dan kaku. Wanita bernama Kim Yoojung itu tertawa kecil melihat tingkahnya.

“Tidak perlu tegang begitu, tenang saja. Aku tidak akan berlaku keras terhadapmu. Sekarang, silakan duduk.” Yoojung menunjuk kursi kosong yang persis berhadapan dengan mejanya. Shinbi menurut.

“Terima kasih.”

Mengikis rasa tegangnya, Shinbi berusaha untuk kembali mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Ia melihat ruangan tersebut sekilas. Rapi, meski tidak terlalu luas, dan masih dihiasi dengan ornamen-ornamen bernuansa kayu yang sangat kental. Lantainya dilapisi karpet berwarna merah marun. Ada dua pasang jendela pada ruangan itu yang mampu membuat ruangan menjadi terang tanpa harus menyalakan lampu di siang hari. Rak buku berdiri kokoh di belakang Yoojung. Di mejanya, terdapat secangkir—Shinbi menduga bahwa itu adalah teh, dari aromanya. Wangi pohon pinus tercium semerbak di sana-sini. Benar-benar ruangan yang menyirikan tipikal khas wanita.

“Kau mau teh?” tawaran Yoojung membawa Shinbi kembali ke alam sadar.

“Oh, eh, tidak usah, Sajangnim.” Shinbi menggeleng kikuk.

“Ya ampun, jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kedengarannya kolot sekali.” Yoojung terkekeh lagi. “Biasanya para pegawaiku hanya memanggilku dengan panggilan Noona, tapi kelihatannya akan ada yang memanggilku Unnie sekarang. Kau pasti mengiraku sok muda, tapi memang begitulah kenyataannya. Aku hanya berselisih beberapa tahun dari umur kalian, kalau kau memang memercayainya.”

Shinbi tertawa mendengarnya. Yoojung sepertinya ingin menghapus ketegangan yang tengah dirasakan oleh Shinbi, dan tampaknya caranya tersebut cukup berhasil.

“Jadi, katakan mengapa kau ingin bekerja di sini, Shinbi—eh, benar, ‘kan itu namamu?”

Shinbi mengangguk lagi, lalu mulai menceritakan alasan mengapa ia mencari pekerjaan. Gadis itu hanya menyebutkan bahwa ia ingin menabung demi biaya kuliahnya, dan sama sekali tidak menyinggung soal keadaan ekonomi keluarganya, ataupun tentang izin bekerja yang sebenarnya belum ia dapatkan dari Minhyun maupun kedua orangtuanya.

Yoojung menyimak dengan antusias dan tanpa menyela. Gadis itu kemudian menyesap teh panasnya ketika dirasanya Shinbi telah usai menyampaikan ceritanya.

“Jadi, apa kau bisa memasak, Shinbi?” tanya Yoojung, langsung pada sasaran.

Shinbi sedikit merasa kecewa karena Yoojung tampaknya tidak terlalu tertarik dengan jawabannya dan tidak memberikan komentar barang sedikit, lalu dengan cepat gadis itu menggeleng sebagai jawaban.

“Sayangnya, saya kurang bisa memasak. Tapi, saya berjanji akan menerima tugas apa saja bila diperkenankan untuk bekerja di sini.”

“Sebenarnya, dapur tidak terlalu membutuhkan tenaga tambahan.” Yoojung terlihat menimang-nimang sembari mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu. “Apalagi Taehyung juga selalu tidak sabaran jika menghadapi anak baru di dapurnya—oh, maaf, maksudku, ada pekerjaan lain untukmu, Shinbi. Kurasa kau bisa melakukannya.” ujar Yoojung lagi.

Shinbi menyambutnya dengan pancaran mata penuh antusias. “Terima kasih. Kalau boleh saya tahu, pekerjaan apa itu?”

“Tapi, mungkin ini akan sedikit berat untuk seorang wanita. Tapi, memang sepertinya aku tidak punya jalan lain. Akhir-akhir ini café kami selalu sibuk, sedangkan jika aku mengandalkan 12 orang laki-laki itu pun rasanya tidak mungkin jika mengingat jumlah pelanggan yang teramat banyak yang selalu datang setiap harinya. Jadi, kuharap kau bisa membantuku, Shinbi.” Yoojung memunculkan jeda sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Apa kau keberatan jika aku menempatkanmu sebagai tenaga pembersih di café ini, Shinbi?”

“Tidak sama sekali. Saya bisa melakukannya.” Shinbi menjawab dengan mantap sekaligus senang. Memang tugas seperti ini yang diincarnya.

“Oh, syukurlah. Tapi rasanya aku tidak akan tega membiarkanmu membersihkan café seorang diri. Sebenarnya, setiap harinya akan ada 2 pelayan yang bertugas untuk membersihkan café secara bergiliran. Kau bisa meminta bantuan mereka jika nanti kalau-kalau kau merasa kesulitan. Mereka pasti akan membantumu—tidak, maksudku, akan kusuruh mereka untuk membantumu.” jelas Yoojung.

“Baik, saya mengerti. Jadi, apakah saya sudah diterima di café ini, um, Unnie?” tanya Shinbi ragu-ragu.

“Ya, kau boleh bekerja mulai besok. Akan kusiapkan seragam untukmu. Untuk jam kerja, karena kau juga sama-sama masih duduk di bangku sekolah seperti Mingyu dan beberapa orang lainnya, aku hanya akan memintamu untuk bekerja dari jam 5 sore sampai jam 9 malam. Dengan waktu satu jam untuk berisitirahat makan malam. Bagaimana?”

“Baik, Unnie. Saya mengerti.”

“Oh, aku hampir lupa tidak menyinggung soal upah! Ah, tapi soal ini aku tidak terlalu suka terlalu gamblang dalam mengutarakannya. Apa kau punya teman satu sekolah yang sama-sama bekerja paruh waktu? Tanyakan padanya, berapa gajinya, dua kali dari gajinya itu yang akan kau dapatkan bila bekerja di café ini.”

Kedua mata Shinbi langsung membola.

“Kau boleh tanyakan Mingyu, jika kau tidak percaya.” Yoojung tersenyum simpul, kemudian mengambil kembali cangkir tehnya dan menyesap isinya.

“Apa ada yang ingin ditanyakan lagi, Shinbi?”

“Ti-tidak. Semuanya sudah cukup jelas. Terima kasih banyak, Yoojung Unnie.”

“Oh ya, semua pegawai di sini keseluruhannya berjumlah 15 orang. Denganmu akan menjadi 16 orang. Memang cukup ramai, tapi cobalah bergaul dengan mereka semua. Pekerjaanmu akan menjadi terasa lebih menyenangkan.”

Shinbi mengiyakan saja, walaupun tidak terlalu menangkap maksud Yoojung. Baginya, tentu saja bekerja dalam kelompok yang lebih kecil akan lebih memudahkannya ketimbang berada dalam kumpulan orang banyak.

Setelahnya, Yoojung mempersilakan Shinbi untuk pulang dan mempersiapkan diri untuk bekerja esok hari. Sambil menuruni anak tangga, gadis itu tak hentinya mengucap syukur dalam hati. Kalau bukan karena Mingyu—dan memaksa laki-laki itu untuk mengantarkannya kemari—ia mungkin akan terus kebingungan dalam mencari tempat kerja. Shinbi bertekad, sebelum benar-benar berpamitan pulang dari café ini ia akan mencari Mingyu untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya yang dalam.

Shinbi kembali melewati dapur. Sosok Yeri dan Chan masih terlihat berada di dalam sana, namun kali ini tidak setenang barusan karena dilihatnya Yeri sibuk berjalan mondar-mandir, mungkin sedang menyiapkan masakan satu lalu berpindah ke masakan lainnya. Sementara Chan, laki-laki itu sedang berdiri di sebelah seorang chef—yang barusan rupanya tidak terlihat oleh Shinbi dan Mingyu—kelihatannya ia pun tengah antusias dalam mendengarkan setiap intruksi yang sedang diberikan oleh sosok chef di sebelahnya itu. Dalam sekejap, Shinbi dapat merasakan atmosfir kesibukan dari dalam sana. Shinbi merasa beruntung karena dirinya tidak harus ditempatkan di bagian dapur, sebab dari dulu ia paling tidak bisa bersahabat dengan yang namanya memasak. Salah satu kebiasaan buruknya yang sampai saat selalu disesali oleh Nyonya Hwang, ibunya.

“Oh, Nona, sedang apa kau di sini?”

Sosok Seungcheol yang tiba-tiba keluar dari ruangan dapur sedikit mengejutkan Shinbi. Laki-laki dengan setelan formal itu menatap Shinbi heran.

“O-oh, saya, anu, barusan—“ Shinbi menunjukkan ke arah anak tangga dan hendak menjelaskan bahwa dirinya baru saja melamar pekerjaan di café ini. Namun, otaknya kesulitan untuk merangkai kata-kata karena masih terbawa efek terkejut, jadi yang berhasil ia lontarkan hanyalah jawaban yang kelihatannya sama sekali tidak berkesinambungan.

“—um, dari atas, itu..”

Seungcheol mengikuti arah tunjuk Shinbi namun sama sekali tidak dapat mencerna ucapan gadis itu.

“Apa Nona habis dari toilet? Kalau begitu, di mana butler Nona?”

“Hah? Apa?” Shinbi mengerutkan dahi, gagal mengerti apa yang barusan ditanyakan oleh Seungcheol. Tadi laki-laki itu bilang apa? Butler? Butter? Mentega?

“Kalau begitu, mari saya antarkan Nona kembali ke meja.” Seungcheol membungkuk, menengadahkan sebelah tangannya ke depan dan membuat gestur untuk mempersilakan Shinbi agar berjalan lebih dulu di depannya. Tetapi, gadis itu bergeming, masih terlampau heran.

“Nona?” Seungcheol memanggilnya kembali. “Mari ikut saya.”

Shinbi masih merasa bingung, namun tetap mengikuti Seungcheol yang menuntunnya untuk kembali ke meja. Begitu keluar dari lorong, Shinbi dapat mendengar alunan musik klasik yang terdengar di seluruh penjuru ruangan. Rupanya café sudah mulai dibuka, dan beberapa tamu mulai terlihat mendiami bangku sembari bersenda gurau. Semuanya adalah wanita, berjumlah empat orang orang. Satu orang mendiami kursi di dekat pintu masuk, satu orang lagi mengambil tempat yang letaknya berada di dekat tengah-tengah ruangan, dan sisa dua orang lagi mendiami meja paling sudut, di seberang ruangan yang Shinbi duga sebagai kamar kecil. Ada seorang pelayan yang kelihatannya sedang mencatat pesanan kedua orang itu. Wajah yang begitu asing di mata Shinbi, karena sosok tersebut bukanlah Seungkwan maupun Mingyu. Tubuhnya cukup tinggi dan rambutnya agak panjang melebihi telinga. Ketika pelayan itu berbalik, ia dan Shinbi tanpa sengaja saling menatap. Pelayan laki-laki itu dengan segera membungkukkan badan sebagai sikap hormat, yang lagi-lagi membuat Shinbi salah tingkah; mengapa pelayan-pelayan di café ini terkesan sangat sopan?

Shinbi balas membungkuk meski dengan raut kikuk. Walaupun sopan, namun pelayan ini terlihat berbeda dari Seungkwan yang murah senyum. Ketika mereka bertatapan, pelayan tersebut hanya menampilkan ekspresi datar.

“Silakan duduk, Nona.” Seungcheol kembali mengantarkan Shinbi ke kursi yang barusan ia tempati. Gadis itu telah kehilangan niat untuk membantah dan langsung mendudukinya tanpa pikir panjang. Otaknya sibuk memikirkan hal-hal yang ‘tak biasa’ yang dilihatnya di café ini.

“Maaf, karena hari ini kami buka lebih awal, para staff kami belum terlalu banyak yang datang. Saya pun harus melayani meja lain, mohon pengertiannya.” Seungcheol membungkuk hormat. Shinbi lagi-lagi merasa sungkan.

“Ti-tidak apa-apa, sungguh, saya pun sebenarnya tidak—“

“Semua staff sedang melayani tamu yang telah datang, tapi kelihatannya saya tahu siapa yang kiranya bisa melayani Nona. Sebentar, tunggulah di sini. Akan saya panggilkan. Sekali lagi, saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya.”

Shinbi ingin mengelak, namun kelihatannya Seungcheol tidak mendengarkan dan terlanjur berbalik memasuki lorong khusus para staff.

Begitu banyak tanda tanya yang kemudian menggelayuti benak gadis itu. Seingatnya barusan, ketika pertama kali mereka bertemu, Seungcheol terlihat sebagai sosok yang periang, tapi kenapa mendadak laki-laki itu berubah menjadi kalem begini di depannya? Lalu barusan, Seungcheol sempat menyinggung satu buah kosakata yang tidak dimengerti oleh Shinbi. Apa yang barusan itu? Butter? Turtle? Mengapa pula Seungcheol tiba-tiba menanyakannya tentang mentega? Atau hewan?

Dari arah lorong, sosok Seungkwan muncul tiba-tiba sambil membawa nampan yang berisikan gelas dan beberapa piring di atasnya. Shinbi sontak mengarahkan pandangannya pada lelaki itu, namun yang tengah diperhatikan kelihatannya justru tidak terlalu menyadari kehadiran Shinbi kembali. Shinbi lalu melihat Seungkwan berjalan ke arah meja yang terletak di dekat pintu masuk. Seorang gadis muda, yang Shinbi taksir kira-kira usianya awal 20-an, menyambut kedatangan Seungkwan dengan tersenyum lebar. Seungkwan membungkuk terlebih dahulu, kemudian dengan cekatan segera meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya di atas meja.

Shinbi mengira bahwa setelahnya Seungkwan akan kembali membungkukkan badan untuk berpamitan, setelah itu berbalik meninggalkan meja. Namun, apa yang tengah dilihatnya sekarang membuat Shinbi membulatkan mata.

Seungkwan ikut mendudukkan dirinya. Di hadapan gadis itu. Masih di satu meja yang sama. Ya, Shinbi benar-benar tak salah lihat. Mereka saling duduk berhadapan kemudian terlihat mengobrol akrab satu sama lain dan—Shinbi rasanya ingin makin melotot. Mengapa Seungkwan tiba-tiba memegang tangan gadis itu?

Mengapa mereka berdua malah terlihat seperti orang yang sedang berpacaran?

Hah! Shinbi buru-buru menepis pemikirannya itu. Mungkin saja gadis itu sebenarnya bukanlah tamu, namun hampir sama seperti dirinya, ya, mungkin saja gadis itu sebenarnya adalah kekasihnya Seungkwan lalu Seungkwan menyuruhnya untuk duduk di sini dan memesankannya makanan, sama seperti yang Mingyu lakukan kepadanya barusan. Tapi, Mingyu tidak membawakannya makanan dan tidak berprilaku sesopan dan sehormat Seungkwan pada gadis itu. Jadi, sebenarnya apa yang—

Belum sempat Shinbi menyelesaikan analisanya, pintu café tiba-tiba terbuka dan Shinbi harus kembali dikejutkan oleh hal lain. Kim Mingyu, memasuki café dengan wajah berseri-seri, menggandeng seorang gadis—iya, lagi-lagi gadis—di sebelahnya. Mingyu dengan seragam pelayannya baru saja masuk ke dalam café dengan seorang gadis dan terlihat begitu mesra.

Tunggu.

Sebenarnya café macam apa ini?!

Shinbi terlihat tak habis pikir, bingung, heran, terkejut, dan berbagai ekspresi lainnya yang membuat raut wajahnya semakin terlihat aneh. Gadis itu bergantian menatap ke arah meja Seungkwan, lalu kepada Mingyu yang baru saja mempersilakan gadis yang barusan digandengnya itu untuk duduk di kursi. Shinbi terus menatap keduanya seperti orang bodoh.

Dan akhirnya, gadis itu merasa telah sampai pada suatu kesimpulan. Mingyu, Seungkwan, Seungcheol… semuanya bersikap manis di hadapan para tamu mereka—yang keseluruhannya adalah perempuan.

Tunggu. Mungkin ada yang salah.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?”

Suara seorang lelaki menyentak lamunan Shinbi. Gadis itu lalu menengadah, dan menatap sosok laki-laki yang tahu-tahu sudah berdiri di samping mejanya, dengan sebuah pensil dan notes yang telah berada dalam genggaman. Lagi, kedua mata Shinbi kembali membola bersamaan. Dari semua kejadian aneh yang dilihatnya di dalam café ini, kelihatannya ini adalah yang paling mengejutkan bagi Shinbi.

Gadis itu tak berkutik dan hanya bisa terpaku di tempat. Dan sepertinya, si laki-laki pun ikut mengalami hal yang serupa yang tengah dirasakan oleh Shinbi. Keduanya sama-sama tak bergerak.

Masih dengan raut wajah tak percaya, Shinbi mencoba memberanikan dirinya untuk bersuara.

“Soonyoung?”

***

welcome to Rainbow Dust and meet the staffs!

Hwang Shinbi (cleaning service) (our main cast also yeay)

owner

Kim Yoojung

butlers

sengaja gede biar bening o/

(from left to right)

1st row; Choi Seungcheol (Coups), Yoon Junghan (Cheonsa), Hong Jisoo (Joshua), Wen Jun Hui (Jun)

2nd row; Kwon Soonyoung (Hoshi), Jeon Wonwoo (Beanie), Lee Jihoon (Woozi), Lee Seokmin (Dokyum)

3rd row; Kim Mingyu (Ming), Xu Ming Hao (Myungho), Boo Seungkwan (Boo), Choi Hansol (Vernon)

chefs

Kim Yeri (Yoojung’s little sister), Kim Taehyung (the head chef), Lee Chan (he) (misah sendiri) (maapin)

others

Hwang Minhyun (Shinbi’s older brother), Jung Eunha (Shinbi, Soonyoung, & Mingyu’s classmate)

Yoon Bora (teacher), Kim Dasom (a loyal customer, especially towards Mingyu) (a girl whom Mingyu brought in to the cafe)

—–

a/n lagi : 

-nulis ini karena lagi kesengsem sama seventeen (yes sebut saja saya noona girang)

-tak kenal maka tak sayang, jadi biar sayang boleh atuh kenalan sama seventeen buat yang belum kenal. ini teaser mereka https://www.youtube.com/watch?v=4AHvYeUbK0Y, ini mv-nya https://www.youtube.com/watch?v=9rUFQJrCT7M, ini perform mereka pas showcase (shining diamond) https://www.youtube.com/watch?v=T0QBNrkuFks (adore u) https://www.youtube.com/watch?v=I6XQFZp-xpU. coba kenalan siapa tau suka dan siapa tau kita bisa jadi chingu yesh.

-btw ini ceritanya bertemakan butler cafe. yang kurang paham, mangga, silakan google. saya belum pernah ke butler cafe juga sih btw, pengen tapi yha (ah ketauan jomblo)

-using Hwang Shinbi instead of Hwang Eunbi biar gak ketuker sama nama aslinya Eunha. dan untuk Yeri, dibanding nama ‘Yerim’ saya lebih suka panggil dia Yeri sih. :3

-ada nama alternatif yang ditulis setelah nama asli masing-masing member di profile butlers. buat apa? liat aja sendiri di chapter berikutnya. itupun kalo beneran lanjut. /dibakar

-terakhir, kebiasaan (jelek) saya. narasinya kepanjangan ya maapin. ke depannya in sha Allah bakal improved OTL

-terakhir lagi, doakan supaya fanfic ini tetap berlanjut sampai akhir (aamiin).

-terakhir lagi lagi, qu sedih penghuni ffindo makin sepi hix.

-terakhir lagi janji ini terakhir, jangan tanya soal team xoxo yhahaha.

drop your comments below so i could know your responses towards this crack fic. terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca, kata mingyu o/

26 responses to “Rainbow Dust – Welcome!

  1. wohooooo ff pertama yg castnya seventeen yg aku baca!~ padahal juga lagi kepikiran u/ buat ff dengan cast seventeen wkwk aku juga lagi kesemsem sama seventeen nih esp wonwoo uri one-wu~ wkwk aku suka bgt bahasanya, berasa lagi nonton dorama (aku mikir ini sih mirip dorama dibanding drama) daaaan, bingung disini lead cast cowoknya mingyu apa soonyoung?:/
    lanjutannya ditunggu! fighting neee!

    • KOMEN PERTAMAAA HUWAAA ;_; /peluk/ /dibuang/
      Ini juga saya pertama kalinya bikin ff cast mereka. Deg-degan(?) takut hasilnya tidak memuaskan :’D tapi emang gak pernah memuaskan juga sih (yha).
      Woalah wonwoo stan huehe ditunggu loh ff seventeen-nya, barangkali mau buat yang cast-nya wonwoo atau yang lain, ditunggu sekali xD mengingat ff mereka masih sangat sedikit heu.
      Sebenernya di antara kedua cowok itu sih huehe tunggu saja. Btw makasih banget udah nyempetin baca yaaa (*´iωi`*)♥

      • huehehehe mereka baru debut, masih belom laaaah, ntaran mungkin banyak wkwk memuaskan koooook, cuma yg gak memuaskan kalo gak sampe akhir (misal team xoxo wkwk)
        ditungguin aja yaa, aku juga nungguin lanjutan ini loooh. awas aja gak lanjut /siapin lilin sama korek(?)/
        aku lagi gak baca dulu sebenernya, cuma karna ini seventeen dan authornya kamu yg emang tulisan dan ceritanya bagus, jadi aku baca >< hwaiting yaaaaaps

        • wahahaha aduh dimention team xoxo-nya jadi malu -,_-
          ini masih banyak typo kok sebenernya dan narasinya terlalu bertele-tele hahaha ;_; /nyadar diri/ makasih yaa udah mau nungguin, aku juga nunggu fanfic 17 nya kamoh /keukeuh/ /plak/ btw salam kenal yaa enny:mrgreen:

  2. Ini FF tentang G-Friend yang paling pertama aku baca🙂

    Kak Dita, remember me??

    Kayaknya nggak deh e.e

    Ingat Ryuu48?
    Sekarang aku sudah ganti jadi KwangBee hehehe😀

    Udah lama nggak baca FF kak dita🙂 dan heeeei~ ada taehyung! *nunjuk mphi /?
    Btw, ini series ya kak?

  3. hola chingu~
    Chan imnida, 98line, salam kenal…
    akhirnya nemu ff seventeen disini#sujudsyukur
    seru ya ceritanya😄
    ngakak sendiri pas baca namanya seungkwan jadi boo wakakak
    siapa sebenarnya hoshi a.k.a soonyoung???
    next chapnya jangan lama-lama yaa
    keep writing!!

    • HALO CHAAAAAN /sujud syukur juga nemu sesama 17 stan/ /peluk/ /dibuang/
      Salam kenal juga, kalo liat dari id-nya pasti dino biased ya ehe /sok tau/ /dibuang lagi/
      Next chap-nya masih ditulis berhubung saya baru kelar uas hwhw tungguin aja ya, makasih loh udah nyempetin baca dan komen:mrgreen:

      • sama-sama kak:)
        karyamu selalu kunanti*eaa
        ohya, chan itu emang namaku kak ‘-‘
        nama panggilan sih sebenernya wakakak*ditampar
        aku belum nentuin biasku di seventeen, abis cakep” semua.-.
        tapi aku sekarang lagi kesengsem sama bang 1+1(wonwoo) & bang jojo(joshua) wakakak

  4. Woookehhh, aku bacanya malah bayangin ada drakor nih, wkwkwk.
    Jadi mereka …….. Omaygat!! Aku pengen ke sanaaaaaa >,< serasa gelar jones menghilang kalo masuk sana wqwq. Okeh, ditunggu lanjutannyaa eonni ^^

    • Hei kamu yang mampir ke blog aku ;-; /dor
      Aku juga pengen ke sanaaa hahaha tapi entar berasa banget jomblonya orz
      Makasih udah nyempetin baca dan komen yaa:mrgreen:

  5. Pingback: Rainbow Dust – Which Butler Would You Choose? | FFindo·

  6. AAAAAA ini first time aku nemu ff seventeen x girl yang paka bahasa indonesia omg(efek baca ff meanie sama soonseok terus lol). Aku excited banget pas liat ff ini HAHA. Gara gara kelamaan nunggu mereka dari 2012 kali ya ;”D

    Wihii aku suka banget sama ceritanya. Bayangin bebeb mingyu jadi flower boy gitu disekolah(?) Terus soonyoungnya juga aduh ga tahan/apasihlo/

    Aku baru mau baca chapter 2nya udah ini’-‘)/ fighting!

    • HALO ALYAAAAAAA excited juga ketemu sesama 17 stan :”D wahahaha gak nyangka aja kamu bakal ngelirik ff ini soalnya aku pikir penggemar yaoi gak akan begitu suka straight :”D kamu ngikutin dari awal banget ya, aku pertama kenal mereka baru 2013 itu pun gak terlalu ngikutin dan baru beneran kepincut pas april kemaren kalo gak salah, pas teaser mereka baru keluar :’D (telat)
      aku udah liat komen kamu di chapter 2-nya, aku juga otw ke sana dulu deh buat balesin :”D (apasihjuga)
      thank you alya!:mrgreen:

  7. AKHIRNYA SELESE JUGA BACA INI FF😂😂
    Halo Dit, aku datang nih nyemak di FF kamu. Demi apa ini panjang banget wkwkwk😄

    OYA YUKS KITA KE RAINBOW DUST BARENG2, SECARA KITA KAN NOONA2 KETJEH😂😂
    Aaak pengen kesana pengeeeeen /nangisguling2/

    Ngga mau banyak bacot ah disini, cusss ke chap 2
    Ppyoooong~~~

    • AYO YA KITA KE SANA BARENG-BARENG AKU NGEBET BANGET PENGEN NYEWA MINGYU😄😄😄 ((nyewa))
      aku juga cus baca komen kamu di chap 2 ya, makasih loh yaya udah mau mampir:mrgreen:

      • HAYUKS!
        Yakali itu ‘nyewa’ berasa apa aja kali ya?😀
        Hmm, Dino boleh di sewa ngga ya? Mau sama Maknae jahil itu hahah

        Sama-sama, duuh kaya apaan gitu pake acara makasih-makasih xD /kecupbasah/

  8. Ini kerjaannya lagi buka2 list usang (?) #ditabok
    Trus nemu banyak FF yang kek nya menarik
    Jujur dulu pernah baca ini judul waktu pertama keluar
    Tapi karna g kenal yah jadi g terlalu diprioritaskan
    Bener deh g kenal maka tak sayang

    Habis baca ini part
    Tingkat penasaran saya akut sampe muntah (?)
    Cara penggambaran per karakternya itu loh
    dan ide ceritanya tentunya
    hahahahaha

    Aku masih belum kenal siapa2 dari maincastnya
    tapi karna ceritanya seru jadi enak aja gitu bacanya
    hehehehehe

    • Halo Rereee! Terharu akhirnya kamu tergerak untuk membaca fanfic ini hiksss ;-;
      Makasih banyak ya komennya! Aku liat komen kamu dari chapter ini sampe chapter terakhir aaaaa niat banget sumpah, pokoknya makasih banget! x”)
      Semoga setelah baca fanfic ini Rere bisa kepo sama seventeen hehehehehe😄

      • Sama2
        Ehehehehehe

        Emang dasar g mulut g tangan
        kalau udah exited ya nyerocos g tau waktu dan tempat
        Hwahahahahahahaha

        Mulai kepo banged malahan
        Apalagi Hoshi
        Mukenye g kejungkir banged sama karakternya disini
        Hwahahahahaha

        Tapi disitu serunya
        Gaya bahasamu itu lho #aseekkk yang bikin makin seru bacanya

        • Jangan-jangan Rere udah kenalan sama seventeen lagi jadi tau aslinya Hoshi KYAAAAA😄
          Wkwkwk iya maafin ya kalo peran Hoshi rada gak kebayang di sini, diusahain nanti mah gak bakal rada OOC deh hahaha ;;—;; Apalah ini gaya bahasanya standar huftzzz makasih yaw ;;;—;;;

  9. woohoo akhirnya ada ff seventeen juga
    tp my bias si wonwoo belom keliatan min
    telat komen sih ya udh ada chap 2 hhe
    brb baca chap 2 ah siapa tau ada wonwoo hhe
    fighting min!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s