Gray Fairytale [Chapter One]

“It’s the problem with fairy tales. From far away, they seem so perfect. But up close, they’re just as complicated as real life.”
Soman Chainani, A World Without Princes

_____

Read the previous chapter : [Prolog]

_____

            Pandangan Sehun masih betah tertuju pada rumah-rumah penduduk yang terlihat muram dari balik kaca jendela mobil yang gelap, pun bangunan-bangunan kokoh yang berganti-ganti rupa seiring kendaraan roda empat yang ditumpanginya itu kian melaju kencang. Sehun jadi ingin tahu akan seperti apa rumah barunya nanti. Apakah akan sama seperti deretan petak rumah sederhana yang kerap ditemuinya selama perjalanan, atau bahkan berarsitektur romawi kuno yang terkesan begitu ‘wah’ dilihat dari sudut mana pun. Bukan kedua-duanya pun tidak jadi masalah, selama ia dan kakaknya bisa merasa nyaman, maka semuanya akan baik-baik saja, ia rasa.

“Masih jauh, ya?”

Sepasang netra Sehun teralih, kelereng matanya bertabrakan dengan milik Jongin sejenak sebelum akhirnya menggeleng. “Tidak tahu,” gumamnya ragu seraya mengangkat bahu, lalu tersenyum tipis, sedikit berharap hal itu bisa menghapus jejak tanda tanya yang tergurat samar di muka jemu kakaknya.

“Kalau Kakak bosan, coba bayangkan saja seperti apa rumah kita nanti. Bayangkan seperti di dongeng-dongeng yang sering Bibi Park ceriterakan kepada kita, tentang istana yang mewah, kamar yang luas, taman yang indah. Kadang-kadang, berimajinasi yang sedikit berlebihan bisa membuat seseorang merasa lebih baik!”

Sebentar kemudian, Jongin mengangguk singkat kendati Sehun yakin kalau kakak satu-satunya itu tidak benar-benar mengindahkan kata-katanya, tampak dari ekspresi ogah-ogahan yang terpeta di wajahnya yang murung. Ketika laki-laki yang berusia dua tahun di atasnya itu memalingkan muka, bibir Sehun mengerucut, keki benar dengan sikap kakaknya yang menyebalkan. Sehun jadi heran sendiri, bagaimana mungkin, ia, sebagai seorang adik, malah menjadi seseorang yang lebih dewasa di sini. Menghibur kakaknya, mengajaknya bercanda, menceritakan ini-itu, bahkan melakukan hal-hal konyol agar Jongin—setidaknya—bisa tersenyum walau sebentar saja. Bukankah hal semacam itu yang seharusnya dilakukan oleh seorang kakak terhadap adiknya? Hah!

Yang jelas, semuanya bermula semenjak ‘berita itu’ datang dan mengguncangkan seisi panti asuhan. Sehun masih mengingat jelas bagaimana mimik muka kakaknya yang sontak mengkaku saat ia menyampaikan berita membahagiakan itu, tidak seperti dirinya yang tertawa girang dan berteriak sepanjang hari sampai seolah-olah seisi dunia turut bersorak merayakan kebahagiaannya—kecuali sang kakak, tentunya. Jongin adalah satu-satunya yang diam, ia tak berkomentar apa-apa, satu kata pun tidak. Sehun tahu benar karakter kakaknya, laki-laki itu memang pendiam, dingin dan susah didekati, namun kalau sampai tidak peduli sama sekali seperti itu, Sehun rasa kakaknya itu agak keterlaluan.

Menghela napas, Sehun lantas menggeleng, berupaya mengenyahkan perasaan tidak enak itu dengan memaku pandangan pada jalanan lagi. Ia cuma bisa berharap semua akan baik dan lancar-lancar saja setelah ini, seperti perjalanan mereka sejauh ini, bebas hambatan. Semoga.

Kira-kira setengah jam setelahnya, usai memasuki sebuah gang kecil yang hanya cukup dilalui satu kendaraan roda empat dan melewati beberapa rumah minimalis, mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti. Sehun cepat-cepat menurunkan kaca mobil, kepalang antusias, demi melihat bagaimana visualisasi dari rumah yang akan ia dan Jongin tempati untuk ke depannya. Sementara Jongin, yang duduk tepat di sampingnya, hanya melirik tanpa minat.

Di detik yang hampir bersamaan, Sehun mencubit dirinya sendiri sebagai hukuman agar tidak lagi berekspektasi terlalu tinggi. Karena apa yang ditangkap oleh iris madunya saat ini berbeda jauh dari apa yang telah menari-nari indah di alam imajinasinya.

Rumah itu besar dan bertingkat—dua poin ini sesuai dengan imaji Sehun. Letaknya di paling ujung dan berjauhan dengan rumah-rumah penduduk lain, agak tersembunyi di balik pepohonan akasia yang rimbun. Dindingnya yang kokoh dilapisi oleh cat pucat yang tampak mengelupas di sana-sini pertanda telah termakan zaman. Jendela-jendelanya menjulang tinggi dengan beberapa di antaranya tak lagi tertutup kaca, sebagian atap rumah bolong tanpa genting, mungkin karena dilapukkan secara biologis oleh lumut ataupun memang sengaja dibiarkan begitu.

Kalau diibaratkan di dalam dongeng, rumah itu lebih mirip sarang penyihir daripada istana.

Dan yang lebih penting lagi, rumah itu tidak terlihat bersahabat. Itu terlalu angker dan kotor untuk dibilang sebagai rumah idaman yang nyaman untuk ditinggali.

“Kadang-kadang, imajinasi yang terlalu hebat bisa menyakitkan juga.” Setelah bergumam tanpa nada, Jongin beranjak dan menutup pintu mobil sedikit keras, bentuk tersirat dari sanggahannya terhadap kalimat Sehun sebelum ini. Sementara yang disindir masih beradu pandang dengan rumah barunya dengan sorot kecewa, kemudian mendesah sekeras yang ia bisa.

Sehun mengejek dirinya pemimpi paling buruk di dunia.

_______

Sehun bersyukur perasaannya membaik begitu menginjakkan kaki di pelataran rumah. Sebab seorang wanita berbadan gempal, memakai apron putih dan baju dasar hitam dengan senyum ramah menyambut kedatangan mereka dengan terlampau ceria. Setelah sejenak memperkenalkan diri, wanita, yang meminta untuk dipanggil Bibi Kim itu, membantu Sehun dan Jongin membawa barang-barang bawaan mereka ke dalam rumah.

Untuk badan dan lengannya yang besar, Sehun tidak heran kalau wanita itu bisa memindahkan tas-tas besar mereka dari mobil ke dalam rumah hanya beberapa kali angkut. Namun yang jadi pertanyaan, mengapa halaman depannya dibiarkan sekotor itu? Padahal rumah ini memiliki setidaknya seorang pembantu rumah tangga. Bukankah itu juga menjadi salah satu tanggung jawab seorang pembantu rumah tangga? Atau mungkin tidak? Entahlah.

Sayangnya, pertanyaan itu menghilang tanpa bekas begitu sepasang kaki jenjang milik Sehun membawanya masuk ke dalam rumah barunya lebih dalam. Tidak ada bau pengap, tidak ada sawang-sawang dan ketidakteraturan seperti perkiraannya. Semuanya bersih dan tertata rapi, seolah menegaskan sebuah sambutan hangat untuk tamu yang akan datang. Dindingnya memang sudah menguning dan beberapa langit-langit mulai mengalami keretakan, tapi di luar itu, segalanya terasa normal. Baik-baik saja.

Bibi Kim mengajak Jongin dan Sehun menaiki tangga yang terletak agak jauh dari ruang tamu, terbuat dari kayu asli dan dilapisi karpet berwarna merah. “Ini adalah kamar baru kalian,” jelas Bibi Kim begitu mereka akhirnya berhenti di depan sebuah kamar. Wanita itu membuka pintu kamar perlahan, menimbulkan suara berderit ringan yang masih asing di telinga. “Silakan beristirahat. Kalau butuh sesuatu, tolong jangan segan-segan memanggil saya.” Seusai berkata demikian—masih dengan senyum lebar yang jadi andalannya—Bibi Kim melenggang pergi.

Selagi Sehun sibuk mengagumi kamar barunya yang yang luas, ditambah dengan perabot yang lengkap, Jongin cuma memicingkan mata, memandang sinis pada Sehun seolah adiknya itu adalah makhluk aneh dari planet lain.

“Lihat, Kak! Kamar kita begitu luas, berbeda sekali saat kita di panti asuhan dulu. Hei, coba lihat itu! Apakah itu video game keluaran terbaru? Kudengar Luhan sering membicarakannya kemarin-kemarin. Hei, dan apa itu? Wah, itu kan majalah olahraga limited edition yang untuk membelinya harus pre-order dulu!” Adalah beragam ekspresi dan pekik kebahagiaan yang Sehun tunjukkan kepada Jongin, tidak memedulikan tatapan aneh yang dilemparkan Jongin lamat-lamat padanya. Heboh sendiri.

Jongin membanting tubuhnya ke ranjang berukuran besar yang menyudut, agak jauh dari ranjang adiknya yang terletak di sudut kamar yang lain. Tubuhnya benar-benar butuh istirahat setelah perjalanan panjang yang melelahkan—dan membosankan—tadi. Jongin memejamkan matanya sejenak, lalu membiarkan sepasang iris hitamnya berkelana, menilik dalam-dalam rupa kamar barunya.

Memang, untuk ukuran kamar berisi dua orang, ini bisa dibilang terlalu luas. Mengingat sebelum ini, di panti asuhan, ia harus selalu berdesak-desakan dengan anak lain sewaktu tidur karena jumlah ranjang yang terbatas. Kadang kala Jongin dan Sehun bahkan terpaksa tidur di lantai karena Bibi Park, salah satu pengasuh di sana meminta anak yang lebih tua untuk mengalah. Yah, meski Jongin harus berakhir dengan mendapat flu keesokan harinya akibat masuk angin.

Kamar barunya ini juga memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Ada televisi, video game, komputer, alat-alat musik seperti gitar dan keyboard, bola basket, bola sepak, majalah game dan olahraga, semua yang selama ini menjadi idaman anak lelaki sepertinya ada di sana. Segala yang dulu hanya bisa Jongin lihat dari etalase toko dengan wajah tergiur kini tersaji di depannya tanpa ia perlu merengek pada para pengurus panti. Kalau begini, tidak keluar dari kamar seharian pun tidak akan apa-apa.

Jongin pikir, mungkin Sehun ada benarnya, mungkin tinggal di sini tidak terlalu buruk juga. Mungkin—

“Rumah ini tidak seburuk kelihatannya, benar ‘kan, Kak?”

Iris hitam milik Jongin, yang semula beradu dengan pucatnya langit-langit kamar, bergulir ke arah Sehun yang sedang duduk bersandar pada kursi kecil di samping cermin. Adiknya itu mengajaknya bicara selagi sibuk membaca majalah, yang terlihat masih sangat baru dengan halaman depan seorang atlit sepak bola kenamaan—Jongin lupa namanya—tanpa menoleh padanya sedikit pun, saking asyiknya.

Jongin hendak mengiyakan, namun sebersit pertanyaan tiba-tiba muncul lagi di otaknya. Sebuah pertanyaan yang ia ingat sebagai hal yang membuatnya segan menginjakkan kaki di rumah ini. Pertanyaan itu.

“Di mana orang itu?”

Yang ditanya lantas berhenti membaca, menurunkan majalah yang mulanya menutupi pandangannya terhadap Jongin. Keningnya berkerut, “Orang itu?”

“Ayah kita. Di mana orang yang mengaku-ngaku sebagai ayah kandung kita itu? Bukankah seharusnya dia menyambut kedatangan kita, anak-anaknya?” Jongin memberi jeda sejenak, mengerling Sehun yang tampak belum berniat merespons, lalu melanjutkan, “Dia bahkan tidak menjemput kita di panti, hal yang harusnya dilakukan oleh orangtua yang menyayangi anaknya. Dia hanya memerintahkan salah satu sopirnya untuk membawa kita kemari, membiarkan kita berlama-lama duduk di dalam mobil sambil mengamati jalanan membosankan. Dia bahkan tidak berusaha menelepon, setidaknya kalau ia benar peduli, ia akan bertanya sudah sejauh manakah kita sampai.”

Tawa mengejek, lebih seperti nada simpati, terdengar menerobos sela bibir Jongin, “Yang ‘orang itu’ lakukan sampai saat ini hanya memamerkan kekayaannya pada kita. Tidakkah Kau merasa aneh barang sedikit?”

Dahi mulus Sehun berkerut, bimbang dengan tuduhan yang Jongin jatuhkan pada ayah—ia boleh menyebutnya begitu ‘kan?—mereka yang sayangnya memang benar sekali. Pemuda bersurai hitam itu mendengus dan berpikir selama beberapa waktu, “Tolong jaga bicaramu dan bersikaplah sopan, Kak. Dan beliau bukan ‘orang itu’, namanya Wu Yifan, orang-orang di panti sudah memberitahu kita. Kata-kata Kakak memang benar dan aku setuju. Tapi coba pikir, kita sudah mendapatkan semua yang kita mau, semua yang selalu ingin Kakak punya telah tersedia di sini, kenapa tidak dinikmati saja? Lagi pula, tidak ada jaminan kebahagiaan seperti ini akan datang secara cuma-cuma kalau kau memilih tetap tinggal di panti,” kata Sehun akhirnya.

“Aku tidak berkata aku ingin kembali ke panti. Ini juga bukan soal kebahagiaan dan semacamnya, ini—“

“Ayah kita hanya terlalu sibuk,” potong Sehun cepat, “Mungkin saja beliau bahkan tidak sempat sarapan, tidak sempat mandi ataupun tidur. Kita harus menghargai pekerjaan orang tua kita!” Nada bicara Sehun meninggi pada kalimat terakhir, bermaksud menekankan pada inti ucapannya.

Jongin memutar bola matanya jemu, Sehun terdengar terlalu memihak ‘orang itu’—oh, Jongin bahkan enggan menyebutnya sebagai ‘ayah’—dan hal itu sukses membuat rasa kesalnya setingkat lebih tinggi. “Ayah? Apa maksudmu orang yang dengan tega meninggalkan kita berdua di panti asuhan tiga belas tahun lalu dan sekarang dengan seenaknya menarik kita kembali? Orang yang punya kekayaan melimpah seperti ini, tapi dengan tanpa perasaan meninggalkan kita di tempat yang bisa dibilang kurang layak seperti itu? Dia tidak lebih dari si brengsek yang—”

“HATI-HATI KALAU BICARA, KAKAK!”

Jongin tersentak kaget mendengar sentakan keras adiknya. Sehun terlihat benar-benar marah, wajahnya memerah dan dadanya kembang kempis. Dan ini adalah hal baru, sebelumnya anak itu selalu bersikap tenang dan berkata lembut, seperti tidak punya urat marah. Tapi kali ini Sehun tidak seperti Sehun yang biasanya, ia membentak Jongin begitu lantang—dan sepenuh hati. Apa ia kerasukan? Apakah prasangka baik dapat membuat orang menjadi keras?

“Kemarahanmu sama sekali tidak masuk akal, Sehun!” Jongin serta merta membalas, tidak mau kalah. Percik kemarahannya mulai mencuat, jelas terlihat dari bagaimana cara ia menyebut nama adik laki-lakinya, seperti orang yang mengajak berkelahi. “Jadi yang selama ini kauinginkan cuma benda-benda rongsokan seperti ini?!” Jongin mengarahkan jari telunjuknya pada beragam properti mewah yang ada di kamar dengan tatapan gusar. “Kalau begitu, kaupikir semua benda ini sudah cukup untuk membayar semua kesalahan yang dibuat Wu Yifan selama tiga belas tahun kepada kita?!”

“Aku bilang hentikan, Kakak!”

“Wu Yifan bahkan hanya seorang pengecut yang tidak berani merawat kedua anak laki-lakinya sendiri.”

Sehun menggeram, mengalihkan mukanya dari Jongin, berusaha mengendalikan diri agar tidak meledak lebih hebat. Sejak kapan Jongin menjadi begini keras kepala? “Buang rasa curigamu yang berlebihan itu, Kak! Ayah pasti punya alasan untuk itu!”

“Kaulah yang harusnya membuka matamu lebar-lebar!”

“Kenapa kau bersikap kekanak-kanakan seperti in—“

Tok! Tok! Tok!        

Ketukan beruntun yang terdengar dari luar memenggal kalimat Sehun, kedua anak itu lantas memaku pandang ke arah pintu kayu yang kokoh, hingga memutuskan untuk beranjak dengan berat hati tatkala ketukan yang kesekian kali terdengar. Pemuda yang lebih muda menelan ludah, lalu berjalan ke pintu lebih dulu dengan langkah ragu. Ia terus bertanya-tanya dalam hati, apakah pertengkarannya dengan Jongin baru saja berhasil membuat orang di luar sana merasa terganggu sampai memutuskan untuk langsung menegur mereka seperti ini? Kalau benar begitu, harusnya ia lebih bisa menahan diri. Ini hari pertama dan mereka telah berhasil membuat keributan. Oh God.

Untungnya, perkiraan Sehun meleset. Sebab seseorang yang berdiri di balik pintu adalah pembantu rumah tangga yang sama seperti sebelumnya, tak luput dengan senyum hangatnya yang mengembang. Orang marah tidak mungkin tersenyum seperti itu ‘kan?

            “Tuan Sehun dan Tuan Jongin, anda berdua dipersilakan untuk makan siang. Tuan Wu sudah menunggu di meja makan.”

Sehun buru-buru mengangguk dan berterima kasih. Ia mengulum senyum lega, merasa senang karena orang yang barusaja disindir-sindir ternyata sedang menunggu mereka. Itu jadi terdengar tidak terlalu buruk ‘kan?

Ia berbalik lalu menatap penuh harap ke arah kakaknya yang—sayangnya—masih memasang wajah aku-tidak-tertarik-untuk-bertemu-orang-itu. Sehun menghela napas hebat, putus asa. Lalu berujar dengan nada lelah, “Ayo pergi, Kak. Tolong jangan kacaukan lebih dari ini.”

“Sehun.”

Panggilan singkat itu menghentikan langkah Sehun yang baru berniat beranjak keluar kamar, ia menoleh dengan sedikit harapan kalau adiknya telah berubah pikiran, “Ada apa?”

“Bibi Kim bilang ‘Tuan Wu’. Kenapa bukan ‘Tuan dan Nyonya Wu’? Lalu kemana perginya istri ‘orang itu’?”

Semuanya jadi lebih buruk.

 

TBC

 

Wow, it took me so looong to finishing this chapter, selain karena dua minggu kemarin yang rasanya sibuk banget ngampus, ngerjain tugas ini itu, ngurusin kepanitiaan, juga karena agak gagu juga pas nulis, soalnya udah luamaa buanget nggak nulis fiksi, hehe. Sedih banget, padahal pengen banget rajin-rajin ngisi blog, uhuhuh.

Yeay, seenggaknya chapter ini selesai juga, kalau aneh mohon dimaklumi karena saya juga masih belajar, kalau ada kalimat atau sesuatu yang agak aneh atau ganjil, bilang aja di kolom komentar, saya selalu welcome menerima saran dan kritik. Dan lagi, kalau komentar tolong yang membangun yaa, jangan cuma sekedar ‘lanjut dong’ atau ‘bagus’atau ‘aneh, jelek’, soalnya saya butuh banget saran, biar nggak stuck gitu-gitu aja, hehe *banyak maunya. Tolong tinggalkan komentar untuk mengapresiasi dan menghargai saya 🙂 saya pasti selalu baca komentar kok, meskipun jarang bisa membalas, hehe

Ask me anything here : http://ask.fm/fhayfransiska

Find me here : http://whiteguardian.wordpress.com

From fhayfransiska with love

7 responses to “Gray Fairytale [Chapter One]

  1. Heeumm agak bingung bayangin rumahnya, klo bisa diksih gbr. Tpi gpp ff-nya keren kokk kkkk~ penasaran ma emaknya hunkai, sma crita diblik hunkai dan wuyifan, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!!

  2. HEmmm penasaran sebenernya yifan beneran ayah mereka gak si??takut diapa apain kaihun sama si yifan
    Penasaran sama sosok yifan & lanjutannya…next ya ditunggu

  3. mau komen apa ya?
    bingung 😒 soalnya author bilang g boleh bagus doang. padahal ini ff bgus loh.bagus bgt malah, soalnya ini ff bisa di bilang bikin tingkat penasaran naik sampe ke ubun ubun.
    banyak tanda tanya krn bru chap awal.
    mau ngomentarin pairing nya boleh kan 😁 aku lebih suka klo kyungsoo kakak dan jongin adik keras kepala/abaikan ini cuma naluri fangirl😂/
    tapi over all ini ceritanya menarik walaupun aku blm dapet pencerahan genre sepeti apakah ini dan kmana jalan cerita ini.
    untuk saran sih blm ada ya. soalnya kan bru chap awal jd masi agak rancu dan abu abu untuk baca jalan ceritanya.
    di tunggu chap2 nya ya😉

  4. Haii fhay~ /masih ingat aku kgk yaa/
    finally aku nemuin tulisanmu lagi.. eh jujur makin kesini tulisanmu makin serius, makin banyak juga itu kosakatanya…xD
    ini bukan kapel kan? jujur aku gasuka yg berbau yaoi, boy x boy, ato apalah itu… cuman brothership kan?!

    awalnya sih direkomendasiin ff ini sama temen… tapi begitu aku buka prolog nya aku baru inget kalo aku udah pernah baca…cuman keknya aku ketinggalan apdetan yg ini..oya aku lupa, aku udah komen belom ya yg di prolog /eh keknya komenku out of the point x“D/

    aku suka tulisanmu, bikin orang mikir soalnya.. mendetail dan sebenernya alasan lain kenapa aku suka karna ada kai :3 muehehehe

    cukup bikin aku penasaran~ yg lebih membuatku penasaran kenapa kai punya sikap kek gitu..itu aja sih..

    dan aku gatau mo komen apalagi.. wah apdetannya kapan ya ini.. kalo aku ga lagi buka ffindo kan jadi ketinggalan.

    btw fighting🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s