[OneShot] Blue’s Series – When The Rainbow Faded

WRTF

Thanks For Beautiful Poster By GitaHwa@PosterOrder

Title: Blue’s Series – When The Rainbow Faded

Author: @Miithayaaaa

Genre: Romance

Length: OneShot

Main Cast:

  • CN BLUE’s Jung Yonghwa
  • SNSD’ Seohyun/Seo Joohyun

Rate: PG-16

“Aku tidak perlu hujan untuk melihat pelangi,

Karena kau adalah pelangi ku…”

 

 

 

Lelaki itu membanting pintu apartemennya keras menimbulkan suara menggema di seluruh ruangan mengejar wanita yang berjalan cepat di depannya. Nafasnya memburu. Ini adalah pertengkaran yang paling parah yang pernah mereka alami.

“Seohyun!” Yonghwa berhasil menarik sikunya saat ia ingin membuka pintu kamar tidur mereka.

Seohyun menarik tangannya kembali, tak ingin dia menyentuhnya. Matanya menjelaskan bagaimana ia sangat marah dan kecewa padanya. Dia memasuki kamar, mengambil koper yang berada di samping lemari, menempatkannya di atas tempat tidur, membukanya dan mulai menempatkan semua pakaiannya yang berada di lemari ke dalam koper.

Yonghwa tercengang melihat apa yang ia lakukan. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia hanya berdiam diri melihat dia mengepakkan semua pakaiannya. Dia akan meninggalkannya. Dia mendekati Seohyun, memanggil namanya putus asa, menghalanginya dari apa yang ia lakukan, namun yang di panggil seperti orang tuli dan hanya mengabaikannya.

“Seohyun!!” Dia berteriak keras terakhir kalinya, melemparkan koper ke lantai membuat pakaian yang ia kemas keluar dari tempatnya.

“Apa yang kau lakukan!!” Seohyun membalas teriak marah padanya.

“Aku yang seharusnya tanya, apa yang kau lakukan!!”

“Kau membuat keputusan, kau tidak mendengarkan aku jadi buat apa aku disini!!” Dadanya naik turun, Kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun, cairan bening sudah terbentuk dari sudut matanya.

Yonghwa melihat matanya yang sudah berkaca-kaca. Dia mendesah, lalu menarik napas dalam. Dia mendekatinya. Namun Seohyun mundur menjahuinya. Sakit menyerap di hati lelaki itu hanya dengan melihat dia menjauhinya.

“Seohyun, kita sudah membicarakannya berulang kali dan kau setuju untuk mempertimbangkannya kan?” Suaranya melunak dan mencoba mendekat ke arahnya lagi.

“Itu sebelum aku tahu kalau kau akan beradegan ranjang dengannya! Dan sekarang kau apa? Kau memintaku untuk setuju?” Tanyanya sinis. Air mata kini tumpah dari matanya.

Yonghwa memejamkan matanya. Mengendalikan emosinya. Dia sudah 36 tahun tapi emosinya seakan dia berusia belasan tahun. Dia mendesah, dia tahu pasti Seohyun akan bereaksi seperti ini. Tapi ini bukan maunya, dia hanya mengikuti apa keputusan perusahaannya putuskan. Dan ini adalah tawaran baik jika dia mengambil peran, karena film akan di tampilkan dalam festival international. Tapi perempuan di depannya lebih penting dari apapun untukknya. “Aku akan mencoba berbicara dengan perusahaan Seohyun, Jadi tolong jangan begini, Hmm?”

“kau bisa menjamin?” Tanya Seohyun sengit.

Yonghwa diam. Ya, dia akan berbicara pada pimpinan, tapi bukan berarti dia bisa menentang keputusan atasannya. Memang dia memiliki saham di perusahaan hiburan tersebut, tapi hanya 3% yang ia miliki. Dan itu tidak mempengaruhi apapun untuk memberikan hak suara apapun padanya.

“Seohyun-ah..” Yonghwa mencoba menggapainya lagi, Seohyun menghindar lagi.

“Kau tidak bisa” Dia menggeleng padanya, “Kau tidak bisa melakukan apapun seperti yang aku katakan, MV, drama, movie, bahkan kau memiliki reality show khusus dengan dia yang mewajibkanmu untuk bermesraan dengannya” Seohyun memukul dadanya pelan, menunjukkan sakit yang ia rasakan “Kau tahu? Kau tahu berapa banyak aku menahan rasa sakit saat penggemar mu mengatakan kalian pasangan yang serasi, menganggap kalian pasangan nyata, yang saat itu seluruh dunia tahu bahwa aku TUNANGAN mu oppa!! Kau bahkan tidak bisa menjawab saat reporter menanyakan apakah kau memiliki perasaan untuknya!!” Dia berteriak sampai paru-parunya sakit, membiarkan air mata mengalir di pipi mulusnya. Bahunya gemetar, dan dadanya sesak menahan tangisan.

“Kau tidak harus mendengar mereka Seohyun..” Kata Yonghwa lirih, Dia bisa melihat kesakitan di matanya dan itu juga menyakitinya. Matanya yang selalu ia lihat dengan keceriaan, kini menjadi kesedihan menyakitkan dan dingin.

“Tapi aku harus!” Dia berteriak sebelum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Isakan mulai terdengar darinya. Yonghwa memegang bahunya, menariknya dalam pelukan, kali ini dia tidak menolak. Yonghwa membenamkan wajahnya di bidang dadanya yang besar.

Mianhe.. Mianhe Joohyun-ah..” Suaranya bergetar, dadanya juga sesak dengan keadaan ini. Ini adalah resikonya, dua tahun yang lalu dia menyetujui keputusan perusahaan yang mengatakan dia harus melakukan apapun yang perusahaan inginkan darinya asalkan dia bisa tetap bersama Seohyun dan go public tentang hubungan mereka. Perusahaan tidak peduli apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka asalkan tidak merugikan perusahaan. Sungguh kejam.

“Aku lelah.. Ini sangat menyakitkan..” bisiknya.

Yonghwa mempererat pelukannya, tidak ingin dia pergi. Setiap kata yang Seohyun ucapkan, entah kenapa hatinya merasa ditusuk. Dia tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka. Kata terakhir yang Seohyun ucapkan, cukup membuatnya mengerti, bahwa Seohyun ingin mengakhiri semuanya. Dia tidak mau dan dia tidak siap. Dia tidak siap jika harus hidup tanpanya. Tenggorokannya tercekat, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, jadi dia menggeleng sebagai jawaban. Butir-butir cairan bening mulai terbentuk dari sudut matanya.

“Disaat semua apa yang aku lakukan adalah sia-sia, Disaat aku harus memilih antara kau dan karirku, aku lebih memilih mu, saat kau mengatakan jangan mengambil peran yang akan membuatmu cemburu, aku lakukan. Tapi, disini..” Dia menarik napas dalam, masih dalam pelukannya. “Aku meminta mu menolak yang satu ini, apakah tidak bisa?” Dia memberanikan diri menatap matanya “Apakah sangat sulit jika kau tidak bekerjasama dengannya? Atau..” Seohyun menelan benjolan, sulit untuk melanjutkan kata-katanya. “Atau, kau menikmati berhubungan dengannya? Menciumnya? Menyentuhnya? Da-“

“Cukup Seohyun!! Cukup!!” Bentak Yonghwa, dia tidak percaya Seohyun akan mengatakan itu. Demi Tuhan, tidak pernah sedikit pun terpikirkan hal-hal semacam itu. Itu hanya pekerjaan.

“Jangan mengatakan hal-hal yang kau asumsikan sendiri Joohyun! Demi Tuhan Hyun, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kau tahu itu hanya pekerjaan! Aku bersumpah!” Bentak Yonghwa, tidak terima.

Seohyun terkejut betapa marahnya dia, dia bahkan berteriak untuk pertama kali padanya. Dia menyesal berkata seperti itu, tapi entah setan apa yang merasukinya saat ini dia tidak percaya itu. “Pekerjaan? Semua itu pekerjaan? Lalu apa namanya ketika dia menelponmu tengah malam meminta mu menemuinya, dan kau dengan rela datang padanya. Apa itu juga pekerjaan!!” Dia balas membentak.

Yonghwa memejamkan matanya. Menarik napas, “Seohyun dia butuh bantuanku, dia bertengkar dengan ibunya, dia menelponku meminta bantuan untuk menghiburnya, dia membutuhkan teman. Itu saja! Tidak ada yang lain, aku bersumpah!”

Seohyun tersenyum miris. “Ahh, aku lupa betapa baiknya oppa ku ini. Bagaimana aku bisa lupa kau selalu peduli dengan teman-temanmu, tidak peduli siapa itu, bahkan rela menemui seorang perempuan ditengah kesibukannya bahkan tengah malam sekalipun”

“Seo Joohyun, aku bilang jangan mengambil kesimpulan yang tidak-tidak” Yonghwa memejamkan matanya, mengatupkan gigi menahan emosi. “Tolong, dengarkan aku, Joohyun-ah” Dia berkata lembut. Membuka matanya hanya untuk memenuhi tatapan sakit dari bola mata coklat muda yang sangat ia cintai, penuh dengan butiran air mata. Dia menggapai wajahnya, menghapus air mata yang baru saja mengalir dari sudut mata gadis yang ia cintai.

Seohyun memecahkan tatapan, menunduk. “Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu lagi. Aku lelah, aku lelah dengan hubungan ini, Jadi..” Seohyun menarik napas, menatap lurus di matanya.

“Mari kita akhiri hubungan ini, oppa.. Kita- putus..”

Bang!!!

Seperti tamparan keras buat Yonghwa mendengarnya. Akhirnya, kata-kata yang ia sudah antisipasi keluar begitu saja. Kata-kata yang dia tidak ingin dengar dari mulutnya. Apa ini akhir dari mereka?

Lengan Yonghwa jatuh dari bahunya, tatapannya kosong. Putus? Apa dia bercanda? Bagaimana bisa? Otaknya tidak bisa mencerna dengan baik sekarang, tubuhnya lemas. Sembilan tahun, Sembilan tahun mereka menjalin hubungan dan berakhir seperti ini. Janji-janji yang mereka buat dulu tidak ada artinya lagi.

Kenangan-kenangan mereka akan pergi begitu saja? Mereka yang memulai hubungan ini dengan manis, pertemuan yang tak di sangka di program acara, memulai untuk saling memahami, sampai akhirnya tumbuh cinta yang manis dan kuat. Tujuh tahun menjalin hubungan diam-diam, perlu keberanian untuk mereka berdua mengungkapkannya pada publik, yah, mereka tahu, akan banyak fans yang kecewa dengan mereka, belum lagi dampak untuk perusahaan, tapi dari itu semua, mereka percaya bahwa masih banyak juga yang akan mendukung mereka.

Setahun mereka go public, mereka mengumumkan pertunangan mereka dan akan menikah secepatnya. Hubungan mereka tak semudah yang dibayangkan, pasang surut mereka lalui. Mulai dari dikabarkan putus, menjalin hubungan dengan rekan kerja masing-masing. Tapi itu semua mereka bisa melewatinya, bahkan saat bubarnya SNSD karena habis kontrak membuat Seohyun sedih yang melanjutkan kariernya dengan solo dan berakting. Yonghwa mengatakan kepada publik bahwa dia akan selalu disisi Seohyun. Sampai akhirnya, rumor yang begitu kuat menerpa mereka, rumor yang mengatakan Yonghwa memiliki hubungan dengan rekan kerja satu manajemennya dimulai dari pembuatan MV album solonya yang keempat, rekan kerja di drama berulang-ulang, sampai reality, membuat hubungan mereka ada pertengkaran, kecurigaan, belum lagi kata-kata fans yang menyakitkan Seohyun, membuat goyah dan berpikir ulang tentang hubungan mereka.

Yonghwa tersentak saat mendengar Seohyun membawa kopernya, realisasi memukulnya, ini bukan saatnya dia berdiam diri. Dia berlari mengejar Seohyun yang akan membuka pintu, menekan pintu dengan satu tangan hingga pintu tertutup kembali, tangan yang lain memutar tubuhnya, memeluknya erat.

Kajima.. kajima hyun-ah.. jebal..” Bisiknya putus asa.

“Aku akan membatalkannya.. aku akan melakukan seperti kau katakan, hanya tolong, jangan pergi.. jangan tinggalkan aku hyun.. Aku mohon..” Dia memohon, menangis di lekukan lehernya.

Yonghwa rusak, begitu juga Seohyun. Dia ingin tinggal, tapi apa itu akan memperbaiki semuanya, apakah kesakitan akan berkurang atau sebaliknya. Dia butuh waktu, butuh waktu untuk menyiapkan hatinya lagi. Seohyun hanya diam dalam pelukannya, pelukan hangat terakhir darinya, menghirup aroma yang sangat ia cintai untuk terakhir kalinya. Ini berakhir. Dia memejamkan matanya, sebelum mendorong ringan tubuhnya.

Dengan wajah lesu penuh air mata, Seohyun menatapnya “Oppa-“

Ucapannya terhenti ketika Yonghwa membekam wajahnya dan mencium bibirnya putus asa. Mengamit bibir bawahnya, melumatnya lembut. Berharap dia bisa memakan kata-kata pahit Seohyun melalui ini. Berharap Seohyun akan melupakan semuanya melalui ini. Tapi apa, dia seperti mencium mayat hidup, bibirnya begitu dingin dan bergetar, tidak seperti ciuman-ciuman manis mereka sebelumnya, ini pahit. Seohyun tidak membalas ciumannya. Dia hanya diam dan memejamkan matanya. Yonghwa bisa merasakan air matanya yang bercampur dengan bibirnya, dia tahu, bagaimana keras kepala Seohyun, dia tidak akan mengubahnya. Sejauh apapun dia menolak pikirannya, dia merasa ini adalah..

Ciuman terakhir mereka.

Seohyun mendorong bahunya ringan, terengah-engah, dahi mereka bersatu. Mereka tetap seperti itu beberapa detik dengan isakan Seohyun dan air mata Yonghwa yang memberontak di sudut matanya.

Saranghae.. Saranghae Joohyun-ah.. kajima..” Ucapnya lirih tepat di didepan bibirnya, sangat dekat, bahkan Seohyun bisa merasakan ujung bibirnya menyentuh miliknya.

Seohyun memejamkan matanya, mencoba menetralkan isak tangisnya. Dia menurunkan tangan Yonghwa yang membekam wajahnya, perlahan membalik tubuhnya membuka pintu.

“Haruskah kau seperti ini?” Tanya Yonghwa lirih menarik ujung bajunya, menahannya pergi.

“Aku.. tidak tahu.. apa yang harus aku lakukan tanpa mu..” bisiknya pelan berharap untuk didengar.

“Apa kau bisa hidup tanpa aku?”

Bahu Seohyun bergetar hebat mendengar ucapan terakhirnya. Itu adalah pertanyaan yang dia tidak bisa menjawab. Dia mendesah, menguatkan hatinya.

“Selamat tinggal oppa.. Jaga dirimu..”

Dengan itu, pintu tertutup meninggalkan Yonghwa berdiri mematung ditempatnya.

***

Yonghwa mengerang, rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya saat dia bangun. Masih memejamkan mata, dia bisa merasakan sinar matahari yang merembes melalui tirai tepat mengenai wajahnya.

Dia berguling kesamping, tersenyum. “Pagi, love..” Ujarnya masih terpejam. Menunggu ciuman keberuntungan di kelopak matanya yang selalu Seohyun lakukan setiap pagi, berharap dia akan memiliki hari yang baik dan Yonghwa juga melakukan hal sama untuknya.

Menunggu, sampai akhirnya ia membuka matanya, senyumnya hilang melihat sisi tempat tidurnya kosong. Realisasi memukulnya, sadar, Seohyun meninggalkannya. Dia menatap sisi kosong lama, sebelum berbalik menatap langit-langit kamar, mendesah kemudian meletakkan lengannya di dahi.

Sudah tiga hari sejak pertengkaran mereka. Tiga hari itu pula, hidupnya seperti neraka, dia mengunci dirinya di rumah membuat dirinya mabuk dengan alkohol, mencoba menelpon Seohyun berulang kali dan mengirimkan pesan, tapi, Seohyun tidak menjawab bahkan membalas pesannya.

Dia mengabaikan jadwalnya, ingin menjadi egois untuk saat ini. Mengabaikan telepon dari manajer, anggota member bahkan ibunya. Dia tahu ibunya akan khawatir dengannya saat ini, dia akan meminta maaf pada ibunya nanti. Sekarang, yang ia butuhkan saat ini adalah Seohyun, Seo Joohyun pelanginya.

Dia mengulurkan tangan pada meja dashbor disampingnya mengambil ponsel yang berdering sedari tadi mengganggunya. “Halo?” Jawabnya lesuh.

“Terima kasih Tuhan, akhirnya kau menjawab panggilan ku Hyung! Apa yang terjadi dengan mu? Kau baik-baik saja?” Sergah Jungshin dari jalur lain, saat Yonghwa menjawab teleponnya.

“Apa? Jika kau di suruh perusahaan menanyakan tentang aku, bilang pada mereka aku TIDAK baik-baik saja, dan aku tidak ingin di ganggu” Jawab Yonghwa ketus, dan menekankan kata ‘tidak’, menerangkan tentang kondisinya saat ini.

Yonghwa mendengar desahan Jungshin dari sebrang sana, “Hyung, Ibumu menelpon ku, dia mengkhawatirkan mu, telp-“

“Aku akan menelpon ibuku nanti” Potong Yonghwa. “Aku akan tutup telp-“

“Kau sudah lihat berita?” Giliran Jungshin memotong kata-kata Yonghwa. “Hyung, kau bertengkar dengan Seohyun?” Tanya Jungshin waspada.

“Ahrasseo.. aku akan menelpon mu lagi nanti” Lanjut Jungshin, tahu kalau Yonghwa tidak akan menjawab pertanyaannya. Dia tahu Yonghwa sebanyak dia tahu dirinya sendiri. Sesuatu terjadi pada Hyung-nya dan Seohyun. Dia tidak akan memaksa Yonghwa untuk cerita, dia akan menunggu.

Yonghwa menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Membuka ponsel layar sentuhnya, mencari berita yang dimaksud Jungshin. Itu dia, berita Seohyun yang membuat darahnya mendidih dalam kemarahan.

[News] Seohyun Former Gilrs’ Generation Dalam Pembicaraan Membintangi Movie 18+ Pertengahan Tahun ini.

 

‘Berita mengejutkan datang dari artis cantik hallyu kita, Seohyun. Saat ini ia di beritahukan sedang dalam pembicaraan sebagai peran utama dalam movie terbaru pertengahan musim tahun ini. Ini mengejutkan orang-orang dan para fans mengenai movie yang akan dia perankan dengan adegan rated.

Seohyun yang mulai mengibarkan sayapnya di dunia akting semenjak bubarnya girlband SNSD mendapat perhatian penuh dengan bakat aktingnya dan saat ini sudah banyak memerankan beberapa drama dan layar kaca. Ini tanggapan Seohyun saat ditanya dalam acara Variety Show di salah stasiun televisi tentang pengambilan perannya “Aku sudah memikirkan hal ini lama, dan aku juga bertanya dan banyak belajar dari senior-senior ku dulu tentang peran ini, itu sangat menyenangkan mendengar dari pengalaman mereka. Aku sudah terlalu banyak mengambil peran dengan karakter yang polos, aku juga sudah memerankan karakter menjadi seorang pewira dalam drama ku yang terakhir. Setelah aku berpikir, aku ingin mencoba sesuatu yang baru untuk menambah pengalaman ku. So, disini aku memikirkan tentang peran ini”. Paparnya.

“Bagaimana dengan Yonghwa? Apa kau sudah membicarakannya dengan tunangan mu?” Tanya salah satu pembawa acara program tersebut. “Aku belum memberitahunya, mungkin dia akan mengerti” Jawabnya, sebelum dia tertawa dengan para pembawa acara lainnya.

Bagaimana selanjutnya? Apakah kalian ingin melihat sisi lain Seohyun di movienya mendatang. Sayangnya, perusahaan yang menauinginya saat ini belum memberi keputusan pasti apakah dia akan mengambil peran atau tidak. Tapi, dipastikan oleh produser film tersebut Seohyun adalah kandidat terkuat saat ini’

 

Yonghwa meremas ponselnya kuat. Urat-urat tangannya menonjol terlihat dari seberapa keras ia meremas ponselnya. ‘Mengerti?’. Ha! What the hell she’s thinking so that?.

Sampai mati pun aku tidak akan pernah menyetujui ini Joohyun. Geramnya dalam hati.

Yonghwa masih meremas ponselnya marah, ibu jarinya menekan layar sentuh kuat hingga bergeser ke bawah menunjukan bagian kolom komentar. Dia tidak pernah peduli tentang komentar-komentar sebelumnya, tapi sesuatu menarik perhatiannya. Dia menggulirkan layar lebih ke bawah, hanya mendapatkan hatinya lebih sakit.

[-30;12]:Oh my God. Uri Seohyun akan mengambil peran seperti itu, aku pikir tidak sanggup untuk melihatnya.

[+28;01]: The Bi*ch, aku tahu dia akan memerankan ini, Dia hanya berpura-pura polos, poor Yonghwa, the bi*ch harus jauh dari Yonghwa oppa.

[+76;11]:Oh, aku tidak melihat dia memakai cincin tunangannya, apa yang terjadi? Apa mereka putus? Aku merindukan Yongseo T_T

[-53;15]:Aku pikir mereka putus, temanku melihat mereka bertengkar di parkir restoran.

[+25;17]:I really really hate her, the bi*ch go way!!

Yonghwa mengepal tangannya kuat, semakin dia membaca komentar para anti fans, semakin membuat ubun-ubun seakan meledak. Dia memejamkan matanya kuat, sekarang dia mengerti, apa yang Seohyun rasakan sakit selama ini, dia rasakan sekarang. Dan apa yang lebih membuatnya marah, kenyataan bahwa Seohyun serius memutuskan pertunangan mereka.

Dia menggulirkan layar ponsel kembali ke atas, memastikan gambar Seohyun yang sedang menyelipkan helaian rambung ke belakang telinga yang menampakan jari ke empat tangan kirinya kosong tanpa cincin tunangan mereka.

Yonghwa mengacak rambutnya kacau. Dia harus menghentikan ini. Dia harus membawa Seohyun kembali padanya. Harus. Dia keluar dari tempat tidur, memakai hoodienya, dia menekan panggilan cepat sebelum meninggalkan apartemen.

“Halo, fany-ssi?”

***

Tiffany terkejut melihat Yonghwa sudah di depan rumahnya. Hanya beberapa menit yang lalu dia menerima telepon darinya dan sekarang dia sudah di depannya. Tiffany memborbardir pertanyaan padanya apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Yonghwa tidak menghiraukan, dia langsung bertanya dimana Seohyun. Tiffany menunjuk kalau Seohyun berada di ruang anaknya.

Yonghwa melihat Seohyun yang sedang mengelus pipi lembut bayi dan membuat gerakan lucu di bibirnya menghibur bayi yang terjaga.

“Seohyun-ah”

Seohyun menegang ditempat, dia bahkan tidak terpengaruh lagi dengan bayi yang berusaha menggapai rambut Seohyun yang terurai dengan gerakan-gerakan lucu. Tapi beberapa detik berikutnya dia bisa mengendalikan dirinya, bersikap biasa. Dia kembali bermain dengan bayi yang memiliki mata sipit seperti ibunya.

“Seo Joohyun” Panggilnya ulang.

“Oh oppa, kau disini?” Seohyun berbalik, memasang wajah tersenyum paksa. “Bagaimana kabarmu?”

Mwo?” Dahinya berkerut. “Joohyun, setelah apa yang terjadi, kau masih bertanya bagaimana kabarku?” Yonghwa tersenyum sengit. Menghembuskan napas keatas, “Keure, untuk informasi mu Joohyun, aku tidak baik-baik saja” Ucapnya dengan gigi terkatup.

Yonghwa melangkah mendekatinya. “Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja? Ah, dari apa yang aku lihat, sepertinya kau baik-baik saja. Kau bahkan bisa tertawa di depan kamera dan mengumbar peran yang akan kau ambil” Bisik Yonghwa sinis tepat didepannya.

Seohyun menelan ludah sulit, sebelum menatapnya berani. “Itu bukan urusan mu”

“Itu urusan ku Joohyun!! Kau tunangan ku!!” Teriak Yonghwa membuat bayi yang asik bermain sendiri dengan tangan mungilnya menangis ketakutan mendengar suara keras.

“Oppa, kau membuatnya takut” Seohyun memarahi sebelum berbalik menenangkan bayi dalam box.

Yonghwa mengusap wajahnya kesal. Berkacak pinggang, mendesah mencoba menenangkan emosinya. Di sisi lain Seohyun masih mencoba menenangkan bayi dengan menepuk pantatnya lembut dan memberinya susu formula. Mendengar tangisan anaknya keras, Tiffany datang dan mengambil bayi dalam box menimangnya lembut.

Unnie maafkan aku” Kata Seohyun menyesal.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi, bisakah kalian menyelesaikannya tanpa berteriak di depan bayi yang tidak bersalah. Kalian membuatnya takut” Ucap Tiffany kesal, masih menimang. “Kalian berdua orang dewasa jadi berpikirlah selayaknya kalian. Aku akan meninggalkan kalian disini, dan aku berharap kalian bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin” Tiffany meninggalkan mereka, menutup pintu dan pergi ke kamarnya.

“Joohyun, aku minta maaf , aku tidak bermaksud-“ Ucap Yonghwa menyesal mengamit lengan Seohyun, tapi ditepis.

“Kau tidak harus berteriak seperti itu” Seohyun melotot padanya.

“Tapi tindakan mu membuat ku marah Seohyun. Kau mengambil peran yang membuat ku marah”

“Oppa, kau tidak berhak marah padaku. Jika kau lupa, kita sudah putus”

“Kau memutuskan secara sepihak Hyun!!” Yonghwa meremas rambutnya emosi. “Aku sudah bilang, aku akan berbicara dengan perusahaan, aku akan membatalkannya. Kau harus bersabar Hyun”

“Sabar? Aku selalu sabar oppa, kau selalu bilang untuk menunggu kalau kau akan membatalkan hal-hal yang berkaitan dengannya, tapi apa? Kau selalu berakhir dengannya, kau membuat ku kecewa!”

“Maafkan aku Hyun, aku tak bermaksud membuat mu kecewa, tapi tolong, batalkan peran mu, aku tidak bisa melihat mu mengambil peran seperti itu” Suaranya melunak, memohon.

“Kenapa aku tidak bisa, sedangkan kau bisa?” Oke, keras kepalanya mulai lagi.

“Aku bilang, aku akan membatalkannya Hyun!” Katanya frustasi memegang lengannya. “Jadi berhenti bertingkah seperti ini!” Yonghwa menatap lurus di matanya, sekilas terlintas di pikirannya melihat mata dingingnya, hal yang tidak mungkin dilakukan Joohyun. Dia ingin menyangkal, tapi pikirannya menolak.

“Kau.. Apa ini-balas dendam?” Akhirnya kata-kata terlontar dari mulutnya.

“Ya”

Itu saja. Dunia Yonghwa serasa jungkir balik, dia ingin menarik jawaban Seohyun dari telinganya. Dia tidak percaya apa yang dia dengar. Ini bukan Seohyunnya, wanita di depan dia sekarang bukan Seo Joohyun yang ia kenal. Seohyun tidak akan melakukan hal seperti ini padanya.

Yonghwa meremas bahu Seohyun kuat membuatnya sedikit merintih. “Bagaimana bisa?” mata Yonghwa mencari kebenaran di matanya “kau bohong Joohyun, kau tidak mungkin melakukan ini padaku?” Katanya lirih.

“Kenapa? Oppa tak percaya?” Katanya serius. “Seo Joohyun yang kau kenal polos selama ini, itu bohong. Ini aku Seohyun, Seohyun yang membalas dendam padamu, Seohyun yang seperti orang-orang katakan” Dia tersenyum sinis, membuat sandiwaranya terlihat sempurna.

“Tidak mungkin! Kau bohong Joohyun, kau tidak seperti itu!!”

“Aku mengakatan yang sebenarnya!! Itu kau yang buta, kau tertipu oleh ku!!” Bentak Seohyun, menghapus tangan Yonghwa dari bahunya kasar. “Mianhe.. Hanya terima kenyataan, aku bukanlah orang seperti yang kau harapkan.. Jangan pernah temui aku lagi, kita selesai” Seohyun menatap mata coklat yang sangat ia cintai itu penuh sakit sebelum pergi. Dia ingin memeluknya, mengatakan ia ingin kembali kepadanya, dan meminta maaf untuk semuanya. Tapi sebagian dari dirinya menolak melakukan itu semuanya.

Langkah Seohyun terhenti ketika mendengar kata-kata Yonghwa. “Cinta.. Kau bilang kau mencintaiku.. Apa-itu juga bohong?” Tanya Yonghwa, mereka saling memunggungi.

Seohyun tidak bisa tidak menangis mendengar pertanyaannya. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara tangisnya. Ya, dia memang berbohong sebelumnya, tapi untuk yang satu ini dia ingin mengatakan yang sebenarnya. Dia benar-benar mencintainya, sangat mencintainya.

Ani, itu benar. Aku mencintaimu oppa, setulus hatiku.. Katanya dalam hati.

“Ya” Yang diucapnya dengan satu napas. Bohong.

Yonghwa menggapai besi tempat tidur box bayi sebagai penopang tubuhnya, lututnya terasa lemas setelah mendengar jawaban Seohyun. Jawaban Seohyun seperti pisau yang menusuk hatinya hingga hancur berkeping-keping. Bahkan dia tidak bisa mengerti perasaannya sekarang, ada kemarahan terselip dihatinya. Dia mendengar langkah Seohyun yang semakin menjauh meninggalkannya. Dia menutup matanya dengan satu tangan lainnya, hingga setetes air mata keluar dari matanya.

***

Rumor yang mengatakan mereka putus semakin besar, sebagian orang bertanya-tanya apa yang mereka sembunyikan sebenarnya, dan sebagian orang ada juga mengambil kesimpulan sendiri. Ini berita bahagia untuk anti fans mereka dan berita buruk untuk fans yang mencintai mereka di lokal maupun dunia.

Sepulang Yonghwa dari rumah Tiffany, dia langsung pergi ke perusahaaan. Dia mengamuk seperti setan, mengatakan pada CEO untuk membatalkan peran barunya dengan DIA. Teman-teman yang berada di tempat bahkan tidak bias menghentikannya. Dia bilang, dia akan lebih bekerja keras menghasilkan uang untuk perusahaan asalkan dia terlepas yang berkaitan dengan dia. Yonghwa juga memperingati untuk tidak mengkonfirmasi apa pun tentang statusnya dengan Seohyun. Karena dia yakin, Seohyun akan kembali padanya. Dia masih belum menyerah untuknya. Begitu juga dengan perusahaan yang menaungi Seohyun, mereka belum ada konfirmasi apapun tentang rumor tersebut. Ini membuat Yonghwa semakin yakin, Seohyun masih menunggunya.

Dia masih tidak percaya apa yang Seohyun lontarkan padanya. Balas dendam? Itu bulshit, Yonghwa tahu, dia hanya ingin membuat hatinya sakit dengan ucapannya. Dia kenal Seohyun bukan satu hari.

Dia masih berusaha untuk memperbaiki keadaan dengan Seohyun di sela jadwalnya yang sibuk dengan band ataupun solonya. Namun Seohyun seperti di telan bumi menghilang entah kemana, dan juga Seohyun mengganti password apartementnya. Satu-satunya ia bisa melihat Seohyun, hanya melalui layar kaca saat ia menjadi bintang tamu. Dia bahkan menghubungi ibu Seohyun, meminta bantuan untuk memberitahunya jika Seohyun pulang.

Yonghwa berdiri di depan jendela kaca besar melihat hujan yang begitu deras dengan awan kelam sekelam hatinya. Dia memejamkan mata, memeluk dirinya mencari kehangatan yang hilang. Pikirannya terbang jauh, dimana ia memeluk Seohyun memberinya kehangatan, menunggu hujan.

“Sedang apa?”

“Menunggu hujan” Jawabnya, membiarkan Yonghwa memeluknya dari belakang, memberikan kecupan singkat sisi wajah Seohyun sebelum meletakkan dagunya di bahu Seohyun.

“Menunggu hujan?” Ulangnya “Wae?”

“Karena setelah hujan, akan ada pelangi yang sangat indah yang tidak ingin aku lewatkan” Jawabnya dengan senyum mega watt.

“Sepertinya kau lebih mencintai pelangi dari pada aku” kata Yonghwa cemberut.

“Oppa, tidak ada yang lebih aku cintai selain kau. Neol Choding” Seohyun memiringkan kepalanya, melihatnya yang sudah tersenyum konyol.

“Gimana kalau pelangi tidak muncul?”

“Berarti aku sedang tidak beruntung” Katanya dengan tawa kecil. “Sebenarnya, aku lebih menyukai hujannya dari pada pelangi. Karena, oppa pasti akan memeluk ku seperti ini” Ucap Seohyun menarik lengannya lebih erat sambil tersenyum.

Yonghwa tertawa melihat tingkahnya. “Seperti aku tak pernah memeluk mu saja” Yonghwa mencubit hidungnya, membuat Seohyun merintih sambil tertawa.

“Tapi seperti ini adalah favoritku”

Mendengar itu Yonghwa tanpa ragu mempererat pelukannya. Yonghwa membenamkan wajahnya di lekukan lehernya, mencium aroma vanili yang sangat ia sukai.

“Oppa”

“Hmm?”

“Apa kau suka pelangi?”

“Tentu saja. Aku bahkan melihatnya setiap saat”

“Setiap saat? Bagaimana bisa oppa melihat pelangi setiap saat. Hujan tidak turun setiap saat oppa” Seohyun tertawa mendengar ucapan Yonghwa yang tidak masuk akal.

Yonghwa menegakkan tubuhnya, dia membalikkan tubuh Seohyun menghadapnya. Menatap matanya begitu dalam, dan tersenyum. “Seo Joohyun, aku tidak perlu menunggu hujan untuk melihat pelangi. Kau tahu, kau adalah pelangi ku. Kau membuat hidup ku berwarna yang menghiasi hari-hari ku. Kau bahkan menerangi mimpi-mimpi ku yang gelap. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tak disampingku. Mungkin aku akan hidup seperti dalam jurang yang sangat dalam tanpa cahaya yang penuh sesak. Jadi.. jangan pernah pergi dari sisi ku dan jangan pernah memudar sampai kapanpun. Ahrasseo?” Yonghwa melihatnya mengangguk mantap. Dia tersenyum..

“Aku sangat mencintaimu, Joohyun” Ucapnya tulus, menggosok ujung hidungnya pada milikinya.

Seohyun tidak bisa tidak menangis, kata-katanya membuat hatinya merasa hangat. Dia tidak tahu mantra apa yang ia gunakan untuk menyetrum hatinya menjadi berdetak tak karuan.

“Aku juga mencintaimu, oppa” katanya tersenyum, mengecup bibirnya ringan, sebelum melingkarkan tangannya di leher Yonghwa, memeluknya erat.

Yonghwa mendesah masih memejamkan matanya, dia masih ingat jelas apa yang mereka akan lakukan saat seperti ini, walaupun hanya diam melihat rintikan hujan dengan memeluk satu sama lain sudah membuat mereka cukup untuk saling membutuhkan.

Menyandarkan punggung di dada, menempatkan kepalanya di bahunya yang besar yang suka rela Yonghwa memberinya. Terkadang Yonghwa akan menjahilinya dengan menghembus pelan ke telinga Seohyun, membuatnya bergidik geli dan Yonghwa mendapat balasan pukulan ringan di lengannya. Mereka tertawa beberapa saat sebelum kembali ke posisi mereka, memeluk satu sama lain.

Sekarang, dia hanya memeluk dirinya sendiri. Tersenyum pahit, dengan kenyataan yang ia rasakan sekarang tidak seperti dulu lagi. Semuanya terasa dingin, tidak sedikit pun ia merasakan kehangatan meskipun ia memakai pakaian tebal yang menutupi tubuhnya. Ini tidak akan sama seperti kemarin jika Joohyun tidak bersamanya. Tidak akan pernah.

Dia ingin, dia ada disini, memeluknya.

Yonghwa memijat pelipisnya, dia bahkan tidak repot-repot menghapus cairan bening yang sudah menetes di sudut matanya.

Seandainya…

“Oppa!!”

Yonghwa tersenyum pahit, menertawakan dirinya, bahkan disaat ia berkhayal dia masih bisa mendengar suaranya.

“Oppa! Aku sudah bilang letakkan sepatumu di rak, kenapa membuatnya jadi berantakan”

Yonghwa masih tertawa dalam pikirannya, tertawa pahit, bagaimana ia sangat merindukan suaranya. Merindukan omelannya. Fakta menyakitinya, dia hanya berhalusinasi.

“Oppa!”

Yonghwa menghitung dalam hatinya, dia akan pergi setelah dia menghitung sampai hitungan kelima. Namun panggilan terakhirnya, membuat Yonghwa membuka mata, membuatnya beku ditempat, dan perlahan berbalik. Dia berdo’a dalam hati, jangan biarkan ini mimpi. Melihat Seohyun berdiri di depannya, memegang keranjang belanjaan di dadanya, tersenyum manis padanya.

“Kenapa? Kenapa oppa melihat ku seperti itu? Apa kau sudah makan? Eomma membawakan makanan untuk mu, dia bilang menantuku harus sehat tidak boleh sakit. Tidak kah eomma-ku terlalu manis”

Yonghwa mengawasinya berjalan, meletakkan tasnya di sofa sebelum pergi ke dapur meletakkkan barang-barang belanjaannya. Yonghwa bisa melihat tawanya yang mengatakan ibunya betapa dia mencintai dirinya. Yonghwa masih berdiri mematung, tidak bisa gerak sedikit pun. Otaknya menyangkal kalau ini imajinasinya. Tapi melihatnya berjalan dan berbicara seakan ini nyata.

“Oh, oppa, aku lupa. Aku sudah janji dengan Minhyuk untuk menonton dramanya. Jam berapa ini? Oh aku akan mati jika aku tidak bisa menjawab pertanyaannya nanti”

“Seohyun..” Hanya itu yang bisa ia lontarkan.

Yonghwa masih berdiri mematung di tempatnya, tidak percaya, secepat inikah Tuhan mengabulkan doa’anya? Jika ia, dia sangat bersyukur, dan dia tidak akan membiarkannya pergi lagi, tdak akan.

Yonghwa masih menyaksikan dirinya yang cepat-cepat berjalan dan duduk di sofa, mengangkat tangannya mengajak untuk menonton bersama. Ketika dia berjalan selangkah, dia mendengar ponselnya berdering di atas meja berlawan dari tempat dia berdiri dekat jendela.

Yonghwa ingin mengabaikannya, dan hanya ingin berjalan dimana Seohyun duduk tersenyum padanya. Namun deringan ponsel berulang membuatnya berbalik arah mengambil ponselnya. Dia menjawab telpon tanpa melihat siapa pemanggil.

“Halo?” Sapa suara paruh baya dari jalur lain.

“Eomonim”

“Yonghwa-ah, Seohyun di rumah-“

Mendengar itu, Yonghwa membulatkan matanya terkejut. Dia langsung mengalihkan perhatiannya pada sofa kosong dimana Seohyun sebelumnya duduk mengajak nonton drama disampingnya. Dia memejamkan matanya erat, mendesah, betapa bodohnya dia bahwa itu hanya tipu muslihat matanya yang melihat Seohyun di rumah. Dia tidak mendengarkan dengan baik ibu Seohyun berbicara di jalur lain karena pikiran kacau mengganggunya.

“Yonghwa, apa kau mendengarku?”

Ya eomonim, aku akan segera kesana. Terima kasih”

Yonghwa memijat pelipisnya setelah menutup telepon. Dia benar-benar tidak tahan ini. Hidup dalam bayang-banyanya membuat dia tidak bisa berpikir apakah ini nyata atau tidak. Dia harus menghentikan ini segera, dia harus membawa kembali Seohyun secepatnya. Dia tidak ingin harinya akan semakin gelap tanpa warna Seohyun yang memberinya.

***

Seohyun meringkuk di tempat tidurnya, menatap jendela terbuka dan hembusan angin yang menerbangkan kain yang menggantung. Dia bisa merasakan tepasan air hujan mengenai wajahnya yang masuk melalui jendela kamarnya.

Pikirannya terbang dimana dia merindukan Yonghwa akan memeluknya saat hujan datang, menunggu saat dimana pelangi akan muncul. Memeluk dalam diam, melepaskan penat setelah jadwal yang memakan energi mereka.

“Kau adalah pelangiku.. Jangan pernah memudar..”

Seohyun masih ingat jelas bagaimana lelaki yang sangat ia cintai itu mengatakannya dengan tulus, mata berbinar cerah dan senyumnya membuat simpul pipinya terlihat jelas.

Dia benar-benar merasa bersalah untuk menyakiti Yonghwa dengan kata-kata yang ia lontarkan di rumah Tiffany, semua yang ucapkan hanya kebohongan, dia tidak pernah ingin balas dendam dengannya, dia tidak akan bisa. Tapi melihat keadaan, betapa dia ingin mengambil peran dengan DIA, membuatnya ingin Yonghwa juga harus merasakan sakit yang ia rasakan. Melihat dan mendengar kabar bagaimana pasangan mu akan beradegan ranjang dalam satu film, Seohyun juga ingin Yonghwa merasakannya. Dia tahu dia akan egois bersikap seperti ini, dia tahu bagaimana kehidupan seorang selebriti untuk menyerahkan hidupnya untuk peran yang akan dia jalankan.

Tapi, tidak bisakah dia meminta, Yonghwa adalah miliknya, tidak bisakah dia untuk menjaga apa yang menjadi miliknya, dia tidak ingin Yonghwa melakukan itu dengan siapa pun selain seseorang yang akan menjadi istrinya. Itu harus dia.

Seohyun tahu, kalau Yonghwa akan memegang ucapannya. Yonghwa membatalkan perannya dari berita yang dia baca tiga hari yang lalu. Dia benar-benar merasa bodoh, memarahi dirinya kalau dia tidak percaya dengannya. Dia mengutuk dirinya untuk tidak sabar dan mengambil kesimpulan secepatnya. Dia ingin mengambil kata-kata ‘putus’ darinya, dia ingin kembali dengannya. Beberapa minggu tidak melihatnya, membuatnya seakan tercekik dan seperti berada di penjara. Membayangkan hidup tanpanya di masa depan membuatnya takut untuk menjalaninya, dia tidak bisa.

Dia ingin melihatnya, dia merindukan Yonghwa, sangat merindukannya.

Seohyun meremas bantal, menahan isak tangis di mulutnya agar tidak terdengar oleh ibunya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia menangis seperti itu, bahwa dia bisa merasakan bantal basah di pipinya.

“Joohyun-ah, apa kau tidur? Makanlah dulu, eomma menyiapkan makanan”

Suara lembut ibunya terdengar dari luar pintu kamarnya. Ya, ibunya tahu masalah dia dengan Yonghwa. Dia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari ibunya terutama masalah cintanya dengan Yonghwa. Ibunya hanya bisa memberinya nasihat apa yang yang terbaik untuknya, ibunya tidak akan mencampuri keputusan apa pun yang akan dia ambil, ibunya tahu, Seohyun akan memilih yang terbaik untuk dirinya.

Seohyun mendengar pintu kamarnya di buka dan tertutup kembali, dia tidak perlu repot-repot melihat siapa yang masuk, itu pasti ibunya. Dia tidak ingin ibunya melihat dia seperti ini, tidak ingin ibunya melihat air mata yang ia buat dari keputusannya sendiri pada Yonghwa, jadi dia hanya diam dan pura-pura tidur.

Seohyun merasakan tempat tidurnya bergerak. Mungkin ibunya ingin memakaikan selimut untuknya. Tapi saat lengan kekar melilit pinggangnya dan merasakan napas hangat di lehernya, membuatnya kaget dan menegang di tempat. Dia tidak bergerak sama sekali. Masih memejamkan matanya, berpura-pura tidur. Ini bukan ibunya, dia orang yang sangat ia rindukan. Dia orang yang sangat dia cintai. Yonghwa.

“Joohyun-ah.. aku merindukanmu..” Bisik Yonghwa di lekukan leher Seohyun.

Seohyun memejamkan matanya rapat, hatinya menjerit bagaimana dia merindukan suaranya. Bagaimana dia merindukan pelukannya. Air mata yang Yonghwa tidak ketahui keluar dari sudut mata Seohyun. Seohyun menangis dalam diam, menikmati pelukan yang ia berikan.

“Joohyun-ah.. bagaimana bisa kau melakukan ini padaku.. Kau wanita kejam..”

Seohyun menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang membuat dadanya terasa sesak. Dia merasakan tubuh Yonghwa bergetar di punggung dan air matanya yang membasahi lehernya, hanya membuat Seohyun semakin sedih.

“Bagaimana bisa kau bilang kau tidak mencintaiku, kau menyakitiku Hyun..” Napas Yonghwa terengah-engah, tenggorokannya tercekat. “Aku rusak Joohyun.. Aku rusak..” Yonghwa menangis di punggungnya, membenamkan wajahnya di bahu Seohyun, tubuhnya bergetar hebat menahan isak tangis. “Kau menyakitiku Joohyun-ah..”

“Hyun-ah..” Bisiknya putus asa. “Apa yang terjadi pada kita?”

Maafkan aku oppa.. Mianhe.. Ucap Seohyun dalam hati.

“Hyun-ah..”

“Aku tahu kau pura-pura tidur”

Mendengar itu, Seohyun tidak bisa menahan tangisannya lagi. Isak tangisnya keluar begitu saja, dia meremas tangan Yonghwa erat, membawanya lebih dekat dengannya. Yonghwa merapatkan tubuhnya dan memperat pelukannya. Dia membiarkannya menangis menumpahkan semua rasa sakit yang mereka rasakan saat ini. Mereka menangis dalam pelukan masing-masing.

Setelah beberapa saat mereka seperti itu, dan isakan Joohyun mulai mereda. Yonghwa membalik tubuh Seohyun, menghadapnya. Betapa ia sangat rindu wajah kekasihnya itu. Betapa ia sangat rindu mata binar kekasihnya itu, dan betapa dia sangat rindu mendengar omelan yang keluar dari mulut manisnya itu.

Yonghwa menghapus sisa air mata di pipi Seohyun dengan ibu jarinya, menghapus helaian rambut yang menutupi wajahnya. Dia mendekatkan wajahnya untuk mencium dahinya, kedua matanya dan ujung hidungnya. Seohyun bergetar di bawah sentuhannya. Dia menundukkan kepalanya di dada Yonghwa, tidak berani menatap matanya.

“Maafkan aku oppa.. maafkan aku..” Ucapnya, yang memulai isak tangis baru.

“Aku berbohong padamu.. aku benar-benar mencintaimu.. aku tahu, aku egois, aku seharusnya tidak bersikap seperti ini, a-aku seharusnya mengerti dengan pekerjaan kita. Kita memlilih ini, maafkan aku oppa.. seharusnya aku bisa menempatkan emosi dan cemburuku.. maafkan aku oppa.. mianhe..” Seohyun menangis lagi, meremas baju di dada Yonghwa. “Aku minta maaf..”

“Ssstttt, lihat aku Joohyun” Yonghwa memegang dagunya, untuk bisa melihat wajahnya. Seohyun memberanikan diri untuk menatap matanya, melihat bola mata coklat tua yang sangat ia rindukan. “Aku tahu, aku tahu Joohyun. Aku juga minta maaf karena menyakitimu, aku yang membuat kita seperti ini. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi, aku janji, dan aku berjanji untuk menjadi lelaki yang lebih baik lagi untuk mu dan lebih mencintaimu. Jadi, jangan pernah tinggalkan aku seperti itu lagi dan mengeluarkan kata-kata yang aku benci dalam hidupku. Ahrasseo?”

Seohyun menatapnya dalam, sebelum mengangguk mantap. Yonghwa tersenyum.

Yonghwa menariknya dalam pelukan ketat, membenamkan wajahnya di dadanya. Dia mencium puncak kepalanya lama.

“Aku mencintaimu, Joohyun”

“Aku juga mencintaimu, oppa”

Yonghwa menatap ke jendela, melihat bahwa hujan sudah berhenti, awan mendung kini berganti dengan langit biru yang cerah dan sinar matahari yang kembali menyinari bumi. Dia bisa melihat pelangi dari tempatnya, menghiasi langit biru menjadi lebih sempurna. Sekarang, dia tidak perlu takut akan gelap lagi, karena pelanginya sudah kembali, memberi warna hidupnya yang lebih cerah.

“Joohyun-ah”

“Hmm?”

“Batalkan peranmu”

Ahrasseo

“Gadis baik”

Dia tersenyum senang, memejamkan mata, dan mendekap Joohyun erat. Mencium puncak kepalanya sekali lagi, sebelum jatuh tertidur di pelukannya.

Take me back into the arms I love
Need me like you did before
Touch me once again
And remember when
There was no one that you wanted more

I’ll be waiting for you
Here inside my heart
I’m the one who wants to love you more
You will see I can give you
Everything you need
Let me be the one 
to love you more

***

[Breaking News] CN Blue’s Yonghwa and Seohyun Will Be Get Married This Month              

 

***

 

-The End-

Halooooo saya kembali.. haha^^

Sudah seribu tahun saya tidak update dan menulis lagi, bahkan ff terakhir saya menggantung di part 1, maafkan saya.

Aku kembali dengan ff yang pasti anda bosan untuk melihat castnya. Yup, CN Blue meneh, hehe. Jangan marahi saya, saya penggemarnya. Dan membuat ff CN Blue adalah kesukaan saya. Nah, kenapa aku tulis judul dengan ‘Blue’s Series’ karena aku akan membuat ini menjadi series masing-masing membernya. Yang pertama adalah sih Leader. Nah, siapa selanjutnya? Dan siapa yang menjadi pasangannya? Kau bisa menebak, hohoho.

Aku minta maaf untuk barisan tentang komentar yang agak kasar diatas. Kalian tahu sendiri bagaiamana fans di korea ataupun diluar bahkan di Negara kita sendiri tentang komentar buruk. Artis juga manusia, pasti memiliki rasa sakit hati termasuk Seohyun di atas, hihi. So, sebagai fans, mari kita mendukung idola kita masing-masing. Fighting!!

Terakhir, terima kasih banyak, dan jangan lupa untuk komentarm, like and share.. :*

PS : Jika kau ingin membaca ff yongseo saya yang lain, kalian bisa klik disini

Terima kasih, sampai jumpa di update berikutnya🙂

16 responses to “[OneShot] Blue’s Series – When The Rainbow Faded

  1. Pingback: [OneShot] Blue’s Series – Ahjussi, Saranghae! | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s