[Series] Married With A Gay – Chapter 9

mwag-copy

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length :Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : G.Lin @CafePoster

***

Luhan kembali mengangkat ponselnya yang tergeletak di atas meja.Ia harap, saat ia mencoba menyalakan ponselnya ia bisa mendapati setidaknya satu pesan dari Ariel. tapi gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya, bahkan Ariel seperti hilang ditelan bumi.

Luhan menggaruk kepalanya dan melempar ponselnya asal ke atas sofa ruang tengah.Apanya yang disebut saling menyukai jika Ariel menghindarinya seperti sekarang ini? Semua panggilannya diabaikan, semua smsnya bahkan tidak dibaca. Apa Ariel harus menghindarinya seperti ini jika dia cemburu pada…

Mata Luhan langsung mengerjap saat kata ‘cemburu’ itu melintasi otaknya. Entah kenapa tiba-tiba bisikan gila jika Ariel tengah merajuk padanya justru kini begitu mendominasi. Dan dengan konyol, Luhan justru menarik kedua sudut bibirnya dengan nada kekanakan. Ia tiba-tiba saja merasa senang membayangkan Ariel cemburu, merajuk…

Tapi yang menjadi masalah utama saat ini, Ariel belum juga pulang sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 10. Hei, bagaimanapun tidak baik jika perempuan pulang sendiri malam-malam begini, kan? Belum lagi Ariel sangat payah soal daerah-daerah yang ada di Beijing.

Bagaimana jika Ariel tersesat?Atau ponselnya tertinggal di suatu tempat sampai…

“Kau sudah pulang?”

Luhan terkesiap saat suara Ariel menyentuh gendang telinganya bahkan lebih dari itu, Ariel tengah menatapnya dengan tatapan bingung saat ini. Dengan dua plastik belanjaan, Ariel berjalan melewati Luhan begitu saja.

Hei! Luhan benar-benar tidak suka diabaikan seperti ini. Ia mengkhawatirkan gadis itu sejak tadi dan Ariel hanya bertanya “Kau sudah pulang?” seolah-olah keberadaan Luhan biasa saja?

“Kau dari mana saja?” tanyaLuhan sambil mengekori Ariel yang bejalan menuju dapur dan menaruh belanjaannya di atas meja.

Ariel pun memutar tubuhnya dan menatap Luhan dari ujung kaki sampai ujung kepala, memperhatikan Luhan yang tengah memakai kaos polos berwarna putih dan celana selutut, dan juga tanpa sengaja melihat rambutnya yang masih agak basah, dan…sedikit berantakan.

“Belanja,” kata Ariel akhirnya sebelum ia melanjutkan ritual membereskan seluruh belanjaannya. Ariel memang tidak punya banyak pekerjaan di rumah itu, tapi Ariel juga tidak terlalu suka jika sudah harus menunda-nunda pekerjaan.

Luhan pun mendekat dengan wajah yang sedikit ditekuk. Kenapa Ariel bersikap biasa saja? dari semua gadis yang pernah ditemuinya, saat mereka marah mereka akan bersikap marah, menghindari tatapan Luhan atau apapun. Dan biasanya, mereka akan merasa gugup dan malu jika sudah berhadapan dengan Luhan jika ketahuan menyukai Luhan seperti saat ini.

Tapi Ariel, bahkan setelah pengakuan kecemburuannya tadi malam, juga sikap anehnya dengan menghindari Luhan seharian inisama sekali tidak senada dengan gerak-geriknya. Ariel tetap pendiam dan kaku seperti biasa, Ariel bahkan menatap Luhan seolah mereka tidak terlibat masalah apapun.Yang membuat Luhan semakin jengkel, Ariel bahkan bersikap seolah mereka semua baik-baik saja. menyebalkan sekali bukan?

“Kau tidak akan mengatakan sesuatu padaku?” tanya Luhan masih penasaran. Tidak. ia tidak akan menyerah sampai membuat keadaan mereka jelas.

Ariel kembali menoleh ke arah Luhan, masih dengan tatapan bingungnya, “Memangnya apa yang salah?” tanyanya tak acuh dan mulai merapikan isi kulkas.

Luhan pun menarik kursi makan yang terletak di sisi meja dan menariknya kasar, “Kau benar-benar tidak ingin mengatakan sesuatu? Setelah apa yang terjadi?”

Ariel mendengus panjang. Apa-apaan Luhan hari ini? Kenapa dia terus saja bertanya tentang hal yang bahkan Ariel sendiri tidak mengerti suasana hatinya belum membaik setelah pertemuannya dengan Yi Xing tadi, bahkan moodnya juga belum kembali karena sakit kepalanya yang semakin menjadi. Dan Luhan terus saja membeo seperti musik clubbing yang menyakiti telinganya.

“Ariel…”

“Kau ini kenapa, sih? Bicara yang jelas. Memangnya apa yang harus kita bicarakan? Apa kau ada masalah?” tanya Ariel akhirnya sambil melewati Luhan dengan langkah lambat. Dan setelah sampai di ujung anak tangga, Ariel kembali menoleh ke belakang, berharap Luhan mengatakan sesuatu atau apapun yang membuatnya rewel malam itu.

Tapi setelah persekian detik menunggu, Luhan justru hanya memandnagi Ariel tanpa sepatah katapun. Dengan sedikit kesal, Ariel pun melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Ini sudah malam, ia butuh mandi dan segera istirahat…kecuali jika Luhan memang ingin bicara sesuatu denganya. Itu artinya Ariel harus menunda jam istirahatnya terlebih dahulu.

***

“Dia tidak menyukaiku, Wufan. Kau tahu bagaimana reaksinya saat bertemu denganku tadi? Sangat sangat biasa saja. aku bahkan sebal dengan kenyataan Fei jauh lebih perhatian padaku,”s Wufan mendengus geli dan menggeleng pelan.

Lagi-lagi Luhan menelponnya, dan tentunya lagi dan lagi Luhan menceritakan kisah rumah tangga absurdnya dengan Ariel. Oh, bayangkan saja. bahkan detail yang tidak perlu diceritakan Luhan justru menjadi topik yang panjang jika Luhan yang mulai bercerita. Wufan bahkan sering tidak sadar jika Luhan begitu cerewet dan kekanakan.

“Mungkin dia lelah? Kau bilang dia baru pulang, kan? Kenapa kau tidak tanyakan saja dia dari mana…” kata Wufan lagi sambil menggeser duduknya saat Fei tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya dan ikut-ikutan menguping pembicaraannya dengan Luhan.

“Begitu ya? tapi aku…”

Wufan langsung bangun dari kursinya dan menjauhi Fei yang mencoba mendekatkan telinganya ke arah ponsel Wufan, “Ayolah, Lu…hubunganmu dengannya tidak akan ada peningkatan jika kau sendiri terus-terusan begini. Bagaimanapun, Ariel bukan gadis-gadis yang pernah kau kencani,”

Fei mendengus geli saat mendengar nada suara Wufan yang mengatakan ‘gadis yang pernah kau kencani’ pada Luhan. memang seperti apa gadis-gadis yang pernah ‘berkencan’ dengan Luhan? bagaimanapun, Fei salah satu gadis yang [ernah berkencan dengan Luhan. dan Fei sama sekali tidak suka dengan cara bicara Wufan barusan.

“Kenapa kau tiba-tiba menyinggung soal gadis yang pernah berkencand negan Luhan?” Fei melipat tangannya dengan kesal.

Acuh tak acuh, Wufan melewatinya begitu saja, “Karena Luhan perlu belajar bagaimana cara mendekati istrinya sendiri,” sahutnya dengan nada cuek.

Fei mendengus kecil, kemudian membuntuti Wufan dari belakang menuju kamarnya, “Dan kau tidak merasakan apa-apa?”

“Menurutmu aku harus merasakan apa?” Wufan bertanya balik sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, entah mengapa hari ini rasanya begitu opanjang. Membuat tubuhnya benar-benar terasa lelah.

“Kau menyukainya, kan?” tanya Fei lagi, masih belum mau mengakhiri obrolan yang menurut Fei sangat serius ini.

“Ayolah Fei, Luhan tidak sama sepertiku. Dia bahkan bisa menikah dengan wanita sungguhan, bahkan kau juga pernah tidur dengannya, kan? Apa itu kurang cukup menjadi bukti bahwa Luhan sebenarnya…”

“Kalau begitu kau juga bisa memulainya dengan wanita sungguhan. Kau terus saja menasehati Luhan, kenapa kau tidak mulai untuk dirimu sendiri?”

Wufan mendengus dan langsung melempar bantalnya ke arah Fei, “Pulang sana! Kau tidak punya rumah atau apa sampai terus-terusan membuntutiku seperti ini?”

Fei mendengus keras dan balik melempar bantal Wufan, “Kau juga perlu belajar Kris. Bagaimanapun orangtuamu membutuhkan penerus mereka. Kau tidak akan selamanya sendiri, kan?”

“Aku akan memikirkannya, oke? Jadi sekarang kau bisa pulang. Aku benar-benar mengantuk Fei…”

***

Luhan masih belum bergerak dari tempatnya sejak Wufan menutup telponnya, duduk di atas ranjang sambil menghadap ke arah kamar mandi, menunggu Ariel keluar dan mulai membicarakannya. Kata Wufan, Luhan harus memulainya terlebih dahulu, maka sekarang ia harus..

Tubuh Luhan langsung menegak saat pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Ariel dengan matanya yang setengah tertutup dan berjalans edikit tersaruk ke arah ranjang. Dan Ariel masih mengeringkan rambutnya dengan handuk putih di tangannya.

“Kau belum tidur? Sudah makan? Mau kubuatkan sesuatu?” Ariel membuka pembicaraan dan langsung duduk di atas ranjang, menunggu jawaban Luhan. ia pikir Luhan susah tidur karena lapar. Well, beberapa minggu tinggal dengan Luhan membuat Ariel tahu sedikit-sedikit kebiasan Luhan, seperti tidak bisa tidur karena lapar.

“Biar aku yang lakukan…” Luhan mencoba mengambil handuk di tangan Ariel –ia ingin mengeringkan rambut Ariel. Namun dengan cepat, Ariel menarik handuknya, menjauhkannya dari Luhan.

“Tidak usah. Aku bisa sendiri,” kata Ariel cepat. Dan dengan cepat pula gadis itu bangun dari duduknya, berjalan menuju balkon apartemen mereka untuk menjemur handuk basah itu.

Dan ini yang selalu membuat Luhan tidak yakin apakah Ariel benar-benar menyukainya, jangankan untuk menyukai Luhan, bahkan untuk menerima Luhan saja sepertinya sulit sekali. Yeah, bagaimanapun pernikahan ini sangat sulit baginya. Selain bukan dilandaskan atas perasaan, Ariel juga harus melakukan pengorbanan besar demi berjalannya pernikahan ini. Ariel masih mau melanjutkan pernikahan ini saja suatu keajaiban besar, dan mungkin Luhan harus menunggu sedikit lagi untuk kemajuan hubungan mereka.

“Kenapa tidak tidur juga? Kau ada pekerjaan?” tanya Ariel sambil duduk di atas ranjang. Jarang-jarang mereka bisa duduk berdua di dalam kamar seperti ini. Luhan orang yang sangat sibuk, dan biasanya Ariel akan menjadi istri yang tercampakan di rumah. Benar-benar mirip drama di TV.

“Kau benar-benar tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Luhan sekali lagi. ia benar-benar ingin memastikan soal apa yang diucapkan Ariel, juga apa yang dikatakan Wufan –meskipun ia sama sekali mengabaikan saran dari sahabatnya itu. Mungkin saja Ariel lupa, kan? Atau ia masih gugup sehingga ia tidak mengatakan apapun pada Luhan.

Dengan agak jengkel, Ariel pun memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Luhan, “Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau bicarakan sejak tadi. Tapi aku sama sekali tidak memiliki sesuatu yang harus dibicarakan denganmu. Atau…justru kau ingin mengatakan sesuatu?”

Luhan benar-benar merasa kecewa saat mendengar ucapan Ariel. Wufan salah. Ariel tidak menyukai Luhan sama sekali, bahkan tertarikpun sepertinya tidak. Dari cara gadis itu bicara padanya, dari cara gadis itu memandangnya, sama sekali tidak menyiratkan jika ada perasaan suka yang disimpan gadis itu untuknya.

“Bagaimana cara kekasihmu memperlakukanmu?” Luhan langsung mengutuk lidahnya yang bicara sembarangan. Apa-apaan tadi? Kenapa ia tiba-tiba bicara hal-hal yang tidak-tidak begitu?

Ariel langsung menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Luhan bingung, “A-apa?”

Luhan mendengus keras. Sialan. Gara-gara lidahnya yang tidak terkontrol ini, sekarang Luhan malah merasa terdesak dengan tatapan yang dilemparkan Ariel padanya. Lagipula kenapa ia tiba-tiba menanyakan hal konyol seperti itu? Jelas sekali Ariel akan suka dengan apapun yang pacarnya lakukan, mereka saling menyukai satu sama lain.

“Kau bilang…kau cemburu pada Yi Xing. Kukira kau menyukaiku, tapi…” lidah Luhan mendadak kelu saat Ariel tiba-tiba mengecup pipi Luhan. ini bukan mimpi, kan? Ariel mengecup pipi Luhan? barusan…

“Kau suka melakukan hal-hal yang membuatku terkejut seperti barusan, sekarang pembalasan dendamku. Tidurlah, jangan berpikiran yang aneh-aneh,” Ariel langsung merebahkan tubuhnya. Ia butuh banyak istirahat sebelum besok pagi datang. Ah, ia jadi ingat ia mendapat PR menyebalkan dari guru kursusnya.

Dengan senyuman yang belum hilang di wajahnya, Luhan ikut membaringkan tubuhnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Ariel, “Jadi…kau mulai menyukaiku?”

Ariel menelan ludahnya gugup. Ia tidak tahu jika Luhan sekekanakan ini, bahkan bisa melakukan hal-hal konyol yang sebenarnya membuat Ariel sangat sangat gugup, “Kubilang tidur Luhan…”

“Aku butuh jawabanmu,” desak Luhan lagi.

“Bagaimanapun kita bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, bahkan mau tak mau aku harus memahamimu. Jadi, cepat atau lambat aku pasti akan menyukaimu,” sahut Ariel dengan nada cuek. Ia mulai memejamkan matanya yang terasa berat, dan sayangnya ia harus menunda jam liburan ke alam mimpinya karena Luhan masih terus mengoceh di sampingnya.

“Jadi kau mulai menyukaiku?” tanya Luhan sekali lagi.

“Aku tidak mau menjawabnya sebelum kau juga menyukaiku. Jadi, berhenti bertanya, aku mengantuk…” sahut Ariel masih dengan mata yang terpejam.

Luhan semakin melebarkan senyumnya dan mencoba untuk memeluk Ariel. Dengan cepat, Ariel menahan tubuh Luhan, juga menepis tangan pria itu, “Jangan mencoba untuk memelukku, oke?” Ariel pun menggeser posisi tidurnya, memberi jarak yang lebih luas untuk dirinya dan Luhan.

Luhan mengerucutkan bibirnya, ia pun menaikan selimutnya, “Kenapa tidak? Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk.”

“Tidak, Luhan. itu membuat tidurku tidak nyaman, aku akan merasa kasur ini jadi sangat kecil,”

“Baiklah-baiklah, selamat malam,” sergah Luhan masih dengan wajah yang ditekuk. Kemudian ia pun membalikkan tubuhnya, memunggungi Ariel yang ia kira sudah mulai telelap.

Dan tanpa sepengetahuan Luhan, Ariel membuka kembali matanya dan menggelengkan kepalanya pelan. Benar-benar kekanakan.

***

Sejak Jumat minggu lalu, merupakan hari-hari yang paling berbeda dari hari-hari yang lainnya…menurut Luhan. Ariel biasanya hanya akan tersenyum saat berpapasan dengan Luhan, dan tidak akan berkomentar apapun dengan apa yang akan Luhan lakukan.

Tapi sejak minggu lalu, Ariel mulai membangunkan Luhan yang kebetulan memang terlambat bangun. Selain itu, Ariel juga terus merecoki Luhan soal handuk basah yang jangan ditaruh sembarangan, soal lampu yang harus dimatikan setelah Luhan selesai memakai ruangan, juga soal jam tidur Luhan –salahkan flu yang tiba-tiba menyerangnya karena Luhan tidur terlalu larut, bahkan Ariel juga sering mengomelinya soal makanan yang harus Luhan makan.

Ariel cerewet. Dan Luhan tidak tahu ternyata gadis itu bisa jauh lebih berisik daripada Luhan. meskipun bukan berarti Ariel cerewet karena dia bercerita banyak hal, tapi Ariel cerewet dengan segala aturannya di rumah ini, di rumah mereka.

“Kau harus makan bekalmu, oke? Jangan sampai ada sisa seperti kemarin. Kudengar dari sekretarismu kau selalu melewatkan jam makan siang, dan aku tidak mau kau melakukannya lagi,” Ariel masih berceramah pagi itu. Dan Luhan hanya mendengarkan sambil mengaduk pelan kopinya.

Luhan hanya mengangguk saja, ia tidak mau membantah apapun. Ariel cukup galak jika apa yang dikatakannya tidak dituruti. Jika dipikir-pikir, Ariel ini sedikit mirip ibunya Wufan yang cerewet. Menyuruh ini, menyuruh itu. Melarang ini, melarang itu…

“Hari ini kau ada acara?” tanya Luhan saat Ariel sudah duduk tenang di depan meja makan.

“Aku ada kursus. Minggu depan aku ujian, jadi aku harus datang. Kenapa?”

Luhan menggeleng pelan dan memasukan makanan yang dimasak Ariel, entah apa namanya, Luhan lupa. Yang pasti itu bukan makanan Cina yang biasa dimakannya ataupun makanan yang biasa dimasak Ariel. Sejak dua hari lalu, Ariel begitu sibuk di dapurnya, berkutat dengan bahan-bahan aneh, bahkan hasil makannnya pun tak kalah aneh. Meskipun Luhan tidak akan menyangkal akan rasa yang dihasilkan.

“Kenapa belakangan ini kau masak makanan yang aneh-aneh, kau ikut kursus memasak?” tanya Luhan sambil kembali menyendok makanannya. Bahkan Luhan tidak yakin apakah makanan di hadapannya dimakan menggunakan sendok atau bukan.

Ariel langsung mengangkat kepalanya cepat, kebiasaannya saat terkejut, “Kenapa? Kau tidak suka?” dan Ariel akan selalu panik jika Luhan sudah mulai bertanya sesuatu yang menurut Ariel tidak perlu ditanyakan. Yeah, bagaimanapun Ariel harus tetap memberikan yang terbaik pada Luhan, kan? Ia tidak tahu cara menjadi istri yang baik, maka setidaknya ia harus memperhatikan detail tentang apa yang Luhan suka dan tidak suka.

Luhan terkekeh pelan melihat kepanikan Ariel. ia selalu merasa lucu tiap kali Ariel bersikap kikuk seperti ini, benar-benar menunjukkan betapa canggungnya hubungan mereka, “Tidak. aku suka, kok. Hanya saja belakangan ini kau sering sekali membuat masakan aneh, kau sedang ikut kursus? Dan…ini, apa namanya? Menurutku ini makanan yang cukup asing,” tanyanya sekali lagi.

Dan pertanyaan Luhan barusan membuat tubuh Ariel agak rileks. Ia pun kembali memakan makanannya, “Aku tidak ikut kursus apapu,” Ariel menggelengkan kepalanya, “Ini croissant. Saat aku tinggal di Kanada dulu, sepulang sekolah aku akan mampir ke restoran Italia dan membeli croissant,” dan tanpa sadar Ariel menarik kedua sudut bibirnya saat mengingat kenangan singkat tentang masalalunya. Membeli croissant dengan Stephen Oh sahabatnya, dan satu-satunya alasan ia mengajak anak laki-laki itu agar ia bisa ditraktir.

Luhan ikut tersenyum saat melihat senyuman di wajah Ariel jarang sekali melihat Ariel tersenyum seperti itu. Meskipun sebenarnya lidah Luhan masih belum terbiasa dengan makanan Italia ini, tapi setidaknya ia bisa mencicipi kebahagiaan yang disimpan Ariel.

“Baiklah. Nanti siang aku akan menunggumu. Dan kau harus janji harus membuat makanan yang enak,” kata Luhan sambil kembali menyendok makanannya.

Dan Ariel hanya balas tersenyum. Ia cukup senang karena Luhan selalu bisa menerimanya dengan baik.

***

Poutine. Masakan Kanada yang berisi kentang goreng yang disiram saus gravy. Ariel tidak ingat kapan terakhir ia mencicipi masakan aslinya, yang jelas saat masih duduk di bangku Senior High School, sesekali ibunya akan memasak masakan asal Quebec ini.

Dan dada Ariel tiba-tiba terasa sesak saat mengingat ibunya. Bahkan pergerakan tangannya terhenti, digantikan dengan gerak matanya yang beralih menuju jendela di depannya. Posisi apartemen Luhan memang cukup strategis, entah kenapa Ariel benar-benar suka dengan setiap detail yanga da di apartemen itu.

Ariel merindukan ibunya. Ia rindu bagaimana ia bercengkrama dengannya, memeluk dan mencium aroma tubuhnya, juga masih banyak hal lain yang Ariel sukai dari ibunya. Tapi pernikahannya membuat Ariel justru menjaga jarak dengan ibunya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melakukannya, sungguh. Ia tidak ingin memberi jarak, seperti ia yang benar-benar diberi jarak dengan ayah dan kakak-kakaknya. Tapi keputusan ibunya dulu membuat Ariel selalu merasa tertekan…

Ariel mendesah pelan dan kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Mungkin, mulai sekarang ia harus menekan segala emosi dan rasa egoisnya. Bagaimanapun dia adalah ibu kandungnya, orang yang melahirkan dan membesarkannya, toh, pada akhirnya pernikahan ini berjalan sangat baik. Ariel baik-baik saja dan bisa menerima keberadaan Luhan, bahkan Luhan juga memperlakukan Ariel dengan sangat sangat baik. Ia hanya harus menekan egonya, kan?

***

“Cina lagi? Demi Tuhan, Zhang Yi Xing! Tidak bisakah kau menghindari Negara itu satu kali saja? aku bahkan meminta CEO Kang untuk mempertimbangkan segala acara yang memiliki sangkut pautnya dengan Cina. Kau baru beberapa hari…”

Yi Xing menggeleng pelan dan mengambil sebotol air mineral di sisi kanannya. Ia tidak lagi mendengar ocehan Lisa yang entah sudah menghasilkan berapa banyak kata. Lisa selalu berlebihan, meskipun Yi Xing menghargai segala alasan yang tersimpan dibalik sifatnya itu.

“Jadi, selama tidak penting kau tidak perlu datang, oke? Aku tidak mau tiba-tiba terjadi hal aneh lagi. Kau selalu mudah sakit Zhang Yi Xing. Kau tahu betapa khawatirnya aku?” kata Lisa lagi, ternyata gadis itu masih belum berhenti bicara.

“Ini pure acara konser, Nuna tidak perlu khawatir. Lagipula aku harus bersikap professional. Baik di Cina atau dimanapun, aku harus tetap datang selama aku bisa, kan?” kata Yi Xing lagi sambil menaruh botol air mineralnya. Sesekali matanya mengikuti langkah orang-orang di backstage konsernya ini.

Lisa langsung menoyor kepala Yi Xing, “Lalu kau akan menangis dan berkata kau tidak sengaja bertemu Ariel? tidak tidak. aku tidak suka momen seperti itu,” Lisa menggeleng keras. Ia tidak bisa membayangkan lagi-lagi Yi Xing gagal move on dari gadis cina itu. Bahkan yang terburuk, mereka semuaharus membohongi Luhan. bukankah itu jauh lebih buruk lagi?

“Aku tidak pernah menangis,” sangkal Yi Xing sambil mengusap kepalanya.

Lisa berdecak dan kembali menoyor kepala Yi Xing, “Kau kira aku akan lupa bagaimana cara suaramu menyebutkan namanya? Oh, benar-benar dramatis. Bahkan cerita kalian layak tayang di KBS TV atau SBS…”

“Nuna!”

Lisa mendelik, “Terserah terserah. Tapi jangan berusaha membuat alasan agar kau bisa melihat Ariel, mengerti?”

Yi Xing mengangguk pelan. Persis anak kecil yang mendengarkan ceramah ibunya. Ia tidak habis pikir akan memiliki manager berisik seperti Kim Lisa. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengganti managernya ini di awal karirnya. Tapi semakin lama, ia justru semakin merasa nyaman, bahkan terbiasa dengan cicitan yang tiada hentid ari mulut Lisa.

***

Luhan masih sibuk dengan beberapa berkas di hadapannya saat sekretarisnya bersuara di ambang pintu, “Tuan, Nona Ju datang untuk bertemu dengan Anda,” katanya dengan suara sengau. Oh, ia yakin sekretarisnya itu sedang terserang flu.

Tapi…tunggu. Apa katanya? Nona Ju? Ju Fei?

“Maksudmu…” belum selesai Luhan menyelesaikan kalimatnya, Fei menyelip dan langsung mendorong sekretaris Luhan untuk segera pergi. Luhan mendengus panjang. Kebiasan gadis itu dimulai lagi. Dan kenapa pula gadis itu malah datang ke kantornya? Ia bahkan sama sekali tidak merasa memiliki janji dengan gadis itu.

“Hai Luhan!” sapa Fei sambil berjalan menuju sofa di ruangan Luhan, kemudian duduk di sana tanpa peduli akan tatakrama yang menurut Luhan seharusnya dilakukan Fei.

“Kau tahu, kukira kau sudah berubah karena kau seorang CEO sekarang. tapi ternyata kau masih sama seperti dulu,” Luhan mendelik dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa lucu dengan pikirannya sendiri soal perubahan Fei di awal pertemuan mereka.

Fei mendengus geli, “Kau juga tidak berubah, lalu kenapa aku harus berubah?” sahut Fei dengan nada sebal. Cukup merasa tersinggung dengan cara bicara Luhan barusan.

“Jadi, ada apa kau datang ke mari? Kau tidak ada kerjaan atau apa, hmm?” Luhan membelokan pembicaraan tidak penting tadi. Toh, Luhan juga tahu jika akhirnya dia akan kalah jika sudah harus adu argumen dengan Fei.

Fei pun menegakan punggungnya, kemudian mengambil sesuatu di dalam tasnya, “Kau tidak akan berkencan dengan Kris lagi?” tanya Fei kemudian.

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Fei serius, “Kenapa tiba-tiba bertanya soal Wufan?” selidik Luhan curiga. Yeah, bagaimanapun wanita yang satu ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh, lengah sedikit saja, siapapun bisa terperangkap dengan segala rencana gilanya.

Gadis itu mengedikkan bahunya dan berjalan mendekat ke arah Luhan. dan yang membuat Luhan benar-benar risih, saat gadis itu mulai duduk di atas meja kerjanya dan menarik dasinya dengan tatapan…err…menggoda.

“Setiap hari kalian selalu berkencan, kan? Tapi kulihat belakangan ini Kris selalu pulang lebih cepat. Apakah itu artinya kalian sudah putus?”

Luhan mendengus panjang dan langsung menarik dasinya. Fei kira Luhan pria macam apa, “Kami masih suka bertemu sesekali. Kau tahu aku sudah menikah sekarang, bahkan Kris-mu itu jauh lebih tahu jika aku sudah menikah dan harus mulai fokus pada istriku sendiri.”

“Kau tidak khawatir dia akan terluka? Bagaimanapun kalian sudah bersama selama bertahun-tahun, bahkan mungkin kalian pernah tidur bersama…”

“Fei!” tanpa sadar Luhan menaikan oktav suaranya. Ia benar-benar tidak suka dengan cara bicara Fei ataupun sudut pandang Fei soal hubungan mereka, Luhan dan Wufan.

“Fei, dengar. Kau harus jaga bicaramu. Kau kira kau bisa seenaknya membicarakan ini dan itu? Dan jangan ikut campur urusanku, aku juga tidak suka kau sok tahu dan sok ikut campur dengan urusanku dan Wufan. Dan ingat! Aku juga tidak suka jika kau mulai macam-macam pada Ariel,”

Fei memutar bola matanya malas, ia pun menegakan tubuhnya, “Kenapa tiba-tiba membahas istrimu itu? Aku bahkan tidak melakukan apapun padanya.”

Luhan pun mendengus panjang, “Kau kira aku tidak tahu bagaimana kebiasaanmu yang senang bermain-main dengan urusan dengan orang lain?” Luhan pun memutar kursinya untukmenghadap Fei yang tengah berdiri di depan jendela besar di ruangan Luhan, “Jika kau memang menyukai Wufan, kenapa tidak coba bicarakan dengannya saja?”

Fei langsung memutar kepalanya cepat, “A-apa?”

“Kau belum bisa melupakannya, kan? Kau masih mencintai Kris-mu itu, bahkan kau masih suka membuntutinya sampai ke apartemennya? Ayolah Fei, kau kira aku tidak tahu semua itu?”

Fei tidak suka terdesak. Fei tidak suka seseorang menyudutkannya seperti ini. Ia tahu Luhan sama seperti Kris, selalu tahu detail tentangnya. Ia juga tidak menutup mata bagaimana sikap hati-hati yang ditunjukan Luhan. yeah, perbedaan yang sangat mencolok antara Kris dan Luhan. jika Kris akan tetap menerimanya meskipun terlihat cuek, tapi Luhan menerimanya namun tetap dengan jarak yang dibuat olehnya sendiri.

“Kau tidak tahu apapun Luhan…” desis Fei mulai kesal. Dan lihatlah, Fei bahkan tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri jika sudah berada di hadapan dua pria itu.

“Aku memang tidak tahu apapun,” Luhan mengangkat bahunya, ikut-ikutan memandang ke arah luar jendela, “Tapi aku bisa membacamu sama seperti aku membaca buku, Fei.”

“Berhati-hati padamu sejak dini itu penting, kan? Aku tidak mau kau melakukan hal-hal bodoh seperti di masalalu. Bahkan aku cukup terkejut saat tahu Wufan tidak menjauhimu lagi, tapi melihat sikapmu sekarang, justru membuatku harus menjaga jarak darimu,” kata Luhan lagi dengan nada bicara yang mulai serius, “Aku tidak akan mengganggumu dengan Wufan lagi jika kau mau, tapi aku jauh lebih tidak mau jika kau…”

“Lu…Han…” suara Ariel menggantung di udara ketika ia mendapati gadis menyebalkan yang ditemuinya tempo hari, Ju Fei. Gadis itu ada di ruangan Luhan.

Luhan mendengus panjang, kemudian bangun dari kursinya, “Istriku sudah datang, Fei. Kau mau bergabung? Atau….”

“Aku hanya tidak suka caramu mencampakan Kris, Luhan.” kata Fei sambil menyambar tasnya yang berada di atas sofa.

“Aku pulang, Luhan…” Fei menyeringai kecil saat melewati Ariel yang masih berdiri di ambang pintu.

Dan setelah Fei benar-benar pergi, Luhan langsung menghela napas kasar. Ia benar-benar pusing dengan sifat kekanakan Fei. Dan sepertinya ia harus membicarakan masalah ini dengan Wufan. Gadis itu bertingkah aneh, dan Luhan benar-benar tidak suka dengan cara Fei saat ini, cara yang sama di masalalu saat gadis itu berusaha memecah hubungan Luhan dengan Wufan.

“Fei datang lagi?” Ariel mencoba untuk menyerap atmosfer aneh di ruangan itu. Entah kenapa ia merasa Luhan sangat tidak suka dengan keberadaan Fei barusan.

Luhan hanya mengangguk pelan, ia tidak mau membahas soal Fei sekarang, “Kau membawa apa untukku?” Luhan membuka suara dan langsung mengubah topik pembicaraan mereka.

Ariel sedikit mengerutkan dahinya dengan sikap Luhan saat itu. Tapi ia tidak terlalu ambil pusing. Yeah, apapun itu, Ariel rasa itu masalah pribadi Luhan. mungkin Luhan memang memerlukan sebuah privasi, jadi Ariel pikir ia tidak perlu terlalu banyak tahu soal gadis aneh itu.

Ariel pun mengeluarkan kotak bekalnya. Mood nya kembali utuh saat melihat hasil masakannya sendiri. Ia sangat bersyukur dapat menyelesaikan masakannya tepat waktu, ia pikir ia akan terlambat dan membuat Luhan kelaparan –well, itu berlebihan, Ariel tahu.

“Poutine. Aku tidak tahu apa kau pernah memakan makanan seperti ini atau tidak, tapi ini menu favoritku di Kanada. Sesekali ibuku juga membuatnya untukku,” Ariel kembali tersenyum dan mulai membuka kotak bekalnya. Entah kenapa ia selalu merasa senang tiap kali sobekan kenangan yang ada pada tiap makanan yang dibuatnya belakangan ini selalu membuatnya tersenyum, seolah ada rasa rindu dan bahagia yang berbentur secara bersamaan.

Luhan memperhatikan tekstur dari makanan yang dibuat Ariel. kemudian ia tersenyum kecil, sepertinya mulai sekarang akan merasa tinggal di Amerika. Ariel sepertinya benar-benar akan membuat banyak makanan baru untuk lidah Luhan.

“Aku pernah mencobanya,” kata Luhan sambil menyendok makanannya. Ah, bahkan Ariel malah membawakan sendok untuknya dan bukannya sumpit. Luhan tahu Ariel tidak bisa memakai sumpit, tapi haruskah gadis itu melupakan fakta bahwa Luhan biasa menggunakan sumpit?

“Benarkah?” Ariel terlihat bersemangat, namun sedetik kemudian warna wajahnya berubah, “Kalau begitu, pasti kau akan kecewa dengan rasa yang kubuat.”

Luhan menaikan alisnya bingung, “Kenapa? Masakanmu enak. Dan aku suka semua masakanmu, kok,” Luhan pun memasukan kentang yang sudah mendarat di atas sendoknya ke dalam mulutnya.

“Aku menambah sedikit daging, saus gravy nya juga kuubah sedikit. Jika kau tahu rasa aslinya, kau pasti akan…”

Mata Luhan langsung membulat saat saus gravy yang disiram pada kentang itu menyentuh lidahnya, “Ini enak! Kau benar-benar pandai memasak, ya!”

Ariel mengerjapkan matanya, “A-apa?”

Luhan kembali menyendok makanannya dan memasukkannya ke dalam mulut, “Ini benar-benar enak! Aku pernah mencicipi versi aslinya, saat itu aku ada perjalanan bisnis ke New York, dan Wufan mengajakku ke sebuah restoran disana,” Luhan pun mengangkat sendoknya yang sudah berisi kentang di atasnya, “Dan rasanya tidak lebih enak dari masakanmu.”

Ariel terkekeh pelan, “Kau berlebihan.”

Luhan menggeleng cepat, “Tidak. aku serius. Ini, kau coba sendiri,” Luhan pun mulai menyuapi Ariel. dan tentu saja gadis itu langsung mengelak.

“Tidak, aku bisa sendiri…” elak Ariel yang dibalas gelengan kepala Luhan.

“Tidak, biar aku saja. cepat, cicipi.”

“Aku sudah mencicipinya, Luhan…”

Luhan mendegus keras, “Kalau begitu makan bersamaku. Disini terlalu banyak kentang, aku akan kekenyangan nanti. Ayo! Aaaa…~”

“Tidak, Luhan…aku masih kenyang,”

“Kenyang apanya? Kau kira aku tidak tahu kau belum makan? Kau ini sangat kurus, Ariel. jadi kau harus makan banyak. Bagaimana jadinya orang lain menilaiku nanti jika melihat menantu keluarga Xi sekurus ini? Ayo, aaa~”

Ariel pun menyerah. Ia pun membuka mulutnya dan membiarkan Luhan menyuapinya. Ini benar-benar konyol, tapi entah kenapa Ariel menyukainya. Ia suka saat Luhan tersenyum seperti saat ini di hadapannya, ia suka saat Luhan memancarkan aura menyenangkan seperti sekarang ini.

“Tapi, Luhan. ngomong-ngomong, kau juga kurus. Jadi, orang lain tidak akan memikirkan apapun saat melihatku,” kata Ariel dengan suara ragu-ragu.

Untuk beberapa saat, Luhan hanya menatap Ariel takjub. Ini pertama kalinya Ariel membalas leluconnya. Biasanya gadis itu hanya akan mendengus atau tersenyum saja. dan…hei! Apakah artinya kemajuan hubungannya dengan Ariel sudah sedemikian pesat majunya?

Luhan pun tertawa keras, “Meskipun aku kurus, tapi semua orang menyukaiku. Semua gadis bahkan selalu melirik ke arahku. Bahkan para pria juga…” Luhan menggigit lidahnya saat tanpa sadar ia menyebut kata ‘pria’, bahkan ia juga merasa kikuk saat Ariel menjadi menatapnya aneh seperti saat ini. Tapi akhirnya, Luhan tetap melanjutkan, “Artinya, aku tetap mempesona meskipun aku kurus.”

Ariel terkekeh pelan sambil mendelik, dasar narsis. Selain kekanakan dan konyol, ternyata Luhan juga sosok yang narsis. Benar-benar diluar dugaan Ariel.

***

Sudah satu jam, dan Fei masih berdiri di depan perusahaan Luhan. ia sebenarnya tidak ingin berdiri seperti orang tolol disana, tapi ia benar-benar penasaran jika ia harus menundanya sampai nanti. Luhan memang benar, Fei selalu punya rencana konyol di kepalanya, tapi Luhan tidak pernah tahu apa rencana itu dan kapan akan memainkan permainannya.

Lagipula, Fei tidak bermaksud untuk merusak hubungan siapapun. Ia hanya penasaran, ingin tahu…

“Hai! Ariel?” Fei langsung menegakan punggungnya saat wanita dengan pakaian berwarna peach itu keluar dari pintu keluar perusahaan Luhan.

Ariel berbalik dan menatap Fei bingung, juga dengan nada sedikit tidak suka di matanya. namun akhirnya ia tetap menarik kedua sudut bibirnya, “Ju Fei, kan?”

Fei tersenyum kecil, kemudian berjalan dengan nada angkuh ke arah Ariel. dan sayangnya, Ariel tidak merasa terintimidasi dengan tatapan Fei. Entah gadis itu memang tidak peduli atau tidak tahu. Yang jelas, Ariel tetap mendongakan kepalanya saat melihat Fei.

“Bisa bicara sebentar? Aku ingin mengobrol denganmu,”

Ariel terlihat sedikit berpikir, kemudian melirik jam di ponselnya, “Baiklah. Sepertinya aku tidak akan kehabisan waktu untuk memasak untuk makan malam nanti.”

Fei sedikit menaikan sebelah alisnya. Apa katanya? Memasak? Ariel memasakuntuk Luhan? gadis yang…sempurna.

***

“Jadi, kau ingin membicarakan apa sampai menungguku seperti tadi?” tanya Ariel langsung saat mereka sudah duduk berhadapan di sebuah kafe.

Fei yang mendengar pertanyaan Ariel hanya tersenyum datar. Entah karena gadis di hadapannya tidak paham tatakrama atau memang dia sengaja melakukannya, tapi menurut Fei sikap Ariel ini tidak berbeda jauh dengan sikap yang ditunjukan Luhan tadi. Tidak mungkin Luhan bicara sesuatu tentangnya, kan?

“Bahasa cinamu buruk, apakah itu alasan kenapa kau harus mengikuti kursus Bahasa Mandarin?” Fei ikut membuka suara dengan sedikit berbasa-basi, ia tidak harus bersikap frontal di depan gadis yang sebenarnya asing ini, kan?

Ariel tersenyum kecil dan menarik gelas kopinya, “Ya, selain itu aku juga harus menghapal jalan dan daerah di sekitar Beijing. Aku masih bingung untuk menggunakan bis ataupun kereta bawah tanah,” sahut Ariel mengikuti alur yang diciptakan Fei.

Fei mengangguk pelan sambil tersenyum, sial. Ia malah merasa kikuk, “Tentu saja, Luhan tidak selalu bisa mengantarmu kemana pun kan?”

“Dia sibuk, kurasa kau lebih tahu daripada aku. Kalian bekerja sama, kan? Kau hebat, selain masih muda, sebagai wanita kau cukup tangguh berada di lingkungan kerja seperti yang dijalani Luhan.”

“Tentu,” Fei mengangkat jus pesanannya, “Ibuku yang mengajarkanku untuk setangguh itu,” lanjutnya sebelum meneguk jus jeruknya.

“Tapi, bagaimana ibu Luhan bisa mengenal ibumu? Apa orang tua kalian relasi kerja juga?” tanya Fei lagi. ia mulai tertarik dengan permainannya sendiri, menguji gadis bernama Ariel Lau itu. Terlebih dengan sikap waspada yang ditunjukan gadis itu, membuat Fei semakin penasaran dengan sosok gadis yang bisa mengubah Luhan sampai sejauh ini.

Tenggorokan Ariel langsung tersendat saat Fei mengajukan pertanyaannya. Ia sudah curiga dengan gadis bernama Ju Fei itus ejak awal pertemuannya tempo hari. Dia tidak memiliki maksud baik terhadap Ariel. Meskipun tidak yakin, tapi bagaimana cara Luhan melihat gadis itu sudah cukup menunjukan ada atmosfer abu yang dibawa oleh gadis itu.

“Ibuku…bekerja pada Ibu Luhan,” kata Ariel akhirnya. Ia tahu mungkin statusnya sangat jauh dibanding derajat Ju Fei, tapi berkoar-koar soal kekayaan tidak akan membawa apa-apa bukan?

Fei sedikit menaikan alisnya, “Begitu? Lalu…kau tahu jika Luhan…”

“Bahwa dia seorang gay?” potong Ariel cepat dengan sedikit penekanan pada suaranya, ia memang banyak memilih diam karena merasa canggung dengan suasana, kondisi, dan juga tempat yang bisa dikatakan cukup asing bagi Ariel. Tapi siapapun yang mengenal Ariel tahu, jika Ariel bukan gadis yang bisa diintimidasi semudah itu.

Fei sedikit mengepalkan tangannya, “Jadi kau sudah tahu semua?”

Ariel menghempaskan cangkir kopinya dengan agak kasar, “Jika Luhan belum memberitahumu Nona, satu-satunya alasan kenapa aku menikah dengan Luhan, karena Luhan menyukai sesama pria. Luhan berulangkali menawarkanku soal perpisahan, karena menurutnya semua ini berat untukku. Tapi aku tetap berada disisinya sampai saat ini, aku tetap bersikukuh untuk mempertahankan pernikahan ini karena aku merasa aku perlu melindunginya.”

Ariel membuang napasnya kasar. Gila. Ia bahkan tidak bermaksud untuk membahas Luhan disini, tapi ia benar-benar benci tatapanmeremehkan Fei, ia benci bagaimana cara Fei bicara padanya, “Aku tidak tahu apa alasanmu membuat suamiku terlihat sangat terganggu sekali hari ini, tapi aku mohon dengan sangat, jangan membuat suamiku merasa tidak nyaman lagi. bukankah kau juga seorang CEO? Apakah kau tidak memiliki urusan penting di kantormu sampai kau harus membuat…”

“Aku tidak suka Luhan menikah denganmu,” Fei langsung memotong ucapan Ariel, ia muak dengan segala sikap sok tahu yang diajukan Ariel, “Bahkan dengan siapapun, aku rasa aku tetap tidak akan menyukainya. Baik itu Nona Song yang begitu tergila-gila pada Luhan, gadis yang pernah tidur dengannya, atau bahkan dirimu…”

“What do you mean?”

“Kau tidak tahu apa-apa, kan? kau tidak tahu jika Luhan membohongimu soal dia yang sangat kaku pada wanita. mungkin aku perlu memberitahumu, dia bukan hanya pernah berkencan dengan satu atau dua wanita. tapi bahkan dia pernah tidur dengan banyak wanita, termasuk aku…”

Ariel menelan ludahnya dengan susah payah, “I really don’t understand what you mean…”

“Aku benci dengan kenyataan aku harus meninggalkan Kris karena Kris lebih memilih Luhan. tapi kau tahu apa yang lebih kubenci saat ini?” Fei pun bangkit dari kursinya, “Melihat Luhan bahagia setelah apa yang dia lakukan pada Kris,” Fei pun melempar amplop coklat ke arah Ariel.

“Aku hampir jatuh pada pesona Luhan. aku sangat ingat bagaimana kami menghabiskan malam itu bersama-sama,” Fei terkekeh pelan, “Aku bahkan sangat suka saat ia mengaku bahwa itu ciuman yang kami lakukan saat itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang gadis. Aku tahu Luhan memiliki hubungan spesial dengan Kris, dan aku berusaha membuka mata Kris jika Luhan tidak menyukainya. tapi yang pasti, lmelihat Luhan memiliki kemajuan untuk berkencan dengan gadis lain atau bahkan menyewa gadis-gadis murahan seperti yang telah dilakukannya, bahkan sampai menikahmu…semua itu tidak akan terjadi jika Luhan tidak pernah tidur denganku…”

Ucapan Fei langsung terhenti saat Ariel langsung menyiram wajah Fei dengan jus jeruk di hadapannya, perseran dengan semua tatapan yang emngarah kepadanya. Fei kira dirinya siapa? Apakah dia bisa merendahkan dan melakukan semuanya seuka hatinya? Bahkan kakaknya yang memiliki sifat arogan pun tidak pernah sampai melakukan hal serendah ini. Bahkan ibunya yang lebih mempedulikan harta tidak pernah sampai menginjak orang lains eperti ini.

“Luhan may indeed slept with you , or even he had hired many girls to sleep with him . and perhaps it is true Luhan also had a dating with many men , especially with your Kris . but I’m the one who married him , I’m his wife , I’m the one who knows exactly how the current state of Luhan,”

“Bukankah jauh lebih pantas dibanggakan saat kau berani merelakan sisa waktu hidupmud engannya untuk sebuah pernikahan, untuk melihat kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, ketimbang kalian hanya tidur bersama dalam satu malam, Nona Ju?” Ariel mendekat dan sedikit berbisik di telinga Fei, “Aku tidak tahu masalahmu, tapi tolong hentikan ini. Kau terlihat sangat menyedihkan.” Ariel pun melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

=TBC=

20150227 PM0303

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

Holla ~ maaf kalau ff ini telat banget dipublish-nya u.u

But thanks for reading this ff….juga makasih buat kak Rasyifa yang udah mau aku repotin. Ah, iya. Ff ini juga dishare di blog pribadi aku –> xiaohyun.wordpress.com , mau berkunjung, kan? Hihi ^^

Thanks before ~

20 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 9

  1. Kerennnnn!!!!!!!!!! Luhan lucu ya, kekanakan sekali hehehe. Ariel lbh cerewet dri Luhan. Aku agak risih sama yixing!!!!
    Ya Tuhan!!!! Fei nyebelin! Uda bagus tu dia disiram Ariel. Kayaknya Ariel gk terima banget suaminya direndahkan oleh orang lain!!!! Keren keren keren!!!!

  2. aaaaaaaaaaa entah kenapaa masih greget sama luhan, itu si fei =.,= pho banget ihhh~~ kapannih punya anaknya? Lah ngarep hahaha ditunggu ya next! Semoga lebih panjang>< fighting!

  3. Akhirnyaaa…ada prkmbangan juga hubungan luhan ariel. yak fei dasar si gadis aneh… ikut campur mulu urusan orang… ky gk ad krjaan aja. nyebelin banget. syukur dah disiram jus… teruskan bakatmu thor. semangattt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s