[Oneshot] Odd Love

Odd Love

staring; Infinite L & f(x) Krystal
support cast; f(x) Sulli, BtoB Sungjae, Miss A Suzy
genre; romance // rating; PG
lenght; oneshooot (5.330 word)

desclaimer; the plot&poster is mine. cast belongs to their entertaiment
bgm; Odd Eye by SHINee [listen here]
Candy by Red Velvet [listen here]
Love is Not Over by BTS [listen here]

Kim Myungsoo

“Ya ampun, Jung-ah! Aku sama sekali tidak menggoda pelayan itu!” Aku terus sedikit melebarkan langkahku ketika gadis di depanku ini mulai berlari pelan, meskipun kakinya tak sepanjang kakiku tetap saja dia bisa berjalan lebih cepat dariku –tepatnya, dia akan berjalan cepat ketika dia sedang marah padaku.

Aku berhasil meraih pergelangan tangannya kemudian memaksanya untuk berhenti. “Apa?”

“Aku berani bersumpah, aku tidak menggoda pelayan itu!” Aku sudah menjelaskan ini berulang kali, namun gadis ini masih saja menekuk wajahnya.

“Kenapa pelayan itu terlihat genit sekali padamu?” Suaranya terdengar rendah dan menekan.

Aku menghela nafas sebelum menjawabnya karena aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang lain jika aku berteriak untuk menjelaskan apa yang terjadi di kafe tempat kami makan siang tadi, kepalaku terlalu penat jika harus berdebat keras dengannya. “Aku sama sekali tidak tahu, pelayan itu yang bersikap seperti itu padaku. Aku hanya berterimakasih padanya.”

Dia memicingkan matanya ketika melihatku. Ohh, bahkan aku tidak sedang berbohong.

Sebuah taksi datang menghampiri kami.

“Mau kemana? Mobilku di sebelah sana, Jung..”

“Aku pulang sendiri!”

“Jung Soojung!” Terpaksa aku menariknya kembali sebelum dia masuk ke dalam taksi. Pandangannya menatap tajam padaku, membuatku semakin tidak tahan diperlakukan dingin seperti ini.

“Baiklah Jung Soojung, aku minta maaf.”

“Kau meminta maaf? Itu berarti kau memang menggoda pelayan itu.”

Aku tidak mengerti dengan istilah bahwa ‘perempuan selalu benar’, rasanya aku ingin mencekik orang yang menjunjung tinggi kalimat itu. Tapi harus aku akui kali ini, jika pernyataan itu memang benar. Haruskah aku mencekik diriku sendiri?

“Apapun yang ada di kepalamu, Jung. Tapi aku benar-benar tidak menggoda pelayan itu dan sekarang aku minta maaf padamu karena membuatmu marah.”

Soojung menyelipkan sedikit rambutnya yang tergerai ke belakang telinga. “Aku tidak marah. Aku hanya sedikit kesal. Dan –Myung, jangan pernah berterimakasih pada orang genit, itu akan membuatnya semakin memiliki perasaan padamu.” Pada akhirnya Soojung berjalan lebih cepat dariku lagi.

Aku menyalakan saklar lampu kemudian aku hanya bisa termangu ketika mendapati apartemen milik seorang perempuan terlihat begitu berantakan. Berbagai macam kertas, alat tulis, pensil warna, cat air, dan bekas camilan tergeletak sembarangan di depan tv, si pemilik apartemensepertinya belum pulang. Segera aku menuju dapur untuk mengambil sapu dan tempat sampah, perempuan ini benar-benar tidak bisa hidup sendirian.

“Sepertinya aku harus mengganti password apartemenku besok pagi.”

Aku membalikkan badan ketika mendengar seseorang berseru, sepertinya padaku karena tidak ada orang lain lagi di apartemen ini. Ahh, benar. Itu Soojung.

“Kenapa harus repot-repot mengganti password apartemenmu?”

Perempuan itu bersandar pada meja mini bar dengan kedua tangan yang menopang dagu. “Agar kau tidak sembarangan lagi masuk ke apartemenku.”

Aku tahu Soojung masih marah padaku karena masalah seminggu kemarin di kafe, ditambah dengan aku yang tidak bisa ikut dengannya ke pesta pernikahan teman lama kami –Choi Minho, lebih tepatnya dia adalah mantan Soojung ketika masih di sekolah menengah. Aku bisa apa ketika hari itu aku sudah mengosongkan jadwal pekerjaan untuk pergi dengan Soojung ke acara pernikahan, namun di tengah jalan aku mendapat telpon jika bangunan yang menjadi proyekku tiba-tiba ambruk di tempat pembangunan. Sebagai arsitek yang merancang bangunan itu, aku harus turut bertanggung jawab atas pekerjaanku dan meminta Soojung untuk pergi sendirian.

“Kau tidak perlu membereskannya, Myung. Ini sudah terlalu malam, kau bisa pulang sekarang.”

Sudah berapa lama aku memikirkan kesalahanku sampai sempat melamun?

“Aku akan menginap disini.” Iya, aku akan menginap di apartemen Soojung malam ini. Kami perlu berbicara serius.

Perempuan itu memijat pelipisnya. “Jangan gila, Myung.”

Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya. “Aku minta maaf, Jung.”

Soojung menghela nafas. “Tidak perlu. Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku –aku terlalu kekanakan bahkan aku sering egois padamu.”

Begini lah sifat Soojung, dia akan menyadari bahwa sifat kekanakannya itu tidak baik dan dia akan meminta maaf. Namun di kemudian hari pasti akan terulang lagi. Dan aku –aku seolah hadir di kehidupannya untuk mengatasi itu. Sejak kecil, selalu aku yang berkewajiban menjaga Soojung, sampai aku jatuh cinta padanya –dengan segala sifat yang dia punya.

Aku sendiri tak pernah bisa lepas dari Soojung. Entah itu karena kami memang satu sekolah dan satu kelas semenjak sekolah dasar sampai sekolah menengah, atau pun karena kami tumbuh bersama dari kecil karena keluarga kami yang bersahabat.

Keputusanku untuk menjadikannya sebagai kekasihku tidak pernah aku sesali sama sekali, meskipun terkadang aku merasa Soojung terlalu dingin padaku. Tapi dia pernah mengakuinya, dia bahkan mencintaiku lebih dari aku mencintainya, begitu katanya. Terdengar terlalu berlebihan, tapi itu lah Jung Soojung. Terkadang, aku tak bisa menebak isi hatinya. Selama setahun kami menjadi pasangan, kami lebih sering berdebat bahkan sampai bertekar hebat dari pada kami menghabiskan waktu untuk beromantisme-ria. Kami sama-sama memiliki sifat keras kepala dan terlalu ambisius.

Kembali pada keadaan kami.

Soojung mengetuk ngetukkan jemarinya pada badan cangkir. Wajahnya terlihat sangat lelah. Pekerjaan menjadi seorang desainer memang membutuhkan tenaga ekstra. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak ingin mengganggunya. Soojung tidak senang diganggu jika sedang lelah.

“Mau ku isi lagi?”

Dia melirikku, kemudian menyodorkan cangkirnya padaku. Sebelum cangkir itu kosong, Soojung sempat mengisinya dengan kopi instan. Kali ini aku mengganti cangkirnya kemudian mengisinya dengan beberapa sendok madu dan seiris jahe, ku tuangkan air hangat dari dispenser ke dalam cangkir itu, mengaduknya dan memberikannya pada Soojung.

Dia menatap cangkir madu hangat itu kemudian melihat ke arahku. “Aku ingin kopi, Myung.”

Aku kembali duduk di sampingnya. “Jangan terlalu banyak mengkonsumi kopi, itu tidak baik buatmu.”

Soojung sepertinya sangat lelah karena dia hanya diam dan mengangkat kedua bahunya, dia tetap meminum madu hangat itu. Aku senang kali ini Soojung tak mendebatku.

Jung Soojung

Pria itu masih tertidur di sofa ketika aku sedang menyiapkan sarapan. Dia benar-benar menginap disini, aku kira dia akan pulang ketika aku sedang tidur. Ini sudah pukul delapan, apa dia tidak akan bekerja? Aku menghampirinya bermaksud untuk membangunkan, namun Myungsoo tertidur begitu lelap, aku tak tega jika membangunkannya. Mungkin dia butuh beberpa menit lagi.

Myungsoo terlihat sangat manis jika sedang tertidur seperti ini, dia begitu tampan. Tapi –ketampanannya itu lah yang membuatku sering merasa kesal.

Kim Myungsoo. Semenjak sekolah menengah dia adalah siswa yang sangat populer karena menjadi salah seorang pemain basket, dia begitu banyak memiliki penggemar perempuan. Karena kepopulerannya itu lah Myungsoo sempat menjadi seorang playboy. Bergonta-ganti pacar dengan berbagai macam alasan. Bahkan sifat playerinya itu tak berubah sampai dia lulus kuliah –atau bahkan sampai sekarang? Uhh, aku sangat sebal jika memikirkan itu. Makanya sering kali aku tidak mempercayainya.

“Aku sudah bertobat, aku ingin menjalani hubungan serius dengan seseorang. Dan orang itu adalah kau, Jung Soojung. Karena aku hanya mengenal baik dirimu..”

Ting.

Itu suara pemanggang roti. Baru saja aku akan berjalan menuju dapur namun langkahku terhenti ketika Myungsoo memegang pergelangan tanganku, dia sudah bangun. Aku meliriknya, dia sedang menggeliat kecil dan mengucek mata dengan tangan yang satunya.

“Selamat pagi, Jung.”

“Sarapan sudah siap, Myung. Ayo kita makan.” Aku segera meninggalkannya, aku tidak ingin terjebak dengan senyumannya yang manis itu. Aku kan sedang kesal padanya.

Kami hanya duduk dengan tenang sambil menikmati sarapan kami. Aku terus menundukkan kepalaku karena Myungsoo terus memperhatikanku. Err, aku tidak tahan diperhatikan seperti itu.

“Jangan terus memandangiku seperti itu, Myung. Aku tahu kau selalu terpesona padaku, tapi jangan berlebihan seperti itu.” Aku tidak sedang bercanda, tapi Myungsoo tertawa dengan sengaja, bahkan suaranya begitu keras.

“Kau tahu, semakin hari kau semakin terlihat cantik, Jung.” Myungsoo masih terkekeh, bahkan ketika aku sudah mengacungkan pisau di depannya. Dia masih tertawa sampai memegangi perutnya.

“Kau menyebalkan.”

“Oh terimakasih, itu adalah pujian terindah yang pernah aku dapatkan.”

Lihat? Kim Myungsoo memang menyebalkan. Baru tadi malam dia bersikap biasa saja dan terlihat dewasa sekali padaku. Kenapa pagi ini dia sudah kembali jadi Myungsoo yang aku kenal dari dulu?

“Cepat habiskan sarapanmu, Myung. Kau harus pergi ke kantor.”

“Hari ini aku tidak bisa menjemputmu, aku harus ke Busan menemui klienku. Tidak apa-apa kan?”

Aku mengangguk ketika Myungsoo bertanya padaku sambil melepaskan safety belt­ yang ku pakai. “Jangan lewatkan makan siangmu, Myung.” Myungsoo tersenyum kemudian mengusap puncak kepalaku.

“Ingatkan aku lagi nanti untuk makan siang.”

Aku menggeleng. “Aku sudah mengingatkanmu tadi.”

“Aku ingin kau menelponku nanti siang.” Serunya sambil tersenyum lebar.

“Baik, tapi jangan salahkan aku jika pekerjaanmu terganggu karena kau harus menerima panggilanku. Kau tahu kan konsekuensi jika mengabaikan telponku, uh?” Aku selalu melakukannya, mengganggu pekerjaan Myungsoo. Tapi pria itu tidak pernah marah, bahkan jika aku menelponnya sampai berjam-jam –pernah sampai mengganggunya lembur. Aku –hanya ingin mengetahui apa yang dikerjakan Myungsoo, dengan siapa dia bekerja, siapa kliennya, apa yang akan dia gambar di kertas-kertas milimiter blok besar itu dengan penggaris, aku –hanya ingin mengetahui itu.

Katakan saja aku memang egois dan terlalu paranoid. Aku mengenal seorang Kim Myungsoo dari umurku empat tahun. Aku mengenal bagaimana sifatnya, bagaimana cara dia tersenyum pada orang lain, bagaimana dia belajar, bahkan aku mengenal bagaimana cara dia menyapa orang lain. Terkadang sifatnya yang terlalu baik membuat orang menyalahartikan sifatnya sampai salah paham. Contohnya saja banyak gadis sekolahan di sekitar apartemennya yang menyukai Myungsoo karena setiap pagi pria itu selalu menyapa orang yang bertemu dengannya di lobby apartemen.

“Aku tidak akan pernah mengabaikan telponmu, Jung.”

Aku tersenyum puas, kemudian keluar dari mobil untuk masuk ke dalam kantorku.

“Pagi Soojung.” Itu Sulli, dia selalu datang lebih awal dan selalu menyapaku –karena dia sekretaris sekaligus sahabat baikku.

“Pagi Sulli, bagaimana dengan kopiku?”

Sulli mengangkat kedua tangannya –lengkap dengan dua cup kopi hangat dalam genggamannya. Kami berdua sama-sama penyuka kopi sehingga setiap pagi Sulli selalu menyiapkan dua cup kopi yang dibeli dari kedai kopi di sebelah kantorku. Kegiatan pertama di pagi hari kami adalah –duduk di sofa ruanganku, menikmati Espresso dan Americano sambil berbincang-bincang tentang kehidupan pribadi –jarang sekali kami membicarakan masalah pekerjaan ketika sedang menikmati kopi pagi, terlalu kaku buatku dan Sulli.

“Soojung-ah. Semalam Sungjae memberiku undangan fashion show di Busan, dia memberiku dua tiket. Tadinya aku akan pergi dengannya, tapi Sungjae bilang jika dia harus lembur malam ini. Bagaimana jika kau menemaniku? Hitung-hitung sebagai referensi untuk fashion show butik kita juga, ‘kan?”

Busan? Myungsoo akan pergi ke sana juga nanti sore. Apa sebaiknya aku menemani Sulli ke Busan juga? Sepertinya ide yang bagus, aku bisa mengabari Myungsoo dan bertemu dengannya disana.

“Jam berapa undangannya?”

Sulli merogoh sesuatu dalam tasnya –sebuah amplop, sepertinya itu undangan yang dia maksud.

“Disini tertera acara mulai jam delapan malam. Kau bersedia menemaniku?”

“Tentu saja! Seperti yang kau bilang, acara itu bisa jadi referensi untuk fashion show kita nanti.”

Sulli terlihat sangat senang. “Haruskah kita membeli gaun baru untuk malam ini?”

Aku mengangguk antusias.

Tepat pukul delapan malam. Aku dan Sulli sudah memasuki salah satu rumah mode yang tidak terlalu besar –mungkin setengahnya dari rumah mode –kantorku, tapi tempat ini begitu nyaman dan mengesankan karena terletak hampir mendekati pantai Heundae. Bangunannya pun banyak menggunakan kaca, setahuku kaca yang digunakan untuk bangunan seperti ini adalah kaca jenis low-E glass. Myungsoo pernah memberitahuku tentang jenis kaca ini karena banyak kelebihannya. Selain tidak akan merusak ozon –kaca jenis ini pun bisa menghemat energi listrik –sesuai dengan namanya.

Berhubung tentagn Kim Myungsoo, pria itu sulit sekali dihubungi. Aku sempat menelponnya ketika dalam perjalanan ke Busan, tapi ponselnya tidak aktif. Aku mencoba mengirimnya pesan, namun tak kunjung dibalas –hanya sekedar dibaca pun tidak. Kemana pria itu? Terakhir kali aku menghubunginya adalah saat jam makan siang tadi, itu pun aku tidak membahas tentang kepergianku ke Busan. Jika sudah seperti ini kepalaku terus saja memutar sesuatu yang negatif. Maafkan aku Myung, aku memang tidak bisa berfikir positif terhadapmu.

“Choi Sulli, Jung Soojung!”

Sulli menautkan kedua alisnya –mempertajam penglihatan pada seseorang yang memanggil dan sedang berjalan ke arah kami. Mataku melebar ketika mendapati Son Naeun –teman semasa sekolah kami. Astaga, sedang apa dia disini?

“Senang bisa bertemu kalian lagi!” Serunya sambil memelukku dan Sulli bergantian.

Seperti acara reuni. Ternyata yang mengadakan acara fashion show ini adalah Bae Suji –masih teman satu sekolahku dulu. Namun kami tidak terlalu akrab karena –Suji adalah mantan Myungsoo. Aku sendiri tidak berada satu kelas dengan Suji, aku mengenalnya karena dia adalah teman dekat Naeun –dan Naeun berteman denganku dan Sulli, kami satu ekstrakulikuler desain dulu.

“Kalian tahu, banyak sekali teman sekolah kita yang datang. Choi Minho dan istrinya pun datang. Astaga, astaga! Kau sudah move on kan, Sulli? Sudah bertemu dengan Minho?” Naeun tak pernah berubah, masih gadis yang begitu cerewet. Aku sendiri sampai terkejut ketika dia bisa bertunangan dengan Lee Taemin, ketua kelas kami yang begitu pendiam –perfect dengan otak cerdasnya

Sulli hanya tertawa renyah menanggapi ucapan Naeun. Temanku yang satu ini dulu pernah menyukai Choi Minho, si kapten basket sekolah kami. Tapi sayang, Minho lebih memilih Jiyeon eonni –kakak kelas kami. Tapi bisa aku akui jika Sulli kini sudah mendapatkan hati Yook Sungjae, lelaki dengan sejuta kekonyolannya.

“Aku sudah tidak peduli dengan Choi Minho, haha..”

Ohh Choi Sulli, jangan tertawa seperti itu.

“Ah Soojung –kau masih tetap sama, bahkan terlihat sangat cantik. Suji saja yang menjadi ratu malam ini kalah cantiknya denganmu, hahaha..”

Aku tersenyum, setidaknya ucapan Naeun tidak menyinggungku seperti apa yang dia lakukan pada Sulli sampai membuat gadis yang berdiri di sampingku ini menjadi lebih diam.

“Beruntunng sekali kau mendapatkan Myungsoo, kalian nampak serasi malam ini.” Seru Naeun sambil memegang bahuku. “Pakaian kalian menunjukkan sekali jika kalian adalah pasangan..”

Tunggu. Naeun bilang malam ini aku nampak serasi dengan Myungsoo? Hey, aku datang kemari hanya dengan Sulli. Apa Myungsoo datang kemari? Bukankah dia bilang akan bertemu dengan kliennya?

“Naeun-ah, kau melihat Myungsoo?” Tanya Sulli pada Naeun, seolah mewakiliku yang masih diam untuk berfikir.

“Tentu saja, tadi aku sempat berbincang dengannya. Tapi Suji merebutnya dan membawanya ke sebelah sana. Mereka sedang duduk di meja itu.” Naeun menunjuk pada arah kumpulan meja yang disediakan bagi tamu yang menyantap makanan.

Begitu banyak tamu yang hadir sehingga membuatku kesulitan untuk melihat ke arah yang tunjukkan oleh Naeun.

“Sulli-ya, aku kesana dulu.”

Sulli hanya mengangguk dan kembali melanjutkan pembicaraan dengan Naeun, sepertinya mereka sudah mulai bergosip.

Apa yang dilakukan Myungsoo disini? Bagaimana pekerjaannya? Pertanyaan itu terus menerus mengganggu perasaan dan pikiranku.

Kim Myungsoo

“Terimakasih sudah mengundangku kemari, Suji-ya. Aku tidak tahu jika kau menjadi perancang juga, sama seperti Soojung.”

Perempuan di depanku ini adalah Bae Suji, teman semasa sekolah –yang sempat menjadi pacarku waktu itu. Aku berpacaran paling lama dengannya dibandingkan dengan mantan-mantanku yang lain. Bae Suji masih tetap cantik bahkan lebih terlihat dewasa sekarang. Sungguh sangat berbeda dari terakhir kali aku melihatnya saat acara kelulusan sekolah dulu.

Kami bertemu di restauran tempat aku menemui klienku di Busan, ternyata Suji adalah keponakan tuan Bae Jae Ho –klienku. Kami sempat berbincang sebentar kemudian Suji memberikan sebuah undangan fashion show miliknya, jadi lah aku berada disini sekarang. Padahal aku ingin cepat kembali ke Seoul. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak pada Soojung, ponselku mati dan aku lupa membawa charger. Soojung pasti sedang panik karena aku tak memberi kabar padanya, atau bahkan dia sedang memikirkan untuk mendiamkanku selama satu bulan. Arrh, Jung Soojung –maafkan aku.

“Myungsoo.”

Ini tidak mungkin bukan? Jung Soojung berdiri di hadapanku sekarang?

“Soojung –apa.. yang kau lakukan disini?” Untuk kali pertama aku mengutuk pertanyaanku barusan. Bagaimana bisa aku bertanya seperti itu pada Soojung yang sedang menatapku dengan –marah?

“Yaampun Jung Soojung, dengan siapa kau kemari?” Suji seolah tidak tahu situasi, dia beranjak dari kursi kemudian memeluk Soojung.

Soojung tersenyum –aku tidak pernah melihat Soojung dengan senyum seperti itu. Senyumnya terlihat sangat aneh dan kaku, matanya terus menatapku.

“Aku kemari dengan Sulli. Suji-ya, sepertinya aku harus segera pergi.” Soojung melepaskan pelukannya dengan Suji kemudian dia berbalik dan aku hanya memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Aku –aku terlalu kaget dengan siatuasi seperti ini. Soojung pasti akan sangat marah padaku. Tanpa berfikir lagi aku segera berlari menyusulnya, tak mempedulikan panggilan Suji.

“Dia baru saja keluar dari sini, sepertinya dia berlari ke arah pantai.” Jawab Sulli yang aku temui di dekat pintu. Setelah berterimakasih padanya aku segera menuju pantai. Soojung menyukai pantai, tidak heran jika dia akan berlari ke arah sana.

Angin malam di pantai begitu menusukku. Di siang hari pantai memang terasa panas, namun jika datang pada malam hari anginnya akan terasa sangat kuat. Aku menyusuri bibir pantai Heundae yang begitu luas, namun aku belum melihat tanda-tanda keberadaan Soojung. Kemana gadis itu?

Sudah hampir satu jam aku mencarinya, namun masih belum menemukannya. Kemana kau Soojung? Kakiku begitu lelah berjalan terus menerus di sekitaran pantai. Aku mendudukan diri di atas pasir. Aku begitu kesal pada diriku sendiri, jika saja aku menolak undangan Suji dan segera kembali ke Seoul –mungkin Soojung tidak akan melihatku di acara itu. Mungkin aku sedang bersama Soojung sekarang.

Bagaikan deja vu, kejadian ini pernah terulang dulu –ketika kami baru masuk di tingkat pertama sekolah menengah atas, ketika sekolah kami mengunjungi Tongyeong. Soojung pernah marah padaku dan menghilang.

“Kemana Jung Soojung?!” Aku berteriak begitu keras di tengah kumpulan rombongan kelasku. Gadis itu hanya meninggalkan kotak bekal makannya, dan pergi sambil menangis.

“Myungsoo! Soojung berlari ke arah pantai!” Seorang temanku memberitahu kemana Soojung pergi setelah berdebat denganku tentang masalah donor darah. Padahal aku hanya memintanya untuk mendonorkan sedikit darahnya, kenapa dia malah mendebatku dengan alasan dia takut jarum suntik? Aku mencoba menjelaskan padanya betapa penting dan berharganya bisa berbagi dengan sesama manusia melalui sekantung darah. Dia terus saja berargumen bahwa dia akan kekurangan darah dan akan terkena anemia, aku benar-benar tidak mengerti kenapa hal semacam itu bisa membuatnya marah dan pergi, kekanakan sekali. Mendengar dia berlari ke arah pantai, aku pun dengan segera menyusulnya.

Jung Soojung duduk di pasir pantai sambil memeluk lututnya. Kepalanya menunduk sambil menggumamkan sesuatu.

“Kim Myungsoo menyebalkan.”

Aku berdecak pelan ketika mendengar dia mengumpat padaku. Aku jadi tidak berniat menghampirinya, biarkan saja dia terus mengumpat. Aku merasa tak memiliki salah apapun.

Saat itu, aku hanya berdiri di belakang Soojung. Lama kelamaan aku pun jengah mendengar umpatan yang sama dari mulutnya. Sekarang aku sudah kebal dengan segala umpatannya, bahkan terkadang aku menyukai ketika Soojung mengataiku dengan umpatan itu. Aku benar-benar gila sudah jatuh cinta padanya.

Hah –sampai kapan aku berada disini dan tidak mencari Soojung lagi? Aku harus menemukannya! Ya, kau harus menemukannya dan meminta maaf –lagi, Kim Myungsoo bodoh!

Tak begitu jauh dari tempatku beristirahat tadi, terdapat jajaran bangku yang menyusuri pinggiran pantai. Bangku-bangku itu hampir mendekati trotoar sehingga tidak begitu terlihat dari pantai. Dia berada disana, di salah satu bangku itu. Aku segera menghampirinya.

Seperti yang aku bayangkan, Soojung menatap tajam ke arahku. Aku pun duduk di sampingnya dan dia menggeser duduknya, aku terus mendekatinya sampai dia tak bisa bergeser lagi karena sudah berada di ujung bangku.

“Pergi. Aku tidak ingin melihatmu.”

Aku menghela nafas. “Sayangnya aku tidak mau pergi karena aku ingin melihatmu.”

Hening. Soojung tak lagi berbicara setelah aku –sedikit menggodanya. Dia benar-benar marah.

“Jung –aku tidak tahu kenapa kita bertemu disini dengan keadaan seperti ini.” Ya, aku memang tidak tahu kenapa takdir mempertemukanku dengan Soojung malam ini, di sini –si Busan, dengan keadaan yang sama sekali tidak pernah aku inginkan. Soojung melihatku bersama Suji –yang sudah jelas dia adalah mantanku dan Soojung paling benci jika aku bertemu bahkan berbincang akrab dengan salah satu mantanku.

Dewi fortuna aku tahu kau sangat membenci seorang player, tapi bisakah kau berdamai denganku sekarang bahkan setelah aku sudah tidak seperti dulu lagi?

“Jung –kau, maksudku aku bisa jelaskan apa yang sedang terjadi –kenapa aku bisa bersama Suji. Tadi itu –aku tidak sengaja bertemu dengannya.”

Soojung beranjak dari bangku. Sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dia terus memandang lurus ke arah pantai. “Aku sedang ingin sendiri, Myungsoo. Tolong tinggalkan aku.” Jika sudah seperti ini, berarti Soojung memang membutuhkan waktunya sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maka aku benar-benar meninggalkannya sendirian.

Sudah seminggu aku tidak mendapat kabar dari Soojung, dia bahkan mengganti password apartemennya. Menurut resepsionis apartemen itu, Soojung hanya menitipkan pesan jika dia akan pergi beberapa hari, untuk itu kunci keamanan apartemennya direset. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana lagi –setelah aku mencarinya ke Millicent –kantornya, Sulli mengatakan jika Soojung sudah tidak masuk selama seminggu ini tanpa kabar juga.

“Tolong temukan dia, Myungsoo. Ibunya pun tidak tahu Soojung pergi kemana, dia benar-benar hilang!”

Perkataan Sulli benar-benar menggangguku. Apa ini karena kejadian di Busan itu? Begitu marahkah Soojung padaku sampai dia menghindari semua orang? Astaga Jung Soojung.

Sempat terbesit dalam benakku jika Soojung pergi ke sebuah pantai. Tapi di pantai mana aku bisa menemukan Soojung? Begitu banyak pantai di negara ini –atau bahkan di dunia ini. Di belahan pantai mana aku bisa menemukan Soojung?

Aku benar-benar frustasi! Bahkan aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku yang sudah telat deadline. Demi apapun aku harus bisa menemukan Jung Soojung.

Hari Minggu. Aku kembali menyusuri setiap jalanan Seoul untuk mencari Soojung. Kali ini aku memilih untuk berjalan kaki. Konyol memang, –tapi aku benar-benar masuk ke dalam gang-gang kecil untuk mencarinya. Dari hotel berbintang sampai ke penginapan-penginapan kecil sudah aku telusuri setiap hari. Tapi nihil, aku masih belum bisa menemukannya.

Aku merogoh ke dalam saku celana ketika ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Sulli. Dia mengatakan bahwa seorang temannya telah melihat Soojung di Busan. Lututku mendadak lemas, pikiranku begitu kalut –sehingga aku hanya memikirkan untuk menyusul Soojung ke Busan saat ini juga.

Aku sudah berada di luar Seoul –masih harus menempuh waktu satu jam lagi untuk sampai di Busan. Aku menelpon Sungjae untuk menjaga apartemenku dan mengatakan aku akan pergi ke Busan. Beberapa menit kemudian Sungjae datang ke apartemenku, dia menawarkan diri untuk mengantarku karena dia tahu aku sedang dalam keadaan tidak bisa berkonstrasi untuk menyetir.

Lebih baik aku mengantarmu. Lihat, Soojung meninggalkanmu ke Busan seminggu saja kau sudah terlihat seperti orang gila, bagaimana bisa aku membiarkanmu menyetir sendirian?

Sungjae menghentikan mobil di pinggir pantai Haeundae –kami sudah sampai. Aku memintanya untuk ke pantai karena aku yakin aku bisa menemukan Soojung disini.

“Kau benar-benar sudah gila, Kim Myungsoo. Mana ada orang yang datang ke pantai siang hari seperti ini, ketika matahari tepat berada di atas kepalamu!”

Aku tidak peduli ketika Sungjae meneriakiku yang semakin berjalan mendekati pantai.

Jung Soojung

Aku tidak bermaksud untuk menghilang. Aku –hanya butuh waktu untuk beristirahat dari kehidupanku di Seoul. Pekerjaanku yang selalu menuntut ketelitian, kecantikan, dan kerapian –serta mode itu yang membuatku tidak bisa berfikir jernih. Terlebih dengan Myungsoo. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Disini aku ingin belajar untuk merubah sifatku, karena tak mungkin selamanya Myungsoo bisa menerima sifat egois dan kekanakanku.

“Jung! Suji menerimaku! Wohoo~”

“Pelankan suaramu, Myungsoo. Ini perpustakaan!”

Mendengar Myungsoo sudah menyatakan perasaannya pada Suji –yang aku sendiri tidak tahu mana orangnya, membuatku sedikit gusar. Tidak heran jika Myungsoo bisa diterima oleh Suji, Myungsoo –selalu menjadi pangeran bagi setiap siswi di sekolah ini.

“Kau tahu, aku bisa mengalahkan So Hyun hyung! Suji saja menolaknya mentah mentah dan malah menerimaku. Senangnya..”

Aku mengabaikan kegusaran hatiku ketika melihat wajah berseri Myungsoo. Entah sejak kapan aku merasa kebahagiaan Myungsoo adalah kebahagiaanku juga. Maka setiap Myungsoo bercerita mengenai setiap gadis yang dikencaninya dengan wajah yang bahagia, aku pun merasakan kebahagiaannya dan mengabaikan kebahagiaanku.

Jika saja Myungsoo tahu kenapa aku terlalu egois memaksakan kehendakku padanya, apa bisa dia mengerti? Aku selalu takut jika melihat Myungsoo bersama gadis lain. Perasaanku selalu menjadi kesal ketika Myungsoo berhubungan baik dengan klien wanita atau dengan teman wanitanya. Aku tahu sifatku ini tidak baik –bahkan bisa dibilang buruk. Aku hanya takut jika Myungsoo memperlakukan hal yang sama padaku seperti dia memperlakukan mantan-mantan kekasihnya. Jika dia sudah bosan maka dia akan melepaskannya.

“Aku sudah bertobat, aku ingin menjalani hubungan serius dengan seseorang. Dan orang itu adalah kau, Jung Soojung. Karena aku hanya mengenal baik dirimu..”

Kalimat itu lagi yang ada di kepalaku. Sungguh aku ingin mempercayai apa yang dikatakan Myungsoo setahun lalu, tapi apa karena rasa takutku yang berlebihan –sampai membuatku seolah tidak bisa mempercayainya?

Aku benar-benar tidak bisa berfikir untuk saat ini. Apalagi mengingat kejadian di acara fashion show yang diadakan oleh Suji minggu kemarin. Myungsoo dan mantan kekasihnya itu terlihat begitu akrab, mereka saling melontarkan pujian satu sama lain. Suji pun terlihat sangat senang bisa berbincang dengan Myungsoo, dan sepertinya Myungsoo pun begitu.

Hari sudah mulai sore, aku ingin pergi ke pantai untuk menikmati angin. Hanya di pantailah aku bisa mendapat ketenangan tanpa harus memikirkan apapun. Kebetulan hotel tempat aku menginap tak begitu jauh dari pantai Haeundae, sehingga aku hanya butuh berjalan sedikit.

Tak begitu jauh ketika aku sudah memasuki kawasan pantai, aku bisa melihat seseorang yang sangat familiar untukku. Untuk memastikan apakah sosok itu adalah seorang yang aku kenal, aku memcingkan mataku dan berjalan pelan.

Astaga, itu Myungsoo. Kim Myungsoo!

Apa yang dia lakukan di sini? Aku harus segera kembali ke hotel, aku belum ingin bertemu dengannya.

“Oyy, Jung Soojung!”

Aku begitu panik ketika mendengar seseorang meneriaki namaku. Bagaimana jika Myungsoo mendengarnya. Suara itu berasal dari Sungjae –Yook Sungjae –tunangan Sulli. Kenapa bisa dia juga berada di sini, apa dia sedang bersama Sulli?

“Ya, Soojung-ah!

Aku membalikkan badan dan memasang senyum sewajarnya –berpura-pura jika aku hanya baru melihatnya. “Eo, Yook Sungjae. Senang bertemu denganmu disini. Di mana Sulli?”

Laki-laki di depanku ini mendengus kemudian berkacak pinggang.

“Ya! Kemana saja kau, uh? Kau tidak lihat di sebelah sana Myungsoo sedang mencarimu? Dia bahkan berubah menjadi orang gila!” Pekik Sugjae padaku. Pria ini selalu saja berlebihan.

“Kim Myungsoo!! Aku menemukan Soojung!!”

Dasar Yook Sungjae! Kenapa dia berteriak seperti itu –bahkan sebelum aku menjawab pertanyaannya barusan? Benar-benar!

Kami –aku dan Myungsoo kini hanya saling diam. Perasaanku menjadi tak nyaman karena Myungsoo hanya berdiri di depan jendela besar kamar hotel, sementara aku duduk di kursi –di sampingnya. Aku bisa melihat raut wajah serius Myungsoo dari sini. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, sebuah kebiasaan Myungsoo jika sedang berfikir.

“Myung.” Aku mencoba memanggilnya –karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Myungsoo mengusap wajahnya kasar.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan, Jung?”

Uh? Apa yang ditanyakannya barusan?

“Bisakah kau lebih dewasa, Jung?”

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud dari pertanyaan Myungsoo. Dewasa? Bahkan aku bisa lebih dewasa darinya.

“Myungsoo, aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu.”

Myungsoo berbalik menghadapku. “Bisakah kau menghargai seseorang, Jung Soojung? Maksudku –tidak bisakah kau menekan sedikit keegoisanmu itu? Jika kau marah padaku, katakan langsung. Jangan mendiamkanku atau malah menghilang dan bersembunyi seperti ini!”

Benarkah –yang ada di depanku ini adalah Myungsoo? Kim Myungsoo yang aku kenal? Suara berat dan penuh penekanan itu tidak pernah aku dengar sebelumnya. Meskipun kami sering berdebat, tapi Myungsoo tak pernah bicara dengan nada yang seperti itu padaku. Sepertinya Myungsoo sedang –marah. Tapi kenapa harus semarah itu? Aku kan hanya pergi ke Busan.

Dia memijat pelipisnya dan –sepertinya dia menghindari untuk melihat ke arahku.

“Katakan padaku, apa yang membuatmu pergi secara diam-diam seperti ini?”

Kim Myungsoo

“Katakan padaku, apa yang membuatmu pergi secara diam-diam seperti ini?” Sekali lagi aku melontarkan pertanyaan padanya.Bukannya aku ingin menyudutkan, aku hanya butuh kepastian –apa yang membuatnya bertindak seenaknya sendiri seperti ini. Dia membiarkanku, keluarganya, dan kerabatnya kalang kabut mencarinya, sementara dia bersenang-senang di Busan.

Soojung memalingkan wajahnya.

Wanita di depanku ini tidak pernah berubah. Dia hanya bisa diam ketika seseorang menyudutkannya. Itu adalah ekspresi penyesalan seorang Jung Soojung, dan aku? Aku tidak tahu harus bicara apa lagi jika dia sudah diam seperti itu.

Aku menyadari sesuatu, kenyataannya Soojung dan aku memang tidak bisa –sehari saja-berdamai. Apa yang aku suka adalah apa yang Soojung tak suka, begitupun sebaliknya. Aku bisa lebih bersabar –tapi Soojung tidak. Aku bukan tipe orang yang ceroboh –dan Soojung, dia sangat ceroboh. Soojung sangat pintar –dan aku, biasa saja.

“Jika kau terus berdiam diri seperti itu. Aku –maka aku..”

“Aku sedang marah padamu, Myungsoo!”

Aku mengerjap beberapa kali.

Dia beranjak dari duduknya. “Apa? Jika aku terus diam, maka apa yang akan kau lakukan?” Tegasnya. Dia menatapku dengan tatapan tajamnya –namun, aku bisa melihat sesuatu yang menggenang di sana, di matanya.

“Maka aku –aku menyerah terhadapmu! Marah saja, Jung Soojung! Bukankah kau memang selalu marah padaku. Tapi bisakah kau tak mengabaikanku? Kau hanya perlu mengatakan apa salahku dan aku –aku akan selalu meminta maaf padamu, tak peduli jika itu kesalahan yang tak sengaja aku buat.” Aku tidak sadar jika aku mengatakannya. Aku kehilangan kendali atas ucapanku sendiri. Mana bisa –aku menyerah padanya, dia adalah hidupku.

Mulutnya mengatup kembali dan air yang menggenang di kedua matanya itu perlahan jatuh. Dia menangis –seorang Jung Soojung menangis di depanku. Aku menarik kursi yang berada di dekat Soojung kemudian duduk berhadapan dengannya.

“Maafkan aku.”

Aku mengusap puncak kepalanya. Perlahan wajah itu terangkat, menatapku dengan kedua matanya yang terlihat sayu akibat menangis.

“Sebenarnya apa yang kau fikirkan tentangku, Myungsoo?”

“Jung Soojung, aku merasa –kau adalah tanggung jawabku. Aku merasakan itu sejak dulu, saat kita duduk di bangku sekolah dasar. Kau –adalah orang terceroboh yang pernah aku kenal, kau pintar tapi tidak rapi. Kau sangat kekanakan, sangat egois dan sering membuatku kesal. Kau –kau adalah seseorang yang tidak akan bisa hidup sendirian, kau –kau membutuhkanku berada di sisimu.”

Suasana kembali hening.

“Myungsoo –aku, aku minta maaf.”

Bisakah waktu berhenti untuk beberapa saat? Aku ingin terus berada di posisi ini, mendengarkan Soojung meminta maaf dengan tulus. Tidak ada Soojung yang menatapku tajam dan tidak ada penekanan dalam setiap kalimatnya.

“Sebaiknya –kita selesai sampai disini.”

Apa yang dikatakannya barusan?

“Soojung-ah, jangan bercanda.”

Soojung kembali memalingkan muka. “Aku –sebenarnya aku tidak bisa percaya padamu, Myung. Setiap hari aku selalu berfikir –bagaimana jika kau melakukan hal yang sama padaku seperti apa yang kau lakukan terhadap semua mantanmu. Aku –aku terlalu takut, Myungsoo. Aku takut jika kau akan meninggalkanku. Bahkan sampai saat ini.”

Jika sudah seperti ini –bukan hanya Soojung yang bisa merasa kesal, kecewa dan marah, tapi aku juga. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Aku sudah mengatakan ribuan kali padanya jika aku sudah berubah. Baiklah, dulu aku memang seorang playboy –bergonta-ganti pacar demi memenuhi perasaan hatiku yang selalu merasa kosong. Sampai aku sadar jika ruang dihatiku yang kosong itu memang hanya bisa terisi dengan pas oleh Soojung.

Tanpa sadar Soojung adalah orang yang tepat buatku. Dia mengetahui segala hal tentangku, bahkan tentang hal kecil diriku yang aku sendiri tak menyadarinya. Aku sudah memantapkan hatiku –meskipun sedikit terlambat karena aku menyadarinya setelah kami sama-sama tumbuh dewasa, ketika Soojung mengatakan jika dia ingin menjadi desainer dan tidak akan lagi satu sekolah denganku.

“Kau –tidak percaya padaku, Jung Soojung?”

“Aku butuh waktu untuk itu, Myungsoo. Aku hanya perlu meyakinkan hatiku –tapi, aku tidak bisa melihatmu bersama wanita lain. Meskipun itu hanya sebatas teman atau rekan kerja. Perasaan takut itu selalu menghantuiku, Myungsoo. Jadi, lebih baik kita tidak usah bertemu dulu untuk beberapa waktu.”

Tanganku mengepal di samping celanaku.

“Kau terlalu egois, Soojung. Bahkan untuk hal semacam ini. Kau menilaiku terlalu rendah. Jika aku akan mempermainkan hubungan ini dari awal, sudah sejak lama aku meninggalkanmu. Tapi –bagaimana bisa kau berfikir seperti itu saat aku sudah berubah dan selalu bertahan terhadap semua sifat egois dan kekanakanmu itu? Pikirkan itu, Jung Soojung!”

Pengorbananku untuk terus sabar menghadapi semua sifatnya adalah salah satu pengorbanan terbesar yang aku lakukan. Demi Soojung aku menolak Suji yang memintaku untuk kembali padanya saat kami bertemu tanpa sengaja di Columbia University dua tahun lalu. Demi Soojung aku tak melirik wanita lain, aku berani bersumpah tentang itu. Demi Jung Soojung aku rela selalu mengalah dan meminta maaf lebih dulu. Sampai sekarang –Soojung adalah wanita yang berada di depan mataku.

“Kau tahu betapa susahnya aku menekan kesabaranku ketika kau bertindak sesuka hatimu? Kau harus tahu betapa lelahnya aku ketika menghadapimu yang selalu mendebatku. Belajarlah untuk lebih dewasa, Jung Soojung. Hanya karena masalah kepercayaan lantas kau memutuskanku seperti ini? Asal kau tahu, aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

Aku menarik nafasku dalam ketika semua kalimat itu meluncur dari mulutku. Aku bermaksud untuk meninggalkan ruangan ini, aku butuh berfikir lagi.

“Maafkan aku, Myungsoo.”

Langkahku terhenti ketika Soojung kembali mengucap kata maaf. Kali ini aku tidak berbalik padanya, siapa tahu jika dia meminta maaf karena memang hubungan ini harus berakhir. Aku tidak bisa –aku tidak mau berbalik, aku tidak mau menunjukkan kesedihanku padanya. Sampai aku merasakan tangannya menggenggam tanganku –seolah menahanku untuk pergi.

“Maafkan aku, Myungsoo. Maafkan aku –maafkan aku..”

Kenyataanya aku memang tidak bisa menahan diri, aku segera berbalik dan merengkuh Soojung ke dalam pelukanku. Tuhan, maafkan aku karena membuat gadis di pelukanku ini menangis dua kali.

Aku mengusap puncak kepalanya. “Maafkan aku, Soojung.” Mungkin sudah menjadi kebiasaanku untuk meminta maaf lebih dulu.

“Ingatkan aku setiap hari jika aku harus terus meyakinkanmu bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Lakukan itu setiap hari dan jika aku lupa, pukul saja aku. Aku akan melakukan apapun sampai kau merasa yakin dan percaya terhadapku, jika aku sangat mencintaimu.”

Dan Soojung semakin terisak dalam pelukanku.

FIN

Halo! Udah lama gak update dan sekarang malah ngepost yang gak jelas gini. Maafkan karena judul sama isi ceritanya agak ambigu/?… sebenernya cuma sedikit terinspirasi dari judul itu, gimana kalo cinta itu emang aneh?
Okedeh, buat kalian yang sempetin baca, makaasih bangeeeeeettt🙂

sampai ketemu di update’an ffku yang lain ^^

One response to “[Oneshot] Odd Love

  1. huuaaaaaa sediiiih bacanyaaa thor
    duuuuh myungsoo sabar banget ngadepin soojung, jadi terharu sama pengorbanan myungsoo..
    jadi ikutann ngrasain apa yang dirasain sama myungsoo😥 daebak thor, keren atuh pokoknya ceritanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s