[Series] Married With A Gay – Chapter 10

IMG_74457104576066

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Mutia R @HSG

Also Published : xiaohyun.wordpress.com

***

Fei menekuk dan memeluk kedua kakinya dengan erat. Mungkin ia akan benar-benar gila setelah ini, atau mungkin Fei memang sudah gila. Fei menarik kedua sudut bibirnya datar. Kalimat Ariel yang mengatakan Fei menyedihkan terus terngiang di kepalanya. Ia tahu ia menyedihkan, ia tahu bagaimana ia begitu tolol dengan semua tindakannya yang tanpa pertimbangan dan penuh emosi. Tapi di seumur hidupnya, tidak pernah ada yang benar-benar mengatakannya seperti itu pada Fei dengan cara seperti tadi.

Sepulang dari cafe tadi, Fei langsung pergi ke apartemen Wufan –dan tentunya gadis itu tidak akan mengabari Wufan terlebih dahulu. Ia tahu Wufan akan mengusirnya bahkan sebelum Fei meminta izin padanya. Ia bukans edang membutuhkan izin ataupun mendengar mong kosong Wufan tentang tata krama dan sebagainya, ia membutuhkan Wufan saat ini…

Dan pelukan Fei pada kedua kakinya semakin erat saat ia mendengar suara ‘tililit’ dari arah pintu masuk. Itu Wufan, ia sangat yakin itu adalah Kris-nya. Tidak mungkin itu orang lain, kan?

“Fei, sudah kukatakan berulang kali aku…” langkah kaki Wufan terhenti saat melihat keadaan Fei yang…menyedihkan. entahlah, ia tidak yakin apakah kata ‘menyedihkan’ untuk sosok Fei tepat atau tidak. Yang ia tahu saat ini, keadaan Fei terlihat sangat tidak baik-baik saja…

“Fei…”

“Apa kau tidak merasa iri pada Luhan sama sekali, Kris?” suara serak Fei memenuhi udara sekitar dan berhasil membuat langkah kaki Wufan berhenti di udara.

Lagi. wufan mengeluh dalam hati. Lagi-lagi Fei membahas hal yang sama, soal Luhan, soal pernikahan Luhan, dan…soal keinginan gadis itu padanya. Demi Tuhan, ia bukannya ingin menyingkirkan Ju Fei dari hidupnya. Ia tidak peduli dengan masalalu mereka ataupun bagaimana cara Fei yang mencoba untuk menyingkirkan orang lain di sekitar Wufan…

“Fei, aku sudah mengatakannya berulang kali…” Wufan pun menyalakan lampu. Dan napasnya cukup tersendat saat mendapati keadaan Fei yang ternyata benar-benar kacau.

“Apa kau perlu sampai sekacau ini demi membahas masalah ini denganku, hmm?” tanya Wufan sambil melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Fei.

“Kau tidak iri melihat Luhan memiliki seseorang yang begitu melindunginya?” tanya Fei lagi tanpa mengangkat kepalanya, masih dengan posisi meringkuk dan menekeuk kedua kakinya di samping ranjang Wufan.

Wufan mendesah pelan. Kemudian ia pun ikut duduk di samping Fei. Ia tidak tahu Fei akan terus mengejarnya seperti sekarang ini, bagaimanapun Fei tipe orang yang sangat suka mempertahankan harga dirinya. Gadis arogan yang selalu meninggikan rasa gengsinya, dan itu tidak berlaku untuknya…dan juga mungkin Luhan. ia tidak tuli dengan cerita Luhan yang mengeluhkan sikap gadis itu terhadapnya.

Ah, apa Luhan mengatakan sesuatu yang membuat Fei seperti ini?

“Aku kabur dari Ottawa dan menolak tawaran ibuku untuk mengurus perusahaan di Calgary,” Fei mulai angkat suara. Dan entah kenapa kepalanya mulai terasa sakit saat kepalanya mulai memutar role film masalalunya, “Aku berbohong padanya untuk datang ke Hongkong dan meneruskan anak perusahaan disana,” Fei tersenyum kecut, “Dan aku datang ke Beijing, dengan alibi untuk membuat kerja sama dengan perusahaan Luhan.”

Wufan menunduk, ia tidak tahu kemana arah pembicaraan ini akan terus berlangsung. Tapi yang membuatnya cukup terperangah, bagaimana keberanian gadis itu kabur dari Kanada dan datang ke Beijing…tidak. mungkin ibunya berpikir jika Fei saat ini berada di Hongkong, bukan di Beijing. Ia tahu bagaimana sifat ibunya yang keras. Jika wanita yang seumuran ibunya itu tahu tentang Fei saat ini, ia tidak yakin kata maaf akan diberikan pada Fei, setidaknya dengan cuma-cuma.

“Kau bukan tipe gadis pemberontak,” Wufan pun berkomentar. Dan ia tidak berbohong sama sekali tentang Fei. Fei benar-benar gadis penurut jika di hadapan ibunya.

Fei mengangguk pelan, “Dan aku ingin mencobanya sekarang. Aku ingin tahu bagaimana reaksi ibuku saat tahu perusahaanku malah membuat kerja sama dengan perusahaan Luhan, dan bukannya dengan perusahaan The IH Group. Kau tahu ibuku musuh bebuyutan ibu Luhan…”

Wufan terkekeh pelan, “Yeah, aku sudah curiga sejak awal, sejak kau datang ke kantor Luhan dengan status relasi kerja.”

“Karena aku mencintaimu, Kris…” Fei memutar kepalanya ke arah Wufan, “Tidak bisakah…sekali saja kau mencoba membuka hatimu untukku? Aku mengenalmu lebih lama, lebih baik daripada orang lain mengenalmu. Tidak bisakah kau mencoba seperti apa yang Luhan lakukan?”

Wufan mendesah pelan. Ia memejamkan matanya dengan berat. Ia tidak suka situasi dimana Fei menjepitnya seperti ini, lagi…ia tidak bermaksud untuk menolak Fei. Tapi ia benar-benar tidak bisa, ia bukan Luhan dengan keinginan besarnya ubtuk bisa menjadi normal. Wufan tidak seperti itu. Bahkan ia akan memilih sendiri ketimbangharus menikah dengan seorang wanita. Ia tahu keadaan rumah tangganya tidak akan harmonis.

“Kau tahu jawabanku, Fei…” Wufan memutar kepalanya ke arah Fei, “…aku tidak bisa menerimamu, atau siapapun…”

“Aku akan pulang ke Ottawa, besok.” Fei langsung bangkit setelah memotong ucapan Wufan.

“Fei…”

“Mungkin aku juga akan memutuskan untuk sendiri, atau mungkin tetap menikah demi mendapatkan seorang anak. Ibuku ingin segera menimang cucu. Mungkin aku hanya butuh menunggu waktu sampaia ku bercerai dengan suamiku nanti.”

Wufan sama sekali tidak bergerak saat Fei menyelesaikan ucapannya, bahkan saat gadis itu meninggalkan apartemen Wufan. Ini alasan kenapa ia tidak ingin terus bertemu dengan Fei, ia tahu Fei akan terus emngejarnya, dan pada akhirnya Fei harus menerima kenyataan bahwa Wufan menolaknya. Ia benci harus menyakiti Fei, lagi dan lagi.

***

Ariel memandangi jam tangannya dengan tatapan tidak tertarik. Pikirannya benar-benar berantakan semenjak pertemuannay dengan Fei tadi siang. Salahkan foto-foto sialan di hadapannya saat ini. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa Fei harus repot-repot menunjukkan foto-foto itu padanya, foto Luhan dengan…orang-orang di masa lalunya.

Ariel mendesah panjang dan kembali menarik amplop coklat dengan ukuran besar itu. Ia tidak tahu kenapa ia malah membawa amplop tidak berguna itu, dan yang lebih menjengkelkan, Ariel sama sekali tidak tahu ia akan merasa…apa ya, tidak suka? Kesal? Jengkel? Yeah, apapun itu. Yang jelas Ariel benar-benar merasa tidak nyaman dengan suasana hatinya semenjak bertemu gadis berambut pirang sok tahu itu, dan melihat belasan foto di tangannya membuat Ariel semakin tenggelam dalam aura gelapnya.

Ariel mungkin bisa mentoleransi foto-foto Luhan dengan Wufan, well ada banyak sekali foto mereka disini. Foto mereka saat kuliah, mungkin? Disana Luhan mengenakan kaos abu-abu dengan Wufan yang duduk di samping Luhan dan tersenyum ke arah kamera, juga ada foto Luhan dengan rambut pirang menyalanya –dan demi apapun Ariel tidak akan mau melihat Luhan mewarnai rambutnya sepertiitu lagi, tak lupa ada Wufan di belakangnya dengan posisi…memeluk leher Luhan. selain itu, masih ada beberapa foto lainnya, dan yang terbanyak foto mereka saat berada di LA –Ariel bisa melihatnya lewat tulisan yang ikut dicetak di foto itu lengkap dengan tanggal pengambilan foto itu.

Dan yanf membuat Ariel sempat menahan napas tadi –saat ia pertama kali melihat foto itu, foto Wufan yang menempelkan bibirnya di pipi Luhan. Baiklah, Ariel dapat memahaminya karena Ariel sudah tahu tentang hal itu, bahkan dari Luhan sendiri. Tapi entah darimana racauan pikirannya soal ‘mungkin saja Luhan pernah melakukan sesuatu yang lebih parah daripada ciuman di pipi itu’, atau ‘sejauh mana hubungan Luhan dan Wufan sampai mereka pergi kemanapun bersama-sama’, bahkan pikiran soal ‘bagaiman pandangan Wufan tentang pernikahan Luhan’ pun ikut-ikutan mengaung di otaknya.

Kemudian foto yang mengganggu pikiran juga perasaannyam adalah foto Luhan dengan Fei yang tengah berciuman, dan yang lebih menjengkelkan adalah foto Luhan yang tengah dicium gadis –yang entah siapa- di pipi Luhan. ia tahu Luhan bisa cantik dan tampan secara bersamaan. Tapi bagaimanapun, berhubungan dengan pria dan wanita di saat bersamaan…

Ariel langsung memasukan foto-foto itu ke dalam amplop dan melemparnya ke dalam laci dengan keras. Ia tahu Luhan seorang yang memiliki kelainan homoseksual, tapi ia tidak tahu rasanya benar-benar buruk setelah tahu semuanya sejauh ini…

Dan bahu Ariel langsung menegak saat ia mendengar suara pintu apartemennya di bawah. Ia yakin itu Luhan, dan mungkin ada baiknya ia menyembunyikan ini terlebih dahulu. Ariel juga tidak yakin bagaimana cara mengeluarkan seluruh pertanyaan di kepalanya pada Luhan dengan suasana hati seburuk ini.

***

Ariel masih menyiapkan makan malam di meja makan saat Luhan baru selesai mandi. Luhan mendengus pelan, ada yanga nehd engan Ariel. Ariel memang pendiam,d an Luhan mungkin telah mengeluhkannya ratusan kali semenjak ia serumah dengan gadis itu. Tapi baru saja tadi siang gadis itu mau diajak bercanda dengannya. Bahkan yang lebiha jaib Ariel mau tersenyum dan tertawa dengannya. Tapi anehnya, sepulang Luhan tadi, Ariel seperti menghindarinya. Bahkan Ariel hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun padanya, dan yang membuat Luhan bertambah kesal saat gadis itu malah menghindari tatapan matanya.

“Kau kenapa?” tanya Luhan sesampainya di meja makan. Dan Ariel hanya mengangkat kepalanya, kemudian menggelengkan kepalanya sambil menarik kedua sudut bibirnya. Oh, bahkan Luhan yakin itu senyum terpalsu Ariel.

Dengan sedikit kesal, Luhan pun menarik piringnya dan mulai melahap menu makan malamnya. Dan dahi Luhan langsung mengkerut saat ia mulai sadar dengan makanan yang tersedia di piringnya. Ini katsudon, dan Luhan tidak akan lupa soal Ariel yang tidak menyukai makanan Jepang. dan katsudon adalah menu populer dari Jepang.

“Kau membuat katsudon?” tanya Luhan saat Ariel baru menarik kursinya untuk duduk.

Ariel pun mengangguk pelan dan mulai memotong katsudon miliknya, “Tapi aku tidak memakai daging babi. Aku tidak terlalu suka dengan daging babi, terlalu berlemak,” kata Ariel kemudian, tanpa memandang Luhan dan dengan nada terdatarnya. Oh, Demi Tuhan. Ia benar-benar tidak suka Ariel bersikap seperti ini padanya.

“Kau marah padaku?” tanya Luhan sambil mengunyah katsudon-nya. Aneh sekali rasanya emmakan katsudon untuk menu makan malam, dan lebiha neh lagi karena Ariel mendiamkannya seperti saat ini.

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau diam saja?”

Ariel mengangkat kepalanya dan mulai membuka mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi dengan cepat Ariel mengatupkannya lagi. ia pun menggeleng pelan, Ariel masih merasa untuk tidak mengatakan apapun pada Luhan saat ini.

Luhan masih menunggu agar Ariel mengatakan sesuatu. Tapi bukannya menjawab, Ariel justru melahap makanannya dengan cepat dan tidak membuka suaranya lagi. dan ini membuat Luhan semakin yakin jika Ariel sedang marah padanya –meskipun Luhan tidakyakind engan alasan gadis itu marah terhadapanya.

Luhan pun menyerah, ia pun kembali memakan katsudon-nya, sampaiia sadar jika rasa katsudonnya berbeda dengan rasa katsudon pada umumnya. Dan ini berhasil membuat Luhan sedikit tersenyum, selama ini Luhan hampir tidak pernah mencicipi masakan ibunya. Meskipun Luhan makan di rumah, Luhan tidak akan memakan masakan ibunya, melainkan masakan koki dapur ibunya. Dan Luhan bersyukur memiliki pendamping hidup yang membuatnya tidak harus mencicipi masakan orang lain.

“Luhan, sejauh mana hubunganmu dengan Ju Fei?”

Luhan mengangkat kepalanya bingung saat mendengar pertanyaan Ariel, “Apa? Ju Fei?”

Dan Ariel terlihat menggeleng pelan, seperti menyesali pertanyaannya sendiri. “Aku harus mengeringkan pakaian, kau teruskan saja makanmu. Setelah itu taruh piringnya di sini, biar aku saja yang mencucinya,” kata Ariel sebelum beranjak dan meninggalkan Luhan.

Luhan menggaruk kepalanya frustasi dan membanting sendoknya dengan kasar ke atas piring. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Ariel sekarang juga. Dan kenapa gadis itu tiba-tiba menanyakan soal Fei?

***

Ariel terus saja memukul kepalanyam kemudian ia kembali menjemus pakaian basah di dalam keranjang hijau yang terletak di atas lantai. Ariel benar-benar merasa tolol dengan pertanyaannya sendiri. Dan Ariel benar-benar tahu bagaimana payahnya ia untuk menahan lidahnya. Ariel selalu saja tidak bisa menunda pertanyaan yang membelit kepalanya.

Baiklah, mungkin wajar saja Ariel bertanya seperti itu, kan? Bagaimanapun hubungan Ariel dan Luhan sudah sejauh ini. Status mereka juga melegalkan Ariel untuk mengetahui hal-hal yang tidak ia ketahui tentang Luhan. tapi Ariel masih emrasa tidak enak, atau apapun itu yang membuatnya tidak merasa terlalu nyaman jika harus terbuka pada Luhan. well, Ariel pun menaruh privasi untuknya sendiri dan tidak membiarkan Luhan tahu. Dan hal yang wajar jika Luhan juga memiliki privasi, kan?

Dan yang membuat Ariel semakin tidak nyaman adalah memikirkan pertanyaan yang akan Luhan lemparkan nantinya. Ariel tidak mau menjelaskan pertemuannya dengan Fei tadi siang, apalagi jika Luhan harus tahu jika Ariel malah menyiram wajah gadis itu. Oh, sialan! Ariel benar-benar benci agaimana sikapnya hari ini. Benar-benar memalukan.

“Kau hanya menjemur 5 potong pakaian, kenapa harus lama sekali?” Ariel terlompat kaget saat Luhan tiba-tiba muncul di sampingnya tiba-tiba.

Dengan kikuk, Ariel pun buru-buru mengambil satu kemeja putih lagi yang masih ada di keranjang dan cepat-cepat menjemurnya. Luhan tersenyum kecil melihat tingkah Ariel yang benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.

“Kau sudah selesai makan? Aku harus mencuci piring…”

“Bagaimana jika kita mengobrol sebentar? Aku bisa mebantumu mencuci piring nanti, ada yang harus kubicarakan…”

Ariel langsung menggeleng cepat, “Ti…tidak. aku tidak terlalu suka menunda pekerjaan,” Ariel menarik tangannya yang sempat ditahan oleh Luhan. yeah, mungkin jika teman-teman kuliahnya mendengar ucapan Ariel yang satu ini, merekapasti akan menganggap Ariel tengah demam. Karena kenyataannya, semenjak menikah saja Ariel mulai tidak menunda pekerjaannya. Bahkan Ariel lupa bagaimana rupa apartemennya yang ditinggalkannya tiba-tiba 2 bulan yang lalu.

Tapi Luhan kembali menahan lengan Ariel, dan ia pun mengambil keranjang hijau di tangan gadis itu, “Sebentar saja. aku memang tidak bisa mencuci piring, tapi setidaknya aku akan mencobanya, kau mau membantuku, kan?”

Ariel mendengus pelan. Tidak etis sekali rasanya membahas soal bisa atau tidaknya Luhan mencuci piring. Ia memang sempat marah-marah pada Luhan karena pemuda itu malah memecahkan piring saat mencoba mencucinya. Tapi ia tidak peduli dengan hal itu, dan ia juga tidak akan memusingkan soal itu. Ia hanya tidak sedang ingin berlama-lama dengan Luhan.

“Kau bertanya soal hubunganku dengan Fei, kan?” dan Luhan pun melepaskan lengan Ariel, kemudian mengangkat tangan yang satunya.

Napas Ariel sempat tertahan saat ia mendapati amplop coklat yang diberikan Fei tadi sudah berada di tangan Luhan. bodoh. Harusnya Ariel tidak meletakkannya di dalam laci. Bagaimanapun ini adalah apartemen Luhan, dan Luhan akan jauh lebih tahu detail apartemen ini daripada Ariel sendiri.

“Aku tidak tahu bagaimana pendapatmus oal foto-foto ini. Tapi aku tahu hanya Fei yang bisa melakukan ini,” Luhan pun tersenyum tipis, “Kau mau mendengarkan semuanya dariku langsung, kan? Aku tidak akan menyembunyikan apapun. Dan yang harus kau tahu sebelumnya, Fei tidak akan berbohong soal ceritanya, dan aku akan menjelaskan detail cerita Fei.”

***

“Kau tidak pernah mengikuti acara festival semacam ini sebelumnya,” Lisa kembali memeriksa jadwal terbaru Luhan yang diberikan padanya oleh atasannya kemarin lusa.

Zhang Yi Xing tidak menyahut dan tetap asyik memainkan ponselnya. Yeah, menunggu di bandara bukan sesuatu yang menyenangkan. Salah satu alasan yang membuatnya tidak terlalu suka jika harus tampil di luar negri.

“Kau tidak sedang mencari alasan untuk pergi ke Cina, kan?” Lisa mendelik ke arah Yi Xing yang masih memainkan ponselnya. Karena tidak menyahut juga, Lisa pun menarik headset di telinga Yi Xing dan langsung memelototi pemuda itu saat Yi Xing menoleh ke arah Lisa.

“Kau benar-benar tidak tahu sopan santun, ya! kau tahu, demi menemanimu ke acara itu, aku harus membatalkan janjiku dengan…”

“Kau berkencan dengan koreografer itu?” potong Yi Xing yang berhasil membuat mata Lisa membulat.

“Kau sudah tahu soal itu?” tanya Lisa antusias, “Bagaimana menurutmu? Dia tampan, kan? Ah, bahkan diantara semua laki-laki yang pernah berkencan dneganku, sepertinya dia…”

“Kenapa Nuna tidak berhenti jadi manajer saja?”

Lisa mendnegus kecil dan memukul kepala Yi Xing dengan keras, “Bodoh! Lalu bagaimana dengan keluargaku?”

“Keluargamu kaya, kau kira aku tidak tahu?” Yi Xing memutar bola matanya malas.

“Bukan begitu, bagaimanapun aku sudah menentang keluargaku dan bersikukuh untuk bekerja di dunia hiburan. Dan menjadi maanjer saja sudah sangat menguntungkan untukku. Dan karena kau sangat penurut, aku semakin diuntungkan dnegan itu,” Lisa pun membuka tasnya dan emngambil cermin kecil di tasnya, “Dan kuharap kau tidak benar-benar serius untuk menemui Ibu Ariel. Kau tahu, hidupmu akan semakin sulit jika kau terus saja berhubungan dengan Ariel. Belum lagi kakakmu yang galak itu akan menceramahiku panjang lebar,”

Yi Xing mendengus pelan dan kembali memainkan musik di ponselnya, “Aku juga salah satu penggemar Lim Jin Ha. Dia musisi yang sangat hebat…”

“Dan kau mau bilang kau mantan kekasih Ariel dan mengetahui segala tentangnya dari Ariel? Oh, itu ide terburuk yang pernah kudengar Zhang Yi Xing…”

“Panitia acara ini adalah teman dekat Nyonya Lim saat sekolah dulu. aku bisa berpura-pura mengetahuinya tanpa sengaja, lagipula aku akan datang ke tempat tinggalnya, bukan ke tempat tinggal Luhan…”

Lisa mengerutkan dahinya saat ia teringat soal Luhan, “Oya, bukankah ibu Luhan dan ibu Ariel sudah berbesan sekarang? Apa pantas ibu Luhan mmempekerjakan besannya sendiri? Maksudku…”

Yi Xing mendensah panjang, “Kau bilanga ku tidak boleh ikut campur…”

Lisa menggeleng pelan sambil mengibaskan tangannya, “Bu..bukan begitu. Maksudku, itu aneh saja. oh iya, sepertinya kau sudah tidak lagi sakit saat mendengar Ariel. Baguslah! Artinya kau bisa move on sedikit-sedikit,” Lisa menepuk bahu Yi Xing dan kembali membenahi rambutnya sambil mematut wajahnya di depan cermin.

“Kalau begitu kau juga harus move on dari kebiasaanmu mengganti-ganti pacar. Nuna juga sepertinya harus memulai hubungan serius.”

Lisa mendnegus pelan, “Kau tidak suka aku berkencan dengan koreografer itu?”

“Hmm. Kudengar dia seorang playboy,”

Lisa mengedikkan bahunya dengan acuh, “Bukankah itu justru akan keren? Seorang playgirl dan playboy menjalin hubungan?”

Yi Xing meringis pelan, dan Yi Xing benar-benar tidak suka sisi lain dari Lisa yang satu ini.

***

Lim Jin Ha langsung terbatuk saat wanita yang mengaku bernama Yingtai saat ini tengah berbicara di telpon. Yingtai. Han Yingtai…

“Aku ingin kau datang di acara kami. Kudengar kau sudah pindah ke Beijing, kenapa tidak pernah memberitahuku?” nada merajuk ciri khas Yingtai menyentuh gendang telinga Jin Ha. Dan Jin Ha merasa terbang ke masalalu, ke masa dimana ia, alat musik dan panggung merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sebelum akhirnya ia bertemu dengan seorang pria yang tiba-tiba melamarnya dan mengajaknya pergi ke Kanada untuk memulai kehidupan baru disana…Cerita usang miliknya.

“Kau…maksudku, ini sangat mendadak. Kau tahu aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Aku…”

“Aku kecewa padamu karena kau malah tidak menemuiku saat kau kembali ke Cina. Kau tahu, kau bisa memulai karirmu dari awal. Kau bahkan bisa mengajar di sekolah musikku di Hong Kong.”

Lim Jin Ha tersenyum kecut, ia pun memutar tubuhnya ke arah jendela kamarnya dan menatap sendu jutaan cahaya yang berasal dari lampu penduduk Beijing. Yeah, seandainya ia masih berumur 20 tahunan, mumgkin ia akan melakukan itu. Melepas segala gengsi dan rasa malunya, kembali memainkan musik dan memulai karirnya dari awal…

“Tapi Yingtai, aku bukan lagi gadis muda 20 tahun yang bebas melakukan apapun, aku…”

“Tidak bisa Jin Ha,” potong wanita itu dengan keras kepala, “Dengar. Kau sudah membuatku kecewa karena kau tidak mengatakan apapun soal masalahmu…”

Jinha mati-matian untuk menahan air matanya agar tidak jatuh saat ini juga, “Tidak apa-apa Jinha. Semua orang akan tetap menerimamu. Ah, jangan lupa untuk membawa putri bungsumu. Dia ikut bersamamu, kan? Ah, kau bahkan tidak mengundangku di acara pernikahannya. Ingat! Kau harus datang. Jika kau tidak datang, aku akan menyeretmu untuk tetap datang. Aku merindukanmu, bodoh!”

Jinha tersenyum kecil dan menghapus air matanya yang menganak sungai di pipinya. Rasanya seperti mimpi mendapati sahabatnya kembali membuka tangannya untuk Jinha. Mungkin Jinha memang naif dengan segala ekspetasinya seorang diri.

Mungkin ia bisa memulainya sekarang…

***

Aiel meremas jemarinya sendiri dengan mata terjatuh pada layar televisi yang menayangkan acara Running Man versi Cina. Ah, Baekhyun penggila acara ini –dan dia penggila Song Ji Hyo. Tapi disini Ariel justru tidak tertarik sama sekali, selain tidak ada Haha, Gary atau MC RM lainnya seperti di Korea, ia juga justru dirisaukan dengan atmosfer antara dirinya dan Luhan yang duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup jauh.

“Kau bertemu dnegan Fei hari ini?” dan setelah 10 menit, akhirnya Luhan membuka suaranya. Ariel tidak tahu kenapa Luhan tiba-tiba canggung, itu bukan gayanya. Dan kecanggungan Luhan semakin memperparah kecanggungan Ariel.

“Ya, aku…”

“Aku memang pernah tidur dengannya. Tapi itu hanya terjadi satu kali, kami sangat dekat saat kuliah dulu. kebetulan aku dan Fei satu jurusan, dan kami semakin dekat aku saat tahu ternyata dia sahabat Wufan…” Luhan pun melirik Ariel lewat ujung ekor matanya, “Fei bilang aku pernah tidur dengannya, kan?”

Ariel tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Demi apapun aku benar-benar benci situasinya dengan Luhan saat ini.

“Wufan teman satu asramaku saat itu. Hubungan kami semakin dekat saat dia tahu ternyata aku…menyukai Zhang Yi Xing,” Luhan menelan ludahnya pahit, entah kenapa ia merasa enggan untuk menceritakan masalah ini pada Ariel, “Dan lama-lama akujuga tahu ternyata Wufan sama sepertiku. Kami memang tidak pernah memutuskan apa nama hubungan yang cocok untuk kami. Karena meskipuna ku sudah tidak tinggal di asrama, tapi hubunganku dengan Wufan justru semakin dekat. Dan…saat itu aku belum mengerti kenapa Fei selalu membuntutiku kemanapun,” Luhan pun mengeluarkan foto dirinya dengan Fei dan melemparkannay ke lantai, “Itu foto kami di sebuah pesta ulang tahun teman sekelas kami, TOD. Kau tahu permainan itu, kan? Aku mendapat dare karena tidak mau mengatakan siapa cinta pertamaku,” Luhan terkekeh pelan, “Fei gadis yang cukup agresif tapi arogan secara bersamaan. Aku…minta maaf jika dia membuatmu tidak nyaman dnegannya hari ini.”

Luhan menegakkan bahunya, “Dan soal kami tidur bersama, kami tidak melakukannya dengan sengaja. Kami melakukannya tanpa sengaja, karena mabuk…” Luhan menghembuskan napas beratnya, “Dan sejak saat itu Fei bertengkar dengan Wufan. Aku tidak tahu alasan mereka bertengkar sampai mereka tidak lagi pernah bertegur sapa, Wufan sangat marah pada Fei. Dan yang aku tahu, Fei menyukai Wufan dan mencoba untuk memisahkanku dengan Wufan.”

“Dan…Wufan menyukaimu?”

Luhan menggeleng pelan, “Wufan tidak pernah mengatakannya dana ku juga tidak ingin menebak apapun. Aku nyaman dnegan hubungan kami,” Luhan pun melemparkan semua foto-fotonya dengan Wufan ke atas lantai, “Aku nyaman dengan kebersamaan kami. Terlepas bagaimana orang lain memandang kami. Kami benar-benar tidak peduli. Aku selalu menghabiskan waktu bersamanya, dia juga sering menyelamatkanku dari gadis-gadis yang coba dijodohkan padaku. Berlibur bersama bukan hal yang asing lagi, kami sering berlibur bersama…bahkan kami juga pernah melakukannya…”

Ariel langsung memejamkan matanya. Baiklah, perasaan kelabu itu langsung pecah berantakan saat Luhan mengatakannya…dengan jujur. Ariel bahkan tidak habis pikir bagaimana bisa Luhan mengatakan semuanya dengan gamblang sepertiitu.

“Aku juga pernah berkencan dnegan pria lain, pria yang sama sepertiku dengan Wufan…tapi hubungan kami tidak pernah sebaik hubunganku dengan Wufan. Aku tidak tahu apa alasannya tetap baik terhadapku meskipun aku malah mencoba untuk mengkhianatinya. Dia tidak marah jika akus udah mulai membahas soal Yi Xing, juga keinginan besarku untuk kembali normal…”

Luhan menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah meleleh, “Aku malu pada diriku sendiri, aku merasa berdosa pada ayah dan ibuku…ayah yang menaruh seluruh kepercayaannya padaku, juga pada ibuku yangs elalu memberikan apapun yang kuinginkan. Aku tahu ibuku egois, tapi keegoisanku jauh lebih besar…” Luhan pun menarik napas panjang, “Aku merasa takut dan malu secara bersamaan. Aku mendiskusikannya dengan Wufan, dan Wufan mendukungku untuk mencoba berhubungan serius dengan wanita yang dibawa oleh ibuku.

“Kau tahu umurku baru mencapai angka 24, dan aku kira ibuku terburu-buru untuk membuat sebuah hubungan serius. Selain itu, aku tidak terlalu yakin dnegan semua gadis yang dibawa oleh ibuku. Bagaimana jika mereka tahu kekuranganku dan semua masalalu gelapku, aku tidak mau mempertaruhkan harga diri ibuku, harga diri keluargaku.

“Dan aku mulai mencoba menyewa gadis-gadis murahan itu di pub,” Luhan melempar sebuah foto dirinya dengan seorang gadis lain, “Fotoku dengan Lin…gadis yang paling sering kusewa. Dia sangat terobsesi padaku,” Luhan tersenyum kecil mengenang gadis bernama ‘Lin’ itu. Ia bahkan tidak pernah tahu kabar gadis itu lagi semenjak pernikahannya. Lin sudah seperti pendengarnya, dan Lin juga sering menjadikannya tempat mengeluh banyak hal.

Luhan pun menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, “Menjijikan sekali ya? aku benar-benar minta maaf karena telah menyeretmu sejauh ini ke dalam masalahku. Harusnya kau hidup dengan seseorang yang jauh lebih baik dariku, seseorang yang kau cintai dan bisa menjagamu dengan benar. Bukannya dengan pria homoseksual menjijikan sepertiku.”

Luhan pun bangkit dari kursinya dan menatap sekali lagi foto-foto itu, “Kau bisa buang foto-foto itu. Aku tidak ingin matamu ternodai dengan gambar-gambar masalaluku…”

“Karena itu kau harus memperbaikinya sekarang…” langkah kaki Luhan terhenti saat suara Ariel menyentuh gendang telinganya, “Maaf membuatmu tersinggung. Aku…tidak bermaksud buruk soal itu,” Ariel pun bangkit dari tempat duduknya dan memunguti semua foto-foto yang Luhan lempar ke atas karpet coklatnya, “Kau sudah berusaha memperbaikinya. Dan aku tahu, pasti sulit. Aku juga mengertis ekarang kenapa Wu Yi Fan sangat marah padaku di hari pertama pernikahan kita.”

“Kau hanya perlu mencoba lebih keras untuk memperbaikinya, kan?” Ariel pun berdiri dan menghadap ke arah Luhan, “Dan aku akan mencoba sebisaku untuk tetap berdiri di sampingmu. Jangan mancoba untuk merendahkan dirimu lagi, oke? Itu tidak akan memperbaiki apapun…” ucapan Ariel terhenti saat Luhan tiba-tiba menarik tubuhnya ke da;am pelukan Luhan.

Ariel mendengar suara sesenggukan Luhan, dan Ariel tidak terlalu yakin apakah Luhan benar-benar menangis atau tidak. Tapi yang jelas, Ariel dapat mendengar suara Luhan, “Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya…”

***

“Senang bisa melihatmu secara langsung Zhang Yi Xing,” Han Yingtai menglurkan tangannya ke arah Yi Xing yang baru saja datang ke tempat latihan untuk acara yang diadakan wanita berkepala 4 itu.

“Dan suatu kehormatan anda mengundang saya ke acara ini,” balas Yi Xing dengan senyum terbaiknya.

Di samping Yi Xing, Lisa justru mendelik malas. Senyum yang bahkan tidak pernah Yi Xing lemparkan padanya. Jika dipikir-pikir, Yi Xing juga akan cocok jika ia mencoba untuk menjadi aktor, lihat saja caranya berakting.

“Dan ini…”

“Ah, Lisa. Kim Lisa, aku manajer Yi Xing,” Lisa membalas jabatan tangan Yingtai –nama yangs edikit lucu menurut Lisa. Tapi Lisa menelan pendapatnya dengan mentah-mentah. Ia tidak ingin tiba-tiba dipecat atau ditendang dari acara megah ini.

Dan perkenalan dengan sedikit obrolan basa-basi itu berlangsung sekitar 15 menit. Meskipun sudah mengadakan konser dan diundang untuk tampil bersama dengan beberapa musisi besar, Han Yingtai bukan salah satu orang yang pernah masuk ke dalam list musisi yang pernah tampil dengan Yi Xing. Jadi ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri untuk Yi Xing, karena akhirnya ia bisa tampil dengan musisi legendaris asal Tiongkok –meskipun Han Yingtai dibesarkan namanya di New York karena Tiongkok yang sedikit sensitif pada kritik yang dibuat Yingtai melalui musiknya. Yeah, kritikus sekaligus musisi…Han Yingtai.

“Silahkan berkeliling, aku harus menemui sahabat lamaku,” Lisa dan Yi Xing secara bersamaan langsung membungkukkan badannya ke arah wanita itu.

“Hah…sepertinya aku harus menjadi manajer boyband saja sekarang,” keluh Lisa yang membuat kepala Yi Xing berputar ke arahnya.

“Kenapa begitu?”

“Obrolan kalian membuatku pusing. Jika aku menjadi manajer boyband, mungkin saja aku bisa mengajak kencan salah satu dari mereka, aku juga bisa menikmati setiap tarian yang mereka lakukan. kau tahu, aku sama sekali buta dengan jenis musik seperti ini…”

Yi Xing langsung menoyor kapala Lisa yang langsung dibalas hantaman di lengan Yi Xing, “Hei! Kau kira berapa umurmu sampai berani menoyor kepalaku begitu, hah?!”

Yi Xing menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat semua mata berlari padanya karena teriakan Lisa, “Nuna, semua orang melihat ke arah kita…”

Dan Lisa langsung memukul kepala Yi Xing dengan keras, “Sekali lagi kau melakukannya aku akan menendang bokongmu bocah tengik!” omel Lisa lagi sebelum ia meninggalkan Yi Xing di tempat itu. Lisa sama sekali tidak peduli dengan tatapan orang-orang itu yang Yi Xing sebutkan tadi. Toh, kebanyakan mereka orang cina, dan mereka tidak akan mengerti bahasa korea, kan?

Yi Xing mungkin saja mengejar Lisa saat ini. Tapi tubuhnya membatus aat ia mendapati ibu Ariel tengah mengobrol dengan Han Yingtai…ternyata sahabat lamanya adalah Lim Jin Ha, ibu dari mantan kekasihnya. Dan Yi Xing semakin canggung saat tanpa diduga-duga Lim Jin Ha mendekat ke arahnya.

Lim Jin Ha langsung mengenali pemuda di hadapannya ini –dan ia cukup terkejut karena Zhang Yi Xing juga ada disini, mantan kekasih putrinya, juga cinta pertama menantunya. Hidup yang benar-benar menyedihkan.

“Zhang Yi Xing, kan?” tanya Lim Jin Ha yang langsung dibalas anggukkan Yi Xing. Tak lupa, pemuda itu juga langsung membungkukkan tubuhnya untuk menghormati wanita itu.

“Kau juga menegnalnya?” Han Yingtai menyambut ucapan Jinha, merasa cukup senang karena ternyata kebanyakan dari tamu-tamunya yang diundang ternyata saling mengenal, “Dia pemuda yang sangat berbakat. Aku suka caranya memainkan piano, hampir mengingatkanku pada putramu Henry…”

“Dia hampir menjadi menantuku,” potong Lim Jinha, mengabaikan bagaimana cara sahabatnya membanggakan Yi Xing saat ini.

Yingtai langsung merasa kikuk saat Jinha dengan gamblang mengatakan status pemuda di hadapanmereka, “Ah…ah, begitu, ya? maaf, aku tidak tahu…”

Yi Xing menelan ludahnya pahit. Ia sama sekali tidak menyangka jika ibu Ariel akan mengenalnya, bahkan tahu hubungan Ariel dengannya dulu. ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa disaat seperti ini. Ia benar-benar merasa bodoh.

“Ni hao,” tiba-tiba Lisa muncul di samping Yi Xing dan melingkarkan tangannya di lengan Yi Xing, “Aku manajer Yi Xing. Ah, senang bertemu dnegan Anda lagi Nyonya Lim,” Lisa menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar, “Terakhir kita bertemu di pesta pernikahan putri Anda. Kejutan besar dapat bertemu dengan Anda di acara ini,”

Yingtai semakin terperangah saat tahu ternyata mantan kekasih putri sahabatnya ini malah datang ke acara pernikahan mantan kekasihnya.

Dan Yi Xing justru hampir menjatuhkan rahangnya saat mendengar bahasa mandarin yang lancar dari mulut Lisa. Ia yakin pasti Lisa tengah kerasukan, Yi Xing sangat tahu bagaimana buruknya bahasa Mandarin Lisa.

“Dan…Yi Xing, bukankah kita harus ke belakang sekarang? Kenapa kau tidak ikut denganku, hmm?” Lisa pun kembali menoleh ke arah Yingtai dan Jinha, “Maafkan kami, kami harus segera pergi.” Dan Lisa langsung menyeret Yi Xing untuk segera pergi dari tempat itu.

“Dia datang ke pesta pernikahan mantan kekasihnya?” tanya Yingtai masih tidak percaya.

Jinha mendesah pelan, dalam hati ia berbisik, ‘maaf telah menyakitimu, Nak.’

“Jinha…”

“Kita bicarakan itu nanti. Sekarang kita mau kemana?”

***

“Kenapa tiba-tiba ingin bertemu denganku, hmm?” Wufan membuka suaranya saat Luhan tidak juga mengatakan apapun, padahal laki-laki itu yang menelponnya pagi-pagi buta dan meminta mereka berdua untuk bertemu.

Wufan meringis ngeri saat Luhan justru tersenyum aneh padanya, “Coba tebak, apa yang terjadi padaku dengan Ariel?” tanyanya dengan nada kekanak-kanakan sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.

Wufan mengalihkan pandangannya ke arah lain, kafe ini terlalu sepi untuk mereka berdua. Untuk Wufan yang sedang bingung dan untuk Luhan yang tengah melakukan hal konyol, “Kau tidur dengannya?”

“Eiii…” Luhan memundurkan tubuhnya dan menatap Wufan kecewa, “Kenapa hanya ada itu di kepalamu, hmm? Dasar mesum!”

Wufan langsung menendang pelan kaki Luhan lewat bawah meja. Kakinya yang panjang tidak mempersulit Wufan untuk menendang kaki Luhan kapanpun ia mau, “Siapa yang kau bialng mesum? Kau sendiri yang pergi bolak-balik ke pub dan…”

“Oke oke,” Luhan menghentikan ucapan Wufan dan menegakkan bahunya, “Baiklah. Kau emmang benar, tapia da yang lebih penting daripada itu,” Luhan kembali memamerkan senyumnya yang mengerikan -di mata Wufan, “Kami berbaikan. Dia…benar-benar menerimaku sekarang.”

Wufan tersenyum kecil menanggapinya, “Aku tahu itu akan terjadi. Dan sepertinya hal yang sama juga terjadi antara aku dan Fei,”

“Kau berbaikan dengannya?” tanya Luhan antusias. Big surprise!

Dan Wufan hanya menganggukkan kepalanya pelan, “Dia kabur dari Ottawa dan kembali ke Cina untuk menemuiku. Aku tidak bisa membiarkannya kembali ke Ottawa sedangkan dia sudah susah payah menentang ibunya demi diriku,”

“wow, dia menentang ibunya? Wah, kemajuan pesat. Dia benar-benar seperti boneka jika sudah berhadapan dengan ibunya,” Luhan langsung menggigit lidahnya saat Wufan memelototinya, “Baiklah baiklah, maafkan aku. Tapi…kau harus menegur Fei.”

Wufan sedikit menaikan alisnya, “Memangnya apa yang dilakukannya?”

“Kau tahu, gara-gara dia bertemu dengan Ariel, Ariel hampir saja mendiamkanku seharian. Dan yang lebih gila dia memberikan semua foto-foto kita pada Ariel, termasuk foto kita di Las Vegas…”

Wufan hampir memuncratkan kopi di mulutnya saat mendengar kata Las Vegas. Ia langsung tahu foto yang dimaksud, karena mereka hanya sekali pernah berlibur berdua ke Las Vegas, dan…juga berfoto di sana.

“Foto itu? Aish, gadis itu benar-benar…”

“Tapi aku justru semakin merasa bersalah padanya,” Luhan mendengus pelan dan menyesap minumannya.

“Kau belum membatalkan kontrak itu?”

Luhan menggeleng pelan, “Aku harus bicara empat mata dulu dnegannya. Bagaimanapun ibuku sebenarnya tidka terlalu suka pada Ariel, belum lagi perjalanan bisnis yang dilakukannya belakangan ini belum selesai juga…”

“Cepat lakukan sesuatu, atau jelaskan semuanya pada Ariel. Kau tahu, kau benar-benar bajingan jika menyakiti Ariel setelah apa yang dilakukannya untukmu.”

Luhan mengangguk mengerti. Bukan hanya bajingan, tapi Luhan juga tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai berani ia menyakiti Ariel.

“Oh, ya. hari ini aku ada janji dengan Ariel untuk bertemu ibu mertuaku. Ah, selamat atas membaiknya hubungan kalian, semoga kau bisa melanjutkan hubungan yang lebih baik dengan gadis itu…” wufan mendesis pelan mendengar ucapan konyol Luhan.

“Kau langsung meninggalkanku seperti ini? Manis sekali Xi Luhan…”

Luhan tersenyum kecil dan langsung bangkit dari kursinya, kemudian memeluk Wufan dari belakang, “Terimakasih…untuk semuanya,”

“Aku akan selalu ada di pihakmu. Kau bisa memanggilku kapanpun kau membutuhkanku, “s dan Wufan lagi-lagi mengecup pipi Luhan.

“Wufan!”

Wufan terkekeh pelan dan ikut bangkit dari kursinya, “Wo ai ni…”

Luhan balas tersenyum, “Hmm…aku juga mencintaimu.”

Dan mereka memutuskan untuk berjalan bersama menuju pintu keluar, tanpa mempedulikan tatapan mata para pelayan yang memperhatikan mereka dengan ngeri. Dua pria tampan dan kaya justru berpacaran di kafe tempat mereka bekerja.

***

“Aku tidak menyangka dia tahu tentang hubunganmu dengan Ariel. Ah….Yi Xing! Sudah kubilang Cina bukan tempat yang bagus untukmu. Kau lihat! Dunia semakin terlihat sempit! Tidak ada Ariel, Luhan yang muncul. Keduanya tidak datang, justru ibu mereka yang muncul…” Lisa langsung menggaruk kepalanya, “Kalian membuatku benar-benar gila…”

Yi Xing langsung mengangkatt kepalanya dan menjatuhkan pandangannya ke arah Lim Jinha yang sudah berada di atas panggung. Memegang tuts piano, dan mulai memainkannya lewat jemari lentiknya yang mulai menua. Yi Xing tahu, musik yang diciptakan oleh Lim Jinha akan selalu menyatu dengan dirinya, setidaknya Yi Xing langsung tahu lewat sobekan memorinya yang diceritakan Ariel tentang ibunya.

“Baby’s Breath…” bisik Yi Xing pelan sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Apa?”

“Ini lagu favorit Ariel yang diciptakan ibunya. Judulnya Baby’s Breath. Ariel sangat lancar jika sudah memainkan lagu ini. Dan aku paling suka jika dia sudah memainkannay lewat biola…”

Lisa menggigit lidahnya. Ia sama sekali tidak tahu harus memberikan komentar apa. lisa mendadak merasa pusing, entah kenapa di dunia nyata harus ada cerita sepelik cerita milik Yi Xing.

“Nuna?” panggil Yi Xing pada Lisa.

“Apa?”

“Pegang tanganku, tahan aku. Ada Ariel disini, jangan biarkana ku berlari ke sana dan memeluknya…”

Mata Lisa langsung menyelami setiap sudut yang tersentuh retina matanya, dan benar saja, ada Ariel tengah berdiri membeku di tengah-tengah kursi penonton. Dan yang membuat Lisa terenyuh –juga sedikit bingung, karena Ariel menjatuhkan air matanya tanpa bergerak sedikit pun.

“Ariel menangis, kan? Dia pasti merasa senang karena akhirnya bisa melihat ibunya memainkan musik lagi, tepat di atas panggung. Ini salah satu impian terbesar Lim Jinha, juga menjadi impian terbesar Ariel untuk menyaksikan ibunya kembali menyatu dengan musik.”

Lisa tidak menjawab apapun. Ia hanya mengikuti permintaan Yi Xing untuk menggenggam tangannya. Dan kepalanya semakin pusing saat melihat Luhan juga ternyata ada di sana. Demi Tuhan, haruskan mereka bertiga kembali bertemu lagi dan lagi?

=TBC=

Link Married With A Gay: ( Chapter 1 – Chapter 2Chapter 3Chapter 4 Chapter 5Chapter 6Chapter 7 Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12 AChapter 12 BChapter 13 [END] Released)

2015/03/07 PM0838

21 responses to “[Series] Married With A Gay – Chapter 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s