[Eps.3] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight

rose waterfall and gold sworded knight

Jihan Kusuma

Cast : Moon Namji|Oh Sehun|Luhan

Genre : Comedy-Romance|School-life|Drama

Length : Eps

Copyright 2015 ©JihanKusuma

Eps 1|2|3

 Note : hehe maaf ya lama ga apdet. barusan keluar nem, ngurusin fragmen, terus wisuda😄 wkwkwk berharap ada yang nungguin ff ini terbit ><

Selamat membaca! ^0^


 

Karena tidak memiliki pilihan lain, Puteri Mawar lebih memilih untuk menikahi si penghuni air terjun daripada mati kehausan. Penghuni air terjun merasa bangga bisa mendapatkan Puteri Mawar dengan mudah. Seluruh hutan tahu jika penghuni air terjun memiliki perangai yang buruk. Penghuni air terjun suka membuat kerusakan dan menakut-nakuti hewan-hewan di belantara. Oleh karena itu, langit yang tidak terima mulai menggelap. Dunia meredup dengan tiba-tiba dan tanpa sebab.


Previous eps :

Sehun terduduk diantara teman-teman armynya dengan jempol kaki yang berdarah. Lelaki itu meringis menahan rasa sakit. Sehun mencabut seekor ular yang masih betah menggigit ujung jari kakinya. Diamatinya ular yang tidak terlalu panjang itu. Ular itu, Sehun merasa kenal.

‘Moon Namji’ sebuah Nama berkelebat di dalam ruang ingatannya.

‘Aish, matilah aku!’ hati Namji menjerit-jerit frustasi.


Episode 3


“Agh…”

“Jangan banyak bergerak.”

Sehun menggigit bibir bawahnya begitu cotton-bud menyentuh pinggiran kukunya yang masih berwarna kemerahan. Namji membersihkan sisa-sisa darah yang menempel disana. Lukanya tidak terlalu parah namun tetap saja rasanya sakit. Ular bodoh itu menggigit jempolan kaki Sehun begitu dalam.

“Ash… sakit.”

Namji meniup jempolan kaki lelaki itu. Sehun menatap Namji dengan alisnya yang mengkerut.

“Aku tahu kau membenciku.” ujar Sehun terdengar begitu tajam.

“Ti-tidak… sebenarnya bukan maksudku untuk-“

“Kenapa kau tidak bisa berhenti bertingkah? Atau motif utamamu memang mau menyakitiku?”

“Maafkan aku jenderal-ssi…” Namji menunduk.

“Apakah hukuman satu minggu belum cukup bagimu?” tanya Sehun dengan nada datar. Tubuh Namji merinding mendengarnya. Naga hijau dalam diri Sehun yang sempat tertidur rupanya mulai membuka mata.

Tiba-tiba Namji ingin kabur kemudian meloncat dari atas namsan karena kegagalan rencananya. Meskipun Namji amat –sangat membenci Sehun –sekali, dia tidak memiliki maksud mematahkan jempol kaki jenderalnya. Tapi juga bukan berarti dia peduli terhadap jari lelaki itu, Namji hanya tidak mau mendapatkan hukuman yang lebih berat.

“Sejujurnya aku tidak bermaksud menaruhnya di sepatumu.” lirih Namji.

“Aku yang merasakan dampak dari perbuatanmu. Sengaja atau tidak, aku tidak bisa membiarkanmu terus berkeliaran tanpa rasa bersalah.”

“Aku sudah merasa bersalah. Aku menyesal. Maafkan aku Jenderal-ssi.”

“Cepat sembuhkan lukaku.” Sehun memajukan jari kakinya ke wajah Namji. Gadis itu sempat kaget dan ingin melawan. ‘Beraninya lelaki ini.’ tetapi akan sehatnya sedang tidak sependapat dengan nafsunya. Namji mengambil perban bersama antiseptik lalu mulai membalut jempolan kaki Sehun.

‘Aku tidak akan membiarkan gadis ini begitu saja.’ pikir Sehun. Lelaki itu melipat tangan kedepan dadanya. Sehun mulai berpikir jika Namji memang membencinya dan diam diam memiliki niat untuk menghancurkannya.

“Sudah selesai.” Namji bangkit dar posisi yang tadinya duduk diatas karpet sedangkan Sehun mengangkat kaki dengan manis diatas sofa. “Ada yang bisa kubantu lagi?” tanya gadis itu.

“Bantu aku berdiri.” pinta Sehun dengan dingin. Itu tidak terdengar seperti kalimat permohonan melainkan perintah. Namji melingkarkan tangan Sehun ke lehernya lalu menopang tubuh kurus si jenderal muda.

‘Aish, kenapa berat sekali. Bukankah perut orang ini rata seperti tripleks?’ =o=

“Aku lapar.”

‘Yaak! Apakah dia pikir aku adalah ibunya?’ =o=

“Bantu aku ke kantin.”

“Apa?” suara Namji hampir membentak. Menopangnya sambil berdiri saja begitu susah dan sekarang Sehun meminta untuk dibawa ke kantin. Mengapa tidak memanggil tim UKS untuk menandu Sehun saja? =o=

“Aku bilang bawa aku ke kantin. Sekarang aku adalah sepenuhnya tanggung jawabmu. Kau yang membuatku begini.” Sehun melonggarkan dasinya yang tampak mencekik tenggorokannya.

Namji memutar bola mata. Sudah berat menjadi pelayan, dan sekarang dia harus menjadi seorang suster. Penderitaannya lengkap sudah. “Aish baik. Baiklah Jenderal.”

Kedua orang itu menyusuri lorong sekolahan dengan Namji yang tertatih-tatih menyangga berat tubuh Sehun. Di jarak setipis ini gadis itu bisa mencium aroma bau badan Sehun yang bercampur dengan cologne yang dikenakannya. Baunya tidak terlalu wangi maupun menyengat, namun cukup maskulin untuk lelaki. Tidak tercium seperti parfum ajussi-ajussi dan jujur saja Namji menyukai bau yang seperti ini.

Sehun melirik gadis yang dengan susah payah membantunya berjalan itu. Keringat yang keluar dari pori-pori dahi Namji mulai meleh turun menuju pelipisnya. Wajah Namji memerah karena lelah. Tetapi entah mengapa Sehun bahagia melihat gadis ini sengsara karenanya. Cute. Pikir lelaki itu. Aneh memang. Sehun memang tidak pernah menyukai gadis yang innocent ataupun sok polos. Dia lebih suka gadis pemberani dan pantang menyerah seperti Namji. Namun bukan berarti Sehun memiliki rasa kepada gadis itu. Sehun ingin menyiksanya bukan semata-mata karena hukuman, lelaki itu hanya ingin tahu seberapa kuat gadis ini. Gadis yang seakan-akan belum pernah menangis sekalipun ketika dia sedang dilahirkan.

“Apakah kantinnya masih jauh?” tanya Namji sambil melangkah inci demi inci dengan lututnya yang gemetaran.

“Masih jauh.” jawab Sehun. Pada awalnya dia ingin mengajak Namji beristirahat sejenak, tetapi tidak jadi karena Sehun yakin Namji tidak akan ambruk di tengah jalan bersamanya.

“Aku lelah. Jenderal berat sekali.” rintih Namji sambil mengusap pelipisnya yang basah. “Kenapa tidak menyuruh anggora UKS untuk mengambil kursi roda untukmu?”

“Itu hanya akan buang-buang waktu.” =_=

‘Lagi pula kursi roda sama sekali tidak keren.’ pikir Sehun.

“Jenderal… marilah istrahat sebentar.” =o=

“Aku sudah sangat kelaparan. Kau tidak mau aku mati lalu menghantuimu kan?” =_=

“Jangan menakut-nakutiku Jenderal.” =o=

“Kalau begitu ayo terus jalan. Kita hampir sampai.”

Beberapa anak melihati mereka. Para gadis memulai gosipan mereka dengan berbisik-bisik lirih sambil memandangi Namji. Sesungguhnya Namji sangat risih. Sejak hari pertama masuk dia selalu menjadi objek buah bibir siswi satu sekolahan. Berbeda dengan para lelaki yang suka menggodanya ketika Namji melintas didepan mereka. Lelaki disini suka bersiul untuk menarik perhatian ‘yeoja galak nan tidak kenal takut’ yang sedang booming sejak insiden di upacara pembukaan itu.

“Lihat, gadis itu… kau tahu siapa namanya?” tanya salah satu diantara ketiga gadis dengan anting warna warni.

“Setahuku dia bernama Moon… Moon, aduh Moon siapa ya?”

“Moon Namji!”

“Sst… jangan kencang-kencang. Nanti dia bisa mendengarnya.”

“Biarkan saja. Biar dia tahu jika perbuatannya sangat keliru. Gadis itu berusaha mendekati Jenderal.”

“Bukannya dia sedang dihukum?”

“Kurasa dia sangat menikmati hukumannya.”

‘Mendekati jenderal? Menikmati hukuman? Jangan konyol!’ =o= Namji mendecih sambil melirik sekumpulan penggosip itu. Sementara Sehun yang juga mendengarnya pura-pura sedang tidak terjadi apa-apa.

“Kau mendengarnya bukan?” tanya Namji.

“Iya aku sudah dengar.” jawab Sehun dengan flat, seperti biasa.

“Mereka berfikiran yang tidak-tidak.”

“Apa peduliku?”

“Yaak” =o=

“Cepat, kenapa kau seperti siput?” =_=

‘Benar. Aku memang siput yang kebesaran cangkang. Dan kau lah cangkang itu!’ =o= Namji hanya mampu menjawab dalam hati.

Sehun dan Namji menyusuri kantin tetap dengan posisi awal. Siswi-siswi yang pada awalnya mengobrol sambil berteriak-teriak seketika terbungkam begitu keduanya memasuki pintu masuk cafe. Helaan nafas terdengar dimana-mana. Beberapa, -atau bahkan- seluruh dari mereka merasa cemburu dengan si gadis yang sedang dihukum itu.

“Jenderal-ssi. Mereka melihat kita. Apakah aku harus melepaskanmu?” bisik Namji sambil menatap mata Sehun yang seperti sedang setengah terbuka. Sipit sekali.

“Biarkan saja. Mereka punya mata.”

“Kau seperti sedang memaksaku menjadi tersangka pembunuhan. Mereka semua berfikiran buruk tentang aku.” =o=

“Itu di pikiran mereka.”

“Tapi-” =o=

“Aku ingin duduk disana.” Sehun menunjuk sepasang sofa kosong yang tidak jauh. Mau tidak mau Namji harus segera mengabulkan permintaan Sehun. Dengan perlahan gadis itu menurunkan tubuh jenderalnya keatas sofa bulat.

“Ah, sampai juga. Pundakku terasa mau patah.” Namji memukul-mukul lehernya sambil mengeluh berkepanjangan. “Izinkan aku istirahat sebentar. Pesan makanannya nanti saja arra?”

“Aku sudah lapar. Pesankan aku burger jumbo dan lemontea. Karena aku baik hati. Pesan juga satu untukmu.” Sehun melemparkan kartu kredit kearah Namji, untung saja gadis itu segera menangkapnya.

Namji menghela nafasnya lalu hengkang dari hadapan Sehun. Tak lama kemudian gadis itu kembali dengan nampan berisi sepiring burger dan dua gelas besar lemontea.

“Ini pesanan jenderal.” gadis itu menaruh nampannya diatas meja. “Dan selamat makan siang.”

Namji segera membanting tubuhnya keatas sofa yang ada dihadapan Sehun. Kerah seragamnya basah dan seluruh wajahnya kemerahan. “Gerah sekali…” Namji melepas dasi kotak-kotaknya lalu mengipaskan jemarinya. Namji meraih segelas lemontea miliknya lalu meneguk minuman dingin itu. Gadis itu tidak menggunakan sedotan yang disediakan. Hanya dalam beberapa detik, gelasnya sudah kosong melompong –dengan tiga butir es batu yang tersisa didasarnya.

Sehun kaget melihat cara minum gadis didepannya itu. ‘Apakah dia benar-benar wanita?’ pikir Sehun. Lelaki dengan rambut pirang itu menenguk air liurnya yang mengental di pangkal kerongkongannya

“Bukannya Jenderal sangat lapar. Kenapa tidak segera dimakan?” tanya Namji.

“A-aku baru saja akan makan.” dengan kikuk Sehun membuka pembungkus makanan lalu mulai menggigit burger didalamnya. “Kenapa kau tidak pesan makanan juga?”

“Aku tidak lapar. Ini kartumu. Ah, aku tidak menyangka Jenderal suka membeli barang dengan kartu kredit.” Namji masih mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya. Gadis itu mengamati sekitarnya. Banyak siswa maupun siswi yang sedang makan siang bersama teman-temannya. Andai saja dia bisa seperti itu. Namji selalu ingin memiliki beberapa teman wanita yang bisa dia ajak kemana-mana sambil bergandengan tangan. Namji ingin merasakan bagaimana berkumpul bersama sesama perempuan lalu membicarakan tentang laki-laki, fashion, atau pelajaran. Pasti akan mengasyiknya. Pasalnya, Namji tidak pernah diterima berteman di kalangan perempuan. Sejak kecil dia suka bermain dan berkelahi dengan laki-laki.

“Jangan melamun. Jika kau kerasukan, aku yang akan bingung.” ujar Sehun berhasil memecahkan lamunan Namji.

Namji mengerucutkan bibir kearah jenderal. “Memangnya Jendera masih bisa mengkhawatirkanku setelah memaksaku untuk menuntunmu hingga aku kehabisan nafas?”

“Kenapa kau belum paham juga? Ini semua dikarenakan ulahmu sendiri. Kalau saja kau tidak memasukkan ular sialanmu ke sepatuku aku tidak akan jadi begini.” jawab Sehun.

‘Mengapa dia mengungkit hal ini lagi? Aku jadi teringat Mark. Ohya, kemana perginya anak itu? Kurasa aku harus menyiapkan pisau lalu memotong kelingkingnya!’ Namji sebal karena secara tidak langsung Mark lah biang dari segala masalah ini =o=

“Kemarikan ponselmu.” Sehun menodongkan tangannya.

“Apa?”

“Kau punya ponsel kan?” tanya lelaki itu.

‘Lama-lama lelaki ini seperti perampok.’ =o=

Namji meraba saku jasnya lalu memberikan sebatang smart-phone warna silver keatas jemari besar Sehun. Lelaki itu mengutak-atik ponsel Namji. Dibukanya salah satu aplikasi lalu memasukkan pin-nya kesana. Terdengar suara ringtone khas dari ponsel Sehun yang masih didalam sakunya.

“Apa yang Jenderal lakukan?” tanya Namji penasaran.

“Aku sedang menukar pin kita. Aku harus memantaumu setiap waktu. Aku akan menghibungimu jika aku perlu sesuatu. Ingat, kau masih dalam masa orientasi yang panjang.”

“Jadi kau menjadikanku pembantu begitu?” suara Namji terdengar seperti dinamit yang meledak.

“Kurang lebih seperti itu. Untuk menebus kesalahanmu. Sudahlah, kau menurut saja. Aku akan menghubungimu.”

“Yaa, mana bisa begitu?” tangan Namji gatal sekali ingin melemparkan gelas lemonteanya ke jidat Sehun. Kenapa lelaki itu tidak bisa berhenti bersikap menyebalkan. Namji sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Apakah Sehun ingin Namji bersujud didepan kakinya untuk yang kedua kalinya? =o=

“Jika kau membantah, aku akan memperpanjang masa orientasinya hingga satu tahun!” =_=

“Jenderal-ssi…”

“Aku sudah kenyang. Sekarang antar aku ke parkiran. Aku mau pulang.”

Ini adalah hari kedua Namji sebagai suster pribadi Sehun. Yap, sama seperti kemarin. Namji datang lebih awal untuk membersihkan ruang sang jenderal lalu memesankan susu untuk Sehun. Bermaksud refreshing, gadis itu memutuskan untuk berkeliling sambil mendengarkan musik melalui earphonenya.

Pagi ini tidak secerah kemarin. Awan keabu-abuan menggumpal diatas sana, menghalangi sang mentari yang berusaha menyiramkan seberkas sinarnya keatas bumi. ‘Mungkin nanti akan turun hujan.’ pikir Namji. Gadis itu sudah menyadarinya sejak akan berangkat tadi. Jadi, apa salahnya membawa payung lipat di saku tasnya?

“Namji-ya!” panggil sebuah suara.

Merasa terpanggil, gadis itu mencabut salah satu earphone di telinganya. Usai melihati sekitar, tidak ada seorangpun disana. ‘Kurasa aku mulai berhalusinasi…’ Namji menggelen-gelengkan kepala kemudian kembali memasang earphone.

“Da!”

Gadis itu meloncat seketika. Seseorang menepuk punggungnya –sengaja mengejutkan Namji. “Selamat pagi Namji!” sapa Mark sambil mempamerkan senyuman dengan giginya yang berkilauan.

“Haish! Apakah kau sedang berusaha membunuhku?” gadis itu memegangi dadanya yang masih berdebaran. Mark malah cengengesan. Lelaki itu menganakan topi dengan cara dibalik. Jas sekolahnya pun tidak dikancingkan. Apakah si culun itu sedang mencoba menjadi manly secara tiba-tiba? Setan apa yang sudah merasukinya?

“Apakah aku sudah terlihat keren? Bagaimana dandananku? Tampak seperti berandalan tidak?”

“Setidaknya kau bisa menunda dulu rencanamu untuk menjadi berandalan. Ini masih masa orientasi!” Namji kembali memasangkan earphone ke telinganya. “Sudah, aku mau pergi. Jika kau mau mengangguku, jangan sekarang. Aku sedang butuh penyegaran!” gadis itu mempercepat langkahnya demi menghindari Mark.

“Yaa! Namji-ya! Mengapa kau terus menerus menghindariku?” Mark mengejar gadis dengan rambut yang diikat kuda itu.

“Kenapa?! Jadi kau masih tanya KENAPA aku begini?! Apakah ingatanmu menghilang begitu saja? Banyak yang sudah kau lakukan hingga membuatku hancur! Kau biang dari segala penderitaanku disini. Ingat ya, aku tidak pernah bermain-main pada namja! Kau masih untung tidak kucekik hidup-hidup sejak hari pertama orientasi!” sembur Namji sambil menusukkan telunjuknya kedepan hidung mungil Mark.

“A-aku? Biang?”

“YA!”

“Kukira kau sudah memaafkanku?” Mark bingung dibuatnya.

“Andai kau tahu cerita asli insiden ular itu! Kau pasti sudah memeluk kaki-kakiku!”

Tiba-tiba terdengar bunyi khas tanda ada notifikasi dari ponsel Namji. Gadis itu meraba ponselnya lalu membaca serentet pesan singkat di-screen smart-phonenya.

From : Monster Kapur

‘Aku sudah di parkiran. Cha! Kemari!’

Namji menghela nafasnya. Dia hampir lupa jika Sehun sedang tidak bisa berjalan dengan normal. ‘Kenapa dia tidak membawa tongkat atau membeli kursi roda saja? Setidaknya itu lebih bergaya daripada harus jalan terpincang-pincang.’ pikir Namji.

Namji berlari menuju parkiran sembari mencabut kabel earphonenya. Mark terbengong-bengong melihat gadis yang seperti sedang dikejar tsunami itu.

“Kau mau kemana Namji?! Namji-ya!”

Malang sekali nasibnya.

Sehun memandangi arloji di pergelangan tangan kanannya. ‘Kemana gadis itu? Lama sekali.’ batinnya sambil memalingkan muka. Tetapi tiba-tiba terdengar ketukan dari kaca mobilnya. Seorang gadis berdiri disana. Gadis itu berpakaian sangat rapi dengan rambut yang seluruhnya diikat kebelakang –tanpa menyisakan poni sehelaipun. Sehun membuka pintu mobil dan langsung disambut oleh suara nafas Namji yang terengah-engah.

‘Apakah dia baru saja mengejar setan?’ pikir Sehun dengan raut flatnya.

Oh keren. Sehun saja berfikiran jika setan-setan ketakutan karena Namji. Bukan sebaliknya.

“Kau lamban sekali.”

Untuk saat ini Namji sangat ingin memungut bola basket yang tergeletak dilapangan lalu melemparkannya ke hidung Sehun. Dia sudah tergesa-gesa menuruni tangga sampai-sampai nyaris tergelincir. Dan setelah sampai, dengan gaya sok-jenderalnya Sehun mengatainya lamban. ‘Jika aku sedang tidak dalam masa ospek, pasti gigimu itu sudah berjatuhan karena kutinju!’ rutuk Namji dalam hati. =o=

“Maafkan aku Jenderal-ssi.” Namji membungkuk empat puluh lima derajad.

Sehun yang tidak peduli langsung menyodorkan jas armynya kearah Namji. “Bantu aku berjalan.” pinta Sehun.

Namji menyampirkan jas berwarna biru donker itu ke bahunya lalu melingkarkan lengan sang jenderal ke pundaknya yang terlalu kecil untuk menopang tubuh sebesar troll itu. Jadi jangan heran jika Namji berjalan terhuyung-huyung.

“Ke-kenapa Jenderal tidak membawa tongkat saja?” tanya Namji sambil membanting pintu mobil Sehun lalu mulai menyeret monster itu menyusuri lapangan parkir.

“Itu sangat tidak elit.” jawab Sehun.

“Bagaimana dengan kursi roda?” tanya Namji lagi, berharap gagasannya diterima sehingga dia tidak perlu mengoleskan minyak cabai kelututnya begitu akan tidur =o=

“Aku akan tampak seperti manula yang tinggal di panti jompo.” untuk kali ini Sehun menjawab dengan nada lebih tinggi.

“Aish, dasar…” gumam Namji.

“Apa kau bilang?” =_=

“Tidak. Aku tidak bilang apa-apa hehe… Ayo jalan lagi!” =o=

Selang beberapa menit pada akhirnya kedua orang itu sampai juga di ruang jenderal. Dengan hati-hati Namji menurunkan punggung Sehun keatas singgasananya. Sehun meraih secangkir susu yang sudah tersedia di sudut mejanya yang penuh buku-buku tebal.

“Kau belajar semakin baik rupanya.” komentar Sehun. Bahkan pujian itu tidak terdengar seperti ‘pujian’ =o=

‘Belajar menjadi pembantu begitu? Apakah aku akan naik kelas jika mencucikan kaos kakimu? Apakah aku akan menerima ijasah jika mengganti popokmu?’ =o= Namji berharap bisa melayangkan ujung kakinya ke pipi kanan Sehun yang merona.

“Oh ya, berikan jasku.” Sehun menodongkan tangan kirinya. Dengan malas Namji memberikan jas Sehun yang dihiasi dengan badge jenderal berwarna keemasan. Sesaat Namji berharap bisa menjadi jenderal juga kelak. Dia ingin merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang ‘majikan’.

Ponsel Sehun berbunyi. Lelaki itu langsung membaca pesan dari Jongin. “Ada data siswa yang harus diambil di ruang army. Aku tidak mau merepotkanmu karena harus menuntunku berjalan menaiki tangga, jadi bisakah kau ambilkan berkas-berkas itu?” tanya Sehun tanpa menatap Namji pandangannya terfokus pada cangkir susu yang perlahan mendekati bibirnya.

“Aye-ye jenderal. Akan kuambilkan.”

Dengan berat hati Namji melaksanakan perintah sang jenderal muda.

Sehun tersenyum puas begitu gadis itu menghilang dari ruang jenderal. Lelaki itu menyandarkan tengkuknya kesandaran meja sambil mengangkat kakinya yang sesungguhnya tidak lagi terasa sakit. Dia sudah bisa berlarian dan menendang bola kemarin. Bahkan Sehun melakukan rutinitasnya skipping dengan biasa tadi pagi. Dia senang dan menikmati ekpsresi kesal Namji. Entah mengapa Sehun bangga melihat penderitaan objek bulan-bulanannya itu. Baginya itu begitu menggemaskan.

‘Mungkin berpura-pura sakit selama beberapa hari kedepan bisa menyembuhkan stress.’ senyum nakal terpajang dengan anggunnya dibibir jenderal yang diam-diam berhati evil itu.

TO be CONT

Han gapunya banyak waktu buat cing cong. Yang pasti maaf kalo nemu typo hehe. Yg udah baca tapi engga komen Han sumpahin bokongnya menghitam/?😄 wkwkwk

Selamat berkomentar!

12 responses to “[Eps.3] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight

  1. Pingback: [Chapter 4] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s