[One Shot] Tanpa Alasan

wpid-tanpa-alasanFF ini ditulis oleh bekey, bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat Daftar isi FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

[Ficlet] Tanpa Alasan

.

.

.

bekey proudly present

with Jinwoo WINNER and You

in 818 words of slight!sad and fluff

inspired by this

.

.

.

“Sayang, aku membelikan ini untukmu.”

 

Dengan sweater coklat dan celana chino sewarna yang terkesan santai, Jinwoo menyodorkan kepadaku seikat bunga beraroma madu.

 

Almond latteku berhenti mengaliri kerongkongan– kuangkat cangkir bermotif garis-garis tersebut dari bibirku. Mata foxy ini tertuju pada sosok lelaki di seberang meja sana. Bukannya menerima bunga tersebut, tetiba bibirku malah mengeluarkan pertanyaan tidak jelas.

“…mengapa kau memberikan ini untukku… mengapa kau menyukaiku?”

 

Jinwoo mendongakkan kepalanya, bingung saat menerima pertanyaan tersebut.

 

“Mengapa kau mencintaiku? Mengapa tidak memilih wanita lain saja? Mengapa–“

 

Sebelum aku bertanya lebih, Jinwoo menyumpal mulutku dengan sebuah macaroon coklat– membuatku tersedak dan menenggak almond latteku tergesa. Ia terkekeh sambil berkata, “Aku tidak tahu-menahu tentang alasan apa  yang membuatku menyukaimu. Yang pasti aku sangat cinta, sangat sayang padamu.”

 

Bibirku melengkung ke bawah, tanda tidak suka atas jawabannya. “You’re little brat, Kim Jinwoo. Jahat. Bahkan kau tidak tahu alasanmu menyukaiku. Jika ada yang lebih sempurna dariku di luar sana, pasti kau meninggalkanku.”

 

Yaa!!” Jinwoo memekik seperti tikus yang terjepi

t.

“Katakan satu alasan… satu alasan saja!” selaku dengan nada paksaan.

 

Lelaki yang mempunyai surai sewarna kayu manis itu menghela napas. Aku tersenyum puas saat ia membuka dua belah bibirnya untuk angkat bicara.

 

“Kau cantik dan sempurna. Suaramu sangat merdu, rambutmu indah, kulitmu sangat halus. Cukupkah alasan itu?”

 

Saat itu aku tidak sadar akan kenyataan pahit yang menanti.

 

Kenyataan yang akan mengacaukan semua alasannya.

 

==

 

Sudah kuduga, hari seperti ini dating juga.

 

Aku hanya bisa terduduk diatas ranjang rumah sakit, memandang ke luar jendela, minum obat, mengumpulkan rambut rontok, dan melamun.

 

Ia– lelaki dengan surai sewarna kayu manis, Kim Jinwoo, menghilang begitu kanker darah ini kembali mengganas.

 

Dulu, Jinwoo menyukai suara merduku. Tetapi sekarang suaraku menghilang karena tenggorokan ini banyak menelan obat.

 

Dulu, Jinwoo menyukai rambut indahku. Tetapi sekarang rambutku menipis dan kusut karena efek samping kemoterapi.

 

Dulu, Jinwoo menyukai kulit halusku. Tetapi sekarang kulitku mengering karena tidak ada waktu untuk merawatnya.

 

Jinwoo sudah tidak menyukai diriku yang seperti ini.

 

==

 

“Sayang…”

 

Pintu berderit begitu seseorang memasuki ruang inap dimana aku berada. Wanita berusia pertengahan kepala empat, namun tetap cantik– bahkan melebihiku. Bibirnya mengulum senyum saat aku menggumamkan namanya.

 

“Ibu…” aku melirih serak, “ada apa?”

 

“Sayang,” Ibu meletakkan sebuah tas kertas berwarna kopi di pangkuanku, “temanmu menitipkan ini pada Ibu, katanya untukmu.”

 

Aku mengernyit, aroma madu dan coklat menguar dari barang tersebut. Aku menengadahkan wajah untuk bertanya– siapa gerangan pengirim benda ini? Namun Ibu segera beranjak pergi begitu aku hendak bertanya, beliau bilang tidak ingin mengganggu karena bungkusan itu spesial.

 

Barang pertama yang kukeluarkan adalah seikat bunga. Bunga berwarna putih dengan aroma madu. Aku pernah menerima bunga seperti ini saat kencanku dengan Jinwoo. Bunga ini favoritku.

 

Barang kedua berupa sekotak macaroon coklat, dan tak lupa segelas almond latte hangat dari Hollys. Camilan juga ini favoritku, mengingatkanku kepada Jinwoo.

 

Di dasar tas, terdapat secarik kertas dengan warna kalem kesukaanku. Kutarik benda tipis berwarna krem tersebut, kemudian kubuka lipatannya dan mulai kubaca deret demi deret perkataan tertulis disana.

 

Sayangku,

Aku tahu suaramu tak semerdu dulu.

Rambutmu tak seindah dulu.

Kulitmu tak sehalus dulu.

Maka pertanyaannya, bagaimana bisa aku mencintaimu?

Jika benar cinta membutuhkan alasan,

Aku benar-benar tidak mencintaimu dengan keadaan seperti itu.

Tapi, sayang…

Cintaku bukan cinta palsu.

Cintaku kepadamu tulus.

Aku mencintai dirimu apa adanya.

Bukan karena suaramu, rambutmu, atau kulitmu.

Aku mencintaimu tanpa sebuah alasan.

Sekalipun ubanmu tumbuh, suaramu menghilang, dan kulitmu mulai menua, aku selalu mencintaimu.

Sayangku,

Menikahlah denganku…

 

Ah.

 

……ada apa ini?

 

Penglihatanku mengabur, butiran bening berjatuhan dari mataku, turun ke pipi dan dagu, kemudian jatuh di atas selimut. Tanpa kusadar pipiku terbasahi airmata. Batinku menjerit-jerit, jika Jinwoo mencintaiku tanpa suatu alasan, mengapa ia tidak kembali?!

 

“…kau sudah paham semuanya?”

 

Aku mengangkat wajah dari lenganku, kemudian menoleh secara otomatis menghadap sumber suara tadi.

 

Sosok lelaki yang menghantuiku dengan kerinduan yang membuncah di ulu hati ini kembali. Sosok lelaki dengan hidung semancung es serut yang tinggi di musim panas, badan sekurus cheese stick, postur setinggi gelas smoothies di pantai, pun tak lupa dengan surai yang sewarna dengan kayu manisnya.

 

“J-Jinwoo…” aku tidak percaya ini.

 

Ujung bibirnya terangkat membuat sebuah senyum yang kurindukan beberapa bulan ini. Kaki bak sumpitnya melangkah dan berlutut di samping ranjangku. Tangannya menggenggam sebuah cincin bertahtakan ruby putih. Tangisanku makin menjadi saat ia menyematkan benda tersebut pada jari manisku, pun tak lupa untuk mendekapku.

 

“Sayang… kau mau kan, menikah denganku?”

 

Aku makin mengeratkan pelukan, aku merasakan ia tersenyum di bahuku. Kemudian kuberi ciuman di kening sebagai jawaban ya.

 

.

.

.

.

Cinta tak membutuhkan sebuah alasan, ia datang tanpa diduga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kau tak tahu seberapa besar ia membuat hidupmu bahagia.

.

.

.

.

End.

 

Entahlah…… mungkin jinu sedang memenuhi pikiranku akhir akhir ini…. maafkan aku sehun karena telah berselingkuh denganmu :”

 

BTW RCL RCL NYA DONG HAHA DITUNGGU! <3

 

3 responses to “[One Shot] Tanpa Alasan

  1. Kupikir jinwoonya bener2 ngilang.
    Wkwkwk kece noh kalimat yang percayalah kekuatan cinta, karna kau tidak tahu seberapa besar ia membuat hidupmu bahagia.

    Love daaah. Semangat thor. Aku mendukungmu

  2. Memang benar cinta tak memerlukan sebuah alasan
    kalau memang cinta apapun kondisi orang yang dicintai pasti dapat diterima dengan lapang dada
    Kalimat terakhirnya sangat menyentuh thor. cinta tak membutuhkan sebuah alasan. keren banget thor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s