[One Shot] Teori & Dongeng

FF ini ditulis oleh bekey, bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat Daftar isi FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

wpid-teori-dan-dongeng

Teori & Dongeng

 

.

.

.

presented by bekey.

in 5.969 words of yaoi, school-life, sad?, family

with Sehun & Luhan

adapted from a novel titled ‘happiness theory’ by arbie sheena
thankyou lightseeker [at] Cafe Poster

.

.

.

 

Dahulu, beberapa abad sebelum terciptanya Masehi, terkenal seorang cerdas bernama Socrates. Ia adalah filosof asal Yunani sekaligus guru yang memiliki banyak murid. Sejarah mencatat bahwa ia menggunakan metode bertanya dalam mengajar. Metode ini kemudian dikenal sebagai ‘Metode Socrates’.

 

Sebenarnya apa yang ditanyakan sederhana saja. Ia bertanya tentang hal umum yang terjadi di masyarakat. Biasanya dengan cara mondar-mandir yang terkadang diikuti oleh murid-muridnya, ia bertanya sesuatu. ‘Apa itu kesedihan?’, ‘Apa itu kebaikan?’, atau ‘Apa itu rasa cinta?’.

 

Berawal dari situ, aku tertarik untuk menjadi Socrates.

Aku ingin mengetahui, apa itu teori kebahagiaan?

 

Kebahagiaan tentunya berbeda arti bagi setiap orang. Bisa berarti; memenangkan lotere, berkumpul dengan orang tersayang, hidup damai dengan keluarga, atau mendapatkan kekasih yang diidamkan. Dan masih banyak arti tak terhitung lainnya.

 

Aku bertanya pada angin, tapi ia berlalu begitu saja selepas menghempaskan rambutku. Aku mencoba untuk bertanya pada hujan, namun ia hanya bergemuruh dan tetap membasahiku dengan setiap tetesnya. Lantas, apa teori kebahagiaan itu sendiri bagimu?

 

“Sehun… Ibu sudah memasakkan daging yang banyak untukmu,” Ibu membawa baki ke halaman belakang, menghampiriku yang sedang memandangi tanah.

 

Aku menampiknya, “tidak mau!”

 

“Kau harus makan agar sehat.”

 

“Kenapa Ibu dan Ayah selalu bertengkar?!”

 

Ibu bungkam sejenak. “Karena… kami saling mencintai,” beliau menjawabnya sambil tersenyum bak malaikat.

 

“Mana ada orang yang saling mencintai tapi saling menyakiti.”

 

“Itulah cara orang dewasa saling memahami. Nantinya Sehun juga tau jika sudah besar.”

 

“Ibu, apakah keluarga kita sudah dikutuk?” aku masih berumur tujuh tahun ketika itu dan tidak mengerti mengapa aku menanyakan hal semacam itu yang membuat Ibu bergeming.

 

Pagi ini, hujan di Seoul menipis. Ini terjadi setiap hari di kediaman keluarga Oh− keluargaku. Kala keributan ditimbulkan oleh orangtuaku sendiri di ruang tengah yang berada di lantai dasar. Dari kamarku di lantai dua terdengar pembahasan berulang tanpa jalan akhir. Ibu seringkali kalap dan memecahkan apapun yang ada di hadapannya. Kalau sudah begitu, Ayah akan tersadar dan berangkat kerja dengan wajah kusut.

 

Kemeja putih, dasi merah bergaris, rompi rajut, dan celana panjang. Mencoba kucocokkan di depan cermin. Setelah memasukkan beberapa barang yang harus kubawa ke dalam tas, aku siap berangkat menuju sekolah. Ketua pelayan memasuki kamarku saat aku beranjak keluar.

 

“Tuan muda, sarapan anda sudah siap.”

 

“Aku tidak lapar,” gumamku dingin.

 

“Ini atas perintah Nyonya besar.”

 

“Kenapa bukan dia yang mengantar??” aku mulai gusar, entah kenapa.

 

“Nyonya besar sedang sibuk, Tuan.”

 

“Bilang padanya, karenanya aku telat. Aku pergi.”

 

Aku mengeratkan pegangan pada tali tasku. Kakiku melangkah keluar kamar tanpa peduli. Aku lelah untuk peduli.

 

==

 

Bukan kebiasaanku datang terlambat. Ini karena ban sepedaku meledak di tengah jalan. Akhirnya aku mendapat pukulan penggaris di betis khas Yoon Sonsaengnim ketika melintasi gerbang.

 

“Meski kau anak konglomerat, kau tak bisa bertindak seenaknya. Kalau kau punya banyak uang, seharusnya kau sekolah di luar negeri!”

 

“Aku cinta Korea, Sonsaengnim!” sahutku.

 

“Pintar sekali kau menjawab,” prak! Satu lagi pukulan di betis. “Sana! Kumpul dengan temanmu!”

 

Yang terlambat membentuk dua baris di tengah lapangan yang basah nan dingin. Yoon Sonsaengnim menatap sadis kearah kami sambil sesekali memukulkan balok kayu jumbonya ke pundaknya. Kupikir tidak masalah, asalkan beramai-ramai.

 

“Kalian bisa buat sekolah sendiri jika ingin terlambat terus!” pekik guru yang jumlah keriputnya sama dengan jumlah uban di rambutnya itu. “Wajah-wajah seperti kalian ini hanya akan menjadi karyawan rendah di perusahaan besar! Pencuci piring di restoran! Tukang pembersih toilet di mal-mal!”

 

Kurapatkan genggaman tanganku pada tali tas atas ketidak-nyamanan atmosfer. Namun seorang lelaki mungil menoleh kepadaku, menunjukkan senyum manis bak penghangatnya seakan hal itu adalah obat penenang. Aku tersenyum tipis untuk membalas sapaannya.

 

Pembagian tugas hukuman dimulai. Seperti berjodoh. Aku, lelaki mungil tadi, dan seorang lelaki tambun bernama Minseok, menganga lebar di ambang pintu tempat untuk kami bersihkan. Aku tidak tau ada ruangan seperti ini di sekolahku. Ruangan ini lebih mirip disebut sarang hantu daripada perpustakaan.

 

“Tadi… sonsaengnim bilang ruangan ini, kan?” Minseok bertanya dengan wajah malas.

 

“Sepertinya,” sahutku.

 

“Ini karena adikku, aku jadi terlambat,” keluh Minseok.

 

“Kalian ini! Sudah kerjakan saja!” seruan lelaki mungil tersebut membuat roh semangat kami bangkit.

 

“Siap!” teriakku dan Minseok.

 

Baru kali ini aku merasa senang karena terlambat.

 

Tak berlama-lama, kami segera membersihkan dengan sebagian wajah yang tertutupi masker. Kusingkirkan kardus-kardus berdebu. Minseok tidak tau harus mulai dari mana saking malasnya. Sedangkan si lelaki mungil sibuk menjerit karena beberapa tikus menginjaki kakinya tanpa sengaja.

 

Barang-barang yang tak berguna selesai kukumpulkan di sebuah plastik besar. Aku dan Minseok memojokkan dua buah rak ke dinding, begitupun dengan beberapa meja dan kursi kayu yang termakan umur. Sekarang, tempat ini terlihat baru. Di sisi lain, lelaki mungil itu masih sibuk memperhatikan satu persatu buku tebal sambil menyusunnya di rak. Aku menghampirinya untuk sekedar membantu.

 

“Ini kelihatan seperti buku lama,” gumamnya.

 

“Memang,” ucapku membenarkan sambil membereskan buku yang berserakan di lantai.

 

“Untuk apa mereka membaca buku lama?”

 

“Semakin lama usia sebuah buku, semakin mahal kata-kata yang tersimpan di dalamnya.”

 

“Benarkah? Aku bukan tipe orang yang suka membaca buku,” terlihat jelas ketika ia memandang sinis pada buku-buku tersebut.

 

“Percuma saja. Walau dapat memahami seluruh isi buku. Walau dapat memecahkan suatu masalah tersulit. Walau menjadi yang paling pintar dalam suatu hal. Tapi jika tidak dapat memahami perasaan orang lain, bukankah manusia hanya akan menjadi binatang yang menyedihkan?” tuturku.

 

Lelaki mungil itu tersenyum begitu polosnya. Mataku berproses melamban saat menatap senyum itu, seolah senyumnya ingin kusimpan dalam suatu tempat dan kembali kulihat jika aku merasa penat.

 

BRAK!!

 

Sebuah suara yang asing mengejutkan kami. Kami segera menoleh pada sumber suara dan mendapati Minseok terkapar karena menginjak lantai yang masih terbasahi oleh bekas pel barusan.

 

“Aduh! Rasanya seperti ingin melahirkan…” keluh Minseok. Perlahan membangunkan dirinya sendiri.

 

“Tapi lantainya baik-baik saja, kan?” ledek si lelaki mungil.

 

“Kejam sekali.”

 

Mereka saling meledek sementara aku hanya tertawa melihat tingkah laku mereka.

 

“Apa yang kalian lakukan disini?” Yoon Sonsaengnim datang menegur sekaligus menghentikan kesenangan kami.

 

“Kami sudah selesai!” seru lelaki mungil itu semangat.

 

“Kenapa membersihkan ruangan ini? Maksudku perpustakaan yang ada di lantai satu. Ruangan ini akan dijadikan gudang besok.”

 

“APA?!”

 

==

 

Melakukan shooting panjang solo secara berulang ke dalam ring lapangan indoor, ditemani sorotan lampu tunggal membuat keringatku mencapai klimaks. Aku pun mengambil minuman di dalam ransel yang kuletakkan di pinggir lapangan lalu meminumnya. Tanpa kusadari, lelaki mungil itu duduk mematung di kursi penontom. Sempat kukira dia itu hantu.

 

“S-sejak kapan kau disana?” tanyaku sedikit kaget.

 

“Kau bisa masuk NBA, permainanmu bagus sekali!” ia tak menjawab pertanyaan yang kulontarkan.

 

“Untuk masuk NBA tidak hanya sekedar bagus sekali, namun luar biasa,” aku terkekeh sejenak. “Kau belum pulang?”

 

“Aku ikut kelas tambahan. Membosankan, jadi aku kemari saja,” lelaki mungil itu menuruni satu persatu anak tangga agar lebih dekat denganku. Aku tak berhenti tersenyum sewaktu ia menekuk wajahnya. Dari situ aku percaya, ia salah satu siswa yang tidak menyukai pelajaran.

 

Aku menutup botol minuman dan teringat sesuatu. “Ah, aku baru sadar. Sejak tadi pagi kita belum berkenalan.”

 

“Tanpa berkenalan, aku tau siapa kau. Kau kan terkenal. Lagipula kita sekelas.”

 

Aku tertawa. “Tapi selama kita sekelas, kita sama sekali belum pernah mengobrol, kan?”

 

Ia semakin menekuk wajahnya tapi tidak menutupi kesan manisnya. “Kau Sehun. Panggilan yang keren. Namaku Luhan.”

 

“Nama yang unik. Terdengar sedikit asing di telingaku. Seperti bukan nama orang Korea pada umumnya. Hei, apa kau suka kemari, kan? Mau menemaniku tidak saat aku latihan?”

 

“…kalau kau mau mengajariku beberapa mata pelajaran,” ia boleh juga dalam memanfaatkan seseorang. Aku tidak sempat berganti pakaian karena ia menarikku begitu kuat,

 

==

 

Dan akhirnya, kami duduk berseberangan di perpustakaan. Tumpukan buku tebal menenggelamkan kepalanya seolah ingin mengatakan, ‘siapapun yang membacanya akan terkena sumpah mengalami depresi akut’. Baru beberapa halaman dibacanya, ia sudah menunjukkan tanda-tanda itu. Sementara aku kembali duduk di seberangnya sambil membawa buku dongeng Cinderella yang kovernya menarik penglihatanku.

 

“Bosan,” ia mengeluh. Maafkan aku yang sudah merekomendasikan buku tebal sebanyak itu.

 

“Itu seru! Aku sudah membaca habis semuanya. Lanjutkan saja, Luhan!”

 

Luhan mendesah panjang, ini belum seberapa bila ia memang niat menjadi juara umum. Kualihkan perhatian ke halaman pertama buku dongeng Cinderella dan tanpa sadar mengeluarkan sebuah pertanyaan aneh. “Apakah jadi Cinderella itu enak?”

 

Lelaki mungil dihadapanku menoleh sejenak, lalu kembali ke bukunya.

 

“Setidaknya, Cinderella sudah menemukan kebahagiaannya,” aku menjawab getir pertanyaanku sendiri.

 

“Cinderella itu idiot dan memprihatinkan,” Luhan menutup bukunya. Nanar mata itu mengambang ke masa lalu yang jauh. Tak kusangka ia bisa murung juga.

 

“Kenapa kau tidak menyukainya?”

 

“Karena… dia telah mencontek kehidupanku,” jawab Luhan polos.

 

Aku tertawa sedikit. Tidak kuduga jawabannya seperti itu. “Cinderella dibuat sebelum kau lahir.”

 

“Berarti aku yang mencontek kehidupan Cinderella?” yang lebih lucunya, ia tampak tak percaya.

 

Sementara aku masih dilingkupi rasa penasaran. “Kenapa kau membencinya?”

 

Namun, ia malah terdiam diantara tumpukan buku yang ikut menunggu jawabannya. “………eomma-ku. Dia telah tiada.”

 

Aku tertegun. Tak kusangka, ia sungguh ceria untuk seukuran anak yang ditinggal eomma-nya berpulang. Aku tidak seperti dirinya, orangtuaku masih lengkap dan aku hidup seolah-olah tak ada celah untuk datangnya sebuah keceriaan. Padahal, masalahnya hanya tinggal menyatukan hati Ayah dan Ibu.

 

“I-itu takdir…” ujarku pelan.

 

“Takdir yang sama sekali tak kuharapkan.” ia tersenyum. Terlihat pedih. “Setelah eomma meninggal, aku membuang semua benda yang ada kaitannya dengan Cinderella. Aku tidak ingin suatu hari appa pulang membawa istri baru dan dua orang anak yang akan menyikasku.”

 

==

 

“Aku pulang.”

 

“Selamat datang, Tuan muda.”

 

Hanya ada pelayan berjejer di lobi memberikan salam. Walaupun ribuan kali kubayangkan bisa disapa oleh orangtuaku. Tapi sepertinya, Tuhan menahan itu agar tidak terwujud.

 

Sore ini, bisa jadi hari terdamaiku. Tidak ada keributan yang terdengar. Atau mungkin mereka sudah kelelahan untuk saling memaki. Ketika aku melintasi ruang makan, kulihat Ibu sedang mencabut pecahan beling yang tertancap di telapak kakinya. Ia harusnya panggil dokter, tapi terlalu malu mengakui penyebab lukanya. Sesekali ia menjerit, pecahan beling itu dipaksakan keluar menggunakan pinset.

 

Aku bisa tega dengan penderitaannya. Hatiku terkunci.

 

Ibu berhenti dengan kegiatannya sewaktu menyadari keberadaanku. Ia mendongak, rambut panjangnya tergerai kusut. Matanya terlihat memerah. “Aku sudah tak tahan lagi!” jeritnya gemetar.

 

“Kenapa tidak mengalah?”

 

“Anak kecil tau apa? Dulu ayahmu tidak pernah main tangan padaku. Sekarang setiap kali proyeknya gagal, ia melampiaskannya padaku. Smapai mati pun aku tak akan memaafkannya!!” Ibu menunduk untuk kembali mencabut pecahan beling yang hampir keluar dari telapak kakinya. “Setelah kami berpisah, kau ikut denganku.”

 

Dari miliaran kata, aku hanya bisa mengatakan, “entahlah,” dan pergi meninggalkannya.

 

Aku sempat berpikir agar hidupku seperti Cinderella. Mungkin. Setidaknya aku punya Ibu tiri yang bisa kulawan karena aku tidak boleh melawan Ibu kandungku.

 

==

 

Biarkan aku menikmati terjangan angin malam saat bersepeda. Tanpa pikiran kusut. Tanpa pengawasan ketat pengawal. Ada insting yang kuat untuk berhenti di depan sebuah kedai es di seberang jalan. Malam hari makan es bukanlah ide bagus. Tapi aku selalu mengikuti instingku dan masuk ke dalam kedai setelah memakirkan sepeda. Dan aku semakin percaya naluriku, ketika menemukan Luhan kebingungan di depan kasir.

 

“Ya ampun, uangku kurang. Bisa aku ambil ini dulu? Lalu kembali kesini.”

 

“Tidak bisa.”

 

“Bagaimana ini?” Luhan tampak gelisah.

 

Akupun hadir disampingnya dan menjatuhkan sejumlah uang di sebelah sepatunya tanpa ia sadari. “Itu uangmu?” aku menunjuk ke bawah.

 

Luhan menunduk dan mengambilnya. “Aku tidak merasa memilikinya. Mungkin ini uang Anda− Sehun!!” setelah menyadari bahwa ia mengobrol denganku, ia tertawa.

 

“Bayar saja dengan itu.”

 

“Tidak… tidak bisa. Ini bukan uangku.”

 

“Oh, ayolah. Itu uangku dan aku menjatuhkannya. Ambil saja daripada kau dikurung untuk mencuci piring disini.”

 

Ia tersenyum manis sekali. Matanya berbentuk sabit kala itu. “Aku pinjam, ya, Sehun?”

 

==

 

Meninggalkan sepeda di parkiran kedai es, aku mengantarnya ke tempat appa Luhan bekerja atas pintanya yang tak bisa kutolak. Entah mengapa aku tidak merasa pegal jika bersamanya.

 

“Apa pekerjaan appa-mu?”

 

“Tukang servis barang elektronik. Dulu appa seorang pengusaha tofu tapi bangkrut karena kalah persaingan. Itu terjadi saat eomma telah tiada.” ia menjelaskan dengan ringkas.

 

Dalam ukuran yang berbeda, hidup kami sebanding. Meski kehilangan seseorang, senyumnya tak pudar. Itu yang perlu kucontoh.

 

Setelah mengecap es krim yang ia beli tadi, Luhan bertanya hal yang tak kuduga. “Apa kau punya masalah?”

 

Hal itu membuatku gugup. “T-tidak ada.”

 

“Jangan bohong. Aku pernah memperhatikanmu sewaktu kau di belakang sekolah, membaca buku tanpa pegal. Kau pergi begitu saja setelah latihan basket. Kau bahkan tak tertawa saat mendengar lelucon temanmu.”

 

“Kau memperhatikanku?” tanyaku senang sekaligus kaget.

 

“Hanya sekali.”

 

Aku menarik napas. “Aku… tidak tau harus mulai dari mana.”

 

“Aku tidak pernah memaksamu untuk bercerita. Sehun, carilah aku jika merasa tersakiti.”

 

Kenapa ia bisa bicara hal yang paling ingin kudengar? “T-terima kasih.”

 

Ia mengangguk dan menunjuk sebuah bangunan mungil yang masih terang diantara gelapnya rumah-rumah sekitar. “Mau mampir?” tawarnya.

 

“Tidak perlu. Aku meninggalkan sepedaku di kedai es.”

 

Mimik gelisah Luhan mulai nampak. “Kalau hilang salahkan aku saja.”

 

“Kalau benar hilang, bagaimana aku bisa mengubungimu?”

 

Luhan tertawa kecil. “Ah, ya!” kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan kami saling bertukar nomor.

 

==

 

Air keruh menjadi indah akan adanya teratai. Memperhatikannya, makan, bercanda, dan belajar bersamanya merupakan rutinitasku. Sedikit demi sedikit aku mulai tidak memperdulikan apa yang terjadi di rumah. Setiap hari hanya berpikir; apa yang kami lakukan esok? Apa ia memakai jepit itu lagi? Apa ia membeli es jeruk di kafe lagi? Dan banyak tanya lainnya.

 

Hobi Luhan berbeda dari kebanyakan orang. Tanpa alasan ia akan tersenyum. Segera bertindak jika ada seseorang yang kesepian dan membagi kebahagiaan pada orang yang membutuhkan. Banyak orang yang mengelilinginya. Ia merupakan magnet bagi setiap orang.

 

Makin lama, rasa rasa kagum, menghormati, dan keinginan untuk memilikinya muncul dari dalam diriku. Jangan anggap aku egois karena ingin memilikinya sendirian.

 

Dan ketika aku mengurungnya demi kebahagiaanku, satu-persatu yang berada di sekelilingnya pergi. Ia tak punya siapapun untuk berbagi, hanya aku yang tersisa. Namun, itu tak cukup. Ia masih mencari-cari mereka dan bertanya alasannya.

 

“Apa aku melakukan kesalahan?”

 

Ia tidak pernah salah.

 

“Kenapa kalian tidak lagi bersamaku?”

 

Itu karenaku.

 

Suatu hari, Minseok− si lelaki tambun menceramahiku. Membuatku sadar betapa egoisnya diriku.

 

“Semua orang disisinya pergi karenamu. Mereka iri karena Luhan begitu mudahnya dekat denganmu. Sementara banyak gadis diluar sana yang sejak dulu berusaha untuk mendapatkan hatimu. Tapi kau tidak menghampiri mereka. Sekedar menoleh saja tidak. Semakin kau mendekati Luhan, semakin ia dijauhi. Menjauhlah jika kau tidak ingin menyakitinya!” ia member penekanan pada kata-kata akhir.

 

Seperti saran Minseok, aku menjauhi Luhan. Setiap kali lelaki mungil itu menyapaku, kuberusaha menahan diri untuk tidak berjalan kearahnya. Sejak saat itu, senyumnya tak pernah muncul. Orang-orang yang pernah ia tolong berbalik tak memperdulikannya.

 

Aku merasa bersalah jutaan kali lipat. Tidak penting apa yang dirasakan orang. Bukankah jika ingin bersama, tidak ada larangan untuk itu?

 

Dan suatu hari, rasa sakit itu terjadi.

 

==

 

Aku berlari sekuat tenaga menuju lapangan indoor dan menemukan Luhan bersama Yoona serta ketiga pengikutnya. Yoona adalah ketua fans klub Oh Sehun. Ia membuat klub itu tanpa persetujuanku dan kepala sekolah. Yoona memojokkan Luhan dengan tatapan membunuh. Didorongnya tubuh Luhan yang lebih mungil darinya hingga terjatuh. Hal itu disambut lemparan bola tangan oleh ketiga orang temannya.

 

Tapi Luhan tidak membalas. Tidak menangis. Tidak berteriak. Sedangkan Yoona semakin bersemangat menjadikan perut, kepala, sampai wajahnya untuk dijadikan sasaran. Aku melaju kearahnya dan mempersilahkan punggungku sebagai tempat pelampiasan mereka. Yoona berhenti dengan kegiatan bulinya. Ia pergi dengan raut kesal sekaligus takut.

 

Luhan terduduk lemah dilantai. Kulihat wajahnya, untung tak terluka parah. Lampu menyinari punggungku, meneduhkan matanya dari sorotan cahaya dan ia menatapku seolah aku malaikat pelindungnya. Kuberjanji melindunginya lebih dari aku melindungi diriku sendiri.

 

==

 

Di ruang kesehatan, aku mengobati lebam di dahinya sambil bertanya, “Kenapa tidak membalas?”

 

“Mereka teman.”

 

“Tidak ada teman yang menyakiti temannya sendiri.”

 

Appa-ku bilang, bencilah sifatnya, jangan orangnya.” masih saja membela mereka. “Yoona bilang ia menyukaimu. Dan aku dekat denganmu karena statusmu. Kau tau maksudnya?” Luhan benar-benar polos.

 

“Saat marah, orang akan mengatakan apa yang ada di pikirannya. Jangan terganggu oleh hal itu!”

 

“Kenapa tadi pagi tidak membalas sapaanku?” pertanyaannya membuat suara bedebam yang keras di jantungku.

 

Aku hanyalah sekepal kerikil yang tak berguna. Aku merusak hidupnya. Apakah aku masih bisa disebut manusia? Harusnya aku dihukum.

 

“Luhan, carilah aku bila merasa tersakiti,” ungkapku. Aku menatap bola mata Luhan yang juga menatapku. Mungkin senang karena bisa berlindung dibalik punggungku sekarang.

 

Namun ia malah berseru, “Itu kan perkataanku!” dan tertawa seolah tak ada apa-apa yang terjadi.

 

Sesaat kemudian, Luhan memberhentikan tawanya dan mengalihkan pandang kepadaku. “Aku paham alasan mereka menjauhiku. Itu karenamu, Sehun. Tapi aku berjanji bahwa aku tak akan melepasmu.” kalimat itulah awal mula aku makin menyukainya.

 

“Luhan, apa kau pernah mendengar pepatah? Yang lemah akan selalu dimangsa yang kuat. Kuharap, kau tidak menjadi yang lemah maupun yang terlalu kuat,” tuturku.

 

Luhan tersenyum. Satu angguk ia berikan padaku. Aku senang ia mau mendengarku.

 

==

 

Matahari sudah terbenam dua puluh menit yang lalu. Kami sampai di tujuan, halaman rumah yang ditata untuk ulang tahun sang tuan rumah. Kue tingkat empat, kepamorannya tampak pada jumlah bunga ucapan selamat yang berjejer di setiap sudut. Begitu Ibu mengambil wine merah dari baki pelayan, seorang bibi berumur kurang lebih kepala empat menghampiri kami.

 

“Selamat datang, Nyonya Oh,” itu Direktur Im, yang tak lain adalah ibu dari Yoona.

 

“Selamat sore, Direktur Im,” jawab Ibu dengan senyum.

 

“Apa dia anakmu?” tanya Direktur Im sambil melirikku.

 

“Benar.”

 

“Seorang anak lelaki memang mirip Ibunya, ya.”

 

Di sekelilingku hanya terdapat bibi-bibi dengan gaun berbordir dan terkesan kelas atas. Sebenarnya apa tujuan Ibu mengajakku? Mengenalkanku kepada anak-anak perempuan mereka? Instingku selalu tepat. Gadis anak Direktur Im itu menghampiri kami. Im Yoona.

 

“Yoong, itu anak Nyonya Oh.” Direktur Im memperkenalkanku pada gadis yang setengah mati kubenci tersebut.

 

Ia tak lagi terkejut. “Wah, Sehun.”

 

Ibu mungkin tidak tau bahwa aku punya pilihan sendiri. Ia terlalu percaya diri jika aku dan Yoona yang akan bersatu. Begitu juga dengan Yoona. Mereka sama. Memikirkan hal itu membuatku tak betah berada di tengah mereka. Aku pamit untuk mengambil minum.

 

Seolah ini kesempatan baginya, Yoona berlari mengejarku. “Sehun, orangtua kita saling mengenal. Mungkin kita jodoh.”

 

“Aku sudah punya pilihan.”

 

Ia menebak, “Luhan?”

 

Aku berhenti menyeruput minumanku. “Jangan ganggu dia!” pekikku.

 

Yoona tersenyum picik. “Kau tau Ibumu tak akan merestui kalian.”

 

“Kalau begitu, aku akan tinggal dengan Ayah.”

 

Yoona mungkin mendengar rumor perceraian Ayah dan Ibuku dari beberapa orang, maka dari itu ia sedikit terkejut. “Terserah kau.” ia pergi dengan wajah cemberut.

 

Dan tiba-tiba, sosok Ayah memenuhi pikiranku.

 

Setelah mengambil sebuah crème brulee dari meja, aku kembali ke tempat Ibu. Betapa kagetnya kudapati Ibu sedang bergandengan tangan dengan seorang pria yang lebih muda darinya. Inikah yang membuat Ayah marah?

 

==

 

Untuk pertama kalinya, seorang yang kusukai menaiki sepedaku. Tetapi ia tidak mencuri kesempatan untuk memeluk pinggangku seperti yang kumau. Luhan malah sibuk melambaikan tangan pada orang-orang yang lalu lalang di trotoar. Hebatnya, ia kenal pada semuanya. Aku belajar tentang keramahan hari ini.

 

“Sehun, kau punya masalah?” ia mengeluarkanku dari lamunan singkat.

 

“Tidak ada.”

 

Meski ia berada di belakang punggungku− naluri apa yang membuatnya mampu merasakan kegelisahanku setiap saat?

 

“Jika harus memilih, antara tinggal dengan Ibu atau Ayahmu, kau pilih yang mana?” tanyaku.

 

“Itu bukan suatu pilihan, kan?”

 

“Bagaimana kalau kau berada di posisi itu?”

 

Luhan bungkam.

 

“Kenapa terdiam?”

 

“Karena aku tidak bisa memilih. Mereka sama-sama memiliki banyak arti penting bagiku.”

 

Di tengah pertigaan jalan, sebuah limusin perak menghalangi laju sepedaku. Seorang supir membukakan pintu untuk seorang pria paruh baya− Ayah. Ayah membuat gestur untuk mengajakku masuk ke dalam. Aku menitipkan sepedaku pada Luhan. Ia menerimanya tanpa bertanya siapa pria yang menjemputku.

 

“Aku dijemput Ayahku.” kuberitahu dia.

 

Luhan tersenyum dan mengangguk seperti biasa. Ia mengizinkanku untuk pergi.

 

==

 

Ayah membawaku menuju perusahaan utama miliknya. Ia memperkenalkanku pada sekian banyak karyawannya dengan bangga. Mereka menyapaku dan menghormatiku. Perasaan yang kontras jika aku bersama Ibu. Ayah tidak seburuk yang Ibu katakan. Ia sama sekali tidak berubah.

 

“Kau harus beradaptasi dalam situasi ini. Melihat segalanya dengan indramu. Menjadi contoh bagi karyawanmu. Mulai hari ini, aku akan mengajarkan semua itu,” katanya saat kami berada di dalam lift.

 

Karisma dan wibawanya. Ayah sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin sejak lahir.

 

Lift terbuka, kami sampai di puncak tertinggi gedung perusahaan. Angin begitu kencang menerpa kami. Namun Ayah tak peduli. Ia terus berjalan menuju bibir atap. Menatap punggung Ayah yang kesepian, sama halnya dengan menatap sebuah gelas kosong.

 

Ia berbalik badan untuk mengucapkan sesuatu, “Besok kami resmi bercerai,” kata itu bukanlah sebuah kejutan lagi bagiku. Ayah memegang bahuku erat. “Setelah persidangan, kau ikut dengan−“

 

“Dengan Ayah, tentu saja.”

 

Ia tersenyum lebar. Senyum yang jarang kulihat akhir-akhir ini.

 

“Yang tadi naik sepeda bersamaku, ialah kebahagiaanku.”

 

Ayah memicingkan mata, “seorang laki-laki?”

 

“Hah?” apa Ayah tak suka bahwa aku menyukai seorang yang berkelamin sama denganku?

 

Tapi tak kuduga, Ayah mengangguk senang. “Anak Ayah sudah besar! Jaga ia dengan baik!”

 

Aku senang bukan main. Sempat kupikirkan bahwa kuharap Ayah akan mendapatkan kebahagiaan yang baru. Namun ia tak percaya bahwa kebahagiaan akan dating untuk kedua kalinya.

 

“Ada yang ingin Ayah berikan padamu,” ia merogoh dibalik mantel hitamnya, mengambil sebuah amplop cokelat berukuran sedang dan memberikannya kepadaku. Di dalamnya terdapat akta dan sertifikat perusahaan ditambah kartu kredit tanpa limit. “Ibu sedang mencari ini. Ayah sudah memindahkan atas namamu.” lanjutnya. Senyum tak luput dari wajah itu.

 

“Ayah!” aku memekik terkejut.

 

“Ayah percayakan semua padamu, Oh Sehunie anak kesayangan Ayah.”

 

            Sehunie. Aku merindukan panggilan itu. Malam ini, Ayah memanjakanku sebagaimana perilakunya saat aku kecil dulu.

 

==

 

Mereka memperlakukan Luhan semakin buruk. Dari lapangan basket, aku memperhatikannya yang sedang berjongkok mengelap bola tangan bekas pakai. Aku belajar tentang kesabaran hari ini. Para siswi tersipu saat mengira aku memperhatikan mereka. Pun badanku tergerak untuk mengampiri Luhan dan siswi-siswi tadi pergi dengan raut kecewa.

 

“Sedang apa?” aku bertanya agak kesal.

 

Luhan mendongak, matanya menyipit karena menerima cahaya yang terlalu banyak saking teriknya hari ini. “Aku emmbantu mereka bersih-bersih. Katanya mereka mau jadi temanku lagi,” ia mengatakannya dengan senyuman polos.

 

“Mereka berbohong.”

 

“Tapi aku percaya mereka.”

 

“Kau tidak main?”

 

“Aku tidak bisa.”

 

Aku terkekeh. “Bagaimana mau bisa jika tidak mencoba?”

 

Setelah para siswa pulang, kami melakukan duel. Bola tangan sangat mudah karena cara bermainnya hamper sama dengan basket. Aku mengajarkan satu-persatu hal pada Luhan yang hanya bengong− benar-benar lelaki yang tak suka pelajaran. Setelah kukira cukup mengerti, aku menyuruhnya berdiri di sisi lapangan satunya dan aku di sisi lapangan yang lain.

 

Tanpa aba-aba, Luhan melakukan passing pada bolanya hingga mengenai pelipisku dan aku terjatuh. Ia kaget dan segera menghampiriku dengan cemas, “Kau tidak apa-apa, Sehun??” tanyanya.

 

Seketika rasa sakitku hilang. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Tak lama ia menyadarinya dan segera memalingkan pandangan ke arah lain. Darisini aku dapat lihat pipi kemerahan itu. Dan aku tersenyum.

 

==

 

Pada zaman dinasti Joseon, seorang anak menteri memungut seutas pita merah di samping makam raja terdahulu. Pita merah itu tampak indah bila didekatkan pada matahari. Sang anak menteri pun membawanya ke istana dan memberikan benda itu pada sang istri, untuk diikatkan di rambutnya.

 

            Setiap hari, sang istri memakai pita merah tersebut dan suaminya selalu memujinya. Selang beberapa hari, sang suami dituduh melakukan pemberontakan pada suatu wilayah. Ia pun dipenggal. Sang istri menangis. Tapi akibat sugesti dari penasihat raja, ia membenci mantan suaminya dan membuang pita merah itu.

 

            Malamnya, ia bermimpi bertemu dengan sang mantan suami di sebuah ladang luas yang kering.

 

            “Kenapa kau melepas pita merah itu? Kenapa kau membuangnya? Kau tampak cantik dengan benda itu.”

 

            Ia dihantui mimpi tersebut setiap malam.

 

            Selepas mimpi yang membuatnya tak tahan itu, cenayang berkata padanya bahwa arwah mantan suaminya tak tenang dan menyarankannya agar memakai pita merah itu setiap hari. Keesokannya, ia memakai pita merah itu kembali. Sejak saat itu, ia tak pernah dihantui mimpi aneh lagi. Dan ia mendapat julukan Si Gadis Pita Merah.

 

==

 

“Pita merah?” tanya Luhan tak percaya pada apa yang kutunjukkan. Kala itu kami sedang duduk di kursi penonton lapangan basket.

 

“Kau percaya pada mitos? Percayalah kepadaku, Luhan. Kau tampak lebih manis dengan pita merah ini,” tuturku jujur. “Jangan khawatir, pita tidak hanya ditujukan pada gadis-gadis. Kau lihat Baekhyun? Kata Chanyeol ia juga suka pakai pita.”

 

Meski agak ragu, Luhan mau menerimanya dengan senyuman. Karena mitos itulah para lelaki tak mau memberikan pita merah pada kekasihnya. Bisa jadi, akulah lelaki pertama yang menepis bahwa mitos pita merah itu salah.

 

==

 

Aku dan Jongin duduk di pinggir lapangan outdoor. Jongin meneguk minumannya sambil melamun. Matanya tengah memeperhatikan seseorang. Ia tampak mengagumi dari mata itu. Sementara aku menatapnya santai dan kembali mengintip kaleng minuman, memastikan bahwa isinya masih ada.

 

“Siapa yang kau lihat?” tanyaku tanpa maksud ingin tau. Hanya saja, rasanya hal seperti itu harus ditanyakan.

 

“Lelaki itu manis sekali! ”

 

“Yang mana?” jadi Jongin juga penyuka sesama jenis sepertiku? Senangnya memiliki teman.

 

“Disana!” ia menunjuk seorang− lelaki bertubuh tambun yang sedang bergumul dengan roti melon dan beberapa bungkus makanan di sampingnya. “Manis, kan? Badannya bagus sekali. Siapa namanya? Padahal kemarin aku ingat.”

 

Lelaki itu… Minseok? Ha. Aku ingin tertawa. “Seleramu beda.”

 

“Hah? Kau lihat apa?” Jongin nampak tak suka. “Itu yang sedang membaca di bawah pohon!”

 

Aku langsung saja tersedak. Lelaki yang ia maksud adalah… Luhan?

 

“Kau tau namanya?”

 

“Jangan dia!!” pekikku.

 

“Kenapa? Sudah punya pacar?”

 

“I-ia…” alasan apa yang harus kubuat? “Ia… menderita AIDS!” pekikku lagi, mengeluarkan alasan yang asal.

 

Jongin terkejut. Aku mengatakan itu agar Jongin tak mengejarnya. Karenanya, aku sadar bodohnya diriku karena tak bersegera menjadikan Luhan milikku. Dadaku sesak bila orang lain akan merebutnya.

 

==

 

Malam setelah itu, aku merencanakan sesuatu. Kuajak Luhan dengan limusin-ku menuju 63 Building di Yeouido. Kami naik ke lantai lima puluh sembilan dengan love elevator. Disana terdapat restoran Walking to The Cloud tempat tujuanku. Luhan yang malam itu berkemeja biru rapi tak hentinya menganga. Aku berusaha menahan tawa. Dalam diam pun ia lucu.

 

Pelayan datang dan mengantar kami ke tempat yang sudah kupesan. Aku menarik kursi untuk Luhan dan ia berterimakasih. Botol dan gelas wine disuguhkan pada kami saat Luhan menengadah ke luar jendela, menatap sungai Han yang tercetak jelas dibaliknya.

 

“Kenapa tempat ini bagus sekali?” gumamnya kagum.

 

“Agar menarik perhatian,”

 

“Kau sering kemari?”

 

“Ya. Dulu, dengan orangtuaku.”

 

Luhan mengangguk. “Eh?? Apa ini?” ia tampak bingung dengan susunan sendok, garpu, sumpit, dan pisau di sisi piring.

 

Mulailah aku tertawa sepuasnya.

 

==

 

Setelah makanan pembuka dan utama, seorang pelayan menyajikan golden opulence sundae. Luhan tak segan untuk melahapnya. Begitu menggigit sesuatu yang keras, Luhan membuka bibirnya dan mengambil benda itu dengan tangan. Ia hampir memakan pendant emas putih dengan bentuk tetes air diujung.

 

Ia mengamati kilauan pendant tersebut dengan seksama. “Ini pasti kalung koki yang tertinggal,” ucapnya yakin.

 

“Itu memang sengaja dimasukkan kesana.”

 

“Untuk apa?”

 

“Hadiah dariku.”

 

Luhan terkejut. “Uang jajanmu sebenarnya berapa??!” ia malah memekik seperti itu.

 

“Itu kudapatkan dari camilan berhadiah,” candaku.

 

“Ini kelihatan seperti asli,” Luhan menatapku bingung.

 

“Kalau mau kupakaikan, berarti kau jadi pacarku.”

 

Luhan tertegun. Diam sejenak. Lalu meletakkan pendant itu di atas meja. “A-aku tidak bsia menerimanya. Maafkan aku.”

 

Punggungku serasa dipukul balok kayu. “Bukankah kau menyukaiku?”

 

“Aku ingin kau memenuhinya dengan cara impianku,” ujarnya, “Dan kau harus mencarinya.”

 

Kupandang pendant yang kubeli dengan penuh perasaan percaya bahwa ia menyukainya. Jadi begini saja? Banyak aktor yang melakukan hal ini di film-nya dan berhasil. Luhan adalah satu-satunya orang yang menjadikan cara ini tidak zaman lagi.

 

Hal ini membawaku kembali pada ingatan masa lalu. Sewaktu berjalan di koridor, banyak siswi yang terpukau dengan penampilanku. Malah terkadang memberikan cokelat atau kue buatan mereka dengan histeris. Disisi lain, Luhan menjauhiku sambil memasang wajah cemberut. Hal pertama yang kutau, ia tak suka pada ketenaranku.

 

Sewaktu di kelas, Luhan tak mau mengalah padaku akan perhatian guru agar dapat menjawab pertanyaannya. Namun, aku selalu menang dan ia tampak kesal dengan hal sepele seperti itu. Hal kedua yang kutau, ia tak suka pada kepintaranku.

 

Sewaktu aku mengajaknya ke tempat ini dengan limusin, ia malah menanyakan sepedaku. Hal ketiga yang kutau, ia tak suka pada kekayaanku.

 

Dan aku tersenyum. “Baiklah. Cepat atau lambat aku akan mendapatkan cara impianmu. Benda ini simpan saja,” aku memakaikan pendant itu di lehernya. Satu hal penting yang kutau, Luhan menyukaiku secara sederhana.

.

.

.

.

.

.

.

.

end?

.

.

.

.

.

.

.

.

Tengah malam itu, hujan sangatlah lebat. Langit selalu menangis dan aku membencinya. Untungnya hal itu tak menggangguku untuk melanjutkan novelet yang mengisahkan kehidupanku bersama Luhan. Aku masih mencari-cari sebuah klimaks, hanya ingin akhir yang bahagia seperti dongeng Cinderella yang ia benci.

 

PRAAAANG!!

 

Guci buatan siapa lagi yang pecah? Tanganku berhenti menekan deretan huruf di laptopku. Seketika suasana di ruang tengah terasa hening. Pikiran untuk kembali ke duniaku hilang. Karena itu, aku beranjak dari meja belajarku dan melihat apa yang terjadi.

 

Aku tak menemukan penerangan yang memungkinkanku untuk melihat keadaan di bawah. Kutapaki anak tangga perlahan. Lampu memang otomatis dimatikan bila sudah lewat pukul sembilan malam.

 

Petir menyambar dan membiaskan cahaya lewat dinding kaca raksasa ruang tengah. Mataku membulat. Tampak tubuh Ibu bergetar, dahinya bercucuran keringat. Dihadapannya Ayah berbaring miring, darah mengalir dari kepala, serpihan pecahan guci menyebar disekitarnya.

 

Pandanganku, tidak rusak, kan? Aku mempercepat langkah untuk meminta penjelasannya. “Apa yang Ibu lakukan?!” untuk pertama kalinya, aku membentak Ibu kandungku.

 

Ia semakin bergetar. “Sehun, kau berjanji akan merahasiakan ini selamanya?”

 

Petir kembali menyambar, seakan memperlihatkan matanya yang memandang nanar. Emosiku meradang. Kemarin baru saja kami bercakap, tersenyum, mengadu pada angin jika mampu mengatasi penderitaan ini sendiri. Lantas, kenapa Tuhan mengubah takdirku seenaknya?

 

Hujan memukul punggung kami sembari menutupi airmata yang sempat terjatuh. Aku dan Ibu menggali makam untuk Ayah di belakang rumah. Sekopku terasa berat karena tambahan air. Ibu terus mengomandoku agar menggali lebih cepat, bak seorang atasan yang menyuruh kulinya. Ia tak ingin ada yang tau bahwa ia adalah seorang pembunuh sekarang.

 

Setelah berpikir matang, aku memilih mundur dan menjatuhkan sekopku. “Bukan aku yang membunuhnya! Bukan aku!!” kugelengkan kepalaku kuat-kuat. “Ibu harus tanggung jawab sendiri.”

 

“Kau berani?! Kembali bekerja!” teriaknya.

 

“Tidak mau! Aku sayang Ayah. Aku tidak mau menurutimu.”

 

Ibu terhenyak. “Anakku…”

 

Aku tak berani menatap matanya langsung. Lantas aku pergi meninggalkannya.

 

“Oh Sehun…”

 

Aku kembali ke kamar, meratapi semua kesedihan ini dibalik pintu. Menangis tak membuat Ayah kembali. Menangis hanya akan membuatku menjadi manusia paling menyedihkan di muka bumi ini.

 

Seperti ada seseorang yang mengajakku, aku tertarik pergi ke beranda, membuka jendela. Kakiku berpijak pada marmer yang basah nan dingin karena terhantam air hujan. Kunaiki pembatas beton dan merentangkan tanganku, kupejamkan mata sambil menghitung mundur dalam hati. Hasrat itu terus menekanku. Namun disela hujan, dering ponsel menyadarkanku. Aku harus bertahan hidup.

 

==

 

Luhan membiarkan tubuhnya dikalahkan oleh hujan. Ketakutan dan berantakan dengan luka memar di pipi. Aku segera turun dari mobil dan menghampirinya.

 

“Ada apa menelpon?? Kenapa kau berantakan begini?? Siapa yang melakukannya padamu??” ucapku panik.

 

Ia menjawabnya sambil menangis sesenggukan, “Hari ini mereka datang lagi.”

 

“Mereka siapa?”

 

“Rentenir. Untuk membuka took, Appa meminjam uang mereka. Karena aku tidak mau memberikan kalung ini pada rentenir, Appa dipukuli.”

 

Lagi-lagi dirinya menderita karena ulahku. “Kenapa kau tidak memberikannya?!” suara petir memaksaku untuk bertanya dengan lantang.

 

“Jika aku memberikannya, bukankah aku akan membuatmu kecewa untuk kedua kalinya?”

 

==

 

Kami menunggu kepastian dokter di depan kamar inap appa Luhan. Tak lama, dokter keluar and menyatakan bahwa dua tulang rusuk appa-nya retak. Tangisan Luhan pecah hingga bergema ke koridor rumah sakit. Kuberikan bahuku sebagai sandarannya.

 

“Terimakasih,” bisikku.

 

“Untuk?”

 

“Karenamu, aku hidup.”

 

Luhan masih tak mengerti. Demi Ayah, Luhan, dan semua amarahku, aku akan hidup untuk memperbaiki segalanya.

 

==

 

Rumahku terlalu gelap untuk ukuran sebesar ini. Tak ada penerangan selain petir yang membiaskan cahayanya di dinding kaca. Sejak kejadian itu, Ibu tampak dimanapun. Makam Ayah juga dibuat denagn asal. Maafkan anakmu yang tak berguna ini.

 

Aku segera masuk ke dalam kamarku, membuka laptop lalu mencetak seluruh halaman novelet yang kubuat. Di halaman depan tertulis judul; ‘Teori & Dongeng’. Bagaimana bisa aku memberikan kisah yang belum tamat pada Luhan?

 

Aku harus pergi sebelum Ibu mengetahui keberadaanku, biar kuselesaikan cerita ini di tempat lain saja. Sambil menunggu novelet selesai tercetak, kuambil amplop yang diberikan Ayah dan memasukkannya ke dalam tas. Aku sadar, itulah tanda yang diberikannya bahwa ia akan pergi.

 

BRAAK!

 

Seketika aku tersentak. Ibu dan seorang pria bertubuh kekar mendobrak kamarku. Spontan, kulempar tas-ku kebawah meja belajar. Aku pernah melihat pria itu di pesta ulang tahun Direktur Im.

 

“Kau mau kemana?” Ibu bertanya dengan nada menakutkan.

 

“K-kalian mau apa?” aku mundur beberapa langkah hingga membentur dinding. Ia bukan Ibu biasanya. Otaknya telah dicuci.

 

Pria itu menyeringai dan tak segan mencekikku. “Ayahmu meninggalkan apa? Dimana sertifikat saham Grup Oh?”

 

“A-aku.. t-t-tidak ta-u…” sulit sekali berbicara dengan napas terbatas seperti ini. Ibu, tolong aku! Bagaimana ia bisa memercayai orang yang baru dikenalnya? Bibirku bergetar, ini dua kali lipat lebih sesak daripada melihat Ibu tertawa picik padaku. Aku tak mau mati ditangannya.

 

“Cepat katakan!”

 

“A-ak… ku berani b-bersumpah…”

 

Pria itu melepaskan cengkramannya. Dengan segera kutarik napas sebanyak-banyaknya selagi pria tersebut menggeratak isi lemariku seperti kera. Semua barang ia jatuhkan, banting, tending, lempar. Sementara Ibu berdiri diambang pintu, menjagaku agar tidak melarikan diri. Bunyi cetakan kertas sudah tak terdengar, noveletku selesai tercetak.

 

Pria itu menghentikan pencariannya. Ia mengahmpiriku dengan terengah. “Aku tidak menemukannya! Katakan saja dimana kau menyembunyikan SEMUANYA?!!” gertakannya membuat tubuhku merinding.

 

“Ayah tak meninggalkan apapun,” ucapku, menunduk.

 

Aura kekejamannya semakin membuatku menggigil. “Jika kau tidak memberitauku sebelum jam tujuh, pembunuh bayaran akan mencarimu, menyanderamu, melukaimu, dan akhirnya membunuhmu.”

 

“I-Ibu…”

 

“Sehun anak baik, kan? Turuti perintah Ayah barumu.”

 

Hujan masih belum berhenti. Mereka segera angkat kaki dari kamarku setelah puas menggertak. Sedangkan aku menangis disela rintikan hujan. Mempertahankan sesuatu tidaklah mudah. Namun, aku juga tak rela mati demi mempertahankannya.

 

==

 

Pukul setengah enam. Ketika langit masih enggan menampakkan mataharinya. Aroma hujan dan tanah lebih mewah dari parfum termahal Ibu. Pertama kalinya aku tiba di sekolah tanpa seragam, tak ada siapapun disini. Terlalu dini untuk mencari sebuah kehangatan di ruangan kelas. Bisa jadi ini terakhir kalinya aku merasakan menjadi siswa.

 

Aku menelepon Luhan sebelum masuk ke ruang ganti. Ia berjanji datang pagi ini untukku. Ia tak pernah berjanji pada orang lain, dan itu membuatku terasa spesial dimatanya. Kubuka tas, pria kekar itu tak sadar bahwa aku menyimpan berkas Ayah di dalamnya. Aku mengambil seragam dan memakainya.

 

Sebuah pesan masuk, Luhan mengabarkan bahwa ia telah berada di atap sekolah sekarang. Akupun menyusulnya, ingin melihat wajah itu untuk terakhir kali.

 

==

 

Aku berada di depan pintu atap. Luhan membalikkan badan dengan senyuman manis yang jarang ia tunjukkan padaku akhir-akhir ini. Yang membuatku senang, ia tak pernah lupa memakai pita merah yang kuberikan. Inikah hari dimana aku percaya akan mitos itu?

 

“Kenapa hanya berdiri disitu?” ia menarikku dari lamunan.

 

Aku balas tersenyum dan menghampirinya.

 

“Apa kau sudah menemukan cara untuk mengungkapkan rasa?” tanyanya lagi.

 

Kami berjarak satu meter saat ini. Aku berucap dengan ragu, “Sebelumnya, aku ingin bertanya. Apa rumus teori kebahagiaanmu?”

 

Luhan nampak bingung. “…berdamai dengan hidup dan mensyukurinya?” ia tak kalah ragunya denganku.

 

“Hanya begitu?”

 

“Lalu apa rumus teori kebahagiaanmu sendiri?”

 

Kutolehkan kepalaku kearahnya, segera. Tak kusangka ia akan menanyakan hal yang sama. “A-aku… belum menemukannya,” jawabanku etrlihat menyedihkan.

 

“Kenapa begitu?”

 

“Kehabisan waktu untuk mencarinya.”

 

Luhan menggeleng. “Tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencarinya. Itu semua ada disini!” ia menunjuk hatiku. Aku terenyuh. “Setiap mengawali pagi yang baru, jika aku berpikir bahagia, maka sepanjang hari aku akan berbahagia. Jika aku berpikir sedih, maka sepanjang hari aku akan bersedih.”

 

Bagaimana ia bisa memiliki jawaban sesempurna itu? Tak sadar, sebulir air mata jatuh dari sebelah mataku.

 

Kemudian ia meraih kedua tanganku. Ia mengucapkan kaliamat bak mantra penenang, “Sehun, kebahagiaan tersedia bagi mereka yang disakiti, yang mencari, dan yang mencoba. Karena hanya merekalah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir di hidup mereka.”

 

Tak dapat kutahan tangis bodohku dihadapannya. Harusnya aku bertemu dengan Luhan sejak dulu. Seketika kami melepas tangan. Luhan membelai rambut pirangku dengan lembut. Selembut belaian Ayah pada malam sebelum hari kematiannya.

 

Aku merasakan kedamaian.

 

“Merasa baik sekarang?” tanya Luhan.

 

“Ya.”

 

Bisakah hari ini terulang kembali? Semakin lama, aku merasakan waktuku yang semakin sempit. Bersamaan dnegan itu, dingin perlahan mulai menghilang, matahari tak bersembunyi lagi dan dating menghangatkan kami. Hangat! Semua yang kulihat menghangat. Aku berjalan ke bibir atap seperti persembahan dewa. Ketika di puncak kehangatannya, aku membalikkan badan hanya untuk sekedar menatap lelaki yang kucintai itu.

 

Akupun terbang menuju langit. Tetaplah jaga pita merah itu agar nyawaku tetap tenang. Semoga kita bertemu di kehidupan selanjutnya, Xi Luhan…

.

.

.

.

.

.

.

.

end?

.

.

.

.

.

.

.

.

yes. the end.

3 responses to “[One Shot] Teori & Dongeng

  1. Ini ff yaoi pertama yg buat aku merasa hal itu biasa. Nyessss bgt biasanya aku benci ff yaoi gk terlalu suka aja. Tapi dgn adanya ff ini yaoi bukan hal yg buruk ini ff memgajarkan kita tentang arti perbedaan: ‘) dan mitos yang mungkin bisa jdi kemytaann. Kerennn thorrr ^^

  2. Ini cerita oneshoot yg sungguh banyak konfliknya. Bahasanya bagus dan adegan lucu di bbrp dialog juga dapet. Bikin kangen sama hunhan couple🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s