Rainbow Dust – Which Butler Would You Choose?

Main Cast : SEVENTEEN & ShinB (G-Friend)

Support Cast (in this part) : Yeri (Red Velvet), V (BTS), Dasom (SISTAR) Alice, Lime, Yooyoung (Hello Venus), Key, Minho (SHINee), Wonho, Minhyuk, Kihyun, Hyungwon (Monsta X), sisanya figuran dan team hore

Genre : Friendship, Slice of Life, Romance?

Length : Chaptered (he kayaknya)

Rating : General

Disclaimer : i own nothing but the plot, jisoo, and minghao /no

Credit Picture : found it on my facebook’s newsfeed :>

Previous : Welcome!

a/n : kalo bingung sama wajah cast-nya boleh scroll dulu ke bawah yaa. btw ini ada 41 halaman HAHA selamat mengantuk

*

 “Jadi, siapa butler yang akan dipilih Noona untuk hari ini?”

***

Alice membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan karya ilmiah. Mungkin terhitung sejak dirinya tingkat menengah pertama—atau tingkat menengah atas?—gadis itu memang kurang menyenangi kegiatan tulis menulis. Ia ingat, dulu, semasa sekolah guru Bahasa Koreanya pun tak pernah memberikannya nilai lebih dari huruf C di setiap tugas atau tes yang beliau berikan. Alice memang tidak pandai menyusun kata-kata sedemikian rupa, apalagi dalam bahasa formal. Tapi kali ini, Alice mau tak mau harus melakukannya lantaran program magister yang sedang ditempuhnya di bidang kajian budaya mengharuskannya untuk membuat tesis demi syarat kelulusan dan gelar magister humaniora yang telah lama diidamkannya.

Gadis berumur 25 tahun itu memakirkan mobilnya di depan bangunan café Rainbow Dust. Alice sudah hampir lima hari ini terus-menerus berkutat dengan tesisnya dan rasa-rasanya sama sekali belum menemukan inspirasi kembali untuk menulis. Otaknya kelelahan dan Alice rasa dirinya memang membutuhkan sedikit refreshing, maka dari itu gadis itu memutuskan untuk sekedar mencari hiburan di café yang mulai sering disambanginya semenjak beberapa bulan yang lalu. Mungkin menikmati beberapa potong kue dan bebercapa cangkir kopi akan kembali menyegarkan pikirannya—oh, dan tentunya, tak ketinggalan dengan para pelayan Rainbow Dust yang akrab dengan sebutan butlernya juga. 

Alice turun dari mobilnya. Pelataran parkir Rainbow Dust memang tidak berukuran cukup luas, mungkin hanya mampu menampung sekitar lima buah mobil. Selain mobilnya, Alice dapat melihat beberapa mobil lain juga beberapa motor yang ikut terparkir di sekelilingnya. Pelataran parkir tidak sepenuhnya dipadati oleh kendaraan, namun jumlah ini cukup memberi tahu Alice bahwa café sedang berada dalam kondisi ramai. Dari luar, Alice dapat melihat berbagai aktivitas yang sedang terjadi di dalam café itu lewat dinding kaca. Dugaannya benar, hampir seluruh meja yang ada di dalam rata-rata telah ditempati oleh para tamu. Sebagai salah seorang pelanggan setia, Alice maklum, hari Kamis seperti ini akan menjadi hari tersibuk dalam setiap minggu di Rainbow Dust.

Ketika Alice hampir mencapai pintu masuk, seorang lelaki berperawakan kurus cepat-cepat menghampiri untuk membukakan pintu dari dalam café. Ekspresinya sedikit kikuk, namun suaranya lantang saat melontarkan sapaan untuk Alice yang baru melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Selamat datang, Nona Alice. Apakah Anda sudah melakukan reservasi sebelumnya?”

“Sudah.” Alice menjawab singkat. Pelayan laki-laki itu pun bergegas mengantar Alice ke salah satu meja yang terletak di sudut kiri ruangan.

“Kau selalu saja bersifat kaku, Minghao. Sudah kubilang, kau cukup memanggilkuNoona.” Alice berujar saat pelayan yang dipanggilnya Minghao itu baru akan mempersilakannya duduk di kursi.

Wajah Minghao kelihatan tersipu. “Maaf, No—um, maksud saya Alice Noona.” Suaranya kedengaran asing dengan intonasi dan artikulasi yang cukup aneh untuk telinga orang Korea. Kemampuan Bahasa Koreanya yang belum terlalu fasih selalu membuat laki-laki berkewarganegaraan Cina itu kelihatan ragu-ragu dalam berbicara.

Tepat setelah Alice mendudukkan dirinya kursi, Minghao mohon diri untuk mengambil menu dan langsung melesat kembali menghampiri meja gadis itu hanya dalam hitungan waktu beberapa detik saja. Laki-laki itu menyodorkan dua buah buku menu ke arah Alice. Alice membuka buku pertama dan dengan cepat menyebutkan beberapa menu makanan dan secangkir espresso panas untuk dicatat oleh Minghao. Kemudian, gadis itu berlanjut membuka halaman buku kedua. Tidak seperti buku menu pertama yang berisikan foto-foto makanan ataupun minuman, buku kedua ini menyuguhkan beberapa foto laki-laki di setiap halamannya. Foto Minghao muncul ketika Alice membuka halaman kelima.

“Siapa saja butler yang saat ini sedang free?” tanya Alice.

“Untuk saat ini hanya ada Wonwoo—maaf, maksud saya Butler Beanie dan Butler Vernon, Noona.”

Alice kelihatan manggut-manggut kemudian segera bertanya kembali, “Lalu kau sendiri, Minghao?”

“Setelah ini saya masih harus melayani meja lain, Noona. Maaf.” Minghao tersenyum kikuk. Tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengekspresikan rasa sesalnya, tapi kelihatannya Alice pun tidak mau ambil pusing.

“Lalu Junghan?”

“Junghan—um, Butler Cheonsa sedang melayani meja lain, Noona.” Minghao awalnya tidak bermaksud untuk menunjuk, namun tanpa sadar matanya mendelik sedikit ke arah depan, memberi tahu Alice bahwa sosok yang dicarinya sedang berada di sebelah sana. Alice segera mengikuti arah pandang Minghao dan langsung dapat menemukan Junghan. Laki-laki bersurai panjang itu tengah duduk bersama seorang wanita. Dari penampilannya, Alice dapat langsung tahu bahwa wanita yang sedang bersamanya itu berusia beberapa tahun di atas Junghan, malah mungkin juga lebih tua dari Alice sendiri. Tubuhnya sedikit gemuk. Kedua pipinya berwarna kemerahan dan seperti bergoyang-goyang ketika tertawa. Mungkin Junghan baru saja melontarkan lelucon kepadanya, atau memang wanita itu hanya merasa senang karena dapat menghabisikan waktu bersama butler yang menjadi incaran nomor satu para tamu yang datang ke café ini.

“Tamu yang satu itu sudah melakukan reservasi dua minggu sebelumnya untuk bisa dilayani oleh Butler Cheonsa.” Minghao bicara lagi.

Alice mengangguk-anggukkan kepalanya, terlihat paham. Dulu pun ia pernah meminta Junghan menjadi butler yang menemaninya, namun dengan syarat ia harus melakukan reservasi beberapa minggu sebelumnya karena Junghan selalu memiliki jadwal yang padat di sela karirnya sebagai seorang foto model dan pelayan café sekaligus. Itu mengapa Junghan hanya muncul di Rainbow Dust pada hari Kamis—yang kemudian turut menjadi alasan membludaknya tamu di hari ini. Imbasnya, bagi para tamu lain yang ingin mendatangi Rainbow Dust pada hari Kamis pun diharuskan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu beberapa waktu sebelumnya, meski kebanyakan tamu di hari Kamis memang rata-rata datang hanya untuk melihat Junghan.

Dan wanita yang sekarang sedang duduk bersama Junghan pastilah merupakan salah satu dari sekian banyak fans yang dimiliki oleh lelaki itu.

“Sudah kuduga.” Alice kembali menatap ke arah Minghao. “Kalian pasti akan selalu sibuk di hari Kamis, wow.”

Minghao tersenyum lagi. “Jadi, siapa butler yang akan dipilih Noona untuk hari ini?”

Alice kelihatan berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan, “Yang jelas untuk hari ini bukan Hansol. Terakhir kali aku datang ke sini, dia yang menemaniku. Sebenarnya, Hansol cukup asyik untuk dijadikan teman mengobrol, tapi…”

Alice mendesah, memasang ekpresi sebal, “Rupanya aku memilih timing yang salah. Kemarin itu adalah saat idol group favorit Hansol—ah, apa namanya? X, oh ya, EXO, melakukan comeback. Dan Hansol tak hentinya membicarakan grup itu beserta salah satu member favoritnya—ah, siapa namanya, aku lupa. Kau tahu, ‘kan, segila apa Hansol kalau sudah menyangkut urusan grup favoritnya itu, astaga! Aku hanya tak siap kalau harus lagi mendengarkan seluruh ocehannya mengenai EXO EXO itu.” keluhnya.

Senyum di wajah Minghao kembali muncul, kali ini lebih lebar bahkan mungkin akan berlanjut menjadi sebuah tawa kalau ia tak ingat ia harus selalu bersikap santun di hadapan para tamu. Berbicara kepada Alice bukanlah hal yang pertama kali untuknya. Gadis ini memang kerap datang ke Rainbow Dust dan tidak hanya selalu terfokus kepada satu butler favorit, seperti kebanyakan tamu lainnya yang datang ke café ini. Tidak ada seorang butler pun yang tidak pernah melayani Alice. Ditambah lagi, pribadi Alice yang hangat dan mudah akrab dengan siapa saja membuatnya menjadi salah satu tamu paling menyenangkan di Rainbow Dust sehingga seluruh staf—baik butler maupunchef—tidak ada lagi yang merasa sungkan ketika berhadapan dengannya. Bahkan mungkin hanya Alice, satu-satunya tamu yang memanggil para butler di sini dengan nama asli mereka masing-masing.

“Kalau Wonwoo…, ah, aku hanya sedang tidak berminat mendengarkan seluruh gombalan maupun kata-kata manisnya. Tapi, karena kelihatannya sudah tidak ada pilihan lain, bawa saja dia ke hadapanku.” ujar Alice akhirnya.

“Baik, apa ada lagi yang Noona butuhkan?” tanya Minghao sembari mencatat pesanan.

Alice baru saja ingin mengatakan tidak, namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok seorang gadis yang sedang membersihkan meja tak jauh dari mejanya sekarang. Sekilas, Alice mungkin akan menyangka dirinya sebagai tamu kalau saja ia tidak melihat seragam Rainbow Dust yang melekat pada tubuh gadis itu. Alice mengernyit heran, menatap sosok yang baru dilihatnya sepanjang berkunjung kemari.

“Dia…, pegawai baru?” tanya Alice pada Minghao. Alice masih memandang ke arah yang sama sehingga memudahkan Minghao untuk segera mengikuti arah pandangnya.

“Oh, ya, dia pegawai baru, Noona. Dia baru bekerja di sini sebagai tenaga pembersih mulai dari kemarin.” jelas Minghao.

“Wah, kupikir kalian hanya akan menerima pegawai laki-laki—di samping Yeri. Kalau memang membuka lowongan pekerjaan kenapa tidak bilang-bilang? Lebih baik bekerja di sini, melihat laki-laki muda setiap hari daripada harus duduk di balik meja dan memelototi layar komputer.” Alice berseloroh, sementara Minghao kelihatan tersipu lagi.

“Akan kami antarkan makanannya nanti, mohon tunggu sebentar.” Minghao membungkuk sebelum berbalik untuk meninggalkan meja yang ditempati Alice, lengkap dengan dua buku menu yang telah kembali ke tangannya. Tak lama kemudian, laki-laki itu sudah kembali melesat ke arah dapur.

Shinbi tahu bukan kali ini saja ia menjadi bahan perbincangan para tamu yang datang ke café. Dari hari kemarin pun, ketika pertama kalinya Shinbi bekerja di Rainbow Dust, tak jarang banyak tamu yang berbisik-bisik sambil mengarahkan matanya ke arah Shinbi yang saat itu sedang membersihkan ruangan. Shinbi tentu saja merasa risih. Namun, hal ini belum sebanding dengan rasa risihnya ketika pertama kali bekerja di Rainbow Dust dan mengetahui hampir semua partner kerjanya berjenis kelamin laki-laki. Ulangi,hampir semua.

Mungkin mereka tengah bertanya-tanya, bagaimana bisa ada seorang pegawai perempuan di Rainbow Dust yang notabenenya hanya memperkerjakan laki-laki? Meskipun ada Kim Yeri, salah seorang perempuan lain yang bekerja di dapur, dan Kim Yoojung, sang pemilik café sendiri, kehadiran Shinbi yang mau tak mau selalu terlihat mondar-mandir membersihkan ruangan mungkin adalah yang paling mencolok dan menarik perhatian seluruh tamu yang datang ke café.

Shinbi jengah, namun tak bisa melakukan apapun selain berkonsentrasi membersihkan meja ketika para tamu lain meliriknya dengan tatapan aneh. Kalau para tamu itu bertanya-tanya atas keberadaan Shinbi di dalam café itu, maka Shinbi sendiri pun balas bertanya-tanya soal tujuan mereka datang kemari.

Sekilas mengenai Rainbow Dust, café ini terletak di Distrik Yangcheon, bagian barat daya dari Kota Seoul. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk mencapai daerah ini jika Shinbi menaiki bus dari halte di dekat sekolahnya. Mulanya, Shinbi sama sekali tidak menaruh prasangka apapun ketika Mingyu, salah satu teman sekelasnya, mengajaknya kemari (sebenarnya Shinbi yang meminta). Sampai kemudian, gadis itu benar-benar masuk ke dalam café untuk melamar pekerjaan. Apa yang dilihatnya pada hari pertama tiba di Rainbow Dust membuat gadis itu terperangah. Rainbow Dust bukanlah sebuah café biasa. Kim Mingyu, laki-laki itu memang sudah memperingatkannya dari awal, namun Shinbi baru dapat benar-benar mencerna ucapan teman sekelasnya itu ketika ia menemukan jawabannya sendiri di internet.

Butler café. Café sejenis ini memang cukup ramai di wilayah Jepang dan biasanya membidik para gadis muda dengan sengaja memperkerjakan banyak staf yang merupakan laki-laki berusia muda sebagai pelayan, yang kemudian disebut denganbutler. Tak hanya itu, café jenis ini biasanya juga cukup familiar di kalangan para otaku, atau, yah, sebut saja para penggila anime, dengan mendandani para pelayannya menyerupai karakter dalam suatu anime.

Di Korea sendiri keberadaannya terhitung cukup jarang, dan Shinbi baru menemukan satu yang seperti ini di Rainbow Dust. Bedanya, konsep yang ditawarkan Rainbow Dust memang sama-sama mengusung tema butler, namun sama sekali tidak mengangkat tema anime. Para butler berpenampilan seperti biasa, tidak ada yang berdandan secara berlebihan, kecuali untuk seragam berupa setelan formal yang memang menjadi peraturan wajib untuk para butler yang bekerja di Rainbow Dust.

Kebanyakan tamu yang datang adalah wanita, jelas karena memang itulah tujuan Raibow Dust memperkerjakan banyak pelayan laki-laki di cafénya (yang akhirnya membuat Shinbi sadar mengapa Yoojung memilihnya untuk menempati jabatan sebagai tenaga pembersih). Para tamu tidak hanya akan disuguhi makanan atau minuman selama berada di café ini, tetapi juga pilihan butler untuk melayaninya. Butler bertugas untuk menemani para tamu selagi menyantap makanan dengan mengajaknya mengobrol, bercanda, atau bermain. Dalam melakukan tugasnya, para butler sebisa mungkin harus menyenangkan hati para tamu yang sedang dilayaninya dan memperlakukan mereka bak seorang putri. Ini terlihat dari setiap tutur kata dan gerak-gerik para butler yang diharuskan terlihat sedemikian sopan. Bahkan, untuk ke kamar mandi saja, para butler diwajibkan untuk mengantar dan menunggu tamunya, lalu mengantarkannya kembali ke meja bila telah selesai. Pendek kata, Rainbow Dust tak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga jasa seorang butler yang membuat café ini memiliki daya tariknya sendiri dan menjadikannya sebagai café yang selalu ramai didatangi oleh pengunjung setiap hari, yang tentunya lebih banyak berasal dari kalangan gadis-gadis muda.

Tak heran bila Yoojung mengiming-iminginya dengan gaji yang cukup besar. Mungkin karena harga makanan dan minuman yang ditawarkan di café ini memang cukup mahal. Shinbi maklum, keberadaan seorang butler yang menjadi ciri khas di café ini pastilah yang membuat harga menunya berada di atas rata-rata.

Sambil membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh salah satu tamu, gadis itu mengomel dalam hati. Kalau ia punya uang seperti gadis-gadis yang datang kemari, ia pasti akan lebih memilih untuk menabungnya demi biaya kuliah atau keperluan lain yang lebih penting. Terkadang, Shinbi hanya tak habis pikir dengan jalan pikir para orang berada dalam mencari kesenangan. Apa orangtua mereka tidak pernah menasihatinya untuk tidak menghamburkan-hamburkan uang? pikirnya.

“Shinbi.”

Merasa dipanggil, Shinbi segera menolehkan kepala. Di hadapannya, ada Lee Seokmin yang sedang membawa nampan berisikan makanan dan minuman. Laki-laki berkacamata itu lantas mengendikkan dagunya ke arah lorong kecil yang berada di tengah-tengah ruangan café yang menghubungkan dapur dan anak tangga menuju lantai dua.

“Taehyung Hyung bilang membutuhkan bantuanmu di dapur. Kita hampir kehabisan piring dan gelas bersih.”

Shinbi menangkap isyarat adanya tugas baru yang harus ia laksanakan saat ini lantas cepat-cepat membungkuk patuh. “Baik, Sunbaenim. Saya akan segera ke sana.”

“Semangat!” Seokmin berbisik sembari tersenyum lebar sebelum akhirnya meninggalkan Shinbi dan menghampiri meja tempat tamunya sudah menunggu.

Meski baru bekerja dua hari, Shinbi mengenal sosok Lee Seokmin sebagai sosok yang ramah. Tipikal pemuda yang cukup supel dan dapat bergaul dengan baik dengan siapa saja, termasuk kepada Shinbi yang notabenenya berstatus sebagai pegawai baru. Shinbi berinisiatif memanggilnya dengan embel-embel sunbae karena bagaimanapun, menurutnya Seokmin adalah senior yang bekerja terlebih dulu di Rainbow Dust dan sudah sepatutnya dihormati. Meski sebelumnya Seokmin sendiri sudah mengatakan bahwa ia dan Shinbi tidak terpaut umur yang jauh dan malah sama-sama masih duduk di tingkat akhir bangku SMA, gadis itu tetap saja merasa sungkan.

Hanya saja yang membuat Shinbi tak habis pikir mengenai Seokmin adalah ucapan Seungkwan tempo hari, ketika pemuda yang ditemuinya sejak hari pertama menginjakkan kaki di Rainbow Dust itu memperkenalkan satu per satu staf di hari pertama Shinbi mulai bekerja. Seungkwan bilang, Seokmin adalah sosok pertama yang harus dihindari oleh Shinbi jika ingin mengecap kehidupan yang damai ketika bekerja di Rainbow Dust.

“Jauhi dia,” Shinbi ingat Seungkwan berbisik seperti itu kepadanya kemarin. “Seokmin itu berbahaya. Jangan tertipu oleh penampilannya, karena dia sebenarnya adalah seorang—“

Ucapan laki-laki itu terputus karena Seokmin sudah terlanjur mengejarnya sambil melayangkan tinju ke arahnya yang membuat Seungkwan langsung lari terbirit-birit.

“Apa yang baru saja kau katakan kepada junior kita?! Hei, Boo Seungkwan! Kau pasti ingin menjatuhkan namaku, ‘kan?! Hei! Kubilang berhenti, Seungkwan! Dasar tukang gosip!”Seokmin terus berseru seraya mengejar laki-laki itu, yang kemudian membuat Shinbi yang ikut melihat adegan tersebut sedikit menaruh geli juga. Rupanya hari pertama bekerja tidak seburuk seperti yang pernah ia pikirkan sebelumnya. Para staf Rainbow Dust yang hampir keseluruhannya dipenuhi oleh orang-orang yang ramah cukup mampu menghapus ketegangan yang dirasakan oleh Shinbi dan mulai membuatnya betah meski baru bekerja selama satu hari—dan dua hari, terhitung dengan hari ini.

Yang meskipun sedikit disesali olehnya, mengapa hampir keseluruh staf tersebut juga harus berasal dari kaum Adam? Membuat Shinbi merasa seperti seorang gadis yang terdampar di tengah-tengah sarang penyamun.

Shinbi sudah sampai ke lorong yang menghubungkannya dengan dapur lalu menemukan sosok lelaki lainnya sedang berdiri di dekat pintu dapur. Posisinya sedang membelakangi Shinbi. Karena tidak dapat melihatnya secara lebih jelas, Shinbi mengasumsikan bahwa laki-laki itu sedang berdiam diri—sambil menatap ke arah anak tangga? Kalau Shinbi tidak mengenali sosoknya, mungkin gadis itu sudah akan mengira makhluk di hadapannya itu sebagai patung lantaran sama sekali tidak ada gerakan yang tercipta di tubuhnya, membuatnya terlihat seakan-akan membeku di tempat.

Sunbaenim?” Shinbi memberanikan diri untuk menyapa, masih dengan kerutan halus yang tampak di dahinya. Gadis itu bertanya sambil mengernyit heran, “Sedang apa?”

Laki-laki itu menoleh. Dia Wen Junhui, butler lain yang juga ditemui oleh Shinbi saat hari pertama bertandang kemari. Laki-laki yang tak sengaja bertemu pandang dengannya tempo hari dan membalas senyuman Shinbi dengan ekpresi dingin. Seungkwan bilang (ya, laki-laki inilah yang berjasa menjadi gudang informasi bagi Shinbi), tidak ada yang mampu membedakan ekspresi Junhui ketika sedang merasa senang ataupun merasa sedih lantaran air mukanya yang tak pernah berubah. Dingin, kaku, seperti pintu kulkas (Seungkwan yang menganalogikannya seperti itu). Junhui juga tak banyak bicara dan hanya bicara seperlunya saja di kalangan para staf, bahkan di kalangan para tamu. Junhui tidak terlalu pandai berkomunikasi, namun imej cool yang melekat pada dirinyalah yang membuatnya cukup populer di kalangan para tamu.

Satu hal lagi informasi yang Shinbi dapatkan dari Seungkwan mengenai Junhui, kabarnya, Junhui mampu melihat hantu. Hal ini yang kemudian mengantarkan Seungkwan pada suatu kesimpulan aneh, “Mungkin Junhui tidak suka bicara dengan manusia karena dia lebih suka mengobrol dengan hantu.”

Mulanya, Shinbi tidak percaya. Jelas, gadis itu masih setia menggunakan akal sehatnya dan menganggap ucapan Seungkwan itu tak lebih dari sekedar candaan atau kabar burung. Namun, melihat Junhui secara langsung sedang melamun di dekat pintu dapur dan menatap kosong ke arah anak tangga sedikitnya membuat Shinbi bergidik juga. Apa benar jika laki-laki itu mampu berkomunikasi dengan hantu?

“Di sana,” Junhui menunjuk ke arah anak tangga, lagi-lagi dengan tanpa ekspresi.

Shinbi menahan napas, takut-takut jawaban Junhui adalah hal yang selaras dengan yang ia pikirkan. Tidak mungkin, ‘kan, kalau di café ini ada… Bulu kuduk Shinbi terlanjur merinding membayangkannya.

“Di dekat anak tangga terakhir,” tambah Junhui lagi, masih setia mengarahkan telunjuknya ke tempat yang sama. “ada sarang laba-laba.”

Kalau tubuh Shinbi terbuat dari balon, mungkin sekarang tubuhnya sudah terhempas karena kehilangan gasnya dan melayang-layang di udara. Shinbi lantas berdecak dalam hati. Kukira ada apa!

“Maaf, sepertinya saya kurang teliti, nanti akan saya bersihkan, Sunbaenim.” Shinbi membungkuk sebagai permintaan maaf.

“Tidak apa-apa, tidak usah dibersihkan.” suara dingin Junhui kembali mengudara.

“Lho, memangnya kenapa, Sunbaenim?” tanya Shinbi bingung. Ia kira maksud Junhui memerhatikan keberadaan sarang laba-laba adalah untuk menunjukkan salah satu kecerobohan Shinbi yang kurang teliti dalam membersihkan seluruh sudut café.

“Sebab ‘mereka’ menyukai tempat yang juga dihuni oleh laba-laba.”

“Me-mereka siapa, Sunbaenim?

“Mereka,” Junhui menjawab sambil menatap Shinbi ke manik matanya yang paling dalam. Shinbi rasanya tercekat oleh kekuatan tak kasat mata. Hawa dingin tiba-tiba kembali menyelubunginya seiring dengan tatapan dingin Junhui yang begitu menusuk.

“Mereka yang terkadang tak terlihat.”

Kalau diumpamakan seperti menonton film horror, mungkin ini adalah momen di mana sang hantu memperlihatkan diri yang membuat sang pemeran utama dan penonton berteriak ketakutan. Tapi, ketimbang berteriak histeris di hadapan Junhui sekarang, Shinbi memilih buru-buru pamit mohon diri dan melesat masuk melewati pintu dapur. Mungkin ucapan Seungkwan tentang Junhui tempo hari benar, dan mungkin mulai detik ini Shinbi juga harus menghindari tempat di dekat anak tangga dan tempat-tempat lainnya yang dihuni oleh laba-laba. Iya, harus!

“Oh, anak baru! Cepat bantu kami mencuci tumpukan gelas dan piring kotor ini! Kita tidak punya banyak waktu—oi, Chan! Whipped cream-nya sudah belum??”

Seruan seorang lelaki menyambut kedatangan Shinbi. Dia Kim Taehyung, staf yang menjabat sebagai head chef, dan merupakan sosok kedua yang dianjurkan oleh Seungkwan untuk dihindari. Entah karena alasan apa, mungkin karena laki-laki ini cenderung cerewet. Terlihat dari bagaimana ia mengomando Chan dan Yeri yang kini sedang tergopoh-gopoh menyiapkan makanan dan minuman di dalam dapur. Suasana sibuk seperti ini memang sudah terlihat sejak hari pertama Shinbi datang ke Rainbow Dust.

Kim Yeri, yang sedang menghias sepotong cake menyempatkan diri untuk menyapa Shinbi, meski dengan kondisi wajah yang berlumuran krim dan terigu.

“Halo, Shinbi Unnie!” sapanya riang sambil melirik ke arah Shinbi sekilas lalu kembali menggeluti pekerjaannya yang belum terselesaikan.

Chef lainnya, Lee Chan, tak mau ketinggalan turut menyapa Shinbi, meski ia terlihat sedang berjalan mondar-mandir menyiapkan suatu hidangan lalu berpindah ke hidangan lainnya.

“Halo, Noona—eh, Yeri, kau tahu di mana kita menyimpan buah ceri??” katanya tanpa sama sekali menoleh ke arah Shinbi dan tetap berjalan ke sana kemari mencari benda yang dimaksud.

Alih-alih mendapat jawaban dari Yeri, Taehyung yang sedang menyiapkan pasta menyambarnya dengan seruan galak, “Astaga, Chan! Bukannya kau baru saja mencucinya?? Coba cari di dekat wastafel!”

“Ba-baik, Hyung!” Chan buru-buru berlari menghampiri wastafel, lalu cepat-cepat kembali untuk menyelesaikan kopi Americano yang tengah ia buat. Sementara Taehyung kembali berseru memanggil Shinbi yang masih terpaku di bibir pintu.

“Shinmi, anak baru—oh, siapapun kau! Cepat cuci piring dan gelasnya! Jangan melamun saja di situ!”

“Ba-baik, Sunbaenim!” Shinbi terkesiap dan cepat-cepat menghampiri wastafel yang dipenuhi oleh tumpukan peralatan makan habis pakai yang menunggu untuk dibersihkan, yang juga mengambil posisi hampir berada di dekat Taehyung yang sedang menumis bumbu.

Shinbi dengan sigap mengambil sarung tangan sebelum memulai mencuci. Satu demi satu peralatan makan ia cuci bersih dan keringkan, meski kemudian beberapa peralatan makan habis pakai lainnya menyusul ketika salah satu dari beberapa butler yang telah selesai melayani tamu mengantarkannya untuk dicuci oleh Shinbi. Terkadang, Chan, Yeri, dan Taehyung pun terlihat bolak-balik untuk mengambil peralatan makan yang sudah dikeringkan untuk kemudian kembali diisi oleh hidangan yang siap disuguhkan. Shinbi tahu bahwa pekerjaannya ini pasti tidak akan berlangsung sebentar.

“Anak baru.”

Shinbi tidak tahu berapa lama persisnya ia mencuci peralatan makan, namun yang jelas kakinya mulai terasa pegal dan ia sendiri pun mulai merasa jemu membilas belasan piring dan gelas yang rasanya tak ada habisnya. Dan ini adalah pertama kalinya Taehyung memanggilnya kembali setelah memberi perintah kepada Shinbi untuk membersihkan peralatan makan.

“Ya, Sunbaenim?

“Panggil aku dengan nama saja. Namaku Taehyung.”

Um, baik, Taehyung… Sunbaenim.

“Ya, mau sunbae atau oppa, atau namaku saja terserah.” ujar Taehyung sembari menekuni kegiatan barunya mengiris sayur-sayuran. “Atau kau memang memanggil semua staf di sini dengan panggilan sunbae karena kau belum bisa mengingat nama-nama mereka?”

Shinbi sontak memasang ekspresi salah tingkah. Triknya baru saja diketahui oleh Taehyung. Salah satu alasan mengapa Shinbi tetap memanggil seluruh staf dengan sebutan sunbae memang lantaran dirinya belum mampu mengingat nama seluruh staf yang bekerja di Rainbow Dust satu per satu. Gadis itu akhirnya hanya mampu menyengir kikuk.

Um, ya, kurang lebih begitu, Sunbaenim. Saya memang belum terlalu bisa mengingatnya dengan baik. Hehe.”

“Ah, sudah kuduga!” Taehyung mengacungkan pisaunya ke arah Shinbi yang hampir membuat gadis itu berjengit dari tempatnya berdiri. “Sepertinya aku harus melakukan tes agar kau bisa mengingat nama dari seluruh staf yang ada di sini!”

“Te-tes?” ucap Shinbi terbata-bata. Matanya belum mampu berpaling dari pisau yang sedang digenggam oleh Taehyung, takut-takut kalau lelaki itu sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan alat pemotong tersebut. Untungnya, Taehyung sudah menarik pisaunya untuk kembali memotong-motong sayuran sehingga Shinbi dapat menarik napas lega.

“Awalnya aku juga kesulitan menghapal seluruh nama laki-laki di bawah umur itu, tapi lama-kelamaan akhirnya bisa ingat juga. Memang sedikit membutuhkan perjuangan, ya?” Taehyung berujar lagi masih sambil menekuni pekerjaannya.

“Sekarang, aku akan menyebutkan ciri-ciri dari salah satu staf yang ada di sini dan yang harus kau lakukan adalah menyebutkan nama dari staf yang kumaksud.” lanjutnya.

“Ba-baik, Sunbaenim.” Shinbi menurut saja, meski dengan raut wajah aneh. Tambahan lagi oleh rasa takut kalau-kalau ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Taehyung maka pisau yang sedang digenggam lelaki itu akan kembali melayang ke arahnya.

“Baik, mari kita mulai.” Taehyung mengangkat kepala dan mulai menatap Shinbi.

Butler yang fisiknya seperti orang asing?”

Um, Hansol?” Shinbi terlihat ragu.

“Benar! Lalu, butler yang tubuhnya pendek dan—“

“Oh, Jihoon!”

“Kurasa clue pertama itu terlalu mudah, ya? Baik, selanjutnya, butler yang paling terkenal di sini?”

Um, Wonwoo?” Shinbi lagi-lagi terlihat ragu.

“Ah, bukan! Maksudku bukan player yang senang menggombali wanita itu! Itu, um, clue-nya, butler yang berpenampilan androgini!” tukas Taehyung.

“Oh, ya, Junghan!” jawab Shinbi semangat.

“Betul!” Taehyung mengiyakan dengan tak kalah semangat. “Selanjutnya, butler yang tangannya mampu merusak barang!”

“Joshua!”

“Benar!”

Keduanya lantas terbahak. Tanpa sadar Shinbi malah menikmati permainan tebak-tebakan dadakan yang diajukan Taehyung. Apalagi untuk tebakan yang terakhir, rasanya Shinbi ingin tertawa geli. Hong Jisoo, atau butler yang lebih dikenal dengan nama Joshua di kalangan para tamu itu memang dikenal karena kebiasaannya memecahkan perabotan. Bukan karena ceroboh atau apa, namun staf Rainbow Dust lainnya memang beranggapan bahwa tangan Jisoo seakan memiliki kemampuan khusus untuk merusak barang apa saja yang dipegangnya. Kemampuan yang memang sedikit mengerikan.

“Kudengar kau satu sekolah dengan Mingyu dan Hoshi?” tanya Taehyung. Laki-laki itu selesai melontarkan tebak-tebakan dan sudah kembali pada pekerjaannya.

“Iya, Sunbaenim. Kebetulan saya, Mingyu, dan Soonyoung adalah teman sekelas.” Shinbi membenarkan, juga masih sambil membilas piring yang tengah dicucinya.

“Oh, kau memanggilnya Soonyoung?” tanyanya lagi, tampak sedikit heran. “Hampir semua orang yang ada di sini tidak ada yang memanggilnya dengan nama asli, baik para tamu maupun staf. Kukira hubungan kalian pasti sangat akrab, ya?”

“Tidak juga, Sunbaenim. Sejujurnya, baik Soonyoung maupun Mingyu, saya tidak terlalu dekat dengan keduanya di sekolah.” Shinbi menjawab hati-hati.

“Eh, yang benar? Seungkwan bilang, kau dan Mingyu berpacaran.”

Piring yang sedang dicuci oleh Shinbi hampir saja tergelincir menabrak wastafel. Wajah gadis itu dengan segera berubah merona.

“Itu sama sekali tidak benar, Sunbaenim. Kami hanya berteman, tapi memang Mingyu yang menolong saya untuk bekerja di sini.” Shinbi mencoba menjelaskan.

“Oh, begitu. Ck, seharusnya aku tidak boleh percaya begitu saja pada setiap ucapan si biang gosip itu.” Taehyung kemudian bersungut. Sementara Shinbi memilih untuk diam, meski dalam hatinya ikut menyalahkan sosok Seungkwan. Jangan-jangan seluruh staf Rainbow Dust telah salah mengira hubunganku dengan Mingyu? Aduh..

“Apa Shinbi ada di sini??”

Sebuah suara mengejutkan mereka dari ambang pintu dapur. Lee Jihoon, yang merupakan salah seorang butler tahu-tahu sudah berdiri di sana dan tampak terlihat panik.

“Iya, saya ada di sini, Sunbaenim. Ada apa?” Shinbi menyahut.

“Tolong bersihkan pecahan gelas di dekat meja nomor 11, ya! Barusan Jisoo Hyung tidak sengaja memecahkan sebuah gelas. Tolong cepat! Jangan sampai ada pecahan yang mengenai tamu yang lewat.”

Setelah selesai memberikan instruksi, Jihoon pun berlalu dari pintu. Taehyung dan Shinbi saling bertukar pandang sebentar sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

“Padahal baru saja barusan kita membicarakan anak itu.” Taehyung tergelak.

“Saya izin membersihkannya dulu, Sunbaenim.” Shinbi mohon diri.

“Iya. Hati-hati, jangan lupa mengenakan sarung tangan supaya tanganmu tidak tergores.”

Shinbi membalas pesan Taehyung dengan anggukan kemudian segera melangkah meninggalkan dapur. Diambilnya sapu dan pengki kemudian bergegas menuju tempat yang dimaksud oleh Jihoon. Benar apa kata laki-laki itu, di sana masih ada Hong Jisoo yang tengah berjongkok membersihkan pecahan gelas yang berserakan.

“Biar saya yang membersihkannya, Sunbaenim.

Jisoo yang masih dalam keadaan berjongkok kemudian bangkit berdiri dan beralih menatap Shinbi dengan pandangan menyesal. “Maaf, ya.”

“Tidak apa-apa, Sunbaenim.” Shinbi tersenyum kemudian segera melaksanakan tugasnya membersihkan pecahan gelas dan menyapukannya ke dalam pengki.

“Sini, biar aku bantu.” Jisoo berinisiatif untuk kembali memungut pecahan-pecahan itu, namun buru-buru dihalangi oleh Shinbi.

“Tidak apa-apa, Sunbaenim. Biar saya saja. Nanti tangan Sunbaenim bisa terluka.”

Atau pecahan ini bisa-bisa malah akan semakin bertambah banyak kalau Jisoo yang menyentuhnya, Shinbi menambahkan dalam hati.

“Harusnya aku yang bilang begitu. Tidak apa-apa, ini kesalahanku.” Jisoo bersikeras, tetapi Shinbi lebih keras melarangnya.

“Tidak apa-apa, Sunbaenim. Sungguh. Biar saya saja yang membersihkannya. BukankahSunbaenim juga masih ada pekerjaan yang harus dilakukan?”

Awalnya Jisoo terlihat ragu-ragu, namun pada akhirnya menyanggupi ucapan gadis itu.

“Baik, kuserahkan padamu, Shinbi. Sekali lagi, maaf, ya.”

Jisoo kemudian berbalik meninggalkan tempat itu dan kembali menghampiri meja tamu yang tadi masih harus dilayani olehnya. Tinggalah Shinbi yang kini harus berkutat dengan pecahan gelas yang berserakan. Gadis itu menyapukannya dengan hati-hati. Setelah memastikan pecahan gelas itu sudah tersapu seluruhnya, Shinbi lalu berjongkok untuk mengamati, takut-takut ada pecahan berukuran kecil yang luput dari pengamatannya.

Suasana café petang itu memang cukup ramai. Hampir seluruh meja di sudut ruangan dalam kondisi terisi oleh tamu, baik yang telah ditemani oleh butler, maupun yang masih menunggu kedatangan butler-nya. Namun, suasana ramai seperti ini tak lantas mengaburkan pendengaran Shinbi akan celotehan para tamu yang kini sedang asyik membicarakan dirinya. Ini yang Shinbi tak suka ketika harus menampakkan diri di hadapan para tamu untuk membersihkan ruangan café, pasti akan selalu ada tamu yang memperhatikannya dengan pandangan penuh selidik, seakan-akan dirinya adalah alien yang baru saja terdampar di planet bumi.

“Eh, Yooyoung, kau lihat pegawai perempuan yang di sana itu?”

Berjarak beberapa meter dari tempatnya sekarang, Shinbi dapat mendengar seorang tamu membicarakan dirinya. Shinbi berusaha terlihat tidak peduli, tapi lantaran sedikit gemas akhirnya memaksanya untuk menoleh guna melihat siapa yang tengah membicarakan dirinya saat itu. Ternyata dua orang wanita, tamu yang sedang duduk di meja nomor 9.

“Wah, aku baru melihatnya di sini. Apa dia pegawai baru?” salah seorang wanita menimpali pertanyaan yang datang dari temannya itu.

“Kukira Rainbow Dust hanya memperkerjakan laki-laki, tapi kenapa sekarang ada staf wanita, ya?” sambungnya, masih bertanya-tanya.

“Aku pikir juga begitu.” Kim Hyerim, wanita yang sedari tadi terus menghujani Shinbi dengan tatapan menyelidik itu membalas. “Pintar sekali ya, dia? Memilih Rainbow Dust sebagai tempat bekerja. Hidupnya pasti bahagia sekali sekarang karena dikelilingi olehbutler-butler yang juga bekerja di tempat ini.”

Shinbi berusaha bersikap tenang, walaupun saat ini ia tak lagi memiliki konsentrasi untuk mengamati pecahan-pecahan kecil yang masih berserakan di lantai. Kalau ia tak sabar, mungkin ia sudah akan melempar setiap pecahan gelas yang didapatnya ke kepala para tamu yang selalu datang membicarakannya. Seperti Kim Hyerim, yang saat ini masih tak henti memperhatikan Shinbi dengan tatapan sinis, bersama temannya, Lee Yooyoung.

“Kau benar, Hyerim. Tujuannya bekerja di Rainbow Dust pasti tak lain karena ia ingin dikelilingi oleh butler-butler tampan yang bekerja di sini. Kenapa tidak terpikirkan olehku, ya? Mungkin seharusnya aku juga melamar pekerjaan saja di sini. Bagaimana menurutmu, Hyerim?” timpal Yooyoung.

“Kalau aku, sih, tidak akan mau melamar pekerjaan rendahan seperti itu hanya untuk dekat dengan laki-laki. Seperti wanita murahan saja.” komentar Hyerim.

“Iya juga, lagipula gajinya pun pasti tidak akan seberapa, ya?” tanggap Yooyoung setuju.

Shinbi berusaha untuk memasang sikap acuh tak acuh dan pura-pura tidak mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua gadis itu. Meski begitu, telinganya sudah cukup terasa panas dan darahnya seakan menggelegak di dalam tubuh. Bagaimanapun, sekesal apapun ia mendengarkan ocehan kedua orang itu, tetap saja dia tidak akan mampu membalas karena apa yang dikatakan Hyerim barusan setidaknya memang benar. Siapa ia, yang hanya berstatus sebagai pegawai rendahan berpikir hendak melawan seorang tamu yang secara tidak langsung merupakan sumber dana dari gaji yang diperolehnya? Daripada kesabarannya habis sewaktu-waktu mendengar para tamu membicarakan dirinya, Shinbi mencoba menahan diri dan memutuskan untuk segera angkat kaki dari tempat itu untuk membuang pecahan gelas yang barusan dibersihkannya.

“Saya rasa bekerja di sini sebagai tenaga pembersih malah jauh lebih baik ketimbang membuang-buang uang dan menghabiskan waktu bersama para butler yang tampan.”

Shinbi mengurungkan niatnya untuk melangkah dan segera menoleh ke asal suara. Kwon Soonyoung, menghampiri meja nomor 9 yang ditempati Hyerim dan Yooyoung sembari membawa nampan berisikan berbagai hidangan makanan dan minuman. Ucapan bernada pedas yang baru saja dilontarkannya barusan sama sekali tak selaras dengan ekspresi wajahnya sekarang yang berhiaskan senyuman.

“Kami bekerja memang karena kami membutuhkan uang, bukan untuk mengambil keuntungan tertentu. Kalau hanya sekedar dikelilingi oleh laki-laki tampan, kenapa tidak datang saja ke sini lalu memilih butler manapun yang Nona suka? Ketimbang harus lelah berpeluh-peluh sedemikian rupa dan bekerja ke sana kemari membersihkan ruangan.” Soonyoung berkata lagi dengan nada kalem sambil menata hidangan yang dibawanya ke atas meja Hyerim dan Yooyoung. Shinbi dapat melihat wajah kedua gadis itu kini telah berubah warna seperti tomat matang.

“Sebelumnya, perkenalkan, nama saya Hoshi. Dan saya yang berkesempatan untuk melayani Nona-Nona hari ini.” Soonyoung membungkuk penuh hormat sebelum kemudian menggeser salah satu kursi di dekat kursi Yooyoung dan mendudukkan dirinya di sana.

Hyerim dan Yooyoung saling berpandangan, sebelum akhirnya Hyerim yang pertama kali memberikan reaksi. “Tapi kami telah memesan Cheonsa untuk menjadi butler kami hari ini. Kami bahkan telah melakukan reservasi dari jauh-jauh hari.” gadis itu mengajukan protes.

“Saya mohon maaf sebelumnya, dikarenakan jadwalnya yang cukup padat, Butler Cheonsa telah lebih dulu meninggalkan café karena ada urusan mendadak. Jadi untuk hari ini, saya yang akan menggantikan Butler Cheonsa untuk melayani Nona. Saya harap Anda sekalian tidak keberatan.” jelas Soonyoung dengan senyuman yang masih terpatri di wajahnya.

Sementara Shinbi, yang melihat adegan itu dari kejauhan hanya mampu melongo. Mungkin barusan ia hanya salah dengar, atau kelewat percaya diri? Tapi Soonyoung seakan-akan baru saja membelanya dari Hyerim dan Yooyoung.

Hyerim kelihatannya masih tidak menyukai kedatangan Soonyoung, apalagi ketika laki-laki itu mengomentari ucapannya mengenai Shinbi. Parasnya masih mengeruh tatkala harus bertatapan dengan Soonyoung yang kini telah bergabung di mejanya bersama Yooyoung.

“Sebagai butler, seharusnya kau tidak mengatakan hal seperti barusan. Kau harusnya menghargai tamu. Aku bisa saja melaporkan kejadian ini kepada pimpinan kalian nanti.” ujar Hyerim, lebih kepada mengancam. Namun Soonyoung sama sekali terlihat tak acuh dan senantiasa memasang sikap tenang.

“Kami menghargai para tamu yang juga menghargai kami. Tidak berarti karena tamu memiliki uang sehingga tamu tersebut dapat merendahkan kami seenaknya.” tanggap Soonyoung kalem.

“Maksudmu, aku merendahkan kalian, begitu?” Hyerim mulai kelihatan tidak senang, sementara Yooyoung lebih memilih untuk bungkam. Wajah gadis teman Hyerim itu telah semakin berubah merah padam sejak Soonyoung memutuskan untuk duduk di sampingnya.

“Saya tidak bilang bahwa tamu yang saya maksudkan adalah Nona.” Soonyoung tetap kelihatan tenang. “Sebelumnya, mohon maaf, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya sarankan sebaiknya Nona mulai mencicipi hidangan yang telah kami siapkan sebelum hidangannya berubah menjadi dingin, bagaimana?”

Hyerim mendengus dan mulai mengambil sendok beserta garpu, diikuti oleh Yooyoung. Meski hanya mampu melihat dari kejauhan, Shinbi tahu bahwa kedua gadis itu pasti telah kehilangan selera makan. Apalagi dengan kehadiran Soonyoung yang harus terus-menerus berada di situ untuk menemani keduanya. Shinbi diam-diam tertawa dalam hati melihat ekspresi keruh Hyerim dan Yooyoung tatkala menyantap hidangan yang disajikan. Gadis itu merasa rasa kesalnya sudah terbalaskan. Haruskah ia berterima kasih kepada Soonyoung setelah ini?

“Shinbi, kalau sudah selesai tolong kau bersihkan meja nomor 1, ya!”

Suara Choi Seungcheol, butler lainnya, segera membuyarkan lamunan Shinbi. Sosok jangkungnya menghampiri Shinbi sekilas sebelum kemudian berbalik kembali untuk menyapa tamu yang baru memasuki café.

“Ba-baik, Sunbaenim!” Shinbi membungkuk patuh lantas bergegas membawa pengki berisi pecahan-pecahan gelas itu untuk dibuang.

***

Setelah dibuka untuk para tamu dari sore hari hingga malam hari, akhirnya Rainbow Dust resmi ditutup ketika waktu telah menunjukkan pukul 9 malam kurang 15 menit. Tidak seperti beberapa saat yang lalu ketika lantai satu masih ramai oleh para tamu, kali ini suasana di dalam ruangan Rainbow Dust lebih didominasi oleh keheningan. Kursi-kursi hampir seluruhnya telah dinaikkan ke atas meja. Para butler tidak kelihatan lagi berlalu-lalang, sebagian ada yang telah pulang, dan sebagian lagi ada yang memutuskan untuk berdiam diri di dalam café lebih lama. Sebagian chef, ada yang pulang terlebih dulu—Yeri sudah ikut pulang bersama Yoojung, sementara Taehyung masih membereskan dapur, dan Chan, sedang menunaikan tugas akhirnya setiap malam di Rainbow Dust yakni membuang sampah.

Boo Seungkwan, sedang asyik duduk di meja yang paling sudut sembari terfokus kepada layar ponselnya, ditemani oleh Lee Seokmin yang sama-sama asyik dengan dunianya sendiri. Sebuah novel serial Sherlock Holmes bertengger manis di pangkuan tangannya. Tak jauh dari meja yang ditempati oleh kedua laki-laki itu, di meja nomor 11, duduk Choi Hansol yang tengah serius menatap layar laptopnya. Di sana terpampang situs video terbesar di dunia maya, YouTube. Namun untuk saat ini Hansol sedang tidak berminat untuk menonton video, melainkan membalas berbagai komentar yang masuk pada halaman postingan video yang diunggahnya beberapa waktu yang lalu.

150410 Sunny FM Date EXO [FULL/ENGSUB]

chanfever

Chanyeol looks so cute here omfg

            Reply to chanfever

            Channon

Yup, chan hyung always looks cute ><

ChaeRin

Thank you for subbing!❤

            Reply to ChaeRin

            Channon

U’re welcome (:

penguin930112

Thanks for the engsub! Keep it up, subber-nim. XOXO

            Reply to penguin930112

            Channon

Yes! ^^

ChanBaekLOVEs

Too bad im looking for chanbaek’s moments here but I didn’t find any ;<

EXOcarameL

Hi, I wonder if u r the same person with Chanyeol’s fansite owner: ‘Senpai! Notice Me!’ bcs her name is Shannon and u put on name ‘Channon’ here. U r also Chanyeol biased, rite?

            Reply to EXOcarameL

            Channon

No, we’re different person, dear (: Idk who she is and maybe she doesn’t know me either lol yup, I’m chanyeol stan~

CHENcing maCHEN

Hello will you sub EXO on Sukira too?

             Reply to CHENcing maCHEN

             Channon

I’ll upload it asap (: just wait

xiupau

So you are a fanboy of Chanyeol?! :O

Reply to xiupau

            Channon

            Yes! ><

Jemari Hansol asyik meliuk di atas keyboard laptopnya, sesekali laki-laki itu tersenyum sendiri ketika membaca komentar yang masuk. Hansol nampaknya terlalu larut dalam aktivitasnya sehingga tak sadar bila sepasang mata milik Kim Mingyu yang sedang berdiri sambil memegang gagang pel kini tengah melotot ke arahnya, juga kepada Seokmin dan Seungkwan.

“Jika tak ada niatan untuk membantu, kenapa kalian semua tidak menyingkir saja dari sini agar aku bisa lebih leluasa mengepel?” tanya sosok jangkung itu. Namun yang tengah ditanyai sepertinya tak sadar dan tetap tutup mulut menekuni kegiatan masing-masing.

Mingyu berdecak, mendapati dirinya diabaikan oleh para rekannya itu.

“Hansol, kau dengar aku tidak?!” ulang Mingyu, sedikit lebih keras. Yang dipanggil tampak masih asyik mengetikkan sesuatu di laptopnya.

Laki-laki dengan ras campuran kaukasia itu akhirnya menjawab tanpa berpaling. “Sebentar lagi. Aku hanya ingin mengunggah satu lagi video terbaru dari EXO sebelum pulang.”

Mingyu mendelik, beralih menatap Seungkwan dan Seokmin yang duduk di satu meja yang sama.

“Kalian juga! Mau pulang atau membantu aku dan Wonwoo Hyung bersih-bersih??” tanya Mingyu gemas.

“Pulang.” Seungkwan dan Seokmin menjawab kompak, juga sama-sama tak berpaling dari kegiatan yang tengah mereka lakukan.

Mingyu merasa kesabarannya telah mencapai batas. Gagang pel yang sedang dipegangnya ia hentakkan ke lantai lantas berseru dengan suara yang cukup menggelegar hingga membuat ketiga rekannya—Hansol, Seungkwan, Seokmin—hampir berjengit dari kursinya masing-masing.

“PULANG SEKARANG JUGA ATAU AKU AKAN IKUT MENGEPEL KALIAN DAN SEMUA BARANG-BARANG MILIK KALIAN.”

Tanpa ba-bi-bu lagi Seungkwan dan Seokmin segera berlari kocar-kacir meninggalkan meja, sementara Hansol, dengan cekatan menyelamatkan laptopnya terlebih dulu sebelum akhirnya turut mengikuti jejak Seungkwan dan Seokmin berlari ke arah lorong, naik ke lantai dua.

Shinbi tidak terlalu mengacuhkan keributan kecil itu dan tetap terfokus pada pekerjaannya mengelap meja. Sebelum ruangan ini dipel, meja-meja harus terlebih dulu dibersihkan kemudian baru kursi-kursi menyusul untuk diangkat ke atas meja. Sebagai tenaga pembersih, wajar apabila Shinbi memang harus tinggal lebih lama untuk membersihkan café. Untungnya, gadis itu tidak sendirian karena Yoojung, sang pemilik Rainbow Dust, telah berpesan bahwa setiap harinya akan ada dua orang butler yang bergiliran untuk membantunya bersih-bersih. Dan untuk hari Kamis ini adalah giliran Mingyu dan Wonwoo.

Shinbi hampir selesai dengan pekerjaannya ketika sebuah tangan tiba-tiba muncul dan memegang tangannya yang sedang menggenggam kain lap. Gadis itu refleks mendongak. Senyuman hangat seorang Jeon Wonwoo yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya menyambut tatapan penuh tanda tanya milik Shinbi.

“Kau pasti lelah, biar aku saja yang mengerjakan tugas ini, Shinbi.”

Shinbi masih menatap laki-laki itu dengan eskpresi bingung (ketimbang takjub melihat senyum Wonwoo yang biasanya mampu meluluhkan hati gadis manapun).

“Tapi, tugasnya sebentar lagi selesai, Sunbaenim. Tidak apa-apa, lagipula ini sudah tugas saya.”

“Tapi hari sudah malam, apa tidak sebaiknya kau pulang? Mau kuantar pulang?” Wonwoo menawar lagi. Sebelah tangannya masih betah berada di atas punggung tangan Shinbi.

Gadis itu baru saja akan mengutarakan penolakan ketika tiba-tiba sebuah ujung gagang pel menghantam kepala Wonwoo dan membuat laki-laki itu meringis. Tangannya yang tadi masih bertaut dengan tangan Shinbi kini sudah berpindah ke atas kepala, mengelus-elus bagian yang terasa sakit.

“Tugas Hyung sekarang adalah bersih-bersih, bukannya menggoda wanita!” ujar Mingyu galak.

“Iya, iya! Aku juga sedang melakukan tugasku, kau tidak lihat?!” Wonwoo balas membentak.

“Menggombali wanita tidak ada dalam daftar tugas kita sekarang! Lebih baik Hyungmembereskan seluruh kursi dan meja sebelum aku mulai mengepel!”

“Iya, aku bereskan!” Wonwoo mendengus sebelum kemudian berlalu. Sementara Shinbi masih tak lepas memandangi dua laki-laki itu dengan tatapan bingung.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Mingyu pada gadis itu. Shinbi hampir saja mengira bahwa Mingyu sedang bertanya kepadanya tentang Wonwoo, kalau laki-laki itu tidak segera melanjutkan ucapannya.

“Hari sudah hampir larut, tidak apa-apa kalau kau pulang di jam-jam seperti ini?” sambungnya. Barulah Shinbi dapat menangkap apa yang dimaksud oleh lelaki itu.

“Tidak apa-apa, bus ke arah rumahku masih ada sampai pukul 10, kalau aku tak salah.” jawab Shinbi.

“Bukan itu maksudku.” tukas Mingyu. “Dengar, aku tahu zaman sudah berubah dan mungkin anak-anak sekolah seperti kita terlihat keluyuran di jam malam seperti ini pun bukan lagi menjadi pemandangan yang aneh. Tapi, kalau aku menjadi seorang ayah dan punya anak gadis seusiamu, aku tidak akan membiarkan putriku pulang larut malam seorang diri.”

Shinbi tersenyum hambar. Mendengar Mingyu menyinggung soal ayah, ia jadi teringat reaksi keluarganya ketika gadis itu mengutarakan niatannya untuk bekerja di hadapan mereka dua hari yang lalu. Saat itu ia dan keluarganya tengah melangsungkan makan malam, ketika Shinbi bercerita bahwa dia telah mendapatkan pekerjaan di sebuah café sebagai tenaga pembersih. Shinbi telah berusaha menjelaskannya dengan hati-hati dan menyebutkan bahwa ia sedang menabung demi biaya kuliahnya kelak, namun tetap tak mendapat reaksi yang memuaskan dari Minhyun, kakak lelakinya. Mulanya mereka terlihat cukup terkejut, apalagi Minhyun yang terang-terangan menolak gagasan Shinbi untuk bekerja karena memikirkan usia adiknya itu yang masih harus bersekolah. Namun, ketika Shinbi mengatakan bahwa dirinya telah diterima dan sudah bisa bekerja keesokan harinya, Minhyun tidak banyak bicara lagi dan akhirnya mulai mengalah. Laki-laki itu kemudian hanya berpesan agar Shinbi dapat membagi waktu dan menjaga diri.

Sementara Nyonya Hwang, ibu Shinbi, tidak terlalu banyak berkomentar. Mulanya beliau pun terlihat begitu terkejut, tapi akhirnya memilih untuk merespon niatan putri bungsunya itu dengan tenang. Nyonya Hwang memutuskan untuk memberikan izin kepada Shinbi untuk bekerja dan menitipkan pesan yang sama seperti Minhyun kepadanya.

Yang paling tidak bisa ditebak adalah reaksi Tuan Hwang, ayah Shinbi. Ketika Shinbi selesai mengutarakan niatnya, pria paruh baya itu hanya menanggapi cerita Shinbi dengan diam. Tak berapa lama kemudian, beliau pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makan malamnya lalu masuk ke dalam kamar. Kendati sama sekali tak mengatakan apapun, Shinbi tahu bahwa ayahnya itu pasti juga sama tak setujunya dengan Minhyun untuk menghendaki gadis itu bekerja paruh waktu. Mungkin beliau marah karena Shinbi sama sekali tidak mendiskusikan hal ini dengannya terlebih dahulu dan langsung saja mencari pekerjaan sendiri, setidaknya gadis itu berpikir demikian.

“Kau mau aku, atau Wonwoo Hyung, untuk mengantarmu pulang?” Mingyu bertanya lagi.

Buru-buru Shinbi menjawabnya dengan gelengan. “Tidak usah, sungguh. Aku bisa pulang sendiri.”

“Baik, kalau begitu.” Mingyu terlihat berpikir, kemudian pandangannya beralih menyapu seluruh isi ruangan. “Meja-mejanya sudah kau bersihkan semua?”

“Hanya tinggal meja nomor 3.”

“Serahkan padaku dan Wonwoo Hyung saja, jadi sekarang kau bisa pulang.”

Shinbi menatap Mingyu tak yakin. “Kau serius?”

“Iya. Sebelum kau diperkerjakan di sini, memang selalu kami yang melakukan bersih-bersih setelah café ditutup. Kami melakukannya setiap hari secara bergiliran.”

“Aku tahu, tapi, rasanya tidak enak saja, seharusnya kehadiranku di sini sedikitnya membantu meringankan tugas kalian.”

“Kehadiranmu di sini tidak lantas membuat kami menjadi manja, ‘kan?”

Shinbi yang mendengarnya langsung terkekeh, sementara Mingyu hanya menyengir.

“Terima kasih, Mingyu.”

“Sudah sana, cepat pulang supaya aku bisa mengepel ruangan ini dengan leluasa.” Mingyu membuat isyarat seakan-akan mengusir Shinbi, membuat gadis itu lagi-lagi tertawa. Shinbi lantas meraih lap yang tadi ia gunakan untuk membersihkan meja dan bersiap untuk berbalik pergi.

“Oke.”

Gadis itu akhirnya berbalik dan berjalan pergi ke arah lorong yang terhubung dengan dapur dan anak tangga. Langkahnya sengaja ia percepat ketika meniti anak tangga paling bawah. Perkataan Junhui soal laba-laba petang tadi masih terngiang-ngiang di telinganya dan membuat Shinbi sedikit bergidik.

Shinbi sudah sampai di lantai dua. Suasananya terlihat lengang karena hampir seluruh staf Rainbow Dust sudah lebih dulu pulang. Gadis itu melangkah maju dan melewati ruangan Yoojung yang memang terletak paling dekat dengan anak tangga. Pintunya tertutup, seperti biasa. Lampunya tidak dinyalakan, jelas karena atasannya itu sudah pulang beberapa saat yang lalu bersama Yeri, adik perempuannya. Tidak jauh dari ruangan Yoojung, ada ruangan yang khusus diperuntukkan sebagai kamar ganti bagi para staf, yang sayangnya, lebih sering digunakan oleh staf laki-laki sehingga Shinbi sendiri merasa sungkan untuk masuk ke dalam sana. Untuk itu, ketimbang menaruh seragam sekolahnya di ruang ganti staf, Shinbi memilih untuk menaruhnya di pantry dan berganti baju di toilet.

Dan sekarang, Shinbi berniat untuk mengambil kembali baju seragam sekolahnya yang ia titipkan di pantry, setelah itu berganti baju dan bergegas pulang.

Shinbi melangkah masuk ke dalam pantry. Sama seperti ruangan lainnya, ruangan yang ditujukan untuk tempat beristirahat bagi para staf itu terlihat sepi. Hanya ada sosok Soonyoung yang terlihat sedang menikmati ramyeon dalam cup. Shinbi tidak bersuara, namun suara berderap dari sepatunya yang beradu dengan lantai berhasil menarik perhatian lelaki itu untuk segera menoleh ke arah pintu.

Shinbi urung meneruskan langkah dan hanya terpaku di bibir pintu. Keduanya saling bertukar pandang untuk sesaat.

“Oh, hai. Pekerjaanmu sudah selesai?” Soonyoung yang lebih dulu bereaksi.

“Iya.” Shinbi berusaha memberanikan diri untuk membalas, walau dengan ekspresi yang lumayan canggung. Gadis itu kembali meneruskan langkahnya untuk masuk ke bagian dalam pantry. Ransel dan tas kecil tempat ia menaruh seragamnya terletak di seberang sofa yang diduduki Soonyoung.

“Aku mau ambil baju seragam.” Shinbi berkata lagi. Perasaan canggung yang melandanya rasanya bertambah ketika ia memikirkan ucapannya yang terakhir, terkesan seakan-akan ia baru saja meminta izin kepada Soonyoung untuk memasuki ruangan pantry. Ah, kenapa pula aku harus meminta izin? pikirnya.

“Kau mau pulang?” tanya Soonyoung lagi.

“Iya.” Shinbi menjawab pendek.

Hening kembali. Yang terdengar hanyalah suara Soonyoung yang sedang menyeruputramyeon. Shinbi mengira Soonyoung sedang menikmati makan malamnya, mengingat laki-laki itu sama sekali tak muncul ketika jam istirahat saat Shinbi menyantap bekal yang dibawanya beberapa jam yang lalu di ruangan ini. Dalam hati, Shinbi merasa iba juga membandingkan makan malamnya barusan dengan milik lelaki itu. Satu cup ramyeon mana cukup untuk membuat kenyang? pikirnya.

Pikirannya tentang makan malam Soonyoung langsung lenyap, digantikan dengan tugas sosiologi yang baru-baru ini dibebankan Guru Yoon kepadanya. Shinbi ingat dirinya sama sekali belum berdiskusi tentang tugas tersebut bersama Soonyoung.

“Soonyoung.” panggil Shinbi tiba-tiba.

Hm?” Soonyoung sedang menyeruput kuah ramyeon ketika gadis itu memanggilnya. Ketika Soonyoung menurunkan cup ramyeon dari mulutnya, Shinbi dapat melihat ada seledri yang menempel di dekat bibir laki-laki itu.

“Tugas sosiologi.” Shinbi diam, memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan, namun gagal karena perasaan canggung yang masih menderanya, jadi gadis itu hanya mengungkapkan kata-kata yang sekedar lewat di otaknya.

“Aku dipasangkan denganmu.”

“Itu tugas kelompok?” Soonyoung membalas dengan pertanyaan.

“Kurang lebih begitu. Guru Yoon memasangkan anak-anak di kelas dan menyuruh untuk membuat tugas deskripsi satu sama lain. Singkatnya, aku mendeskripsikan tentang dirimu. Kau juga sebaliknya.”

“Oh.”

“Tugasnya tertulis.” Shinbi menjelaskan lagi, walaupun Soonyoung tidak meminta.

“Dikumpulkan kapan?”

“Nanti, setelah liburan musim panas.”

“Masih ada waktu.”

Shinbi dapat menangkap kesan bahwa Soonyoung tidak berminat untuk mengerjakan tugasnya dalam waktu dekat ini, dan sejujurnya, Shinbi juga. Ketidakakrabannya dengan Soonyoung yang membuatnya berpikir seperti itu. Setelah menganggap dirinya selesai dalam menyampaikan informasi, Shinbi meraih dan mengenakan ranselnya, lengkap dengan tas kecil bawaannya yang berisikan seragam sekolah. Biar setelah berganti baju nanti ia bisa langsung pulang, pikirnya.

Shinbi sudah siap meninggalkan pantry, namun urung karena ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Entah apa, namun lagi-lagi hal ini sepertinya berkaitan dengan Soonyoung. Cukup lama Shinbi berdiri di tempatnya, sampai akhirnya gadis itu teringat hal apa yang ingin ia bicarakan dengan Soonyoung sekarang.

“Soonyoung.” panggil gadis itu lagi.

“Apa?” sahut Soonyoung di sela-sela kegiatannya mengunyah ramyeon. Mulutnya yang penuh membuat suaranya jadi terdengar sedikit tidak jelas.

“Yang barusan itu, um, terima kasih.” kata Shinbi canggung.

“Soal apa?”

“Itu, saat ada tamu yang membicarakanku. Mungkin maksudmu memang bukan membelaku, tapi aku tetap merasa berterima kasih.”

“Oh, yang itu.” Soonyoung menyeka sisa-sisa kuah yang menempel di daerah sekitar mulutnya dengan punggung tangan. Untuk sebagian perempuan, tindakan seperti ini mungkin akan berkesan jorok, tapi Shinbi sama sekali tak peduli.

“Bukan apa-apa. Terkadang memang ada beberapa tamu yang seringkali bersikap seenaknya. Aku hanya tidak menyukainya saja, jadi aku mengatakan apa yang ingin kukatakan di hadapan mereka.”

Um, terima kasih.” Shinbi tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi ia hanya mengulang apa yang barusan telah ia ucapkan pada Soonyoung. Sekarang, gadis itu sedang mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk berpamitan, namun lagi-lagi gagal karena otaknya tak mampu berpikir jernih akibat perasaan canggung yang melanda.

“Tugas matematika.” Shinbi sendiri tak sadar telah mengucapkan kata-kata barusan.

“Apa?”

“Itu,” lagi-lagi Shinbi tak mampu menutupi perasaan canggungnya, jadi ia berkata dengan sedikit terpatah-patah. “tugas matematika. Kau sudah mengerjakannya?”

“Matematika? Memangnya ada tugas apa lagi?”

Shinbi menghela. Tak heran bila Soonyoung tidak tahu tentang perkembangan tugas sekolah karena Shinbi memang selalu memergoki laki-laki itu tertidur di bangkunya hampir di setiap pelajaran. Padahal sesungguhnya Shinbi sendiri juga tidak tahu mengapa ia tiba-tiba berpindah membahas topik tentang tugas matematika.

“Guru Baek memberikan beberapa latihan soal. Beliau bilang harus dikumpulkan minggu depan.”

Soonyoung tampak mengumpat. Dari reaksi yang ditunjukkan lelaki itu, Shinbi tahu bahwa Soonyoung sama sekali belum mengerjakannya. Terang saja, tentang tugas matematika pun laki-laki itu pasti baru mengetahuinya dari Shinbi barusan.

“Besok,” Shinbi lagi-lagi berucap tanpa pikir panjang. Shinbi sendiri terkejut mendapati dirinya hendak mengatakan kalimat baru.

“Ada waktu?”

“Kapan?”

Kapan? Shinbi tidak mampu berpikir. Pikirannya kacau oleh perasaan gugup yang tidak menentu. Padahal tadinya hanya ingin memikirkan ucapan untuk berpamitan, mengapa sekarang malah merambah ke sana-sini?

Shinbi berusaha mengontrol dirinya sendiri, lantas berkata, “Setelah café ditutup. Kalau mau, kita bisa mengerjakannya bersama. Dengan Mingyu juga.”

Shinbi tidak tahu apa yang baru saja lidahnya ucapkan.

“Malam-malam? Memangnya tidak apa-apa kalau kau pulang kemalaman?” Soonyoung kelihatan tak yakin, tapi laki-laki itu tampaknya mengabaikan ekspresi Shinbi yang lebih terlihat tidak yakin.

“Kalau hari Jumat, Oppa-ku bersedia untuk menjemputku pulang. Jadi tidak apa-apa.”

Shinbi mendadak ingat tentang jadwal magang Minhyun yang longgar menjelang akhir minggu. Kakaknya itu memang menawarkan diri untuk menjemput Shinbi setiap hari Jumat dan Shinbi sendiri sudah setuju. Demi alasan keamanan, begitu kata Minhyun.

Soonyoung terlihat berpikir cukup lama, membuat Shinbi lagi-lagi merasa gugup sendiri. Bagaimanapun, ia tidak terlalu berharap banyak jika Soonyoung akan mengiyakan ajakan spontannya.

“Boleh. Besok, mungkin aku bisa.”

Shinbi mencoba untuk tersenyum. Di dalam hatinya sama sekali tidak ada rasa senang. Lagipula, itu artinya besok ia masih harus bercengkrama dengan Soonyoung—meski ia menambahkan Mingyu juga, ya, setidaknya kalau dengan laki-laki itu Shinbi sudah merasa cukup akrab. Shinbi masih belum bisa mengenyahkan imej negatif yang melekat pada pikirannya mengenai sosok Soonyoung, buah dari hasil pembicaraan teman-temannya di sekolah. Shinbi sendiri tidak tahu dari mana ia bisa mendapatkan ide untuk mengajak Soonyoung mengerjakan tugas bersama. Ide itu bergulir saja di otaknya tanpa bisa ia cegah. Tak apalah, hitung-hitung untuk membantunya mengenal dan menyelami karakter Soonyoung lebih dalam. Bekalnya untuk mengerjakan tugas sosiologi, pikirnya.

“Boleh minta id Kakaotalk milikmu? Atau LINE, mungkin?”

Pertanyaan tiba-tiba itu sedikit mengagetkan Shinbi. Apa barusan ia tidak salah dengar? Soonyoung meminta id-nya?

“Untuk apa?” Shinbi bertanya hati-hati.

“Kau bilang kita dipasangkan untuk tugas sosiologi.” jawab Soonyoung, seakan mencoba mengingatkan.

Hampir saja Shinbi memikirkan hal yang buruk tentang niatan Soonyoung meminta id-nya, kalau ia tidak buru-buru ingat tentang tugas sosiologi yang baru saja disinggung laki-laki itu. Shinbi lantas menyebutkan id-nya, sementara Soonyoung sibuk mengetikannya ulang di ponselnya.

“Sudah aku add.” kata Soonyoung kemudian.

Um, oke.”

Shinbi merasa apa yang perlu ia sampaikan kepada Soonyoung telah ia utarakan seluruhnya. Sebelum otaknya memerintahkan ia untuk mengucapkan hal-hal aneh lainnya, Shinbi buru-buru mencegahnya dengan berkonsentrasi memikirkan kata-kata yang pas untuk berpamitan.

“Aku duluan.”

Mungkin karena kelewat berkonsentrasi, Shinbi tak sadar telah mengucapkan kata-kata itu sedikit lebih keras dari volume yang seharusnya. Shinbi merasa gugup lagi. Tetapi untungnya, Soonyoung kelihatan tidak peduli. Laki-laki hanya meresponnya dengan anggukan dan kembali menikmati makan malamnya yang tertunda.

Shinbi sudah hampir keluar dari ruangan pantry ketika tanpa diduga suara Soonyoung kembali memanggilnya dari belakang. Gadis itu segera berbalik untuk memastikan bahwa Soonyoung memang benar-benar baru memanggil namanya.

“Shinbi.”

“Ya?”

Soonyoung tidak langsung menyahut. Kedua matanya pun tidak sedang tertuju pada sosok Shinbi saat ini, melainkan masih asyik menatap kuah ramyeon yang tersisa di dalam cup yang ada di genggamannya.

“Tolong, setelah ini jangan panggil aku dengan nama Soonyoung.”

Dahi Shinbi sedikit mengerut, memastikan bahwa laki-laki itu memang tidak salah bicara mengenai namanya.

Soonyoung meneguk kuah terakhir dari dalam cup, baru setelah itu matanya beranjak menatap Shinbi. Seledri di dekat mulutnya masih belum menghilang.

“Panggil aku Hoshi saja.”

***

Shinbi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit kepala. Saat mandi barusan, gadis itu juga menyempatkan diri untuk mencuci rambut. Tubuhnya yang telah seharian penuh bekerja sedikit merasa segar setelah disiram oleh air hangat. Setelah ini Shinbi berniat untuk mengeringkan rambut, kemudian mengerjakan tugas sebentar, baru bergegas naik ke tempat tidur. Harus Shinbi akui, sejak mulai bekerja paruh waktu, staminanya untuk belajar menjadi lebih banyak berkurang. Shinbi menyiasati hal ini dengan mengurangi frekuensi belajarnya sepulang sekolah dan memilih untuk mengerjakan tugas-tugasnya di sekolah, saat datang ke sekolah di waktu guru belum memasuki ruangan kelas, ataupun di waktu istirahat. Tugas-tugas itu juga tidak dikerjakan mendadak, dan memang sudah dicicil semenjak jauh-jauh hari supaya Shinbi tidak harus merasa keteteran. Lagipula, cara seperti ini dinilai Shinbi cukup efisien juga karena dengan begitu ia bisa langsung bertanya pada Eunha atau Jun Young ketika ada tugas yang tidak ia mengerti. Dan untungnya, anak-anak langganan juara sekolah seperti mereka akan dengan senang hati menjawab dan menjelaskannya kepada Shinbi.

Tidak seperti biasanya, pintu kamar Shinbi yang berada di lantai dua saat itu dalam kondisi terbuka. Seingatnya, pintu itu dalam keadaan tertutup ketika ia meninggalkannya untuk mandi. Shinbi melongok ke dalam, dan menemukan ayahnya sedang duduk membelakanginya di kursi yang menghadap meja belajar. Sejenak Shinbi mengernyit heran mendapati keberadaan Tuan Hwang di sana.

“Ayah.” Shinbi melangkah masuk ke dalam kamarnya. Yang dipanggil segera menolehkan kepala.

“Sedang apa Ayah di sini?” Shinbi mendudukkan dirinya di atas kasur yang berdekatan dengan meja belajar.

“Bukan apa-apa, Ayah hanya sedang mencoba mencari buku diary-mu, siapa tahu kau menyimpannya di dekat sini.” jawab Tuan Hwang kalem.

“Buku diary—apa?? Jadi, selama ini Ayah suka membaca buku diary-ku??” ucap Shinbi kaget. Mulutnya sedikit menganga, sementara wajahnya mulai memerah menahan malu.

“Iya. Kalau Ayah melihatmu bersedih atau sedang menyimpan masalah, kau biasanya enggan bercerita, jadi Ayah selalu berinisiatif mencari tahu sendiri jawabannya lewat buku diary-mu. Ah, Ayah bahkan masih ingat ketika kau menulis tentang orang yang pertama kau sukai saat kelas 6 SD, kalau tak salah namanya—“

“Astaga, Ayah!” Shinbi buru-buru menyela sebelum Tuan Hwang dapat membongkar aibnya lebih banyak lagi. Wajahnya semakin bersemu merah bukan kepalang.

“Aku sudah tidak pernah menulis diary lagi!” Shinbi mencoba mengelak.

“Benarkah? Ayah rasa pernah menemukan buku diary-mu akhir-akhir in—“

“Ayah, hentikan!”

Tuang Hwang langsung terbahak, puas mendapati dirinya berhasil mengerjai putri bungsunya itu. Semburat di wajah Shinbi belum sepenuhnya menghilang, namun perlahan-lahan mulai surut dan malah tergantikan oleh ekspresi ingin tahu. Gadis itu kemudian memandang ayahnya dengan hati-hati.

“Ayah tidak marah kepadaku?”

“Huh? Marah? Kenapa Ayah harus marah?”

“Soal pekerjaanku.” Shinbi berganti menundukkan kepala, tak berani menatap wajah ayahnya saat ini. “Maaf karena aku tidak bilang kepada Ayah bahwa aku ingin bekerja.”

Tuan Hwang tersenyum samar lalu menatap putrinya itu lekat-lekat. Kerutan di wajahnya tampak kentara di bawah sinar lampu kamar Shinbi, menandakan usianya yang hampir menginjak setengah abad, juga menjadi tanda bahwa pria itu selalu bergelut dengan waktu hingga satu per satu bagian tubuhnya seperti habis dimakan zaman. Dengan lembut Tuan Hwang mengusap wajah putrinya itu sehingga Shinbi kembali mendongak.

“Ayah tidak marah.”

“Sungguh?” Shinbi menatap wajah ayahnya ragu-ragu. “Tapi kemarin ketika makan malam, Ayah langsung saja meninggalkan meja makan ketika aku bercerita bahwa aku baru mendapatkan pekerjaan. Jadi kukira Ayah marah.”

Tuan Hwang melepaskan tangannya dari wajah Shinbi dan menaruhnya di atas lutut. Tubuhnya ia biarkan bersandar pada sandaran kursi. “Ayah tidak marah kepadamu. Saat itu Ayah hanya merasa kecewa. Bukan kecewa kepadamu, hanya saja Ayah merasa kecewa kepada diri Ayah sendiri. Ketika kau mengatakan bahwa kau ingin bekerja untuk menabung demi biaya kuliah, hati Ayah rasanya seperti teriris-iris. Ayah tahu, kau pasti memikirkan keuangan keluarga kita dan tak yakin bisa mengandalkan tabungan keluarga untuk biayamu berkuliah nanti. Apalagi, sebentar lagi Ayah juga akan pensiun. Sewaktu memikirkan ucapanmu, Ayah hanya merasa bahwa Ayah tidak mampu menjadi kepala keluarga yang baik.”

Sorot mata Shinbi berubah menjadi sendu. Manik matanya menatap wajah Tuan Hwang dengan penuh penyesalan.

“Aku tidak bermaksud begitu, Ayah—“

“Tidak, tidak apa-apa, Shinbi. Kemarin itu Ayah spontan meninggalkan meja hanya untuk menenangkan diri. Sungguh, Ayah sama sekali tidak marah.”

Tuan Hwang kemudian berpaling dan meraih dua lembar amplop yang sejak lama ia letakkan di atas meja belajar putrinya. Ia menyodorkan kedua benda itu ke hadapan Shinbi.

“Bukalah.” Tuan Hwang memberikan instruksi. Shinbi menerima kedua amplop itu dan menatapnya ragu-ragu.

“Ini apa, Ayah?”

Tuan Hwang tidak menggubris pertanyaan Shinbi dan malah mengendikkan dagunya ke arah kedua amplop tersebut, mengisyaratkan putrinya agar segera membukanya.

“Buka saja.”

Shinbi menurut, lantas membuka amplot tersebut satu per satu. Selembar kertas, muncul ketika Shinbi merogoh isi amplop pertama. Begitu juga dengan isi amplop yang kedua. Shinbi membaca tulisan yang tertera pada kedua kertas itu dengan hati-hati. Tak lama, wajahnya tampak berubah heran.

“Ini… sertifikat rumah?”

Tuan Hwang membenarkan dengan mengangguk mantap.

“Tapi…, ini untuk apa, Ayah?” Shinbi masih kelihatan tak habis pikir. Dengan penuh kehati-hatian ia kembali memasukkan sertifikat-sertifikat itu ke dalam amplopnya masing-masing.

“Ayah terlambat menunjukannya kepadamu. Bisa dibilang, itu termasuk salah satu simpanan harta milik Ayah dan Ibu. Setelah Ayah menginjak umur pensiun, harta ini tadinya dimaksudkan sebagai ‘jaga-jaga’ untuk keperluanmu ataupun Minhyun. Termasuk juga untuk biaya kuliahmu. Ayah tahu, ketika kau mulai berkuliah nanti, mungkin Ayah juga sudah akan mulai berhenti bekerja. Tapi kau tidak perlu khawatir tidak akan bisa membayar biaya kuliah, apalagi menghabiskan tabungan keluarga kita, sebab kedua rumah ini memang diperuntukkan untuk memenuhi kebetuhanmu dan Minhyun di masa mendatang.”

“Maksud Ayah…?”

“Kalau memang mendesak, Ayah dan Ibu akan menjual rumah itu untuk membiayai kuliahmu. Itu mengapa Ayah bilang kau tak perlu khawatir memikirkan biaya kuliah, sebab kami pun sudah memikirkannya semenjak jauh-jauh hari. Kondisi keuangan keluarga kita memang tidak seberapa, tapi yakinlah, Ayah dan Ibu pasti akan melakukan segala cara untuk menyekolahkan kau dan Minhyun setinggi-tingginya. Ayah minta maaf, seharusnya Ayah memberitahukan hal ini lebih awal sehingga kau tidak harus repot-repot mencari pekerjaan. Kau mau memaafkan Ayah, ‘kan, Shinbi?”

Kedua mata Shinbi terasa panas, sementara pelupuk matanya mulai tergenang oleh air. Shinbi kehilangan kata-kata. Secara naluriah, tubuhnya beringsut tanpa diperintah dan bergegas mendekap tubuh ayahnya yang masih dalam posisi duduk itu dengan erat. Bulir-bulir kristal itu telah meluncur bebas merayapi pipinya dan kini mungkin ikut membasahi kausnya, tapi Shinbi tidak peduli.

“Aku sayang Ayah.” Shinbi berujar lirih.

Tuan Hwang tersenyum dalam pelukan putrinya. Sebelah tangannya mengusap-usap punggung Shinbi dengan penuh kasih sayang. Ia dapat merasakan tubuh Shinbi yang sedikit gemetar. Telinganya turut mendengar suara isakan yang berasal dari anak gadisnya itu.

“Ayah juga menyayangimu.”

Shinbi melepaskan pelukannya kemudian mengusap air matanya yang masih bebas meluncur tanpa bisa dicegah. Wajahnya terlihat sembab, namun sebuah senyuman merekah di bibirnya. Sepasang bibir tipis yang juga diwariskan secara genetik oleh sang ayah.

“Kalau begitu, apa Ayah masih mengizinkanku untuk tetap bekerja?” Shinbi bertanya dengan suara serak.

Tuan Hwang kembali menatap wajah putrinya itu lekat-lekat, ia tersenyum bijak.

“Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, Ayah bisa apa?” Tuan Hwang mengangkat bahu. “Asal kau bisa membagi waktu dan berjanji kepada Ayah kalau pekerjaan ini tidak akan memengaruhi prestasimu di sekolah.”

Shinbi terkekeh. Kepalanya mengangguk, memberi isyarat sepakat. “Iya, Yah. Aku janji.”

***

Malam telah semakin larut, namun Kota Seoul tak pernah kehilangan cahayanya. Gemerlap dari lampu jalan dan lampu-lampu dari gedung pencakar langit di sisi jalan menyemarakkan perjalanan Mingyu yang saat ini sedang menyisir jalanan Hongjae-dong seorang diri. Mingyu tidak ingat sudah berapa lama ia berjalan kaki ataupun jarak yang ditempuhnya dari stasiun selepas menaiki subway. Ia memang tidak pandai menghitung jarak, tapi laki-laki itu dapat menghapal rute jalan dengan mudah. Ketika pertama kali pindah ke daerah ini bersama ibunya, Mingyu tidak kesulitan untuk mencari stasiun terdekat dan dapat dengan mudah menemukan jalan pulang ke apartemen mereka. Semua itu Mingyu lakukan seorang diri sejak ia masih duduk di bangku SMP.

Minghyu berhenti sejenak dan menatap salah satu gedung perkantoran yang berdiri kokoh di sampingnya. Mingyu kecil selalu antusias setiap kali menatap gedung-gedung pencakar langit. Dulu, ia selalu penasaran bagaimana gedung-gedung tinggi itu dibuat. Mingyu selalu berpikir bahwa gedung itu diletakkan di tempatnya oleh sebuah tangan yang besar, mungkin tangan Tuhan. Sama halnya seperti ketika Mingyu sedang bermain lego dan menyusunnya menjadi sebuah gedung-gedungan dari balok-balok berwarna-warni itu. Sampai pada bangku sekolah dasar, Mingyu baru tahu bahwa gedung-gedung itu terlahir dari rancangan seorang arsitek. Mingyu selalu kagum setiap kali menatap gedung-gedung tinggi, karena dalam benaknya gedung-gedung itu seakan menghubungkan bumi dengan langit. Entah sejak kapan, Mingyu memiliki hasrat khusus untuk ikut terlibat dalam proses pembangunan suatu gedung. Mungkin di masa yang akan datang, Mingyu tidak tahu pasti. Sampai detik ini laki-laki itu belum mengukuhnya cita-citanya untuk menjadi seorang arsitek ataupun profesi lainnya.

Mingyu meneruskan perjalanannya dan sampai ke sebuah jalanan kecil yang hanya cukup dilalui oleh satu mobil. Di balik hingar-bingarnya perkotaan, selalu tersimpan sebuah ironi tersendiri. Lampu-lampu jalan yang sebagian sudah tidak berfungsi, rumah penduduk yang saling berdempet dan berdesakan, atau jalanan rusak yang tak sempat ditambal. Pemerintah memang mencanangkan pemerataan kesejahteraan, tapi tak jarang ada beberapa daerah yang luput dari perhatian. Mingyu berjalan menyusuri jalan yang sedikit menanjak. Kawasan yang dilaluinya sekarang lebih banyak dihuni pertokoan dan kedai-kedai kecil dibandingkan rumah warga. Tetapi, tak jarang ada pula yang menjadikan rumahnya sekaligus sebagai toko.

Mingyu melangkah masuk ke dalam sebuah apartemen yang terletak di samping toko elektronik. Luas apartemen itu tidak seberapa, atau mungkin lebih menyerupai flatketimbang menyandang sebutan apartemen. Lampu di pintu masuknya mulai meredup, menandakan harus segera diganti. Lampu yang menerangi koridornya pun serupa, terkadang menyala, terkadang juga nyala-mati, mengesankan bahwa apartemen ini tidak terlalu dikelola dengan baik. Liftnya macet, jadi Mingyu harus berjalan menuju apartemennya yang berada di lantai 3 dengan menaiki tangga. Sekalipun membuat lelah, tapi Mingyu tidak mengeluh. Setidaknya, kondisi seperti ini jauh lebih baik ketimbang ia harus tercekik apabila membayar uang sewa yang lebih mahal hanya untuk mendapatkan fasilitas yang lebih nyaman. Toh, pengelola apartemen pun juga cukup berlaku baik terhadapnya dan ibunya sepanjang mereka menyewa apartemen ini. Sejauh ini belum ada alasan yang berarti untuk pindah.

Di lantai tiga, pintu-pintu apartemen berjajar di sepanjang dinding. Jarak pintu yang cukup berdekatan dengan pintu lainnya menunjukkan isi luas kamarnya yang tak seberapa. Mingyu menuju pintu paling sudut. Tidak perlu repot-repot memasukkanpassword, juga tidak ada interkom yang terpasang di dekat pintu. Karena faktor dana, apartemen ini memang belum menerapkan sistem pengamanan elektronik. Sebagai gantinya, mereka masih mengandalkan kunci pintu untuk alasan keamanan. Untuk menyiasati hal ini, Mingyu selalu membawa kunci cadangan setiap kali berpergian keluar, kalau-kalau ibunya terlanjur mengunci pintu ketika laki-laki itu belum sampai di rumah. Namun rupanya perkiraan Mingyu malam ini salah, pintu aprtemennya tidak terkunci. Pintu berbahan kayu itu dapat terbuka dengan mudah ketika Mingyu menarik daunnya. Lampu di dalam apartemennya masih menyala. Ibunya belum tidur. Suara tawanya menyambut kepulangan Mingyu yang kini sedang menutup pintu. Selain tawa ibunya, terdengar suara seorang perempuan lagi yang mengiringinya.

“Mingyu, kau sudah pulang?”

Ibunya sedang terduduk di lantai dengan posisi bersimpuh bersama seorang gadis. Sosok Mingyu yang baru saja memasuki apartemen dapat disadari dengan mudah karena jarak pintu masuk dengan ruangan tengah memang lumayan dekat. Gadis yang tengah mengobrol bersama ibu Mingyu mendongak untuk melihat ke  rah Mingyu yang masih berdiam di dekat pintu. Wajahnya menampilkan seulas senyum ramah.

“Halo, Mingyu.”

“Dasom datang ke sini barusan sambil membawakan makanan dan kue-kue. Dia baik sekali mau menemani Ibu.” Nyonya Kim berujar dengan maksud memuji. Dasom yang sedang duduk di sebelahnya tampak terlihat malu-malu.

“Bukan apa-apa, Bibi. Kebetulan saja saya hanya lewat dan terpikir untuk mampir.” gadis itu berusaha merendah.

Sementara Mingyu hanya menatap kedua wanita itu dengan ekspresi datar dan tampak tak berminat. Tubuhnya masih berbalut seragam sekolah serta ransel yang menempel di punggungnya.

“Ini sudah larut malam, apa tidak sebaiknya Noona pulang?” Mingyu berusaha mengucapkannya dengan nada setenang mungkin, meski tak dapat dipungkiri terkandung makna pengusiran halus yang tersirat di dalamnya.

Dasom diam, namun gerak-geriknya menunjukkan perasaan tak nyaman. Sementara Nyonya Kim menatap putranya itu dengan gemas, seolah sedang memberi tahu bahwa ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Mingyu itu bernada kurang pantas untuk didengar.

“Mingyu!” Ibunya berusaha berbisik, tapi Mingyu mengabaikannya.

“Kata dokter, kondisi Ibu juga baru mulai membaik dan membutuhkan banyak istirahat. Sebaiknya Ibu tidak tidur terlalu malam.” ujar Mingyu lagi, masih dengan ekspresi datar.

Nyonya Kim hendak menyanggah, tapi Dasom buru-buru mengambil jalan tengah dengan segera beringsut dari posisinya.

“Tidak apa-apa, Bi. Mingyu benar, Bibi sebaiknya cepat berisitirahat. Aku juga akan pulang.”

“Sayang sekali, padahal kupikir kita bisa mengobrol lebih lama.” ucap Nyonya Kim penuh sesal. Dirinya ikut berdiri menyusul Dasom.

“Mingyu, kau antarkan Dasom pulang, ya.”

Mingyu tidak menyahut tapi segera menurut dan kembali berjalan menuju pintu. Di belakangnya, Dasom mengucapkan salam perpisahan.

“Saya pulang dulu, Bibi.”

“Iya, hati-hati. Terima kasih sudah mau mampir ke sini dan menemaniku mengobrol. Aku harap kau bisa sering-sering datang kemari.”

Setelah selesai saling melontarkan ucapan basa-basi, Mingyu menemani Dasom menuruni anak tangga. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam.

“Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir ke apartemen kami.” ujar Mingyu ketika keduanya telah sampai di pintu masuk utama apartemen. Ekspresi dinginnya belum berubah, bahkan kelihatannya sama sekali tak terpengaruh ketika Dasom membalasnya dengan senyuman hangat.

“Tidak apa-apa, aku senang bisa mengobrol dengan ibumu, Mingyu. Um, boleh, ‘kan, aku memanggilmu dengan nama aslimu?”

Mingyu memasukkan kedua tangannya ke saku blazernya, menunjukkan eskpresi tidak tertarik. “Sejujurnya aku lebih senang kalau Noona dapat bersikap profesional. Aku yang sekarang adalah aku, dan aku yang bekerja di café adalah aku yang berbeda.”

Angin malam yang menerbangkan dedaunan kering di pinggir jalan menciptakan bunyi gemerisik, seperti langkah kaki yang terseok-seok. Malam itu cukup sepi, hanya percakapan Mingyu dan Dasom yang terdengar menembus keheningan malam. Dasom masih bungkam, menunggu Mingyu melanjutkan ucapannya.

“Aku yang sekarang tidaklah sama dengan aku ketika sedang bekerja di café, kuharapNoona mengerti.”

Dasom menunduk. Perasaannya seperti sedang ditekan kuat-kuat hingga rasanya mencelos ke dalam. Meski begitu, gadis itu tetap memaksakan seulas senyum.

“Iya, aku mengerti.”

Mingyu menghela, mengalihkan perhatiannya pada lampu koridor apartemen yang mulai berkedip-kedip. Mungkin sebentar lagi akan mati, pikirnya.

“Aku hanya bisa mengantarkan Noona sampai sini karena aku tidak bisa meninggalkan ibuku sendirian. Tidak apa-apa, ‘kan?”

Dasom tahu Mingyu sedang tidak meminta persetujuannya. Mau tak mau Dasom memang harus setuju.

“Iya, tidak apa-apa. Terima kasih untuk hari ini.” Dasom berpamitan. Namun ketika hendak melangkah pergi, tiba-tiba gadis itu teringat akan sesuatu.

“Oh, ya. Mungkin aku telah berkali-kali mengatakannya kepadamu sampai kau bosan, tapi…,” Dasom merogoh tasnya kemudian mengeluarkan secarik kertas. Sebuah kartu nama.

“Keluargaku mengelola sebuah toko kue di dekat sini, letaknya tidak sejauh Rainbow Dust. Jadi, barangkali tiba-tiba kau berubah pikiran, kau bisa berhenti dari sana dan bekerja di sini. Mungkin letaknya memang tidak sedekat Rainbow Dust dengan sekolahmu, tapi toko kue kami cukup dekat dengan apartemenmu. Yah, barangkali kau tidak ingin terus-menerus meninggalkan ibumu seorang diri dalam waktu yang cukup lama. Kau bisa mempertimbangkan tawaranku ini, kebetulan kami memang sedang membuka lowongan pekerjaan.”

Mingyu menerima kartu nama itu, masih dengan tampang tak berminat. Ia hanya membacanya sekilas.

“Terima kasih.”

“Sampai jumpa.”

Dasom benar-benar pergi. Mingyu kembali menaiki tangga dan masuk ke dalam apartemennya. Ibunya masih belum beranjak dari posisinya. Wanita itu masih duduk di dekat meja makan mereka yang tidak memiliki kursi. Tangannya sibuk merapikan bingkisan yang barusan dibawakan Dasom di atas meja.

“Temanmu itu baik sekali, Mingyu. Dia membawakan bermacam-macam makanan. Eh, lihat ini, dia juga membawakan roti kesukaanmu, lho!” seru Nyonya Kim antusias.

Mingyu sejujurnya tidak terlalu peduli dan memutuskan untuk bergabung bersama ibunya di meja makan. Kedua kakinya ia selonjorkan untuk melepas rasa penat, sementara kedua tangannya bertumpu pada lantai apartemen mereka yang hanya dilapisi karpet yang telah memudar warnanya.

“Kau kenal gadis itu di mana? Kelihatannya dia lebih tua beberapa tahun di atasmu, ya?”

“Dia cuma pelanggan yang sering datang ke tempat kerjaku, Bu.”

“Oh, begitu.” Nyonya Kim tampak manggut-manggut.

Tanpa sengaja, pandangan Mingyu tertuju pada surat kabar yang ditaruh di atas meja makan, dekat bingkisan yang dibawakan oleh Dasom. Salah satu headline dicetak dengan huruf besar dan tebal di halaman pertama, di sampingnya disertakan sebuah foto yang menampilkan sesosok pebisnis muda. Rambutnya tercukur rapi, mengenakan setelan jas, wajahnya kebetulan sedang tidak menghadap kamera, namun wajahnya yang terpotret sedikit menyamping itu tetap terlihat rupawan. Entah bagaimana, Mingyu sendiri heran mengapa orang-orang kaya selalu dapat terlihat berpenampilan baik di berbagai kesempatan. Mingyu tidak tahu, di matanya dunia mereka sama sekali terlampau berbeda. Sayangnya, foto apik sang pebisnis muda itu tidak didukung dengan isi berita yang memperlihatkan penampilan mewahnya. Mingyu membaca artikel itu sekilas. Alinea pertama menyebutkan tentang ketidakpiawaian seorang Choi Minho dalam mengelola aset perusahaan milik keluarga Choi yang telah diwariskan kepadanya sehingga perusahaan tersebut terancam berada di ambang pailit.

Mingyu mendengus, mencibir dalam hatinya. Penerus keluarga yang sia-sia.

“Sejak kapan Ibu membaca surat kabar?”

“Eh?” Nyonya Kim menatap Mingyu dengan raut wajah tak mengerti. Barulah setelah Mingyu menunjuk surat kabar yang dilihatnya di atas meja, wanita paruh baya itu paham. Namun ia tidak bereaksi dan malah tertegun menatap surat kabar itu. Rasanya seperti tertangkap basah dengan hasil curiannya sendiri.

“Ibu membelinya?” tanya Mingyu. Nada suaranya kedengaran kurang senang.

Nyonya Kim berusaha mengontrol diri meski jawabannya tetap mencerminkan kesan gugup. “Um, iya, hari ini tiba-tiba rasanya Ibu ingin membaca surat kabar, jadi Ibu memutuskan untuk membeli satu ketika mampir ke toko Keluarga Im.”

“Ingin membaca surat kabar atau memang karena headline yang tertulis di sana?” Mingyu berusaha meralat. Nyonya Kim mulai semakin terlihat gugup.

“Mingyu..”

“Ibu, ‘kan, sudah kubilang untuk tidak mencari tahu apapun lagi tentang keluarga itu.” Mingyu berusaha bersikap tenang meski kata-katanya barusan terdengar sarat akan penekanan. Setiap kali membahas hal ini entah mengapa selalu berhasil membuat emosinya bergejolak naik.

“Tapi, Mingyu—“

“Apa? Ibu ingin bilang, bagaimanapun pria Choi itu adalah ayahku? Begitu? Setelah apa yang keluarganya perbuat selama ini terhadap kita? Kalau memang dia benar-benar ayahku, seharusnya dia tidak menelantarkan kita seperti ini! Seharusnya dia tidak mencurahkan segala perhatiannya hanya untuk anak laki-lakinya yang bernama Choi Minho itu!”

Mingyu beringsut dan berjalan masuk ke dalam kamar. Tubuhnya sedikit gemetar menahan amarah yang meletup-letup.

“Mingyu!” Nyonya Kim memanggilnya dari belakang, namun Mingyu enggan berbalik. Laki-laki itu hanya terpaku di depan pintu masuk kamarnya ketika mendengar seruan ibunya.

“Aku mau tidur, Bu. Lebih baik Ibu juga beristirahat. Sudah larut malam.”

Nyonya Kim hanya bisa tertegun di meja makan ketika menyaksikan Mingyu membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. Wanita itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Rasa sesak di dadanya kembali lagi.

***

Jarum jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Sebagian manusia sudah asyik terlelap menjelajah alam mimpinya masing-masing. Sebagian lagi tetap terjaga, menikmati dunia malam yang tersaji di balik keheningan kota. Suara riuh penonton memenuhi salah satu gedung tak terpakai di kawasan Mullae-dong. Alunan musik dengan tempo yang menghentak membahana ke seluruh penjuru ruangan, membuat orang-orang yang berada di sana asyik menggoyangkan badan mengikuti irama. Satu orang yang berperan sebagai disc jokey, ditempatkan di lantai yang lebih tinggi sembari bertugas mengatur irama musik sedemikian rupa. Ia pun ikut bergoyang dan sesekali mengumbar senyum ke arah hadirin yang masih asyik menari. Persis di hadapannya, empat orang pemuda asyik meliuk-liukkan badannya dengan lincah. Gerakan mereka yang tampak kompak dan penuh tenaga berhasil mengundang antusiasme penonton hingga keempat orang itu ditempatkan pada satu area khusus, di tengah-tengah ruangan, dikerubungi oleh orang-orang yang hadir. Semakin malam, suasana pun semakin terasa panas. Penonton terus bersorak, sementara kalangan gadis sibuk berteriak histeris ke arah empat pemuda yang masih sibuk menari mengikuti irama lagu.

Sesungguhnya tempat ini bukanlah klub malam. Di siang hari, gedung ini hanyalah gudang tua yang sekilas tampak tak terurus dan jarang dijamah oleh manusia. Namun ketika malam menjelang, gedung ini seakan kembali hidup dan disulap sebagai arena dari ajang unjuk kemampuan di antara para penari jalanan. Musik bertempo upbeat dinyalakan dan lampu-lampu dihidupkan, memberikan gedung ini jiwanya tersendiri pada malam hari.

Tak mau kalah dengan penonton yang hadir, Lee Minhyuk berusaha merangsek ke depan kerumunan guna melihat keempat penari yang sedang tampil di tengah-tengah ruangan dengan lebih jelas. Begitu mendapatkan posisi yang lumayan bagus, tanpa pikir panjang Minhyuk pun bergabung dengan penonton lainnya untuk melontarkan sorakan dengan penuh semangat.

“Trespass! Trespass! Wonho! Hyungwon! Kihyun! Hoshi!”

Teriakannya lebih mirip seorang fans yang sedang melakukan fanchant untuk mendukung idol group-nya. Tapi Minhyuk tidak mau mempermasalahkannya. Gedung sudah terlanjur panas oleh sorakan penonton, lebih bagus jika ia dapat ikut serta menyemarakkan suasana.

Penampilan Trespass hampir mendekati akhir. Usai menampilkan berbagai tarian dengan kombinasi gaya b-boy yang dilakukan Hoshi, Wonho dan Hyungwon segera mengambil tempat di belakang, sementara Kihyun memimpin di paling depan. Tepat ketika menyentuh akhir lagu, Hoshi mengambil ancang-ancang dan melompati tubuh Kihyun dari belakang. Musik berhenti. Hoshi mendarat dengan sempurna dengan kedua kakinya yang lebih dulu bertumpu di atas tanah. Snapback yang dikenakannya tanpa sengaja terlepas dan melayang ke sembarang arah, namun hal itu malah membuatnya semakin tampak memesona di mata para gadis yang sedang menonton yang saat ini sudah menjerit histeris karena kehilangan kontrol. Keempatnya terlihat terengah-engah usai menuntaskan penampilan mereka. Ketika musik kembali dinyalakan, Trespass berjalan ke belakang meninggalkan arena dance battle yang masih ramai oleh hiruk-pikuk penonton. Minhyuk yang tak mau ketinggalan segera menyusul langkah para sahabatnya itu dengan membelah kerumunan.

Good job, guys!” Minhyuk menyapa keempatnya yang kini sedang beristirahat di belakang panggung. Dengan tingkah sok akrab Minhyuk mengepalkan tangan dan meninju dada masing-masing personil Trespass sebagai salam. Para pemuda itu tengah duduk di sebuah kursi panjang ketika Minhyuk datang.

“Penampilan kalian malam hari ini benar-benar hebat! Kalian seharusnya lihat wajah Shownu ketika sorakan penonton pada penampilan kalian terdengar lebih kencang dibandingkan ketika ia tampil bersama timnya! Benar-benar lucu! Seperti seorang bayi yang permennya baru saja direbut dan tidak bisa melakukan apa-apa!” Minhyuk menjelaskan sambil tergelak.

Para personil Trespass ikut tersenyum, termasuk Hoshi yang baru selesai menegak air dari botol minumnya. Peluh masih terlihat membasahi sekujur tubuhnya yang berlapis kaus dan jaket.

“Kukira Hyung baru datang. Aku tidak melihat Hyung sepanjang penampilan dari grup lain berlangsung.”

“Aku datang. Hanya saja aku malas jika menonton penampilan dari grup lain, jadi aku berdiri di belakang dan baru maju ke depan ketika kalian tampil. Oh, omong-omong dengar tidak teriakan penonton barusan? Kupikir teriakan dari penonton wanita malam ini jumlahnya lebih banyak.”

“Sudah jelas, ‘kan? Mereka pasti meneriakiku. Aku tahu, aku telah menampilkan yang terbaik malam ini.” Hyungwon tersenyum bangga. Minhyuk buru-buru menjitak kepalanya.

“Bukan kau, bodoh! Tapi Hoshi. See? Keputusanku untuk mewarnai rambutnya adalah benar, ‘kan? Sekarang ini blonde memang sedang menjadi tren!” ucap Minhyuk bangga sembari mengibaskan poni rambutnya yang memang memiliki warna yang sama dengan rambut Hoshi.

Um, tapi, Hyung, sejujurnya aku kurang nyaman dengan warna rambut seperti ini. Bukan apa-apa, hanya saja aku sering kena tegur guru di sekolah karena warna rambutku dianggap terlalu mencolok. Kalau bisa aku ingin kembali mewarnai rambutku dengan warna hitam, Hyung.” keluh Hoshi.

“Ah, biarkan saja para orangtua itu! Mereka hanya tidak mengerti tentang mode! Percayalah, warna blonde adalah yang terbaik!” sergah Minhyuk.

“Oh, Trespass! Tambang emasku! Di sini kalian rupanya!”

Seorang laki-laki berpostur jangkung, bermata sipit, menghampiri mereka dengan wajah sumringah. Sebelah tangannya menggenggam setumpuk uang yang mampu membuat siapa saja meneguk ludah manakala melihat jumlahnya. Apalagi Kihyun yang sepasang matanya kini sudah tidak bisa lepas dari sana. Laki-laki itu tampak kelihatan takjub.

“Key Hyung!” Wonho yang lebih dulu menyapa sembari melambaikan sebelah tangan. Laki-laki yang dipanggil dengan nama Key itu akhirnya sampai di hadapan mereka.

“Ini bagian kalian untuk malam ini. Terima kasih, berkat kalian semakin banyak penonton yang datang kemari dan memberikan uangnya secara cuma-cuma hanya untuk melihat penampilan kalian. Pertahankan kerja keras kalian. Aku menantikan penampilan kalian yang lebih hebat lagi dari malam ini. Terutama kau, Hoshi. Sering-seringlah datang kemari, banyak gadis yang bertanya kepadaku soal kau.” Key menyerahkan setumpuk uang yang dibawanya kepada Wonho sambil kemudian beralih menatap Hoshi. Hyungwon yang duduk di sebelahnya segera meninju bahu juniornya itu pelan, mewakili ungkapan rasa iri dan candaan.

“Oke, itu saja. Aku mau kembali urus pekerjaanku dulu. Jangan lupa datang lagi malam-malam berikutnya!” Key berpamitan, dan tak lama kemudian segera berlalu meninggalkan tempat itu.

Wonho, sebagai anggota tertua di kelompok itu dengan cermat segera memilah-milah tumpukan uang di tangannya dan membagikannya sama rata kepada tiga orang anggotanya yang lain. Senyuman cerah merekah di bibir masing-masing tatkala uang berjumlah cukup besar itu telah berpindah tangan.

“Hei, jangan lupakan aku! Aku yang berjasa menyediakan kostum untuk penampilan kalian, ingat?” Minhyuk mulai merajuk.

“Menyediakan kostum apanya? Kau hanya mengobrak-abrik lemari pakaian kami dan memadupadankannya dengan asal!” sanggah Kihyun tak setuju.

“Enak saja! Menyesuaikan pakaian kalian juga dibutuhkan sense of fashion! Hanya orang-orang tertentu sepertiku yang kebetulan memiliki bakat seperti itu!”

“Sudah! Sudah! Nanti kita rayakan malam ini dengan makan-makan, bagaimana? Tenang, biar aku yang traktir.” Wonho berusaha melerai keduanya.

“Nah, itu ide bagus! Kapan? Kurasa lebih cepat lebih baik.” usul Minhyuk.

Sementara Hyungwon yang sedari tadi menjadi pendengar hanya terkikik, tapi tetap setuju dengan ide yang baru saja diajukan oleh Wonho.

“Mungkin besok malam? Sekalian kita berlatih untuk koreografi baru.” Wonho memberi usul.

“Boleh juga.” Kihyun setuju.

Hoshi tadinya ingin ikut mengiyakan, namun buru-buru teringat suatu hal. Tugas sekolah yang sempat disinggung oleh Shinbi tadi malam. Jarang-jarang ia mampu mengingat urusan sekolah kalau gadis yang baru dua hari bekerja di Rainbow Dust itu tidak mengingatkannya.

Hm, sepertinya aku tidak bisa, Hyung. Besok aku sudah ada janji.” ujarnya hati-hati.

“Janji? Tumben sekali. Memangnya janji apa?” Minhyuk segera memberikan respon. Dahi pemuda itu tampak sedikit mengerut ketika bertanya kepada Hoshi.

“Bukan apa-apa, sih, hanya ada tugas sekolah.”

Oh my God, seriously?? Kukira yang namanya Hoshi sudah tidak pernah lagi memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan sekolah.” komentar Minhyuk tak percaya.

Hoshi tersenyum tipis mendengarnya. “Yah, tapi bagaimanapun aku masih berstatus sebagai siswa sekolah, Hyung.” ujarnya lagi.

“Hah! Padahal yang namanya sekolah itu sama sekali tak menarik! Hanya duduk di kelas, mendengarkan guru mengoceh sampai mulutnya berbusa, lalu apa yang kau dapat? Bokongmu hanya akan merasa sakit!”

“Jangan dengarkan dia, Hoshi. Jika kau tidak menyelesaikan pendidikanmu, maka bukan tidak mungkin kalau kau juga tidak akan mempunyai masa depan seperti dia!” ujar Kihyun sembari menunjuk Minhyuk. Laki-laki itu pun melotot.

Semua yang ada di sana tergelak. Selama beberapa saat para pemuda itu saling bersenda gurau hingga akhirnya Hoshi yang paling pertama mohon izin untuk berpamitan. Hoshi memang selalu pulang lebih dulu mendahului anggotanya yang lain dengan alasan pagi hari nanti ia masih harus menghadiri sekolah. Ketiga personil Trespass yang lain memang memiliki jam terbang yang lebih santai karena di antara mereka sudah tidak ada satupun yang menjadi siswa sekolah. Paling hanya bekerja paruh waktu di samping menjadi penari jalanan pada malam hari, hampir sama seperti Hoshi sendiri.

“Hati-hati di jalan. Kalau Shownu dan gerombolannya kembali mencegat dan menghajarmu di perjalanan pulang, laporkan saja kepadaku. Aku akan membuat perhitungan dengannya kalau berani mencari masalah dengan salah satu anggotaku lagi.” pesan Wonho.

“Tenang saja, aku bisa jaga diri, Hyung.” Hoshi menyengir.

Setelah berpamitan, Hoshi segera berbalik pergi meninggalkan kawan-kawannya. Jarum jam di arlojinya hampir menunjukkan pukul empat. Hoshi hampir selalu melakukan perjalanan pulang menuju flatnya di jam-jam seperti ini. Kalau pesta untuk para penari jalanan yang selalu dihadirinya itu berlangsung cepat, terkadang Hoshi akan pulang dua jam lebih awal, tergantung dari berapa banyaknya grup yang tampil.

Tidak ada kendaraan pada jam-jam seperti ini sehingga Hoshi memutuskan untuk berjalan kaki. Laki-laki itu tidak keberatan karena memang letak flatnya tidak terlalu jauh dari sini. Sekiranya bisa ditempuh dengan lima belas menit berjalan kaki. Jika pada siang hari, bisa ditempuh dengan bus yang lewat dan memakan waktu tak sampai 5 menit.

Sambil menyisir jalanan yang gelap, Hoshi berniat untuk mendengarkan lagu dari ponselnya guna menghilangkan rasa sepi. Ia segera merogoh saku celananya untuk meraih ponsel lengkap beserta earphone yang rupanya masih menempel di tempatnya. Selesai memasangkan earphone-nya di telinga, Hoshi menghidupkan layar ponselnya, namun urung mengakses fitur musik ketika membaca satu buah pesan yang masuk.

Dari Hwang Shinbi. Dikirim kira-kira 5 jam yang lalu.

Besok jangan lupa bawa buku matematika.

Hoshi membaca pesan itu dengan cepat dan tanpa mengingat waktu, langsung membalasnya detik itu juga.

Ya.

Usai mengirimkan pesan, Hoshi menutup fitur chat dan bergegas mengaktifkan fitur musik. Laki-laki itu memutar lagu Like I Love You milik Justin Timberlake dan melangkah pulang.

***

cast

Hwang Shinbi

chefs

Kim Yeri, Kim Taehyung, Lee Chan

butlers

Choi Seungcheol/Coups

Yoon Junghan/Cheonsa

Hong Jisoo/Joshua

Wen Jun Hui/Jun

Kwon Soonyoung/Hoshi

Jeon Wonwoo/Beanie

Lee Jihoon/Woozi

Lee Seokmin/Dokyum

Kim Mingyu/Ming

Xu Ming Hao/Myungho

Boo Seungkwan/Boo

Choi Hansol/Vernon

Lee Chan (sebenernya gak termasuk butler tapi sayang aja fotonya kalo gak diaplot ehe)

customers

Kim Dasom

Alice Song, Kim Hyerim (Lime), Lee Yooyoung

others

Choi Minho, Key

Minhyuk, Wonho, Kihyun, Hyungwon

_____

a/n lagi :

saya berharap browser anda tidak nge-lag akibat terlalu banyaknya gambar pada halaman ini ehehehe. setiap posting rasanya selalu banyak yang pengen diomongin jadi buat menghindari bacot bakal saya bikin per poin aja (tetep bacot uga sih).

-ratingnya saya ubah ke general karena saya pikir semua konten dalam cerita ini bisa dikonsumsi oleh semua umur. pun dengan genre romance-nya yang kayaknya gak akan terlalu eksplisit, kecuali untuk beberapa chapter ke depan mungkin akan ada kalanya ditonjolkan.

-foto anak-anak seventeen sengaja saya upload satu-satu biar gantengnya keliatan /plak juga biar yang belum kenal mukanya bisa kenalan dan karena mereka cast utama dan memang karena qu sayang /plaklagi

-maafkan segala typo dan segala bentuk kerancuan kata /apa

-chapter ini kepanjangan dan yesh membosankan qu tahu :’)

-ada yang mau ditanyakan soal fanfic ini? ehehe

-terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca! (:

-selamat menyambut bulan ramadhan bagi yang menjalankan! ditjao mohon maaf apabila ada salah kata/perbuatan hehe

-posting jam segini ketauan gak ikut tarawih hwhw

31 responses to “Rainbow Dust – Which Butler Would You Choose?

  1. YAKALI AKU SAMPE LUPA TADI MAU KOMEN APAAN T.T
    OIYA INI GIMANA CARANYA BIKIN FF PAKE CAST SAMPE TUMVEH2 BEGINDANG???😂😂

    Dit ini apaan? Sejak kapan Jun bisa liat hantu? Sejak kapan Jisoo jd tukang penghancur? Sejak kapan Wonwoo jadi penggoda? Sejak kapan Jeonghan jadi terkenal di kalangan cewek2 (yg ini sejak sebelum debut kaleeee)😄
    Dan itu kenapa part Dino dikit bangeeeet? Eh perasaan emang pada dikit selain Hoshi sama Mingyu hahah yasudahlah~~

    Apa ini sudah ada lanjutannya? (Ketahuan bgt males menjelajah xD)
    Segini dulu aja deh, kelupaan soalnya mau komen apaan tadi jadi yaa ngetik yg ada di otak aja haha ini FF pasti rame banget ntar. Hayuks cepetan di update😀
    Byebye ❤️❤️

    • YAYAAAAAAA HAHAHAHAHA IYA NIH INI CAST-NYA KAYAK MO TAWURAN YA SAMPE TUMVEH-TUMVEH MAAVKEUN😄😄😄

      itu aku aja ngarang huahahaha aku pengennya setiap member seventeen di sini punya ciri khas masing-masing gitu, jadi kubuat kayak gini😄 iya nih dino di sini keknya part-nya gak banyak-banyak amat, tapi emang kuusahain bakal ada chapter khusus dia nanti biarpun kayaknya masih lama😳

      sudah ada lanjutannya koqqq cuma mau baru aku post di blog aku doang. rencananya juga mau aku post di seventeen17fanfictionindo, jadi bakal aku posting di sana terus kayaknya, gak bakal aku posting di sini lagi😳
      makasih banyak ya komennya sesama noona ketjeh:mrgreen:

      • Dan aku bingung mau bales ini gimana hahah😀
        Ya pokoknya aku udah baca chap selanjutnya di SVT FFINDO hahah❤

  2. Kacau saudara
    Saya dibuat makin kesemsem sama ini cerita
    hwahahahaahhaha

    Meski yah g bisa dipungkiri kalau aku masih bingung ngebayangin castnya
    tapi itu tak penting
    Jalan cerita yang mengalir damai membuat ku enjoy bacanya
    hohohohohohohohohoho

    Tau gitu dari dulu aja aku banyanya
    hehehe
    maafff😀

    • Makasih banyak (lagi), Rere. Duh aku gak kreatif ya balesinnya makasih mulu heuuu yang jelas baca komen dari kamu bikin aku semangat buat nerusin, serius T_T❤
      Lanjut balesin komen kamu di chapter selanjutnya yaa❤

  3. Sama2 (lagi)
    hahahahahahaha

    G kreatif balesin komen mah gpp
    Idenya disalurin buat ke next chanya aja #modus
    Hwahahahahaha

    Asssaaaaaa
    Kalau gitu ditunggu SECEPATNYA *maksa* next chapnya ya
    Hwahahahahaha *ketawa jahat* /tendang\

  4. woww akhirnya wonwoo ada juga ahahha
    meskipun perannya jadi penggembel ㅠㅠ
    duhh min udh 2016 masih belom apdet lanjutannya
    sebagai reader baru aku tunggu lho lanjutannya
    fighting min!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s