[Series] Another Cinderella Story – Chapter 1

FF ini ditulis oleh GSB (@sadanema) , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat Daftar isi FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

cici

Cast : Jung Cheonsa

           Kris Wu

           Park Hayeon

           Byun Baekhyun

           Park Chanyeol

Author : GSB (@sadanema)

Genre : Romance, friendship, family

Rating : PG 15 

 

 

 

*****

 

 

 

Matanya masih mengarah pada buku cerita bergambar yang tengah didekap erat oleh seorang gadis kecil yang berdiri tak jauh darinya. Walau bukan sesuatu yang penting untuk diamati, tapi entah kenapa ia tak bisa mengalihkan perhatiannya dari si bocah dengan dress berpotongan cantik yang terlihat tertarik dengan beberapa buku cerita lain yang berjajar di rak buku.

 

 

Ia dapat mendengar gadis kecil itu menggumam pelan, sejenak manusia kecil itu tenggelam dalam dilemanya. Gadis kecil itu menatap buku dalam dekapannya kemudian menatap sebuah buku lain yang masih berada di rak buku. Melihat hal itu entah kenapa ia merasa terpanggil untuk menghampiri si makhluk imut yang kini menatapnya dengan curiga.

 

Ia mengulas senyumnya begitu merundukkan tubuhnya. “ Kenapa tidak diambil?” gadis kecil berbando merah muda itu tak langsung menjawabnya, gadis kecil itu menatapnya terlebih dulu sebelum mengalihkan pandangannya pada buku cerita dalam dekapannya.

 

 

“ Aku bingung mau membeli buku Cinderella atau Rapunzel,” Jawabnya masih menatap dalam buku dalam dekapannya.

 

 

 

Mendengar suara menyedihkan gadis kecil itu, ia pun meringis pelan sambil menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap ke arah buku Cinderella dalam dekapan anak itu kemudian menghela pendek.

 

 

“ Lebih baik beli Novel Percy Jackson saja,” usulnya yang kemudian direspon dengan tatapan bingung si bocah kecil di sebelahnya.

 

 

Ayolah, apa orang-orang tidak bosan dengan cerita Cinderella atau Rapunzel? Apa mereka belum puas juga menyaksikan kisah-kisah itu yang sudah diangkat ke dalam film? Apa mereka tidak dapat beralih pada kisah lainnya? Dan apa para pencetak buku tidak bosan menerbitkan kisah yang sama setiap tahunnya?

 

 

Ia kembali tersadar dari segala pikirannya. Ia kembali menoleh pada gadis kecil yang masih menatapnya. “ Kau boleh membaca cerita Cinderella kalau aku sudah menulis versi barunya, mengerti?” Ia tak peduli gadis kecil itu mengerti atau tidak. Ia juga tidak peduli apa bocah itu akan mengiranya sinting atau terlalu imajinatif.

 

 

Tapi seperti yang ia katakan, orang-orang boleh membaca kisah Cinderella jika ia menulis kisah sebenarnya tentang si gadis malang yang tersiksa karena ibu tiri dan saudari tirinya itu. Versinya tidak akan penuh dengan kemalangan atau kerapuhan seorang gadis malang. Dalam ceritanya tidak akan ada Cinderella si hati lembut yang sabar menerima segala perlakuan buruk dari ibu dan saudari tirinya. Akan ada kisah baru dalam Cinderella-nya. Karena ia, Jung Cheonsa lebih tahu kisah Cinderella yang sebenarnya. Dan ia akan menceritakan bagaimana kisah Cinderella miliknya.

 

 

 

*****

 

 

 

 

Tidak ada bunyi nyanyian burung begitu ia terbangun. Matahari terlihat begitu mencolok manakala ia menyingkap gordennya. Ia menguap lebar seraya meregangkan otot lehernya yang terasa kaku. Ia beranjak kemudian melirik jam dinding yang menempel anggun di tembok kamarnya. Sudah pukul delapan lewat sepuluh menit. Lagi-lagi ia bangun terlalu siang dan itu berarti ia harus bersiap dengan ceramah pagi yang akan ayahnya sampaikan. Benar-benar pagi yang menyebalkan.

 

 

Ia pun berjalan menuju kamar mandi. Ia harus segera bersiap sebelum ia benar-benar terlambat sampai di kampus. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia mengambil asal pakaian dari dalam lemarinya. Ia bukan gadis yang terlalu memerhatikan penampilannya. Ia bukan seorang fashionista yang selalu memerhatikan tiap detail kecil yang melekat di tubuhnya. Ckk…ia bukan Hayeon. Saudari tirinya yang selalu tampil sempurna dan mendapat pujian dari seluruh pria di kampus karena penampilannya.

 

 

Setelah memastikan semua perlengkapannya, Cheonsa menyampirkan salah satu tali ranselnya di bahu kiri. Ia berjalan cepat keluar dari kamarnya dan membiarkan pintunya tertutup dengan suara debuman yang cukup berisik. Sesampainya di lantai bawah, ia bisa melihat sepasang suami istri yang tengah menyantap sarapan paginya dengan tentram. Tunggu. Kenapa hanya ada dua orang di meja makan? Kemana saudari tirinya yang selalu mengulas senyum manisnya tiap menyapanya di pagi hari?

 

 

Ia mengabaikan seluruh keingintahuannya terhadap Hayeon. Bukankah itu cukup bagus? Setidaknya ia tidak perlu terlihat seperti anak tidak tahu diri yang membalas sapaan Hayeon dengan sinis.

 

 

“ Tidur jam berapa kau semalam?” ia baru saja meletakkan bokongnya di kursi begitu suara dingin ayahnya terdengar. Cheonsa mengusap tengkuknya kemudian meringis pelan saat menanggapi pertanyaan sang ayah. Huft, kenapa ayahnya terlihat sangat menyeramkan?

 

 

“ Hmm..semalam aku banyak tugas, jadi aku….”

 

 

“ Appa hanya bertanya jam berapa kau tidur semalam?” sela sang ayah yang nampak tak ingin mendengar alasan panjangnya.

 

Ia mendesah kemudian menatap sang ibu tiri yang pagi ini terlihat sangat mengagumkan, pandangannya pun beralih pada sang ayah. “ Jam dua malam,” Jawabnya singkat.

 

 

Dengusan kasar dan gelengan frustasi menjadi reaksi utama sang ayah yang terlihat masih tak habis pikir dengan anak gadisnya. Entah apa ia masih bisa mengatakan bahwa anaknya ini seorang gadis. Lihat saja cara berpakaiannya. Tidak seperti gadis kebanyakan, Cheonsa terlihat cuek dengan kaos garis-garis lengan panjang dan celana jeans. Putrinya benar-benar jauh berbeda dengan gambaran anak perempuan pada umumnya.

 

 

“ Apa yang kau lakukan sampai selarut itu?”

 

Cheonsa terlihat santai menyantap roti yang baru saja ia olesi dengan selai cokelat kesukaannya. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kekesalan sang ayah.

 

“ Aku harus mengerjakan tugas-tugasku. Aku bukan seorang gadis yang memanfaatkan kepopulerannya untuk menyuruh pria-pria kutu buku di sekolah untuk mengerjakan tugasku,” Jawab Cheonsa santai sambil mengunyah rotinya. Ia benar-benar puas bisa mengatakan semua itu, terlebih saat sang ibu tiri tersedak karenanya. Ia tersenyum kecil, merayakan kemenangannya tanpa peduli jika di sisi lain ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam.

 

 

Memang beginilah suasana di meja makan setiap pagi. Selalu begini dan mungkin akan terus begini selama sepasang ibu dan anak menyebalkan itu masih tinggal di rumahnya. Cheonsa bukannya ingin mendramatisir keadaan dan memposisikan dirinya sebagai anak yang dilupakan dan tinggalkan. Awalnya ia pun mencoba untuk berhubungan baik dengan ibu dan saudari tirinya, karena ia yakin tidak semua ibu tiri jahat persis seperti yang ada dalam kisah Cinderella. Tapi sekarang ia benar-benar menyesal pernah berpikir sepolos itu. Yah, dulu ia hanya anak umur lima belas tahun yang naif.

 

 

Ibu tirinya memang tidak sekejam ibu tirinya Cinderella, ia memang tidak sekejam itu, tapi jangan pernah ragukan kelicikannya. Wanita itu memiliki tingkat kelicikan di atas rata-rata. Cheonsa masih ingat bagaimana wanita ular itu membiarkannya sendirian di rumah sepanjang liburan musim panas. Wanita itu sengaja menyuruh ayahnya untuk membiarkan dirinya mengambil les privat selama liburan sementara dirinya, putri cantiknya dan sang ayah menghabiskan waktu liburan di Prancis.

 

 

Ia juga masih ingat bagaimana cara wanita itu membuat nilai rapornya tampak tak berarti di depan sang ayah. Waktu itu ia mendapatkan nilai memuaskan dan sang ayah terlihat sangat bangga akan hal itu. Ia sangat bahagia melihat ayahnya tersenyum dan mengelus puncak kepalanya, namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibu tirinya langsung beroceh mengomeli nilai Hayeon yang tidak cukup baik jika dibandingkan dengan miliknya. Wanita itu terus menasihati sang putri yang terlihat sudah menunduk penuh penyesalan. Lagi-lagi ia berhasil mengubah sikap ayahnya. Lagi-lagi ia berhasil merebut perhatian ayahnya.

 

 

 

Mendengar ucapan sang istri yang mengeluhkan nilai Hayeon, Tuan Jung menepuk pelan bahu wanita itu. ia menyuruhnya untuk berhenti memarahi Hayeon. Dunia seolah berputar dengan tragis, sang ayah langsung duduk di sebelah Hayeon kemudian memeluk gadis itu dengan penuh kasih. Pria itu melihat buku rapor milik Hayeon kemudian tersenyum pada gadis itu. apa kalian ingin tahu apa yang dilakukannya setelah itu? Ia tidak terlihat kesal atau marah seperti saat Cheonsa mendapat nilai empat pada ujian matematikanya, ia justru merangkul Hayeon dan mengatakan Kau pasti bisa lebih baik dari ini. Kau bisa karena kau anak pintar. 

 

 

 

Jadi sudah lebih dari cukup kan alasan yang melatar belakangi sikap buruknya itu? Ia hanya terlalu lelah dan berusaha bersikap kuat dalam kesendiriannya. Ia tidak mengatakan bahwa ayahnya tidak menyayanginya lagi, tapi ia hanya merasa ayahnya jauh lebih menyayaingi Hayeon daripada dirinya.

 

 

 

“ Baiklah…aku berangkat appa…” ia beranjak dari kursinya setelah melahap dua lembar roti isi selai cokelat. Ia menatap sang ayah kemudian beralih menatap sang ibu tiri. “…eomma.” Lanjutnya dengan malas.

 

 

“ Pak Han sudah pergi bersama Hayeon. Salahkan dirimu sendiri karena bangun terlalu siang.” Ujar sang ayah.

 

 

Cheonsa hanya mengangguk. Itu sudah biasa bukan hal asing lagi untuknya. Walau begitu, jauh di dalam hatinya ia merasakan sedikit rasa nyeri. Apa dirinya selalu disisihkan? Apa keberadaannya di keluarga ini tidak terlalu berarti?

 

 

“ Oh…ternyata Hayeon sudah berangkat.” Dia menghela napasnya. “ Kakak-ku itu benar-benar gadis yang rajin.” Lanjutnya sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan. Sebelum mendengar ayahnya memuji-muji Hayeon seperti biasanya, ia memutuskan untuk memuji betapa hebatnya gadis itu. Yah…bukankah menurut ayahnya Hayeon adalah anak gadis impian semua orang tua?

 

 

 

*****

 

 

 

Seperti biasa ia langsung mengambil tempat di sebelah Baekhyun yang masih sibuk bercanda dengan Chanyeol.  Ia menghela pelan kemudian meletakkan tasnya ke atas meja. Ia merasa benar-benar lelah karena harus berlari agar tidak ketinggalan bus.

 

 

“ Kakak tercintamu kembali meninggalkanmu?” ia melirik tajam Baekhyun yang memasang wajah mengejek. Ia kembali menghela kasar.

 

 

“ Kali ini apa yang ia lakukan? Apa ia bilang pada ayahmu kalau ia harus membeli keperluan untuk regu cheers-nya seperti beberapa hari yang lalu?” tanya Chanyeol ingin tahu. Kedua orang super aneh yang sayangnya menyandang status sebagai sahabat baiknya itu benar-benar tidak membiarkannya untuk diam sejenak, setidaknya berikan ia waktu sebentar untuk melupakan kekesalannya.

 

 

Ia memutar posisi duduknya dan menatap mereka satu persatu. “ Dia bangun lebih awal dariku,” Jawabnya malas.

 

 

“ Wow…sepertinya ayahmu akan semakin menyayanginya. Gadis itu benar-benar tahu cara menarik simpati orang lain,” kekeh Chanyeol yang langsung diangguki Baekhyun. Dua orang itu begitu puas melihat wajah kesal Cheonsa, hingga mereka berdua tertawa senang.

 

 

“ Memangnya siapa yang tidak akan menyayangi gadis selembut, secantik, dan sebaik Hayeon.”

 

 

Tawa Chanyeol terdengar semakin mengganggu manakala pernyataan Baekhyun berhasil membuat Cheonsa membalikkan tubuhnya. Mengalihkan pandangannya dari dua orang idiot yang kelihatan sangat puas menertawainya.

 

 

Baiklah… jika dibandingkan dengan Hayeon ia memang hanya butiran debu yang tidak berarti. Ia hanya seorang gadis yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, tak peduli jika sekelilingnya mencela perilakunya yang kurang manis. Mungkin jika saja kisahnya difilmkan, semua orang akan memandang karakternya sebagai Cinderella jahat yang tidak tahu diri. Yah…semua orang pasti lebih setuju jika Hayeon memiliki hati yang jauh lebih baik dari dirinya.

 

 

 

*****

 

 

 

Ia tidak peduli seberapa banyak orang yang menghampiri mejanya untuk menghabiskan makan siang bersamanya. Ia juga tidak peduli jika banyak sekali orang yang terlihat menghampiri meja Hayeon untuk sekedar menghabiskan waktu makan siang bersama gadis itu. Ia sama sekali tidak peduli, itu bukan sebuah hal yang penting untuknya. Yah…mungkin akan menjadi sangat penting jika dua orang yang selalu menemaninya itu menjadi salah satu orang-orang di sana.

 

 

“ Huah…kapan ya aku bisa makan siang bersama Hayeon?” gumam Chanyeol setelah memandang ke arah meja Hayeon.

 

 

Cheonsa hanya melenguh pelan kemudian menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Ia benar-benar kehilangan nafsu makannya tiba-tiba.

 

 

“ Tapi aku lebih suka makan di meja yang sama denganmu,” Ucap Chanyeol lagi yang membuat Cheonsa mengangkat kepalanya.

 

 

Pria itu melebarkan matanya sambil mengangkat alisnya. “ Serius!” tegasnya lagi.

 

 

“ Kau tahu, kami tetap akan berada di sampingmu sekalipun seluruh wanita cantik di dunia datang merayu. Kami sangat menyayangimu Jung Cheonsa,” tambah Baekhyun.

 

 

Ia menggelengkan kepalanya begitu ucapan menjijikkan Baekhyun membuat perutnya mual sesaat. Oh ayolah, pria itu tidak perlu mengatakan hal seperti itu untuk menghiburnya.

 

 

“ Baiklah…akan kuingat ucapanmu Tuan Byun.”

 

 

Mereka pun melanjutkan kegiatan makan siangnya, menghabiskan waktu bersama seolah tak ada siapapun kecuali mereka bertiga. Berbagi tawa,  berbagi cerita konyol, atau paling tidak membicarakan kegiatan kelas berikutnya. Yah…dunia memang tak selamanya buruk. Walau Cheonsa harus mengakui dunianya tak seindah yang selama ini ia bayangkan, tapi Tuhan cukup adil. Walau seluruh dunia tak peduli padanya, walau semua orang menyisihkannya, ia masih sangat bahagia karena ia memiliki dua sahabat terbaik sepanjang masa.

 

 

 

*****

 

 

 

Bunyi mesin motor Chanyeol perlahan menyurut begitu mereka sampai di depan rumahnya. Cheonsa segera beranjak dari kendaraan beroda dua milik si raksasa Chanyeol.

 

 

“ Terimakasih, mau masuk dulu?”

 

 

“ Sudah sore. Eomma pasti akan memukulku kalau pulang terlambat,” Jawab Chanyeol sambil merengut sebal. Ia bisa membayangkan bagaimana ibu tercintanya akan memukulinya dan meneriakinya jika hal itu benar-benar terjadi.

 

 

“ Kalau begitu aku pulang. Sampai bertemu besok.” Chanyeol menutup kaca helmnya, tangannya kembali mencengkeram gas hingga motornya melaju cepat .

 

 

Motor Chanyeol melesat pergi dan menghilang dari pandangannya. Cheonsa membalikkan tubuhnya, bersiap untuk kembali ke tempat paling membosankan di hidupnya. Alisnya bertaut begitu matanya mendapati sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumahnya. Ia mencoba untuk menerawang kaca mobil itu. Seorang pria dengan baju berseragam supir terlihat berada di dalamnya.

 

 

Jelas itu bukan mobil ayahnya. Pria di dalam mobil itu juga bukan Pak Han supir keluarganya. Ckk, sepertinya ada tamu di dalam rumahnya.

 

 

Kedatangan tamu bukanlah sebuah hal yang menarik. Setidaknya itu tidak terlalu baik untuknya. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, begitu ia sampai di dalam rumah lebih tepatnya begitu ia melewati ruang tamu, suara bersahaja sang ibu tiri menyambutnya dengan sok perhatian.

 

 

 

“ Aigoo, Cheonsa kau baru pulang! Oh ya, beri salam pada Nyonya Song dan putranya,” Ucap sang ibu tiri yang benar-benar pandai bersandiwara.

 

 

Demi nama keluarganya, demi kehormatan ayahnya, Cheonsa menahan kekesalannya terhadap Lee Mija –ibu tirinya itu. Ia tersenyum menanggapi ibu tirinya kemudian menatap Nyonya Song dan seorang pemuda di sebelahnya.

 

 

“ Annyeonghaseyeo,” Sapanya sambil membungkuk hormat.

 

 

Ia menegakkan tubuhnya kemudian merapihkan helaian anak rambutnya yang berantakan. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan si pemuda bermata tajam yang sedang menatapnya penuh penilaian. Yah, pria itu cukup tampan, tapi Chanyeol dan Baekhyun tidak kalah tampan. Pria itu terlihat terlalu angkuh untuk digemari.

 

 

“ Cheonsa kau sudah pulang? Oh…maaf tadi aku meninggalkanmu, tadi aku harus….”

 

 

“ Tidak masalah,” Selak Cheonsa. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun dari Hayeon, bukankah sudah jelas kalau gadis itu ingin meninggalkannya? Setiap hari gadis itu selalu meninggalkannya dan akhirnya membuat alasan tidak masuk akal yang membuatnya muak.

 

 

Hayeon terlihat menyesal, lebih tepatnya menunjukkan ekspresi penuh penyesalan di wajahnya. Astaga…drama queen ini mulai lagi. Cheonsa menghela panjang menanti sandiwara macam apa lagi  yang akan ditunjukkan gadis itu.

 

 

“ Tapi aku benar-benar menyesal Cheonsa. Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu. Maaf,” Papar Hayeon dengan suara memelas dan memohon pengampunan. Kondisi seperti itu membuat posisi Cheonsa seolah salah. Ia terlihat seperti orang pendendam yang tidak murah hati.

 

 

“ Kau tidak perlu khawatir. Aku sampai di rumah dengan selamat.”

 

 

Hayeon menghela lega, seolah ia benar-benar mengkhawatirkan Cheonsa. “ Syukurlah..pasti Chanyeol yang mengantarmu.”

 

 

“ Chanyeol? Siapa dia?” Mendengar nama seorang pria disebut tuan Jung terlihat serius dan menatap Cheonsa dengan menyelidik.

 

 

Suasana pun menjadi sedikit lebih serius dan Cheonsa benar-benar mengutuk mulut sialan milik Hayeon. Semua orang kini menatapnya termasuk Nyonya Song dan putranya.

 

 

“ Suamiku…kau seperti tidak pernah muda saja.” Mija menepuk pelan bahu Tuan Jung kemudian mengerling jahil.

 

 

Astaga…apa sepasang ibu dan anak ini ingin membuat kesan seolah ia dan Chanyeol berkencan? Lagipula apa hal itu penting untuk dibahas di depan dua orang asing yang tak perlu mengetahui masalah pribadinya?

 

 

Sebelum semuanya berlanjut pada kesalahpahaman, Cheonsa berpikir cepat. Mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Ia menarik napasnya, kemudian menghembuskannya perlahan.

 

 

“ Appa ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku dan Chanyeol hanya berteman, aku…”

 

 

“ Teman dekat?” sela si pemuda yang menatapnya dengan santai.

 

 

“ Ya…dia sahabatku kalau kau ingin tahu. Aku juga bersahabat dengan satu orang lagi, namanya Byun Baekhyun. Keduanya sahabat terbaikku. Walau itu tidak penting untuk kau ketahui, tapi sepertinya kau sangat ingin tahu hal itu,” Paparnya sambil menatap si pemuda sok keren yang terlihat mengangguk.

 

 

“ Baiklah semuanya, aku harus ke kamarku. Sampai jumpa,” Pamitnya.

 

 

 

*****

 

 

 

Makan malam yang tidak menyenangkan, walau makan malam sebelumnya memang tidak pernah menyenangkan. Tapi kali ini jauh lebih buruk dari biasanya. Kini ada dua orang asing yang ikut duduk bersamanya di meja ini. Nyonya Song dan putranya ternyata menghabiskan makan malamnya bersama keluarganya. Apa itu kelihatan bagus? Oh tentu tidak. Selama makan malam itu berlangsung, ia hanya bisa diam mendengar betapa semangatnya Lee Mija membanggakan putri kesayangannya itu. Wanita itu ingin Nyonya Song mengetahui segala kebaikan putrinya tanpa ingin kelihatan pamer. Tapi sayangnya usaha wanita itu sia-sia di mata Cheonsa. Ia tetap terlihat seperti wanita tua menyedihkan yang memaksakan anak gadisnya terlihat baik di hadapan calon besannya. Tunggu, jangan-jangan pria bermata tajam itu memang calon suami Hayeon?

 

 

Cheonsa mengalihkan pandangannya pada pria di hadapannya, pria itu duduk bersebelahan dengan Hayeon yang sedang tersipu malu setelah mendengar pujian dari Nyonya Song. Pria itu balik menatapnya sambil menggerakkan kepalanya.

 

 

“ Dan kau. Apa yang kau lakukan untuk hidupmu Cheonsa-ssi?” tanya pria itu tiba-tiba. Terlalu tiba-tiba hingga semua terdiam dan menatap Cheonsa.

 

 

Cheonsa tak pernah berharap pria itu akan bicara dengannya. Tentu ia lebih memilih untuk diam dan mendengar bualan Mija. Ia benar-benar tidak siap dengan pertanyaan pria itu.

 

 

“ Dia berada di fakultas yang sama denganku. Hanya saja kami sedikit berbeda, dia merupakan bintang kelas yang berprestasi. Dia bahkan mendapat indeks nilai yang tinggi.”

 

 

 

Entah ia harus berterimakasih atau justru menjambak rambut Hayeon atas penjelasannya itu. Memang ucapan Hayeon tidak terlalu salah, tapi entah kenapa itu terdengar menyeramkan saat Hayeon yang mengucapkannya.

 

 

“ Aku sampai malu karena tidak bisa sebanding dengannya. Kami berada di rumah yang sama, menetap di bawah atap yang sama tapi kemampuanku tidak sama dengannya. Aku benar-benar bangga memiliki adik sepertinya,” Papar Hayeon lagi sambil tersenyum ramah saat menatap Cheonsa.

 

 

 

“ Kau benar-benar rendah hati Hayeon-aa. Aku tidak sebaik itu, kau terlalu berlebihan. Harusnya aku yang bangga memiliki kakak sepertimu, kau baik, cantik, ramah, memiliki banyak teman dan disenangi orang banyak,” Balasnya tak kalah manis dengan Hayeon yang berusaha tampil paling manis.

 

 

Untuk sekali ini saja ia ingin menunjukkan sisi manisnya, walau sebenarnya ia sangat menyesal karena harus memuji Hayeon. Tapi ini menarik. Membuat Hayeon dan ibunya melebarkan mata sungguh hal yang menyenangkan. Tentunya mereka tidak pernah menyangka ia akan bersikap semanis ini.

 

 

“ Aigoo…kau sangat beruntung Yunjae! Kau memiliki dua putri yang cantik dan manis seperti mereka. Mereka terlihat sangat manis,” tanggap Nyonya Song yang dibalas dengan kekehan Tuan Jung.

 

 

Berbeda dengan Nyonya Song dan Tuan Jung yang terlihat menikmati makan malam itu, serta sepasang ibu dan anak yang mencoba untuk berpura-pura terlihat senang, Cheonsa masih keheranan dengan pria di hadapannya yang belum juga mengalihkan pandangannya. Pria itu menarik sedikit sudut bibirnya. Sepasang mata itu terasa sedang menerawang jalan masuk menuju pusat pikirannya.

 

 

“ Oh ya…aku sampai lupa.” Nyonya Song kembali mengintrupsi perhatian semua orang termasuk Cheonsa.

 

 

“ Aku sudah membicarakannya pada Yunjae. Kalian berdua….” Cheonsa menatap Nyonya Song dengan heran yang tiba-tiba menatapnya dan Hayeon bergantian.

 

 

“ Ku harap kalian bisa menjaga Kris dengan baik, karena dia akan bersekolah di kampus yang sama dengan kalian. Semoga kalian bisa berteman baik,” ucap Nyonya Song yang sukses membuat kehebohan tersendiri bagi Hayeon yang terlihat amat senang.

 

 

Namun hal yang berbeda dirasakan oleh Cheonsa. Ia sama sekali tidak merasa senang dengan berita itu. Sungguh.

 

 

“ Itu berita yang baik. Kalau boleh ku tahu jurusan apa yang kau ambil?” tanya Hayeon dengan penuh antusias.

 

 

“ Manajemen bisnis,” Jawab pria itu singkat sambil membalas senyuman Hayeon.

 

 

“ Berarti kita satu jurusan!” Sahut Hayeon yang semakin girang. Yah…ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat ini. Jelas ia merasa bahagia. Ia akan menghabiskan waktu kuliah yang membosankan bersama dengan si tampan yang berhasil menarik hatinya semenjak pandangan pertama.

 

 

Cheonsa mengabaikan celotehan Hayeon yang sedang membicarakan kelasnya. Bagaimana dosen-dosen disana, lingkungannya, dan tak lupa opini-opininya mengenai kegiatan di kampus. Baginya fakta bahwa pria itu akan berada di kampus yang sama dengannya sudah merupakan berita buruk, dan sekarang semuanya bertambah buruk. Pria itu akan berada di kelasnya. Kalau begitu orang menyebalkan di kelasnya akan bertambah satu. Yah ….ada Hayeon dan pria itu, Kris Wu.

 

 

 

*****

 

 

 

Keadaan kelas menjadi ramai. Hal tersebut sudah berlangsung semenjak pagi tadi, semenjak pria bernama Kris Wu berdiri di tengah ruangan dan memperkenalkan dirinya. Semua gadis di kelasnya terlihat histeris dan terus membicarakan pria itu sepanjang waktu. Semuanya bertambah heboh saat Kris memutuskan untuk duduk di sebelah Hayeon dan mengajak gadis itu bicara. Kelasnya seperti terisi dengan gadis-gadis penggosip yang tidak lelah memperhatikan Kris dan Hayeon, kemudian membicarakan keduanya. Mereka terus menerka-nerka hubungan macam apa yang terjalin diantara keduanya.

 

 

“ Sepertinya Kris menyukai Hayeon.”

 

“ Yah…dan harus ku akui mereka terlihat serasi.”

 

 

“ Mereka pasangan yang sempurna.”

 

 

 

Ada saja selentingan yang terdengar. Entah di kelas, di kantin, toilet, atau bahkan jalan-jalan sepanjang koridor. Kedekatan Kris dan Hayeon menjadi berita besar yang menghebohkan seisi kampus.

 

 

Get jealous, huh?” Cheonsa mendengus kasar dan memutuskan untuk menatap makanannya. Tak ia hiraukan ucapan Chanyeol yang begitu menjengkelkan.

 

 

“ Jadi siapa Kris Wu itu?” tanya Baekhyun sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

 

 

Cheonsa mengaduk-aduk isi piringnya, kemudian menghembuskan napasnya pelan. “ Anaknya teman appa. Dia baru pindah dari Kanada karena ibunya menikah dengan pria Korea,” Jelasnya singkat.

 

 

“ Dia terlihat sangat akrab dengan Hayeon,” Ucap Baekhyun.

 

 

“ Ya dan sepertinya membuat mereka berdua akrab adalah alasan utama kenapa ia berada disini. Biar kutebak, sepertinya dia pria yang akan dijodohkan dengan Hayeon,” Tanggap Cheonsa yang mulai menyantap makanan di piringnya.

 

 

Baik Chanyeol dan Baekhyun mengangguk. Memang dugaan Cheonsa adalah dugaan paling beralasan.

 

 

“ Kau terlihat cemburu,” Ucap Chanyeol.

 

Cheonsa mengangkat kepalanya, ia menatap Chanyeol dengan tajam. “ Bisakah kau berhenti mengatakan hal semacam itu Park Chanyeol? Menyebalkan!” Tandasnya kesal.

 

 

 

*****

 

 

Seiring dengan berjalannya waktu keberadaan Kris di kelasnya menjadi sebuah kebiasaan entah untuk Hayeon atau teman-temannya yang lain. Cheonsa tidak bilang ia mulai terbiasa dengan keberadaan sosok itu. Ia dan Kris tidak begitu dekat, mereka jarang terlibat perbincangan. Seingatnya percakapan terpanjang antara ia dan Kris terjadi saat pria itu menanyakan kabar Hayeon yang tidak masuk selama tiga hari berturut-turut. Itu ironis, tapi ia benar-benar bersyukur. Setidaknya ia tidak menjadi pusat perhatian karena berbincang dengan seorang Kris Wu, pria yang sekarang ini selalu dikaitkan dengan Hayeon.

 

 

Keberadaan pria itu memang tidak pernah mengusiknya, tapi detik ini ia tarik pernyataan itu kembali. Entah ia harus melakukan apa saat pria itu mengacungkan tangannya saat pemilihan anggota kelompok untuk tugas makalahnya. Ia berharap Jaekyung –seorang gadis introvert yang cukup dekat dengannya- mengangkat tangannya lebih cepat dari pria itu.

 

 

Ia menghela pendek. Matanya masih tertuju pada pria itu. Sama sepertinya, seisi kelaspun menatap pria jangkung yang tengah berdiri sambil mengangkat tangannya. Terlihat Hayeon yang sedang mendumel kesal sambil mendengus.

 

 

 

“ Baiklah..Kris Wu! Akhirnya kau mendapat teman baru Cheonsa,” ujar Kim seosangnim.

 

 

Yah…Cheonsa mendapat teman baru setelah sebelumnya selalu berada dalam satu kelompok dengan orang-orang yang sama. Ia merasa sudah sangat nyaman dengan Chanyeol, Baekhyun, dan Jaekyung di kelompoknya, tapi kenapa pria jangkung itu mesti mengangkat tangannya?

 

 

Cheonsa tak berhenti mendengus. Tangannya juga tak berhenti bergerak melipat-lipat kertas buku catatannya. Ia tidak terlalu suka dengan orang baru dan mungkin itulah yang membuatnya tidak memiliki banyak teman. Ia tidak mudah mempercayai orang lain.

 

 

 

Gadis itu kesal dan Chanyeol mengerti. Ia terlalu mengerti bagaimana kerasnya gadis itu, bagaimana sulitnya gadis itu membuka dirinya terhadap sesuatu yang baru. Ia pun memutuskan untuk menetap di tempatnya sambil mengamati Cheonsa yang masih sibuk dengan kekesalannya. Ia bahkan tak beranjak walau hampir sebagian teman sekelasnya telah meninggalkan kelas.

 

 

“ Hey…kau terlihat benar-benar suram!” ujar Baekhyun. Pria itu baru saja beranjak dari kursinya. Maklum hari ini ia duduk di kursi barisan belakang.

 

 

Pria berwajah lucu itu duduk di kursi depan Cheonsa. Ia terlihat mengamati ekspresi wajah gadis di depannya, sama seperti Chanyeol, ia hanya melenguh pelan. Ia menoleh pada Chanyeol kemudian menggerakkan kepalanya, mencoba untuk berkomunikasi tanpa membuat suara sedikitpun.

 

 

“ Lebih baik kita ke kantin.” Akhirnya Chanyeol berdiri. Ia pikir harus ada yang berani mengambil keputusan. Tentu mereka bertiga harus keluar dari kelas, mereka pun perlu mengisi perutnya yang mulai kelaparan.

 

 

 

Ia berdiri di depan meja Cheonsa. Tatapannya masih terarah pada gadis itu yang nampaknya tidak setuju dengan usulanya. Gadis itu masih sibuk melipat-melipat kertas.  Ia menghela panjang. Matanya kemudian beralih pada Baekhyun yang masih menatap Cheonsa.

 

 

“ Tuan Byun ini tugasmu!” ujarnya sebelum melenggang pergi dan meninggalkan Baekhyun yang tengah mendengus kasar.

 

 

Baekhyun bukannya keberatan dengan usul Chanyeol, ia bukannya tidak mau, ia hanya…ia hanya tidak mau menjadi pelampiasan kekesalan gadis itu. Ia benar-benar tidak ingin menghadapi Jung Cheonsa yang menyeramkan ketika sedang marah.

 

 

Ia menggaruk tengkuknya kemudian melirik Cheonsa. Perlahan ia bangkit dari kursinya kemudian mencari cara yang tepat untuk membawa gadis itu keluar tanpa membuat kekacauan.

 

 

“ Cheonsa, ayo kita keluar. Kita pergi ke kantin.” Baekhyun terlihat takut begitu menyentuh lengan Cheonsa. Ia nyaris memekik begitu gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapnya.

 

 

Ia meringis. Cheonsa sudah menatapnya dengan dingin dan itu bukan petanda yang bagus. “ Cheonsa…maksudku…apa kau tidak lapar?” ucapnya gelagapan.

 

Baekhyun memejamkan matanya, harusnya ia memiliki ide yang lebih cemerlang.

 

 

“ Bagaimana kalau aku traktir? Kau mau, kan?”

 

 

Ia merasa jantungnya hampir lepas saat gadis itu tak juga mengalihkan pandangannya. Ia bahkan memundurkan tubuhnya begitu Cheonsa berdiri dari kursinya.

 

 

“ Baiklah,” Ucap Cheonsa. Gadis itu langsung memasukkan semua bukunya, termasuk buku catatan yang kertasnya sudah tak berbentuk.

 

 

 

****

 

 

 

 

At Canteen

 

 

Baekhyun merasa lega. Tentu ia merasa sangat lega karena ia masih dalam keadaan sehat tanpa ada lecet di tubuhnya. Ia berhasil membawa Cheonsa keluar dari kelas. Ia juga merasa lega karena nyatanya Cheonsa tak memesan banyak makanan, gadis itu hanya memesan susu kotak dan roti selai cokelat. Ia benar-benar menghela lega. Ia pikir saat ia menawarkan makanan gratis pada Cheonsa, gadis itu akan memesan makanan sebanyak-banyaknya. Tapi rupanya Cheonsa masih ingat kalau ia harus mengumpulkan uang untuk membeli tiket konser SNSD.

 

 

“ Kau tidak lapar? Kau tidak ingin memesan yang lainnya?” tanya Chanyeol melirik Cheonsa yang tengah mengunyah rotinya yang hampir habis.

 

 

Pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun langsung menoleh ke samping. Menoleh tepat pada pria bermata besar itu. Ia mendumel, mengutuk ucapan Chanyeol. Huft..apa pria itu ingin uangnya habis dan ia pulang jalan kaki?

 

 

Chanyeol balas menatap Baekhyun. Ia mengerti kecemasan pria di sampingnya, tapi sungguh…ia tidak bermaksud untuk membebani pria itu. Ia hanya simpati melihat Cheonsa yang terlihat tak begitu bersemangat.

 

 

“ Aku sudah kenyang.” Kedua pria itu langsung menatap Cheonsa. Menatap gadis di hadapan mereka dalam kecanggungan.

 

 

 

“ Maaf aku membuat kalian tidak nyaman. Aku terlalu kekanakan. Maaf..” tukas Cheonsa sambil mengulas senyumnya.

 

 

Hal itu membuat Chanyeol dan Baekhyun ikut tersenyum, mereka senang karena temannya itu sudah kembali merasa baik.

 

 

Yah…walau belum merasa lebih baik, tapi Cheonsa menyadari betapa kedua temannya itu mencoba untuk menjaga perasaannya. Kedua orang itu hanya bungkam memperhatikannya yang sedang mengunyah roti cokelatnya. Ia menyadari jika sikapnya membuat suasana menjadi tidak nyaman dan ia tidak ingin seperti itu.

 

 

Ia berusaha untuk melupakan kejadian beberapa waktu lalu dan hal-hal menyebalkan yang berkeliaran di kepalanya. Ia mengubah posisi duduknya, memajukan tubuhnya hingga dadanya menyentuh pinggir meja.

 

 

“ Bagaimana kalau kita mengerjakan tugas itu di rumahmu?” usul Cheonsa sambil menatap Chanyeol yang terdiam sejenak kemudian mengangguk setuju.

 

 

Cheonsa tersenyum senang. Suasana hatinya kembali membaik secara perlahan. Ia mulai bertingkah seperti biasanya, banyak bicara, bergurau dan melontarkan berbagai lelucon yang membuat kedua temannya tertawa.

 

 

“ Aigoo…ternyata Kim Seosangnim benar-benar tidak membiarkan kita bersantai. Banyak sekali yang harus kita kerjakan,” Ujar Baekhyun.

 

 

“ Oh ya…kalau kita semua sudah memilki tugas masing-masing, lalu apa yang harus Kris kerjakan? Biar bagaimanapun dia juga anggota kelompok ini,” tutur Chanyeol.

 

 

 

Penuturan Chanyeol memang tidak salah. Mereka bertiga sama-sama tahu hal itu. Tapi Cheonsa masih merasa sedikit enggan untuk membahasnya. Hah…baiklah ia sudah bertekad untuk mengenyampingkan opini pribadinya. Ini untuk kelompoknya.

 

 

“ Benar juga. Apa kau…..Cheonsa…” Baekhyun yang baru saja ingin menyumbangkan pendapatnya kini dibuat terperangah dengan kehadiran sosok di belakang Cheonsa. Sosok itu tersenyum singkat dan melambaikan tangannya.

 

 

 

Baekhyun hanya meringis sambil melambaikan tangannya, sedangkan Chanyeol menganggukkan kepalanya. Merasa heran dengan tingkah kedua temannya, Cheonsa langsung menoleh ke belakang. Menoleh pada sesosok pria tinggi yang mulai beranjak dari tempatnya dan duduk di sebelahnya.

 

 

Kini Cheonsa tak lebih baik dari Chanyeol maupun Baekhyun. Ia membisu bahkan kehilangan kata untuk memulai percakapan. Ini terlalu mendadak dan tiba-tiba. Terlalu cepat untuk mengubah rasa enggannya.

 

 

“ Kalian sedang membicarakan tugas itu?” tanya sosok itu.

 

 

Ia melirik ketiga orang itu, ketiga orang yang masih membungkam mulutnya entah disengaja atau tidak. Namun ia bisa melihat jelas kalau ketiga orang itu tak begitu menginginkan kehadirannya, terlebih Cheonsa yang sejak beberapa detik lalu mengalihkan pandangannya. Gadis itu memainkan sedotan susu kotaknya sambil memandangi minuman kotak itu seperti bocah idiot.

 

 

“ Dengar, walau kalian tidak menyukai…”

 

 

 

“ Bukan begitu Kris! Kami hanya sedikit terkejut melihatmu! Sungguh!” selak Baekhyun cepat. Meski ia yakin Cheonsa masih belum bisa menerima keberadaan Kris, tapi ia juga tidak ingin meninggalkan kesan tibak baik pada Kris. Biar bagaimanapun mereka satu kelompok.

 

 

Kris mengangguk, mencoba untuk menghargai usaha Baekhyun agar ia tidak tersinggung. Tapi sekali lagi, ia tidak mungkin mempercayai ucapan Baekhyun begitu saja ketika di satu sisi Cheonsa terus mendengus kencang. Kalau ia boleh menyimpulkan gadis itu benar-benar tidak menyukai kehadirannya.

 

 

“ Jadi…apa saja yang sudah kulewatkan?” tanya Kris.

 

 

 

Baik Baekhyun maupun Chanyeol mengerti usaha Kris untuk lebih akrab dengan mereka. Keduanya pun merasa tidak keberatan untuk memberi perhatian pada pria itu dan mereka pun mencoba untuk membuat Cheonsa untuk memberi kesempatan yang sama untuk Kris. Tapi lagi-lagi mereka hanya bisa membiarkan gadis itu dalam dunianya. Cheonsa terlalu keras kepala.

 

 

“ Tidak. Kami belum membahas hal itu terlalu jauh. Kami baru mendiskusikan pembagian tugas.” Kris mengangguk. Ia masih memperhatikan Chanyeol dan sesekali melirik Cheonsa yang masih tidak tertarik untuk terlibat dalam diskusi.

 

 

“ Biasanya kami mengerjakannya dengan santai, tidak terlalu buru-buru. Dan biasanya juga kami mengerjakan di rumah Chanyeol, rumahku…”

 

 

“ Rumah Cheonsa?” potong Kris.

 

 

“ Tidak! Sekalipun itu pilihan terakhir yang ada, kami tidak akan memilih rumahnya. Biar bagaimanapun kami tidak ingin bertemu dengan ibunya yang super menyeramkan,” Papar Baekhyun lengkap dengan ekspresi meyakinkan. Yah…tentu bukan ide yang tepat memilih rumah Cheonsa untuk mengerjakan tugas. Keberadaan Lee Mija di sana membuat mereka enggan.

 

 

Kris langsung menoleh pada Cheonsa yang tampak tak begitu keberatan dengan pernyataan Baekhyun. Gadis itu sama sekali tidak terusik, ia sampai heran dengan apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Entahlah, sepertinya terlalu sulit untuk masuk ke dalam pikiran gadis itu.

 

 

“ Kalau begitu kapan kita mulai bekerja? Hmm…lalu apa tugasku? Bukankah kau bilang kalian sudah mendiskusikan pembagian tugas?” tanya Kris yang mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol.

 

 

Chanyeol langsung kebingungan. Jelas-jelas mereka tidak memberi tugas apapun untuk Kris. Semua tugas telah dibagikan dan tidak ada yang tersisa. Ia menoleh pada Baekhyun yang sama bingungnya dengan dirinya. Tak ada pilihan lain untuk Baekhyun selain menendang pelan kaki Cheonsa.

 

“ Kau…” desis Cheonsa tertahan.

 

Gadis itu mengerutkan keningnya saat menatap Baekhyun yang tengah memberinya sinyal. Pria itu membulatkan matanya, menggumamkan sebuah kalimat dengan teramat pelan dan sayangnya ia tidak bisa mengerti.

 

“ Apa tugasku? Mereka bilang kalian sudah membagikan tugas.” Ia langsung tersadar manakala suara berat Kris terdengar.

 

Sama seperti ekspresi Baekhyun dan Chanyeol beberapa menit yang lalu. Kini Cheonsa terdiam, bingung mencari jawaban yang tepat. Ia melirik ke arah Baekhyun yang terus melotot  dan Chanyeol yang mengangkat bahunya.

 

 

“ Tugasmu…” gumamnya pelan.

“ Tugasku..” ulang Kris sambil menatap Cheonsa.

 

“ Tugasmu…tugasmu itu…membantu kami semua!” Cheonsa menganggukkan kepalanya. Akhirnya ia bisa menemukan jawaban yang tepat.

 

“ Yah…membantu kalian.”

 

 

*****

 

 

 

 

 

 

 

TBC

 

Hei…gimana? ngebosenin ya? Panjeng bgt ya? Sebelumnya aku minta maaf bgt klo ff ini terkesan panjang dan ngebosenin, tapi aku juga mau ngucapin terimakasih buat siapapun yg udah baca..semoga terhibur.. Oh ya aku mau ngasih sedikit penjelasan, jdi berhubung di ff ini ibunya Kris udah cerai ama ayah kandungnya Kris, jadi nama ibunya bukan nyonya Wu lagi tapi nyonya Song. Oke? Klo ada lagi yg gak jelas bisa tanyain aku…oke deh itu aja..

 

Thanks,

 

GSB

 

7 responses to “[Series] Another Cinderella Story – Chapter 1

  1. cheonsa kenapa kaku bgt sih??kris tertarik sama cheonsa ya??
    Wah cgeonsa visa jadi musuh besarnya hayeon ni…ibu tirinya juga pasti langsung bertindak…ceye ma baeki harus selalu ada buat cheonsa ya….ditunggu next chap…

  2. good… good… good…
    ceritanya bagus bgt, perempuan yg menderita tapi tampak sangat kuat.
    suka bgt ama cheonsa nya.
    klo boleh saran sih lbh baik cheonsa kluar dr rumah dg alasan ingin mandiri.
    tapi ntar klanjutannya aku jga g tau. hehehe
    atau engga buat cheonsa melakukan ke hebohan besar yg ngebuat appa nya marah tp justru dalang di blik itu adalah ibu dan kakak tirinya.
    itu ajah sih. g mau ngeritik jga. krn aku g bsa buat ff jd g mau ngritik orang 😁
    di tunggu next nya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s