[Series] Will You Be My Bride? (1)

FF ini ditulis oleh Kim Liah , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat Daftar isi FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

WIYBmBL

 Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

.

.

“Taehee-ya, Yeseul-a, mian” Minjung duduk dibangku kosong samping Taehee, tak lama kemudian muncul seorang gadis semenawan Minjung duduk dibangku sebelahnya “Eoh, bahkan aku terpaksa membawa Sora kemari” penyesalannya lebih nampak seperti sebuah kesengajaan dan pamer.

“Annyeonghaseyo, Lee Sora imnida ahjumonim” Sora tersenyum hormat kepada teman mertuanya itu, ia agak tidak nyaman duduk disana karna perut buncitnya.

“Eoh, jadi ini menantu keduamu, Minjung-a?” Yeseul menepuk punggung tangan Sora “Kau berseri sekali, pasti bayimu kelak laki-laki” pujinya.

“Kau ini ada-ada saja Yeseul-a” sanggah Minjung dengan senyum kemenangannya.

“Kamsahamnida ahjumonim” Sebagai seorang menantu kalangan atas, pujian sekecil apapun membuat Sora bangga.

Taehee mendengus kesal, ia nampak tak bersemangat jika membicarakan mengenai menantu bahkan cucu. Putri semata wayangnya sama sekali belum tertarik untuk menikah, padahal usia putrinya dengan putra Minjung berjarak 2 tahun lebih tua dari Taeyong, putra kedua Minjung.

“Waeyo Taehee-ya? Kau nampak tak lemas begitu?” Minjung sengaja menyenggol pundak Taehee.

Taehee menampakkan deretan tawa datarnya “Kau akan segera menjadi haelmoni bercucu dua, bukan?” ledeknya.

Minjung mengerutkan keningnya pertanda ia sungguh tersinggung dengan ucapan Taehee yang kedengaran seperti meremehkan statusnya yang sudah menjadi nenek. Ia tertawa kecil “Aku sungguh bersyukur kedua putraku memberiku dua menantu yang cantik serta cucu yang lucu” ia menghela nafas sejenak “Mereka tak perlu menambah kerutan diwajahku dengan melajang cukup lama” sindirnya.

“Mwo?” kedua mata bulat Taehee membulat sempurna, selalu saja Minjung mengajaknya berdebat dan saling menjatuhkan seperti ini.

“Geumanhe, kalian ini bisa merusak suasana ibu hamil cantik ini” Yeseul membelai rambut Sora.

Taehee tak peduli dengan keberadaan Sora disana, ia sudah kepalang marah dan akan sangat sulit meredakannya. “Geurae, silahkan saja kau menyebutnya lajang. Toh diluar sana Jiyeonie-ku sudah menggandeng pria terbaiknya”

“Jincha? Chukae Taehee-ya, kapan kau akan mengundang kami ke pernikahan putrimu itu eoh?” Minjung tersenyum meremehkan.

Taehee sungguh skakmat, Minjung memang ahli memojokkannya seperti ini. “Se..secepatnya, Jiyeon bahkan sudah bertukar cincin dengan calon menantuku itu” dustanya.

“Chukae Taehee-ya, kau akan segera menyusul kami menjadi mertua” sambar Yeseul.

“Eoh, geu..geurae” lirih Taehee.

.

Jiyeon berjalan sedikit sempoyongan, ia bahkan kesulitan mencari saklar lampu utama di ruang tengah rumahnya. ia mengerjapkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. disofa yang tak jauh darinya nampak seperti ada seorang wanita menatapnya dengan mata merah menyalanya. “Mwoya? aku pasti sudah sangat mabuk” ia menggelengkan kepalanya dan berjasil menyalakan saklar lampu utama sehingga kini ia dengan jelas menemukan Taehee duduk dengan kesal disofa.

“Pulang malam lagi?” ketus Taehee, putri semata wayangnya ini doyan sekali clubbing setelah pulang kerja, Jiyeon bahkan membawa gaun pestanya dimobilnya sehingga ia tak perlu kembali ke rumah.

“Eomma, kau menakutiku saja” Jiyeon duduk disebelah Taehee dan merangkul Taehee bahkan ia merebahkan kepalanya dipangkuan Taehee.

“Aishh, bangun kau gadis bodoh” Taehee menepuk pantat Jiyeon hingga putrinya itu mengaduh kesakitan dan terbuyar dari tidur sekejapnya.

“Appo-ya” Jiyeon mengelus pantatnya dan menatap Taehee yang kali ini kelihatan lebih menakutkan dari wajah marahnya yang sering ibunya pampang didepannya jika sedang kesal.

“Geurae, appo” Taehee menepuk dada kirinya “Hati eomma lebih sakit dairpada pukulan ini” ia kembali memukul pantat Jiyeon namun terhalang bantal disebelah Jiyeon.

“Waeyo? Sekarang masalah apalagi eomma?” ibunya ini selalu membesarkan masalah seperti ini.

“Kau” Taehee menunjuk kening Jiyeon dan sedikit mendorongnya “Gara-gara kepalamu ini, eomma harus menanggung malu dari Minjung. Aishh, kapan kau akan melepas masa lajangmu ini hah?” cerocosnya.

“Malu? Minjung imo? Bukannya eomma memang selalu kalah telak dari Minjung imo? Aishh, sekarang eomma menimpahkan kesalahan padaku hah?” desis Jiyeon kesal.

“Eoh, memang kau yang salah. Kepalamu ini biang keroknya” Taehee menjewer telinga JIyeon “Bersihkan isi kepalamu dan segeralah menikah” lanjutnya.

“Yaaa eomma” Jiyeon menarik kepalanya hingga terlepas dari jeweran Taehee “Apa eomma tidak lelah berbicara mengenai kata tabu itu hah?” sengaknya.

“Lelah? Eoh, bahkan eomma serasa berumur 10 tahun lebih tua dari usia eomma sekarang”

“Eomma!!! Geumanhe” Jiyeon merebahkan kepalanya dipundak Taehee “Jangan seperti ini. Harus berapa kali aku katakan kalau aku bisa hidup mandiri tanpa status pernikahan sekalipun” ada satu hal yang ia ambil nilai positif dari Taehee yang sudah hidup menjanda selama 15 tahun ini tanpa ayahnya yang sudah tiada, ia bersyukur penyakit ayahnya itu merenggut nyawanya sehingga ibunya tak perlu menahan sakitnya di duakan.

“Gadis bodoh, lupakan semua pemikiran jelek itu. Menikahlah, hanya itu yang eomma minta darimu, Jiyeonie” lirih Taehee, ia sungguh sangat putus asa mendesak Jiyeon.

“Aku mengantuk” gumam Jiyeon mengalihkan pembicaraan, keputusannya sudah mantap, ia tak akan menikah sampai kapanpun.

.

Disebuah lapangan futsal nampak seorang pria tampan berkaos dengan nama Luhan tengah bergerak gesit bersama striker utama kesebelasan futsalnya, Doojoon. Sebagai gelandang tengah ia mempunyai andil membantu striker utama mereka dalam mencetak gol.

Benda bulat berwarna putih biru itu tergelinding dan terlempar ke gawang lawan berkat tendangan dari Doojoon. “Ashaa” Doojoon merangkul Luhan dan mereka saling berhigh five ria karna tim mereka menang telak 6-3.

“Igeo” Jin melempar minuman isotonik dingin ke arah Luhan dan Doojoon “Seperti biasa kalian memang pasangan tak tertandingi” pujinya.

“Eoh tentu saja” Luhan menyenggol pundak Doojoon.

Doojoon menatap Luhan dengan pandangan jijik “Eihh, jangan bilang ini alasan utama kau tetap melajang diusia yang hampir 27 ini hah?” tanyanya.

Luhan tersedak minumannya hingga ia terbatuk pelan “Mwo? Kau? Aku?” ia tertawa girang sambil memukulkan handuknya ke bangku disampingnya.

“Wae? Matcji? Kau..” Doojoon sedikit mundur 30 cm dari bangku duduknya.

“Mwo? Maksud kalian…” Jin menatap bergantian kedua rekan setimnya itu lalu membisikkan dengan pelan sepelan hembusan angin “Berpacaran? Kau..”ia menunjuk Luhan tak percaya, temannya yang setampan dirinya ini bagaimana bisa salah jalan seperti ini.

Luhan berhenti tertawa dan menghempas telunjuk Jin “Anni! Aku ini pria normal” tegasnya.

“Kau tak sedang menipu kami bukan?” selidik Doojoon tak percaya, ia sungguh percaya bahwa Luhan memang ada feel padanya.

“Eoh, yakso” Luhan hendak memegang lengan Doojoon namun dengan segera Doojoon menyilangkan kedua tangannya.

“Yaaa, menjauhlah” usir Doojoon.

“Jincha Doojoonie. Kau itu sahabatku, hanya itu” ujar Luhan.

“Kalau begitu kenapa kau tak segera menikah Luhan-ya?” selidik Jin.

“Arghh.. igeo..” mana mungkin Luhan jujur pada mereka bahwa ia menunggu wanita yang menghuni hatinya bersedia menikahinya.

“Igeo mwonde?” sanggah Doojoon.

“Yaa” Luhan merangkul Jin dan Doojoon “Kalian tahu kan kalau aku ini seorang casanova? Yayyy, kalau aku menikah, semua pemujaku akan bersedih” dustanya.

“Jincha?” ulang Jin.

“Eoh jincha” Luhan menarik kedua sahabatnya untuk berdiri “Kajja kita mandi” ajaknya.

.

Hari minggu selalu Jiyeon habiskan didalam kamarnya untuk melepas penat dengan menangis sepuasnya karna film cengeng yang menguras air mata. Ia sangat benci menangis dan tak suka terlihat lemah dengan untaian air mata. Benar, ia selalu bersifat tegar dan ia hanya bisa meluapkan tangisannya jika berhadapan dengan film mellow.

“Hiks” Jiyeon mengusap air matanya, film yang baru ia tonton itu berkisah tentang keluarga, satu hal yang selalu membuatnya ingin meneteskan air mata. Ia teringat perkataan ibunya tadi malam, ia memang selalu dan selalu ingin membahagiakan keluarga satu-satunya itu, namun tidak dengan menikah.

“Huft” ia menghela nafas berat lalu menyapukan jemarinya untuk sekedar mengetik beberapa kalimat ke sebuah nomor utama yang selalu jadi tempatnya bersinggah jika tengah bermasalah, Luhan.

Ia bukan gadis yang gampang terbuka pada orang lain, namun kepada sahabatnya itu, dengan mudahnya ia mencurahkan semuanya bahkan rahasia terkecilnya sekalipun.

“Yaa eodiega?” Taehee tengah asik menonton acara masak di pagi hari, ia amati putrinya yang sudah mengenakan pakaian feminimnya, gaun hitam selutut dengan cardigan berbulu.

Jiyeon menyeringai menggoda seraya mengenakan high heelsnya diujung pintu “Menemui calon menantumu” godanya lalu mencelos keluar rumah.

Menantu? Taehee sungguh meragukan ucapan Jiyeon, gadis itu sama sekali tak pernah membawa seorang lelaki kerumahnya selain sahabat dari sekolah dasar yang sampai sekarang masih saja akrab dengan Jiyeon. Tiba-tiba ia teringat perkataan Yeseul kemarin ‘Igeo..anak muda yang pernah mengantarmu itu, siapa namanya? arghh Luhan? Kenapa kau tak mengangkatnya menjadi menantumu saja?’ konyol memang ide Yeseul, setahunya Jiyeon dan Luhan hanya sekedar bersahabat. Bahkan ia sudah menganggap Luhan seperti putranya sendiri.

.

Jiyeon memainkan kaca mata hitamnya seraya berkali-kali mendengus sebal. Sudah 10 menit ia menunggu di cafe favoritenya dengan Luhan. Namun sahabatnya itu tak kunjung menampakkan hidungnya. Selalu saja seperti ini jika mengajaknya bertemu dihari minggu, lebih mudah berjumpa  Luhan dihari kerja.

Luhan berlari cepat menuju meja yang tengah teranggurkan bersama Jiyeon. Ia tarik kursinya dan mendudukinya, dibahunya terselempang tas futsal kebanggaannya yang berisi kaos dan sepatu bolanya. “Mianhae Jiyeonie” sesalnya.

“10 menit, aku sudah menunggumu selama itu Luhan-ya” sahabatnya itu jarang membuatnya menunggu lebih dari 5 menit.

“Igeo… ini kan waktu makan siang, weekend pula, jalanan macet Jiyeonie” ia mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan cafe dan memesan eskrim strawberry sama seperti Jiyeon.

“Geurae, sebut saja macet karna bola plastik itu menggelinding menghalangi jalan, matcji?” jika saja Jiyeon tak mengingat seberapa mahal sunglasses ditangannya ini, ia pasti sudah melemparnya ke arah Luhan.

“Eittt, kau sudah pandai melawak sekarang” Luhan mengelus kepala Jiyeon, tepatnya mengacak-acaknya rambut coklat Jiyeon yang sudah susah payah diblow.

“Yaa, kau merusak rambutku” Jiyeon menghempas tangan Luhan.

“Gamsahamnida” Luhan menunduk kepada pelayan yang menyajikannya semangkuk eskrim “Massita” pujinya seraya menyuapi sesendok eskrim ke Jiyeon.

Jiyeon melahap suapan itu dan kekesalannya sedikit mereda “Eskrimku bahkan sudah meleleh” keluhnya.

Luhan menukar eskrimnya dengan eskrim Jiyeon “Igeo, sudah utuh lagi bukan. makanlah” ia suapkan eskrimnya yang sekarang milik Jiyeon yang sekarang memang sudah sedikit meleleh “Keundae, memangnya hal penting apa yang sampai membuatku berlarian kabur dari kegiatan futsalku?” selidiknya.

“Jincha, aku sungguh tak mengerti pemikiran manusia dibumi ini, apa tak ada hal menarik lainnya selain menikah?” gerutu Jiyeon.

“Menikah? Yaa memangnya kau bukan manusia?” jika membahas mengenai menikah maka pembicaraannya dengan Jiyeon akan berubah serius karna ia akan menjadi ahli sastra yang pandai mengarang berbagai kalimat “Apa Taehee imo mendesakmu lagi?” tanya Luhan.

“Berkali-kali”

“Apa jawabanmu kali ini? Apa kau mengacuhkannya lagi?” selidik Luhan, hal yang selalu Jiyeon terapkan untuk menghindari Taehee hanya itu saja.

“Eoh, aku berpura-pura mengantuk”

“Kau selalu saja kekanak-kanakan seperti itu” sindir Luhan.

“Lalu alasan apalagi yang harus kubilang jika eomma selalu tak menolak keinginanku untuk tetap SINGLE” Jiyeon sengaja memperjelas kata single yang menurutnya sangat membanggakan.

“Eumm, kurasa Taehee eommonim ada benarnya juga. Coba bayangkan kalau kau memiliki putri cantik yang sudah seperempat abad dan masih melajang sementara teman sebayanya lainnya sudah menggendong anak” cerocos Luhan.

“Aku akan senang kalau putriku tak menikah selamanya” Jiyeon melipat kedua tangannya didada.

“Wae?”

“Pernikahan itu hanya memberatkan aku kaum wanita” jawab Jiyeon tegas.

“Aku sebagai pria juga merasa terbebani”

“Matcji, kita memang selalu sependapat Luhan-ya” Jiyeon mencubit pipi Luhan dengan gemas.

“Beban itu mungkin hanya efek sampingnya dari keuntungan yang melimpah” Luhan menyeringai “Kau tak akan tidur sendirian lagi dan ada orang lain yang memperhatikanmu selain ibumu” lanjutnya.

“Yaaa” Luhan memang selalu pandai bersilat lidah “Cuci kepalamu itu Lulu-ya! Keundae, bukankah ada guling disampingmu? Kau tak tidur sendirian Lu-ya” Jiyeon tertawa girang “Kau.. kalau kau ingin teman tidur kenapa kau tak kunjung menikah juga hah? Lagipula memangnya kau tahu darimana kalau menikah itu berlimpah keuntungan?” tanyanya.

“Tentu saja mempelajari lingkungan kita. Usiaku sudah hampir 27 dan teman-temanku sudah berkeluarga. Banyak pelajaran dari mereka”

“Kalau begitu menikahlah!” tak ada jawaban dari Luhan “Sudahlah, kau akui saja kalau kau sebenarnya memang setuju dengan pendapatku, 100%” desak Jiyeon.

“Arraseo, kita memang sehati” goda Luhan.

“Sepemikiran!” sanggah Jiyeon.

“Tapi bukan berarti aku setuju melajang selamanya sepertimu Jiyeonie” Luhan memang menunggu gadis yang merebut relung hatinya itu bersedia bersuamikan dirinya “Aku hanya menunggu pasangan yang PALING tepat saja” jelasnya.

“Pasangan paling tepat?”

“Eoh, bukankah itu yang kau cari selama ini?” tebak Luhan, ia tahu benar jika Jiyeon terlalu picky memilih pria terbaiknya apalagi selepas ia berpetualang dengan kelima mantannya.

Mata tajam Jiyeon menangkap sepasang remaja yang baru saja memasuki cafe tempat mereka bertukar pikiran, pemuda itu menggandeng tangan kekasihnya dengan hangat.

“Wae? Apa kau iri pada mereka? Lupakan, kita sudah cukup tua untuk bermesraan seperti remaja itu” Jiyeon memanyunkan bibirnya “Mwoya? Kau kira aku mau bermesraan denganmu hah?” Luhan terkena pukulan sendok eskrim Jiyeon.

“Yaa, wanita-wanita cantik akan semakin mengerubungiku jika aku semakin semanis ini” Luhan mengusap setetes eskrim dikeningnya. “Keundae, kurasa kau benar” ucapnya bangga.

Jiyeon menatap manik mata Luhan dengan serius “Aku ingin digandeng seperti remaja putri itu” akunya.

Luhan mengulurkan tangannya “Kajja, aku akan menggandeng tanganmu” tawarnya.

Jiyeon tak menggubrisnya, ia malah mendengus kesal “Ayolah, berhenti bercanda. Aku meluangkan waktuku duduk didepanmu untuk meminta solusi dan bukan mendengar leluconmu” keluhnya.

“Geurae, solusi” Luhan nampak berpikir “Eiyy, bukankah kau bisa meminta kekasihmu menggandeng tanganmu?”

Jiyeon menggeleng “Gandengan kekasih itu sangatlah lemah, mudah putus” ia hanya ingin seseorang yang bertahan lama dengannya, setia dengannya dan menemaninya kemanapun dengan gandengan tangan penuh rasa aman dan nyaman.

“Apa sudahnya menggaji orang untuk menggandenga tanganmu. Apa perlu kugandeng terus tanganmu ini?” Luhan melekatkan jemarinya ditangan kiri Jiyeon.

“Yaa” Jiyeon ayunkan tangan bebasnya dan hendak memukul kepala Luhan, namun dengan gesitnya Luhan menghindar.

“Sekarang kau sadar bukan kalau menikah itu bukan hanya sekedar mengontrak penggandeng tangan?” tanya Luhan, pemikiran Jiyeon memang selalu kelewat batas.

“Justru itu, aku tak mau salah memilih suami. Kalau saja…”

“Mwonde?”

“Kalau saja aku bisa tetap yakin kalau pria itu akan tetap manis dan setia padaku”  jemari Jiyeon menyendok eskrimnya dan memakannya “Bagaimana kalau pria yang menikahiku ternyata pria yang payah, main kasar dan suka mencaci makiku?”

“Tak semua pria seperti itu, Jiyeonie”

Jiyeon menggeleng “ANNI, semua pria sama saja” ucapnya kekeh.

Luhan menunjuk dirinya sendiri “Bagaimana denganku? Aku juga pria, Jiyeonie-ya”

Jiyeon menggerakkan jemarinya seolah berkata tidak “Anni, kau itu malaikat Luhan-ya”

Luhan tertawa terbahak-bahak “Malaikat? Yaa, aku ini masih hidup” ia mengakta sendok eskrimnya dilehernya “Apa aku harus mati dulu biar menjadi malaikat sebenarnya?”

“Yaa geumanhe, nanti mereka mengiraku memaksamu bunuh diri” Jiyeon merebut sendok ditangan Luhan dan menaruhnya kembali ke mangkuk “Kalau kau ingin segera menikah, berobatlah dulu Luhan-ya” sindirnya.

“Dan kau Jiyeonie, Kalau kau ingin mendapat pasangan yang tepat, maka setidaknya percayalah pada satu orang saja dari golongan pria” balas Luhan.

“Shirreo, Luhan-ya. Kebanyakan pria akan berubah setelah pernikahan berjalan 2 atau 3 bulan. Bahkan mereka bisa saja berbuat kasar kepadaku”

“Jincha?”

“Eoh, coba kau sebutkan apa manfaatnya aku harus terkurung dalam hubungan pernikahan?” Jiyeon menyibakkan rambutnya dan mengelus cincin berlian limited edition yang baru ia beli kemarin “Aku sudah cukup mapan untuk membiayai hidupku yang serba mewah” ini menunjukkan kalau ia tak mungkin menikah karna alasan ekonomi “Dan kau tahu bukan kalau aku ini sudah sabuk merah?” ia renggankan jemarinya hingga berbunyi ketukan tulangannya “Aku tak butuh pria untuk melindungiku, matcji?” ucapnya bangga.

“Kau yakin tak ada keinginan lain yang tak bisa kau lakukan tanpa pria?”

Jiyeon menopang wajahnya dan mengetuk telunjuknya dipipi kirinya “Sepertinya tak ada” jawabnya.

“Geurae, nyonya Park Taehee. Hanya beliau alasanmu, bukan?”

“Eoh, jeongmal, aku sudah cukup tersiksa dengan desakan eomma” keluh Jiyeon.

“Berarti kau memang harus terteror selamanya dengan desakan Taehee imo hingga suatu saat kau akan memaksakan diri menikah sampai kau merana dan sengasara…. dan kau juga akan makan banyak dan segendut panda” ledek Luhan.

“Xi Luhan!”

“Apa kau pernah memikirkan Taehee imo? Ia pasti sangat ingin kau segera menemukan pasangan terbaikmu, itu satu-satunya kebahagiaan yang ia minta darimu saat ini”

“Kebahagiaan yang merenggut kebahagiaanku juga” lirih Jiyeon.

“Arghhh dalam sekali” Luhan meremas dada kirinya seolah ia tengah tersakiti.

“Geumanhe, berikan aku solusi sekarang” Luhan mengetuk jemari kirinya didagunya lalu menjentikkan jemarinya pula “Pertama kau tak boleh marah dengan ideku ini” ujarnya.

“Marah? Untuk apa? Marhaebwaa”Jiyeon nampak serius mendengarkan.

“Sebelumnya aku ingin bertanya satu hal terpenting, APA KAU PERCAYA PADAKU?” Luhan sengaja memotong nada bicara kalimat terakhirnya agar semakin jelas.

Memangnya ada alasan lain bagi Jiyeon untuk meragukan persahabatan mereka. Sudah 10 tahun ia dan Luhan bersahabat, ia juga sudah mengenal Luhan cukup baik, bahwa pria menyebalkan ini bisa dipercaya.

“Eoh, wae?”

“Kalau begitu percayalah kalau apa yang kulakukan ini semata-mata demi kebaikanmu saja dan tak ada sekalipun niat buruk didalamnya” Luhan tahu kali ini ia kelewat batas.

“Geurae, katakan saja palli” Jiyeon tahu jika Luhan bisa saja memberinya ide terkonyol sedunia. “Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen”

“Eksperimen? Memangnya aku kelinci?” sanggah Jiyeon.

Luhan mengambil nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat teranehnya “Kita akan melakukan PERNIKAHAN. Kau dan aku” jelasnya.

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri.

 TBC

 Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

12 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (1)

  1. Hallo … saya menyukai fanfictionnya, dan menarik untuk membaca kelanjutannya, tapi kadang suka bingung sama kalimatnya tapi tetap enak kok untuk trs diikuti … semangat …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s