IXIA – Page 3

Previous: Prologue | Page 1 | Page 2

ixia

Poster by Bboness @cafeposter

Youngieomma’s present

.

.

.

I X I A

P A G E 3

Zhang Yixing – Kang Sun Hee – Kim Jongin – Other

PG +19

(Tidak ada adegan dewasa dalam FF ini hanya saja ceritanya tidak baik untuk semua usia)

mommyfangirl.wordpress.com

ᴥ ᴥ ᴥ

June, 2012

Jongin selalu mempunyai pertanyaan setiap kali ia menatap Kang Sun Hee, pertanyaan itu tersusun di dalam otaknya dengan sangat rapi, kalimat demi kalimat itu menanti untuk melesak keluar melalui bibirnya, hatinya terus saja meminta ia untuk menyelesaikan apa yang selama ini terasa mengganjal. Namun, tak ada kata yang pernah keluar dari bibirnya meskipun dia sangat ingin mengatakannya.

Jongin sangat terkejut ketika pertama kali mengetahui kenyataan bahwa ayah Kang Sun Hee menjual gadis itu pada seorang mucikari bernama Madam Han. Saat itu, Kang Sun Hee tidak masuk sekolah selama empat hari, awalnya Jongin pikir Sun Hee di pukuli oleh ayahnya lagi dan tidak dapat pergi ke sekolah karena takut para guru menanyai darimana dia mendapatkan luka-luka tersebut.

Namun, ketika ia melewati rumah Kang Sun Hee ia mendapati papan bertuliskan rumah tersebut telah terjual. Selama ini Jongin tidak pernah mendengar bahwa keluarga Sun Hee menjual rumah apalagi berniat untuk pindah, lalu mengapa papan pemberitahuan bahwa rumah tersebut telah terjual kini terpasang?

“Ibu, kau tahu kenapa papan tersebut ada di depan rumah Sun Hee?” Tanya Jongin pada ibunya ketika ia kembali dari sekolah, membuka sepatu dan mendekat pada ibunya yang berada di dapur.

“Oh, ibu dengar keluarga Kang akan pindah dari sini,”

“Pindah?”

Ibunya mengangguk.

“Tapi, para tetangga bilang empat hari lalu mereka mendengar ribut-ribut dari rumah Sun Hee. Kurasa ayahnya memukuli anak itu lagi dan sanak saudaranya membawa Sun Hee!”

Jongin mengerenyit. Sanak Saudara? Yang Jongin tahu selama ini, Sun Hee tidak memiliki sanak saudara.

“Sudah empat hari Sun Hee tidak masuk sekolah,” Ucap Jongin.

“Nah! Benar dugaan para tetangga bahwa sanak saudaranya telah membawa anak itu keluar dari rumah ayahnya. Baguslah, para tetangga sudah tidak kuat mendengar Sun Hee di pukuli maupun di caci maki oleh kakak dan ayahnya.”

Jongin hanya bisa terdiam mendengar ucapan ibunya. Namun, entah mengapa ia merasa ada yang salah. Hingga pada hari ke delapan Sun Hee datang ke sekolah, namun perlakuan teman-temannya berubah pada gadis itu. Sun Hee yang pintar dan ceria berubah menjadi anak pemurung, tak ada senyum di wajahnya ketika dia berjalan memasuki ruang kelas, anak-anak menatapnya seolah dia makhluk menjijikan.

“Kau tahu? Seorang kakak kelas pernah datang ke tempat Karaoke yang menyediakan para perempuan dan mereka melihat Sun Hee disana!”

“Yang benar? Mungkin mereka salah lihat!”

“Tidak, itu benar Kang Sun Hee, mereka bertanya langsung pada pemiliknya,”

“Heol! Apakah akhirnya dia di jual? Atau dia yang menjual dirinya?”

“Kudengar dia pernah di perkosa kakak laki-lakinya!”

Jongin menelan ludahnya dengan kasar ketika mendengar hal tersebut dari para murid di kelasnya. Seluruh sekolah heboh ketika mendengar kenyataan bahwa salah satu murid melihat Kang Sun Hee menjadi pajangan di salah satu tempat karaoke yang menyediakan para perempuan, Jongin ingin menyeret Sun Hee dan berbicara langsung dengannya, namun para guru sudah mengambil tempatnya.

Sun Hee di panggil langsung oleh Kepala Sekolah ketika jam makan siang di mulai, kemudian rapat di adakan dan mendadak seluruh murid di pulangkan. Jongin tidak beranjak dari bangkunya, ia tetap disana, menatap tas ransel milik Sun Hee dan menunggu gadis itu selesai di ‘interogasi’ di ruang rapat.

Pukul lima sore, Sun Hee kembali ke kelas. Matanya dan Jongin saling bertatapan, Sun Hee terkejut melihat Jongin masih berada di kelas padahal sejak istirahat makan siang para murid di minta kembali ke rumah masing-masing.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” Tanya Jongin pada akhirnya, ia mendekat pada Sun Hee.

“Mereka bertanya ini dan itu,” Jawab Kang Sun Hee, merapikan buku-bukunya dan tersenyum pada Jongin.

“Aku mendengar gosip tentangmu,”

“Itu bukan gosip..”

Jongin terkesiap mendengar jawaban Sun Hee.

“Apa maksudmu?” Tanya Jongin lagi.

“Jongin-ah, itu bukan gosip..”

Jongin terdiam.

“Yang mereka katakan adalah kenyataan, aku memang disana, terpajang dengan sebagian tubuhku terekspos.”

“Sun Hee-ah, ibuku bilang kau—“

Sun Hee hanya menatap Jongin. Namun tak ada kata yang keluar dari bibirnya untuk melanjutkan kalimatnya. Gadis itu beranjak dari kursinya sebelum Jongin mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi, hingga pada akhirnya tak ada pertanyaan yang keluar dari bibir Jongin dan tak ada penjelasan pasti dari Kang Sun Hee apa yang sebenarnya terjadi.

Jongin mengetahui cerita detail mengenai Sun Hee dari ibunya, faktanya, Kang Sun Hee di jual oleh ayahnya kepada slah satu Mucikari di kotanya dengan harga yang tidak sedikit. Para tetangga menerka, ayahnya merasa tidak mampu lagi membiayai Sun Hee, sebagian lagi menerka ayahnya melakukan hal itu karena Sun Hee selalu menjadi alat pemuas kakak laki-lakinya, sebagian lagi mengatakan bahwa Sun Hee yang menginginkan hal tersebut karena tidak tahan dengan kemiskinan yang selama ini meliputi keluarganya.

Kim Jongin sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Sun Hee. Namun ia tak pernah sekalipun bertanya pada Sun Hee. Sun Hee di perlakukan dengan sangat buruk oleh para penghuni sekolah semenjak berita mengenai dirinya seorang pelacur menguar, dia menjadi sasaran bully baru di sekolahnya. Gadis itu di lempari tepung dan telur, terguyur air kotor bekas mengepel lantai bahkan pakaiannya di lucuti dan di biarkan telanjang di gudang. Jonginlah satu-satunya orang yang kini berada di samping Sun Hee.

Ketika ia datang untuk membela Sun Hee, gadis itu selalu tersenyum seolah perlakuan para siswa di sekolah tidak menyulitkannya sama sekali.

“Mengapa kau selalu tersenyum? Mereka memperlakukanmu dengan sangat buruk!” Keluh Jongin.

“Aku tidak tersenyum pada mereka, aku tersenyum padamu yang datang dengan peluh untuk menyelamatkanku!” Jawab Sun Hee, senyumnya terlihat begitu lebar dan tulus.

Jongin memeluknya, erat. Membuat Sun Hee terkejut.

“Aku akan membelimu, tunggu aku, berapapun harga yang mereka tawarkan, aku akan membelimu. Tunggu aku, Sun Hee-ah.”

Namun, bagaimanapun Jongin berusaha ia tidak dapat membeli Kang Sun Hee. Harganya sangat tinggi untuk ukuran anak SMA, Jongin bahkan di usir paksa oleh security disana ketika ia datang dan meminta mucikari tersebut menyerahkan Sun Hee padanya.

“Jongin-ah, kurasa kau harus berhenti berusaha untuk membeliku.” Ucap Kang Sun Hee suatu hari.

“Kenapa?”

Gadis itu menatap Jongin yang duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu.

“Jongin-ah, semalam aku di beli oleh seseorang..”

Jongin terdiam mendengarnya, ketika Sun Hee berkata bahwa seorang Yakuza dari Jepang membelinya tadi malam. Itulah mengapa pagi ini dia berangkat sekolah dengan mobil mewah, itulah alasan mengapa hari ini tak ada tepung maupun air kotor menempel di bajunya.

“Aku sudah tidak seputih yang kau pikirkan, Jongin-ah, aku kini sudah kotor, melebihi air bekas mengepel lantai yang selalu mereka siramkan padaku,” Ujar Sun Hee. “Jongin-ah, mari berteman baik denganku mulai sekarang. Kau—berhentilah memiliki perasaan padaku, karena aku juga akan berhenti memiliki perasaan itu padamu.”

Jongin bisa mendengar bagaimana bergetarnya suara Sun Hee ketika mengatakannya, ia bisa merasakan bagaimana hangat bahunya ketika bulir-bulir airmata Sun Hee membasahinya. Kini Kang Sun Hee tak dapat ia jangkau lagi, gadis itu melangkah menjauhinya sedikit demi sedikit.

Apa yang bisa ia lakukan?

Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Jongin. Satu persatu, sedikit demi sedikit hingga rasanya hampir memecahkan tempurung kepalanya. Jongin butuh jawaban, bukan dari Sun Hee, tapi ayah maupun kakak laki-lakinya. Namun, dimana ia bisa menemukan keduanya?

Yang Jongin tahu kakak laki-laki Sun Hee, Kang Min Hyuk selalu berada di tempat judi. Jongin pernah kesana bersama Sun Hee namun ia tidak begitu ingat tepatnya dimana, jadi hari itu Jongin terus berkeliling dan bertanya pada setiap orang yang ia lewati.

“Permisi, apakah mungkin kalian mengenal Kang Min Hyuk?” Tanya Jongin pada sekumpulan anak muda yang setengah mabuk dekat jembatan, Jongin samar-samar mengingat arah jalan tersebut.

“Min Hyuk? Ah, Sun Hee oppa? Dia disana,” Salah satu dari mereka menunjuk seorang pria yang meringkuk di kursi taman, Jongin mendekat dan mendapati Kang Min Hyuk tertidur dengan separuh mulut terbuka. Ia bisa mencium bau alkohol yang lumayan menyengat dari pria itu.

“Min Hyuk hyeong, Min Hyuk hyeong,”

Suara Jongin berhasil membuat Min Hyuk menggeliat, membuka mata dan mengamati siapa yang berada di hadapannya. Min Hyuk tentu tahu siapa Jongin, mereka bertetangga sejak kecil.

“ Eoh? Jongin? Mengapa kau berada disini? Ya! Disini sangat berbahaya!” Keluh Min Hyuk setelah berhasil bangun dari tidurnya, ia segera berdiri dan menarik lengan Jongin.

“ Min Hyuk hyeong, ada yang ingin kutanyakan padamu,” Ucap Jongin, masih terus berjalan dengan sedikit terseret. “Min Hyuk hyeong! Hyeong!!!” Jongin melepaskan pegangan tangan Min Hyuk dan menatapnya dengan tajam. Min Hyuk menghela napas, dia tahu apa yang akan Jongin jadikan bahan pertanyaan.

“Kau sudah tahu?”

Jongin menatap Min Hyuk dan mengangguk kaku.

“Kau ingin tahu mengapa ayah menjual Sun Hee?”

Jongin tidak bereaksi kali ini, dia hanya menatap Min Hyuk yang kini menyulut api di ujung batang rokoknya. Menyesap dalam, dan membuang asapnya ke udara, Min Hyuk mulai berbicara.

“Kau tahu ayah berada dimana sekarang?”

Jongin menggeleng.

“Penjara,”

“P-penjara? Sesuatu terjadi pada paman?”

“Jongin, ayah tidak menjual Sun Hee. Kami tidak mendapatkan sepeserpun uang ketika Madam Han membawanya, ayah memiliki hutang cukup banyak pada Madam Han dan berjanji akan membayarnya setiap bulan karena dia mendapatkan pekerjaan.” Ucap Min Hyuk, menyesap sekali lagi rokok di tangannya, dia menatap Jongin.

“Tapi kau tahu kan? Ayah punya kebiasaan buruk ketika mabuk, emosinya tidak terkendali, hal-hal kecil menjadi besar untuknya. Dua hari sebelum Madam Han mengambil Sun Hee pergi, ayah membunuh seorang rekan kerjanya,”

Jongin terkejut mendengarnya, ia tidak pernah tahu hal itu.

“Sun Hee tidak pernah tahu bahwa ayah membunuh seseorang dan polisi sedang mengincarnya, Madam Han merasa hutangnya tidak akan lunas jika ayah di penjara maka dari itu dia membawa Sun Hee sebagai jaminan dan mengambil alih rumah kami. Malam dimana Sun Hee pergi adalah malam dimana ayah di tangkap polisi,” Jelas Min Hyuk.

“Kenapa hyeong tidak mengatakannya pada Sun Hee? Sun Hee mengira kalian benar-benar menjualnya dan menikmati uang dari Madam Han,” Ujar Jongin.

Min Hyuk terkekeh mendengar ucapan Jongin.

“Aku dan ayah berhak mendapat predikat buruk dari Sun Hee, kami tidak pernah membuatnya bahagia setelah kematian ibu. Sun Hee terus dan terus mendapat masalah karena kami. Aku dan ayah adalah orang paling buruk di dalam memorinya.”

Jongin terdiam, mendengarkan ucapan Min Hyuk. Orang paling buruk dalam memori Sun Hee? Benarkah?

“Jongin-ah, menurutmu apa yang paling kurindukan saat ini?”

“Ibumu?”

“Kau salah,”

“Lalu, siapa?”

“Ayahku dan Min Hyuk oppa,”

Apakah orang yang membencimu akan merasa merindukanmu? Mengharapkanmu kembali walaupun hanya sebentar? Ingin memelukmu dengan erat? Berharap dapat kembali mendengar suaramu? Apakah orang yang membencimu akan melakukan hal itu?

Kurasa, tidak.

.

.

.

Kang Sun Hee hidup bersama Mr.Takashima dengan perasaan bahagia, meskipun ia mendapat siksaan ketika harus melayani pria tua itu, namun Sun Hee bisa mendapatkan kasih sayang yang selama ini di rindukannya. Mr.Takashima selalu mendengar keluh kesahnya ketika ia kembali dari sekolah, bagaimana dahulu para murid memperlakukannya dan kini ia begitu di segani sampai-sampai tak ada satupun para murid yang selalu membullynya berani mendekat. Mr.Takashima terkadang menjadi sosok ayah yang selama ini Sun Hee rindukan.

“Kurasa Mr.Takashima mempunyai kekuatan yang tidak ku ketahui,” Ucap Sun Hee suatu hari ketika dirinya dan Mr.Takashima tengah menikmati secangkir teh hijau di sore hari.

“Kekuatan apa?” Tanya Mr.Takashima, Sun Hee menatapnya.

“Kekuatan yang bisa membuatku nyaman berada di dekat tuan,” Ia berkata dengan senyum lebar di bibirnya. “Tuan bisa membuat seluruh sekolah sedikit menghargaiku,” Lanjutnya.

Mr.Takashima menatap Sun Hee.

“Ixia, aku hanya memiliki uang dan kekuasaan. Itulah satu-satunya kekuatanku untuk melindungimu. Aku membelimu, memilikimu, karena itu aku harus membuat kau merasa nyaman denganku..”

Sun Hee terdiam, Uang dan Kekuasaan. Karena keduanya, Sun Hee tidak lagi di tindas, tatapan mata penuh amarah tak lagi ia dapatkan, perlakuan kejam dan kata-kata kasar tak lagi ia rasakan. Apakah ia sudah bahagia?

Mr.Takashima adalah seorang pebisnis handal meskipun Sun Hee tahu, bisnis yang di jalaninya bukanlah bisnis legal. Pria tua itu menyokong beberapa klub malam bahkan sebuah agensi yang berisi para aktor, aktris maupun idol yang hampir bangkrut dan mendongkrak popularitasnya.

Mr.Takashima selalu berhati-hati dengan orang yang baru saja di kenalnya, selain Sun Hee ia mempunyai dua puluh lima wanita simpanan yang tersebar di seluruh penjuru Korea Selatan. Namun, Sun Hee satu-satunya pelacur yang tidak pernah absen untuk selalu Mr.Takashima hubungi dimanapun dan sesibuk apapun pria itu bekerja.

Sun Hee tidak pernah merasa sebahagia ini, ia pikir menjadi seorang pelacur adalah hal paling mejijikan dan menyedihkan di hidupnya, namun ia bertemu dengan seseorang yang mampu membuat kehidupannya jauh lebih membahagiakan. Ia dan Mr.Takashima terpaut usia 30tahun, namun hal itu tidak menjadikan Sun Hee kini bersikap canggung pada pria berusia 45 tahun itu, bagaimana Mr.Takashima memperlakukannya di luar hubungan intim membuatnya merasa nyaman.

“Ixia, maukah kau ikut bersamaku ke Jepang?” Tanya Mr.Takashima suatu hari dengan bahasa Korea terbatas pada Sun Hee.

“Jepang?”

Mr.Takashima mengangguk dan menatapnya dalam-dalam.

“Aku akan kembali ke Jepang dalam empat hari, urusanku di Korea telah selesai. Jika kau tidak keberatan, aku ingin kau ikut bersamaku ke Jepang. Ixia, akan kupenuhi seluruh kebutuhanmu, aku akan membiarkanmu menyelesaikan sekolah dan kubiayai kuliahmu kelak. Bagaimana?”

Sun Hee senang mendengar apa yang di katakan Mr.Takashima padanya, pria tua itu ingin mengajaknya pergi dari Korea dan tinggal bersamanya di Jepang. Sun Hee juga bahagia mendengar bahwa Mr.Takashima akan membiayai segala kebutuhannya maupun membuatnya menyelesaikan sekolah.

Hanya saja,

“Kurasa aku tidak bisa ikut bersamamu,”

Hanya saja,

“Kau memiliki sebuah alasan?”

Hanya saja,

“Kurasa, takdirku dan Tuan berakhir sampai disini..”

Hanya saja, ada seseorang yang tidak bisa ia tinggalkan disini. Selain ayah dan kakak laki-lakinya, seorang pria yang sudah ada sejak ia dilahirkan.

Kim Jongin.

Continued…

30 responses to “IXIA – Page 3

  1. Mereka saling mencintai, Ixia dan Kai saling mencintai. Tp Ixia hanya mengagumi tuannya. Tapi bagaimana dg tuannya??? Klo dia membuat nyaman ixia, knp dia kasar saat mereka ‘berhubungan’??? byk bgt pertanyaan

  2. Apa mr. Takashima bakal terima penolakan sun hee? Atau kebalikannya malah ngbuat sun hee makin menderita?

    Dan lagi, sun hee kan hamil, itu anak siapa? Mr. Takashima atau yixing?

  3. Pingback: IXIA — Page 4 | FFindo·

  4. jadi itu alasannya kenapa sun hee tiba2 dijual. bukan dijual tapi dibawa pergi. sun hee jongin sm2 saling suka. yah semoga keputusan sun hee bisa diturutin sm takashima yaa.
    trus yixing mana?

  5. Pingback: IXIA — Page 5 | FFindo·

  6. Wah ksian bnget sun hee trnyata emank ga bsa nglupain kluarga’y skalipun mrka sdah benar2 jahat n kejam dlam hdup’y,,
    Rasa sayang dia slalu ngalahin smua kbencianya ke ayah n oppa’y,,
    Andai sun hee tau knyataan sebenar’y d balik apa yg menimpa dia n kluarga’y mungkin dia ga akan sebingung ini,,
    N andai ayah n oppa’y tau bahwa aun hee msih mnghrapkan mrka stlah smua prlakuan yg dia trma slama ini,,
    Y andaikan mrka tau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s