Louse Up Weddingㅡ1st. Louse Up

louseupwedding-by-peniadts

Louse Up Wedding

a fiction by 01100100

[OC] Ji Yeonju [EXO] Oh Sehun

AU, Romance, Slight!Marriage Life, FamilyPG-15Chaptered [1/?]

Awesome cover by peniadsts@CafePoster

A/N. This fanfic officially mine. Officially by my adult imagination and especially for this section is inspired by My Boyfriend’s Wedding Dress (a novel by Kim Eun Jeong).

 —————————————————————————————————-

“Aku kan sudah bilang. Lagipula bukankah masih ada pernikahan kelima? Atau bahkan keenam, tujuh, delapan dan seterusnya…”

Chapter 1

Louse Up

Yeonju menyumbat kedua lubang hidungnya dengan tisu agar bau amis yang ditimbulkan oleh masker susu murni yang tengah ia gunakan pada wajahnya tidak masuk kehidungnya. Ia mengoleskan masker yang sudah berbentuk krim itu kewajahnya dengan tebal sampai menetes-menetes. Masker ini sungguh bukan seleraku

Dengan perasaan penuh penyesalan akibat masker itu Yeonju memilih untuk mengecat sepuluh kuku tangannya dan dua kuku kakinya—kuku jari selain ibu jarinya sulit untuk dicat karena terlalu kecil—dihiasnya kuku tersebut dengan warna merah setelahnya ia berbaring diatas sofa.

 “Huh, rasanya aku ingin muntah!” Ryuju yang baru saja masuk keruang keluarga langsung menutup hidungnya dengan telapak tangannya.

“Kah hehitu haena heyum hakan hiang, hoh (kau begitu karena belum makan siang, eoh)?” Yeonju kesulitan membuka mulutnya karena masker yang terasa berat diwajahnya akibat sudah mengering. “Hahi huhiat aha hwai ahel hehuhahanmu (tadi kulihat ada pai apel kesukaanmu).”

“Kau masih bisa berbicara mengenai makanan?” Ryuju menatap Yeonju dengan tidak percaya. “Hhh. Aku bahkan tidak sempat makan karena harus membereskan aula pernikahan yang seperti habis menggelar konser itu dan mengantarkan para Tetua keluarga.”

“Hafa hehua hudah huwang (apa semua sudah pulang)?”

Ryuju menatap Yeonju sekilas. “Hari ini, kau sudah mati eonni. Aku tidak percaya kau benar-benar menepati kata-katamu itu. Dan jangan pernah berharap aku akan memberikan uang pernikahan padamu, bahkan untuk pernikahan yang kelima enam tujuh ataupun seterusnya.” Ryuju menghempaskan tubuhnya pada sofa kosong yang ada didekat Yeonju. “Omong-omong apa kau mencium sesuatu? Ini seperti bau—Eoh, apa kau memakai krim? Krim apa itu? Kenapa bau amis sekali?” Ryuju kembali menutup hidungnya dengan tangan sambil mengeryitkan dahinya.

“Huhu huuni (susu murni).”

“Apa? Pupuk banci?”

“Huhu huuni (susu murni)!” Yeonju berteriak keras yang membuat masker didekat bibirnya yang belum kering berhasil masuk kemulutnya. “Uhh!” ia kemudian segera berlari menuju kamar mandi yang ada didekat dapur dengan sedikit berlari dengan tangan yang ditaruh dibawah dagunya agar masker itu tidak jatuh tercecer kelantai.

“Kau mau kemana?”

“Kamar mandi!”

Ryuju menatap arah pergi Yeonju dengan heran. Drrt..drt. merasakan ponselnya bergetar Ryuju segera mengambilnya dari dalam clucth bag yang tadi ia letakan disofa.

Nde?” Ryuju kembali menolehkan kepalanya dan melirik sekilas ketempat Yeonju berada—kamar mandi.

Arraseo…”

Setelah menutup sambungan teleponnya Ryuju segera menghampiri Yeonju yang tengah membersihkan wajahnya.

Eonni?”

“Umm,”

“Eomma akan sampai rumah sebentar lagi…”

Yeonju menghentikan kegiatannya membasuh wajah dan sedikit menolehkan kepalanya kearah belakang dimana Ryuju berdiri.

“Lalu?”

“Eomma menyuruhku untuk menahanmu agar tidak kemana-mana. Tapi masalahnya sebentar lagi aku harus pergi…”

“Pergilah. Aku tidak akan kemana-mana.” Yeonju kembali memutar kepalanya pada westafel dan kembali membasuh wajahnya untuk membersihkan sisa-sisa masker yang dirasanya masih menempel itu.

“Aku tidak yakin dengan itu.” tukas Ryuju.

“Terserah apa katamu.”

Ryuju memandang jengah kearah Yeonju yang tengah membelakanginya itu kemudian ia melangkahkan kakinya kembali menuju keruang keluarga dan  langsung mengambil clutch bag miliknya.

“Aku pergi eonni. Tetaplah dirumah sampai eomma pulang dan jangan kemana-mana!” Ryuju berteriak kearah kamar mandi setelahnya ia segera menlangkahkan kaki menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan Yeonju yang masih sibuk membersihkan wajahnya dari masker susu murni itu.

Tak berapa lama kemudian Yeonju melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah basah penuh air. Ia berjalan kembali menuju tempatnya berbaring tadi—ruang keluarga.

“Kenapa wajahmu basah?”

Yeonju menolehkan kepalanya kesumber suara dengan perlahan, sepertinya ia mengenal suara itu.

“Eoh, eomma sudah sampai?”

Yeonju berjalan mendekati tempat sang ibu yang tengah duduk seraya menatapnya dingin. Kemudian ia ikut mendudukkan dirinya dan mengambil dua lembar tisu yang ada dimeja lalu menghusapkannya pada wajahnya yang masih basah.

“Dimana Ryuju?”

“Pergi.”

“Kemana?”

“Ia tidak mengatakan kemana akan pergi…”

Nyonya Ji—ibu Yeonju—menatap anaknya yang masih sibuk menghusapkan tisu pada wajahnya dengan tenang. “Kenapa kau membasuh wajahmu?”

“Aku habis mencoba produk masker terbaru.”

“Masker?”

Yeonju menatap sang ibu sekilas kemudian menganggukkan kepalanya.

“Seorang wanita yang lari lagi dari pernikahannya masih sempat memakai masker?” Nyonya Ji mendecakkan lidah.

“Aku masih gadis, eomma.” Yeonju mencoba membela diri dengan membenarkan ucapan sang ibu.

“Ya! kau gadis berusia dua puluh tujuh tahun yang kembali menggagalkan acara pernikahan untuk keempat kalinya.”

Yeonju menangkap ekspresi marah dan kesal dari raut wajah sang ibu. Tentu ini hal yang biasa untuk Yeonju mengingat ia pernah lebih dari sekali mengalami ini.

“Aku sudah mengatakan sebelumnya—“

“Jika kau tak ingin menikah, begitu?”

“Bukan tak ingin eomma, tapi belum ingin.” Sekali lagi Yeonju membenarkan pernyataan juga pertanyaan yang dilontarkan ibunya itu.

Nyonya Ji menatap sang anak dengan jengah diiringi hembusan nafasnya yang berat. “Wae?”

“Hanya belum ingin saja.”

“Kau tahu? Eomma tidak pernah membayangkan akan memiliki anak yang menggagalkan pernikahannya sendiri sampai empat kali seperti ini!”

“Seharusnya eomma membayangkannya dulu agar tidak terkejut mengetahui aku anakmu seperti ini sekarang.”

“Apa yang kau bicarakan hah?” Hardik sang ibu seraya melayangkan pukulan kepada Yeonju namun tak berhasil karena anaknya itu sudah menghindar terlebih dahulu.

Yeonju menatap sang ibu dengan ragu.“Aku kan sudah bilang. Lagipula bukankah masih ada pernikahan kelima? Atau bahkan keenam, tujuh, delapan dan seterusnya…”

“JI YEON JU!” sang ibu berteriak kesal lalu menempelkan tanganya didahi, nafasnya terengah-engah dan matanya menatap Yeonju dengan tajam. “Eomma tak mau tahu, cepat kau hubungi calon suamimu itu sekarang!”

“Apa? Aku tidak mau.”

“Apa maksudmu tidak mau? Kau tetap akan menghancurkan pernikahanmu yang kesekian kalinya ini?”

“A—“

“Tidak perlu.”

Yeonju dan Nyonya Ji menolehkan kepala serentak kesumber suara. Yeonju diam membisu seketika ketika mengetahui seseorang yang memotong ucapannya adalah sang ayah.

“Biarkan saja seperti ini.” Sang ayah berjalan mendekati Yeonju dengan tatapan dingin nan menusuk dimatanya. Pria paruh baya itu kemudian berhenti tepat didepan Yeonju. “Dan siapkan diri untuk melihat berita dimedia esok hari…” kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya dan pergi menuju lantai dua rumah itu.

Yeonju menatap kepergian sang ayah dengan perasaan yang sulit diartikan dan tentunya juga pikiran mengenai ucapan yang dilontarkan pria paruh baya itu. Benar, media pasti akan memberitakan ini besok

***

Yeobseyo?” Sehun menghentikan kegiatan memotretnya untuk menjawab sebuah panggilan yang masuk pada ponselnya.

“Aku sedang bekerja…” Ia meletakkan kamera digenggamannya pada nakas yang ada disudut ruangan.

Ye, eomma. Aku akan selesaikan pekerjaanku dulu setelah itu—Iya aku mengerti. Baik, aku akan segera pulang.”

Sehun memasukkan ponselnya kedalam saku celana setelah kemudian melirik jam dipergelangan tangan kirinya sekilas lalu meraih kameranya kembali ketempat ia melakukan pemotretan tadi.

“Maaf membuat anda menunggu.” Sehun sedikit menundukkan kepalanya sopan kepada model yang menjadi objek potretnya itu.

“Ah tidak apa-apa.”

“Baiklah, mari kita mulai lagi.”

Sehun mulai membidikkan lensa kameranya pada model didepannya dengan sangat serius. “Tolong sedikit bergeser kekanan.”

“Seperti, ini?”

“Ya.”

Suara jepretan kamera bergema keseluruh ruangan. Sehun menjauhkan kameranya untuk melihat hasil foto yang baru saja ia ambil kemudian mendekatkan benda itu kembali kewajahnya.

“Sekarang tolong anda tatap vas bunga yang ada disana dengan dagu yang sedikit mendongak keatas…” Sehun kembali memberikan arahan pada modelnya.

“Ya, bagus. Pertahankan.”

Suara jepretan kamera kembali bergema keseluruh ruangan, kali ini menandakan acara pemotertan itu selesai. Sehun lantas menghembuskan nafasnya lega. Ia kemudian menghampiri sang mdel dan mengulurkan tangannya.

“Terimakasih untuk hari ini. Senang bekerja sama dengan anda.” Sehun juga tak lupa menyunggingkan senyum termanisnya.

“Terimakasih kembali. Anda begitu profesional Tuan Oh. Saya sangat senang bekerja sama dengan anda…” sang model menjabat uluran tangan Sehun dan membalas senyuman lelaki itu.

Sehun kemudian memasukkan kamera miliknya kedalam tas khusus lalu dengan segera ia mengenakkan jaket kulit hitamnya. Sehun kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar studio pemotretan menuju tempat parkir dengan tas berisi kamera yang ia selempangkan pada tubuhnya dan tangan kanannya membawa helm karena hari ini ia memutuskan untuk membawa motor kestudio.

Sesampainya ditempat parkir Sehun segera mencari letak motornya. Setelah menemukannya ia segera mengendarai motor itu—tentu tak lupa ia kenakan helmnya—dan pergi menjauh dari tempat parkir untuk pulang menuju rumah.

Tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk mengendarai motor dari studio pemotretannya kali ini karena memang letaknya hanya berjarak dua blok dari tempat tinggalnya. Sehun lantas memasuki halaman rumahnya ketika pintu gerbang terbuka otomatis dan segera mematikan mesin motornya serta melepas helm yang bertengger dikepalanya lalu menentengnya pada tangan kiri sementara tangan kanannya ia gunakan untuk sedikit mengacak rambut bagian depannya. Sehun melangkahkan kakinya memasuki rumah besar bercat putih yang sudah ia tinggali sejak kecil itu dengan santai.

“Kau sudah pulang?”

“Umm, sesuai perintah eomma.”

Nyonya Oh—Sehun eomma—melangkah mendekati sang anak yang kini tengah mendudukkan dirinya ada sofa ruang tamu rumah itu. “Ada yang ingin eomma dan appa bicarakan.”

“Apa harus dengan memerintahkanku pulang dengan cepat? Bukankah masih banyak waktu yang dapat digunakan, eomma?” Sehun menatap malas sang ibu.

“Tidak bisa Sehun-ah,”

“Bahkan ini masih pukul dua siang, eomma.”

“Justru karena itu. Appamu akan pergi keJepang sore ini. Jadi tak ada waktu untuk membicarakan ini nanti…”

“Sebenarnya apa yang ingin kalian—“

“Kau sudah pulang rupanya, Sehun-ah?”

Sehun menolehkan kepalanya kesumber suara dan mendapati sang ayah tengah berjalan mendekati tempat ia dan sang ibu duduk. Sehun segera berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya hormat. “Ye, appa.” Tuan Oh—Sehun appa—sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan didalam keluarga maka tak salah jika Sehun berperilaku begitu sopan dan formal pada sang ayah.

Tuan Oh segera menganggukkan kepalanya kemudian mendudukkan tubuhnya pada sofa yang behadapan langsung dengan Sehun. “Kembalilah duduk.”

Sehun menganggukkan kepalanya dan kembali mendudukkan tubuhnya pada kursi lalu menatap sang ayah dengan penasaran. “Sebenarnya…apa yang ingin appa dan eomma bicarakan?”

Tuan Oh mulai membenarkan posisi duduknya lalu menatap Sehun dengan serius. Ia kemudian menarik nafasnya dalam. “Bulan depan kau akan berulang tahun yang ketiga puluh, bukan?”

Sehun menatap sang ayah sejenak lalu mengganggukkan kepalanya. “Iya.”

“Itu adalah umur yang sudah cukup bahkan terbilang matang untuk menikah…” Tuan Oh menarik nafasnya pelan dan semakin menatap lekat Sehun. “Appa dan Eomma ingin kau segera menikah. Tepat setelah usiamu genap tiga puluh.”

Tepat. Sehun mendesah pelan, sepertinya ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Ia mengenal sang ayah dengan begitu baik dan tahu jika orangtuanya itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.

Ini bukan kali pertama sang ayah memintanya untuk segera menikah, mungkin ini suah untuk kesekian kalinya. Bahkan baru beberapa hari lalu sang ayah mengatakan ini padanya. Namun bagaimana dengan Sehun? Tentu ia menolaknya dengan berbagai alasan. Namun sepertinya untuk yang sekarang ini—

Sehun kembali mendesah lalu menatap sang ayah ragu. “Appa—“

“Kali ini tidak ada toleransi untukmu, Oh Sehun.”

“Tap—“

“Kenalkan calon istrimu pada kami bulan depan. Jika tidak…” Tuan Oh mulai beranjak dari duduknya lalu menatap Sehun dengan dingin.

“Tinggalkan pekerjaanmu sebagai fotografer itu. Dan aku akan mengirimmu keperusahaan cabang yang ada diAmerika.”

***

Brakk. Yeonju yang tengah sibuk dengan ponselnya segera mengalihkan perhatiannya pada seebuah surat kabar yang baru saja dilemparkan oleh sang manager dengan kasar. Yeonju segera mengambil surat kabar tersebut lalu membacanya dengan santai.

  • Model terkenal YGK Ji Yeonju kembali menggagalkan acara pernikahannya! Hal ini semakin memperkuat julukannya sebagai ‘gadis pernikahan gagal’.

“Kau ingin menyiksaku, lagi?”

Yeonju meletakkan surat kabar ditangannya itu kembali pada tempatnya dilemparkan tadi kemudian ia memandang santai seseorang yang baru saja berseru padanya.

“Minumlah.” Yeonju menyodorkan segelas ekspresso yang ia beli sesaat sebelum masuk kedalam gedung agencynya tadi dan memandang sang manager yang juga sahabatnya itu dengan iba.

“Kau memang gila!”

“Yah, dan kau tahu itu Hanli-ya…” Yeonju sedikit terkekeh melihat Hanli yang penuh dengan keadaan kesal dan jengkel namun tetap tidak menolak sodoran segelas ekspressonya.

“Sekarang apa lagi alasannya?” Hanli memandang Yeonju dengan jengah.

“Kurasa kau tahu.” Yeonju kembali menyibukkan dirinya pada ponselnya.

Hanli mendudukkan tubuhnya pada sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki Yeonju. “Hanya tak ingin? Itukah alasanmu… lagi?” Wanita yang baru saja memperbaharui marganya itu memandang sang model dengan tak percaya. Tidak. Melampaui tidak percaya.

“Kenapa kau kesini?” Yeonju menatap Hanli sekilas. “Apa acara bulan madumu lebih cepat dari yang direncanakan?”

“Lebih tepatnya diluar rencana! Aku kembali karena harus membereskan keributan yang kau buat Ji Yeonju!”

“Keributan apa yang kubuat?”

Hanli memandang Yeonju dengan amarah yang telah memuncak nafasnya memburu tangannya yang tengah meremas gelas yang telah kosong ditangannya dengan mata yang menatap sang model dengan tajam. “Kau!” Tangannya menunjuk lurus tepat didepan wajah Yeonju.

“Apa?” Yeonju mencoba memasang wajah dengan ekspressi sesantai mungkin. Ia mengenal Hanli dengan begitu baik dan tidak mau memikirkan apa akan Hanli lakukan padanya setelah ini.

“Hh,” Hanli menurunkan tangannya dengan cepat lalu memandang Yeonju dengan malas. “Kau tahu? Belum sejam aku sampai diSeoul namun sudah mendapat kabar jika dua perusahaan majalah membatalkan kontrak untuk menjadikanmu sebagai model tetap mereka.”

Yeonju meringis mendengar ucapan yang dilontarkan Hanli. Gadis itu dapat melihat guratan lelah yang terpancar dengan jelas pada wajahnya.  Drrt..drrt. Yeonju menatap ponselnya dengan lemah.

“Dan aku yakin Sajangnim akan segera memintamu untuk menemuinya…”

“Sekarang.” Yeonju mulai beranjak dari duduknya.

Hanli memandang Yeonju dengan heran. “Apa?”

Menyadari kebingungan yang dilemparkan Hanli padanya ia kemudian segera menunjukkan layar ponselnya pada wanita itu. “Beliau baru saja memintaku untuk menemuinya.”

Hanli menatap Yeonju dengan iba. Sekesal apapun ia pada gadis itu tapi tetap saja ia sudah menganggapnya sebagai adik. Bukankah tujuh tahun bukan waktu yang sebentar?

“Aku dipihakmu!” Hanli menunjuk Yeonju dengan jarinya yang membentuk bagai sebuah pistol.

“Itu harus Nyonya Nam.” Setelah mengatakan itu Yeonju segera melangkahkan kakinya keluar ruangan dan menghilang dibalik pintu.

***

“Aku turut prihatin kembali pada pernikahanmu, lagi.”

Yeonju sedikit menundukkan kepalanya hormat seraya mengucapkan terimakasih kepada Yang Sajangnim yang tengah menatapnya dengn tatapan yang sulit diartikan.

“Dan, tentu kau juga sudah melihat surat kabar hari ini kan?”

Ye Sajangnim.”

“Dua perusahaan majalah membatalkan kontrak untuk menjadikanmu sebagai model tetap mereka. Dan…” Yang Sjangnim semakin memandang Yeonju dengan lekat. “apa yang ingin kau lakukan untuk membayar ini?”

Jwesonghamnida, Sajangnim.” Yeonju menundukkan kepalanya dengan lemah.

“Aku tidak menyalahkanmu untuk kasus yang kesekian kalinya menimpamu ini. Karena aku yakin kau juga tidak ingin hal ini terjadi.” Yang Sajangnim menatap Yeonju kali ini dengan tatapan yang sudah berubah santai. “Dan untuk membayar akibat dari kejadian ini… kau tenang saja.”

“Eng—maksud Sajangnim?” Yeonju memandang heran petinggi perusahaan tempatnya bernaung itu.

“Kau tahu Emerald Wu, kan?

Yeonju menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Tentu. Ia adalah designer yang tengah bersinar tahun ini dan baru saja menggelar Fashion Show perdananya diNew York dengan sukses. “ Mata gadis itu berbinar saat melontarkan kalimatnya tersebut.

“Ya. Dan aku baru saja mendapat kabar jika Emerald Wu menginginkan kau menjadi model untuk rancangan terbarunya yang juga bekerja sama dengan K+ Magazinie.”

Yeonju memandang Yang Sajangnim dengan mulutnya yang sedikit terbuka serta matanya yang menatap tak percaya. “Emerald Wu? K+ Magazine?”

“Ya. Kau tidak percaya padaku?” Yang Sajangnim memandang Yeonju dengan santai.

“Bagai—“

“Aku juga sudah memberitahukan Hanli mengenai ini dan memintanya untuk segera mengatur pertemuanmu dengan Emerald Wu juga dengan pihak majalah.”

***

Sehun menarik handle pintu ruang meeting tanpa minat kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju barisan kursi kosong yang disejajarkan mengelilingi sebuah meja panjang. Ia lantas menarik kursi yang berada diujung sudut ruangan yang selal menjadi tempat pilihannya ketika meeting.

Pembicaraan yang berlangsung pada kemarin sore sepertinya cukup berpengaruh padanya pagi hari ini—mungkin lebih tepatnya akan sepanjang hari ini. Dan Sehun tidak menampik hal tersebut. Karena siapapun yang mengenalnya dengan baik pasti tahu jika sekarang lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu sedang tidak dalam keadaan baik.

Sehun mengeluarkan netbook  berwarna silver berukuran sebelas inch dari dalam tas punggungnya dan meletakkannya diatas meja serta menggantungkan tasnya itu disamping kursi yang ia duduki.

“Wajahmu kenapa?”Jongin yang baru saja masuk ruang meeting langsung mengambil tempat disamping Sehun—seperti biasa.

“Apa?” Sehun menatap sekilas lelaki berkulit lebih gelap darinya itu kemudian mulai memfokuskan pandanganya pada layar netbook miliknya yang tengah menampilkan gambar-gambar hasil potretannya kemarin.

Jongin mendengus pelan mendengar respon lelaki yang sudah menjadi rekan kerjanya selama hampir sepuluh tahun itu. “Hh ayolah… aku cukup tahu kau, Oh Sehun.”

“Lalu?”

“Ah baiklah, lupakan.”

Meeting dimulai beberapa saat kemudian setelah jejeran dua belas kursi terisi penuh termasuk Ketua Redaksi Kim yang akan memimpin meeting hari ini.

“Baiklah, sebelumnya mungkin beberapa diantara kalian sedikit bertanya-tanya mengapa aku yang memimpin pertemuan kali ini…” Ketua Redaksi Kim mulai mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Kemudian terlihat meminta beberapa lembar berkas yang akan menjadi bahan pembahasan meeting kali ini. “Kalau begitu langsung saja. Aku yang bertanggung jawab untuk memimpin Project yang akan kita bahas dalam pertemuan kali ini.”

Terlihat semua staff yang hadir dalam meeting tersebut mengangukkan kepalanya mengerti kecuali Sehun yang masih terlihat sibuk memandangi layar netbooknya—ah tidak, lelaki itu lebih terlihat seperti melamun.

“Dan untuk project kali ini sedikit istimewa, karena kita akan bekerja sama dengan salah seorang designer yang baru saja menggelar acara Fashion Show perdananya dengan sukses diNew York—“

“Emerald Wu?”

Semua orang yang ada diruangan tersebut serentak menolehkan kepala mereka kearah salah seorang staff yang diketahui bekerja pada bagian editor itu, kali ini tak terkecuali Sehun.

Ketua Kim menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang dibibirnya. “Ya, dia adalah Emerald Wu. Dan kemarin aku sudah bertemu dengannya untuk sedikit berbincang mengenai project ini. Beliau mengatakan jika project ini berhubungan dengan rancangan-rancangan terbarunya dengan kata lain tugas kita yaitu melakukan pemotretan untuk rancangan-rancangan terbarunya dan memasangnya dalam laman-laman utama majalah kita. Dan lagi, ada yang sedikit menarik dalam project kali ini…”

Sehun mengangkat bahunya acuh mendengar penjabaran Ketua Kim. Sungguh, keadaannya benar-benar tidak baik sekarang ini ditambah dengan acara meeting yang menurutnya membosankan ini.

“model yang akan menjadi bintang dalam project kali ini adalah Ji Yeonju.”

“Maksud Anda si gadis pernikahan gagal itu, pak?”

Sehun mendongakkan kepalanya menatap Jongin yang baru saja menyerukkan sebuah kalimat yang menarik perhatiannya. Gadis pernikahan gagal?

Lagi, Ketua Kim menganggukkan kepalanya. “Wah, sepertinya julukan si gadis pernikahan gagal itu sudah begitu melekat padanya ya? Tck, aku sungguh tak percaya ada gadis sepertinya yang sampai menggagalkan ppernikahannya hingga empat kali.”

Sehun mengalihkan pandangannya kali ini kearah Ketua Kim dari sorot matanya terlihat ia begitu tertarik dengan topik pembicaraan ini. Kemudian ia terkesiap saat Ketua Kim beralih menatapnya dengan yakin.

“Dan Sehun-ah,”

Sehun menatap Ketua Kim dengan tatapan santainya. “Iya, pak.”

“Emerald Wu menginginkanmu untuk menjadi fotografer dalam sesi pemotretan project kali ini.”

Seluruh pasang mata diruangan tersebut memandang Sehun dengan tatapan penuh ketertarikan. Mereka berpikir mungkin akan menyenangkan bekerja dengan seorang model yang tengah banyak diperbincangkan lagi beberapa waktu ini.

Sehun sedikit menimang pernyataan yang dilontarkan Ketua Kim padanya. Sebenarnya perhatiannya lebih tertuju kepada para staff lain yang menatapnya penuh ketertarikan. Ia kemudian menggeser netbooknya kesamping lalu menganggukkan kepalanya kearah Ketua Kim. “Baik, pak.”

Ketua Kim lantas menjelaskan lebih rinci mengenai project mereka tersebut. Semua terlihat serius memperhatikan setiap kalimat yang dijabarkan oleh sang Ketuan, tak jarang diantara mereka angkat bicara entah itu untuk bertanya atau sekdar memberi masukan.

Tak terasa tiga jam sudah berlalu, acara meeting inipunun baru saja ditutup oleh Ketua Kim dan semua staff terlihat meninggalkan ruangan dengan wajah sumringah. Tentu saja, itu karena beberapa menit lagi akan memasuki waktu jam makan siang yang merupakan surga waktu kedua setelah jam pulang bagi para pekerja diperusahaan manapun.

“Ah, Oh Sehun…”

Sehun yang tengah memasukan netbook miliknya kedalam tas itupun mendongakkan kepalanya kearah Ketua Kim yang baru saja menyerukan namanya. Ia kemudian bergegas menyelesaikan kegiatannya lalu segera menghampiri Ketua Kim dengan tas yag disampirkan pada bahu kirinya.

“Anda memanggil saya, pak?”

“Ya.” Ketua Kim menganggukkan kepalanya yakin. “Setelah jam makan siang segera keruanganku karena kita akan melkukan pertemuan dengan Emerald Wu, juga dengan model Ji Yeonju.”

Sehun menganggukkan kepalanya mengerti dan menatap yakin Ketua Kim. “Baik, pak.”

“Kalau begitu aku duluan.”

“Ah iya, silahkan.” Sehun sedikit menundukkan kepalanya hormat dan setelah memastikan sosok Ketua Kim yang telah dilang dibalik pintu lantas ia segera menolehkan kepalanya kearah Jongin. “Kau sudah selesai?”

“Umm,” Jongin mulai beranjak dari duduknya lalu menghampiri. “ayo! Aku sudah sangat lapar, sungguh.” Jongin menepuk bahu Sehun pelan.

“Aku tidak tanya itu.” Sehun mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan lebih dulu dari Jongin dan meninggalkan rekan kerjanya yang tengah menutup pintu ruang meeting dengan tidak ikhlas itu.

“Tck, setidaknya aku ingin memberitahumu.” Jongin mulai mensejajarkan langkah Sehun.

“Aku tidak ingin tahu…”

“Hahh, baiklah.” Jongin menggelengkan kepalanya pelan. Seharusnya ia dulu berpikir matang-matang untuk menjadikan lelaki semacam Sehun yang memiliki sifat berubah-ubah itu untuk dijadikan seorang sahabat. Ya, Jongin beranggapan jika rekan kerja sekaligus sahabatnya itu memiliki berbagai macam sifat yang sulit ditebak, karena terkadang lelaki yang berusia lebih muda darinya hanya beberapa bulan itu dapat berlaku baik, dermawan, iseng bahkan dingin seperti ini. Benar, seharusnya ia memikirkan ini dulu secara matang. Jongin menganggukkan kepalanya dengan yakin.

“Tapi aku ingin tahu mengenai model bernama Ji Yeonju itu.”

“Apa?” Jongin menatap Sehun dengan penuh minat. “Apa maksudmu?”

Sehun menolehkan kepalanya kearah Jongin. “Menurutmu apa?” lelaki itu menaikan sebelah alisnya.

“Aaaa—jangan bilang jika kau tidak mengenal atau bahkan mengetahuinya?”

“Aku memang tidak mengetahui apa-apa tentang orang itu.”

“Oh ayolah, Oh Sehun… kau tidak mengetahui si gadis pernikahan gagal itu?”

“Si gadis…apa?”

“Pernikahan gagal!”

“Ahh, itu sungguh keren. Bagaimana bisa?”

“Keren? Jika kau mendengar ceritaku, kau akan mengganti kata itu dengan…kata miris.”

“Kalau begitu ceritakanlah.”

Jongin menatap Sehun yang tengah menekan tombol angka satu ketika mereka berdua baru saja masuk kedalam lift. “Katakan dulu apa yang terjadi padamu? Kau terlihat tidak baik hari ini.”

“Aku baik-baik saja.”

“Hei! Aku sudah mengenalmu hampir sepuluh tahun. Aku tahu kau, Oh Sehun.”

Sehun menghembuskan nafasnya berat. Kepalanya ditundukkan kebawah seperti memperhatikan kegiatan kaki kanannya yang mengetuk-ngetuk lantai lift. “Kau benar. Kau tahu aku…”

Jongin menatap Sehun dengan penuh kemenangan. “Jadi?”

Ting. Sehun segera melangkahkan kakinya keluar ketika pintu lift terbuka dengan sempurna dan langsung menuju pintu keluar gedung tempatnya bekerja itu. Sial. Jongin mengumpat kesal kemudian melangkahkan kakinya mengikuti arah Sehun pergi dengan sedikit tergesa tentunya.

***

“Kenapa kau tidak mengatakan jika Emerald Wu menginginkan aku untuk menjadi model rancangan terbarunya yang juga bekerja sama dengan K+ Magazine?”

Kan sudah kukatakan, barusan.”

Yeonju memutar bola matanya jengah. Ia berpikir jika saja Hanli ada didepannya sekarang ingin rasanya ia menjambak rambut wanita itu.

Dan sekarang, kau ada dimana?”

“Aku baru saja keluar dari ruangan Yang Sajangnim.”

Eoh, baguslah. Kalau begitu cepat pergi keCafe depan gedung.”

“Untuk apa?”

Tentu saja makan siang. Sudahlah cepat, aku menunggumu!”

Flip. Yeonju menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap benda persegi panjang itu dengan jengkel ia kemudian segera mempercepat langkah kakinya. Yeonju tidak habis pikir, bagaimana bisa Hanli tidak memberitahunya mengenai hal ini. Dan tentu saja Yeonju juga tidak mengira hal ini karena wanita itu malah menemuinya dengan keadaan marah-marah. Tentu saja Yeonju mengira jika akibat yang muncul dari kejadian gagalnya acara pernikahannya hanyalah akan merugikan agency dan tentu membuat sang manager kerepotan mengatasi hal ini. Namun? Oh, ia begitu bersyukur akan hal ini.

Yeonju terus melangkahkan kakinya kali ini dengan senyum tipis yang tergambar dibibirnya. Sepertinya perasaannya sudah mulai membaik sejak hari kemarin.

“Ji Yeonju…”

Yeonju menghentikan langkahnya saat itu juga. Tubuh semampainya terlihat kaku, ekspresi wajahnyapun memncarkan sorot yang sulit diartikan. Yeonju terlihat tengah menimang apakah ia harus membalikkan tubuhnya menghadap seseorang—ah tidak, lebih tepatnya orang yang hampir menjadi seseorang terpenting dalam hidupnya itu atau terus melanjutkan langkahnya menyusuri lorong gedung agencynya itu.

“Luhan…”

Tepat. Yeonju membalikkan tubuhnya dan menatap sosok lelaki bertubuh tingi yang tengah menatapnya dengan tatapan sulit diartikan—tidak, bukan hanya lelaki itu namun Yeonju juga menatapnya dengan tatapan yang sama.

Kedua orang tersebut terlihat saling diam satu sama lain, terlebih untuk Yeonju. Perasaannya mulai bergemuruh, entahlah ia sepertinya tak mengerti maksud dari keadaan perasaannya saati ini. Yang ia tahu… sesuatu yang tidak baik tengah mengintainya.

-To Be Continued-

 

Finally, akhirnya selesai juga~^^

Sebelumnya aku ucapkan terimakasih untuk author XilverSpear yang sudah mau aku repotkan dengan menitipkan fanfic abal-abal ini duuh ToT dan tentunya aku juga mau ucapkan terimakasih sebanyakbanyak bangetnya untuk siapapun yang sudah mau membaca fanfic apalah banget ini ToT

Dan..maafkan jika chapter awal ini begitu tidak memuaskan U,U karena nyatanya aing teh meuni amateur writter–“tapi jika respon fanfic ini bagus, insyaallah aku akan buat lebih menarik dan sebagus mungkin—insyaallah.

And the last, but no least… please, always leave your comment and riview guys ;)) karena satu komentarmu sangat berarti bagi kelangsungan hidup fanfic ini~ seeya♥bhay.

31 responses to “Louse Up Weddingㅡ1st. Louse Up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s