The Traveler

THE TRAVELER

By: susanokw
Cast: Wu Yifan
Rating: PG 16+

“I would stay and love you, but I have to go.”

.

.

Kapan kau pulang? Aku merindukanmu.

.

Kris menatap pesan masuk yang tertera di layar ponselnya. Gadis populer itu mengirim pesan yang sama pagi itu. Sudah lima pesan yang dikirimkan gadis itu padanya, terhitung sejak kemarin pagi.

Kris menghela napas panjang. Gadis itu merindukannya. Berarti gadis itu menyukainya. Bibir Kris lantas menyunggingkan senyum tipis. Betapa bahagia hatinya ketika mengetahui bahwa gadis populer yang selama ini dikejarnya membalas perasaannya.

Ia harus segera pulang. Ia harus segera menemui gadis itu.

.

.

“Jadi kau akan kembali ke negaramu?”

Kris mengangguk sambil menyesap pelan latte dengan campuran satu sendok gula. “Ya, aku akan pulang lusa. Ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba saja ingin kembali.”

Gadis dihadapannya mengangguk sambil menggumamkan kata ‘oh’ pelan.

“Sudah membeli tiket?”

Kris menggeleng. “Aku akan membeli tiket hari ini, makanya aku datang kesini untuk mengajakmu.”

“Mengajakku?”

“Hm.”

“Tapi aku sedang bekerja.” Gadis dihadapan Kris melirik Cafe Bay tempatnya bekerja. Hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Awan kelabu menggantung sejak pagi tadi dan tak kunjung pergi hingga siang. Jam menunjukkan pukul sebelas, dan suasana di cafe tempat gadis itu bekerja sudah mulai ramai didatangi oleh para pengunjung yang ingin menikmati secangkir kopi panas yang terkenal sangat enak dari cafe ini.

“Ayolah, Blue. Bukankah seharusnya shiftmu sudah berakhir? Ini sudah jam sebelas.”

Gadis yang dipanggil Blue itu memutar bola matanya sambil mendengus sebal. “Shiftku berakhir jam 11.30, Kris. Aku masih harus bekerja 30 menit lagi.”

Mendengar jawaban itu Kris lantas terdiam. Ia mengerut sambil mengerucutkan bibirnya, berusaha untuk membuat ekspresi lucu tetapi sungguh, Blue sangat membenci ekspresi itu. Menurutnya, Kris tidak cocok memasang ekspresi seperti itu. Tubuhnya yang tinggi dan suara berat yang dimiliki Kris membuat lelaki itu terlihat aneh dengan ekspresi kekanak-kanakannya yang sangat menjijikkan.

“Aku akan kembali ke dalam. Habiskan lattemu. Aku akan kembali ke meja ini 30 menit lagi.”

Setelah mendapat anggukan dari Kris –masih dengan ekspresi menjijikkan miliknya, ditambah dengan gerakan yang malas-malasan –Blue bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kris di meja nomor sembilan sendirian. Gadis itu kembali ke belakang kasir untuk melayani pelanggan yang sudah mulai banyak berdatangan.

Kris menyukai meja nomor 9. Selain 9 adalah angka yang paling disukainya, meja ini juga menyajikan pemandangan yang lebih menenangkan bagi Kris. Meja nomor 9 terletak di pojok ruangan, dengan satu set kursi sofa berwarna cokelat muda dan dua kursi sofa berukuran kecil berwarna senada dihadapannya. Diantara  sofa tersebut ada sebuah meja berbentuk kotak, berbeda dengan meja lainnya yang berbentuk bulat. Ada sebuah lukisan balon berwarna merah berlatar langit biru dengan awan-awan putih yang tergantung di dinding dekat meja tersebut. Ditambah kaca besar yang menyajikan pemandangan jalanan kota yang tak pernah sepi dari waktu ke waktu.

Kris lagi-lagi menghela napas panjang. Pikirannya kembali berlari pada lima pesan yang dikirimkan gadis populer itu. Gadis yang terkenal dengan kecantikannya seantero kampus, gadis yang digilai oleh banyak lelaki, gadis yang mempunyai standar tinggi, gadis yang saat ini sedang merindukannya dan menanti kepulangannya. Kris kembali tersenyum.

Rasanya Kris ingin mempercepat waktu agar 30 menit shift kerja Blue segera selesai. Dengan begitu ia bisa segera membeli tiket, dan kembali ke apartemen untuk membereskan barang-barangnya.

Mendadak ia tak sabar menunggu lusa.

.

.

“Satu tiket ke China.” Kris menyebutkan tujuan pesawat yang akan di tumpanginya lusa. Kini ia dan Blue sedang berada di salah satu agen travel untuk membeli tiket kepulangannya ke China. Sayangnya kedatangan Kris cukup terlambat hari ini. Tiket destinasi China dengan penerbangan pagi dan siang sudah habis, tersisa penerbangan malam pukul tujuh. Akhirnya dengan berat hati Kris mengambil penerbangan tersebut.

“Fyuh, hanya tersisa penerbangan jam tujuh malam. Apa yang harus kulakukan untuk membunuh waktu sampai jam tujuh malam, Blue? Ah, membingungkan sekali.” Gerutu Kris sambil memandangi tiket kepulangannya tersebut dengan wajah nanar.

Blue menoleh kepada Kris dengan kening berkerut. “Ada banyak hal yang bisa kau lakukan untuk mengisi kekosongan waktumu, Kris. Berpamitan pada semua karyawan tempatmu magang, misalnya. Mereka pasti akan sangat terkejut mendapat kabar bahwa kau akan mengundurkan diri.”

“Itu bisa kulakukan hari ini.”

“Hm.. mengepak barang-barangmu sampai rapih?”

“Itu juga bisa kulakukan hari ini.”

“Hm….”

“Ah, aku tahu!” Kris menjentikkan jarinya ke udara yang sontak membuat langkah keduanya berhenti. “Aku bisa mengisi waktuku dengan berkeliling kota ini untuk yang terakhir kalinya.”

Blue tersenyum manis. “Ide yang bagus.”

“Kalau begitu kau harus menemaniku makan es krim, membeli permen kapas, makan hotdog super besar di taman, dan mengajakku ke tempat-tempat yang belum pernah ku kunjungi selama aku disini.”

Mendengar penyataan lelaki jenjang dihadapannya itu, Blue melebarkan matanya tanda terkejut.

“Aku? Kris kau tahu kan kalau aku harus bekerja.” Nada suara Blue hampir meninggi karena sifat Kris yang sangat pelupa akan jadwal kerja part timenya di Cafe Bay. Entah makanan apa yang dimakan lelaki itu sehari-hari sehingga membuatnya menjadi pelupa. Atau mungkin Kris adalah seorang pelupa sejak lahir? Blue menduga-duga.

“Ah, iya kau benar. Kenapa sih kau tidak pernah punya waktu seharian penuh untuk menemaniku?” Kini Kris berkata dengan nada protes kepada Blue. Ah, lelaki ini memang benar-benar menyebalkan.

“Apa? Hey, kau bahkan selalu mengambil jatah hari Mingguku untuk menemanimu seharian di apartemenmu yang selalu berantakan seperti kapal pecah.”

Blue melipat tangannya didepan dada dan menatap Kris lekat-lekat. Gadis itu memang bekerja paruh waktu untuk membantu keluarganya. Dengan biaya kuliahnya yang cukup mahal, Blue berpikir bahwa jika hanya ibunya seorang yang bekerja, maka tidak akan cukup untuk memenuhi kehidupan keluarganya sehari-hari. Blue punya dua adik kembar yang masih bersekolah di bangku sekolah dasar. Ayah Blue sudah meninggal beberapa tahun yang lalu akibat tabrak lari. Ibunya hampir frustrasi karena kehilangan suami yang paling dicintainya secara tiba-tiba.

Seiring waktu berlalu, akhirnya ibu Blue kembali pada kondisi normal. Ia menerima semua hal yang telah menimpanya dan keluarganya dan menyadari bahwa kehidupan akan terus belanjut. Ibunya pun kembali mengajar anak-anak sekolah dasar untuk mendapatkan penghasilan. Merasa prihatin, Blue  ikut turun tangan untuk membantu menambah penghasilan ibunya dengan bekerja part time di sebuah cafe yang terkenal di kotanya.

“Kalau begitu ayo kita kembali ke cafe dan meminta izin pada bosmu untuk lusa nanti.”

“Apa?”

Kris langsung menarik pergelangan tangan Blue dan mengajaknya melangkah lebar-lebar untuk kembali ke cafe. Kris akan menemui pemilik cafe tersebut agar memberikan izin kepada Blue untuk tidak masuk kerja lusa nanti.

Bagaimanapun caranya Kris harus berhasil, dan ia tahu bahwa ia akan berhasil. Kris akan membuat gadis itu menemaninya sampai jam penerbangannya tiba.

Walaupun ia tahu setelah ini Blue akan mengomelinya panjang lebar. Tetapi Kris tidak akan keberatan.

.

.

Ada beberapa hal yang Kris sukai dari sosok Blue.

Gadis yang tingginya hanya mencapai bahunya itu selalu terlihat ceria, bahkan dalam situasi tersulit dalam hidupnya. Selama beberapa bulan Kris mengenalnya, Blue merupakan sosok yang menyenangkan. Gadis itu selalu bisa membuatnya merasa nyaman dan diselimuti perasaan yang hangat. Harus ia akui terkadang Blue bisa menjadi sangat cerewet. Itu merupakan hal yang normal mengingat pada dasarnya semua perempuan diciptakan dengan sifat yang cerewet. Tapi Kris sadar bahwa omelan yang selalu dilontarkan oleh Blue padanya merupakan salah satu bentuk perhatian. Blue seringkali mengomelinya ketika ia membeli latte di Cafe Bay tetapi tidak mengabiskannya, oke, Kris tahu itu adalah tindakan yang tidak baik karena membuang-buang makanan. Blue juga sering mengomelinya ketika ia mengeluh sakit maag karena telat makan, atau terlalu banyak makan mie instan –yang membuat Blue berpikir bahwa mie instanlah yang membuat Kris menjadi pelupa –atau ketika banyak baju kotor bergelantungan di kamarnya.

Tapi setelah mengomel, Blue selalu kembali pada sifat aslinya yang lembut. Ia akan dengan sabar memberi obat maag kepada Kris dan membuatkan makanan yang sehat. Ia akan membereskan pakaian Kris yang bergelantungan dan mencucinya dengan mesin cuci yang sengaja dibeli Kris karena ia tahu kalau mencuci di laundry akan memakan waktu yang lama. Sembari menemani Kris makan, Blue akan bercerita tentang pekerjaannya di cafe. Tentang macam-macam tingkah laku pelanggan, tentang rekan kerjanya Tom yang dalam setiap tingkahnya selalu menimbulkan gelak tawa. Blue juga akan bercerita tentang kesehariannya di kampus, bercerita tentang tugasnya membuat model design interior sebuah rumah yang harus dikerjakannya sampai larut malam, tentang dosennya yang sangat pelit dalam memberi nilai, dan kejadian lainnya yang selalu disampaikannya dengan penuh minat. Kris akan setia mendengarkan cerita Blue sampai habis dengan sesekali menanggapi dengan celetukan-celetukan yang membuat gadis itu tergelak.

Dua hal lain yang Kris suka dari seorang Blue adalah manik matanya yang berwarna biru dan tawanya yang ringan yang selalu membuat Kris merasa bahwa segalanya akan baik-baik saja. Itulah mengapa Kris memanggilnya Blue, karena manik mata sebiru laut itulah yang berhasil menghipnotis Kris untuk selalu menatapnya.

Seperti laut, sorot mata gadis itu bergitu menenangkan. Tatapan gadis yang dikenalnya dalam beberapa bulan terakhir itu selalu membuatnya merasa damai, apalagi diiringi dengan gelak tawanya yang terdengar begitu merdu ditelinganya. Aroma apel yang menguar dari rambutnya  menjadi aroma favorit Kris setiap kali Blue berada didekatnya.

Gadis itu mendadak menjadi hal yang adiktif baginya. Dan Kris sadar betul akan hal itu.

.

Bersyukur pagi ini cuaca sedang bersahabat. Awan mendung yang menggantung di langit-langit kota semalam tertiup angin dan digantikan dengan cerahnya matahari pagi. Kris dan Blue sudah berada di salah satu stasiun kereta api bawah tanah yang akan membawa mereka ke sebuah tempat yang –Blue sangat yakin akan hal ini –belum pernah dikunjungi oleh Kris.

Kereta express bawah tanah itu akan membawa mereka ke sebuah distrik yang terletak 25 kilometer dari pusat kota. Di distrik tersebut ada sebuah kuil yang biasa dipakai untuk beribadah umat Buddha. Kuil tersebut telah menjadi objek wisata bagi wisatawan domestik maupun luar negeri. Kuil yang dibangun dengan arsitektur yang sangat khas itu menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk para wisatawan yang ingin berkunjung.

Perjalanan dari pusat kota menuju distrik 11 –begitu Blue menyebutnya –memakan waktu sekitar satu jam. Kris menggendong sebuah ransel berisi baju ganti dan bekal yang dibuatkan oleh ibunya Blue. Ketika mengetahui bahwa ibunya Blue membuatkan bekal yang sangat spesial untuk mereka berdua hari ini Kris menjadi lebih bersemangat dan ingin cepat-cepat menjelajahi tempat-tempat yang ia yakin akan sangat menakjubkan. Berbekal sebuah kamera DSLR yang biasa dipakainya untuk bekerja, Kris siap diajak Blue untuk berkeliling menghabiskan waktu sebelum jam penerbangannya ke China tiba.

Sesampainya di kuil Kris dan Blue langsung melangkah masuk. Baru beberapa langkah setelah masuk gerbang, Kris langsung asyik dengan kameranya. Lelaki itu sibuk memotret apa saja yang menarik perhatiannya. Mulai dari arsitektur yang menurutnya sangat unik, orang-orang yang sedang beribadah, sampai patung buddha yang berukuran kecil dan berwarna emas ikut dipotretnya pula. Blue dengan setia berjalan disampingnya dan sesekali menjelaskan tentang hal-hal yang ia ketahui dari kuil tersebut.

Setelah puas berkeliling di kuil dan mendapatkan foto yang bagus, Blue mengajak Kris untuk mengunjungi sebuah pasar kelontong di distrik 11. Pasar tersebut menjual barang-barang yang bagus dengan harga yang sangat murah. Bisa mencapai tiga kali lipat dibawah harga barang yang sama di pusat kota. Lagi-lagi Kris sibuk dengan kameranya. Potret sana, potret sini, seakan tidak peduli kalau memori cardnya akan cepat penuh dengan foto-foto yang ia ambil hari ini. Sesekali mereka mampir ke kios-kios yang menjual aksesoris-aksesoris lucu, mencobanya sebentar hanya untuk diambil fotonya, mengembalikan kembali barang tersebut lalu pergi sambil tertawa-tawa.

Dari satu tempat ke tempat lainnya dijajaki oleh keduanya dengan perasaan gembira. Tidak peduli matahari bersinar seterik apapun, hari ini akan menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah terlupakan oleh keduanya. Blue sudah berjanji pada Kris akan menemaninya sampai jam penerbangan lelaki itu tiba, dan Kris sudah bertekad akan mengabadikan seluruh momen yang sangat berharga hari ini dengan kameranya.

Apapun momen itu, termasuk momen terakhir bersama Blue.

.

.

“Omong-omong Kris, bagaimana dengan nasib mesin cuci itu?” Blue melirik mesin cuci yang terdapat di samping pintu kamar mandi sambil memasukkan baju terakhir Kris ke dalam tas ransel.

“Biarkan saja.”

Blue mengerutkan kening keheranan. “Memangnya kau akan kembali lagi?”

“Mungkin.” Kris mengangkat sebelah bahunya sambil menaikkan kedua alisnya, pandangan lelaki itu lantas beralih dari kamera yang sedang dipegangnya pada gadis bermata biru itu. “Lagipula tidak ada yang akan membeli kubik apartemen ini.”

“Bukankah masa sewamu sudah habis?”

Kris menggeleng sambil tersenyum tipis. “Aku sudah membelinya.”

Mata Blue langsung melebar mendengar penyataan yang baru saja dilontarkan lelaki jenjang yang kini bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah terseret-seret ke dapur. “Kau kan seorang traveler, Kris. Buat apa membeli kubik apartemen ini? Bukankah itu membuang-buang uang?”

Kris tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia hanya menyunggingkan senyum dan menggedikkan bahunya sekilas. “Ayo berangkat. Jangan sampai aku tertinggal pesawat terakhir. Aku ingin melihat matahari terbenam dari bandara, selagi memori kameraku masih banyak tersisa.”

Setelah menegak satu gelas air putih, lelaki itu berjalan cepat menghampiri Blue yang masih terbengong-bengong disamping tas ranselnya. Ia kemudian meraih ransel itu dengan tangan sebelah kanan dan meraih pergelangan tangan Blue menggunakan tangan kirinya dan menggenggam pergelangan tangan itu erat. Blue sempat terkejut dengan perlakuan Kris yang gemar sekali menarik pergelangan tangannya agar ia bisa menyejajari langkah lebar lelaki itu, walaupun pada akhirnya Kris yang akan berusaha berjalan sejajar dengannya. Tetapi jauh di dalam hati Blue, ada sesuatu yang selalu membuat sentuhan sekecil apapun dari Kris membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Dan yang membuat debar jantungnya kini lebih bermarathon adalah lelaki jenjang yang sedang berjalan disampingnya ini telah mengubah posisi tangannya. Yang tadinya menggenggam pergelangan tangan, kini tengah menggenggam jari-jemarinya dengan sangat erat. Seolah tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun.

Blue yakin sekarang pipinya sudah berwarna merah seperti tomat.

.

.

“Sejak kapan kau menjadi traveler?”

“Sejak satu tahun yang lalu.”

Blue mengangguk. Helai-helai rambutnya yang sebahu tertiup angin lembut di balkon bandara sore itu. “Sudah menemukan tempat yang paling bagus?”

Kris tersenyum kemudian menggeleng. “Semua tempat yang kukunjungi sangatlah bagus. Dan setiap tempat, pasti selalu menyisakan sebuah cerita.”

Blue mengalihkan pandangannya pada lelaki disampingnya. Matanya menyipit akibat sinar matahari yang hendak berpulang begitu menyilaukan. “Kalau begitu kau punya cerita yang menakjubkan pula ditempat ini.”

Kris mengangguk. “Tentu saja.” Lelaki itu menoleh dan mendapati Blue sedang menatapnya sambil tersenyum. Wajah gadis itu terterpa sinar matahari sore, membuat wajah cantiknya terlihat dua kali lebih cantik dari biasanya. Sorot matanya yang lembut membuat hati Kris terasa hangat. Ah, mengapa gadis ini selalu memancarkan aura yang selalu berhasil membuat Kris terpesona? Mengapa setelah melihat wajah gadis ini…. rasanya Kris ingin tetap tinggal untuk berada disampingnya?

Ah, tidak. Kris tidak boleh berpikiran macam-macam. Ada gadis lain yang sedang menunggunya di rumah. Ada gadis lain yang menyukainya dan Kris tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Well, tell me the good story of this place.” Pinta Blue sambil membenarkan posisinya menjadi lebih nyaman. Gadis itu menautkan kesepuluh jarinya dan memandang Kris lekat-lekat.

Kris menghela napas panjang. Senyum dibibirnya tetap tersungging. Ia maju selangkah lebih dekat ke arah Blue dan menyisakan jarak seukuran penggaris 30 senti.

“Tempat ini merupakan salah satu tempat terbaik yang pernah kukunjungi. Aku menemukan banyak hal baru yang tidak kutemukan ditempat lain, bahkan di negaraku sendiri. Aku banyak belajar dari kehidupan masyarakat disini. Terlalu banyak hal-hal yang menarik yang sepertinya belum sempat kulihat karena aku sudah terlanjur membeli tiket ini.” Kris mengacungkan tiket pesawat yang diselipkan bersama paspornya ke hadapan Blue.

Reaksi gadis dihadapannya itu hanya terkekeh pelan. Matanya menyipit membuat sebuah lengkungan yang sangat manis.

“Mungkin kalau ada kesempatan aku harus kembali ke tempat ini. Suatu hari nanti. Karena masih ada yang membuatku penasaran. Selain itu, mungkin alasanku ingin kembali ke tempat ini adalah……”

Kalimat Kris menggantung di udara. Blue menunggu kelanjutan dari kalimatnya tersebut. Gadis itu lantas terdiam sambil perlahan mengerutkan keningnya samar.

Kris kemudian memperpendek jarak diantara mereka. Ia mencondongkan badannya lebih dekat ke arah Blue. Astaga, sungguh kalau saja Kris bisa menghentikan waktu, ingin rasanya ia melakukan hal itu. Menatap manik mata Blue membuatnya ingin tenggelam dalam mata gadis itu. Tak apa jika ia tak bisa kembali ke permukaan. Ia hanya ingin tenggelam lebih dalam dalam pesona mata sebiru laut milik gadis itu.

“….aku punya teman yang akan setia menemaniku seharian dan menjadi tour guide yang sangat baik.”

Blue hendak berjengit mundur menghindari wajah Kris yang hanya berjarak beberapa senti. Tapi entah kenapa wangi maskulin yang menguar dari parfum yang dipakai Kris membuatnya tidak bisa bergerak. Tak mau bergerak lebih tepatnya. Aroma lelaki itu seolah membekukan seluruh anggota geraknya. Membuatnya terjebak dalam sebuah dilema. Antara ingin bergerak menghindar, atau tetap diam dan menikmati setiap detik kedekatannya dengan lelaki ini.

Semburat jingga dilangit makin kentara. Matahari berpulang perlahan, meninggalkan jejak oranye dilangit yang berubah gelap. Kris menatap Blue lekat, dan ia bisa merasakan napas Blue yang berubah tak beraturan dari jarak sedekat itu. Kris ingin tertawa melihat ekspresi gadis dihadapannya yang sedikit terkejut, tapi rasa gelinya terkalahkan oleh rasa penasaran yang begitu kuat.

Kris melirik bibir Blue yang berwarna kemerahan. Kris berpikir bagaimana rasanya bibir kemerahan itu? Apakah akan semanis permen lolipop yang biasa ia beli? Atau bahkan lebih manis dari permen gula-gula dari berbagai belahan dunia manapun? Bagaimana rasanya tenggelam dalam mata sebiru laut itu? Akan sangat menenangkan sekali jika setiap hari Kris bisa mencium aroma apel dari rambut sebahu milik gadis itu.

Perlahan Kris mengangkat tangan kanannya dan menangkup sisi kiri wajah Blue. Gadis dihadapannya itu terkesiap pelan namun tetap menatap matanya lekat. Kris mengelus pipi yang teramat halus itu perlahan. Berusaha merasakan sensasi yang begitu menggelitik di dalam perutnya. Perlahan Kris menundukkan kepalanya dan memperkecil jarak diantara mereka. Hanya tinggal sedikit lagi Kris bisa merasai manisnya bibir Blue….

Sedetik. Dua detik. Tiga detik berlalu. Jarak diantara mereka hampir habis. Blue menutup matanya perlahan dan berusaha untuk bernapas dengan normal.

Dan detik berikutnya Blue bisa merasakan sebuah kecupan ringan di hidungnya.

Sedetik setelah itu Blue berusaha membuka matanya dan mendapati sorot mata Kris yang begitu tajam, menusuk ke dalam seluruh raganya sehingga membuat jiwanya berteriak bahwa ia menginginkan lelaki itu.

“I would stay and love you, but I have to go.”

Satu kalimat yang dilontarkan Kris sambil berbisik dihadapan Blue. Bersamaan dengan itu matahari tenggelam dengan sempurna dan langit sudah menjadi gelap.

Mereka bertahan dalam posisi sedekat itu selama lima detik. Pada detik keenam, Blue tersadar akan posisinya dan langsung melangkah mundur untuk melepaskan dirinya dari tatapan Kris dan dari jeritan jiwanya yang menginginkan lelaki itu untuk terus bersamanya.

Wajah Blue memerah seperti kepiting rebus. Gadis itu mengibaskan tangannya, berusaha untuk mengipasi dirinya sendiri karena tiba-tiba saja udara berubah menjadi panas dan membuatnya gerak. Ia menarik napas berkali-kali sambil mengalihkan pandangan kemana saja dan menghindari tatapan Kris.

“Se-sebentar lagi pesawatmu akan datang. A-ayo masuk.” Ujar Blue gugup sambil berjalan mendahului Kris dan kembali masuk ke ruang tunggu.

Kris tersenyum kecil melihat Blue yang menjadi salah tingkah.

God! Hanya sebuah kecupan kecil di hidung!

Tapi Kris merasa senang sekaligus lega. Walaupun ia sendiri tidak tahu alasan yang tepat untuk rasa senangnya tersebut.

.

“Hati-hati di jalan, Kris. Semoga selamat sampai tujuan.” Blue mengucapkan salam perpisahannya pada Kris sesaat setelah pemberitahuan bahwa pesawat dengan tujuan China akan segera berangkat dan penumpang diharapkan untuk segera masuk.

Kris tersenyum mendengar kalimat tersebut. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap kepala Blue dengan lembut. “Kau juga harus langsung pulang. Terima kasih telah menemaniku seharian. Ucapkan salam terbaikku untuk ibu dan adik-adikmu, juga bosmu dan Tom.”

Blue mengangguk pelan. “Pasti.”

Tiba-tiba Kris menarik Blue kedalam pelukannya dan membungkus erat tubuh mungil gadis itu. Kris menarik napas panjang untuk menghirup aroma apel yang akan selalu menjadi aroma favoritnya. Pelukan Kris teramat erat hingga membuat Blue sulit bernapas dan tentu saja efek pelukan itu membuat jantung Blue kembali bermarathon, walau tidak sekencang pada saat Kris mencium hidungnya tadi.

“Ah, aku akan sangat sangat merindukan gadis ini.” Bisik Kris tepat di telinga Blue yang direspon hanya dengan senyuman kecil.

“Aku juga akan merindukanmu.”

Kris mempererat pelukannya seolah tidak rela kehilangan tubuh mungil yang terasa sangat pas dalam rengkuhannya. “Dan aku akan selalu merindukan tempat ini.”

Blue masih tersenyum. “Kembalilah kapanpun kau mau.”

“Apakah kau akan menunggu?”

Pertanyaan Kris barusan tak langsung dijawab oleh Blue. Gadis itu terdiam.

“Blue..”

“Ya. Aku akan menunggu.”

Kris melepaskan pelukannya karena terdengar kembali pengumuman bahwa pesawat akan segera berangkat. Setelah menatap mata Blue beberapa detik, akhirnya lelaki itu meraih ranselnya dan masuk ke dalam pesawat. Blue memandangi langkah kaki Kris yang lama-kelamaan semakin jauh, hingga akhirnya punggung lelaki itu tidak terlihat kembali.

Blue masih duduk di bandara sampai pesawat lepas landas dan menghilang dari pandangan ditelan langit malam. Blue menghela napas panjang. Baru beberapa menit sepeninggal lelaki itu, rasanya ada sebagian dalam diri Blue yang dipaksa pergi. Sebagian dari dirinya yang sudah lama melekat, kini terasa kosong.

Kris mungkin sudah membuka sebuah ruang baru didalam hatinya. Kehadiran lelaki itu membuat hidupnya terasa lebih berwarna. Bersamanya Blue merasakan bahwa dalam keadaan sesulit apapun, pasti akan bisa ia lalui. Selama ada langkah yang menyejajarinya, ada tubuh tinggi yang melindunginya, ada rengkuhan yang menghangatkannya.

Sungguh. Blue menginginkan lelaki itu. Blue mendamba Kris untuk selalu berada disisinya.

Dan lelaki itu memintanya untuk menunggu. Lelaki itu memintanya untuk tidak mengunci pintu, karena siapa tahu suatu hari nanti ia akan kembali.

Dan dengan senang hati Blue akan melakukannya.

Walaupun dari dalam lubuk hati yang paling dalam, Blue tidak yakin apakah lelaki itu akan kembali atau tidak.

.

.

Dear, readers. 
Rasanya udah lama banget aku ga ngepost disini. 
Maafkan. Waktu kuliah memang menuntut perhatian yang penuh HAHAHA.
Well, ini fanfik yang baru. Semoga kalian suka :’)
Maafkan atas segala typos atau apapun yang menurut kalian kurang disini.
Dan kenapa cast nya Kris karena kalau Chanyeol…..
Ah, abang itu sudah terlalu sering di ekspos media pff.
Well sebenernya ga ada maksud apa-apa sih castnya Kris, 
ya cuman kepikiran dia aja. Dan btw sudah lama juga tidak melihat gigi tonggosnya dilayar kaca.
Ups, puasa.
Btw selamat puasa juga bagi yang menjalankan. Semoga fanfik ini tidak lantas membuat 
puasa Anda sekalian menjadi batal, HAHAHAHA *ketawa keras*
Oke, selamat membaca dan semoga.. SEMOGA suka!
Kritik dan saran yang membangun sangat aku tunggu di kotak komentar.
Sangat sangat aku tunggu. 
InsyaAllah, kalau banyak ide, akan ada lanjutannya.
INSYAALLAH loh yaaa HAHAHAHA

Happy reading, fellas! 
xoxo.

8 responses to “The Traveler

  1. AKU SUKA BANGET LOH. ♡♡♡ tp kok yi fannya kea php? Kan dia udah ada gadis yg nunggu. Masa nyuruh blue nunggu sih????? Neeext ayoo

  2. endingnya masih gantung 😂
    ini akan menarik thor klo di chapterin.
    kisah penantian blue yg menyesakan
    di mana si blue sekian lama tapi yg di tunggu g datang datang.
    mungkin bsa di buat sada ending dimana akhirnya kris kembali tp bukan untuk menemuinya tp untuk bulan madu 😂
    pokoknya di tunggu sequelnya😉

  3. entahlah.. si kris nyebelin banget ih.. hahaaa.. kalo ada sekuel mau dong eoonn🙂 dan blue plisss. jgn nunggu si kris.. . kunci aja pintunya tar ada pencuri masuk.. heuuu

  4. Krisss…. duh kangen sm kmu hehehe manis bgt sih kriss di sini sm blue btw gmn kris sm cweknya yg dicina??kasian dong blue hrus nunggu yg gk pasti

  5. udah bacaaaaaaaaa wkwkwkwkwkwk nama ny blue, kaya blues clues /eh
    eike suka ceritanyaaaa, udh lama g bca ff straight gw hahahahahahahaha /ketawa nista
    sequel vroh, ganti cast jadi luhan misalny :’D /dihajar massa

  6. Pingback: The Traveler: Kris | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s