[Series] Will You Be My Bride? (2)

FF ini ditulis oleh Kim Liah , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat Daftar isi FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

WIYBmBL

 Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

.

.

“Geurae, katakan saja palli” Jiyeon tahu jika Luhan bisa saja memberinya ide terkonyol sedunia. “Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen”

“Eksperimen? Memangnya aku kelinci?” sanggah Jiyeon.

Luhan mengambil nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat teranehnya “Kita akan melakukan pernikahan. Kau dan aku” jelasnya.

Jiyeon nampak memegangi perutnya saking kencangnya ia tertawa, sungguh kata pernikahan yang diucapkan oleh Luhan teramat mengocok perutnya. “Kau dan aku? Menikah?” ucapnya disela tawa renyahnya.

Ada sedikit kegugupan dan keinginan mundur dari ucapan gila Luhan, kalau bisa ia ingin memutar waktu dan mencegah kepalanya meramu kata-kata konyol itu. “Wa..wae? Memangnya ucapanku begitu menggelikan?”

Jiyeon mengangguk membenarkan “Eoh” ia menunjuk dirinya sendiri “Apa kau tak lihat kalau mulutku tak bisa berhenti tertawa?” ujarnya.

“Geurae, tertawalah!” Luhan menyendok eskrimnya dengan cepat seakan suapan eskrim dimulutnya mampu menghapus ucapan yang telah terlanjur didengar oleh Jiyeon. “Aku hanya memberi ide, dan bukankah tadi sudah kukatakan kalau apa yang kulakukan ini semata-mata demi kebaikanmu saja” belanya.

“Kebaikanku? Jincha ini ide paling konyol yang pernah kau tawarkan disetiap permasalahanku” Jiyeon menopang dagunya dan nampak memikirkan bagaimana kehidupannya nanti jika ia memang menikah dengan Luhan “Pasti aneh sekali jika kau menjadi suamiku” jemarinya mengusap sisa eskrim diujung bibir Luhan “Kau itu selamanya hanya pantas menjadi sahabatku saja, Luhan-ya” tambahnya.

Luhan menampik jemarinya Jiyeon dengan kasar “Wae? Naega wae?” ketusnya.

Jiyeon memanyunkan bibirnya, aneh sekali kenapa Luhan seolah marah dengan ucapannya tadi “Yaa kenapa kau jadi marah begini?” keluhnya.

Luhan tergagap dengan pertanyaan Jiyeon “Maa..marah? Aku marah padamu?” tanyanya balik.

“Eoh, kau berteriak padaku” Jiyeon menyuapkan eskrimnya ke mulutnya dan memakannya dengan lahap namun dengan tampang aegyonya yang seolah ia tersinggung karna diteriaki oleh Luhan.

Luhan mengangkat tangannya menolak asumsi Jiyeon “Anni” ia tertawa garing seraya memikirkan alasan yang tepat.

“Lalu kenapa kau berteriak padaku? Seolma kau menyukaiku? Kau menaruh hati pada sahabatmu yang yeppeo ini hah?” goda Jiyeon seraya mengedipkan kedua matanya.

“Mwo?” kali ini ia kembali mencoba tertawa renyah seraya memukuli perutnya seolah ucapan Jiyeon itu sangat menggelikan.

“Yaa, hentikan tawamu. Kau lebih kelihatan menangis daripada tertawa, Lulu-ya” titah Jiyeon.

“Igeo” Luhan menunjuk kedua matanya “Apa aku kelihatan beruraian air mata? Bagaimana aku tidak tertawa serenyah itu, jika kau mengada-ada seperti itu” ia mendengus pelan “Jincha, aku rasa kepalamu mulai konslet karna desakan menikah dari Taehee imo” sindirnya.

“Konslet? Yaa kau lebih konslet dariku, Lulu-ya” Jiyeon menunjuk Luhan dengan sendoknya “Kau… kau yang duluan memulainya, kau MENGAJAKKU MENIKAH!!MENIKAH!!” ulangnya penuh penekanan.

Ucapan Jiyeon ada benarnya juga, memang ia yang memulai semuanya “Yaa chakkaman, jangan salah paham dulu Jiyeonie-ya. Kau baru mendengar idenya dan belum mendengar penjelasan lengkapnya” sanggah Luhan.

“Geuraeyo? Lalu?” selidik Jiyeon.

“Ingat! Ini itu demi kebaikanmu” Jiyeon nampak mengangguk dengan kalimat yang sudah 3x diulang oleh Luhan “Bukankah, kau ingin lepas dari desakan Taehee imo?” Jiyeon kembali menggangguk seraya menghabiskan eskrimnya “…dan kau juga ingin membahagiakan beliau bukan?” jelas Luhan.

“Ne… ne.. ne… jadi intinya apa Lulu-ya?”

“Arghhh mungkin memang terdengar konyol dan menggelikan  seperti yang kau katakan, tapi dimana lagi bisa kau temukan pria sebaik diriku, Jiyeonie?” tanya Luhan.

“Sebaik kau? Eumm, dari ketiga mantan priaku semuanya baik, sedikit baik” Jiyeon melipat jempol dan telunjuknya hingga membentuk lingkaran kecil.

“Geurae Jiyeonie, jadi intinya memang hanya akulah pria terbaik disekitarmu saat ini, matcji?”

“Eoh, kuendae kau serius ingin menikahiku, Lulu-ya?”

Luhan menyilangkan kedua telunjuknya hingga membentuk huruf X “Simulasi pernikahan, lengkap dengan semua formalitasnya, lamaran, akad nikah bahkan bulan madu mungkin” jawabnya.

“Tadi kau berkata eksperimen dan sekarang simulasi, jincha baru kali ini aku menjadi bahan penelitian” geleng Jiyeon.

“Penelitianmu bukan aku Jiyeonie. Kita akan mengadakan penelitian tentang semua yang ada dikepalamu ini” Luhan menyentil kening Jiyeon dengan telunjuknya.

“Appo, Lulu-ya”Jiyeon mengusap keningnya “Bulan madu segala? Jincha, kau benar-benar sudah jatuh hati pada sahabatmu ini hah?” cibirnya.

“Simulasi! Semuanya hanya simulasi untuk membuktikan semua asumsi yang ada dikepalamu yang keras kepala itu Jiyeonie-ya” Jiyeon mengangguk paham namun masih ada keraguan didalamnya “Bukankah kau bilang pernikahan itu merugikan pihak wanita? Jika memang nanti seperti itu, kau bisa langsung meminta cerai padaku dan bisa hidup melajang selama-lamanya. Namun jika kau malah kecanduan menjabat sebagai seorang istri, kita tetap bercerai dan kau bisa mencari pria pilihanmu yang memang pantas menjadi suamimu kelak” papar Luhan.

Jiyeon menggigit bibir bawahnya hingga lipstiknya sedikit melumer “Jincha, ini sungguh ide yang konyol. Kita akan menjadi peran utama seperti tokoh drama saja. Pura-pura menikah, menikah kontrak” gumamnya.

“Eoh, simulasi dan penelitian Jiyeonie” Luhan berharap idenya kali ini memang bisa membantu menyelesaikan permasalahan Jiyeon “Ini satu-satunya cara kita belajar seperti apa pernikahan itu tanpa perlu menikah sungguhan. Kau tak mau kan salah comot pria hanya untuk menghindar dari desakan Taehee imo hingga kau berakhir mengenaskan seperti yang ada dikepalamu itu hah?” jelasnya.

“Eoh”

“Kau tak akan kehilangan apapun, Jiyeonie, semuanya tetap sama, hanya status kita saja yang berubah”

“Kecuali ratusan juta yang harus kuhabiskan untuk biaya pernikahan” sanggah Jiyeon.

“Simulasi”

“Geurae simulasi, rekayasa, percobaan, penelitian, apapun itu namanya tetap saja aku akan menyandang status janda nanti” ujar Jiyeon lalu bangkit berdiri membayar bill.

“Yaa Jiyeonie-ya, kau marah padaku hah? Ini kan cuma..” Luhan menjejeri Jiyeon berjalan keluar cafe.

“Eoh simulasi”

Luhan menahan langkah Jiyeon dengan menarik lengannya “Apa aku sejelek itu hingga bahkan tak pantas menjadi suami sandiwaramu?”

Tangan kanan JIyeon merengkuh lengan Luhan “Anniya, Lulu-ya, kalaupun wanita diluar sana mencibirmu sekalipun, aku akan tetap memuji ketampananmu. Keundae, tak semudah itu aku menerima ide konyolmu ini” jelasnya.

“Geurae, kajja kita pulang. Kau pikirkan saja tawaranku itu kalau kau mau” Luhan mengalungkan tangan kirinya dipinggang Jiyeon dan mengajaknya menaiki mobilnya.
.

“Yaa ubah ekspresi wajahmu ini” Luhan mencubit kedua pipi Jiyeon, kini mereka sudah memasuki ruang tengah kediaman keluarga Park.

“Ternyata kau Luhan” Taehee baru saja menuruni tangga menuju ruang tengah “Jadi ini calon menantuku?” godanya.

Luhan menatap Jiyeon dan Taehee berselingan “Menantu? Naega?” tanyanya, ada semburat kebahagiaan diwajah tampannya.

“Eoh, tadi Jiyeon pamit pergi menemui calon menantuku” angguk Taehee seraya menuang segelas jus jeruk ke tiga buah gelas dinampan lalu menaruhnya dimeja tamu “Minumlah, kau pasti haus, menantuku” pintanya seraya menyerahkan segelas jus kepada Luhan.

“Eomma, geumanhe” cegah Jiyeon, Luhan bisa besar kepala mendengar panggilan itu. Bodoh, tak seharusnya ia mengakui bertemu calon menantu, bukankah ini sama saja ia sudah menganggap Luhan sebagai calon menantu yang akan ia bawa menemui Taehee.

“Keundae imo, apa benar yang kau katakan tadi mengenai menantu?” selidik Luhan penasaran.

“Ne, anak ini berkata seperti itu dan tak kusangka dia membawamu pulang” goda Taehee. “Aishh, sudahlah, pulanglah sana Luhan-ya. Keringat ditasmu tercium sampai disini” Jiyeon mendorong Luhan menuju pintu keluar.

“Eommonim, nan neo sawi-ya” teriak Luhan sebelum ia benar-benar ditendang keluar oleh Jiyeon.

“Mwo? Eommonim? Dia memanggilku ibu mertua” gumam Taehee. Jiyeon meneguk jusnya dan duduk disamping Taehee.

“Cihh, Menantu?” lucu sekali Luhan meneriakkan predikat itu tadi didepan ibunya.

“Waeyo? Luhan, dia memang calon menantuku, bukan? Kau yang mengatakannya sendiri, Jiyeon-a” sanggah Taehee.

“Molla” Jiyeon menyambar tasnya dan berjalan menuju kamarnya dilantai dua.

“Sepertinya ide Yeseul ada benarnya juga, mereka bahkan sudah berunding seperti itu dibelakangku, dasar anak itu” dumel Taehee seraya mengulas senyum bahagia karna sebentar lagi mimpinya akan menjadi nyata.

.

“Ara-ya, apa menurutmu aku memang harus segera menikah?” ntah pertanyaan konyol apa yang Jiyeon tanyakan pada sekretarisnya itu.

Ara tersenyum kecil, tanpa perlu ia menjawabpun seharusnya Jiyeon sudah tahu jawabannya “Waeyo? Kenapa pertanyaanmu aneh sekali” ia memegang kening atasannya itu “Apa kepalamu baru saja terbentur hingga kau lupa seberapa tua usiamu saat ini?” duganya.

“Aishh” haruskah Ara menggunakan kata menyakitkan itu? Jiyeon tak setua itu, meski faktanya diusia ke-25 nya ini ia masih berstatus lajang tak seperti Ara yang sudah memiliki seorang putra berusia 2 tahun, padahal mereka berdua seumuran. “Maksudku, apa memang sebaiknya aku segera menikah, Yoo Ara?” ujarnya.

“Eumm, tentu saja. Kau tak mau kan kalau anak kita kelak semakin terpaut jauh. Apa kau juga mau kalau Yoongin menjadi pengiring bungamu hah?” jabar Ara.

Menjadi pengiring Jiyeon? Bukankah itu artinya Yoongin sudah beranjak dewasa? “Pengiringku? Anak-anak?” ulang Jiyeon.

“Eoh, jika Yoongin sudah masuk taman kanak-kanak dia pasti bisa menjadi pengiringmu. Dan itu artinya kau sudah semakin tua Jiyeon-a, 4 atau 5 tahun lagi mungkin” angguk Ara.

“Shirreo”

“Ya sudah menikahlah” Ara mengambil dokumen yang baru saja ia mintakan tanda tangan ke Jiyeon “Keundae dengan siapa? Kau sudah punya pilihan?” tanyanya.

“Mungkin”

.

Taehee tengah berbaring dikamarnya, ini sudah waktunya ia untuk istirahat “Tumben sekali kau sudah pulang” dirasakannya sebuah tangan melingkar dipinggangnya, siapa lagi kalau bukan putri semata wayangnya, Park Jiyeon.

“Aku hanya merindukan rumah saja” Jiyeon semakin mempererat rangkulannya.

“Jawaban yang aneh”desis Taehee

“Eomma, apa kau memang begitu ingin melihatku menikah?”

Taehee berbalik memiringkan tidurnya hingga berhadapan dengan Jiyeon “Tentu saja, apa kau mau memberontak lagi hah?” ia menjewer telinga Jiyeon “Mana ada seorang ibu yang bahagia jika anaknya melajang sepertimu” ia lepas jewerannya dan membelai pipi Jiyeon “Eomma tidak ingin melihatmu hidup sendirian jika nanti eomma sudah…” ucapannya terhenti kala JIyeon kembali membenamkan kepalanya di dada Taehee.

“Aku tak akan pernah sendirian, eomma akan selalu menemaniku” potong Jiyeon.

“Kita tak pernah tahu sampai kapan eomma bisa menemanimu Jiyeon-a dan sebelum waktu itu tiba eomma ingin melihatmu bersanding dan menitipkanmu pada pria yang benar”

“Eomma” Jiyeon menangis sendu berbarengan dengan suara Taehee yang semakin serak.

.

“Lupakan futsal dan pancinganmu besok pagi” Jiyeon mengamati layar lebar didalam kamarnya yang berisi sebuah deretan nama kru film yang baru saja ia tonton ditengah malam ini.

“Waeyo? Aku tak bisa berhenti futsal ataupun memancing Jiyeonie” Luhan masih memejamkan matanya, ia berharap tadi ia tak mendengar ringtone suara Jiyeon di ponselnya hingga ia bisa melanjutkan tidur lelapnya.

“Menikah, bukankah kau ingin menikahiku?”

Seketika Luhan terlonjak duduk diranjangnya “Bisa kau ulang lagi?”

“Bawalah Xiaoming oppa dan Minyoung imo”

“Aku…”

“Tak lucu bukan jika kita langsung menikah tanpa basa-basi menggunakan proses lamaran” jelas Jiyeon.

“Lamaran? Kau…” Luhan mencubit pahanya, ia mengira ini hanyalah sebuah mimpi.

“Eoh kita akan melakukan pernikahan simulasi seperti tawaranmu” mungkin memang benar apa yang Luhan katakan, Jiyeon hanya punya satu pilihan ini saja demi kebaikannya.

“Geurae, kau pasti masih menonton drama bukan?” Luhan mengamati jam wekernya “Ini jam 1 malam Jiyeonie-ya, tidurlah” pintanya.

“Ne” ucap Jiyeon seraya mematikan panggilannya, ia berharap keputusannya tak akan pernah merugikannya.

Sementara itu Luhan melonjak girang diranjangnya, ia tak menyangka sahabatnya itu menrima idenya. Pernikahannya kali ini juga akan membantunya dalam membahagiakan ibunya yang selama ini tengah sakit dan mengharap melihatnya menikah segera sebelum ajal menjemputnya.

.

“Hyung, pakailah pakaian formal” Luhan menerima semangkuk nasi dari Soeun, kakak iparnya “..dan kau noona berdandanlah, rias eomma juga” ucapnya seraya memakan nasinya tanpa apapun.

“Yaa pakai sop dan lauknya” Soeun menaruh sepotong daging panggang beserta beberapa sendok sup ke mangkuk Luhan.

“Keundae kenapa kau meminta kami berdandan formal, apa ada sesuatu yang penting” selidik Xiaoming.

“Kalian harus membantuku melamar wanitaku” jawab Luhan tegas.

“Wanitamu? Nugu?” Soeun bahkan tak jadi menyuapi Minyoung buburnya.

Luhan melempar senyum ke ibunya yang terduduk dikursi roda, sudah hampir setahun ibunya mengalami kelumpuhan, hanya tangannya yang bisa digerakkan. “Kau pasti menyukainya eomma” ujarnya.

.

“Haruskah kita memesan makanan sebanyak ini? aishh, kau ini membuang-buang uang saja” keluh Taehee begitu melihat meja makannya sudah terisi banyak makanan khas korea.

“Kita membutuhkannya untuk menjamu mereka”

“Mereka? Memangnya siapa yang akan datang?”

“Sudahlah, eomma berias saja sana. Aku akan menyiapkan segalanya” Jiyeon menata segala makanan itu dengan rapi.

“Palli, marhaebwa” desak Taehee.

“15 menit lagi mereka sampai”

“Geuraeyo” Taehee segera berjalan cepat menuju kamarnya.

.

Luhan memarkirkan mobil putihnya di halaman rumah kediaman keluarga Park. Lalu membantu Xiaoming mengangkat kursi roda Minyoung dan memindahkan Minyoung dikursi itu.

Xiaoming mengamati rumah didepannya yang sangat ia yakini merupakan rumah Jiyeon. ” Lulu-ya, bukankah ini rumahnya Jiyeon?” tanyanya.

“Eoh, majayo, kau pernah mengajakku kemari bukan, yeobo” sambar Soeun.

“Kajja” Luhan mendorong kursi roda Minyoung dan hendak menekan bel, namun dengan segera pintu rumah sudah terbuka.

“Park Jiyeon? Ini memang benar rumahmu” seru Soeun.

“Jadi kalian?” Xiaoming menunjuk Luhan dan Jiyeon secara bergantian.

“Silahkan masuk eonnie, hyung” ajak Jiyeon memotong pembicaraan.

“Annyeonghase…” Taehee tercengang dengan 4 orang tamu yang memasuki rumahnya “Kalian?” tunjuknya.

“Annyeonghaseyo eommonim” sapa Xiaoming dan Soeun berbarengan.

“Ne, silahkan duduk” pinta Taehee.

“Imo, aku tak menyangka kita akan besanan” ujar Xiaoming.

“Nado, keundae adikmu dan putriku memang sangatlah cocok, Xiaoming-a” seru Taehee sumringah.

“Majayo, imo, semenjak melihat Jiyeon dipernikahan kami, mereka sudah terlihat tak hanya sebatas sahabat” tambah Soeun.

Luhan berdeham sebentar “Eomma, eommonim, noona, hyung, kami hanya ingin memberitahu rencana kami untuk segera melangkah ke pelaminan. Aku..” ia menoleh menatap Jiyeon “Aku mencintai Jiyeon dan ingin segera mempersuntingnya” ucapnya.

Taehee merengkuh tangan Minyoung “Minyoung-a, kita akan menjadi saudara” ujarnya lirih, ia tak menyangka apa yang selama ini ia tunggu akhirnya terwujud juga.

Meskipun Minyoung tak bisa berbicara, dekapan tangannya ditangan Taehee menandakan ia juga berbahagia dengan keputusan anak ragilnya.

“Mohon bantuannya Minyoung eommonim, Soeun noona, Xiaoming oppa” ujar Jiyeon dengan menunduk hormat.

“Geurae hentikan tangis bahagia kita, disana sudah terhidang banyak sekali makanan. Bantu kami menghabiskannya” Taehee mendorong kursi roda Minyoung menuju meja makan.

.

“Yaaa akhirnya kau normal juga Luhan” Jin memeluk Luhan, tadi pagi ia menerima surat undangan pernikahan Luhan.

Doojoon berkali-kali menepuk dadanya dan mengangkat tangannya menandakan puji syukur “Chukae Luhan” ucapnya.

Rekan kerja lainnya turut memberikan selamat atas berakhirnya masa lajang si cassanova, Xi Luhan.

“Keundae, Park Jiyeon nugu?” selidik Jin, ia memang mengenal Jiyeon sahabat Luhan.

“Tentu saja Park Jiyeon, sahabat Luhan, matcji Lulu-ya?” sanggah Doojoon.

“Ne, aku menikahi sahabatku” jawab Luhan, mungkin kebanyakan orang tak percaya dengan keputusannya menikah dengan sahabatnya sendiri dan mengira calon istrinya itu adalah Jiyeon yang lain.

“Aishh, kalau tahu begini kenapa tidak dari dulu saja kau menikahinya? Kenapa harus menunggu selama ini?” tanya Doojoon bingung.

Luhan tersenyum kecil “Waktu menakdirkanku seperti ini” andai ia bisa sudah dari dulu ia menikahi Jiyeon, namun kesempatannya selalu nihil.

“Majayo, takdir kalian seperti itu” angguk Jin seraya kembali ke bangkunya dan memulai lagi pekerjaannya.

.

Besok pagi acara sakral itu akan diadakan, Luhan baru saja pulang pesta lajang dengan teman-temannya. Rumahnya nampak redup meski banyak aksesoris serba berbau pernikahan disana.

Ia mengingat obrolannya dengan Doojoon tadi dipesta “Janji suci? Haruskah aku mengajarkanmu?” Doojoon menarik tangan Gayoon “Saya Yoon Doojoon menerima Song Gayoon untuk menjadi istri saya, untuk memiliki dan menerimanya, mulai hari ini dan seterusnya, menemaninya baik dalam suka maupun duka, sedih maupun senang” ujarnya.

“Oppa, sadarlah” Gayoon menepuk pipi Doojoon, namun suaminya itu malah tertidur dibahunya “Luhan, aku rasa aku harus pulang lebih awal. Fighting” pamitnya.

Luhan mengingat-ingat perkataan Doojoon itu, bahkan ia berkali-kali menggumamkan janji sakral yang akan ia ucapkan didepan pendeta dan juga Jiyeon besok. Sekalipun ia mengantuk, ia menepisnya dan kembali menghafal janji sakral itu seolah pernikahannya dengan Jiyeon besok adalah pernikahan sungguhan dan bukan hanya sebuah simulasi.

.

Jiyeon mematut dirinya dikaca ruang tunggu pengantin wanita di Hangguk church. Pikirannya bergejolak dengan keputusannya untuk menikah simulasi dengan Luhan. Ada ketakutan didalamnya jika semuanya tak akan berjalan seperti rencana. Ia takut jika semua asumsi buruk dikepalanya akan menjadi kenyataan.

“Jiyeon-a, chukkae” Ara memeluk Jiyeon, ia menggendong Yoongin, putranya “Chukae, Jiyeon imo” ucapnya menggambarkan ucapan Yoongin si kecil.

“Gumawo, Ara-ya, Yongin-a” Jiyeon mengecup pipi Yoongin dengan hangat.

“Kau cantik sekali Jiyeon-a” Jiyeon hanya tersenyum tipis “Apa kau gugup?” selidiknya.

“Anni. Aku hanya takut jika Luhan melarikan diri” tolak Jiyeon.

Ara tertawa renyah “Kau ini ada-ada saja, mana mungkin dia meninggalkan pengantin secantik kau”

“Mungkin saja, ini sudah melebihi waktu yang dijanjikan”

Ara mengamati jam dinding di ruangan itu “Majayo, aku tadi sedikit terlambat datang kemari, tapi ternyata acara belum dimulai” angguknya.

“Jiyeon-a, kajja” Taehee mengenakan gaun putih yang hampir senada dengan Jiyeon, kali ini ia sendiri yang akan menyerahkan Jiyeon ke pengantin pria, meski dalam aturan seharusnya seorang ayahlah yang harus mengawalnya.

Pintu besar ruangan sakral itu terbuka memperlihatkan puluhan tamu yang duduk berjejer serta seorang pria berjas putih didepan altar. Pria itu nampak gemetaran, bahkan wajahnya terlihat pucat dan kantong matannya sedikit menghitam. Ia berbalik menghadap tamu, matanya menangkap sosok Jiyeon yang terlihat teramat cantik dengan gaun pilihannya itu.

Taehee mengiring Jiyeon menuju altar, semua pasang mata memuji kecantikan Jiyeon dan seulas senyum terus terpancar sepanjang perjalanan menuju altar. Tangannya ia ayunkan kedepan, memindahkan jemari yang ia genggam ke tangan Luhan. “Jagalah anakku, Luhan-ya” lirihnya.

Luhan hanya bisa mengangguk dan menerima uluran tangan Jiyeon. Ia sungguh teramat gugup dengan pernikahan yang sama sekali bukan simulasi baginya. Ia akan mengucapkan janji dengan sungguh-sungguh dan bukan sandiwara.

“Apa kau gugup?” Jiyeon mengeratkan genggaman Luhan,dirasakannya tangan Luhan gemetaran.

Luhan membisikkan ke telinga Jiyeon “Anni, aku hanya kurang tidur. Semalam aku begadang semalaman menonton pertandingan MU” kilahnya.

“Dasar kau ini” umpat Jiyeon percaya.

“Baiklah dengan nama Tuhan, kau Xi Luhan, bersediakah kau menikahi Park Jiyeon dan menemaninya dalam suka maupun duka?” ujar pendeta.

Luhan melirik Jiyeon lalu mengingat semua hafalannya “Saya Xi Luhan menerima Park Jiyeon untuk menjadi istri saya, untuk memiliki dan menerimanya, mulai hari ini dan seterusnya, menemaninya baik dalam suka maupun duka, sedih maupun senang” serunya lantang, mimpinya dan cintanya selama ini akan dimulai hari ini.

“Dan kau Park Jiyeon, dengan nama Tuhan,  bersediakah kau menerima Xi Luhan dan menemaninya dalam suka maupun duka?” ujar pendeta.

“Saya Park Jiyeon menerima Xi Luhan sebagai suami saya dan menemaninya dalam suka maupun duka” jawab Jiyeon.

 TBC

 Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

10 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (2)

  1. akhinyaaa nikah jugaaaaa wkwkwk, akhirnya jiyeon nerima usul super konyolnya luhan kekekek~ gasabar liat malam pertamanya mereka *ehh kan semua ritual nikah harus ada meskipun simulasi wkwkwk lanjuutt thooorrr gemeess

  2. Wah akhirnya Luhan dan Jiyeon menikah juga, rupanya Luhan memang mencintai Jiyeon, hanya Jiyeon yang tak peka dengan perasaan Luhan. bagaimana kehidupan rumah tangga mereka ya, penasaran jadinya, next ya thor ditunggu part selanjutnya

  3. Wah akhirnya Luhan dan Jiyeon menikah juga, rupanya Luhan memang mencintai Jiyeon, hanya Jiyeon yang tak peka dengan perasaan Luhan. bagaimana kehidupan rumah tangga mereka ya, penasaran jadinya, ditunggu part selanjutnya thor

  4. Omg aku belum komen di chap ini. Untung aku baca ulang. Kalo menurut aku dr chap 1 ke chap 2 agak kecepetan pergerakannya tp gak papa ditutupi sama ke cute an couple ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s