You Are My Fate – Chapter 2

you are my fate poster

Author : Vankyu

Main Cast:

  • Cho Kyuhyun
  • Park Yeon Min (OC)

Other Cast:

  • Lee Hyukjae
  • Im hyejin

Genre : Romance, Comedy

Author note:

Halo semua!  Selamat menikmati dan ikut jatuh cinta bersama Kyuhyun dan Yeon Min dalam cerita ini. Enjoy!

Once again, Cho Kyuhyun belong to God, but this story is belong to me 🙂

Chapter : I

********************

PREVIOUS CHAPTER

“Ini rumahmu?” tanya namja itu.

 Aku mengangguk. “Iya, memang kenapa?” Bukannya menjawab, namja itu malah tersenyum aneh.

 “Tidak. Tapi ini sangat menarik. Sudahlah, aku pergi dulu.” Namja itu kembali menyalakan motornya.

Sesaat sebelum pergi, dia berkata, “Sepertinya permintaanmu untuk tidak berurusan lagi denganku tidak akan terwujud. Persiapkan hatimu, mungkin takdir mempunyai rencana untuk kita berdua.” Setelah mengatakan hal itu, Kyuhyun melaju motornya kembali, membelah kota Seoul.

“Dasar namja aneh,” ucapku.

 “Yeon Min? Park Yeon Min! Kaukah itu?” Terdengar teriakan dari dalam rumahku. Gawat! Sepertinya eomma akan menelanku hidup-hidup karena pulang selarut ini.

***********************

*Park Yeon Min POV*

“Yeongie kau kenapa?” tanya Minji yang terlihat bingung. Aku menekan telunjukku di bibir.

“Sssst! Diamlah!” Aku kembali menundukkan kepalaku ke bawah meja. Setelah suasana aman aku mengangkat kepala lagi.

“Untunglah dia tidak melihatku,” ucapku sambil menghela nafas lega.

“Yeon Min, kau ini kenapa? Tiba-tiba bersembunyi di bawah meja kantin saat Kyuhyun sunbae lewat?” tanya Minji. Aku mengibaskan tanganku.

“Aniyo. Tidak ada apa-apa.” Kini Minji memajukan wajahnya ke arahku dan mengeluarkan tatapan penuh curiga.

“Benarkah? Tidak terjadi apa-apa?” Aku kembali menganggukkan kepalaku. Ini dia tidak enaknya mempunyai sahabat yang sangat peka. Memang sudah tiga hari ini aku menghindari segala kontak dengan namja setan itu. Entah apa yang terjadi, tapi setiap melihat namja itu, jantungku bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Ini berbahaya kan?

Drrt, drrt, poselku bergetar. “Yeoboseyo?” Aku membelalakan mataku saat tahu siapa yang menelponku. “Ne, sutradara Kim. Aku akan ke sana sore nanti!” Aku pun menekan tombol merah di ponselku. “KYAAAA!!!” teriakku.

“Ada apa Yeongie?” tanya Minji penasaran. Aku menatap mata sahabatku.

“Nanti sore aku akan casting untuk model video klip,” ucapku.

Minji membelalakan matanya, “Benarkah? Wah, pokoknya kau harus tampil sebaik-baiknya!” ujar Minji menyemangatiku.

************

Sore ini aku sudah duduk manis di ruang tunggu casting. Jantungku berdebar-debar tidak karuan. Sudah lama aku memimpikan hal ini. Menjadi seorang entertainer memang mimpiku dari kecil, dan kurang dari satu jam lagi mimpi itu akan terlaksana.

Di ruangan ini aku tidak sendirian, ada beberapa wanita seumuranku yang sepertinya akan mengikuti casting peran ini. Penampilan mereka benar-benar luar biasa. High heels, dress, make up, semuanya sempurna. Aku melirik penampilanku di kaca dan menghela nafas. Apa mungkin perempuan sepertiku yang hanya memakai jeans, kemeja, juga sepatu converse kesayanganku, ditambah wajah yang tanpa polesan make-up apapun, bisa mengalahkan semua wanita itu?

“Hei, kudengar casting kali ini mencari peran untuk model video klip salah satu boyband terkenal Korea,” ucap yeoja yang duduk tak jauh dariku.

“Aku dengar juga begitu. Kira-kira siapa ya boyband untuk video klip ini?” balas teman yeoja itu.

Pembicaraan seru mereka berlanjut tanpa henti. Karena merasa bosan, aku memilih untuk keluar dari ruang tunggu dan mencari minuman. Kukeluarkan koin dari kantongku dan memasukkan beberapa ke mesin penjual minuman. Aku membuka kaleng jus lemon favoritku dan menegaknya. “Permisi, bisakah kau bergeser sedikit dari mesin ini?” Aku pun bergeser sedikit.

Tapi, tunggu! Sepertinya aku mengenal suara ini. Byuuur! Semua jus lemon dalam mulutku tersentak keluar ketika aku melihat pemilik suara tadi. Kenapa hidupku sial sekali seperti ini?

*Kyuhyun POV*

“Kyu, belikan aku minuman.” Kurasakan tangan seseorang mendorong-dorong pundakku. Aku menepis tangan tersebut dan tetap memfokuskan pandanganku pada permainan di hadapanku. “Kyuuu, belikan aku minuman.” Kembali orang itu mendorong-dorongku.

“Hyung! Kau tidak melihat aku sedang sibuk?” ucapku kesal.

“Sibuk apanya? Kau kan hanya bermain daritadi. Ayolah Kyu, belikan aku minuman.” Tidak kuat menerima siksaan dari suara itu, aku pun berdiri.

“Arasseo! Akan kubelikan. Mana uangnya?” ucapku sambil menengadahkan tanganku. Namja di hadapanku tersenyum,

“Pakai uangmu dulu ya,” ucapnya sambil melayangkan tatapan puppy eyes miliknya.

“Aish, kau ini. Dasar namja monyet pelit!” ucapku sambil berjalan keluar meninggalkan Eunhyuk hyung yang sedang memamerkan senyum gusinya itu. Dari jauh aku melihat seorang yeoja sedang meneguk minumannya. Tetapi kenapa dia tetap berdiri di situ? Tidak tahukah kalau dia menghalangi mesin.

“Permisi, bisakah kau bergeser sedikit dari mesin ini?” ucapku sopan. Yeoja itu bergeser dan tak lama kemudian menghadap ke arahku. Byuuur! Aku tersentak ke belakang saat yeoja itu menyemburkan minumannya ke bajuku.

“Aish! Apa yang kau lakukan? Jorok sekali! Badanku jadi lengket semua,” teriakku. Aku menatap yeoja yang sedang berdiri di hadapanku ini. Amarahku seketika menghilang saat melihat wajah yeoja yang mengusik pikiranku selama tiga hari ini muncul di depanku.

“Kau? Apa yang kau lakukan di sini?” teriak gadis itu.

“Kau tidak melihat papan di depan? Ini gedung SM Entertainment! Jadi wajar kalau aku berada di sini.” Perempuan itu membelalakan matanya dan  mengacak-acak rambutnya.

“Haruskah aku bertemu denganmu di saat seperti ini? Bisa-bisa castingku nanti gagal. Kau kan sumber malapetaka untukku.”  Perempuan itu mengerucutkan bibirnya, terlihat lucu sekali.

Casting? Kau akan ikut casting video klip?” tanyaku.

“Iya. Memangnya kenapa?” Aku tersenyum mendengar jawaban yeoja itu. “Kenapa kau tersenyum?” tanya yeoja itu menyelidik.

“Aniyo. Aku hanya merasa dugaanku selama ini benar. Sebesar apapun usahamu menjauhiku, pada akhirnya kau tetap akan bertemu denganku. Terimalah nasibmu, kau adalah takdirku, Park Yeon Min.”

Yeoja di hadapanku mengerjapkan matanya berkali-kali. “Takdirmu? Apa kau sudah gila? Mana ada wanita yang mau terus-terusan berada di dalam lingkaran setan bersamamu?” ucap gadis itu.

“Apa perlu kujawab pertanyaanmu tadi? Tentu saja gadis beruntung itu adalah dirimu. Buktinya kau sendiri yang datang mendekat padaku. Apa kau tahu bahwa casting nanti untuk mencari model video klip Super Junior. Ditambah, model pria video klip nanti adalah aku dan Eunhyuk hyung.”

Yeon Min membelalakan matanya, “Apa? Kau tidak bercanda kan?” tanyanya dengan wajah bingungnya yang menggemaskan. Aku mengangguk pasti. “Aish, hidupku benar-benar sial ternyata. Tapi sudahlah, aku tidak akan terpengaruh oleh ucapanmu. Terserah siapa saja yang menjadi calon lawan mainku, aku akan berusaha sungguh-sungguh. Ini sudah mimpiku dari dulu dan tidak akan kubiarkan seorang pun merusaknya, termasuk namja setan sepertimu.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya, “Aku tahu kau tidak akan menyerah. Ternyata cita-citamu dari dulu tidak berubah.”

Yeon Min mengerutkan keningnya, “Hah?” Aku menggelengkan kepalaku.

“Sudah lupakan. Aku jadi tidak sabar melihatmu berusaha meraih mimpimu. Jangan kecewakan aku, karena kalau kau gagal nanti, aku orang pertama yang akan menertawaimu. Arasseo?” ucapku sambil mengacak pelan poninya dan berjalan meninggalkan yeoja itu termenung. Semuanya menjadi lebih menarik saat ini, batinku dalam hati.

**************

Casting sudah dimulai daritadi. Sekitar sepuluh gadis sudah menunjukkan bakat mereka. Aku melihat Eunhyuk hyung yang sedang beradu akting dengan peserta casting. Yeoja ini cukup baik dan berbakat, walaupun pada akhirnya tidak berjalan mulus karena dia tergagap saat namja monyet itu menggenggam tangannya. Cih! Dasar monyet playboy.

“Kyu, kau jahat sekali mengumpankan aku kepada wanita-wanita itu. Sekarang giliranmu berakting,” ucap Eunhyuk hyung.

Shireo! Aku tidak mau, kau saja yang melakukannya lagi. Lagipula kau senang kan? Bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti tadi. Mana ada adegan menggenggam tangan lawan peran. Dasar!”

Eunhyuk hyung terkekeh. Terdengar sutradara Kim memanggil masuk peserta casting berikutnya. Aku mendesah pelan. Sudah hampir satu jam, tapi gadis itu tidak juga menunjukkan wajahnya.

Sesaat pintu ruangan terbuka, aku langsung menegakkan posisi dudukku saat kulihat yeoja itu yang masuk. “Annyeonghaseyo,” ucapnya sambil membungkuk.

“Annyeonghaseyo, apakah kau sudah siap?” tanya sutradara Kim. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah yeoja itu. Kulihat tatapan heran dari Eunhyuk hyung dan juga orang-orang di ruangan tersebut melihat tingkahku. Aku berhenti tepat di hadapannya. Yeon Min memundurkan sedikit badannya dan memandangku dengan tatapan was-was. “Annyeong, aku Cho Kyuhyun. Bisakah kau berakting bersamaku?” tanyaku.

Dengan ragu yeoja itu mengangguk. “Tapi sebelumnya, bisakah kau membuang naskah yang ada di tanganmu?” tanyaku. Yeon Min membelalakan matanya diikuti dengan gumaman heran dari orang-orang di ruangan.

“Maksudmu?” tanya yeoja itu.

“Maksudku, bisakah kau mengimbangi aktingku, dengan spontan dan natural. Tanpa naskah yang menuntunmu. Kalau kau benar-benar serius dan berbakat, ini bukan suatu hal yang sulit kan?” ucapku dengan nada menantang.

“Aku setuju. Apa kita bisa mulai sekarang Cho Kyuhyun-sshi?” jawab yeoja tersebut dengan nada penuh penekanan. Aku melirik sutradara Kim sekilas yang sepertinya tertarik dengan ideku. Aku menghela nafas sekali.

“Bisakah kau berbalik sebelum kita mulai?” ucapku. Yeoja tadi mengikuti perintahku.

“Baiklah, kita mulai sekarang,” sutradara Kim berteriak sambil menepuk tangannya.

Ini dia saatnya! Aku mencekal pergelangan tangan yeoja itu dan membuatnya berbalik memandangku. “Permisi nona. Kau menjatuhkan gelang ini,” ucapku sambil mengeluarkan gelang yg sudah kupersiapkan.

“Oh, kamsahamnida.” Yeon Min mengangguk dan berbalik pergi.

“Tunggu!” Sekali lagi aku mencekal tangannya.

“Ada apa lagi?” tanyanya.

“Kau tidak mengenalku?” tanyaku.

Yeon Min mengerutkan keningnya, “Maaf, tapi saya tidak mengenal anda dan saya buru-buru.” Yeoja itu menepis tanganku.

“Putri hujan,” bisikku. Yeon Min menghentikan langkahnya dan spontan memandangku dengan kedua mata indahnya.

“Kau memanggilku apa?” Aku tersenyum sesaat. Kulangkahkan kakiku mendekat ke arahnya.

“Kau melupakanku, putri hujan. Tidak bisakah kau mengenaliku?” tanyaku lembut.

Setetes airmata jatuh di pipi gadis itu, “Tidak mungkin.. Tidak mungkin kau adalah anak laki-laki waktu itu.”

Aku menggenggam tangan gadis itu dan mengusap airmata yang ada di wajahnya. “Ini aku, jadi berhentilah menangis. Hujan tidak akan reda kalau kalau kau tidak menghentikan airmatamu. Aku sudah kembali dan tidak ada lagi alasan yang bisa membuatku pergi.” Kurengkuh badannya ke dalam pelukanku. Gadis tadi membalas perlakuanku dengan cara melingkarkan tangannya di pinggangku.

Tepuk tangan membahana di dalam ruangan casting. Perlahan aku melepaskan pelukan di badannya. “Tontonan yang menarik. Bakat aktingmu tidak main-main, Kau bisa mengeluarkan airmata dengan waktu cepat dan raut wajahmu terlihat sangat natural seperti benar-benar melihat seseorang yang sudah lama kau nantikan.” ucap sutradara Kim.

“Terima kasih,” ucapnya sambil membungkuk singkat sebelum melangkahkan kaki cepat, keluar dari ruangan.

“Woah! Kyuhyun-ah. Aktingmu tadi luar biasa. Daebak!” ucap Eunhyuk hyung sambil menepuk pundakku.

Seringaian kecil tercetak di wajahku. Apakah kau mengingatku putri hujan?

***********

*FLASHBACK*

 

            Seorang anak laki-laki terlihat asyik memainkan genangan air di hadapannya. Hujan deras yang sedari tadi turun membuat dirinya terkurung di dalam rumah megah ini. Anak tersebut kembali melangkahkan kakinya ke dalam rumah, menghampiri kedua orangtuanya dan bibinya yang sedang sibuk entah membicarakan apa. “Appa, kapan kita pulang? Aku bosan,” rengeknya sambil menarik-narik celana panjang ayahnya.

            “Sabarlah sebentar, setelah semuanya beres appa janji kita akan beli ice cream cokelat kesukaanmu,” ucap laki-laki tersebut sambil mengelus lembut rambut anaknya. Anak laki-laki itu melangkah kembali ke teras sambil mencibir.

            Umur anak ini memang masih sangat muda, tapi dia tahu bahwa perkataan appanya tadi pasti bohong. Mana mungkin appa akan membelikannya ice cream di saat hujan seperti ini. Tiba-tiba suara isak tangis terdengar dari arah rumah sebelah. Dengan rasa penasaran yang tinggi anak tersebut berjalan menembus hujan deras.

            Anak laki-laki tersebut mengintip dari celah pagar. Terlihat seorang anak perempuan seumurannya sedang menangis di bawah hujan. “Hei Kau!” teriak anak laki-laki itu. Anak perempuan itupun mengangkat wajahnya yang daritadi disembunyikan di antara lututnya.

            Kini anak laki-laki tersebut dapat melihat wajah anak perempuan tersebut dengan leluasa. Matanya yang bulat terlihat sangat indah, hidung mancungnya yang memerah melukiskan dengan jelas sudah cukup lama anak perempuan itu menangis.

            Anak laki-laki itu memberanikan diri untuk menghampiri gadis yang sedang berlutut di bawah hujan. “Kau kenapa?” Tanpa dikomando gadis tersebut kembali menangis dengan keras. “Ya! Kenapa kau menangis semakin kencang? Berhentilah,” ucap anak laki-laki itu panik.

            Bingung dengan situasi tersebut akhirnya anak laki-laki itu memutuskan menarik gadis di hadapannya ke dalam pelukannya. Lagipula ada rasa ingin melindungi dari dalam hati anak laki-laki tersebut. Perlahan tangisan anak itu mereda. “Kau kenapa menangis?” tanya anak laki-laki itu. Gadis di hadapannya menunjukkan sebuah kalung yang terputus dalam genggamannya.

            “Tanpa sengaja aku memutuskan kalung ini. Aku sangat menyukai kalung ini, lagipula ini hadiah terakhir dari Appa sebelum dia meninggal. Apa yang harus kulakukan?” Anak laki-laki itu berpikir sejenak. Terlintas sebuah ide di benaknya. Anak laki-laki tersebut melepaskan kalung yang menjuntai di lehernya dan memakaikannya ke leher anak perempuan di hadapannya.

            “Mungkin kalung ini tidak sebanding dengan kalung yang diberikan appamu. Tapi kuharap kalung ini bisa menolongmu.” Anak perempuan tersebut memandang kalung yang sekarang terjuntai di lehernya.

            “Cantik sekali,” ucap bibir mungil tersebut. Kalung tersebut memang sangat indah. Bandulnya berbentuk bulat dengan serbuk bunga dandelion berada di balik kacanya.

dandelion

“Itu bunga dandelion. Kata appa, bunga tersebut bisa mengabulkan impian kita. Jika kau memakai kalung itu maka kau bisa meraih semua mimpimu. Apa kau mempunyai impian?” tanya anak laki-laki itu.

            “Tentu saja! Aku ingin menjadi seorang artis, bisa tampil cantik seperti putri di dalam cerita dongeng,” ucap gadis itu semangat.

“Kalau aku ingin menjadi seorang penyanyi. Berarti suatu saat nanti kau harus berdiri bersamaku di satu panggung bersama,” ucap anak laki-laki itu.

            Anak perempuan tadi tersenyum. Kedatangan anak laki-laki tersebut membawa rasa nyaman di hatinya. Anak laki-laki tadi mengelus puncak kepala gadis itu. “Kau terlihat lebih cantik kalau tersenyum, putri hujan.”

            “Putri hujan?” tanya gadis itu bingung.

“Ne, putri hujan. Aku akan memanggilmu begitu karena hujan mempertemukan kau dan aku. Lagipula lihatlah, hujan ikut berhenti saat kau berhenti menangis.” Anak perempuan tadi memandang langit yang memang menghentikan turunnya butiran-butiran air yang sedari tadi mengguyur mereka berdua.

            “Park Yeon Min!” Sebuah teriakan terdengar dari dalam rumah anak perempuan itu. Sesosok wanita cantik keluar dan menghampiri mereka berdua. “Yeon Min apa yang kau lakukan di bawah hujan” nada khawatir terdengar jelas dari bibir wanita itu.

            “Kalung pemberian appa putus. Tapi tenang saja eomma, aku sudah tidak sedih lagi karena ada dia,” Yeon Min menunjuk anak laki-laki tersebut. Wanita tersebut menggelengkan kepalanya, “Ayo masuk. Eomma tidak ingin melihatmu sakit. Kau mau masuk ke dalam?” tanya eomma Yeon Min kepada anak laki-laki tersebut.

            “Aniyo. Sepertinya kedua orang tuaku sedang kewalahan mencariku. Sebaiknya aku kembali,” jawab anak tersebut. Yeon Min melepaskan rangkulan ibunya dan berlari ke hadapan anak laki-laki tersebut. “Kau mau pergi?”tanyanya khawatir sambil memegang ujung kaos yang dipakai anak laki-laki itu.

            Anak laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya, “Hm! Tapi aku berjanji, suatu saat nanti aku akan menemuimu kembali. Sampai saat itu tiba jangan lupakan aku putri hujan,, arasseo?” ucapnya. Gadis itu mengangguk lemah dan menatap anak laki-laki tersebut yang sudah berlari keluar pagar.

            “Kyuhyun-ah, darimana saja kau? Kenapa kau basah kuyup seperti ini?” tanya appa anak laki-laki tersebut. Cho Kyuhyun berhambur ke dalam gendongan appanya.

 “Appa tahu? Aku habis bertemu dengan seorang putri. Dia cantik sekali,” ucap Kyuhyun.

            “Benarkah?” tanya appa Kyuhyun sambil tersenyum. Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Sayang sekali kita tidak bisa lebih lama di sini. Kita akan kembali ke New York besok, bibimu yang akan menempati rumah ini sementara,” ucap Appa Kyuhyun.

            “Tidak apa-apa, lagipula aku sudah berjanji kepadanya. Aku pasti bisa menemukan putri hujanku kembali. Laki-laki harus menepati janjinya kan Appa?” Pria itu tersenyum saat mendengar perkataan anaknya.

 “Ne, itu baru anak appa.”

******************

 

*Author POV*

Haaaah.”  Seorang yeoja menghela nafasnya berat. Nampak dari wajahnya bahwa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.

“Yeon Min, kau kenapa?” ucap Minji kepada sahabat di hadapannya. Orang yang ditanya hanya menggeleng lemah.

“Tidak ada apa-apa.” Minji langsung menutup novel yang sedang dibacanya dan menatap sahabatnya.

“Jangan berbohong Park Yeon Min. Kau sudah menghela nafas puluhan kali hari ini. Ditambah lagi makanan di hadapanmu sama sekali tidak kau sentuh. Itu yang kau bilang tidak apa-apa?”

“Minji-ah kau ini terlalu peka dan itu menyebalkan. Aku hanya merasa ada sesuatu yang mengganjal,” jawab Yeon Min. Semenjak casting terakhir kemarin, ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya tentang Cho Kyuhyun. Dia sebenarnya ingin bertanya sesuatu, tapi namja itu tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Tanpa sadar Yeon Min menggenggam bandul kalung dandelion yang terjuntai di lehernya. Kalung yang tidak pernah dia lepaskan dari sembilan tahun yang lalu.

“Sudahlah! Sekarang kembalikan novelku! Shim Minji!” ucap Yeon Min sambil berjingkat berusaha mengambil novel dari tangan sahabatnya.

“Aniyo. Coba rebut kalau bi-“ kalimat tersebut tertahan di bibir Minji saat melihat sesosok namja berdiri tepat di belakang sahabatnya.

Melihat raut wajah Minji yang berubah, Yeon Min pun memalingkan wajahnya ke belakang. Sontak badan gadis itu terhuyung mundur, melihat jarak di antara tubuhnya dan namja itu sangat minim. Perasaan campur aduk memenuhi hati yeoja itu. Banyak kalimat yang ingin dilontarkan, namun semua tertahan di bibirnya. Cukup lama kedua manusia tersebut saling menatap, beradu pandang yang tanpa mereka sadari menggambarkan suatu kerinduan.

“Kau.. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yeon Min sambil berusaha menahan suaranya yang bergetar. Mata namja itu menusuk tepat di manik mata Yeon Min, tajam namun terkesan lembut, membuat sensasi aneh di perut Yeon Min bergejolak.

“Hanya ingin menyampaikan kabar gembira. Sutradara Kim memilihmu sebagai salah satu pemeran di video klip kami,” ucap Kyuhyun sambil menyunggingkan senyum miringnya.

“Benarkah? Kau tidak bohong?” Tanya Yeon Min sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun.

“Eoh! Begitu bahagiakah kau bisa beradu peran denganku?” kembali Kyuhyun mengeluarkan seringai jahilnya. Dengan cepat Yeon Min melepas tangannya dari bahu Kyuhyun.

“Cih! Kau ini percaya diri sekali. Aku senang bukan karena kau!” Kyuhyun tertawa geli mendengar ucapan yang terlontar dari bibir yeoja itu.

“Kenapa kau masih di sini? Sudah sana pergi,” seru Yeon Min saat melihat namja tersebut masih berdiri di hadapannya. Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke arah Yeon Min,

“Memang kenapa kalau aku masih di sini? Lagipula…” sengaja Kyuhyun memberi jeda dalam ucapannya, dia ingin melihat reaksi wajah gadis itu, “… Aku merindukanmu.”

Yeon Min membelalakkan matanya. Cukup dua kata dari bibir namja itu bisa membuat kerja otaknya rusak. Puas memandangi wajah kaget gadis di hadapannya, Kyuhyun memundurkan tubuhnya dan melayangkan usapan di puncak kepala Yeon Min, lalu berjalan santai ke luar kantin.

Hening. Tidak ada satu orang pun di dalam kantin itu yang melanjutkan aktifitasnya. Semua berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi di hadapan bola mata mereka. Yeon Min merosot di kursinya sambil kedua tangannya berada di depan dada, mengecek apakah jantungnya masih bisa bekerja dengan normal.

-TBC-

13 responses to “You Are My Fate – Chapter 2

  1. Nice.. Cara kyuhyun buat ngingetin Yeon Min wktu kcil okee bnget. ciyee ktemu Putri hujan ny..🙂
    Btw aku blum bca part 1.. nnti bkal aku bca n ninggalin jejakk🙂 .Fighting! author-nim ..

    #Newreader

  2. Keren bgt ih alurnya. Suka ceritanya
    Kyuhyun wah romantis jugaㅋㅋ
    Yeonmin udah tau belum ya kalo itu kyuhyun yang ngasih kalungnya. Ih penasaran kelanjutannya mereka ngapain aja. Moment mereka sweet bgt iri jadinya/?
    Next chap ditunggu yaa

  3. wah cara kyuhyun nge-casting yeon min keren banget..
    bakat’y keluar alami, padahal taktik’y supaya yeon min inget kalo dy anak lelaki yg udh wat dy nunggu🙂

  4. Ff nya keren banget, Yeon min sepertinya tidak mengingat Kyuhyun, karena pernah bertemu maka Kyuhyun mengatakan kau adalah takdir ku, aktingnya bagus juga, putri hujan nama yang menarik tentu saja Yeon min meneteskan air mata, next lagi ya thor

  5. Ff nya bagus, Yeon min sepertinya tidak mengingat Kyuhyun, karena pernah bertemu maka Kyuhyun mengatakan kau adalah takdir ku, aktingnya bagus juga, putri hujan nama yang menarik tentu saja Yeon min meneteskan air mata, next lagi ya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s