[OneShot] Blue’s Series – Run!

run!

Thanks for Beautiful Poster by GitaHwa@PosterOrder

Title: Blue’s Series – Run!

Author: @Miithayaaaa

Genre: Action, Thriller, Family

Length: OneShot

Cast:

  • CN BLUE’s Jungshin as Lee Jungshin
  • SNSD’s Sunny as Lee Soonkyu

Support Cast:

  • Kim Woobin
  • Exo’s D.O as Do Kyungsoo

Rate: PG-15

***

~ B  || L – Me and You || U  – Run!|| E – When The Rainbow Faded ~

***

 

“Jangan lepaskan tanganku, noona. Apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu..”

“Selama kau bersamaku, Jungshin-ah…”

 

 

Jungshin menghancurkan gembok berkarat dengan batu besar yang berada di dekatnya, mencoba masuk ke dalam rumah yang terlihat seperti gudang yang tak terpakai. Napasnya terengah-engah, wajah pucat penuh luka goresan dan keringat bercucuran si seluruh wajahnya.

Perempuan bertubuh mungil disampingnya juga tak kalah pucat dengannya. Seluruh tubuhnya gemetar, ketakutan.  Dahinya berdarah akibat benturan pada dashbor mobil yang mereka tumpangi berguling ke dalam hutan.

Dengan satu pukulan terakhir, Jungshin berhasil mematahkan gembok. Dia menarik tangan kakaknya Soonkyu masuk ke dalam, bersembunyi dari kejaran para teroris yang mengejar mereka. Dia mengunci dari dalam, menghalangi pintu dengan alat-alat berat yang tersedia di dalam gudang tersebut.

Dia mengintip dari celah-celah dinding kayu, memastikan para teroris jauh dari mereka. Menghela napas, setidaknya mereka bisa memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jungshin berbalik, ketakukan menjalar di seluruh tubuhnya melihat kakaknya Soonkyu berjongkok di sudut gudang, memeluk kaki, wajah tenggelam di antara lututnya, tubuhnya gemetar hebat.

Jungshin berlari mendekatinya, memegang kedua lengannya. Tubuhnya dingin dan dia menggumam kata-kata koheren. Jungshin tahu, trauma kakaknya kambuh.

Noona…” Panggilnya waspada.

Hanya beberapa menit yang lalu, kebahagian terukir di wajah mereka. Ayahnya, ibunya, dan  kakaknya Soonkyu, Jungshin masih ingat dengan jelas senyum dan tawa kebahagian yang terukir di wajah orang-orang yang dia cintai. Merayakan ulang tahun ayahnya yang ke 50th tahun sekaligus merayakan hari pernikahan orang tuanya.

Itu manis, mengharukan, dan.. mengenaskan.

Ya, mengenaskan. Cukup hitungan detik, senyum dan tawa berubah menjadi tangisan dan jeritan minta tolong. Lima sampai sepuluh orang berpakaian super hitam bertubuh tegap, memakai topeng, yang diketahui teroris menyelinap masuk, mengejar Prof. Lee yang tak lain ayahnya untuk mendapatkan rahasia pengembangan bom nuklir yang ayahnya ciptakan.

Tanpa basa-basi para teroris menghancurkan semua benda-benda yang berada di dekat mereka. Menembaki semua yang menghalangi mereka. Pesta yang meriah berubah menjadi lautan darah dengan tubuh tak bernyawa.

Jungshin membawa keluarganya lari ke halaman belakang, berusaha kabur lewat pintu belakang. Namun saat dia berbelok, dia melihat dua orang teroris yang sudah berjaga di pintu gerbang . Dia mundur perlahan, punggungnya menabrak benda tumpul yang sengaja di arahkan padanya. Dia berbalik perlahan, terkejut melihat orang tua dan kakaknya sudah ditangan masing-masing teroris dengan pistol di todongkan ke kepala mereka.

Jungshin menatap marah para teroris, sampai satu dia menangkap wajah teroris yang sangat ia kenal. Tanpa mengenakan penutup wajah, senyum jahat yang sengaja ia lontarkan pada Jungshin.

“Kau bajingan, Hyung!!” Jungshin meludah padanya, berontak ditangan teroris yang memegangnya. “Lepaskan mereka!!”

“Tidak semudah itu, nae dongsaeng” Kata Kim Woobin, ketua geng teroris, yang menyamar menjadi mahasiswa untuk mendekati Jungshin, mencari informasi.

“Tidaaaaaakk!!” Teriak Jungshin, ketika melihat teroris menarik pelatuk pistol tepat di kepala ibunya. Dia menggelengkan kepalanya frustasi. Dia melihat wajah ibunya yang pasrah, memejamkan matanya, sedangkan ayahnya hanya menunggu giliran.

Doorrr!! Doorr!!

Eommaaaa!! Appaaaa!!!”

Dengan sekuat tenaga, Jungshin membebaskan tangannya, dia melintir tangan teroris yang memegangnya, menendang lutut teroris hingga tersungkur. Dia menendang dagu teroris dengan lututnya, hingga muncrat darah segar dari mulut teroris. Satu persatu para teroris melawannya, dan satu persatu dia bisa mengalahkannya. Dia juga terkena pukulan di wajah hingga pelipisnya koyak. Namun dia tidak menyerah hingga dia bisa mencapai kakaknya, Soonkyu. Jungshin melintir leher satu teroris terakhir yang mencoba menghalanginya, napasnya compang-camping ketika dia pukulan terakhir mendarat di perut penjahat dan melemparkannya ke samping.

Jungshin berbalik ketika mendengar jeritan  Soonkyu yang di sandera Woobin.

“Jika kau berani mendekat, peluru ini akan menembus kepalanya!” Peringatan Woobin pada Jungshin yang mulai berjalan mendekat, tertatih.

Soonkyu menjerit ketika Woobin menjambak rambutnya. Dia menatap Jungshin dengan uraian air mata meminta pertolongan. Dia memaki dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menangis. Jika saja dia memiliki keberanian melawan ketakutannya, dia pasti bisa lepas dari Woobin dan berdiri disamping Jungshin.

“Lepaskan dia!!” Ujar Jungshin, penuh amarah.

“Berikan Formula atau dia akan mati”

“Kau tidak akan mendapatkannya pecundang!”

“Mudah saja” Jawab Woobin mengangguk enteng. Kemudian menarik rambut Soonkyu lebih kuat, menyiksanya tanpa ampun.

Hati Jungshin mengepal melihat saudaranya di perlakukan seperti itu. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyakitinya, termasuk dirinya sendiri. Itu janji Jungshin pada orang tuanya.  Tapi disini, Woobin menjambak rambutnya membuat Soonkyu merintih dan memohon hanya membuat emosi Jungshin semakin membara.

“Aku bilang jangan mendekat!!” Teriak Woobin, semakin menarik rambut Soonkyu hingga kepalanya ikut kebelakang. Pistol di todongkan kea rah Jungshin.

“Kau pecundang!!” Ucap Jungshin. “Wae? Kau takut dengan ku? Kau takut dengan anak kecil seperti ku?” Kata Jungshin mengejek.

Jungshin tepat berdiri dua langkah dari Woobin. Tangannya mengepal kuat. “Aku peringatkan kau sekali lagi, kalau kau lebih menyakitinya, aku akan membunuh mu!!”

Woobin tertawa mengejek, mengambil pisau di saku celananya. “Seperti ini?” Woobin melayang-layang pisau di depan wajah Soonkyu, sebelum menggores lengan mulus Soonkyu dengan pisau membuat darah segar mengalir begitu saja.

“Ahhh!!” Soonkyu menjerit sekuat-kuatnya, kesakitan.

“Aku bilang jangan menyakitinya!!!! Terkutuk kau!!”

Jungshin menerkam Woobin dengan tinjunya, dia tidak peduli Woobin menembaki ke arah kakinya yang dia hindari dengan gesat. Jungshin menarik Soonkyu ke belakang, berlindung. Kemudian Jungshin meraih bajunya, memukul wajah Woobin ke kanan dan ke kiri, hingga darah keluar dari sudut bibir Woobin.

Woobin menahan pukulan terakhir dari Jungshin, dia membalas pukulan Jungshin dengan kekuatan yang sama. Memegang bahu Jungshin dan menendang perut Jungshin dengan dengkulnya hingga Jungshin terbatuk darah dan melemah.

Walaupun tenaga Jungshin sebelumnya sudah habis menghajar para teroris, Jungshin masih bisa membalas Woobin. Dia mendorong Woobin dengan sisa kekuatannya hingga Woobin jatuh terpental. Jungshin duduk di atas tubuh Woobin dan membabi buta menghajar Woobin dengan tinjunya hingga babak belur. Saat Jungshin memastikan Woobin terkujur lemas, Jungshin meninggalkannya dan berlari ke arah Soonkyu yang terduduk lemas.

Noona.. Kwencana? Noona?” Tanya Jungshin khawatir, dia memeriksa wajahnya kenan dan ke kiri juga ke seluruh tubuhnya. Jungshin mengambil sapu tangan di sakunya dan segera membalut luka di lengan Soonkyu.

Soonkyu hanya gemetar di tempat, ketakutan benar-benar menyelimutinya. Bahkan suara adiknya dia tidak bisa benar-benar mendengarnya. Tangan gemetarnya mencoba menggapai Jungshin, meremasnya. Dia butuh topangan.

“Jungshin-ah..” Lirih Soonkyu gemetar.

Jungshin mengusap wajah kakaknya penuh sayang, sebelum membuka jas hitam dan memakaikannya pada Soonkyu. Jungshin membantu Soonkyu berdiri untuk meninggalkan tempat, takut jika para teroris yang lain akan segera datang.

***

“Da-darah.. banyak darah..” Gumam Soonkyu ketakutan, menutupi telinga dan merambat ke wajahnya.

Noona sadarlah!!” Jungshin mengguncang tubuh Soonkyu.

Soonkyu semakin menekuk lututnya, membuat tubuhnya semakin ke sudut. Dia menggigit ibu jarinya gemetar “Selamatkan aku.. selamatkan aku..”

Noonaaa!!!” Teriak Jungshin lebih kuat. Tapi tetap Soonkyu tetap tidak mendegar, malah semakin meringkuk ketakukan.

Jungshin tahu bagaimana kakaknya Soonkyu sangat ketakutan dengan kekerasan. Soonkyu memiliki phobia terhadap kekerasan, dan dia memiliki trauma yang parah saat Soonkyu berusia empat tahun. Seseorang yang memakai serba hitam dan memakai topeng menyandranya sedangkan yang lain memukul ayah mereka tanpa ampun, sama seperti sekarang. Kejadian hari ini, membuka luka kembali untuk Soonkyu bahkan lebih parah melihat orang tua mereka tewas di depan mata kepala Soonkyu sendiri.

Jungshin membekam wajahnya, memaksa Soonkyu untuk melihatnya. “Lihat aku noona, lihat aku!!” Tegas Jungshin. “Ini aku Jungshin!! Sadarlah Noona!!” Jungshin teriak frustasi.

Ada keheningan di antara mereka, Soonkyu mendongakkan kepalanya menatap berani Jungshin. Dia mencari kebenaran dari kata-katanya.  Ada semburat kehangatan dari mata Jungshin yang di lihat Soonkyu. Mata yang selama ini selalu menatapnya penuh kehangatan dan kasih sayang sebuah keluarga. Soonkyu meraih wajahnya perlahan, memastikan bahwa dia benar-benar adiknya.

“Ju-Jungshin..” Sebut Soonkyu lirih.

Jungshin mengangguk, menahan air matanya. “Ini aku Jungshin noona.. Lee Jungshin, adik mu..”

Soonkyu menerjang Jungshin memeluknya. Sangat erat. Dia menangis keras, mengingat betapa takutnya dia waktu lalu. Jungshin membalas pelukan kakaknya sama eratnya. Dia mengeluarkan semua kesedihan di bahu adiknya. Semua yang ia lihat berapa waktu lalu, ayah dan ibu, tewas seketika di depan matanya.

Eo-eomma.. Appaaa..” Sedu Soonkyu.

Jungshin tidak bisa tidak menangis di tempatnya, dia juga merasakan sakit yang sama apa yang kakaknya rasakan. Kehilangan orang tua mereka seperti itu begitu saja. Jungshin memeluk punggung Soonkyu erat. Tenggorokannya tecekat sehingga sulit mengucapkan sepatah kata pun. Dia merasa sangat bersalah dan tak berguna sebagai anak karena tak bisa melindungi orang tuanya.

“Mianhe.. Mianhe..” Ucap Jungshin penuh sesal.

Sudah menjadi resiko kehidupan mereka seperti ini. Kejadian seperti ini tidak hanya sekali di alami mereka, bahkan berulang. Mereka pernah ke luar negeri untuk mencari ketenangan, namun profesi ayahnya tidak bisa membuat keinginan hidup nyaman tak terwujud.

Para teroris selalu menemukan ayah mereka dimana pun mereta tinggal. Mereka juga dapat perlindungan dari NIS (National Inteligen Seoul), namun tetap saja para teroris selalu memiliki celah untuk mendapatkan ayah mereka dan keluarga mereka. Jika mereka bisa memilih, mereka tidak ingin memiliki kehidupan seperti ini.

“Noona.. Apa kau selalu membawa Formula yang appa beri?” Tanya Jungshin setelah mereka berhasil menenangkan diri.

Soonkyu mengangguk. Dia mengeluarkan kalung dengan bandul dadu emas yang tersembunyi di balik gaun, memberikannya pada Jungshin. “Aku membuatnya dalam bentuk disk, Formula yang appa beri sudah aku hanguskan, hanya tersisa ini” Jelas Soonkyu.

Jungshin memutar dadu dan muncul sambungan data berbentuk flashdisk kecil. Kemudian dia meremas erat dadu tersebut. Ini penyebab dari segalanya, ini yang menyebabkan mereka menjadi yatim piatu. Dan ini adalah harta terakhir yang ayah mereka tinggalkan, dia bersumpah tidak akan membiarkan para penjahat itu mengambil milik ayah mereka, dan dia bersumpah, dia akan membunuh penjahat yang akan menyakiti kakaknya.

Jungshin melihat ke belakang ketika mendengar gemericik dari luar. Soonkyu menatapnya was-was. Para penjahat pasti sudah menemukan mereka, karena tempat mereka tidak jauh dari mobil mereka saat terguling masuk kehutan menghindari kejaran para teroris dan Woobin. Jungshin kira, pukulannya pada Woobin mampu membuatnya tidak bisa begerak sedikit pun. Namun perkiraannya itu salah, ketika lima mobil sedan hitam mengejar mereka saat melarikan diri dengan Woobin yang menembaki mobil mereka hingga tergelincir melewati pagar pembatas dan berguling masuk ke hutan.

“Kita harus pergi dari sini, aku sudah memberi signal pada NIS untuk menemukan kita. Apa noona masih bisa bertahan?”

“Selama kau bersamaku, Jungshin-ah”

“Jangan lepaskan tanganku, noona. Apa pun yang terjadi, aku akan melindungi mu, ahrasseo?”

Ahra

Jungshin memegang tangan Soonkyu kuat, dia membuka pintu dan melihat sekeliling, bersyukur para teroris belum sampai di tempat mereka.

***

Mereka berlari di antara pepohonan yang menjulang tinggi, berlari dari satu arah ke arah yang lain. Berlari di antara sela-sela ranting pohon yang bertebaran, tak sekali kaki mulus Soonkyu yang tak tertutup gaun terkena ranting pohon tajam menggores kakinya.

Nafas mereka terengah-engah, entah berapa lama lagi mereka harus berlari menyusuri hutan buatan ini, kaki dan tubuh mereka seperti mati rasa dan seperti bergerak paksa. Cahaya bulan yang tak menembus gelapnya hutan juga menghambat penglihatan mereka.

“Jungshin-ah.. Bisa kita berhenti? Noona sudah tak tahan” Tanya Soonkyu terengah-engah memegang lututnya.

Jungshin melihat ke arah belakang mereka waspada. Sama capeknya dengan Soonkyu. Memang belum ada tampak jejak teroris mendekati mereka, mungkin hanya sebentar saja beristarahat tak masalah. Jungshin merasa sedih melihat kakaknya yang sudah kehabisan tenaga. Jadi dia membawa Soonkyu salah satu pohon besar untuk istirahat.

“Noona bisa duduk di sini” Jungshin berjongkok di depan Soonkyu. Dia melihat kaki kakaknya yang sudah berpeluh darah akibat ranting yang tajam.

Dia merobek ujung gaun Soonkyu dan mengusap darah yang mengalir di betis Soonkyu. Soonkyu meringis, ketika Jungshin menmbersihkan tepat di lubang lukanya.

Kwenchana?” Tanya Jungshin. Soonkyu mengangguk. “Maaf”

“Kau tak perlu minta maaf Jungshin-ah.. Kau baik-baik saja?” giliran Soonkyu bertanya.

“Aku baik-baik saja, Itu noona yang tidak baik-baik saja” Jungshin memasang senyum tulus untuk menenangkan kakaknya. Mengusap keringat di dahi Soonkyu.

“Bagaimana kau baik-baik saja, dahi mu berdarah!” Soonkyu menggapai dahi Jungshin untuk memeriksa seberapa besar luka di kepalanya, namun Jungshin menepisnya dengan cepat.

“Ini hanya luka kecil, tidak akan membuat ku mati. Dan aku tidak akan mati sebelum kematian mu”

“Kau tidak akan mati. Kita akan selamat, berdua, harus!”

Keure.. sekarang kau benar-benar terlihat seorang dokter yang tak membiarkan pasien mu mati kecuali Tuhan berkehendak, noona” Kata Jungshin tersenyum.

Aku harap kita bisa selamat berdua, Noona. Tapi ini akan sulit. Kata Jungshin dalam hati, menatap mata kakaknya sendu.

“Hah! Saaangat harmonis!! Kakak adik tersayang, kalian akan mati ditangan ku!!” Ujar laki-laki bertubuh pendek dengan bekas luka jahitan di pipinya yang sudah di berada di belakang Jungshin.

Jungshin terperanjat, dia langsung merentangkan tangannya ke belakang melindungi Soonkyu. Katakukan di wajah mereka terlihat jelas saat lelaki itu menodongkan pistol ke arah mereka.

“Aku menemukan mereka Hyungnim!!!” teriak lelaki itu kemudian menembakan pistol ke atas, memberitahu pada yang lain di mana dia berada yang membuat Soonkyu menjerit, menutup telinganya.

“Dimana kau Kyungsoo?!” Suara teriakan dari arah barat, tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kyungsoo menoleh ke kiri, dan Jungshin menggunakan kesempatan mengambil pistol dari tangan Kyungsoo, kemudian memukul kepalanya dengan siku dan ujung pistol.

Kyungsoo terjungkal ke tanah, kemudian Jungshin menendang perutnya sampai dia terbatuk darah dan menginjak wajahnya sampai babak belur. Jungshin menarik Soonkyu untuk kabur, namun tangan Kyungsoo masih sanggup menahan kaki Soonkyu. Lalu Jungshin mengambil pistol yang berada di samping Kyungsoo dan menembak tepat di jantung Kyungsoo membuatnya mati seketika.

Tangan Jungshin gemetar setelah itu. Ini adalah pertama kalinya dia membunuh orang, dan dia melakukannya tepat di mata kakaknya. Tangan kirinya mencoba menahan tangan kanannya yang gemetar, tapi itu malah membuat gemetar semakin tak terkendali. Sampai tangan Soonkyu menggenggam tangan Jungshin, tersenyum tipis, mencoba mengatakan lewat matanya bahwa ini baik-baik saja.

Jungshin membalas tatapannya penuh arti, kemudian mereka meninggalkan tempat ketika Woobin dan lainnya sampai ke tempat mereka.

“Jungshin!!”

Teriak Woobin melihat Jungshin dan Soonkyu yang kabur setelah menghabiskan anak buahnya.

Woobin mengerahkan semua anak buahnya untuk mengejar dan mengepung mereka. Tidak membiarkan mereka lolos kali ini dari tangannya.

Kali ini pelarian mereka semakin kalut. Berlari dalam hutan buatan manusia bukanlah hal yang mudah, walau hutan buatan, hutan ini memiliki banyak arah yang mereka tak tahu ujungnya.

Woobin dan anak buahnya semakin dekat mereka. Soonkyu menarik tangan Jungshin untuk berhenti, namun keadaan tidak membiarkan mereka untuk berhenti. Mereka harus tetap berlari walau pun berulang kali terjatuh yang membuat luka semakin banyak di kaki, dan mereka harus keluar dari hutan buatan ini, mencari pertolongan.

Semburat harapan terbesit di benak Jungshin ketika dia melihat ada cahaya di ujung dari jalan yang ia tapaki dengan Soonkyu. Mungkin cahaya dari jalan raya tembusan tol mereka lewati sebelum mobil mereka masuk ke dalam hutan.

Dan sekarang mereka berlari di atas jembatan jalan raya dengan Woobin dan anak buahnya di belakang. Tak sekali Woobin meneriaki mereka untuk berhenti dan berulang kali mencoba menembak kaki mereka agar berhenti, tapi selalu melesat. Hingga satu cobaan terakhir bidikan Woobin mengenai lengan kiri Jungshin yang membuatnya tersandung kedepan.

“Jungshin-ah!!” Teriak Soonkyu. Dia refleks memegang lengan Jungshin terluka yang mendapat ringisan dari Jungshin.

Jungshin melihat ke belakang bahwa Woobin dan anak buahnya hanya beberapa meter dari mereka. Mereka tidak bisa tertangkap seperti ini. Mereka tidak hanya kehilangan milik ayahnya, pasti mereka juga akan mati di tangan mereka.

Jungshin membalas menembaki para anak buah Jungshin dengan resolver Kyungsoo sebelumnya. Satu sampai tiga dia berhasil menjatuhkan anak buah Woobin menembak tepat di kaki mereka. Dia mengabaikan Soonkyu yang khawatir dengan lukanya dengan menarik tangan Soonkyu membawanya kabur.

Mereka berlari lagi sampai ke tempat dimana bangunan-bangunan kosong yang penuh dengan rongsokan-rongsokan mobil tak terpakai yang telah diratakan. Mereka bersembunyi di balik salah satu mobil rusak di antara gedung kosong dan drum-drum minyak di depannya.

Napas mereka terengah-engah. Sesekali Jungshin melihat dari balik Mobil melihat Woobin dan anak buahnya yang celingukan mencari mereka.

“Sialaann!! Cepat cari mereka!!” Perintah Woobin, kasar.

Jungshin dan Soonkyu mencoba mentralkan napas mereka. Soonkyu sudah tidak tahan jika harus berlari lagi. Tenaganya sudah benar-benar habis. Tapi melihat Jungshin yang sangat berjuang untuk dirinya, dia tidak bisa menyerah sekarang, dia harus sedikit bertahan lagi. Dia melihat Jungshin yang meringis menahan sakit di lengannya.

“Biar aku lihat” Soonkyu memegang lengan Jungshin perlahan, dia melihat peluru yang menembus daging adiknya sangat dalam dan darah tak henti-henti keluar dari lengannya.

Soonkyu merobek lengan kemeja Jungshin, dan menekan luka dengan telapak tangannya mencoba menghentikan darah yang keluar. “Aku harus mengeluarkan pelurunya”

“Tidak ada waktu noona!”

Jungshin merogoh saku celananya, dia memberikan kalung dadu emas kembali pada Soonkyu. “Kau harus pergi! Biar aku yang mengatasi mereka”

“Apa maksudmu? Bagaimana bisa mengatasi mereka dengan luka seperti ini?” Soonkyu menggeleng, menolak. “Aku tidak mau. Kau sudah berjanji, kita akan melaluinya bersama!”

“Noona dengarkan aku, ini tidak semudah yang kau bayangkan. Kau harus selamat! Atau kita akan mati dan mensia-siakan amanah appa untuk menjaga formulanya!”

“Kalau begitu kita harus mati bersama!”

“Kau tidak bisa! Aku sudah berjanji pada appa dan eomma untuk melindungimu!” Tegas Jungshin pada Soonkyu yang menangis menunduk.

Jungshin melihat kebelakang lagi memastikan keadaan mereka masih aman. Dia kembali melihat Soonkyu, mendesah. Dia meremas tangan Soonkyu yang berada di pangkuan memegang ujung kemejanya kuat.

“Aku akan membantumu keluar dari sini, kau hanya harus berlari ke arah timur. Aku pikir itu jalan keluar dari sini” Soonkyu melihat ke arah yang dimaksud Jungshin, dia kembali melihat Jungshin dengan mendelik.

“Aku akan mengahalangi mereka” Seakan tahu apa yang di maksud kakaknya, kalau mereka harus melewati gerombolan Woobin untuk menuju pintu gerbang besar yang sudah berkarat.

“Kita bisa berlari bersama!”

“Sulit, noona. Mereka akan tetap mengejar sampai kita tertangkap. Salah satu cara kita harus mengahadapi mereka, dan itu harus aku”

“Shiro!! Bagaimana bisa kau mengahadapi mereka dengan lenganmu yang seperti ini”

“Aku masih bisa menahannya. Noona adalah prioritasku, ini yang terbaik. Kau harus pergi, mungkin NIS sudah dekat, kau harus menyerahkan Formula itu pada mereka. Jika noona selamat, maka aku akan selamat”

Soonkyu menggeleng lagi, menolak semua yang di katakan Jungshin. Dia tidak mau pergi, dia harus tetap bersama Jungshin apapun yang terjadi, jika Jungshin mati dia juga harus mati. Ini tidak adil. Dia tidak ingin adiknya menanggung ini sendiri.

“Jangan menangis, kau adalah orang tergalak yang pernah aku tahu. Kenapa sekarang noona cengeng seperti ini, noona bukan Soonkyu yang aku kenal” Kata Jungshin ketika mulai mendengar isak tangis Soonkyu sambil menghapus air matanya dan memeluknnya. Dia mengelus punggung Soonkyu berusaha menenangkannya.

Semua akan berakhir noona.. Ucap Jungshin dalam hati.

“Noona akan melakukannya, kan?” Tanya Jungshin setelah melepas pelukannya. “Demi aku, appa dan eomma”

Soonkyu mengangguk pelan, terpaksa. Jungshin tersenyum lembut. “Noona siap?”

“Ya” Ucap Soonkyu serak.

Kemudian Jungshin mengambil minuman kaleng bekas yang tidak jauh dari mereka. Melemparkannya ke arah berlawanan jauh dari Woobin dan mereka, bermaksud untuk mengalihkan perhatian mereka.

Dan benar, setelah kaleng di lempar, anak buah Woobin terkecoh dengan suara kaleng dan berlari untuk memeriksanya. Kemudian Jungshin dan Soonkyu keluar dari persembunyian dan berlari ke arah pintu gerbang besar berkarat untuk jalan keluar.

“Kalian tidak akan pernah selamat, Jungshin!!” Lantang Woobin beberapa meter dari mereka. Woobin menggerakan kepalanya ke anak buahnya sebagai kode untuk menyerang mereka.

Jungshin seketika mendorong Soonkyu untuk pergi. Namun Soonkyu masih berdiri menatapnya, selangkah di depannya.

“ Cepat Pergi!!!”

Dan satu pukulan tepat mengenai wajah Jungshin membuat Soonkyu sontak kaget, dia melihat mata Jungshin, memohonnya untuk pergi. Air mata sudah menggenang di mata Soonkyu, dengan hati tak rela dia berlari yang di ikuti dua anak buah Woobin. Namun di halang dengan Jungshin yang menarik baju mereka dan mencampakkannya ke samping. Yang dia tidak tahu, bahwa Woobin lolos mengejar Soonkyu.

Jungshin menahan tinju dengan tangannya, dia menendang perut penjahat dengan lututnya dan mencampakannya. Satu persatu anak buah Woobin menyerang dia dengan kuat. Dia terkena pukulan di dahinya yang membuat luka di pelipisnya semakin besar. Jungshin memelintir tangan salah satu penjahat dan mematahkan lehernya hingga pingsan.

Dia membanting penjahat ke tanah dan menginjaknya tanpa ampun. Napasnya terengah-engah, dia harus bertahan. Darah yang mengalir mengenai matanya membuat pemandangannya sedikit kabur.

Dia berdiri dengan kaki melebar dan kedua tangan mengepal, badan sidkit membungkuk siap untuk menyerang. Hanya tinggal tiga orang penjahat.

Satu dengan bertubuh tinggi mulai menyerangnya. Lalu penjahat mencoba memukul wajah Jungshin, namun di hindari Jungshin dengan gesat. Jungshin membalas dengan tinju di perut pria tinggi tersebut. Lelaki itu hanya meringis kegelian terkena pukulan Jungshin, dia membalas dengan menendang wajah Jungshin hingga tersungkur ke tanah.

Dia menarik kerah kemeja Jungshin untuk bangun dan mencekik leher Jungshin membawanya ke atas. Jungshin merasa tenggorokannya tercekat. Dia sulit bernapas bahkan terbatuk. Dengan kekuatan yang lemah, Jungshin melemparkan pasir yang ia ambil saat jatuh tadi ke arah mata lelaki bertubuh tinggi besar itu, membuat lelaki itu seketika melepaskan Jungshin dan memegang mata kesakitan.

Jungshin masih terengah-engah terlepas darinya sampai dia merasakan pukulan dahsyat balok kayu di punggungnya. Dia tersungkur ke tanah. Dia merasa tubuhnya tidak bisa bergerak, sakit yang menjelar benar-benar membuatnya seakan dia di cabut nyawanya.

Kemudian penjahat satunya memukul lagi di kepalanya dengan besi, membuat darah segar mengalir di kepalanya dan muncrat dari mulutnya. Dia terbatuk darah. Tapi kesadarannya masih terjaga mengingat Soonkyu masih dalam bahaya.

Dia melihat salah satu penjahat mengeluarkan pistol mengarahkan padanya. Hal yang sama di lakukan Jungshin meraba sakunya yang tak di ketahui penjahat juga mengambil pistol dan mengarahkan pada mereka.

Doorr!! Doorr!!

***

Soonkyu terperanjat mendengar suara tembakan. Kakinya membeku, apa yang terjadi? Jungshin, tidak mungkin. Tiba-tiba kakinya merasa keluh, lututnya lemas dan dia terjatuh. Kemudian cairan bening keluar dari matanya, dia menggeleng kuat menolak pikiran berpikir bahwa Jungshin mati. Dia tidak bisa mati, dia berjanji akan hidup. Dia berjanji akan melewati ini bersama.

Soonkyu berlutut memegang dadanya yang terasa amat sakit. Dia menangis keras di tengah jalan setapak di kelilingi ilalang yang menjulang tinggi. Dia menangis sampai dia menjerit merasakan sakit di kepalanya karena Woobin menjambaknya kuat.

“Ahhh!!”

“Hanya tinggal kau, Soonkyu tersayang!” Ujar Woobin. “Aku yakin Jungshin sudah mati” lanjutnya dengan tawa sinis.

Soonkyu menggeleng di antara tangis dan kesakitan. Dia memegang tangan Woobin yang menjambaknya, mencoba melepaskan dari rambutnya. Tapi, kekuatan yang ia miliki tidak sekuat yang Woobin punya.

“Kau ingin aku melepaskan? Memohonlah sayang..”

Soonkyu menatapnya tajam penuh kebencian. Dia benar-benar muak dengan wajah bengis  Woobin, lalu Soonkyu meludah tepat di wajah Woobin.

Woobin terpejam, merasakan ludah Soonkyu yang mengalir di batang hidungnya, dia tersenyum sinis, menghapus ludah dengan lengan bebas satunya. Woobin menatap Soonkyu dengan tatapan jijik. Lalu membuangnya hingga Soonkyu jatuh terduduk.

Soonkyu merangkak ke belakang ketika Woobin mulai melangkah maju.

“Jangan membuatnya jadi sulit Soonkyu! Berikan formula itu padaku!!”

“Dalam mimpimu Woobin!” Teriak Soonkyu kuat.

Plak!! Plak!!

Woobin menampar pipi Soonkyu berulang-ulang hingga bibirnya koyak. Soonkyu meringis kesakitan. “Berikan selagi aku masih berbaik hati tidak membunuhmu Soonkyu”

“Aku tidak pernah berpikir iblis sepertimu berbaik hati!”

Woobin tertawa.

“Baiklah. Kau akan melihat iblis seperti apa diriku!” Kata Woobin sinis, sebelum dia melangkah kembali.

Soonkyu merangkak kembali. Dia meringis ketika telapak tangannya menekan beling yang menancap, dia tetap merangkak hingga punggungnya menabrak dinding. Soonkyu bisa melihat kilatan mata Woobin benar-benar seperti tatapan iblis yang siap membunuhnya.

Woobin melayangkan tangannya untuk menampar Soonkyu kembali, berulang-ulang. Bahkan menghantamkan kepalanya di dinding. Woobin melihat kalung yang mengintip di antara genggaman tangan Soonkyu di leher, melindunginya. Itu harus formulanya, pikirnya.

Jadi Woobin dengan sekuat tenaganya, memukulinya kembali sambil menarik tangan Soonkyu untuk melepasnya. Pegangan Soonkyu semakin mengendur, tapi dia tidak akan melepaskannya. Pukulan Woobin benar-benar membuatnya lemas dan membuat sakit yang tak tertahankan. Hingga sampai Soonkyu melihat Woobin mengambil ancang-ancang pukulan kuat, dia memejam matanya, pasrah. Dia meminta maaf pada ayahnya yang tidak bisa melindungi amanahnya. Dia menunggu tangan Woobin mendarat di wajahnya, sampai lima detik berlalu pukulan tak kunjung datang dan pegangan Woobin di terlepas begitu saja.

Soonkyu membuka matanya menemukan Woobin yang sudah tersungkur jauh darinya. Bibirnya juga berdarah. Kemudian dia melihat punggung lelaki yang sangat ia kenal. Punggung lelaki kuat yang sekarang terlihat lemah. Ada banyak darah yang terlihat dari sisi wajah lelaki itu, berdirinya pun juga tak tegak seperti biasanya dan napasnya terengah-engah.

“AKU BILANG JANGAN MENYAKITINYAA!!!” Teriak Jungshin di antara napas tercekat.

“Jungshin-ah..” Desah Soonkyu lega berurai air mata. Soonkyu bersyukur bahwa Jungshin masih hidup, tapi disisi lain dia merasa khawatir dengan keadaannya yang seperti itu. Dia pasti banyak menderita melawan para anak buah Woobin.

Woobin meludahkan darah yang keluar dari bibirnya. Dia berdiri perlahan, lalu melangkah maju membuat Jungshin waspada. Jungshin mencoba memukul Woobin namun dengan cepat di tahan Woobin, lalu pukulan berbalik ke Jungshin. Woobin meninju perut berkali-kali Jungshin membuat Jungshin membungkuk kesakitan, menambah pukulan di punggung Jungshin dengan siku yang tajam. Juga menendang perut Jungshin dengan lututnya.

Woobin mengangkat Jungshin dan menghempaskannya ke tanah. Kekuatan Jungshin sungguh melemah. Dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk membalasnya. Kepalanya seakan berputar, pusing yang dahsyat akibat pukulan balok sebelumnya.

Woobin menendang perut Jungshin tanpa ampun. Dengan mata setengah terpejam, Jungshin menatap kakaknya dengan nanar, ada seburat permohonan maaf pada Soonkyu.

Soonkyu tidak tahan melihat Jungshin yang sudah babak belur dihajar habis-habis dengan Woobin. Jadi dia bangkit dan mendorong Woobin dengan sekuat tenaganya. Tubuhnya yang lemah juga ikut terjatuh di samping Jungshin.

Woobin mengerang marah saat pekerjaannya sedikit lagi selesai terganggu dengan tikus kecil yang mencoba menggigitnya. Dia bangun dan menarik Soonkyu kemudian melemparkannya jauh seperti barang.

“Kau ingin jadi pahlawan, hah!!” Teriak Woobin garang. “Harusnya aku menghabiskan kalian sejak tadi. Kalian benar-benar membuatku kehabisan kesabaran!!” Woobin marah mengeluarkan pistol dan mulai menembak ke arah Soonkyu.

Namun disaat yang tepat Jungshin bangkit dengan kekuatan terakhirnya berdiri selangkah di depan Soonkyu. Dua tembakan lepas dari pistol Woobin dan Jungshin. Ternyata Jungshin masih menyimpan pistol Kyungsoo dan saat Woobin menarik pelatuk, Jungshin juga melakukannya, membidik tepat di jantung Woobin. Bidikan masing-masing tepat mengenai tubuh mereka. Woobin terpental kebelakang memegang dadanya, begitu juga dengan Jungshin yang terjatuh tidak bisa menahan sakit yang amat dalam mengenai jantungnya.

“JUNGSHIN-AAAAAHHHH!!!”

Teriak Soonkyu histeris melihat Jungshin yang terhuyung jatuh. Soonkyu segera bangkit menuju Jungshin, dia belutut tepat disampingnya. Tangannya gemetar melihat banyak darah yang keluar dari dadanya. Soonkyu mencoba menekan menghentikan darah yang keluar, tapi tidak bisa. Darah muncrat seiring waktu. Dia menangis putus asa, menggumamkan ‘bertahanlah’ pada Jungshin.

“Bertahanlah.. J..Jungshin..” Katanya menekan darah.

“N..noonaa..” Bisik Jungshin tertatah.

“Jangan bicara!!” Teriak Soonkyu masih memegang dadanya.

Jungshin memegang tangan Soonkyu di dadanya kemudian dengan tangan gemetar dia meraih wajah Soonkyu. Soonkyu menangis keras, menggumamkan kata ‘berhenti’ pada darah bodoh yang masih mengalir deras di dada adiknya.

Soonkyu berhenti ketika merasakan tangan Jungshin di wajahnya. Dia menatap Jungshin penuh air mata. Tangan Jungshin yang penuh darah mencoba menghapus air mata di pipinya membuat wajah Soonkyu bercak darah.

Jungshin tersenyum tulus. “M..mianhe.. n-noo-na..” Ucap Jungshin terbatah. Dia terbatuk dan merasakan tenggorokan benar-benar tercekat, membuatnya tak bisa bisa bernapas.

Mungkin ajalnya sudah dekat.

Soonkyu menggeleng menangis. Dia menggenggam tangan Jungshin. “Bertahanlah Jungshin.. J..jangan tinggalkan noona..”

“Bertahanlah Jungshin..Aku mohon..”

Sedetik kemudian Soonkyu merasa tubuhnya di tarik menjauh dari Jungshin. Beberapa orang berpakaian putih mengeliling tubuh Jungshin. Soonkyu juga melihat sekitar bahwa sudah banyak orang yang memegang senjata, berwaspada dan sebagian mengurus mayat Woobin. Dia sadar bahwa agen NIS baru datang untuk membantu mereka.

Dia ingin marah, kenapa baru sekarang mereka datang di saat adiknya meregang nyawa. Soonkyu berontak mencoba lepas pegangan para petugas, dia hanya ingin melihat adiknya, dia ingin melihat Jungshin baik-baik saja. Dia menangis histeris memohon untuk melepaskan dia dan membiarkan dia berada di samping Jungshin.

Dengan mata lelah Jungshin melihat Soonkyu dari celah-celah tubuh para medis yang memberikan pertolongan pertama. Mulutnya dipasang topeng oksigen membantunya bernapas. Dia tersenyum melihat kakaknya baik-baik saja. Sekilas terlintas di pikiran Jungshin gambar-gambar dirinya, kakaknya dan orang tuanya yang tertawa bahagia menikmati piknik di taman. Senyum kakaknya terlihat jelas bahagia, ayahnya yang dengan sayang merangkul ibunya dan Jungshin yang membuat lelucon lucu.

Air mata mulai menggenang di mata Jungshin dan seketika mengalir dari sudut matanya. Dia mengedipkan matanya sekali. Dalam hatinya, dia benar-benar meminta maaf pada ayahnya yang tidak bisa menjaga Soonkyu selamanya. Dan dia benar-benar minta maaf pada Soonkyu yang tidak bisa menepati janjinya untuk tetap bersama.

 Maafkan aku noona..

Jungshin menarik napas dan mengerang, pandangan pada Soonkyu mulai pudar dan suara-suara para petugas dan jeritan Soonkyu tak lagi terdengar. Sampai akhirnya matanya benar-benar terpejam di hembusan terakhirnya.

-FIN-

Fiiuuhhh..

Akhirnya selesai blue’s series yang ketiga dengan cast Jungshin!! Yeah!!

Awalnya saya benar-benar bingung siapa yang jadi pasangan Jungshin, sampai akhirnya terlintas Sunny dengan marga yang sama alias sesama ‘Lee’ *padahal masih banyak yang lain hahaha.

Baiklah disini ceritanya sedikit serem *serem dari hongkong😄 dan action yang gagal dan gak jelas maafkan saya. Saya tidak ahli dalam genre yang seperti ini, tapi tetap pingin coba. Hihihi. Cast terakhir hanya tinggal satu orang, Jonghyun doong, Hahaha. Dan genre selanjutnya bener-bener beda dengan ini, pasti deh.

Terakhir, please komentar berikan pendapatmu tentang ini. Aku akan senang untuk membacanya, jangan lupa like and share juga XD… Maaf typo bertebaran..

Sampai jumpa update berikutnya..

Thank you so much🙂

7 responses to “[OneShot] Blue’s Series – Run!

  1. Wooww
    Untuk pertama kalinya aku nemu ff yang jungshin-nya keliatan keren 😍
    Biasanya dia jadi anak sedeng, haha
    Keren dede mit, kerasa banget tegangnya
    Pas baca cast-nya aku kira woobin jd orang baik soalnya barengan sama D.O
    Tp taunya…deeemm banget 😭
    Aku terhura karena jungshin kece banget, ngelindungin kakaknya mati2an
    Keliatan banget kalau dia sayang sm sunny
    Dan untung aja mereka akhirnya menang, walaupun jungshin mati 😭
    Emg dasar ya, NIS itu macem polisi india
    Datengnya pas udah selesai berantemnya
    Hufet deh
    Makasih dede mit tantik udah bikin ff action super kece
    Tinggal Jonghyun dong, nih
    Ditunggu banget bagian bang jojon
    Semangat terus nulisnya
    😘😘😘😘

  2. Menegangkan banget, terasa ikut dalam alur cerita, mencoba bertahan hidup dengan gigih dan pantang menyerah walau akhirnya harus meninggal. Jungshin benar-benar keren mampu menghadapi para penjahat dan melindungi kakaknya. wow daebak dan benar2 sangat menyentuh

  3. ceritanya seruuuu beda dari yang kemarin tapi aku kurang mengerti tentang formula yang di cari para teroris agak kurang jelas ,kalau boleh kasih saran untuk cerita selanjutnya agar lebih detail ceritanya.tapi gak kebayang kalau jung shin main drama action seru kali,suka sama karakter nya.semangat trus ya… di tunggu cerita selanjut nya<<<

  4. akhirnya kebaca blue series ketiga ini😀
    jatuh cinta deh sama jungshin di ff ini, Jungshinnya keren banget ya ampun. ngehayalin ceritanya dalem otak sambil ngebayangin jungshin kayak gitu ternyata cocok juga. aku jadi melihat jungshin dengan cara yang berbeda (?)
    blue series ini jadi kayak pelangi yaa… dari yg pertama, kedua terus ketiga ini kontras banget bedanya. emang mau dibikin beda2 genre ya? berhasil kok mit, jadi kayak lompat2 dari satu tempat yang bertaburan daun ginko di musim gugur terus lompat ke tempat yang banyak permen warna-warni ala sugar rush dan sekarang kita dibawa ke suasana mencekam yang banyak dementornya.. penasaran yang jong nanti bakalan kayak apa ya?? i’ll be waiting🙂 fighting mita!! ^o^9

  5. Pingback: [OneShot] Blue’s Series – Ahjussi, Saranghae! | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s