THE PORTAL 2 [Part 5 : Helpless]

theportal2wallpaper21

Title :

THE PORTAL 2

                                                                                                                              

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from another Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Yura’s Father

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

Part 2B           : Before The Day 15

Part 3           : Day 15

PREVIEW PART 4

Part 4 : Secret Page

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

15 hari telah berlalu. Keadaan masih sama, Naeun bertahan di dunia nyata karena perintah L, Howon masih berada di dunia nyata pula karena kesibukannya sebagai selebriti, sementara L dan Hyerim berada di dunia asal mereka meski di negeri yang berbeda.

Hyerim tak pernah menyangka pernikahan Baekhyun dan Krystal yang dilaksanakan di negeri Gwangdam akan menjadi mimpi yang sangat buruk baginya. Semalam sebelum pernikahan, Hyerim baru mengetahui bahwa Baekhyun tak sebaik yang semua orang pikirkan, pangeran yang merasa tertipu itu ingin segera menyiksa Krystal setelah resmi menikah, dan Hyerim dihantui ketakutan karena Baekhyun mengatakan itu semua karena dirinya.

Hal ini membuat Hyerim terpaksa harus bertahan lebih lama lagi di negeri Gwangdam demi melindungi Krystal –meski ia belum tahu bagaimana caranya-, ia terpaksa melepaskan Kai yang lebih memilih untuk pulang ke dunia nyata karena sudah sangat merindukan Myungsoo. Padahal, Kai adalah satu-satunya harapan Hyerim untuk menolong Krystal. Kini, ia terpaksa menghadapi Baekhyun sendirian, ia tak berani memberitahukan niat jahat Baekhyun pada keluarganya karena sang pangeran telah mengancamnya.

Jika demikian, apakah Hyerim akan terus bertahan di negeri Gwangdam demi Krystal? Apakah ia tak akan kembali ke dunia nyata dan akhirnya memutuskan hubungannya dengan Howon begitu saja?

L telah membuat kesalahan besar dengan melarang Naeun untuk pulang ke negeri Junghwa beberapa kali. Kini, ia harus menerima kenyataan bahwa selamanya Naeun tak akan bisa kembali karena Hyoyeon telah melakukan perbuatan yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Bekas penyihir nomor satu itu telah mengganti resep ramuan portal yang telah ditulisnya, dan tak ada yang bisa mengetahui bagaimana resep barunya kecuali dirinya sendiri. Memang, setelah mengetahui bahwa Naeun diamankan oleh L di dunia nyata, penyihir yang masih dendam ini tidak kehabisan akal. Jika ia memang tidak bisa membunuh Naeun di negeri Junghwa, setidaknya ia memisahkan gadis itu dari L selama-lamanya.. Karena ia percaya, berpisah dalam waktu yang sangat lama dengan Naeun akan membuat L semakin menderita dan akan mati dengan sendirinya.

Masalah akan bertambah pelik jika L tahu bahwa saat ini Naeun memiliki kedekatan dengan Myungsoo, sisi baiknya. Perintah dari L yang mengharuskan Naeun untuk tetap bertahan di dunia nyata membuat gadis itu terpaksa kembali ke SMA Junghwa yang telah dibuka kembali dengan Sunggyu sebagai kepala sekolahnya.

Padahal, Naeun tak pernah menginginkan ini semua, yang ia inginkan hanyalah menjadi istri yang baik bagi L dan ibu yang baik bagi Lin. Ia tak ingin terus bertahan di dunia nyata, ia ingin Myungsoo menjalani kehidupan tanpa peduli dan mengenalnya.

Tetapi semua sudah terlambat, Naeun telah mendapatkan banyak masalah serius, mulai dari kemarahan Woohyun padanya saat mengetahui Myungsoo hidup kembali, hingga impian besar Haeyeon untuk menebus penderitaan yang tak mampu ia penuhi.

 

Haeyeon ingin Naeun mendampingi Myungsoo selamanya.

***

Author POV

 

“ Chorong-ah, Chorong-ah.. tolong.. tolong buka pintunya!”

“…Chorong-ah!”

Gadis itu melepas earphonenya setelah mendengar sayup-sayup suara lelaki dari luar kamarnya, ia segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintunya cepat-cepat.

 

“ Ya Tuhan..”

 

Terlihat Myungsoo dengan keringat dingin bercucuran dan wajah tampan yang cemas tengah mengangkat tubuh lemah Naeun dengan lengan kuatnya, gadis dalam gendongannya terpejam dengan wajah pucat dan dingin, nyaris seperti orang mati.

“…b..bagaimana bisa kau menemukan Naeun..”

“ Nanti saja dibahasnya, bawa masuk dulu.. aku khawatir terjadi sesuatu padanya!” Myungsoo buru-buru menerobos masuk dan membaringkan tubuh Naeun di atas tempat tidur dan menarik selimut hingga dagu gadis itu.

“…Son Yeoshin, kau kenapa? Aku sangat takut..”

Chorong bisa mendengarnya. Ia tak tahu sudah sekuat ini hubungan batin antara Myungsoo dan Naeun. Ingin meledak, bukan saat yang tepat, Naeun begitu memprihatinkan tanpa sebab saat ini.

“ Dimana kau menemukan Naeun?”tanya Chorong seraya duduk di samping Naeun dan menyentuh pipi gadis itu, “…wajahnya basah, ini pasti air mata.”

“ Jadi dia menangis sebelumnya?” Myungsoo semakin khawatir, “…aku menemukannya di bawah tangga utama asrama putri.”

Chorong mengangkat alisnya, Myungsoo mengerti.

“ Oke..oke.. aku mengaku, ini pertama kalinya aku melanggar aturan.”

“ Kenapa kau melakukannya?”

“ Aku.. aku memang sedang ingin mencari Naeun, seharian ini aku tidak bertemu dengannya.”

Seorang Kim Myungsoo rela melanggar aturan dengan memasuki asrama putri di tengah malam demi mencari Son Naeun, tengah malam pula. Ini sudah lebih dari cukup menjadi alasan bagi Chorong untuk meledak sekarang juga. Ini gila. Apa Myungsoo sadar apa yang sedang ia lakukan? Apa Myungsoo tak tahu Naeun sudah menikah dengan penyihir bengis yang gemar membunuh siapapun? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Chorong.

“ Apa Naeun pernah seperti ini sebelumnya?”tanya Myungsoo, tak tahu bahwa Chorong agak membenci situasi ini.

Sahabat perempuannya itu hanya menggeleng pelan, “ Nanti kalau sudah sadar aku tanya dia. Kau.. kembalilah ke asrama putra, nanti ketahuan pengawas.”

Myungsoo agak berat hati, “ Ah.. seandainya bisa aku ingin tidur disini, aku benar-benar khawatir.”

Selama Chorong mengenal Myungsoo, baru kali ini lelaki itu berkata ingin menginap di kamarnya. Seharusnya ini kabar baik, tapi alasannya membuat Chorong tak bisa tersenyum.

“ Kau gila? Aku tidak ingin kau dihukum. Tenang saja, aku akan menjaga Naeun.”

“ Baiklah..”meski masih keberatan, Myungsoo pun berdiri dan merapatkan jaket trainingnya, “…beritahu aku ya kalau dia sudah sadar.”

Chorong mengangguk, kemudian menyempatkan matanya untuk menatap Myungsoo dalam. Yah.. meski merasakan kecemburuan, ia harus akui bahwa Myungsoo sama sekali tak berubah, ia memang lelaki yang baik dan sangat peduli pada siapapun, sifat yang membuat orang-orang begitu menyayanginya.

“ Kau sudah mau tidur ya tadi? Maaf ya mengganggumu..”Myungsoo tertawa kecil dan mengacak-acak rambut kemerahan Chorong, “…sleep well.”

Lelaki itupun melangkah menuju pintu, Chorong masih belum melepaskan pandangannya.

“ Kau tahu kan dia penyihir..?”

Langkah Myungsoo terhenti, agak tersentak mendengar pertanyaan Chorong. Namun sebagai orang yang terbiasa jujur, ia mengakuinya dengan mengangguk kecil.

Anggukan kecilnya dibalas oleh sentuhan lembut di sekeliling pinggangnya, Chorong memeluknya dari belakang, pipi tembam gadis itu terasa di punggung Myungsoo.

“…dan kau tahu juga kan bagaimana situasinya?”

“ Yah.. aku tahu.”

“ Kemudian?”

“ Bagaimana menurutmu? Apa aku harus menjadi Kim Myungsoo kekasih Son Naeun? Seperti yang diketahui orang-orang saat ini.”

Chorong menggeleng pelan, “ Sebenarnya mau tidak mau kau harus menjalankan peran yang L mainkan disini sebelumnya.. tapi izinkan aku jujur, aku benar-benar merasa keberatan..”

Mendengar hal itu, Myungsoo jadi ingat bahwa Chorong pernah mengiriminya surat cinta beserta puisi itu, namun ia tak pernah mau menduga bahwa perasaan gadis itu masih sama. Ia sudah terlihat bahagia dengan Woohyun.

“ Bayangkan, Chorong-ah. Semua akan menjadi aneh kalau tiba-tiba aku dan Naeun seperti orang asing. Aku tidak tahu betapa intimnya ia dengan ‘Myungsoo’ sebelumnya.”

Myungsoo sadar ia tak bisa menutup mata dan telinga dari situasi sebelumnya, dimana L yang menggantikannya selama ia mati menjalin hubungan cinta dengan Naeun, dan semua warga sekolah Junghwa mengetahuinya. Dan memang mau tidak mau, Myungsoo harus melanjutkan apa yang telah L perbuat sebelumnya agar orang-orang tidak curiga.

“ Apa Naeun sudah tahu, kalian akan bersandiwara?”tanya Chorong setengah berbisik, Myungsoo menggeleng lemah.

“ Aku akan katakan padanya segera.”

“ Jangan.” Chorong mengeratkan pelukannya, “…aku tahu Naeun sudah menikah, tapi tetap saja.. aku benci melihatmu dengan perempuan manapun..”

“ Lalu bagaimana? Kau punya jalan keluar yang lain?”

Gadis itu menggeleng, Myungsoo pelan-pelan melepaskan diri dari kedua lengan Chorong dan berbalik, menangkup pipi sahabatnya itu.

Aigoo..jangan cemberut begitu, tak sepantasnya kau cemburu. Kau tidak kasihan melihat aku yang menjomblo 18 tahun?” Myungsoo sedikit bercanda, Chorong tertawa kecut.

“…lagipula kau sudah punya Woohyun, yang menurutku sudah memiliki segalanya untuk membuatmu bahagia. Aku lega melihat kalian bersama sampai sekarang, kukira ia akan meninggalkanmu.”

“ Tapi..”

“ Oh ya, kau kan tadi menyuruhku cepat-cepat balik ke asrama putra. Ya sudah, aku balik ya!” Myungsoo terpaksa memotong pembicaraan dan segera keluar dari kamar.

***

 

“ Jangan gegabah, L. Kita harus atur strategi untuk menghadapi ini, langsung mendatangi Hyoyeon sama saja dengan setor nyawa.”

“ Strategi apa lagi!? Aku harus membunuhnya, SEKARANG!!!”

“ Ini sudah keterlaluan memang..” Taeyeon menggelengkan kepalanya dengan putus asa, sedih melihat L yang terpaksa ‘dipasung’ oleh Madame Sunny dan berontak seperti orang gila di penjara istana dengan rantai yang mengikat tangan serta kakinya, tongkat sihirnya pun disita. Hanya ini jalan satu-satunya untuk mencegah tindakan L, Taeyeon bersyukur bisa menemukan L sebelum anaknya itu benar-benar mendatangi rumah keluarga Son, tempat dimana Hyoyeon berada.

“ Tolong jaga L, aku takut dia bisa melepaskan diri. Dia bisa melakukan sihir dengan tangan kosong.”Taeyeon meminta Madame Sunny untuk tetap berada di depan pintu penjara, sementara ia menyeret seorang anak gadis yang sejak tadi digenggamnya menuju tempat lain.

 

“ Astaga, kau menahanku juga? Aku tidak akan kabur. Aku ingin bersama kalian, aku berpihak pada kalian…!” Namjoo sedikit tidak terima karena Taeyeon ikut mengikatnya di tiang istana, ini sangat memalukan karena seluruh penyihir yang berada di istana berdiri membentuk lingkaran dan menyaksikannya.

“ Kau kira aku akan percaya begitu saja? Kau hanya akan bisa lepas jika Hyoyeon sudah mati.”

“ Apa!? Berapa lama aku harus menunggu? Ayolah.. tidak ada gunanya menyekapku, aku kan datang sendiri pada kalian, aku..”

“ DIAM!”

Anak itupun terdiam, Taeyeon berbalik.

“ Aku minta bantuan kalian semua, awasi anak ini. Jika ia kelihatan bisa dan mencoba kabur, segera beritahu aku.”

Para penyihir itu mengangguk, Taeyeon tersenyum tipis dan pergi meninggalkan Namjoo yang terikat kuat di tiang istana.

***

 

“ Baik, sekarang ceritakan semuanya padaku.”

“ Benar sekarang? Kau tidak lelah setelah seharian…”

“ Tidak, cepat ceritakan.”

Kai terpaksa menuruti permintaan Howon. Setelah selesai mengurus perlengkapan sekolahnya, ia duduk di depan televisi dan ikut bermain play station dengan Howon sambil mengingat-ngingat apa yang terjadi di negeri Gwangdam selama ia masih berada disana, sebab sang artis ingin mendengar semuanya.

“ Sebelumnya, setahuku Hyerim sudah mengirimimu surat balasan, apa kau sudah baca?”

“ Oh iya!” Howon menjatuhkan stik PSnya, ia berdiri dan berlari kecil, memasuki satu ruangan kecil dalam apartemennya dan mengeluarkan kandang burung berukuran sedang, tampak di dalamnya seekor merpati dan masih mencengkeram segulung surat dengan kedua cakarnya.

“…astaga, syukurlah merpati ini belum mati. Sudah beberapa hari aku tidak memberinya makan, aku sangat sibuk.”

“ Ini merpati milik Madame Sunny, aku lupa dia perlu makan atau tidak. Ini kan bukan burung biasa.”Kai beringsut mendekati Howon yang membuka kandang tersebut dan meraih surat di kaki sang merpati.

“…duh, kalau memang makan.. dia perlu makanan apa ya? Kalau mati bisa gawat, Madame Sunny bisa membunuhmu.”Kai agak khawatir.

“ Bah, silahkan saja. Aku tidak akan kembali juga ke negeri Junghwa.”

“ Heh? Kau serius?”

“ Aku sudah berpikir soal ini matang-matang. Semua orang pun akan memilih jadi artis kan daripada jadi pengawal.”

“ Kupikir setelah mendengar ceritaku nanti kau harus menyalakan kompor lagi untuk mematangkan pikiranmu.”

Jinjja? Ck, tiba-tiba aku jadi takut membaca surat balasan Hyerim.” Howon melipat kembali suratnya, “…aku akan membacanya setelah kau selesai bercerita. Jadi, bagaimana situasi di Gwangdam? Apa pernikahan putri Krystal berjalan lancar?”

“ Krystal dan Baekhyun.. yah.. mereka sudah resmi menikah.”Kai menghela nafas berat, Howon nampak prihatin.

“…sudah..sudah deh, aku ikhlas kok.”Kai segera berdalih meski tenggorakannya terasa tercekat, “…lagipula aku tidak punya cara apapun untuk merebut Krystal. Apalagi sekarang keadaannya makin kacau, Baekhyun tidak sebaik yang semua orang kira. Aku kaget sekali mendengar bahwa semalam sebelum pernikahan, Baekhyun mengancam Hyerim..”

“ Mengancam Hyerim? Mengancam bagaimana?!” Howon mulai emosi.

“ Kenapa ekspresimu begitu? Bukannya kau ingin putus dari Hyerim? Masih mengkhawatirkan dia rupanya..” Kai tertawa sinis.

Howon mengacak-acak rambut setengah ungunya dengan frustasi, “ Kau kira semudah itu berhenti mencemaskan seseorang? Aku yakin kau juga masih mengkhawatirkan Krystal walaupun kau bilang sudah ikhlas dia menikah dengan orang lain..”

“ Ck, baiklah.. baiklah.. kita satu sama sekarang.”

“ Makanya tidak usah mengomentari aku. Lanjutkan ceritamu.”

Kai menggaruk pelipisnya, kembali mengingat-ingat.

“ Selama ini Baekhyun tahu dia ditipu di negeri Junghwa sampai akhirnya batal dijodohkan dengan Hyerim. Selama ini dia menyimpan rasa marah yang sangat besar, karena..”

“ Astaga. Karena…?”

“ Karena dia menyukai Hyerim. Dia sudah sangat senang dijodohkan dengan Hyerim sampai rela mengembara 15 hari ke negeri Junghwa, makanya saat tahu Krystal yang menggantikan posisi Hyerim, Baekhyun marah besar dan ingin menghancurkan keluarga kerajaan Junghwa. Dia mengakui semua itu pada Hyerim dengan gamblang, aku masih ingat betul wajah syok Hyerim yang tak kunjung hilang sampai pesta pernikahan.. dia pucat sekali.”

Howon terdiam. Kenyataan paling mengejutkan baginya adalah bahwa Baekhyun menyukai kekasihnya, dan kini ia justru mempertimbangkan untuk putus dari Hyerim demi dunia keartisannya. Ia merasa bodoh. Terlebih Hyerim tentu sedang dalam masa sulitnya saat ini.

“ Lalu..? bagaimana lagi..?”

“ Hyerim memohon agar aku membantunya menyelamatkan Krystal. Baekhyun ingin menyiksanya sampai mati setelah mereka menikah. Aku juga sangat cemas saat tahu hal itu, tapi… aku juga sudah sangat tidak bisa menahan diri untuk bertemu Myungsoo hyung, jadi aku memutuskan untuk pulang saja.. lagian, sudah berkali-kali aku berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan Krystal, aku hanya bisa mendoakan agar ia baik-baik saja..”

“ Kau bodoh, Myungsoo tidak akan kemana-mana juga, dia bersamaku, kau bisa bertemu dia kapan saja. Seharusnya kau tolong Hyerim dulu..!”

“ Apa yang bisa aku lakukan? Baekhyun itu pangeran, dia mahir menggunakan pedang dan dia punya banyak pasukan. Sedangkan aku….”

“ Baik..baiklah, tidak usah dilanjutkan, terlalu menyedihkan.”

Kai menghela nafas sejenak, “ Harusnya kau yang menolongnya. Memintaku untuk menggantikanmu sebagai pengawal saja sebenarnya sudah salah. Hyerim benar-benar sudah menganggapmu tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di negeri Junghwa. Dunia artis memang semenarik itu.. aku paham..”

Perkataan Kai bagaikan tamparan keras di wajah Howon. Lelaki itu mulai risau, perlahan ia membuka gulungan surat dari Hyerim, surat balasan atas surat yang ia kirim sebelumnya. Namun ia kembali menurunkan kertas itu, merasa tak sanggup membacanya.

“ Bacakan untukku.” Howon menggeser kertas tersebut ke hadapan Kai, adik Myungsoo itu menurut.

 

“ Jangan konyol.”

 

Mwo..?” Howon mengangkat kepalanya dan menatap heran kearah Kai, lelaki itu nampak menggaruk-garuk kepalanya.

“ Ya cuma ini aja isinya, jangan konyol.

Howon meraih kertasnya dan membaca sendiri isinya.

Benar.

 

Jangan konyol. Itu saja yang ditulis Hyerim sebagai balasan surat panjang kali lebarnya kemarin.

“ Apa Hyerim pikir aku bercanda?”

***

 

Sementara itu, di negeri Gwangdam …

Keluarga kerajaan Junghwa tengah mengadakan rapat di salah satu ruangan istana negeri Gwangdam. Rapat tanpa Krystal, tentunya, karena putri bungsu kerajaan kini sedang menjalani ‘malam pertama’ bersama Baekhyun.

Inilah yang membuat Hyerim gusar, tangannya masih gemetaran untuk mengangkat tangan dan mengungkapkan segala yang Baekhyun rencanakan pada keluarganya, sebab kekhawatirannya terhadap Krystal terus menjadi-jadi. Namun ketika ia berniat bicara, ia merasa mata dan telinga Baekhyun terus mengawasinya. Terlebih, ia masih berada dalam istana Gwangdam. Ia juga mempertimbangkan reaksi keluarganya. Bagaimana jika Raja Yonghwa dan Daehyun gegabah dan emosi hingga menyatakan perang? Bagaimana jika Ratu Seohyun menangis dan mengundang pertanyaan bagi kerajaan Gwangdam? Bagaimana jika Ilhoon yang terlalu kecil mengetahui hal ini? Ia pasti akan sangat ketakutan.

“ Jadi, sudah kuputuskan. Kita dan semua warga kerajaan akan pulang besok, menempuh perjalanan lagi selama lima belas hari. Setahun setelah pernikahan, Krystal dan Baekhyun serta warga negeri Gwangdam yang akan mengunjungi kita ke Junghwa.”ucap Raja Yonghwa, Hyerim menggeleng pelan.

“ Tidak mungkin. Bisa saja sebelum setahun pernikahan Krystal sudah mati. Jika kita biarkan Baekhyun……”

Ini semakin mengganggu pikirannya. Mungkin ia bicara saja…

“ M..maaf!” Hyerim mengangkat tangannya dengan gugup, semua mata anggota keluarga mengarah padanya.

“ Ada apa, Hyerim?”tanya Ratu Seohyun lembut.

“ Kau ingin langsung pulang ke dunia nyata?”tanya Daehyun menebak-nebak.

“ Ahh.. kau pasti sudah merindukan Howon!”celetuk Ilhoon, Hyerim tersenyum kaku.

“ B..bukan..bukan itu..”ucap Hyerim terbata-bata, “..aku..aku ingin..”

“ Ingin apa?”Raja agak heran dengan putrinya yang mendadak gagap.

“ Aku..ingin..tinggal di kerajaan ini..untuk sementara.. menemani Krystal.”

Mungkin ini lebih baik daripada mengungkapkan semuanya, lagipula ini salahku hingga Krystal harus mengalami pernikahan sinting ini. Begitu kira-kira pikir Hyerim sampai ia nekat merelakan keluarganya untuk pulang duluan ke negeri Junghwa. Ia ingin mengatasi semuanya dengan benar-benar sendirian. Jika ia juga harus mati, setidaknya itu lebih baik daripada adik perempuannya mati sendirian.

“ Ah, kenapa aku tidak terpikirkan soal ini, ya? Aku juga jadi ingin menemani Krystal dulu disini..” sahut Daehyun. Hyerim agak panik.

“ Aku juga deh!”sahut Ilhoon.

Tidak. Tidak bisa. Gawat kalau saudaranya yang lain lama-lama tahu perihal ini.

“ Kalian ini.. Krystal akan baik-baik saja disini, semua keluarga Gwangdam menyayanginya. Biarkan ia menyesuaikan diri dulu disini..”ucap Raja, secara tak langsung tidak menyetujui keinginan Hyerim.

“ Tapi kupikir Krystal memang perlu keluarganya juga disini agar tidak terlalu canggung. Apa aku saja yang tinggal?”tawar ratu, raja menggeleng.

“ Tidak, kau sudah sakit-sakitan..”

“ Lalu bagaimana?”

“ Baiklah… kalian akan tinggal disini. Eh.. tidak, salah satu dari kalian saja.”putus Raja kemudian.

“ Aku!” Hyerim buru-buru ‘mengorbankan’ dirinya, “…aku saja, aku kakak perempuan Krystal satu-satunya.”

Daehyun dan Ilhoon pasrah saja, Raja dan Ratu setuju.

“ Jadi, kau batal pulang ke dunia nyata?”tanya Daehyun, Hyerim mengangguk pelan saja.

“ Jadi kau tidak akan bertemu Howon?”tanya Ilhoon polos, Hyerim mengangguk lagi. Meski pertanyaan kali ini sedikit membuat hatinya tertusuk.

“ Baiklah, terimakasih Hyerim. Jaga dirimu dan jaga Krystal disini.”pesan Raja, Hyerim mengangguk, setelah itu menghela nafas sedikit lega.

 

“ Semoga ini keputusan yang tepat..”

***

 

Before the Dawn, 02.00 AM

 

“ Lama-lama aku bisa mati kalau begini..”

Namjoo masih terus berusaha melepaskan dirinya dari tiang istana, Taeyeon mengikatnya dengan sangat kuat hingga ia merasa aliran darahnya hampir berhenti. Seluruh permukaan kulitnya sudah memerah dan otot-ototnya kaku. Tak ada yang bisa menolongnya, hampir semua penyihir yang berada di istana telah terlelap. Bahkan jika mereka bangun, tak mungkin juga mereka menolong Namjoo.

Anak angkat Hyoyeon itu mulai merasa takut. Istana benar-benar gelap dan sunyi, ia ingin tidur, namun posisinya yang terikat kuat membuatnya kesulitan.

Tap..tap..

Suara langkah kaki seseorang memecah keheningan, wajah Namjoo memucat.

Suara itu semakin dekat..

 

“ S..siapa itu?”

 

Sesosok bayangan mulai muncul dari salah satu lorong istana diiringi suara langkah kaki yang semakin dekat itu, Namjoo terkejut bukan main.

 

“ L..?”

Bukankah terakhir Namjoo melihatnya, penyihir nomor dua itu sedang di‘pasung’ di penjara istana? Apa ia berhasil melepaskan diri?

“ Tutup mulutmu.”penyihir itu mendekatinya, “…jangan bilang siapapun, aku akan pergi sekarang.”

“ K..kemana?”

“ Mengunjungi ibu angkatmu, tentu saja.”

“ Yakin hanya mengunjunginya?”

Penyihir itu menyeringai, “ Aku sendiri tidak yakin.”

“ J..jangan.. jangan lakukan itu..”

“ Beraninya kau melarangku. Kau mau kubunuh duluan?”

Namjoo mengunci mulutnya, L pasti sudah kehilangan akal sehatnya karena Hyoyeon telah memisahkannya dari Yeoshin. Ia sendiri tak tahu pasti apa alasannya meminta L untuk tidak secepat ini menantang Hyoyeon. Entah karena ia masih menyayangi ibu angkatnya, atau ia tak ingin L mati. Yang jelas, Namjoo tak ingin ini terjadi.

“ Lepaskan dulu ikatanku, baru aku bisa berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun.”

“ Hah, anak pintar. Apa kau sedang mengancamku sekarang?”

Wajah sadis itu.

Namjoo tak berani melanjutkan kata-katanya, ia menggeleng cepat.

“ Ingat. Jangan bilang siapapun kalau tak ingin celaka.”sang penyihir mengancamnya sekali lagi sebelum ia benar-benar pergi, Namjoo terpaksa menurut.

Gadis kecil itu terpejam, air bening turun dari kedua matanya.

 

“ Aku tidak ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya..”

***

 

Annyeong. Sorry aku telat, tadi ngurusin Naeun dulu.”

Chorong duduk di kursi meja ruang makan sekolah pagi itu, bergabung dengan Myungsoo dan Sungyeol yang sudah menunggunya.

Mendengar itu, Myungsoo tentu ingin langsung menanyakan bagaimana keadaan Naeun, apakah dia sudah cerita tentang apa yang terjadi sampai ia pingsan semalam. Tapi bertanya pada Chorong tentang Naeun kini membuatnya tak enak, jelas karena pengakuan Chorong semalam.

Maka itu, Myungsoo diam saja. Berharap Sungyeol menanyakan apa yang ingin ia tahu.

“ Naeun kenapa?”

Benar, Sungyeol ikut penasaran.

“ Kemarin pingsan di bawah tangga asrama putri. Myungsoo yang membawanya ke kamar kami.” Chorong menunjuk Myungsoo dengan sumpit makannya, Sungyeol meliriknya.

“ Serius?”

Myungsoo mengangguk saja dan melanjutkan sarapannya, Chorong mengerti mengapa lelaki itu bersikap demikian. Ini membuatnya semakin kagum. Myungsoo benar-benar menjaga perasaannya dan menahan diri untuk tidak menanyakan tentang Naeun. Padahal Chorong yakin Myungsoo benar-benar ingin tahu.

“ Gimana ceritanya sampai pingsan di bawah tangga?”Sungyeol bertanya-tanya, dalam hatinya menebak-nebak apakah ini ada hubungannya dengan situasi di negeri Junghwa yang ia ketahui jelas karena dulu ia sempat menjadi ‘budak’ Hyoyeon.

“ Aku tidak tahu. Tadi aku memberi Naeun obat saja, saat kutanya apa yang terjadi, dia diam. Tidak bicara sama sekali.”

Entah mengapa Sungyeol mulai tertarik, ingin tahu apa yang terjadi hingga Naeun seperti itu. Kalau memang ada hubungannya dengan situasi di negeri Junghwa, ini akan jadi hal yang seru untuk ia selidiki.

“ Makan duluan saja, aku mau balik ke asrama dulu. Kartu tarotku ketinggalan.” cenayang itu berdiri dan meninggalkan Myungsoo serta Chorong dengan berlari kecil.

“ Kukira dia sudah berhenti meramal.”ucap Myungsoo, Chorong tersenyum.

“ Memang. Tapi sepertinya dia semangat untuk meramal lagi karena kau sudah kembali.”

*

 

“ Apa ini tempatnya?”

Rupanya, Sungyeol justru berbelok ke asrama putri, mendatangi bagian bawah tangga tempat Naeun pingsan kemarin.

“…pasti ada sesuatu disini.. aha!”

Ia membungkuk dan meraih satu botol kosong yang tertinggal disana.

“…apa ini botol ramuan? Apa yang dilakukan Naeun……”

 

“ Hey!!”

PRANG!

“ Astaga! Kau mengagetkanku!” Sungyeol menjatuhkan botol yang ia pegang dan hampir saja memukul Yura yang muncul dan menepuk bahunya. Kenapa gadis itu ada disini? Bukannya dia sekolah di tempat lain? Ia justru muncul dengan pakaian santai. Apa dia libur?

“ Eh, sorry. Hehe.” Yura ber-aegyo kemudian menatap lantai, “…aigoo, kau memecahkan apa? Sorry banget yah, aku gak maksud lho tadi itu.. Apa perlu kuganti?”

“ Gak.”

Setelah mengeluarkan jawaban dingin, Sungyeol memilih untuk balik saja ke ruang makan daripada Yura banyak tanya, tapi tentu saja gadis itu mengikutinya.

“ Ikut dong! Mau sarapan kan? Aku gak tau ruang makannya dimana.”

“ Kupikir seharusnya kau ada di ruang makan sekolah lain.”

“ Sekolahku lagi libur.”

“ Guru-gurunya rapat lagi? Wah, sepertinya ada proyek besar di sekolahmu.”

Yura tahu Sungyeol meledeknya, tapi ia tak peduli. Ia ingin melihat Myungsoo hari ini, ingin tahu keseharian lelaki tampan itu jika berada di sekolah.

“ Baiklah, kau tahu aku memang bohong. Tapi apa urusannya denganmu? Terserah aku mau bolos apa enggak.”

“ Wah, aku tidak menyangka guru sepintar Kim Sunggyu punya anak yang tidak peduli dengan sekolahnya, padahal sudah mau ujian kelulusan.”

“ YA!”

“ Apa? Apa?” Sungyeol justru merasa geli melihat Yura berteriak padanya.

“ Kau.. kau cemburu kan karena aku mau melihat Myungsoo hari ini? makanya kau seperti ini. Aigoo.. nampak sekali. Aku tahu aku cantik, tapi kau terlalu cepat menyukaiku.”

“ Ish, bicara apa kau? Dasar aneh!” Sungyeol mempercepat langkahnya, Yura mengejarnya lagi.

“ Ciee.. cemburu beneran kan? Iya kan?”

“ Tidak! Siapa juga yang menyukaimu!? Ih..”

Yura tertawa karena berhasil menggoda Sungyeol, cenayang itu ternyata nampak menggemaskan kalau sedang membantah.

*

 

Sorry yah, kita gak jadi makan bertiga. Dia mengikutiku.”

Sesampainya di ruang makan, Sungyeol kembali ke tempat duduknya, Yura ikut duduk di sampingnya, Myungsoo dan Chorong nampak tidak keberatan.

“ Selamat pagi, Myungsoo-ssi!”Yura sangat berseri-seri, “…kau juga, Chorong-ssi.”

“ Kau tidak sekolah?”tanya Chorong.

“ Sekolahku sedang lib….”

“ Dia bolos, biar bisa ketemu Myungsoo katanya.”Sungyeol memotong dengan mulut penuh makanan.

“ Ada apa? Kau punya masalah lagi di apartemenmu?”canda Myungsoo, Yura tertawa gugup dan langsung menginjak kaki Sungyeol.

“ Kudengar kau pernah jadi asistennya Minah. Benar?”tanya Chorong, Yura mengangguk dengan agak malu.

“ Wah, berarti kau kenal baik dengan artis terkenal itu. Apa kau masih bekerja untuknya sampai sekarang?”

“ Karena ayahku sudah kembali kerja di sekolah, sepertinya aku tidak perlu kerja lagi. Eh, bagaimana denganmu, Myungsoo? Kau masih kerja untuk Hoya?”tanya Yura.

“ Aku akan kerja kalau Hoya memerlukanku.”jawab Myungsoo.

“ Tidak usahlah, sekolah kita akan sangat sibuk karena banyak tertinggal. Kalau kau bekerja nanti tidak fokus.” saran Sungyeol.

“ Benar, Myung. Fokus saja dengan sekolah, sebentar lagi kita ujian. Kalau kau kerja, nanti nilaimu turun dan tidak juara umum lagi.”sambung Chorong.

Mwo? Jadi Myungsoo sering juara umum di sekolah ini? Wah! Aku semakin kagum padamu!”puji Yura.

“ Kau kagum karena Myungsoo tidak sepertimu yang pemalas dan suka bolos.” sindir Sungyeol.

“ YA! Kau cemburu lagi kan makanya bilang begitu? Nih! Rasakan!” Yura melempar beberapa butir kacang ke arah Sungyeol. Myungsoo dan Chorong tertawa.

Yah.. ternyata bagus juga Yura bergabung dengan mereka, situasi menjadi cair dan tidak canggung. Bayangkan saja jika mereka makan bertiga. Meski sudah bersahabat sangat lama, keadaan sudah tidak sama.

Aigoo..kalian ini, pacaran saja sana!”goda Chorong.

“ Yah, kalau Sungyeol dengan Yura, Chorong dengan Woohyun.. sepertinya aku satu-satunya yang belum punya pasangan.”celetuk Myungsoo, “…ah, aku dengan Naeun saja. Bagaimana?”

Sebagai orang-orang yang notabene punya ketertarikan khusus dengan Myungsoo. Baik Yura, Sungyeol, dan Chorong justru terdiam mendengarnya. Myungsoo agak panik karena sepertinya ia kelepasan.

“..eh.. aku hanya bercanda, hahaha.”sambung lelaki tampan itu kikuk. Ini jelas karena dari awal ia terus memikirkan dan mengkhawatirkan Naeun. Ingin menanyakan keadaan Naeun pada Chorong, ia takut merusak suasana.

“ Wih, baru saja dibicarakan sepertinya orangnya datang!” Yura menunjuk ke luar ruang makan, tepatnya ke arah seorang gadis berambut coklat panjang bergelombang yang berjalan melintasi ruang makan dengan kepala menunduk, “…itu Naeun kan?”

Dia masuk sekolah. Tapi kenapa dia tidak masuk kesini? Dia tidak makan?” Myungsoo belum bisa merasa lega, ia segera berdiri.

“…sebentar ya, kalian makan duluan saja!” lelaki itu langsung berlari kecil keluar dari ruang makan dan mengejar Naeun.

***

 

Sementara di istana negeri Junghwa yang masih dihuni oleh para penyihir, Taeyeon tak berhenti menjelajah seluruh ruangan dan ia hampir putus asa. Penyihir-penyihir yang lain tak tahu dimana apa atau siapa yang sedang ia cari.

Di ruangan utama istana, wanita itu beristirahat sejenak dengan bergabung untuk makan pagi bersama penyihir-penyihir yang lain.

“ Kalian benar-benar tidak tahu dia dimana?”tanya Taeyeon, entah sudah keberapa kalinya ia bertanya pada para penyihir itu, tentu saja jawab mereka tetap sama.

Namjoo, yang masih diikat di tiang istana tak jauh dari mereka mendengarnya. Ia yakin Taeyeon sedang mencari L.

“ Taeyeon, sepertinya anak itu kelaparan. Kita ajak makan saja.”salah satu penyihir tak tega melihat Namjoo yang sangat memelas menyaksikan para penyihir makan di depannya.

Taeyeon ikut menatap anak itu, akhirnya ia berdiri dan melepaskan ikatannya.

 

“ Setelah kenyang kau mungkin kuikat lagi, jadi tidak usah senang.”ucap Taeyeon sembari melepas ikatannya.

“ Kau mencari L?”tanya Namjoo tiba-tiba. Namun diluar dugaan, Taeyeon nampak datar-datar saja.

“ Untuk apa aku mencari dia?”

“ Tapi tadi malam dia….” Namjoo mengurungkan niatnya untuk bicara karena ancaman yang semalam diterimanya masih membuatnya takut. Namun ia heran, itu artinya saat ini bukan L yang sedang dicari oleh Taeyeon.

“ Kuantar kau ke dapur.” Taeyeon menarik Namjoo berjalan menuju dapur istana untuk makan.

 

“ Eh?”

“ Ada apa?”Taeyeon bingung dengan Namjoo yang agak terkejut ketika mereka melintasi penjara.

“ L.. kenapa dia disana?”

“ Dia memang disana sejak kemarin. Kau lupa?”

Namjoo tak habis pikir, terkejut melihat L yang masih berada di dalam penjara dan tidur membelakanginya. Lalu siapa yang ia lihat semalam? Apa memang benar L? Apa L sudah berhasil membunuh Hyoyeon hingga ia kembali ke penjara diam-diam seolah tak terjadi apa-apa?

Atau..

“ Lalu sejak tadi.. kau mencari siapa?”tanya Namjoo pelan, Taeyeon terlihat gusar.

 

“ Aku mencari Madame Sunny.”

***

 

“ Naeun! Son Naeun!”

Meski agak ragu, Myungsoo kini sedikit berteriak dan menepuk bahu Naeun karena sejak tadi gadis itu terus saja berjalan di depannya dan tak mendengar panggilannya.

“ Hm?”

Gadis itu berbalik. Pantas, rupanya ia memakai earphone dan.. masker.

Mata indahnya yang biasa berbinar kini sangat sembab, rambutnya sedikit berantakan. Gadis itu nampak kacau hari ini. Ia sama sekali tak mengurus dirinya.

“ Apa yang terjadi?”Myungsoo semakin khawatir. Naeun benar-benar seperti pasien opname yang pulang dari rumah sakit sebelum waktunya.

Naeun menggeleng saja dan buru-buru menunduk kemudian berbalik dan lanjut berjalan lagi.

Seakan tak ingin melihat Myungsoo lebih lama.

“ Hei.. kau tidak apa-apa k…” Myungsoo berhenti mengejar gadis itu ketika ia lihat Woohyun muncul dari lorong dan langsung menarik lengan Naeun, rivalnya itu bahkan sempat menatap sinis kearahnya.

“ Kau kenapa, Naeun-ah?”tanya Woohyun, membuat Naeun sedikit senang karena sebelumnya ia mengira Woohyun tak mau lagi bicara padanya sejak tahu Myungsoo hidup lagi karena dirinya.

“ Aku mau ke kelas, Woohyun oppa.”

Myungsoo hanya bisa mematung seperti orang bodoh di belakang mereka. “Naeun-ah.”, “Woohyun oppa.”. Cara mereka memanggil satu sama lain benar-benar menunjukkan betapa dekatnya hubungan mereka meski bukan saudara kandung.

Selama tiga tahun berturut-turut menjadi rival, baru kali ini Myungsoo merasa benar-benar iri pada Woohyun.

“ Ikut aku dulu.” Woohyun mengeratkan pegangannya pada lengan Naeun dan keduanya berjalan beriringan.

Gadis itu menoleh, menatap Myungsoo sekilas namun segera meluruskan kepalanya lagi. Woohyun ikut menoleh setelahnya, menatap Myungsoo dengan penuh kebencian.

 

“ Baiklah, mungkin kesempatanku nanti siang.”

Myungsoo mengalah dan tidak mengikuti mereka. Saat hendak kembali ke ruang makan, langkahnya terhenti ketika ponsel murahan di dalam sakunya bergetar.

Pesan dari Hoya.

 

“ Myungsoo-ssi. Pergilah ke gerbang sekolah. Ada kejutan untukmu.”

***

 

“ Myung, kau sudah selesai sarapan? Kau dimana? Sedang bersama Naeun? Oh. Baiklah.”

Myungsoo yang bersandar sendirian di gerbang sekolah kini menerima pesan dari Chorong. Lelaki itu sedikit tertawa kecil, apa Chorong akan terus seperti ini? Begitu sensitif tentang ia dan Naeun.

“ Aku sedang menunggu kejutan di gerbang sekolah. Ke kelas saja duluan kalau sudah selesai.”

“ Kejutan? Dari siapa?”

“ Hoya memberitahuku..hehe”

“ Wow, aku ikut penasaran..”

“ Aku akan memberitahu nanti.”

Myungsoo menutup ponselnya ketika sebuah mobil kantor berhenti di depan gerbang. Ia kenal mobil ini.

Mobil kantor agensi Hoya.

Apa Hoya datang? Ia ingin membuat histeris semua siswi SMA Junghwa?

Namun ia salah, bukan artis papan atas itu yang turun dari mobil, tapi seorang lelaki berseragam yang dua tahun lebih muda darinya, yang sangat familiar baginya.
“ Kai..?”

“ HYUNG!?”

Keduanya berlari dan berpelukan dengan sangat erat hingga tak butuh waktu lama untuk sama-sama menangis. Terlebih Kai, yang selama ini merasakan banyak kesulitan selama Myungsoo tidak ada.

Hyung.. ini benar Myungsoo hyung, kan?”Kai masih tak bisa percaya, awalnya ia kira Hoya dan Eunji hanya membohonginya. Rasanya seperti mimpi saja, bisa bertemu lagi dengan satu-satunya keluarga yang ia miliki, menghirup wangi tubuhnya lagi, merasakan pelukan hangatnya lagi.

Hyung disini, Jongin-ah. Aku janji tidak akan pergi lagi. Aku janji.”

“ Maafkan aku, hyung..” Kai semakin terisak, “…semua harta kita, rumah kontrakan, semuanya…..”

“ Sshh.. aku tahu.. aku tahu..”Myungsoo mengelus kepala adiknya dengan lembut, “…tidak apa-apa, nanti kita cari jalan keluarnya bersama. Oke?”

Kai mengangguk, Myungsoo melepas pelukannya dan merangkul Kai, mengajak adiknya untuk memasuki gedung sekolah bersama-sama.

“ Rambutmu sudah sangat gondrong. Aku akan memotongnya nanti.” Myungsoo mengacak-acak rambut hitam adik lelakinya itu dengan gemas. Biasanya Kai selalu menolak jika Myungsoo ingin memotong rambutnya.

“ Dibotak juga tidak apa-apa, hyung. Asal kau tidak meninggalkanku lagi.”

Aigoo..serindu itukah kau denganku?”

Kai mengangguk, “ Aku bahkan melepaskan orang yang aku cintai demi bertemu denganmu.”

“ Benarkah…? Bagaimana bisa? Apa kau baik-baik saja sekarang?”

 

“ Aku akan bercerita dari awal. Kau juga punya sesuatu untuk kau katakan, kan? Kita akan bercerita banyak hari ini, hyung.”

***

 

“ Benar kan kau tidak apa-apa disini?”

Ratu Seohyun masih merasa khawatir. Meski bertentangan dengan hati kecilnya, Hyerim mengangguk saja sebab ini sudah menjadi pilihannya. Hari ini, ia harus rela ditinggalkan pulang duluan oleh keluarganya.

“ Krystal belum bangun tidur?”tanya Daehyun penasaran, sebenarnya ia tak ingin pergi sebelum bertemu untuk terakhir kalinya dengan adik perempuannya yang sudah menikah itu.

“ Kurasa ia ‘kelelahan’!” celetuk Ilhoon polos, Daehyun langsung mencubitnya. Sementara Hyerim masih saja murung. Ia yakin Krystal tidak melalui malam yang indah.

“ Krystal masih tidur nyenyak, aku tidak berani membangunkannya. Ia akan baik-baik saja disini.” Baekhyun, yang ikut melepas kepulangan keluarga Jung dan rakyat negeri Junghwa meyakinkan bahwa Krystal baik-baik saja, membuat Hyerim merasa muak.

Setelah Raja dan Ratu kedua kerajaan menjalani sesi penghormatan satu sama lain, Raja Yonghwa dan Ratu Seohyun serta Daehyun dan Ilhoon bersiap untuk memasuki kereta, disusul dengan rakyat negeri Junghwa.

“ Kau tidak menyembunyikan apapun dari kami, kan?”tanya Daehyun sebelum ia benar-benar memasuki kereta, Hyerim menggeleng.

“ Selamat jalan, aku juga akan menjaga Hyerim disini.”sela Baekhyun, Daehyun mengangguk percaya.

“ Terimakasih. Jadilah pendamping yang baik untuk Krystal.”pesan Daehyun, setelah itu memasuki kereta bersama keluarganya.

“ Ya. Aku memang pendamping yang baik untuk Krystal. Iya kan, Hyerim?”bisik Baekhyun sarkastis seraya memberi lirikan penuh ancaman pada Hyerim.

 

Gadis itu tak bisa tinggal diam. Setelah kereta-kereta itu pergi meninggalkan istana negeri Gwangdam, ia berlari kencang menuju lantai teratas istana, tempat dimana Krystal berada, kamar pengantinnya.

 

“ Krys…..”

“ Kakak..”

Ia mendengar suara pintu terbuka dan terdengar sedikit senang dengan kedatangan Hyerim. Perlahan, Hyerim menghampiri Krystal yang berada di atas tempat tidur dengan memunggunginya.

“ Semuanya sudah pergi.”

“ Benarkah?”

“ Hm.. baru saja.”

“ Kenapa kau tidak pergi juga?”

“ Aku ingin menjagamu.”

“ Tidak perlu, aku hanya menunggu waktu disini.”

Ia terdengar pasrah. Perasaan Hyerim semakin tak nyaman. Perlahan ia menyentuh bahu Krystal dan mencoba menatap adiknya itu.

“ Apa maksudmu? Krys…–”

“ Lihat?” Krystal tersenyum pasrah, Hyerim tersentak.

“ TIDAK! SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!”

Ia ingin meledak, ketakutannya menjadi nyata. Ia mendapati banyak luka memar di seluruh tubuh Krystal, darah segar pun masih keluar di beberapa bagian tubuh adiknya itu. Apa yang Baekhyun perbuat? Mengapa ia bisa sesadis ini?

 

“ Jangan terkejut, Jung Hyerim. Aku sudah memberitahumu.”

Pangeran itu muncul di ambang pintu dengan senyum sinisnya, seakan merasa bahwa yang diperbuatnya adalah hal yang benar. Ini gila. Apa ia adalah L versi manusia?

“ Kau… aku tidak akan tinggal diam.. aku akan..”

“ Melaporkannya? Pada keluargaku? Hah, silahkan. Aku juga sudah memberitahumu seperti apa konsekuensinya.”

Hyerim terdiam, airmatanya mengalir deras. Krystal tertawa dengan mata kosong. Jelas, mentalnya kembali terganggu.

“ Dia terus menyebut nama Kai sepanjang malam. Itu sangat mengganggu. Jadi jangan salahkan aku jika dia menerima akibatnya. Nikmatilah hari-hari kalian disini.”Baekhyun berlalu tanpa rasa bersalah, Hyerim menggeleng kuat, ia harus segera memikirkan cara untuk menyelamatkan Krystal.

 

“ Kita harus pergi dari sini. Kau harus kuat.. aku tahu caranya. Aku tahu..” Hyerim memeluk adiknya itu dengan erat, Krystal masih saja tertawa kecil tanpa sebab.

“ Kai.. aku ingin.. Kai..”

“ Apa?”

“ Aku.. ingin.. Kai.. dia.. sangat baik..”

Hyerim mengangguk, “ Ya.. aku akan membawamu padanya. Percaya padaku, kita bisa bebas..”

 

Hyerim turun dari tempat tidur sejenak, menghampiri dinding kamar dan mengeluarkan botol berisi sisa ramuan portal dari dalam bajunya. Tanpa membuang waktu, ia segera menyiramkan ramuan tersebut ke dinding. Namun…

“ Mengapa.. tidak terbuka?”

Ia merasa ingin mati saja.

Ramuan itu satu-satunya jalan keluarnya. Jika sudah seperti ini, apa yang bisa ia perbuat?

***

 

“ Kau tunggu disini. Jangan lari.”

Namjoo menurut, ia duduk dengan manis di depan penjara dan mulai menyantap sarapan paginya. Taeyeon pergi sejenak untuk mengambil Lin yang mungkin sudah bangun dan ia harap sudah sedikit membaik keadaannya.

Sesekali, gadis itu menatap L yang masih tidur membelakanginya. Berbagai pikiran mengganggu kepalanya.

Apa L benar-benar pergi dan menantang Hyoyeon tadi malam? Apa ia tidak bangun tidur juga karena kelelahan? Apa itu artinya ia sudah mengalahkan Hyoyeon?

Namjoo benar-benar menentang pikiran itu. Ia tahu Hyoyeon tidak bisa mati dengan mudah. Meski tanda kehebatannya hilang, ilmu sihir tingkat tinggi yang ia miliki abadi dalam kepalanya.

Lalu… jika memang pikiran itu tidak benar, apa itu artinya yang ia temui tadi malam bukanlah L? lalu siapa? Ini membuatnya takut.

 

Aigoo.. uri Lin memang kuat. Aku tahu kau akan sembuh..”

Dari kejauhan muncullah Taeyeon dengan Lin dalam gendongannya, penyihir kecil itu tak lagi sepucat kemarin. Ini membuat Namjoo merasa takjub, bayi sekecil itu berhasil mengalahkan ganasnya racun yang Hyoyeon berikan. Jika Lin hanya bayi penyihir biasa, ia bahkan tak perlu waktu kritis satu minggu karena sudah pasti ia mati seketika setelah menelan racunnya.

“…lihatlah, appa belum bangun.”Taeyeon berhenti di depan penjara dan membiarkan Lin menatap L yang masih tidur membelakangi mereka, “…ya sudah, kita makan duluan saja.”

Taeyeon duduk di dekat Namjoo, mengaduk-aduk bubur bayi untuk Lin, setelah itu… mengeluarkan sepotong silet dari saku jubahnya.

“ Kim Namjoo.”

“ Ya?”

“ Apa kau ingin diikat lagi?”

“ Eh..? tentu saja tidak!”

“ Baiklah, kau tak akan kuikat lagi nanti. Tapi, aku minta darahmu untuk makan pagi kami.”

M..mwo!?”

“ Kau tahu kan penyihir perlu darah manusia untuk setiap makanannya?”

“ Tapi..”

“ Baiklah, aku tidak memaksa. Selesai makan kau bisa kembali ke tiang sana.”

Ani!! Gores.. gores saja disini.” Namjoo buru-buru mengulurkan pergelangan tangannya. Tanpa banyak bicara Taeyeon menerimanya dengan senang hati, menggores pergelangan tangan gadis itu dengan cukup dalam dan meneteskan darahnya ke mangkuk bubur milik Lin. Penyihir kecil itu tersenyum dan berseri-seri ke arah Namjoo. Sungguh anak yang manis, ia sudah tahu arti terimakasih.

“ Apa Hyoyeon menggunakan darahmu setiap ia makan?”tanya Taeyeon, Namjoo mengangguk pelan sambil meringis kesakitan.

“ Ya.. karena aku satu-satunya manusia yang tinggal dengannya.”

“ Jika sekarang kau memilih untuk tinggal dengan kami, kau harus memberi darah untuk lebih dari satu penyihir. Kau tidak masalah dengan itu?”

“ Kurasa tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak punya keinginan lagi untuk kembali pada Hyoyeon. Walaupun aku menyayanginya, alasanku untuk tinggal dengannya hanyalah karena ia adalah sisi lain ibuku yang sudah meninggal. Tapi sekarang.. wajahnya sudah berbeda, ia menggunakan tubuh orang lain. Aku tak bisa menganggapnya ibuku lagi.”

Selain tak tahan dengan segala rencana jahat yang disusun Hyoyeon, alasan Namjoo untuk melepaskan diri dari penyihir itu juga karena kini Hyoyeon menggunakan tubuh Yookyung seutuhnya. Ia terlalu malu menggunakan tubuh aslinya yang setengah cacat karena tersiram satu rak ramuan pembunuh saat bertarung dengan L di villa itu.

“…jadi, tolong percayalah padaku. Aku berada di pihak kalian sekarang. Aku tak lagi mendukung apapun yang dilakukan Hyoyeon. Ibu angkatku adalah Kim Hyoyeon yang dulu, bukan yang sekarang..”

Taeyeon terdiam sejenak, hingga ketika ia lihat Lin dalam gendongannya yang mengangguk pelan, ia baru percaya.

“ Kalau begitu tunjukan dukunganmu pada kami.”tantang Taeyeon. Namjoo mengambil silet dari tangan Taeyeon dan menggores pergelangan tangannya lagi.

“ Ambil saja sampai kalian kenyang. Tidak apa-apa. Aku anak yang sehat.”

Taeyeon tersenyum tipis, ia lantas menggerakkan sedikit jeruji penjara untuk membangunkan L yang masih saja tidur membelakangi mereka.

“ L Kim.. bangunlah! Kita punya darah segar pagi ini. Mungkin bisa menjernihkan pikiranmu..”

“…”

“ Apa ia marah karena aku mengurungnya disini?” Taeyeon sedikit merasa bersalah, “…aku hanya tak mau dia gegabah tadi malam.”

Pelan-pelan, Taeyeon mengarahkan tongkat sihirnya menuju anak semata wayangnya itu, mencoba menyengatnya agar mau terbangun.

“ Bangun, L!”

“ AAHH!!”

Lelaki itu langsung bereaksi dan terguling di lantai. Rantai di tangan dan kakinya sampai terlepas sendiri. Taeyeon langsung berdiri dan memasuki penjara ketika menyadari wajah tampan L begitu pucat dan leher bertatonya terluka hingga mengeluarkan darah. Namjoo tak kalah terkejut, apakah dugaannya benar?

“ Anakku.. apa yang terjadi? L!!!” Taeyeon panik, L mencoba bernafas dan memegang Taeyeon erat.

“…maaf, maaf L.. aku tidak bermaksud menyakiti…..”

“ Terimakasih. Terimakasih, Taeyeon. Kau menyelamatkan nyawaku. Kukira aku sudah tamat..”

“ Apa maksudmu!?”

L meraba lehernya yang mengeluarkan darah, “ Argh!! Brengsek! Mengapa dia tidak mau dengar!?”

“ Apa yang terjadi, L? aku tidak mengerti..mengapa kau sampai berdarah…..”

“ Dimana Sunny!?”

“ Justru itu.. aku mencarinya sejak pagi, dia menghilang.”

Andwae! Semoga aku belum terlambat!”

L berdiri, bergegas keluar dari penjara dan menghilang begitu saja.

“ Kemana dia!?”Taeyeon ikut panik, Namjoo segera mengambil Lin dari gendongan Taeyeon.

“ Kejar saja, biar aku yang jaga Lin disini.”

Meski sedikit ragu, Taeyeon tak punya pilihan.

Ia ikut menghilang, mencari L.

***

 

“ PENGUMUMAN!!! Peraturan resmi ada di mading! Peraturan resmi ada di mading!”

 

“ Heh, cek sana!”

Sungyeol menyenggol Chorong yang sejak tadi hanya melamun di hadapan Myungsoo, memperhatikan lelaki itu mengerjakan tugas sekolah mereka dengan serius, pekerjaannya sendiri justru diabaikan.

“ Kau saja sana.”sahut Chorong tanpa menoleh, “…kau juga main kartu saja sejak tadi.”

“ Sudah..sudah..tidak usah ke mading, besok juga peraturan resminya ada di buletin.”Myungsoo menengahi sambil terus serius dengan tugasnya.

“ Kau masih mau jadi loper buletin setiap selasa?”tanya Sungyeol, Myungsoo mengangguk.

“ Sudah kubilang tidak usah kerja dulu.”

“ Aku harus kerja, brother. Lagipula hanya jadi loper buletin, ada Kai yang membantuku. Itu pekerjaan mudah dan sekolah secara sukarela memberi upah. Sayang kalau kutinggalkan.”

“ Ah.. iya, apa kejutan yang kau maksud tadi pagi itu Kai?”tanya Chorong, Myungsoo kembali mengangguk, kali ini dengan wajah berseri.

“ Dia kembali. Aku senang sekali.. aku lebih senang ketika tahu ia baik-baik saja. Tapi dia bilang banyak yang ingin ia ceritakan.”

“ Hmm.. jadi itu alasanmu mengerjakan tugas cepat-cepat?”

“ Haha.. iya. Ini, aku sudah selesai. Aku pergi dulu ya. Kalau sempat aku akan kembali kesini.”Myungsoo memanggul tasnya kemudian mendorong sedikit buku tugasnya ke tengah meja, “…daripada buang-buang waktu lebih baik salin dulu punyaku, maaf ya kalau ada yang salah. Kita pelajari sama-sama nanti malam.”

“ Wah, kau memang pahlawan tugas.” Sungyeol buru-buru menyalin tugas milik Myungsoo.

“ Kau mau kemana, Myung?”tanya Chorong.

“ Ke kelas Kai. Ya sudah, aku pergi ya!”Myungsoo melambaikan tangannya dan tersenyum pada kedua sahabatnya itu, lalu berlari kecil keluar dari gedung perpustakaan.

Chorong kembali melamun setelah itu. Meski tak berbuat apa-apa, tingkahnya cukup mengganggu Sungyeol.

“ Kenapa kau jadi begini? Myungsoo juga pasti terganggu melihatmu begitu, hanya dia diam saja.”

Chorong sedikit salah tingkah, “ Tidak.. aku.. hanya masih tidak menyangka saja kita bisa berkumpul bertiga lagi. Dengan.. dengan Myungsoo sebenarnya. Ini sulit dipercaya, kan?”

“ Hm. Seharusnya kita berterimakasih pada Kim Hyoyeon.”

“ Kim Hyoyeon? Bukan Naeun?”

Sungyeol menggeleng, “ Naeun hanya membuat ramuannya dan dia sembunyikan tiga botol di bawah pembaringan jasad Myungsoo. Hyoyeon yang menemukannya. Karena aku ada disitu juga, aku memberinya pada Myungsoo dan Haeyeon. Sedangkan Hyoyeon menggunakan itu untuk Namjoo, anaknya yang pernah dibunuh oleh L.”

“ Sebentar. Kim Haeyeon? Jadi yang dipenjara itu benar-benar…”

“ Ah, ya.. benar itu Kim Haeyeon, bukan Taeyeon. Maaf aku lupa mengatakannya, kukira kau sudah menyadarinya. Logika saja, mana mungkin Taeyeon sudi dipenjara.”

“ Bodohnya aku, kukira itu Taeyeon.”

“ Sejak kapan kau pintar, Park Chorong?”

“ YA!” Chorong melempar penghapus ke arah Sungyeol, “…aku serius! Kalau begini aku jadi kasihan dengan Kim Haeyeon. Harusnya dia yang jadi kepala sekolah.”

Sungyeol tertawa kecil.

“ Kurasa dia ikhlas saja, lagipula memang dia yang menghibahkan jabatannya pada Sunggyu songsaenim. Dalam ramalanku, Haeyeon sudah membuat kesepakatan tertentu dengan Naeun, untuk menebus kesalahan L yang membuat Haeyeon dipenjara.”

“ Benarkah?? Kesepakatan apa?!”Chorong menarik kursinya dan mendekat pada Sungyeol.

“ Aku tidak bisa tahu secara jelas. Tapi kurasa ada hubungannya dengan Myungsoo. Kau tahu sendiri kan Haeyeon sangat sayang pada Myungsoo.”

“ Kesepakatan dengan Naeun.. ada hubungannya dengan Myungsoo..” Chorong berperasaan buruk dengan hal itu, “…apa Myungsoo tahu?”

Sungyeol menggeleng, “ Lihat sendiri, kan? Myungsoo masih berpura-pura tidak tahu siapa Naeun sebenarnya.”

“ Mungkinkah.. kau tahu apa tujuan Myungsoo seperti itu? Aku merasa.. dia agak.. ah, maksudku.. dia sangat perhatian dengan Naeun.”

“ Kau cemburu?”

“ Memangnya kau tidak cemburu!?”

“ Aku sedang mencoba melupakan perasaanku pada Myungsoo. Jadi aku anggap sikap Myungsoo itu wajar, ia akan melakukan apapun untuk berterimakasih pada Naeun, walaupun masih berpura-pura begitu.”

“ Haruskah aku peringatkan Myungsoo tentang betapa jahat dan kejinya L agar dia tidak terlalu perhatian lagi dengan Naeun..”

“ Aish.. sudahlah, jangan berlebihan. Aku bahkan tidak mau banyak terlibat lagi dengan hal-hal yang berhubungan dengan penyihir itu. Sebaiknya pikirkan Woohyun-mu saja, dia tidak ada basa basi setelah bertemu Myungsoo, kau jangan membuatnya semakin marah.”

Nam Woohyun. Terdengar kejam memang, tapi Chorong baru ingat ia sudah bertunangan dengan lelaki itu. Apa karena terlalu bahagia dengan kehadiran Myungsoo ia jadi lupa begini? Bahkan sekarang pikirannya lebih terfokus pada rasa penasarannya tentang Myungsoo yang terlalu perhatian dengan Naeun. Meski barusan Myungsoo pamit untuk ke kelas Kai, tetap saja ia merasa tak tenang.

“…ya sudahlah kerjakan tugasmu.”tegur Sungyeol pelan.

“ Yeol.”

“ Apa?”

“ Kai sekelas dengan Naeun, kan?”

***

 

“ Dari awal kelas dimulai aku penasaran apa yang kulihat memang benar Son Yeoshin. Aku kira kau ikut menjaga negeri Junghwa, rupanya kau disini. Kukira kita bisa memiliki pertemuan yang cukup bagus. Tapi aku tidak menyangka kau terlihat seperti orang gila hari ini.”

Naeun mengangkat kepalanya, agak terkejut melihat Kai duduk di depan mejanya.

“…ah, syukurlah aku benar. Walaupun wajahmu tertutup masker begitu, tapi aku tahu kau Son Yeoshin.”

“ Ah.. Kai, selamat datang. Bagaimana kabarmu?”

“ Aku.. baik, tentu saja. Kau….”

“ Bagaimana caranya kau pulang kesini?”tanya gadis itu dengan nada putus asa, Kai agak heran.

“ Tentu saja dengan portal. Memangnya dengan apa lagi?”

“ Portal? Portalnya bisa terbuka?”

“ I..iya.”

“ Tidak mungkin! Harusnya milikku bisa juga.. harusnya bisa..”

Naeun buru-buru berdiri dan keluar kelas dengan langkah cepat.

BRUK!

Gadis itu menabrak bahu seseorang yang hendak memasuki kelas. Saat tahu siapa orang yang ditabraknya, ia berusaha bersikap sopan meski hatinya semakin terguncang.

Jeosonghamnida, Myungsoo sunbae.

Naeun mempercepat langkahnya, tak lama setelah itu Kai keluar dan mengejarnya. Myungsoo hanya bisa menyaksikan mereka dengan wajah heran.

“ Hei!! Cerita dulu ada apa!!”teriak lelaki itu sambil terus berlari, “…waktu itu masih bisa terbuka dua hari yang lalu! Dua hari yang lalu!!” Kai mengeraskan teriakannya karena lelah mengejar Naeun, gadis itu berhenti sejenak dan berbalik.

“ Dua hari yang lalu?”

“ Iya. Lalu kenapa… hei!!”

Naeun berlari lagi entah kemana, Kai menyerah.

“ Ada apa, Kai?”Myungsoo menghampirinya, Kai menyadari sesuatu.

“ Eh.. hyung.. kau..kau lihat siapa yang menabrakmu tadi kan?? Kau lihat siapa yang kukejar tadi??”

Myungsoo mengangguk saja, Kai membesarkan matanya.

“ Kau tahu dia siapa???”

Myungsoo tersenyum kecil dan menatap sosok Naeun di depan mereka yang perlahan menghilang, “ Lebih dari itu, ia bahkan sudah tahu aku ada.”

“ Kau serius!?”

Myungsoo mengangguk, Kai tak menyangka keadaannya sudah seperti ini. Rasanya aneh saja melihat Naeun bertemu dengan Myungsoo.

“ Sudah.. jangan syok begitu. Nanti kujelaskan.”Myungsoo menenangkan Kai dan mengajak adiknya itu pergi ke asrama putra.

***************************************

 

“ Kenapa L dan Taeyeon belum kembali? Sekarang aku mulai takut..”

Dengan masih menggendong Lin, Namjoo meninggalkan area penjara dan mulai menyusuri istana, mengajak putra L dan Yeoshin itu berjalan-jalan.

“…Lin, aku minta maaf ya. Saat pertama bertemu denganku, aku yakin kau tidak menyukaiku. Aku keliatan sekali membenci L..” Namjoo mengelus rambut halus Lin, “…aku selalu berpikir untuk menghancurkannya demi Hyoyeon, sekaligus balas dendam karena dia pernah membunuhku. Tapi seharusnya aku sadar dari dulu, menghancurkan L sama saja membuatmu menderita, padahal anak sekecil dirimu tidak salah apa-apa..”

Lin hanya menatapnya dengan polos lalu mengangguk pelan kemudian tertawa kecil.

“…lagipula aku sudah hidup lagi, bahkan bisa sekolah di sekolah sihir walaupun aku manusia. Mendukung Hyoyeon untuk menghancurkan L malah akan membuatku kehilangan guru terbaikku.”

Kali ini Lin mengarahkan matanya menuju suatu ruangan yang hendak mereka lintasi, jemari kecilnya tepat menunjuk ruangan tersebut.

“…kau ingin kita masuk? Baiklah..” merasa keadaan aman, Namjoo memasuki ruangan yang ditunjuk oleh Lin.

Perpustakaan milik Madame Sunny.

Aigoo..buku apa ini?” Namjoo takjub melihat sebuah buku luar biasa tebal yang dipajang di tengah ruangan, ia bahkan harus menaiki tangga untuk membuka halaman pertamanya.

Lin tampak sangat gembira, dengan sedikit susah payah ia membuka bukunya dan mengamati daftar isinya. Namjoo merasa gemas, apa Lin sudah sepintar ini?

“ Ini buku hukum sihir yang paling lengkap. Pantas saja setebal ini..”Namjoo ikut penasaran melihat isinya, “…Lin, kau sudah mempelajari ini?”

Lin mengangguk-angguk, rupanya ia menyerap apa yang dibacakan L setiap malam jika ia tak bisa tidur. L memang rajin membacakan hukum-hukum sihir untuknya. Ia bahkan mengingat juga bahwa Yeoshin pernah sedikit memperkenalkannya pada dunia ramuan.

Penyihir kecil itu meletakkan tangannya di atas kertas buku, hingga buku tersebut membuka halaman yang ia inginkan dengan sendirinya. Namjoo benar-benar kagum.

“ Wow, kau hebat! Apa yang ingin kau baca?” Namjoo mulai membaca isi halaman yang ingin Lin tunjukkan padanya.

 

[Buku Hukum Sihir halaman 1221, tentang pemakaian tubuh secara permanen dan sementara]

 

Pemakaian tubuh permanen :

Penyihir yang memiliki tato pada tubuhnya mampu menggunakan tubuh orang lain selamanya hanya dengan dua syarat, pemilik tubuh yang sebenarnya haruslah orang yang sudah mati, dan orang tersebut haruslah manusia biasa, bukan sesama penyihir.

Resiko :

  1. Tubuh yang dimiliki seutuhnya tak hanya ciri fisik yang terlihat di luar. Tapi termasuk golongan darah dan penyakit.
  2. [terhapus]

 

Pemakaian tubuh sementara :

Karena bersifat sementara, selain menggunakan tubuh manusia biasa, penyihir yang memiliki tato pada tubuhnya juga bisa menggunakan tubuh sesama penyihir. Keduanya memiliki syarat yang sama : pemilik tubuh asli haruslah sedang tertidur ketika tubuhnya digunakan.

Resiko :

  1. Dalam tidurnya, pemilik tubuh asli akan tahu bagaimana si penyihir menggunakan tubuhnya melalui mimpi.
  2. Mimpi yang terjadi dalam tidur pemilik tubuh asli bukanlah mimpi biasa. Apabila tubuhnya terluka saat digunakan, maka ia akan terluka juga. Jika tubuhnya terbunuh saat digunakan, si penyihir yang menggunakan tubuhnya jelas mati. Namun ada satu keuntungan, pemilik tubuh asli dapat menghindari resiko kematian dengan dibangunkan secara paksa dari tidurnya.

 

Catatan : *) Resiko dalam “pemakaian tubuh permanen” tidak berlaku apabila penyihir tersebut menggunakan tubuh sisi baiknya.

 

Namjoo kini menatap Lin.

“ Inikah yang ingin kau sampaikan?”

Lin menggangguk dengan mata besarnya yang kini memerah dan berkaca-kaca. Namjoo masih tak percaya, rupanya Lin sudah tahu situasinya.

Situasi dimana Hyoyeon memakai tubuh Yookyung secara permanen. Dan..

Situasi dimana semalam, Sunny memakai tubuh L secara sementara.

***

 

Flashback, tengah malam lalu…

 

Madame Sunny masih betah bersandar di mulut pintu penjara, sebisa mungkin mengajak rasa kantuknya untuk berkompromi. Ia tak bisa meninggalkan L barang sedetikpun, lelaki itu sedang dalam puncak emosinya karena terancam tak bisa bertemu lagi dengan Naeun selama-lamanya. Karena sebelumnya baik Sunny, L, maupun Taeyeon tak ada yang menyangka Hyoyeon akan mengubah resep ramuan portalnya.

“ Sampai kapan kau akan begitu? Tidur sana.”

Madame Sunny tertawa sinis mendengar perintah L.

“ Kemudian sebelum aku memasuki alam mimpi kau sudah kabur dari sini dan mendatangi Hyoyeon. Tak akan kubiarkan.”

“ Kau sedang melindungiku atau Hyoyeon?”

“ Atas dasar apa aku melindungi Hyoyeon?”

“ Aku tahu kalian sahabat sejak kecil. Apa kalian masih saling menyayangi satu sama lain?”

Madame Sunny mengangkat bahunya, “ Entahlah.”

“ Kau berpihak pada Hyoyeon, kan? Makanya melarangku membunuhnya malam ini.”

Madame Sunny memutar bola matanya, mencoba menahan diri untuk tidak mengajak L berkelahi.

“ Mengapa kau selalu berpikiran buruk? Bukan cuma aku yang melarangmu. Taeyeon juga.”

“ Kalau begini kapan selesainya?! Kalian tega membiarkanku tidak bertemu Yeoshin selama-lamanya?”

Penyihir istana itu diam sejenak, memikirkan sesuatu yang sejak tadi muncul dalam kepalanya namun belum ia ungkap juga.

“ Buku sihir halaman 1221, poin kedua. Ayo lakukan itu.”

L memicingkan mata elangnya. “ Kau sinting?”

Madame Sunny tersenyum, “ Tidak. Kau tidak lihat aku ingin membantumu?”

“ Membantuku?”

“ Dengar. Ini sangat mudah. Saat ini Hyoyeon pasti sedang menunggumu untuk menyerangnya karena ia yakin Namjoo lari dari rumah dan datang padamu. Jika kau yang datang dan menantangnya, kau pasti akan langsung mati. Ia dalam keadaan sangat siap untuk membunuhmu. Dan–”

“ Aku juga sangat siap membunuhnya.”

“ Dasar anak muda, kau mengedepankan emosimu saja. Bagaimana kalau kau benar-benar mati? Kau punya banyak tanggung jawab. Jangan bertindak konyol atau kau akan membuat Taeyeon, Yeoshin, dan Lin sengsara. Mereka keluargamu, bagaimana keadaan mereka jika kau mati?”

“ Lalu apa maksudmu mengajakku melakukan apa yang ada di halaman 1221 itu?”

“ Aku mengunjungi Hyoyeon, dengan tubuhmu.”

“ Kau sungguh sinting, untuk apa!?”

“ Jika aku beruntung, Hyoyeon pasti akan langsung menyerangku. Dengan begitu aku akan tahu dengan cara apa ia akan membunuhmu. Dan.. aku akan jamin aku akan mendapatkan kertas halaman rahasia itu bagaimanapun caranya, agar kita bisa membuat ramuan portal lagi.”

“ Mengapa kau tidak datang saja sebagai Sunny? Itu akan lebih aman, Hyoyeon tidak akan membunuhmu.”

“ Ia akan sangat curiga jika aku tiba-tiba datang sebagai diriku. Sejak sepuluh tahun lalu, aku dan dia tidak pernah bertemu muka meski jarak tempat tinggal kami tidak begitu jauh. Jika aku datang sebagai kau, banyak yang bisa kita dapatkan.”

L masih menolak ide Sunny mentah-mentah. Namun penyihir istana itu tetap melanjutkan penjelasan strateginya.

“…pertama, dengan tubuhmu aku mendapat kekuatan tambahan, itu membantuku untuk merebut buku Hyoyeon, setidaknya halaman rahasianya. Tujuan utamaku adalah resep baru itu, agar Yeoshin bisa pulang.”

“…kedua, aku akan tahu bagaimana cara Hyoyeon membunuhmu. Jika aku selamat, aku akan memberitahumu, jadi kau bisa melakukan pencegahan jika suatu saat harus berhadapan dengannya.”

“ Kalau kau tidak selamat?”

Madame Sunny tersenyum, “ Tidak apa-apa. Aku tidak mati sia-sia. Setelah Hyoyeon menyadari bahwa bukan kau yang dibunuhnya, tapi aku.. ia akan sangat menyesal dan menjadi kacau. Disaat itulah ia akan sangat lengah, kau bisa membunuhnya dengan lebih mudah.”

Seandainya L masih sejahat dulu, ia akan sangat berterimakasih jika ada yang ingin berkorban nyawa untuknya. Namun saat ini, ia tak bisa menerima ide Madame Sunny sama sekali.

“ Kau sadar apa yang telah kau pikirkan? Kau ingin mempertaruhkan nyawamu demi aku? Apa kau tidak salah? Kau tahu sendiri kan sejak dulu hubungan kita tidak begitu baik.”

“ Tidak hanya demi kau, L. tapi untuk Yeoshin. Untuk Taeyeon, dan untuk Lin. Bahkan untuk semua murid di sekolah sihir. Mereka semua keluargamu, muridmu, dan mereka memerlukanmu. Aku hanya tak bisa membayangkan seperti apa mereka jadinya jika kau mati. Jadi aku ingin memudahkan jalanmu untuk menyelesaikan dendam Hyoyeon.”

“ Kau sama sekali tidak memikirkan nyawamu?”

Madame Sunny menggeleng.

“ Aku tidak begitu menyesal jika memang aku mati, toh cita-citaku sebagai penyihir istana sudah lama tercapai. Aku juga tidak punya tanggung jawab apa-apa lagi. Aku tak punya keluarga dan murid sepertimu.”

“ Kau sedang bercanda, kan? Jangan sia-siakan hidupmu yang sudah sempurna.” L menggelengkan kepalanya tanda tetap tak setuju.

 

Namun tak lama setelah itu, L jatuh tertidur. Saat itu juga ia bermimpi berjalan keluar dari istana setelah sebelumnya mengancam Namjoo untuk tidak mengatakan pada siapapun.

 

Madame Sunny benar-benar menggunakan tubuhnya.

***

 

“ Inilah mengapa aku berterimakasih padamu, Taeyeon. Seandainya kau tidak membangunkanku, mungkin aku ikut mati konyol..”

L masih berlutut di depan pohon besar itu, airmata dan peluh dinginnya tak berhenti menetes. Ia benar-benar kacau.

Taeyeon membeku seperti es di belakangnya, tak berani mendekati Madame Sunny yang sudah tergantung tak bernyawa dengan mata terbuka di pohon besar itu. Berlapis-lapis akar gantung melilit di lehernya hingga berdarah. Inilah alasan mengapa L terbangun dengan leher yang ikut berdarah.

“ A..ayo..ayo kita bawa ke istana dulu. Aku tidak tahan..” Taeyeon memberanikan diri dan memutus akar tanaman tersebut dengan tongkat sihirnya kemudian membaringkan jasad penyihir istana itu di tanah.

“…Sunny.. andwae.. andwae.. bangunlah.. bangun!”

Taeyeon tak mampu membendung tangisannya lagi, ia memeluk jasad Madame Sunny dan menangis sekeras yang ia bisa.

“ Biar sajalah, ini yang dia inginkan.”ucap L datar, Taeyeon yang sudah berlumuran airmata hampir memukulnya.

“ KENAPA KAU BERKATA SETEGA ITU!!??”

“ AKU SUDAH MELARANGNYA!!”

Taeyeon kembali menangis, L justru menarik jasadnya dari pelukan ibunya itu.

“ Sunny berpikir kau akan menangis lebih gila lagi jika yang mati adalah aku.”

“ Aku tak ingin siapapun mati..”

“ Tapi bibi tak akan berhenti sebelum ada yang mati.”

L masih menahan airmatanya, perlahan menutup kedua mata Madame Sunny dengan tangannya.

“ Kerajaan akan kehilangan penyihir istana terbaiknya. Tenanglah di dalam kegelapan sihir yang abadi.”

 

Taeyeon menyeka airmatanya, kemudian mengambil tongkat sihir yang masih ada di tangan kanan Madame Sunny. Seketika itu juga, satu dari empat tato milik Taeyeon menghilang, pertanda bahwa kini ia yang menggantikan Madame Sunny sebagai penyihir nomor tiga.

Sementara L memeriksa tangan kiri penyihir istana tersebut, ia menemukan sesuatu yang lain.

Sang madame menggenggam satu gumpalan kertas.

Halaman rahasia milik Hyoyeon.

Resep baru portal itu.

“ Dia tidak bercanda. Dia mendapatkannya..”

L masih tak percaya, dengan terburu-buru ia buka gumpalan kertas tersebut, namun …

SRAKK!!

Seekor merpati hitam menyambar kertas tersebut dengan cakarnya dan membawanya pergi jauh. L terkejut, darah segar mengalir dari pergelangan tangannya akibat cakaran burung itu.

“ Ada apa?”

“ Tidak.. tidak!! Halamannya!!!” L berlari kencang, mencoba mengejarnya, namun burung itu sangat cepat menghilang dari pandangannya.

 

“ Hyoyeon?”

L menoleh, mendengar Taeyeon mengucap nama penyihir itu.

“ Kau melihatnya?”

Taeyeon mengangguk, menunjuk ke belakang pohon.

 

“ Tapi dia sudah menghilang.”

***

 

“ Potongannya seperti Hoya saja, hyung. Itu sedang jadi tren saat ini.”

Myungsoo tertawa, setelah membersihkan sisir dan guntingnya, ia mulai memotong rambut Kai.

“ Hoya benar-benar populer, ya. Dia juga sangat baik..”

“ Seharusnya aku yang populer.”

“ Maksudmu?”

“ Dulu.. saat audisi Seoul Dance Competition itu.. akulah yang ingin mengikutinya. Di perjalanan menuju lokasi audisi, L menculikku, dan formulirku diberikan pada Hoya. Mungkin kalau itu tidak terjadi, keadaan tidak akan begini.”

Myungsoo tersenyum dan mengusap kepala Kai dengan lembut, “ Sudahlah, sudah terlanjur, kan? Hyung akan mengizinkanmu jika kau mau ikut audisi season 2.”

“ Hah?? Serius? Aku boleh audisi season 2??”

“ Eitss.. tapi janji pada hyung, kau harus tetap menjaga nilaimu disini. Bagaimanapun juga sekolah lebih penting.”

“ Aku janji, hyung!! Aah.. gomawo.. kau memang yang terbaik.” Kai tersenyum bahagia, “…kalau begitu, beri aku potongan rambut yang keren!”

“ Siap!” Myungsoo memangkas rambut adik satu-satunya itu dengan hati-hati.

 

“ Ng.. hyung..”

“ Kenapa?”

“ Soal Naeun tadi..”

“ Ah, kau pasti penasaran bagaimana aku dengannya.” Myungsoo sedikit kikuk, saat ia menoleh ke arah jendela, ia menangkap sosok gadis itu duduk sendirian di atas atap asrama putri.

“…pertemuan kami cukup unik. Dengan mata kepala sendiri aku melihat dia keluar dari portal. Bisa ditebak, dia sangat terkejut melihatku.” Myungsoo masih saja menatap Naeun yang ada di atap sana, “…dan dia kecelakaan saat menghindariku. Aku menjaganya di rumah sakit beberapa hari.”

“ Benarkah? Ya Tuhan, rupanya sudah sejauh itu. Apa kalian sudah saling tahu tentang diri masing-masing?”

Myungsoo menggeleng.

“ Sebenarnya ini salahku, aku berpura-pura tidak tahu siapa dia. Aku hanya ingin menciptakan obrolan yang normal setiap bertemu dengannya, jadi aku berpura-pura begini. Aku hanya tak ingin ia menghindariku. Saat ini saja kelihatannya dia tidak ingin terlalu akrab denganku.”

“ Dia pasti terkejut kau hidup kembali, hyung.”

“ Ya. Dia terkejut, tapi ia pasti pernah menduga. Karena dialah penyebabnya. Dia yang memberiku kehidupan dengan ramuan yang ia buat.”

“ Jadi..kau hidup karena ramuannya??”

“ Ya. Meski ia hanya menyembunyikan ramuannya di bawah pembaringanku dan Sungyeol yang memberinya padaku. Tapi tetap saja, tanpa ramuannya aku tak mungkin kembali.”

Kai ikut menatap Naeun dari jendela.

“ Selesai memotong rambutku, kau harus menemuinya, hyung. Bagaimanapun juga kau tidak bisa terus berpura-pura. Kau harus berterimakasih padanya. Aku juga akan berterimakasih, setelah kau.”

 

“ Apa yang harus kulakukan? Ia terlihat kacau hari ini.”

*****

 

“ Dua hari yang lalu.. kenapa hari ini tidak bisa..? ini salahmu! Ini salahmu!”

 

Myungsoo menjaga langkah kakinya, tak ingin terdengar oleh Naeun yang sedang mengomel membelakanginya. Gadis itu tengah menggambar di atas buku sekolahnya.

Gambar wajah Myungsoo.

Tidak, wajah L. karena Naeun terus mengomeli gambarannya sendiri.

“ Kalau aku bisa pulang nanti, aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!!” Naeun menunjuk-nunjuk gambarannya dengan jengkel. Myungsoo merasa geli, menurutnya gadis itu malah semakin imut disaat sedang stress seperti ini.

 

“ Wajah seperti itu terlalu tampan untuk dibunuh.”

“ Heh?” gadis itu menoleh, terkejut mendapati sosok Kim Myungsoo dibelakangnya, “…sunbae?”

“ Kau ingin membunuhnya?”tanya Myungsoo santai sembari duduk disamping gadis itu. Ah, basa-basi yang tepat. Akhirnya ia bisa membuka obrolan.

“ Eh.. t..tidak..” Naeun mencoba menyembunyikan gambarannya, namun dengan sedikit tega Myungsoo merebut buku gambarnya.

“ Gambarnya sudah sempurna, tidak usah dilanjutkan lagi. Makan saja.” Myungsoo menukar buku gambarnya dengan satu cup ramen, Naeun menyambutnya saja meski dengan wajah bingung.

“…aku tahu kau tidak makan dari tadi pagi. Makanlah.”lanjutnya, Naeun mengangguk pelan dan membuka masker wajahnya lalu menyeruput kuah ramennya. Ia memang sedang kelaparan.

“ Eh?”

Gadis itu kembali menatap Myungsoo setelah sadar lidahnya merasakan sesuatu yang ‘pas’. Dilihatnya pergelangan tangan Myungsoo yang dililit perban.

“ Maaf ya, kalau darahku kurang enak.”ujar lelaki tampan itu tanpa menoleh, ia masih menatap gambar Naeun.

“ Kau…”

“ Makan dulu, nanti kita bicarakan.”

Meski surprise karena Myungsoo sudah tahu penyihir perlu darah untuk makan, Naeun terpaksa menurut saja dan makan dengan lahap, perutnya memang sangat kosong bahkan sejak tadi malam. Kenyataan bahwa portal tak bisa terbuka membuatnya hampir kehilangan semangat hidup.

“ Terimakasih.”

Naeun meletakkan cup ramennya yang sudah kosong, ia makan dengan sangat cepat.

“ Masih lapar?”

Gadis itu menggeleng, “ Sunbae, kau..”

“ Ya..maaf.. sudah menipumu. Aku tahu semuanya..tentangmu, bahkan tentang dia.”Myungsoo menatap gambar ditangannya, gambar L, “…dia keren sekali ya. Lebih keren dariku. Mungkin karena tatonya?”

Naeun tersenyum getir, mengambil gambar dari tangan Myungsoo.

“ Aku membenci orang ini.”

“ Benci?”

“ Ya. Aku benci, karena ia menyiksa fisik dan batinku. Aku benci, karena dia egois. Aku benci, karena sudah tak terhitung berapa orang yang ia bunuh. Aku benci, karena ia menikahiku…tapi..”

Meski tak tahu apakah Naeun mengatakanya dalam keadaan sadar atau tidak sadar, Myungsoo sedikit senang gadis itu terbuka padanya.

“ Tapi..?”

“ Tapi aku benci, karena ia membuatku khawatir. Aku benci, karena ia selalu ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku benci, karena ia terlalu melindungiku. Aku benci, karena ia membuatku merindukannya. Dan.. aku benci, karena ia berhasil merubah kebencianku menjadi cinta yang dalam..”

Myungsoo diam, membiarkan Naeun menangis lagi. Sedikit heran juga mengapa airmata gadis itu sepertinya tidak habis-habis.

“…uh, maaf..” Naeun segera menghapus airmatanya, “…tidak seharusnya aku bercerita ini padamu.”

“ Oh.. tidak apa-apa.” Myungsoo mengeluarkan saputangannya dan memberikannya pada Naeun.

Sunbae..

“ Ya?”

“ Kau.. baik-baik saja kan? Dengan situasi yang ada setelah kau bangun..”

“ Ya. Aku baik-baik saja, justru aku merasa bahagia. Jika ada kata yang bisa mewakili lebih dari bahagia, mungkin aku akan menggunakannya.”

“ Benarkah?”

“ Ya. Aku sangat.. sangat bahagia. Aku sampai tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih padamu.”

“ Tidak perlu berterimakasih, bukan aku yang memasukkan ramuan itu pada tubuhmu, aku hanya..–”

“ Jika kau tidak membuat ramuannya, aku tidak akan hidup. Simple.

“ Yah, aku tahu.”

“ Terimakasih, nona Yeoshin. Aku jadi percaya penyihir itu tak hanya ada di buku-buku dongeng. Rupanya ada di dunia ini, dengan bentuk yang menawan.”

“ Hahaha. Kau berlebihan..”

“ Ha! Kau tertawa. Syukurlah.. kukira kau bahkan tidak bisa tersenyum hari ini. Senang bisa menghibur.”

Naeun tersipu malu, ia tak tahu Myungsoo sampai memperhatikannya sejauh ini.

“ Maaf, kau pasti agak kesal karena aku tadi pagi.”

“ Tidak. Aku justru penasaran. kalau tidak keberatan, kau bisa jelaskan padaku.”

Naeun menunduk, merasa tak sanggup.

“…aigoo.. kau bahkan tidak pakai riasan apapun hari ini. Masalahnya berat banget, ya? Sampai tidak mau dandan..”

Naeun terkejut, Myungsoo memperhatikan wajahnya dengan agak dekat. Ia segera menutup hidung dan bibirnya lagi dengan masker.

“ Haha. Izinkan aku melakukan sesuatu, ya? Jeogi..”Myungsoo membuka masker di wajah Naeun pelan-pelan kemudian mengeluarkan tas kosmetik dari balik punggungnya.

“ Astaga. Untuk apa kau bawa itu? Kau dapat darimana?” Naeun merasa geli, apa Myungsoo tidak malu? Itu kotak kosmetik miliknya.

“ Aku minta dari Chorong sebelum kesini. Meskipun aku suka wajah alami perempuan, tapi jika mereka kelihatan tidak memperhatikan dirinya sama sekali, aku merasa itu tidak baik juga..”

Myungsoo mulai menyisir pelan rambut indah Naeun yang sejak tadi pagi berantakan. Sementara satu tangannya lagi menepuk-nepuk wajah cantik gadis itu dengan spon bedak tipis-tipis.

Ini memalukan.

Lalu kenapa gadis itu tak bisa meminta Myungsoo untuk berhenti?

Ini seperti mengulang masa lalunya, saat L merias dirinya ketika ia mengandung Lin. Caranya benar-benar sama seperti Myungsoo. Apa ini hanya sekedar kebetulan?

Ini membuatnya semakin mengingat L.

Airmatanya menetes lagi.

“ Aih.. luntur lagi kan..” Myungsoo mengusap airmata gadis itu dengan ibujarinya, “…jangan menangis, kukira penyihir itu makhluk yang kuat.”

“ Hiks..”

Gadis itu justru semakin sedih, tangisannya semakin keras.

“ Semoga L tidak membunuhku.”

Myungsoo menarik Naeun ke dalam pelukannya, mengusap rambut dan punggungnya dengan lembut, membiarkan Naeun menangis sepuasnya.

“ Portalnya.. portalnya tidak mau terbuka..hiks.. aku harus bagaimana..”

Lelaki itu terkejut, pantas saja Naeun sesedih ini. Tapi apa yang bisa ia perbuat?

 

Langit semakin gelap, Naeun nampak kelelahan menangis. Namun ia tetap berada dalam pelukan Myungsoo, perlahan memejamkan matanya dan tersenyum sejenak.

“ Sangat nyaman. Aku ingin terus seperti ini. Dalam pelukanmu, L.”

 

Ia menganggapnya L.

Ya, Myungsoo mengerti. Lelaki itu meremas liontin kalung milik L yang masih ia pakai di dalam pakaiannya. Liontin berisi aura itu memanas.

Myungsoo menatap Naeun yang tertidur pulas di dadanya.

 

“ Kenapa aku mulai berdebar?”

***

 

“ Krystal?? Krystal!”

Malam itu Hyerim terbangun dari tidurnya saat menyadari Krystal tak lagi disampingnya. Ia segera menyusuri lantai atas istana negeri Gwangdam, mencari adiknya. Apa Baekhyun membawanya pergi ke ruangan lain? Ini membuatnya takut.

“ Apa kalian melihat Krystal?”tanya Hyerim pada pengawal yang menjaga pintu-pintu.

“ Kami melihatnya berlari ke arah menara, tuan putri.”

“ Apa dia dengan pangeran Baekhyun?”

“ Tidak. Keluarga kerajaan sedang meninggalkan istana.”

Ini melegakan. Hyerim tak mau tahu mereka kemana, ia hanya berharap saat ini Krystal aman. Adiknya itu berada di menara? Itu memang tempat favoritnya mengurung diri.

“ Hyerim!! Ikut aku!!”

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara Krystal berteriak, sepertinya ia keluar sebentar dan berdiri di depan pintu masuk menara untuk menjemput kakaknya. Hyerim buru-buru berlari menghampirinya, Krystal kembali berlari menuju tempatnya berada sejak tadi.

Rupanya ia tak sendirian di dalam menara. Menara istana Gwangdam digunakan sebagai tempat eksperimen penyihir istana.

Dan rupanya sejak tadi, Krystal menghabiskan waktunya dengan penyihir istana negeri Gwangdam itu. Seorang penyihir perempuan yang mirip dengan seseorang di dunia nyata.

“ Sepertinya aku pernah melihatmu di dunia nyata.” Hyerim bergabung dan mengajak sang penyihir berkenalan.

“ Oh ya? Kau menemukan sisi baikku disana?”

“ Hm. Aku pernah bertemu dengannya sekali di apartemen kekasihku.”Hyerim mengingat-ingat, “…kalau tidak salah namanya Yura, ia seorang manajer artis.”

“ Wah. Aku senang ternyata aku punya ‘wajah’ di dunia nyata. Namaku Ahyoung.”penyihir itu menjabat tangan Hyerim, “…senang bertemu denganmu, putri Hyerim. Tapi aku sangat berduka dengan nasib kalian berdua disini.”

Hyerim menatap Krystal, adiknya itu sedang merenung di jendela menara.

“ Kukira kau berpihak pada pangeran…..”

“ Ya, tadinya aku berpihak padanya. Karena aku adalah pengagum pangeran Baekhyun, aku merasa dia adalah L versi manusia ketika sudah gila.”

“ Kau tahu L?”

“ Siapa yang tidak kenal dia? Bukan penyihir namanya jika tidak tahu siapa L Kim. Aku.. bisa dibilang salah satu penggemarnya.”

“ Penggemar?”

“ Ya. Kejahatannya membuatku merinding. Dia ikon semua penyihir jahat di dunia sihir.” Ahyoung tertawa, “…saat aku tahu dia diperbolehkan menikah setelah pertandingan sihir, aku semangat sekali. Kemudian tersebar rumor bahwa dia akan menikahi penyihir yang ahli membuat ramuan, sejak saat itu aku berlatih terus membuat ramuan hingga tercipta ruangan eksperimen ini. Tapi ternyata.. L menikahi Son Yeoshin, penyihir baik itu.. aku benar-benar patah hati.”

“ Aku juga patah hati!”celetuk Krystal, Hyerim geleng-geleng kepala.

“ Masih ingat saja dia soal itu.”Hyerim prihatin, “…mengapa adikku selalu ditakdirkan dengan orang jahat? Ini tidak adil baginya.”

“ Itulah yang membuatku kasihan pada putri Krystal, melihatnya seperti itu.. aku jadi tak berpihak lagi pada pangeran Baekhyun.”Ahyoung memperhatikan Krystal dengan iba, “…sejak tadi sore dia mendatangiku kesini, aku terkejut melihatnya babak belur seperti itu. Dan dia bilang padaku, kalau kau tak bisa membuka portal untuk membawanya kabur dari sini.”

“ Ya. Ini aneh, ramuan portalnya tidak berfungsi..”Hyerim sangat risau, Ahyoung memperlihatkan ramuan yang telah dibuatnya.

“ Krystal memberikan sisa ramuannya padaku, aku mencoba mengurai bahan-bahannya dan membuat ulang, tetap tidak bisa berfungsi. Kurasa pencipta ramuannya telah mengubah resepnya. Tapi.. bukankah Kim Hyoyeon, si legenda itu.. sudah mati?”

Ani..dia masih hidup.”

“ Hah? Astaga.. aku ketinggalan berita.”

“ Ahyoung, apa kau bisa membantu kami?”

“ Apa yang bisa kulakukan? aku ingin sekali membantu kalian pergi dari sini. Tapi.. aku tidak tahu resep baru portalnya..”

 

“ HAP!!”

Hyerim dan Ahyoung menoleh. Krystal berulah, ia menangkap dan mencekik seekor burung merpati hitam yang melintasi jendela menara.

“ Hei! Jangan menyiksa binatang! Lepaskan dia!” Hyerim mencoba menolong merpati itu, namun Krystal menjauhkannya.

“ Hahaha! Siapa suruh dia lewat di depanku!!”

“ Itu.. itu bukan burung biasa.”Ahyoung menghampiri Krystal dan memperhatikan burung yang dicekik gadis itu, “…ini burung sihir.”

Mwo..?”

Hyerim memperhatikannya, hingga ia menemukan sesuatu pada cakar burung tersebut, segumpal kertas.

Ia segera membukanya.

 

“ Jackpot!”

 

-To be Continued-

 

Maaf mesti bersambung disini, ada beberapa adegan lanjutan yang author pindahin ke part 6 karena part ini udah waduh panjangnya.

Oh ya, author juga minta maaf atas keterlambatan ngepost selama ini. Alasannya ya sibuk kuliah. Tapi.. berhubung sekarang author lagi libur panjang #eaa, aku usahain produksi(?) ff sebanyak mungkin, utang ff banyak sih TT *salah sendiri*

Soal ff Expectation vs Reality yang aku janjiin minggu-minggu lalu sepertinya mesti pending ._. author sedang fokus penuh untuk The Portal 2 yang kemungkinan bakalan tamat 3-4 part lagi. ff barunya mungkin dipost setelah The Portal 2 tamat aja.

Dannnn ff OSIR, yang mestinya aku apdet karena ini bulan puasa, masih aku usahain * karena masih mencoba ngelawak*. Harap maklum ya readers.. author berterimakasih sangatt kalau kalian masih mau baca meski sering telat apdet, hiks..

 

Oke, sampai ketemu di part berikutnya! Akan banyak kejutan di part 6~

 

Next >> Part 6 : Destiny

85 responses to “THE PORTAL 2 [Part 5 : Helpless]

  1. aaaaa~ gimana nihhb naeun nempel gerus sama myungsoo T.T
    L cepat datang ke naeun T.T
    semoga ramuan portalnya segera terbuat(?)
    next part!!!!

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s