[ONESHOT] “Nightingale”

nightingale

Nightingale

“Bring me peace…”

A oneshoot by Jihan Kusuma

copyright©2015|published with special arrangement by pixiexoxo and ffindo

cast : Luhan|Son Sanra

genre : suspense | supranatural | angst

Note :

hey hey akhirnya aku bikin juga oneshootnya Luhan. Lama engga nulis yan ada biasnya wkwkwk soalnya suka kitati kalo inget Luhan bukan member exo lagi ._. han orangnya emang baperan banget. Dan syukurlah udah mulai bisa nerima kenyataan.

Sudah jangan dibahas.

Han sendiri kurang paham genre ff ini. Ga tau apakah masuk kategori horror. Kayanya sih cuman supranatural. Jadinya engga aku tulis hehe

Mungkin setelah baca kalian bakal bisa nyumpulin sendiri. Apakah genre ff ini? >0< wkwk

Oke. Happy reading! ^0^

  • ••

NIGHTINGALE


Tidak pernah kuduga jika dunia dibalik kelopak mataku ternyata berlipat-lipat kali lebih luas daripada ruang kelas ini. Terbukti. Ketika kupejamkan kedua mata, kegelapan menyeruak kedalam penglihatan. Cobalah lihat sekeliling. Apa yang tersimpan didalam kegelapan itu? Tidak ada. Kosong. Tidak berisi. Sungguh sebuah ruang super lebar yang hanya diisi oleh kehampaan mutlak.

“Aw” pekikku begitu sesuatu mengenai kepalaku. Tutup spidol milik Sensei baru saja terlempar lalu menubruk kepalaku.

“Son Sanra.” panggil sebuah suara.

Ups.

Dengan perlahan dan takut-takut kuangkat dahiku dari perpotongan buku Bahasa Jepang yang terbuka lebar diatas meja. Aku meringis melihat raut seram Nakajima Sensei. Alisnya mengingatkanku pada burung-burung pada Angry Bird yang minta dilempar dari ketapel.

“Tidur lagi?” tanyanya dingin.

Tak pikir panjang. Aku segera meremas seragam SMAku sambil berlari terbirit-birit keluar kelas. “Aku harus ke toilet. Permisi Sensei.” kubungkukkan tubuhku singkat.

Teman-teman satu kelas tertawa melihat gelagatku yang tidak asing lagi. Mungkin setelah ini guru konseling akan memanggilku dan mengurungku di ruangannya dengan segudang omelan. Tentu saja kena marah. Ini bukanlah kali pertama maupun keduaku tertidur ketika pelajaran Bahasa Jepang. Ugh. Aku benar-benar benci huruf kanji.

Aku berlari hingga suara langkahku terdengar menggema di seluruh sudut koridor. Terlalu lama mendengarkan bahasa robot itu bisa membuatku kehabisan darah. Tidak heran jika tensiku menurun dari hari ke hari. Eomma pasti akan memaksaku menelan kapsul penambah darah. Pemakan darah. Ya. Kurasa aku telah berubah menjadi drakula.

“Sanra.” panggil seseorang dari belakang. Terdengar seperti suara seorang lelaki namun ketika aku menoleh, tidak ada seorangpun disana.

Kuhendikkan bahu. “Jelas sekali ada yang memanggilku.” kuputuskan untuk melupakan suara itu dan kembali berjalan.

“Son Sanra…” kali ini terdengar lebih lirih namun juga terasa lebih dekat. Dengan gerakan cepat kubalikkan tubuh. Dan sama saja. Tidak ada seseorang yang berdiri disana. Hanya ada dedaunan pada pot panjang disekeliling koridor yang meliuk-liuk karena tertiup angin. Tidak mungkin juga jika angin itu yang memanggilku.

Kupukul kepalaku. “Mungkin ketiduran di kelas membuatku menghayalkan hal yang tidak-tidak.” gumamku sambil berbalik.

“Son Sanra.” seorang wanita dengan kacamata kecil dan sanggul setinggi langit berdiri dihadapanku dengan tulang punggungnya yang tegap. Kuhembuskan nafas. Perpaduan antara perasaan terkejut dan lega. Ternyata yang terus menerus memanggilku tadi adalah ‘manusia’.

“Aish… Kim Saem membuat jantungku hampir jatuh.” kuelus dadaku sambil terus menerus menata ritme napas.

“Aku mendapat teguran dari Sensei. Kali ini kau harus di poin lagi karena tertidur untuk yang ke delapan kalinya. Nilai ujian Bahasa Jepangmu menurun lima angka setiap babnya.” oh aku hampir melupakan jika Kim Saem berpredikat guru konseling. Mungkin sudah terlambat jika harus habur sekarang.

“Ikut ke ruanganku.”

Apalah daya. Aku hanya bisa mengekori langkahnya yang sesempit langkah kaki bangsawan. Mungkin wanita ini tidak pernah merasakan rasanya terburu-buru seumur hidupnya. Lihat bagaimana caranya menyanggul rambut. Pasti kulit kepalanya tertarik hingga memutih. Bukankah bersikap prefeksionis itu cukup menyiksa?

Tunggu.

Suara yang kudengar tadi bukanlah suara seorang wanita.

  • • •

Hari-hariku di sekolah hampir tidak pernah terdengar baik. Setidaknya ‘hampir’. Apalagi akhir-akhir ini muncul sesuatu yang kerap menggangguku. Aku tidak tahu apakah itu halusinasi atau memang nyata. Namun suara-suara pengganggu yang terus menerus memanggil namaku itu tidak pernah mengijinkanku merasa tenang walau sehari. Ini semua terjadi sejak satu minggu yang lalu ketika di ruang laboratorium kimia. Aku mendapat nilai C untuk ulangan praktikum karena suara menjengkelkan itu terus bergema dalam lorong telingaku. Kurasa suaranya berasal dari kamar mandi laboratorium. Namun ternyata bukan. Beberapa anak mondar mandir keluar masuk kamar mandi dan tidak menemukan ‘apa-apa’ didalam sana. Maksudku, mereka tidak menjerit ketika melangkah masuk ke kamar mandi karena melihat sosok alien atau monster yang keluar dari lubang kloset. Yang jelas tidak ada siapapun di kamar mandi.

Hal yang sama terjadi ketika jam olah raga. Suara laki-laki itu seakan-akan muncul dari sela-sela rerumputan di lapangan yang tertiup angin. Pukulan tongkat kastiku selalu melenceng dan itu membuat timku tiga kali jaga karena kesalahan yang kuperbuat.

Oh ada apa ini.

Aku jadi merasa dibuntuti. Aku merasa ada seseorang atau sesuatu yang mengawasiku entah itu dari jauh maupun dari jarak yang bisa dihitung dengan langkah kaki. Bisikan misterius itu. Apa motifnya menghantuiku?

Tidak terasa aku sudah sampai didepan pagar rumahku yang tidak pernah terkunci. Hanya ditutup rapat karena karat-karat pada roda besinya membuat gerbang tua itu terlalu sulit dibuka dan membuat orang tuaku malas memasang gembok. Kurasa hanya keluargaku yang tahu bagaimana cara membuat gerbang itu mau terbuka.

“Aku pulang.” ucapku setengah berteriak sambil memasuki ruang tamu. Eomma yang sedang sibuk didapur langsung balas berteriak. “Kenapa pulang malam sekali?” tanyanya sambil memotong-motong jamur.

“Tugas kelompok.” jawabku. Aku tidak pernah berbohong masalah pulang malam. Meski dengan alasan terkurung di ruang konseling, aku akan tetap mengatakannya dengan jujur.

“Kau tidak lapar? Apakah teman-temanmu mengajakmu makan sore lagi?”

“Kali ini tidak.” jawabku sambil melepaskan dasi lalu menyampirkannya di kayu gantungan yang Appa buat sendiri. Appaku tidak serumah dengan kami. Dia bekerja di sebuah pengadilan di luar kota dan itu membuatnya pulang hanya sekali dalam sebulan.

Sesungguhnya aku bukan tipe gadis yang gemar berbicara. Entahlah. Aku tidak pandai berbicara. Mungkin karena alasan itulah tidak banyak teman sekelas yang mau berbagi jawaban tugas pekerjaan rumah denganku. Hanya beberapa. Dan mereka laki-laki.

Banyak yang berkata jika pergaulan antar laki-laki labih mengasyikan daripada relasi antara gadis-gadis. Laki-laki tidak mengenal drama dalam pertemanan dan itu yang membuatku nyaman dengan mereka. Mereka tidak pernah protes ketika aku terlambat mencuci rambut meski aroma bantal menguar dari rambutku yang selalu kuikat satu.

“Cepat mandi lalu kemarilah untuk makan malam.”

“Arasseo, Eomma.” jawabku sambil menutup pintu kamar.

Kutatap kamarku yang minimalis dengan tempat tidur lawas yang kutiduri sejak usiaku sepuluh tahun. Pada saat itu aku banyak memprotes masalah tempat tidur bayi yang berbau ompol. Oleh karena itu mau tidak mau mereka membelikanku yang baru dengan ukuran yang tentunya lebih luas. Jadi hampir sepertiga dari kamarku dipenuhi benda itu.

‘Sepertinya tidak mungkin jika ada orang lain selain diriku tinggal di ruangan sesempit ini.’ pikirku. Suara-suara itu juga sering terdengar ketika aku sedang berada di kamar sendirian. Bahkan didalam mimpiku. Kurasa dia berhasil menyusup melalui telinga dan tinggal didalam kepalaku. Terdengar mustahil. Namun bisa saja.

Dengan perasaan was-was kukunci pintu kamar lalu kumatikan lampu. Kegelapan memenuhi seluruh sudut ruangan kecil ini. Kamarku jadi tampak lebih penuh dengan lemari besar di seberang tempat tidur dan komputer bekas yang ada disamping jendela. Belum lagi jaket dan pakaian-pakaian yang tergantung disamping lemari.

‘Aku akan memergokimu dikolong tempat tidur.’ pikirku sambil meraih tongkat kasti yang tergeletak dibelakang pintu. Kugenggam benda itu penuh percaya diri. ‘Awas saja jika kau tertangkap. Seperti apapun wujudmu, aku akan memukulimu hingga tidak berbentuk lagi.’ tekadku sambil berjalan mendekati tempat tidur.

Kubungkukkan badanku dan mengintip, menajamkan penglihatanku karena gelap gulita dibawah sana. “Keluar kau.” ujarku terdengar mengancam. “Keluar sekarang.” ulangku. Dan sepertinya memang tidak ada apa-apa didalam sana. Hanya kehampaan. Mungkin hanya cicak atau debu.

Kutaruh tongkat pemukul itu diatas lantai. Aku jadi merasa bodoh. Kenapa aku bisa jadi separanoid ini? Ada seseorang yang diam-diam mengawasiku dari bawah kasur. Kenapa hal gila itu bisa terfikir olehku? Jika memang ada monster dibawah sana pasti sudah sejak lama kukurung dalam botol seperti jin. Kamar ini kutempati sejak aku dilahirkan.

Kuhembuskan nafas sambil menatap kegelapan disekeliling. Boneka Mandy milikku tersenyum dengan lebarnya menampakkan pipinya yang selalu merah dengan sorot mata menakutkan. Jam dindingku terdengar lebih cepat dan lebih keras dari biasanya. ‘Aku memang sudah gila.’ kupukul dahiku yang basah karena keringat dingin.

“Mencariku?” tiba-tiba sebuah suara terdengar dari balik tubuhku. Sontak aku menjerit dan meloncat kaget.

“Aaaa!” kuayunkan tongkatku sambil memejamkan mata. Tidak ada seseorang disana. Hanya kegelapan yang sama seperti yang ada dibawah tempat tidur. Tetapi suara itu semakin nyata. Benar. Ada seseorang disini selain diriku. Dan dia tidak tampak.

“Tunjukkan dirimu.” pintaku dengan jantung yang berdegup lebih cepat dari ketukan jarum jam. Namun suara itu tidak terdengar lagi. Sungguh aku benci dipermainkan.

Tiba-tiba pintu kamarku digedor dengan lumayan keras, membuatku sedikit berjingkat.

“Sanra. Supmu sudah dingin.”

  • • •

Baiklah ini semakin gila. Dia semakin dekat denganku. Suara itu mulai mengucapkan hal lain selain namaku. Seperti ‘hay’ ‘bingo’ ‘benar’ ‘teruskan’. Dan kata-kata yang sepertinya biasa keluar dari bibir seorang wasit atau pelatih basket. Aku benci seperti ini. Kantung mataku yang semula hanya berupa setengah lingkaran hitam jadi tampak lebih tebal. Seperti memar atau bekas tonjokan. Mungkin aku tampak lebih mengerikan sekarang.

Kuputuskan pergi menemui seseorang yang bisa membantuku. Bukan dukun, bukan peramal, dan wanita itu juga tidak setuju kupanggil cenayang.

Aku duduk didepan meja dengan kain putih yang menutup seluruh permukkan berbentuk bundar itu. Wanita dengan polesan bibir semerah darah tersenyum diseberangku. Aku tidak tahu apakah kalung berbulu-bulu yang dikenakannya itu benar-benar memiliki kekuatan ghaib atau sekedar pemanis dan syarat fashion seorang cenayang, yang pasti kalung itu tampak mengerikan. Sama seperti gelang-gelang hitamnya yang bergemerincing berisik.

“Apakah kau memberitahu orang lain tentang masalah ini?” suaranya seperti suara ibu tiri puteri salju yang sedang menanyai cermin ajaib. Sinis. Namun cukup bersahabat.

“Tidak. Satupun.” jawabku kaku, masih belum terbiasa dengan aroma parfumnya yang bisa kukata terlalu wangi, mungkin.

“Suara itu kau jumpai dimanapun kau berada.” itu bukan pertanyaan namun aku segera membalasnya “Ya.”

“Kau merasa diikuti?”

“Sebenarnya tidak juga. Namun suara itu yang membuatku merasa ada orang lain di kamar mandi selain diriku.” balasku sedikit ragu. Setidaknya aku jujur. Memang seperti itulah rasanya.

Dikeluarkannya setumpuk kartu dari bawah meja kemudian menaruh benda itu diatas meja dengan cara membeberkannya dalam kondisi tertutup. Aku bisa melihat setiap ujung tumpukan kartu yang mungkin totalnya tidak lebih dari dua puluh. “Pilih salah satu.”

Dengan kurang yakin, kutarik salah satu kartu dengan ujung telunjukku. Dia membukanya tepat dihadapanku, membuatku bisa melihat apa yang tersembunyi dibalik batikan hitam disisi lainnya.

Ada gambar seorang pria tua berjenggot tebal sambil membawa tongkat tengah berjalan di hutan. Pakaiannya tampak seperti tokoh-tokoh berhidung mancung dari masa romawi kuno atau mungkin pakaian dari peradaban para Budha. Jenggotnya kurang serasi dengan kepalanya yang botak, membuatku berfikir seharusnya rambut itu tidak tumbuh disekitar mulutnya.

“Kau melihatnya?” tanya wanita itu.

Aku jadi berfikir dimana seharusnya mataku terfokus. Apakah pada lelaki tua, tongkat, langit mendung, atau hutan pada kartu itu. Wanita itu tersenyum tipis seolah mampu mengetahui isi pikiranku, dan sepertinya memang begitu.

Telunjuknya yang tertutup cat kuku warna hijau tua menunjuk sesuatu dibelakang gambar pria tua. Ada banyangan dibelakang lelaki itu. Bayangan hitam yang tampak berbeda dari bayangan-bayangan lain di ‘dunia nyata’. Bayangan itu berjarak beberapa senti lebih jauh dari pria tua.

Aku berusaha menebak apa maksud dari kartu ini. Jantungku berdenyut dengan penuh semangat. Berharap itu pertanda baik dan bukan sebaliknya. Bukan tentang monster dibawah ranjang.

“Ada sesuatu yang mengikutimu.”

Wanita itu tersenyum kearahku, atau mungkin ke sesuatu di sekitarku, atau bisa juga pada sesuatu di belakangku. Mungkin wanita ini melihat seseorang dibelakangku, yang tidak bisa kulihat. “Dia membutuhkan pertolonganmu.” ujarnya lembut, suara sinis itu berubah menjadi nada kasih sayang seorang ibu. Dan baru kusimpulkan. Tidak semua wanita beralis selancip itu bersifat tidak ramah.

Aku terbungkam. Belum mau menjawab. Dan sepertinya dia paham aku sedang menyuruhnya berbicara lebih banyak.

“Lelaki itu tidak jahat. Dia hanya menginginkan perhatianmu. Jangan khawatir.”

Bagaimana tidak khawatir jika ada seorang lelaki tak kasat mata yang bisa menontoniku ketika sedang mandi?

“Dia benar-benar butuh bantuan.”

“Bagaimana jika aku tidak bisa membantunya?” tanyaku antusias berharap jawabannya memuaskan dan wanita itu bisa mengusirnya jauh-jauh.

“Dia memilih seseorang yang selalu bisa membantu. Dia tidak pernah keliru, Gadis Manis.” tidak heran wanita ini menyapaku demikian. Aku memang tidak pernah memperkenalkan diri.

Jadi apa kesimpulannya? Aku diikuti mahluk astral?

“Aku tidak mau membantunya.” amarahku memuncak. Aku berdiri kemudian menaruh beberapa lembar puluhan won diatas kartu-kartu laknatnya yang gemar membohongi orang lain. Sudah cukup mereka menyugesti para pengunjung yang dengan bodohnya datang. Aku bukanlah mereka. Mana mungkin menunjuk sebuah kartu bisa menentukan takdir. Apa yang terjadi jika aku menunjuk kartu yang berbeda pada kesempatan kedua? Apakah takdirku bisa berubah juga?

“Terimakasih. Sudah cukup.”

Kuhempaskan tubuhku lalu keluar dari tempat ramal menyebalkan ini. Aku menatapnya sebelum benar-benar keluar. Wanita itu masih tersenyum aneh.

  • • •

Hari-hariku semakin kacau sejak pertemuanku dengan peramal itu. Dua puluh empat jam dalam satu hari sepertinya masih kurang bagiku untuk memekirkan hal ini. Aku menjadi lebih sering melamun, menyendiri, berbicara sendiri, memukul-mukul kepalaku tanpa alasan. Kebiasaan buruk yang tidak pernah kumiliki mulai muncul satu persatu.

‘Prang!’

Piring di tanganku jatuh mengenai kaki. Benda itu berubah menjadi keping-keping beling putih begitu sisinya menyentuh lantai.

‘Argh’ rintihku kaget. Kutaruh serbet yang tadi kugunakan untuk membersihkan alat-alat makan diatas meja. Eomma datang terbirit-birit menghampiriku. Wajahnya memerah. Namun dia tidak tampak sedang marah. Khawatir lebih tepatnya.

Aku berjongkok memandangi luka sobekan pada ibu jari kakiku. Darahnya meluber hingga lantai. “Sanra. Ada apa lagi?” tanya Eomma dengan cemasnya. Aku tidak menjawab karena memang aku sendiri tak tahu harus bicara apa. Aku tidak mengerti apa yang sedang menimpa diriku.

“Pergi ke kamarmu dan obati luka itu sendiri. Biar Eomma yang bersihkan ini.” wanita itu sudah menghilang dari balik ambang pintu untuk mengambil sapu sebelum kuucapkan kalimat penolakan. Aku kasihan kepada wanita itu. Siang malam harus meladeni kecerobohanku karena mood yang berantakan.

Sambil berpegangan pada ujung meja kulangkahkan satu kakiku masuk ke kamar.

  • • •

Lukanya tidak parah, hanya sobekan kecil dan memar disekitarnya. Meski begitu caraku berjalan menjadi sedikit berbeda. Kuputuskan untuk berdiam diri didepan komputer. Eomma juga memerintahkanku agar demikian. Dia prihatin melihat lingkar mataku yang dari hari ke hari semakin menebal. Aku jadi lebih kasihan pada dirinya daripada diriku sendiri.

Kutatap sekitar kamar. ‘Siapa tahu lelaki itu juga sedang ada disini.’

Kuambil headphone yang tersimpan didalam laci kemudian memakainya. Lebih baik mendengarkan lagu-lagu jadul Appa yang tersimpan di komputer ini daripada suara-suara aneh lelaki itu. Aku tidak begitu menyukai musik. Mungkin akulah satu-satunya gadis di muka bumi yang tak memiliki lagu favorit.

Kubuka salah satu aplikasi kominukasi di internet. Sudah lama aku tak berinteraksi dengan chatting.

‘Huh?’ gumamku begitu melihat satu notifikasi yang muncul.

‘Seseorang menambahkan Anda menjadi teman. Ayo berbincang dengannya melalui Let’s Talk3 menit lalu’ Kumiringkan kepala. Apa salahnya berkenalan dengan teman baru? Tiga menit lalu? Waktu yang sama ketika kunyalakan komputer.

Tanpa ragu ku-klik salah satu icon untuk meng-accept-nya. Kemudian muncul sebuah halaman chat. Dia sedang aktif rupanya.

“Hey”

Seseorang bernama Lu Han itu mengirim pesan tepat ketika kubuka chat-room.

“Hallo, Lu Han-ssi.” balasku cepat.

“Terimakasih sudah mengijinkanku bebicara denganmu Sanra :)” itu bunyi pesan selanjutnya.

“Sama-sama.”

“Perkenalkan aku dari China.”

“Bahasa Koreamu cukup rapi Luhan-ssi. Berapa lama kau belajar?”

“Aku bersekolah disini. Sudah tiga tahun sejak kelas satu SMA di Korea.”

“Rupanya kau lebih tua satu tahun dari usiaku.”

“Kuharap kita bisa berteman.”

“Tentu saja bisa. Namun aku bukan tipe seseorang yang gampang berteman.”

“Aku juga. Kita sama, Sanra-ya. Mari belajar bersama :D”

“Ide yang bagus, Oppa 😀 bisakan aku memanggilmu dengan sebutan itu?”

“Aku suka sebutan itu :)”

“Aku tidak pernah memanggil seseorang seperti itu :D”

“Jadi aku yang pertama? :D”

“Sepertinya begitu :)”

“Aku senang menjadi yang pertama 😀 Karena segala sesuatu yang pertama pasti akan selalu teringat.”

“Itu terdengar seperti sebuah kata-kata mutiara, Oppa.”

“Aku membacanya dari buku di perpustakaan :D”

“Kau seorang kutu buku?”

“Tidak juga. Aku hanya membaca ketika mood :D”

“Tetap saja, itu sebuah hobi.”

“Haha. Kau benar. Baik kuakui aku seorang kutu buku.”

“Mengapa remaja sekarang malu mengakui dirinya kutu buku? Itu bukan sebuah aib, menurutku.”

“Aku juga tidak tahu. Tapi bukankah seseorang siswa kutu buku sulit menjadi popular di SMA?”

“Tidak. Di sekolahku ada seorang kutu buku yang sangat cerdas dan dia dikenal hampir oleh seluruh penghuni sekolah.”

“Dan mereka tidak menyapa kutu buku itu ketika sedang berpapasan?”

“Bagaimana bisa kau tahu akan hal itu, Oppa? :D”

“Itu bukan istilah popular yang sebenarnya. Lebih mirip bully :D”

“Jadi sekarang apa perbedaan antara seseorang yang selalu disapa dan seseorang yang selalu di-bully? Mereka sama-sama famous :D”

“Hahaha. Sanra-ya, kau membuarku tertawa.”

“Tapi itu benar bukan? Ada banyak jalan untuk menjadi terkenal. Salah satunya yaitu menjadi objek bully 😀 hahaha…”

Aku tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja komputer.Hampir sana mouse yang kugenggam jatuh ke lantai. Rasa perih di ibu jari kakiku terasa sirna karena obrolan ini.

“Hahaha. Perutku sakit, Sanra-ya :D”

“Aku juga, Oppa. Mari kita sudahi semua ini.”

Tiba-tiba Eomma membuka pintu kamar. Wanita itu sepertinya terbangun dari tidur nyenyaknya karena suara tawaku yang tidak pelan. Kulepas headphone lalu menatap ke arahnya dengan wajah bersalah.

“Kau belum juga tidur, Sanra? Ini sudah jam sebelas.” suaranya tidak terdengar marah. Besok adalah hari libur, tentu saja dia tidak membentakku karena takut bangun kesiangan.

Aku yang merasa tidak enak langsung tersenyum kecut. “Aku akan segera tidur. Maafkan aku, Eomma.” balasku.

Tak lama terdengar suara pintu ditutup.

Kuketikkan sesuatu diatas keyboard.

“Eomma memarahiku karena ketahuan belum tidur. Sampai jumpa, Oppa. Kuharap kita bisa mengobrol besok.”

Tanpa menunggu balasan segera kumatikan komputer dan memutuskan untuk tidur.

  • • •

Pagi hari terasa begitu cepat karena mimpi indah semalam. Aku tak mengingat apa mimpi itu, namun yang pasti aku terbangun dengan kondisi tersenyum. Kutatap sekitar. Bungkus makanan ringan kosong berserakan, kaleng cola, kaos kaki kemarin yang tercecer, semuanya berantakan. Kugaruk kulit kepalaku yang kering. Pandanganku berhenti pada komputer. Senyuman tersungging di bibirku teringat percakapan online dengan ‘Oppa Pertama’.

Sebelumnya aku berfikiran jika lelaki China itu sama saja dengan yang lain. Mengajak berteman melalui media online kemudian menembak gadis siapapun itu dan memacarinya untuk tiga hari kemudian memutuskannya usai mendapatkan keperawanan si gadis. Kedengarannya mengerikan. Namun bukankah itu yang sedang tren di masa kini? Tetapi melihat tutur bahasanya yang polos kemarin membuatku merubah konsep dalam kepalaku. Luhan tidak jahat.

Aku melompat dari tempat tidur kemudian terpincang-pincang menuju komputer.

Kubuka media chat kemarin. Sebuah pesan masuk. Hatiku memanas lalu mendingin lagi. Jantungku berdetak penuh semangat. Aku tidak pernah setidaksabaran ini.

“Selamat pagi Sanra-ya. Jangan lupa bangun pagi dan membersihkan kamar.” pesan itu terkirim tiga puluh menit lalu. Lelaki yang rajin huh?

Aku tersenyum lebar. Bagaimana bisa dia mengetahui kebiasaan burukku memberantaki kamar dan hanya membersihkannya ketika tanggal merah?

“Kamarku tidak kotor :p mungkin kamar Oppa yang butuh pembersihan ekstra.” aku terkikik.

Aku duduk diatas kursi putar sambil mengetuk-ketukkan jari tidak sabar. Bunyi ‘ding dung’ terdengar dari komputer tanda balasan. Aku berjingkat dan segera membaca pesan darinya.

“Jangan berbohong. Gadis seusiamu sedang mengalami masa-masa paling malas untuk merapikan kamar :p”

Sial. Dia benar lagi.

“Yaak, berhenti membaca buku. Kau mengetahui hampir segala hal, Tuan Serba Tahu.”

“Sana. Bersihkan kamarmu. Jja! :D”

“Iya baiklah. Sampai jumpa nanti :)”

Kurapikan kamarku yang sebelas duabelas dengan kapal pecah. Kali ini ada yang berbeda. Aku melakukannya dengan senyuman. Entah mengapa hatiku berbunga-bunga usai mengenal lelaki misterius dari China itu.

“Sanra. Bangun lalu bersihkan kamarmu.” ujar Eomma bebarengan dengan pintu kamar yang dibuka. Matanya sedikit melebar melihat tempat tidurku yang sudah bebas dari kotoran. Aku hampir selesai berbenah-benah.

Ah ya, baru kuingat hari ini terbangun lebih pagi dari biasanya.

“Hm, sudah bangun? Dan sudah rapi?” tanyanya sambil memandangi kamarku dari sudut ke sudut. Eomma tampak terkejut, dan sepertinya aku juga.

Aku tersenyum. “Aku akan segera mandi lalu mencuci seragam kotor.”

Eomma seperti kehabisan kata-kata karena saking terharunya. Bahunya mengendik. “Baguslah. Padahal Eomma berencana akan memanggil tukang laundry lagi seperti minggu kemarin ketika kau malas mencuci.”

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Aku bisa melakukannya, Eomma.”

Wanita dengan rambut lurus yang selalu digerai itu mengangguk-angguk kemudian menutup pintu.

Bukan hanya diriku yang merasakan perubahan ini. Lucu. Seorang lelaki tak dikenal berhasil membuat matahari yang menyinariku terasa lebih hangat dari biasanya.

  • • •

“Jadi kau lebih suka yang mana? Vanilla atau cokelat?” tanya Luhan begitu kami mulai membahas rasa es krim favorit.

“Tidak keduanya haha.”

“Lalu?”

“Strawberry kurasa :D”

“Hey aku juga suka strawberry :D”

“Kenapa kita sama terus?”

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Takdir mungkin :D” aku tersenyum sambil menekan tombol ‘send’

“Aku sering makan es krim strawberry sambil membaca buku milik perpustakaan.”

“Hey bukannya tidak boleh membawa makanan masuk ke tempat itu?”

“Maksudku aku meminjam buku terlebih dahulu lalu membacanya di taman :D”

“Aku suka taman. Bagaimana jika kita bertemu disana? Aku ingin melihat wajahmu, Oppa.”

“Tidak bisa.”

Kukernyitkan dahiku “Ada apa memangnya?”

“Kita tidak bisa bertemu.”

“Kenapa? Oppa tidak percaya diri? 😀 Aku juga tidak begitu cantik. Sudahlah. Mari kita meet up.”

“Maafkan aku Sanra. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu.”

“Baiklah. Aku juga tidak memaksamu, Oppa :)”

“Kuharap kau mengerti 🙂 maafkan aku.”

  • • •

Ini sudah hari ketiga sejak pertama kali kami chat di internet. Luhan adalah seseorang yang asik. Selain membaca hobinya adalah bermain basket. Dia tergabung dalam tim basket di sekolahnya. Dan Luhan sebagai kapten. Sungguh mengejutkan. Jarang, bahkan hampir tidak pernah kutemukan seseorang yang berposisi sebagai kapten basket sekaligus kutu buku disaat yang sama. Pasti dia lelaki dengan otak cemerlang yang paling popular di sekolah.

“Aku pulang…” ujarku sambil memasuki dapur. Seperti biasa Eomma sedang memasak disana. Pesanan kuenya semakin laris dan sepertinya aku harus membantunya menghias kue setelah ini.

“Uh, ada kiriman?” aku berhenti didepan meja makan. Diatas sana terdapat sebuah kardus cokelat dengan ukuran sedang dengan secarik kertas yang ditempel diatasnya.

“Apakah kau membeli barang di toko online?” tanya Eomma sambil mengaduk-aduk choco dip. “Atau kau diam-diam memiliki pacar?”

Aku mencerucutkan bibir kemudian membaca nama ‘Son Sanra’ terketik dengan jelas pada kertas itu. “Tidak. Tidak pernah.” rasa penasaran mulai memenuhi pikiranku. Seingatku aku tidak pernah memiliki pengagum rahasia?

“Berdoalah isi kardus itu bukan bom.”

Kuangkat benda yang tidak berat itu kemudian membawanya masuk ke kamar. Dengan tergesa-gesa kubuka plester penguncinya. Dan kardus itu terbuka. Kupungut kertas yang dilipat menjadi dua diatas sebuah syal merah yang dilipat dengan rapi.

‘Dari Seseorang Yang Sama Menggemari Es Krim Rasa Strawberry’

“Luhan!” celetukku lalu segera meloncat didepan kursi komputer. Kuperiksa kotak masuk pada aplikasi chat dan ternyata Luhan mengirim pesan baru.

“Sudah terkirimkah paketnya?”

Kugosokkan kedua tanganku lalu mengetik balasan dengan cepat.

“Aku sudah menerimanya. Kukira ada paket nyasar :D”

“Jangan salah paham pada syal merah itu, Sanra. Itu bukan untukmu.”

Kukerucutkan bibir sambil membaca pesannya, berharap ada kesalahan pada kalimat itu. Dia mengirim syal yang bukan untukku?

“Lalu untuk siapa?”

“Aku ingin meminta bantuanmu. Bisakah kau membantuku?

“Hm, tentu saja bisa selama aku mampu melakukannya.”

“Itu syal milik ibuku. Aku ingin kau memberikan kepadanya besok sore di stasiun. Aku sudah mengabari ibuku. Kalian akan saling bertemu di peron 3.”

“Aku akan membantu :)”

“Bagus 🙂 terimakasih, Sanra.”

“Memangnya mengapa kau tidak memberikannya kepada ibumu sendiri?”

“Aku tidak bisa.”

Lagi-lagi aku mendapat jawaban itu. ‘Aku tidak bisa.’

“Aku mengerti :)”

“Terimakasih, Son Sanra.”

Bukankah Luhan menginginkanku untuk mengerti dirinya?

  • • •

Kuturuni bis yang mengantarku dari halte menuju stasiun sejak lima belas menit yang lalu. Jalanan hari ini tidak ramai. Cenderung sepi. Aku bergabung dengan beberapa pejalan kaki yang akan menyebrang. Begitu lampu untuk pejalan kaki menyala hijau, kami berbondong-bondong melintasi perempatan pada pusat kota ini.

Kulihat arlojiku yang menunjukkan pukul setengah empat. Kupercepat langkah memasuki stasiun. Banyak antrean berbaris didepan loket pembelian karcis. Aku kurang hafal denah tempat ini karena jarang menaiki kereta api. Lebih sering menaiki kereta listrik bawah tanah.

Sambil kebingungan kupandangi denah stasiun yang lumayan luas ini lalu tersenyum lebar usai menemukan dibagian manakah peron tiga itu.

Usai tak jauh berjalan aku sampai juga di peron satu. Entah mengapa disini sepi sekali. Dan lebih gelap. Mungkin karena faktor atapnya yang terhubung pada terowongan kereta. Jadwal keberangkatan kereta sepertinya masih lama. Hanya bagian loket diluar yang ramai.

Disamping adalah peron dua dan tempat disampingnya tampak dalam perbaikan. Tapi kuyakini itu adalah lokasi peron tiga. Aku tidak mungkin kesana. Tempat itu seperti tergerus sebelah. Seperti baru saja digigit dinosaurus. Bagian dindingnya menghitam seperti baru dibakar.

Seorang petugas dengan seragam biru pastel mendekatiku. “Nona menunggu keberangkatan kereta jurusan mana?” tanyanya. Oh, pasti aku tampak seperti orang bodoh yang tidak tahu jadwal keberangkatan.

“Um, aku tidak sedang menunggu kereta.” jawabku.

“Lalu mengapa Nona kemari?”

“Sebenarnya aku kemari untuk bertemu dengan seseorang di peron tiga.” aku tersenyum samar. Sedikit kecewa karena Luhan beraninya mempermainkanku dan membuatku terlihat ideot disini.

“Siapa yang ingin Nona temui? Peron tiga hangus karena terkena ledakan bom dari kereta yang berhenti tepat didepannya.”

Aku ternganga. Oh kukira aku gadis paling kurang apdet dinegara ini sampai-sampai tidak tahu kejadian ini bisa terjadi di kotaku.

Seorang wanita dengan jaket berbulu mendekati kami. “Maaf, dimanakah letak peron tiga?” tanya wanita yang mungkin beberapa tahun lebih tua dari Eomma.

“Apakah Anda ibunya Luhan Oppa?” tanyaku sambil menudingnya.

Wanita dengan raut lelah itu mengangguk mantap beberapa kali “Benar. Dimana puteraku? Minggu lalu dia berangkat ke luar kota untuk mengikuti pertandingan basket bersama tim satu sekolahnya. Dia menaiki kereta untuk kesana. Namun aku tidak lagi mendengar kabarnya usai hari itu?” jelasnya terburu-buru. Aku iba melihatnya. Sepertinya ibu ini begitu merindukan Luhan.

“Oppa menitipkan ini untuk Nyonya.” kusodorkan tas kertas yang didalamnya berisi syal merah.

Diambilnya tas dari tanganku. Dia mengeluarkan syalnya dan menghirup aroma disana. “Ini aroma Luhan. Kenapa dia tidak memberikannya langsung kepadaku?” air mata wanita itu menggenang.

“Apakah lelaki bernama Luhan yang kalian maksud berangkat seminggu lalu dan naik di gerbong dua?” suara petugas itu semakin pelan.

“Benar. Luhan anakku menaiki gerbong dua. Apakah Bapak bertemu dengannya?” senyuman sang ibu mengembang dengan lebarnya.

“Bom meledak di gerbong dua dan menewaskan seluruh penumpang didalamnya.” papar lelaki tengah baya itu. Dia menghela nafas usai mengatakannya.

Air mata jatuh dari mata ibu Luhan. Dia ambruk ke lantai sambil menggenggam syal. “Tidak mungkin. Luhan anakku. Tidak mungkin…” tangisnya.

Aku terdiam dengan lutut gemetaran. Sensasi aneh menggelitik bulu romaku, memaksanya berdiri tegap. Pipiku yang dingin sulit digerakkan. Setitik air mata mengalir diatasnya kemudian jatuh tanpa kuhiraukan.

Kudengar suara tangisan ibu itu berhenti, beliau pingsan. Beberapa petugas yang lain datang lalu menggendongnya pergi dari sini.

Tiba-tiba udara terasa dingin. Rambutku tertiup angin yang datang dari terowongan kereta api. Sesuatu yang panas menyengat pernafasanku. Terasa perih, seperti baru saja menghirup air melalui hidung. Aku sesak. Kukepalkan tanganku didepan dada sambil menahan tubuhku agar tetap berdiri.

Kutolehkan kepalaku menghadap peron tiga yang terkikis dengan mengerikan. Itu bukan bekas dibakar. Melainkan bekas ledakan bom.

Luhan sudah meninggal sejak satu minggu yang lalu.

Kupejamkan mata sambil menangis tersedu-sedu. Suara cenayang yang beberapa hari lalu kutemui terngingang di kepala.

‘Dia membutuhkan bantuanmu.’

  • • •

END

Hmm… apakah ini termasuk genre tragedy? Perlu ditambahin engga sih? Han sendiri bingung musti gimana. Apakah ceritanya pasaran? Tentang pesan misterius dari orang yang sudah mati? Kayanya sering deh nemu yang seperti itu. Karena nongol ide yaudah tulis aja, sapa tau varokah/? di bukan ramadhan ini 😀

Han sendiri merasa tercekik usai menulis ff ini. Engga tau kenapa 😄 hahaha semoga cukup ngefeel dan bisa buat kalian terbawa suasana hehehe

Gimana puasanya? Pada lancar kan? Atau jangan-jangan udah ada yang bolong2? wkwkwk

Ayo semangat! Mending kalo lemes tidur aja 😀 kan tidur di bulan puasa diitung ibadah juga 😄 tapi jangan teru2an bobo ya. Sama aja puasa-tidur wkwkwk

Maaf kalo banyakan typo. Han emang gini orangnya._. ga luput dari yang namanya salah ketik. Meski udah dikoreksi tetep aja ada yang nyempil. Atau minesnya nambah ya? Kayanya harus ganti kacamata deh ._.

Yang sudah baca wajib komentar. Ini bulan penuh berkah. Alangkah baiknya kasih komentar 😄 Han yakin ntar bisa jadi pahala komentarnya.

Bye. Jumpa lagi ya di postingan berikutnya /chuuu~/

8 responses to “[ONESHOT] “Nightingale”

  1. Agak serem juga membacanya, rupanya Luhan sudah meninggal dan membutuhkan bantuan utk memberikan syal kepada ibunya, feel nya dapat banget serem

  2. ahhh, authornim aku nangisss. emang udah tau sih kalo luhan itu hantu yg ngikutin Santa tapi pas naca gara2 apa so luhan meninggal bikin nyesek. astagaaa, pas hampir ending aku ngarepnya luhan koma kek apa kek eh yeah meninggal seminggu yg lalu. asli sedihhhhh. ahhhhh tidakkkk, diaitu dia cowok pinter plus kapten basket lagi. aishhh kerenn ffnya

  3. Huhu harusnya luhan menampakan dirinya walau hanya sekejap biar son sanra bisa tau muka ganteng luhan hehehe x3 overall, keren author Han ^_^

  4. OhGod! Sempet keder/? bacanya /.\ plis demi apa Liu pernah kek gitu, tapi sayang bukan Luhan/? (╯_╰) fufu~ kak author, i love this one!😀 its quiet unique! Cara penulisan buat nggambarin suasana keren banget! ^^ Liu suka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s