[Series] Will You Be My Bride? (3)

FF ini ditulis oleh Kim Liah , bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian melalui jejak komentar setelah membaca. Terimakasih~
*Untuk melihat Daftar isi FF lainnya yang pernah dititipkan melalui saya, Klik disini

WIYBmBL

 Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

.

.

Taehee sungguh tak habis pikir dengan ulah putrinya yang memaksanya satu mobil di mobil pengantin ini. Ia duduk dibelakang bersama Jiyeon “Aishh, harusnya tadi eomma ikut mobil Jaerim. Eomma berasa jadi nyamuk disini” gerutunya.

Jiyeon tertawa terbahak “Eomma ini ada-ada saja, lagipula kita kan searah. Kasihan kalau Jaerim oppa sampai harus putar balik hanya untuk mengantar eomma pulang” sanggahnya.

Luhan melirik sekilas ibu mertuanya dan juga Jiyeon dari balik kaca spion. Ibu dan anak itu memang sangatlah cantik, apalagi gaun yang digunakan Jiyeon sungguh membuat paras sahabat sekaligus istrinya itu semakin mempesona. Ia kembali fokus dengan kemudinya, tanpa Jiyeon sadari ia melewati jalan menuju rumah ibu mertuanya hingga mobil itu membawanya menuju sebuah bangunan besar bertuliskan Incheon Airport.

“Cha, kajja eomma” Jiyeon membuka pintu dan keluar begitu saja tanpa menyadari lokasinya saat ini, namun telinganya menangkap suara mesin pesawat yang tengah melandas “Igeo mwoya?” ia amati ke sekelilingnya “Kenapa kita kemari?” tanyanya.

Taehee menutup pintu jok belakang lalu beralih ke pintu kemudi “Luhan-ya, jaga putriku itu ne?” ia menepuk bahu Luhan “Bersenang-senanglah Jiyeon-a”  ucapnya seraya mengedipkan mata lalu mengambil alih kemudi mobil itu.

“Yaaa eomma” percuma Jiyeon berusaha mengejar mobil Taehee, yang ada kakinya akan lecet karna high heels 10cm nya itu “Aisshh, yaaa kenapa kau tak memberitahuku Luhan-ya?” gertaknya.

Luhan hanya menggerdikkan bahunya “Molla, aku juga tidak tahu, setelah foto keluarga tadi, eommonim membisikiku agar membawamu ke sini” jawabnya seraya mengeluarkan dua buah tiket disaku jasnya.

Jiyeon menyambar tiket tersebut dan membaca tujuan yang tertera disana. “Okinawa?” serunya kaget. Bagaimana bisa ibunya merencanakan honey moon mereka tanpa memberitahunya sama sekali.

“Okinawa? Kita akan ke Jepang?” Luhan merampas kembali tiket pesawat itu dan membaca keberangkatannya yaitu jam 1 siang “15 menit lagi” ia amati arlojinya lalu menarik tangan Jiyeon memasuki gedung airport itu dan menuju pintu keberangkatan ke Jepang.

“Yaa kenapa kau malah membawaku kemari?” Jiyeon baru sempat menyanggah ketika kakinya berhenti didepan petugas bandara yang hendak mengecek tiket didepan pintu keberangkatan. “Kita pulang saja Lulu-ya” pintanya.

Namun Luhan malah memberikan tiket itu kepada petugas hingga antrian dibelakang mereka mendesak mereka segera bergegas masuk “Kajja” ia kembali menarik tangan Jiyeon untuk menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Jepang.

“Aishh” Jiyeon terpaksa duduk dikursi yang tertuliskan ditiket mereka, ia nampak kesulitan dengan ekor gaunnya yang teramat panjang itu “Ini sungguh memalukan, bagaimana bisa aku terlibat adegan seperti di drama begini?” umpatnya. Luhan memungut ekor gaun putih yang dikenakan Jiyeon “Apa yang kau lakukan?” tanya Jiyeon.

“Bukankah kau kesulitan karna gaun ini? Aku akan merobeknya seperti didrama mellow yang sering kau tonton itu Jiyeonie” jawab Luhan.

“Andwae” Jiyeon menghempas tangan Luhan “Gaun ini sangat mahal dan ini gaun pengantinku pula” tolaknya.

Ada sebuah kelegaan ketika Luhan mendengar Jiyeon menyebut ‘gaun pengantinku’ bukankah ini artinya Jiyeon membenarkan pernikahan mereka yang mungkin saja juga bukan hanya sekedar simulasi bagi Jiyeon. “Geurae, tidurlah Jiyeonie” ia melepas jasnya dan memakaikannya untuk menutupi dada Jiyeon yang kebetulan gaun pengantinnya memang memperlihatkan bahu Jiyeon.

“Eoh”

.

Jiyeon nampak mengeliatkan kedua tangannya tepat ketika Luhan memiringkan kepalanya seolah ia masih tertidur pulas. Terdengar suara peringatan bahwa sebentar lagi pesawat akan landing. “Luhan-ya. ireona” ia mengguncang bahu Luhan hingga suaminya itu berakting seolah baru saja bangun dari tidurnya.

“Eoh, wae? Apa kita sudah sampai?” tanya Luhan, selama 7 jam perjalanan ini, ia sama sekali tak bisa tidur. Ia lebih tertarik memandangi wajah pulas Jiyeon.

Pramugari kembali memberi peringatan agar para penumpang segera turun dari pesawat karna mereka sudah sampai di bandara Okinawa “Eoh, keundae apa kita sungguh tak membawa apapun kemari? Koper mungkin?” tanya Jiyeon seraya mengangkat gaunnya agar mempermudahkannya keluar dari pesawat.

Luhan menggeleng lalu mengeluarkan sebuah amplop putih yang didalamnya terdapat dua buah kartu, kartu kredit serta kartu pintu hotel “Igeo, eommonim hanya memberiku ini” ujarnya.

Dihalaman parkir bandara nampak sebuah mobil lamborgini berwarna kuning, ada seorang pria disampingnya yang nampak mengamati layar ponselnya begitu melihat Luhan dan Jiyeon berdiri celingukan didepan pintu masuk bandara. “Annyeonghaseyo, silahkan” pria itu menghampiri pengantin baru tersebut dan mengiringnya menuju mobil kuning tadi.

“Apa ini juga perbuatan eomma?” Jiyeon tanpa ragu memasuki mobil tersebut begitu juga Luhan “Aishh, eomma sungguh berlebihan saja. Kita berdua kan…” akan sangat fatal jika status pernikahan simulasinya didengar oleh pria suruhan Taehee “Arghh chohta, cuacanya segar sekali” gumamnya seraya membuka kaca jendela.

.

“One size bed?” Jiyeon dan Luhan sudah terbiasa sekamar berdua tapi kali ini berbeda, ia sekarang berstatus sebagai istri dan malam ini akan menjadi first night mereka.

“Aku tidur di sofa saja”Luhan melepas melepas dasi kupu-kupunya dan menunjuk sofa yang ia duduki

“Aku butuh baju Lulu-ya ”

“Geurae, akan kucarikan” Luhan beranjak keluar kamar hotelnya dan mencari butik terdekat, ia sangat hafal selera fashion Jiyeon serta ukuran bajunya juga.

Sementara itu Jiyeon mendial telpon yang ada disamping nakas kasur, andai ia sudah membawa ponselnya sendiri ia pasti akan memarahi ibunya yang sudah merencanakan honey moon tak terduga ini.

“Eomma”

“Eoh wae? Kenapa kau menelpon eomma? Kau seharusnya menemani suamimu Jiyeon-a”

“Menemani? Bagaimana bisa eomma mengirim kami ke Jepang tanpa persetujuanku?”

“Persetujuan? Kau saja sekarang sudah berada di Jepang. Sudahlah kalian nikmati saja first night kalian disana. Ingat, berikan eomma cucu secepatnya ne?” belum sempat Jiyeon menyanggah Taehee, sambungan sudah dimatikan begitu saja.

“Eommaaaaaaaaaaaa. Aishhhhh….” Jiyeon menutup telponnya dengan kesal. Eomma nya sungguh diluar dugaannya, ia kira dengan menikah maka eomma nya akan puas. Dengan kesalnya ia berjalan ke arah jendela dan sekejap saja suasana hatinya langsung cerah. Ternyata hotel yang dipilih Taehee berada tak jauh dari plaut okinawa. Ia sangat menyukai laut dan pantai apalagi yang berpasir putih seperti ini. “Kurasa tak ada salahnya liburan gratis kesini” gumamnya.

Setelah lima belas menit berbelanja di butik dekat hotel, akhirnya Luhan sampai dengan membawa lima bungkus tas “Jiyeonie, igeo, gantilah gaunmu” titahnya.

“Igeo mwoya?” Jiyeon membongkar isi kelima bungkus tas itu, didalamnya terdapat sandal, hotpant, panties dan kaos. “Kau menyuruhku memakai ini?” ia mengangkat kaos putih belang-belang couple yang dibeli Luhan. Bukannya ia tak suka memakai kaos, hanya saja kali ini ia merasa aneh karna status mereka.

“Eoh, bukankah ini style mu? Jika kau mau memakai gaun, aku juga sudah membelinya”

“Geurae” Jiyeon menyambar tas yang berisi pakaiannya lalu hendak memasuki kamar mandi.

.

.”Apa kau ingin jalan-jalan?” Luhan dan Jiyeon baru saja selesai makan siang, akan sangat membosankan jika mereka hanya berdiam diri dihotel. “Bagaimana kalau kita ke pantai?” ia merasa ada yang aneh dengan Jiyeon, sahabat yang sudah resmi menjadi istrinya itu nampak berbeda hari ini, sikapnya terlihat canggung mungkin. “Kajja” ia menarik Jiyeon dan merangkul bahunya.

“Yaaa, jangan….” “Wae? Bukankah kita terbiasa seperti ini” Luhan meraih tangan Jiyeon dan menggandengnya “Bukankah kau butuh penggandeng tanganmu juga?”

“Igeo…” memang benar yang dikatakan Luhan, tapi ntah mengapa ia merasa aneh saja.

“Bersikaplah biasa saja, uri chingu” Luhan mencubit pelan pipi Jiyeon lalu melangkahkan kakinya menuju laut.

“Bersikap biasa? Nan?” Jiyeon menghentikan langkah Luhan “Yaaa, bagaimana bisa kau menyuruhku berjalan kesana?” ia menunjuk laut yang ternyata lumayan jauh juga dari hotel, 200 km.

“Geurae, cha” Luhan membungkuk didepan Jiyeon dan mengarahkan punggungnya untuk menggendong Jiyeon “Naiklah, akan kugendong kau kesana”

“Aishh, anni. Kajja” Jiyeon berjalan mendahului Luhan dan ia kembali mendapat rangkulan dari Luhan.

Mereka berhenti didepan Curry Ichibanya “Apa kau ingin makan curry salad disini?” tawar Luhan.

“Aku tak suka pedas, Luhan ”

“Argh Matja”

Jiyeon memang tak suka pedas tapi berbeda dengan Luhan, pria itu sangat menggilai berbagai makanan berlidah pedas. “Chakkaman” Jiyeon membalik langkah Luhan untuk memasuki kedai tersebut “Dua curry beef steak dan dua jus strawberry juseyo” pesannya pada pelayan.

“Bukannya kau tak suka pedas? Kita langsung ke laut saja Jiyeonie”

“Anni, rasanya tak afdol jika kita tak mencoba curry original di kedai ini” tolak Jiyeon.

“Keundae…”

Jiyeon membau sedapnya bumbu curry di beef steak mereka “Eumm, massita” dua buah plate sudah tersaji dihadapan mereka “Mogo Lulu-ya” ia mengiris steaknya dan memakannya, kesan pertamanya lidahnya serasa hampir terbakar.

“Gwaenchana?” dari ekspresi wajah Jiyeon, Luhan dapat menebak kalau curry steak ini sungguh sangat pedas “Igeo, minumlah” ia tawarkan segelas jus agar diminum oleh Jiyeon.

Jus itu hampir terminum habis oleh Jiyeon saking pedasnya, ia hembuskan bibirnya untuk mengurangi rasa pedasnya.

Dan mau tak mau Luhan memberikan jusnya kepada Jiyeon “Sudahlah, kau jangan makan ini” ia menarik piring steak dihadapan Jiyeon.

Dua gelas jus sedikit menghilangkan rasa pedas seiris steak itu “Mianhae Lulu-ya, aku tak menyangka steak ini pedas sekali” ia menatap kesal pada sepiring steaknya “Lanjutkan makanmu!” pintanya.

Luhan mengiris steaknya dengan kesal lalu memakannya dengan cepat pula “Sudah kukatakan kita tak usah mampir sini, tapi kau malah nekat. Kalau menurut kau tak akan kepedasan seperti ini” gertaknya.

Jiyeon sungguh takjub dengan cara makan Luhan, bagaimana bisa dia memakan steak super pedas itu dalam sekejap? Namun rasa takjubnya buyar dengan gertakan Luhan yang baginya teramat menyakitkan “Mwo? Jadi kau menyalahkanku?” ia bangkit berdiri “Bisa-bisanya kau menyalahkanku padahal aku sudah ber….” ia memungut kaca mata coklatnya dimeja “argh molla” lalu beranjak keluar dari kedai dengan kesal.

“Yaaa, chakk…” Luhan terhalangi mengejar Jiyeon karna ia harus menunggu pembayaran bon nya.

Sungguh Jiyeon kesal sekali kali ini, ini bahkan kali pertama ia marah pada Luhan seelah bertahun-tahun berteman. Ia hanya berusaha mengalah dan memahami Luhan dengan mencoba menyukai apa yang disukai Luhan meskipun ia sangat membencinya.

“Yaaa Park Jiyeon chakkaman” kalau Jiyeon sedang marah, dia akan mengacuhkan dan mendiamkan semuanya “Ijinkan aku bicara, Jiyeon-a” Luhan menarik lengan Jiyeon, bagaimana bisa Jiyeon berjalan secepat ini hingga hampir sampai dipinggir pantai.

Ada respon, kebiasaan Jiyeon muncul, ia bungkam seribu bahasa sampai yang membuatnya kesal meminta maaf padanya. Baginya pernikahannya hari ini sungguh berakibat fatal baginya. Harusnya ia senang tapi malah sebaliknya ia dibuat dongkol seperti ini. Ia menghempas tangan Luhan dan berjalan cepat ke pinggir pantai lalu duduk disebuah bangku berpayung.

Luhan menyibak poninya dengan kesal, ia juga tak mengerti kenapa permasalah kecil seperti tadi bisa menyebabkan pertengakaran seperti ini. Ia membentak Jiyeon karna ia khawatir dengan kondisi Jiyeon. Namun Jiyeon mengartikannya lain. Mata elangnya menangkap dua buah eskrim yang sedang dilahap oleh dua orang anak kecil. Eskrim, Jiyeon suka eskrim, tak ada salahnya meluluhkan amarahnya dengan eskrim strawberry kesukaan Jiyeon.

“Aishhh, menyebalkan sekali” Jiyeon menendang-nendang angin seraya terbaring dikursi jemur itu, ia sampirkan kaca matanya dikepalanya lalu menoleh ke belakang mencari keberadaan Luhan “Mwoya? Dia meninggalkanku sendiri disini? Aisshh jincha” dumelnya.

Namun tiba-tiba sebuah eskrim cone berwarna pink terarah didepannya “Tadaa, cuacanya panas sekali. Mogo” Luhan angkat tangan kanan Jiyeon untuk memegang eskrim tersebut.

Dan dengan terpaksa Jiyeon memegangnya dan memakannya untuk mengalihkan objek kekesalannya.

“Mianhae, kau memaafkanku bukan?” Luhan memasang wajah aegyo-nya “Kau jangan memaksakan diri seperti tadi, aku hanya khawatir jika kau sakit karna memakan steak pedas tadi” jelasnya seraya mencolek sedikit eskrimnya dan menoelkannya di hidung Jiyeon.

“Yaaa” Jiyeon hendak marah lagi, namun wajah puppy eyes Luhan membuatnya ingin tertawa saja, selama bertahun-tahun berteman dengan Luhan, ia tidak pernah mendapati Luhan merajuk selucu ini.

“Wae? Kenapa kau tertawa? Nanti kau bisa tersedak Jiyeon-a”

Jiyeon berhenti tertawa “Kau lucu sekali Lulu-ya, kau seperti anak kecil yang merengek pada ibunya”

“Jincha? Jiyeon eomma, suapi aku eskrim, ne?”

“Yaaa!!! Aishhh” Jiyeon mendorong pundak Luhan agar sedikit menjauh “Aku ingin main air” ucapnya seraya melahap habis eskrimnya dalam sekali makan.

“Yaa hati-hati, Jiyeonie” Luhan nampak menikmati eskrimnya seraya berbaring santai disamping bangku yang dipakai Jiyeon, senyum cerah terpampang diwajahnya, Jiyeon sudah buka suara, ini artinya istrinya itu sudah tak marah lagi padanya. Dari bangkunya ia bisa melihat Jiyeon bermain ombak dengan riangnya.

“Yaaa Kyungsoo-ya”

Tiba-tiba ia mendengar suara seorang gadis meneriakkan nama tersebut.

“Berani-beraninya kau meninggalkanku”

Matanya kini terpaku pada seorang gadis berambut panjang yang mengenakan kaos merah lengkap dengan hotpant berwarna serupa, gadis itu mengejar seorang pria berkaos serupa, namun dia malah berakhir jatuh ke pasir laut, wajahnya mulai dibanjiri air mata.

“Gwaenchana?” ia ulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri, gadis itu menengadahkan kepalanya hingga menangkap wajah tampan Luhan, ia terima uluran tangan itu “Kau tak seharusnya berlari seperti itu” bahkan ia membantu membersihkan pasir dikaos gadis tersebut “Apa ada yang terluka?” tanya Luhan.

Kesan pertama gadis itu melihat Luhan adalah ‘amazing’. Seandainya Kyungsoo seperti Luhan. “Ne, nan Gwaenchana oppa” jawabnya.

“Oppa?”

“Eoh, sepertinya kau lebih tua dariku” gadis itu menjabat tangan Luhan “Naega Nahyun-a, Ireumi mwoyeyo, oppa?” tanya Nahyun dengan riangnya.

“Luhan, nan Xi Luhan. Bangapta” Luhan melepas jabatan tangannya lalu berlari menuju pinggir laut untuk ikut bermain air bersama Jiyeon.

“Kau tadi menggoda siapa eoh?” sedari tadi Jiyeon mengamati tingkah sok pahlawan Luhan dan ekspresi ketertarikan diwajah Nahyun.

“Geunyang, chingu” Luhan menunjuk kapal ditengah laut yang tengah melakukan snorkling “Bagaimana kalau kita snorkling saja Jiyeonie?” tawarnya.

“Geurae” Jiyeon berjalan mendahului Luhan menuju seorang petugas yang menawarkan jasa snorkling.

Kapal putih ukuran sedang itu membawa Luhan dan Jiyeon ke area snorkling. Mereka juga sudah memakai segala peralatan snorkling. Didalam laut Luhan masih saja menjahili Jiyeon dengan menggenggam tangan Jiyeon agar berenang menuju lokasi terumbu karang yang dipenuhi ikan-ikan berwarna-warni. Bahkan mereka berfoto bersama dan Jiyeon mulai ceria kembali.

“Menyenangkan sekali Lulu-ya” Jiyeon mengusap rambutnya dengan handuk putihnya setelah mereka kembali ke pinggir pantai.

“Eoh, apalagi bersamaku, matcji?” goda Luhan seraya mengambil handuk Jiyeon dan membantunya mengusapkannya dikepala Jiyeon.

“Ne, ne” angguk Jiyeon, ia rasa ia memang harus bersikap seperti biasanya saja didepan Luhan. Meskipun mereka sudah berstatus menikah, namun diantara mereka tak ada yang berubah.

.

Luhan baru saja selesai mandi, ia memakai kaos hitam tak berlengannya, diamatinya Jiyeon yang tengah sibuk mendial telpon.

“Aishh, jincha. Eomma pasti sengaja” keluh Jiyeon.

“Wae? Memangnya eommonim kenapa?”

“Molla” Jiyeon membaringkan tubuhnya diranjang lalu mengamati Luhan yang tengah terbaring pula disofa ” Lulu-ya” panggilnya seraya menepuk tempat kosong disebelahnya.

Luhan bangkit menghampiri ranjang “Mwo? Kau memintaku tidur disini?” Jiyeon mengangguk “Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu padamu?” godanya seraya memiringkan tidurnya agar menghadap Jiyeon.

“Yaaa” Jiyeon memukul kepala Luhan dengan bantalnya “IMPOSSIBLE” ucapnya penuh penekanan lalu membenarkan posisi bantal dan selimutnya. Ia percaya Luhan, sahabatnya ini tak mungkin melampaui batas kesepakatan mereka.

Sekali lagi Luhan pura-pura tertidur sampai Jiyeon terlelap. Menyenangkan sekali mengamati wajah polos Jiyeon seperti ini. Ia merapikan anak rambut disekitar kening Jiyeon “Aku juga seorang pria, Jiyeonie” gumamnya.

*

Jiyeon setengah terbangun, namun ia merasa malas sekali untuk bangun apalagi guling yang ia peluk terasa nyaman sekali. Tiba-tiba ada sebuah erangan serta pelukan dipinggangnya yang semakin dieratkan. Ia terpaksa membuka mata dan betapa kagetnya dirinya karna kini ia berada dipelukan dada bidang Luhan.

Ia bergerak pelan hendak melepas pelukan Luhan, namun tak ada gunanya karna pelukan Luhan lumayan erat. Ia malah berakhir mengamati wajah terlelap Luhan. Kalau dipikir-pikir Luhan lumayan tampan juga, menarik juga iya, tapi kenapa ia sama sekali tak tertarik dengan sahabatnya ini. Apalagi Luhan lumayan terkenal juga dikalangan wanita, seharusnya sebagai wanita ia juga jatuh hati pada Luhan.

Ada erangan lagi, Jiyeon mencoba melepas pelukan Luhan “Yaaa” gumamnya.

“Selamat pagi” Luhan masih menutup matanya, namun ia tak lagi memeluk Jiyeon.

“Pagi?” sebuah pukulan bantal mengenai dada Luhan “Ireona!” teriak Jiyeon.

“Wae?” Luhan bangkit duduk seraya mengucek kedua matanya.

“Yaaa, beraninya kau memelukku” sungut Jiyeon.

“Memangnya kenapa? Kukira tadi kau sebuah guling”

“Guling? Geurae guling” Jiyeon bangkit berdiri menuju kamar mandi dan diikuti oleh Luhan.

“Apa kau marah lagi, Jiyeonie?” Luhan memencet pasta gigi dan memberikannya di sikat gigi yang dipegang Jiyeon. Jiyeon tak menjawab, ia asik menggosok giginya. Luhan menyenggol bahu Jiyeon lalu mengamati pantulan wajah Jiyeon di kaca.

“Jangan menggangguku” Jiyeon berkumur lalu mencuci wajahnya dengan pelembab.

Begitu pula Luhan, ia menirukan setiap aktifitas yang dilakukan Jiyeon. Bahkan ia dengan sengaja membantu menggosok wajah Jiyeon. “Akan sangat lucu kalau kita berfoto seperti ini” gumamnya seraya melirik Jiyeon dari pantulan kaca.

Jiyeon membasuh wajahnya dan mengusapnya dengan handuk, begitu pula Luhan. “Kau memakai pelembab wanita, Lulu-ya” wajahnya nampak sendu “Bagaimana kalau wajah tampanmu ini rusak?” dan dengan sedikit kencang ia menarik kedua pipi Luhan.

“Gwaenchana, aku sudah punya kau yang menerima semua keadaaanku”

Jiyeon melepas cubitannya, sekali lagi ia merasa canggung. Ntah mengapa ucapan Luhan menekankan seolah ia dan Luhan bukan hanya sekedar menikah simulasi. “Keluarlah, aku ingin mandi” ia dorong punggung Luhan keluar dari kamar mandi.

“Yaa, aku juga ingin mandi” tolak Luhan, namun pintu sudah lebih dulu tertutup.

.

Jiyeon menatap takjub pemandangan air terjun dihadapannya, air terjun Hiji, salah satu objek wisata yang sering dikunjungi pelancong.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Igeo ann yeppeou?”

“Yaa berkatalah jujur padaku, kau bersekongkol dengan eomma ne?”

“Memangnya apa yang kami rencanakan hah?”

“Igeo” Jiyeon melentangkan tangannya menunjuk area sekitar air terjun “Bagaimana bisa kau tempat wisata seperti ini disini?”

Kalau Luhan membawa ponselnya, sudah pasti ia akan menjadikan benda berlayar tipis itu sebagai alasan tapi sayangnya kali ini iphone nya tak ditangannya. Maka ia menggoyang-goyangkan telunjuknya dibibirnya.

“Mwoya?” akibat kejadian tadi pagi, pikiran Jiyeon masih dipenuhi berbagai hal negatif mengenai Luhan. Seperti kali ini, ia mengira Luhan sedang menggodanya dengan menyodorkan bibirnya seperti itu.

“Lips. Aku bertanya kepada recepsionist hotel”

“Eoh” gumam Jiyeon lega.

“Wae? Apa kau berpikiran kotor?”

“Untuk apa melihat air terjun itu hah?” “Tentu saja untuk berfoto” Luhan menarik pundak Jiyeon dan merangkulnya tepat didepan view air terjun “Say Cheese” bahkan ia dengan sengaja tak menyisakan jarak diantara mereka termasuk menempelkan kedua pipi mereka.

“Yaaa, ini terlalu berlebihan” sekali lagi Jiyeon merasa canggung.

“Anni. Igeo, kyeopta ne?” Luhan menunjukkan hasil foto mereka dilayar kamera pocket tersebut.

“Ppalli, kita cari lokasi lain”

“Bagaimana kalau akuarium?” Luhan membimbing Jiyeon menuju churaumi akuarium disekitar air terjun.

“Shirreo, kita pulang saja” Jiyeon sungguh bingung dengan sikapnya yang ia sadari memang terasa aneh “KOREA” ia memperjelas pelafalan kata korea tersebut.

“KIta baru sehari disini, aku bahkan belum mengambil banyak objek gambar”

“Geurae, kau disini dan aku pulang sendiri”

“Ne, ne, arasseo” tak ada gunanya Luhan disini jika tak ada Jiyeon.

.

“Kenapa kita lewat jalan ini? Kau mau membawaku kemana lagi?” ntah bagaimana bisa, sepulang mereka dari jepang, lamborgini putih milik Luhan sudah terparkir dibandara dan setia menunggu kepulangan sang majikan hingga dikendarai kembali oleh Luhan seperti ini.

“Tentu saja pulang ke rumah kita”

“Tapi ini bukan jalan ke rumahku Lulu-ya”

Setelah hampir 30 menitan mereka berkendara, akhirnya lamborgini itu berhenti disebuah rumah berteskture serba coklat.

Luhan memarkirkan mobilnya didepan rumah itu lalu membukakan pintu mobil untuk Jiyeon “Tadaa, selamat datang dirumah baru kita”

 TBC

 Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

11 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s