[Oneshot] See You Again

SEE YOU AGAIN

See You Again
By: susanokw
Cast: Byun Baekhyun, Kim Minseok
Rating: PG 15+

“Family… where life begins and love never ends.” -Google Images.

***

“Terima kasih atas kehadiran kalian malam ini. Kalian sudah bekerja keras.”

Kim YoungShin mengucapkan terima kasih sambil membungkuk ke arah tiga member EXO yang malam itu menjadi bintang tamu dalam siaran radionya, Baekhyun, Xiumin dan Sehun.

“Ah, ya. Terima kasih kembali. Kami senang bisa datang.” Xiumin membungkuk kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat penyiar radio tersebut dengan sangat sopan. Hal tersebut diikuti oleh dua member yang lain.

Setelah berpamitan ketiganya keluar dari stasiun radio tersebut dan masuk ke dalam mobil van untuk kembali pulang ke dorm karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

“Ah, hari ini sungguh melelahkan, Hyung.” Sehun membuka pembicaraan sesaat setelah mobil van yang mereka tumpangi meluncur mulus di jalan.

Xiumin mengangguk sambil menoleh sekilas kepada Sehun. “Yang penting kita senang. Semua kerja keras kita pasti akan terbayar.”

“Kau benar, Hyung. Ah sepertinya enak sekali kalau ketika sampai di dorm nanti sudah ada segelas susu cokelat hangat yang di siapkan Suho untukku di meja makan.”

Xiumin hanya terkekeh pelan dan melirik Sehun dengan pandangan jahil. Xiumin tahu betul Sehun suka cokelat, dan Xiumin sudah bisa menebak kalau sebentar lagi Sehun akan mengeluarkan ponsel dan mulai merecoki Suho untuk membuatkannya segelas susu cokelat.

“Oh, Sehun-ah.” Terdengar suara Suho di ujung telepon.

“Hyung!”

“Ya, ini aku. Ada apa?”

“Hyung… suaraku serak. Sepertinya aku butuh segelas susu cokelat panas…..”

Dan akhirnya Sehun melancarkan skenarionya yang paling canggih. Menelepon Suho untuk berkata bahwa suaranya serak, tenggorokannya sakit dan ia membutuhkan segelas susu cokelat panas sebagai obatnya. Suho tentu saja tahu apa maksud muslihat dari member yang paling muda ini, tetapi walaupun begitu Suho akan tetap membuatkan susu cokelat untuk Sehun.

“Umin Hyung, Baekhyun Hyung, kalian mau dibuatkan juga susu cokelat?” Bisik Sehun sambil menjauhkan ponselnya dari telinga.

Xiumin lantas menggeleng ditengah kegiatannya memisahkan kabel headset dan powerbank yang berbelit, dan Baekhyun pun melakukan hal yang sama dua detik kemudian tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari luar jendela.

“Tidak, Hyung. Buatkan untukku saja…. Ya, baiklah, Hyung. Aku sebentar lagi sampai, mungkin 30 menit lagi. Oke. Jeongmal gomawo, Hyung. Ne. Keuno.”

Akhirnya Sehun mengakhiri panggilannya dengan Suho dan menghela napas gembira. Detik berikutnya ia mengeluarkan headset dan mulai mendengarkan lagu dari playlist yang baru saja di update beberapa hari yang lalu.

.

.

“Aku pulang.”

Sehun berteriak sambil terburu-buru melepaskan sepatu dan membiarkannya tergeletak secara asal di depan pintu. Lelaki itu langsung berlari menuju dapur untuk mengecek apakah Suho telah membuatkannya susu cokelat atau belum. Xiumin dan Baekhyun melangkah dengan wajah terkantuk-kantuk. Sambil berjalan dengan langkah diseret-seret, Baekhyun langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Baek, kau mau…..” Bahkan sebelum Xiumin menyelesaikan kalimatnya pada Baekhyun, lelaki itu sudah menutup pintu kamarnya terlebih dahulu. Xiumin menghela napas panjang.

Ada apa dengan Baekhyun? Sikapnya langsung berubah drastis setelah siaran radio Kim YoungShin berakhir. Ia jadi lebih pendiam dan ekspresi wajahnya selalu terlihat tidak bersemangat. Padahal di dalam studio tadi, Baekhyunlah yang paling bersemangat dan tak henti-hentinya bercerita.

Ini bukan Baekhyun yang ia kenal. Ini bukan Baekhyun yang biasanya. Pasti sesuatu telah terjadi pada anak itu. Xiumin kembali menghela napas panjang. Lelaki itu akhirnya mencoba untuk berpikir lebih positif. Mungkin Baekhyun merasa sangat lelah karena jadwal aktivitas hari ini yang cukup padat. Mungkin Baekhyun sudah terlalu mengantuk sehingga tidak berminat untuk melakukan percakapan pengantar tidur. Atau mungkin saja Baekhyun merindukan Chanyeol karena teman sekamarnya itu sedang melakukan syuting Law Of The Jungle di Brunei dan Baekhyun merasa kesepian. Mungkin.

.

.

Baekhyun memasuki kamarnya dengan wajah tertekuk. Ia tak pernah menyangka bahwa hari ini akan berakhir dengan begitu melelahkan. Padahal pekerjaan terakhir yang dilakukannya hanya datang ke sebuah stasiun radio, menjadi bintang tamu, bercerita ini-itu, menjawab pertanyaan dari penyiar dan tertawa cekikikan. Tapi setelah insiden keceplosan itu, Baekhyun merasa segalanya berubah menjadi sulit. Sulit berkonsentrasi, sulit untuk kembali tertawa riang seperti semula, sulit untuk menjadi dirinya yang ceria.

Rasa sepi seketika menyergapnya kala itu. Insiden keceplosan sudah terjadi dua kali. Pertama pada saat konser The Lost Planet di Shanghai, dan kedua beberapa waktu yang lalu. Baekhyun menyadari bahwa segalanya telah berlalu begitu lama, tetapi yang namanya rindu bisa datang kapan saja.

Kini ia duduk sendirian di dalam kamar yang di terangi cahaya lampu remang-remang. Baekhyun menghela napas panjang, berusaha melepaskan segala penat yang tiba-tiba saja merasuki dirinya. Teman sekamarnya sedang pergi untuk syuting Law Of The Jungle, dan akan kembali ke Korea beberapa hari lagi. Artinya dalam beberapa hari kedepan ia akan tidur sendiri di dalam kamar yang ukurannya cukup luas ini. Tidak akan ada yang menemaninya bercerita, atau melepas lelah dengan bermain video game sampai keduanya terkantuk-kantuk. Sungguh, ia rela kalah main video game dengan skor 50-2 atau berapapun asalkan segala penat dan lelah yang ia rasakan bisa menguap dengan cepat. Baekhyun adalah tipe orang yang tidak tahan dengan kesendirian. Ia lebih senang berada diantara orang-orang banyak, ia merasa lebih bahagia ketika berada di sebuah tempat yang ramai. Kesepian menandakan bahwa semua orang pergi, meninggalkannya sendiri, dan tidak peduli padanya walaupun pada kenyataannya ia tahu bahwa orang-orang tidak begitu.

Aigu, mengapa kian hari tempat ini semakin sepi?” Gumam Baekhyun lebih kepada diri sendiri. Ia merebahkan dirinya di kasur berseprai putih yang sangat di sukainya. Lelaki itu merentangkan tangannya dan mendesah lelah berkali-kali. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya kini hilang. Matanya nyalang menatap cecak yang menempel di langit-langit.

Baekhyun tidak mengerti dengan yang namanya rindu. Perasaan semacam itu bisa semerta-merta membuatnya merasa sepi ditengah keramaian dan merasa ramai ditengah kesepian. Seperti sekarang ini. Ia tahu bahwa ia sedang sendirian di ruangan itu. Tetapi banyak sekali pikiran-pikiran yang terus melintas di dalam otaknya. Seperti roll film yang diputar kembali, ada banyak sekali kenangan masa lalu yang tiba-tiba saja teringat olehnya. Ketika dorm ini masih terisi oleh banyak orang. Ketika semua orang masih hidup bersama-sama.

Ah, tidak bisa dipungkiri lagi. Baekhyun rindu berat. Baekhyun rindu grupnya yang dulu.

.

.

“Oh, Umin Hyung kau sudah pulang.” Sapa Suho ketika pintu kamarnya terbuka dan sosok Xiumin masuk kedalam kamar, masih dengan headset menyumbat telinganya dan langkah yang diseret-seret.

Xiumin menggumam pelan, “Hm. Baru saja,” Lelaki itu lantas meletakkan tasnya dengan sembarang dan menjatuhkan dirinya dikasur. “Kau mendengar siaran radio tadi?”

Suho mengangguk pelan. “Ya,” Ia melirik Xiumin kikuk.

Xiumin tersenyum tipis. “Kurasa Baekhyun sedang rindu mereka.”

Lelaki disebelahnya mengerutkan kening samar, membuat Xiumin lantas menoleh menatap Suho.

“Kris, Luhan dan Tao.”

Suho mengangguk pelan. “Yeah, siapa pula yang tidak rindu mereka.”

Xiumin menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya menatap langit-langit kamar. Ada seekor cecak yang sedang bergerak perlahan mengintai seekor nyamuk.

“Kau rindu mereka?” Tanya Xiumin lirih.

Suho mengangguk. Matanya menerawang. “Sangat.”

“Aku tidak pernah menyangka bahwa rumah ini akan terasa lebih sepi tanpa mereka. Aku juga benar-benar merindukan sosok mereka bertiga. Kris dengan suaranya, Luhan dengan tawanya yang ringan, dan Tao… astaga aku rindu rengekan anak itu dibelikan boneka panda.” Celoteh Xiumin panjang-lebar. Matanya masih menatap cecak yang belum juga berhasil menyantap mangsanya.

Suho tertawa pelan mendengar celoteh Xiumin –membenarkan kalimat kakaknya itu. Sudah lama waktu berlalu dan sudah banyak hal yang mereka lalui bersama. Senang dan susah mereka hadapi bersama-sama, walaupun beberapa orang dari mereka memilih untuk memisahkan diri dan bekerja sendiri-sendiri. Tapi Suho tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Terkadang ketika ia kelelahan setelah manggung seharian, ketika semua orang telah terlelap tidur dan hanya menyisakan dirinya yang terbaring dengan mata nyalang, hati kecilnya merindukan sosok Kris. Leader partnernya yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman, selalu mendengar keluh kesahnya, seseorang yang selalu memberikan solusi terbaik atas masalah yang sedang dihadapinya, yang selalu membantunya menghadapi kelakukan Baekhyun dan Chanyeol yang terkadang kelewat jahil…..

Ah, kini Suho mengerti apa yang dirasakan oleh Baekhyun.

“Menurutku Baekhyun harus diajak bicara. Siapa tahu dia punya unek-unek yang sudah lama ingin disampaikan, tetapi selalu ditahannya.” Kata Suho, sekarang posisi leader EXO itu sama dengan Xiumin. Berbaring dan menatap nyalang cecak yang kini sudah berhasil menangkap mangsanya.

“Menurutmu begitu?”

“Hm.”

Xiumin membasahi bibirnya yang kering dan merenung sejenak kemudian berkata, “Kurasa aku bisa melakukannya.”

Suho tersenyum samar. “Ya. Kurasa kini giliranmu, Hyung.”

“Tapi biarkan anak itu beristirahat sejenak. Mungkin malam ini fisiknya juga lelah, sehingga sikapnya jadi berubah. Besok pagi akan kucoba. Dan kurasa aku juga perlu tidur untuk beberapa saat.”

Keheningan menyelinap masuk sesaat setelah kalimat terakhir Xiumin selesai. Sepi kini mengisi ruang kosong diantara dua lelaki yang sedang terlentang. Xiumin sudah memejamkan matanya dan tertidur, walaupun Suho tahu kakaknya itu tidak akan tertidur terlalu lelap. Xiumin belum berganti baju dan menghapus make up, kaus kakinya pun belum sempat dibuka.

Suho diam. Ia membiarkan kakaknya itu beristirahat. Semoga setelah melepas lelah sejenak, pikiran Xiumin bisa lebih jernih. Sehingga akan lebih baik ketika mendengarkan Baekhyun bercerita nanti. Dan semoga Baekhyun juga bersedia untuk menceritakan semuanya.

.

.

Sial!

Baekhyun merutuk dalam hati. Sudah jam setengah satu pagi dan ia tidak bisa tidur. Matanya terus saja terbuka walaupun badannya sudah sangat lelah. Perasaan rindu ini sungguh menyiksa dirinya. Dan kalau boleh jujur, Baekhyun sangat kesepian.

Oh, Tuhan. Kalau sedang kesepian begini rasanya Baekhyun ingin mempercepat waktu menuju pagi, agar ia bisa segera melihat semua orang berkumpul di meja makan untuk sarapan pancake buatan D.O. Semua member akan saling berebut pancake yang sudah matang terlebih dahulu, berebut madu yang sangat manis yang digunakan sebagai toping dan akan menuangkan whipedcream banyak-banyak. Suho akan membuatkan susu cokelat untuk Sehun dan susu strawberry untuknya. Oh, ayo cepatlah pagi!

Baekhyun mengerang sendiri di atas tempat tidur. Menghadap ke kanan, menghadap ke kiri, telungkup, terlentang, menungging, menutup semua badannya menggunakan selimut, semua cara sudah ia coba dan tidak ada satupun yang membuatnya nyaman untuk terlelap. Dengan sekali gerakan mulus Baekhyun bangkit dari posisinya dan berdiri disamping tempat tidur. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Harus bagaimana ia melewati malam ini?

Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencoba berkeliling. Siapa tahu sedikit berjalan-jalan mengitari rumah ini bisa membuatnya mengantuk. Atau menonton spongebob ditengah malam sepertinya bukan ide yang buruk.

Baekhyun melangkah pelan menuju ruang TV. Ruangan tersebut gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Baekhyun menghela napas malas, ia berbalik dan tidak jadi untuk menonton spongebob ditengah malam. Pilihan terakhirnya jatuh pada ruang musik. Baekhyun membuka pintu ruang musik itu perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Ruang musik ini berisikan beberapa instrumen yang biasa dipakai para member yang iseng-iseng mengisi waktu luang. Biasanya Lay dan Chanyeol yang banyak menghabiskan waktu disini. Duduk memelototi kertas berisi not-not yang sedang di harmonisasikan menjadi sebuah musik yang indah.

Baekhyun duduk di depan sebuah grand piano berwarna hitam. Piano tersebut berada dalam keadaan terbuka. Baekhyun menyentuh tuts piano yang berwana hitam putih itu. Sesekali ia menekan tuts tersebut sehingga piano itu mengeluarkan dentingan kecil. Tanpa sadar Baekhyun sudah mulai memainkan piano itu. Ia memainkan sebuah lagu sendu yang dipelajarinya beberapa waktu lalu bersama Chanyeol. Kata Chanyeol, terkadang memainkan lagu sendu ketika sedang bersedih atau merindukan seseorang bisa memperbaiki perasaan.

Selama lima menit penuh, dentingan piano yang indah memenuhi ruangan musik tersebut. Baekhyun tidak peduli dirinya dikira hantu oleh penghuni dorm karena memainkan piano dengan nada yang sedih di tengah malam. Ia hanya ingin menenangkan diri dari semua perasaan yang mengacaukan malam yang begitu melelahkan ini.

Beberapa detik setelah Baekhyun selesai memainkan lagu tersebut, pintu ruangan musik terbuka. Muncul sosok Xiumin dengan piyama dan sandal rumah yang terlihat sangat nyaman. Ada handuk kecil tersampir di bahunya. Xiumin melangkah masuk menghapiri Baekhyun sambil tersenyum.

“Sebuah lagu sendu di tengah malam, uh?”

Baekhyun menoleh. “Hyung..”

“Kau tidak bisa tidur?”

Baekhyun menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Xiumin berdiri di samping piano dan mengelus benda berwarna hitam tersebut pelan.

“Bukankah kau sangat lelah selepas siaran tadi?”

“Ya, aku lelah sekali, Hyung. Tapi..” Baekhyun mendesah, “..entah kenapa banyak sekali pikiran yang membuatku tidak bisa tidur. Makanya aku kesini dan memainkan lagu tadi. Siapa tahu lagu tadi bisa membuatku mengantuk.” Tegasnya.

Xiumin tersenyum mendengar perkataan Baekhyun. “Bagaimana kalau kita mengobrol? Kau ceritakan semuanya dan aku akan mendengarkan sampai habis. Kau tahu, selain memainkan lagu sendu, bercerita kepada orang yang kau percayai juga bisa memperbaiki perasaan.”

“Benarkah?”

Xiumin mengangguk tegas. “Itupun kalau kau percaya padaku.”

Mendengar itu Baekhyun lantas tersenyum penuh haru. “Baiklah.” Katanya sambil mengangguk. “Tapi, Hyung aku ingin kau membawakanku sesuatu.”

“Apa?”

“Susu strawberry panas.”

Xiumin lantas tergelak. “On the rooftop. And I’ll be ready in 5 minutes.”

.

.

Baekhyun duduk di sebuah kursi kayu berukuran lebar yang rendah. Sesaat setelah Xiumin meninggalkannya untuk membuat susu strawberry, ia langsung melesat ke kamarnya untuk memakai hoodie dengan tanduk rusa, membawa selimut galaksi dan memakai sendal berbentuk panda.

Tiga menit kemudian Xiumin datang dengan secangkir susu strawberry panas pesanan Baekhyun dan secangkir greentea untuknya. Xiumin mendengar bahwa greentea mengandung banyak antioksidan dan baik untuk mengembalikan semangat setelah bekerja seharian. Dan disinilah mereka sekarang. Duduk bersisian sambil menyesap minumannya masing-masing. Musim panas sudah memasuki penghujung dan akan berakhir sebentar lagi, sehingga udara sudah berubah menjadi sejuk. Langit gelap tanpa bintang. Yang ada hanya hembusan angin malam yang melewati celah daun sehingga menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan.

“Jadi… kapan kau akan mulai, Baekhyun? Aku sudah membawakan pesananmu dengan sangat baik.” Celetuk Xiumin, menyadarkan Baekhyun dari lamunannya.

“Baiklah, Hyung.”

Xiumin berdeham sekali dan memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih nyaman. Ia siap mendengarkan cerita member yang terkenal kelewat jahil ini.

“Hyung tahu sendiri aku tadi keceplosan menyebut angka 12 saat siaran radio.” Baekhyun memulai ceritanya. Xiumin mengangguk pelan.

“Dan aku yakin Hyung juga ingat bahwa itu bukan pertama kalinya aku melakukan kesalahan.”

Xiumin mengangguk kembali.

“Dan aku juga yakin Hyung mengerti betul apa yang sedang aku rasakan.”

“Kau rindu.” Akhirnya Xiumin buka suara. Baekhyun mengangguk pelan.

“Sangat, Hyung. Sangat.”

Baekhyun terdiam selama beberapa detik dengan kening berkerut. Pemuda itu merenung sejenak.

“Sudah lama sekali waktu berlalu semenjak comeback dengan album Overdose. Berarti sudah lama pula kita kehilangan dua member yang tentunya sangat berarti di EXO. Selama ini aku berusaha untuk menahan perasaan rinduku kepada mereka. Aku tahu sekarang mereka baik-baik saja. Aku melihat EXO-L sering heboh membicarakan mereka ketika mereka meng-upload sesuatu di weibo, instagram ataupun sosial media yang lainnya. Aku tahu EXO-L mendukung penuh EXO yang sekarang, yang beranggotakan 10 orang. Tapi sekarang Tao sudah tidak di sini. Maksudku, semua orang tahu bahwa Tao sedang vakum adari aktivitas EXO, tapi banyak orang yang berasumsi bahwa vakumnya Tao berarti langkah perlahannya ia untuk hengkang dari EXO, Hyung. Dan kau harus tahu betapa tak siapnya aku kalau aku harus kembali kehilangan salah satu anggota keluargaku.”

Baekhyun menghela napas panjang. Ia menyesap susu strawberry yang masih dalam genggamannya pelan. Xiumin masih terdiam, mendengarkan dengan seksama.

“Aku…” Baekhyun melanjutkan, “…sesungguhnya aku teramat gembira ketika kita debut pertama kali. Sungguh, hal itu menjadi salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Dari yang asalnya kita tidak saling mengenal, menjadi dekat dan disatukan dalam suatu grup bernama EXO. Aku senang ketika mengetahui bahwa EXO mempunyai banyak fans dari seluruh dunia, dan aku sangat berharap bahwa segalanya akan terus seperti itu sampai nanti maut memisahkan. Tapi ternyata takdir berkata lain. 12 orang itu tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Aku tidak tahu apa yang salah dari semua ini, apakah dari agensi atau apapun itu, aku tidak mengerti. Seandainya aku bisa memutar kembali waktu ke masa lalu, aku ingin memperbaiki semuanya, Hyung. Mencegah semua ini terjadi, bagaimanapun caranya. Sesulit apapun, aku yakin pasti akan bisa dihadapi karena kita bersama-sama. Karena kita keluarga. Dan keluarga sudah seharusnya hidup bersama, rukun dalam satu atap, bukan berpencar sendiri-sendiri, terpisah dari koloni.”

Mendengar curahan hati Baekhyun, Xiumin menyunggingkan senyum tipis. Ternyata inilah perasaan yang selama ini Baekhyun simpan sendirian. Dan malam ini Xiumin yakin Baekhyun akan menceritakan semuanya sampai tuntas.

“Hyung..”

“Hm.”

Baekhyun menoleh kepada Xiumin. “Apa kau mendengarkanku?”

“Tentu saja. Aku mendengarkan setiap perkataanmu dengan jelas.”

Baekhyun tersenyum samar. “Apakah kau merasakan hal yang sama seperti aku?”

Xiumin menghela napas panjang dan mengangguk pelan. “Persis.”

“Kau tahu, Hyung…” Baekhyun membasahi bibirnya yang kering dan mengangkat sebelah bahunya lemah, “…aku seringkali membayangkan kalau semua orang masih hidup bersama dalam rumah ini. 12 orang, Hyung. 12 orang. Aku yakin disetiap malamnya tidak akan sesepi ini. Aku selalu ingat Kris Hyung yang suka begadang menemaniku nonton spongebob, walau akhirnya lelaki itu akan ketiduran di sofa dengan mulut yang sedikit terbuka. Keesokan paginya aku akan menemukan Luhan Hyung yang masih tertidur di kamar walaupun semua member sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Aku masih ingat Luhan Hyung sangat suka pancake yang dibuat oleh D.O Hyung. Ia akan menuangkan madu dan menambahkan whipedcream banyak-banyak dan makan dengan lahap. Siangnya ia akan mengajakku untuk membeli bubble tea, dan Sehun pasti akan merengek ingin ikut, tidak rela kakak kesayangannya berjalan-jalan bersamaku,” Baekhyun berbicara dengan pandangan menerawang kedepan, seolah-olah ada sebuah film tentang EXO OT12 yang sedang diputar ulang dihadapannya. Bibirnya tertarik simetris menyunggingkan senyuman tipis yang begitu getir.

“Dan Tao… ah, betapa rindunya aku dengan rengekan anak itu. Sungguh, walaupun Tao seringkali bertingkah seperti anak kecil, makan paling banyak, tidur paling lama walau tidak selama Luhan Hyung, selalu minta dibelikan barang-barang yang berbau panda, merebut makanan orang, member  dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi dan bisa kelewat menyebalkan… tapi sosok Tao memberikan warna di dorm ini. Ia adalah seorang pekerja keras. Pantang menyerah kalau belum mahir koreo, dan tawanya yang melengking itu… astaga Umin Hyuuuung tolong akuuu!”

Baekhyun mengusap wajahnya frustrasi dengan kedua tangan. Kini lelaki itu menunduk menatap lantai semen sambil mengatur napasnya agar bisa kembali normal. Matanya berkaca-kaca mengingat semua hal indah yang pernah dialaminya ketika 12 orang masih hidup bersama-sama.

Xiumin lantas menyentuh punggung Baekhyun dan mengelusnya pelan. Berusaha mengalirkan kehangatan dan ketenangan untuk adiknya itu. Xiumin mengerti betul apa yang dirasakan oleh Baekhyun saat ini, karena ia pun pernah merasakan hal yang sama beberapa waktu lalu. Tapi ia bukanlah Baekhyun yang mudah cemas ketika ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Ia bukan seorang Baekhyun yang ekstrovert.

“Tenangkan dirimu, kawan. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan pelahan.” Ujar Xiumin lembut, masih sambil mengusap punggung Baekhyun.

Angin malam bertiup kembali. Gemerisik daun yang saling bergesek kembali terdengar, berusaha menebarkan ketenangan untuk dua orang lelaki yang sedang duduk di rooftop dengan susu strawberry dan secangkir greentea yang tersisa setengah dan sudah kehilangan panasnya.

Tiba-tiba terdengar sebuah isakan pelan. Xiumin menoleh ke arah Baekhyun dan menatap punggung lelaki itu lamat-lamat. Xiumin menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Baekhyun dan merangkul bahu pemuda yang sedang berguncang pelan tersebut dengan hangat. Ia menepuk-nepuk bahu Baekhyun dengan lembut, berharap agar segala kegundahan Baekhyun segera hilang.

Xiumin tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia membiarkan Baekhyun menangis, meluapkan perasaannya malam itu. Xiumin tahu memendam perasaan yang begitu dalam bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk seorang Baekhyun. Dan satu alasan yang membuatnya membiarkan Baekhyun menangis sampai puas adalah:

Selain memainkan musik yang sendu dan bercerita kepada seseorang yang dipercayai ketika bersedih, menangis dan meluapkan segalanya akan membuat perasaanmu jauh lebih baik. Karena perasaan rindu memang seharusnya diungkapkan, bukan?

.

.

“Sudah merasa lebih baik?”

Baekhyun mengangguk. Lelaki itu menegak susu strawberrynya sampai habis. Ia menoleh ke arah Xiumin dengan mata sembap dan hidung yang merah. “Terima kasih, Hyung.”

Xiumin mengangguk pelan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya. “Kuharap kau akan senantiasa menceritakan segala kegundahan hatimu, Baekhyun. Kalau kau ingin menangis, menangislah. Karena setiap manusia mempunyai titik terlemah dalam dirinya, dan meluapkan segalanya adalah cara terbaik untuk membuat dirimu bangkit kembali.”

Baekhyun mengangguk dan menyunggingkan senyum tipis. “Aku akan melakukannya, Hyung.”

“Jadi boleh aku bicara sekarang?”

Baekhyun terdiam menatap Xiumin, artinya mempersilakan kakaknya untuk berbicara.

“Tadi aku sempat mengobrol dengan Suho tentang sikapmu yang tiba-tiba saja berubah. Dan Suho sudah tahu mengapa sikapmu seperti itu. Suho juga berkata bahwa walaupun waktu sudah berlalu sekian lama, tapi ketiga sosok yang pernah hidup bersama dengan kita tidak akan pernah terlupa. Walaupun mereka sekarang sudah memilih jalan hidup masing-masing, tetapi mereka tetap menjadi keluarga EXO.

“Kau tahu sendiri bagaimana sikap EXO-L yang terus mendukung EXO dan member-member yang telah memisahkan diri. Mereka tetap memberikan semangat dan cinta kepada kita, bukan? Kalau saja kekuatan Tao itu nyata, aku sudah melakukan hal yang ingin kau lakukan sejak lama, Baek. Memperbaiki semuanya, mencegah semua ini terjadi dan mempertahankan grup ini tetap 12 orang. Tetapi apalah daya kita, Baek? Kita hanya setitik debu diatas galaksi yang luas ini, sehebat apapun skenario yang kita rencanakan, kalau Tuhan berkata bahwa mereka memang harus mempunyai jalan hidupnya sendiri-sendiri, lalu kita bisa apa? Kita tidak mungkin melawan Tuhan, kan?” Xiumin bercerita panjang-lebar, sesekali pemuda itu menggerakkan tangannya untuk mempertegas kata-kata yang ia ucapkan.

Kali ini ia mendesah lelah. “Baek..” Suaranya pelan namun terdengar begitu lembut. “..kita tidak akan bisa membuat mereka kembali ke rumah ini. Mereka sudah menemukan ‘rumah’ mereka sendiri. Kita bukan lagi tempat yang akan mereka tuju kembali untuk pulang dan melepas penat. Kita bukan lagi hal yang mereka cari untuk berbagi. Tapi aku yakin, mereka pasti masih menganggap kita semua sebagai keluarga. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa, Baek.

“Berdoa untuk kesuksesan mereka. Kebesaran nama mereka. Kesehatan mereka. Aku yakin merekapun pasti sama rindunya denganmu. Tiga tahun kebersamaan kita menyanyi dari panggung ke panggung ditambah dengan masa trainee yang dihabiskan bersama-sama, kurasa bukan hal yang mudah pula untuk dilupakan oleh mereka. Mereka mendapat tempat terbaiknya disana bukan secara tiba-tiba. Mereka berjuang bersama disini. Mereka pernah disini, Baek.

“Dan walaupun mereka kini sudah memisahkan diri atau bahkan menyimpan rasa kecewa yang besar pada agensi yang pernah menaungi mereka, ingat satu hal bahwa mereka tetap menjadi keluarga. Mungkin bukan keluarga dalam agensi, tapi mereka keluarga kita. Sebuah keluarga akan selalu welcome terhadap anggotanya, sebuah keluarga memiliki rasa empati yang tinggi dan toleran satu sama lainnya. Bagiku sebutan ‘mantan’ hanya sekadar panggilan untuk mereka yang pernah bersama-sama di agensi ini, tapi akan pernah ada sebutan ‘mantan’ dalam keluarga.

“Keluarga akan selalu membuka diri. Keluarga tidak akan pernah mengunci pintu, karena keluarga akan selalu menyambut mereka yang ingin kembali, keluarga akan selalu menyambut mereka yang ingin pulang. Walaupun ternyata, suatu hari nanti, mereka tidak akan pernah kembali pulang. Walaupun ternyata mereka sudah tak membutuhkan EXO.”

Xiumin mengakhiri ceritanya dengan penuh haru. Ia mengusap ujung matanya yang sempat berair. Lelaki itu diam selama beberapa detik setelah menyelesaikan ceritanya, kemudian ia tertawa hambar sambil menoleh pada Baekhyun.

“Hyung…” Panggil Baekhyun lirih.

“Astaga, apakah kau ingin menangis lagi?” Goda Xiumin sambil menunjuk wajah Baekhyun yang sudah memerah karena menahan tangis. Kalau saja ia tidak mengakhiri ceritanya, pastilah Baekhyun sudah kembali terisak. Dan mungkin kali ini akan lebih keras daripada semula.

“Umin Hyuuuung….”

Baekhyun memekik manja namun dibalas oleh pecahnya tawa Xiumin saat itu juga. Baekhyun benar-benar kelah pada perasaannya sendiri malam ini.

“Sudahlah, Baek. Semuanya sudah berlalu. Biarkan waktu berjalan apa adanya. Yang penting kita selalu welcome pada siapapun dari mereka yang ingin pulang. Ingat, jangan pernah mengunci pintu.” Kata Xiumin memberikan petuahnya sekali lagi pada Baekhyun yang sedang manyun menatapnya.

Akhirnya malam itu Baekhyun dan Xiumin saling bertukar cerita. Tentang kegundahan yang mereka rasakan, tentang kerinduan, tentang apapun yang selama ini mengganjal didalam hati dan sudah sekian lama dipendam. Baekhyun kini sudah lebih tenang dan sudah bisa tertawa kembali, walaupun tawanya masih terdengar getir dan suaranya terdengar sumbang akibat menangis.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Susu strawberry milik Baekhyun dan greentea milik Xiumin sudah tandas setengah jam yang lalu. Angin yang berhembus berubah dingin. Gemerisik daun yang sedari tadi menemani keduanya bercerita ternyata mengantarkan dua lelaki ini pada rasa kantuk yang luar biasa. Baekhyun sudah menguap tujuh kali dalam setengah jam terakhir, dan Xiumin… jangan tanya. Kini mata pemuda itu sudah terasa sangat berat dan ada kantung mata yang mulai muncul di bawah matanya.

“Ayo kita turun, Baek. Ini sudah jam setengah tiga. Aku mengantuk.” Ajak Xiumin sambil melipat selimut galaksi yang dibawakan Baekhyun.

“Aku juga mengantuk, Hyung.” Jawab Baekhyun sambil menguap lebar.

“Kudengar besok D.O akan membuatkan sandwich spesial untuk sarapan. Jadi sebaiknya kita bergegas tidur supaya besok tidak ketinggalan sesi memasak bersama sang Koki.” Kata Xiumin yang tentu saja mengundang gelak tawa Baekhyun. Astaga, kadang Baekhyun lupa kalau kakaknya yang terkenal pendiam ini bisa begitu lucu.

“Sebentar, Hyung.”

Xiumin menoleh kepada Baekhyun dengan tatapan penuh tanya.

“Terima kasih untuk malam ini, Hyung. Terima kasih karena sudah mau mendengarkan ceritaku yang mungkin tingkat kegalauannya melebihi Suho Hyung. Maafkan aku atas perubahan sikapku tadi yang tidak baik. Terima kasih karena telah mengajarkan padaku bahwa perasaan rindu yang tak tersampaikan itu memang menyakitkan, tapi aku bisa membuat segalanya menjadi lebih baik dengan menceritakan semuanya kepada orang yang kupercayai. Dan aku percaya padamu, Hyung. Sekarang aku tahu bahwa aku tidak boleh mengunci pintu, karena siapa tahu, suatu hari nanti mereka akan kembali, seperti katamu tadi.”

Baekhyun memeluk Xiumin dan memberikan tepukan di punggung lelaki itu dengan lembut. Ia menghela napas panjang penuh kelegaan karena ia menyadari bahwa walaupun banyak orang yang bisa pergi berkhianat, tetapi masih ada orang yang selalu bisa ia percayai. Dan Xiumin adalah salah satunya. Memang umur tidak pernah berbohong. Semakin tua, semakin banyak pengalamannya. Mungkin Baekhyun harus banyak belajar pada kakak tertuanya di EXO.

“Sama-sama, Baek. Aku senang bisa menjadi orang yang kau percayai. Kalau ada sesuatu yang ingin kau ceritakan, datanglah. Aku akan setia mendengarkan.” Dengan lirih Xiumin berkata pada Baekhyun yang masih memeluknya.

Detik berikutnya Baekhyun melepaskan pelukannya dan kembali memasang wajah jenaka. “Aigu Hyung! Jangan melow begitu! Lihat kan, aku sudah kembali menjadi Baekhyun yang ceria.”

Xiumin memutar bola matanya dan melemparkan tatapan sebal pada Baekhyun. “Tapi Baekhyun, kalau kau mau bercerita padaku, ada syaratnya.”

Ekspresi jenaka Baekhyun langsung lenyap seketika. “Apa?”

“Secangkir greentea, selimut galaksi, pocky rasa greentea, dan jangan mengajakku untuk mendengarkan ceritamu tengah malam. Sungguh, Baek. Kakak tertuamu ini butuh istirahat.”

Tawa Baekhyun langsung pecah mendengar syarat-syarat yang diajukan Xiumin padanya. Baekhyun tidak menyangka ternyata Xiumin kelelahan mendengar semua ocehan panjang-lebarnya malam ini.

Okay, okay. I get it. Tapi untuk syarat yang terakhir, aku tidak janji.” Ujar Baekhyun sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.

Xiumin menggerutu pelan seraya berdiri dari posisi duduknya. Ia merenggangkan badannya beberapa detik sebelum benar-benar beranjak turun dari rooftop. Kalau obrolannya dengan Baekhyun terus dilanjutkan, ia yakin pagi nanti tidak akan pernah merasakan satu cuilpun sandwich spesial buatan D.O.

“Hyung! Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Terdengar suara Baekhyun yang mengikutinya berjalan dari belakang.

“Hm?”

“Menurutmu apa lagu yang pas sebagai pengantar tidur pagi ini?”

“Hm…” Xiumin berpikir sejenak sambil memegang gagang pintu yang menghubungkan tangga dengan rooftop. “Aku menyarankan soundtrack film Fast Furious 7. Judulnya See You Again, dinyanyikan oleh Wiz Khalifa berduet bersama Charlie Puth.”

Baekhyun mengulangi judul lagu dan penyanyi yang baru saja diucapkan Xiumin dengan gumaman. “Baiklah. Aku akan mendownloadnya sekarang juga.”

Sedetik kemudian pintu rooftop ditutup dan dikunci oleh Xiumin. Keduanya turun dari rooftop dan masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Benar-benar beristirahat. Beristirahat dari segala penat pekerjaan, dan perasaan rindu yang belum sempat tersampaikan.

.

.

Manusia sejatinya adalah makhluk sosial. Makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Kehidupan ini ibarat roda. Terus berputar dan ia bisa menghentikan posisi manusia dimana saja. Di atas, di samping ataupun di bawah. Setiap manusia punya titik terlemah dan terkuat dalam hidupnya. Manusia adalah makhluk yang penuh dengan perasaan. Dan seringkali manusia kebingungan dengan perasaannya sendiri. Terutama rindu.

Dalam hidup tentu banyak yang terjadi. Seiring waktu berlalu, manusia mengenal manusia yang lainnya, menjadi sebuah keluarga dan menebarkan cinta satu sama lainnya. Namun kehidupan silih berganti. Ada yang datang, ada yang pergi. Manusia boleh saja berencana melakukan ini-itu, tetapi Tuhan adalah sebaik-baiknya penulis skenario. Manusia tentu saja tidak bisa melawan Tuhan. Yang manusia bisa lakukan adalah berharap bahwa skenario yang Tuhan buat sejalan dengan rencana yang disusun.

Di dalam sebuah keluarga, kehidupan benar-benar dimulai. Disanalah cinta mengalir tiada henti. Kehilangan dalam sebuah keluarga pasti akan terjadi, dan manusia tidak akan pernah tahu kapan dan dengan cara seperti apa mereka kehilangan anggota keluarga mereka.

Yang perlu sebuah keluarga lakukan adalah tidak pernah mengunci pintu. Setiap orang yang pergi tentulah punya alasannya tersendiri. Siapa tahu suatu hari nanti, mereka akan kembali. Kembali menebar cinta dan mengobati rindu yang telah lama terpendam.

Sebuah keluarga akan selalu membuka diri. Menerima mereka yang hendak kembali pulang. Walaupun nantinya mereka akan pergi lagi, dan benar-benar tidak membutuhkan keluarga.

.

.

It’s been a long day without you my friend

And I’ll tell you all about it when I see you again

We’ve come a long way from where we began

Oh I’ll tell you all about it when I see you again

 

See You Again (Wiz Khalifa ft. Charlie Puth)

.

.

So, here we go again.
Sebuah fanfik yang terinspirasi dari insiden keceplosannya si Cabe.
Udah pada liat kan videonya?
Ya walaupun cuma sekitar 45 detik, tapi aku yakin yang EXO-L jadi pada baper.
Ya kan? Hehehe. Kalo belom liat silakan cari di youtube.
Well, sebenernya ini sudah tertancap lama di dalam pikiran
Tapi ya baru kesampean sekarang buat nulisnya.
Sebenernya kangen juga sih ya liat OT12, apalagi yang abis liat video keceplosan si Cabe,
langsung nonton EXO Showtime. Wuuuw selamat baper!
Dan semoga kalian suka dengan cerita ini.
Ini cuma fiksi. Yang nggak fiksi ya keceplosannya aja.
Maafkan kalau misalkan yang aku tulis berbeda dengan persepsi kalian.
Ya kan semua orang punya persepsinya masing-masing, hehehe.
So, seperti biasa, maafkan atas segala typo yang terjadi dalam cerita.
Aku berharap kalian suka sama ceritanya dan bisa merasakan
bagaimana sakitnya rindu yang tak tersampaikan *aweu*

Happy reading!
Jangan lupa komen SELALU aku tunggu di kotak komentar.
Terkait dengan ‘The Traveler’ InsyaAllah akan berproses dalam beberapa hari kedepan
Doakan semoga proses menulis diberikan kelancaran, HAHAHA.

Bye, readers!

Enjoy! xo.

10 responses to “[Oneshot] See You Again

  1. sumveh .. baper gila gra” si baek ceplas – ceplos gt . 😩😳
    mana bacanya pakek backsound lagu ‘promise’ #gaknanya #plak 😅😆
    dan FF ini sukses melengkapi tingkat ke-baper’an tingkat teratas /prok prok prok/ 👏
    haha maaf thor coment nya isinya cuman gini 😆…
    ceritanya bagus .. suka suka dan berharap it bukan fiksi ☺😊

  2. kenapa jd kangen bgt sama Kris, Luhan x Tao T_T bikin ff chapternya dong min heuheu:3 keep writing ya!^^
    jangan lupa mampir kesini miserabledust.wordpress.com hehe;;)

  3. Argh! Saya benci jadi orang yang perasa.

    Sumpah, nyesel banget baca ini. Yagila aja jam 12malam aku nangis di kamar. Aslinya sih nggak begitu peduli sama keluarnya anggota exo, tapi aku baperan banget kalo sudah nyangkut masalah pertemanan yang pisah2 gini. Tiap baca ff exo yang tentang gini, mustahil kalo aku nggak nangis.

    Thx thor sudah bikin kepala jadi pusing gara2 nahan nangis. Lafyou, semangat teruzzzzz

  4. Aku tau author nya sendiri pasti baper baca ini yakan hehehe x’D melow banget thor :””” liat cover ffnya apalagi ditambah ngebaca ceritanya sambil dibaca betul betul, air mata udah berlinang teruss baper sama alien dari sm yang masih ber12 :””””” huhuhu :”””(😥 makasih author buat suguhan ff yang bisa bikin baper ini wkwk 2 jempol buat author😀

  5. Demi Tuhan ini menurut ku ff yg real..
    xiu emg member yg paling tau segalanya and that’s why he is so quite..
    baek aj g bs move on.. gmna exo-lexo-l ? Hahaha

    But thanks author for make this ff!
    Simple but this is full of meaning…
    thanks!

  6. Saaannn ini akuuu wkwk
    Ko sedih yaa sedih pisan ih cireumbay siah saan tanggung jawab bising batal puasana wkwk

  7. FF NYA GAGAL TOTAL!!!

    gagal bikin nggak baper
    gagal bikin move on
    gagal bikin aku nggak nangis…

    apalagi aku bacanya malem
    jadi feelnya tuh lebih… dalemmm… banget
    tisu udah numpuk buat ngapus airmata
    padahal udah selesai baca,tetep aja nangis terus.

    Jadi ngalamin hal yang sama persis kayak Baekhyun *di ff
    kayak lagi nonton film dokumenter tentang exo dari mereka audisi,debut,dapet penghargaan,kehilangan member,sampe sekarang yang tinggal ot9

    kalo bisa bikin ff kayak gini lagi tapi tenteng super junior sama snsd

  8. FF nya ngena banget. Bikin baper maksimal. 😭 Aku baru aja jadi EXO-L, rasanya sedih karena EXO sdh gak OT-12, gimana yg jadi EXO-L sejak awal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s