A Little Snow in Summer [1]

a lilltle snow in summer

A Lilltle Snow In Summer

EnnyHutami’s Story © Copyright 2015

| Lenght : Series

| Rating : General (Change each chapter) |

| Genre : Romance, Comedy (A lil bit), School Life |

| Cast : Yoo Jinhae, Jeon Wonwoo, Kim Mingyu and others |

| Diclaimer : Plot and Jeon Wonwoo are mine!:p | Note : Welcome SM17E and the new one. Happy reading!:) |

Chapter 1

~Swinspirit~


Pada halaman seratus tujuh sebuah novel tebal, Jinhae tertidur di ruang tamu di rumahnya yang saat itu sedang sepi. Seluruh keluarganya sedang pergi ke Busan karena ada sebuah acara pernikahan yang harus dihadiri. Dan dirinya tidak bisa ikut karena besok pagi akan ada ujian.

Kemudian tanpa ia sadari, seorang lelaki masuk ke dalam rumahnya. Seorang lelaki berperawakan tinggi dan kurus dengan rambut hitam yang dibiarkan panjang menutupi keningnya. Melihat Jihae yang tertidur di ruang tamu dengan buku yang ada di pangkuannya dan televisi yang menyala, lelaki itu mendecak dan menggelengkan kepalanya.

“Jinhae-ya,” ucap lelaki itu dengan suara pelan. Ingin membangunkan Jinhae, namun ia tidak tega. “Yoo Jinhae.” Dan karena tak ada respon dari Jinhae, ia pun mendengus. Lalu mengambil buku dari pangkuan Jinhae, menyelipkan pembatas buku di halaman yang terbuka dan meletakkannya di meja kecil di depan sofa.

Lelaki itu sedikit tersentak ketika sakunya bergetar panjang. Ponselnya bergetar.

“Iya, Bi?” ucapnya setelah menjawab telepon yang ternyata dari ibu Jinhae. “Dia tertidur di sofa, dan ya, pintunya tidak dikunci.” Katanya melapor, membuat ibu Jinhae di seberang sana mengoceh panjang lebar mengenai betapa teledornya Jinhae.

“… bangunkan saja dia dengan menyiram air ke wajahnya, dan katakan padanya untuk mengunci pintu dan jendela. Aku berhutang banyak padamu Wonwoo-ya.” Celotehan ibu Jinhae hanya ditanggapi dengan senyum oleh lelaki yang dipanggil Wonwoo oleh ibu Jinhae itu. Lalu telepon pun ditutup.

Setelah itu, Wonwoo pun pergi ke kamar mandi di rumah Jinhae dan mengambil sedikit air di tangannya. Senyum jahil langsung terpasang di wajahnya begitu ia melihat gayung berwarna hijau.

Jinhae mengunci pintu rumah dan menyelipkan kunci tersebut ke bawah pot tanaman hias yang berada di rak paling atas. Kemudian ia menuruni anak tangga yang menghubungkan antara pagar rumahnya yang berwarna putih dan hanya setinggi dadanya, dan melangkahkan kakinya menuju sekolah seorang diri.

Jarum pendek di arlojinya masih menunjukkan pukul tujuh pagi, yang menandakan bahwa masih ada waktu setengah jam sebelum pintu gerbang sekolahnya ditutup. Dan karena jarak antara rumahnya dan sekolah tidaklah jauh, hanya lima belas menit dengan berjalan kaki, maka ia dapat bersantai dan tidak perlu berlari seperti sebelum-sebelumnya.

Namun, sayangnya hari selasa bukanlah hari keberuntungannya. Tiba-tiba saja rintikan hujan turun dari langit. Awalnya hanya rintikan gerimis kecil, tetapi kelamaan menjadi deras sehingga ia harus berlari. Dan sialnya, ia tidak membawa payung.

Aish!” umpatnya ketika merasakan hampir seluruh seragamnya basah.
Kemudian ia berbelok dan memilih untuk meneduh di depan sebuah toko kue yang dibalik etalasenya terdapat beberapa kue yang terlihat lezat. Ia menepuk ujung roknya yang basah dan juga menepuk seragam musim panasnya di bagian bahu.

“Aku harap ini tidak membuatku terlambat.” Pintanya dengan gumaman kecil.

“Aku juga.” Sebuah sahutan membuatnya menoleh dan mendapati seorang laki-laki tinggi yang mengenakan seragam yang sama dengan yang dikenakan dirinya berdiri sekitar satu meter darinya. Ia tidak menyadari jika ada seseorang disebelahnya. Sejak kapan lelaki itu berdiri di sana?

Jinhae melirik ke arah papan nama kecil yang tersampir di bagian dada seragam lelaki tersebut karena ia tidak merasa pernah melihat lelaki itu sebelumnya (yah, ia mengenal seluruh teman satu angkatannya yang hanya berjumlah sembilan puluh enam murid). Kim Mingyu. Ia pun berpikir mungkin lelaki itu adalah juniornya. Well, sebagai juniornya yang memiliki wajah dan tubuh seperti itu, seharusnya Kim Mingyu ini populer.

Lalu Mingyu menoleh ke arahnya dengan sedikit merundukkan kepala (untuk sekedar info saja, Jinhae memiliki tinggi badan di atas rata-rata untuk seorang gadis. Dan Kim Mingyu jauh lebih tinggi darinya). “Kau membawa payung?” pertanyaan Mingyu membuat Jinhae memutar bola matanya. Ternyata dia tidak sepintar yang ia pikir.

“Jika aku membawanya, aku tidak meneduh di sini.” Balas Jinhae.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Mingyu membuka payung yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Membuat Jinhae sedikit tersentak mundur karena aksi tiba-tiba yang dilakukan laki-laki itu.

“Mau ikut?” tanya Mingyu.

Jinhae mendengus dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menumpang pada junior.” Ucapannya membuat Mingyu menatapnya heran. Namun laki-laki itu tidak menanggapi lebih lanjut dan hanya melangkah menembus hujan.

Masih di tempatnya berdiri, Jinhae melirik arlojinya dan ia rasa tidak akan ada cukup waktu jika ia harus menunggu temannya yang akan lewat. Jadi ia menyumpahi dirinya sendiri karena akan melanggar ucapannya sendiri. Ia pun berlari menembus hujan mengejar Mingyu dan kini berjalan di sebelah Mingyu, di bawah payung yang sama.

Mingyu menghentikan langkahnya begitu tahu bahwa Jinhae berdiri di sebelahnya tengah menepuk bagian rambutnya yang basah.

Jinhae berdeham. Lalu, “Aku rasa tidak ada salahnya menerima kebaikan seorang junior.” Katanya saat mendapati Mingyu tengah menatapnya heran.

Kemudian keduanya melanjutkan langkahnya menuju sekolah.

“Kau senior tingkat akhir?” Mingyu bertanya, membuka percakapan.

Heol, kau tidak tahu aku?” Jinhae balik bertanya dengan tatapan takjup. Karena sepengetahuannya, hampir seluruh murid di sekolah tahu tentang dirinya. “Apa yang kau lakukan di sekolah? Hanya belajar saja? Apa kau tahu nama seluruh teman angkatanmu—oh tidak, mungkin satu kelas saja. Kau tahu?”

Dan memang benar bahwa seluruh murid mengenal diri Jinhae karena sikapnya yang easy going, pintar, juga cantik. Banyak murid lelaki yang menyatakan cinta padanya, tetapi semuanya ditolak. Jinhae memang easy going, tetapi ia tidak bersikap murah.

“Kau populer?” Mingyu bertanya lagi.

“Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya.” Jinhae menolak untuk menjawab. Tidak mungkin ia menjawab pertanyaan mengenai kepopulerannya itu dari mulutnya sendiri, bukan?

“Kau yang memulai.” Balasan Mingyu membuat Jinhae mendecak dan bergumam tidak jelas. Lalu, “Kelas berapa kau?” ia bertanya.

“Kenapa ingin tahu?” lagi. Jinhae menjawab pertanyaan Mingyu dengan pertanyaan. Dan Mingyu pikir itu adalah kebiasaan Jinhae.

“Hanya bertanya.” Balas Mingyu yang sejak tadi tidak menunjukkan emosinya di depan Jinhae. Bahkan sejak meneduh tadi, Mingyu tidak terlihat memamerkan senyumnya sama sekali. Tidak seperti Jinhae yang telah memperlihatkan beberapa emosi di depan Mingyu.

“Tingkat tiga kelas satu.”

Pintu loker yang hanya berukuran sekitar empat puluh sentimeter itu ditutup pelan ketika seorang pria dewasa yang merupakan guru dari kelas tersebut masuk ke dalam kelas. Jinhae yang kini mengenakan seragam olahraganya duduk di bangku kedua dari belakang, langsung membalikkan badannya ke arah papan tulis.

“Yoo Jinhae, kemana seragammu?” tanya pria tersebut saat mendapati hanya Yoo Jinhae lah yang hanya mengenakan seragam olahraga di dalam kelas.

“Ini seragamku, sir.” Jawab Jinhae. Menyusul suara gelak tawa dari teman-teman sekelasnya.

“Diam!” titah pria tersebut sembari memukul meja beberapa kali untuk mendapatkan perhatian muridnya lagi.
Dan sebelum pria tersebut mengamuk, Jinhae menjawab pertanyaan pria tersebut dengan benar. “Seragamku basah kuyup.” Katanya. Dengan begitu, pria tersebut pun mengalihkan pandangannya dari Jinhae dan menatap seluruh murid di kelas.

“Kalian kedatangan murid baru. Sekaligus ada dua.” Dan sorak sorai terdengar dari murid-murid yang sering menyebabkan kegaduhan. “Kemari.” Katanya kepada dua murid baru yang masih berada di luar kelas.

Dan ketika dua orang lelaki masuk ke dalam kelas, kini suara sorak sorai dari murid wanita lebih dominan. Sedangkan Jinhae yang melihat salah seorang di sana membelalakan matanya terkejut.

“Jeon Wonwoo!” serunya tanpa sadar, membuat seluruh murid di kelas menoleh padanya.
Namun guru tersebut tidak terlalu peduli apakah Jinhae mengenal salah seorang diantara murid baru atau tidak. Pria tersebut kembali berbicara dan menyuruh agar keduanya memperkenalkan diri.

“Jeon Wonwoo, pindahan dari Jepang.” Dan sorak sorai murid wanita terdengar lagi saat Wonwoo memamerkan senyumnya.

Lalu, “Kim Mingyu.” Katanya memperkenalkan diri. Hanya memperkenalkan namanya saja dan tanpa senyuman seperti Wonwoo. Meskipun begitu, Seunghee yang duduk di belakang Jinhae berteriak “Keren!” yang membuat Jinhae memutar bola matanya.

Jadi, Kim Mingyu, lelaki yang ia tumpangi payungnya bukanlah juniornya. Mengingat itu, ia langsung merundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik tirai-tirau rambutnya yang panjang.
Seharusnya ia tidak banyak bicara tadi. Astaga!

“Wonwoo-ya, ayo ke kantin.” Ajak Jinhae pada Wonwoo yang baru saja menutup buku catatannya setelah bel istirahat terdengar di seantero sekolah.

Setelah membereskan mejanya, Wonwoo pun bangun dan berjalan di sebelah Jinhae menuju kafetaria. Sudah hampir dua tahun keduanya tidak bertemu dan kini, mereka satu sekolah lagi.

“Kapan kau kembali? Kau tidak memberitahuku.” Kata Jinhae memulai percakapan sembari mereka berjalan menuju kafetaria.

“Kemarin. Orangtuamu tahu. Mereka tidak memberitahumu?” jawab Wonwoo dengan pertanyaan. Efek tumbuh besar bersama, keduanya memiliki kebiasaan dan cara bicara yang hampir sama.

Jinhae menggeleng lalu mengerucutkan bibirnya. “Ya! seharusnya kau datang ke rumahku. Kau tidak membawa oleh-oleh dari Jepang untukku? Ck, dasar pelit.” Sebelum Wonwoo sempat menjawab, Jinhae kembali melontar pertanyaannya. “Oh ya, kau tinggal di rumah bibimu lagi atau dimana? Ck, seharusnya kau memberitahuku saat kau kembali ke Seoul—“
Pusing mendengar celotehan Jinhae, Wonwoo pun langsung membekap mulut Jinhae dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menahan belakang kepala Jinhae. Membuat Jinhae langsung melotot ke arahnya.

“Kau cerewet sekali!” seru Wonwoo. Tidak takut pada Jinhae yang melototinya.

Tidak terima mulutnya ditutup seperti itu, Jinhae membuka mulutnya sedikit dan mengigit telapat tangan Wonwoo, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan—yang sukses membuat orang-orang menoleh ke arah keduanya. Belum selesai, Jinhae pun menginjak kaki Wonwoo keras. Lalu, “Tanganmu bau!” serunya dan meninggalkan Wonwoo yang masih mengaduh kesakitan dua kali.

Dan diantara murid-murid yang memperhatikan keduanya, Kim Mingyu melihat keduanya dengan tanpa ekpresi.

“Persamaan ini tidak seharusnya kau buat seperti ini.” Omel Jinhae pada Wonwoo yang meminta untuk diajari untuk membuat tugas matematika yang diberikan guru saat hari pertamanya masuk sekolah. “Jeon Wonwoo, di Jepang, apa yang sebenarnya kau lakukan?” kali ini ia berkacak pinggang.

Wonwoo yang duduk di kursi di balik meja belajar milik Jinhae bergumam tidak jelas dan mengerucutkan bibirnya. Lalu, “Kau kan tahu aku sekolah di Jepang bukan karena aku pintar. Tetapi karena pekerjaan ayahku.” Katanya, tidak mau kalah dengan sindiran Jinhae yang diucapkan secara terang-terangan.

“Ya, aku tahu. Tetapi setidaknya kau berusaha untuk—“

Noona, dua temanmu di sini.” Adik laki-laki Jinhae, Yoo Jinyoung, menginterupsinya dengan melongokkan kepalanya dari pintu kamar.

“Suruh mereka ke kamarku.” Titah Jinhae pada adiknya, yang membuat adiknya menggerutu karena diperintah oleh kakaknya, tetapi tetap menuruti apa yang dikatakan kakak perempuannya itu.

“Kau tahu dengan baik bagaimana otakku mencerna pelajaran,” kata Wonwoo, wajahnya terlihat memelas. Lalu, “Aku justru heran bagaimana kau memiliki otak seperti itu.”

Ya! Kerjakan ulang tugasmu.”

Mwo?” protes Wonwoo.

“Wow.” Sebelum keduanya sempat cekcok lagi, suara Eunbi dan Seunghee menginterupsi. Lalu, “Apa kami mengganggu kalian?” Seunghee bertanya hati-hati.

“Iya!”

“Tidak!” jawab Jinhae dan Wonwoo bersamaan. Dan keduanya saling menatap seolah ada laser yang berpancar dari kedua mata mereka. Jinhae menjawab “ya” karena merasa omelannya pada Wonwoo terputus lagi. Dan Wonwoo menjawab “tidak” karena akhirnya bisa tidak mendengar omelan Jinhae lagi.

Calm down, ladies and gentleman,” kata Seunghee sembari masuk ke dalam kamar Jinhae dan menempatkan dirinya di kasur Jinhae. Hanya sekedar info, mata pelajaran Bahasa Inggris Seunghee adalah yang terburuk di kelas.

“Jinhae-ya, ajarkan kami tugas matematika yang diberikan guru Lee tadi.” Ucap Eunbi. “Murid pindahan, kau kemari untuk meminta bantuan Jinhae juga, bukan?” tanyanya kemudian pada Wonwoo. Dan lelaki itu mengangguk.

“Bagus. Target omelanku bertambah.” Ucap Jinhae, dan ketiga temannya langsung saling bertukar pandang.

Eomma! Kenapa tidak ada yang membangunkanku?!” teriak Jinhae sembari berlari menuruni anak tangga sembari memasang dasinya dengan tas ransel yang sudah tersampir di punggungnya.

“Kau saja yang tidak bangun.” Jawab ibunya santai sembari membereskan meja makan yang hanya tersisa piring berisi nasi goreng dan segelas susu untuk Jinhae.

“Aku berangkat!” serunya tanpa berhenti untuk sekedar meminum segelas susunya.

“Sarapanmu!” ibunya balas berteriak. Tetapi telinga Jinhae sudah tidak dapat mendengar teriakan ibunya karena panik dan disusul dengan suara bantingan pintu yang cukup keras. Dari dapur, ibunya hanya bisa menggelengkan kepala memiliki seorang putri yang sulit sekali untuk bangun dari tidurnya.

Bersamaan dengan dirinya keluar dari gerbang rumah, suara berat yang sudah sangat familiar di telinganya terdengar memanggilnya. Jeon Wonwoo. Belum sempat ia menoleh, lelaki itu memegang tasnya, dan menutup resleting tasnya.

“Tasmu masih terbuka.” Kata Wonwoo dengan sebelah tangan yang memegang sandwich yang telah digigit.
Tanpa banyak bicara, Jinhae merebut sandwich tersebut dari tangan Wonwoo dan memasukkannya ke mulut. “Ayo lari!” serunya pada Wonwoo dan berlari lebih dulu dengan mengunyah sandwich milik Wonwoo.

“Aku menyukaimu, sunbae,” dengan canggung, Jinhae menatap seorang laki-laki yang merupakan juniornya di tingkat satu. Baru saja juniornya itu menyatakan cinta padanya. Dan seperti biasa, ia akan menolak lelaki itu. Dengan halus.

“Ayo berkencan denganku, Jinhae sunbae,” lanjutnya, membuat Jinhae tersenyum kikuk.

“Maaf,” ucap Jinhae dengan memegang belakang lehernya. “Ada seseorang yang kusukai.” Katanya beralasan. Seperti kebiasannya, ia akan selalu memegang belakang lehernya jika sedang berbohong.

“Siapa? Apakah murid di sekolah ini?” lelaki itu terlihat kecewa, dan juga kesal.

“Ah… anu…,” Jinhae mengigit bibirnya. Ia bahkan tidak tahu siapa yang disukainya. Ia tidak sedang menyukai seseorang.

“Bukan murid di sekolah ini.” Jawabnya. Lagi, dengan menggosok belakang kepalanya. Lalu, “Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf.”

Mungkin karena mendengar permintaan maaf Jinhae, lelaki itu tidak lagi menampakkan wajah kesalnya. Ia justru tersenyum. “Tidak apa sunbae. Aku mengerti. Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu.” Katanya sambil tersenyum.

“Maaf,” ucap Jinhae lagi dengan tatapan merasa bersalah. Dan setelah itu, juniornya itu membalikkan badan dan pergi meninggalkan Jinhae.

Setelah juniornya itu berbelok pada ujung lorong. Jinhae menghela napasnya lega. Berapa kali lagi ia harus berbohong ketika dirinya dalam keadaan seperti tadi. Mungkin, sudah tidak terhitung lagi seberapa sering dirinya berbohong.

“Jadi kau sungguh populer ya?” sebuah suara membuatnya terlonjak. Ketika ia menoleh, ia mendapati Kim Mingyu baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.

“Sejak kapan kau di sana?” tanyanya balik. Kemudian matanya memicing curiga. “Kau mendengar semuanya?”

Seperti dugaan Mingyu, Jinhae menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.

Mingyu pun merespon dengan mengangkat sebelah bahunya acuh tak acuh. Entah itu berarti ia mendengarnya atau tidak. Lalu, “Pacaran denganku, Yoo Jinhae.”

Mata Jinhae membelalalak dalam beberapa detik mendengar kalimat Mingyu. Apa yang barusan dia katakan? Bantinya. Apa dia sedang mengerjaiku? Dan Jinhae, dengan menyilangkan tangannya di depan dadanya, menatap Mingyu dengan dagu terangkat. “Baiklah. Kita pacaran sekarang.” Ucapnya menantang.

Ia pikir lelaki itu akan mengatakan bahwa ia hanya bergurau. Tetapi Mingyu justru menanggapi dengan, “Akhir minggu kutunggu di depan teater bioskop.” Dan berlalu pergi meninggalkan Jinhae yang hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.

“Anak baru itu gila! Kim Mingyu seorang psikopat gila!” sepanjang perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, Jinhae tak henti-hentinya menggerutu, mengumpat, dan menyumpahi Kim Mingyu. Wonwoo yang berjalan di sebelahnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa kali ia bertanya apa yang terjadi, tetapi Jinhae tak kunjung mnejawabnya.

Kemudian ketika Wonwoo melihat sebuah toko kelontong, ia pun berbelok untuk membeli es krim karena ia tahu Jinhae mengomel seperti ini ada dua alasan. Ada yang menganggunya dan karena cuaca hari ini yang sangat panas.

Ya! Jeon Wonwoo, aku sedang bercerita!” seru Jinhae, tetapi tidak terlihat akan menyusul Wonwoo.

“Apanya cerita? Kau hanya menggerutu sepanjang jalan.” Gumam Wonwoo pelan yang hanya bisa didengar olehnya. Lalu, “Ahjumma, aku beli ini.” Katanya pada seorang wanita tua di dalam toko kelontong tersebut dengan menyerahkan uang dan menunjukkan apa yang ia beli.

Saat ia kembali, ia melihat Jinhae tengah menunggunya di bawah pohon dan gadis itu sudah menguncir rambutnya ke belakang tanpa meninggalkan sisa-sisa rambut. “Ini.” Ia menyerahkan satu es krim yang dibelinya pada Jinhae yang sebelumnya sudah ia buka bungkusnya terlebih dahulu sehingga Jinhae bisa langsung memakannya.

“Sejuknya,” ucap Jinhae. Pertama kalinya sejak keluar dari kelas, Jinhae tersenyum. Senyum bodoh yang langsung membuat Wonwoo menjitak kening Jinhae, membuat Jinhae mengaduh, tetapi tidak mengomel ataupun menggerutu.

“Jadi, ada apa dengan Kim Mingyu?” tanya Wonwoo, bertanya pertanyaan yang telah ia tanyakan sebelumnya tetapi tidak dijawab oleh Jinhae.

“Dia mengacakku berkencan.” Jawab Jinhae. Wajahnya kembali seperti seorang yang depresi. Wonwoo langsung menoleh menatap Jinhae. Lalu, “Aku pikir dia hanya bercanda. Jadi, aku menjawab ‘ya’ dan berharap dia akan mengatakan ‘aku hanya bergurau’. Tapi, kau tahu apa yang dia katakan selanjutnya?” Wonwoo menggelengkan kepalanya. “Akhir minggu kutunggu di depan teater bioskop.” Ia mencoba mengikuti suara Mingyu walaupun gagal.

“Lalu kalian resmi berkencan?”

Shireo!”

“Kalau begitu jangan datang.”

“Bagaimana kalau dia menungguku?”

“Kau peduli padanya?”

“Tidak.”

“Kalau begitu biarkan saja dia menunggu.”

Jinhae menghentikan langkahnya, membuat Wonwoo ikut menghentikan langkahnya dan menatap Jinhae yang tersenyum lebar padanya dengan terheran-heran. “Jeon Wonwoo, aku punya ide! Kau harus membantuku. Harus!” katanya, lalu meloncat dan merangkul bahu Wonwoo.

-To be continued-

 

The Cast

dzfvdzxaf

Yoo Jinhae

(Pic: GFriend’s Sowon)

tumblr_nq3qgjnSuh1t9n75fo1_r1_500

 Kim Mingyu

tumblr_nq3s8hNert1t9n75fo1_r1_500

Jeon Wonwoo

a/n: Halo! apa kabar semuanya? maaf aku sekarang jarang banget update ff, dan banyak ff yang gak selesai contohnya… banyak. yang baca ff-ffku pasti tau xD maafin yaaa. masalahnya, ideku banyak, tapi gak pernah selesai. idenya ngambang gitu aja  huhu T.T dan sekarang, aku mau ngenalin 2 member seventeen yang menurutku looknya outstanding banget. sebelum debut, aku udah suka banget sama seventeen, apalagi sama talent mereka duileeeeh pengen dibawa pulang semuanya xD sayangnya 6 member seventeen adalah brondong buat aku………. gak rela jadi nuna ;.;

Buat yang baru jadi fans seventeen, selamat datang dan rasakan sensasinya!~ aku sih berharap ff ini ada yang baca, tapi sayangnya jumlah pembaca di ffindo makin menipis ya:| gapapa, aku sebagai author mencoba buat balikin para readersnim walaupun ffku makin gaje dan menurutku kurang seru;.; tapi aku harap, pada enjoy baca yaa~ ppyong!

24 responses to “A Little Snow in Summer [1]

  1. ya ampun suka banget ih suka bengeeeeeeeet ;_____; ke mana aja selama ini baru liat fanfic 17 lagi di ffindo ;____; (terhura) (peluk jisoo) (((gak)))
    dan kim mingyu………………………………..GILAK BERANI AMAT BARU JUGA CHAPTER 1 UDAH NEMBAK ANAK ORANG AJA D4MNNN,,,,,,,,,,,,,,,,,dedeq minta disentil…………….tembak teteh juga deq…tembak….. ;____; (anaknya murah)
    terus gatau kenapa ini kok kayaknya di sini mingyu jadi agak dingin gitu ya? terus bau-baunya wonwoo juga ada perasaan ke jinhae tapi tapi tapi gatau kenapa aku ngerasanya besar kemungkinan di sini wonwoo bakal jadi second male lead😄 (dor) (sok tau)
    tapi karena baru chapter 1 itu cuma praduga sementara sih. sekarang mau cus dulu ke chapter 2-nya deh biar dapet pencerahan😄
    once again, makasih banyak udah publish ff seventeen, enny! huhuhuhu😳

    • aaaa terima kasih kaditttttt<3 aku aja baru tau ada ff seventeen di ffindo baru ff ka dita doang:[ gapapa peluk jisoo, asal jangan peluk wonu</3333
      wakakak kan biar gak mainstream xD baru kenal 2 hari udah nembak wakakakakak
      dinginnya karna…. gitu deh ntar aku spoiler lagiiii xD yaaah, kalo diliat emang wonu second lead tapi aku garela dia second lead</3 disini semuanya first lead ah(lah gimana?:/)
      wihihi makasih juga udah baca ya kadiitttttt:D

  2. Aaaahhh!!! Aku baruaja nyari ff pairing wonwoo-sowon (walaupun namanya jinhae ttp aja pake fc sowon💕💕💕) ditunggu lanjutannya authornimmm!! Btw salamkenal yaa hihi

  3. tetemmmm maafkeun daku baru baca ff lu lagii.
    fix.gue telaaaattt.. bodooo.yang penting ttp baca wkwkwk.
    WAEE WAEEE WAEEEE WONU MINGYUUU.
    maap itu mingyu kebelet apa gimana, baru2 lgsg nembak damn damnnnn
    gua baca sambil imagine yess..
    won.gyu they’re so purrrrrrfect :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s