A Little Snow in Summer [2]

a lilltle snow in summer

A Lilltle Snow In Summer

EnnyHutami’s Story © Copyright 2015

| Lenght : Series | Rating : General (Change each chapter) |

| Genre : Romance, Comedy (A lil bit), School Life |

| Cast : Yoo Jinhae, Jeon Wonwoo, Kim Mingyu and others |

| Diclaimer : Plot and Jeon Wonwoo are mine!:p | Note : Bagian italic adalah flashback. Happy reading!:) |

Chapter 1 | Chapter 2

~Swinspirit~


Kim Mingyu berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan yang bagian depannya berkelap-kelip mencolok. Sebuah klub malam yang berada di kawasan Hongdae.

Biasanya, pertugas akan mengusir anak di bawah umur yang hendak masuk ke dalam. Tetapi, tidak pada Mingyu yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Justru petugas tersebut menyapa Mingyu dan merundukkan kepalanya meskipun Mingyu tak membalasnya.

Ia memasuki lorong panjang bercahaya minim dan berbelok ke lorong lainnya, tidak seperti para tamu yang masuk ke lorong yang akan membawa mereka ke ruang utama tempat tersebut—dengan lantai dansa, tempat DJ, dan bar. Kemudian ia membuka pintu di depannya yang dan keadaan ramai dengan musik digantikan dengan suara senyap, juga kini penerangan tidak lagi remang seperti lorong sebelumnya.

“Oh, Mingyu-ya. Kau sudah pulang?” tanya seorang wanita yang mengenakan mini dress berwarna silver yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Wanita yang kini tersenyum padanya itu adalah ibunya. Orangtua tunggal yang membesarkan dirinya seorang diri. Dan meskipun ibunya mengenakan pakaian seperti itu, ia tahu ibunya bukanlah jalang yang senang bergonta-ganti pacar. Ibunya hanya sangat mencintai klub malam.

Mingyu membungkuk kecil pada ibunya, dan ibunya menepuk pelan bahu Mingyu. “Baiklah. Mandi dan istirahatlah. Kau sudah makan, bukan?” meskipun bertanya, ibunya hanya melontarkan pertanyaan kosong. Bahkan tanpa menunggu jawaban Mingyu, ibunya langsung pergi saat ponselnya berdering.

Dan saat itu, cacing-cacing di perutnya memberontak minta asupan makanan. Ia ingat bahwa terakhir kali ia mengisi perutnya adalah saat di sekolah, membuatnya mendesah karena ia yakin tidak akan ada makanan di dapur.

Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya yang memang cukup luas karena berbeda dengan bangunan rumah biasa, rumahnya ini tidak ada ruang tamu ataupun ruang tengah. Hanya ada dua kamar—satu untuk ibunya dan satu untuk dirinya—dan dapur, serta ruang makan. Jadi, kamarnya bisa dibilang cukup luas dengan kamar mandi di dalamnya, taman kecil yang mungkin hanya berukuran 2×3 meter, sofa, dan sebuah jendela kecil yang menghadap ke jalanan padat di Hongdae.

Ia meletakkan tasnya di atas sofa dan menempatkan dirinya di atas kasur. Meskipun ia menginginkan keluarga seperti keluarga teman-temannya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat menyukai klub malam, dan tidak tahu siapakah ayahnya.

Kemudian ponselnya berdering. Ketika ia melihat isi pesan singkat yang baru saja dikirim oleh seseorang, ia langsung bangkit dan melirik nakas yang terletak di sebelah tempat tidur. Sebuah kotak makanan yang telah dibungkus dengan rapih. Ia menghela napasnya dan menatap langit-langit kamarnya.

Akhir minggu datang dan kini Kim Mingyu berdiri di dalam sebuah teater bioskop yang mulai ramai dengan pasangan muda-mudi yang hendak menghabiskan akhir minggunya bersama kekasih atau temannya. Jarum jam pada arlojinya menunjuk pada angka empat, dan tanda-tanda kemunculan Jinhae belum nampak.

Ia menoleh ke arah pintu masuk, lalu mendapati seorang gadis tinggi yang mengenakan dress pendek berwarna putih tanpa lengan dan rambut panjang yang dibiarkan terurai masuk seorang diri. Yoo Jinhae. Gadis itu melihat ke sekelilingnya, lalu melihat Mingyu yang berdiri menunggunya.

Namun, Jinhae tidak langsung menghampiri Mingyu melainkan menoleh ke belakang punggungnya dan terlihat Jeon Wonwoo.
.

Jinhae membuka pintu rumah Paman Wonwoo yang tidak dikunci jika siang hari. Ia menyapa bibi Wonwoo yang tengah berada di ruang tengah sembari merangkai bunga, lalu langsung menaiki tangga menuju kamar Wonwoo yang berada di lantai dua. Begitu ia membuka pintu kamar Wonwoo, dilihatnya lelaki tersebut tengah tertidur.

Pelan-pelan, ia menghampiri tempat tidur di kamar Wonwoo dan duduk di tepi. Ia pun mendekati wajahnya ke telinga Wonwoo dan memanggil dengan berbisik. Dan Wonwoo menggerakkan badannya, kemudian membuka matanya. Meskipun sudah hampir dua tahun keduanya tidak bertemu, tetapi ia tahu bagaimana cara membangunkan Wonwoo.

Wonwoo meregangkan otot tubuhnya, mengambil bantal di sebelahnya dan meleparkannya pada Jinhae. “Ada apa?” tanyanya sembari mencoba untuk tidur lagi.

Jinhae menangkap bantal yang dilempar Wonwoo tanpa melemparkannya balik, yang itu berarti bahwa kini ia memiliki maksud tertentu. “Kau tahu…,” ia tidak berniat untuk menyelesaikan kalimatnya.

Dan itu membuat Wonwoo memutar bola matanya. Tahu bahwa Jinhae memiliki sesuatu yang diinginkan darinya. Lalu, “Apa maumu?” tanyanya lagi, kali ini menelentangkan dirinya dan mencoba menatap Jinhae dengan mata sipitnya yang diusahakan untuk membuka.

“Kau tahu hari ini aku ada—“ Jinhae berdeham karena tidak tahu apa kata yang tepat untuk mengucapkannya. “—kencan, bukan?”

“Lalu?”

“Bagaimana jika dia berniat yang tidak-tidak? Aku bahkan belum mengenalnya dengan baik.” Ucap Jinhae dengan aegyeo-nya.

Wonwoo mengerutkan keningnya. “Kalau begitu tidau usah datang.” Katanya, sedikit ketus. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya dipikirkan Jinhae mengenai Kim Mingyu.

“Bagaimana jika dia menungguku datang?” Jinhae bertanya lagi. Mendebatkan apa yang sudah didebatkan sebelumnya. Lalu, “Kau ‘kan tahu aku bukan tipe orang yang senang menunggu ataupun membuat seseorang menunggu. Kau mengenalku dengan baik, bukan? Ayolah.”

Ya, Wonwoo tahu benar tentang itu sehingga itulah yang membuat Jinhae hampir tidak pernah terlambat. Entah itu terlambat masuk sekolah ataupun terlambat saat hendak bertemu ketika memiliki janji. Berbeda dengan dirinya yang hampir tidak pernah datang tepat waktu.

“Jeon Wonwoo,” Jinhae merengek sembari menggoyang-goyangkan kaki Wonwoo yang tertutup selimut. “Ayolah. Temani aku, ya, ya, ya?” Jinhae tahu bahwa Wonwoo tidak akan pernah bisa menolak permintaannya jika dirinya sudah merengek seperti ini. Dan saat lelaki itu menghela napasnya keras-keras, senyum di wajah Jinhae melebar.

“Iya, iya! Biarkan aku tidur sebentar lagi.” Kata Wonwoo sembari memiringkan tubuhnya membelakangi Jinhae. Pada akhirnya, ia memang selalu menuruti permintaan Jinhae meskipun awalnya ia menolak.

“Tidak! Bangun sekarang juga!” Jinhae menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Wonwoo, membuat lelaki tersebut mendesah sebal. Merasa tidur siangnya terganggu.

“Semalam aku terjaga—“Wonwoo mencoba memprotes, tetapi kelihatannya Jinhae tidak ingin mendengarkannya dan memotong kalimatnya.

“Mandi dan bersiap-siap. Aku menunggumu di luar.” Katanya, lalu berdiri dan keluar dari kamar Wonwoo yang bagian jendelanya berhadapan dengan jendela di kamar Jinhae.

Sekitar setengah jam setelahnya, Wonwoo keluar dari rumah dengan pakaian kasualnya seperti biasa—celana jeans panjang, kaus lengan pendek, jaket dan sepatu—dan mendapati Jinhae dengan dress pendek putih yang panjangnya bahkan tak sampai menyentuh lututnya tanpa lengan pula, dengan tas kecil yang tersampir di bahunya. Membuat Wonwoo harus berhenti sejenak karena terkejut. Terkejut bahwa Jinhae yang dikenalnya lebih suka mengenakan celana, kini justru mengenakan dress. Dan ia terkejut bahwa gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress putih tersebut dan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai seperti itu.

Kemudian Jinhae yang merasakan kehadiran Wonwoo menoleh. Ekpresinya tidak bagus saat melihatnya. “Kau lama sekali!” semburnya. Lalu, “Ayo, berangkat.” Ajaknya dan berjalan lebih dulu di depan.
.

“Kenapa kau mengajak orang lain?” tanya Mingyu, sebelah alisnya terangkat.

“Mungkin kalian membutuhkan orang ketiga?” balas Wonwoo acuh tak acuh sembari mengangkat bahunya. Namun, baik Mingyu dan Jinhae terlihat tidak terlalu mendengarkan ucapan Wonwoo. Lalu, “Aku akan membeli tiket. Kau belum membelinya, bukan?” katanya kemudian, bertanya pada Mingyu. Dan Mingyu menganggukkan kepalanya, bertanta bahwa ia belum membeli tiket karena tidak tahu film apa yang seharusnya ditonton.

Setelah Wonwoo pergi untuk mengantri, Mingyu menatap Jinhae. Tatapannya meminta penjelasan mengapa gadis itu membawa orang lain saat dirinya bilang mereka akan berkencan.

Jinhae mengangkat bahunya. Menolak untuk menjawab. “Tidak ada alasan. Dia teman baikku.” Katanya. Lalu ia meninggalkan Mingyu dan menemani Wonwoo mengantri untuk mendapatkan tiket.

Dibanding dengan kalimat Wonwoo sebelumnya, Mingyu justru merasa dirinya lah yang menjadi orang ketiga. Dan dirinya sedikit curiga pada Wonwoo yang menurutnya sangat menjaga Jinhae. Mungkin gadis itu tidak menyadarinya, tetapi Mingyu tahu. Ia memang lebih banyak diam dan seolah tidak peduli apa yang Wonwoo dan Jinhae lakukan. Tetapi, diam-diam ia memperhatikan semuanya.

Perlakuan Wonwoo pada Jinhae tidak terlihat seperti seorang ‘teman baik’ seperti yang dikatakan Jinhae. Saat Jinhae pergi ke toilet, saat itu lah Mingyu dan Wonwoo hanya berdua. dan Mingyu menggunakan kesempatan tersebut untuk menanyakannya pada Wonwoo.

“Kau menyukai Jinhae?” tanya Mingyu tiba-tiba.

Merasa pertanyaan yang dilontarkan Mingyu sangat tiba-tiba, Wonwoo yang saat itu sedang meminum minumannya hampir tersedak. “Ada apa dengan pertanyaanmu?” balasnya dengan pertanyaan. Ia menatap Mingyu heran.

“Jawab saja.”

“Kau sakit, ya?”

“Itu bukan jawaban.”

Melihat betapa seriusnya Mingyu dengan pertanyaanya, Wonwoo menghela napas. Lalu, “Jawaban apa yang kau inginkan?”

Sebelah alis Mingyu terangkat. Ia merasa seperti bicara dengan Jinhae versi laki-laki. Selalu menjawab dengan pertanyaan. Lalu, “Apa sulitnya menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’?” balasnya sakartis.

Wonwoo tertawa, membuat kerutan pada kening Mingyu bertambah dalam. “Jika kau dalam posisiku, aku yakin kau akan tahu jawabannya.” Begitu kata Wonwoo, yang membuat Mingyu bungkam seribu bahasa.

Ia tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat yang diucapkan Wonwoo barusan. Tetapi, ia lebih tidak mengerti dirinya sendiri.

Mengapa ia begitu peduli?

Hari sudah gelap dan jarum jam telah menunjukkan angka sepuluh ketika Wonwoo dan Jinhae berada di dalam bus untuk kembali ke rumah. Berkali-kali Wonwoo yang duduk di sebelah Jinhae menguap, membuat Jinhae merasa bersalah karena menyeretnya untuk ikut dalam kencannya yang berhasil ia gagalkan tanpa membuat Mingyu menunggu dirinya.

“Wonwoo-ya,” panggil Jinhae, dan Wonwoo menoleh dengan wajah mengantuknya. Lalu, “Gunakan bahuku.” Tawarnya. Tanpa banyak bicara, Wonwoo yang memang benar-benar tidak dapat membuka matanya saat ini langsung menempatkan kepalanya di bahu Jinhae.

“Bangunkan aku jika sudah sampai.” Ucap Wonwoo dengan mata terpejamnya.

Keadaan seperti ini sudah sering mereka lakukan sebelum-sebelumnya. Saat mereka masih berada di bangku junior high school, Wonwoo sering meminjamkan bahunya saat Jinhae kelelahan di dalam bus dan begitu juga sebaliknya. Jadi, keduanya tidak lagi canggung saat melakukan hal semacam ini.

Namun, meskipun Wonwoo memejamkan matanya, pikirannya tidak benar-benar ikut beristirahat. Ia terus saja memikirkan pertanyaan Mingyu dan kini ia mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa begitu sulit untuk menjawab pertanyaan yang jelas-jelas sudah ia tahu jawabannya?

Sedangkan Jinhae, ia menatap keluar kaca bus dengan pandangan kosong. Ia memikirkan tentang apa yang terjadi pada hubungannya dengan Mingyu. Apakah mereka kini memang resmi berkencan seperti yang ditanyakan Wonwoo, atau bagaimana?

Dan ia bertanya-tanya. Mengapa jantungnya berdetak tak karuan setiap kali Mingyu menatapnya tepat di mata?

“Jinhae dengan murid baru?”

“Apa kau lihat fotonya? Mereka terlihat cocok.”

“Aku kira dia berpacaran dengan lelaki yang sudah berkerja.”

“Yah, jika aku jadi dia juga aku pasti menggoda murid pindahan itu. Murid pindahan bernama Kim Mingyu sangatlah tampan!”

“Aku dengar Jinhae sunbae menyukai seseorang dari luar sekolah. Apa dia berbohong?”

Kalimat-kalimat itu yang Jinhae dengar sepanjang dirinya berjalan melewati lorong panjang sekolah. Telinganya terlalu tajam untuk dirinya berpura-pura tidak mendengar.

Dan apa yang Jinhae takutkan terjadi. Ia tidak suka saat dirinya dibicarakan orang-orang, dan sangat tidak menyukai saat orang-orang menatapnya dengan penuh tuduhan. Oleh sebab itu, ia menjauhi diri dari gosip yang akan membuatnya menjadi bahan utama pembicaraan orang-orang. Itu sebabnya ia tidak pernah menerima lelaki, baik junior, senior atau yang seangkatan dengannya, untuk menjadi kekasihnya.

Karena pada saat tahun pertamanya di sekolah ini, ia menerima ajakan seorang senior untuk berkencan. Dan itu membuatnya menjadi bahan obrolan dan banyak senior yang tidak menyukai dirinya. Saat dirinya berjalan melewati koridor, banyak senior yang mengolok-olok dirinya.

Ia tidak mau hal seperti itu terjadi lagi.

“Hei,” tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang memanggilnya, kini seorang Kim Mingyu yang menjadi bahan obrolan dengan dirinya berjalan di sebelahnya seolah ia tidak tahu apa yang terjadi.

“Menjauhlah dariku.” Ketus Jinhae dengan suara sepelan mungkin agar hanya Mingyu yang bisa mendengarnya.

“Tidak akan.” Mendengar jawaban Mingyu, Jinhae hanya bisa menghela napasnya.

“Lihat! Mereka terlihat sangat serasi!”

“Bahkan tinggi badan mereka terlihat sangat pas.”

“Aku iri dengan mereka!”

Jinhae merasa terkejut ketika mendengarnya sehingga ia menghentikan langkahnya dan menatap Mingyu. Ia pikir ia akan mendapat cacian lagi, tetapi mengapa ketika ada Kim Mingyu di sampingnya, hanya kalimat yang bagus-bagus saja yang ia dengar?

“Apa?” tanya Mingyu heran.

“Bagaimana mereka bisa tahu?” Jinhae balas bertanya.

Kening Mingyu berkerut heran. Lalu mulutnya membentuk huruf o ketika tahu apa yang dimaksud Jinhae, dan mengambil ponselnya untuk menunjukkan sesuatu. Sebuah foto yang memuat dirinya dan Mingyu saling bertatapan dengan dirinya yang sedang tersenyum.

“Kapan aku tersenyum begini saat melihatmu?!” Jinhae setengah berteriak. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. “Foto ini sudah diedit!” ia tidak terima. Di foto ini, dirinya tersenyum, dan Mingyu hanya menatapnya tanpa ekpresi senang atau apapun itu. Ia merasa kasihan pada dirinya sendiri. Dan lagipula, kenapa tidak ada Wonwoo di foto tersebut?

“Mungkin kau tidak sadar kalau kau mulai menyukaiku,” pernyataan Mingyu membuat Jinhae langsung mengangkat wajahnya dan mendapati Mingyu tengah tersenyum padanya. Lalu lelaki tersebut mengambil ponselnya dari tangan Jinhae dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Jinhae di belakang.

Jinhae tidak bergeming dari tempatnya. Kemudian tangan kanannya diangkat dan ia letakkan di depan dadanya. “Mwoji?” kenapa jantungnya berdetak seperti ini?

Kakak sepupu Wonwoo, Yoon Bora, sore itu tengah bersantai di sofa di ruang tengah sambil menonton televisi dan memakan camilan. Ketika ia sedang mengganti channel televisi untuk mendapatkan acara yang menghibur, dirinya justru tertarik pada acara breaking news yang menampilkan sebuah berita. Matanya menyipit ketika ia melihat sebuah mobil yang terbalik di dalam layar.

“Bukankah itu mobil paman Yoo?” gumamnya, lalu menoleh ke arah jendela dan melihat ke arah rumah yang berada di sebelah rumahnya. Lalu, “Wonwoo-ya!” ia berteriak. “Jinhae ada di rumah tidak?” ia bertanya pada Wonwoo yang berada di kamarnya di lantai dua.

“Tidak!” Wonwoo balas berteriak. “Jinhae dan keluarganya sedang pergi.”

“Benar! Itu mobil paman Yoo!” serunya, lalu membesarkan volume suara televisi.

… Satu orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka serius yang kini dilarikan ke rumah sakit. Diduga kecelakaan terjadi akibat truk yang tergelincir di jalanan yang basah dan keluar jalur sehingga menabrak mobil lainnya.

Bersamaan dengan suara sang reporter, kamera menyorot seorang laki-laki muda yang sangat familiar baginya. Yoo Jinyoung. Adik laki-laki Jinhae.

“JEON WONWOO! KEMARI!” ia berdiri dan langsung berteriak memanggil Wonwoo. “CEPATLAH!” teriaknya lagi karena Wonwoo tak kunjung menampakkan dirinya.

Dengan kesal, Wonwoo menuruni anak tangga dan langsung menatap dengan heran sepupunya yang tampak terkejut itu. “Kenapa?” tanyanya.

“Jinhae…,” gumamnya sembari menunjuk televisi. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk memberitahu Wonwoo.

Wonwoo yang keheranan akhirnya mendekati Bora dan melihat televisi. Matanya membelalak saat ia melihat wajah Jinhae di layar televisi, meskipun hanya sejenak, dengan penuh darah. Ia pun segera berlari keluar rumah dan berlari ke rumah sakit dimana keluarga Jinhae dibawa.
.

Senyum jahilnya perlahan memudar. Tangannya yang telah memegang gayung berwarna hijau kembali ia letakkan, lalu kembali ke ruang tengah di rumah keluarga Yoo dan melihat Jinhae yang tertidur dengan pulas di sofa.

Kemudian Wonwoo menempatkan tangannya di belakang lutut dan punggung Jinhae, lalu menggendong gadis tersebut. Meskipun ia terlihat kurus, ia kuat jika hanya harus menggendong Jinhae yang kurus. Dan banyak orang bilang bahwa manusia dapat mengangkat sesuatu yang lebih berat dari berat tubuh sendiri. Yah, meskipun menggendong Jinhae ke lantai dua cukup membuatnya kerepotan.

Dengan kakinya, ia membuka pintu kamar Jinhae, dan meletakkan Jinhae di atas tempat tidur. Kemudian ia duduk di tepi ranjang dan menatap wajah tidur Jinhae yang terlihat polos, lalu tanpa sadar tersenyum. Hari itu adalah pertama kalinya ia melihat Jinhae setelah dua tahun lamanya ia pindah ke Jepang. Dan selama di Jepang, ia sangat merindukan gadis itu. Awal kepindahannya memang ia tidak merasakan apa-apa, tetapi setelah beberapa hari, ia mulai merindukan Jinhae yang cerewet, Jinhae yang selalu mengajaknya bertengkar, dan Jinhae yang selalu manja padanya.

Mungkin itu karena mereka selalu menghabiskan waktu bersama sejak mereka dilahirkan.

Itu yang ia pikirkan pada awalnya. Namun, lama kelamaan ia sadar. Bahwa hatinya terasa kosong saat berada jauh dengan Jinhae. Lalu ia menyingkirkan rambut Jinhae yang menutupi wajah gadis itu.

“Aku rasa, memang tidak ada yang namanya pertemanan antaran laki-laki dan perempuan.” Gumamnya muram. Kemudian ia berdiri dan mematikan lampu kamar Jinhae sebelum keluar.
.

Wonwoo mendekat ke arah jendela kamarnya sebelum ia keluar dari kamar dan mendapati Jinhae yang terlihat panik karena terlambat bangun. Dan ia tersenyum. Ia pun segera keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk sarapan.

“Kau masih lapar?” tanya Bora padanya saat ia mengambil satu sandwich padahal ia baru menghabiskan makanan dan susunya.

Ia mengangguk dengan senyumnya seperti biasa. Lalu, “Aku berangkat.” Katanya, dan keluar dari rumah. Setelah menutup pintu, alih-alih langsung berangkat ke sekolah, ia justru berhenti di depan pintu dan mengintip ke arah rumah Jinhae. Dan ketika dilihatnya Jinhae membanting pintu rumah dan berlari menuruni anak tangga, ia mengigit sandwich dan menelannya, lalu menuruni anak tangga dengan berlari seolah-olah ia juga terlambat.

“Yoo Jinhae!” panggilnya. Lalu melihat tas Jinhae yang belum ditutup, ia menghampiri gadis itu dan langsung menutup resleting tasnya. “Tasmu belum ditutup.” Katanya.

Kemudian seperti yang telah ia duga, Jinhae merebut sandwich di tangannya dan memakannya. Lalu gadis itu berlari lebih dulu.

“Ayo lari!” ajak gadis itu, menoleh ke belakang sejenak dan setelah itu berlari di depannya.

Ia tersenyum. Lalu, “Tunggu aku!” serunya dan mulai berlari menyusul Jinhae.

“Kau seperti siput!” ejek Jinhae tanpa membalikkan badannya untuk melihat Jinhae.

Tidak terima, Wonwoo mempercepat larinya sehingga ia bisa membalap Jinhae, yang membuat Jinhae berseru dan juga mempercepat larinya. Jika bukan karena Wonwoo yang memperlambat larinya, Jinhae tidak mungkin bisa membalapnya. Dan kini Jinhae sedikit melompat untuk merangkul bahu Wonwoo, sehingga membuat Wonwoo harus sedikit merundukan badannya supaya gadis itu tidak berjinjit.

-To be continue-

The Cast

tumblr_nkurny5qqE1u8addko1_500

Yoo Jinhae

(Pic: GFriend’s Sowon)

tumblr_nqqf7lDYko1t9n75fo1_500

Kim Mingyu

CI8cBqIUcAQ_hsc

Jeon Wonwoo

a/n: Halo! kembali lagi dengan mingyu dan wonu~ mungkin pada mikir ini ceritanya kok cepet banget ya? nggak kok! ini karena wonwoo sama jinhae udah saling kenal dari lahir(?) dan gimana menurut kalian? baguskah? atau just so-so? well, aku nonton “The time i loved you” karna ada myungsoo, dan ternyata rada2 mirip:/ jadi mungkin kalo kalian nonton drama itu dan ngeliat ada adegan yg sama, ya aku terinspirasi dari itu xD tapi tenang aja, ini gak bakal kayak dramanya itu kok. ini versi aku sendiri buahahaha

dan aku mau buat 2 tim. tim Wonwoo dan tim Mingyu. karna aku masih gatau endingnya, aku bakal liat si Jinhae bakal sama siapa, atau (mungkin) gak sama keduanya?:o dari opini kalian. Yo mana suaranya Mingyu team? dan mana suaranya Wonwoo team? aku golput dulu yaaa xD

bonus~

reg

16 responses to “A Little Snow in Summer [2]

  1. YA AMPUN YA AMPUN KETEMU LAGI SAMA FF 17 ADSFDHSKDKFLL
    CAST-NYA MEANIE PULA TOLONQQQ😄 /kemudian diusir karena rusuh/
    WAJIB BACA INI BANGET WAJIBBBB GYAAA TUNGGU KOMENKU SELEPAS TARAWEH YA, ENNY! MAKASIH UDAH BIKININ FANFIC DEDEQ-DEDEQ 17❤
    /kemudian diusir beneran/

    • Halo kak ditaaaaa:D hoho baru kita berdua yg buat ff seventeen di ffindo kaaak kekeke tagnya aja belom ada si seventeen xD
      CASTNYA MEANIE JADINYA AKHIRNYA BUKAN JINHAE-WONU ATAU JINHAE-MINGYU, TAPI MINGYU-WONU WAKAKAKAKAKAKA/gakdeng
      hihi makasih juga udah baca kaaaak. mudah2an gak ngebosenin yaaa xD

  2. omo omo kak enny…
    itu mingyu tinggalnya di klub malam? kayak di drama angry mom wkwkwk😄
    wonu~ aaaa wonu cocwit:3<3
    beruntung lo jinhae, ada 2 cowok tamvan yg ngerebutin lo*niapa*salah fokus lagi

    loh jinhae kenapa? aaaa penasaran kak X3
    hayo hayo cepetan apdet ya kak:)
    semangat nulisnya!😄

    • iyaaaaa, aku terinspirasi dari itu wakakakak xD abis kayaknya seru aja kalo…. *gamau spoiler* intinya, aku terinspirasi dari angry mom deh xD
      tauyaaak, mana yg rebutin mingyu sama wonu lagi /ikutan salah fokus/
      jinhae? yaaaaa gitu~ hoho neee, ditunggu yaaaa^^

  3. ini kok……………………sedih ;A;
    ngebayangin mingyu tinggal berdua doang sama ibunya dan (ehem) kerjaan ibunya berhubungan sama dunia malam pula. tapi yang bikin aku syok pas tau jinhae-nya kecelakaan. itu beneran jinhae??? terus terus jinhae-nya gimana entar??? wonwoo-nya gimana entar??? mingyu-nya gimana entar??? ;A; (rusuh)
    terus pas bagian flashback-nya aku masih rada dongdong sih, tapi untunglah cepet ngeh karena diberi italic. kalau fanfic umumnya selalu pake kata flashback, tapi ini tuh enggak yang bikin readers-nya harus mikir dan tetep konsen. tapi sama sekali gak masalah kok, karena emang itu sih yang bikin jadi menarik dan enak dibaca, imo😄
    buat wonwoo, no comment karena sudahkudugadirimunaksirjinhaekaneaeaea. maapkan daqu tapi qu lebih prefer ke #teammingyu nampaknya, wonwoo cucok jadi second male lead aja yang biasanya kalem kalem gitu dan selalu ada buat jinhae di kala ia membutuhkan namun selalu berakhir friend-zoned dengan female lead-nya (ngomong apa sih ini kok gak jelas).
    pokoknya ditunggu chapter 3-nya, enny! /lempar wonwoo/❤

    • kan kalo wonu sama jinhae tinggal di keluarga yg damai tenang aman/? jadi, kalo mingyu aku pasang dari keluarga gitu juga… ngebosenin:/ jadi aku terinspirasi dari drama angry mom deh mingyunya tinggal di kelab xD
      ntar? gak gimana2~~~~~~~~~~~~~~~~ rahasia donggg xP makanya tungguin next chapter ya kadit:p
      iya, rata2 ff dikasih tulisan flashback, tapi jujur aja aku kurang suka kalo di dalem ff itu ada tulisan2 ganggu xD jadinya aku buat gitu ajaaa~ tapi masih ngeh itu flashback kan kaaa?
      gak asik kalo wonu ikut2an demen pas akhir2 maaaah. jadi aku buatnya dari awal aja eaeaeaeaaaa
      annyeong mingyuteam xD aaaaaaaah, yg pasti liat ntar ajadeh wonu second lead apa mingyu yg second lead xD aku maunya yg gak terduga eh tapi gampang kebaca huuuuuuuu ;.;
      neee, tungguin aja ya kaditxD /tangkep wonwoo/karungin/ makasih kaaaa!!!!xD

  4. CIEE WONWON MA BEIBEH, KAKMING MA HANI BANI SUITIEHHH :*
    duh aku dukung Jinhae-WonU gak mao kalo kakMing sama cewek lain, kakMing buat daku seorang.
    WonU: “Dek, pilih Mingyu apa aku?”
    NO COMENT BANG, NO COMENT!!!
    Udah ah kalian ini, bikin puasa batal tau gaaa?
    Kak tadi aku nemu typo di awal2 lho kak, hayooo~ kurang fokus yaaa. Minum aq*a doeloee~~~
    bener kata WonU, ngga ada pertemanan antara laki2 dan perempuan. Ahh, jadi kakMing ini orangnya misterius gegara salah didik ortunya toh.
    WonU nya pengen tak bawa pulang sumpah demi apa. /dihantamkakEnny/ abisnya dia judes2 care gimanaaa gituh, aku suka :3
    ditunggu next chapter kak ^^9

    • hoi wonu team xD kalo mingyu buat kamu, wonu buat aku deh (lah terus jinhae sama siapa?:() wkwkwk
      aku pilih mas bram bang(?) /gak
      emang ngapain bikin batal……………… wah wah…………
      oh iya kah?’-‘ miane aku gak edit lagi soalnya ;.; aku minumnya v*t sih/? gak gak
      masih untung cuma dingin, bukan player payer payerrrr:”)
      NOOOO WONU PUNYA AKU HIIIIIH;.; kan biar karakternya gemeziiin. kalo care doang mah gaasik huuuu. kalo dingin tapi care udah mainstream kan B-)
      neee, ditungguin yaaa. makasih udah bacaaa:3

      • Kak, aku mau nanya. Itu Jinhae bangunin bang Wonu nya gimana? Dibisikin apaan? Aku kepo. Hiks :” aku juga pengen jadh Jinhae. Btw, gws ya buat Jinhae sekeluarga, wqwq /jahat!
        Tau ga dalang dibalik kecelakaannya Jinhae itu aku *PLISAPADEH😀

        • ya dibisikin…. misal kamu tidur, trus ada yg deketin kupin kamu trus ngebisikin gitu masa gak bangun? wkwkwk aku juga pengen ;.;
          jadi? dalang semuanya kamu! wah kamu jahaaaaaat</3

  5. Aku #teamedward aja deh #loh
    Ini gimana yaa, kalo wonu-jinhae hati ini tak rela #apaannit. Kalo mingyu-jinhae, bener kata dita wonu cuma friendzone an doang, kesian amat.
    Yauda sih Wonu sama aku aja. Happy ending sudah 😅😂 hahaw
    next chapternya ditunggu yaaa^^

  6. Kasihan Mingyu ngarepnya kencan berdua dengan Jinhae g tau nya ada Wonwoo, dan malah Jinhae menganggap Mingyu g ada karena asyik ngobrol dengan Wonwoo, Mingyu team aja Jinhae lebih cocok dengan Mingyu, dengan Wonwoo lebih cocok jadi temen kayaknya, next lagi thor

  7. hai enny tbh aku udah jarang mampir ke ffindo dan tiap kali ke sini selalu menyempatkan mengecek apakah kisah meanie dan jinhae ini sudah berlanjut ternyata belum itz okay ku gwencanah kan tetap setia menunggu fanfic ini dilanjut yesh :”3

  8. temmm.fix gua baper liat kedekatan si wonu sama jinhae :’)
    love triangle-kah? 호호호호
    lanjutin dong temm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s