IXIA — Page 4

Previous: Prologue | Page 1 | Page 2 | Page 3

ixia

Poster by Bboness @cafeposter

Youngieomma’s present

.

.

.

I X I A

P A G E 4

Zhang Yixing – Kang Sun Hee – Kim Jongin – Other

PG +19

(Tidak ada adegan dewasa dalam FF ini hanya saja ceritanya tidak baik untuk semua usia)

mommyfangirl.wordpress.com

ᴥ ᴥ ᴥ

Notes.

Untuk para readers, saya mohon maaf karena terjadi kesalahan tahun di PROLOG. Seharusnya, 2015 bukan 2014. Mungkin karena itu readers menjadi bingung, alur cerita IXIA adalah flashback (di bagian prolog adalah keadaan IXIA skr). Dari page 1 dan seterusnya akan tetap flashback sampai kembali ke prolog. Mohon maaf juga sampai chapter 5 isi ceritanya tetap sedikit. Terima Kasih sudah membaca IXIA, dan juga Mohon maaf lahir bathin, selamat puasa bagi yang menjalankan^^

Bagi Kang Sun Hee, diperlakukan dengan semena-mena oleh oranglain bukanlah masalah besar. Ia merasa bahwa dirinya pantas untuk di hina oleh mereka yang mengetahui identitasnya sebagai seorang pelacur, adalah hal lumrah untuk orang lain memandang jijik dan menjauhinya karena pekerjaannya yang memang tidak pernah di pandang baik oleh siapapun.

Ketika teman-temannya menjauhinya sedikit demi sedikit, tak ada rasa kecewa di hati Sun Hee, ketika para guru mulai berani melecehkannya di sekolah airmata tak jatuh dari kedua matanya yang sendu, bahkan ketika tubuhnya jadi bahan ledekan baru para siswa dan siswi jahil ia tak pernah sedikitpun bergeming. Itu karena orang yang ia yakini masih berada di sisinya, Kim Jongin.

Satu-satunya orang yang tetap memandangnya sama meskipun kini tak ada lagi hal-hal ‘biasa’ dalam kehidupan Kang Sun Hee.

Namun, jika seseorang yang berhubungan dengan orang yang ia cintai bersikap sama dengan oranglain, rasa takut adalah hal pertama yang muncul dari hati kecilnya. Jauh sebelum hari ini, Kang Sun Hee pernah bertemu dengan ibu Jongin di luar jam sekolah. Saat itu, ketika ia masih tinggal bersama dengan tuan Takashima. Sun Hee masih ingat betapa terkejutnya ibu Jongin ketika ia turun dari sebuah mobil mewah yang membawanya ke Cafe tersebut.

Kala itu, Sun Hee tak berpikir apa yang akan ibu Jongin ucapkan padanya. Ia mengenal ibu Jongin lebih dari siapapun, bahkan Jongin sendiri. Ketika ibunya tiada, selama setahun Sun Hee dekat dengan ibu Jongin, keduanya membangun hubungan yang baik satu sama lain sampai akhirnya ayah Sun Hee melarangnya menemui Nyonya Im Younha –Ibu Jongin– karena ayahnya pikir Sun Hee sudah terlalu dekat dengan keluarga Kim.

Maka ketika ia sampai ke Cafe, Sun Hee tersenyum dengan lebar dan wajahnya terlihat cerah. Ia menyapa ibu Jongin dengan nada ceria sebelum air mineral dingin menerpa wajahnya dengan kasar.

Sun Hee terkejut, tentu saja, tak pernah terlintas di benaknya ia akan di perlakukan seperti ini oleh ibu dari orang yanng ia cintai diam-diam.

“I–ibu?”

“Jangan panggil aku ibu, aku tidak sudi di panggil seperti itu oleh orang kotor sepertimu,”

Sun Hee menelan air liurnya, rasanya sangat sakit ketika Nyonya Im mengatakan hal itu padanya.

“Kupikir kau benar-benar di bawa oleh kolegamu, aku sampai cekcok dengan para tetangga ketika mereka mengatakan kau akhirnya menjadi seorang pelacur!”

Sun Hee manatap Nyonya Im yang kini matanya berkaca-kaca.

“Sudah kukatakan padamu, tinggalah denganku. Buang perasaan sukamu pada anakku, karena aku ingin mengadopsimu. Mengapa kau memilih jalan menjijikan seperti ini?”

Pertanyaan itu kini menghujani Sun Hee, ucapan-ucapan Nyonya Im menusuknya jauh lebih dalam dan menyakitkan. Wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri menganggapnya menjijikan.

“Aku–perasaanku pada Jongin tidak pernah berubah,”

“Karena itu kau lebih memilih menjadi seorang pelacur daripada menjadi anak adopsiku?”

Hening.

Sun Hee tak dapat menjawab pertanyaan Nyonya Im.

Bukan, menjadi pelacur bukanlah pilihannya.

Nyonya Im menatap Sun Hee, melirik pada para bodyguard yang sudah bersiap di belakang Sun Hee. Berjaga kalau-kalau wanita itu kembali menyerang Sun Hee, ‘bunga kesayangan’ tuan Takashima.

“Hidup seperti ini yang kau inginkan? Mobil mewah? Para penjaga? Baju mahal dan bermerk? Kupikir kau memiliki kepribadian baik seperti ibumu, ternyata kau sama saja dengan ayah dan kakak laki-lakimu, kau kini terlihat seperti sampah di tong yang lebih mahal.”

Kata-kata Nyonya Im sukses membuat Sun Hee menitikkan airmatanya. Ia ingin menjelaskan semuanya, menjelaskan kepada ibu pemuda yang di cintainya bahwa menjadi pelacur bukanlah pilihannya, bahwa ia terjebak oleh keinginan ayahnya untuk mendapatkan lebih banyak uang dengan menjualnya. Namun, tak ada satupun kata yang mampu lolos dari tenggorokannya, ia menelan semua kata-katanya dan berakhir mendengar hal-hal menyakitkan dari bibir Nyonya Im.

“Jangan pernah mendekati anakku lagi, kau tahu apa pekerjaan ayah Jongin, kami tidak ingin karena kedekatanmu dengan Jongin karir ayahnya menjadi hancur. Ingat Sun Hee, ayah Jongin adalah walikota disini, kuharap kau mengerti.”

Nyonya Im berlalu, mengakhiri obrolannya dengan Sun Hee. Sedangkan gadis itu diam dan tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya, hanya airmata yang mampu mewakili perasaannya saat ini. Ibu Jongin memintanya untuk menjauhi pemuda itu, namun, bukanlah hal mudah bagi Sun Hee melakukannya, selain karena rasa cintanya pada Jongin, ia tidak memiliki siapapun lagi di sisinya selain Kim Jongin.

“Nona Ixia, mari kita pulang.” Suara salah satu pengawal mengejutkannya, perlahan Sun Hee berjalan dan masuk ke dalam mobil. Sun Hee menatap dirinya dari pantulan kaca, tak ada lagi yang menatapnya seperti gadis sekolah normal, semuanya menatap dirinya jijik karena pekerjaan hina yang dilakukannya bahkan orang yang ia anggap ibunya sendiri tak ingin mendengar cerita di balik pekerjaannya.

“ Aku baik-baik saja tanpa Jongin..”

.

.

.

June, 2013

Dengan berat hati pada akhirnya Sun Hee menolak permintaan tuan Takashima untuk ikut bersamanya ke Jepang, pria tua itu pergi ke Jepang tiga minggu yang lalu dan membiarkan Sun Hee diam di sebuah Apartement mewah untuk sementara. Sebenarnya, Sun Hee ingin ikut kemanapun pria tua itu pergi, dia sudah terlalu nyaman dengan tuan Takashima. Hanya saja, ada seseorang yang tak sanggup ia tinggalkan.

“Sun Hee, kau tinggal sendirian disini? Itu berarti kau sudah tidak memiliki pemilik lagi?” Tanya Jongin ketika mengetahui bahwa gadis itu kini tinggal tanpa tuan Takashima. Ia duduk di salah satu sofa yang berada di dekat televisi.

Sun Hee menggeleng pelan, duduk di sebelah Jongin. Keduanya baru saja kembali dari sekolah.

“Tuan Takashima menjualku pada salah seorang kenalannya,”

Wajah Jongin berubah masam, hatinya sakit mendengar gadis yang ia cinta diam-diam berpindah tangan dari seorang lelaki ke lelaki lain. Jongin ingin membeli Sun Hee, namun uang yang ia kumpulkan masih belum cukup, mungkin jika Sun Hee memiliki mucikari yang baik dia bisa ‘membeli’ Sun Hee dengan harga murah demi kebebasannya.

“Kenapa kau tidak pergi? Kau harus pergi jika tidak ingin melakukannya, Sun Hee-ya,” Ujar Jongin.

“Tapi ini pekerjaanku, Jongin. Aku mendapatkan uang.”

“Tapi kau tak mendapat rasa hormat dari oranglain,” Jongin meyakinkan.

“Rasa hormat tak membuat perutku kenyang.”

Dan, Jongin terdiam. Ia tahu benar apa yang di ucapkan Kang Sun Hee, gadis itu kini jauh lebih menikmati pekerjaannya karena seberapapun usaha Sun Hee menolak kenyataan bahwa ia pelacur tak mengubah pandangan orang lain padanya.

“Aku tak butuh rasa hormat orang lain padaku, cukup kau yang melakukannya. Bukankah kau temanku?”

Namun, perasaan Jongin tidak dapat berbohong, membayangkan bagaimana gadis yang ia cintai bersama pria lain. Tak ada jawaban dari bibir Jongin, dia hanya terdiam menatap kedua bola mata indah milik Sun Hee untuk beberapa saat. Kemudian senyum Jongin mengembang, ia genggam tangan mungil Sun Hee dan menariknya pelan membuat gadis itu berdiri seketika dari duduknya.

“Aku akan ‘membeli’mu untuk hari ini!”

“Eh?” Sun Hee menatap Jongin bingung.

“Karena aku sekarang pelangganmu, kau harus bersikap patuh padaku dan ikut kemanapun aku pergi! Ayo!”

Sun Hee menatap wajah ceria Jongin dan punggung pemuda itu yang berada di hadapannya, sudah berapa lama punggung itu berada disana? Sudah sejak kapan senyum manis pemuda itu ditujukan padanya? Sun Hee tak ingin menjawabnya. Ketika Jongin menoleh ke arahnya, ia tersenyum lebar, berlari dengan sepatu sekolahnya, mengikuti kemanapun Jongin pergi.

Setidaknya untuk hari ini,

Hanya hari ini,

Ia ingin bahagia bersama pemuda yang ia cintai. Kim Jongin.

Jongin mengajaknya pergi menonton film di bioskop, berjalan di sekitar dan membeli camilan murah di pinggir jalan, bergenggaman tangan layaknya seorang kekasih. Jika saja Sun Hee bisa menghentikan waktu, ia akan mengehentikannya selamanya. Hingga tak ada yang bisa memisahkan genggaman tangannya dengan Kim Jongin. Ucapannya bahwa tanpa Jongin hidupnya akan baik-baik saja adalah kebohongan, ia, tidak bisa hidup tanpa Kim Jongin.

.

.

.

Sun Hee merayakan ulang tahun ke enam belas beberapa minggu lalu, ia kemudian mendapat telepon dari tuan Takashima dan mendapat banyak hadiah dari pria tua itu, tuan Takashima berkata ia ingin bertemu dengan Sun Hee dan merindukannya. Sun Hee hanya tertawa mendengar ucapan pria tua itu, kemudian tuan Takashima mengatakan bahwa pria yang ‘membeli’nya telah tiba dari Inggris. Pria tua itu akan menjadi pemilik Sun Hee selanjutnya, namanya Mr. Alzelvin berasal dari Inggris dan mendapat perkerjaan magang di Korea selama enam bulan.

“Kuharap kau menyukainya, Ixia, dia orang yang baik.” Ujar tuan Takashima pada Sun Hee.

“Terima kasih telah memperkenalkanku pada orang yang baik, tuan,”

Tuan Takashima kemudian tertawa mendengar ucapan Sun Hee.

“Kupikir kau bisa berhenti memanggilku tuan, aku bukan lagi tuanmu.”

Sun Hee tersipu mendengarnya, ia menolak memanggil mantan tuannya dengan sebutan nama, terlebih lagi ia menghormati tuan Takashima sebagai pria tua yang baik terlepas bahwa faktanya pria itulah yang merenggut keperawanannya.

Setelah kepergian tuan Takashima, Sun Hee kembali mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya. Mereka berkata bahwa kini tak takut pada Sun Hee karena tak ada satupun para penjaga yang mengikutinya dan juga karena pemilik Sun Hee yang menakutkan kini tak berada di Korea lagi, hal-hal menjijikan kembali menghantuinya.

Kini bukan saja ia di bully, para guru dan siswa laki-laki mulai mencuri-curi untuk merabanya dan ‘memakai’nya di sekolah. Sun Hee ketakutan, sekolah bukan lagi tempat yang paling ia inginkan untuk di datangi meskipun Kim Jongin berada disana.

Ia pernah hampir di tiduri oleh salah satu guru di belakang kebun sekolah, beruntung Jongin menyadari bahwa setelah pelajaran berakhir Sun Hee menghilang. Sun Hee melihat wajah Jongin yang memerah karena marah dan memukul guru tersebut hingga babak belur. Insiden ini tak pernah naik ke permukaan karena kekuasaan ayah Jongin, guru tersebut di keluarkan tanpa alasan dan Sun Hee enggan masuk kembali ke sekolah.

Meskipun ia rindu pada Kim Jongin ia tak beranjak menuju sekolah, ia hanya diam di dalam Apartement menanti tuan barunya datang.

Tuan baru Sun Hee yang berasal dari Inggris datang beberapa waktu lalu dan mulai hidup bersama di Apartement mewah tersebut. Namanya, Dreu Alzelvin. Ia ingin Sun Hee memanggilnya, Alzelvin. Seperti tuan Takashima, bahasa Korea Mr.Alzelvin sangat terbatas hingga terkadang keduanya memakai isyarat tubuh untuk mengatakan sesuatu.

Mr.Alzelvin adalah seorang dosen dari Universitas terkenal di Inggris ia mendapatkan kesempatan magang dan mengetahui lebih dalam tentang sistem belajar di Korea Selatan baru-baru ini.

“Aku mengenal tuan Takashima ketika berada di Jepang, saat itu aku pertama kali datang ke Jepang dan tersesat. Tuan Takashima membantuku mencari jalan yang tepat, aku tidak pernah tahu ia Yakuza menakutkan disana.” Ucap Mr.Alzevin, ia tertawa ketika bercerita.

Mr. Alzelvin memiliki kulit putih pucat, kedua bola matanya berwarna biru, rambutnya pendek rapi berwarna kemerahan dengan kumis tipis dan juga janggut yang tipis. Sun Hee seperti menatap sebuah manekin di toko ketika melihat Mr.Alzelvin, terlebih lagi pria itu tingginya hampir 190cm. Ia terlihat seperti aktor Hollywood.

Sun Hee dan Mr. Alzelvin tidur terpisah di kamar berbeda, sejak datang ke Korea pria berusia 36 tahun itu tidak berhenti keluar rumah dan mengajak Sun Hee pergi ke tempat-tempat yang sangat ia ingin kunjungi. Sun Hee jadi seperti seorang pemandu wisata daripada seorang pelacur yang di sewa pria itu selama enam bulan.

Mr.Alzelvin juga meminta Sun Hee memasak makanan Korea yang ia ingin makan, beruntung Sun Hee pandai memasak sehingga ia bisa memenuhi apa yang di inginkan pria lucu itu. Selain mengajak Sun Hee berjalan-jalan setiap hari, Mr.Alzelvin mengajari gadis itu bahasa inggris agar mudah berkomunikasi dan sebaliknya Sun Hee mengajarinya bahasa Korea.

Selama bersama Mr.Alzelvin Sun Hee tidak ingat bahwa ia hanya seorang pelacur yang di sewa pria itu, karena tak pernah sekalipun tuan barunya tersebut menyentuh atau bahkan melakukan skinship padanya. Mr.Alzelvin juga melarang Sun Hee memakai pakaian terbuka ketika berada di dalam rumah bersamanya, meski bingung namun Sun Hee merasa senang pada akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang tidak menginginkan tubuhnya.

“Aku hanya ingin kau menemaniku selama berada di Korea, Ixia, sebenarnya aku sudah memiliki seorang istri,” Mr.Alzelvin mengatakannya dengan tersipu pada Sun Hee. Ia mengatakan baru saja menikah satu tahun dan sekarang istrinya tengah mengandung.

“Lalu, mengapa tuan membeliku?”

Mr.Alzelvin tersenyum dan membelai lembut rambut Sun Hee, sentuhan pertamanya pada gadis itu.

“Itu karena Mr.Takashima memohon padaku untuk membelimu, dia tidak ingin kau jatuh pada tangan orang yang salah. Dia bilang padaku, kau masih terlalu polos untuk mengetahui seberapa berat pekerjaanmu.”

Airmata Sun Hee menetes. Tuan Takashima benar-benar menyayanginya, hanya saja, dia tidak bisa membalas kebaikan pria tua itu selain dengan tubuhnya. Sun Hee benar-benar merasa beruntung mendapatkan majikan pertama yang begitu baik padanya.

“Kenapa kau tidak pergi bersama Mr.Takashima?” Tanya Mr.Alzelvin pada Sun Hee, kemudian, ketika gadis itu bisa mengendalikan tangisannya.

“Aku tidak dapat meninggalkan kakak laki-laki dan ayahku disini,”

“Bukankah kau di jual oleh mereka?” Kening Mr.Alzelvin berkerut.

“Seberapapun buruknya mereka padaku, hanya mereka yang aku punya di dunia ini, tuan. Mereka keluargaku.”

Mr.Alzelvin menatap Sun Hee, hati gadis kecil itu telah di sakiti, namun ia tetap menerima orang yang telah menyakitinya. Seperti ia menerima dan berbaik hati pada Mr.Takashima yang telah merenggut apa yang paling penting untuk masa depannya.

“Kurasa kau akan menjadi gadis dewasa yang bijaksana, Ixia..” Senyum Mr.Alzelvin mengembang, Sun Hee memandangnya di balik sapu tangan yang menutupi setengah wajahnya.

Pria baik lagi-lagi hadir di hidupnya, meskipun ia bekerja sebagai pelacur, Tuhan tetap memberikan orang-orang yang mau peduli padanya.

Continued..

23 responses to “IXIA — Page 4

  1. Ceritanya susah di tebak..
    Bikin aku penasaran tingkat dewi..
    Ternyata Mr.takashima nya baik yaa…
    Daebakk!! Lanjut thor..

  2. Pingback: IXIA — Page 5 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s