Part I : HIME

hime

Author : Ariskachann

Cast : Mizuhara Hime (OC), Park Chanyeol, and Zhang Yixing

Genre : Romance, sad

Rating : PG

Disclaimer : Cerita ini murni hasil dari pemikiran author. Dilarang memplagiat!! Diharapkan budaya komen setelah membaca. Don’t be siders!!

A/N : Recommended song ‘Epic High – Happen Ending’

Sorry for typo^^

“Aku tidak tahu ternyata kau sejalang ini, Yoonhee-ah,” pemuda bernama Park Chanyeol itu melemparkan beberapa lembar foto yang berada digenggaman tangannya keatas meja dengan kasar. Wanita yang tadi sibuk membereskan pakaiannya didalam lemari sontak terkejut dengan kehadiran tiba-tiba tunangannya itu. Apalagi begitu mendapati foto-foto dirinya dan seorang pemuda didalam foto itu berceceran diatas meja. Mata Yoonhee seketika membulat tidak percaya melihat foto-foto itu. Sontak kepalanya menggeleng pelan sebelum menatap Chanyeol yang sudah murka dihadapannya.

“Chanyeol-ah, itu tidak seperti yang kau pikirkan,” lirihnya pelan dengan bibir bergetar ketakutan.

“Memangnya apa yang kupikirkan sekarang, huh?!” Mata Chanyeol menatap tajam Yoonhee yang kembali menggelengkan kepalanya.

“Chanyeol-ah, aku bisa jelaskan semua ini padamu,” Yoonhee hendak menghampiri Chanyeol yang masih berdiri dihadapannya dengan kedua tangan mengepal erat disisi tubuhnya.

“Aku tidak butuh penjelasanmu,” geramnya sebelum Yoonhee sempat menghampirinya lalu kemudian berbalik pergi dengan langkah lebar.

“Chanyeol-ah!” Yoonhee berniat mengejar pemuda itu namun kakinya terasa tak sanggup. Dia terlalu takut untuk menghadali Chanyeol yang sedang dilanda amarah seperti itu. Mungkin nanti, saat Chanyeol sudah agak reda dengan amarahnya.

*
*
*

Brak!

Chanyeol membuka pintu dihadapannya dengan gerakan kasar hingga penghuni didalam ruangan itu terkejut dan sontak menoleh melihat kedatangannya. Chanyeol masih kesal dan dia butuh pelampiasan.

“Nona Mizu, aku akan kesini lagi nanti,” bisik wanita cantik yang baru saja datang keruangan itu tadi sebelum kehadiran Chanyeol. Wanita yang dipanggil ‘Nona Mizu’ itu kemudian mengangguk. Setelah kepergian pelanggannya, wanita itu membenahi sketsa-sketsa gaun yang baru saja digambarnya untuk kemudian dimasukan kedalam map. Wanita itu melirik Chanyeol sekilas.

“Kau kenapa lagi?” Tanyanya santai lalu beranjak dari duduknya, menghampiri lemari penyimpanan yang terletak dibelakang meja kerjanya.

“Memang kenapa denganku?” Tanya Chanyeol dengan nada yang terdengar tidak suka akan pertanyaan wanita yang kini masih sibuk dengan pekerjaannya itu. Tanpa diketahui Chanyeol wanita itu tersenyum simpul sebelum membalikan tubuhnya menghadap Chanyeol melihat sosok tinggi itu yang masih berdiri didekat pintu dengan wajah kesal.

“Berselisih paham dengan stafmu lagi? Atau bertengkar dengan tunanganmu?” Tanya wanita itu kembali membuat Chanyeol mendengus malas lalu mengambil kursi didekatnya.

“Tidak ada urusannya denganmu aku mau bertengkar dengan siapa” Chanyeol menyecahkan tubuhnya diatas kursi lalu menyilangkan kedua kakinya.

“Kau itu terlihat menyedihkan Park Chanyeol,” desis wanita itu.

“Menyedihkan? Untuk apa aku harus terlihat menyedihkan hanya karena perempuan itu. Dia sudah mengkhianatiku dan aku tidak akan sedih hanya karena dirinya. Camkan itu!” Wanita itu menggeleng pelan lalu mengambil jas kerja dan kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja.

“Kau mau kemana?” Tanya Chanyeol ketika melihat wanita itu sudah berdiri diambang pintu.

“Aku lapar,” katanya singkat lalu pergi begitu saja.

“Yak! Hime-ya! Tunggu! Aku ikut.”

*
*
*

“Chanyeol-ah!”

Yoonhee, tunangannya Chanyeol, berlari menghampiri Hime dan Chanyeol yang baru saja keluar dari kantor. Chanyeol mendengus jengah begitu melihat wajah tunangannya itu. Tidak peduli wajah itu yang nampak kusut dan pipi yang masih berlinangan air mata. Pria itu tidak perduli.

“Chanyeol-ah, kumohon kita harus bicara,” Yoonhee menggamit lengan Chanyeol namun langsung dilepaskan oleh pria itu.

“Aku sedang tidak mau bicara padamu,” kata pria itu datar tanpa melihat wajah memelas Yoonhee.

“Kumohon, biarkan aku menjelaskannya padamu, Chanyeol-ah,” masih, Yoonhee berusaha menarik lengan Chanyeol dan kali ini Chanyeol benar-benar hilang kesabarannya hingga dia dengan kasar menghempaskan tangan Yoonhee,

“APA KAU TULI? AKU TIDAK MAU BICARA PADAMU!” Teriak Chanyeol murka membuat Yoonhee langsung terdiam dan menatapnya ketakutan. Begitupun Hime yang kini menatap Chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Beruntung Yoonhee tidak sampai terjatuh tadi.

“Chan,Chanyeol,” lutut Yoonhee melemas melihat wajah Chanyeol yang benar-benar murka.

“Berhenti muncul dihadapanku,” setelah mengatakan itu Chanyeol berbalik pergi meninggalkan Yoonhee yang kini mulai terisak. Melihat pemandangan itu membuat Hime merasa iba, perlahan gadis itu menghampiri Yoonhee dan mengusap pundaknya perlahan.

“Gwenchanha?” Tanyanya lembut dan Yoonhee menggeleng pelan membuat Hime hanya bisa menghembuskan napasnya pelan.

“Chanyeol, dia tidak mau mendengarkan penjelasanku. Dia hanya salah paham, Hime-ya. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria difoto itu,” Yoonhee kembali terisak membuat Hime benar-benar tidak tega melihatnya.

“Sebaiknya kau pulang-”

“Hime-ya,”  Yoonhee menggenggam kedua tangan Hime erat dan menatap kedua manik mata coklat itu memohon , “kumohon bisa tolong kau jelaskan pada Chanyeol. Bukankah dia selalu mendengarkanmu?” Hime menatap wajah Yoonhee sejenak sebelum mengangguk pelan.

“Araseo. Aku akan mencobanya,”

*
*
*

Hime masuk kedalam mobilnya dan melihat Chanyeol ternyata sudah duduk dikursi penumpang. Hime melirik Chanyeol sekilas membuat pria itu memalingkan wajahnya kearah jendela. Wanita itu menggeleng pelan lalu menstarter mobilnya. Sepertinya Chanyeol benar-benar dalam mood yang buruk. Untuk sekarang Hime tidak mau memulai pembicaraan apapun dengannya.

*
*
*

Hime berhenti mengunyah potongan steaknya ketika melihat cara makan Chanyeol yang terburu-buru. Dan lagi pria itu memasukan hampir semua makanan yang tersaji diatas meja kedalam mulutnya hingga penuh. Saus spageti sudah menghiasi pinggir bibirnya sementara pipinya sudah menggembung. Kebiasaan Chanyeol jika dia sedang ada masalah. Pria itu akan makan tanpa henti meski perutnya sudah tidak muat lagi. Tidak masalah jika dia kekenyangan. Tetapi kalau sampai tersedak kan bisa bahaya.

“Chanyeol-ah, makannya pelan-pelan sedikit,” tegur Hime seraya mengambil tisu dan mengelapkannya kesudut bibir Chanyeol yang terkena saus. Chanyeol mengangguk lalu mengambil gelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Hime menggelengkan kepalanya pelan sebelum melanjutkan acara makannya kembali.

“Jadi kau tidak berniat mendengarkan penjelasan Yoonhee terlebih dulu. Kurasa-”

Trak! Belum sempat Hime melanjutkan perkataannya Chanyeol menyentakan garpunya dengan kasar ke atas piring.

“Bisa tidak kau tidak usah bahas dia sekarang ini dan biarkan aku makan dengan tenang,” manik mata Chanyeol menatap tajam Hime membuat wanita itu mendengus malas.

“Aku kan cuma bertanya padamu. Kenapa kau dan Yoonhee-”

“Sudah kubilang tidak usah menyebut namanya!” Teriak Chanyeol marah membuat Hime dan beberapa pengunjung restoran terkejut mendengarnya.

Brak!

Dan kali ini Hime yang menggebrak meja dengan kedua tangannya.

“Aku tidak suka kau berteriak dihadapanku,” dan Hime segera beranjak dari sana membuat Chanyeol sadar jika tadi dia begitu marah dan bersikap keterlaluan  pada Hime. Kedua matanya mengerjap pelan lalu segera Chanyeol mengejar Hime setelah sebelumnya meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja.

Beruntung, Hime masih berjalan kearah parkiran mobil sehingga Chanyeol tidak repot untuk mengejarnya. Segera saja Chanyeol meraih pergelangan tangan Hime ketika jarak mereka sudah dekat. Pria itu langsung membalikan tubuh Hime agar menghadap kearahnya. Kentara sekali jika wajah Hime masih kesal atas perlakuannya tadi.

“Mianhae,” sesal Chanyeol seraya menatap wajah Hime. Wanita itu masih enggan menatap wajah Chanyeol dan lebih memilih mengarahkan pandangannya kearah lain membuat Chanyeol mendecak kesal lalu menangkup pipi Hime.

“Mianhae, eoh?”

Hime memejamkan kedua matanya sejenak lalu melepaskan kedua tangan Chanyeol yang masih menangkup pipinya.

“Kau tahu kan aku paling tidak suka kau berteriak dihadapanku?” Chanyeol mengangguk pelan, Hime menghela napasnya panjang sebelum melanjutkan,

“Semua wanita itu sama Chanyeol. Mereka tidak suka seseorang marah dan berteriak seperti yang kau lakukan padaku tadi. Karena wanita itu memiliki hati yang lembut dan rapuh. Begitupun dengan Yoonhee. Dia pasti sangat terluka saat ini,” Hime menundukan pandangannya lalu meraih kedua tangan Chanyeol yang menjuntai disisinya menggenggamnya lembut,

“Chanyeol-ah, teriakan dan amarah tidak bisa menyelesaikan suatu masalah. Sikapmu inilah yang membuatmu lemah,” Hime tersenyum lembut lalu menatap Chanyeol yang juga menatapnya dalam diam, “Bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Aku yakin itu akan lebih baik untukmu dan juga Yoonhee,”

“Aku-”

“Cepat selesaikan karena aku tidak mau melihatmu marah-marah lagi,” Hime melepaskan genggaman tangannya dari kedua tangan Chanyeol lalu menepuk bahu pria itu beberapa kali. Pria itu kemudian menyunggingkan senyum tipis sebelum mengangguk pelan. Sepertinya usaha Hime membujuk pria itu berhasil.

*
*
*

“Hallo!” Chanyeol muncul diambang pintu apartemen Hime ketika wanita itu membukakan pintunya. Dua kantung plastik tengah dijinjing Chanyeol yang kini nampak menyunggingkan senyuman lebarnya. Dahi Hime berkerut aneh. Ada apa gerangan Chanyeol datang malam-malam begini? Tanpa dipersilahkan Chanyeol menerobos masuk kedalam apartemen Hime layaknya rumah sendiri.

“Ada apa kau datang dijam segini?” Hime menghampiri Chanyeol yang kini meletakan dua kantung plastik yang dibawanya tadi keatas meja setelah sebelumnya menutup pintu dan menguncinya. Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Hime, dia malah sibuk membuka plastik-plastik yang dibawanya tadi yang ternyata isinya adalah beberapa botol soju dan makanan ringan.

“Chan-”

“Bisa ambilkan gelas?”

*
*
*

“Bersulang!” Chanyeol membenturkan sisi gelas sojunya ke sisi gelas soju Hime membuat suara dentingan lalu meminum sojunya hingga tandas.

“Aaaahhh,” Chanyeol meringis ketika merasakan cairan itu mengaliri tenggorokannya, “Kenapa kau tidak meminumnya?” Tanya Chanyeol ketika melihat Hime malah meletakan gelas sojunya yang belum diminumnya sedikitpun.

“Ada desain yang harus kukerjakan,” Hime mencomot keripik kentang yang berada diatas meja lalu memakannya, “Aku tidak mau kepalaku pusing nantinya,” lanjutnya seraya matanya mulai fokus pada layar datar dihadapannya yang sedang menayangkan acara kesukaannya, Running Man. Chanyeol berdecak sebal sebelum mengambil gelas soju yang diletakan Hime tadi lalu mengangsurkannya ke mulut Hime membuat wanita itu memundurkan wajahnya.

“Kau harus minum sedikit. Aku datang kesini kan untuk merayakan baiknya hubunganku dengan Yoonhee. Kau tidak mau merayakannya bersamaku?” Chanyeol masih berusaha menyodorkan gelas itu pada Hime.

“Tuan Park,” Hime menahan pergerakan tangan Chanyeol lalu mengambil gelas itu dari tangan Chanyeol, “Sebaiknya anda saja yang minum. Biar saya menuangkannya saja untuk anda, ne?” Hime tersenyum lima jari dan menyuruh Chanyeol untuk meminum soju miliknya. Pria itu hanya mengangguk.

“Hime-ya,” Chanyeol meletakan gelasnya kembali keatas meja lalu menatap sisi wajah Hime yang masih memerhatikan televisi, “Hime-ya,” panggilnya lagi merasa Hime tidak menghiraukannya.

“Hmm?” Sahut wanita itu tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi.

“Pria didalam foto itu ternyata hanya teman lamanya Yoonhee,” Chanyeol diam sejenak, menghela napasnya panjang, “Aku sudah memarahinya dan aku benar-benar menyesal,” Chanyeol menundukan pandangannya.

“Itu karena kau terbutakan oleh cemburu,” mendengar perkataan Hime membuat Chanyeol mendongak lalu menatap wajah wanita itu.

“Cemburu itu wajar kan. Itu karena aku-”

“Sangat mencintai Yoonhee,” Hime melanjutkan kalimat Chanyeol dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi membuat Chanyeol mengerjapkan kedua matanya pelan.

“Ba, bagaimana kau bisa tahu apa yang akan kukatakan?” Tatapan tidak percaya Chanyeol sungguh lucu dimata Hime ketika kini dia melihatnya. Senyuman jahil menghiasi wajah Hime, “Kau mengatakannya hampir setiap hari padaku. Ck, lagipula tertulis jelas diwajahmu jika kau benar-benar mencintai Yoonheemu itu,” Hime semakin mengulum senyumnya ketika Chanyeol mulai meraba kedua pipinya dengan dahi mengerut.

“Apa terlihat sangat jelas?” Gumamnya pelan namun masih bisa didengar Hime.

“Ne. Padahal aku pernah mendengar seseorang berkata padaku jika seorang pria itu harus menjaga imagenya, jika suka maka jangan terlalu menunjukannya. Karena jika kau melakukannya harga diri seorang pria akan benar-benar jatuh dimata seorang wanita. Bersikap cool dan acuh itulah yang harus dilakukan oleh seorang pria,” Hime menyunggingkan senyuman jahil kearah Chanyeol, “Keutji? Tidakkah kau ingat siapa yang pernah mengatakan hal itu?” Goda Hime seraya menyenggol lengan Chanyeol dengan siku kirinya.

“Yak! Kau menyindirku?” Chanyeol melotot membuat wajahnya malah terlihat lucu dimata Hime.

“Ani~. Tapi jika kau merasa juga tidak apa-apa,” Hime perlahan berdiri dari duduknya mengambil posisi jika saja Chanyeol tiba-tiba menyerangnya.

“Kau,” desis Chanyeol dan dua detik setelah itu Chanyeol berdiri dan bersiap menangkap Hime yang ternyata lebih dulu melarikan diri.

“Yak! Kemari kau!” Hime menjulurkan lidahnya kearah Chanyeol sebelum membuka pintu kamarnya lalu segera masuk sebelum Chanyeol berhasil menangkapnya.

Dok. Dok. Dok.

“Hime-ya! Buka pintunya! Aku akan membalasmu eoh?” Chanyeol menggedor-gedor pintu kamar Hime dan terus berteriak menyuruh wanita itu untuk membuka pintu kamarnya.

“Shireo!” Teriak Hime dari dalam.

*
*
*

Hime tidak lagi mendengar Chanyeol menggedor pintu kamarnya setelah lebih dari sepuluh menit lalu.

“Apa dia sudah menyerah?” Gumam Hime seraya menatap pintu kamarnya yang masih tertutup. Hime mengendikan bahunya acuh sebelum beranjak dari kasurnya berjalan pelan menghampiri meja kerjanya yang nampak berantakan.

“Daripada mengurusi si kuping lebar itu lebih baik mendesain ulang gaunku yang kemarin,” Hime membuka laptopnya dan menyalakannya. Layar laptopnya menyala setelahnya menampilkan sebuah wallpaper dirinya yang tengah dirangkul dua orang pria dimasing-masing sisi tubuhnya. Senyuman Hime perlahan mengembang melihat foto yang sudah lama itu. Foto dirinya yang tengah tersenyum lebar bersama dua temannya, Chanyeol dan Yixing. Perlahan Hime mengusap layar laptopnya. Tepat diwajah pria putih dengan lesung pipi diwajahnya.

“Yixing-ah, aku tidak mungkin bisa mengatakan padanya,” senyuman pahit menghiasi wajah Hime,

“Aku bodoh kan.”

*
*
*

Seharusnya disiang hari terik begini Hime disuguhi minuman dingin atau puding susu coklat yang enak. Bukan disuguhi pemandangan super panas dihadapannya sekarang. Demi Tuhan ini kantornya dan ruangan tempatnya bekerja, bukan hotel ataupun rumah pribadi sehingga mereka bisa sesuka hati melakukan hal-hal seperti itu. Ok mereka berdua memang tidak melakukan hal lain selain berciuman intens. Tetapi Hime bisa melihat dengan jelas jika sekarang tangan pria itu masuk kedalam rok mini yang dikenakan wanita yang duduk diatas meja itu dengan kemeja yang sudah terbuka separuhnya. Ok Hime hanya bisa berdehem keras untuk menyadarkan dua insan itu. Sontak si wanita mendorong pria yang menghimpitnya itu lalu menatap horor sosok Hime yang berada diambang pintu.

“Well, well, well. Seharusnya kalian tidak lupa untuk mengunci pintunya,” Hime berkacak pinggang lalu menggelengkan kepalanya pelan sebelum menghampiri meja kerjanya santai tanpa perduli dua insan itu yang menundukan kepalanya.

“Mianhae, Hime-ya,” wanita itu menggigit bibir bawahnya yang sudah membengkak.

“Jangan sungkan Yoonhee-ya. Hal yang wajar jika kalian seperti itu,” Hime tersenyum pada Yoonhee lalu kemudian menatap pria disebelah Yoonhee yang tidak lain adalah Park Chanyeol,

“Tapi jangan sampai kau hamil diluar nikah,” ucapnya tajam. Chanyeol berdehem pelan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Yoonhee-ya, sebaiknya kau rapikan dulu pakaianmu,” Hime mengendikan dagunya kearah baju Yoonhee yang memang berantakan , “Setelah itu kita coba gaun yang kau pesan kemarin,” Yoonhee mengangguk lalu berbalik pergi kearah kamar mandi Hime yang letaknya disudut ruang kerjanya. Setelah kepergian Yoonhee, Chanyeol merapikan kemeja putihnya yang nampak kusut lalu menyisir rambut coklatnya dengan jari tangan. Setelah selesai pria itu mengenyakan tubuhnyadisofa depan meja kerja Hime lalu mengambil sekaleng minuman yang terletak diatas meja.

“Apa mejaku bersih?”

“Uhuk!” Chanyeol langsung tersedak begitu mendengar pertanyaan Hime.

“Yak! Apa maksudmu?” Tanya Chanyeol tidak terima seraya mengusap bibirnya yang basah karena minumannya tumpah.

“Kau sangat mengerti apa yang kukatakan, pria dewasa?” Hime menaikan sebelah alisnya membuat Chanyeol dibuat keki.

“Aku tidak melakukannya,” bela Chanyeol, “Kami hanya-”
Cklek. Pintu kamar mandi yang terbuka membuat Chanyeol menghentikan perkataannya.

“Hime-ya, aku sudah selesai,” Yoonhee duduk disamping Chanyeol.

“Araseo,”

*
*
*

“Sudah selesai?” Tanya Chanyeol begitu Yoonhee keluar dari ruang ganti dan wanita itu mengangguk.

“Hanya mencobanya saja. Lagipula kenapa kau mau ikut tadi?” Tanya Yoonhee, Chanyeol menarik tangan Yoonhee lalu mendudukan wanita itu diatas pangkuannya.

“Aku hanya ingin terus bersamamu,” Chanyeol tersenyum lembut lalu mengecup sekilas bibir Yoonhee membuat wanita itu terkekeh pelan. Mereka bahkan tidak menyadari jika sedari tadi Hime hanya melihat pemandangan romantis itu dengan wajah datar.

“Aku lapar. Ayo pergi makan,” Chanyeol mengusap pipi Yoonhee lembut.

“Mianhae, aku ada pemotretan setelah ini. Jadi tidak bisa menemanimu,” Yoonhee mengusap pipi Chanyeol yang mengerucutkan bibirnya sedih.

“Araseo. Aku akan makan dengan Hime saja,”

“Aku tadi sudah makan dengan Lay,” kata Hime datar sembari sibuk dengan sketsa dibuku gambarnya. Chanyeol mengerutkan dahinya.
‘Lay?’

*
*
*

Hime menyandarkan dagunya diatas setir mobil. Sudah sepuluh menit lalu Hime melakukan hal itu tanpa berniat menghidupkan mesin mobilnya. Hime terlalu lelah, bahkan hanya untuk memutar kunci mobilnya. Helaan napas panjang tidak hentinya keluar dari bibir tipis wanita itu. Hingga sebuah pesan yang diterimanya sore tadi diingatnya kembali. Hime menegakan tubuhnya sementara senyuman tipis menyungging dibibirnya. Hime mengeluarkan handphonenya lalu mengetik sebuah pesan sebelum mengirimnya pada seseorang. Setelah melakukannya Hime memasukan kembali handphonenya kedalam saku jas.

*
*
*

“Apa kau menunggu lama?” Hime menghampiri sosok yang kini tengah berdiri dipinggir sungai Han.

“Aniya,” lesung pipi yang amat manis menghiasi wajah tampan pria itu ketika bibirnya mengulas senyum melihat kedatangan Hime.

“Mianhae, aku tadi membeli kopi dulu,” Hime mengangsurkan secangkir kopi pada pria itu yang langsung diterimanya dengan senang hati.

“Apa aku mengganggumu Yixing-ah?” Tanya Hime padanya seraya duduk dikursi yang ada dipinggiran Sungai Han.

“Aniya,” pria bernama Yixing itu menggeleng pelan lalu ikut duduk disamping Hime, “Aku malah senang kau mengajakku jalan-jalan malam ini,” Yixing tersenyum lalu menyesap kopinya pelan.

“Banyak yang berubah ya semenjak kepindahanku ke Cina,” Yixing menatap Sungai Han yang nampak memantulkan sinar lampu warna- warni dipinggir jalan.

“Hanya perasaanmu saja,” Hime tersenyum sembari tatapannya menerawang entah kemana.

“Menurutku banyak,” Yixing menolehkan kepalanya kesamping menatap sisi wajah Hime,

“Menurutku kaulah yang banyak berubah,” lanjutnya kemudian membuat Hime tertegun lalu menatap wajah Yixing yang masih setia menatapnya. Hime menaikan sebelah alisnya tidak mengerti maksud perkataan Yixing.

“Aku banyak berubah?” Beo Hime dengan wajah heran. Yixing mengangguk, “Kau semakin cantik,” puji Yixing membuat Hime melongo lalu setelahnya terkekeh pelan.

“Apa kau sedang merayuku?” Tanya Hime disela kekehannya. Yixing mengalihkan tatapannya lalu menyesap kopinya kembali sebelum berkata, “Jika kau menganggapnya begitu ya tidak apa-apa.”
Hime menggelengkan kepalanya pelan masih dengan sisa senyumannya, lalu perlahan senyumannya memudar digantikan raut wajah murung, “Jika aku bertambah cantik tidak mungkin dia mencintai wanita lain dan malah mengabaikanku,” lirihnya membuat Yixing menatapnya kembali. Senyuman pahit menghiasi wajah Hime membuat Yixing sedih melihatnya.

“Itu karena kau menyembunyikannya dengan baik hingga dia tidak pernah menyadarinya,” Perlahan Yixing mengulurkan satu tangannya lalu mengusap lembut puncak kepala Hime.

“Andai saja aku punya keberanian untuk menyampaikan perasaanku. Pasti rasanya tidak akan pernah sesakit ini,” bulir bening perlahan turun membasahi pipi Hime dan dengan lembut Yixing menghapusnya.

“Seharusnya kau meniruku. Tidak perduli cintaku akan terbalas atau tidak aku akan secara gamblang menunjukannya. Cukup menyedihkan memang tetapi setidaknya kau tahu jika ada orang yang masih mencintaimu,” Hime menggenggam lembut tangan Yixing yang masih menempel dipipinya.

“Nan eotteokhe?” Lirih Hime.

“Kau hanya perlu mengutarakan semua yang kau rasakan padanya. Tetapi jika kau terlalu takut akan ditolak maka yang harus kau lakukan adalah tetap menyembunyikan perasaan itu dan mencoba melupakannya. Lalu setelah itu kau bisa mencoba untuk mencintai pria lain,” jelas Yixing diakhiri senyuman menawannya, lagi.

“Mencintai pria lain?” Hime melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yixing lalu mengusap sisa airmatanya dengan punggung tangannya.

“Ne, seperti aku misalnya,” Yixing tersenyum gummy membuat Hime gemas lalu menepuk pelan bahu pria itu, “Eoh, wae?” Tanya pria itu polos.

“Nanti kupikirkan,” Hime tersenyum lalu menyandarkan kepalanya dibahu Yixing dengan nyaman,”Gomawo Yixing-ah,” gumamnya pelan seraya menutup kedua matanya perlahan.

*
*
*

Fin

ANNYEONG HAESYOOOOOO!!!

Badewey, ini ff pertama aku di FFindo. Well, meskipun ini emang pernah dipublish di blog pribadi sebelumnya. Jadi kalo ada kesamaan itu bukan karena hasil plagiat yaaa. Untuk semua reader salam kenal. . .!!

5 responses to “Part I : HIME

  1. Pingback: Par II : HIME | FFindo·

  2. Pingback: Part III : HIME | FFindo·

  3. Pingback: Part IV : HIME | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s