[Series] Will You Be My Bride? (4)

WIYBmBL

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Kim Nahyun, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

.

.

Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

.

Luhan memarkirkan mobilnya didepan rumah itu lalu membukakan pintu mobil untuk Jiyeon “Tadaa, selamat datang dirumah baru kita”

Rumah? Jadi Jiyeon dan Luhan akan tinggal dirumah ini berdua? Kenapa ia tidak tinggal dirumahnya sendiri saja untuk menemani Taehee? “Kita… disini?” Jiyeon tersenyum miris “Untuk apa kita tinggal disini jika rumahku saja masih tersisa banyak kamar?”

“Aku…” sejujurnya Luhan sudah lama membeli rumah ini karna angle dan arsitektur rumah ini sama persis dengan yang Jiyeon inginkan “Xiaoming hyung, hyung-ku itu sudah tahu dari dulu jika aku membeli rumah ini. Yaa kau tahu kan aku ini pria seperti apa? Meskipun aku terkesan slengekan tapi aku juga memikirkan masa depanku” jelas Luhan dengan tawa anehnya.

Jiyeon mengerti sekarang, jadi rumah ini adalah rumah yang sengaja Luhan siapkan untuk pendampingnya kelak? Tapi ia bukan istri sungguhannya, mereka hanya menikah simulasi. Apa ini tidak terlalu berlebihan jika nanti istri sesungguhnya Luhan menempati rumah bekasnya?

“Tak bisakah kita tidak menempati rumah ini? Eomma.. eomma akan tinggal sendirian dirumah” bukan cuma Taehee alasan utama Jiyeon, ia semakin takut jika ia akan terlihat semakin bersikap aneh didepan Luhan.

“Keundae Jiyeonie, sebenarnya, eommonim turut serta menyusun perlengkapan rumah ini”

“Mworago? Seolma… jadi benar kalian juga bersekongkol untuk honeymoon di okinawa kemarin?”

Luhan hanya mengangguk lemah, ia belum sempat memarkirkan mobilnya didalam rumah jadi percakapan mereka terlihat jelas oleh pengendara yang berlalu lalang dijalan komplek ini. “Kajja, kita masuk dulu. Disini terlalu panas Jiyeonie” ajaknya.

Jiyeon sungguh merasa seperti dkhianati oleh Luhan, mereka sahabat sejak lama, semuanya serba terbuka satu sama lain termasuk rencana pernikahan simulasi ini. Tapi kenapa masalah honeymoon dan rumah ini, Luhan menyembunyikannya begitu saja? Marah, ia menghempas tangan Luhan yang hendak menggenggamnya memasuki rumah.

Luhan hafal betul kilatan kekesalan dimata Jiyeon, baru tiga hari ia menjabat sebagai suami seorang Park Jiyeon. Tapi sudah berkali-kali ia merusak suasana hati Jiyeon. “Jiyeonie, jebal marhaebwha” tangannya terhempas oleh Jiyeon tatkala ia hendak menyentuh pundak Jiyeon.

Jika saja kunci mobil Luhan ada ditangannya, sudah pasti ia akan membawa kabur mobil itu pergi.

Sebuah taksi berhenti tepat didepan rumah yang berada didepan rumah yang hendak Luhan tempati.

“Oppa? Luhan oppa, kau tinggal disini?” seorang supir taksi membantu menurunkan koper putih yang dibawa Nahyun, gadis itu malah bergelayut manja dilengan Luhan, seolah mereka sudah mengenal lama.

Jiyeon sungguh tak habis pikir, siapa anak kecil ini yang sedianya mengganggu perdebatannya dengan Luhan dan kenapa pula dia sedekat itu dengan Luhan.

“Eoh, kau…”Luhan berusaha mengingat-ingat wajah Nahyun, seingatnya ia tak punya kenalan seperti Nahyun.

“Na-ya Nahyun, oppa. Kita bertemu di Okinawa”

“Arghh, pantai” Luhan menunjuk koper Nahyun yang terletak didepan gerbang rumah bercat biru itu “Itu rumahmu?”

“Ne, oppa” Nahyun mengamati rumah kosong yang sering ia amati jika sedang bersantai diberanda rumahnya “Jadi kau akan menghuni rumah kosong ini?” tanyanya.

Luhan menoleh mengamati Jiyeon yang masih bermuka masam “Sepertinya tidak sekarang” jawabnya.

“Matcji, sepertinya rumah itu juga belum dipenuhi perabot untuk layak ditinggali, oppa” Nahyun melirik Jiyeon sekilas “Keundae oppa, kenapa temanmu diam saja seperti itu?”

“Arghh, dia…” belum sempat Luhan melanjutkan ucapannya, Jiyeon melangkah begitu saja memasuki rumah itu padahal kunci rumahnya ia yang bawa “Nahyun-a, aku masuk dulu ne? Georeum” pamitnya.

Nahyun hanya melambaikan tangan lalu menyeret kopernya masuk ke dalam rumahnya. Aneh sekali, kenapa Jiyeon merasa jijik melihat gadis tadi bermanja seperti itu kepada Luhan.

Ia akui selama ini, Luhan sama sekali tak pernah mengenalkan wanitanya padanya, jangankan mengenalkan membawa wanitanya ketika liburan bersama saja jarang. Luhan lebih sering sendiri dan merayu wanita yang baru dia kenal. Luhan bergegas membuka pintu rumah dan mempersilahkan Jiyeon masuk dengan merentangkan tangannya.

Betapa takjubnya Jiyeon dengan penataan rumah baru mereka itu, ntah mengapa ia merasa rumah ini sangat mirip sekali dengan rumah yang ia inginkan. Jendela rumah itu besar sekali seperti dinding kaca.

Dari ruang tamu ia bisa melihat dengan jelas taman disamping kanan rumah, taman berbunga dengan air kolam ikan kecil itu membuatnya tenang,  Ia tarik jendela kaca itu sehingga ia bisa keluar menuju taman itu, disamping jendela ada sebuah kursi jemur yang sepertinya akan sangat nyaman sekali jika ia bermalas-malasan disana.

“Otthe? Apa kau suka Jiyeonie?” Luhan menarik lengan Jiyeon untuk menuju kamar tidur “Tadaa…” kamar beraksen pink yang contras dengan dinding coklat yang membalut seluruh rumah “Ini kamarmu” ujarnya.

Dikamar itu ada sebuah bed big size lengkap dengan kelambu besar berwarna pink polka. Disamping jendela ada sebuah meja mungil lengkap dengan komputer dan sebuah rak disebelahnya pula. Karpet pink ditengah ruangan menambah aksen pinknya semakin kental pula.

“Ini kamarku?” kamar ini hampir mirip dengan kamar Jiyeon yang ada dirumahnya sendiri “Kita…” gumamnya.

“Eoh, kau tidur disini dan aku dikamar sebelah” Luhan menggenggam erat tangan Jiyeon “Jika kau ketakutan kau bisa lari ke kamarku” godanya dengan cengirannya.

“Aishh” Jiyeon tak menyangka Luhan sudah menyiapkan semua ini, ia kira mereka akan tidur seranjang “Keundae, bagaimana kalau eomma tahu kita tidak tidur seranjang? Kau menyiapkan ini dengan eomma bukan?”

“Geunyang, kubilang saja kalau kau kadang merindukan kamarmu, jadi kita menyiapkan dua kamar” Luhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal “Apa kau mau melihat kamarku.. anni… maksudku kamar kita” tawarnya.

Jiyeon mengekor menuju kamar samping dan betapa terkejutnya ia begitu melihat kamar itu “Igeo…” semuanya serba putih namun di bed ukuran big size itu terdapat tebaran kelopak bunga dan juga sebuah lingeria berwarna pink.

Luhan memungut lingeria itu dan memasukkannya ke lemari “Molla, eommonim yang menyiapkannya Jiyeonie”

“Eumm, baju-bajuku sudah disini?” Jiyeon melirik lemari pakaian yang sedikit terbuka itu dimana didalamnya sudah tertata rapi semua pakaiannya dan juga Luhan.

“Eommonim baik sekali bukan? Semuanya sudah tersedia disini” Luhan tertawa renyah “Apa kau lapar? Akan kumasakkan makan siang untukmu” tawarnya.

“Memasak?”

“Eoh, aku memang tak jago memasak. Tapi tak ada salahnya aku bersikap romantis dengan memasakkanmu makanan”

“Andwae, kita pesan makanan saja” tolak Jiyeon, ia tak mau berakhir memakan makanan tak layak makan buatan Luhan.

“Call” Luhan segera mendial ponselnya dan menghubungi sebuah nomor telpon restoran.

**

Tiga hari sudah Jiyeon menjabat sebagai istri Luhan, ternyata rumah ini tak seburuk pemikirannya. Semalam ia tertidur nyenyak dikamar barunya dan ia tak lagi merajuk minta diantar pulang kerumah ibunya.

Jiyeon melonjak keluar dari selimutnya, ia hendak menuju kamar mandi untuk membasuh diri. Namun sebuah suara gemeletuk benda-benda beralumunium membuatnya tergugah untuk keluar sejenak mencari sumber suara. Ternyata suara gaduh itu berasal dari dapur, dari ujung meja makan ia bisa melihat punggung tegap nan tinggi seorang pria yang tentu saja adalah Luhan. Ia tak pernah tahu kalau Luhan memiliki punggung semenawan itu. Ia berdeham pelan memecah suasana hingga suaminya itu menoleh ke belakang.

“Kau sudah bangun?” Luhan memindahkan sebuah nasi goreng kimchi bokkeumbap-nya, ke dua buah piring lalu menghidangkannya ke meja makan “Bergegaslah mandi lalu kita sarapan” ajaknya seraya kembali sibuk memasukkan buah strawberry kedalam blender.

“Eoh” Jiyeon berbalik menuju kamarnya dan memasuki kamar mandi. Lima belas membasuh diri, kini ia sudah mengenakan kemeja polkadot lengkap dengan celana kainnya. Hari ini hari pertama kerja, setelah prosesi pernikahan. Ia kembali menuju meja makan sambil menenteng tasnya. Disana Luhan sudah menunggunya sambil mengecek isi tas kerjanya. Kali ini Luhan juga sudah memakai jas kerjanya tak seperti tadi yang hanya kemeja biru saja.

“Aku ada rapat pagi Jiyeonie” ucapnya begitu Jiyeon duduk dikursinya.

Jiyeon mengangguk lalu menyendok kimchi bokkeumbapnya, lidahnya langsung merespon positif yang ditunjukkan dengan senyuman tipis dibibir mungilnya.

“Aku tak tahu kalau kau ternyata bisa memasak, tahu begini kemarin kita tidak usah memesan delivery” ucapnya.

“Kemah, seorang petualang harus bisa memasak Jiyeonie” Luhan tersenyum bangga “Aku juga bisa memasang tenda dan mendaki gunung” jelasnya.

“Ne, ne, kalau kau yang memasak, jadi aku akan memperbaiki genteng yang yang bocor dan memperbaiki listrik” goda Jiyeon seraya kembali memakan nasi gorengnya.

Luhan terkekeh “Ini hanya kadang-kadang, Jiyeonie. Aku tidak mungkin memasak setiap pagi” Benar ini ia lakukan karna ia ingin memberi kesan baik kepada Jiyeon, suami yang baik tentunya.

“Kurokuna” angguk Jiyeon seraya meneguk jus strawberry milk buatan Luhan.

“Jiyeonie, bisakah kau memasak nasi setiap hari?” Jiyeon termenung bingung “Ada rice cooker disana, kau hanya perlu memasak nasi saja” tanya Luhan.

Jiyeon menimbang-nimbang permintaan Luhan, haruskah ia melakukan hal tersebut? Ini bahkan hanya pernikahan simulasi, jadi buat apa ia susah-susah memberatkan dirinya sendiri meski memasak nasi itu sangat mudah.

“Akan kupertimbangkan jika kau membawa lauk dan sayur setiap hari” jawabnya, tak ada salahnya ia melakukan hal kecil ini. Bukankah tujuan ia menikah dengan Luhan adalah untuk bereksperimen dengan kehidupan rumah tangga? Jika ia ingin mengetahui bagaimana rasanya hidup sebagai seorang istri, ya mau tak mau ia harus terlibat dengan berbagai tugas ibu rumah tangga.

Luhan melangkah menuju meja Tv dimana disebelahnya berdiri sebuah kalender duduk. Ia membawa kalender itu ke meja makan lengkap dengans ebuah lingkaran spidol merah di tanggal 26 May itu.

“Hari pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga” ujar Luhan saat kembali ke kursinya, meski ia tahu kalau kali pertama ia mencoba menyelesaikan masalah pertama mereka yaitu ketika mereka di Okinawa. Kala itu ia bersabar menahan amarah ketika Jiyeon mendiamkannya hanya karna rasa kekhawatirannya yang ditangkap berlainan oleh Jiyeon. Ia marah melarang Jiyeon makan curry steak itu karna ia tak ingin Jiyeon terluka.

“Masih banyak hal lainnya yang harus kita diskusikan” Luhan nampak berpikir “Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku kalau kau akan pulang terlambat” serunya.

Gila, menurut Jiyeon ini benar-benar gila. Untuk apa ia melapor segala kalau ia pulang terlambat? Ketika ia masih single saja, ia tak pernah melapor kepada ibunya jika ia pulang malam karna pergi mencari hiburan.

“Yaa kau bercanda Lulu-ya, aku bukan lagi anak kecil yang kemana-mana harus meminta ijin dulu pada ibuku. Apalagi kau…kau hanya suami simulasiku saja”

“Apa kau tak pernah ijin pada eommonim kalau kau pergi?”

“Anni, aku sudah dewasa dan eomma mempercayaiku bahwa aku sudah bisa menjaga diriku sendiri” Jiyeon menyantap sisa nasi goreng yang tinggal 4 sendok itu dengan sekejap “Dan aku tak mungkin melakukan hal bodoh yang membahayakan diriku sendiri, semuanya aman terkendali, Lulu-ya” lanjutnya.

“Tapi aku suamimu. Meski hanya suami simulasi, aku juga perlu tahu kenapa dan di mana kau, kalau kau pulang terlambat” Luhan memang sudah diajarkan oleh orangtaunya jika kemanapun itu ia harus memberitahu mereka, agar mereka tidak khawatir.

“Aku tak menyangkau kau se-overprotective ini”

“Kurasa aku tidak minta terlalu banyak” Luhan juga memakan sarapannya dengan cepat seolah ia sedang dibakar emosi.

“Itu terlalu banyak untukku” Mata Jiyeon menangkap kilatan menakutkan dimata elang Luhan, sungguh ini lebih menyeramkan daripada gertakannya waktu di okinawa. Ia yakin kali ini Luhan benar-benar marah besar melebihi gertakan pertamanya dulu. “Ingat, aku ini bukan istri sungguhanmu. Jadi kau tak berhak mengaturku seperti itu” lanjutnya dengan hati-hati jika nanti ucapannya akan berakhir membahayakan baginya.

Luhan menunduk lama sekali lalu meminum jusnya dengan cepat, jelas sekali terlihat kuku jarinya menggenggam sangat erat gelas itu seolah ia tengah menahan emosi. “Geurae, kalau itu maumu” desisnya pelan seraya kembali menghabiskan jusnya.

Sela beberapa menit Jiyeon dan Luhan saling diam tak bersuara dan sibuka menghabiskan jus strawberry yang lebih memikat itu. Jiyeon mengintip sekilas raut wajah Luhan, sungguh ia ingin sekali mengatakan pada Luhan bahwa ia ingin permainan mereka segera berakhir saja. Namun jika ia mengapreasikan keinginannya itu, sudah pasti Luhan akan semakin marah padanya dan tak menutup kemungkinan pertengkaran yang lebih besar akan menghampirinya.

Luhan menjinjing tas kerjanya dan bangkit berdiri “Aku berangkat dulu, Jiyeonie” nampak sekali nada suaranya dipenuhi kemarahan yang ia tahan.

Jiyeon turut bangkit berdiri dan mengejar Luhan yang sudah berada dipintu depan. Ia raih lengan Luhan untuk menahan kepergiannya “Ara menyarankan agar aku mengantarmu sampai mobilmu hilang dibelokan” ia menunjuk keningnya dengan telunjuknya “Dan kau harus mencium keningku” jelasnya.

Luhan membungkuk dan menyapu kening Jiyeon dengan bibirnya yang terkatup lalu melajukan mobilnya dari garasi mobil hingga keluar rumah tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Namun tiba-tiba mobilnya berhenti sejenak begitu seorang gadis anak tetangganya memanggilnya.

“Oppa, bisakah kau antarkan aku sebentar ke sekolahku?” tanya Nahyun, ia mengenakan seragam coklat khas Anshan high school.

Dari kejauhan Jiyeon nampak tak habis pikir dengan sikap Luhan, bagaimana bisa Luhan menjawab panggilan Nahyun seperti itu.

“Naiklah” jawab Luhan lalu kembali mengendarai mobilnya tanpa sedikitpun menoleh atau mengintip dari spion untuk sekilas melirik Jiyeon.

“Sekolahku pasti kau lewati oppa, tak terlalu jauh dari sini, setelah lampu merah kedua” Nahyun memakai seatbeltnya lalu melirik ke belakang dimana terlihat jelas Jiyeon masih mengamati kepergian mobil Luhan “Keundae oppa, kau tinggal dengan eonnie tadi?” Nahyun nampak menggeleng “Bagaimana dua orang teman tinggal berdua seperti itu. Apa dia sepupumu oppa? Atau adikmu?” tanyanya panjang lebar.

Tanpa terasa mobil Luhan sudah melewati lampu merah kedua, memang benar jalan ini ia lewati jika ingin pergi kerja. “Igeo sekolahmu, bukan?” Luhan menunjuk dengan tatapannya bangunan besar yang hanya berjarak 20 meter dari lampu merah lalu memberhentikan mobilnya didepan gerbang sekolah yang terdapat banyak murid tengah berlalu lalang memasuki gerbang sekolahnya.

“Argh, ne” Nahyun melepas seatbeltnya “Gumawo, oppa, Hati-hati dijalan, ne?” ia lalu keluar dan melambaikan tangan begitu mobil Luhan melaju menjauh “Aneh sekali oppa, hari ini” gumamnya.

“Yaa Kim Nahyun” Nahyun menoleh ke sumber suara, seorang pemuda berseragam sama dengannya, Kyungsoo “Kau berangkat dengan siapa? Aku sudah menjemputmu tapi kau malah tak ada” ujarnya.

“Kajja” Nahyun naik ke motor sport hitam itu “Kelasku masih jauh” ucapnya.

.

Seharian penuh Jiyeon nampak tak bersemangat bekerja, ia bahkan tak fokus dengan pekerjaannya sebagai editor. Sedari tadi pikirannya tertuju pada sikap Luhan dan pertengkarannya tadi pagi.

“Yaa, kau sedari tadi melamun terus” Ara mengetok kepala Jiyeon dengan pulpennya, ia ingin menyerahkan data baru yang perlu Jiyeon edit “Tak baik kalau pengantin baru bersangga tangan seperti ini” cibirnya.

Jiyeon tersenyum miris “Jincha? Hal apa lagi yang tak boleh dilakukan pengantin baru?” dengusnya.

“Bertengkar mungkin, tidak lucu bukan kalau baru berapa hari menikah sudah cekcok”

“Tapi aku seperti itu”

“Mwonde? Apa kau bersikap menyebalkan kepada suamimu yang tampan itu?”

“Dia yang menyebalkan bukan aku” Jiyeon membuka kasar lembaran kertas data baru itu.

“Jincha? Dia kelihatannya sangat baik dan penyabar”

“Penyabar? Overprotective iya”

“Bagaimana bisa kau menyimpulkan seperti itu? Memangnya apa yang sudah dia perbuat?”

“Hal kekanak-kanakan” Jiyeon nampak serius membaca data novel yang hendak ia edit “Sudahlah, aku sedang sibuk membaca” usirnya.

“Tak baik kalau saling diam dan merasa paling menang, harus ada yang mengalah. Dan sebagai istri yang baik, sebaiknya kau mengalah padanya Jiyeon-a” saran Ara sebelum melangkah keluar dari ruangan Jiyeon.

Jiyeon tertawa meremehkan, mengalah? Bukankah tadi pagi ia sudah mengalah untuk tidka meminta bercerai dan menyudahi simulasi mereka? Bukankah ia sudah mencoba mengajak berdamai juga? Tapi apa yang ia dapat, suaminya itu malah tersenyum kepada gadis SMA itu.

.

“Ehmm” Doojoon menyenggol bahu Luhan, begitu dia memasuki kantornya “Pengantin baru” godanya.

Luhan masih bertahan dengan wajah datarnya yang ia pertahankan sedari tadi. Ia masih bermasalah dengan perdebataannya tadi dirumah. ‘Ingat, aku ini bukan istri sungguhanmu. Jadi kau tak berhak mengaturku seperti itu’ sungguh perkatan Jiyeon ini sangat menyakiti hatinya. Ia akui Jiyeon memang hanya menganggapanya sebagai suami simulasi, tapi lain dengannya ia bersungguh-sungguh menikah dengan Jiyeon. Jadi ia tersinggung saja dengan perkataan Jiyeon itu.

“Wajahmu kenapa Lulu-ya?” Jin berkerut menebak ekspresi wajah Luhan.

Doojoon memukul lengan Jin “Kau ini seperti tak tahu saja, dia pasti lelah melakukan beronde-ronde. haha” sanggahnya.

Kali ini giliran Luhan memukul kepala Doojoon “Cuci kepalamu Doojoon-a” cibirnya lalu mendahului mereka memasuki lift.

“Anak itu. Yaa” Doojoon hendak memukul Luhan dengan tasnya kalau saja Luhan masih didekatnya.

.

“Nappeun namja” tinggal satu lampu merah lagi mobil Jiyeon hampir sampai ke rumahnya, namun ia teringat perkataan Luhan yang sampai sekarang masih membuatnya naik darah “Argh molla” ia memutar kemudinya dan melaju ntah kemana asal ia bisa membuat Luhan sadar kalau dia sudah membuatnya sakit kepala seharian ini.

Setelah beberapa km berjalan, ia menghentikan mobilnya didepan sebuah cafe yang belum pernah ia kunjungi. Cafe itu dari luar kelihatan tenang dan nyaman. Ia menikmati segelas vodka dan alunan lagu yang berdayutan dengan tenang, cafe ini memang khusus untuk orang-orang kalangan high class yang menginginkan private party.

Setelah dua gelas vodka ia teguk bersama cemilan lainnya, ia merasa kalau sekarang sudah saatnya ia kembali pulang ke rumah. Ini sudah jam 11 malam, tentu saja ini sudah melebihi jam pulang kerjanya.

Mobilnya ia masukkan ke garasi begitu ia sampai dirumah yang kelihatan tak berkehidupan itu, lampu rumah itu semuanya mati. Mungkinkah suaminya itu marah hingga sengaja tak menyalakan lampu? Ia yang ingin membuat Luhan marah, tapi kenapa malah ia yang dibuat marah?

Kakinya ia langkahkan ke dalam rumah begitu password rumahnya tertekan. Semua lampu ia nyalakan, kecuali kamar Luhan. Ia malah asik berbaring diranjangnya sendiri, namun hatinya berkata lain, ia hanya memandang dinding disampingnya yang tak lain adalah dinding kamar tidur Luhan. “Aishhh” karna penasaran, ia memutuskan beranjak ke kamar Luhan, ia tengok sekilas kamar itu sepertinya tak ada siapa-siapa, lalu ia nyalakan lampunya dan benar saja tak ada siapa-siapa dikamar itu, kamar mandinya juga kosong “Mwoya? Dia kemana?” gumamnya.

Perasaannya tiba-tiba gundah, ia merasa bersalah dan juga kesal berkecamuk. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Luhan? Ia memutuskan menghubungi ponsel Luhan dan malangnya ia hanya mendapat jawban mailbox dari operator.

“Inikah balasannya atas pertengkaran kami tadi pagi?”

Meski ia keras kepala dan gampang emosi, ia juga tidak secuek itu hingga tak menyadari segala kebaikan Luhan padanya. Memang benar ia ingin sungguh-sungguh mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, tapi tetap saja menurutnya sikap Luhan kali ini memang berlebihan. Ia sendiri juga belum terbiasa menganggap Luhan sebagai suaminya. Ia masih menganggap Luhan hanya sebatas seorang sahabat dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu banyak.

Mata kucingnya terpaku pada cincin perak mungil yang disisipkan Luhan di jari
manisnya. Pernikahan ini hanya permainan dan eksperimen saja. Tapi dalam permainan ini bukankah Luhan tetap adalah suaminya? Mereka resmi berstatus suami istri didepan Tuhan dan masyarakat , jadi mungkin sikap Luhan memang ada benarnya juga hingga menuntut seperti itu padanya.

Kini ia beralih menelpon rumah keluarga Xi, mungkin saja Luhan disana, mengingat kondisi mertuanya tidaklah baik. Apa mungkin terjadi sesuatu pada mertuanya?

“Oppa…”

“Eoh Jiyeon-a, wae? Tumben sekali kau menelpon. Apa kau sudah kembali dari Jepang?” tanya Xiaoming.

Jiyeon merasa terpukul dengan pertanyaan Xiaoming, ia merasa bersalah karna semua orang menganggap ia dan Luhan masih bersenang-senang di bulan madunya. Padahal faktanya mereka malah bertengkar dan kini kehilangan kontak satu sama lain.

“Anniya oppa, aku hanya ingin memberi salam saja. Kami sudah kembali dari Jepang”

“Jincha? Cepat sekali kalian kembali. Aishh harusnya kalian lebih lama disana”

“Ya sudah oppa, salam untuk Soeun onnie dan eommonim”

“Eoh, georeum Jiyeon-a”

Jiyeon menutup telponnya dan dari percakapan mereka ia bisa mengambil kesimpulan kalau Luhan tak ada dirumahnya. Lalu dia ada dimana? Sepertinya tidak mungkin kalau dia ada dikantor.

Tak ada yang bisa ia lakukan, ia hanya bisa menunggu dihalaman rumah. Mondar- mandir mengecek jalanan hingga menjelang pagi. Bahkan ia sampai tertidur disofa ruang tamu. Namun tetap saja paginya ia tak menemukan sosok Luhan dirumah yang besar itu.

**

Pagi harinya ia menyempatkan mampir ke kantor Luhan untuk mencari tahu apa mungkin saja Luhan ditugaskan keluar kota. Belum sempat ia bertanya dengan recepsionist, seseorang menyuarakan namanya.

“Park Jiyeon-ssi?” Doojoon dan Jin menghampiri Jiyeon, mereka hendak menaiki lift dari lobi kantor.

“Ne, annyeonghaseyo” sapa Jiyeon.

“Annyeonghaseyo, tumben anda kemari. Apa anda mengantar Luhan?” selidik Jin.

Jiyeon tersenyum tipis “Anniya, Apa semalam Luhan ada tugas lembur hingga tidak sempat pulang ke rumah?”

“Mwo?”

“Anniya, Jiyeon-ssi” jawab Jin.

“Anak itu tidak pulang dan meninggalkan istri secantik kau, Jiyeon-ssi?” geleng Doojoon.

Jiyeon kembali mengulas senyum tipis “Anniya, kalau begitu saya pamit dulu. Georeum” pamitnya seraya keluar dari kantor.

“Mwoya? Apa Luhan berselingkuh?” gumam Jin.

“Aishh, kau ini” Doojoon memukul kepala Jin.

**

Ini hari kedua Jiyeon tak bersemangat kerja, pikirannya semakin bercabang dan hanya mencemaskan Luhan saja. Ia bahkan sampai ijin pulang dulu, siapa tahu kali ini Luhan sudah pulang.

Dihalaman rumahnya ia masih mondar mandir seperti kemarin. Beginikah rasanya menunggu suami pulang? Dan beginikah rasanya ditinggal pergi seseorang tanpa pamit?

“Eonnie” Nahyun baru saja pulang dari sekolah diantar oleh Kyungsoo seperti biasanya.

“Nugu?” selidik Kyungsoo.

“Dia tetangga baruku, Kyungsoo-ya” Nahyun menghampiri gerbang rumah Jiyeon “Eonnie, apa Luhan oppa ada?” tanyanya.

“Yaa” Kyungsoo menyenggol pundak Nahyun “Siapa lagi yang kau cari?”

Tiba-tiba Jiyeon berpikir kalau mungkin saja Luhan bercerita sesuatu pada Nahyun. “Apa kau kemarin bertemu dengannya?”

“Anni, wae?” Nahyun menggeleng.

“Anniya, sudahlah” Jiyeon seolah mengusir Nahyun pulang dari caranya menggoyangkan tangannya.

“Kajja, aku haus” Kyungsoo menarik lengan Nahyun memasuki rumah Nahyun.

.

Malam kembali lagi dan ia masih sendiri dirumah itu. Ia kembali tidur di sofa kamar tamu untuk berjaga jika Luhan sduah pulang. Deringan ponselnya membuatnya terbangun, ia mengintip jam dinding didepan meja TV, jam 12 malam.

“Yebbeseo?” jawabnya malas, cukup lama ia menunggu suara si penelpon hingga hampir 5 menit “Yebbeseo?” ulangnya.

“Jiyeonie”

Jiyeon yang setengah tertidur tiba-tiba terbangun “Lulu-ya? Neo eodiseo?” jeritnya lega.

“Jiyeonie, mianhae. Aku sungguh menyesal sudah memarahi dan pergi dari rumah begitu saja”

Jiyeon tersenyum senang, satu karna Luhan sudah ditemukan dan kedua karna Luhan juga sudah menyadari kesalahannya.

“Bolehkah aku pulang?” lanjut Luhan.

“Michesseo, ini rumahmu Lulu-ya. Untuk apa kau meminta ijin padaku?” meskipun nada suara Jiyeon terdengar tinggi, namun tanpa terasa tangis kelegaannya meleleh begitu saja “Kau dimana?” tanyanya seraya merubah nada suaranya agar tak terlihat sedang menangis.

“Diluar”

“Diluar? Seolma…” Jiyeon setengah berlari membuka pintu rumah dan mengintip gerbang rumahnya, namun ia tak menemukan Luhan disana, hanya deretan mobil yang berbaris disepanjang jalan komplek.

Luhan sengaja memarkirkan mobilnya dengan jarak lima mobil dari deretan mobil tetangganya itu “Eoh, nan beguppo” ia memegangi perutnya yang keroncongan, bukannya ia tak mampu mengisi perutnya hanya saja ia tak nafsu makan karna pertengkaran mereka. Tiba-tiba terdengar ketukan dikaca jendela mobilnya, ia beranjak keluar tanpa tahu siapa si pengetuk pintu tadi.

“Yaaa” Jiyeon melempar tubuhnya untuk memeluk tubuh tegap Luhan, ntah mengapa perpisahannya selama dua hari ini serasa seperti bertahun-tahun saja. “Pabbo” rutuk Jiyeon.

Luhan menepuk punggung Jiyeon yang mencurahkan kerinduannya pula. Sungguh usaha konyolnya untuk bersikap marah dan mendiamkan Jiyeon malah berbuah penyiksaan bagi dirinya sendiri. Ia merasa bersalah dan khawatir akut. Ia rasa ia lebih baik bersabar dan mengalah.

“Mianhae, Jiyeonie” sesalnya seraya menghapus air mata diwajah Jiyeon. Ini kali pertama Jiyeon menangis karnanya, biasanya Jiyeon menangis didepannya karna patah hati.

“Kau keterlaluan! Aku bahkan hampir menelepon kantor polisi!” air mata Jiyeon kembali menetes “Jangan lagi bersikap kekanak-kanakan seperti ini” pintanya.

Ibu jari Luhan kembali menghapus wajah Jiyeon yang basah air mata “Ne, aku mengaku salah Jiyeonie. Aku tak akan pernah mengulanginya lagi. Yakso” ia merangkul Jiyeon “Kajja, diluar dingin sekali” lalu membawa Jiyeon kembali masuk ke rumah mereka.

.

“Aku hanya bisa memasak ramen” Jiyeon nampak sibuk dengan panci berisi air yang tengah ia didihkan beserta dua bungkus ramen yang baru saja ia tuangkan.

“Gwaenchana, apapun akan kumakan”

“Cihh.. keundae dua hari ini kau kemana saja?” sembari menunggu ramennya masak, ia sengaja membuat dua gelas chocochino kesukaan Luhan “Minumlah” dua gelas chocochino tersaji dimeja makan.

“Aku menginap dihotel kecil dekat kantorku” Luhan meneguk chocochinonya.

“Lalu setan mana yang menyadarkanmu untuk pulang hah?”

“Aku perlu baju bersih Jiyeonie” Luhan menegok panci ramen itu yang telah mendidih, ia menuang bumbu dan telurnya beserta irisan daun bawang “Laundri hotel mahal sekali” ia berdusta, bukan masalah laundri tapi hatinya “Selain itu, aku juga khawatir karena kau sendirian di sini” lanjutnya seraya memindahkan panci itu ke meja makan

Jiyeon tak mampu berkata apa-apa, ia hanya merasa organ dalam tubuhnya bereaksi aneh. Dadanya terasa ngilu sekali seolah dbaran dihatinya mewakilkan kondisinya.

“Ppalli, makanlah” titahnya seraya menyuapi Luhan ramennya disumpitnya.

Luhan terlihat makan dengan lahapnya, ekspresi wajahnya sudah kembali cerha menandakan kejadian malam ini terllau manis untuk ia rasakan.

“Aku akan pulang terlambat besok” Jiyeon membasuh sabun dipanci kotor itu “Aku harus lembur” jelasnya seraya meniriskan panci dan sumpitnya di rak.

“Geurae, apa kau keberatan jika aku makan diluar?” Luhan mengulum senyum bangga, karna Jiyeon menghargai permintaannya.

“Asal kau tak melupakan jatahku saja” Jiyeon mengusap tanganya ke arpon “Kajja, tidurlah. Ini sudah malam, besok kita harus bekerja bukan?” ia menarik tangan Luhan dan mengantarkan pria itu memasuki kamarnya.

“Apa kau tak ingin tidur disini?” Luhan merindukan Jiyeon, ia ingin disebelah ranjangnya tidak kosong lagi seperti beberapa tahun lalu ketika ia lajang.

“Hanya kali ini saja” Jiyeon berbaring disebelah ranjang Luhan, ia menepuk ruang kosong disebelahnya agar Luhan segera berbaring, setelah berbaring, ia menyelimuti Luhan dan mulai memejamkan mata tanpa tahu jika suaminya akan tersihir bangun semalaman karna amenatapnya “Jaljayo, Lulu-ya” lirihnya.

.

.

TBC

Be Sociable, Like and comment please!

Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

13 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (4)

  1. Baru menikah udah bertengar hehehe sama – sama kekanakan hehehe seru semangat … saran buat di untuk tempat dipisahkan … semangat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s