Trap

Trap

Trap
|| BTS Members • Yoon Hyun Jung (OC) || Friendship || PG-15 || Vignette ||
A little story by Vhaerizz

***

“Ya! Tenanglah!”
Nam Joon sudah sampai pada batas kesabarannya. Tugasnya yang menumpuk bahkan belum sampai setengah ia kerjakan, tapi teman-temannya malah terus berisik dan mengganggu konsentrasinya. Nam Joon memang sangat cerdas, yang membuatnya terlihat bodoh hanyalah ketika ia tak punya kuasa untuk menolak ajakan teman-temannya berkumpul bersama.
“Santai sedikit, Nam Joon. Batas waktunya masih seminggu lagi,” ujar Ho Seok yang menjadi salah satu perusak konsentrasi Nam Joon. Mereka satu jurusan dan satu kelas di universitas yang sama.
“Benar, Hyung. Tanpa perlu diforsir, nilaimu juga akan selalu A+.” Tae Hyung yang satu tahun lebih muda dari Nam Joon dan Ho Seok ikut menambahkan. Dari semua yang menjadi perusak konsentrasi Nam Joon, Tae Hyung adalah yang paling berisik, yang selalu punya ide aneh dan cenderung gila untuk bisa ‘bersenang-senang’ dengan teman-temannya.
Nam Joon menyerah. Ia menutup laptopnya dan memutuskan untuk membaur dengan kegilaan teman-temannya. Tepatnya, kegilaan adik tingkat dan teman sebayanya. Pasalnya, dua orang yang lebih tua dari Nam Joon tenang-tenang saja. Si paling tua, Kim Seok Jin sibuk dengan buku kedokterannya. Sekarang adalah tahun terakhir kuliahnya dan Seok Jin mulai sibuk untuk magang dan ujian terakhir. Yang satunya, Min Yoon Gi sibuk dengan tabletnya dan telinganya tersumpal sempurna oleh earbud. Membuat musik baru. Mahasiswa fakultas seni itu memang sepertinya terobsesi dengan musik. Yah, musik adalah hidup Min Yoon Gi.
“Hyung, kau benar sudah putus dengan Ha Na?” Si mata sipit, Ji Min bertanya pada Ho Seok.
Si periang itu jadi memudarkan sedikit senyumnya. “Ya. Ha Na memilih Jae Hyun.”
“Jae Hyun si pitcher klub bisbol kampus kita?” Tae Hyung menyahut.
Ho Seok mengangguk malas dan Tae Hyung serta Ji Min menepuk bahunya sebagai tanda berbelas kasih.
“Kan sudah kubilang kalau Ha Na itu gampangan.” Masih dengan membaca bukunya, Seok Jin ikut-ikutan menyahut. “Kau saja yang ngeyel dan tetap mendekatinya.”
“Dari pada kau yang tidak punya pacar sama sekali, Hyung.” Ho Seok membela diri.
Sebenarnya bukan hanya Seok Jin, semua teman-temannya sudah memeringatkan Ho Seok untuk tidak berurusan dengan gadis bernama Ha Na itu. Gadis yang sok jadi primadona kampus itu mudah mengubah halauan dengan cepat. Asal ada yang lebih tampan dan populer, Ha Na akan meninggalkan yang lama dengan cepat.
Seok Jin menurunlan bukunya. “Memangnya penting, ya, punya pacar?”
“Tentu saja penting, Hyung. Kau tidak tahu saja karena selalu kencan dengan buku anatomimu.”
“Bukan hanya aku, Ho Seok. Selain kau, di sini tidak ada yang punya pacar. Sekarang kau juga malah ikut senasib.”
Seok Jin benar. Jika Seok Jin sibuk dengan bukunya, maka Yoon Gi sibuk dengan tablet dan musiknya, Nam Joon dengan laptop dan tugasnya, Tae Hyung serta Ji Min sibuk dengan play station atau ponselnya. Ho Seok sibuk dengan gadis-gadis yang digodanya, makanya ia cukup sering punya pacar, sesering ia putus juga dengan mereka.
“Aku sih mudah saja mencari pengganti Ha Na. Tapi kalian? Aku tidak yakin.” Ho Seok berujar dengan penuh percaya diri.
“Enak saja,” sanggah Ji Min dan Tae Hyung kompak.
“Kami hanya belum pernah mencobanya saja, Ho Seok. Kalau kami mau, deretan mantanmu akan kalah jumlahnya denganku.” Si calon dokter ikut menyombongkan diri. Tapi memang bisa saja sih, Seok Jin memiliki ketampanan di atas rata-rata. Statusnya sebagai calon dokter juga akan membantunya mendapatkan gadis yang diinginkannya.
Bukan hanya Seok Jin. Yoon Gi, Tae Hyung, Ji Min dan Nam Joon juga punya pesona yang tidak main-main. Masing-masing memiliki pesona yang sulit untuk ditolak oleh para gadis. Mereka hanya tidak segencar Ho Seok dalam mencari pacar.
“Mau coba? Kita lihat saja apakah pesona kalian itu bekerja.” Ho Seok menantang. Bukan tantangan serius, itu adalah salah satu kebiasaan mereka saat berkumpul. Melakukan hal yang tidak jelas hanya untuk bersenang-senang saja.
“Coba apa? Menggoda gadis yang ada di sini?” Nam Joon ingin meyakinkan. Ia sebenarnya tidak terlalu suka permainan tidak jelas seperti ini.
“Ya. Kau takut?”
Nam Joon mendesah. “Untung Jung Kook tidak ikut hari ini.”
Jeon Jung Kook. Anggota termuda perkumpulan tidak jelas itu yang baru duduk di kelas dua SMA. Permainan menggoda gadis ini tentu tidak cocok dengan usianya.
“Jadi siapa targetnya?” Ji Min mendeklarasikan keikutsertaannya dalam tantangan Ho Seok.
Ho Seok diam sejenak. Matanya menyusuri setiap sudut kafe tempat mereka berada sekarang. Mencari mangsa yang tepat untuk permainan konyol mereka. Tapi sayangnya, kafe sedang sepi dan pengunjung selain mereka hanya laki-laki dan seorang gadis SMA yang sibuk dengan bukunya. Ho Seok tidak mau menjadikannya sasaran. Selain kasihan, juga tidak menantang sama sekali.
Rencana permainan hampir gagal jika saja bel kafe tidak berdenting dan masuklah seorang gadis dengan gaya yang sulit didekripsikan. Kemeja putih yang dikenakan menunjukkan sisi feminim. Rok pendek selutut juga menunjukkan hal serupa. Tapi ransel berbahan jeans dan sepatu convers putih yang juga dikenakannya menunjukkan jika gadis itu memiliki sisi lain selain feminim itu sendiri.
“Itu. Kita coba pada gadis itu.” Ho Seok menunjuk gadis yang baru masuk itu.
Semua mata tertuju pada gadis yang Ho Seok tunjuk. Termasuk Yoon Gi yang sedikit melirikkan matanya. Wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Mungkin tidak minat.
“Call,” setuju Ji Min yang kemudian diikuti oleh Seok Jin dan Nam Joon.
“Aku tidak ikut,” kata Tae Hyung yang mengejutkan yang lainnya. “Jika gadis itu yang menjadi sasarannya, aku menyerah saja.”
“Kenapa? Kau mengenalnya?”
“Tidak banyak,” kata Tae Hyung tak acuh. “Namanya Yoon Hyun Jung. Seangkatan dengan Ho Seok Hyung dan Nam Joon Hyung. Mahasiswa fakultas seni.”
“Apa dia sudah punya pacar?” Ji Min semakin penasaran.
“Emm… entahlah. Aku hanya tahu apa yang baru saja kuberitahu pada kalian.”
“Yoon Hyun Jung.” Seok Jin mengulang nama gadis itu.
“Kalau kalian ingin lanjut, silahkan. Tapi aku tidak ikut.” Tae Hyung kemudian kembali ke permainan ponselnya.
“Aku ikut.” Yoon Gi menyahut tiba-tiba. Itu hal kedua yang membuat yang lain terkejut setelah kata menyerah dari Tae Hyung. Yoon Gi biasanya tidak terlalu ikut campur dengan permainan konyol seperti ini selain Nam Joon. Malah lebih tidak peduli dari manusia jenius itu.
“Tapi aku terakhir. Kalian duluan saja.”
Yoon Gi melepas earbud-nya dan berniat memerhatikan teman-temannya menggoda gadis bernama Yoon Hyun Jung itu.
“Eiii… apa kau mengincarnya juga, Hyung? Kata Tae Hyung dia dari fakultas seni juga. Kau mengenalnya?”
“Hanya pernah mendengar namanya sesekali.”
“Sudahlah. Kita mulai saja.” Ho Seok tidak sabar dan mulai berdiri. Mendekati gadis itu dan duduk di dekatnya. Gadis itu tidak terkejut dan hanya menatap Ho Seok datar dan meletakkan ponsel yang sebelumnya ia mainkan.
“Ada apa?” Hyun Jung mendahului.
Ho Seok menggeleng dengan senyum lebarnya. “Tidak apa-apa. Hanya ingin berkenalan saja.”
“Bukannya kau sudah tahu namaku? Kau baru saja membahasnya dengan teman-temanmu, kan?”
Skak mat!
Ho Seok kehilangan kata-katanya. Hyun Jung bukan gadis yang mudah dan mungkin Tae Hyung sudah tahu dan menyerah sejak awal.
“Emm… kalau… kalau begitu, boleh aku minta nomormu?”
“Nomor apa? Sepatu? 39. Sudah? Bisa kau pergi sekarang?”
Ho Seok kembali ke teman-temannya dengan mulut terkunci rapat. Selain malu pada teman-temannya yang mulao menertawakannya, ia juga merasa harga dirinya jatuh karena kata-kata Hyun Jung tadi. Tadi adalah pertama kalinya di sepanjang hidup Ho Seok diusir oleh perempuan. Memalukan.
“Kau harus mulai memperbaiki pesonamu itu, Ho Seok.” Seok Jin mengejeknya. Ho Seok ingin membalas, tapi segera diurungkan niat itu. Sebentar lagi kau akan sama sepertiku, Hyung. Batin Ho Seok kesal.
“Aku menyerah saja.”
Nam Joon adalah kebalikan dari Ho Seok dan Ji Min. Kepercayaan dirinya cukup rendah untuk urusan perempuan. Berbeda jika urusannya dengan materi kuliah. Nam Joon akan melahapnya habis.
“Kalian bagaimana?”
“Aku lanjut,” kata Seok Jin dan Ji Min bersamaan.
“Yoon Gi Hyung?”
“Aku kan sudah bilang akan terakhir saja.”
“Baiklah. Siapa selanjutnya?” Ho Seok tidak sabar melihat teman-temannya dipermalukan seperti dirinya.
“Aku saja.”
Seok Jin mengajukan diri.
“Bersama saja,” usul Ji Min. “Kita taruhan siapa yang mendapat nomor ponselnya duluan.”
“Boleh.”
Seok Jin dan Ji Min berdiri dan segera menghampiri Hyun Jung yang baru saja mendapatkan pesanannya. Vanilla latte.
“Ha–”
“Kali ini apa?” Hyun Jung memotongnya secepat kilat. “Nomor celana? Baju? Atau sesuatu yang lebih pribadi lagi?”
“Nomor ponselmu,” sahut Seok Jin cepat.
“Kenapa aku harus memberikannya pada kalian?” Menarik ulur sesuatu adalah keahlian Hyun Jung.
“Ingin lebih dekat denganmu, Noona.”
“Dekat dalam hal apa?”
“Berteman? Atau mungkin bisa lebih kalau kita cocok.” Ji Min membalasnya dengan lancar. Berurusan dengan perempuan adalah salah satu keahliannya.
“Aku setuju untuk berteman. Tapi untuk lebihnya, maaf. Aku tidak suka dengan orang yang lebih muda. Kau tadi memanggilku Noona, kan?”
Ji Min gagal. Kesempatan tinggal berada di tangan Seok Jin.
Seok Jin mulai berani menarik keluar kursi dan duduk di atasnya. Ia percara jika nasibnya akan berbeda dengan Ji Min yang sudah kembali ke teman-temannya dan Ho Seok.
“Apa lagi?”
“Aku tidak lebih muda darimu.”
“Lalu?”
“Boleh aku minta nomot ponselmu?”
“Untuk?”
“Memangnya kau tidak tahu alasan seorang pria meminta nomor ponsel wanita?”
Hyun Jung tersenyum tipis. “Aku tahu,” katanya. “Tapi sayangnya aku tidak berminat. Bisa tinggalkan mejaku sekarang?”
“Bagaimana jika aku tidak mau?” Seok Jin tidak menyerah. Belum.
“Aku yang akan pergi.”
Hyun Jung meraih gelasnya dan berdiri. Tapi buru-buru Seok Jin meraih tangan Hyun Jung yang satu lagi untuk menghalangi niatnya.
“Aku akan pergi. Kau duduk saja.”
Seok Jin menyerah dan kembali ke teman-temannya.
Sama seperti Ho Seok, Seok Jin dan Ji Min berpikir jika Tae Hyung pasti sudah tahu jika Hyun Jung bukan gadis yang mudah dan memilih menyerah sejak awal dari pada dipermalukan seperti mereka. Si pemilik senyum konyol dan terkesan idiot itu terkadang memang sedikit licik.
Begitu Seok Jin kembali, Yoon Gi langsung berdiri. Semua terkejut melihatnya, kecuali Tae Hyung.
“Kau masih tidak mau menyerah, Hyung?”
Tanpa menghiraukan pertanyaan Nam Joon barusan, Yoon Gi melangkah mendekati Hyun Jung tanpa keraguan sedikit pun. Ia juga membawa tabletnya. Mungkin akan dijadikan senjata untuk menggaetnya. Siapa tahu.
Keterkejutan kembali menyambangi Ho Seok dan teman-teman –kecuali Tae Hyung– ketika melihat apa yang Yoon Gi lakukan dan katakan pada Hyun Jung.
Yoon Gi mengelus kepala Hyun Jung dan duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Seok Jin.
“Apa teman-temanku mengganggumu?” Tanyanya pada Hyun Jung.
“Sedikit,” jawab Hyun Jung ketus.
“Kau marah?”
“Sedikit.”
“Maaf. Aku hanya ingin sedikit mengerjai mereka. Tae Hyung juga terlibat. Jadi jangan hanya marah padaku saja.”
Mata Ho Seok, Nam Joon, Seok Jin dan Ji Min seketika beralih pada Tae Hyung yang pura-pura fokus pada permainan di ponselnya.
“Tae Tae, kau tahu sesuatu?” Serbu Ji Min tanpa menunggu lama.
“Hyun Jung Noona itu pacar Yoon Gi Hyung.”
“Apa?”
“Dan aku…” Tae Hyung menurunkan ponselnya dan memasukannya ke dalam saku jaketnya. “…adik sepupunya. Aku tidak mungkin menggoda kakak sepupuku yang juga pacar temanku sendiri, kan?”
“Ya!”

Fin!

9 responses to “Trap

  1. Baca ff ini ngakak sendiri, sumpah pasti malu tuh cowok cowok ketjeh(?) bener bener ga terduga endingnya. Siapa sangka Taehyung yg paling nyebelin sebenernya>< pantes aja anteng kagak gila, ternyataaaaa~
    keren keren,

  2. LOL!!
    Anjirr itu apa, aku ngakak pas baca endingnya
    Kirain yoongi bakal ngapain, ternyata itu pacarnyaa, taehyung juga, aku rada2 curiga, biasanya kan taehyung paling gila gitu, tumben diem aja
    Aduh – aduh😄

  3. Hahaha……dasar suga tuh…trnyata jail jg….kan hrusnya aneh kan si hiperaktif V jd diem gitu….temen2nya pd g nyadar sih…..lucu…suka….

  4. Duh parah, ternyata yoongi juga jail ke membernya xD
    Untung aja hyun jung cuek ke mereka aww keren banget, suka suka suka x3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s