Part II : HIME

hime

Author : Ariskachann

Cast : Mizuhara Hime (OC), Park Chanyeol, Zhang Yixing (Lay)

Genre : Romance, sad

Rating : PG

Disclaimer : Cerita ini murni hasil dari pemikiran author. Dilarang memplagiat!! Diharapkan budaya komen setelah membaca. Don’t be siders!!

A/N : Recommended song “Epic High – Happen Ending”

Sorry for typo^^

Happy reading^^

Previous : Part I

“Siapa itu ‘Lay’?” Tanya Chanyeol menyelidik seraya menatap wajah Hime yang kini tengah menyantap ramennya.

“Hei, nona Mizu?” Panggil Chanyeol kemudian membuat Hime mendongak menatap pria itu sambil mengunyah mienya.

“Kau tidak tahu?” Tanya Hime setelah menelan kunyahannya. Chanyeol mengerutkan dahinya lalu menggeleng pelan, “Akan kukenalkan padanya jika kau memang tidak tahu,” kata Hime kemudian lalu kembali memakan ramennya yang mulai dingin.

*
*
*

Chanyeol tidak bisa mengatupkan bibirnya ketika mendapati seorang pria yang dikenalkan Hime padanya semenit yang lalu.

“Yi, Yixing? Jadi Lay yang kau maksud itu adalah Zhang Yixing!” Chanyeol mengerjapkan matanya tidak percaya, menatap wajah Hime dan Lay atau Yixing bergantian.

“Ne, ini aku Chanyeol-ah. Kenapa kau seperti baru melihatku begitu?” Kekeh Yixing sambil menggelengkan kepalanya aneh. Lalu Hime, wanita itu hanya bisa mengulum senyumnya.

“Ck. Kupikir Lay adalah orang berbeda sehingga aku sempat curiga padamu,” desis Chanyeol membuat Hime menaikan sebelah alisnya.

“Curiga kenapa?” Tanya Hime kemudian.

“Kupikir kau mulai berkencan dengan seorang pria tidak dikenal,” Chanyeol mengendikan bahunya acuh.

“Kau khawatir?” Goda Yixing.

“Tentu saja. Aku khawatir jika tiba-tiba Hime berpacaran dengan dengan pria asing lalu kemudian pria itu menipunya dan membuat Himeku sakit hati,” celoteh Chanyeol.

“Himeku?” Yixing mengulum senyuman lalu melirik Hime sekilas yang kini hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“Yeah, Hime adalah teman kita kan? Jadi wajar jika-”

“Kau tidak perlu khawatir sekarang, karena aku yang akan menjaga Hime,” Yixing merangkul bahu Hime lalu mencubit pelan pipi wanita itu sebelum menciumnya gemas. Hime cemberut lalu mencubit pinggang Yixing pelan membuat pria itu mengaduh pelan. Sementara Chanyeol hanya bisa membulatkan kedua matanya tidak percaya melihat pemandangan itu.

“Eerr, sepertinya kalian sudah ketahap yang-”

“Tidak kami belum berciuman secara resmi,” potong Yixing dengan wajah tanpa dosa.

“Yak! Apa maksudmu? Kau bahkan menciumku lima kali semalam,” teriak Hime manja lalu kembali mencubiti pinggang Yixing. Dan kali ini Chanyeol mengangakan mulutnya.

*
*
*

Chanyeol menelan samar salivanya  lalu melirik Hime yang duduk disampingnya. Daritadi Chanyeol merasa tidak nyaman dengan pertemuan dirinya dan Yixing tadi siang. Sebenarnya bukan karena pertemuan itu tetapi lebih kepada percakapan mereka yang mengganjal dihati Chanyeol hingga sekarang ini.

“Kau tidak kembali kestudio?” Pertanyaan Hime membuat Chanyeol terperanjat lalu menatap wajah Hime yang kini menatapnya. Chanyeol hanya diam lalu menilik wajah Hime mencari-cari sesuatu disana membuat kerutan didahi Hime muncul, “Kau sakit?” Tanya Hime seraya meletakan punggung tangannya didahi Chanyeol.

“Dimana dia menciummu?” Tanya Chanyeol dengan mimik wajah serius membuat Hime menurunkan tangannya perlahan dari dahi Chanyeol.

“Maksudmu?” Hime tidak mengerti maksud pertanyaan Chanyeol, sungguh. Pria itu berdecak lalu menggelengkan kepalanya prihatin.

“Kuharap kalian tidak-”

“Jadi kau pikir aku dan Yixing, kami, berciuman?” Tanya Hime hati – hati dan Chanyeol mengangguk setelahnya membuat tawa Hime langsung menyembur.

“Yak! Kenapa kau tertawa?” Kesal Chanyeol.

“Ani, kau lucu,” Hime berusaha meredakan tawanya, “Kami hanya bercanda Chanyeol-ah,” Hime tersenyum geli lalu menggelengkan kepalanya pelan membuat Chanyeol mendesis kesal lalu beranjak dari duduknya.

“Kalau begitu aku pulang. Tertawalah sepuasmu,” Hime menahan tangan Chanyeol mencegahnya untuk melangkah pergi.

“Mianhae. Kau kesal?” Hime masih menahan tangan Chanyeol sementara pria itu memutar bola matanya malas, “Kau cemburu?” Goda Hime kemudian.

“Mana mungkin,” jawab Chanyeol datar.

“Ok kuanggap kau cemburu,” Hime berdiri dari duduknya lalu menghadapkan Chanyeol padanya,

“Kau tenang saja, aku tidak akan punya pacar sebelum kau menikah seperti janjiku padamu,” Hime tersenyum lalu mengusap bahu Chanyeol lembut. Perlahan pria itu menyunggingkan senyumannya lalu mengacak gemas puncak kepala Hime.

“Yak!”

Tanpa mereka sadari Yoonhee melihat keakraban itu. Ada rasa iri terbersit dihati wanita itu. Sungguh meskipun Hime hanyalah teman bagi Chanyeol tetapi Yoonhee bisa merasakan jika Hime menganggap Chanyeol lebih dari seorang teman. Hime menyukai Chanyeol. Ani. Hime mencintai kekasihnya itu diam-diam.

*
*
*

“Chanyeol-ah,” Yoonhee memeluk punggung Chanyeol dari belakang, melingkarkan kedua lengannya dipinggang pria itu lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman disana. Chanyeol hanya bergumam pelan sebagai jawaban karena sekarang tangannya sibuk mengaduk makanan didalam panci.

“Boleh aku bertanya?” Tanya Yoonhee lagi masih dengan posisinya.

“Mwo?” Tanya Chanyeol tenang.

“Bagaimana jika seseorang menyukaimu diam-diam?” Yoonhee menunggu reaksi Chanyeol.

Hening.

“Chan-”

“Seseorang siapa maksudmu?” Chanyeol membalikan tubuhnya perlahan hingga kini dirinya dan Yoonhee saling berhadapan, “Kurasa tidak ada orang yang menyukaiku selain dirimu,” Chanyeol mengusap pipi Yoonhee perlahan.

“Ada. Pasti ada,” Yoonhee menggenggam tangan Chanyeol yang masih menempel dipipinya, “Apa kau tidak menyadarinya?” Tanya Yoonhee pelan.

“Kau ini bicara apa sih?” Chanyeol melepaskan lengan Yoonhee yang masih melingkar dipinggangnya, “Kurasa supnya sudah matang,” alih Chanyeol seraya membalikkan tubuhnya kembali lalu mengaduk sup dalam pancinya.

“Hime,” lanjut Yoonhee kemudian, “Dia menyukaimu,” seketika tubuh Chanyeol menegang mendengar penuturan Yoonhee barusan.

“Chanyeol-ah, Hime dia-”

“Jangan memprovokasi dan kembali menyuruhku untuk menjauhinya,” Ucap Chanyeol tajam membuat Yoonhee mengatupkan bibirnya rapat, “Sudah kukatakan padamu bahwa Hime tidak mungkin memiliki perasaan itu. Kau hanya melihat dari sudut pandangmu dan menganggap keakraban kami itu lebih dari seorang teman. Kau hanya cemburu pada Hime dan menuduhnya menyukaiku agar kau punya alasan untuk membuatku menjauhinya. Begitu kan maksudmu?”

“Chanyeol-ah,”

“Kumohon aku tidak mau membahas ini lagi,” Chanyeol meletakan sendok yang dipegangnya diatas pantry sebelum mengambil jaketnya yang terletak diatas meja makan lalu pergi dari sana tanpa melihat Yoonhee sedikitpun.

*
*
*

“Hime-ya, bukankah itu lucu?” Tanya Chanyeol seraya meminum kopinya.

“Apanya?” Tanya Hime masih sibuk dengan telur gorengnya. Chanyeol berdecak lalu menghampiri Hime yang berdiri didepan pantry, memasak sarapan paginya. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan lalu menyandarkan tubuhnya dilemari pendingin.

“Jadi sedari tadi kau tidak mendengarkanku?” Chanyeol memicingkan matanya menatap Hime yang tetap pada telur gorengnya, “Yak! Nona Mizu!” Kesal Chanyeol karena Hime sepertinya tidak mempedulikannya.

“Aku tidak terlalu menyimaknya tadi,” Hime mengangkat telurnya yang sudah matang lalu meletakannya diatas piring, “Bisa kau ulangi lagi?” Pinta Hime seraya menyecahkan dirinya diatas kursi. Chanyeol mendesis kesal lalu duduk kembali dikursinya.

“Yoonhee itu,” Chanyeol menumpukan dua tangannya dibawah dagu lalu menatap wajah Hime yang kini sibuk memotong telur gorengnya, “Dia mengatakan jika kau menyukaiku,” Hime menghentikan gerakannya memotong telur goreng lalu menatap wajah Chanyeol sekilas sebelum kemudian menyuapkan telur itu kemulutnya.

“Eoh, benarkah?” Gumamnya santai. Chanyeol terkekeh pelan, “Ne, dia lucu kan? Apa itu karena dia cemburu dengan kedekatan kita?” Chanyeol menaikan sebelah alisnya lalu kemudian terkekeh pelan, merasa bahwa perkataannya lucu. Lalu bagaimana ekspresi wajah Hime? Datar-datar saja. Well, dia memang pandai menyembunyikan perasaannya itu. Patut diacungi jempol.

“Sebaiknya kau berangkat kerja, Chanyeol-ah,” Hime melihat jam dipergelangan tangannya sekilas sebelum kembali mengunyah sarapannya.

“Kita pergi bersama saja,” Chanyeol menyandarkan punggungnya santai kesandaran kursi,

“Lagipula kantormu satu arah dengan studio fotoku,” lanjutnya kemudian sembari memainkan cangkir kopinya yang sudah kosong.

“Aku bisa pergi sendiri dan lagi,” Hime beranjak dari duduknya, menatap Chanyeol sejenak sebelum berbalik untuk meletakan piring kotornya kepantry, “Sebaiknya kita mulai menjaga jarak.
Aku tidak mau Yoonhee semakin salah paham dengan kedekatan kita.”
Chanyeol memberengutkan wajahnya, “Kenapa? Biar saja. Kita kan hanya teman.”

“Tidak, Chanyeol-ah. Jangan memikirkan dari sudut pandangmu. Bukankah kau mencintai Yoonhee dan tidak mau menyakitinya? Dengan kau dekat denganku itu sudah membuatnya merasa jika kedekatan kita itu berlebihan. Jadi, mulai sekarang ada baiknya kita menjaga jarak,” Hime menghembuskan napasnya pelan lalu menatap Chanyeol yang kini menunjukan raut tidak sukanya.

“Ara. Jika itu maumu. Kita tidak perlu sedekat dulu lagi,” Chanyeol menyambar jasnya kasar lalumengambil langkah untuk pergi dari sana, “Aku pergi.”

Hime memejamkan kedua matanya perlahan mencoba menekan rasa sakit yang amat sangat ketika suara langkah kaki Chanyeol sudah tidak terdengar lagi. Rasanya Hime tidak akan sanggup jika mereka tidak bisa dekat seperti dulu lagi. Tetapi mungkin juga ini salah satu jalan terbaik untuk membuat Hime sedikit melupakan Chanyeol. Biarlah rasa sakitnya sekarang. Toh, lama kelamaan akan hilang juga.

*
*
*

Sejak hari itu, Chanyeol dan Hime jarak sekali bertemu. Chanyeol yang biasanya selalu datang ke apartemen Hime walau hanya untuk sekedar minum kopi kini tidak pernah menampakan dirinya. Mereka hanya akan bertemu jika Chanyeol menemani Yoonhee untuk mencoba gaun di kantor Hime. Terus terang, Chanyeol tidak baik-baik saja semenjak mereka tidak lagi akrab seperti dulu. Selama ini Chanyeol selalu bergantung pada Hime. Bagi Chanyeol, Hime bukan hanya teman tetapi juga sahabat dan saudara. Jika Chanyeol lapar maka Hime akan memasakan makanan enak untuknya. Jika Chanyeol sakit maka Hime akan merawatnya. Jika Chanyeol bertengkar dengan Yoonhee maka Hime akan menghiburnya. Ya, bagi Chanyeol Hime bisa apapun untuknya. Dia tidak perlu merasa sungkan berkeluh kesah dengan wanita itu.

Lalu bagaimana dengan Hime? Ya, keadaannya tidak jauh berbeda dengan Chanyeol. Namun belakangan ini sosok Chanyeol mulai tergantikan oleh Yixing. Hime mulai membiasakan diri untuk tidak memikirkan Chanyeol dan belajar untuk melupakan pria itu. Hime sangat bersyukur ada Yixing disisinya. Hime mulai membuka hatinya untuk pria itu. Apa salahnya kan mencoba. Lagipula Yixing pria yang baik dan juga sangat menyayanginya. Jika perasaan itu belum ada untuk sekarang ini, maka Hime berharap rasa itu akan perlahan tumbuh dihatinya.

*
*
*

Yixing tidak tahu hari apa atau mimpi apa dia semalam. Yang pasti Yixing akan selalu mengingat dan menandai tanggal hari ini. Tanggal dimana Hime dengan senyuman manisnya menerima ajakan Yixing untuk mulai menjalin hubungan yang lebih serius. Bukankah itu suatu hal yang luar biasa? Bagi Yixing ‘Ya’ karena sudah bertahun-tahun pria itu menunggu hal ini. Menunggu saat dimana Hime mulai menerima perasaannya dan mulai melupakan Chanyeol. Jadi jangan katakan Yixing gila sekarang karena sedari tadi bibirnya tidak berhenti mengukir senyuman. Hime hanya bisa menggeleng pelan lalu kembali menilik cincin perak yang melingkar dijari manis kirinya. Tidak usah ditanya darimana cincin itu berasal. Darimana lagi kalau bukan dari Yixing.

*
*
*

“Apa? Menikah?” Hime menatap Yixing tidak percaya. Sedangkan pria itu hanya tersenyum polos lalu mengangguk santai. Hime menghampiri Yixing lalu kemudian duduk disebelahnya.

“Kita baru meresmikan hubungan kita sebulan lalu. Lalu sekarang kau mengajakku menikah. Kau gila!” Hime melipat kedua tangannya didepan dada, menatap Yixing tajam. Pria itu tersenyum lalu memegang kedua bahu Hime.

“Bukankah itu lebih baik? Menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih terlalu lama juga tidak baik, Hime,” perlahan satu tangan Yixing mengusap lembut pipi Hime, “Setelah itu kita pindah ke Cina dan kau benar-benar akan melupakannya,” Yixing menatap lembut kedua manik mata Hime.

“Beri aku waktu,” Hime melepaskan tangan Yixing yang masih menempel dipipinya, “Aku tidak bisa memutuskannya sekarang.”

“Aku mengerti,” Yixing mengangguk pelan, “Besok kutunggu jawabanmu.”

“Ap-apa?!”

*
*
*

Jangan salahkan Yixing jika dia lupa memberitahu Hime jika undangan makan malam hari ini berasal dari Yoonhee. Salahkan saja otak pelupanya yang memang sudah mendarah daging sejak dulu. Ok lupakan soal otak pelupanya karena yang sekarang lebih dikhawatirkan adalah Hime. Kenapa begitu? Karena sedari tadi  pasangan yang duduk dihadapan mereka ini tengah mengumbar kemesraan yang demi Tuhan Yixing saja gerah melihatnya. Pria itu sesekali melirik Hime yang duduk disampingnya berharap jika nyawa Hime masih ada didalam dirinya sampai acara makan malam ini selesai. Ya, Yixing tahu bagaimana perasaan Hime sekarang. Sedih pastinya dan sakit hati tentu saja. Well, meskipun Hime sekarang berstatus sebagai kekasih Yixing namun Yixing jamin seratus persen jika hati wanita itu belum sepenuhnya berpaling dari Park Chanyeol.

“Ehem,” Yixing berdehem saat Chanyeol mengusap lembut sudut bibir Yoonhee yang terkena saus,

“Makanan disini enak,” kata Yixing kemudian seraya tersenyum kaku lalu menoleh kesampingnya,

“Iya kan?” Tanyanya pada Hime yang masih memakan steaknya dengan tenang. Wanita itu mengangguk pelan lalu kembali melanjutkan makannya. Yixing jadi merasa tidak enak sekarang.

“Yixing-ssi, Hime-ya, kalian nampak cocok,” Yoonhee menatap dua orang itu bergantian, “Kenapa kalian tidak jadian saja?” Goda Yoonhee kemudian, “Bagaimana menurutmu chagi?” Yoonhee menyenggol lengan Chanyeol pelan lalu mengendikan dagunya kearah Hime dan Yixing.

“Eo, eoh? Itu terserah mereka,” jawab Chanyeol membuat Yixing tersenyum lebar mendengarnya.

“Ne, tanpa kalian suruh juga kami sudah jadian,” Yixing meraih tangan Hime yang berada diatas meja untuk kemudian digenggamnya dengan lembut. Yoonhee dan Chanyeol membulatkan kedua matanya menatap dua sejoli dihadapannya itu.

“Ka, kalian suda jadian?” Tanya Yoonhee tidak percaya, “Kapan? Kenapa tidak memberitahu kami?”

“Sudah,” Yixing mengukir senyumannya lalu menatap sisi wajah Hime dari samping, “Iya kan Hime sayang?” Hime langsung menoleh cepat ketika mendengar Yixing memanggilnya seperti itu ‘Hime sayang’. Ugh, Hime hampir muntah mendengarnya.

“Yeeeaah,” kata Hime singkat lalu melepaskan genggaman tangan Yixing dari tangannya.

“Kami bahkan akan menikah dan berencana untuk pindah ke Cina. Bukankah itu hebat?” Jelas Yixing dengan nada bangga.

“Kalian akan menikah?” Beo Chanyeol seraya menatap Yixing dan Hime bergantian.

“Woooaah, aku tidak menyangka kalian akan segera menikah,” Yoonhee bertepuk tangan, takjub dengan berita yang baru saja didengarnya, “Aku dan Chanyeol saja baru akan menikah tahun depan,”

“Menjalin kasih terlalu lama itu tidak baik. Bisa-bisa salah satu dari kita akan berpaling jika sudah bosan,” Yixing mengamati perubahan ekspresi wajah Chanyeol yang sekarang begitu menarik dimatanya, “Maka dari itu menikah adalah pilihan yang tepat.  Kau setuju denganku kan, Chanyeol-ah?” Senyuman manis menghiasi wajah Yixing sementara Chanyeol. . . Entahlah.

*
*
*

Hime tengah membereskan lemari bukunya ketika tiba-tiba Chanyeol muncul diambang pintu kamarnya membuat Hime terkejut.

“Kapan kau datang?” Tanya Hime dengan alis tertaut.

“Tidak penting aku datang kapan,” Chanyeol menyilangkan tangannya didepan dada lalu menatap Hime tajam, “Sepertinya sudah banyak yang kau lakukan selama sebulan ini,” Hime menautkan alisnya semakin dalam.

“Apa maksudmu?” Chanyeol mendengus pelan mendengar pertanyaan Hime.

“Berpacaran dengan Yixing lalu berencana untuk menikah. Bukankah itu hal yang kau lakukan selama sebulan ini. Dan kau sama sekali tidak memberitahuku,” nada Chanyeol terdengar tidak suka.

“Maaf jika aku tidak memberitahumu,” balas Hime singkat lalu kembali menyusun buku-bukunya kedalam kardus tanpa mempedulikan Chanyeol yang kini mulai bertambah kesal.

“Yak! Kau anggap aku ini apa eoh? Kita ini-”

“Teman?” Potong Hime lalu tersenyum remeh membuat Chanyeol membulatkan kedua matanya,

“Bagiku seorang teman tidak perlu tahu segalanya tentangku,” Hime menatap Chanyeol sekilas lalu kembali mengambil buku-bukunya dilemari.

“Kenapa kau seperti ini?” Chanyeol menggeleng pelan menatap punggung Hime yang membelakanginya.

“Kenapa denganku?” Tanya Hime lalu berbalik menghadap Chanyeol, menatap pria itu tajam,

“Seharusnya aku bertanya padamu, Ada apa denganmu Chanyeol? Kenapa kau begitu marah hanya karena aku tidak cerita soal hubunganku dengan Yixing. Kau berkata seolah aku sudah melakukan kebohongan besar padamu. Lalu aku, apa aku pernah merasa marah padamu saat kau sedikit saja tidak bercerita padaku soal hubunganmu dengan Yoonhee,” Hime menatap Chanyeol sendu, “Aku tidak pernah menuntutmu untuk menceritakan semua kehidupanmu padaku Chanyeol.”

Pria itu hanya bisa diam. Tidak mampu berkata apapun lagi. Merasa jika semua perkataan Hime benar adanya.

“Hime-ya, aku hanya-”

“Sudahlah. Kau memang seperti itu Chanyeol,” Hime menundukan pandangannya, “Kau pria tidak peka,” gumamnya pelan.

“Mianhae,” lirih Chanyeol membuat  Hime mendongak menatap wajah penyesalan pria itu. Hime menghembuskan napasnya panjang sebelum kembali memasukan beberapa bukunya kedalam kardus. Melihat hal itu Chanyeol mengerutkan dahinya.

“Kau mau pindah?” Hime mengangguk pelan lalu menatap sekeliling kamarnya yang nampak berantakan.

“Aku dan Yixing akan segera menikah,” Chanyeol membulatkan kedua matanya, “Jadi aku memutuskan untuk ikut dengannya pindah ke Cina. Bisa-”

“Andwe!” Chanyeol menggeleng pelan membuat Himelah menatap pria itu aneh, “Bukankah kau sudah berjanji padaku. Kau akan menikah setelah aku menikah.”

Hime menghela napas panjang,” Mianhae, sepertinya aku tidak bisa menepati janji itu,” Hime menatap Chanyeol sedih, “Lagipula tidak ada bedanya dengan kau yang menikah lebih dulu ataupun aku. Sama saja, Chanyeol-ah,” Chanyeol kembali menggeleng.

“Tidak itu berbeda. Aku hanya ingin kau menikah setelahku dan kau menyanggupinya waktu itu. Lalu kau, kau ingin melupakan janji itu?!” Teriak Chanyeol diakhir kalimatnya.

“Chanyeol-ah,”

“Kau tahu kan kalau aku tidak bisa jika tidak ada dirimu. Kau tahu itu,”

“Chanyeol-ah,”

“Apa Yixing yang sudah menghasutmu? Iya kan? Dia iri melihat keakraban kita kan? Jawab aku?” Teriak Chanyeol lagi.

“Jangan bawa-bawa nama Yixing. Dia tidak ada hubungan apapun dengan hal ini,”

“Kau membelanya? Kau benar-benar sudah berubah,” desis Chanyeol.

“Aku tidak membelanya. Ini keputusanku,” Hime memejamkan kedua matanya, “Yixing orang yang baik,” lalu perlahan membuka kedua matanya, menatap manik mata Chanyeol yang juga menatapnya dengan tatapan tidak suka, “Aku memilihnya,” lirih Hime kemudian dengan senyum pahitnya. Sesak. Dada Chanyeol terasa sesak rasanya. Perlahan Chnayeol memegang dada sebelah kirinya. Ada apa? Kenapa rasanya begitu sakit ketika mendengar Hime mengatakan hal itu? Kenapa? Chanyeol menundukan pandangannya.

“Kau memilihnya?” Lalu perlahan mendongakan kepalanya kembali, menatap tajam Hime, “Apa hebatnya dia sehingga kau memilihnya?” Tanyanya tidak kalah tajam dengan tatapannya.

“Keluar,” desis Hime, “Keluar dari sini sekarang juga. Aku sudah lelah bertengkar denganmu,” Hime mengarahkan jari telunjuknya kearah pintu.

Chanyeol membelalakan kedua matanya, “Kau mengusirku?”

“Ne! Kalau kau mengerti cepat keluar dari sini,” kesal Hime dan Chanyeol bergeming.

“Shireoyo! Aku tidak akan pergi sebelum kau mengundurkan pernikahanmu dengan Yixing!”
Bruk! Hime melemparkan bukunya kearah Chanyeol dan tepat mengenai dada pria itu.

“Pergi! Aku bilang pergi!” Kembali Hime melempari bukunya kearah Chanyeol namun pria itu tetap bergeming, “Kenapa kau begitu egois huh? Pergi!” Hime akhirnya kelelahan dan lebih memilih untuk duduk ditepi ranjangnya. Isakan perlahan keluar dari bibirnya, “Kau egois.”

Chanyeol menelan samar salivanya. Dia membuat Hime menangis, untuk pertama kalinya.  Tidak, mungkin ini pertama kali Chanyeol melihat wanita itu menangis. Tapi tahukah Chanyeol jika sudah banyak airmata yang dikeluarkan wanita itu untuknya. Perlahan Chanyeol menghampiri Hime yang masih menangis sesenggukan namun langkahnya terhenti ketika kakinya menginjak sebuah buku bersampul biru yang lumayan tebal. Buku yang sampulnya begitu mencolok dan membuat Chanyeol tertarik untuk memungutnya. Chanyeol menelengkan sedikit kepalanya ketika membaca cover buku itu.

Namanya yang ditulis dengan hangeul dengan gambar hati yang mengelilinginya. Chanyeol tertegun. Perlahan Chanyeol membuka buku itu dan kedua matanya membulat ketika melihat apa isi buku itu. Foto-fotonya dan juga catatan-catatan kecil ditulis disana. Semakin penasaran Chanyeol terus membuka lembar demi lembar halaman itu. Semua isinya sama, semua foto dirinya hingga sebuah tangan merampas buku itu. Chanyeol mendongak menatap Hime yang kini menyembunyikan buku itu dibelakang tubuhnya. Wanita itu mengusap pipinya perlahan dengan satu tangannya yang bebas.

“Kemarikan,” kata Chanyeol pelan. Sebagai jawaban Hime menggeleng cepat, “Kemarikan Hime! Aku belum selesai melihatnya,” Chanyeol menjulurkan satu tangannya kearah Hime dan lagi, wanita itu menggeleng, “Kenapa? Kenapa tidak boleh?” Chanyeol memicingkan kedua matanya,

“Kau menyembunyikan sesuatu kan?” Selidik Chanyeol.

“Aniya,” Hime menggenggam erat buku yang berada dibalik punggungnya.

“Kenapa kau menyimpan foto-fotoku?” Hime menundukan pandangannya, melihat apa saja yang berada dibawah. Hime tidak berani menatap mata Chanyeol saat ini, “Kau, kau menyukaiku?” Tebak Chanyeol. Hime masih menundukan pandangannya namun Chanyeol bisa menyadari jika wanita itu tengah menahan kegugupannya.

“Hime-ya. Kenapa kau diam? Aku bertanya padamu. Katakan jika tebakanku salah kan?” Chanyeol menatap lekat wanita itu, menunggu jawaban apa yang akan diberikannya.

“Itu,” perlahan Hime mendongakan kepalanya, “Itu sudah berlalu,”

Jantung Chanyeol seakan baru saja ditarik dari rongga dadanya. Mulutnya terasa gagu dan kedua matanya membulat sempurna.

“Jadi,” Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan, “Kau benar-benar-”

“Ne, lama sekali, aku menyukaimu, Chanyeol-ah,”

*
*
*

Fin

3 responses to “Part II : HIME

  1. Pingback: Part III : HIME | FFindo·

  2. Akhirnya kata itu keluar dari mulut Hime. Dan itu pasti menyakitkan baginya juga Chanyeol.
    Jadi penasaran bagaimana sikapnya pada saat dia sadar perasaan cintanya pada Hime.

  3. Pingback: Part IV : HIME | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s