(Ficlet) Love is Like a Snowflake

love-is-like-a-snowflake2-nidhyun

Title     : Love is Like a Snowflake

Genre  : Romance

Main Cast: Ariel Lau, Lu Han

Length : Ficlet

Rating : T

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

***

Ariel Lau kembali mengaduk isi mug nya, teh manis panas. Seperti sore-sore lainnya, sama seperti ketika ia remaja dulu, duduk di tepi jendela sambil menikmati teh manis panas, menonton hujan deras yang turun dan menari-nari menuju tanah, menggoda mata Ariel untuk terus memperhatikannya. Ada musik halus yang mengalun di telinga Ariel, ia tidak terlalu ingat kapan lagu ini keluar dulu. ia hanya ingat ia mendownload lagu ini karena jatuh hati pada suara halus gadis yang sedang bernyayi itu, judulnya I Have To Forget You. Soundtrack sebuah drama korea yang terlalu…menyedihkan.

“Namanya Wendy, Wendy Son. Saat itu dia belum resmi debut, baru sebagai trainee, Rookie dari agensi terbesar di Korea,” Ariel menjauhkan bibir gelas di tangannya dan menatap laki-laki itu serius, laki-laki yang menjadi temannya lamanya.

“Dia anggota Red Velvet, kan?” senyum cerah itu tertarik dikedua sudut bibir Ariel. Ia sebenarnya tidak terlalu merasa nyaman dengan kedatangan tiba-tiba laki-laki itu, tapi seperti bernostalgia, ia seperti kembali terlempar pada masa lalunya. Laki-laki itu selalu tahu isi pikirannya, membuatnya selalu nyaman membicarakan apapun.

Laki-laki itu mengangguk pelan, kemudian memutar kepalanya ke arah Ariel, “Kau sangat membenci Seulgi saat itu. Tidak masuk akal tahu,” ledeknya. Ia pun kembali memutar bola matanya ke arah jendela, mengikuti arah pandang Ariel.

“Itu masa lalu, kok,” sangkal Ariel sebelum kembali meneguk teh manisnya yang suhunya mulai turun, “Sekaranga ku tidak lagi membenci siapa pun. Setelah kupikir-pikir itu konyol…”

“Kau memang selalu konyol. Bukan rahasia lagi jika kau itu konyol, menyebalkan, aneh, tidak tahu diri, emosional…” laki-laki itu pun memuat kepalanya ke arah Ariel sambil menyeringai kecil, “Tapi kau selalu berhasil mengendalikan dirimu. Kau hebat.”

Ariel mengangguk pelan, paham kemana arah pembicaraan ini berlangsung, “Kenapa datang lagi? aku baik-baik saja tanpamu, kok.”

Laki-laki itu hanya mengedikkan bahunya cuek, “Tidak tahu. Tiba-tiba aku ingin mengunjungimu, apalagi saat hujan begini. Hujan itu selalu enggambarkan dirimu,”s laki-laki itu kembali tersenyum.

“Aku sudah lama tidak membuat puisi hujan. Menurutmu, apa aku harus mengenang pertemuan kita saat hujan seperti ini?” Ariel mengangkat bahunya dan sedikit memajukan tubuhnya, menurutnya ini penawaran bagus. Membuat puisi untuk teman lamanya.

Laki-laki itu mengibaskan tangannya, “Sok baik sekali. Padahal kau tidak menginginkanku…”

“Shim Chang Min!”

“Oppa…” ralatnya sambil sedikit memelototiku, “Katamu aku lebih tua darimu, tapi kau tidak pernah sedikitpun mencoba menghormatiku. Menyebalkan.”

“Biar saja. Dulu juga aku tidak pernah memanggilmu begitu.”

“Baiklah. Terserah padamu. Jadi, apa yang membuatmu murung kali ini?”

Ariel memundurkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya yang terasa lelah itu ke sandaran kursi di belakangnya. Ia memang tengah banyak pikiran belakangan ini, pekerjaan yang terbengkalai, soal kesehatannya yang membuatnya sulit berkonsentrasi, juga…soal Luhan.

Ya. terutama soal laki-laki yang telah mengikatnya 3 bulan lalu. bahkan, setiap mata bisa melihat sebuah cincin melingkar di salah stau jarinya, bukti bahwa ia memang telah diikat oleh seseorang.

“Kupikir, untuk 3 bulan pertama ini, kami akan baik-baik saja…” Ariel mulai berbicara dengan suara beratnya. ia tidak menangis. Tapi ia merasakan gemuruh luar biasa di dadanya. Selalu seperti ini tiap kali ia membahas masalahnya…

Terutama pada dirinya sendiri.

“Pertengkaran bisa terjadi pada siapa saja, kok,” kata Changmin cuek sambil tetap memandangi hujan. Tidak seperti dulu, Changmin biasanya akan mendekati Ariel dan merangkul gadis itu…

Ariel terdiam. Ia tahu. Tanpa diberitahu ia tahu pertengkaran itu bisa terjadi pada siapa saja, ia dengan Whitney, Henry, Clinton, dan semua orang yang ada dalam hidupnya tak terkecuali Luhan. tapi ini pertama kalinya mereka bertengkar…sampai Luhand an Ariel saling berdia diri saat bertatapan. Itu buruk, bukan?

“Apa menurutmu aku terlalu manja padanya?” tanya Ariel sambil menaruh gelasnya di atas meja.

“Sedikit. Lebih cocok disebut…posesif. kau tahu, kan, kau memang agak posesif.”

Ariel mengangguk pelan. Meskipun nada Changmin begitu menyebalkan di telinga Ariel, tapi ia tidak akan menyangkal uacapan Changmin itu salah. Ariel memang posesif, tapi ia tidak tahu ternyata ia seperti itu pada Luhan.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Tapi jangan suruh aku minta maaf duluan padanya…”s Ariel langsung menunjukkan telunjuknya di hadapan Changmin yang langsung ditepis Changmin.

“Kenapa tidak? Hobimu minta maaf. Membuat 100 surat maaf saja pernah kau lakukan, kenapa kau tidak lakukan itu untuk Luhan, huh?”

Ariel mendesah pelan. Benar juga. Ia memang seperti itu. Tapi…entahlah, ia agak gengsi kali ini.

“Kau tahu tidak. Sebenarnya, pertengkaran kami kemarin membuatku sedikit malu terhadapnya,” Ariel mulai angkat suara lagi. tanngannya mulai meraih bantal yang ada di hadapannya, “Dia cukup tampan, baik, perhatian, pintar, dan bisa melakukan apapun. Dan aku?”

Kali ini Changmin tertarik untuk menoleh ke arah Ariel, sedikitmenegakkan bahunya untuk mendnegarkan kelanjutan ucapan Ariel.

“Aku tidak cantik, aku tidak pintar, aku menyebalkan, aku posesif, dan aku sakit…kau tahu kekuranganku terlalu banyak.”

Changmin mendesah pelan. Ia pun mendekati Ariel dan menarik tangan Ariel, menggenggamnya erat. Mau tak mau Ariel menjatuhkan tatapan matanya ke arah Changmin.

“Kau dulu selalu mengatakan…kau mencintai seseorang bukan karena kelebihan atau pun kekurangan yang dimiliki olehnya, karena kelebihanmu mencintai kekurangannya, dan kekurangannya menjadi kelebihanmu. Jika itu bisa berlaku untukmu, kenapa itu tidak berlaku untuknya padamu, huh?”

Ariel terdiam. Ia tidak ingat dan tidak benar-benar yakin apakah ia benar-benar pernah berkata begitu atau tidak. Tapi…entahlah. ia bisa melakukan itu karena ia memang mencintai. Ia yang memiliki cinta untuk orang itu…bukan posisi yang dicintai tanpa tahu bagaimana cara orang itu mencintainya. Atau malah, sebenarnya tidak ada cinta untuknya.

“Berhenti berpikiran bodoh! Untuk apa susah-susah dia menikahimu jika dia tidak mencintaimu!” kata Changmin sambil menoyor kepala Ariel.

“Yak! Jangan menoyor kepalaku!”

“Tapi aku benar, kan?”

Ariel mendesah pelan, “Lagipula mana kutahu dia benar-benar seperti itu. Menjadikan kekuranganku sebagai kelebihannya dan kekuranganku dicintai oleh kelebihannya.”

“Kenapa tidak Ariel Lau yang bodoh!”

“Aku tidak bodoh! Kau yang bodoh!”

“Setiap orang tahu kau bodoh. Sangat bodoh. Dan menyebalkan.”s

Ariel mendesis pelan dan menarik gelas teh nya. Dingin. Air nya sudah dingin dan ini menambah rusak mood nya hari ini. Ia pun menarik gelasnya dan segera bangkit, ia berjalan menuju counter dapur untuk mengambil air panas dan kembali menuangkannya ke dalam gelas teh nya.

“Dasar tea holic!” kata Changmin yang sudah duduk di samping Ariel.

“biar saja! Bukan urusanmu!” ketus Ariel sambil menarik gelasnya, menyentuh bibir gelas itu dengan bibirnya. Dan sialnya, justru rasa hambar yang menyentuh lidahnya.

“Tidak manis!” kesalnya. Tangannya pun terulur menuju toples gula di depannya. Namun belum sempat tangannya berhasil menggapai toples itu, pergerakan tangan Ariel langsung terhenti saat sebuah tangan melingkar di lehernya.

Luhan. ini tangan Luhan.

“Berhenti makan gula banyak-banyak. Kau terlalu sering makan gula belakangan ini. Tidak baik untuk kesehatanmu,” ucap Luhan sambil menjauhkan toples gula itu.

Ariel pun menoleh ke arah samping kanannya, tepat ke arah tempat duduk yang tadi diduduki si menyebalkan Changmin. Dia sudah tak lagi di sana, dia pergi. Entah sesuatu yang bagus atau bukan.

Luhan yang tahu kemana arah pandang mata Ariel, hanya bisa tersenyum kecil…juga seidh. Semua salahnya. Ia yang membuat Ariel lagi-lagi seperti ini. Ia pun mengecup kepala Ariel dan mengambil kursi yang tadi di duduki Changmin, sengaja duduk di sana seolah ia tidak tahu apapun.

“Kau…pulang lebih cepat?” tanya Ariel kaku. Rasanya aneh sekali saat harus tiba-tiba berbicara biasa saja pada Luhan setelah mereka berteriak keras 2 hari yang lalu.

Luhan tidak menjawab, ia hanya menarik gelas teh milik Ariel dan meneguk isinya, “Aku…minta maaf.”

Ariel membelalakkan matanya. Hey, kenapa tiba-tiba laki-laki bermata rusa itu malah meminta maaf padanya?

“Aku salah. Soal dua hari yang lalu, maaf. Aku memang kekanakan,” kata Luhan lagi. ia pun menoleh ke arah Ariel yang masih terlihat linglung. Ini membuat rasa bersalahnya semakin besar…

“Aku janji. Aku tidak akan melakukan itu lagi. kau boleh menghukumku, apa pun itu jika seandainya kau mendapati aku kuranga jar lagi seperti itu.”

“Tapi…”

“Kau tidak minum obatmu, ya? kau lupa apa yang dokter katakan? Kau tidak perlu melakukannya untukmu, tapi untukku. Bagaimana jika besok kita konsultasi? Aku ada jam bebas.”

“Tapi…”

“Bagaimana jika kau istirahat lebih cepat? Ayo! Biasanya kau sangat suka sekali tidur,” Luhan pun menarik lengan Ariel dan membawanya ke tempat tidur. Seperti biasa, perempuan itu tidak akan banyak melawan jika dia paham Luhan tahu apa yang terjadi pada gadis itu…

Tidak lupa, Luhan juga memberikan obat itu untuk Ariel. Hal yang sellau membuat Luhan khawatir, gadis itu akan menghindari obatnya jika mood nya sedang rusak.

“Sekarang tidurlah. Aku harus menyelesaikan sesuatu, hmm?” Luhan pun mengusap kepala Ariel sebelum beranjak, namun tepat ketika ia berdiri, Ariel menahan tangan laki-laki itu.

“Maaf…merepotkanmu.”

“Hei…sudah kewajibanku. Juga sudah menjadi hak mu, jangan sok sungkan begitu,.”

Ariel mengangguk mengerti, kemudian membiarkan tangan Luhan lepas dari genggamannya dan berjalan menuuju daun pintu yang langsung menelannya.

 

***

 

“Dia terlalu banyak pikiran saja. Ini bisa terjadi sewaktu-waktu. Maka dari itu Anda harus memperhatikannya,” ucap dokter di hadapan Luham. Ariel tidak di sana. Perempuan itu sudah menghilang dan tenggelam bersama halaman rumah sakit yang menurutnya sangat cocok untuknya mencari inspirasi.

“Dan ada satu kabar baik,” dokter yang bergelut daam bidang kejiwaan itu sedikit menarik kedua sudut bibirnya cerah, “Selamat. Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah.”

 

***

 

Luhan diam memperhatikan Ariel yang sedang tenggelam dengan gadgetnya. Selalu seperti itu tiap kali ia membaca komentar para pembaca novelnya. Selalu lupa dengan situasi dan berbagai macam gangguan di sekitarnya.

Luhan mendesah pelan. Ia terlalu senang, sepertinya di tiap hembusan napas yang bekerja ada kebahagiaan yang silih berganti mengisi rongga dadanya. Ia tidak peduli dengan penyakit yang dialami gadis itu. Ia juga tidak peduli meskipun dunia memandang sebelah mata padanya…ia berjanji ia akan menjadi satu-satunya yang membelanya, yang berada disamping gadis itu dan menjaga gadis itu di belakangnya.

Dan ia tidak akan membiarkan orang yang hidupd alam bayangan Ariel datang kembali pada Ariel, seperti kemarin…

“Bukan hanya kau yang bisa mencintaiku seperti itu Ariel Lau. Kelebihanku juga mencintai kekuranganmu, dan kekuranganku juga menjadikan kekuranganmu sebagai kelebihanku.”

‘Luhan!” Ariel mengangkat tangannya, melambai ke arah Luhan yang tertangkap basah tengah melamun…atau malah gadis itu tidak sadar sama sekali.

“Kau kenapa? Kenapa malah diam disini?” tanya Ariel sambils edikit memukul lengan Luhan pelan, cara bercanda yang sempat tidak disukai Luhan. tapia khirnya ia terbiasa juga.

“Ayo pulang. Aku lapar…”

“Kau tidak ingin mendengar apa pun? Aku punya kabar bagus…”

Ariel menautkan alisnya bingung. Kabar baik apa? ia bisa berhenti minum obat? Ia sembuh total? Oh, mustahil…

“Kau akan menjadi calon ibu, dari anakku…Ariel Lau.”

 

=END=

20150201 PM1030

4 responses to “(Ficlet) Love is Like a Snowflake

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s