Part III : HIME

hime

Author : Ariskachann

Cast : Mizuhara Hime (OC), Park Chanyeol, Zhang Yizing (Lay)

Genre : Romance, sad

Rating : PG

Disclaimer : Cerita murni hasil karya author. Jika menemukan kesamaan itu karena cerita sudah pernah dipost diblog pribadi sebelumnya.

A/N : Recommended song “Epic High – Happen Ending” dan yang bercetak miring itu flashback ya^^

Sorry for typo^^

Happy reading^^

Previous : Part I, Part II

“Sudah berapa lama kau-”

“Itu masa lalu, Chanyeol-ah. Aku sudah melupakannya,”

Chanyeol tahu senyuman itu adalah senyuman palsu. Hime selama ini tidak baik-baik saja. Perasaannya pada Chanyeol pastilah membuatnya tersiksa selama ini.

*
*
*

Aku tidak tahu sudah berapa banyak luka yang kugoreskan dihati Hime. Mungkin sudah terlalu banyak hingga dia tidak tahu lagi bagaimana rasa sakitnya. Sebagai teman aku sudah membuatnya terluka. Meskipun aku tidak tahu dan begitu bodoh akan perasaan cintanya padaku tetapi tetap saja rasa bersalah pada dirinya terus bernaung dalam hatiku semenjak aku mengetaui kenyataannya. Kembali bayangan masa lalu dimana aku dengan begitu bodohnya mulai melukai hatinya.

Ya, sejak aku mengenal cinta.

*
*
*

“Mianhae, aku tiba-tiba ingin mengajakmu bertemu,” Chanyeol berusaha mengatur napasnya yang tersengal karena baru saja berlarian, Hime yang ada dihadapannya tersenyum lalu menggeleng pelan.

“Gwenchanha, kebetulan ada yang ingin kusampaikan padamu,” Hime menyelipkan rambut sebahunya kebelakang telinga masih dengan senyumannya. Chanyeol terkekeh pelan sembari menggaruk belakang kepalanya, “Berarti kita sama,” Hime menaikan sebelah alisnya, “Aku juga mau mengatakan sesuatu padamu,” lanjut Chanyeol kemudian.

“Kalau begitu katakanlah,”

“Aku duluan?” Chanyeol menunjuk dirinya sendiri dan Hime mengangguk pelan.

Senyuman mengembang diwajah Chanyeol dan sebelum Chanyeol berkata pria itu menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dengan kesungguhannya Chanyeol memegang kedua bahu Hime, menatap gadis itu tepat dikedua manik matanya. Hal itu membuat jantung Hime berdetak kencang dengan tidak normalnya.

“Hime-ya, aku, aku jatuh cinta,” pupil Hime melebar seketika mendengar penuturan pria jangkung dihadapannya ini. Chanyeol jatuh cinta. Chanyeol yang selalu tidak serius dan bertingkah konyol serta egois itu jatuh cinta. Benarkah?

“Ya, Hime untuk pertama kalinya aku jatuh cinta,” dan Chanyeol seakan kembali membenarkan apa yang dikatakan pada Hime sebelumnya. Menegaskan bahwa ‘Ya, Chanyeol memang jatuh cinta’

“Awalnya aku bingung dengan perasaan apa yang melandaku ketika aku bersamanya. Perasaan meluap-luap yang membuncah dan begitu menyenangkan selalu muncul dalam hatiku walau hanya aku melihat wajahnya,” Chanyeol menunjukan senyuman hangatnya lalu kemudian menarik Hime kedalam dekapannya, “Apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini Hime?” Gumam Chanyeol seraya menumpukan dagunya dipundak gadis itu.

‘Kau bukan jatuh cinta padaku kan Chanyeol? Ya kau tidak jatuh cinta padaku dan itu terasa menyakitkan’

Hime memejamkan kedua matanya sejenak. Perlahan kedua tangannya membalas pelukan Chanyeol lalu mengusap punggung tegap pria itu lembut.

“Katakan padanya Chanyeol. Katakan jika kau mencintainya. Katakan jika kau ingin dia selalu ada disisimu,” Hime berusaha menahan airmatanya untuk tidak mengalir disaat seperti ini. Lalu ketika Hime merasakan senyuman Chanyeol mengembang dibibirnya airmata itu jatuh seketika. Hime menggigit bibir bawahnya untuk tidak terisak.

“Ne, kau benar. Aku memang harus segera menyatakan perasaanku padanya,” Chanyeol mengusap rambut Hime lembut, “Gomawo Hime-ya,” dan melepaskan dekapannya.

“Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Itulah gunanya teman, eoh?” Hime menghapus jejak airmatanya dengan cepat sebelum Chanyeol menyadari jika ia baru saja menangis. Namun sepertinya Chanyeol menyadari itu.

“Kau menangis?” Chanyeol menangkup kedua pipi Hime, menatap kedua mata gadis itu yang memerah.

“Aku menangis karena bahagia, temanku,” Hime menggenggam kedua tangan Chanyeol yang masih menempel dipipinya, “Yang konyol dan tidak pernah serius ini akhirnya jatuh cinta,”

Chanyeol membulatkan kedua matanya, “Yak! Kau mengataiku?” Teriak Chanyeol tidak terima.

“Ne, kau itu menyusahkan saja. Aku bersyukur sebentar lagi tidak akan ada lagi yang menempel padaku,” kekehan Hime membuat Chanyeol gemas hingga tanpa perasaan mencubit pipi gadis itu.

“Yak! Geumanhae!” Teriak Hime kesal seraya menepis tangan Chanyeol yang masih mencubiti pipinya gemas.

“Eh, ngomong-ngomong tadi kau juga ingin mengatakan Sesuatu padaku,”

Hime menaikan sebelah alisnya sambil mengusap pipinya yang masih terasa sakit akibat perbuatan Chanyeol tadi.

“Eoh, apa tadi aku bicara begitu?” Tanya Hime balik dengan wajah polosnya.

“Ne, tadi kau bilang kal-“

“Aniya,” Hime langsung menggeleng cepat, “Hmm, daripada itu bukankah kau harus segera menemuinya.”

“Nugu?” Chanyeol menunjukan wajah bodohnya yang demi apapun membuat Hime gemas lalu menjitak manis kepala Chanyeol. Pria itu meringis pelan lalu melotot tajam.

“Yak! Neo!”

“Temui gadis pujaanmu itu dan nyatakan perasaanmu. Dasar bodoh!”

“Hime-ya,” Chanyeol menilik beberapa kalung yang berjejer dietalase kaca toko, “Menurutmu apa kalung ini cocok untuknya?” Hime yang tadi sibuk dengan handphonenya kini beralih melihat Chanyeol yang menunjukan sebuah kalung berliontin sayap bertabur permata pada Hime.

“Yeppeo,” singkat, jelas, dan padat namun senyuman Chanyeol langsung mengembang.

“Geurae, aku akan membeli yang ini,” Chanyeol masih mengukir senyumannya sembari menatap kalung yang dipegangnya dengan mata berbinar.

“Ne, Yoonhee pasti menyukainya,”

“Aigo, bulan kemarin Minseok hyung yang menikah lalu bulan ini Baekie yang menikah. Lalu bulan depan siapa lagi yang akan menikah?” Keluh Chanyeol disela aktivitasnya menyetir membuat Hime yang duduk dikursi sampingnya hanya bisa tersenyum.

“Semua orang menikah Chanyeol. Begitupun kau dan juga aku nantinya,” Chanyeol melirik Hime sekilas lalu kembali fokus pada jalanan didepannya, “Iya, aku tahu tapi kan kalau begini siapa lagi yang akan menemaniku lembur dan minum soju.”

“Bukankah ada Yoonhee?”

“Yoonhee terlalu sibuk walau hanya untuk menemaniku minum. Dia itu model terkenal.”

“Aah, maja,” Hime menganggukan kepalanya pelan.

“Geundae, untuk apa aku risau. Bukankah ada kau yang akan selalu ada disampingku?” Chanyeol tersenyum lebar.

“Aniya. Bagaimana jika aku lebih dulu menikah? Misalnya bulan depan,”

“Maldo andwe! Kau akan menikah setelah aku menikah,”

“Kenapa begitu?”

“Eum, Hime-ya, berjanjilah untuk itu eoh?”

“Andweee,”

“Yak!”

*
*
*

“Hime-ya, mianhae. Jeongmal mianhaeyo,”

Malam itu untuk pertama kalinya entah perasaan sesak apa hingga membuat airmata Chanyeol mengalir begitu saja.

“Mianhae, Hime-ya,”

*
*
*

Chanyeol tidak bisa bersikap biasa saja. Setiap kali Chanyeol bersitatap dengan Hime ada rasa bersalah yang seakan menusuk dihatinya. Rasa tidak nyaman selalu menghantuinya. Hingga Hime menyadari hal itu.

“Gwenchanha?” Hime menatap kedua manik mata Chanyeol namun pria itu langsung mengalihkan pandangannya.

“Hmm,” gumamnya pelan membuat Hime menghela napasnya panjang lalu menarik lengan Chanyeol yang kini hendak pergi dari hadapannya.

“Chanyeol-ah, percayalah semua sudah baik-baik saja,”

Chanyeol melihat genggaman tangan Hime dilengannya lalu beralih kewajah manis Hine yang sedang mengukir senyuman dibibirnya.

“Hime-ya,” lirih Chanyeol lalu perlahan melepaskan tangan Hime dari lengannya, “Mianhae,”

Chanyeol menundukan pandangannya. Sungguh dia tidak sanggup melihat wajah itu.

*
*
*

Semua tidak baik-baik saja sekarang. Apa yang dikatakan Hime tidaklah terbukti. Jika dulu Hime masih bisa tersenyum dan tetap berdiri disamping Chanyeol sebagai teman maka pada hari ini senyuman itu berubah menjadi tangisan panjang.

Chanyeol akan menikah. Dengan Yoonhee tentu saja. Secepatnya.

“Chanyeol-ah, nan eotteokhe? Chanyeol-ah,” lirih Hime disela tangisannya. Yixing yang sedari tadi hanya bisa menjadi pendengar menatap Yoonhee dengan mata berkaca-kaca.

“Hime-ya, uljima,” Yixing mengusap lembut rambut Hime yang berantakan, menutupi hampir seluruh wajahnya yang sudah banjir airmata.

“Semuanya sudah berakhir Yixing-ah,”

“Aniya. Kau harus tetap kuat. Seperti yang kau jalani selama ini, Hime-ya,”

*
*
*

“AnNyeong, Hime-ya,” Yoonhee masuk kedalam ruangan Hime dengan senyuman bahagianya,

“Apa gaunnya sudah selesai?”

“Sedikit lagi. Kau dan Chanyeol boleh mencobanya hari ini,” Hime membuka tirai penutup didekat meja kerjanya dan tampilah sebuah gaun pengantin bertabur permata berwarna kuning gading dan sebuah tuxedo berwarna hitam mengkilap disampingnya.

“Wooooaah, jinjja yeppeoseo,” Yoonhee mengusap lembut permukaan gaun dihadapannya dengan binar kekaguman, “Apa aku boleh mencobanya sekarang?”

“Ne, cobalah. Biar nanti jika ada yang kurang pas maka akan kuperbaiki secepatnya sebelum pernikahan kalian minggu depan,” Hime menyunggingkan senyuman hangatnya membuat

Chanyeol yang sedari tadi memasang wajah masam bertambah kesal melihat itu semua. Yoonhee langsung masuk kekamar ganti sedangkan Chanyeol lebih memilih duduk disofa, melipat kedua tangannya didepan dada lalu menatap Hime dengan tatapan tajam.

“Kau juga harus mencoba tuxedomu, Chanyeolah,”

“Geumanhae,” Chanyeol berkata dengan sinis membuat Hime menatapnya tidak mengerti,

“Mwohaneungoya?”

“Tidak bisakah kau berhenti tersenyum seperti itu? Aku jadi merasa semakin bersalah disini,” lirih Chanyeol diakhir kalimatnya.

“Chan-”

“Changiya, eotte?” Tiba-tiba Yoonhee muncul membuat Hime dan Chanyeol menatap sosoknya.

“Wooah, kau sangat cantik Yoonie-ya,” puji Hime membuat semburat merah menghiasi pipi wanita itu.

“Geurae?” Tanyanya malu-malu dan Hime mengangguk, kembali mengiyakan, “Ne,neomu yeppeoseo. Keutji Chanyeol-ah?” Hime melihat kearah Chanyeol yang tengan menatap lurus kedepan. Pandangannya terkesan menerawang.

“Eoh, yeppeo,” gumamnya pelan sebelum menoleh kearah Hime, menatap wanita itu dengan tatapan sulit diartikan.

“Cha! Kalau begitu sekarang kau juga harus mencoba tuxedomu, calon suamiku,” Yoonhee menarik sebelah tangan Chanyeol, menyuruhnya berdiri namun Chanyeol malah bergeming.

“Aku sedang malas, Yoonhee,” katanya dengan nada malas.

“Ayolah Chanyeol. Pernikahan kita sudah dekat. Kapan lagi mencobanya kalau bukan hari ini,” masih Yoonhee menarik-narik tangan Chanyeol.

“Chanyeol,” kesal Yoonhee dan akhirnya pria itu menurut juga.

*
*
*

“Hime-ya, bukankah kami terlihat serasi?” Yoonhee menggamit lengan kanan Chanyeol dan bergelayut manja disana sedangkan pria itu hanya mendesah frustasi. Hime yang melihat sepasang calon pengantin itu mengangguk pelan dengan senyuman dibibirnya.

“Heum, kalian terlihat cantik dan tampan,” puji Hime yang membuat Chanyeol menatapnya sedih.

‘Hime-ya, jebal. Jangan tunjukan senyuman itu padaku,’ batin Chanyeol.

“Kalau begitu bisa foto kami berdua?” Pinta Yoonhee kemudian yang sontak membuat Chanyeol menoleh kearahnya cepat.

“Yak! Kita bahkan belum menikah. Kenapa harus foto-foto?” Chanyeol melepaskan tangan Yoonhee yang masih bergelayut dilengannya.

“Ck. Wae?” Yoonhee mengerucutkan bibirnya kesal, “Ini kan bisa dijadikan kenangan. Bukan begitu Hime-ya?”

“Ne,”katanya pelan lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku jas, “Ayo bersandinglah. Aku akan mengambil foto kalian,” Hime bersiap membidikan kamera ponselnya kearah Chanyeol dan Yoonhee, “Nah, siap ya? 1,2,3,”

*
*
*

Hime mengusap pelan foto dilayar ponselnya. Nampak Yoonhee yang tersenyum lebar dan Chanyeol yang memalingkan wajahnya dari kamera.

“Kau akan menikah,” gumam Hime pelan diiringi dengan airmatanya yang mengalir perlahan.

“Kau bilang sudah baik-baik saja huh?” Suara berat yang amat dikenal Hime membuat wanita itu sontak memasukan ponselnya kedalam saku lalu menghapus airmatanya cepat.

“Chan, Chanyeol? Sejak kapan kau disini?” Hime berusaha menunjukan wajah biasa dengan senyuman kakunya.

Chanyeol mendengus kesal, “Kenapa kau menyiksa dirimu seperti ini? Kenapa kau selalu menyembunyikannya? Bukankah itu menyakitkan?” Teriak Chanyeol marah. Hime bergeming lalu menundukan wajahnya membuat Chanyeol mendesah frustasi, “Hime-ya,”

“Aku tahu, perasaan ini adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya aku menyukaimu tidak seharusnya aku mencintaimu. Dan seharusnya sampai akhir kau tidak perlu tahu akan perasaanku. Itu lebih baik, Chanyeol-ah,” tangisan Hime kembali pecah. Dia sudah tidak kuasa menahannya lagi. Dadanya terasa sesak.

“Hime-ya,” perlahan Chanyeol menghampiri wanita itu lalu perlahan menarik tubuh Hime kedalam dekapannya, “Kau tidak salah. Yang patut disalahkan disini adalah aku yang begitu bodoh tidak menyadari hal itu. Maaf, maafkan aku,” bisik Chanyeol pelan seraya memeluk Hime semakin erat.

*
*
*

Chanyeol menatap pantulan dirinya dicermin lama. Tuxedo hitam yang membalut tubuh tinggi tegapnya sangat pas membuat dirinya makin terlihat tampan dihari spesialnya. Ya, hari spesial, hari pernikahannya dengan Yoonhee. Namun entah mengapa pernikahan yang selalu dinantikannya selama ini tidak begitu berkesan dihatinya.
Seorang penata rias yang tadi mendandaninya menghampiri Chanyeol.

“Tuan ada yang ingin bertemu dengan anda?”

“Suruh saja masuk,” jawab Chanyeol datar, penata rias itu membungkuk singkat sebelum berbalik pergi. Tidak lama kemudian seorang pria yang tidak dikenal Chanyeol masuk kedalam ruangan membuat Chanyeol yang melihatnya melalui pantulan cermin langsung menoleh.

“Nuguseyo?” Chanyeol mengerutkan dahinya seraya meneliti pria dihadapannya itu. Pria itu menyunggingkan senyuman singkatnya lalu membungkuk sopan, “Annyeong haseyo, Minho imnida. Bangapseumnida, hyungnim,” sapa pria bernama Minho itu sopan.

“Maaf kau ini-”

“Aku mantan kekasihnya Yoonhee Noona,” senyuman masih menyungging diwajah maskulinnya .

“Ne, ada perlu apa?” Tanya Chanyeol dengan wajah datar.

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada hyungnim dan juga Yoonhee noona secara pribadi dan juga,” Minho menatap Chanyeol dengan senyuman penuh arti, “Memberitahu sedikit soal rahasia,” Minho mengedipkan sebelah matanya lalu mengubah senyuman manisnya menjadi smrik yang menbuat Chanyeol menatapnya penasaran.

“Rahasia?”

*
*
*

Fin

Kecepatan kah???

Maaf kalo ceritanya jelek. . .

nah, ini Minho WINNER ya, bukan Minho SHINEE, atau Lee Min Ho yang aktor itu^^

RCL, ne??

3 responses to “Part III : HIME

  1. Yang namanya rahasia selalu saja membuat tidak nyaman! Banyak spekulasi yang terpikir setelah kedatangan Minho, dan rahasia itu pasti sesuatu yang besar bahkan mungkin bisa membatalkan pernikahan Chanyeol. Kebenaran itu semakin melukai banyak orang. Termasuk Yixing. Bagaimana kisah Yixing…????

  2. Maaf ya thor bru coment…q ngebut nih bacanya..suka…ngena bgt ni crtanya…huft jd kesel ma chanyeol….egois orangnya…biar hime ma lay aja deh biar chanyeol kapok…..hehehe

  3. Pingback: Part IV : HIME | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s